Pandaya Sriwijaya Bab 02 : Bajak Laut Semenanjung Karang

Bab 02 : Bajak Laut Semenanjung Karang

Lepas dari muara besar Sungai Musi, lautan dipenuhi oleh Y^sambau-sambau berpanji merah. Itu merupakan tanda perahu-perahu milik Kerajaan Sriwijaya. Selain berpanji merah, sambau-sambau Sriwijaya dapat dikenali dari bentuknya yang besar dan tinggi mencolok. Sambau terkecil saja sudah bertiang layar dua. Bahkan, beberapa sambau ada yang bertiang layar lima. Panjang sambau pun mencapai dua puluh tombak untuk yang terkecil dan bisa mencapai seratus tombak untuk sambau utama.

Selain bentuknya yang besar dan panjang, sambau Sriwijaya juga memiliki beberapa ciri khas lainnya. Bagian depan kapal ditinggikan hingga tampak menjulang. Lalu, bagian buritannya datar dan kotak, tanda di situlah ruangan perahu berada. Ini berbeda dengan perahu-perahu dari Gujarat dan Cina, yang biasanya bagian depan dan buritannya tampak hampir sama. Walau dibuat dari kayu yang mungkin sama dengan perahu-perahu itu, ada beberapa cara yang sedikit berlainan dalam pembuatan sambau, terutama teknik penyambungan papan. Pada sambau, sambungan dibuat dengan cara pena kayu. Cara ini semata-mata hanya menggunakan kayu sedemikian rupa sebagai alat penyambung papan. Ini tentu saja bisa menahan air asin dan tidak berkarat. Pada bagian tiang, tiang utamanya sengaja dibuat agak miring ke depan sebagai pemancang layar yang berbentuk segi empat. Untuk layar penunjang biasanya digunakan bentuk layar segitiga, yang lebih dikenal dengan nama layar sudu-sudu.

Hampir semua sambali Sriwijaya bergambar mata elang di lambungnya. Ini dibuat berdasarkan satu kepercayaan tradisional yang masih berlaku hingga sekarang. Sedang di bagian tepi sambali terdapat ukiran berbentuk gelombang bertingkat. Jumlahnya disesuaikan dengan besar sambau. Dari jauh ukiran ini seakan menyatu dengan gelombang laut.

Secara umum sambau Sriwijaya terdiri dari tiga tingkat. Tingkatan terbawah untuk para pendayung, sedikit ke atas untuk prajurit perang, dan di bagian paling atas untuk para panglima dan prajurit-prajurit pilihan.

Sambau terbesar bisa memuat seratus sampai tiga ratus orang yang separuh di antaranya adalah pendayung. Para pendayung ini juga merupakan prajurit Sriwijaya, biasanya adalah prajurit-prajurit baru. Bila mereka dianggap berjasa atau telah mengikuti perang cukup lama, barulah para pendayung ini naik ke posisi yang lebih di atas lagi.

Selain sambau-sambau yang memenuhi perairan ini, terlihat juga beberapa perahu besar tanpa panji. Biasanya itu merupakan perahu-perahu pedagang dari tanah Gujarat ataupun Cina. Sedikit ke tepi tampak puluhan perahu yang lebih kecil milik nelayan-nelayan. Perahu-perahu kecil ini biasanya merupakan perahu lesung atau perahu yang dibuat dari satu buah kayu besar yang dikeruk bagian dalamnya.

Beberapa di antaranya bercadik di kiri dan kanannya.

Sejak dulu muara besar ini memang kaya dengan berbagai jenis ikan. Mungkin karena tanah di sekitar muara besar ini masih merupakan rawa-rawa yang begitu luas sehingga di sini dengan mudah dapat ditemukan ikan-ikan air tawar berbagai jenis. Namun, agak menjauh sedikit dari pantai, ikan-ikan air lautlah yang akan banyak dijumpai. Maka itulah, sejak puluhan tahun yang lalu, orang-orang yang tinggal di datu-datu sepanjang muara besar ini menggantungkan hidup dengan menjadi nelayan.

Sebagai salah satu jalan menuju Telaga Batu, daerah itu dijaga dengan ketat. Tak lebih dari tiga datu dibangun di sekitar muara besar. Datu utama ada di Muara Manan, yang ada di sebelah timur laut Telaga Batu.

Di sinilah armada samudra Sriwijaya berpusat. Sejak kedatangan Sri Maharaja Balaputradcwa, belum ada perubahan yang berarti pada datu ini. Para pengawal masih tampak berjaga seperti biasa. Semua kegiatan masih tampak seperti sedia kala.

