-->

Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 59

Jilid 59

Air mata Rara Wilis itu masih menetes terus. Dan karena itu maka Mahesa Jenar dan Sarayuda sama sekali tidak berkata sepatah kata pun juga. Akhirnya, mereka melihat berpuluh-puluh obor keluar dari induk desa dihadapan mereka. Obor-obor itu berkumpul di sebuah lapangan, seperti sebuah alun-alun kecil di muka rumah Sarayuda. Rumah yang besar dan berhalaman luas. Rumah seorang Demang yang kaya raya.

Mahesa Jenar dan Rara Wilis itu menjadi berdebar-debar karenanya. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa mereka akan mengalami sambutan yang demikian meriahnya. Sambutan yang menurut mereka adalah berlebih-lebihan. Tetapi Sarayuda memang menyambut Rara Wilis dan Mahesa Jenar itu dengan caranya. Ia ingin melenyapkan kesan tentang luka yang pernah terpahat di hatinya. Luka yang sebenarnya tak akan dapat disembuhkannya. Namun dengan jujur Sarayuda telah berusaha. Ia benar- benar melepaskan Rara Wilis dengan hati yang ikhlas. Dan gadis itu kini tidak lebih daripada adik seperguruannya.

Demikian mereka memasuki halaman rumah Sarayuda, maka demikian hati Mahesa Jenar dan Rara Wilis berdesir. Di pendapa Kademangan itu telah dibentangkan tikar pandan. Beberapa orang tua-tua telah menunggu mereka di pendapa. Karena itu, demikian mereka melihat rombongan itu memasuki halaman, demikian mereka serentak berdiri dan turun ke halaman.

Rara Wilis tertegun ketika ia melihat seorang perempuan muda datang menyambutnya. Seorang yang pernah dikenalnya dimasa kanak-kanaknya sebagai kawannya bermain. Kini perempuan itu benar-benar menjadi seorang perempuan yang cantik, apalagi dalam pakaian yang cukup baik.

“Kau Rati,” sapa Wilis.

Perempuan itu tersenyum sambil memegang kedua lengan Rara Wilis dengan eratnya. “Kau tidak lupa kepadaku, Wilis.” “Tentu tidak” sahut Wilis. “Kita sama-sama mengalami masa-masa yang pahit pada masa kanak-kanak kita. Kau tahu bahwa hari ini aku akan datang?”

Perempuan yang bernama Rati itu berpaling ke arah Sarayuda. Katanya, “Kakang Sarayuda memberitahukan kepadaku.”

“Wilis,” berkata Sarayuda. “Rati kini adalah istriku.”

“Oh” suara Wilis terputus. Tiba-tiba terasa sesuatu yang tak dimengertinya bergolak di dalam dadanya. Dengan cepatnya melintas di dalam angan-angannya, betapa Sarayuda pernah menjadi hampir gila karenanya. Hampir saja Sarayuda binasa dalam perkelahian di Karang Tumaritis karenanya pula.

Kini setelah Sarayuda itu melepaskan niatnya dengan ikhlas, maka dihadapannya berdiri Rati, kawannya bermain di masa kanak-kanaknya, sebagai istri Sarayuda itu. Karena itu maka tiba-tiba ia menjadi terharu. Dan dengan serta merta dipeluknya perempuan itu erat-erat.

“Rati. Aku mengucapkan selamat kepadamu. Mudah-mudahan kau akan menemukan kebahagiaan untuk seterusnya.”

Rati pernah mendengar, apa yang terjadi atas kawannya itu. Ia pernah mendengar dari Sarayuda sendiri, yang berkata dengan jujur tentang hari-hari lampaunya. Dan Rati sama sekali tidak berkeberatan atas masa lampau itu. Tetapi yang penting baginya, masa lampau adalah sumber perhitungan buat masa depan. Namun masa depan itu sendirilah yang terlebih penting baginya. Dan ia percaya bahwa Sarayuda benar-benar telah melepaskan semua hasratnya terhadap gadis cucu gurunya itu.

Rati itu pun menangis pula ketika Rara Wilis menangis sambil memeluknya. Betapa pun garangnya gadis yang bernama Rara Wilis itu, namun ia adalah seorang gadis. Gadis yang dipengaruhi oleh segala macam keadaan di masa kanak-kanaknya, sehingga Rara Wilis benar-benar menjadi seorang gadis perasa. Seorang gadis yang mudah meruntuhkan keharuan.

Namun sejenak kemudian pendapa Kademangan Gunungkidul itu menjadi sangat meriah. Hampir-hampir menyerupai sebuah perhelatan. Meskipun segala macam persiapan dilakukan dengan tergesa-gesa, namun bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis, sambutan itu benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Sambutan yang sama sekali tak disangka-sangkanya.

Ki Santanu sendiri bahkan hampir tak dapat berkata apa pun dalam penyambutan itu. Di lingkungan sanak kadang, maka seakan-akan lenyaplah sifat anehnya, sifat-sifat Pandan Alasnya. Ia tidak lebih dari orang-orang tua yang lain, yang duduk berjajar sambil berkelakar. Namun Ki Santanu benar-benar menjadi terharu, ketika ia melihat, bahwa seorang keturunannya akan mendapat tempat yang baik di dalam perjalanan hidupnya. “Mudah-mudahan Wilis dapat menyambung darah keturunan Pandan Alas” katanya di dalam hati.

Demikianlah maka sejak hari itu, Mahesa Jenar dan Rara Wilis hidup dalam lingkungan keluarga Sarayuda. Mereka tidak boleh meninggalkan rumah, meskipun rumah rumah Rara Wilis yang dahulu masih juga ada, ditunggui oleh beberapa orang keluarganya meskipun sudah jauh. Namun Sarayuda minta kepada mereka untuk tinggal bersamanya.

“Rumahku cukup luas Mahesa Jenar,” berkata Sarayuda. “Biarlah Wilis tinggal di dalam bersama Rati dan biarlah kau tinggal digandok kulon.”

“Terima kasih Sarayuda,” sahut Mahesa Jenar namun terasa sesuatu berdesir didadanya. Rumah itu bukan rumahnya sendiri.

Apakah kelak kalau ia telah berkeluarga, ia akan tinggal di rumah orang lain pula? tidak dirumah sendiri? Suatu persoalan yang selama ini belum pernah dipikirkannya. Tetapi Mahesa Jenar tidak menyesal, bahwa selama ini ia telah menyerahkan hampir segala- galanya kepada suatu pengabdian. Pengabdian yang luhur dan ikhlas. Karena itu, maka Mahesa Jenar pun dengan mantap memandang ke depan, ke hari yang akan datang.

Teringatlah ia akan kata-kata Rara Wilis, bahwa perkawinan bukanlah pertanda bahwa segalanya telah selesai, namun perkawinan juga merupakan pertanda akan mulainya persoalan-persoalan baru yang tidak kurang rumitnya.

Dalam pada itu, Rara Wilis sebagai seorang gadis tidak dapat melupakan sejenak pun akan hari-hari yang dijelangnya. Dari Rati ia mendengar, betapa hari-hari permulaan benar-benar memberinya kebahagiaan. Dan Rara Wilis pun merindukan hari-hari itu. Karena itu, maka hampir setiap saat gadis itu telah mereka-reka apa saja yang harus dilakukan sebagai seorang istri. Kewajiban-kewajiban rumah tangga yang pasti akan jauh berbeda dari yang penah dilakukannya. Tangan yang kecil itu tidak harus lagi bermain- main dengan pedang, namun harus digenggamnya sebilah pisau dapur untuk menyiapkan masakannya.

Tetapi tiba-tiba angan-angan itu digetarkan oleh peristiwa yang benar-benar mengejutkan. Dengan tergesa-gesa seseorang memberitahu, bahwa ada tiga orang tamu yang ingin menemui Mahesa Jenar dan Rara Wilis.

Ketika Mahesa Jenar mendengar berita itu, dadanya pun tergetar pula. Karena itu maka segera ia ingin tahu, siapakah yang datang itu.

“Tiga orang berkuda dari Banyubiru” sahut orang itu.

Mahesa Jenar menjadi semakin berdebar-debar. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi. Tetapi sebagai seorang tamu,ia tidak dapat menerima orang itu tanpa setahu Sarayuda. Namun Sarayuda segera berkata, “Marilah. Persilahkan mereka kemari. Dimanakah mereka sekarang?”

“Mereka masih di alun-alun,” jawab orang itu. “Seorang anak muda yang sedang bekerja di sawah telah membawa mereka sebagai penunjuk.”

Orang itu pun kemudian mempersilakan tamu-tamu itu masuk ke halaman, desir dada Mahesa Jenar menjadi semakin keras. “Bantaran.” desisnya.

Setelah mereka dipersilakan duduk di pendapa Kademangan, maka dengan ramahnya Demang Sarayuda bertanya-tanya tentang keselamatan mereka, perjalanan mereka dan yang mereka tinggalkan.

“Semuanya baik Ki Demang,” sahut Bantaran. “Perjalananku baik, dan yang berada di Banyubiru pun baik.”

“Syukurlah” sahut Demang itu. Namun Mahesa Jenar melihat sesuatu yang menggelisahkan diwajah Bantaran. Sehingga setelah mereka bercakap-cakap sejenak, maka Mahesa Jenar yang segera ingin tahu persoalan yang dibawanya itu bertanya.

“Apakah ada sesuatu yang perlu kau sampaikan kepadaku Bantaran, atau kau hanya sekadar melihat jalan yang harus ditempuh, apabila kelak beberapa orang dari Banyubiru akan berkunjung kemari?”

Bantaran menarik nafas panjang. Kemudian setelah ia bergeser sedikit, mulailah ia berbicara tentang keperluannya. Katanya, “Kedatanganku yang pertama-tama memang hanya sekadar melihat, bagaimanakah jalan yang kira-kira akan ditempuh, apabila nanti beberapa orang dari Banyubiru akan berkunjung kemari.” Bantaran itu berhenti sejenak.

Namun Mahesa Jenar menangkap sesuatu di balik kata-kata itu. Meskipun demikian dibiarkannya Bantaran berkata terus. “Tetapi di samping itu,” berkata Bantaran itu.

“Aku mendapat pesan dari angger Arya Salaka yang harus aku sampaikan kepada kakang Mahesa Jenar di sini.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah pesan itu?”

“Lupakanlah dahulu pesan itu, Adi Bantaran. Tinggallah disini dua atau tiga hari. Baru kau sampaikan pesan itu,” potong Sarayuda.

Namun Bantaran itu tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku ingin berbuat demikian. Tetapi biarlah aku menyampaikan pesan itu. Kalau kemudian aku harus tinggal di sini untuk sementara, aku akan sangat bersenang hati.”

