Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 44

Jilid 44

Meskipun menjelang tengah malam, namun laskar Banyubiru berjalan dalam derap irama sangkalala dan genderang yang menggema melingkar-lingkar di lereng bukit Merbabu itu. Suara sangkalala dan genderang itu telah mengejutkan segenap laskar Pamingit. Baik yang sedang bertugas, maupun yang sedang beristirahat. Karena itu segera mereka bangkit. Mereka yang kurang mengerti persoalannya, segera memegang senjata masing-masing. Tetapi kemudian para pemimpin mereka memberi mereka penjelasan-penjelasan yang didengarnya dari pemimpin pengawal yang sedang bertugas. Seperti juga yang lain-lain, mereka ragu. Karena itu mereka ingin menyaksikan kedatangan laskar Banyubiru itu dengan senjata di tangan.

Laskar Banyubiru memasuki Pangrantunan dengan derap yang mengagumkan. Di ujung barisan itu berjalan dengan tegapnya Bantaran, kemudian Penjawi. Diikuti oleh pasukan yang segar, yang memancarkan keteguhan hati mereka. Meksipun laskar ini tidak mempergunakan kesegaran yang khusus, namun di dalam dada mereka berakar tekad yang seragam. Mengabdi kepada tanah pusaka, tanah tercinta, yang diperuntukkan oleh Maha Pencipta bagi mereka.

Laskar Pamingit yang pecah, ketika melihat kedatangan laskar Banyubiru itu, merasa seolah-olah mendapatkan kekuatan baru dalam dirinya. Karena itu, tanpa disengaja, secara serta merta, mengumandanglah teriakan-teriakan mereka.

”Hidup laskar Banyubiru.... Hidup laskar Banyubiru ”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum melihat laskar Banyubiru lewat di hadapannya dalam keremangan cahaya bulan. Sungguh tak diduganya, betapa anak-anak Banyubiru, yang selama ini terpaksa menyingkir karena pokal Lembu Sora itu, dapat merupakan kesatuan yang sedemikian mengagumkan.

Dengan dada tengadah, dan percaya kepada keadilan Yang Maha Kuasa, yang telah menempa mereka menjadi laskar yang pilih tanding. Lembu Sora sendiri melihat pasukan itu dengan hati yang pecah-pecah. Setiap derap langkah mereka, merupakan pukulan yang dahsyat, yang seakan-akan memecahkan rongga dadanya. Satu-satu berterbanganlah kenangan-kenangan masa lampaunya yang memalukan.

Teringatlah, betapa ia berusaha mati-matian untuk meniadakan Arya Salaka. Dan tiba- tiba anak itu sekarang datang menyelamatkannya, menyelamatkan tanahnya. Apalagi ketika Lembu Sora menyaksikan laskar Banyubiru dengan mata kepala sendiri. Ia menjadi bertambah malu. Disangkanya bahwa laskar Arya Salaka tidak lebih dari gerombolan berandal yang hanya mampu mencegat orang pergi berbelanja ke pasar. Namun ketika sudah disaksikannya sendiri laskar itu, bergetarlah jantungnya, seperti udara yang digetarkan oleh suara genderang laskar Banyubiru itu. Dan terngianglah kembali kata-kata Kebo Kanigara, ”Golongan hitam bukanlah mereka yang hitam pada wadag dan tata kelahirannya, tapi golongan hitam adalah mereka yang berhati hitam.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Ia tidak kuasa lagi menyaksikan laskar yang perkasa itu. Tetapi lebih daripada itu, ia menjadi terharu atas kenyataan yang dialaminya. Terbayanglah di dalam rongga matanya, seolah-olah semua mata memandangnya dengan penuh penyesalan atas perbuatannya.

Lembu Sora terkejut ketika sekali lagi terdengar sorak, ”Hidup laskar Banyubiru.” Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Tampaklah di luar barisan berjalan Arya Salaka dengan tobak Kyai Bancak di tangannya bersama-sama Wulungan. Dada Lembu Sora menjadi berdentang karenanya. Tiba-tiba ia seolah-olah melihat kakak Gajah Sora berjalan di mukanya, memandangnya dengan marah dan berkata kepadanya, ”Lembu Sora, coba bunuhlah anakku itu kalau kau berani.”

Sekali lagi wajah Lembu Sora terbanting di tanah.

Yang mempunyai tanggapan lain adalah Sawung Sariti. Ketika pasukan Banyubiru itu lewat, terasa dadanya berdesir pula, karena iapun sama sekali tak menyangka, bahwa laskar itu dapat berbaris dengan tertib serta penuh kepercayaan pada dirinya. Betapa mereka menggenggam senjata mereka dengan cermatnya, sebagai tanda bahwa mereka menguasai setiap senjata yang berada di tangan mereka dengan baiknya. Di dalam hati kecilnya, Lembu Sora bersukur pula bahwa laskarnya tak terlibat dalam pertempuran dengan laskar Banyubiru itu. Sebab dengan demikian, ia akan terpaksa meninggalkan Banyubiru dengan nama yang ternoda, kalau terpaksa laskarnya tak mampu melawan laskar Arya Salaka itu.

TETAPI yang kemudian menguasai perasaan Sawung Sariti adalah sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia menjadi iri hati. Iri hati terhadap kemampuan Arya Salaka memimpin laskarnya, iri hati terhadap kegagahan laskar itu. Apalagi ketika ia melihat eyangnya tampak bangga, dan ayahnya bersedih. Sebelum laskar itu habis sampai ke ujungnya, ia sudah memalingkan mukanya. “Bagaimana Anakmas?” terdengar suara di belakangnya.

“Hem...” geramnya.

“Bagaimana menurut pendapatmu Galunggung?” “Tak berarti,” sahut orang itu.

“Besok atau lusa laskar yang sombong itu pasti sudah akan dihancurkan oleh arus laskar gabungan dari golongan hitam itu.”

Sawung Sariti mencibirkan bibirnya. “Laskarnya tak begitu banyak. Apa yang dibanggakan?”

“Yang datang hanya separo, Tuan.”

Tiba-tiba terdengar suara lain di sampingnya. Ketika keduanya menoleh, dilihatnya Srengga berdiri di situ.

“Dari mana kau tahu?” tanya Sawung Sariti “Dari pengawal,” jawab Srengga.

“Omong kosong,” sahut Galunggung dengan wajah yang dilapisi oleh kedengkian. Srengga kemudian berdiam diri. Yang lain pun diam. Sekali lagi mereka melayangkan pandangan mereka kepada pasukan yang lewat. Namun sesaat lagi habislah barisan itu. Mereka yang menyaksikan, segera kembali pula ke tempat masing-masing. Sebagian besar dari mereka merasa bahwa pekerjaan mereka akan diperingan karena kedatangan laskar itu. Bahkan mungkin, nyawa merekapun akan selamat pula. Laskar Pamingit akan bebas dari kemusnahan mutlak. Meskipun demikian, kemampuan tempur laskar Banyubiru masih perlu diuji.

Malam itu laskar Banyubiru beristirahat di tempat yang sudah ditentukan. Di halaman Banjar Desa yang tak begitu luas, sehingga sebagian besar dari mereka, harus duduk bersandar pagar di sepanjang jalan desa di muka banjar itu. Namun mereka dapat merasakan kenikmatan dari waktu istirahat itu.

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara kembali duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti dan Wulungan. Ki Ageng Sora Dipayana kemudian mengambil seluruh pimpinan di tangannya.

“Tak ada pilihan lain ayah,” jawab Lembu Sora. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk- anggukan kepalanya.

“Terima kasih atas keikhlasanmu Lembu Sora.” Selanjutnya, orang tua itu membuat perintah-perintah yang harus dilakukan oleh Arya Salaka beserta laskarnya, dan Lembu Sora dengan laskar Pamingit. “Menurut perhitunganku, serta pengintai-pengintai yang datang sampai saat terakhir, mereka tidak akan menyerang kedudukan kita sekarang ini,” kata Ki Ageng Sora Dipayana, “Sebab mereka merasa, bahwa jumlah laskar mereka tidak terlalu banyak, sehingga mereka lebih senang menanti kita datang menyerang.”

Tak seorangpun yang mengajukan pendapatnya.

“Karena itu...” orang tua itu meneruskan, “Kita masih mempunyai satu hari untuk beristirahat. Lusa kitalah yang mengambil peran, menyerang kedudukan mereka. Kita mengambil daerah pertempuran yang luas dengan gelar Jinatra Sawur atau gelar-gelar yang lain, yang menebar. Garudha Nglayang atau Sapit Urang.”

Tiba-tiba orang tua itu teringat bahwa di antara mereka duduk seorang bekas perwira prajurit pengawal raja, yang pasti mempunyai perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dalam peperangan antara dua pasukan yang berjumlah besar.

Karena itu segera ia berkata, “Bukankah begitu Angger Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar sadar pada kedudukannya. Maka iapun menjawab, “Demikianlah Ki Ageng, namun aku ingin mengusulkan, untuk melawan mereka yang biasa bertempur tanpa aturan, dan terlalu percaya pada kesaktian pemimpin-pemimpin mereka. Biarlah di antara kita pun ada beberapa orang yang terlepas dari ikatan gelar, untuk melayani pemimpin-pemimpin mereka yang tak mau mengikat diri itu.”

“Bagus,” sambut orang tua itu. “Kita pun mempunyai orang-orang semacam itu di sini. Titis Anganten, misalnya.”

Baru saat itulah Mahesa Jenar teringat bahwa di dalam laskar Pamingit itu terdapat seorang sakti yang bernama Titis Anganten. Karena itu kemudian ia bertanya, “Di manakah Paman Titis Anganten itu?”

“Ia berkeliaran sepanjang hari,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. “Tapi ia hadir dalam setiap pertempuran.”

“Kalau demikian, biarlah Paman Titis Anganten kita perhitungkan pula. Siapakah para pemimpin golongan hitam dari angkatan tua itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Bugel Kaliki, Sima Rodra, Pasingsingan, Nagapasa dan Sura Sarunggi,” jawab Sora Dipayana.

“Nah, kalau demikian kitapun harus melepaskan lima orang dari ikatan gelar itu. Bahkan barangkali lebih dari itu, untuk melawan tokoh-tokoh muda mereka, seperti Lawa Ijo dan Soka,” sahut Mahesa Jenar. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi siapakah lima orang itu? Mungkin dirinya sendiri dapat melayani setiap tokoh sakti lawan mereka itu, orang kedua adalah Titis Anganten, tetapi lalu siapa? Mahesa Jenar sendiri merasa, bahwa iapun sanggup untuk menyerahkan dirinya dalam pengabdian itu, namun agaknya sulitlah baginya untuk menyatakan diri. Tetapi dengan tak diduga-duga, terdengarlah suara Sawung Sariti dengan nada yang tinggi, “Siapakah lima orang dari kamu itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas. Ia melihat wajah cucunya dengan kecewa, juga nada suaranya tak menyenangkan. Namun orang tua itu menjawab, “Sudah menjadi kewajibanku untuk menjadi orang yang pertama cucu, sedang yang kedua eyangmu Titis Anganten.”