Namun, di hari ini, saat matahari tepat berada di atas kepala, seorang prajurit dengan langkah terburu memasuki Kedatuan Muara Manan. Sejak turun dari kudanya ia terus berlari dengan cepat. Beberapa prajurit yang dilewati, hanya membungkuk kecil, dan terus memberinya jalan hingga ia sampai di ruang utama kedatuan.

"Salam sejahtera untuk Dapunta Mawascya," ujarnya sambil berlutut, tanpa bisa menutupi napasnya yang tersengal. "Hamba ingin melaporkan bahwa salah satu sambau kita kembali dirampok dan dibakar. Kali ini sambau milik Panglima Muda Sru Suja."

Sosok yang berdiri tegak di depan prajurit itu seketika terentak. Ia adalah Dapunta Mawaseya, Datu Muara Manan, penguasa yang ditunjuk untuk mengawasi perairan di muara besar ini. *

"Bagaimana mungkin?" ia bertanya tak yakin. Ia tahu betul kemampuan semua panglima muda Sriwijaya. Seorang panglima muda dipilih secara khusus dari ribuan prajurit. Kecakapan dalam bela diri dan kecerdasan mengatur strategi adalah poin utama menjadi seorang panglima muda. Hanya orang yang benar-benar istimewa yang bisa terpilih.

Sampai saat ini sudah ada tiga belas panglima muda di bawah Panglima Samudra Jara Sinya yang mengawasi scluruh perairan di Sriwijaya. Selain itu ada juga tiga belas panglima muda di bawah Panglima Bhumi Cangga Tayu yang mengawasi daratan Sriwijaya. Seorang panglima muda nantinya akan memimpin sekitar dua puluh sampai lima puluh sambau sekaligus, atau sekitar seribu sampai selaksa prajurit, tergantung kemampuannya.

Dapunta Mawaseya mengetahui sekali bila Panglima Muda Sru Suja merupakan panglima termuda dari tiga belas panglima muda lainnya. Ia baru bertugas tak lebih dari dua tahun. Namun, kecakapannya dalam bela diri tak bisa diragukan lagi. Ia merupakan salah satu prajurit yang dibimbing secara khusus oleh Panglima Samudra Jara Sinya sejak sepuluh tahun silam. Jadi, sungguh sulit disangka bila ia dan sambau-nya. dapat dikalahkan hanya oleh sekelompok perampok!

"Bajak Laut Semenanjung Karang yang melakukannya, Dapunta," prajurit yang masih menunduk itu kembali berucap.

Mendengar kalimat itu, tanpa sadar Dapunta Mawaseya mengepalkan tinjunya.

"Keterlaluan!" suaranya tiba-tiba menggelegar. "Ini sudah ketiga kalinya mereka bertindak di depanku. Benar-benar menantangku!"

Amarahnya tak bisa lagi ditutupi. Dapunta Mawaseya memang sudah sewajarnya semarah itu. Ini menyangkut reputasinya di mata Sri Maharaja, pemimpin Sriwijaya. Tiga purnama lalu, ia ditunjuk secara langsung oleh Dapunta Chra Dayana karena dianggap paling mampu mengawasi perairan di muara besar ini. Namun, belum genap tiga purnama ia memimpin, bajak laut itu sudah beraksi tiga kali.

Ini sungguh memalukan!

Padahal sejak sehari saja Dapunta Mawaseya menduduki posisi ini, ia sudah mengerahkan puluhan armadanya untuk berjaga di perairan ini. Beberapa kelompok bajak laut lain, bahkan berhasil dihancurkannya. Namun, tidak dengan Bajak Laut Semenanjung Karang.

Harus diakuinya diam-diam, Bajak Laut Semenanjung Karang memang bukanlah bajak laut biasa. Ia adalah kelompok bajak laut terkuat yang pernah diketahuinya beraksi di Pantai Timur ini. Walau sebenarnya pasukan mereka hanya terdiri dari perahu-perahu sedang saja, yangjumlahnya tak lebih dari sepuluh perahu. Namun, kemampuannya bergerak sangat mencengangkan. Sebelumnya Dapunta Mawa-seya tak pernah menemukan bajak laut yang begitu rapi dalam beraksi sebagaimana Bajak Laut Semenanjung Karang ini. Mereka begitu terorganisasi. Kemampuan mereka menentukan waktu menyerang dan menyelinap sungguh luar biasa. Tak heran serangannya selalu mengejutkan karena selalu saja dalam posisi yang tak wajar. Jelas sekali selain menguasai bela diri, anggotanya pastilah dipimpin oleh ahli strategi yang andal, bahkan mungkin pernah menjadi pasukan di lingkungan Sriwijaya!

