-->

Nyanyian Maut

Pengarang : Wahyu Muljana
NYANYIAN atau tembang biasanya sangatlah digemari dan disukai oleh orang- orang yang suka akan seni. Betapa tidak? Nyanyian adalah suatu kesenian yang baik sekali dan enak dipelajari. Orang gembira dapat bernyanyi dan orang dukapun dapat menyanyi untuk menghilangkan rasa dukanya. Hingga dengan demikian maka nyanyian itu mempunyai dua faedah. Faedah pertama untuk mencetuskan perasaan kegembiraan dan yang kedua untuk menghibur hatinya sendiri yang sedang duka.

Memang kalau dipikir demikian itu bukannya hanya nyanyian saya yang mempunyai arti genap itu. Tapi semua barang tentu mempunyai arti kebaikan dan keburukan. Karena kedua arti itu telah seperti hukum yang tak tertulis dan berasal dari alam sendiri.

Misalnya hujan! Hujan sangat diharapkan oleh para petani yang sedang mulai menanam padinya. Karena air hujan inilah yang menyuburkan tanahnya dan akan membuat tanamannya menjadi baik. Karena itulah maka hujan dikatakan baik oleh para petani yang baru tandur.

Akan tetapi tidak demikian oleh para penjual es. Setiap hujan datang maka para penjual es akan mengeluh dan mengumpat-umpat. Dengan demikian maka hujan itu merugikan para penjual es, dan karena merugikan itulah maka ia disebut buruk.

Sekarang kentut! Biasanya orang-orang akan mengatakan kalau kentut adalah suatu yang merugikan dan tak ada unsur-unsur kebaikannya. Tapi kalau kita bahas dengan seksama maka akanlah tampak pula kalau kentut itupun mempunyai kebaikan-kebaikan tersendiri. Memang bagi si penerima akanlah sangat merugikan dan merasa tak enak kalau mencium kentut. Tapi ingat bagi si pengentut, hal ini merupakan suatu kebaikan. Sebab kalau kentut itu tak keluar dari perutnya maka akan mengakibatkan sakitnya perut. Perut orang yang tak dapat mengentut itu akan menjadi kembung, dan kalau kembung itu berarti merugikan bagi dirinya sendiri dan karena itu kalau kentut bisa keluar berarti itu sangat baik dan menguntungkan.

Begitupun dengan nyanyian ini. Orang banyak menganggap kalau nyanyian itu baik, munghin sangatlah jarang sekali kalau ada orang yang mengatakan nyanyian itu jelek. Namun tidak demikian dengan para penduduk didesa Karang Kajen. Penduduk desa Karang Kajen kebanyakan mengatakan kalau nyanyian itu jelek dan menakutkan. Hal ini disebabkan dengan munculnya : “Nyanyian Maut”. Yah munculnya seorang pemuda yang meniupkan lagu dengan sulingnya, tapi setiap kali lagu itu mengalun maka banyaklah orang yang jatuh pingsan dan kemudian meninggal setelah mendengarnya. Bahkan yang lebih hebat lagi, sebelum mereka itu meninggal terlebih dahulu mereka mencak-mencak dan kelabakan seperti orang gila.

Disuatu pagi tampaklak orang-orang sepasar menjadi kelabakan dan mencak- mencak setelah mendengar suara suling yang melengking tinggi dan menyakitkan hati itu. Suling itu terus melengking-lengking menyanyikan lagu Dandanggulo, tapi pengaruhnya sangatlah hebat. Ada yang terus menari dan mencabik-cabik pakaiannya hingga orang itu menjadi telanjang, ada lagi yang terus memukul-mukul kepalanya sendiri hingga benjol-benjol, adapula yang saling pukul-memukul dengan kawannya sendiri. Pokoknya sangatlah aneh mereka itu. Perbuatannya seperti orang-orang yang kesurupan setan. Makin lama bunyi suling itu makin melengking dengan tingginya. Suaranya terus menyusup dari telinga dan mengeram didalam hati mereka itu.

“Huahaaaaa..... haaaaa..... haaaaa..... hikk.... hiiikkk..... hiiiikkkk..... aduh.....

hehehhhhh..... hehhhhhh..... hehehhhhhh......” Berbagai-bagai suara terdengar dari pasar itu. Ada yang menangis ada yang tertawa ada pula yang mengaduh. Tapi semakin lama suara suling itu menjadi semakin melengking dan banyaklah orang- orang yang mulai pingsan dan mati. Kalau ada yang kuat bertahan maka ia telah menjadi lemas..... lemas akhirnyapun mati.

Hingga suasana pasar yang tadinya ramai dan gaduh itu berubah menjadi sepi. Mayat-mayat berserakan disana-sini. Dan setiap mayat itu akan tampak pula darah mengalir dari kuping mereka itu. Kendangan kuping mereka itu telah pecah kena pengaruh lengkingan bunyi suling yang menyeramkan itu.

Dari beratus-ratus atau ribuan orang yang berada dipasar itu hanya ada seorang yang berhasil keluar dengan hidup. Orang yang keluar dengan hidup-hidup itu adalah seorang bisu tuli. Orang-orang desa Karang Kajen hampir semuanya mengenal orang tua yang bisu dan tuli itu. Apa lagi dikalangan anak-anak kecil yang suka mengganggunya. Di desa Karang Kajen itu ia terkenal dengan namanya pak Gagu. Entah siapa namanya yang asli, orang-orang hanya mengenalnya dengan nama pak Gagu itu saja.

Memang dunia ini serba aneh! Orang yang inderanya tak lengkap malah dapat bertahan dari pengaruh bunyi lengkingan suling itu. Hal ini bukannya orang tua gagu itu sangat sakti dan punya aji-aji yang ampuh. Melainkan karena ia tuli itulah maka ia tak mendengar suara suling dari si pemuda itu, dan karena tak mendengar ia lalu terbebas dari pengaruhnya. Setelah ia mengetahui kalau orang-orang sepasar menjadi mati semua maka ia lalu cepat-cepat pulang. Ngeri rasanya ia melihat orang-orang yang mendadak menjadi gila dan mati. Sebagai seorang tuli ia tak mendengar karena itu ia tak mengetahui mengapa orang-orang mendadak menjadi gila itu.

Sewaktu ia masih bergegas-gegas akan pulang tiba-tiba saja ia diberhentikan oleh para penduduk yang terus lari kepasar.

“Pak, apakah yang terjadi?” Tanya salah seorang sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk bertanya.

“Ahhh.. Uhhhh... Ahhh... Uhhhhh.” Jawab pak Gagu yang terus menjawab dengan gerakan tangannya. Tangan kakek Gagu itu terus digerak-gerakkan dan menirukan orang meniup suling dan terus menirukan gerakan-gerakan orang-orang yang menjadi gila dengan mendadak.

Melihat tingkah laku orang tua yang gagu ini banyak anak-anak yang terus menjadi ketawa dan menggodanya. Tapi begitu mereka kena gertak pak lurah diamlah mereka itu. Dengan amat cermatnya pak lurah lalu menghubung-hubungkan cerita pak Gagu itu dengan kejadian yang baru saja terjadi didesa Karang Kajen itu.

Tapi setelah dapat menangkap arti cerita kakek Gagu ini maka pucatlah mereka dan tanpa sesadarnya mereka mendesis bersama-sama :

“NYANYIAN MAUT!”

Sementara mereka sedang berisik memperbincangkan Nyanyian Maut itu maka pak lurah segera menirukan orang meniup suling dan terus badannya bergoyang- goyang seperti orang gila yang sedang menari-nari. Hal ini dilakukan didepan si kakek Gagu itu.

Melihat kelakuan pak lurah tahulah si kakek Gagu itu kalau pak lurah menanyakan kepadanya tentang hal yang terjadi barusan ini. “Uhhhh.... Uhhhh.... Uhhhh!!” Jawab kakek Gagu itu sambil mengangguk- anggukkan kepalanya. Dan setelah itu ia lalu cepat-cepat meninggalkan pak lurah untuk kembali kerumahnya.

Melihat kelakuan kakek Gagu ini yakinlah pak lurah kalau orang yang membuat onar didaerahnya ini pasti Si Nyanyian Maut yang sangat kejam dan lagi masih muda. Siapa lagi orang yang sampai hati berbuat demikian kejamnya kecuali NYANYIAN MAUT??

Sementara mereka sedang gelisah dan membayangkan perasaan takut itu ada sepasang muda-mudi yang terus saling lirik-melirik dengan penuh perasaan heran. Kadang-kadang si pemuda yang selalu lirik-lirikan dengan si gadis itu tampak mengerutkan keningnya tapi kemudian kembali wajahnya menjadi jernih. Tapi tidak demikian dengan si gadis. Ia tetap memikir kejadian apakah yang barusan ini terjadi. Keringat terus mengalir dengan derasnya melalui dahinya. Seakan-akan gadis itu tak akan membiarkan teka-teki itu memenuhi benaknya dengan tak terjawabkan. Sewaktu si gadis tengahnya memikirkan hal itu terdengarlah perkataan si pemuda yang bertanya kepada pak lurah :

“Pak, apakah bapak ini lurah dari desa ini??”

Mendengar pertanyaan si pemuda asing ini maka pak lurah lalu memandang kearah si penanya dengan pandangan penuh selidik. Seakan-akan orang tua itu ingin membaca apa yang terkandung didalam hati anak muda penanya itu. Sampai lama pak lurah menyapukan pandangannya kearah si pemuda dari atas kebawah dan dari ujung kaki sampai keujung rambutnya kembali. Setelah mendapat kesan yang baik maka menjawablah pak lurah :

“Ya! Akulah lurah desa Karang Kajen ini!” Katanya dengan singkat.

“Oh    jadi desa ini bernama Karang Kajen??” Kembali pemuda itu bertanya.

Sebagai jawabannya pak lurah hanya menganggukkan kepalanya saja. Tapi pandangannya yang tajam itu tak lepas-lepasnya memandang kearah si pemuda ini. Namun tak antara lama dari itu terdengarlah perkataan pak lurah desa Karang Kajen itu :

“Apakah kau ini orang dari luar desa, angger?”

“Ya aku adalah perantau yang kebetulan lewat didesa ini. Dan secara kebetulan pula tertarik oleh kejadian yang menimpa desa ini. Dapatkah aku mengetahui apakah yang terjadi barusan ini pak??” Jawabnya dengan balas bertanya kembali.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu lebih dahulu aku ingin mengetahui

siapakah namamu, anak muda?”

“Orang menyebutku sebagai Ksatria Aneh! Dan ini adikku Prasintorini, nah setelah kalian mengetahui namaku apakah aku boleh meagetahui persoalan yang kalian pikirkan ini? Dan kejadian apakah yang menimpa desa Karang Kajen ini? Hingga orang-orang sepasar mati terbunuh semua!” Jawab pemuda itu memperkenalkan diri dan memperkenalkan gadis yang berada didekatnya itu pula.

Kembali lurah desa Karang Kajen itu menjadi kaget setengah mati setelah mendengar nama Ksatria Aneh dan Prasintorini ini. Nama kedua orang inipun tak kalah terkenalnya dengan nama : Nyanyian Maut. Hingga boleh dikatakan kalau nama mereka itu sama terkenalnya. Hanya saja kalau sepasang pendekar ini terkenal dengan nama baiknya. Tapi kalau Nyanyian Maut terkenal dengan jahatnya. Tapi sama sekali tak pernah disangkanya kalau orang-orang yang terkenal sebagai pendekar-pendekar kebajikan dan namanya telah menjulang tinggi kelangit itu ternyata orangnya masih muda. Apa lagi Prasintorini. “Ja...... ja...... jadi angger berdua inikah yang terkenal dengan sebutan Sepasang

Pendekar Budiman??” tanya pak lurah dengan gagap.

“Mungkin ada orang yang menyebut demikian, bapa! Tapi aku tetap memakai nama Ksatria Aneh. Dan adikku ini berjuluk Wanita Singa.”

“Kebetulan..... kebetulan sekali angger! Kalau tak kepada kalian kepada siapa lagi bapa akan minta pertolongan. Ketahuilah nak kalau sudah beberapa hari ini desa Karang Kajen selalu diganggu dan dihebohkan dengan munculnya seorang tokoh hitam yang menamakan dirinya sebagai Nyanyian Maut...”

“Nyanyian Maut” Patong Prasintorini.

“Ya, Nyanyian Maut! Sebab orang itu selalu meniup suling dan melagukan Dandanggulo untuk membunuhi orang-orang. Dan anehnya sebelum orang-orang itu meninggal terlebih dahulu mereka itu dibuat gila mendadak. Akhirnya mereka mati dengan darah keluar dari telinganya. Bahkan tak jarang pula dari semua lubang- lubang tubuhnya mengeluarkan darah.” Seru pak lurah itu sambil menutup ceritanya.

“Hebat..... hebat..... membunuh orang dengan mempergunakan suara! Sungguh hebat! Sukar sekali dipercaya kalau tak menyaksikan sendiri hasil pekerjaannya. Memang akupun pernah mendengar nama Nyanyian Maut itu tapi sayangnya belum beruntung bertemu dengan orangnya.” Desis Prasintorini dengan kagum.

“Tahukah bapa dimana Nyanyian Maut itu tinggal??” Tanya Ksatria Aneh

kepada pak lurah.

“Ah..... mana aku tahu tempatnya manusia iblis itu? Ia pergi dan datang seperti setan. Muncul lenyapnyapun seperti hembusan angin.” Mendengar jawaban lurah ini kecewalah kedua pendekar muda itu.

“Sungguh besar sekali akibat pengaruh si Nyanyian Maut itu, kakang! Aku merasa kasihan sekali terhadap rakyat desa sini yang menjadi ketakutan dan hidup gelisah setelah munculnya Nyanyian Maut itu.” Seru Prasintorini menguraikan pendapatnya.

“Sebagai seorang yang telah menerjunkan didunia kependekaran maka aku tak akan mendiamkan saja kejahatan terus-menerus bercokol dimuka bumi ini, adi. Biarpun untuk memberantas kejahatan ini aku harus berkorban nyawa sekalipun.”

“Betul kakang! Kejahatan haruslah kita kikis habis dari muka bumi ini, aku akan menyediakan tenaga dan nyawaku untuk membantu usahamu memberantas kejahatan dau menegkkan keadilan serta membela kebenaran, kakang. Aku akan selalu berjuang disampingmu.”

Betapa terharunya hati Ksatria Aneh setelah mendengar perkataan Prasintorini ini. Dengan secara tak sadar ia telah mengungkapkan perasaan hatinya kepada si pemuda yang selalu dipuja dan memujanya itu. Ingin rasanya ia memeluk dan mencium kekasihnya ini kalau tak ada orang-orang yang berdiri dihadapannya itu.

“Betul adi! Bantu-membantu akanlah menambah kuatnya perjuangan kita apa lagi musuh yang akan kita hadapi ini bukanlah seorang yang berkepandaian murahan saja. Ia adalah seorang yang tangguh! Karena itu kita harus memupuk persatuan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!”

“Memang kakang, bersatu kita teguh bercerai apakah tidak kawin lagi???” Goda

Prasintorini dengan tersenyum.

Mendengar perkataan si gadis ini maka tertawalah para penduduk yang kebetulan masih berada disitu. Mendengar suara tawa mereka itu tersenyumlah mereka.

“Ketahuilah adi, kalau persatuan itu sangat penting. Kepandaian dan senjata

ampuh tak akan ada artinya kalau tanpa persatuan. Ingatlah akan jaman pewayangan dahulu itu. Pandawa yang hanya terdiri dari lima orang saudara dan perajuritnyapun sangat sedikit namun mempunyai kekompakan dan persatuan yang kuat dapat pula mengalahkan Kurawa yang mempunyai banyak tentara dan saudara. Kurawa yang punya banyak punggawa dan saudara itu tak mempunyai kekompakan dan persatuan hingga dengan demikian ia menjadi lemah dan mudah digempur. Kalau kita umpamakan mereka itu lidi. Maka Kurawa adalah lidi-lidi yang tersebar sendiri- sendiri.

Tapi lain halnya dengan Pandawa, kalau mereka itu lidi maka lidi itu telah terikat menjadi satu. Lidi biarpun mempunyai sifat mudah dipatahkan tapi kalau terikat menjadi satu maka ia akan menjadi sangat kuat dan tak mudah dipatahkan. Inilah lambang Pandawa, adi. Persatuan.... kerukunan sangat penting sekali untuk mencapai kemenangan dalam perjuangan.”

Pak lurah menjadi lebih kagum dan hormat lagi setelah mendengar perkataan si Ksatria Aneh yang demikian itu. Ia tak menyangka kalau selain mempunyai kepandaian yang tinggi Ksatria Aneh itupun mempunyai pengertian filsafat-filsafat yang sedemikian tingginya. Dan mungkin amatlah sukar untuk ditangkap oleh anak- anak tanggung sebaya Prasinturini.

Namun Prasintorini ini adalah murid dari seorang sakti pula. Biarpun gurunya itu termasuk seorang tokoh hitam namun tetap saja ia mengajarkan kebaikan- kebaikan pada muridnya. Hingga dengan demikian Prasintorini dapat menangkap apa maksud perkataan Ksatria Aneh yang menjadi kawan perjalanannya ini.

“Baik, kakang! Apa yang kau nasehatkan kepadaku akan kuingat-ingat dan akan

kujalankan dengan baik.”

Tiba-tiba terdengarlah perkataan pak lurah :

“Angger, daripada kita berdiri-diri disini saja maka lebih baik kita bicara di

kelurahan saja. Marilah angger!”

“Baik pak! Marilah kita berangkat.”

Setelah itu maka pergilah mereka itu menuju kekelurahan. Dan disana ia dapat bicara dengan panjang lebar.

Pada malam harinya ketika Ksatria Aneh sedang bercakap-cakap dengan Prasintorini, tiba-tiba terdengarlah bunyi langkah orang yang sangat ringan mendatangi kearahnya.

“Adi Prasintorini, apakah kau mendengar bunyi langkah orang?” Tanya Ksatria

Aneh dengan memasang telinga.

Mendengar pertanyaan Ksatria Aneh ini maka Prasintorini lalu memasang telinganya. Tapi sampai sekian lamanya ia belum juga mendengar suara langkah itu. Karena kesalnya maka ia lalu mendekatkan telinganya ketanah dan terus menempelkan daun telinganya keatas tanah. Setelah daun telinganya menempel diatas tanah ia baru mendengar suara itu. Tapi terdengar lamat-lamat dan jauh sakali.

Melihat kelakuan Prasintorini ini tersenyumlah Brotolaras si Pendekar Aneh, segera ia bertanya :

“Betulkah adi, kalau ada orang yang datang kemari??”

“Ya kakang! Tapi apakah orang ini tidak masih jauh? Dan lagi gerakannya amat ringan sekali.” Jawab Prasintorini sambil menganggukkan kepalanya.

“Ya, memang masih agak jauh! Tapi hendaknya kita waspada dan siap-siap terlebih dahulu. Sebab tidak ada jeleknya kita bersiap-siap.” Jawab Ksatria Aneh memberi keterangan. Kira-kira sepeminuman teh kemudinn langkah itu makin menjadi jelas kedengarannya. Dan tiba-tiba tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan yang berkelebat dengan cepat.

Tapi biarpun bayangan itu berkelebat secepat angin, namun mata ksatria yang datang dari gunung Arjuno itu tak dapat dikelabui. Segera Pendekar Aneh itu tahu siapa yang datang dan terus menyapa :

“Kakang Polosio, kaukah yang datang?”

“Hehhhhh... hehhhhh... hehhhhh... tak kusangka kalau aku akan dapat bertemu dengan kalian disini, adi! Aku mendengar dari penduduk kalau desa ini sedang kedatangan dua orang pendekar muda dan kukira siapa yang datang, tak tahunya kau! Bukankah kalian ini baik-baik saja, adi?” Seru si pendatang itu dengan gembira.

“Berkat doamu, maka kami berada didalam lindungan Yang Maha Agung.

Semoga kaupun demikian, kakang.” Seru Prasintorini dengan gembira.

“Haaaaa... haaaaa... haaaaa... terimakasih... terimakasih, adi! Memang akupun masih dikaruniai umur panjang dan badan yang sehat, adi.” Jawab Polosio dengan gembira.

“Kakang Polosio, angin apakah yang meniupmu sampai datang kemari?” Tanya

Ksatria Aneh kepada kawannya ini.

“Betul kakang kau ini mengagetkan kami saja. Kukira siapa yang datang! Tak

tahunya Baurekso Desa.”

“Stop! Jangan ungkit-ungkit itu lagi.” Potong Polosio dengan sungguh-sungguh. “Maaf... maaf... kakang.” Seru Prasintorini dengan cepat.

“Tak mengapa, adi! Biarlah, yang sudah biar berlalu!”

“Heh kakang, mengapa kau tak menjawab pertanyaanku tadi?” Tanya Ksatria

Aneh yang terus membelokkan percakapan.

“Aeh... adi! Kedatanganku kemari karena aku mendengar berita kalau Nyanyian Maut berada didesa ini. Belum puas rasanya aku kalau belum dapat membekuk si jahanam penyebar maut yang ganas itu!”

Betapa leganya hati Brotolaras setelah mendengar perkataan Polosio ini. Dengan demikian maka ia berpendapat bahwa Polosio telah benar-benar insyaf dari kekeliruannya dan kembali kejalan benar. Dan iapun dapat dijadikan kawan baik untuk diajak bersama-sama, memberantas kejahatan.

“Kakang, apakah kau telah mengetahui siapa adanya Nyanyian Maut itu? Dan dimanakah tinggalnya?” Tanya Prasintorini dan Ksatria Aneh dengan berbareng.