Kata-kata orang tua itu terputus. Ia ragu-ragu untuk meneruskan, dan memang tak diketahuinya siapa yang akan disebut namanya. “Lalu siapakah yang ketiga, keempat dan kelima...?” Sawung Sariti mendesak. Ki Ageng Sora Dipayana menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku belum tahu, Sariti.”

SAWUNG SARITI tersenyum. Senyum yang mengundang seribu satu macam kemungkinan.

Katanya, ”Kenapa bukan Paman Mahesa Jenar yang perkasa serta sahabatnya dari Karang Tumaritis itu?” Sawung Sariti mengharap bahwa Mahesa Jenar tidak akan menolak di hadapan sekian banyak orang. Kalau Mahesa Jenar menerima tawaran itu, apakah ia mampu berbuat demikian? Di Gedangan, Sima Rodra dan Bugel Kaliki pernah mengalami kekalahan, namun ia tidak yakin, bahwa kekalahan itu disebabkan karena Mahesa Jenar dan sahabatnya itu. Beberapa laskarnya melihat seorang berjubah abu-abu ikut serta membantu mereka. Dan ia tidak tahu, siapakah orang berjubah abu-abu itu. Apakah ia Pasingsingan. Tetapi Pasingsingan tidak akan gila. Malahan mungkin eyangnya itu sendiri atau Titis Anganten, atau Ki Ageng Pandan Alas. Sekarang, tanpa bantuan seorangpun Mahesa Jenar pasti akan binasa. Bukankah Arya Salaka tak banyak berarti tanpa Mahesa Jenar? Oleh perhitungan itu Sawung Sariti menjadi tegang menunggu jawaban dari orang yang dijerumuskannya ke dalam kesulitan itu. Mahesa Jenar tidak dapat tepat menebak maksud anak itu, namun ia merasa bahwa ada sesuatu maksud terkandung dibalik kata-katanya. Meskipun demikian perlahan- lahan ia menjawab, ”Baiklah Angger, kalau Angger Sawung Sariti berpendapat demikian, serta Ki Ageng Sora Dipayana menyetujuinya, aku dan sahabatku dari Karang Tumaritis ini akan bersedia untuk membantu.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut mendengar kesanggupan Mahesa Jenar itu. Karena itu ia segera memotong, ”Angger Mahesa Jenar, sebenarnya tidak perlu diartikan bahwa setiap orang harus melawan satu di antara mereka. Aku pernah memakai cara yang lain. Kelompok demi kelompok.”

Sebelum Ki Ageng meneruskan kata-katanya, Sawung Sariti telah menyela, ”Usaha itu ternyata gagal. Setiap kali, lima atau enam di dalam kelompok itu terbunuh.”

”Kalau demikian...” Mahesa Jenar menengahi, ”Biarlah aku berada dalam kelompok- kelompok itu. Demikian juga Kakang Putut Karang Jati ini. Biarlah ia berada pada kelompok yang lain.”

Ki Ageng Sora Dipayana tak dapat berbuat lebih baik lagi selain menyetujui terakhir Mahesa Jenar itu. Sawung Sariti menjadi agak kecewa karenanya, namun bagaimanapun juga ia mengharap Mahesa Jenar akan masuk kedalam perangkapnya.

Demikianlah akhirnya, mereka masing-masing meninggalkan pertemuan itu kembali ke dalam lingkungannya. Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara ke halaman Banjar Desa, sedang Lembu Sora dan Sawung Sariti kembali ke dalam pasukannya yang payah. Di dalam kelompok yang kecil itu tinggallah Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan. Yang akhirnya mereka mempergunakan sisa malam itu untuk beristirahat.

Pagi-pagi benar, Ki Ageng Sora Dipayana telah bangun. Ia menunggu kalau ada tanda- tanda atau laporan bahwa orang-orang dari golongan hitam mulai bergerak. Tetapi ternyata bahwa perhitungannya benar. Hari itu mereka masih dapat beristirahat sehari penuh, sebelum pada keesokan harinya mereka harus bekerja mati-matian. Kesempatan hari itu dipergunakan untuk menyusun kembali pasukan Pamingit, serta menempatkan mereka ke dalam pondok-pondok di desa itu. Demikian juga laskar Banyubiru pun telah disediakan tempat-tempat untuk bernaung dari dinginnya embun malam. Pada malam harinya, keadaan menjadi bertambah tegang. Mereka harus beristirahat sebaik-baiknya, sebab mereka tahu bahwa besok mereka harus bertempur kembali.

Yang paling tegang di antara mereka adalah Arya Salaka. Ia selalu teringat kepada ibunya. Kalau besok ia menerobos pertahanan golongan hitam, dan dapat mendesaknya, apakah yang akan dilakukan oleh golongan hitam itu terhadap ibunya? Tetapi ketika ia sedang berangan-angan di muka pondoknya, tiba-tiba muncullah dari kegelapan malam, seorang yang bertubuh kecil, berjalan seperti seorang perempuan mendekatinya. Beberapa langkah dimukanya orang berhenti dan bertanya, ”Arya Salakakah ini?”

Arya Salaka tahu siapa yang datang. Karena itu ia berdiri dan enyambutnya, ”Ya, Eyang.”

Orang itu tertawa perlahan-lahan. ”Kau sedang bersedih?” ”Tidak Eyang,” sahut Arya tergagap.

”Jangan berdusta. Kau rindu pada ibumu?” tanya Titis Anganten pula. Arya Salaka tertegun. Orang tua itu dapat menebak perasaannya dengan tepat. Namun demikian ia agak malu juga untuk mengiyakan. Ketika Arya diam, bertanyalah Titis Anganten itu, ”Pamanmu ada...?”

”Ada, eyang. Apakah Eyang mau bertemu dengan Paman Mahesa Jenar?” tanya Arya pula. ”Tidak,” jawab orang tua itu sambil duduk di samping Arya. ”Aku hanya perlu kau. Ada sebuah berita untukmu.” Arya menjadi tertarik pada berita yang dibawa oleh Titis Anganten itu. ”Berita pentingkah itu Eyang?” tanya Arya.

”Sangat penting bagimu, bagi ketentraman hatimu,” jawab Titis Anganten. ”Berita tentang ibumu.” Arya terlonjak.

”Ibu...?” Ia menegaskan. ”Ya.”

”Bagaimanakah dengan ibu?” Ia tidak sabar lagi.

”Duduklah Arya. Dengarlah baik-baik. Aku akan berceritera tentang ibumu,” kata Titis Anganten perlahan-lahan.

Arya duduk kembali. Ia menjadi sedemikian ingin segera mengetahui, berita apakah yang akan disampaikan kepadanya.

TITIS ANGANTEN memulai, ”Ketika golongan hitam itu menyerbu Pamingit, Pamingit sedang kosong. Pamanmu Lembu Sora dan adikmu Sawung Sariti berada di Banyubiru. Mereka sedang bersiap-siap untuk menghadapi laskarmu. Nah, dengan mudahnya golongan hitam itu dapat masuk ke dalam kota. Hampir tanpa perlawanan. Semua laskar Pamingit yang ada lari cerai berai. Tak ada seorang pun yang ingat untuk menyelamatkan Nyai Lembu Sora dan ibumu. Untunglah bahwa aku sejak semula selalu melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Aku melihat persiapan- persiapan yang dilakukan oleh golongan hitam. Sehingga dengan demikian aku sempat menyingkirkan bibi serta ibumu itu.”

”Jadi ibuku selamat?” tanya Arya. ”Ya. Ibumu selamat,” jawab Titis Anganten.

Tiba-tiba rongga dada Arya serasa tersumbat. Nafasnya menjadi sesak. Dan tidak setahunya ia berbisik, ”Tuhan Maha Besar.”

Kemudian Arya memutar duduknya dan bersujud kepada orang tua yang menyelamatkan ibunya itu sambil berkata, ”Tak dapat aku menyatakan betapa besar terima kasihku kepada Eyang Titis Anganten.”

Orang tua itu tertawa nyaring. Kemudian tanpa berkata sepatah katapun ia berdiri dan berjalan pergi. ”Eyang ” Arya mencoba memanggil.

Tetapi Titis Anganten tidak berhenti. Yang terdengar hanyalah derai tawanya. Lamat- lamat kemudian terdengar ia berkata, ”Aku sudah mengantuk. Besok aku akan turut bertempur dengan eyangmu.”

Kembali Arya tertegun diam. Ia tidak sempat bertanya di mana ibunya sekarang. Namun ia percaya bahwa Titis Anganten telah menempatkan ibunya itu di tempat yang aman. Dengan demikian hati Arya Salaka menjadi agak tenteram. Tidak perlu lagi ia mencemaskan nasib ibunya, meskipun seandainya orang-orang golongan hitam nanti menghancurlumatkan Pamingit.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, Arya pun segera masuk ke dalam pondok yang disediakan untuknya. Dilihatnya gurunya sedang tidur dengan nyenyaknya di samping Kebo Kanigara.

Di luar, beberapa orang masih duduk berjaga-jaga. Tetapi malam itu Arya dapat tidur dengan nyenyaknya. Ia tidak peduli lagi apa yang terjadi atas dirinya besok pagi. Namun ia malam itu bermimpi indah. Ia melihat ibunya segar bugar, tersenyum kepadanya sambil berkata, ”Arya, sambutlah dengan kedua tanganmu. Hari akan cerah.”

Arya tersenyum di dalam tidurnya. Pagi-pagi ia terbangun oleh kesibukan di halaman. Beberapa orang telah siap dengan senjata di tangan, meskipun beberapa orang masih enak-enak menikmati minum air sere yang hangat, dengan segumpal gula kelapa. Dilihatnya gurunya, Mahesa Jenar dengan Kebo Kanigara pun sedang minum dengan segarnya.

Cepat-cepat Arya mengambil air wudlu.

Sesudah sembahyang Subuh, kemudian ia pun turut serta duduk di sekitar perapian sambil menghangatkan tubuhnya. Sebentar kemudian datanglah beberapa orang mengantar nasi hangat, dengan srundeng kelapa dan segumpal sambal wijen. Betapa nikmatnya mereka makan bersama sebelum mengadu nasib, berjuang di antara hidup dan mati. Nasi itu adalah mungkin sekali nasi yang terakhir yang dapat dinikmatinya. ”Kita berada di sayap kiri.”

Terdengar gurunya bergumam. Arya mengangguk sambil menelan segumpal nasi lewat lehernya.

Setelah mereka mengaso sejenak, terdengarlah tengara dibunyikan. Laskar Banyubiru itupun segera bersiap, dan berbaris menuju ke sawah di depan desa Pangrantunan. Mereka, dengan tidak menghiraukan lagi tanaman-tanaman yang sedang tumbuh, segera merapatkan diri dalam barisan.

Beberapa orang pemimpin dari laskar masing-masing segera menghadap Ki Ageng Sora Dipayana untuk mendapat beberapa cara menghadapinya. Apabila mungkin, mereka harus memilih lawan. Jangan sampai ada korban sia-sia. Ketika sangkalala berbunyi, barisan itu mulai bergerak. Dalam keremangan pagi, tampaklah barisan itu seperti seekor naga raksasa yang berenang di dalam air yang keruh.