"Bersabarlah, Dapunta," Pu Punja Supa, penasihatnya yang berjenggot putih, mendekat. "Bersabarlah!"

"Kau ingin aku bersabar berapa lama lagi, Pu?" Dapunta Mawaseya balas bertanya.

"Dengar!" Pu Punja Supa semakin mendekat, "Bila ia bisa mengalahkan sambau Panglima Muda Sru Suja, itu artinya bajak laut ini... sama sekali bukanlah lawan yang ringan."

Dapunta Mawaseya terdiam. Ucapan Pu Punja Supa yang pelan tetapi tajam seakan kembali mengingatkannya pada dugaannya. Memang seharusnya Panglima Muda Sru Suja bukanlah orang yang dapat dengan mudah dikalahkan! Saat itulah Dapunta Mawaseya baru meyakini kalau Bajak Laut Semenanjung Karang memanglah bajak laut yang sangat istimewa.

Dapunta Mawaseya kemudian membuang pandangannya ke hamparan laut di depannya. Pikirannya mencoba kembali mengingat-ingat. Tetapi, tak banyak yang diketahuinya tentang Bajak Laut Semenanjung Karang. Sebelum memegang kekuasaan di sini, ia memang pernah mendengar kabar-kabar yang tak jelas tentang bajak laut ini. Konon bajak laut ini dipimpin oleh seorang bekas dapunta di Sriwijaya. Namanya Dapunta Abdibawasepa, yang dulunya merupakan penguasa Datu Muara Jambi. Kabar ini sungguh sudah begitu lama didengarnya. Sejak ia masih saja menjadi prajurit biasa.

Kabar tentang pembelotan Dapunta Abdibawasepa cukup mengguncang Kedatuan Sriwijaya. Selama ini Dapunta Abdibawasepa dikenal sebagai sosok karismatik yang dianggap paling setia bagi Kerajaan Sriwijaya. Maka itulah, kabar tentang bergabungnya ia dengan bekas pemimpin Kerajaan Malaya cukup mengejutkan.

Akan tetapi, belum sempat Dapunta Abdibawasepa membela diri, hukuman gantung sudah dijatuhkan kepadanya, juga kepada seluruh keluarganya. Saat seluruh keluarganya dihukum itulah Dapunta Abdibawasepa diselamatkan oleh anak buahnya yang masih setia. Mereka membawanya pergi entah ke mana.

Sejak itu yang didengar olehnya adalah kisah perburuan pasukan Sriwijaya menangkap Dapunta Abdibawasepa bersama anak buahnya yang berjumlah tak lebih dari dua ratus orang.

Mengingat kisah itu, Dapunta Mawaseya hanya bisa terduduk perlahan. "Sebaiknya," suaranya terdengar pelan, "apa yang harus aku lakukan, Pu?"

Pu Punja Supa mendekat satu langkah, "Kupikir masalah ini cukup pelik. Hamba pikir Dapunta harus membahasnya secara mendalam dengan Panglima Samudra Jara Sinya."

Dapunta Mawaseya mengangguk setuju, "Kupikir memang itu jalan yang terbaik," ia kemudian segera menoleh kepada para prajuritnya yang lain. "Hari ini juga, siapkan kereta. Aku ingin bertemu Panglima Samudra Jara Sinya di Telaga Batu

---ooo0dw0ooo---

Panglima Samudra Jara Sinya merupakan sosok penuh karisma. Walau usianya telah mencapai lima puluh tahun lebih, tak terlihat ketuaan pada dirinya. Tubuhnya masih tegap, matanya masih tajam, dan pedang yang disandang di pinggangnya pun masih tampak begitu besar, tanda kekuatannya belum juga berkurang.

Pedang itu adalah Pedang Wangga. Ukurannya hampir dua kali pedang biasa. Sejak menjadi panglima muda dulu, pedang itu sudah dipegangnya. Tak semua orang bisa menggunakan pedang itu dengan baik karena ukuran dan beratnya yang tak biasa. Hanya orang-orang dengan kemampuan tenaga dalam yang tinggi saja yang bisa memainkannya dengan sempurna.