“Akupun belum pernah bertemu dengannya, adi. Tapi mendengar kekejamannya maka aku bermaksud untuk mengenyahkannya dari muka bumi ini.” Jawabnya dengan jujur.

“Sungguh terkenal sekali nama Nyanyian Maut itu, kakang! Ingin aku melihat orangnya dan mencoba kepandaiannya itu.” Desaah Prasintorini.

“Huahahaaaa...... haaaaa...... haaaaa sungguh tak mengecewakan kau menjadi murid paman Singo Tunggul, adi! Semangatmu untuk mengukur kepandaian lawan tak kalah hebatnya dengan semangat paman Singo Tunggul.” Seru Polosio dengan tertawa lantang.

Mendengar perkataan Polosio ini Brotolaras dan Prasintorini hanya tersenyum- senyum saja. Hingga sampai lama mereka itu hanya berdiam diri saja. Bagaikan patung-patung yang tak bernyawa.

“Kakang, kalau kau tahu bahwa Nyanyian Maut itu berada didesa ini maka setidak-tidaknya kaupun tahu dimana tinggalnya didesa ini, bukan?” Tanya Ksatria Aneh dengan penuh selidik. “Seperti yang telah kukatakan tadi, adi! Aku belum pernah bertemu dan didesa inipun aku tak mengetahui dimana ia tinggal. Percayalah kalau aku tahu maka aku akan memberitahukan pula kepada kalian.” Jawah Polosio dengan penuh kejujuran.

“Lalu bagaimana rencanamu untuk mencari Nyanyian Maut itu, kalau kau tak mengetahui dimana persembunyiannya dan tak mengetahui pula bagaimana orangnya.” Kembali Ksatria Aneh bertanya.

“Itulah yang memusingkan pikiranku. Ia datang dan pergi tanpa meninggalkan tanda dan jejak. Aku datang kemari ini untuk minta keterangan kepada pak lurah tentang hal terjadinya peristiwa pagi tadi.”

Sewaktu mereka sedang bercakap-cakap tiba-tiba terdengarlah suara suling yang mengalun dengan merdunya. Lagu yang dimainkan adalah lagu Dandang Gulo. Mendengar suara suling ini ketiga orang muda itu lalu saling pandang-memandang. Dan seketika itu juga lenyaplah perasaan curiga Ksatria Aneh kepada Polosio.

“Apakah ini orangnya??” Tanya Prasintorini kepada dua orang kawannya. Tapi yang ditanya tak segera menjawab, melainkan terus memasang telinganya untuk terus mengikuti suara suling yang merdu ini.

“Kukira bukan ini, adi! Coba perhatikanlah, bukankah suaranya merdu mengalun dan menimbulkan perasaan senang? Sedang kalau Nyanyian Maut pasti suaranya tak sedemikian merdunya. Mungkin ini perbuatan salah seorang penduduk yang sedang melepaskan lelahnya.” Jawab Polosio yang terus mengutarakan pendapatnya.

Namun tidak demikian dengan ksatria dari gunung Arjuno itu, segala sesuatu yang telah dipikirkannya akanlah dipertimbangkan dengan masak-masak. Ia tetap merasa curiga dengan adanya bunyi suling ini.

“Kalian jangan terus lengah, mungkin ini pancingan dari musuh!” Serunya

dengan serius.

“Heeeee..... apakah kau punya alasan yang kuat, kakang?” Tanya Prasintorini

yang terus ikut mendengarkan alunan suling yang lunak lemah gemulai itu.

“Ya! Aku punya alasan untuk menguatkan pendapatku itu, adi! Mungkin bunyi suling ini adalah pancingan uutuk menina-bobokkan para penduduk sebelum ia melancarkan serangan mautnya. Didalam mengambil tindakan kita tak boleh berlaku tergesa-gesa dan gegabah. Dan tak ada ruginya kita terus berwaspada. Coba kau dengar bukankah suara suling ini seperti terpencar dimana-mana? Kalau penduduk saja yang meniupnya maka kita akan dapat mengetahui dari mana datangnya sumber suara itu. Tapi sekarang?? Suara itu terpencar-pencar. Dan hal ini menandakan kalau si peniup suling itu tentu mempunyai tenaga dalam yang tinggi hingga ia mampu menggemakan suara tiupaanya dari berbagai jurusan.” Seru Ksatria Aneh.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ksatria Aneh itu. Setelah mereka memasang telinga ia mendengar suara itu seperti ditiup oleh orang banyak dari berbagai jurusan. Hingga untuk menemukan sumber suaranya amatlah sukar. Setelah mengetahui akan hal ini maka Polosio dan Prasintorini mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengagumi akan ketelitian Ksatria Aneh itu.

“Sungguh sangat mengagumkan sekali kau adi Brotolaras! Tak kecewalah paman Resi Eko Paksi mempunyai murid sepertimu ini.” Seru Polosio.

“Ssssttt... kakang! Jangan kau terlalu memuji. Coba dengar, bukankah suara suling itu makin jelas dan makin meninggi?” Seru Ksatria Aneh dengan mengerutkan alisnya. Hingga alis yang tebal itu menambah kegagahan si Ksatria murid Resi Eko Paksi pertama dari gunung Arjuno itu. Benarlah apa yang dikatakan oleh Ksatira Aneh itu, makin lama bunyi tiupan suling itu makin meninggi hingga kata-katanya dapat terdengar jelas oleh mereka bertiga yang mempunyai pendengaran yang sangat tajam :

“Dengan alunan suara sulingku ini

Akan kubawa kau kealam lain....

Dengan diiringi kegembiraan sebelumnya

Namun Yhang Yamadipati telah menantimu.”

Kata-kata ini terus terdengar berulang-ulang dan makin lama makin melengkiaglah bunyi suling itu. Tinggi... tinggi.... makin lama makin meninggi hingga memekakkan telinga. Suara gaduh telah terdengar dari berbagai pelosok desa Karang Kajen itu. Bahkan pak lurahpun telah berjingkrak-jingkrak sambil merobeki kainnya, makin lama suara suling itu makin meninggi dan pakaian pak lurahpun menjadi semakin menipis. Disana-sini tampak koyakan-koyakan kain. Bahkan ada pula yang terus menggulung-gulung diatas tanah sambil memegangi telinganya yang telah mulai mengeluarkan darah.

“Aduhhh... huahaaa... haaa... hikkk... ahhh.... huuuaaa....” Bermacam-macam keluhan penduduk terdengar dengan jelas.

Malam yang tadinya tenang dan damai itu telah berubah menjadi riuh den gempar setelah terdengarnya suara suling yang makin lama makin meninggi. Suara suling itu seakan-akan terus-menerus menerobos telinga dan mengeram dihati para penduduk. Hati mereka itu terasa sakit seperti ditusuki dengan jarum-jarum saja.

“Bangsat!” Desis Prasintorini dengan pelan. Iapun segera merangkap kedua tangannya dan mulai duduk bersemedi untuk melawan pengaruh bunyi suling itu. Dengan sekuat tenaganya ia lalu mengatur pernapasan dan melindungi telinganya untuk menahan gelombang suara bunyi lengkingan maut tersebut. Namun untuk mengimbangi dan menjaga telinganya Prasintorini lalu meneriakkan ajinya yang disebut Senggoro Singo. Hingga dari dalam mulutnya keluarlah teriakan yang menyerupai auman seekor singa yang sedang diganggu.

“Auuuuummmmm..... aaaaauuuuummmmm.....   aaauuummm   nginggggg.....

ngiiiiinnnnnggggg    swiiiiittttt!!”

Begitu mengetahui kalau ada orang yang berani melawan suara sulingnya dengan mempergunakan teriakan yang berupa auman seekor singa maka Nyanyian Maut lalu mempertinggi suara sulingnya. Seakan-akan ada perlombaan untuk keras- kerasan suaranya. Hingga dengan demikian maka para penduduklah yang menjadi korban keganasan suara suling yang melengking-lengking seperti suara lengkingan iblis yang mengajaknya berpesta pora didalam Neraka Jahanam.

Polosiopun tak dapat melawan lengkingan yang tinggi dan keras itu. Jantungnya serasa berlonjak-lonjak seperti akan copot dan keluar. Tubuhnya terus gemetar dan keringat dingin keluar dengan derasnya melalui muka dan badannya hingga pakaiannya yang dipakai menjadi basah kuyup karena keringat itu.

“Kakang Polosio, lekas kau bersemedi untuk menutup kupingmu dari pengaruh serangan lawan itu.” Seru Brotolaras memperingatkan kawannya. Mendengar perkataan Ksatria Aneh ini maka cepatlah Polosio melakukan perintah Ksatria Aneh itu. Dan benarlah setelah ia menutup kupingnya dan melindungi kendangannya bunyi lengkingan itu tak demikian kuatnya seperti tadi waktu ia belum bersemedi. Sedang Ksatria Aneh itupun duduk dengan tenangnya untuk menutupi telinganya dari pengaruh serangan bunyi lengkingan yang datangnya seperti air bah saja.

“Sunggnh hebat sekali tenaga dalam orang ini.” Pikir Brotolaras.

Makin lama malampun menjadi semakin kelam. Tapi bunyi lengkingan suling itupun makin jelas terdengar. Telah banyak penduduk yang jatuh pingsan dan meninggal dunia. Pak lurahpun telah kehabisan tenaga dan napasnya telah memburu, akhirnya jatuh pingsan pula.

Melihat keganasan si Nyanyian Maut ini maka timbul rasa marah dihati Ksatria Aneh itu. Namun ia tak berdaya untuk melawan tenaga suling yang ditiup oleh Nyanyian Maut. Kalau ia membubarkan semedinya iapun akan terpengaruh pula oleh lengkingan bunyi suling itu. Tapi hatinya menjadi tak tega ketika melihat keadaan yang mengenaskan itu. Rasa-rasanya ia lebih baik mati daripada melihat keadaan rakyat yang sangat menyedihkan serta memilukan itu. Dengan tekad yang mennyala- nyala ia lalu meloncat berteriak nyaring dan tinggi sekali untuk menghempaskan perasaan marahnya. Hingga suara lengkingan itu dapat menandingi suara lengkingan yang dipancarkan oleh suara suling itu.

Begitu in melompat dan berteriak maka cepatlah Pendekar Aneh itu lalu mencabut pedangnya. Dan.... syarrrttt...., seketika itu juga warna kuning keemas- emasan memancar keseluruh penjuru. Dan udara sekitar menjadi panas-panas hangat. Inilah pedang Ular Emas. Pedang peninggalan dari gurunya Resi Eko Paksi yang bertapa digunung Arjuno. Dengan berteriak keras Ksatria Aneh lalu menggerak- gerakkan pedangnya dan mencari arah suara suling itu. Dan tanpa sesadarnya kalau teriakan itu dapat melindungi dirinya dari pengaruh suara suling yang terus mengalun dengan keras dan makin meninggi itu.

Karena merasa kalau lengkingannya itu disaingi oleh bunyi teriakan maka marahlah orang yang menamakan dirinya sebagai Nyanyian Maut itu. Dengan seketika itu juga ia menghentikan tiupannya dan melesat kearah si Ksatria Aneh.

“Bangsat, siapa kau?” Bentak Nyanyian Maut dengan lantang.

“Kau... kaukah orangnya yang menamakan dirimu sebagai Nyanyian Maut?”

Tanya Ksatria Aneh dengan tak menghiraukan pertanyaan lawannya.

“Ya! Akulah yang disebut dengan Nyanyian Maut! Dan siapakah kau ini dan mengapa kau menghalang-halangi perbuatanku? Apakah kau ingin mencoba kepandaian Nyanyian Maut?” Jawabnya dengan keras.

Tak pernah disangkanya kalau orang yang menamakan dirinya sebagai Nyanyian Maut itu adalah seorang pemuda yang tampan dan umurnya sebaya dengan umurnya sendiri. Pakaiannya yang dipakai oleh Nyanyian Maut itu adalah pakaian yang berwarna wulung dan terbuat dari kain halus yang mahal harganya, hingga dengan demikian akanlah menambah kecakapan si Nyanyian Maut itu. Mungkin kecakapannya itu akanlah dapat menarik perhatian gadis-gadis dengan sekali pandang saja. Senyuman selalu membayang disudut bibirnya yang kecil merekah itu. Namun terbayanglah senyuman itu sebagai senyuman sinis. Ksatria Aneh tak dapat terus mengagumi dan meneruskan lamunannya karena tiba-tiba terdengarlah bentakan Nyanyian Maut : “Bangsat, apakah kau tuli? Ayo lekas kau mengaku siapa namamu! Tak biasa aku membunuh orang yang mempunyai sedikit kepandaian dengan tak meninggalkan nama terlebih dahulu.”

“Bagus, kalau kau ingin mengetahui siapa aku? Nah, bukalah telingamu baik- baik. Orang menyebutku sebagai Ksatria Aneh! Sekali lagi Ksatria Aneh!” Jawab Brotolaras dengan menyilangkan pedangnya. Kini ganti Nyanyian Maut yang terkejut mendengar nama Ksatria Aneh. Siapakah yang belum mengenal si Ksatria Aneh pembasmi kejahatan itu? Nama Ksatria Aneh telah menjadi momok bagi para penjahat. Banyak sudah penjahat dan perampok yang mati ditangannya. Tapi biarpun nama Ksatria Aneh itu telah menggetarkan hati para penjahat namun tidaklah demikian bagi Nyanyian Maut. Ia yakin kalau dirinya akanlah dapat menandingi pemuda yang berada dihadapannya itu. Hal ini telah ia buktikan dengan tiupan sulingnya tadi.

“Ksatria Aneh! Jangan kau kira aku takut kepadamu. Biarpun namamu telah cukup terkenal dan dapat untuk dipakai menakut-nakuti orang namun aku NYANYIAN MAUT tak akan takut sedikitpun.” Jawab Nyanyian Maut dengan lantang dan berani. Dan seketika itu juga Nyanyian Maut telah menyiapkan sulingnya yang dapat dipakai untuk senjata.

Setelah kedua orang muda itu sama-sama memasang kuda-kuda maka keadaan malampun menjadi semakin hening. Bintang-bintang mulai menghilang dibalik kesuraman awan mendung yang tiba-tiba datang. Anginpun bertiup dengan kencangnya. Hingga keadaan menjadi semakin mengerikan. Seakan-akan keadaan turut berduka dengan kematian rakyat desa Karang Kajen itu. Pelan-pelan awan hitam yang berarak-arak itu mulai memenuhi langit dan menelan habis semua bintang yang sedang bersinar. Makin lama keadaan menjadi semakin gelap.

Dan dari kegelapan itu maka mulailah Prasintorini dan Polosio mengakhiri semedinya dan lalu memandang kearah kedua orang yang sama-sama bersitegang itu dari kejauhan.

“Adi, marilah kita bantu adi Brotolaras untuk menggempur si laknat Nyanyian

Maut itu.” Ajak Polosio kepada Prasintorini.

“Jangan.... jangan, kakang! Kakang Brotolaras akan marah kalau kita membantunya. Ia lebih baik mati daripada dibantu orang sewaktu melakukan pertempuran dengan musuh. Kecuali kalau ia telah tak berdaya sama sekali.” Jawab Prasintorini mencegah kawannya.

“Ahhh..... kalau demikian baiklah kita melihat dari sini saja.” Seru Polosio yang

terus mengambil tempat duduk diatas batu yang ada didekatnya.

“Baik, kakang!” Jawab Prasintorini.

Sementara itu Brotolaras telah menyilangkan pedangnya yang bersinar-sinar serta memancarkan udara panas didepan dadanya. Sedang Nyanyian Mautpun telah mengangkat tangan kirinya dan sedikit ditekuk serta bagian dalamnya menghadap kemuka sedang tangan kanannya memegang suling yang terbuat dari perak diluruskan didepan dadanya. Sampai lama mereka itu saling berpandangan, dan kalau ada salah satu yang bergerak dan gerakan itu sangat mencurigakan maka yang lain tak akan segan-segannya untuk melepaskan pukulan kearah si orang yang bergerak.

Makin lama mereka menjadi tegang, keringat-keringat mereka mulai mengalir dengan derasnya. Tapi tak antara lama dari kejadian itu terdengarlah teriakan si orang yang menyebut dirinya sebagai Nyanyian Maut.

“Ciaaaaaattttttt!!!” Bersama dengan teriakan itu ia lalu bergerak dengan gerakan sangat cepat terus menerjang kearah lawannya dengan menggunakan sulingnya untuk menusuk dada lawan.

Namun gerakan yang sedemikian cepatnya itu tidaklah menjadikan Brotolaras menjadi terkejut dan takut. Sejak tadi ia telah bersedia menerima serangan. Karena itulah begitu lawannya bergerak untuk menyerang maka ia telah sempat pula menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan suling itu, hingga terdengarlah bunyi..... tranggg..... dan bunga api berpijar. Betapa kagetnya hati Ksatria Aneh itu setelah mengetahui kalau suling lawannya itu tak menjadi putus setelah bertemu dengan pedang pusakanya. Sedang tangannya malah menjadi tergetar hebat. Hingga hampir saja pedang pusakanya itu terlepas dari tangannya.

Dilain saat Nyanyian Maut itupun menjadi terkejut setelah mengetahui kalau ilmu tenaga dalam lawannya itupun tak berada disebelah bawah ilmu tenaga dalamnya sendiri. Tangannya yang memegang suling itu serasa terbakar api neraka setelah bertemu dengan pedang lawan. Untung tadi ia tak memandang rendah kepada lawannya yang masih muda itu. Jika tadi ia memandang dengan sebelah mata maka niscaya sulingnya akan terlepaa dari tangannya.

Dengan terjadinya benturan senjata itu tahulah mereka kalau lawannya itu tak dapat dibuat main-main dan tenaga dalam mereka itu ternyata berimbang. Hingga dengan demikian untuk dapatnya mengalahkan musuhnya mereka haruslah mengeluarkan kepandaian masing-masing dan memeras tenaga.

Setelah keduanya memperbaiki kedudukannya maka kembalilah Ksatria Aneh dan Nyanyian Maut saling bergebrak kembali. Jurus demi jurus mereka lalui dengan cepatnya. Trang..... trang.... trang.... berkali-kali suling dan pedang itu beradu dan akibatnya kedua-duanya sama-sama mundur dan tangannya tergetar. Makin lama jalannya pertempuran itu makin bertambah seru.

Ksatria Aneh itu setelah mengetahui kalau suling lawannya itu tak menjadi putus setelah bertemu dengan pedang pusakanya...... Dilain saat Polosio dan Prasintorini terus menjadi gelisah setelah melihat kesaktian lawan dari Ksatria Aneh itu. Tak mereka sangka kalau orang yang menamakan dirinya sebagai Nyanyian Maut dan namanya telah menjulang tinggi kelangit itu adalah orang muda sebaya dengannya pula. Dan yang lebih mengagumkan lagi ialah kepandaiannya sangat tinggi.

“Ahhhhh.... untuk dapatnya saling mengalahkan lawannya ini akan memakan waktu yang lama, adi!” Seru Polosio yang terus menerus mengawasi jalannya pertarungan itu.

“Memang kakang, sudah sekian lamanya belum ada yang tampak akan menang dan kalah. Kepandaian mereka itu benar-benar seimbang. Ah.... murid siapakah si laknat Nyanyian Maut itu? Andaikan saja kepandaian yang setinggi ini tak dipergunakan untuk kejahatan melainkan untuk membasmi kejahatan kukira akanlah banyak gunanya dan keamanan akan lebih terjamin lagi. Sayangnya kepandaian setinggi itu dipakai untuk mengabdi kepada nafsu. Sungguh sayang sekali.” Jawab Prasintorini sambil bergumam terus-menerus.

“Lihatlah mereka itu hanya saling desak-mendesak saja. Sebentar-bentar tampak kalau adi Brotolaras yang terdesak, namun sesaat kemudian ganti Nyanyian Mautlah yang terdesak dengan hebat.” Seru Polosio dengan kagum.

Memanglah kenyataannya memang demikian. Mereka itu hanya dapat saling desak-mendesak saja. Tak seorangpun yang dapat mengalahkan atau menguasai medan pertempuran.

Wessttt.... tiba-tiba saja suling perak yang berada ditangan Nyanyian Maut itu menerjang kearah kepala lawan. Tapi dengan sangat gesitnya Ksatria Aneh itu lalu menundukkan sedikit kepalanya dan terus menggerakkan tangannya untuk menusukkan pedangnya kearah perut lawan.

“Ayaaaaa!”. sambil berteriak demikian maka Nyanyian Maut lalu menjejakkan kakinya ketanah dan berkelebatlah tubuhnya melayang keatas dan berjumpalitan beberapa kali diudara lalu menyerang lagi dengan tangan kirinya yang melancarkan serangan pukulan jarak jauh.”

Mana mau Brotolaras menerima pukulan dengan begitu saja. Begitu ia merasa kalau ada angin dingin yang menyambarnya maka cepat-cepat ia melompat mundur selangkah dan kemudian ia memutar pedangnya dengan cepat hingga menimbulkan angin berciutan bunyinya. Pedang yang diputar dengan cepat ini menantikan datangnya musuh yang baru berada diudara. Dan begitu kaki Nyanyian Maut itu menginjak bumi maka ujung pedang Ular Emas itu telah menyelonong kearah dada. Tapi tentu saja Nyanyian Maut telah memperhitungkan jatuhnya dengan masak- masak. Begitu ada ujung pedang yang menyelonong masuk mengancam dada ia lalu menjatuhkan diri dan dengan kakinya ia lalu menendang lambung lawannya.

Seperti diketahui kalau ilmu pedang yang dimainkan oleh Brotolaras si Ksatria Aneh itu adalah ilmu pedang Jatayu Nglayang. Dengan demikian maka unsur-unsur yang dipentingkan dalam ilmu pedang ini adalah ilmu meringankan tubuh. Dan karena itulah begitu tendangan lawannya hampir mengenai lambungnya ia lalu mengenjot tubuhnya melayang keatas. Dan dati atas Brotolaras lalu menggunakan jurus Elang laut menyambar ikan untuk menyerang leher Nyanyian Maut yang telah berhasil berdiri lagi.