Di depan, berjalan laskar Pamingit, di bawah pimpinan Lembu Sora sendiri, dibantu oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Sedangkan di belakang, berjalan laskar Banyubiru, di bawah pimpinan Arya Salaka, dibantu oleh Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat. Di tangan Arya Salaka tergenggam erat-erat pusaka Banyubiru, Kyai Bancak.

BEBERAPA orang pengintai telah dikirim lebih dahulu, untuk mengetahui di mana kira- kira orang-orang dari golongan hitam itu mempersiapkan diri. Biasanya mereka sama sekali tidak membuat garis-garis pertahanan yang tegas. Mereka bertempur di mana saja mereka ingin dan kapan saja mereka sempat. Tetapi jelas, bahwa kali ini mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan Pamingit. Bahkan mereka merasa bahwa lawan mereka telah separo hancur, sehingga untuk menumpasnya tidaklah terlalu sulit.

Tetapi agaknya pengawas merekapun telah mengetahui kedatangan laskar Banyubiru, sehingga dengan demikian mereka menjadi heran, apakah agaknya Arya Salaka telah menjadi gila. Apalagi kemudian, kedua laskar itu berada di Pangrantunan bersama-sama. Tidak seperti yang mereka harapkan, bertempur satu sama lain.

Dengan bangga atas kekuatan sendiri, Sima Rodra berkata, ”Kalau di dalam laskar Banyubiru itu ada Mahesa Jenar, akulah lawannya. Sebab ia telah membunuh menantuku.”

Beberapa lama kemudian pengintai dari Pamingit itupun melaporkan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa orang-orang golongan hitam itu tidak bergerak dari Kepandak.

Namun orang-orang mereka yang di Sumber Panas pun telah ditariknya. Mereka memusatkan kekuatan di satu tempat, untuk menghadapi laskar Pamingit dan Banyubiru. Demikianlah ketika mereka telah berhadap-hadapan dengan desa Kepandak, Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan laskarnya. Kemudian diperintahkannya laskar Pamingit dan Banyubiru membentuk gelar perang Sapit Urang. Laskar Pamingit dan Laskar Banyubiru itu pun segera bergerak dalam garis yang menebar, laskar Pamingit di sayap kanan, laskar Banyubiru di sayap kiri, yang masing-masing merupakan sapit dari seekor udang raksasa yang siap menerkam lawannya.

Di pusat gelar yang justru tidak terlalu banyak, tampaklah beberapa bagian laskar Pamingit dan dua orang yang berdiri lepas dari gelar, masing-masing Ki Ageng Sora Dipayana dan Titis Anganten. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di muka laskar Banyubiru, sapit sebelah kiri, di bawah pimpinan Arya Salaka. Di hadapan mereka, berjajar rapat di tepi desa Kepandak, orang-orang dari golongan hitam. Merekapun agaknya telah mengerahkan segenap laskar mereka. Mereka sama sekali tidak membentuk gelar apapun, karena itu, mereka dapat menyerang ke mana saja mereka inginkan.

Tetapi ketika orang-orang dari golongan hitam itu melihat gelar lawannya, mau tidak mau merekapun harus menyesuaikan diri mereka. Melawan bagian-bagian yang terberat dengan orang-orang yang terkuat.

Ketika di timur cahaya matahari sudah semakin terang, sebelum bola api itu muncul di wajah-wajah langit, kedua laskar itupun telah berhadap-hadapan dalam kesiagaan tempur. Jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas siapakah yang berada di pihak masing-masing.

Di muka barisan laskar golongan hitam itu berdiri beberapa orang pemimpin mereka, yang dengan tertawa-tawa menanti kedatangan lawan. Mereka itu adalah Pasingsingan dengan jubah abu-abunya,

Sima Rodra yang kali ini lengkap dengan kulit harimau hitamnya, namun ia tidak mengenakan topengnya. Nagapasa, Naga dari Nusakambangan, Sura Sarunggi dari Rawa Pening yang menyimpan dendam tiada taranya atas kematian muridnya, sepasang Uling dari Rawa Pening. Dan hantu dari Gunung Cerme, Bugel Kaliki.

”Ada laskar Banyubiru serta?” tanya Bugel Kaliki kepada Pasingsingan.

”Ya, tetapi tak seberapa. Mereka tak akan berarti apa-apa menghadapi laskar kita,” jawab Pasingsingan.

”Namun yang harus mendapat perhatian adalah Mahesa Jenar.” Sima Rodra tertawa.

”Biarlah aku selesaikan,” katanya.

Pasingsingan mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia ragu. Sima Rodra belum tahu, sampai di mana tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh Mahesa Jenar. Namun demikian ia berdiam diri. Mudah-mudahan Sima Rodra benar-benar dapat menandingi.

”Sekarang mereka mendapat bantuan anak gila dari Banyubiru itu. Sungguh suatu perbuatan yang tak dapat aku mengerti. Kenapa Arya Salaka tidak saja merebut tempatnya kembali. Kenapa justru ia membantu Pamingit?” tanya Sura Sarunggi.

”Ia benar-benar gila,” jawab Pasingsingan.

”Sedang perhitungan kita memang terlalu cepat satu hari saja. Kalau kita tunda serangan kita dengan satu hari, keadaannya akan lain. Laskar Banyubiru dan Pamingit pasti sudah bertempur. Tetapi bagaimanapun juga, tak ada bedanya. Kita pasti akan melawan kedua- duanya. Sekarang atau besok. Bahkan kehadiran laskar Banyubiru itu akan mempercepat penyelesaian.”

Nagapasa mengangguk-angguk sambil berdesis. tepat seperti desis seekor naga. ”Siapakah yang harus dilawan dari mereka?”

”Seperti kemarin dulu,” jawab Pasingsingan.

”Sora Dipayana, Titis Anganten. Dan sekarang tambah satu lagi, Mahesa Jenar. Tetapi agaknya Sima Rodra ingin menyelesaikan.”

Tiba-tiba kening mereka berkerut ketika mereka melihat seseorang yang dengan serta merta, menerobos masuk dalam laskar Pamingit.

”He...!” seru Bugel Kaliki, ”Orang gila itu datang pula.”

Mereka menjadi terdiam. Namun kehadiran satu orang di dalam barisan Pamingit itu benar-benar diperhitungkan

DEMIKIANLAH, Ki Ageng Sora Dipayana sendiri terkejut atas kehadiran seorang sahabat lamanya. Namun terbersitlah kegembiraan di hatinya. Dengan kehadiran orang ini, sedikit banyak akan dapat mengubah keseimbangan laskar di kedua belah pihak. Karena itu dengan tersenyum ia menyambut kedatangan orang itu dengan penuh gairah.

”Selamat datang Danyang Gunung Kidul.” ”Eh, aku hampir terlambat,” jawabnya.

”Agaknya orang Banyuwangi itu telah ada pula di sini.”

Titis Anganten tertawa. ”Kau terlalu malas,” jawabnya. ”Aku, yang berjarak ribuan tonggak telah datang lebih dahulu.”

Danyang Gunungkidul itu, Ki Ageng Pandan Alas, tertawa. Sahutnya, ”Kerjamu tidak ada lain kecuali berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Sedang aku masih harus menunggu jagung tua.”

”Ah, orang yang hidupnya terikat pada tanaman jagung. Kalau dunia ini akan meledak, kau masih saja menunggui jagungmu?” sela Ki Ageng Sora Dipayana. Ki Ageng Pandan Alas tertawa. Namun ia sudah berjalan pula di samping Sora Dipayana.

”Nah, pilihlah aku lawan,” katanya. ”Terserah kepadamu,” jawab Sora Dipayana.

”Yang bongkok, yang berkulit macan, yang berkepala besar atau yang mana?”

”Mana saja yang terdekat,” jawab Pandan Alas seenaknya. Tetapi meskipun demikian, dalam waktu yang cepat ia telah berhasil menilai lawan-lawannya. Ia benar-benar terkejut ketika ia melihat Mahesa Jenar berdiri di sapit sebelah kiri.

Namun ia agak tenteram setelah dilihatnya Putut Karang Jati yang bernama pula Kebo Kanigara. Ia telah mengenalnya sebagai putra Ki Ageng Pengging Sepuh di bukit Karang Tumaritis. Ia berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan kedua orang itu dapat menempatkan diri sebaik-baiknya, sehingga kedua-duanya tak menemukan cidera. Juga ia berdoa mudah-mudahan Arya Salaka dapat membawa dirinya di antara laskarnya. Sesaat kemudian, kedua laskar itu telah mencapai jarak yang menentukan. Sebelum laskar Pamingit mulai, terdengarlah orang-orang laskar itu berteriak nyaring, sambil berloncatan menyerbu. Sementara itu Ki Ageng Lembu Sora segera menggerakkan tangannya yang telah menggenggam pedangnya yang besar sekali, memberi aba-aba kepada laskarnya untuk bertempur.

Tanda itu segera diteruskan oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Merekapun memutar pedang masing-masing di udara, sebagai perintah untuk bertempur. Di sayap kiri, tampaklah berkilauan tombak pusaka di tangan Arya Salaka. Dengan tekad yang bulat, ia telah menyerahkan dirinya untuk melakukan pengabdian. Dengan doa di dalam hati, ”Tuhan akan menyertai kami dan memberkahi pengabdian kami.”

Ketika ia mengangkat tombaknya, berkilat-kilat pulalah pedang Bantaran, Penjawi dan tombak bermata dua ditangan Jaladri. Merekapun meneruskan aba-aba Arya Salaka kepada laskar mereka, yang bergerak sebagai sapit kiri dari gelar Sapit Urang. Sesaat Arya Salaka melihat Bantaran beserta laskarnya mendesak maju. Mereka melingkar untuk kemudian menyerang dari lambung. Tetapi orang-orang dari golongan hitam itu tidak mempergunakan gelar tertentu, sehingga merekapun menghambur menyerang laskar Bantaran dari arah yang mereka sukai. Meskipun demikian, Bantaran tidak menjadi bingung. Ia tetap bertempur dalam gelar kiri. Laskarnya yang bersenjata pedang dengan perisai di tangan kiri, bertempur seperti banteng-banteng yang tangguh. Demikian juga laskar Jaladri di bagian tengah sapit kiri. Laskar yang sebagian besar bersenjata tombak inipun bertempur dengan semangat yang menyala-nyala. Mereka sadar, betapa orang-orang dari golongan hitam itu harus dimusnahkan. Sebab satu saja mereka tinggal, akan dapat merupakan benih buat masa datang. Sedang laskar Penjawi berada dekat dengan induk pimpinan. Seperti juga Penjawi sendiri, laskarnya bertempur tanpa mengenal takut, meskipun mereka sadar bahwa orang-orang dari golongan hitam itu dapat berbuat hal-hal di luar batas-batas perikemanusiaan. Namun justru karena itulah maka mereka harus dimusnahkan.

Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, masih berdiri, di antara kedua pihak yang sudah terlibat dalam pertempuran itu. Ia melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian pandangannya menebar ke segenap penjuru pertempuran. Di sebelah kirinya, tidak terlalu jauh, ia melihat Ki Ageng Pandan Alas menyusup ke dalam daerah pertempuran untuk mendekati Pasingsingan.