Sudah lima belas tahun Panglima Samudra Jara Sinya memegang kekuasaan tertinggi di armada samudra Sriwijaya. Bersama Panglima Bhumi Cangga Tayu, ia merupakan dua tokoh terpenting di Sriwijaya.

Bila kekuatan armada darat ada di tangan Panglima Bhumi Cangga Tayu, kekuatan armada samudra sepenuhnya ada di tangannya. Dibantu oleh dua orang putranya, Lu-wantrasima dan Sanggatrasima, serta tiga belas panglima muda yang dipilihnya, ia menguasai perairan dari Semenanjung Malaya hingga ke Bhumijawa.

Hari ini, tak seperti biasa, ia terpekur menatap tamu yang datang menghadapnya, Dapunta Mawaseya. Beberapa saat yang lalu ia larut mendengarkan seluruh cerita dari mulut dapunta yang paling kerap berhubungan dengan armada samudranya.

"Sebenarnya, ini bukan termasuk urusanku, Dapunta Mawaseya," akhirnya ia berujar pelan. "Tetapi, kupikir, kckalahan Sru Suja benar-benar di luar dugaan. Tampaknya bajak laut ini memang merupakan musuh yang harus kita urus dengan serius."

Dapunta Mawaseya mengangguk cepat, "Benar, Panglima, ini bukan masalah sederhana. Mereka bukan sekadar bajak laut biasa

"Apalagi," tambahnya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, "ada kabar yang mengatakan bahwa bajak laut itu adalah bekas pasukan ... Dapunta Abdibawasepa

Panglima Samudra Jara Sinya menoleh dengan wajah tak percaya, 'Apa yang kaukatakan?" ujarnya dengan kening berkerut, "Dapunta Abdibawasepa?"

"Ya, Dapunta Abdibawasepa, bekas Datu Muara Jambi."

Panglima Samudra Jara Sinya tertegun. Pikirannya mendadak melayang jauh ke saat itu ....

Dapunta Abdibawasepa ....

Ah, ia mengenal sekali sosok itu. Sebelum menjadi dapunta di Datu Muara Jambi, Dapunta Abdibawasepa merupakan Panglima Bhumi Sriwijaya. Beberapa tahun ia pernah bertugas bersama dengan tokoh itu sehingga mengenalnya secara pribadi. Dulu, sewaktu ada kabar tentang pembelotannya dari Kerajaan Sriwijaya, hanya ia yang terus berusaha membela dapunta itu hingga mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk membuktikan kebenaran kabar itu. Namun, tampaknya bukti-bukti sama sekali tak terbantahkan lagi. Ia pun tak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tak pernah yakin Dapunta Abdibawasepa bisa berkhianat pada tanah yang disanjungnya ini. Hingga Kelompok Rahasia Wangseya, kelompok rahasia yang ada di bawah kendali langsung Dapunta Hyang penguasa Sriwijaya, mengusulkan hukuman mati bagi Dapunta Abdibawasepa dan keluarganya!

Sungguh, Panglima Samudra Jara Sinya masih mengingat itu semua dengan jelasnya.

Maka itulah, ia kemudian segera berpaling ke arah Dapunta Mawaseya, "Baiklah Dapunta," ujarnya, "Sebaiknya kita bergerak cepat ”

---ooo0dw0ooo---

Jauh di timur muara besar, di balik sebuah pulau besar, terdapat gugusan pulau-pulau kecil tak bernama. Sebagian besar hanyalah pulau-pulau karang. Di sanalah embusan angin musim penghujan terasa begitu luar biasa. Rintikan airnya sesekali datang dan sesekali berhenti. Namun, gelombangnya benar-benar seakan tak terkendali. Sungguh, berbeda dengan perairan yang ada di sebelah barat pulau yang selalu tampak ramai, di sini laut seakan tak berkawan.

Sudah sejak lama perairan di sini dikenal dengan perairan yang berombak sangat ganas. Namun, jalur ini tetap saja selalu dilalui oleh perahu-perahu besar. Tak heran, perairan ini memang merupakan satu-satunya jalur yang paling ' dekat bagi perjalanan dari Cina ke Bhumijawa, juga sebaliknya.

