Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 39

Jilid 39

SINAR obor yang menyala agak jauh dari tempat itu, sama sekali tertutup oleh bayangan-bayangan orang-orang yang bergerak-gerak di sekitar tempat itu. Dengan demikian maka Sendang Papat mendapat banyak kesulitan untuk menemukan kedua orang yang melarikan diri menyusup diantara sekian banyak orang yang kemudian dari ujung lapangan mereka meloncat ke dalam gerumbul-gerumbul di tepi tanah lapang itu.

Ketika Sendang Papat tidak berhasil menemukan kedua orang lawannya, menjadi semakin marah. Seperti orang yang hilang ingatan ia berteriak, ”Hai, orang-orang Banyubiru... di mana kedua orang gila itu? Kenapa kalian hanya diam menonton seperti menonton tayub. He, di mana...? di mana...?”

Tak seorangpun menjawab. Sendang Papat dengan liar memandang ke segenap arah. Namun kedua orang itu tak dapat diketemukan.

Tiba-tiba mata Sendang Papat menyangkut pada seperangkat gamelan, obor-obor yang menyala-nyala, beberapa dingklik dasaran tuak dan minum-minuman semacamnya, air tape yang dikentalkan, badhek dan sebagainya.

Hatinya yang marah itupun menjadi semakin menyala seperti obor-obor itu dibongkok bersama-sama. Gamelan yang seperangkat itupun merupakan salah satu sumber kemunduran akhlak di Banyubiru, merupakan salah satu sebab rakyat Banyubiru kehilangan gairah pada perjuangannya.

Sendang Papat adalah seorang penari yang mencintai gamelan seperti ia menyayangi pakaian-pakaiannya.

Tetapi gamelan yang seperangkat ini, yang berada di tanah lapang untuk mengiring tayub dan mabuk-mabukan, adalah gamelan yang mengkhianati kemurnian seni, serta menerapkan seni dalam perjuangan yang tak terkendali.

Tiba-tiba Sendang Papat meloncat sambil berteriak, ”He, orang-orang Banyubiru, adakah kalian masih akan menyelenggarakan tari-tarian gila seperti malam-malam yang pernah kau lalui dengan gila-gilaan?”

Tak seorangpun yang menjawab.

”Dengar...!” teriak Sendang Papat, ”Aku akan membakar gamelan yang telah menghantarkan kalian pada keadaan yang cemar ini. Kalau kalian keberatan, lawanlah aku. Tetapi kalau kalian sependapat, ikutlah aku.”

Juga tak seorangpun menjawabnya. Karena itu tiba-tiba dengan sigapnya Sendang Papat berlari ke arah gamelan yang dibencinya itu. Dengan tangkasnya pula tangannya menyambar sebuah obor di tangan kiri dan satu obor lagi di tangan kanan. Dilemparkannya kedua obor itu ke tengah-tengah jajaran gamelan itu. Tidak hanya dua obor, tetapi tiga, empat dan lampu-lampu minyak di dingklik-dingklik itu disepak- sepaknya.

Bahkan kemudian orang-orang yang melihat perbuatannya itu menjadi terpengaruh pula. Dengan serta merekapun tiba-tiba sambil berteriak-teriak mencabut segala obor yang berada di tanah lapang itu dan dilemparkan bersama-sama ke arah seperangkat gamelan itu. 

”Bakar saja, bakar saja...!” teriak mereka bersama-sama.

Obor-obor itupun kemudian menyala berkobar-kobar. Minyak yang berada di dalam bumbung pun kemudian tumpah ruah dan membasahi gamelan-gamelan itu. Karena itulah maka sesaat kemudian, apipun menyala-nyala dengan garangnya, seolah-olah hendak menyentuh langit. Lidah api yang dihembus angin perlahan-lahan, bergoyang- goyang seperti penari-penari yang menari-nari dengan riangnya di atas gamelan yang sedikit demi sedikit hangus dimakannya. Tanah lapang itu kemudian menjadi terang benderang. Beberapa orang berusaha menyelamatkan dagangan-dagangan mereka. Tuak, minuman-minuman biasa, makanan dan apa saja diatas dasaran mereka. Tetapi api mengamuk demikian hebatnya. Dingklik-dingklik, warung-warung kacang itupun dalam sekejap telah lenyap dalam pelukan penari maut yang menari-nari dengan iringan lagu derak-berderaknya gamelan dan bambu-bambu yang terbakar.