Agaknya ia benar-benar ingin tahu, apakah Pasingsingan ini benar-benar Pasingsingan sahabatnya dahulu. Ia masih ingat, di alun-alun Banyubiru, ia pernah bertempur dengan Pasingsingan itu. Meskipun Pasingsingan itu mempunyai pusaka-pusaka dengan ciri-ciri khususnya, namun ia tetap meragukannya. Demikianlah, supaya kedatangannya di Pangrantunan ini ada juga hasilnya, apabila ia benar-benar dapat mengetahui, siapakah yang bersembunyi di balik topeng yang jelek itu.

Pandan Alas menyesal, bahwa ketika ia dengan tergesa-gesa berangkat dari Gunungkidul, ketika didengarnya kabar, tentang kerusuhan di Banyubiru, yang ternyata seterusnya berkembang menjadi kerusuhan-kerusuhan di Pamingit dan Pangrantunan, tidak diajak serta muridnya, Sarayuda, yang setidak-tidaknya akan dapat membantu memperingan pekerjaan laskar Pamingit dan Banyubiru. Tetapi yang didengarnya semula adalah persoalan yang lain. Persoalan antara Banyubiru dan Pamingit.

Di arah yang lain, ia melihat Titis Anganten, berdiam diri sambil tersenyum-senyum. Orang itupun agaknya sedang menikmati kesibukan pertempuran itu. Ia menunggu saja, siapakah yang akan datang kepadanya. Hanya sekali-kali ia harus bergerak menghindari serangan dari laskar golongan hitam, yang menyangka bahwa Titis Anganten itu dapat dikenalinya dengan mudah.

PARA penyerang itu menjadi kecewa setelah mereka sadar, bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Titis Anganten. Karena itu segera mereka mencari sasaran lain, dan menyerahkan Titis Anganten itu kepada para pemimpin mereka. Namun sesaat kemudian, ia melihat Titis Anganten itu tertawa, sambil meloncat maju menyongsong seorang yang bertubuh tegap tinggi dan berkepala besar. Sura Sarunggi dari Rawa Pening.

Sesaat kemudian Ki Ageng Sora Dipayana melihat Bugel Kaliki, Si Bongkok dari Gunung Cerme, datang ke arahnya. Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. Agaknya ia harus bertempur melawan hantu bongkok itu. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal benar bahwa Si Bongkok itu seperti bertangan bara. Sentuhan-sentuhan atas tubuh lawannya oleh tangan Bugel Kaliki itu, kulitnya pasti akan terkelupas. Namun Bugel Kaliki itupun sadar. Sentuhan tangan Ki Ageng Sora Dipayana dapat merontokkan isi dada, dan dapat menghentikan peredaran darah. Bagian dari aji Lebur Sakethi sungguh tak dapat diabaikan. Apalagi Lebur Saketi dalam ujud kasarnya. Akan luluhlah setiap sasaran yang dapat dikenainya. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menyambut lawannya, ia mencoba untuk melihat sapit sebelah kiri. Dadanya berdesir ketika ia melihat Sima Rodra mengaum dengan dahsyatnya menerkam Mahesa Jenar. Apalagi ketika melihat Mahesa Jenar menyambutnya seorang diri, tidak dengan perlindungan laskarnya sama sekali.

Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu, selain berdoa, mudah-mudahan Mahesa Jenar segera menempatkan dirinya dalam lingkaran laskarnya. Ia juga cemas akan nasib sahabat Mahesa Jenar yang bernama Putut Karang Jati. Bahkan ia dengan sengaja menempatkan diri di garis lintas Naga dari Nusakambangan. Nagapasa itu benar-benar orang yang dapat berbuat seperti ular naga. Hampir seluruh tubuhnya dapat dipergunakannya untuk bertempur.

Tetapi sesaat kemudian, Bugel Kaliki telah berdiri di hadapannya. Sambil tertawa kecut hantu itu berkata, ”Selamat pagi Ki Ageng Sora Dipayana yang sakti. Jangan kau perhatikan nasib orangmu yang bernama Mahesa Jenar itu. Biarlah ia lumat ditangan Harimau Tua dari Lodaya.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Ternyata Bugel Kaliki memperhatikannya, dan mencoba mempengaruhi perhatiannya, agar ia tidak dapat memusatkan pikirannya untuk melawan Bugel Kaliki itu.

Karena itu ia tertawa sambil menjawab, ”Ia bukan sanak, bukan kadang. Biarlah ia berusaha untuk menjaga dirinya sendiri.”

Mata Si Bongkok itu tiba-tiba menjadi sipit. Meskipun demikian ia berkata, ”Bagus. Agaknya kau tidak peduli pula atas anakmu yang bernama Lembu Sora. Dapatkah ia melawan Jaka Soka? Dan cucumu Sawung Sariti yang harus bertahan melawan Wadas Gunung, murid Pasingsingan? Sedang cucumu yang satu lagi sedang dilibat oleh aji Alas kobar Lawa Ijo dari Mentaok?”

Ki Ageng Sora Dipayana sekali lagi memandang berkeliling.Daerah pertempuran itu sudah semakin ribut.Masing-masing berjuang dengan segenap tenaga yang ada. Terhadap Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana tak perlu cemas. Ia tidak perlu khawatir bahwa Jaka Sora akan dapat mengalahkan anaknya dengan mudah. Apalagi Lembu Sora berada di dalam barisan Pamingit yang penuh, setelah laskar Banyubiru datang membantu. Juga Sawung Sariti tak perlu dirisaukan. Wadas Gunung adalah murid Pasingsingan yang tidak banyak mendapat perhatian dari gurunya. Sebab segenap harapan ditumpahkan kepada Lawa Ijo. Terhadap Arya Salaka, ia perlu menimbang-nimbang. Ia tahu bahwa Arya Salaka setidak-tidaknya memiliki ketangkasan dan ketangguhan sama dengan Sawung Sariti.

Namun kali ini ia harus berhadapan dengan Lawa Ijo, yang memiliki kesaktian lebih dahsyat dari Wadas Gunung. Tanpa dikehendakinya sendiri, Ki Ageng Sora Dipayana memperhatikan sapit sebelah kiri dari gelar Sapit Urang-nya. Ia bangga atas kesempurnaan gelar itu. Ia melihat di ujung laskar Banyubiru, suatu lingkaran yang menganga dan menyerang orang-orang Pamingit dengan dahsyatnya. Namun sayap kiri itu baginya sangat mencemaskan. Di sayap itu berkumpul tokoh-tokoh Nagapasa dan Sima Rodra bersama-sama dengan Lawa Ijo. Namun kali ini ia tidak banyak mempunyai waktu, sebab sekali lagi ia mendengar Bugel Kaliki mendengus. ”Ha, kau ingin pergi ke sayap kirimu yang mulai rusak...?”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum, ”Aku sedang menilai pertempuran. Agaknya keseimbangan dari kedua laskar itu telah berubah sama sekali. Apa katamu tentang laskar Banyubiru yang seperti taufan melanda laskarmu?”

Tiba-tiba Bugel Kaliki itu tertawa terbahak-bahak, jawabnya, ”Buat apa aku ributkan laskar yang sedang bertempur itu? Aku datang kemari seorang diri. Tak peduli apakah laskarmu atau laskar kawan-kawanku yang akan binasa.”

”Dan kau sendiri...?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

”Aku sendiri akan dapat menjaga diriku. Aku dapat berbuat sekehendakku,” sahut Bugel Kaliki.

”Lalu sekarang apa yang kau kehendaki?” tanya Sora Dipayana.

”Nagasasra dan Sabuk Inten. Berikan itu kepadaku. Nanti aku akan membantu laskarmu,” jawab hantu bongkok itu.

”Buat apa?” tanya Ki Ageng.

Bugel Kaliki tertawa. Jawabnya, ”Buat apa kau sembunyikan keris itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana sama sekali tidak perlu memberikan keterangan, sebab ia yakin bahwa kata-katanya akan dipercaya. Karena itu ia menjawab seenaknya, ”Mungkin suatu waktu perlu untuk melawan serangan seperti yang terjadi kali ini.”

Bugel Kaliki tiba-tiba menjadi tegang. ”Kalau begitu kedua keris itu benar-benar masih kau simpan?” ”Apa kepentinganmu?” sahut Sora Dipayana.

”Aku akan mencoba mempertahankan diri. Meskipun aku sudah tua, namun mati karena tanganmu, sungguh tak menyenangkan,” sahut Ki Ageng Sora Dipayana. Bugel Kaliki tak mau berbicara lagi.

Setelah memandangi pertempuran itu sekali lagi, tiba-tiba ia meloncat sambil berteriak tinggi. Ki Ageng Sora Dipayana pun telah bersedia pula. Karena itu segera ia menghindar untuk segera meloncat dengan tangkasnya menyerang kembali. Demikianlah, kedua orang itu kemudian bertempur dengan dahsyatnya di antara hiruk pikuk pertempuran.

Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar harus memusatkan segenap perhatiannya untuk melawan hantu bongkok dari Gunung Cerme itu. Karena itu, ia tidak mempunyai kesempatan mengamati pasukannya. Meskipun demikian, ia merasa bahkan laskar Pamingit dan Banyubiru bersama-sama, dapat mengimbangi laskar lawan, bahkan sedikit demi sedikit terasa, garis pertempuran itu bergeser maju. Bugel Kaliki itu, meskipun punggungnya melengkung karena bongkoknya, namun gerakannya sangat berbahaya. Ia dapat meloncat-loncat dengan lincahnya, menerkam dan menghantam. Bahkan kakinya pun tak kalah tangkasnya.

Ia dapat berloncatan seperti kijang, namun sekali-kali menerkam seperti serigala.

Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang telah cukup makan pahit-getirnya penghidupan. Dengan tak kalah lincahnya, ia meloncat menghindari setiap serangan yang kemudian dengan lincahnya pula ia menyerang lawannya kembali. Kedua tangannya bergerak dengan cepatnya, seperti sayap seekor burung branjangan. Dengan dahsyatnya kedua tangan orang tua itu mematuk-matuk, ke pusat-pusat simpul syaraf.

Inilah yang mengerikan. Sekali tubuh lawannya tersentuh jarinya, akan bekulah seluruh daging-daging syarafnya. Dan ini pun dimaklumi oleh lawannya.

Sehingga Bugel Kaliki pun berjuang keras untuk melindungi setiap kemungkinan itu. Ia percaya kepada ketangkasannya dan kekuatannya. Kepada kesaktiannya, yang dapat menjadikan tangannya sepanas bara. Ia menamai kesaktian itu Candra Mawa, di samping ilmunya yang tak kalah dahsyatnya, yang dengan bangga disebutnya Dasa Prahara. Dengan demikian maka pertempuran itu merupakan pertempuran yang dahsyat antara dua orang perkasa. Sehingga setiap orang di sekitarnya terpaksa bergesa-gesa menjauhkan diri.

Untuk sesaat pertempuran antara laskar Pamingit dan laskar golongan hitam, di sekitar kedua tokoh tua itu terhenti. Dengan keheran-heranan mereka memandang perkelahian yang berubah seperti lesus yang berputar-putar mengerikan. Tetapi ketika mereka tersadar, segera mereka terlibat kembali dalam pertempuran yang sengit. Matahari semakin lama menjadi semakin tinggi beredar di langit yang bersih.