Karena keadaan inilah, beberapa bajak laut kemudian menduduki daerah ini sebagai tempat aksi mereka! Satu yang paling dikenal saat ini adalah Bajak Laut Semenanjung Karang. Tak ada yang tahu mengapa disebut demikian. Semenanjung Karang bukanlah kata yang umum. Gugusan pulau karang ini sama sekali tak bisa disebut semenanjung. Namun, nama itulah yang melekat pada kelompok bajak laut itu. Mungkin karena tempat aksi mereka, juga tempat persembunyian mereka, ada di sepanjang Semenanjung Malaya hingga di gugusan pulau karang ini. Tak ada yang benar-benar tahu.

Awalnya Bajak Laut Semenanjung Karang tampak tak berbeda dengan bajak laut lainnya. Namun, semakin lama aksinya semakin terlihat berbeda. Mereka selalu beraksi di tempat-tempat yang sama sekali tak bisa diduga. Bahkan, sekali dua kali mereka beraksi di dekat muara besar. Sungguh, mereka merupakan bajak laut paling berani yang dikenal sepanjang waktu ini.

Tak hanya sampai di situ, lama-kelamaan Bajak Laut Semenanjung Karang juga tak segan-segan menyerang sam- bau-sambau Sriwijaya, yang biasanya paling dihindari oleh bajak laut lainnya. Inilah yang kemudian membuat mereka menjadi bajak laut yang paling dicari oleh Kerajaan Sriwijaya.

Aksi terakhir Bajak Laut Semenanjung Karang adalah saat mengalahkan sambau bertiang layar empat pimpinan Panglima Muda Sru Suja. Hanya* dengan sepuluh perahu yang panjangnya tak lebih dari sepuluh tombak dan memuat sekitar lima belas orang, mereka dapat mengalahkan ratusan pasukan Panglima Muda Sru Suja, melalui pertempuran yang tak terlalu lama. Lalu, setelah menguras harta di sambau itu, mereka segera membakar sambau itu dan segera melarikan diri ke arah gugusan pulau-pulau karang.

Tak ada yang tahu ke mana kemudian mereka melarikan diri. Tak ada yang pernah tahu. Gugusan pulau-pulau karang ini seakan menelan kesepuluh perahu itu dalam kebisuannya. Akan tetapi, bila dengan saksama mengamati sekitar pulau- pulau itu, di salah satu pulau yang terletak di tengah gugusan pulau itu, akan terlihat sebuah celah yang nyaris tak terlihat. Celah itu hanya sempit saja dan sangat berkelok. Mata yang tak awas, tak akan mengenalinya sebagai sebuah celah.

Namun, ke situlah kesepuluh perahu-perahu tadi menyelinap.

Celah itu ternyata membawa perahu-perahu itu menuju ke sebuah perairan tenang yang cukup berkelok. Sebuah daratan dengan dermaga kayu kecil seakan menjadi tujuan pelarian itu. Ya, sebuah dataran yang seakan menjadi pulau kecil yang dikelilingi karang-karang tinggi di sekitarnya. Di situlah, terhampar sebuah tanah yang tampak begitu hijau. Pohon- pohon kelapa berderet seirama dan puluhan rumah berjajar dalam susunan yang teratur.

Beberapa perempuan dan anak kecil segera berlarian menyambut kedatangan perahu-perahu itu, yang satu per satu mulai mendarat. Orang-orang di atasnya segera saja turun dengan tawa berderai. Beberapa langsung berpelukan dengan perempuan-perempuan dan anak-anak yang berlari menyambut tadi.

Suasana seperti ini selalu tercipta di setiap kepulangan perahu-perahu ini. Walau terkadang, suasana gembira ini diimbangi oleh tangisan-tangisan pilu ketika didapati bahwa sosok yang ditunggu ternyata telah menjadi korban saat pembajakan!

Seorang pemuda gagah bertelanjang dada dengan ikat kepala berwarna putih tak lama kemudian juga melompat turun ke daratan. Matanya yang tajam memandang sekilas sekelilingnya. Senyumnya mengembang sambil menepuki pundak orang-orang yang ada di dekatnya. Beberapa orang yang dilewatinya, terutama perempuan-perempuan yang tengah menyambut itu, tampak sedikit menundukkan kepala kepadanya. Pemuda itu adalah Kara Baday, pemimpin Bajak Laut Semenanjung Karang.

---ooo0dw0ooo---

Kara Baday segera beranjak dari kerumunan itu. Bergegas- gegas ia berjalan menuju rumah-rumah yang ada di sebelah utara. Beberapa orang yang akan menyambut rombongan itu di dermaga berpapasan dengannya.

"Kau tampak lelah, Kara," seorang perempuan menyodorkan air kepadanya dalam sebuah ruas bambu.