Orang-orang Banyubiru itu seperti kelompok orang-orang yang kehilangan akal dan kesadaran. Mereka menghancurkan apa saja yang dapat mereka pegang di tanah lapang itu.

Kembali Wanamerta menekan dadanya. Keadaan berkembang sedemikian cepatnya. Tetapi ia tidak menyalahkan Sendang Papat. Sebab telah jatuh korban di pihaknya, karena kelicikan lawannya. Yang dipikirkan kemudian, bagaimanakah tanggapan Mahesa Jenar atas kejadian ini. Kejadian yang terang tidak dikehendakinya.

Tetapi kalau Mahesa Jenar mengalami sendiri peristiwa-peristiwa ini, maka iapun akan dapat mengerti.

Api semakin lama semakin tinggi menggapai-gapai di udara. Asap yang hitam membubung tinggi ke langit. Melihat api serta asap itu, Wanamerta dapat memperhitungkan keadaan. Mau tidak mau, cahaya merah yang mewarnai kehitaman malam itu pasti akan dapat dilihat oleh orang-orang Lembu Sora.

Karena itulah maka mereka pasti akan datang. Dan dengan demikian keadaan akan bertambah buruk.

Karena itu selagi,masih ada kesempatan

Wanamerta ingin mencoba menghindarkan orang-orang Banyubiru dari bentrokan bentrokan yang lebih besar. Dengan demikian ia menyusup diantara orang banyak yang seperti anak anak bermain api mendekati Sendang Papat.Ketika ia sudah berada dibelakang anak muda itu ia menggapitnya Sendang Papat menoleh kearahnya. Matanya masih merah diwarnai kemarahan yang meluap luap. Wanamerta beragu sejenak, tetapi akhirnya ia berkata;" Sendang, hentikan permainan ini." Sendang Papat memandang wajah Wanamerta dengan kecewa, bantahnya :" Aku harus membunuh semua orang yang telah bersetuju untuk membunuh adikku."

"Baiklah Sendang, aku akan membantumu. Tetapi tidak sekarang dan tidak dalam kesempatan ini." jawab Wanamerta lunak. "Kenapa aku dapat melakukannya? mereka sudah mulai sekarang." bantah Sendang Papat. "Bukan sekarang Sendang, bahkan telah lama. Dan selama ini kami masih mencari cari jalan untuk menyelesaikan masalah kita dengan orang orang yang telah keblinger itu,"Wanamerta mencoba memberikan penjelasan.

"Aku tidak sabar lagi. Adikku telah terbunuh, dan masih adakah orang yang akan berusaha menyalahkan aku?" sahut Sendang Papat.

"Tidak Sendang, tidak. Kau tidak bersalah. Kau berusaha membela adikmu, yang hanya merupakan salah seorang dari mereka yang menjadi korban peristiwa peristiwa semacam ini. Tetapi ketahuilah bagaimana sekiranya Lembu Sora datang ke tanah lapang ini?," bertanya Wanamerta.

"Bagaimanakah kalau terjadi bentrokan antara orang banyu Biru dengan pasukan Lembu Sora?."

"Aku akan berdiri paling depan. Akan aku bunuh mereka semua, atau aku yang terbunuh," jawab Sendang Papat lantang.

Wanamerta menjadi kebingungan. Meskipun apabila Lembu Sora itu benar benar datang, ia tidak akan mengingkari tanggung jawab. Sebab ialah orang tertua dari rombongannya. Sebelum Wanamerta dapat menguasai perasaan Sendang Papat yang meluap luap itu. Tiba-tiba terdengar dari kejauhan derap kaki kuda. Dada Wanamertapun berdesir. Itulah pertanda bencana akan datang. "Sendang jangan biarkan korban menjadi semakin banyak," berbisik Wanamerta. Tetapi wajah Sendang menjadi terang. Tampaknya ia menjadi gembira sekali, seperti kanak kanak yang mendapat mainan. Sesekali ia meloncat dengan lincahnya. Untuk kemudian menghambur menyongsong derap kuda yang semakin lama semakin dekat.