Karena cepatnya gerakan Brotolaras itu tadi maka Nyanyian Maut tak mendapat ketika untuk mengelak. Jalan satu-satunya untuk menghindarkan diri hanyalah mengadu sulingnya dengan babatan pedang lawan. Hingga dengan demikian maka kembalilah terdengar suara.... tranggggg.... dan kedua-duanya sama-sama terhuyung- huyung mundur. Tapi kali ini Nyanyian Maut tak menyerang lagi melainkan ia terus membalikkan diri dan terus mengambil langkah seribu sambil berkata :

“Sampai bertemu kembali Ksatria Aneh! Aku kagum dengan kepandaianmu.” Dan begitu gema suara itu hilang maka hilang pulalah tubuh Nyanyian Maut yang berpakaian wulung itu ditelan kegelapan malam. Belum lama dari kepergian Nyanyian Maut itu terdengarlah bunyi ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

“Hari telah pagi!” Desis Brotolaras.

“Kakang, apakah kau tak mendapat cedera??” Tanya Prasintorini dengan cemas.

“Tidak adi! Memang dia sangat pandai dan sakti.”

“Tak perlu kita tergesa-gesa untuk menangkapnya adi!” Kata Polosio. “Benar kita mencari waktu yang baik.” Seru Prasintorini.

*

* *

Setelah melarikan diri maka Nyanyian Maut itu lalu terus-menerus berlari dengan cepatnya menuju kepuncak gunung Sumbing. Dengan tak mengenal lelah ia terus menuju kepuncak.

Sesampainya dipuncak gunung Sumbing, maka Nyanyian Maut lalu menuju kesebuah gua yang terdapat disitu. Dan ternyata didalam gua itu tinggal seorang tua yang telah lanjut usianya. Kakek tua yang tinggal dipuncak gunung Sumbing ini adalah seorang pertapa yang menganut agama Hindu. Sebagai seorang yang telah tua, maka kakek itu telah dapat melepaskan diri dari pengaruh dunia luar. Dan ia telah menurunkan kepandaiannya kepada murid tunggalnya dan kepada murid tunggalnya inilah ia mempercayakan untuk menumpas kejahatan. Kakek tua yang tinggal diatas gunung Sumbing itu adalah Shindukolo. Atau lebih terkenal lagi dengan namanya Pendeta Shindukolo. Pendeta Sindhukolo ini adalah kakak seperguruan dari Pendeta Sambu Lelono yang telah memberi pelajaran ilmu pukulan Ampak-Ampak kepada Ksatria Aneh. Pada waktu itu kakek Pendeta Shindukolo sedang duduk didepan gua sambil menikmati sorotan matahari pagi.

Sebelum orang yang menamakan dirinya sebagai Nyanyian Maut itu masuk kedalam terlebih dahulu ia menjatuhkan diri dan terus berlutut dihadapan Pendeta Shindukolo.

“Bapa, terimalah sembah sujutku ini!”

“Bangunlah angger, sembah sujutmu telah bapa terima. Mengapakah kau ini datang seperti dikejar setan saja?? Kelihatannya kau sehari-harian hanya lari saja, angger?” Tanya sang pendeta tua itu kepada muridnya.

“Benar, bapa. Memang aku dikejar orang. Bahkan kalau aku tak lekas-lekas melarikan diri maka niscaya aku teleh mati ditangannya. Untung Yang Maha Agung masih melindungi diriku hingga aku dapat selamat sampai dihadapan guru lagi.” Jawab Nyanyian Maut dengan napas terengah-engah.

Melihat keadaan muridnya ini maka berkatalah sang pendata itu :

“Angger, kau minumlah dahulu! Setelah minum baru kita bercakap-cakap lagi.” “Baik, bapa.” Setelah berkata demikian maka masuklah Nyanyian Maut itu

kedalam gua untuk mengambil air minum.

Sementara yang berada diluar Pendeta Shindukolo menjadi heran. Bagaimana mungkin ada orang yang berani mengejar-ngejarnya muridnya ini. Orang yang berani mengejar-ngejar muridnya pasti mempunyai kepandaian yang tinggi. Sebab ia yakin kalau muridnya ini adalah seorang pemuda yang sakti lagi pula telah mewarisi kepandaiannya. Sebelum selesai Pendeta Shindukolo berangan-angan datanglah Nyanyian Maut menghadap.

“Siapakah yang mengejarmu itu angger?” Tanya Pendeta Shindukolo dengan

perasaan ingin mengerti.

“Ah..... bapa, yang mengalahkan aku adalah orang muda yang menamakan dirinya sebagai Ksatria Aneh.”

“Apa? Ksatria Aneh?”

“Ya, bapa. Dia adalah Ksatria Aneh!” Jawab Nyanyian Maut dengan mantap

dan tegas.

“Kalau demikian maka pasti kaulah yang salah angger. Sebab menurut berita yang kudengar Ksatria Aneh itu adalah seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran.” Seru Pendeta Shindukolo sambil memandang tajam-tajam kearah muridnya.

Bukan main terkejutnya hati Nyanyian Maut setelah mengetahui apa yang dikatakan gurunya. Tapi dasar ia adalah seorang pemuda yang berotak cemerlang dan berakal licin. Dikatakan demikian ia lalu menjawab dengan nada bersungguh- sungguh :

“Sayang, berita yang bapa terima itu adalah berita yang salah! Orang yang menamakan dirinya sebagai Ksatria Aneh itu adalah seorang pemuda yang sombong dan memamerkan kepandaiannya untuk menindas si lemah. Memang kepandaiannya sangat tinggi. Bahkan dia itu pula yang telah memimpin enam buah perkumpulan perampok ganas.”

“Hushhhh..... Manggoloyudo! Jangan kau memutar balik keadaan dan membobongi gurumu!!” Bentak Pendeta Shindukolo dengan lantang.

Belum pernah selama hidupnya ia dibentak oleh sang pendeta yang alim itu. Tapi hal ini tidaklah dirasakan oleh orang yang menamakan dirinya Nyanyian Maut itu. Begitu mendengar ia dibentak oleh gurunya maka mulailah ia memainkan sandiwarannya :

“Bapa..... bapa guru, mengapa bapa guru tega menuduh murid dengan tuduhan sekeji itu? Pernahkah aku menipumu bapa? Sungguh mati, yang kukatakan tadi itu adalah benar semua. Bapa hanya mendengar dari orang-orang saja bahwa nama Ksatria Aneh itu baik, namun bapa tak pernah melihat sendiri orangnya. Dan begitu mendengar orang berkata maka bapa percaya. Tapi aku..... aku yang telah melihat dengan mata kepala sendiri betapa jahatnya orang yang mengatakan kalau dirinya itu bernama Ksatria Aneh. Ohhhh..... bapa. bapa!”

Melihat kesedihan anak didiknya ini maka terharulah Pendeta Shindukolo itu. Memang selama ikut dan belajar silat dibawah asuhannya Manggoloyudo adalah seorang laki-laki yang baik dan penurut lagi pula berotak cemerlang. Begitu mendengar perkataan muridnya ini maka bimbanglah hati pendeta tua itu. Tapi untuk tambah meyakinkan ia bertanya lagi :

“Betulkah keterangan-keteranganmu itu tadi angger?”

“Ya, bapa! Kalau aku menipu bapa biarlah langit dan bumi menyaksikan bahwa

besuk matiku akan disambar geledek!”

“Kau telah bersumpah, dan aku percaya denganmu angger Manggoloyudo, tapi kalau kau menipu maka akan terlaksanalah sumpahmu itu.” Setelah sang pertapa tua itu berkata demikian maka langit yang tadinya cerah berubah menjadi hitam.......

makin lama makin kelam dan bunyi guntur itu menyambar lima kali. Setelah bunyi guntur itu berhenti maka kembalilah cuaca seperti tadi. Terang benderang. Inilah akibat dari sumpah Manggoloyudo dan disaksikan oleh bumi dan seorang pendeta. “Angger Manggoloyudo, karena kejahatan telah merajalela kembali maka mulai sekarang kau kularang turun gunung lagi. Dan aku akan menurunkan ilmu pamungkasku yang disebut aji Liman Kurdo. Kalau kau belum dapat meyakinkan ilmu Liman Kurdo ini maka jangan harap kau dapat turun gunung. Dengan bekal aji Liman Kurdo ini kuharapkan kau dapat membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan.”

“Semua pesan bapa guru akan kujalankan dengan baik. Semoga saja murid tak akan mengecewakan harapan bapa guru!” Jawab Manggoloyudo dengan girang. Ia menjadi girang sekali setelah mendengar kesanggupan gurunya untuk menurunkan aji Liman Kurdo ini. Aji Liman Kurdo adalah aji yang paling diandalkan oleh Pendeta Shindukolo sewaktu ia masih berkecimpung didalam dunia kependekaran. Hingga dengan demikian aji yang hebat dan dahsyat itu tak dibawanya pulang menghadap sang Trimurti nanti.

Mulai hari itu pula Nyanyian Maut mulai digembleng lagi oleh gurunya yang sakti mandraguna. Pada pelajaran pertama Manggoloyudo diharuskan bersemedi dan mengatur jalannya napas sehingga tenaga dalamnya menjadi bertambah besar. Karena aji Liman Kurdo ini berdasarkan ilmu tenaga dalam yang kuat sekali. Sehari- harian tampaklah kedua tokoh itu hanya bersemedi saja. Memang tak mengecewakan sekali Manggoloyudo itu menjadi murid kinasih dari sang Pendeta Shindukolo yang dahsyat itu, semua pelajaran yang diturunkan dapat diterima dengan baik dan memuaskan sekali. Karena dilatih dibawah bimbingan seorang pertapa maka hal semedi itu cepat dapat dilakukan dengan teratur sekali. Hingga Nyanyian Maut itu kuat bersemedi selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti untuk makan ataukan minum.

Melihat ketekunan murid tunggalnya ini tersenyumlah pendeta tua itu. Ia amat bangga dan senang sekali mempunyai murid yang selain penurut juga mempunyai tulang baik untuk dididik menjadi seorang pendekar yang pilih tanding. Sayangnya pertapa tua yang telah tak meghiraukan keadaan dunia itu tak mengetahui kalau muridnya yang disangkanya baik-baik itu adalah iblis yang tak mengenal kasihan. Bahkan anak sebaik itu telah menderita penyakit haus darah dan senang pertempuran yang memakan korban banyak. Andaikan saja ia mengetahui kalau muridnya ini telah memutar-balikkan keadaan maka ia tak akan sudi menurunkan ilmu-ilmu yang dahsyat dan mungkin akanlah mengambil kembali kepandaian yang telah diturunkan kepada muridnya ini. Tapi untung bagi Manggoloyudo, gurunya tak tahu akan sepak terjangnya didunia kapendekaran dan ia berhasil membakar hati gurunya dengan jalan memutar-balikkan keadaan. Hingga gurunya yang tadinya menganggap Ksatria Aneh itu sebagai seorang muda harapan tokoh-tokoh tua maka sekarang gurunya akan mencela keadaan Ksatria Aneh.

Disuatu pagi yang cerah tampaklah guru dan murid itu pergi kesuatu hutan yang berada dilereng gunung Sumbing itu. Ditengah hutan itulah kakek pertapa sakti yang tinggal digunung Sumbing itu menurunkan ilmu Liman Kurdo kepada muridnya yang bernama Manggoloyudo.

Dengan amat tekunnya si murid mempelajari pelajaran yang diturunkan oleh gurunya. Tak sebuah kata-katapun yang dapat lolos dari dalam benaknya. Contah- contoh yang diberikan oleh Pendeta Shindukolo itupun diperhatikan dengan baik- baik. Semua gerakan tangan dan kaki gurunya terus dicatat didalam pikirannya.

“Nah coba kau lihat ini, angger!” Setelah berkata demikian maka mulailah kakek Pendeta Shindukolo itu memasang kuda-kudanya dan terus mengacungkan tinjunya kearah suatu pohon dan sesudah merasa kalau tenaga dalamnya tersalur ditangan ia segera memukulkan tangannya itu kearah pohon akibatnya.... krakkkk....

pohon yang sebesar orang itu menjadi tumbang setelah kena angin pukulan tenaga dalam sang Pendeta Shindukolo itu.

“Sekarang cobalah kau lakukan gerakan seperti tadi, angger!” Seru kakek itu

memerintahkan muridnya.

Begitu mendengar perintah gurunya maka Manggoloyudo segera memasang kuda-kudanya dan terus menyiapkan kepalannya untuk memukul kearah pohon yang berada dihadapannya. Dan begitu ia merasa kalau tenaga dalamnya telah tersalur ditangan kanannya maka ia lalu memukul pohon yang berada dihadapannya itu....

krakkkk.... pohon yang kena hajar tangan Manggoloyudo itu tak menjadi tumbang hanya bergoyang-goyang dan sebentar kemudian kembali tegak. Sedang tangan Manggoloyudo lalu merah dan lecet-lecet mengeluarkan darah.

“Salah... salah, angger Manggoloyudo! Gerakanmu kurang tepat kali ini. Kau terlalu mengerahkan tenaga hingga yang kau pergunakan tadi itu bukannya tenaga dalam melainkan tenaga luar atau tenaga kasar. Lihat, kalau kau menggunakan tenaga kasar maka tanganmulah yang akan lecet-lecet dan mengeluarkan darah. Tapi kalau kau menggunakan tenaga dalam maka bukannya tanganmu yang akan lecet melainkan pohon itulah yang akan menjadi tumbang dengan pukulan tanganmu itu, angger. Nah coba kau ulangi sekali lagi.” Setelah berkata demikian maka kakek itu kembali duduk diakar pohon yang menonjol keluar.

Petuah-petuah dari bapa gurunya itu tadi benar-benar diperhatikan oleh Manggoloyudo. Hingga untuk kedua kalinya ini ia telah menyiapkan unsur-unsur pukulan aji Liman Kurdo dengan lebih sempurna dan teliti. Tapi begitu tangannya dipukulkan bukannya pohon itu yang menjadi tumbang melainkan tangannyalah yang terus dikibas-kibaskan karena kesakitan. Sedang pohon itu hanya bergerak sedikit saja.

“Huahhh..... sungguh sukar sekali pelajaran kali ini, bapa! Dua kali aku melakukannya tapi tetap gagal. Mohon petunjuk dari bapa guru!” Seru Manggoloyudo dengan mengkal.

“Kini kau terlalu bernafsu untuk dapat menumbangkan pohon itu, angger hingga karena luapan perasaanmu itulah yang memperlemah keadaan tenaga dalammu. Coba pikiranmu itu tenang dan tak dikuasai oleh nafsu maka aku yakin kalau pohon itu bakal tak kuat menerima pukulan tanganmu.” Seru kakek yang menurunkan ilmu itu.

“Baik bapa, aku akan mencobanya lagi.” Setelah berkata demikian maka Manggoloyudo lalu menyiapkan kuda-kudanya tapi sebelum tangannya bergerak untuk memukul terdengarlah perkataan Pendeta Shindukolo.

“Angger, hari ini cukup sekian dahulu latihan kita! Besuk lain kesempatan kita dapat berlatih. Sekarang kau harus melepaskan lelah dahulu dan tak baik untuk menghabis-habiskan tenaga. Nah, marilah kita pulang dahulu.” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah sang Pendeta Shindukolo kembali kepuncak gunung Sumbing. Dan begitu melihat kalau gurunya telah berkelebat maka Manggoloyudopun segera menyusul gurunya dari belakang. Tebing-tebing tajam dan jurang-jurang yang curam dapat mereka lalui dengan amat enaknya. Hingga bayangan kedua orang itu menyerupai bayangan burung-burung layang-layang yang sedang berkejar-kejaran.

Sesampainya mereka itu didalam gua tempat tinggalnya maka kakek Pendeta Shindukolo langsung menuju kesanggar pamujan dan disana beliau lalu melakukan semedinya seperti biasa setiap hari. Sedang Manggoloyudopun segera menirukan perbuatan gurunya. Memang tak ada jalan yang lebih baik untuk melepaskan lelah kecuali bersemedi. Bersemedi menutup semua panca indera dan menenangkan pikiran. Pada waktu matahari mulai terbenam tersadarlah Manggoloyudo dari semedinya, dan ketika ia melihat kedelam sanggar pamujan tampaklah kalau gurunya masih khusuk dalam semedinya.

Sebagai murid yang baik maka Manggoloyudo segera menyiapkan makan malam dan keperluan-keperluan yang diperlukan oleh gurunya. Dan seteleh melakukan tugasnya dengan baik maka kembalilah kedepan dan kemudian dibawah langit yang terang serta kemilauannya bintang ia mulai meniup sulingnya dan melagukan lagu Asmorodono.

Alunan suara suling itu hening merdu kemilau. Makin lama makin meresap kedalam kalbu dan menimbulkan suasana damai dan tenang dihati para pendengarnya. Diudara yang cerah dan hembusan angin yang sepoi-sepoi itu suara suling yang ditiup oleh Manggoloyudo sangat enak sekali didengar. Setelah selesai melagukan lagu Asmorodono maka mulailah ia melagukan lagu-lagu lainnya seperti Maskumambang, Kinanti dan Pucung.

Keindahan suara itu menambah indah dan nikmatnya para penduduk desa yang sedang melepaskan lelah dan omong-omong diluar rumahnya. Dengan tak terasa malampun menjadi semakin larut. Tapi tiupan suling yang melagukan lagu-lagu gembira dan percintaan yang penuh dengan perasaan itu tak henti-hentinya terdengar dari segenap penjuru.

Setelah tengah malam datang maka tampaklah kalau Pendeta Shindukolo telah menyelesaikan semedinya. Dan ia terus menghampiri muridnya sambil berkata dengan lemah lembut dan pcnuh rasa kasih sayang.

“Belum kau tidur, angger?”

“Belum, bapa! Entah mengapa mataku tak mau kupakai untuk tidur barang sejenak saja. Dan lagi aku menunggui bapa yang sedang bersemedi tadi. Marilah bapa kita makan, makanan telah lama kusediakan.”

“Mari.. mari, angger!” Setelah itu maka masuklah mereka dan mulai makan dengan lahapnya. Biarpun makanan mereka itu telah menjadi dingin dan lauk- pauknya sederhana sekali tapi setelah dimakan dengan perasaan perut lapar terasa enak juga makanan yang sederhana itu. Selesai makan maka mereka lalu bercakap- cakap dengan asyiknya.

“Bapa, apakah bapa tak mempunyai keinginan untuk kembali kedunia ramai

lagi?” Tanya Manggoloyudp kepada gurunya.

“Ahhh, untuk apakah kembali kedunia yang penuh dengan kepalsuan itu, angger? Aku lebih senang hidup menyendiri dan menantikan jangkauan kuku-kuku Yhang Yamadipati. Aku telah mempunyai banyak dosa dan tak akan menambah lagi didunia ramai. Biar aku mati disini saja.” Jawabnya dengan seenaknya.

Mendengar perkataan gurunya kalau dunia ramai penuh kepalsuan itu berdesirlah hati Manggoloyudo yang terkenal dengan nama Nyanyian Maut itu. Seakan-akan gurunya menyindirnya. Seketika itu terdiamlah ia.

“Angger, kuharapkan kau suka menolong manusia-manusia lemah dan memberantas kejahatan yang sekerang baru muncul dengan suburnya itu. Ketahuilah kalau tenaga-tenaga muda seperti kalian ini sangatlah dibutuhkan bagi nusa daa bangsa. Janganlah kau berlaku sombong, sebab kesombongan itu adalah pangkal keruntuhan. Janganlah kau terlalu bangga setelah kau dapat mengalahkan orang lain. Sebab orang yang dinamakan gagah itu bukannya orang yang dapat mengalahkan orang lain. Kalau orang dapat mengalahkan orang lain itu adalah pekerjaan mudah. Tapi orang yang disebut gagah adalah orang yang dapat mengalahkan nafsunya sendiri dan menjauhkan dirinya dari sifat sombong dan congkak. Benar-benar berbahagialah orang yang tak mengenal kesombongan dan kecongkakan itu, angger. Dan kuharapkan kaupun tak mengenal kesombongan dan kecongkakan itu.” Seru pendeta tua memberi nasehat.

“Semua petuah-petuah yang bapa berikan kepadaku akan kuingat dengan baik- baik dan kujalankan dengan taat. Semoga saja Tuhan menuntunku kearah jalan yang benar, bapa. Dan doa restu bapa pendeta yang selalu kupinta.” Jawab Nyanyian Maut itu dengan khidmat. 

“Siang malam aku selalu berdoa untuk keselamatan dan kebaikanmu, angger.

Nah, karena hari telah mulai dingin marilah kita masuk dan tidur.” “Baik, bapa!”

Hari-hari berikutnya dipakai oleh Manggoloyudo untuk berlatih ilmu pukulan Liman Kurdo yang dahsyat itu. Tiga bulan lamanya ia terus berlatih dengan tekun dan giat sekali. Kakek Pendeta Shindukolopun tak segan-segannya memberi petunjuk-petunjuk kepada muridnya ini. Hingga dengan demikian maka Manggoloyudo akhirnya berhasil menekuni pelajaran yang sukar ini.

Pada suatu hari sang Pendeta memanggil muridnya untuk menghadap :

“Angger Manggoloyudo, kukira telah cukup bekalmu untuk kembali turun kedunia ramai lagi untuk mengamalkan jasamu sebagai seorang pendekar keadilan dan kebenaran. Dan yang harus kau ingat-ingat adalah pesanku supaya kau jangan berlaku sombong dan congkak, angger. Nah, junjunglah nama perguruan kita dan jangan sekali-kali kau menjatuhkan nama perguruan yang telah kubangun dengan susah payah ini.”