“Baiklah” sahut Mahesa Jenar, “Sarayuda pasti tidak akan berkeberatan.”

Sarayuda itu   pun   tertawa.   “Silakanlah.   Mungkin   Mahesa   Jenar   segera   ingin mendengarnya. Tetapi dengan syarat, bahwa pesan itu tidak akan memberinya rangsang yang menggelisahkan.”

“Entahlah” jawab Bantaran, “Mudah-mudahan tidak.” “Nah. Katakanlah,” Mahesa Jenar menjadi tidak sabar.

Bantaran berdiam diri sesaat. Di aturnya detak jantungnya supaya ia dapat mengatakannya dengan baik dan jelas.

“Kakang Mahesa Jenar,” berkata Bantaran itu. “Pesan itu sangat pendek. Dan mudah- mudahan benar-benar tidak menggelisahkan kakang,” kembali Bantaran berhenti, sedang Mahesa Jenar menjadi semakin tidak sabar. Baru sesaat kemudian Bantaran itu meneruskan. “Sepeninggal kakang dari Banyubiru, ternyata Endang Widuri telah hilang.”

“He?” alangkah terkejutnya Mahesa Jenar mendengar berita itu. Bukan saja Mahesa Jenar, tetapi juga Sarayuda dan Rara Wilis. Berita itu benar-benar seperti bunyi guruh yang meledak di atas kepala mereka. Sehingga dengan serta merta Rara Wilis bertanya, “Endang Widuri puteri Kakang Kebo Kanigara maksudmu?”

“Ya” sahut Bantaran.

Tiba-tiba semuanya jadi terbungkam. Berita itu benar-benar merupakan hal yang tidak pernah mereka sangka akan dapat terjadi.

Sesaat kemudian berkatalah Mahesa Jenar, "Apakah kakang Kebo Kanigara sudah pulang ke Karang Tumaritis tanpa Widuri?"

"Belum," jawab Bantaran.

"Belum?" ulang Mahesa Jenar seakan-akan tidak percaya. "Ya belum."

Hal ini pun merupakan suatu keanehan bagi Mahesa Jenar. Kebo Kanigara masih berada di Banyubiru. "Kenapa anak gadisnya itu dapat hilang dan sampai beberapa waktu tidak segera dapat diketemukan?"

Karena itu maka Mahesa Jenar itu bertanya, "Apakah yang sudah dilakukan di Banyubiru?"

"Semua orang telah mencoba untuk mencarinya. Ki Ageng Gajah Sora, Kakang Kebo Kanigara sendiri, Arya Salaka dan bahkan Ki Ageng Lembu Sora datang juga ke Banyubiru. Semua orang telah berusaha mencari hampir di setiap sudut Banyubiru. Semua jalan keluar telah dijaga segera setelah diketahui Endang Widuri hilang. Bahkan beberapa orang telah dikirim keluar Banyubiru. Namun Endang Widuri belum diketemukan."

"Apakah yang dilakukan oleh Kebo Kanigara?"

"Kami tidak tahu. Tetapi Kakang Kebo Kanigara itu mencarinya hampir setiap saat. Hanya pada malam harinya saja kakang Kebo Kanigara pulang ke rumah Ki Ageng. Bahkan malam hari pun kadang-kadang kakang Kebo Kanigara tidak pulang."

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Apalagi setelah ia mendengar bahwa di halaman Banyubiru pun telah dikejutkan oleh sebuah bayangan yang tak dapat ditangkap oleh Arya Salaka.

Berita tentang hilangnya Endang Widuri telah benar-benar menggoncangkan perasaan Mahesa Jenar. Bagaimana ia akan dapat menikmati hari-hari seterusnya, apabila disadarinya betapa pedih hati Arya Salaka dan orang-orang lain di Banyubiru. Orang- orang yang selama ini berada di dalam suatu lingkungan yang seakan-akan mengalami semua nasib, suka dan duka, manis pahit bersama-sama. Apakah kini ia mampu menutup perasaannya, dan beristirahat dengan tenang sambil menunggu hari-hari yang berbahagia itu? Sedangkan Kebo Kanigara, Arya Salaka, Gajah Sora dan orang-orang lain di Banyubiru sedang berprihatin.

Timbullah kemudian persoalan tersendiri di dalam hati Mahesa Jenar. Persoalan yang amat rumit. Kedatangannya di Gunungkidul merupakan permulaan dan hari-hari yang cerah bagi Rara Wilis sebagai seorang gadis yang merindukan hidup tentram dan wajar. Tiba-tiba kini mereka dikejar lagi oleh suatu persoalan yang tak pernah mereka sangka- sangka akan terjadi.

Tiba-tiba Mahesa Jenar itu pun bertanya kepada Bantaran. "Bantaran, apakah setiap orang di Banyubiru yakin bahwa Widuri benar-benar hilang?"

"Ya. Semua orang menganggap demikian." sahut Bantaran.

"Apakah Widuri tidak sedang merajuk, karena ia tidak diperbolehkan ikut ke Gunungkidul?" bertanya Mahesa Jenar lagi.

"Ada juga dugaan demikian," jawab Bantaran. "Tetapi ternyata tidak. Seorang gadis melihat Widuri berkelahi, dan seorang laki-laki yang tak dikenal telah menculiknya di belumbang selagi Widuri sedang hendak mencuci pakaiannya."

"Bukan main" desis Mahesa Jenar. "Widuri adalah seorang gadis yang kuat. Kalau seseorang berhasil menculiknya, maka orang itu pun pasti orang yang lebih kuat pula."

Bantaran mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan kata-kata Mahesa Jenar itu, kata-kata serupa pernah juga didengarnya di Banyubiru.

Pendapa itu pun kemudian menjadi sepi. Masing-masing hanyut dalam arus perasaan sendiri. Mahesa Jenar menjadi gelisah karenanya. Sekilas ditatapnya wajah Rara Wilis. Dan terasa dada Mahesa Jenar berdesir.

Dilihatnya gadis itu menundukkan wajahnya yang muram. Mahesa Jenar tidak dapat meraba, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Rara Wilis. Apakah ia sedang berpikir dan berduka karena hilangnya Widuri ataukah ia sedang mencemaskan dirinya, bahwa kebahagiaan yang ditunggu-tunggunya itu akan mengalami gangguan pula.

Tetapi sudah pasti bahwa Mahesa Jenar tidaka akan dapat berdiam diri mendengar hal itu. Meskipun Bantaran kemudian menjelaskan, bahwa kedatangannya hanyalah sekadar memberitahukan, namun pemberitahuan atas permintaan Arya Salaka itu sudah pasti mempunyai nilai tersendiri di dalam hatinya. Arya Salaka adalah muridnya. Pada saat nyawa anak itu terancam oleh bahaya maut dari setiap penjuru. Pada saat anak itu ditinggalkan oleh ayahnya yang dikasihinya.

Lima enam tahun ia mengolah anak itu supaya ia dapat memenuhi permintaan ayahnya menjadikan anak itu anak yang kuat lahir dan batinnya, mempersiapkan anak itu untuk kedudukannya yang akan datang. Bukan, bukan itu saja yang mendorongnya menempa Arya Salaka, tetapi rasa keadilannya memang menuntut demikian. Kini, setelah pekerjaan itu selesai, apakah ia tega melihat anak itu berduka karena sebuah persoalan yang sangat pokok baginya. Persoalan kegairahan hidup di masa depan.

Mahesa Jenar tahu benar perasaan yang bergolak di dalam hati muridnya itu. Apabila Endang Widuri tidak dapat diketemukan, maka Arya Salaka akan kehilangan sebagian dari masa depannya pula.

Demikianlah, ketika kemudian Bantaran itu beristirahat bersama-sama kawan-kawannya, maka di gandok kulon, Mahesa Jenar memerlukan duduk bersama dengan Rara Wilis. Mahesa Jenar ingin mencoba menyatakan perasaannya kepada gadis itu, dan ia mengharap mudah-mudahan Rara Wilis akan mengetahui dan mengertinya pula.

Namun karena itulah maka ia menjadi gelisah. Apalagi ketika dilihatnya Rara Wilis selalu menundukkan wajahnya yang suram. Maka kebimbangan yang tajam telah melanda dada Mahesa Jenar. Untuk sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah yang sebaiknya dilakukan? Apakah ia akan membiarkan Widuri hilang dan Arya Salaka menyesali peristiwa itu sepanjang hidupnya?

Betapa pun sulitnya, namun kemudian Mahesa Jenar itu pun berkata pula. "Wilis, bagaimanakah tanggapanmu atas berita yang dibawa oleh Bantaran?"

Mahesa Jenar menjadi semakin berdebar-debar ketika Rara Wilis sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Namun meskipun demikian gadis itu menjawab, "Kasihan anak itu."

"Ya. Kasihan Widuri, dan kasihan pula Arya Salaka," sahut Mahesa Jenar. Rara Wilis hanya menganggukkan kepalanya. Dan ia tidak lagi berkata apa-apa.

Mahesa Jenar menjadi semakin bimbang. Dengan hati-hati dicobanya untuk menuntun pembicaraan ke arah yang dikehendaki, katanya, "Tetapi bagaimana pun juga anak itu harus diketemukan."

"Ya" sahut Rara Wilis.

Sebenarnya hati Rara Wilis pun terganggu pula oleh peristiwa itu. Endang Widuri yang nakal itu tak pernah dapat dilupakan. Setiap kali wajah anak itu terbayang di dalam rongga matanya. Kenakalan dan kelincahan serta sifat kanak-kanakannya yang jujur kadang-kadang menimbulkan rasa rindunya untuk segera bertemu dengan anak itu. Namun tiba-tiba anak itu hilang. Karena itulah maka mau tidak mau terbersit pula suatu perasaan yang dalam di dalam hatinya. Tetapi ia sendiri sedang menghadapi persoalan yang sangat penting dari segenap umurnya. Hari-hari yang diharapkannya akan segera datang. Ia mengharap kedatangan beberapa tamu, terutama dari Karang Tumaritis. Namun tamu itu pasti tidak akan segera datang. Rara Wilis itu pun menarik nafas dalam- dalam.

Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada mengatakan maksudnya. Maksud itu memang harus dikatakannya. Nanti atau sekarang. Sebab ia tidak dapat menghindari kejaran perasaan tentang hilangnya Endang Widuri.

Karena itu, maka dengan susah payah ia pun berkata. "Wilis, apakah kau akan sependapat seandainya aku pergi ke Banyubiru untuk membantu mencari anak yang hilang itu?"