"Begitukah? Padahal aku sama sekali tidak merasa lelah," Kara Baday tersenyum sambil menerima ruas bambu itu dan menenggak isinya beberapa teguk. "Ah, segarnya, Bibi

Perempuan itu tersenyum. Setelah ia berlalu, giliran beberapa bocah berlarian mendekatinya sambil berteriak- teriak, "Kakak Kara, Kakak Kara! Ayo, ceritakan kepada kami petualanganmu kali ini!"

Kara Baday tersenyum lebar. Diacaknya rambut bocah- bocah itu satu per satu, "Tentu saja akan kuceritakan, tetapi nanti. Bukankah aku harus pulang dahulu untuk menjenguk Abah?"

Bocah-bocah itu mengangguk dan kembali berlarian menuju tepi pantai.

Kara Baday kembali melangkah ke sebuah rumah yang letaknya ada di belakang rumah-rumah lainnya. Hanya beberapa tombak di belakangnya, karang-karang tinggi sudah terlihat menjulang.

Bentuk rumah-rumah yang ada di sini begitu sederhana. Dindingnya dibuat dari pelupuk, atau bambu yang diretak- retakkan pada ruas-ruas dan buku-bukunya, sedang atapnya terbuat dari daun-daun kelapa yang dikeringkan dan dianyam sedemikian rupa. Namun, walaupun sederhana, rumah-rumah ini tampak begitu nyaman.

Rumah yang didatangi Kara Baday merupakan rumah terbesar di antara rumah-rumah lainnya. Perbedaan yang lebih mencolok, rumah itu berdiri di tanah yang lebih tinggi.

Beberapa undak-undakan dari kayu terlihat di depan rumah. Undak-undakan teratas seakan menjadi semacam teras yang lebar bagi rumah itu. Di sinilah biasanya digelar pertemuan para penduduk di Pulau Karang ini. Kara Baday memasuki rumah itu. "Abah," ia memanggil sambil melepas ikat kepalanya. Seorang tua yang berjalan sedikit terbungkuk tampak tengah mendekat ke arahnya. "Bagaimana petualanganmu kali ini, Kara?" tanyanya.

Kara Baday segera mencium tangan ayahnya. "Kami berhasil, Abah," ia tersenyum lebar. Lelaki tua itu tersenyum samar di balik jenggotnya yang telah memenuhi wajah. Ia adalah ayah Kara Baday, tetua pemimpin Pulau Karang ini. Penduduk biasa memanggilnya dengannama Abah Kara.

"Kali ini bukan perahu biasa, Abah," ujar Kara Baday lagi. "Melainkan ... sambau Sriwijaya. Pemimpinnya bahkan sudah sangat terkenal. Namanya Panglima Sru Suja, satu dari tiga belas panglima muda

Senyum samar di wajah Abah Kara segera hilang, berganti raut wajahnya yang tampak tak gembira.

"Kau semakin berani, Kara," ujarnya parau. "Sudah berkali- kali kukatakan, seharusnya kau tak perlu berhubungan dengan panglima-panglima itu "

Kara Baday tersenyum lebar, "Aku tahu, Abah. Tetapi, saat itu posisi kami begitu menguntungkan. Sambau Sriwijaya itu tengah merapat di salah satu pantai, tanpa pengawalan sambau lainnya. Jadi kupikir, ini waktu yang tepat buat menyerang mereka. Bukankah seharusnya Abah gembira

mendengar kabar ini?" Abah Kara menggeleng pelan, "Kau masih terlalu muda, Kara. Kau ... terlalu meremehkan mereka Ia kemudian membuang pandangannya melalui jendela. Walau tubuhnya sudah tampak begitu tua dengan keriput di seluruh kulitnya, tetapi samar-samar guratan wajahnya yang gagah masih terlihat. Sangat jelas bahwa lelaki tua ini bukanlah orang biasa!

Seperti kabar yang telah beredar sebelumnya, lelaki tua ini dulu dikenal dengan nama Dapunta Abdibawasepa, bekas penguasa Datu Muara Jambi. Hampir lima belas tahun sejak kejadian itu, wajahnya memang telah banyak berubah.

Mungkin ia kini telah dilupakan banyak orang. Walaupun begitu, tak ada yang bisa memungkiri bahwa dulu ia adalah satu dari dapunta paling terkemuka di Bhumi Sriwijaya.