Begitu cepat, seakan-akan begitu tergesa-gesa untuk dapat melihat medan pertempuran itu dengan jelas. Untuk kesekian kalinya bola api yang terapung itu melihat betapa manusia bertengkar dan bertempur di antara mereka. Sudah berapa banyak darah yang mengalir dari luka-luka di tubuh mereka, telah berapa banyak air mata yang mengalir karenanya. Namun manusia itu tidak jemu-jemunya, saling membunuh karena mereka bertentangan kepentingan. Terdoronglah kepentingan mereka, golongan mereka, diri mereka, maka kadang-kadang mereka lupa, betapa, manusia tercipta karena cinta. Larutlah cinta itu seperti kabut yang dilanda angin, apabila mereka dihadapkan pada pemanjaan diri. Pemanjaan nafsu jasmaniah. Dan lupalah mereka akan hari-hari yang dijanjikan. Hari pengadilan di ujung zaman. Namun Tuhan Maha Tahu. Didengar-Nya apa yang terlontar dari bibir kita, apa yang terucapkan oleh mulut kita. Bahkan tahulah Tuhan apa yang terukir di dalam hati kita. Sehingga dengan demikian kebaktian bukanlah janji, namun sebenarnya kebaktian adalah tingkah laku dan pengamalan. Semakin tinggi matahari memanjat langit, pertempuran di lereng Gunung Merbabu itu menjadi semakin riuh.

Berdentanglah bunyi senjata beradu, dibarengi teriakan seram dan pekik ngeri kesakitan.

DI pangkal sayap kanan, Titis Anganten sedang sibuk melayani Sura Sarunggi yang bertubuh tegap kekar dan bekepala besar. Dengan gerak yang kasar penuh kebencian, Sura Sarunggi menyerang lawannya tanpa pengendalian diri. Ia ingin segera melihat Titis Anganten menjadi lumat.

Titis Anganten yang bertubuh kecil dan sama sekali tak segagah lawannya itu dapat bertempur dengan sempurna. Gerak-geraknya yang tampak lemah dan tak bertenaga, namun seakan-akan memiliki pengaruh yang tak dapat diduga akibatnya. Titis Anganten benar-benar berkelahi seperti perempuan.

Kalau saja tangannya menyentuh lawannya, maka ia segera mencubitnya. Namun cubitan itu benar-benar luar biasa, sehebat sengatan seribu lebah bersama-sama. Sedang lawannya adalah seorang yang bertenaga raksasa. Sambaran tangannya menimbulkan desir angin dingin yang mengerikan. Kalau suatu kali ia terpaksa membuat benturan kekuatan, maka mereka bersama-sama akan tergetar surut.

Di bagian lain, dengan penuh kemarahan dalam hati, Pasingsingan berhadapan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Ketika Pasingsingan memandangnya seperti memandang hantu, berkatalah Ki Ageng Pandan Alas, ”Apakah aku aneh?”

Pasingsingan menggeram, jawabnya, ”Kenapa kau hadir juga di sini?”

”Apa salahnya? Sahabat-sahabatku semua berada di sini. Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten dan kau Pasingsingan. Bukankah sudah sebaiknya kalau aku datang pula?” sahut Pandan Alas.

Sekali lagi Pasingsingan menggeram. ”Jangan banyak ribut. Jangan bicara lagi tentang sahabat, tentang masa lampau dan segala macam kenangan tak berarti. Yang sebaiknya segera kau lakukan adalah meninggalkan daerah ini.”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. ”Kenapa aku harus pergi. Atas hak yang sama, maka seperti kau aku hadir dalam pertemuan ini.”

”Aku sebenarnya menyayangkan nyawamu. Jangan kau mati tanpa arti. Sebab persoalan kami bukanlah persoalan yang dapat kau campuri,” sahut Pasingsingan.

”Kenapa tidak? Daerah ini daerah Pangrantunan. Ki Ageng Sora Dipayana gembira melihat kehadiranku. Kenapa kau tidak?” kata Pandan Alas.

Pasingsingan menggeram kembali. Suaranya melingkar-lingkar di dalam perutnya. Sekali-kali melayangkan pandangannya ke seluruh daerah pertempuran. Ia melihat Bugel Kaliki berhadapan dengan Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, sedang Sura Sarunggi bertempur melawan Titis Anganten.

Di ujung lain ia melihat Mahesa Jenar bertempur melawan Sima Rodra yang menyimpan dendam di dadanya. Pasingsingan mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu, bagaimana mungkin Mahesa Jenar dapat melawan aji Alas Kobar beberapa waktu yang lampau didekat Candi Gedong Sanga.

Malaekat manakah yang telah memberinya kesaktian sedemikian tiba-tiba? Sedang di bagian lain, Pasingsingan melihat kawan Mahesa Jenar bertempur melawan Nagapasa. Ia mengharap Nagapasa segera dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian, kelebihan yang seorang itu, akan mempunyai banyak akibatnya.

Nagapasa dapat membantu salah seorang dari tokoh-tokoh hitam itu, memusnahkan lawan-lawan mereka satu demi satu dengan cepat.

”Apa yang kau renungkan?” tanya Ki Ageng Pandan Alas. ”Bukan apa-apa,” sahut Pasingsingan.

”Aku sedang berbangga.”

”Apa yang kau banggakan?” desak Pandan Alas.

”Laskarku dari Mentaok. Sekarang mereka akan menghancurkan laskar Banyubiru dan Pamingit. Lusa mereka akan menghancurkan laskar Demak,” jawab Pasingsingan.

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. ”Jangan mimpi. Kau kira Demak itu seperti apa? Itulah contohnya, satu di antara prajuritnya yang bernama Rangga Tohjaya. Bahkan seandainya kau dapat mengalahkan laskar Banyubiru dan Pamingit sekalipun, maka Banyubiru dan Pamingit berhak mendapat perlindungan dari Demak, seandainya mereka benar-benar tak mampu mengatasi kesulitan mereka.

Nah apa katamu? Apakah arti laskar alasan itu?” Pasingsingan menjadi marah. ”Lihat, sebagian dari laskar gabungan kami. Kami masih menyimpan tenaga cadangan di Pamingit dan di daerah kami sendiri-sendiri.”

”Bagus. Agaknya kau benar-benar menghemat. Sedikit-sedikit saja orangmu yang bunuh diri di medan ini, supaya kau sempat berbuat aneh-aneh didalam pertempuran. Kau agaknya dapat melepaskan nafsu-nafsu yang aneh di sini. Bau darah dan teriakan-teriakan yang mengerikan dapat menyegarkan tubuhmu,” sahut Pandan Alas.

”Gila. Jangan banyak bicara lagi. Tinggal pilih, kembali ke asalmu atau mati berkubur debu di sini,” gertak Pasingsingan.

Pandan Alas tidak menjawab. dengan tersenyum ia bersiaga. Dan apa yang diduga benar-benar segera terjadi. Dengan garangnya Pasingsingan mengembangkan tangannya, dan dalam satu loncatan ia menerkam lawannya.

Cepat Pandan Alas mengelak dengan satu langkah ke samping sambil merendahkan dirinya. Tangan kanan Pasingsingan menyambar di atas kepalanya dengan cepatnya seperti desis angin yang keras.

Tetapi dalam sekejap Pandan Alas telah memutar tubuhnya dan kaki kanannya melontar ke arah lambung Pasingsingan. Pasingsingan menggeliat dengan lincahnya, dengan sikunya ia melindungi dirinya.

Demikianlah kedua orang itu segera terlibat dalam perkelahian pula seperti yang lain- lain. Mereka masing-masing mempunyai kekhususan yang sulit diketahui. Sekali-kali mereka melontar kian-kemari, namun di saat lain mereka berbenturan dengan hebatnya. Serangan Pasingsingan benar-benar seperti topan yang dahsyat, namun Ki Ageng Pandan Alas tidak kurang dari angin ribut yang mengerikan.

KEDUA orang itu berjuang dengan segenap kekuatan dan tenaga, dengan segenap kepandaian dan kemampuan. Ketika keringat mereka mulai mengalir membasahi pakaian-pakaian mereka maka pertempuran itu menjadi kian sengit. Bahkan kemudian yang tampak seakan-akan seperti gulungan asap yang berputar-putar dengan cepatnya, seperti gulungan awan mendung dilangit. Sekali-kali terdengar benturan-benturan seperti ledakan guntur menjelang datangnya prahara. Daerah pertempuran itupun menjadi kabur oleh hamburan debu yang melingkar-lingkar menaburi kedua orang yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Sedang gerak kedua bayangan di dalam lingkaran debu itu tak dapat diamati lagi.

Di sayap kiri gelar Sapit Urang dari laskar gabungan antara Pamingit dan Banyubiru itu pun terjadi pertempuran yang dahsyat. Laskar golongan hitam bertempur membabi buta. Siapapun dan apapun yang ada di hadapannya pasti akan dihancurkannya. Namun mereka terpaksa menelan ludah mereka, ketika mereka membentur laskar Banyubiru. Bantaran di ujung sapit, Jaladri di tengah-tengah, dan Panjawi di pangkalnya, merupakan benteng- benteng yang kokoh kuat, yang tak tergoyahkan oleh arus banjir dari orang-orang golongan hitam itu.

Di antara mereka itu terdapatlah Sima Rodra yang sedang mengaum-ngaum dengan kerasnya. Betapa ia mencurahkan dendam di dadanya kepada orang yang bernama Mahesa Jenar itu. Orang yang telah membunuh menantunya serta membebaskan tawanan anaknya di bukit Karang Tumaritis. Selain itu, ternyata bahwa Rara Wilis, yang dalam pengertian Sima Rodra diselamatkan oleh Mahesa Jenar di Karang Tumaritis itulah yang membunuh anak perempuannya. Karena itu ia ingin melepaskan beban yang selama ini menghimpit jantungnya kepada Mahesa Jenar.

Tetapi sekali dadanya berguncang ketika ia mendengar Mahesa Jenar tertawa. Tidak terlalu keras, namun nadanya hampir memecahkan dadanya.

"Gila...!" teriaknya. "Apa yang kau tertawakan?"

"Bukan apa-apa," jawab Mahesa Jenar.

"Aku hanya menyatakan kegembiraan hatiku setelah lama kita tak bertemu."

"Bukan saatnya bergurau. Lebih baik kau menyebut nama nenek moyangmu selagi kau sempat," geram harimau dari Lodaya itu.

"Kau ingin melunakkan hatiku? Jangan kau sangka bahwa hatiku sekecil hati kelinci dan selunak hati kucing yang dihadapi daging. Aku adalah Sima Rodra dari Alas Lodaya," teriak harimau itu dengan garangnya.

"Aku sudah tahu dan aku sudah mengenalmu sejak lama. Sejak kau mencegat aku di jalan silang ke Bergota dari Gunung Tidar bersama Kakang Gajah Sora. Kemudian di Gedangan kita bertemu lagi," jawab Mahesa Jenar, tetapi ia lupa bahwa Kebo Kanigara berperankan diri di Karang Tumaritis membebaskan Wilis. Karena itu Sima Rodra berteriak, "Kau ingin mengurangi kesalahanmu. Di Karang Tumiritis kau telah menghinakan kami. Kau berhasil membebaskan perempuan tawanan anakku, cucu Pandan Alas. Bahkan karenanya akhirnya perempuan itu membunuh anakku."