Rara Wilis sudah tahu sebelumnya bahwa Mahesa Jenar akan berkata demikian. Bahwa Mahesa Jenar akan meninggalkan lagi untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.

Rara Wilis tidak segera dapat menjawab. Meskipun pertanyaan itu sudah diduganya, namun hatinya berdesir juga mendengar pertanyaan itu diucapkan. Dan sebenarnyalah ia menjadi bersedih. Hari-hari yang dinantikannya itu seakan-akan menjadi semakin jauh daripadanya. Kalau mula-mula ia merasa bahwa hari-hari yang dinantikan itu telah berada di ambang pintu, maka kini pintu itu tiba-tiba tertutup kembali.

Tetapi Rara Wilis tidak akan dapat menyalahkan siapa-siapa. Mahesa Jenar tidak bersalah. Sejak semula ia mengenal laki-laki itu sebagai seorang yang lebih pasrah pada tanggungjawab atas kewajibannya, serta pengabdian terhadap kemanusiaan daripada keperluan-keperluan dirinya sendiri, maka seharusnya ia dapat mengertinya. Arya Salaka juga tidak dapat dipersalahkannya. Ia telah menderita pula karena hilangnya gadis itu. Dan sama sekali bukanlah kehendaknya, bahwa Widuri harus hilang supaya Mahesa Jenar datang kembali ke Banyubiru. Gajah Sora, Lembu Sora, dan Sora Dipayana juga tidak. Widuri pun tidak. Ia akan mengalami ketakutan dan kecemasan selama ia berada di tangan orang yang tidak dikenal itu. Lalu siapa? Orang yang menculiknya itu? Orang itu sama sekali tidak bersangkut paut dengan Mahesa Jenar. Tetapi itulah penyebab dari kedukaannya kali ini. Lalu bagaimanakah dengan Kebo Kanigara? Kebo Kanigara adalah seorang yang sakti. Bahkan lebih matang dari Mahesa Jenar sendiri. Tetapi kenapa ia tidak mampu menemukannya? Apalagi Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar melihat pergolakan di dasar hati Rara Wilis itu. Meskipun di usahakannya untuk membayangkan pergolakan itu, namun wajahnya yang mendung adalah pernyataan yang tidak dapat disembunyikan.

"Rara Wilis" desis Mahesa Jenar kemudian, "Aku harap kau dapat mengerti."

Rara Wilis terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga dengan demikian ia mengangkat wajahnya. Dengan tajamnya dipandangnya wajah Mahesa Jenar. Katanya, "Apakah aku tidak dapat mengerti persoalan yang sedang kau hadapi kakang?"

Mahesa Jenar menjadi bingung. Ternyata dirinya sendirilah yang tidak dapat mengerti perasaan Rara Wilis itu. Karena itu maka segera ia berkata, "Maaf Wilis. Maksudku, apakah kau menyetujuinya?" Kembali Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Hilangnya Widuri benar-benar telah menggoncangkan ketentramannya.

Sesaat kemudian maka Rara Wilis itu pun menjawab. "Kakang, aku sama sekali tidak akan bermaksud menghalangi pekerjaan kakang. Tetapi aku berkata demikian kakang, bukan perasaanku. Kalau aku berkata demikian kakang, bukan berarti aku tidak menyetujui kakang untuk pergi ke Banyubiru. Pergilah kakang. Aku pun merasa kehilangan pula. Tetapi jangan menganggap kepedihan ini karena aku terlalu mementingkan diriku sendiri."

Mahesa Jenar memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menatap wajah Rara Wilis terlalu lama. Ia melihat air di dalam mata yang buram. Dan ia tidak tahan melihatnya. Dilemparkannya pandangan matanya jauh-jauh ke luar, menorobos sela-sela pintu yang tidak terkatup rapat. Dilihatnya daun-daun di halaman berguncang disentuh angin yang bertiup dari lautan. Suaranya semiut seperti sebuah lagu yang rawan.

Sesaat mereka berdiam diri dalam keheningan. Tetapi Mahesa Jenar tidak mendengar Rara Wilis terisak-isak. Perlahan-lahan ia berpaling, dan dilihatnya Wilis masih duduk dalam sikapnya. Tetapi ia tidak menangis.

Mahesa Jenar itu pun kemudian berkata, “Wilis. Aku dapat mengerti pula perasaanmu seperti kau dapat mengerti perasaanku. Kini kau sedang mulai menghayati ketentraman hidup dalam keluarga yang wajar. Tetapi baru saja kau menikmati ketenangan ini setelah bertahan-tahun lamanya kau terguncang-guncang oleh arus yang tak kau ketahui ujung pangkalnya, maka kembali kau diganggu oleh peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan masa depan sendiri. Tetapi aku berjanji Wilis, bahwa kali ini adalah kali terakhir.”

“Jangan berjanji kakang”, potong Rara Wilis. “Aku tidak ingin mendengar janji apapun daripadamu. Marilah kita jalani jalan kita dengan janji di dalam hati. Sebab bagiku, janji bukanlah satu-satunya tempat untuk menyangkutkan harapan. Tetapi apa yang akan kita lakukan akan mengatakan kepada kita masing-masing, janji yang tersimpan di dalam hati itu.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kata-kata Rara Wilis itu. Dan ia adalah orang yang mantap pada janjinya. Janji yang terpateri di dalam hati. Ia tidak pernah berjanji kepada Baginda Sultan Trenggana untuk menemukan keris- keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi janji itu dipenuhinya. Janji yang disimpannya di dalam dadanya. Dan kini ia telah mengucapkan janji itu pula di dalam hatinya itu. Janji pribadi.

Akhirnya Mahesa Jenar telah mengambil keputusan untuk pergi ke Banyubiru besok bersama Bantaran. Keputusan yang sangat berat, namun harus dilakukan menurut panggilan hatinya. Sekali lagi ia terpaksa mengorbankan kepentingannya sendiri. Kepentingan yang sangat berharga bagi hidupnya. Dan sekali lagi ia mengorbankan perasaan seorang gadis yang dicintainya. Meskipun Rara Wilis itu dapat mengerti sepenuhnya. Tetapi ia kecewa. Kecewa terhadap keadaan. Keadaan yang belum memungkinkan menikmati ketentraman dan ketenangan hidup. Lebih-lebih lagi hidup dalam lingkungan keluarga yang diimpikan.

Ki Ageng Pandan Alas melihat pula kerisauan di dalam hati cucunya. Ia pun menjadi kecewa seperti kekecewaan Rara Wilis sendiri. Orang tua itu benar-benar ingin melihat keturunannya tidak lenyap sama sekali. Karena itu, alangkah rindunya ia akan keluarga cucunya itu. Namun tiba-tiba ia tidak dapat menentang keadaan yang tiba-tiba saja dihadapkannya kepadanya, kepada cucunya dan kepada cita-citanya. Karena itu maka ketika Mahesa Jenar bermohon diri kepadanya, maka katanya serta merta, “Aku turut angger ke Banyubiru.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Juga Rara Wilis terkejut. Namun orang tua itu kemudian berkata pula dengan wajah yang suram. “Wilis, aku akan berbuat untukmu. Aku tidak tahu, apakah tenagaku yang tua ini akan berguna, namun aku ingin membantu mencari yang hilang itu. Betapa kecil arti usahaku, tetapi aku percaya semakin banyak orang yang berusaha mencari, maka semakin cepatlah cucu Widuri itu akan diketemukan. Dengan demikian, maka angger Mahesa Jenar pun akan semakin cepat selesai pula dengan pekerjaannya.”

Kata-kata itu berdenyut di dalam dada Rara Wilis dan Mahesa Jenar. Terasa betapa orang tua itu menjadi sedih karena keadaan. Tetapi orang tua yang penuh dengan pengertian itu, tidak saja hanya meratap, namun ia berbuat sesuatu untuk mempercepat penyelesaian.

Karena itu, maka tiba-tiba Rara Wilis pun berkata. “Aku juga ikut kakang.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar permintaan itu. Karena itu maka dengan serta merta ia berkata, “Jangan. Jangan Wilis.” “Aku tidak akan dapat menunggu dalam kesepian di Gunungkidul ini.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Ki Ageng Pandan Alas, seakan- akan ia menyerahkan setiap persoalan kepadanya. Namun Ki Ageng Pandan Alas pun menundukkan wajahnya.

Ketika kemudian mereka berdiam diri, maka ruangan itu pun menjadi sunyi. Mereka mengangkat wajah-wajah mereka ketika terdengar suara di belakang. “Kakang Demang, kuda kakang telah disiapkan.”

“Baik” sahut suara yang lain, suara Demang Sarayuda. “Aku akan pergi ke banjar sebentar.”

Kemudian terdengarlah langkah keduanya lewat disebelah dinding dan hilang ke pendapa. Dada Rara Wilis berdentang mendengar langkah itu, mendengar suara Rati dan mendengar suara Sarayuda. Mereka telah berhasil membangun suatu ikatan keluarga yang bahagia. Kalau ia tinggal sendiri di kademangan itu, maka setiap kali ia melihat kebahagiaan itu, maka hatinya akan menjadi semakin kesepian.

“Apakah aku menjadi cemburu.” katanya di dalam hati. “atau iri hati?” Rara Wilis itu pun kemudian mendesak pula. “Kakang, aku akan ikut ke Banyubiru.”

Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang yang telah banyak mengenyam pahit manisnya kehidupan. Tidak saja sebagai seorang pengembara yang harus bertempur dengan lawan- lawannya, dengan penjahat-penjahat dan dengan penyamun-penyamun, namun ia pernah juga merasakan duka derita hidup kekeluargaan. Orang tua itu pernah melihat anaknya menjadi korban yang menyedihkan. Ia melihat betapa seorang perempuan yang hidupnya penuh kepahitan apabila ia ditinggalkan oleh suaminya yang dicintainya, tetapi ia pernah juga mendengar, seorang laki-laki yang jalan hidupnya dihancurkannya sendiri, karena ia merasa kehilangan isterinya.

Meskipun kemudian ternyata bahwa ia hanya berprasangka, seperti Lawa Ijo. Karena itu, orang tua itu mengerti perasaan yang tersimpan di dalam hati Rara Wilis. Sehingga kemudian ia menjawab, “Angger Mahesa Jenar. Bila berkenan di hati angger, biarlah Wilis ikut serta ke Banyubiru.”

“Hem” desah Mahesa Jenar di dalam hatinya. “Apakah arti perjalanan ke Gunungkidul ini?”