Sejak dirinya dinyatakan berkhianat dan seluruh keluarganya dihukum mati, ia bersama dengan anak buahnya melarikan diri dari Datu Muara Jambi. Ia tak bisa membawa apa-apa saat itu, selain anak bungsunya yang waktu itu baru berusia lima tahun. Anak itulah yang kini berdiri di hadapannya.

"Lain kali, kau harus bisa berpikir dengan lebih dalam, Kara," suaranya terdengar pelan.

Dan, Kara Baday hanya mengangguk, mengiyakan. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berjalan dengan terburu di teras rumah. Dan, sebelum diketahui siapa pemilik langkah itu, sebuah suara telah terdengar ....

"Kakak Kara?"

Lalu, wajah seorang gadis dengan rambut diikat ke belakang muncul dari balik pintu, "Kau sudah pulang?" ia tersenyum. "Maaf, tadi aku tengah sibuk membersihkan rumah hingga tak mendengar suara kedatanganmu

Kara Baday segera mendekati gadis itu sambil tersenyum, "Aku baru saja akan ke tempatmu," ujarnya. Lalu, segera ia berpaling kepada ayahnya, "Abah, aku pergi dulu."

Sebelum sempat ayahnya menjawab, Kara Baday sudah menarik tangan gadis itu keluar rumahnya.

Gadis itu adalah Aulan Rema. Ia tinggal bersama Paman Kumbi Jata dan istrinya dan mungkin merupakan satu-satunya orang yang sebenarnya tak mempunyai hubungan apa-apa dengan kelompok bajak laut ini.

Umurnya tak lebih dari tiga belas tahun. Wajahnya masih tampak begitu kekanakan. Ia merupakan adik dari Phri Jandi, kekasih Kara Baday dulu.

Sebelum menetap di Pulau Karang ini, Dapunta Ab- dibawasepa bersama anak buahnya yang berjumlah dua ratus orang lebih memang tinggal berpindah-pindah. Hampir selama lima belas tahun, lima belas tanah telah diinjak untuk dihidupinya. Dari membaur dengan penduduk yang sudah ada sampai membabat hutan untuk membuat permukiman baru, semuanya telah dilakukan sekadar untuk bertahan hidup.

Tahun-tahun awal pelariannya adalah masa terberat bagi Dapunta Abdibawasepa. Selain ia kehilangan seluruh keluarganya, empat orang istri, sebelas anak, dan hampir seribu orang pengikutnya, ia juga telah menjadi sosok paling dicari oleh Sriwijaya. Saat itu, setiap kali pasukan Sriwijaya mengendus keberadaannya, mereka akan berusaha menangkapnya. Maka itulah, Dapunta Abdibawasepa selalu pergi mencari tanah baru lainnya.

Untungnya memasuki tahun kesepuluh pelariannya, pencarian pasukan Sriwijaya sedikit mengendur. Ia bisa lebirj lama tinggal di satu daerah. Hingga satu saat, mereka pernah tinggal di sebuah datu tak bernama cukup lama. Waktu itu tak terasa telah lebih tiga belas tahun pelariannya. Kara Baday tak lagi menjadi bocah ingusan yang selalu menangis di setiap pelariannya. Ia telah menjadi sosok remaja dengan ilmu bela diri yang lumayan. Para pengikut ayahnya, yang jumlahnya semakin sedikit, selalu mengajarinya di setiap ada kesempatan. Terutama Paman Kumbijata, yang dulu merupakan salah satu pu di Datu Muara Jambi.

Saat itulah Kara Baday mengenal Phri Jandi. Mungkin itu adalah potongan hidupnya yang paling indah. Ia melihat sosok jelita itu di antara hamparan padi yang menguning. Harum padi yang menyusup di hidungnya membuatnya seakan memasuki ruang-ruang waktu yang sangat asing baginya.

Waktu itu usia Phri Jandi memang beberapa tahun di atas Kara Baday, tetapi itu sama sekali tak menghalangi cinta keduanya.

Akan tetapi, pasukan Sriwijaya kembali mengendus keberadaan mereka. Tak lama kemudian, datu itu pun dikepung dan dibakar. Semua seakan musnah saat itu, hamparan padi, rumah-rumah, dan orang-orang yang mendiaminya.

Namun, Dapunta Abdibawasepa dan anak buahnya serta beberapa penduduk berhasil melarikan diri ke arah utara. Di situlah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ....

Menceburkan diri ke sungai yang mengalir deras! Lalu, tanpa memiliki pilihan lain, semuanya segera menceburkan diri ke sungai itu. Semuanya hanyut mengikuti aliran sungai itu.