“Baik, bapa guru! Murid sedapat-dapatnya akan terus mengembangkan dan menyebar keharuman nama perguruan kita. Jawab Manggoloyudo dengan tenang.

“Syukur... syukur kalau kau mempunyai pikiran yang sedemikian baiknya. Nah,

angger hanya itulah pesan-pesanku kepadamu.”

“Bapa, ijinkanlah murid mundur terlebih dahulu untuk menyiapkan barang- barang yang perlu dibawa.” Seru Manggoloyudo sambil memandang kearah gurunya untuk minta pertimbangan.

“Silahkan, angger!”

Setelah itu maka masuklah Mangoloyudo kedalam dan menyiapkan pakaian- pakaiannya yang akan dibawa merantau nanti. Dan setelah itu maka ia lalu kembali menghadap kepada gurunya dan mohon doa restu.

“Bapa, murid mohon doa dan restu untuk menjalankan perintah bapa guru dan melakukan tugasku sebagai seorang pendekar.”

“Pergilah, angger. Doa restuku selalu menyertai dirimu. Hati-hatilah kau didunia ramai yang penuh dengan kepalsuan itu.”

Setelah diijinkan maka pergilah Manggoloyudo turun gunung. Dan betapa gembiranya hati anak muda itu setelah dapat lolos dari gurunya dan malah kepandaiannya bertambah tinggi kalau dibandingkan sewaktu ia kembali kepuncak gunung Sumbing dahulu.

“Rasakan sekarang pembalasanku, Ksatria Aneh! Sekali lagi akan bertemu dengan Nyanyian Maut maka nyawamu pasti melayang! Aku Nyanyian Maut tak akan mendiamkan saja penghinaan sewaktu dahulu itu.” Dengan penuh angan-angan maka teruslah ia mulai merantau lagi kedunia ramai.

Begitu muridnya meninggalkan dirinya maka kakek tua yang bertapa di puncak gunung Sumbing itu merasa tak enak hatinya. Seakan-akan kepergian muridnya ini akan membawa akibat yang tidak baik bagi kaum dunia kependekaran. Dan dari wajah muridnya itu tadi tampaklah sinar kehausan akan membunuh. Dan karena dikacaukan perasaannya ini maka kakek itupun lalu ikut turun gunung untuk mengawasi perbuatan muridnya. Tapi sayangnya mereka itu mengambil jalan yang berlainan. Hingga satu sama lain tak bertemu.

*

* *

Kita tinggalkan dahulu perjalanan Manggoloyudo atau si Nyanyian Maut yang baru merantau didunia kependekaran. Marilah kita kembali melihat perjalanan yang ditempuh oleh Ksatria Aneh.

Setelah Ksatria Aneh berhasil membebaskan bahaya yang diderita oleh penduduk desa Karang Kajen maka ia dan Prasintorini lalu meneruskan perjalanannya untuk memberikan pertolongannya kepada rakyat-rakyat yang perlu ditolongnya. Ksatria Aneh merasa bahagia setelah dapat melenyapkan si Nyanyian Maut yang selalu mengacau keadaan itu. Hingga kini Nyanyian Maut tak muncul lagi di dunia persilatan. Tapi ia tak mengetahui kalau orang yang menyebut dirinya sebagai Nyanyian Maut itu sekarang baru menggembleng dirinya dibawah pengawasan gurunya yang sakti.

Desa demi desa ia lalui dengan tenangnya. Dimana ada kekacauan atau kerusuhan maka Ksatria Aneh lalu turun tangan untuk membasminya. Hingga makin lama nama Ksatria Aneh itu makin bertambah harum. Disamping nama Ksatria Aneh ada juga nama Sepasang Pendekar Budiman.

Pada suatu hari sampailah pengembaraan mereka itu disebuah hutan yang sangat lebat. Dan karena merasa lelah maka Prasintorini dan Ksatria Aneh lalu melepaskan lelah dibawah sebuah pohon yang tumbuh dihutan itu.

“Kakang, berapa sudah banyaknya penjahat yang jatuh ditangan kita?” Tanya

Prasintorini kepada kawan perjalanannya itu.

“Entah, adi! Yang penting bukan banyaknya tapi hasilnya. Aku masih merasa penasaran sekali karena belum berhasil mengalahkan dan mengungkap siapa adanya si Nyanyian Maut itu.”

“Ahhhh.... mengapa kau pikirkan orang gila itu. Bukankah ia sekarang telah tak berani menampakkan batang hidungnya lagi setelah kau hajar sungsang balik itu, kakang??” Seru Prasintorini dengan bangga.

“Kau salah sangka, adi! Mungkin ia muncul lagi dilain tempat atau ia sedang bersembunyi untuk kemudian muncul lagi, siapa tahu. Karena itulah kita jangan memandang rendah musuh yang mempunyai kelicikan seperti Nyanyian Maut itu. Kukira ia akan muncul lagi besuk.” Seru Ksatria Aneh dengan penuh keyakinan.

“Kakang, kapankah pengembaraan seperti ini berakhir? Aku telah lama mengimpi-impikan keadaan rumah tangga yang baik dan sentosa. Kakang.....

kakang.... ingatlah setiap hari umur kita menjadi semakin bertambah dan hal ini akan selalu menggelisahkan perasaanku sebagai seorang gadis yang telah cukup umur.” Seru Prasintorini mengungkapkan perasaannya didepan sang kekasih.

Mendengar perkataan Prasintorini kekasihnya ini terharulah Ksatria Aneh itu. Ia merasa akan kegelisahan yang berada didekatnya itu. Tapi apa daya perasaan ingin berumah tangga memang sudah ada namun ia masih selalu kasihan kalau melihat rakyat tertindas. Perasaan kependekarannya tak mengijinkan untuk bertopang dagu saja kalau mengetahui akan penderitaan rakyat. Karena itulah ia menjawab dengan halus dan pelan supaya tak menyinggung perasaan kekasihnya : “Adi...... sabarlah sebentar, masakan perantauan kita ini tak berpangkal. Besuk setelah kejahatan punah dari muka bumi ini kita akan segera menghadap ke bapak Penghulu.

“Kalau kejahatan telah punah?? Kapan      kapan itu terjadi kakang??? Mungkin

kau tak akan kawin kalau menunggu itu! Jerit Prasintorini yang terus menangis dengan tersedu-sedu.

“Maaf...... maaf adi, kalau ada kata-kataku yang menyakitkan hatimu. Aku benar-benar tak bermaksud mengecewakan hatimu, tapi hendaknya kau sadar kalau aku sebagai seorang ksatria tak akan dapat mendiamkan rakyat hidup dalam keadaan sengsara dan tertindak oleh kejahatan.

“Apakah tidak bisa pekerjaan ini kita lakukan setelah kita kawin? Bukankah setelah kita kawin kita dapat merantau lagi untuk mengulurkan tangan guna menoloag si lemah dari tindasan si kuat? Jawablah kakang!” desak Prasintorini dengan sedih.

“Memang dapat begitu, adi! Baiklah kita pikirkan hal itu dengan kepala dingin dan jangan terlalu tergesa-gesa untuk mengambil keputusan.......” Sebelum Ksatria Aneh itu menghabiskan perkataannya tiba-tiba ia dikejutkan oleh serangan dua ekor harimau belang.

“Auummmm....... aaaauuummmm.......” Dengan amat gesitnya kedua ekor harimau belang itu lalu menerkam kearah Prasintorini dan Ksatria Aneh. Tentu saja kedua orang pendekar itu menjadi amat terkejut, sebab ia tak menyangka sama sekali kalau akan mendapat terkaman dari raja hutan itu. Namun ketenangan kedua orang pendekar itu sangatlah mengagumkan. Begitu sang harimau menerkam kearah dada maka Ksatria Aneh lalu menjatuhkan diri dan bergulingan diatas tanah sambil berteriak :

“Adi Prasintorini, awas!”

Sebetulnya Ksatria Aneh itu tak perlu memperingatkan kekasihnya itu. Sebab begitu ia merasa kalau ada angin kencang menyambar kearah belakangnya maka Prasintorini telah siap dan begitu tahu kalau yang menyerang itu adalah harimau ia terus mengenjot tubuhnya keatas berjumpalitan beberapa kali diudara untuk kemudian turun diatas tanah dalam keadaan siap sedia.

“Hehh...... apakah kau tak tahu kalau sedang berhadapan dengan murid Singo Tunggul??” Bentak Prasintorini sambil mengayunkan tangannya untuk memukul kepala harimau yang menyerangnya. Tapi rupa-rupanya harimau itu tahu akan bahaya yang akan menimpanya karena itulah sang raja hutan itu lalu melompat kesamping dan siap untuk menerjang lawannya lagi.

Tapi sebelum raja hutan itu dapat menyerang Prasintorini, terlebih dahulu si dara pendekar itu telah melompat dan menampar kepala harimau tersebut dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat. Hingga kalau tamparan itu kena kepala raja hutan itu niscaya matilah sang harimau tersebut. Tapi aneh begitu kepalanya dapat serangan dari dara yang menjadi lawannya maka harimau itu menundukkan kepalanya dan bergulingan diatas tanah dan setelah binatang itu dapat mengembalikan keseimbangannya ia balas menerjang perut lawan. Kuku-kukunya yang tajam dan runcing itu terus disiapkan untuk mengoyak-ngoyak daging calon mangsanya itu.

“Ayaaaa.     ” Teriak Prasintorini yang terus meloncat keatas dan kemudian dari

udara ia lalu melancarkan pukulan kearah sang raja hutan. Namun kembali serangan pendekar wanita ini hanya mengenai angin kosong saja. Sebab sebelum pukulan pendekar wanita itu sampai ketujuan terlebih dahulu harimau itu telah meloncat kemuka hingga selamatlah ia dari pukulan lawan.

Sementara Ksatria Aneh terus-menerus memukul-mukulkan tangannya kearah harimau yang menyerangnya. Ketika tangan Ksatria Aneh itu memukul kearah kepala harimau yang melawannya itu ia lalu melompat kesamping hingga...... huukkk......

harimau itu terpelanting dan kemudian setelah mengatur keseimbangannya lalu menerjang lagi kearah muka Ksatria Aneh dengan mempergunakan loncatan dan cengkeraman kuku-kukunya yang tajam itu. Tapi sekarang yang diserangnya adalah Ksatria Aneh yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan. Begitu ia melihat berkelebatnya tubuh harimau itu lalu memiringkan tubuhnya dan terus menghantam kepala   harimau   itu   dengan   kepalannya   hingga.......   prakkkk.......

auummm      pecahlah kepalanya raja rimba yang ganas itu.

Setelah ia dapat mengalahkan lawannya maka ia lalu duduk dibawah pohon sambil memandang kearah kekasihnya yang telah mati-matian melawan harimau itu. Ternyata harimau itu mempunyai gerakan yang gesit dan rupanya mengerti pula akan gerakan-gerakan ilmu silat. Hingga setiap serangan dan langkah yang dipergunakan persis seorang jago silat kelas tinggi.

Bahkan ia dapat menggunakan gerakan tipuan, sewaktu harimau itu menerkam perutnya maka Prasintorini lalu mengayunkan tangannya untuk menghantam kepala si penyerang. Tapi begitu tangannya berkelebat maka harimau itu lalu membuang diri dan bergulingan diatas tanah hingga kepalanya selamat dari hantaman lawan dan sambil bergulingan kuku-kukunya yang runcing itu terus mencakar-cakar kaki Prasintorini. Untung saja Prasintorini terus meloncat keatas hingga kakinya selamat dari serangan kuku lawan yang runcing itu.

Tiba-tiba saja terdengarlah teriakan yang menyerupai auman harimau lapar :

“Aaaauuuummmm........” Begitu mendengar teriakan ini maka harimau yang menyerang Prasintorini tadi lari masuk kedalam semak. Dan sebelum Prasintorini hilang kagetnya muncullah seorang kakek pendek kate yang berjenggot panjang dan kasar. Begitu muncul terus tertawa dengan cekakakan :

“Hieh-heh-heh-heh.......... kalian orang-orang muda yang hebat! Hemm      baru

ini aku akan merasa puas dan dapat mengembalikan otot-ototku yang telah kaku. Hehh, anak muda, karena kau telah berhasil membunuh binatang peliharaanku maka jangan kepalang tanggung marilah kau layani kridaku ini!” Seru orang kate itu sambil memasang kuda-kudanya.

Melihat ini kagetlah hati kedua pendekar muda itu. Kalau tadi binatang-binatang peliharaannya saja telah demikina hebatnya apalagi kakek yang menjadi gurunya ini. Tapi Ksatria Aneh yang tak suka akan kekerasan segera menjawab dengan merendah

:

“Kakek yang baik, kami tadi tak mengetahui kalau binatang-binatang yang kami bunuh itu tadi adalah peliharaanmu. Dan kalau kau marah maka kami minta maaf atas kelancangan kami tadi.”

“Huaahh........ enak saja kalian bicara. Kalian telah membunuh binatang- binatang peliharaanku tapi sekarang malah minta maaf. Boleh kalian minta maaf asal saja dapat mengalahkan sepasang tanganku ini.” Seru kakek itu sambil mengembangkan jari-jarinya yang penuh dengan kuku-kuku runcing seperti kuku- kuku harimau.

“Kakek, diantara kita tak mempunyai permusuhan, dan baru pertama ini pula kita bertemu mengapa kau menginginkan permusuhan?? Bukankah lebih baik kita bersahabat saja?” Seru Ksatria Aneh dengan pelan. “Huaahh........ kentut....... kentut........ boleh saja kalian menganggapku apa saja. Bersahabatpun boleh! Tapi ketahuilah aku hanya mau bersahabat dengan orang-orang yang dapat menandingi kedua tanganku ini.” Setelah berkata demikian maka kakek pendek itupun lalu menerjang kearah Ksatria Aneh. Dan terjangan ini dibarengi dengan cengkeraman kuku-kuku yang panjang itu kearah perut.

Namun yang diserang kini adalah seorang pendekar yang pilih tanding. Karena itulah ketika tangan kakek pendek itu menggerayangi perut. Ksatria Aneh lalu meloncat keatas untuk menghindarkan cengkeraman itu, dan dari atas Ksatria Aneh itu lalu membalas serangan lawannya dengan pukulan. Kali ini pukulan Ksatria Aneh ditujukan kearah pundak kakek pendek itu. Tapi sungguh mengagumkan sekali gerakan kakek pendek itu, dengan sedikit menggerakkan kakinya telah menggeser badannya kesamping dan lalu membalas serangan Ksatria Aneh dengan pukulan jarak jauh. Hingga demikian kedua tenaga mereka berada...... duuukkkk terpentallah

Ksatria Aneh itu kebelakang. Sedangkan kakek pendek itu hanya tergoyang-goyang saja bagaikan sebuah pokok pohon yang tertiup angin topan.

Melihat ketinggian tenaga dalam lawannya ini terkejutlah Ksatria Aneh dari gunung Arjuno itu. Hingga dengan demikian jalan satu-satunya untuk menghadapi kakek pendek yang aneh ini haruslah memakai ilmu meringankan tubuh.

Pertarungan makin lama menjadi semakin seru, bayangan berkelebatnya Ksatria Aneh itu terus memukul-mukul kearah si kakek pendek yang terus-menerus melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya. Hingga dengan demikian angin dingin terus menyambar-nyambar. Debu-debu dan daun-daun kering yang berada disekitarnya makin tinggi beterbangan kena sambaran angin-angin pukulan mereka itu.

Prasintorini yang mengikuti jalannya pertempuran kedua orang tokoh itu hatinya menjadi berdebar-debar. Untuk turun tangan menolong kekasihnya ia tak berani. Sebab Ksatria Aneh tak akan sudi menerima pertolongan dari siapapun dalam menghadapi musuh, biarpun bagaimanapun tangguhnya sang lawan itu. Lebih baik ia mati daripada menang dengan mempergunakan pertolongan orang lain.

Wuuusssstttt....... tiba-tiba saja tangan kakek yang bertubuh pendek itu terus berkelebat menghantam pundak Ksatria Aneh. Dan karena cepatnya gerakan kakek pemelihara harimau itu maka pundak kiri Ksatria Aneh itupun kena makan pukulan tersebut....... duukkk..... dan terhuyung-huyunglah tubuh Ksatria Aneh. Tapi untung saja ia telah cepat mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi pundak hingga sang pundak tak menjadi remuk setelah kena pukulan lawan.

Karena gemasnya maka pemuda dari gunung Arjuno itupun lalu mengerahkan tenaga dalamnya dan balas memukul kearah dada lawan. Weesstttt      angin kencang

menyambar, dan....... duukkkk       kini ganti kakek itu yang kena hajar dadanya. Tapi

aneh sekali, kakek pemelihara harimau itu tak menjadi berjungkir-balik setelah kena pakulan si Ksatria Aneh itu. Tapi ia hanya tersurut mundur beberapa langkah dan kemudian telah berdiri kembali dalam keadaan siap sedia dalam kuda-kuda.

Memang kakek pendek pemelihara harimau itu tadi telah meminjam tenaga lawannya untuk terus menyurut kebelakang dan kemudian kembali siap menerima serangan selanjutnya.

Ksatria Aneh inipun tahu kalau kakek pendek pemelihara harimau inipun tak bersungguh-sungguh dalam menghadapinya. Tapi ia sering sekali membiarkan lowongan-lowongannya itu dengan tak menyerang. Bahkan kalau mau kakek itu dapat dengan mudah saja membunuh dirinya. Karena itulah maka Ksatria Aneh inipun tak mau mempergunakan ajinya yang disebut Ampak-Ampak untuk menyerang sang kakek.

“Kakek, kau ternyata mempunyai kepandaian yang hebat sekali! Dengan bertangan kosong aku mengaku kalah!” Serunya dengan lantang.

“Hua-ha-ha-ha.......... ha-ha-ha-ha-ha........ ternyata kau ini anak jujur, bocah! Belum pernah aku bertemu lawan yang setangguh kau dan semuda ini, bocah. Hehh kau bilang kalah dalam bertangan kosong? Ayo lekas kau keluarkan senjatamu. Aku ingin pula menjajal kepandaianmu dalam memainkan senjata.” Setelah berkata demikian maka kakek itupun lalu mengeluarkan belati dari dalam bajunya.

Tak ada jalan lain bagi Ksatria Aneh itu untuk mengelakkan pertempuran kedua ini, ia maklum kalau kakek inipun seorang yang gemar mengadu ilmu dan kerasnya kulit. Dan tanpa ragu-ragu lagi maka pemuda dari gunung Arjuno inipun lalu mengeluarkan pedang pusakanya bernama Ular Emas. Dan seketika itu juga udara disekitarnya menjadi panas dan bercahaya kekuning-kuningan.

“Bagus...... bagus...... pedang baik..... pedang baik..... Ular Emas! Ayo kau hadapi belatiku ini, anak muda!” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah tubuh kakek itu dan langsung menyerang lawannya dengan menusukkan belatinya kearah tenggorokan. Bukan main terkejutnya hati Ksatria Aneh itu setelah mengetahaui letak serangan sang kakek pemelihara harimau itu. Ia lalu menundukkan kepalaya dan dengan sekuat tenaga mengayunkan tangannya yang memegang pedang itu untuk menangkis belati yang sedang meluncur dengan cepatnya itu. Namun rupa-rupanta serangan kakek itu bukanlah serangan inti, tapi hanya merupakan sebuah tipuan saja, begitu ia tahu kalau lawannya yang muda itu menundukkan kepalanya dan membabatkan pedangnya untuk menangkis belatinya maka ia lalu menarik pulang serangannya dan kemudian dengan kakinya ia menendang perut lawan hingga.......

heekkkk....... dan terlemparlah tubuh Ksatria Aneh. Seketika itu juga perutnya terasa sakit bagaikan diaduk dalamnya. Tapi dasar Ksatria Aneh itu murid gemblengan dari Resi Eko Paksi yang tinggal dipuncak gunung Arjuno. Setelah mengerahkan tenaga dalamnya dan mengatur tata napas maka kembalilah ia dapat bangkit dan melupakan rasa sakit yang menyerang perutnya tadi. Dengan lebih berhati-hati lagi ia lalu memutar pedangnya dengan ilmu pedang Jatayu Nglayang.

Seketika itu juga tubuhnya lenyap ditelan sinar pedangnya yang kekuning- kuningan itu. Sedang tubuh kakek pemelihara harimau itupun lenyap ditelan sinar belatinya sendiri. Hingga dengan demikian yang tampak hanyalah dua buah sinar yang saling terkam-menerkam. Jurus demi jurus mereka lalui dengan cepatnya.

Prasintorini bertambah berdebar-debar setelah mengikuti jalannya pertarungan itu. Tapi sayang makin lama matanya semakin berkunang-kunang setelah melihat gerakan kedua orang yang baru mengadu ilmu itu. Hingga murid Singo Tunggal itu tak berani memandang kearah medan pertarungan lagi.

Pohon-pohon yang berada didekatnya banyak yang tumbang kena hajar pukulan dan senjata mereka itu. Hingga makin lama medan pertarungan itu makin bertambah luas. Binatang-binatang penghuni hutan itu sama minggir dan bersembunyi setelah mengetahui kalau lurahnya sedang bertempur mati-matian melawan lawan yang masih muda itu.