Beberapa orang yang yang melihatnya ikut berlari-lari dibelakangnya. Merekapun tiba tiba menjadi gembira pula. Dari dalam gelap, dibalik tikungan jalan, muncullah beberapa orang berkuda. Mereka adalah orang Lembu Sora dari Pamingit. Wajah wajah mereka tampak betapa garangnya. Cahaya api yang kemerahan itu membuat kesan yang seram pada rombongan berkuda itu. Pemimpin rombongan itu segera melihat api yang menyala- nyala. Merekapun kemudian melihat orang orang yang seolah olah mengamuk. Segera kemarahan menjalar didada mereka. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong kedatangan mereka dengan senjata pemukul, bambu dan kayu dan apasaja yang mereka ketemukan.

Pemimpin laskar itu segera memberikan perintah, dan bertebaranlah orang orang berkuda itu ke segenap penjuru. Mereka memacu kuda mereka tanpa memperhitungkan banyak orang dilapangan itu.

Beberapa orang terdorong jatuh dan bahkan ada diantaranya yang terlanggar dan terbanting di tanah.

Beberapa orang berteriak teriak mengancam dan mengumpat umpat. Sendang Papat menjadi kecewa ketika rombongan itu terpencar pencar seperti orang kesurupan dan menginjak injak yang ada di jalannya.

Melihat sikap itu Sendang Papat menjadi semakin marah.Bahkan Wanamertapun menjadi marah pula.

Ia tidak pernah membayangkan, demikian orang Pamingit memperlakukan orang Banyubiru itu dianggapnya sapi gembalaan, yang dapat digiringnya dengan pecut dan tongkat pemukul.Tetapi bagaimanapun kepalanya msdih tetap dingin. Berbeda dengan Sendang Papat yang diikuti segenap orang yang berada di tanah lapang itu. Merekapun segera memberikan perlawanan. Orang banyak itupun mengamuk sejadi-jadinya. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan tidak banyak. Mereka adalah orang yang tidak begitu banyak mendapat didikan keprajuritan. Dengan demikian perlawanan merekapun tidak banyak berarti.

Hanya Sendang Papatlah yang mampu menghadapi bahaya yang mengancam dirinya. Ketika seekor kuda dengan kencangnya berlari menerjangnya, dengan segala kekuatan ia mendesak orang disekitarnya untuk menghindar. Namun demikian kuda itu lewat disampingnya demikian ia meloncat keatas punggungnya. Sekali gerak, tangannya telah membenamkan kerisnya kepunggung orang itu yang kemudian terbanting jatuh. Dengan kuda itulah Sendang Papat melawan orang Pamingit. Tetapi Sendang Papat seorang diri itupun tak banyak yang dapat dilakukan.

Wanamerta kemudian tidak mengingkari tanggung jawabnya. ia berusaha untuk mengurangi tekanan orang Pamingit itu. Namun akhirnya satu demi satu jatuhlah korban. Sedang keributan di tanah lapang itupun semakin menjadi jadi pula. Akhirnya Wanamerta menganggap bahwa bentrokan itu harus segera diakhiri.

Ia tidak mau melihat orang kecil menjadi korban. Karena itu segera Wanamerta berteriak, "Hindarkan diri, hei orang Banyubiru. Hindarkan diri kalian." Sekali dua kali suara Wanamerta itu tenggelam saja dalam gemuruhnya teriakan rakyat yang marah serta teriakan orang Pamingit yang memaki maki. Tetapi ia tidak putus asa. Diulanginya lagi kata katanya sekali dua kali. Kemudian terdengar ia berteriak keras; "Hei orang Banyu Biru yang setia. Jangan terlalu bodoh melawan orang berkuda itu. Tinggalkan mereka. Hindarkan diri kalian dari injakan kuda-kuda itu."

Beberapa orang mendengar teriakan Wanamerta, mereka mulai berfikir. Apakah mereka akan dapat melawan orang berkuda itu. Sedangkan dihadapan mereka korban jatuh bertambah lagi. Apalgi orang Pamingit yang juga menjadi gila itu menghunus pedang mereka. Meskipun demikian Sendang Papat bertempur seperti burung Sikatan. Ia menyambar dengan lincahnya diatas kudanya. Ketika Wanamerta berteriak sekali lagi, suaranya mulai dapat perhatian. meskipun beberapa orang yang meluap luap perasaannya, seolah olah tidak akan meninggalkan tanah lapang itu meskipun seandainya mereka harus terbunuh, tetapi terdengar Wanamerta berkata: "He, hindarkan diri kalian. Jangan mati tanpa arti. Tenaga kalian masih sangat diperlukan oleh tanah kelahiran ini. Tetapi nanti dalam kesempatan yang lebih baik, dimana kalian membawa senjata di tangan kalian."