Pertanyaan itu pun terdengar pula di dalam hati Rara Wilis dan Ki Ageng Pandan Alas. Namun mereka mempunyai jawabannya. “Ternyata Mahesa Jenar masih sanggup mengorbankan kepentingan pribadinya untuk panggilan rasa keadilannya yang tersentuh. Penculikan atas Endang Widuri adalah kejahatan. Dan Mahesa Jenar ingin melenyapkan kejahatan. Meskipun dalam batas-batas kemampuan yang ada padanya.”

Mahesa Jenar itu pun kemudian terpaksa menerima permintaan Rara Wilis itu. Ia kemudian menganggap kedatangannya ke Gunungkidul sebagai suatu kunjungan yang menyenangkan untuk mempersiapkan masa-masa yang dinanti-nantikannya bersama Rara Wilis.

Demikianlah maka di suatu pagi yang cerah, bersiaplah sebuah rombongan di halaman Kademangan Gunungkidul. Meskipun Sarayuda dan beberapa orang tetua Kademangan itu menjadi kecewa, namun mereka terpaksa melepaskan rombongan itu pergi. Beberapa orang telah mendengar pula, apa yang terjadi di Banyubiru.

Bahkan Sarayuda menyesal pula, kenapa Widuri itu dahulu tidak dibawanya sekali sehingga dengan demikian, maka tidak ada kemungkinan untuk menculiknya. Tetapi beberapa orang yang lain tidak mendengar berita tentang hilangnya seorang gadis di Banyubiru, sehingga karena itu timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka.

Beberapa orang tua-tua yang melihat Ki Ageng Pandan Alas ikut juga dalam rombongan itu, dengan berkelakar berkata, “Ki Sentanu, hati-hatilah. Jangan sampai terjadi bahwa kuda itu nanti yang menaikimu.”

Ki Ageng Pandan Alas yang dikenal bernama Ki Sentanu itu tertawa. “Mudah- mudahan,” jawabnya.

Pagi itu Mahesa Jenar beserta rombongan meninggalkan Gunungkidul dengan hati yang bimbang. Kehadirannya di daerah yang berbukit-bukit itu benar-benar seperti sebuah mimpi saja. Namun mimpi yang menumbuhkan harapan di dalam hatinya. Bahwa suatu ketika ia akan dapat mengulangi mimpi yang pasti akan lebih indah lagi.

Ketika mereka sampai di alun-alun kecil di muka rumah Kademangan itu maka sekali mereka berpaling, dada Mahesa Jenar dan Rara Wilis berdesir karenanya. Mereka melihat Demang Sarayuda dalam pakaian yang indah berdiri disamping Rati isterinya. Mereka melambaikan tangan mereka sambil tersenyum. Tetapi senyum itu seakan-akan sama sekali tidak ditujukan kepada mereka. Senyum itu adalah senyum kebahagiaan mereka sendiri.

Rati yang berdiri disamping Sarayuda itu tampak kepucat-pucatan. Ia tidak tahan berdiri terlalu lama, karena itu, maka segera ia masuk kembali ke halaman.

Mahesa Jenar yang melihat Rati itu dengan tergesa-gesa, masuk kembali berkata tanpa sesadarnya, “Apakah Nyai Demang itu sakit?”

Rara Wilis menundukkan wajahnya sambil menggeleng. “Ia tidak sakit,” jawabnya.

“Tetapi ia terlalu pucat dan hampir sehari-harian berada dipembaringannya.” “Anak itu sedang ngidam. Ia telah mengandung tiga bulan.” “Oh” Mahesa Jenar tidak bertanya lagi. Tanpa disengaja ia telah menyentuh hati Rara Wilis pula. Karena itu sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Dan kemudian diangkatnya wajahnya, memandang jalan-jalan di depannya. Jalan yang keras kemerah-merahan karena tanah yang liat. Dikejauhan dilihatnya bukit-bukit kapur yang kering. Namun di arah yang lain tampaklah sawah-sawah yang menghijau segar. Gunungkidul adalah suatu daerah yang bercampur baur.

Ketika kemudian mereka telah melintasi perbatasan induk Kademangan, maka kuda- kuda itu mulai dipacu. Ki Sentanu kini bukan lagi seorang tua yang ketakutan duduk di atas punggung kuda, namun tiba-tiba wajah menjadi bersungguh-sungguh dan katanya perlahan-lahan. “Marilah, mumpung masih pagi.”

Bantaran yang berkuda dipaling depan, mempercepat kudanya pula. Suara kaki-kaki kuda itu berderak-derak di atas tanah yang kering. Debu yang putih mengepul tinggi di udara, menakbiri daerah yang mereka tinggalkan. Daerah yang meskipun hanya sekelumit, namun telah menyentuh hati Mahesa Jenar sedemikian dalamnya. Kini mereka menghadapi jalan yang terbentang memanjang. Seperti sebuah jalur- jalur yang tak terkira panjangnya, membelit lereng-lereng bukit, menghujam lurah-lurah dan mendaki tebing. Sekali-kali menghilang dibalik puntuk-puntuk yang menjorok dihadapan mereka, untuk kemudian timbul kembali, seakan-akan dari dalam tanah. Jalan-jalan itulah yang akan mereka lalui. Jalan-jalan yang dilalui beberapa hari yang lampau dalam arah yang berlawanan. Namun alangkah jauh bedanya perasaan mereka. Pada saat mereka datang dan pada saat mereka meninggalkan daerah yang baru sebentar saja disinggahi sepanjang hidupnya. Betapa pun panjang jalan yang harus ditempuh itu, namun setapak demi setapak dilampauinya pula. Seperti sebuah benang yang digulung disebelah ujungnya, maka kuda-kuda itu akhirnya akan sampai juga ke ujung yang lain, setelah dilampauinya jurang dan ngarai, ditembusnya hutan-hutan yang lebat pepat, padang-padang rumput dan dilampauinya jarak yang memisahkan Gunungkidul dan Banyubiru. Dan jarak itu tidak terlalu pendek.

Setelah mereka menempuh jarak yang panjang itu, setelah mereka melampaui jalan yang jauh, maka mereka kemudian melihat, tanah perdikan Banyubiru yang seakan- akan terbentang di lereng bukit Telamaya itu pun muncul di hadapan mereka.

Demikian Mahesa Jenar melihat daerah itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Daerah itu adalah daerah yang sudah dikenalnya dengan baik. Tidak saja liku- liku jalan- jalan kota Banyubiru, namun lekuk-liku sifat dan watak penduduknya. Penduduk yang rajin bekerja tanpa banyak berteriak-teriak tentang kemampuan diri sendiri. Namun dengan demikian, mereka dapat menikmati hasil usaha mereka itu. Dan mereka akan dapat mewariskan hasil jerih payahnya kepada anak cucu mereka.

Tapi kini tiba-tiba Banyubiru itu serasa asing baginya. Baru beberapa hari ia berada di Gunungkidul, namun kedatangannya di Banyubiru kali ini seolah-olah benar-benar seperti orang baru. Terasa Banyubiru itu tidak seperti Banyubiru yang ditinggalkannya beberapa hari yang lampau. Sepi dan penuh rahasia. Banyubiru bagi Mahesa Jenar, seperti menyimpan persoalan-persoalan yang tidak wajar di dalamnya. Warna-warna hijau segar di lereng bukit, tampaknya sebagai sebuah takbir yang membayangi daerah di lereng bukit itu, sebagai sebuah tabir yang menyimpan berbagai persoalan.

Ketika Mahesa Jenar melampaui daerah-daerah perbatasan kota, dilihatnya beberapa orang sedang berjaga-jaga. Gardu-gardu perondan kini telah dipenuhi lagi oleh orang- orang yang sedang bertugas seperti dalam saat-saat Banyubiru sedang berperang. Mereka mendapat tugas untuk mengawasi kemungkinan orang yang menculik Widuri lolos dari Banyubiru atau sengaja membawa Widuri keluar untuk disembunyikan. Namun penjaga- penjaga itu seakan-akan sama sekali tidak berarti. Widuri masih belum diketemukan, seperti lenyap ditelan lereng-lereng bukit.

Kepada para penjaga itu Bantaran bertanya, “Apakah kau sudah mendengar kabar tentang hilangnya gadis itu?”

PENJAGA itu menggeleng. Jawabnya, "Belum. Masih belum ada tanda-tanda apa pun tentang gadis itu."

Bantaran tidak berkata lagi. Mereka berpacu semakin kencang, seakan-akan takut terlambat. Namun dalam pada itu Mahesa Jenar berkata kepada Bantaran. "Bagaimana?"

"Gelap," sahut Bantaran.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Apakah ia dapat berbuat sesuatu yang dapat menyingkap takbir kegelapan itu, sedang Kebo Kanigara sendiri tidak?

Apakah yang dapat dilakukannya, seorang diri atau berdua, dan bahkan bertiga dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis di antara ratusan orang Banyubiru sendiri, termasuk orang-orang seperti Ki Ageng Gajah Sora, Lembu Sora, mungkin Ki Ageng Sora Dipayana pula, Arya Salaka dan lain-lainnya. Mungkin mereka tidak dapat bertempur setangkas Kebo Kanigara, namun mereka akan lebih mengenal daerah Banyubiru seperti mereka mengenal semua ruang di dalam rumah mereka

sendiri, seperti mereka mengenal halaman mereka sendiri.

Mereka mengenal setiap penduduk Banyubiru seperti mereka mengenal istri dan anak- anak mereka sendiri.

Dan ternyata mereka itu tidak berhasil menemukan Endang Widuri. Lalu apakah kedatangannya akan berarti. Tetapi betapa ia menjadi bimbang akan usahanya, namun ia tidak akan dapat berdiam diri tanpa berbuat sesuatu. Ia harus berbuat, apakah berhasil apakah tidak berhasil, adalah masalah yang tak dapat dipecahkannya. Tetapi ia tidak boleh berputus asa, apalagi sebelum ia berbuat sesuatu. Namun Mahesa Jenar tidak dapat melepaskan kesan yang menggores dihatinya, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya dan dirabanya.

Rombongan itu pun meluncur di antara sawah-sawah dan ladang di dataran yang terbentang di hadapan bukit Telamaya itu. Namun terasa pula, seakan-akan batang- batang padi yang tumbuh di sawah, serta palawija yang menghijau diladang-ladang memandangi rombongan itu dengan penuh prasangka. Seakan-akan mereka sama sekali membisu atas kedatangan itu. Bahkan seakan-akan batang-batang padi dan palawija itu telah menyembunyikan rahasia yang tak boleh diketahui oleh Mahesa Jenar dan rombongannya.

Bahwa seolah-olah Endang Widuri yang hilang itu telah disembunyikan pula disana.