Wuuuusssstttt....... pedang Ular Emas itu terus menusuk kearah lambung si kakek, tapi kakek pemelihara harimau itu lalu menggeserkan tubuhnya kesamping kanan dan kemudian menangkis serangan lawan dengan belatinya hingga terdengarlah bunyi....... triinggg....... dan ternyata belati yang pendek itupun telah terputus menjadi dua setelah bertemu dengan pedang pusaka itu. Dan sungguh aneh pemandangan disitu, setelah belatinya patah menjadi dua bukannya kakek pendek itu menjadi marah tapi malah ketawa dengan riang sambil berseru :

“. Ayo lekas kau keluarkan senjatamu. Aku ingin pula menjajal

kepandaianmu dalam memainkan senjata.” Setelah berkata demikian maka kakek itupun lalu mengeluarkan belatinya dari dalam.......

“Hua-ha-ha-ha....... bagus...... bagus....... tak menyesal aku kehilangan senjata karena ketajaman pedang Ular Emas. Hehh, anak muda, pernah apakah kau dengan si Eko Paksi??”

Mendengar kalau kakek pendek ini mengenal gurunya maka cepatlah Ksatria Aneh menjawab dengan lantang :

“Ketahuilah kakek yang baik, kalau Resi Eko Paksi yang bertapa digunung Arjuno itu adalah guruku!”

“Ha-ha-ha-ha...... pantas..... pantas kau tangguh bukan main. Dan ilmu yang kau mainkan tadi bukankan ilmu pedang Jatayu Nglayang, angger??” Serunya bertambah gembira.

“Betul! Dan siapakah kau, kakek?” Tanya Ksatria Aneh yang terus timbul

perasaan sukanya terhadap si kakek pemelihara harimau itu. “Heh-heh-heh...... apakah gurumu tak pernah bercerita kalau ia punya seorang

sahabat yang sukanya bergaul dengan harimau???”

Mendengar pertanyaan kakek pendek yang menarik ini Ksatria Aneh hanya menggelengkan kepalanya saja. Memang gurunya tak pernah bercerita tentang kakek pemelihara harimau ini.

Melihat gelengan kepala si anak muda ini maka kakek pendek yang suka memelihara harimau ini lalu menarik napas panjang tanda kecewa. Tapi setelah berdiam sesaat iapun lalu menjawab pertanyaan si pemuda itu :

“Ketahuilah angger, kalau orang menyebutku dengan sebutan Ki Sardulo Kresno! Nama ini diberikan kepadaku karena aku sering bergaul dengan harimau dan kesukaanku ialah harimau kumbang hitam hingga aku disebut Ki Sardulo Kresno (harimau hitam).”

“Ki Sardulo Kresno?? Ah...... sayang bapa guru belum pernah menceritakan hal kakek, kepadaku.” Desah Ksatria Aneh yang mengetahui akan kekecewaan si kakek pendek itu.

“Hiaaahh........ memang nama yang tak terkenal untuk apa diingat-ingat. Hehh bagaimanakah dengan keadaan gurumu?? Bukankah ia baik-baik saja?? Kalau besuk kau kembali kegunung Arjuno sampaikanlah salamku kepadanya.” Serunya dengan lantang.

Mendengar perkataan si kakek pemelihara harimau ini maka ganti Ksatria Anehlah yang menarik napas panjang. Dan dari raut mukanya tampak kalau pemuda itu menjadi bersedih setelah mendengar perkataan si kakek yang bernama Ki Sardulo Kresno itu.

“Huahh....... mengapa kau malah termenung-menung? Apakah kau tak mau

menyampaikan salamku kepadanya!?” Bentaknya dengan marah.

“Bukan....... bukannya demikian, kakek yang baik!” Jawab Ksatria Aneh dengan cepat. Dan Prasintorini yang telah berada didekat situpun menjadi terkejut setelah mendengar bentakan dari Ki Sardulo Kresno itu.

“Bukan....... bukan....... lalu mengapa kau menjadi termenung-menung dan bersedih setelah mendengar kalau aku menitipkan salam kepada garumu? Apakah kau kira aku ini terlalu rendah untuk bersahabat dengan gurumu, hehhhh??? Kembali Ki Sardulo Kresno membentak.

“Jangan marah kakek yang baik, ketahuilah kalau guruku telah meninggal dunia sewaktu melawan Gantrung Mimis dan Gantrung Mimispun telah meninggal hingga bolehlah kita katakan kalau keduanya mati dalam pengaruh Lencana Pedang dan Golok bersilang!”

“Apa?? Apa katamu??? Eko Paksi mati??? Gantrung Mimis mati??? Dan keduanya mati dibawah Lencana Pedang dan Golok bersilang??? Bohong! Hehhh anak muda jangan kau membohongi aku orang tua kalau kau tak ingin kusobek-sobek mulutmu. Aku tahu kalau Lencana Pedang dan Golok bersilang itu berada ditangan Eko Paksi sendiri. Tapi mengapa kau katakan mereka itu mati dibawah pengaruh Lencana Pedang dan Golok bersilang. Ayo lekas beri alasan yang tepat! Awas kalau tidak!” Ancam kakek pendek pemelihara harimau itu.

“Benar...... kakek, kedua orang tua itu telah meninggal, dan ketahuilah kalau Lencana Pedang dan Golok bersilang itu dulu diberikan kepadaku dan karena keteledoranku maka lencana itu dapat direbut oleh paman Singo Tunggul. Hingga dengan adanya Lencana Pedang dan Golok bersilang itu ditangan paman Singo Tunggul maka guruku dan paman Gantrung Mimis dapat dibunuh dibawah pengaruh lencana itu. Atau tepatnya mereka itu disuruh bunuh diri ” Belum habis Ksatria Aneh menuturkan kisahnya kakek pendek yang suka memelihara harimau itu telah meloncat keatas dan berseru dengan nyaring :

“Celaka....... celaka....... lencana itu berada ditangan Singo Tunggul! Ahhhhh....... dunia bakal geger! Aku harus merebutnya!” Seru Ki Sardulo Kresno dengan mencak-mencak.

“Paman...... paman......   cerita   kakang   Brotolaras   belum   selesai!”   Teriak

Prasintorini dengan perasaan tak enak.

“Heaaaahh       budak siapakah kau ini??” Kini sadarlah kakek pendek itu kalau

sedari tadi ia belum menyapa kepada gadis yang datang bersama dengan Ksatria Aneh itu.

“Aku Prasintorini!”

“Dan kau Brotolaras??” Tanya kakek pendek itu kepada Ksatria Aneh.

“Ya kakek! Namaku Brotolaras dan orang menyebutku sebagai Ksatria Aneh!”

Jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Hehhhh Brotolaras, cepat kau lanjutkan ceritamu.” Seru kakek Sardulo Kresno

itu.

“Setelah Guru dan paman Gantrung MiMis mati bunuh diri maka datanglah

kami bertiga, yang terdiri dari aku, adi Prasintorini dan kakang Polosio. Kami bertiga menuntut keadilan dan memberantas kejahatan yang dilakukan oleh paman Singo Tunggul. Setelah dikeroyok tiga maka paman Singo Tunggul lalu meninggal. Dan perlu diketahui kalau kakang Polosio itu adalah murid paman Gantrung Mimis. Dan adi Prasintorini ini adalah murid paman Singo Tunggul sendiri.”

“Hehhhh......... jadi kau murid Singo Tunggul?? Dan mengapa kau membunuh gurumu sendiri?? Lekas jawab!”

“Paman Sardulo Kresno! Ketehuilah aku sebagai seorang yang mempelajari ilmu silat tentu saja tak dapat melihat kejahatan terus merajalela diatas dunia ini. Aku harus memberantasnya biarpun ia guruku sendiri. Dan aku berpendapat kalau dalam memberantas kejahatan itu tak pandang bulu. Sebab akupun tahu akan sumpah prasetia seorang ksatria. Memberantas kejahatan tak pandang bulu, biar keluarga, guru ataupun teman kalau jahat harus diberantas.” Jawabnya dengan gagah.

“Bagus........ bagus........ anak baik! Memang orang-orang yang berjiwa seperti itulah yang diharap-harapkan oleh masyarakat dan negara. Dan si Polosio itupun tentu sekarang menggantikan gurunya menjadi momok bukan?”

“Tidak..... tidak paman! Kakang Polosiopun seorang pendekar yang baik dan mengutamakan kebenaran daripada kejahatan. Ia telah sadar setelah bertemu dengan paman Resi Eko Paksi.” Jawab Prasintorini.

“Haa-ha-ha-ha........ anak-anak muda telah menggalang kesatuan dan mereka bertekad untuk mengganyang kejahatan. Sungguh mulia kehendak mereka. Dan kini tibalah saatnya kejahatan akan runtuh dan hancur setelah generasi-generasi muda bergolak. Aku puas...... aku puas...... hehhh dimanakah lencana itu sekarang angger??”

“Lencana Pedang dan Golok bersilang telah kembali ketanganku, kakek! Dan inilah lencana itu.” Seru Ksatria Aneh sambil mengangkat tinggi-tinggi Lencana Pedang dan Golok bersilang itu.

Begitu melihat berkelebatnya Lencana Pedang dan Golok bersilang maka kakek pendek pemelihara harimau itu lalu menjatuhkan diri dan terus berlutut kehadapan Ksatria Aneh sambil berseru :

“Hamba menghaturkan hormat kepada pemimpin muda! “Hai..... kakek lekas kau berdiri! Jangan kau berlaku demikian. Tak berani aku menerima penghormatan sebesar ini, kakek Sardulo Kresno!” Teriak Ksatria Aneh sambil menarik-narik pundak Ki Sardulo Kresno.

“Kepada pemimpin muda mana berani aku berlaku kurangajar? Dan mohon maaf atas kelancanganku tadi tuan muda!” Jawab Ki Sardulo Kresno.

Karena merasa tak enak terhadap tindakan kakek itu maka Ksatria Aneh itupun lalu mempergunakan Lencana Pedang dan Golok bersilang itu untuk mengalahkan si kakek. Segera ia berkata dengan lantang :

“Sardulo Kresno, kuperintahkan kepadamu supaya kau lekas berdiri dan bersikap biasa terhadapku. Ingatlah ini perintah dari orang yang memegang Lencana Pedang dan Golok bersilang.” Suara Ksatria Aneh ini diucapkan dengan demikian tenaganya dan penuh dengan wibawa. Hingga terdengar kalau suara itu tak bernada dan dingin sekali. Seakan-akan suara yang menakutkan.

“Baik..... baik...... angger! Ketahuilah aku sebagai orang tua yang telah bersumpah akan setia kepada pemegang lencana ini maka tak akan membangkang apa yang menjadi kehendakmu.” Jawab kakek itu yang terus meloncat berdiri.

“Nah begitulah kehendaknya! Masakan kau yang telah tua menyembah kepadaku yang muda. Ahhh..... sungguh menggelikan.” Jawab Ksatria Aneh dengan tersenyum.

“Memangnya kau ini sangat berkuasa sekali kakang setelah mempunyai lencana itu. Mungkin orang-orang angkatan tua semuanya akan tunduk dengan perintahmu. Dan dengan tak kau sadari kau adalah seorang raja yang selalu ditaati oleh para golongan tua.” Seru Prasintorini dengan tersenyum.

“Benar perkataanmu itu nini Prasintorini, angger Brotolaras tak ubahnya seorang raja. Bahkan untuk dunia persilatan ia lebih kuasa daripada raja Anusopati sendiri. Belum tentu seluruh orang dunia persilatan mau menelan apa kata gusti Anusopati. Contohnya aku. Tapi kepada pemilik Lencana Pedang dan Golok bersilang ini aku takut bukan main. Sebab aku lebih menghargai akan sumpahku daripada nyawaku ini! Dan hendaknya angger Brotolaras berlaku bijaksana setelah memegang lencana itu. Sebab keamanan dan kekacauan dunia akanlah terletak ditanganmu.” Seru kakek pendek itu memberi nasehat kepada pemilik Lencana Pedang dan Golok bersilang.

“Semua nasehatmu akan selalu kuingat kakek yang baik! Semoga saja Yang Maha Agung selalu menuntunku berjalan dijalan yang benar.” Jawab Ksatria Aneh dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Hehhhh angger berdua, karena kau adalah ksatria-ksatria harapan bangsa, dan aku melihat bahwa kepandaianmu itu telah tak tercela tapi sayang ilmu tenaga dalam yang kalian pelajari kuranglah kuat. Kalau kalian mau maka mulai saat ini aku orang tua yang hampir masuk kubur ingin menurunkan ilmu tenaga dalamku kepada kalian berdua. Apakah kalian mau menerimanya???” Tanya kakek itu dengan penuh pengharapan.

“Dengan senang hati aku akan menerima apa yang kau berikan kepada kami, bapa! Dan sebelumnya terimalah perasaan terima kasihku!” Setelah berkata demikian maka Prasintorini lalu menjatuhkan diri dan berlutut kepada kakek pemelihara harimau itu.

Melihat kelakuan Prasintorini ini maka Ksatria Aneh itupun lalu menirunya.

Sebab ia merasa kalau tak ada jeleknya untuk menambah ilmu.

“Akupun tak keberatan untuk menerima pemberianmu itu kakek Sardulo Kresno.” Jawabnya yang terus ikut berlutut dihadapan Sardulo Kresno. Melihat kalau kedua ksatria ini mau menerima pelajaran yang akan diturunkannya itu maka puaslah hati Sardulo Kresno dan ia tertawa dengan kerasnya : “Hua-ha-ha-ha..... Tuhan Maha Pengasih, aku masih diberi kesempatan untuk menurunkan ilmu-ilmuku yang memberatkan saat kematianku, dan yang lebih penting lagi ialah ilmu-ilmu itu akan dipergunakan untuk menegakkan keadilan dan membela kebenaran. Hua-ha-ha-ha.....” Suara tertawanya itu terus bergema disetiap pelosok hutan lebat itu. Hingga burung-burung yang tadinya hinggap didekatnya

menjadi terbang karena kaget setelah mendengar suara tertawa riang lurah hutan itu.

“Hehhh..... angger marilah kita menggali lubang dulu untuk mengubur muridku yang kau bunuh tadi.” Setelah berkata demikian, maka kakek pemelihara harimau yang berkuku panjang itupun mulai menggali lubang. Dan anehlah cara kakek itu menggali lubang. Ia menggunakan kuku-kukunya yang panjang itu untuk menggali lubang dan caranya persis seekor harimau yang membuat lubang, sepenanak nasi kemudian terbuatlah lubang yang cukap besar untuk mengubur mayat harimau yang pecah kepalanya tadi.

“Kakek, sungguh menyesal aku tadi telah membunuh muridmu. Sebab aku tak menyangka kalau harimau itu adalah muridmu. Habis dia tahu-tahu menubrukku dan menyerang dengan mati-matian.” Seru Ksatria Aneh dengan sedih dan menyesal.

“Tak mengapa..... tak mengapa! Harimau itu tadi memang kusuruh untuk menyerangmu. Dan dengan demikian maka aku tahu seberapa kepandaian kalian, tapi aku tadi tak mengatahui kalau kalian ini murid Eko Paksi dan Singo Tunggul. Sebab kalau aku tahu maka tak perlu aku menyangsikan kepandaian kalian. Dan biarlah mati seekor tak jadi apa. Sebab disini aku masih mempunyai tujuhpuluh ekor harimau lagi. Mungkin lebih! Dan semuanya telah kulatih dalam hal gerakan-gerakan ilmu silat hingga kalau ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya, ia dapat menghindarkan diri dan menjaga dirinya dengan baik.”

“Tujuhpuluh ekor harimau lebih??? Ihhh...... sungguh mengerikan! Aku takut kakek!” Seru Prasintorini dengan ngeri.

“Hua-ha-ha-ha..... jangan kau merasa takut nini, sebab mereka itu tak akan mengganggumu. Lihatlah ini murid-muridku.” Setelah berkata demikian, maka Ki Sardulo Kresno lalu mengaum dengan dahsyatnya..... Aauumm.... Auman ini lebih hebat dab dahsyat daripada auman Prasintorini yang mengerahkan aji Senggoro Singo. Dan kira-kira sepeminuman teh kemudian tampaklah berpuluh-puluh harimau datang menghadap kearah Ki Sardulo Kresno dan semuanya terus menekuk kaki depannya seperti orang menyembah.

“Ihhhh.....” Teriak Prasintorini dengan menutupi matanya karena ngeri melihat

harimau sebanyak itu.

Ksatria Aneh inipun menjadi heran dan kagum akan kepandaian kakek pendek ini dalam hal menjinakkan harimau. Ahh.... kalau saja kakek ini berniat membunuh mereka maka tak akan sukarlah pekerjaan itu sebab dengan menyuruh harimau- harimaunya saja kakek Sardulo Kresno dapat membunuhnya.

Tiba-tiba saja kakek itu berseru dengan lantang :

“Hai..... murid-muridku kalian kularang mengganggu kedua orang ini! Sebab mereka inipun murid-muridku pula hingga dengan demikian, maka ia masih terhitung saudara seperguruan pula.”

Mendengar perkataan Ki Sardulo Kresno ini, harimau-harimau itu seperti tahu akan maksud kakek pendek itu hingga dengan demikian menjawablah mereka : “Hauuummm..... auuummm..... hauuummm......” Begitu para harimau menjawab, maka serasa hutan itu seperti kedatangan makhluk-makhluk dari neraka jahanam, bising dan menakutkan sekali.

Prasintorini hampir jatuh pingsan karena takutnya. Namun tak demikian dengan Ksatria Aneh. Dasar ia orang aneh begitu mendengar perkataan kakek pendek itu ia lalu mendekat kearah harimau-harimau itu sambil mengulurkan tangannya untuk membelai-belai kepala harimau-harimau yang baru tiduran dengan enaknya itu. Dan benarlah harimau-harimau itu diam saja bahkan memejam-mejamkan matanya karena keenakan. Hingga pemandangan yang tadinya menakutkan itu berubah menjadi menggembirakan sekali. Harimau-harimau buas itu tak ubahnya kucing saja dalam pandangan Brotolaras. Karena gembiranya, maka ia lalu berseru dengan lantang :

“Adi Presintorini, benar kata kakek Sardulo Kresno itu bahwa harimau-harimau ini tak akan mengganggu kita! Lihatlah ini.”

Mendengar teriakan kekasihnya ini muka Prasintorini segera menurunkan tangannya dari mukanya dan tampaklah kalau Ksatria Aneh sedang enak-enak membelai-belai kepala singa-singa dan harimau-harimau yang galak itu. Melihat ini timbullah keberanian Prasintorini. Tapi sewaktu ia mendekat tiba-tiba ada seekor yang menguap...... aauuumm dan mendengar ini maka menjeritlah Prasintorini :

“Kakek.......” Dan ia lalu lari kebelakang Sardulo Kresno. Melihat ini tertawalah Ki Sardulo Kresno, dan kemudian berkata dengan perasaan kasih-sayang kepada murid perempuannya itu :

“Jangan takut nini, tadi itu hanya kebetulan ada seekor yang menguap tapi ia tak

akan mengganggumu. Nah, coba kau dekati lagi.”

Setelah mendengar perkataan kakek pendek itu maka kembalilah Prasintorini mendekati kearah harimau yang sedang enak-enak tiduran itu dan benarlah mereka itu tak menggigit atau menerkam. Bahkan mereka itu lalu memainkan buntutnya. Hingga senanglah Prasintorini kepada binatang-binatang itu.

“Nah angger, marilah kita istirahat dahulu sebelum mulai berlatih dan biarlah mereka itu kembali kedalam hutan mencari makan.” Setelah berkata demikian maka kakek pendek itu kembali mengaum dan auman ini tinggi melengking. Mendengar auman lurah hutan ini, maka para raja inipun lalu menggeloyor pergi. Ksatria Aneh dan Prasintorini mengawasi kepergian mereka itu dengan perasaan bersahabat.

“Kau sungguh pandai untuk menjinakkan harimau, kakek! Aku kagum akan kepandaianmu itu.” Seru Prasintorini dengan manja.

“Sudah...... sudah...... sekarang kalian cari tempat-tempat yang baik untuk beristirahat. Menjelang peteng nanti kalian kembalilah kesini lagi untuk mulai menerima pelajaran ilmu tenaga dalam.”

“Baik, kakek!” Setelah berkata demikian maka pergilah mereka itu untuk

mencari tempat yang baik untuk melepaskan lelahnya.

Seteleh matahari mulai masuk kedalam peraduannya maka Prasintorini dan Ksatria Aneh lalu menghadap Ki Sardulo Kresno. Dan didapati kakek pendek itu masih duduk semedi ditempat tadi sewaktu ia mengumpulkan harimau-harimaunya. Namun kira-kira sepeminuman teh kemudian kakek itupun telah mengakhiri semedinya. Dan begitu melihat kalau Ksatria Aneh dan Prasintorini telah menghadap kakek tua itu lalu tersenyum dan berkata dengan pelan :

“Sudah lamakah kalian menghadap, angger??” “Belum, bapa!” Jawab mereka dengan serempak.

“Nah, marilah kita mulai untuk mempelajari cara-cara bersemedi untuk mendapatkan tenaga dalam yang kuat dan cepat. Tapi mungkin cara ini akanlah begitu aneh bagi kalian berdua. Coba kau perhatikan baik-baik ini, angger.” Setelah berkata demikian maka kakek itupun lalu meletakkan kedua tangannya dan kemudian kepalanyapun diletakkan ditanah pula hingga kedua tangan dan kepala itu membentuk segi tiga. Setelah badannya diangkat keatas tinggi-tinggi hingga menyerupai orang berdiri terbalik.

“Kalau kalian telah berada dalam keadaan demikian maka kembungkanlah dadamu dan perut dikempiskan supaya semua tenaga berada didada sebab kalau pusat tenaga berada didada akanlah mudah untuk mengaturnya!! Nah, coba tirukan latihan ini, angger!” Seru kakek itu yang terus menutup matanya dan mulai melakukan semedi dengan kepala dibawah.