Demikianlah, kemudian orang Banyubiru itu sadar akan keadaan yang tidak berimbang. Karena itulah mereka mengikuti nasehat Wanamerta yang selalu diulang ulang. Beberapa orang meloncat dan berlari meninggalkan lapangan itu. Kuda orang Pamingit itupun mejadi liar pula. Mereka berlari lari mengelilingi lapangan seperti serigala lapar. Diatas punggung mereka itupun duduk orang gila yang liar seperti beruang alasan.

Orang berada dilapangan semakin berkurang jua. Satu satu mereka mencoba menghindarekan diri mereka dengan janji didalam dada apabila datang saatnya maka akan mereka serahkan jiwa raga mereka sebagai tebusan atas kekhilafan mereka selama ini. Tetapi kali ini, mereka tidak akan mati tanpa arti.

Beberapa orangberkuda mencoba mengejar mereka namun mereka itupun segera meloncati pagar batu dan menyusup pagar bambu, tenggelam dalam gerumbul yang gelap. Sendang Papat masih saja bertempur terus. Ia sama sekali tidak memperhitungkan lagi keadaan yang dihadapinya. ia tidak mau melihat kenyataan bahwa akhirnya ia harus bertempur seorang diri. Demikianlah kemudian tiga orang berkuda bersama-sama menyerangnya. Sendang Papat memang tangkas. Tetapi ia tidak dapat melawan ketiga- tiganya sekaligus. Ia mencoba untuk memutar kudanya, menghindar kesamping. tetapi kuda lawannya itu akan melanggarnya. Disusul dengan yang seekor lagi dari arah lain. Sendang Papat segera menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu terhenti. Seekor kuda lawannya, berlari terus kedepan, tetapi seekor lagi benar benar membenturnya.

Tekanan itu ternyata terlalu berat bagi Sendang Papat sehingga iapun kemudian terlempar dari punggung kudanya bersama sama dengan penunggang kuda yang membenturnya. Keduanya jatuh bergulingan dan berusaha bangkit kembali. Demikian mereka berdiri, demikian mereka bertempur kembali. Tetapi dalam pada itu, kawan kawannyapun telah siap pula untuk membantu. Wanamerta yang masih berdiri di tanah lapang melihat kesulitan yang bakal terjadi atas Sendang Papat. Ia tidak mau mengorbankannya. Adiknya telah terluka berat sehingga ia harus berusaha supaya kakaknya dapat diselamatkan. tetapi lawan terlalu banyak.

Untuk sesaat Wanamerta berbimbang hati. Ia menyesal bahwa Sendang Papat telah kehilangan kejernihan pikirnya sehingga seolah olah ia akan membunuh diri. Tetapi ia tidak mempunyai banyak waktu. Bagaimanapun yang terjadi ia harus membantu anak itu. Karena itulah dengan secepat ia dapat, meloncatlah orang tua itu kearah Sendang Papat, untuk membantunya. Ketika seekor kuda menyambarnya, Sendang Papat masih sempat mengelakkan dirinya bahkan ia masih dapat menyerang lawannya, yang berdiri diatas tanah. Dengan demikian, Wanamerta masih dapat menyapanya sebelum ia digilas oleh kaki kuda orang Pamingit. Yang mula mula diucapkan Wanamerta adalah "Sendang," suaranya perlahan sekali.

"Adikmu mencarimu"

"He," Sendang Papat terkejut "Prapat?"

"Ya," jawab Wanamerta. Sementara itu ia harus turut melawan lawan Sendang Papat. Sementara itu seekor kuda sekali lagi menyambar mereka. Dengan ikat kepala yang diuraikan, Wanamerta berhasil menakuti kuda itu, sehingga kuda itu meronta dan melonjak tinggi. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh sendang Papat. Dengan sigapnya ia meloncat, dan sekali lagi kerisnya membenam di tubuh orang itu.

"Naiklah kiyai," teriaknya. Tetapi Wanamerta tidak sempat naik. Orang yang semula berkelahi melawan Sendang papat menyerangnya. Ketika sebuah pedang menyambar lehernya, Wanamerta berjongkok merendahkan dirinya. Kemudian dengan kakinyha ia menghantam lambung orang itu. Demikian kerasnya sehingga orang itu terlempar. Malanglah baginya, ketika saat itu dua ekor kuda bersama sama berlari mendekati titik perkelahian. Kedua orang itu sudah siap untuk menusuk tubuh Wanamerta dari dua arah.