Ketika Mahesa Jenar teringat peristiwa itu, kembali ia tertawa. Ia mencoba tertawa seperti Kebo Kanigara tertawa. Katanya, "Inilah murid perguruan Pengging. Mahesa Jenar."

Kembali dada Sima Rodra terguncang. Tertawa yang demikian itu pulalah yang didengarnya pada saat itu di bukit Karang Tumaritis, ketika seorang yang menamakan diri Mahesa Jenar tiba-tiba seperti terbang dan hinggap di atas batu karang sambil berkata, "Inilah Mahesa Jenar, murid perguruan Pengging."

"Gila. Jangan kau berbangga atas kemenanganmu saat itu. Kau memang mempunyai kelebihan dari kami dalam hal melarikan diri dan bersembunyi," bentak Sima Rodra. "Tetapi marilah kita sekarang berhadapan. Tidak melarikan diri dan tidak bersembunyi."

"Kali ini aku tidak akan bersembunyi dan melarikan diri. Aku kini berdiri di antara laskar yang sedang bertempur. Karena itu akupun harus bertempur seperti mereka. Menang atau kalah, marilah kita serahkan kepada keputusan tertinggi. Sebab aku yakin, kebenaran tak akan dapat ditindas oleh kejahatan," jawab Mahesa Jenar.

"Huh, pandangan hidup yang didasarkan pada keputusasaan. Bagiku menang atau kalah tergantung kepada kita sendiri. Dan bahwa suatu ketika kebenaran akan lenyap oleh kejahatan dan di atasnya akan aku bangun kebenaran yang baru menurut seleraku," bantah Sima Rodra.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Sima Rodra akan membangun kebenaran di atas bangkai-bangkai dan kejahatan. Benar-benar seorang yang tidak tanggung-tanggung. Kebenaran baginya tidak lebih dari pemuasan nafsu sendiri.

Akhirnya ia menjawab, "Semakin banyak orang seperti kau di dunia ini, semakin parahlah tata kehidupan manusia. Peradaban yang kau bina, seperti yang dilakukan oleh anak menantumu di Gunung Baka, di kaki bukit Karang Tumaritis, dan barangkali di seribu tempat lain, menunjukkan betapa kau telah menghilangkan batas antara manusia dan binatang, antara manusia dan setan. Pemanjaan nafsu, pemutarbalikan tata kesopanan, pemujaan pada kekejaman dengan mengorbankan gadis-gadis di atas batu- batu pemujaan yang kau buat, dengan mengalirkan darahnya."

"Jangan berlagak seperti malaikat yang bersih suci," potong Sima Rodra. "Hidupku dan hidupmu tidak akan lebih dari kisaran satu abad. Kenapa tidak kau nikmati hidupmu yang pendek itu?"

TIBA-TIBA tubuh Mahesa Jenar bergetar karena tekanan perasaannya. Ia melihat orang yang berdiri di hadapannya dengan baju kulit harimau hitam, seperti ia melihat campur baur dari segala kejahatan dan nafsu. Karena itu ia bergumam seperti kepada diri sendiri, ”Aku harus menghentikannya sebelum ia menjadi berkembang.”

Sima Rodra tertawa. Keras sekali. ”Apa yang akan kau hentikan?”

”Untuk membunuh harimau, jangan ditunggu harimau itu menjadi besar,” sahut Mahesa Jenar.

”Kau akan membunuh aku? Ha, kaupun telah mimpi untuk menjadi seorang pembunuh,” kata Sima Rodra.

”Apa bedanya? Membunuh kau sama artinya dengan menegakkan kemanusiaan, karena kau ingin memperkosa kemanusiaan itu. Dan karena sifat-sifatmulah maka aku menolak adamu,” jawab Mahesa Jenar.

”Terlalu berbelit-belit,” jawab Sima Rodra. ”Yang aku ketahui, kalau kita berkelahi, aku atau kau yang menjadi pembunuh.”

”Otakmu terlalu beku. Atau sama sekali diselimuti oleh noda-noda hitam dalam hidupmu...?" Mahesa Jenar menyela.

”Persetan. Jangan gurui aku. Menyerahlah, aku akan membunuhmu dengan cepat,” jawab Sima Rodra. ”Bagaimana kalau sebaliknya?” bantah Mahesa Jenar. ”Hem, kalau begitu aku akan melukai wajahmu yang tampan, dan membiarkan kau mati perlahan- lahan,” geram Sima Rodra dengan marahnya.

”Tak ada pilihan lain,” sahut Mahesa Jenar. Sima Roda kemudian mengaum keras sekali. Beberapa orang di sekitarnya terkejut, meskipun laskar dari golongan hitam sendiri. Hanya orang-orang dari Gunung Tidar sajalah yang bertambah semangat di dalam dada mereka mendengar auman yang mengerikan itu.

Dengan suatu loncatan yang buas, sebuas harimau lapar, Sima Rodra menyerang langsung kepada Mahesa Jenar. Demikian cepatnya serangan itu, sehingga Mahesa Jenar agak terkejut. Namun hanya sesaat. Sesaat kemudian ia seakan-akan menancapkan kedua kaki dalam-dalam, menyiapkan diri menyambut serangan itu. Ia sengaja tidak menghindar, tetapi ia ingin membentur tangan lawannya untuk menjajagi sampai di mana kekuatan Sima Rodra yang pernah menggemparkan itu. Kalau hal itu terjadi beberapa tahun lalu, maka Mahesa Jenar pasti akan terlempar dan terbanting mati, karena Sima Rodra dengan marahnya telah mengerahkan kekuatannya.

Tetapi yang terjadi adalah berbeda, Mahesa Jenar telah menemukan kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya, setelah ia mesu diri di Bukit Karang Tumaritis. Dengan demikian maka yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Demikian dahsyat sehingga seakan-akan terjadi benturan guntur di langit. Tubuh masing-masing tergetar dan kemudian terdorong selangkah surut.

Sekali lagi Sima Rodra mengaum dahsyat. Meskipun ia tidak mengalami cidera, namun betapa herannya melihat Mahesa Jenar masih tegak berdiri dihadapannya. Karena itu sekali lagi ia menyerang dengan dahsyatnya.

Namun kali ini Mahesa Jenar telah menemukan nilai-nilai kekuatan lawannya, sehingga ia dengan sempurna dapat menempatkan diri pada keadaan yang seharusnya.

Dengan tangkas Mahesa Jenar menghindarkan diri, dengan meloncat ke samping. Namun harimau yang hampir gila itu benar-benar tangkas. Demikian kakinya menyentuh tanah, kakinya yang lain diputar ke arah lambung lawannya. Sekali lagi Mahesa Jenar terpaksa menarik tubuhnya condong kebelakang.

Tetapi sekali lagi harimau tua itu menyerangnya dengan tendangan ganda. Kali ini Mahesa Jenar tidak dapat hanya menyondongkan dirinya. Ia pun terpaksa melompat mundur. Tetapi dengan demikian ia menemukan kelemahan lawannya. Sekali lagi kaki Sima Rodra mesih terjulur, Mahesa Jenar menangkapnya pada bagian bawah lututnya. Namun Harimau Lodaya itupun tangkas pula. Ia tidak mau membiarkan hal itu terjadi.

Ketika tangan Mahesa Jenar menyentuh kakinya, segera ia melipatnya, sehingga dengan demikian tangan Mahesa Jenar menjadi terjepit. Mahesa Jenar menggeram perlahan- lahan, tetapi segera ia mendorong tubuh lawannya yang tegap besar itu dengan siku tangannya yang lain di arah lambung.

Demikian kerasnya sehingga Sima Rodra dan Mahesa Jenar bersama-sama jatuh terguling. Tetapi dengan demikian, Mahesa Jenar telah melepaskan jepitan lawannya, bahkan ketika ia melihat Sima Rodra meloncat bangkit, Mahesa Jenar pun telah berdiri pula. Maka segera mereka terlibat kembali dalam perkelahian. Masing-masing adalah orang-orang perkasa, yang mempunyai kelebihan dari orang lain.

Sima Rodra dengan penuh nafsu kebuasan bertempur mati-matian. Sebab ia sadar bahwa orang-orang seperti Mahesa Jenar adalah penghalang utamanya. Di pihak lain, Mahesa Jenar pun bertempur dengan penuh kesadaran akan kewajibannya sebagai manusia yang mengabdikan diri pada kemanusiaan.

Kegagalannya kali ini, lebih-lebih kegagalan laskar Pamingit dan Banyubiru berarti runtuhnya martabat manusia, setidak-tidaknya di Pamingit dan Banyubiru. Dengan demikian, ia bertekad untuk bertempur yang terakhir kalinya dengan Harimau Gila itu. Biarlah ia terbunuh kalau ia tidak berhasil, namun kalau ia berhasil, maka telah diletakkannya satu di antara berjuta-juta batu yang akan membentuk bangunan kemanusiaan.

Pertempuran itu semakin lama semakin dahsyat. Sima Rodra dengan mengaum-aum mengerikan, menyerang dengan buasnya. Tangannya kadang-kadang mengembang seperti sayap, tetapi kemudian terjulur untuk menerkam lawannya seperti harimau. Jari- jarinya yang kokoh dan kuat merupakan bahaya yang setiap saat dapat menembus daging lawannya.

DALAM pertempuran yang hiruk pikuk itu, Sima Rodra tampak sebagai seekor harimau hitam di antara beratus-ratus kelinci yang sedang berjejal-jejalan. Namun lawan yang dihadapinya kini bukan kelinci-kelinci itu. Tetapi lawannya adalah seekor banteng yang tangguh. Seekor Banteng yang dengan tenang dan yakin pada dirinya atas lambaran kebenaran, berjuang menegakkan sendi-sendi kemanusiaan. Sehingga dengan demikian maka pertempuran di antara mereka, adalah pertempuran yang akan diakhiri dengan lenyapnya salah satu dari keduanya. Pertempuran yang melambangkan pertempuran yang akan terjadi di sepanjang jaman. Kebenaran melawan kemungkaran dan kejahatan. Pertempuran di antara mereka yang berjalan dijalan Allah, melawan mereka yang melawan cinta Tuhan. Tetapi Tuhan Maha Pengampun. Karena itu, bagi siapa saja yang bertobat serta menyebut nama-Nya dengan ikhlas serta penyerahan yang tulus, maka pintu Rumah-Nya selalu terbuka. Sejalan dengan matahari yang semakin tinggi, semakin seru pulalah pertempuran itu. Setiap senjata telah menjadi merah oleh darah. Darah sesama manusia. Dan tanah telah menjadi merah pula oleh siraman darah yang merah segar. Tetapi karena bau darah itulah maka mereka menjadi semakin buas. Mereka tinggal memilih dua kemungkinan di dalam peperangan itu. Mati terbunuh atau terpaksa membunuh. Tetapi mereka telah bertindak atas suatu keyakinan. Bagi golongan hitam, membunuh adalah pekerjaan mereka untuk mendapatkan kepuasan nafsu dan kemungkinan yang menimbulkan harapan. Kali ini mereka mengharap untuk mendapat bagian dari tanah yang mereka perebutkan. Pamingit, dan lusa Banyubiru, serta segala kekayaan di atasnya. Bahkan atas setiap laki-laki untuk diperintahnya dan berkuasa atas setiap perempuan untuk diperlakukan dengan sekehendak hati mereka. Sedang masa mendatang, mereka mendapat harapan yang lebih baik lagi apabila benar-benar mereka dapat memecahkan kerajaan Demak. Siapa tahu mereka akan dapat pangkat Tumenggung, dengan rumah yang besar-besar dan selusin isteri yang cantik-cantik. Sebaliknya, laskar Banyubiru dan Pamingit berjuang atas keyakinan mereka pula. Mereka terpaksa membunuh untuk menghentikan kebuasan manusia atas manusia. Mempertahankan tanah mereka dan milik mereka. Mempertahankan karunia Tuhan untuk mereka. Karena itulah maka, kedua belah pihak bertempur mati-matian. Siapa yang lengah, dadanya akan tertembus senjata. Dan mataharipun seakan-akan menjadi suram karena sinarnya yang ditakbiri oleh debu yang mengepul di udara seperti kabut.