Kedua muda-mudi itupun lalu menirukan apa yang diperbuat oleh orang tua yang memberi contoh itu. Namun belum ada sepenanakan nasi lamanya Prasintorini telah merasa tak kuat dan kepalanya berubah menjadi pening. Matanya berkunang- kunang dan kemudian jatuh. Sedang Ksatria Aneh masih tetap dalam kedudukannya. Namun sepeminuman teh kemudian iapun jatuh menyusul Prasintorini. Tapi dasar Ksatria Aneh itu orang aneh! Begitu jatuh ia lalu mencoba lagi dengan tak mengenal takut ataupun ngeri. Kemauan yang keras dan bernyala-nyala itu yang mendorong dirinya untuk terus mengikuti latihan-latihan yang diberikan kepadanya oleh kakek pendek itu.

Demikianlah mereka itu terus-menerus digembleng kakek Sardulo Kresno yang tinggal didalam hutan itu. Sehari-harian mereka itu terus menerus mempelajari ilmu bersemedi yang dahsyat dan aneh itu. Tapi kian lama Ksatria Aneh dan Prasintorini inipun menjadi bertambah biasa dengan persemedian cara berjungkir-balik itu. Dan terasalah bahwa tenaga sakti yang berada didalam tubuh mereka itu menjadi semakin kuat.

Pada suatu hari pernah Ksatria Aneh itu bersemedi dengan berjungkir-balik selama sepuluh hari sepuluh malam tanpa makan dan minum. Hingga karena khusuknya ia bersemedi maka dari atas kepalanya keluar asap putih yang membumbung tinggi keatas. Melihat ini maka kakek Sardulo Kresno lalu berkata kepada Prasintorini :

“Nini Prasintorini, lihatlah itu kakangmu telah berhasil menemukan inti sari dari pelajaran yang kuajarkan kepada kalian. Hingga karena tenaganya telah berkumpul itu maka kepalanya mengeluarkan uap putih. Hem...... sungguh hebat anak muda ini, akupun yang telah tua bangka ini belum pernah menemukan letak dasar ilmu semedi ini. Ahhh...... besuk kalau ia turun kembali kedunia ramai maka kepandaiannya akanlah bertambah berlipat-lipat daripada kepandaiannya sewaktu ia masuk kedalam hutan ini. Mungkin sekarang tenaga dalamku akan kalah oleh tenaga dalam yang mengeram didalam tubuhnya.”

Mendengar perkataan kakek pemelihara harimau itu maka giranglah hati Prasintorini. Sinpa orang yang tak akan menjadi girang setelah melihat kesuksesan kekasihnya dalam menempuh pelajaran?? Karena girangnya maka Prasintorini mengeluarkan air mata. Yah air mata bahagia.

Sampai lama mereka berdua itu memandang kearah tubuh Ksatria Aneh yang sedang bersemedi itu. Makin lama tampaklah makin tebal pula uap putih yang keluar dari dalam kepalanya itu, hingga tubuhnya sekarang menjadi kelihatan samar-samar saja. Uap itupun makin lama makin membumbung tinggi keudara.

Pada hari yang kesebelas maka bangunlah Brotolaras dari semedinya. Dan begitu ia bangun Prasintorini telah menyambutnya dan menyediakan makanan untuk kekasihnya itu. “Apakah kau tak lapar, kakang??”

Mendengar pertanyaan kekasihnya ini Ksatria Anrh hanya tersenyum saja, dan kepalanya terus digeleng-gelengkan. Setelah menarik napas panjang maka berkatalah si Ksatria Aneh itu :

“Masakan baru semalam saja telah lapar!”

“Huhhh.... kau menghina aku kakang! Memang aku hanya kuat semalam untuk melakukan semedi, mentang-mentang dapat bersemedi selama sebelas hari.” Jawab Prasintorini dengan cemberut.

“Hehhhh...... apa katamu adi??? Aku bersemedi sampai sebelas hari?? Jangan kau mempermainkan aku adi! Mana kuat aku tak makan minum selama sebelas hari itu?” Tanya Ksatria Aneh dengan terkejut.

“Hem....... memang kau telah bersemedi selama sebelas hari! Aku selalu menghitung malam yang tiba dan pada malam yang kesebelas kau bangun! Apakah dengan demikian aku bermain-main?”

“Ya...... ya........ angger Brotolaras, kau telah bersemedi selama sebelas hari dan benarlah apa yang dikatakan oleh adikmu itu. Bahkan sekarang kau telah menemukan inti dari pelajaran yang kuturunkan, angger.” Setelah berkata demikian maka kakek pendek itu mulai bercerita. Dan diam-diam Ksatria Aneh merasa heran dan mengagumi dirinya sendiri. Tapi perasaan itu tak dikeluarkan dan hanya disimpan didalam hatinya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka kalau dapat melakukan hal yang sedemikian beratnya.

Setelah Brotolaras dapat menemukan inti pelajaran yang diberikan oleh kakek pemelihara harimau itu maka sekarang tenaga dalamnya telah maju berlipat-lipat. Bahkan kalau ia sekarang memusatkan tenaga dan melakukan pukulan jarak jauh anginnya saja dapat menumbangkan sebuah pokok pohon besar. Apa lagi kalau menggunakan ajinya yang disebut aji Ampak-Ampak yang ia dapatkan dari Pendeta Sambu Lelono.

Namun hal ini tidaklah menjadikan Ksatria Aneh menjadi sombong dan takabur. Ia masih selalu melakukan semedi setiap malamnya untuk menambah tenaga dalamnya itu. Tak lupa iapun melatih ilmu pedangnya dan ilmu tangan kosong Riwondo Kurdo. Hingga dengan demikian selama tinggal didalam hutan itu kepandaian Ksatria Aneh menjadi maju dengan pesat.

Begitupun dengan kepandaian Prasintorini, selain mendapat petunjuk-petunjuk dari Ksatria Aneh iapun menerima pelajaran ilmu silat tangan kosong dari kakek pendek pemelihara harimau itu. Dan ilmu tangan kosong itu di sebut Ilmu tangan kosong Harimau Murko. 

Pada suatu hari tampaklah kedua orang muda itu sedang menghadap Ki Sardulo Kresno.

“Angger, kukira telah tiba masanya kau turun kembali kedunia ramai dan ulurkanlah tanganmu untuk memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan. Kepadamu berdualah aku meletakkan kepercayanku untuk memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan. Nah mulai besuk pagi-pagi benar kalian harus telah pergi dari sini dan aku akan mengajar kepada macan-macanku lagi. Terhadapmu angger Brotolaras, hendaknya berlaku adil dan bijaksana sebab ditanganmulah terletak kedamaian dan kerusuhan dunia ini. Karena kaulah pemegang Lencana Pedang dan Golok bersilang.”

“Baik bapa, semua nasehat kakek Sardulo Kresno akan kuindahkan dan kujalankan dengan baik.” Jawab mereka dengan serempak. “Bapa, apakah aku boleh bermain-main dahulu dengan harimau-harimau bapa sebelum aku meninggalkan mereka itu.” Tanya Prasintorini dengan manja. Memanglah selama ia berada dihutan itu sewaktu ada waktu senggang maka Prasintorini selalu bermain-main dengan harimau-harimau yang menjadi jinak itu dengan demikian mulailah timbul perasaan sukanya kepada harimau-harimau itu. Ajinya Senggoro Singopun telah menjadi maju dengan pesat setelah mendapat latihan dan bimbingan dari kakek Sardulo Kresno itu dan terutama karena pergaulannya dengan harimau-harimau itu.

“Kau ingin main-main dengan mereka? Baik panggilah atau kau cari sendiri

mereka itu didalam hutan.” Jawab kakek pendek itu.

“Terima kasih bapa!” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah Prasintorini

untuk mencari harimau-harimau yang berada didalam hutan.

“Hehhhh..... rupa-rupanya nini Prasintorini hatinya juga tertarik oleh harimau- harimau itu. Memang raja rimba itu binatang yang baik dan tak mau menyerang manusia yang tak mengganggunya. Tapi kalau manusia yang menyerangnya dahulu maka ia tak akan sudah kalau belum mengoyak-ngoyak dagingnya.” Gumam kakek itu sambil melihat ke arah kepergian gadis manis tadi.

Ksatria Aneh hanya tersenyum ketika mendengar gumam orang tua pendek itu.

Sedikitpun ia tak memberi komentar.

Didalam hutan Prasintorini terus-menerus bercanda dengan harimau-harimau itu, bahkan gadis itu terus ikat bergulingan dengan anak harimau yang sedang bersendau-gurau dengan induknya. Pengalaman ini adalah pengalaman yang paling menyenangkan dan paling disukai oleh Prasintorini. Sebab ia dapat hidup ditengah- tengah keluarga harimau, atau dapat dikatakan ditengah-tengah keluarga raja rimba.

“Hem...... guruku dahulu menamakan dirinya sebagai singo! Tapi kukira keganasannya melebihi singo. Singo-singo yang sebenarnya saja tak seganas kelakuan bapa guru dulu.” Pikirnya.

*

* *

Keesokan harinya Ksatria Aneh dan Prasintorini terus-meneruskan perantauannya. Kepergian kedua orang itu diantarkan oleh kakek Sardulo Kresno dan harimau-harimau sampai dipinggir hutan.

“Selamat tinggal, kakek!”   Teriak   Prasintorini dan   Ksatria   Aneh sambil

melambaikan tangannya.

“Selamat jalan angger!” Balas kakek itu dengan nada berat. Dan harimau- harimaunya lalu menggeram bersama-sama : “Auuummm.” Inilah tanda penghormaten mereka dan mengatakan selamat jalan pula.

Keduu ksatria itu terus melakukan perjalanannya dengan menggunakan ilmu lari cepatnya. Hingga desa demi desa mereka lewatkan dengan cepat. Disuatu siang yang panas sampailah mereka itu didusun Taji.

“Adi, lebih baik kita melepaskan lelah didesa ini dahulu! Udara sangat panas dan lagi aku telah letih.” Kata Ksatria Aneh itu kepada kekasihnya.

“Baik kakang akupun telah letih pula.” Jawab Prasintorini. Begitu masuk desa Taji maka kedua orang pendekar itu menjadi sangat terkejut sekali setelah melihat kesengsaraan rakyat setempat. Rumah-rumah didesa itu tak dapat dikatakan baik, bahkan barak-barak yang hampir reyotlah yang dipakai mereka untuk berteduh. Padahal sawah dan ladang didesa itu tumbuh dengan suburnya. “Kakang, aneh   benar   keadaan   desa   ini.”   Seru   Prasintorini   yang   terus

mengutarakan pikirannya.

“Apanyakah yang aneh, adi?” Jawab Ksatria Aneh dengaa balas bertanya.

“Lihatlah itu, sawah-sawah tumbuh dengan subur dan padi-padi menguning serta hasil ladangpun berlimpah-limpah tapi mengapa keadaan penduduk sangat menyedihkan dan kalau kita lihat rumah-rumah mereka itu saja akanlah tampak kalau mereka hidup dalam keadaan tak punya. Apalagi setelah kita lihat pakaian-pakaian mereka yang mereka jemur itu. Sobek..... penuh tambal-tambalan hingga sukar untuk diketahui apakah warna kain dasarnya dahulu.”

Mendengar perkataan kekasihnya ini tertegunlah hati Ksatria Aneh itu. Meantag sejak tadi ia melihat rumah-rumah yang telah reyot dan pakaian-pakaian yang dijemur itu. Tapi sedikitpun tak terlintas dalam benaknya akan keadann yang ganjil ini. Ia hanya merasa kasihan sekali kepada para penduduk. Tapi setelah mendengar perkataan kekasihnya ini maka Ksatria Aneh terus memutar otaknya untuk memecahkan persoalan yang aneh itu.

“Adi, marilah kita meneduh dibawah pohon beringin itu dan kita bicara secara leluasa disana.” Ajak Ksatria Aneh kepada kekasihnya.

“Baik, kakang!” Maka pergilah mereka kearah pohon beringin yang tumbuh

dekat rumah reyot itu.

“Akupun menjadi heran sekali melihat keadaan ini, adi! Masakan penduduk yang mempunyai sawah dan ladang sesubur ini hidup dalam keadaan tak punya. Hem... mereka ini benar-benar seperti ujar-ujar kuno yang mengatakan kalau ayam bertelur diatas padi tapi mati kelaparan.” Seru Ksatria Aneh membuka pembicaraannya.

“Itulah yang menjadikan aku menjadi heran kakang, apakah rakyat desa Taji ini sangat pelit? Hingga rumah dan pakaian mereka itu tak diurus lagi?. Seru Prasintorini.

“Ngggg.....” sebelum Ksatria Aneh itu melanjutkan kata-katanya tiba-tiba terdengarlah suara tangisan anak kecil dari pondok yang berada didekat pohon itu.

“Huu-hu-hu-hu.....    ibu.....    makan.....    bu.....    perutku    lapar.....    buuuu.....

makannn...... huu-hu-hu-hu.” Jeritan si kecil itu sangatlah menyayat hati kedua orang

pendekar yang sedang melepaskan lelahnya.

“Diamlah ngger..... semoga saja nanti sore ayahmu datang membawa ketela. Kuatkanlah dahulu sampai sore nanti.” Seru seorang wanita dengan diiringi isak yang menyedihkan.

“Huu-hu-hu..... aku lapar ibu..... ibuuu selalu bilang sore..... sore..... tapi ibu tak pernah menanak nasi..... merebus ketelapun tak pernah..... buuuu lapaaarr.” Teriak anak itu lagi.

“Sudahlah nak.... nanti sore ibu pinjam beras untuk makanmu.....” jawab sang

ibu itu.

Mendengar perkataan ibu dan anak ini maka Prasintorini tak dapat menahan lagi perasaan ingin tahunya, apakah yang menyebabkan keanehan dalam kehidupan penduduk desa Taji ini. Segera ia melesat dan masuk kedalam pondok itu sambil berkata :

“Maaf.    mbakyu, mengapakah anakmu itu menangis terus???”

Melihat kalau ada orang yang masuk kedalam pondoknya itu maka wanita yang menjadi ibu dari si anak kecil yang menangis itu menjadi terkejut. Dan dengan gagap iapun lantas ganti bertanya :

“Siiiii...... siiiiapakah    kau???” “Panggil saja aku Prasintorini! Dan mengapakah anakmu menangis mbakyu yang baik??” Kembali Prasintorini bertanya.

“Ooohhh     adi, apakah kau orang luar desa sini??”

“Ya! Aku bukan orang desa sini!” Jawabnya singkat.

“Pantas...... pantas kau tak mengetahui akan kesusahan yang diderita oleh para penduduk desa sini. Ketahuilah adi, anakku ini menangis karena kelaparan dan minta makan.”

“Minta makan?? Mengapa tak kau beri saja biar diam?” Tanya Prasintorini

sambil memandang kearah anak laki-laki kecil yang kurus kering itu.

“Beri??? Kalau aku punya tak usah kau suruh saja aku telah memberinya makan.” Jawab wanita itu dengan mendongkol.

“Kau tak punya apa-apa??!! Kulihat sawah dan ladang didesa ini dapat tumbuh dengan subur sekali. Apakah hasilnya tak dapat mencukupi kebutuhan kalian?? Tanya Prasintorini dengan heran.

“Inilah yang menyebabkan kami, adi! Desa ini memang mempunyai tanah yang

subur dan dapat menghasilkan tanaman yang berlimpah-limpah     ”

“Buuuuu....... lapaaarrr......” teriak anak laki-laki itu memotong cerita si wanita yang menjadi ibunya.

Melihat ini timbullah rasa kasihan Prasintorini, segera ia mengambil uang dari dalam sakunya dan memberikan kepada si wanita itu sambil berkata :

“Mbakyu, kau belilah beras untuk makan anakmu itu! Nah, belilah sekarang juga. Kasihan anak yang telah kelaparan ini.” Serunya sambil mengangsurkan uangnya.

Melihat pemberian ini maka seperti tak sadar wanita itu lalu mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian Prasintorini. Sampai lama wanita itu hanya dapat memandang kearah Prasintorini dengan perasaan penuh terima kasih. Hingga sepeminuman teh kemudian barulah ibu yang malang itu dapat berkata :

“Terima kasih        ”

Mendengar perkataan wanita itu Prasintorini hanya tersenyum saja dan sambil menganggukkan kepalanya berkatalah Prasintorini :

“Lekaslah kau beli makanan untuk anakmu, dan setelah itu ceritakanlah mengapa desa ini menjadi sedemikian anehnya.”

Setelah menerimn uang itu maka pergilah wanita itu untuk membelikan makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan itu. Tak antara luma, kembalilah ia sambil menjinjing sekantung beras dan ketan yang telah masak.

“Nah makanlah ini, nak!” Serunya sambil memberikan bungkusan ketan itu kepada anaknya.

Dengan tergesa-gesa sekali anak yang baru berumur dua tahun itu lalu makan ketan pemberian ibunya itu. Makannya tampak lahap sekali, hingga sebentar saja ketan yang berada didaun pisang itu telah berpindah kedalam perut si kecil. Sedang ibunya terus menanak beras pemberian Prasintorini ini. Setelah melakukan tugasnya maka kembalilah wanita itu menemui Prasintorini dan berkata :

“Kau telah menyambung hidup kami, adi!”

“Kita manusia sudah sewajarnya untuk saling tolong-menolong. Nah, mbakyu, lekas kau ceritakan mengapa desa yang kelihatan subur makmur ini mempunyai penduduk yang melarat.”

Setelah menarik napas panjang maka mulailah wanita itu bercerita :

“Kisahnya begini adi, sawah-sawah yang subur dan ladang-ladang yang menghasilkan hasil banyak itu telah dibeli semua oleh tuan Ngali. Hingga tuan Ngali di desa Taji ini seperti raja kecil saja. Semua petani diharuskan menggarap sawahnya dan nanti setelah panen akan diberi sekedar upah atas kesediaannya untuk mengerjakan sawahnya. Dan ketahuilah bahwa upah yang diberikan oleh tuan Ngali itu amat sedikit sekali. Hingga kalau dipakai untuk makan hanya cukup lima enam hari saja. Sedanng hari-hari selanjutnya kami para petani kecil hanya dapat makan apa saja yang dapat dimakan. Seperti halnya bonggol-bonggol pisang, daun tales dan lain-lainnya. Tapi untuk makan beras atau ketela rebus kita haruslah menantikan sampai masa panen selanjutnya. Hingga dengan demikian maka penduduk desa Taji ini menjadi hidup menderita sekali. Barang-barang yang mereka punya telah habis dijual untuk menambah umur kami barang sehari atau dua hari lagi dari ancaman bahaya kelaparan. Pernah dahulu rakyat berontak dan akan menumpas habis tuan Ngali, tapi apa yang terjadi?? Kami malah menjadi bulan-bulanan dari para pengawal tuan Ngali yang terkenal ganas dan kejam itu. Para pengawal itu tak segan-segannya membunuh rakyat yang tak mau tunduk kepada tuan Ngali. Dan karena kejadian itulah maka kami rakyat hanyalah menyerahkan keselamatan kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Betapa marah dan sedihnya hati Prasintorini setelah mendengar perkataan wanita itu. Ia lalu mohon diri dan terus keluar untuk menemi Ksatria Aneh. Dan ternyata Ksatria Aneh masih enak-enak duduk dibawah pohon beringin itu.

“Kakang, sungguh kasihan sekali nasib mereka itu.” Setelah berkata demikian maka berceritalah Prasintorini tentang kesusahan yang menimpa diri para penduduk Taji itu. Ksatria Anehpun menjadi marah setelah mendengar cerita kekasihnya itu.

“Bangsat Ngali harus kita beri pelajaran.”

“Lebih baik kita ambil saja uangnya dan kita bagi-bagikan kepada para penduduk yang membutuhkan. Bukankah dengan demikian maka kita menolong rakyat dan memberi pelajaran kepeda si Ngali??” Seru Prasintorini.

“Bagus     itulah jalan yang paling bagus, adi.”

Malamnya mulailah kedua orang itu bergerak untuk mengambil uang yang berada didalam rumah Ngali yang mewah itu. Tapi untuk mengambil uang yang berada didalam rumah yang dijaga ketat oleh para penjaga itu bukanlah hal yang mudah dikerjakan. Sebab salah-salah mereka dapat ketahuan oleh penjaga, biarpun mereka itu tak takut oleh para penjaga tapi setidak-tidaknya kalau ketahuan akanlah membuat onar dan kemarahan Ngali akan dilimpahkan kepada para penduduk. Karena itulah maka Ksatria Aneh itu lalu mengambil keputusan untuk mengambil uang Ngali dengan secara diam-diam.

Setelah tengah malam maka berkelebatlah Ksatria Aneh itu masuk kedalam rumah Ngali dengan melalui genting. Gerakannya ini amatlah ringan seringan gerakan seekor kucing saja. Hingga dengan demikian maka para penjaga tak ada yang tahu. Setelah berada didalam halaman dan diatas genting maka dengan amat pelan- pelan ia lalu membuka genting dan menipukkan pecahan genting kearah jalan darah laki-laki setengah tua yang sedang enak-enak tidur dibawah...... takk...... begitu jalan darahnya kena totok dengan pecahan genting tadi maka lemaslah tubuh Ngali dan kemudian Ksatria Aneh itupun lalu meloncat kebawah dan terus mengambil empat buah kantung yang kemudian melesat keatas kembali.

Dengan amat gesitnya Ksatria Aneh itu lalu berloncatan dari genting kegenting lainnya untuk meloloskan diri dari para penjaga rumah Ngali. Dan setelah ia sampai diluar halaman rumah Ngali Ksatria Aneh lalu melemparkan uangnya yang dua kantong kepada Prasintorini.