TIBA-TIBA seseorang terlempar ke depan mereka. Terdengarlah jerit ngeri. Tubuh itupun dengan dahsyatnya terinjak oleh kaki-kaki kuda yang sedang berlari kencang. Wanamerta hanya melihat peristiwa itu sebentar saja. Iapun segera berlari, meloncat ke atas punggung kuda, yang semula dipakai oleh Sendang Papat. Kuda itu, yang masih berdiri di tengah lapangan, menjadi terkejut dan berlari melingkar-lingkar. Untunglah Wanamerta segera dapat menguasainya.

Dalam pada itu Sendang Papat sudah bimbang. Kalau semula ia sudah berketetapan hati untuk mati dengan membawa bela sebanyak-banyaknya, kini ia terpaksa berpikir kembali. "Adakah Parapat masih hidup?" pikirnya.

Tiba-tiba Sendang Papat ingin mendapat penjelasan tentang adiknya. Karena itu Sendang Papat segera mendekatkan diri kepada Wanamerta sambil bertanya, "Adakah Kiai tadi berkata tentang Parapat?"

Mata Wanamerta tidak terpelas dari para penunggang kuda yang telah siap menerjang mereka.

Meskipun demikian ia menjawab, "Ya."

"Bagaimana dengan anak itu?" Sendang Papat minta penjelasan.

"Ia mengharap kedatanganmu. Mudah-mudahan ia masih tertolong," Wanamerta mencoba untuk memancing anak itu meninggalkan tanah lapang yang terkutuk ini.

Sementara itu, ia melihat beberapa orang lain, yang semula mengejar-ngejar orang Banyubiru telah memasuki tanah lapang kembali. Bahkan merekapun segera bersiap pula untuk menyerang. Wanamerta melihat bahaya yang bertambah-tambah, sementara itu harapannya mulai timbul kembali. Mudah-mudahan Sendang Papat bersedia meninggalkan tanah lapang ini untuk melihat adiknya.

"Tak cukup banyak waktu Sendang," kata Wanamerta pula, "Adikmu cepat-cepat harus mendapat bantuan."

"Di mana dia sekarang?" tanya Sendang Papat.

"Ia disembunyikan di rumah Ki Prana," jawab Wanamerta.

Sendang Papat merenung sejenak. Di hadapannya orang-orang Pamingit memacu kudanya ke arah mereka berdua.

"Mereka datang, Kiai," kata Sendang Papat.

Wanamerta telah melihat mereka pula. Segera ia menarik kekang kudanya memutar sekali, lalu berlari ke samping.

"Pikirkan adikmu itu," katanya sebelum kudanya berlari. Sendang Papat tidak sempat menjawab. Seekor kuda lawan menyerangnya dengan cepatnya. Ketika sebuah pedang menyambarnya, dengan cepatnya ia melekatkan tubuhnya pada punggung kudanya. Hatinya berdesir ketika Sendang Papat merasakan angin sambaran pedang menghembus tengkuknya.

"Hampir saja," desisnya. Karena itu Sendang Papat merasa bahwa lebih baik melawan orang-orang Pamingit itu, dengan pedang pula. Karena itu cepat-cepat ia meloncat turun memungut pedang dari seseorang yang telah tak berdaya untuk bangkit kembali. Dengan pedang itulah kemudian ia melawan setiap penyerangnya dengan kekuatan yang berimbang. Tetapi orang-orang Pamingit itu pun bertambah-tambah pula.

Sendang Papat melihat Wanamerta yang tua itu pun dapat bergerak mengagumkan. Di tangannya tiba-tiba saja telah tergenggam sebuah telempak, tombak bertangkai pendek. Agaknya ia pun merasa perlu untuk memegang sebuah senjata yang tidak terlalu pendek dalam pertempuran berkuda. Namun, meskipun demikian di dalam hati Sendang Papat mulailah timbul keraguan. Ia terpengaruh benar oleh kata-kata Wanamerta tentang adiknya. Karena itu selagi ia sempat, ia mendorong kudanya ke arah Wanamerta, dan dengan suara yang parau dan perlahan-lahan ia berkata, "Apakah kita lebih baik meninggalkan lapangan ini, Kiai?"

"Demikianlah, untuk keselamatan adikmu. Ia membutuhkan perawatan," jawab Wanamerta. "Baiklah," jawab Sendang Papat.