Di antara deru senjata dan teriakan penuh nafsu, terdapatlah beberapa titik-titik perkelahian yang paling dahsyat. Ki Ageng Sora Dipayana melawan Bugel Kaliki yang berputar seperti angin pusaran.

Ki Ageng Pandan Alas melawan Pasingsingan seperti beradunya angin prahara yang bertentangan arah.

Titis Anganten melawan Sura Sarunggi yang seolah-olah menjadi tenggelam dalam kabut yang gelap.

Di bagian lain, Mahesa Jenar bertempur melawan Sima Rodra demikian dahsyatnya seperti guntur dilangit yang saling sambar menyambar. Tetapi ada di antara mereka, tokoh yang dahsyat dari golongan hitam itu yang masih berdiri saja di antara kedua laskar yang bertempur. Hanya sekali-kali saja ia menggerakkan tangannya untuk melawan serangan-serangan laskar Banyubiru, dan sekali-kali ia terpaksa menghindar kalau dua tiga orang yang gagah berani menyerangnya bersama-sama. Namun tangannya benar- benar seperti tangan hantu. Sekali ia berhasil merampas sebuah pedang, dan menancapkan pedang itu dengan mudahnya di dada pemiliknya. Dengan tertawa menyeringai ia berpaling sambil bergumam, ”Tikus yang sombong.” Kemudian ia melangkah pergi di antara kacau-balaunya pertempuran, seperti berjalan di dalam kesibukan pasar saja. Ia melihat betapa sahabat-sahabatnya bertempur mati-matian. Ia melihat betapa Sima Rodra berjuang sekuat tenaga melawan Mahesa Jenar.

Orang itupun menjadi heran pula. Bagaimana mungkin Mahesa Jenar dapat mengimbangi Sima Rodra yang ganas itu. Terhadap Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten ia tidak perlu heran. Pertempuran diantara mereka dapat berlangsung lama. Sehari, dua hari, bahkan tanpa batas, seperti kalau ia sendiri tanpa lawan. Karena itu ia sedang berpikir apakah yang harus dilakukan. Membunuh sebanyak- banyaknya, atau membantu salah seorang dari keempat sahabatnya. Ia harus yakin bahwa kawan-kawannya itupun dapat membawa diri. Karena itu biarlah ia bekerja sendiri. Tetapi membunuh laskar-laskar kecil yang berserak-serakan seperti tikus itupun tak akan berarti.

Sebagai seorang tokoh yang ditakuti tidak saja di Nusa Kambangan, ia merasa terlalu berharga untuk berperang melawan laskar-laskar Banyubiru yang tak berarti itu. Sekali- kali ia memandang jauh ke sapit sebelah kanan. Terhadap muridnya Jaka Soka pun ia tidak terlalu cemas. Seandainya Jaka Soka itu harus berhadapan dengan Lembu Sora sekalipun. Karena itu tidak ada kerja lain baginya daripada membunuh. Bukankah di dalam peperangan yang berjumlah besar, membunuh siapapun yang ada didekatnya bukan berarti merendahkan diri. Pertempuran yang demikian adalah pertempuran yang kacau. Setiap senjata dapat mengarah setiap dada lawan.

Maka akhirnya Nagapasa itupun menjadi puas terhadap pendiriannya. Daripada berdiri saja di situ, memang lebih baik berbuat sesuatu yang dapat memperingan pekerjaan laskar dari golongan hitam. Kemudian setelah ia mendapat ketetapan hati, mulailah ia bergerak sekali sambar, kembali ia merampas sebuah tombak. Ia memutar tombak itu sekali diudara kemudian dengan satu gerakan kemungkinan untuk menghindar. Demikian cepat dan keras. Tetapi tiba-tiba Nagapasa menarik kembali tombak itu ketika tiba-tiba ia mendengar seseorang menyapanya, ”Alangkah dahsyatnya Tuan.”

NAGAPASA menoleh. Ia melihat seorang bertubuh tegap kekar berdiri di sampingnya. Orang itu belum pernah dikenalnya. Karena itu ia mengacuhkannya. Maka kembali ia mencari orang yang hampir terbelah dadanya oleh tombaknya sendiri. Tetapi orang itu sudah lari menghilang di antara hiruk pikuk pertempuran, mencari lawan yang tak bertangan hantu.

Nagapasa kecewa. Ia menggeram dan sekali lagi menoleh kepada orang yang menyapanya. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat wajahnya yang tenang. Orang itu pasti salah seorang dari laskar Banyubiru. Tetapi tiba-tiba Nagapasa kehilangan nafsu untuk membunuh orang itu. ”Mungkin ia belum mengenal aku. Biarlah aku bermain-main dahulu. Biarlah ia menjadi ngeri dan baru kemudian aku akan membunuhnya setelah ia melihat bagaimanakah caranya aku membunuh,” pikirnya.

Mendapat pikiran itu, segera Nagapasa mendesak maju ke dalam laskar Banyubiru. Ia akan berbuat hal-hal yang aneh untuk menakut-nakuti orang yang menyapanya dengan tenang. Tetapi orang itu mengikutinya dalam jarak yang dekat sekali. Seakan-akan ia melekat pada jarak yang ditetapkan. Namun Nagapasa tidak memperdulikannya, bahkan lebih baiklah bila orang itu dapat melihat dengan seksama bagaimana ia dapat mematahkan leher seorang dengan tangannya, mencukil matanya dengan jari-jarinya, dan memecahkan kepala itu dengan pukulan tangannya. Ketika seseorang bertempur di dekatnya, iapun segera meloncat menangkap orang Banyubiru. Tangannya mencekik leher, sedang tangannya yang lain terayun ke dahi orang itu. Benar-benar suatu pemandangan yang mengerikan. Tetapi kembali Nagapasa mengurungkan niatnya, ketika ia mendengar orang yang mengikutinya itu tertawa. Meskipun suaranya lunak sekali namun nadanya benar-benar tak menyenangkan.

Kemudian terdengar ia berkata, ”Tidak tanggung-tanggung. Suatu pameran kekuatan yang luar biasa.”

Nagapasa memandang orang itu dengan seksama, sementara tangannya masih mencekik leher. Ia mengamat-amati orang itu dengan tanpa berkedip. Benar-benar orang itu belum pernah dikenalnya. Tetapi menilik sikapnya, orang itu pasti bukan orang kebanyakan atau salah seorang dari laskar biasa dari Banyubiru. ”He, kau siapa?” tanya Nagapasa acuh tak acuh.

Orang itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, ”Laskar Banyubiru.” ”Aku sudah tahu,” bentak Nagapasa marah.

”Namamu dan jabatanmu?”

”Kebo Kanigara,” jawabnya. ”Laskar biasa.” Nagapasa menggeram.

Nama itu benar-benar belum pernah dikenalnya. Tetapi sikap orang itu sangat menyakitkan hatinya. ”Sudahkah kau mengenal aku?” tanya Nagapasa.

”Ya, aku kenal,” jawab Kanigara. ”Bukankah Tuan yang menamakan diri Nagapasa?”

Nagapasa menjadi semakin jengkel. Ternyata orang itu telah mengenalnya, tetapi kenapa ia sedemikian berani menghadapinya.

”Bagus,” kata Nagapasa lebih lanjut. ”Kalau demikian kau kenal juga dari mana Nagapasa datang?” ”Ya,” jawab Kanigara pula. ”Nagapasa berasal dari Nusakambangan dengan muridnya yang bernama Jaka Soka. Nagapasa adalah seorang yang sakti, sejajar kesaktiannya dengan Pasingsingan, Sima Rodra, Sura Sarunggi dan Bugel Kaliki.”

Nagapasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin heran. Orang yang bernama Kebo Kanigara itu mengenalnya dengan lengkap, namun ia masih berani menyapa seenaknya saja. Apakah orang ini benar-benar ingin bunuh diri?

”Kalau demikian...” Nagapasa berkata pula, ”Apa maksudmu mengikuti aku?”

”He...” Kanigara berpura-pura terkejut, meskipun ia tahu apa yang tersirat di dalam pikiran Nagapasa itu, ”Bukankah kita berada di dalam peperangan. Dan bukankah setiap kita dari Banyubiru dan dari golongan hitam dapat menjadi lawan?”

Nagapasa menjadi semakin marah mendengar jawaban itu, katanya, ”Kau akan melawan aku?”

”Apa aku harus memilih lawan” sahut Kanigara. ”Siapa yang ada di hadapanku adalah lawanku.”

”Kau sudah menjadi gila,” teriak Nagapasa. ”Lihat betapa orang ini hampir mati karena tanganku. Aku dapat memperlakukan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus orang seperti ini.”

”Ya, aku percaya,” jawab Kanigara.

”Kau ingin aku berbuat demikian terhadapmu?” bentak Nagapasa semakin keras. ”Tidak,” jawab Kanigara. Kejengkelan Nagapasa menjadi semakin memuncak. ”Lalu apa maumu?” Ia berteriak lebih keras lagi.

”Kita berperang. Mauku bertempur melawan Tuan,” sahut Kanigara. ”Orang ini agaknya orang gila,” pikir Nagapasa. Dengan demikian ia kehilangan nafsu untuk berbuat sesuatu. Melawan orang gila baginya hanya akan membuang-buang waktu saja.(Bersambung)-m

KEMBALI Nagapasa berpaling kepada orang yang dicekiknya. Kepada orang itu ia akan menumpahkan kejengkelannya. Dengan menggeram ia berkata, ”Nasibmu tak begitu baik, tikus yang malang. Berdoalah sebelum kepalamu aku pecahkan.” Kemudian terayunlah kembali tangan Hantu Laut dari Nusakambangan itu. Sedang orang yang dicekiknya telah kehilangan harapan untuk dapat hidup. Ia kenal siapakah Nagapasa itu. Dan menyesallah bahwa ia kurang berhati-hati, bertempur di dekat orang bertangan maut itu. Namun akhirnya ia memejamkan matanya pasrah diri. Dalam perjuangan maut adalah tantangan. Kalau maut itu datang, biarlah ia menelannya. Namun ia yakin bahwa ia telah berjuang menegakkan kebenaran. Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tak terduga- duga. Ketika tangan Nagapasa hampir saja memecahkan kepala orang yang telah pasrah diri itu, terjadilah suatu benturan yang keras. Tangan Nagapasa terasa bergetar hebat. Ia merasa bahwa tangannya telah mengenai sesuatu, tetapi sama sekali bukan kepala orang yang dicekiknya. Dan kepala itu sama sekali tidak dipecahkannya, malahan tangannya sendiri merasa tergetar.