“Apakah para penjaga tak melihatmu, kakang.” “Tidak, adi! Nah marilah kita bagi-bagikan uang ini kepada rakyat. Kau terus

membagikan kesebelah utara dan aku disebelah selatan.”

“Baik, kakang.” Setelah berkata demikian maka kedua orang itupun lalu melakukan tugasnya masing-masing. Setiap rumah penduduk yang mereka lewati itu diberi uang sekadarnya. Rumah demi rumah mereka loncati dengan enaknya hingga makin lama persediaan uang itu menjadi semakin menipis dan akhitnya habis.

Keesokan harinya para penduduk sama terkejut setelah ia bangun dari tidurnya ia mendapatkan uang disisinya dengan perasaan gembira mereka lalu membeli makanan dipasar dan seketika itu juga pasar yang telah lama menjadi sepi itu kembali menjadi ramai.

Sedang Ngali terus-menerus memaki-maki penjaganya dengan sangat marah sekali :

“Bangsat...... goblok kalian itu! Hehhh apakah kalian tadi malam itu tidur semua??? Masakan sebuah rumah dijaga lebih dari sepuluh orang dapat kemasukan maling. Kau tahu uangku hilang lenyap empat kantong dari dalam almari.”

“Maaf tuan, kami telah melakukan tugas kami dengan sebaik-baiknya. Tapi kami benar-benar tak melihat ada orang yang masuk kedalam halaman. Apa lagi masuk kedalam rumah. Barang kali tuanku khilaf dalam menghitung dahulu.” Seru kepala penjaga malam itu.

“Khilaf??? Huh...... masakan aku khilaf! Memang kalian itu yang goblok. Percuma saja aku membayar kalian kalau kerjamu hanya tidur-tiduran saja. Lebih baik aku memelihara anjing. Awas lain kali kalau masih dapat diterobos oleh pencuri lagi maka kesalahan itu tak akan kuampuni lagi. Dengar???” Bentak Ngali dengan marah sekali.

“Ya....... ya....... kami mendengar, tuan.” Jawab mereka itu sambil menundukan kepalanya, dan ada pula yang mengangguk-anggukkan kepalanya hingga menyerupai ayam yang sedang makan padi.

“Masakan sekian banyak orang tak ada yang mengetahui kalau ada orang yang masuk kedalam rumah.” Gerutu Ngali sambil berjalan pergi meninggalkan para penjaga itu.

Sedangkan penduduk desa Taji terus-menerus membicarakan penolong aneh itu. Mereka tak habis-habisnya mengagumi sepak terjang orang yang berani mengambil uang di rumah Ngali dan membagi-bagikan kepada mereka.

“Sungguh gagah dan berani sekali orang yang memberi uang kepada kita itu, kakang.” Seru salah seorang yang pulang dari pasar dengan wajah gembira.

“Benar, adi! Orang yang berani masuk dan mengambil uang Ngali itu tentu seorang pendekar yang berkepandaian tinggi. Sayangnya ia tak mau menampakkan diri kepada kita hingga kita tak dapat berterima kasih kepadanya. Sungguh mulia dia itu.” Jawab yang diajak bicara.

“Ia seorang maling, tapi maling budiman! Tak takut kalau tertangkap oleh penjaga. Suatu pekerjaan yang tanpa pamrih sedikitpun juga. Orang yang demikian itu tentunya akan mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maka Kuasa.”

“Benar....... benar........   marilah   kita   panjatkan   doa   semoga   Tuhan   tetap

memberkahi dan memayungi Ksatria Aneh itu.”

Banyak lagi percakapan para penduduk Taji yang membicarakan tentang orang yang memberinya uang itu. Pagi hari selanjutnya merekapun menemukan uang-uang lagi. Hingga berturut-turut lima kali mereka itu tetap menerima uang dari orang yang tak mau memperlihatkan dirinya. Hal ini benar-benar membuat Ngali merasa jengkel dan penasaran. Akan marah ia tak tahu kepada siapa ia harus marah. Para penjaganyapun telah diusir semua dari dalam rumahnya yang megah itu. Hingga setiap malam ia terus-menerus berjaga supaya tahu siapa yang mengambil uang-uangnya itu. Tapi setiap tengah malam ia merasa ada batu yang menyambar dan dirinya jatuh tak sadarkan diri dan setelah maling itu pergi baru ia dapat siuman kembali. Dan sebagian dari uang-uangnya telah lenyap. Karena diganggu dengan maling itu maka Ngali lalu takut kalau malam telah mendatang dan berulang kali ini memindahkan uang-uangnya itu tapi maling itu tetap mengetahui tempat simpanannya.

Rakyat tambah senang dan bergembira setelah mengetahui kalau setiap pagi mendapatkan uang disisinya. Namun hal ini tidaklah mengurangi kerajinan mereka untuk mengolah sawah dan ladang dari Ngali. Hingga dengan demikian maka ia mendapat upah dua kali.

Pada suatu malam ketika Ksatria Aneh sedang meloncat keluar dari halaman Ngali sambil membawa uang-uang hasil curiannya ia dikejutkan oleh sapaan seseorang :

“Berhenti kau, maling jahanam!”

Setelah memalingkan mukanya, maka tahulah Ksatria Aneh itu kalau yang menghadang dirinya itu adalah seorang pendeta tua penganut agama Hindu. Melihat pendeta itu maka Ksatria Aneh itu lalu membungkukkan badannya dan bertanya :

“Bapa pendeta, mengapakah bapa menghalang-halangi pekerjaanku ini?” “Huhhhh..... bagus..... bagus..... kau anak muda, kepandaianmu tinggi usiamu

muda tapi sayang kau gemar mencuri kepunyaan orang lain. Ayo lekas kau kembalikan barang-barang curian itu kepada yang punya.” Seru pendeta itu sambil menunjuk kearah kantung-kantung uang itu.

“Tidak, bapa!” Bantah Ksatria Aneh dengan mantap.

“Hem..... apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan? Hehhh, siapakah kau anak muda? Ayo lekas kau mengaku!”

“Dengarlah hai pendeta tua! Orang menyebutku dengan sebutan Ksatria Aneh!

Dan kau siapakah pendeta usilan?” Jawab Ksatria Aneh dengan lantang.

“Pantas..... pantas..... kalau kau yang menyebut dirimu sebagai Ksatria Aneh! Kiranya benar perkataan muridku dahulu kalau orang yang bernama Ksatria Aneh itu adalah seorang yang sombong dan menyalahgunakan kepandaiannya. Sekarang aku yakin akan kebenarannya. Dan ketahuilah hai anak muda aku ini disebut orang Pendeta Shindukolo yang bertapa dipuncak gunung Sumbing.”

“Hai Pendeta Shindukolo, kalau aku tak mau mengembalikan uang-uang yang kucuri ini maka kau mau apa?” Seru Ksatria Aneh yang telah menjadi marah setelah mendengar perkataan pendeta tua itu. Kedua tangan dari Ksatria Aneh itu terus bertolak pinggang dan dadanya dibusungkan seperti orang menantang.

“Bagus..... pemuda sombong kau harus diberi pelajaran sedikit biar tahu tingginya langit dan dalamnya samudera.” Setelah berkata demikian maka berkelabatlah Pendeta Shindukolo itu langsung menyerang dada Ksatria Aneh dengan menggunakan ujung jubahnya.

Wusssstttt..... angin dingin menyambar! Tapi dengan gerakan yang sangat gesit sekali Ksatria Aneh itu lalu melompat keudara dan berjumpalitan beberapa kali. Dan dari atas ia lalu membalas serangan lawan dengan ilmu pukulan jarak jauh pula. Wusssstttt..... angin tajam yang keluar dari pukulan Ksatria Aneh itu lalu menyerang kearah lambung sang pendeta. Tapi untunglah Pendeta Shindukolo ini adalah seorang yang telah mumpuni dalam hal ilmu olah kanuragan. Hingga dengan demikian, maka ia tak menjadi kaget, dan hanya dengan mengelakkan serta memiringkan sedikit tubuhnya saja serangan pukulan lawannya itu dapat dihindarkan.

“Bagus..... bagus..... kepandaian yang baik! Sayang disalahgunakan.” Desis pendeta tua itu yang terus mendesaknya. Makin lama keadaan Ksatria Aneh itupun makin terjepit. Pendeta tua itu tak memberi ketika lagi kepada lawannya yang masih muda itu. Angia dingin terus-menerus menyambur Ksatria Aneh kebagian-bagian yang membahayakan jiwanya.

Sewaktu itu Prasintorini yang menanti diluar menjadi sangat gelisah setelah mengetahui kalau Brotolaras tak keluar-keluar. Ia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat keatas genting dan betapa terkejutnya setelah mengetahui kalau kekasihnya sedang bertempur dengan seorang pendeta tua, bahkan kekasihnya itu tampak terdesak dengan hebat sekali.

“Kakang!!!” Hanya inilah yang dapat keluar dari dalam mulut Prasintorini. Dan pendekar wanita inipun lalu lari kearah pertempuran itu. Tapi sebelum ia menerjunkan diri didalam kancah pertarungan itu terdengarlah perkataan Ksatria Aneh :

“Adi Prasintorini, jangan kau ikut bertempur melawan pertapa tua ini, dia sangat tangguh sekali.” Dan bersama dengan lenyapnya suara itu maka tangan kanan Ksatria Aneh lalu memukul kearah dada lawannya. Dan bertepatan dengan datangnya pukulan Ksatria Aneh itu Pendeta Shindukolopun melakukan pukulan pula hingga kedua tenaga raksasa itu bertemu diudara...... daarrr....... akibatnya tubuh Ksatria Aneh terhuyung-huyung kebelakang tiga langkah sedangkan Pendeta Shindukolo hanya tergempur kuda-kudanya saja.

Diam-diam Pendeta Shindukolo ini mengagumi akan ketinggian tenaga dalam lawannya ini, jarang ia mendapatkan lawan yang mempunyai tenaga dalam setinggi anak muda ini. Bahkan muridnya saja belumlah mencapai tingkat setinggi ini. Tapi karena mengetahui kalau anak muda ini mempunyai kepandaian yang tinggi maka pendeta Shindukolo lalu memeras tenaganya yang telah tua itu untuk cepat-cepat merobohkan si pemuda sakti ini. Sebab kalau ia tak dapat merobohkan pemuda ini maka kelak akanlah menjadi kerusuhan dan keonaran dunia. Karena pikiran pikirannya inilah yang menyebabkan pendeta itu terus-menerus mendesak lawannya.

Sewaktu mereka itu sedang ramai-ramainya bertempur berkelebatlah sesorok bayangan yang terus menyerang Prasintorini dan langsung menotok jalan darah gagu dan yang berada dibawah leher. Hingga dengan demikian dara perkasa itu menjadi lemah dan tak dapat bergerak sedikitpun.

Umpama Prasintorini tak begitu mencurahkan kepandaiannya untuk terus mengikuti jalannya pertarungan ini belum tentu orang yang menyerangnya tadi dapat merobohkan dalam sekali serang. Dan begitu tubuhnya lemas maka ada sepasang tangan yang kuat menggendongnya dan terus dibawa lari.

Ksatria Aneh tak mengetahui kalau kekasihnya dibawa lari oleh orang, tapi pendeta tua itu melihat dengan jelas kalau yang mengambil kawan lawanya itu adalah seorang yang mengenakan pakaian serba wulung dan menutupi mukanya dengan kain wulung pula.

“Menyerah sajalah, anak muda! Biar aku tak membunuhmu!” Seru pendeta itu sambil memperketat kurungannya. Tangannya terus-menerus memukul-mukul tubuh lawan sedangkan kedua kakinya menyepak-nyepak hingga Ksatria Aneh itu makin lama makin terpojok.

“Biarpun kau memukulku aku tak akan menyerah, hai pendata tua! Lebih baik

mati daripada menyerah kepadamu. Memang uang itu sangatlah berkuasa hingga orang-orang alim macammu ini masih pula mau menjadi anjing dari Ngali.” Ejek

Ksatria Aneh dengan senyum sindir.

Bukan main malunya hati pendeta tua itu setelah mendengar perkataan si anak muda yang kurangajar itu. Sudah terang ia kepepet tapi mengapa masih mengumbar mulutnya yang usil itu.

“Hemm....... rasakanlah ilmu pukulanku ini, anak mada!” Setelah berkata demikian maka Pendeta Shindukolo dari gunung Sumbing itu lalu mengetrapkan ajinya yang bernama Liman Kurdo! Dan sewaktu ia menyiapkan tiba-tiba, terdengarlah teriakan orang yang memanggil namanya :

“Kakang Shindukolo, tahan! Angger Ksatria Aneh, tahan!!!” Dan bersama dengan lenyapnya suara itu munculah seorang pendeta yang menganut agama Budha. Dan ternyata yang datang itu adalah Pendeta Sambu Lelono. Pendeta ini kaget sekali setelah mengetahui kalau kakak seperguruannya turun gunung dan melawan Ksatria Aneh dengan aji andalannya Liman Kurdo sedang Brotolaras menggunakan ilmu Ampak-Ampak.

Begitu mendengar namanya dipanggil maka kedua orang yang sedang mempersiapkan ajinya itu lalu menarik kembali ajinya yang telah berada diujung tangannya itu.

Dan begitu tubuhnya lemas maka ada sepasang tangan yang kuat menggendong dan terus dibawa lari. “Kakang, mengapa kau menggunakan aji pamungkasmu untuk membunuh angger Brotolaras?? Dan mengapa kau yang telah menyucikan diri itu dapat turun kembali kedunia ramai ini??” Tanya Pendeta Sambu Lelono dengan penuh keheranan.

“Heh-heh-heh adi Sambu Lelono, apakah kau juga akan membantu maling kecil ini?? Ataukah kaupun telah terperosok ikut-ikutan menjadi maling pula??” Jawab pendeta tua itu dengan sabar.

“Maling?! Apakah artinya ini, kakang?? Hehhh apakah artinya ini, angger??” Tanya Pendeta Sambu Lelono dengan heran dan berganti-ganti memandang kakak seperguruannya dan kemudian kepada Brotolaras.

“Tanyalah sendiri kepada anak muda itu.” Jawab pendeta dari gurung Sumbing

itu sambil memandang kearah Brotolaras.

“Lekas kau ceritakan angger!” Seru Sambu Lelono kepada Ksatria Aneh. Setelah mengetahui kalau yang bertanya itu adalah Sambu Lelono maka berceritalah Ksatria Aneh itu. Ia memang menjadi maling tapi ini semua ia gunakan untuk menolong rakyat yang menderita. Kedua pendeta itu mendengarkan dengan penuh perhatian dan keduanya terus-menerus mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oohhh...... ooohhh...... kalau demikian akulah yang slah, angger! Maaf.   maaf

aku minta maaf kepadamu angger Brotolaras.” Seru Pendeta Shindukolo.

“Tak mengapa...... tak mengapa...... kalau tak demikian maka kita tak saling berkenalan, bapa!” Jawab Ksatria Aneh dengan tersenyum.

“Hehhh angger, ketahuilah orang tua ini adalah kakak seperguruanku, dan kakang Shindukolo, anak muda ini adalah murid Eko Paksi dan muridku.”

“Selain murid kedua orang sakti itu akupun menjadi murid Ki Sardulo Kresno!”

Jawab Ksatria Aneh dengan lantang.

“Sardulo Kresno??” Seru mereka dengan kaget.

“Heeehhh....... kemanakah adi Prasintorini??” Kini ganti Brotolaraslah yang

menjadi kaget setelah mengetahui kalau kekasihnya tak ada.

“Siapa Prasintorini? Bukankah ia murid Singo Tunggul?” Tanya Pendeta Sambu

Lelono kepada anak muda yang berada dihadapannya.

“Ya, dia memang murid paman Singgo Tunggul!”

“Mengapa kau dapat berkumpul dengan murid orang jahat itu, angger? Bukankah dahulu kau mencelaku sewaktu aku main macanan dengan guruku?” Tanya Pendeta Sambu Lelono kepada Brotolaras.

Mendengar pertanyaan ini maka Brotolaras lalu menceritakan keadaan mereka itu dari awal hingga akhir. Bahkan urusan percintaan merekapun terus diceritakan dengan panjang lebar. Mendengar ini kedua pendeta itu menarik napas panjang.

“Eko Paksi, Gantrung Mimis dan Singo Tunggul benar-benar bahagia! Mereka telah terbebas dari keadaan dunia yang kacau ini. Kapan aku menyusulnya!? Seru Shindukolo.

“Syukur...... syukur.    kalau mereka itu talah insyaf.” Seru pendeta yang datang

dari gunung Slamet itu.

“Ijinkanlah aku akan mencari kekasihku dahulu, kakek-kakek yng baik!” Seru

Brotolaras minta diri kepada kedua pertapa itu.

“Nanti dulu, nanti dulu, angger! Tadi aku melihat kawanmu telah ditawan oleh orang yang mempergunakan topeng wulung dan berpakaian dengan kain wulung pula angger.”

“Semua pakaiannya   berwarna   wulung??   Nyanyian   Mautkah   dia?”   Seru

Brotolaras dengan kaget. “NYANYIAN MAUT?? Apakah maksudmu angger?” Tanya Shindukolo.

“Aku dapat menjawab pertanyaanmu itu, kakang! Ketahuilah muridmu yang bernama Manggoloyudo itu sebenarnya telah menipumu dan mengatakan kalau Ksatria Aneh itu orang jahat. Dan ketahuilah kalau dunia persilatan waktu ini sedang dikacaukan oleh NYANYIAN MAUT dan NYANYIAN MAUT itu tak lain dan tak bukan adalah muridmu sendiri si MANGGOLOYUDO.”

Kalau da geledek yang menyambar kepalanya kiranya tak akan sekaget itu Pendeta Shindukolo. Segera ia mengulangi perkataan adik seperguruannya dengan pelan :

“Ja...... jadi NYANYIAN MAUT itu muridku si Manggoloyudo?? Benarkah ini,

adi Sambu Lelono?”

“Benar kakang! Aku pernah bertemu dengannya sewaktu ia menyebar maut di daerah Selogiri dan setelah bertemu denganku ia melarikan diri. Ia mempergunakan tenaga dalamnya yang telah mencapai tingkat tinggi itu untuk membunuh orang dengan melalui tiupan sulingnya.” Seru Pendeta Sambu Lelono dengan pasti.

“Kurang ajar....... hampir saja aku membunuh orang yang jalan dijalan yang lurus dan membela murid murtad yang jahat. Adi, mari kita kejar anak durhaka itu. Belum puas rasa hatiku sebelum membunuh anak durhaka itu. Pantas saja tadi ia menutupi mukanya dengan kain wulung setelah mengetahui kalau yang bertempur dengan Ksatria Aneh ini adalah gurunya. Dan aku tak akan pangling lagi kepadanya. Hanya saja tadi aku baru bertempur hingga tak begitu memperhatikan. Mari jangan sampai terlambat!” Setelah berkata demikian maka melesatlah tubuh Pendeta Shindukolo itu dan kemudian disusul oleh Pendeta Sambu Lelono dan Ksatria Aneh si Brotolaras.

“Kemanakah kita cari anak setan itu, adi?” Tanya Pendeta Shindukolo kepada

adiknya dengan tak mengurangi larinya.

“Menurut berita yang kudengar anak keparat itu tinggal dihutan Roban dekat Weleri, kakang.”

“Bagus      kalau demikian marilah kita susul ia kehutan Roban.”

“Sungguh kasihan sekali Pendeta Shindukolo yang telah tua itu, baru sadar kalau dirinya telah diperalat dan ditipu oleh muridnya yang jahat itu. Tak pernah disangkanya kalau murid yang penurut dan baik itu adalah seorang yang berhati iblis dan bakal menyusahkan hari tuanya. Karena marahnya itulah maka kakek itu terus- menerus lari dengan tak mengenal lelah.

Brotolaras yang kehilangan kekasihnya inipun tak mengenal lelah sedikitpun. Hatinya terus ingin lekas-lekas sampai ditempat tujuannya dan berhadapan langsung dengan Nyanyian Maut si penculik itu. Dengan demikian ia tak pernah mengeluh dan minta istirahat. 

Lain halnya dengan Pendeta Sambu Lelono. Ia adalah orang satu-satunya yang tak mempunyai kepentingan paling penting. Karena itu berkali-kali ia menyatakan lapar dan lelah. Kalau kawannya mendengar ini pasti akan melepatkan lelah sebentar dan mengisi perutnya yang telah kosong.

“Hemmm...... gara-gara aku pula maka angger Brotolaras kehilangan kekasih! Ahhh....... mengapa aku ini makin tua menjadi semakin tak berguna??” Gerutu kakek pertapa dari gunung Sumbing itu.

Mendengar perkataan kakek dari gunung Sumbing itu tak enaklah hati Ksatria Aneh, dan cepat-cepat ia lalu menjawab perkataan Pendeta Shindukolo dengan halus. “Tak ada yang salah diantara kita ini, kakek! Sebab semuanya itu telah menjadi kehendak Tuhan. Kita orang-orang hanyalah menurut saja apa kehendakNYA. Kita manusia boleh berusaha tapi Tuhan KUASA. Hingga boleh kukatakan kalau kita ini adalah pemain-pemain anak panggung dan dunia ini yang jadi panggungnya serta TUHAN sutradaranya.”

“Benar........ benar...... kita sama-sama tak bersalah, dan yang bersalah adalah orang-orang yang berada dipenjara. Haa-ha-ha-ha-ha.......” Seru kakek pertapa dari Gunung Slamet itu dengan tertawa riang.

Mendengar kelakar kakek Sambu Lelono itu maka mau tak mau kedua orang yang sedang berduka itu menjadi tersenyum bahkan tertawa pula.

“Benar juga kata-katamu itu, adi! Sebab mana ada orang baik-baik saja

dimasukkan kedalam penjara.” Seru Pendeta Shindukolo.