Tetapi rombongan itu berpacu terus. Beberapa orang petani memandangi mereka dengan wajah yang kosong. Hanya satu-satu di antara mereka berbisik. "Mahesa Jenar telah datang pula untuk menemukan gadis yang hilang itu."

Tetapi kembali mulut-mulut mereka terkatup rapat-rapat kala rombongan itu lewat dihadapan mereka.

Beberapa orang yang melihat rombongan itu merayapi tebing bukit Telamaya segera menyampaikan kepada Ki Ageng Gajah Sora. Arya yang mendengar pula laporan itu bertanya dengan serta merta.

"Bantaran telah kembali?" "Ya", jawab orang itu. "Sendiri?"

"Tidak. Beberapa orang itu bersamanya."

"Paman Mahesa Jenar" desis Arya Salaka. Karena itu segera ia menyiapkan diri untuk menjemput gurunya itu. Tiba-tiba timbullah kembali harapan di dalam dadanya. Harapan yang selama ini hampir padam. Tetapi sebelum Arya Sempat meloncat ke punggung kudanya, maka derap kuda rombongan yang datang itu sudah sedemikian dekatnya, sehingga sesaat kemudian, mereka melihat rombongan itu masuk ke halaman.

Ketika kuda-kuda itu berhenti, maka para penunggangnya segera berloncatan turun. Arya Salaka yang melihat Mahesa Jenar, tidak dapat menahan hatinya lagi.

Segera ia berlari kepadanya dan seperti seorang anak yang menyambut kedatangan ayahnya, Arya itu pun segera menyambut tangan gurunya sambil berdesis. "Selamat datang paman. Aku menjadi sangat gelisah, seandainya paman tidak datang ke Banyubiru." Mahesa Jenar menepuk punggung Arya Salaka sambil berkata, "Aku ikut prihatin Arya." "Terima kasih paman. Aku percaya bahwa paman pasti akan datang."

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Rombongan itu pun kemudian berjalan ke pendapa disambut langsung oleh Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dan bahkan Ki Ageng Soradipayana pun ada pula di pendapa itu. Di antara mereka berdiri dengan pandangan yang kosong Kebo Kanigara.

Mereka menyambut kedatangan Mahesa Jenar dengan penuh gairah. Seakan-akan mereka, orang-orang yang menentukan jalan perputaran roda Banyubiru itu menggantungkan harapan mereka kepada Mahesa Jenar. Wajah-wajah yang ramah dan penuh harapan memenuhi pendapa itu. Ucapan selamat datang yang tulus dan sapa atas keselamatannya dengan penuh kesungguhan, seakan-akan mereka telah bertahun- tahun berpisah.

Dan sambutan itulah yang menjadikan Mahesa Jenar semakin merasa dirinya asing pada keadaan disekitarnya. Seakan-akan Mahesa Jenar melihat suatu daerah yang ketakutan karena berbagai ancaman. Ia merasa bahwa saat itu dirinya telah menjadi pusat perhatian dan bahkan seakan-akan menjadi tempat untuk mengadukan nasib mereka.

Tetapi dada Mahesa Jenar itu pun berdesir karenanya, ketika ia melihat wajah Rara Wilis yang muram. Gadis itu menundukkan wajahnya sembil bermain-main dengan ujung kainnya. Dalam kegairahan orang-orang Banyubiru menyambut kedatangan Mahesa Jenar itu terasa betapa kesepian telah melanda dada Rara Wilis. Sebagai seorang gadis ia merasa, bahwa kali ini ia sama sekali tidak diperlukan.

Seolah-olah tak seorang pun lagi yang ingat bahwa ia hadir pula di pendapa itu selain beberapa sapa dan subasita, mempersilahkannya duduk. Namun kemudian perhatian mereka terampas oleh persoalan-persoalan yang telah menggemparkan Banyubiru itu. Tak seorang pun lagi yang menanyakan, apakah ia bergembira datang kembali ke Banyubiru. Apakah ia telah merencanakan kapan hari yang ditunggu-tunggu itu akan datang. Tidak. Tidak ada yang menanyakan itu kepadanya. Mahesa Jenar pun tidak lagi ingat akan kehadirannya. 

TETAPI gadis itu tiba-tiba menggeleng lemah. Dicobanya mengatasi gelora di dalam hatinya itu. “Ach, aku terlalu mementingkan diriku sendiri. Disini, Banyubiru kini, sedang dihadapkan pada suatu persoalan yang harus mendapat pemecahan. Kenapa aku tidak sanggup untuk melupakan persoalanku sendiri seperti masa-masa yang telah lampau? Kenapa kini aku terikat kepada kepentingan diri ini?”

Dengan susah payah akhirnya Rara Wilis berhasil mengatasi kesepian itu. Namun terasa ia menjadi pening. Ia sama sekali tidak dapat turut bercakap-cakap dengan orang-orang lain seperti masa-masa yang lampau. Bahkan dengan Mahesa Jenar pun seakan-akan tak ada persoalan yang dapat dipecahkan meskipun hanya untuk berpantas-pantas. Tetapi kini ia sudah tidak lagi mengeluh, bahwa percakapan mereka hanya semata-mata berkisar kepada persoalan Widuri yang hilang itu.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar tidak dapat melupakan kesan itu. Kesan kesepian yang memancar dari wajah Rara Wilis. Sehingga kemudian terloncatlah pertanyaannya kepada Ki Ageng Gajah Sora. “Ki Ageng, apakah Nyai ada di rumah.”

“Oh, ada. Ada” sahut Gajah Sora terbata-bata. Ia tidak segera mengerti maksud pertanyaan itu. Sehingga Mahesa Jenar itu pun berkata kepada Rara Wilis. “Wilis, ternyata Nyai Ageng ada pula di belakang. Barangkali kau akan dapat membantunya.”

“Oh. Tidak perlu. Tidak perlu adi. Biarlah adi Wilis duduk saja disini.”

Rara Wilis menarik nafas. Ia merasa bahwa ternyata Mahesa Jenar masih juga mengingat dirinya.

Karena itu segera ia menyahut. “Baiklah kakang. Lebih baik aku kebelakang.”

Rara Wilis tidak menunggu jawaban dari siapa pun. Segera ia bergeser, dan turun ke halaman, membebaskan dirinya dari kesepian di dalam keriuhan persoalan hilangnya Widuri, meskipun ternyata di sudut terpendam rasa rindunya terhadap gadis yang nakal itu. “Gadis itu harus diketemukan”, desisnya seorang diri.

Di hari pertama itu Mahesa Jenar mendapat banyak bahan yang didengarnya mengenai hilangnya Widuri. Arya Salaka berceritera tidak ada habisnya tentang soal itu. Di dengarnya pula dari mulut gadis yang melihat hilangnya Widuri, bagaimana seorang laki- laki telah mencukungnya menghilang ke dalam semak-semak.

Persoalan itu menjadi semakin rumit di dalam hati Mahesa Jenar. Arya Salaka ternyata lebih mencemaskan nasib Endang Widuri dari yang lain-lain. Dan Mahesa Jenar pun dapat mengerti pula,

Kebo Kanigara sendiri tampaknya tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mencari anaknya yang hilang itu. Sudah beberapa hari Endang Widuri tidak dapat diketemukan, namun Kebo Kanigara itu masih saja berada di rumah Ki Ageng Gajah Sora. Hanya kadang-kadang ia pergi untuk mencoba mencari Widuri namun sebenarnya kemudian ia telah kembali. Kadang-kadang malam hari ia pergi, namun di pagi harinya Kebo Kanigara telah berada di biliknya pula.

Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat menanyakannya langsung kepada Kebo Kanigara.

Meskipun kadang-kadang pertanyaan itu sedemikian mengganggunya, namun ia selalu berusaha untuk menekannya rapat-rapat di dalam lubuk hatinya.

Namun tiba-tiba kembali Banyubiru menjadi gempar. Ketika hampir semua orang berputus asa, maka terjadilah suatu peristiwa yang membakar kemarahan rakyat Banyubiru. Ternyata hilangnya Widuri akan membawa akibat yang berkepanjangan.

Dua hari setelah Mahesa Jenar berada di Banyubiru, maka tiba-tiba salah sebuah gardu peronda pada malam hari melihat sesosok tubuh yang menimbulkan kecurigaan mereka. Ketika orang itu disapa oleh para peronda, maka tiba-tiba orang itu cepat-cepat berjalan menjauh. Sudah tentu, para peronda tidak akan membiarkannya pergi, sebelum didapatnya penjelasan siapakah orang itu dan apakah keperluannya. Namun orang itu benar-benar tidak mau mendekat, bahkan ketika beberapa orang berusaha mendekatinya, orang itu pun mencoba berlari.

Dengan sigapnya para peronda itu mengejarnya. Beberapa orang mendahuluinya dan mencegahnya, sehingga orang yang mencurigakan itu segera terkepung rapat-rapat.

“Siapakah kau?” desak penjaga itu.

Jawaban orang itu benar-benar mengejutkan. Katanya, “Apakah kepentinganmu dengan namaku?”

Para penjaga itu benar-benar keheranan sehingga sesaat mereka berdiam. Namun kemudian salah seorang diantaranya bertanya pula.

“Ki Sanak. Kami adalah para peronda dari Banyubiru. Kami mempunyai wewenang untuk mengetahui, setiap orang yang berada didalam wilayah perondaan kami. Karena itu, maka katakanlah siapakah Ki Sanak dan apakah keperluan Ki Sanak.”

Kembali para penjaga itu terkejut. Orang yang tak mereka kenal itu tertawa perlahan- lahan. Jawabnya, “Baiklah kalau kau ingin mengenal namaku. Orang memanggil aku, Mas Karebet.”

Para penjaga itu mengerutkan keningnya. Nama itu asing bagi mereka. Karena itu maka salah seorang bertanya pula. “Darimanakah asal Ki Sanak dan apakah keperluan Ki Sanak di malam hari begini?”

“Tidak apa-apa”, jawab orang yang ternyata bernama Karebet itu. “Aneh. Tetapi biarlah kau jawab, darimanakah asalmu?”

“Aku berasal dari jauh. Apa pedulimu?”

Para penjaga itu menjadi semakin curiga. Sehingga kemudian salah seorang daripadanya membentak. “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Katakanlah, apakah keperluanmu. Kalau kau berkunjung ke salah seorang penduduk Banyubiru, siapakah yang telah kau kunjungi itu.” Karebet mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertolak pinggang dan berkata lantang. “Jangan ganggu aku. Biarlah aku berbuat sesuka hatiku.”