Semuanya tercerai-berai. Puluhan orang meninggal saat itu, terutama para penduduk datu.

Akan tetapi, Dapunta Abdibawasepa dapat selamat, juga Kara Baday. Ia dapat bangkit dengan luka di sekujur tubuhnya. Namun, ia tak lagi menemukan Phri Jandi di antara tubuh-tubuh tak bernyawa di hilir sungai itu.

Yang ditemukannya hanyalah Aulan Rema yang tengah menangis ....

---ooo0dw0ooo--- "Kali ini Kakak membawakan aku apa?" Aulan Rema menarik Kara Baday dengan manja.

Kara Baday mengeluarkan sesuatu dari balik ikat pinggangnya. Saat itu untuk menyimpan kepeng emas dan perak, ataupun belati, biasanya diselipkan di dalam ikat pinggang yang terbuat dari kain. Kain ikat pinggang ini dililitkan melingkar hingga tiga-empat kali dan dibentuk sebuah simpul di sampingnya.

"Ini," Kara Baday mengeluarkan sebuah kalung dari kerang laut.

Mata Aulan Rema berbinar menerimanya.

"Ah, indahnya," ujarnya sambil tak lepas memandangi-' nya. "Bentuknya aneh. Sungguh, aku belum pernah melihat kerang seperti ini. "

Kara Baday tertawa, "Tentu saja kau belum pernah melihatnya. Itu kerang dari Pantai Barat. Aku membelinya langsung dari sana."

Mata Aulan Rema semakin tampak senang, "Kakak sampai ke Pantai Barat?"

Kara Baday mengangguk, "Tentu saja. Saat itu kami mengecoh sambau Sriwijaya agar semakin menjauh dari sini. Kau tahu sendiri kan beberapa bulan ini, banyak sekali sambau Sriwijaya melewati pulau kita

Aulan Rema mengangguk-angguk. Ia memang sudah mengetahuinya sejak lama ketika muara besar dipegang oleh Dapunta Mawaseya, sambau-sambau Sriwijaya jadi semakin sering terlihat berkeliaran di sekitar perairan ini. Bahkan, di ujung selatan pulau besar itu, beberapa sambau tampak jelas berjaga. Aulan Rema kemudian memakai kalung itu. Namun, karena ikatannya masih terlalu lebar, kalung itu tampak terlalu besar bagi Aulan Rema.

"Sini, biar kubantu mengikatnya," ujar Kara Baday.

Aulan Rema sedikit membalikkan badannya. Diangkatnya rambutnya yang panjang, membiarkan Kara Baday mengikat kalung itu.

Setelah selesai, ia langsung berdiri menghadap Kara Baday. "Hmmm, Kakak tak berkomentar apa-apa?" tanyanya.

Kara Baday tersenyum, "Hmmm, kau ... tentu saja terlihat semakin jelita, Aulan

Aulan Rema mencibir, "Huh, kalau tak kupaksa berkomentar, Kakak pasti diam saja," ujarnya tanpa bisa menutupi pipinya yang merona.

Kara Baday hanya tertawa. Saat itulah, tiba-tiba beberapa bocah kecil berlarian ke arah keduanya.

"Kakak Kara, Kakak Kara, ayo ceritakan kepada kami!" salah satu bocah, yang beringus paling hijau, segera menarik- narik tangan Kara Baday.

"Kami tadi minta Paman Kumbi untuk bercerita," ujarnya lagi. "Tetapi, baru sempat beberapa kalimat saja, Paman Kumbi sudah tertidur

Kara Baday tertawa, "Tentu sajaia tidur, kami ini begitu lelah

"Tetapi, Kakak Kara tidak terlihat lelah," seseorang bocah yang terus-terusan mengorek hidungnya menimpali.

Kara Baday mengacak rambut bocah itu.

"Baiklah kalau begitu," ujarnya. "Akan kuceritakan kepada kalian semua tentang sebuah pantai yang jauh di barat sana," Kara Baday melirik kepada Aulan Rema yang mendadak turut memasang wajah ingin tahu, seperti bocah-bocah di depannya.

"Ini cerita tentang perahu-perahu kecil yang berhasil meloloskan diri dari kejaran sambau-sambau Sriwijayaujar Kara Baday sambil memulai cerita.

Dan, langit pun kemudian turut mendengarkan cerita itu....

---ooo0dw0ooo---