“Yang masuk penjara tentu saja orang-orang yang salah! Ataukah ada orang- orang yang tak bersalah masuk penjara?” Seru Ksatria Aneh dengan mempercepat larinya.

“Ada-ada........ orang yang tak salah masuk penjara. Mereka itu adalah pegawai-

pegawainya.”

Kembali mereka tertawa mendengar kelakar kakek Sambu Lelono itu.

*

* *

Setelah Nyanyian Maut dapat dikalahkan oleh Ksatria Aneh didesa Karang Kajen itu maka lenyaplah gangguan Nyanyian Maut itu. Bahkan selama dua tahun Nyanyian Maut tak pernah muncul didunia kependekaran lagi, hingga kebanyakan orang telah menganggap kalau Nyanyian Maut itu telah insyaf dan takut oleh Ksattria Aneh yang gagah perkasa itu.

Tapi akhir-akhir ini kembalilah Nyanyian Maut kedunia persilatan, bahkan kepandaiannya telah meningkat dengan pesatnya. Hingga suara sulingnya makin tinggi melengking-lengking. Kalau dahulu ada orang-orang yang dapat menguasai dan menutupi kupingnya dengan tenaga dalam mereka tapi sekarang setelah tenaga dalam Nyanyian Maut sendiri telah maju dengan pesatnya jaranglah ada orang yang dapat menandingi tiupan sulingnya itu.

Sewaktu ia merantau didunia kependekaran sampailah ia kedesa Taji dan kebetulan sekali ia bertemu dengan gurunya yang sedang bertempur melawan Ksatria Aneh. Maka dengan diam-diam ia lalu mengintip dari balik rumah-rumah penduduk. Dan setelah yakin kalau gurunya akan dapat mengatasi lawannya maka ia lalu menculik Prasintorini yang cantik manis itu.

Begitu ia berhasil menotok jalan darahnya ia segera menggendong dan membawanya lari kehutan Roban di mana ia tinggal. Perjalanan dilakukan dengan cepat sekali. Seakan-akan ia ingin lekas sampai disarangnya.

Prasintorini yang telah menjadi lemas itu tak dapat berdaya apa-apa setelah berada dipanggul Nyanyian Maut yang sakti itu. Jangan lagi untuk meronta sedang bergerak saja amat sukar. Ia hanya dapat memasrahkan dirinya kehadirat Tuhan dan semoga Ksatria Aneh dapat mengalahkan pendeta yang sakti itu dan lalu mengejar Nyanyian Maut untuk menolongnya. Perasaan cemas, ngeri dan takut bergulat dipikiran gadis murid Singo Tunggul itu.

Cemas kalau memikirkan keadaan kekasihnya yang sedang diancam bahaya oleh pukulan-pukulan mematikan sang Pendeta Shindukolo dari gunung Sumbing itu. Ngeri kalau memikirkan apa yang bakal terjadi terhadap dirinya setelah diculik oleh laki-laki yang bertopeng ini. Bahkan dengan lari ini saja laki-laki bertopeng itu terus-menerus menciuminya, dan menghambur-hamburkan bujukan-bujukan.

Takut kalau kehilangan kekasihnya yang dicintainya itu. Andaikan kekasihnya dapat memenangkan pertarungan itu belum tentu ia tahu dirinya ini dibawa kemana oleh penculiknya ini. Karena itulah cemas, takut dan ngeri saling hantam- menghantam dihatinya.

“Heh heh heh..... anak manis, apakah kau tak tahu kalau aku mencintamu? Bukankah kau juga mencintaiku pula? Ngokkk...... sebuah ciuman bersarang dipipi gadis itu. Prasintorini tak dapat mengelakkan ciuman yang datangnya bertubi-tubi itu. Karena marah dan sedihnya ia hanya dapat meneteskan air matanya.

Ia merasa telah mengkhianati Ksatria Aneh. Biarpun ciuman yang diberikan oleh penculiknya ini tak disambutnya tapi ia telah merasa berdosa sekali sebab nantinya kalau ia kawin dengan Brotolaras kekasihnya berarti ia telah tidak suci lagi sebab tangan pemuda lain telah menggerayangi tubuhnya. Dan..... dan..... yang lebih mengerikan lagi nanti kalau penculiknya ini memperkosanya! Berarti ia benar-benar telah tak suci lagi. Tapi andaikata ia memperkosaku aku akan bunuh diri dan tak akan membiarkan binatang ini hidup didunia, pikirnya dengan perasaan takut.

Sedangkan Nyanyian Maut terus berlari dengan cepatnya, hingga angin terus- menerus menyambar muka Prasintorini. Seakan-akan sang bayu itu mentertawakannya.

“Hua-ha-ha-ha..... kita hampir sampai, manis! Dan disana nanti kau akan dapat hidup tenang bahagia disampingku dan akan kuajak mengunjungi surga indah!” Seru Nyanyian Maut dengan tersenyum-senyum.

Bukan main ngerinya hati Prasintorini setelah mendengar perkataan si penculik itu. Bulu-bulu kuduknya meremang dan seketika itu hatinya berdebar-debar penuh dengan pergolakan.

Tapi pegangan Nyanyian Maut itu sangat kuat dan larinyapun sangat cepat. Hingga dengan demikian ia tak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya sampailah mereka itu didaerah hutan Roban. Sesampainya dihutan Roban, maka masuklah Nyanyian Maut itu kedalam semak-semak dimana ia tinggal.

“Huah-ha-ha-ha.... hiduplah disini dengan tenang, anak manis! Ha-ha-ha.....

disini kau tak akan diganggu dengan orang-orang lain sebab mereka akanlah takut setelah mendengar kalau Nyanyian Maut tinggal disini.” Seru Nyanyian Maut sambil meletakkan tubuh Prasintorini.

Begitu mendengar kalau yang menculiknya itu adalah Nyanyian Maut, maka bertambah marahlah hati Prasintorini.

Bangsat! Nyanyian Maut! Awas sekali aku dapat melepaskan diri aku akan mengadu nyawa denganmu! pikirnya dengan gelisah.

Dan seketika itu juga ia lalu menggerakkan tenaga dalamnya untuk mendesak jalan darah yang kena totok itu. Tapi begitu tenaga dalamnya berkumpul dan membentur jaring-jaring otot yang tertotok itu maka menjadi buyar kembali. Berkali- kali ia mencoba tapi hasilnya selalu sia-sia saja.

Sedang Nyanyinn Maut terus-menerus menciumi seluruh badan Prasintorini dengan penuh nafsu birahi. Tangan yang kasar itupun terus menggerayangi tubuh yang halus kuning itu.

“Hem..... bahagialah kau manis dapat menarik perhatian Nyanyian Maut! Hem..... marilah..... kita pesiar kesurga!” Dan..... weeekkk..... robeklah baju Prasintorini yang bagian atas. Tapi bersama dengan robeknya baju itu maka terbebaslah totokan itu. Hingga dengan demikian Prasintorini dapat meloncat berdiri dan menutupi bajunya yang sobek sambil berkata :

“Bangsat aku akan mengadu nyawa denganmu!” Dan syarrrttt..... pedang yang

berada dipinggangnya itupun di cabut keluar.

Dengan tak menunggu sampai Nyanyian Maut itu mengeluarkan senjatanya, maka Prasintorini lalu menerjangkan pedangnya kearah perut lawan. Tapi dengan gerakan sangat lincah dan gesit sekali Nyanyian Maut itu lalu menggeserkan tubuhnya kesamping kiri dan mundur selangkah bebaslah ia dari tusukan pedang lawan. Bersama dengan gerakannya itu ia lalu mencabut sulingnya dan kemudian mulai menyerang lawannya itu dengan suling yang berada ditangan kanan sedang yang kiri terus memukul-mukul kearah tempat-tempat yang membahayakan bagi keselamatan Prasintorini.

“Lebih baik kau menyerah saja dan menurut apa saja yang kuingini daripada aku harus membunuhmu, anak manis! Percayalah kalau aku sangat cinta padamu dan akan melindungimu dengan segenap nyawaku!” Seru Nyanyian Maut sambil terus bergerak-gerak menghindarkan serangan lawannya itu.

Namun kata-kata Nyanyian Maut itu bukannya menenangkan hati Prasintorini melainkan malah membakar hatinya. Hingga kemarahannya itu bagaikan api yang disiram dengan minyak. Tambah menyala! Dan pedang yang dipegangnya itu terus diputar dengan dahsyatnya.

Tring-tring-tringggg..... berkali-kali pedang dan suling itu beradu tapi akibatnya tangan Prasintorini menjadi tergetar dan merasa pedas sekali bagaikan terbakar. Memang tenaga dalam Prasintorini belumlah sekuat tenaga dalam yang telah diyakinkan oleh Nyanyian Maut.

“Menyerah sajalah wong ayu!”

“Bangsat, aku pantang menyerah sebelum ajal tiba! Ayo lekas bunuh kalau kau memang mampu membunuhku!” Teriak Prasintorini dengan garang. Bahkan ia lalu mempergunakan aji Senggoro Singo untuk memperkuat dan meyakinkan serangan- serangannya.

Pertarungan makin lama menjadi semakin ramai. Tapi keadaan Prasintorini benar-benar telah terdesak. Namuu tiba-tiba saja terdengarlah seruan yang menguatkan hati dan menggirangkan Prasintorini.

“Adi Prasintorini, aku datang untuk menolongmu!”

“Manggoloyudo murid murtad terimalah hukuman dari gurumu ini!” Bersama dengan lenyapnya kedua suara itu maka berkelebatlah masuk tiga sosok bayangan. Dan mereka itu ternyata adalah Pendeta Shindukolo guru Nyanyian Maut, Pendeta Sambu Lelono dan yang terakhir adalah Ksatria Aneh!

Melihat masuknya Ksatria Aneh itu maka cepatlah Prasintorini menubruknya dan terus menjatuhkan kepalanya didada yang tegap dan bidaug itu :

“Kakang!!!”

“Adi! Bukankah kau tak kurang suatu apa???” Tanya Ksatria Aneh dengan

cemas.

“Tidak kakang!” Jawab Prasintorini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat gelengan kepala Prasintorini maka Brotolaras menarik napas lega. Dan segera menyisikan tubuh kekasihnya itu dari dadanya ia lalu siap sedia menghadapi Nyanyian Maut.

Tapi sebelum ia dapat melabrak si Nyanyian Maut maka tampaklah kalau Nyanyian Maut itu sedang berhadap-hadapan dengan gurunya. Sampai lama mereka itu tak mengeluarkan percakapan. Dan tubuh pendeta tua yang mengasingkan dirinya diatas gunung Sumbing itu menjadi gametar. Yah gemetar bukan karena takut melainkan karena marah yang amat sangat.

Pendeta Sambu Lelono tahu akan kekecewaan hati kakak seperguruannya itu, dan sebentar lagi ia akanlah menyaksikan kalau pemuda yang berada dihadapannya itu bakal mati dibawah tangan sang pendeta tua itu.

Sebagai orang yang berperasaan maka Ksatria Aneh dan Prasintorinipun tahu apa maksud pandangan mereka itu. Namun satu sama lainnya tak ada yang mulai berbicara.

Setelah berdiam diri selama sepeminuman teh maka terdengarlah perkataan Pendeta Shindukolo yang dalam dan tanpa irama :

“Manggoloyudo......” Hanya itulah yang dapat keluar dari dalam mulut pendeta

tua itu.

“Ya bapa.” Jawab Nyanyian Maut itu dengan pelan.

Setelah menarik napas panjang dan mengatur napasnya maka kembalilah pendeta tua dari gunung Sumbing itu berkata :

“Hem      ternyata kau membohongi aku dan mengecewakan hatiku, apakah kau

tahu hukuman apa yang telah aku janjikan, angger?”

“Hukuman yang bakal kuterima adalah hukuman mati! Sesuai dengan hukum yang berlaku diperguruan Sumbing!” Jawabnya dengan tegas.

“Bagus kau telah tahu kalau hukuman bagi seorang murid murtad adalah hukuman mati maka dari itu kau bersiap-siaplah, angger!” Setelah berkata demikian maka kakek itu lalu memalang kuda-kudanya dan menarik napas panjang.

“Bapa, sebelum mati aku ingin menyampaikan hormatku terlebih dahulu!” Setelah berkata demikian itu maka Nyanyian Maut lalu menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan gurunya. Begitu ia berlutut maka tangan Pendeta Shindukolo diangkat keatas tinggi-tinggi dan didalam tangannya telah terisi oleh aji Liman Kurdo yang sangat dahsyat.

Tapi makin lama tampaklah tubuh pendeta tua yang bertapa dipuncak gunung Sumbing itu makin tergetar. Mana mungkin ia membunuh murid tunggal dan kesayangannya ini? Seketika itu juga hatinya menjadi berdebar-debar dan penuh dengan pergulatan. Yah pergulatan antara cinta kasih seorang guru dan cinta kepada kebenaran. Hati yang telah tua itu makin lama menjadi semakin bingung. Tangan yang telah berada diatas itu tak kunjung tiba menimpa kepala yang telah pasrah itu. Makin lama tangan yang hanya terbungkus kulit itu makin tergetar dan akhirnya......

makkkk...... tangan itu jatuh terkulai dan dari mulut kakek pertapa itu mengeluarkan darah segar. Hati tua itu tak kuasa melawan gelonjakan antara cinta murid dan cinta kebenaran ia tak kuat menghadapi kenyataan pahit dimasa tuanya ini.

Seketika itu tubuh tua itu terhuyung-huyung limbung bagaikan sebuah daun kering yang ditiup angin kencang. Nyanyian Maut melihat kejadian ini segera mencabut sulingnya dan dengan sekuat tenaga menyodokkan kearah dada gurunya hingga....... heekkk....... jatuhlah tubuh pertapa tua dari gunung Sumbing itu. Dan jatuhnya tubuh tua itu diiringi oleh teriakan maut dari ketiga orang yang berada disitu

:

“Bangsat   curang!!”    Teriak    Prasintorini. “Licik curang!!” Seru Pendeta Sambu Lelono.

“Keji! Tak berperasaan!” Teriak Ksatria Aneh. Dan tanpa berjanji terlebih

dahulu ketiga orang itu lalu maju menerjang kearah Nyanyian Maut yang kejam itu.

Wuusss..... ngingginugg....... wuuutttt........ tiga buah pukulan terus melanda tubuh Nyanyian Maut. Namun dengan gesitnya ia dapat mengelakkan ketiga pukulan itu. Dan begitu ia berhasil meloloskan diri dari ketiga pukulan itu ia lalu melompat keluar dari dalam semak.

Namun ketiga orang itu tak tinggal diam saja, mereka lalu meloncat keluar untuk mengejar si Nyanyian Maut yang selalu membuat rusuh keadaan itu.

“Kakek Sambu Lelono lekas kau tolong dahulu kakek Shindukolo biar aku yang menjelesaikan Nyanyian Maut ini. Dan adi Prasintorini lekas kau ikut kakek Sambu Lelono untuk menolong kakek Shinduklo.” Seru Ksatria Aneh yang terus menerjang kearah Nyanyian Maut. Hingga sebentar saja keduanya telah terlibat dalam suatu pertarungan yang dahsyat. Dan setelah mengetahui kalau kepandaian Ksatria Aneh tak perlu dikhawatirkan untuk menghadapi Nyanyian Maut itu maka masuklah Kakek Sambu Lelono pertapa dari gunung Slamet itu kedalam semak dimana Pendeta Shindukolo terbaring. Dan Prasintorinipun tak mau mengecewakan kekasihnya itu.

Sesampainya didalam Pendeta Sambu Lelono segera mengangkat kepala kakak seperguruannya dan meletakkan kepangkuannya. Keadaan kakek pertapa gunung Sumbing itu telah benar-benar payah. Napasnya telah memburu.

“Kakang...... kakang Shindukolo, kuatkanlah hatimu kau pasti akan tertolong!”

Seru Pendeta Sambu Lelono dengan penuh rasa kasih sayang.

Melihat kalau dirinya telah berada dipangkuan saudara seperguruannya maka tersenyumlah Pendeta Shindukolo :

“Aaddadi percuma  saja  kakau  hendak.menolongku sebab memang kematianlah yang kucari cari. Tapi saying aku. mati. penasaran. sungguh. Tak kukira kalau muridku akan senekad. itu. Tadinya aku.tak sampai hati. Melihatnya mati tapi sekarang aku tak senang melihatnya. hidup! Karena itulah kau bunuh saja. Anak keparat itu biar. dunia menjadi tenteram” Setelah berkata demikian

maka melayanglah nyawa kakek sakti yang gemar bertapa itu.

“Selamat jalan kakang Shindukolo, semoga arwahmu dapat diterima disisi TUHAN dan akupun segera menyusulmu, kakang! Selamat beristirahat untuk selama-lamanya.” Setelah berkata demikian maka Pendeta Sambu Lelono lalu meletakkan kepala kakak seperguruannya itu keatas tanah.

“Nini Prasintorini, marilah kita keluar dan membantu kekasihmu untuk melenyapkan Nyanyian Maut itu seperti apa yang diperintahkan oleh kakang pendeta Shindukolo tadi.”

“Baik bapa, marilah kita keluar.”

Setelah berkata demikian itu maka keluarlah mereka berdua dari dalam semak belukar itu. Dan sesampainya diluar mereka melihat pertarungan sengit antara Ksatria Aneh dan Nyanyian Maut yang sakti itu. Pukul-memukul hantam-menghantam dan elak-mengelak saling berganti.

Tiba-tiba saja tampaklah Nyanyian Maut menyiapkan ajinya yang bernama Liman Kurdo. Melihat ini dengan tak membuang waktu lagi maka Ksatria Anehpun lalu menggerakkan tenaga dalamnya dan mulai menyiapkan aji Ampak-Ampaknya. Begitu tangan lawan berkelebat melepaskan ajinya Ksatria Anehpun lalu melontarkannya...... hingga...... kedua tenaga itu bertemu diangkasa........

ddaaaaaarrrrr.       letusan ini persis letusan gunung meletus.

Akibatnya sangat hebat! Nyanyian Maut terpental mundur kebelakang sampai sepuluh langkah, sedangkan Ksatria Aneh hanya bergoyang-goyang saja. Tapi keduanya kembali dan tak antara lama dari saat itu Nyanyian Maut telah menerjang lagi dengan menggunakan sulingnya. Dan Ksatria Aneh itupun lalu menggunakan pedang Ular Emasnya untuk menahan serangan Nyanyian Maut. Tapi karena benturan tenaga yang dahsyat tadi maka kekuatan Nyanyian Maut telah menjadi loyo. Serangan-serangannya tidaklah segarang dan sehebat tadi.

Karena merasa dirinya telah lemah maka duduklah Nyanyian Maut itu dan terus meniup sulingnya. Tiupan itu makin lama menjadi semakin keras dan meninggi. Melengking-lengking menusuk-nusuk anak telinga hingga menggetarkan hati. Tapi pengaruh suling ini tidaklah demikian hebatnya bagi Pendeta Sambu Lelono dan Ksatria Aneh. Sedang Prasintorini sekarang dapat melindungi kupingnya dengan jalan bersemedi dengan ajaran cara bersemedi Ki Sardulo Kresno.

“Hua-ha-ha-ha-ha....... akhirnya kaupun harus menebus segala dosa-dosamu, Nyanyian Maut! Setelah berkata demikian maka Ksatria Aneh itu lalu menendangkan kakinya kearah pantat Nyanyian Maut. Begitu kena tendang maka terlemparlah tubuh Nyanyian Maut itu keatas dan kemudian mengarah ketempat Pendeta Sambu Lelono berdiri.

“Kakek Sambu Lelono, kau jangan hanya berpangku tangan saja, nih sambutlah tubuh Manggoloyudo keponakanmu.” Seru Ksatria Aneh dengan lantang dan tersenyum.

“Huhh....... untuk apa tubuh pengkhianat seperti dia itu! Aku tak sudi menjamahnya, angger! Nih, kukembalikan! Setelah berkata demikian maka kakek tua itu mengangkat tangannya keatas dan dengan menyalurkan tenaga dalamnya lalu melontarkan kembali tubuh yang hampir turun dihadapannya itu.

“Akupun tak mau menjamahnya, kakek!” Seru Ksatria Aneh itu sambil menirukan gerakan kakek tua yang bertapa digunung Slamet itu. Hingga dengan demikian tubuh Nyanyian Maut itu hanya dibuat bulan-bulanan pukulan Ampak- Ampak yang telah mencapai tingkat tinggi. Dan setelah melayang turun ternyata tubuh momok yang menakutkan itu telah tak bernyawa lagi.

“Sudah...... sudah, angger! Marilah kita kubur jenazah-jenazah ini.” Setelah berkata demikian maka kakek Sambu Lelono dan Ksatria Aneh serta Prasintorini inipun mengubur jenazah guru dan murid itu.

Setelah mengadakan penghormatan terakhir maka berkatalah Ksatria Aneh itu kepada Pendeta Sambu Lelono :

“Kakek, aku ingin tahu bagaimanakah riwayat Lencana Pedang dan Golok Bersilang ini??”

“Baiklah, untuk menghabiskan malam ini aku akan bercerita tentang Lencana

Pedang dan Golok Bersilang itu.”

Betapa gembiranya hati kedua muda-mudi itu setelah mendengar kesanggupan Sambu Lelono itu.

“Mari kakang, kita dengarkan cerita itu berdua.”

“Berdua denganku atau dengan Nyanyian Maut yang gagah dan cakap itu??”

Goda Ksatria Aneh.

“Aaahhh!!” Seru Prasintorini sambil mencubit.

“Aduh    !!” Teriak Ksatria Aneh.

Melihat ini Pendeta Sambu Lelono hanya tersenyum saja.

— T A M A T —