“Tidak mungkin Ki Sanak. Tidak mungkin seseorang akan dapat berbuat sekehendak sendiri. Di tanah perdikan ini ada peraturan-peraturan yang harus ditaati.”

“Taatilah siapa yang mau mentaati. Aku tidak.”

“Jangan berkeras kepala, Karebet” bentak seorang penjaga yang kehilangan kesabaran. “Kau mencoba memancing kemarahan kami. Apakah sebenarnya kepentinganmu.”

“Jangan bertanya-tanya lagi. Aku akan pergi, minggir.”

“Jangan berbuat seperti orang alasan. Taatilah peraturan kami. Kami adalah alat-alat untuk menegakkan peraturan itu.”

“Tidak ada peraturan yang dapat mengikat aku,” sahut Karebet lantang.

“Peraturan bagiku adalah ikatan-ikatan yang tak berarti. Aturan bagiku adalah keduabelah tangan dan keduabelah kakiku, pedang dilambungku dan taruhannya adalah nyawaku.”

Para penjaga itu benar-benar menjadi heran. Apakah orang itu orang gila ataukah orang yang tak waras. Namun menilik sikapnya, maka orang itu benar-benar berbahaya bagi mereka, sehingga karena itu maka mereka segera mempersiapkan diri.

Karebet yang melihat para penjaga itu bersiap, berkata pula. “He, apakah yang akan kalian lakukan?”

“Kami hanya sekadar melakukan kewajiban kami, Ki Sanak harus menyebutkan nama yang sebenarnya, keperluan yang sebenarnya dan darimanakah Ki Sanak yang sebenarnya. Kalau tidak, kami terpaksa menangkapmu dan membawa kerumah Kepala Daerah Tanah Perdikan ini.”

Karebet itu tiba-tiba tertawa. Jawabnya, “Apakah kalian berkata sebenarnya?” “Tentu”

“Bagus. Cobalah tangkap aku. Sudah aku katakan, bahwa peraturan bagiku adalah keduabelah tangan dan kakiku serta pedang dilambungku.”

Para penjaga itu serentak bergerak maju. Tetapi Karebetpun sudah bersiaga, bahkan tiba- tiba ia telah mulai dengan sebuah serangan yang benar-benar tidak disangka-sangka. Tangannya bergerak dengan cepatnya menyambar salah seorang dari kelima penjaga itu, sehingga tiba-tiba orang itu terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh. Terdengar ia mengerang kesakitan dan berusaha dengan tertatih-tatih tegak kembali. Namun terasa punggungnya menjadi sakit, sehingga karena itu, maka tenaganya sudah jauh berkurang.

Keempat kawannya tidak menunggu lebih lama lagi. Segera mereka menyerang bersama-sama. Tetapi, ternyata mereka berhadapan dengan Mas Karebet. Seorang anak yang aneh dan mengagumkan. Karena itulah maka mereka tidak dapat berbuat banyak. Mas Karebet itu mampu bergerak secepat burung sikatan, dan menyambar-nyambar dengan garangnya, seperti burung rajawali. Benar-benar suatu gabungan kecakapan yang tiada taranya.

Tetapi keempat orang laskar Banyubiru dan seorang lagi yang telah hampir tak berdaya itu pun sama sekali bukan pengecut. Meskipun mereka terkejut melihat lawannya mampu bergerak dengan cepatnya, bahkan di luar dugaan mereka, namun mereka kini sedang melakukan tugas mereka, sehingga bagaimana pun juga, mereka berjuang sekuat-kuat tangan dan kaki mereka, maka mereka pun pasti masih akan tetap bertempur.

Sehingga dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin seru. Seorang diantara mereka berusaha untuk meninggalkan perkelahian itu untuk memberitahukannya kepada mereka yang masih berada di gardu penjagaan.

Namun tiba-tiba Mas Karebet itu meloncat seperti seekor kijang, dan orang itu pun terpelanting pula beberapa langkah sehingga kemudian jatuh berguling di tanah.

Alangkah marahnya para peronda itu. Namun tidak banyaklah yang dapat mereka lakukan selain mencoba bertahan atas serangan-serangan Karebet yang sedemikian lincahnya.

Tetapi ternyata Karebet bukanlah lawan mereka. Satu demi satu mereka jatuh berguling dan betapa sulitnya untuk bangun kembali.

Punggung-punggung mereka terasa menjadi nyeri, dan dada mereka menjadi serasa sesak. Betapa pun mereka berusaha, namun tenaga mereka benar-benar terbatas jauh di bawah kemampuan Mas Karebet itu.

Akhirnya para peronda itu menjadi benar-benar hampir tidak berdaya.

Meskipun mereka masih berusaha untuk berdiri, namun mereka sudah tidak mampu lagi untuk tegak ditempatnya. Sekali-kali mereka terhuyung-huyung dan bahkan hampir- hampir mereka tidak kuat lagi menahan tubuhnya sendiri.

Karebet itu berdiri bertolak pinggang. Ditatapnya wajah para peronda itu satu demi satu. Kemudian terdengar ia tertawa nyaring. Katanya disela-sela suara tertawanya, “He, katakan sekarang kepadaku. Apakah aku masih harus mentaati peraturanmu?”

Jawab peronda itu mengejutkan Mas Karebet. Singkat namun penuh ketegasan. “Ya” Tetapi kembali terdengar suara Karebet itu tertawa berkepanjangan. Katanya pula, “Sekarang kau lihat, bahwa peraturan itu tidak berlaku bagiku. Yang berlaku bagiku adalah tenagaku. Kalau kalian mampu mengalahkan aku, barulah aku akan tunduk kepada kalian.”

“Mungkin kau mampu mengalahkan kami” sahut salah seorang peronda itu, “Tetapi kau tak akan mampu menghapus peraturan yang berlaku di daerah ini. Mungkin kau kali ini dapat menghindarkan diri atas berlakunya peraturan itu. Namun tidak untuk selamanya. Kau pasti akan dihadapkan pada satu pilihan, mentaati peraturan yang berlaku di Banyubiru atau pergi meninggalkan Banyubiru.”

“Omong kosong” sahut Karebet. “Kau tidak mau mengakui kekalahanmu. Kau masih akan mencari-cari kebanggaan pada persoalan yang lain. Lebih baik kalian mengaku atas kekalahan ini. Hati kalian akan menjadi lapang. Dan kalian akan segera melupakannya.”

“Tidak” sahut peronda yang lain. “Kami tidak akan dapat melupakan. Meskipun kali ini ada seorang yang dapat meloloskan diri dari keharusan yang berlaku, tetapi di lain kali tidak akan terulang kembali.”

Karebet itu pun tertawa pula. “Kalian adalah laskar yang baik” katanya, “Selagi kalian berhadapan dengan maut pun kalian masih tetap dalam tugas kalian. Nah, bagus. Karena itu maka Banyubiru menjadi kuat.”

“Jangan terlalu sombong.”

“Aku tidak sombong. Aku berkata sebenarnya. Dan kau pun berkata sebenarnya. Aku orang yang tidak mempunyai tempat tinggal yang mengikat aku, sehingga aku pun tidak terikat pada peraturan di daerah mana pun juga. Aku akan berbuat apa saja yang aku kehendaki. Termasuk gadis yang hilang itu.”

“He” para peronda itu terkejut seperti disengat labah-labah biru. Betapa pun mereka menjadi lemah, namun mereka melangkah pula maju sambil berkata. “Apakah yang kau katakan tadi. Gadis yang hilang beberapa hari yang lampau yang kau maksudkan?”

“Ya” sahut Karebet. “Gadis yang hilang itu telah aku ambil.”

“Setan” terdengar salah seorang peronda itu mengumpat. “Sekarang kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini.”

“Apakah kau ingin bertempur lagi?”

“Kami belum benar-benar kau lumpuhkan” sahut peronda itu. Dan tiba-tiba terdengar gemerincing pedangnya. Dan pedang itu pun kini telah berada di dalam genggamannya. Kawan-kawannya pun segera menarik senjata-senjata mereka pula. Berkata pula peronda itu. “Kami tidak bisa mempergunakan senjata kami apabila tidak terpaksa. Kini kami melihat, bahwa seandainya kami melukai dan bahkan apabila terpaksa membunuhmu, bukan salah kami. Kami tidak biasa berbuat demikian dalam keadaan yang damai seperti sekarang. Namun keadaan ini pun keadaan yang tidak bisa pula.”

Karebet mundur selangkah. Katanya, “Jangan menjadi gila karena kekalahan kalian. Jangan bermain-main dengan senjata. Siapa yang bermain-main dengan pedang, maka ia akan sampai pada kemungkinan dilukai dengan pedang pula.”

“Kami berpijak pada kewajiban kami.”

“Bagus. Sudah aku katakan, kalian adalah laskar Banyubiru yang baik. Tapi bagaimanakah kalau kita hindarkan pertempuran ini?”

“Hanya ada satu kemungkinan” sahut peronda itu. “Serahkan Endang Widuri.” “Syaratmu terlalu berat”

“Tidak ada syarat yang lain” “Kalau begitu, baiklah aku melawan dengan pedang pula.”

Sebelum para peronda itu menjawab, maka Karebet itu pun telah menggenggam sebilah pedang pula. Pedang yang tidak terlalu panjang, namun benar-benar telah menggetarkan hati para peronda itu. Apalagi ketika Karebet itu berkata. “Kalian sudah tidak dapat berdiri tegak lagi. Apakah kalian masih mampu mengayunkan pedang?”

Para peronda itu tidak menjawab. Kembali mereka mendesak maju. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka melihat tiba-tiba saja Karebet telah meloncat sambil memutar pedangnya. Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan berganda, maka dengan getar kemarahan yang meluap-luap di dalam dada, mereka melihat duabilah pedang dari kelima pedang itu telah terlempar jatuh.

“Kenapa kau letakkan pedang-pedang itu?” ejek Karebet.

Mereka menjadi semakin marah. Dengan serta mereka ketiga kawannya menyerang bersama-sama. Tetapi Karebet tidak melawannya. Ia bergeser mundur sambil berkata, “Kalian terlalu payah. Seandainya aku berlari-larian tanpa melawan sekali pun, maka kalian akan jatuh dan mati kelelahan. Nah, apakah yang akan kalian lakukan kemudian?”

Para peronda itu menggeram. Namun kata-kata itu dapat dimengertinya. Mereka tidak akan mampu lagi berlari-larian mengejar Karebet yang dengan sombongnya berloncatan di antara batu padas di lereng bukit Telamaya itu.