Tetapi sementara itu, Wanamerta memandang sekelilingnya dengan alis yang berkerut- kerut. Ia melihat perubahan pada tata perkelahian lawannya. Wanamerta tidak lagi melihat mereka bersiap untuk menyerang satu demi satu atau berdua atau bertiga sekalipun.

Yang dilihatnya adalah orang-orang Pamingit itu mulai membuat sebuah gelang, mengelilingi mereka berdua.

"Setan," desis Sendang Papat.

"Mereka mengepung kita," sahut Wanamerta.

Sendang Papat memutar kudanya untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Ia melihat sepuluh, bahkan lebih dari itu, orang-orang berkuda di sekelilingnya. Sedang di tengah lapang itu, ia melihat beberapa ekor kuda tak berpenumpang. Dua tiga orang Pamingit terbaring diantara beberapa orang Banyubiru yang terluka dan bahkan ada yang terbunuh di tanah lapang itu.

Suatu kekacauan yang mengerikan.

Tetapi sementara itu, Wanamerta dan Sendang Papat harus berpikir tentang diri mereka. Ketika mereka melayangkan kembali pandangan mereka, mereka melihat perlahan-lahan kuda-kuda yang mengepung itupun mulai bergerak maju. Wanamerta adalah seorang tua yang berpengalaman cukup. Karena itu segera ia mengetahui maksud orang-orang Pamingit itu. Maka desisnya, "Sendang, jangan beri kesempatan mereka bersama-sama menyerang. Kau lihat kelemahan mereka?"

Sendang menggeleng lemah. "Kita menyerang dari arah api. Aku harap mereka terganggu oleh cahaya yang silau itu. Kita tembus dinding yang bertentangan dengan arah cahaya. Secepat-cepatnya, sebelum datang yang lain, mereka sempat membantu," kata Wanamerta setengah perintah.

SENDANG PAPAT telah menangkap maksud orang tua itu. Ia memuji didalam hatinya. Tetapi ia tidak sempat untuk berkata apapun, sebab demikian Wanamerta selesai berkata, demikian ia menarik kekang kudanya dan memacu ke arah barat. Sendang Papat pun segera menyusul. Pedangnya berkilau-kilau kemerah-merahan oleh cahaya api yang sudah mulai berkurang. Namun cahayanya masih cukup besar untuk menerangi seluruh tanah lapang itu. Orang-orang Pamingit itu terkejut melihat kesigapan Wanamerta dan Sendang Papat. Meskipun mereka sudah mengira, bahwa kedua orang itu tidak akan mau menyerah begitu saja, namun serangan mereka berdua yang tiba-tiba, telah menyebabkan mereka kehilangan waktu beberapa saat untuk menilai gerakan itu.

Demikianlah, Wanamerta telah mencapai dinding kepungan itu, dengan membelakangi api yang menyala-nyala. Setiap garis-garis yang tergores pada tubuh orang Pamingit itu. Setiap gerakannyapun dapat diketahuinya. Sebaliknya orang-orang itu hanya melihat bayangan hitam seperti terbang menerkamnya. Mereka tidak dapat melihat dengan jelas, gerakan-gerakan apakah yang sudah dilakukan oleh dua hantu yang seakan-akan meloncat dari tengah-tengah itu. Karena itu mereka menjadi gugup. Tetapi sesaat kemudian, kawan-kawan merekapun menjadi sadar. Mereka akhirnya mengetahui juga, bahwa Wanamerta telah mengambil keuntungan dari cahaya api yang silau itu. Dengan demikian segera merekapun bergerak maju mengejarnya.

Ternyata perhitungan Wanamerta adalah tepat. Ia dapat mencapai dinding kepungan sebelum lawan-lawan mereka yang lain sempat membantu. Dengan telapaknya Wanamerta menyerang orang yang menghadang di hadapannya. Meskipun kemudian orang dikanan kirinya merapat, namun cahaya yang silau telah membuat untung Wanamerta dan Sendang Papat. Perkelahian yang terjadi kemudian tidak berlangsung lama. Mereka tidak dapat menahan kedua orang itu untuk menerobos kepungan mereka.

Dengan demikian akhirnya Wanamerta berhasil keluar dari lingkaran maut itu bersama- sama dengan Sendang Papat. Tetapi Wanamerta kemudian tidak mau disilaukan oleh api yang memberinya keuntungan, apabila ia harus melawan pengejarnya. Karena itu segera ia membelokkan arah kudanya ke kanan.