Belum lagi ia sadar akan peristiwa itu, kembali terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai tangannya yang lain, yang sedang mencekik orang yang telah berputus asa itu, demikian kerasnya sehingga tanpa disengaja tangannya terlepas, dan orang yang dicekiknya itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling-guling.

Nagapasa melompat selangkah mundur. Ia telah berpuluh tahun hidup dalam kancah perkelahian, pertempuran dan pembunuhan. Karena itu ia telah memiliki pengalaman yang tak terkira banyaknya. Sehingga dengan demikian segera ia sadar, bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang berada di luar perhitungan. Ketika ia sadar memandang berkeliling, yang dilihatnya hanyalah orang yang bernama Kebo Kanigara itu, selain beberapa orang yang sedang bertempur melawan lawan masing-masing. Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Kanigara lah orangnya, yang telah mencoba membentur tangannya. Nagapasa menjadi marah sekali.

Wajahnya tiba-tiba menjadi merah, semerah darah. Meskipun bibirnya terkatup rapat, namun terdengar betapa giginya gemeretak. Dengan tangan yang bergetar ia menunjuk wajah Kebo Kanigara sambil berkata dengan gemetar, ”Kau...?”

Kebo Kanigara masih setenang tadi. Sambil mengangguk ia menjawab singkat, sesingkat pertanyaannya, ”Ya.”

Nagapasa sadar bahwa orang yang bernama Kebo Kanigara itu bukan orang gila seperti yang disangkanya. Tetapi Kebo Kanigara benar-benar orang perkasa, yang telah menempatkan diri sebagai lawannya dalam pertempuran itu dengan penuh kesadaran. Dengan demikian darahnya kini telah benar-benar mendidih. Karena itu ia sudah tidak mampu lagi untuk bertanya-tanya.

Dengan memekik tinggi ia meluncur seperti ular yang mematuk lawannya, dengan tangan terjulur ke arah wajah Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara bukan anak-anak yang terkejut melihat ular sawah yang melingkar di pematang. Ia cukup dewasa untuk menghadapi setiap kemungkinan. Karena itu, ketika ia mendapat serangan dari Nagapasa, sama sekali tidak menjadi gugup. Dengan tenangnya Kebo Kanigara membuat perhitungan yang tepat. Ketika serangan Nagapasa itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya menelentang. Kedua kakinya segera menyambar perut lawannya, dan dengan lemparan yang keras, Nagapasa terpelanting keudara. Tetapi Nagapasa pun cukup mempunyai bekal untuk bertempur melawan Kebo Kanigara. Ia mula-mula terkejut mengalami peristiwa itu, namun segera ia menguasai dirinya kembali. Dengan sebuah putaran ke udara, ia telah mencapai keseimbangannya. Karena itu Nagapasa dapat dengan baiknya menjatuhkan diri di atas kedua kakinya.

Tetapi ketika ia berhasrat untuk meloncat menyerang lawannya, Kebo Kanigara pun telah siap pula tegak seperti bukit karang yang tak tergoyahkan oleh badai yang betapapun dahsyatnya. Sesaat kemudian, kembali Nagapasa menyerang dengan kerasnya dibarengi dengan sebuah teriakan tinggi. Dan kembali Kebo Kanigara melawannya dengan tenang, namun penuh gairah. Sebab Kebo Kanigara pun yakin, bahwa orang- orang seperti Nagapasa adalah sumber dari segala macam bencana bagi umat manusia. Maka karena itulah pertempuran antara kedua orang perkasa itu segara menjadi semakin dahsyat.

Nagapasa bertempur seperti seekor naga. Tubuhnya seolah-olah menjadi lemas dan dapat bergerak ke segenap arah. Tulang-tulangnya seakan-akan menjadi selemas daun. Begitu baiknya Nagapasa menguasai tubuhnya, sehingga setiap bagiannya dapat berubah menjadi senjata yang berbahaya. Jari-jarinya, sikunya, kepalanya, lutut dan jari kakinya, tumitnya dan segala bagian yang lain. Ia dapat meluncur dengan cepatnya, melingkar- lingkar seperti pusaran air yang menghisap segenap benda yang tersentuh jari-jari lingkarannya, menelannya dan menghancur-lumatkannya. Demikian dahsyatnya Nagapasa bertempur sehingga benar-benar mirip seekor naga raksasa yang bertempur didalam lautan yang digelorakan oleh ombak yang dahsyat.

Tetapi lawannya adalah Kebo Kanigara. Seorang yang telah memiliki ilmu yang sempurna. Benarlah kata orang, yang bahkan almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh sendiri mengakui, bahwa sebenarnya Kebo Kanigara telah melampaui kemampuannya.

Kebo Kanigara telah menemukan cara untuk menempa diri dengan dahsyatnya. Ia hanya memerlukan waktu tidak lebih dari semperempat waktu yang diperlukan oleh Ki Ageng Pengging Sepuh dengan caranya. Karena itulah maka Kebo Kanigara benar-benar memiliki sifat yang luar biasa. Ia dapat bertempur selincah anak kijang di padang rumput, namun ia dapat garang seperti singa. Di saat-saat yang lain Kebo Kanigara bertempur seperti seekor garuda dengan sayap-sayapnya yang kokoh seperti baja namun trengginas seperti sikatan.

SEPERTI Mahesa Jenar, Kebo Kanigara juga memiliki kekhususan. Ia benar-benar tangguh sebagaimana ciri-ciri khusus Perguruan Pengging. Seakan-akan berkulit tembaga, bertulang besi. Serta apabila keringatnya telah membasahi punggungnya, tandangnya menjadi semakin garang, seperti banteng ketaton. Demikianlah, ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kebo Kanigara dan Nagapasa telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun disamping kemarahan yang semakin memuncak, Nagapasa pun menjadi heran. Apakah ia sebenarnya sedang bertempur melawan seorang manusia, ataukah tiba-tiba saja ada malaikat yang menjelma dan melawannya?

”Persetan dengan malaikat. Aku tidak takut melawan malaikat seandainya ia benar-benar ada.”

Nagapasa mengumpat di dalam hati, namun di dalam relung hatinya yang terdalam ia mengeluh, ”Gila benar orang ini. Siapakah sebenarnya dia?”

Kebo Kanigara pun berjuang terus. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa. Hantu Laut yang memiliki kesaktian dan pengalaman yang mengerikan. Karena itu, Kebo Kanigara pun cukup berhati-hati. Namun sedikit demi sedikit, akhirnya ia berhasil mengetahui segi-segi kedahsyatan ilmu lawannya, tetapi juga segi kelemahan- kelemahannya. Suatu hal yang tak dapat dilihat oleh orang biasa. Kebo Kanigara memiliki daya pengamatan yang lebih tajam dari manusia kebanyakan. Dengan demikian, apa yang selama ini tak diketahui orang, dapatlah diketahuinya, dan apa yang tak dapat dikerjakan orang lain, ia dapat melakukannya.

Pertempuran di lereng Gunung Merbabu itupun menjadi semakin riuh. Percikan darah berhambur-hamburan membasahi tanah pegunungan dan rumput-rumput liar. Kedua belah pihak berjuang semakin gigih. Sebab tak ada pilihan lain, apabila seseorang telah berada di tengah-tengah api peperangan. Debu mengepul semakin tinggi di udara. Putih gelap, seperti kabut ampak-ampak di lereng-lereng bukit.

Ki Ageng Sora Dipayana masih bertempur melawan Bugel Kaliki. Silih ungkih, singa lena. Desak-mendesak, serang-menyerang silih berganti. Tetapi keduanya sadar, bahwa kesaktian mereka benar-benar berimbang. Sekali-kali, baik Ki Ageng Sora Dipayana maupun Bugel Kaliki, berusaha untuk menebarkan pandangannya ke bagian-bagian pertempuran yang lain, seperti juga apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, Titis Anganten dan Sura Sarunggi. Sekali-kali merekapun ingin mengetahui apa yang telah terjadi di bagian-bagian yang lain. Dari celah-celah deru senjata, Ki Ageng Sora Dipayana, yang bertempur seorang diri di antara laskar Banyubiru dan Pamingit yang saling bertempur pula. Semula Ki Ageng Sora Dipayana mencemaskan nasib Mahesa Jenar, tetapi kemudian ia menjadi heran. Mereka telah cukup lama bertempur, namun agaknya Mahesa Jenar masih tetap bertahan dengan gigihnya. ”Apakah yang telah terjadi dengan Angger Mahesa Jenar selama ini?” pikirnya. Dan tiba-tiba sesaat kemudian orang tua itupun terkejut pula. ”Apakah yang sudah dilakukan oleh Kebo Kanigara itu? Timbul pertanyaan pula di dalam hatinya. Bahkan ia menjadi semakin heran ketika melihat, bahwa Kebo Kanigara dapat bertempur melawan Nagapasa sebaik dirinya sendiri atau orang-orang seangkatannya. Bahkan karena darah yang jauh lebih muda daripada darahnya dan orang-orang seangkatannya, Kebo Kanigara tampak betapa tangkas dan perkasanya.

”Hem...” desisnya, ”Siapakah sebenarnya orang itu?”

Ternyata di bagian lainpun terdengar Ki Ageng Pandan Alas berdesis, ”Benar-benar Angger Kebo Kanigara sakti tiada taranya.”

Di bagian lain lagi Titis Anganten bergumam, ”Aneh. Belum pernah aku mengenalnya. Namun tiba-tiba ia telah mengejutkan kami.”

Bukan saja orang-orang Banyubiru dan Pamingit yang keheran-heranan melihat keperkasaan Kebo Kanigara, namun orang-orang dari golongan hitampun menjadi cemas melihat tandangnya. Ketika orang-orang lain sedang sibuk menilai dirinya, Kebo Kanigara sempat menyaksikan betapa Mahesa Jenar berjuang di antara hidup dan mati. Tanpa sesadarnya merayaplah perasaan bangga di dalam dirinya. Ia melihat benih subur tumbuh di dalam tubuh Mahesa Jenar yang kemudian bahkan telah berkembang dengan rimbunnya. Ia melihat Mahesa Jenar itu telah dapat menguasai ilmunya. Tidak saja Mahesa Jenar itu telah dapat mensejajarkan diri dengan almarhum gurunya, namun dalam penglihatan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar bahkan telah melampauinya. Masa-masa pembajaan diri yang dahsyat telah menempa Mahesa Jenar dan muridnya sedemikian dahsyat pula. Dan sekarang Mahesa Jenar mencoba menerapkan ilmunya dalam suatu perjuangan yang menentukan.