“He para peronda yang baik” berkata Karebet itu kemudian. “Jangan mengejar-ngejar aku lagi. Kalian akan menjadi pingsan karenanya. Lebih baik kalian kembali ke rumah Daerah Tanah Perdikan Banyubiru. Katakanlah kepadanya, bahwa Endang Widuri yang hilang itu telah aku bawa. Namaku Karebet, berasal dari daerah Pengging. Katakan kepadanya bahwa gadis itu telah aku sembunyikan. Nanti beberapa hari lagi, apabila purnama naik, maka Baginda Sultan Trenggana akan berburu di hutan Prawata. Pada saat itulah gadis itu akan aku serahkan kepada Baginda untuk puteranya, Pangeran Timur. Kalau Arya Salaka tidak merelakannya, maka aku akan tunggu di hutan itu. Suruhlah ia datang dengan pasukan segelar sapapan. Maka kedatangannya akan aku sambut dengan gembira.

Sebenarnya aku adalah Lurah Wira Tamtama yang terpercaya. Pasukanku telah sedia untuk mengamankan perbuatanku ini.”

Para peronda mendengar kata-kata itu dengan tubuh yang gemetar. Gemetar karena marah, heran, dendam dan kecewa. Tetapi mereka kini merasa, wajarlah bahwa mereka tidak mampu melawan anak muda yang bernama Karebet itu, sebab ia adalah Lurah Wira Tamtama. Tetapi mereka menjadi heran dan kecewa, apakah kekuatan itu sudah seharusnya dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang aneh-aneh. Apakah dengan demikian, maka Karebet benar-benar telah berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang Wira Tamtama?

Tetapi para peronda itu benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu melihat Karebet itu kemudian meloncat diatas sebuah batu padas sambil menengadahkan dadanya. “Inilah Karebet yang teguh timbul.

He para peronda, sampaikanlah kata-kataku kepada Arya Salaka yang berbangga hati memiliki Sasra Birawa. Nah, selamat malam, aku tunggu anak muda itu di hutan Prawata nanti pada saat purnama naik. Sebagai Kebo-Danu Banyubiru yang perkasa.”

Bukan main marah para peronda itu, sehingga salah seorang dari padanya yang tidak tahan lagi mendengar kesombongan Karebet itu dengan serta merta melontarkan pedangnya. Tetapi dengan tawa yang menyakitkan hati, pedang itu disentuh oleh Mas Karebet dengan pedangnya pula. Suara gemerincing di lereng bukit itu, memberitahukan bahwa pedang yang dilontarkan itu terlempar jatuh ke dalam lereng yang terjal.

“Lihatlah bulan yang hampir bulat di langit. Meskipun bulan itu sudah hampir tenggelam. Itu adalah pertanda bahwa saat purnama tidak akan terlalu lama lagi.”

Sebelum para peronda itu berbuat sesuatu, maka bayangan anak muda yang berdiri di atas batu karang itu seakan-akan melayang yang hilang di balik batu itu. Para peronda itu masih berusaha untuk mengejarnya, tetapi mereka sudah tidak menemukan lagi. Jejaknya pun tidak.

Berbagai perasaan bergolak di dalam dada para peronda itu. Sudah sekian lama mereka mencari seorang gadis yang hilang. Dan sudah sekian lama mereka tidak dapat menemukan jejaknya. Kini tiba-tiba mereka mendengar langsung, bahwa gadis itu telah dilarikan oleh anak muda yang bernama Karebet. Dengan suara parau peronda itu berkata, “Pantas. Kalau bukan anak muda itu, maka sudah pasti Endang Widuri tidak akan berhasil dikalahkannya. Bukankah anak gadis itu sendiri mampu bertempur melampaui kita masing-masing. Bahkan kita berlima sekaligus.” Yang lain-lain menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tidak dapat tinggal diam dengan penuh kekaguman. Tiba-tiba mereka sadar, bahwa apa yang mereka lihat dan mereka dengar itu harus mereka sampaikan kepada Kepala Daerah Perdikan mereka. Karena itulah maka dengan tergesa-gesa mereka berjalan kembali ke gardu mereka. Menceriterakan kepada kawan-kawan mereka yang mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman.

“Kami akan pergi ke rumah Ki Ageng” berkata peronda itu.

“Kenapa kalian tidak memberi tahukan kepada kami? Mungkin kami akan dapat membantu menangkap orang itu, apabila kami datang bersama-sama.”

“Sudah kami usahakan, tetapi kami tidak sempat melakukan.”

Kelima orang itu pun segera meninggalkan gardu mereka, dan dengan tergesa-gesa pergi ke rumah Ki Ageng Gajah Sora. Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan. Para penjaga di rumah Ki Ageng itu pun terkejut pula. Dengan serta merta mereka bertanya, “Ada apa digardumu?”

“Penting sekali” jawab yang ditanya. “Kami menghadap Ki Ageng.” “Malam-malam begini? tidak besok pagi?”

“Terlalu penting.” “Soal apa?”

“Gadis yang hilang itu.”

“He” penjaga itu terkejut. “Kau menemukannya.” “Akan aku beritahukan kepada Ki Ageng.”

“Ya. Tetapi apakah sudah kau ketemukan?”

“Berilah kesempatan aku bertemu Ki Ageng. Tergesa-gesa sekali.”

“Oh” penjaga itu pun sadar, bahwa ia harus membangunkan Ki Ageng. Karena itu, maka cepat-cepat ia pergi ke samping rumah dan perlahan-lahan mengetuk dinding ditentang pembaringan Ki Ageng.

“Siapa?” terdengar sapa dari dalam. “Kami, para penjaga Ki Ageng.” “Ada apa?”

“Seseorang peronda melaporkan tentang gadis yang hilang itu.”

“He” Ki Ageng Gajah Sora terkejut sehingga ia terloncat dari pembaringannya. Penjaga yang membangunkan itu mendengar pembaringan Ki Ageng berderak dan didengarnya langkah tergesa-gesa keluar dari dalam biliknya.

Sesaat kemudian didengarnya pintu pringgitan terbuka, dan Ki Ageng muncul di ambang pintu.

“Siapa yang membangunkan aku?”

Penjaga itu telah berdiri disamping tangga pendapa. Sehingga dari sana ia menjawab, “Aku Ki Ageng.”

“Kemari. Kemarilah. Katakan apa yang kau ketahui tentang gadis itu.”

Penjaga-penjaga itu pun membawa kelima orang peronda yang bertemu dengan Karebet, naik ke pendapa. Ki Ageng Gajah Sora pun segera menerima mereka.

“Penting sekali?” bertanya Ki Ageng.

“Ya, Ki Ageng” jawab salah seorang dari mereka.

“Apakah kalian menemukan jejaknya,” bertanya Ki Ageng. “Ya” jawab peronda itu.

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berkatalah ia kepada penjaga rumahnya, “Bangunkan tamu-tamu kita. Mereka sebaiknya mendengar juga tentang hal ini.”

Para penjaga itu pun segera membangunkan tamu-tamu Ki Ageng Gajah Sora yang berada di dalam gandok-gandok rumah itu. Ki Ageng Gajah Sora sendiri membangunkan Arya Salaka. Sehingga sesaat kemudian pendapa Banyubiru itu telah terjadi suatu pertemuan yang lengkap. Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Pandan Alas, Mahesa Jenar, Rara Wilis, Arya Salaka dan Kebo Kanigara beserta beberapa orang lain. Mahesa Jenar duduk dengan dada berdebar-debar. Hampir tidak sabar Arya Salaka bertanya dengan suara parau sambil mengusap matanya yang masih agak kemerah-merahan. “Cepat, katakan, apa yang kau lihat."

Peronda itu menarik nafas. Ia menjadi berdebar-debar pula setelah ia duduk bersama dengan orang-orang yang dikaguminya itu. Tidak hanya seorang tetapi beberapa orang. Bagaimanakah seandainya mereka bersama-sama maju bertempur. Di kenangnya kata- kata Mas Karebet itu. “Suruhlah ia datang segelar sapapan.” Tiba-tiba dada peronda itu seakan-akan mengembang. Dihadapannya duduk orang-orang sakti yang tidak kalah saktinya dengan Mas Karebet.

“He. Kenapa kau malah tertidur.” bentak Arya Salaka.

Orang itu terkejut. Dan dengan serta merta ia berkata, “Tidak. Aku tidak tertidur.” “Katakanlah”

Salah seorang dari peronda itu pun kemudian mulai dengan ceritanya. Ditemuinya seorang yang mencurigakan. Dan diketahui kemudian apa yang telah dilakukan. Orang itulah yang menculik Endang Widuri.

“Hem” geram Arya Salaka. “Kalian berlima tidak dapat menangkapnya.” “Tidak” jawabnya.

“Apakah kau dapat mengira-irakan bentuk atau ciri-ciri orang itu?” desak Arya tidak sabar.

“Orang itu menyebut namanya”

“He” bukan main terkejut Arya Salaka, dan bahkan semua yang ada di pendapa itu ”Orang itu berani menyebut namanya,” suara Arya benar-benar meluapkan kemarahan tiada taranya. Meskipun ia sadar, bahwa orang itu pasti seorang yang perkasa. Bahkan ia menyadari pula bahwa orang itu pasti terlalu percaya kepada diri sendiri. “Siapakah nama orang itu?” Peronda itu menarik nafas. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Apakah nama itu nama sebenarnya? Kalau tidak, maka akan sia-sialah laporannya ini. Atau kalau nama itu nama sebenarnya sekalipun, apakah orang-orang yang berada di pendapa ini telah pernah mengenalnya?

Karena ia tidak segera menjawab, maka Arya Salaka menjadi jengkel, sehingga ia berteriak. “Siapa namanya?”

Kembali peronda itu terkejut, dan dengan serta merta pula ia mengucapkan nama itu, katanya. “Ia menyebut namanya sendiri Karebet.”

“Karebet” tanpa disengaja Arya Salaka mengulangi nama itu dengan kerasnya. Bahkan sekali ia bergeser maju dan mengguncang tubuh peronda itu sambil berteriak. “Karebet kau bilang.”

Peronda itu mengangguk. “Ya”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan seisi pendapa. Benar-benar tak mereka sangka bahwa yang mengambil Endang Widuri adalah Mas Karebet. Beberapa orang yang belum pernah mendengar nama itu, belum dapat mengambil kesimpulan apa pun. Tetapi Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Rara Wilis serentak berpaling ke arah Kebo Kanigara. Dan terdengar Mahesa Jenar menggeram perlahan.

“Karebet.”

“Paman” tiba-tiba Arya Salaka itu berteriak. “Paman Kebo Kanigara. Bagaimanakah itu? Kenapa yang berbuat curang itu justru Karebet. Kenapa?”

Mahesa Jenar terpaksa bergeser pula maju. dengan sabarnya ia berkata. “Arya. Tenanglah. Tenanglah sedikit. Marilah kita berbicara dengan hati yang lapang.”

“Tetapi bukankah Karebet itu kemanakan paman Kebo Kanigara?”

“Ya. Karebet itu memang kemanakan pamanmu Kebo Kanigara,” sahut Mahesa Jenar, masih setenang semula. “Tetapi ingatlah. Yang hilang itu adalah anak pamanmu itu pula.”

“Oh” Arya Salaka menekan dadanya. Dada itu serasa akan pecah karenanya. Tetapi kini ia menundukkan wajahnya. Endang Widuri adalah puteri Kebo Kanigara. Sehingga dengan demikian, maka seharusnya Kebo Kanigaralah yang akan lebih dahulu marah daripada dirinya.

Kebo Kanigara menjadi gelisah pula karenanya. dengan wajah yang suram ia berkata, “Ya. Karebet adalah kemenakanku.”

Sesaat pendapa itu menjadi sepi. Angin yang dingin telah menyentuh tubuh-tubuh mereka yang hangat karena hati mereka yang terbakar oleh perasaan yang pelik ini.

Dalam keheningan itu kembali terdengar Suara Arya Salaka gemetar. “Sekarang dimanakah Karebet itu?”

“Anak muda itu telah menghilang."

“Hem” Arya Salaka menggeram penuh kemarahan. “Apakah kita akan dapat menemukannya?”

“Ya” sahut peronda itu.

“He. Apakah yang kau katakan” Arya Salaka menjadi semakin gelisah. “Kau katakan bahwa ada kemungkinan untuk menemukannya?”

“Ya” sahut orang itu. “Bahkan orang itu mengharap kedatangan kita. Orang-orang Banyubiru.” “Gila” teriak Arya. “Atau kaukah yang gila itu?”

“Tidak. Benar-benar dikatakannya. Nanti saat purnama naik, Baginda Sultan Tranggana akan berburu ke hutan Prawata.”

“Gila. Kau yang benar-benar telah gila. Aku bertanya tentang Karebet. Bukan tentang Sultan Tranggana,”

“Ini adalah kelanjutan dari peristiwa itu” sahut orang itu. “Nanti pada saat purnama naik, Baginda akan pergi berburu.”

“Itu sudah kau katakan.”

“Ya. ya,” peronda itu menjadi gugup. Dan karenanya maka kata-katanya menjadi kurang teratur. “Diperburuan itu, maka Karebet akan menyerahkan Endang Widuri kepada Baginda untuk puteranda Pangeran Timur.”

“Kau berkata sebenarnya?” potong Arya tergagap.

“Ya. Dan dikatakan oleh Karebet itu, bahwa seandainya Arya Salaka yang membanggakan Sasra Birawa itu tidak merelakannya, maka dipersilakan ia datang dengan pasukan segelar sappapan. Karebet yang katanya lurah Wira Tamtama akan menyambutnya dengan senang hati.”

“Begitu katanya?” teriak Arya. “Ya”

Kembali Arya Salaka kehilangan pengamatan diri. Sambil mengguncangkan tubuh peronda itu ia berteriak. “Dimana kau temui Karebet itu?”

“Diperbatasan, di Sendang Muncul.”

Arya Salaka tidak menjawab. Tiba-tiba ia meloncat berlari ke belakang. Semua terkejut melihat tingkahnya. Namun Mahesa Jenar dan ayahnya, Gajah Sora yang mengenal tabiat anak itu, segera mengetahui, bahwa Arya Salaka berlari untuk mengambil kudanya.

Karena itu maka keduanya hampir bersamaan memanggilnya. “Arya. Arya Salaka.”

Tetapi Arya Salaka tidak mendengarnya. Ia berlari terus ke kandang kudanya. Dengan tergesa-gesa dipasangnya pelana kudanya dan ditariknya kuda itu keluar kandang.

Sesaat kemudian terdengarlah derap kuda itu perpacu keluar halaman rumah Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi sesaat kemudian menyusul dua ekor kuda berlari seperti angin ke arah yang bersamaan.

Mereka adalah Mahesa Jenar dan Ki Ageng Gajah Sora sendiri yang tidak sampai hati melepas Arya Salaka yang sedang kebingungan itu. Apalagi Mahesa Jenar yang menyadari, bahwa tingkat ilmu Arya Salaka masih belum dapat disejajarkan dengan ilmu Mas Karebet yang aneh itu. Sehingga dengan demikian, seandainya mereka benar-benar bertemu, maka nasib Arya Salaka terlalu mencemaskan.

Mereka yang tinggal di pendapa rumah itu duduk membeku dalam kesuraman sinar pelita. Nyala api yang kemerah-merahan bergerak-gerak ditiup angin yang lemah. Daun- daun sawo di halaman bergoyang-goyang seperti sedang menarikan sebuah tarian yang pedih.

Kebo Kanigara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang bergelora di dalam dadanya. Tampaklah membayang di matanya kegelisahan dan kecemasan. Kadang-kadang ia menarik nafas dalam-dalam, dan kadang-kadang ia memejamkan matanya. Sesuatu yang maha berat sedang menghimpit hatinya, namun hatinya itu berdoa kepada Yang Maha Agung, semoga semuanya dapat selesai dengan sebaik-baiknya.

Arya Salaka yang berpacu di dalam gelap itu, benar-benar seperti orang yang mabuk. ia tidak ingat lagi bahaya yang dapat menerkamnya. Jurang-jurang yang terjal dipinggir jalan atau apapun yang dapat membahayakan perjalanannya. Yang ada dikepalanya hanyalah seorang anak muda yang bernama Karebet, seorang yang pernah dikagumi dan bahkan mereka pernah bergaul dengan rapatnya sebagai dua orang sahabat yang akrab.

“Kenapa kakang Karebet itu sampai hati berbuat demikian” desah Arya Salaka didalam hatinya.

“Tetapi, apapun yang pernah terjadi, sikap yang baik dan persahabatan yang akrab, namun bukan salahku kalau persahabatan itu kini pecah. Kenapa kakang Karang Tunggal tidak saja berkata terus terang dan membicarakannya dengan orang tua-tua.”

Semakin diangan-angankannya, maka darah Arya semakin meluap-luap. Arya Salaka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu sampai di perbatasan arah Sendang Muncul. Tetapi akhirnya ia sampai juga ke tempat itu. Tempat yang sepi senyap.

Dilihatnya beberapa onggok batu karang berserak-serakan di antara gerumbul-gerumbul yang bertebaran disana-sini. Arya Salaka yang marah itu menghentikan kudanya. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Diamatinya relung-relung hitam diantara batu-batu karang dan di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul yang ada disekitarnya. Tetapi Arya Salaka tidak mendengar suara apapun juga, seakan-akan daerah itu daerah pekuburan yang mengerikan. Tetapi Arya Salaka tidak puas dengan tajam matanya. Segera ia meloncat turun, dan dengan hati yang melonjak-lonjak ia berlari-lari mengelilingi daerah itu. Disasaknya gerumbul-gerumbul yang rimbun dan ditembusnya kegelapan malam di sela-sela batu karang. Tetapi yang dicarinya tidak diketemukannya.

Arya Salaka itu seakan-akan telah benar-benar kehilangan kesadaran diri .Tiba-tiba ia meloncat naik ke atas batu karang sambil berteriak keras-keras. “He Karebet. Jangan menunggu Purnama naik. Inilah Arya Salaka dari Banyubiru. Kita selesaikan persoalan kita tanpa menunda-nunda. Buat apa kau lakukan perbuatan terkutuk itu. He. Karebet. Karebet ”

Suara Arya Salaka menggeletar memukul tebing-tebing pegunungan. Suara gemanya bersahut-sahutan mengumandang di lereng bukit Telamaya. Namun suara itu menggeletar tanpa arti. Tak seorang pun yang menyahut.

Arya Salaka menjadi semakin marah. Sekali lagi ia berteriak. “Karebet. Dengan mengumpankan gadis itu, apakah kau akan diangkat menjadi Adipati. He. Marilah kita berhadapan sebagai jantan sejati. Tidak perlu dengan pasukan segelar sapapan. Karebet ”

Suara itu pun menggelepar di kesunyian malam. Gemerisik angin pegunungan membawa udara yang dingin sejuk. Helai-helai daun yang kuning berguguran satu-satu di tanah yang lembab oleh embun. Namun suara Arya Salaka itu hilang saja disapu hembusan angin.

Arya Salaka mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara telapak kuda mendekat. Ia tahu betul, bahwa mereka itu adalah orang-orang Banyubiru. Mungkin ayahnya, mungkin orang lain. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Ia masih saja tegak di atas batu karang. Bulan yang hampir bulat telah melekat di ujung pepohonan. Sinarnya telah memerah dan hampir tenggelam. Namun cahayanya yang dipantulkan oleh wajah Rawa Pening, masih tampak kuning kemerahan, berkilat-kilat.

“Arya” terdengar suara lembut dari bawah batu karang itu.

Arya yang sedang dibakar oleh kemarahannya itu, masih juga mendengar suara itu. Suara yang telah dikenalnya baik-baik, melampaui ayahnya sendiri. Suara itu adalah suara gurunya. Meskipun demikian untuk sesaat ia masih berdiam diri di atas batu karang itu. Gelora kemarahannya yang menghentak dadanya belum juga dapat ditenangkannya.

“Arya” suara itu didengarnya kembali. Betapa ia dihanyutkan oleh kemarahannya, namun suara itu benar-benar berpengaruh padanya. Karena itu maka Arya itu pun berpaling. Dilihatnya di dalam keremangan malam, dua orang yang masih duduk di atas punggung kuda. Gurunya, Mahesa, dan ayahnya Gajah Sora.

“Arya” kali ini ia mendengar suara ayahnya. “Turunlah.”

Arya masih berdiri di atas batu karang itu. Sekali tatapan matanya menyangkut pada bulan yang telah hampir lenyap di balik pepohonan yang tumbuh di lereng bukit. Tiba- tiba ia berkata nyaring. “Lihatlah ayah. Bulan hampir purnama. Aku harus segera bersiap untuk menyambut Karebet di hutan Prawata.”

“Sabarlah Arya” desis Mahesa Jenar. “Turunlah, marilah kita bicarakan soalmu ini.”

Arya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa di atas batu karang itu. Di atas batu karang itu tidak ditemuinya Karebet dan juga akan ditemuinya gadis yang hilang. Karena itu maka segera ia pun meloncat turun.

“Sebaiknya kau tenangkan hatimu Arya,” berkata Mahesa Jenar.