Tetapi orang-orang Pamingit itu telah mendapatkan kesadaran mereka. Sebagian dari mereka segera menyusul, dan sebagian lagi memotong jalan. Tetapi Wanamerta dan Sendang Papat telah melepaskan diri dari kepungan. Mereka dapat menghadapi lawan mereka dari satu arah. Meskipun demikian lawan mereka terlalu banyak. Sehingga kemudian ternyata bahwa Wanamerta dan Sendang Papat pun terdesak.

Menghadapi keadaan yang demikian, kedua orang Banyubiru yang gemblengan itu malahan telah membulatkan tekad untuk melawan sampai kesempatan terakhir. Dalam pada itu, ketika mereka sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba terdengarlah suara-suara anak muda tertawa.

Disusul oleh sebuah aba dari antara mereka, "Ayolah, kita mulai." Yang berada di tanah lapang itu kemudian dikejutkan oleh munculnya empat ekor kuda dari sudut tanah lapang itu. Kemudian seekor lagi ditunggangi oleh seorang anak muda yang tampan, bertubuh tegap dan berdada bidang.

Agaknya anak muda yang terakhir itulah yang telah mengucapkan aba-aba. Sedang keempat anak muda yang lain itupun langsung menerjunkan diri ke kancah pertempuran.

"Ayolah Kiai," teriak salah seeorang diantaranya, "Aku berada di pihak Kiai dan Paman Sendang Papat."

Wanamerta heran melihat kedatangan mereka. Demikian juga Sendang Papat. Wanamerta adalah orang Banyubiru sejak Pangrantunan. Tetapi terhadap anak-anak muda itu ia belum begitu mengenal. Sedang mula-mula Sendang Papat pun agak ragu, siapakah yang telah datang tepat pada saatnya membantu mereka berdua. Tetapi Wanamerta dan Sendang Papat belum sempat bertanya tentang mereka.

Pertempuran itu menjadi kian sengit. Keempat anak muda itupun berkelahi dengan tekad yang menyala-nyala. Dengan demikian pekerjaan Sendang Papat dan Wanamerta menjadi berkurang.

Lawan-lawan mereka setidak-tidaknya telah berkurang dengan empat orang, yang harus melayani keempat anak muda yang bertempur dengan tenaga yang penuh. Namun agaknya keempat anak muda itu masih kurang pengalaman, sehingga meskipun mereka bertempur mati-matian, tetapi ternyata bahwa mereka tidak lebih dari setiap orang dari laskar Pamingit itu. Sehingga dengan demikian, pertempuran itupun hampir tak terpengaruh oleh kehadiran keempat orang itu. Meskipun demikian, kesempatan untuk menjaga diri bagi Wanamerta dan Sendang Papat adalah jauh lebih besar dari semula. Maka semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin keras. Orang-orang Pamingit yang tidak segera dapat menyelesaikan pekerjaan mereka itupun menjadi marah dan bertempur semakin liar. Karena jumlah mereka lebih banyak maka kemudian mereka pun berhasil sedikit demi sedikit menguasai keadaan, sehingga pertempuran itupun menjadi berat sebelah.

Ternyata yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Wanamerta dan Sendang Papat. Sedang terhadap keempat anak muda itu mereka hanya sekedar memberikan perlawanan untuk menjaga mereka supaya mereka tidak dapat langsung membantu Wanamerta dan Sendang Papat. 

Dalam keadaan yang demikian itu, maka tiba-tiba pemuda yang seorang lagi yang masih duduk diam di ats punggung kudanya di tepi lapangan itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya itu sangatlah menarik perhatian.

Baik orang Pamingit maupun Wanamerta dan Sendang Papat. Bahkan kawan kawannyapun menoleh kepadanya.

"Permainan yang jelek," katanya. "Tidakkah kalian dapat berkelahi lebih baik?" "Apakah yang jelek?," jawab salah seorang temannya.

"Kalian hanya mampu berputar putar seorang penari jathilan diatas kuda kepang," jawab anak muda itu....

KAWAN-KAWAN anak muda itu tak ada yang menjawab. Tetapi pertempuran masih berlangsung terus. Sehingga kemudian terdengar ia berkata pula, "Kiai Wanamerta dan Paman Sendang Papat pun agaknya sudah terlalu payah. Tetapi cara-cara yang dipergunakan, serta gerak-gerak yang bersumber pada Paman Mahesa Jenar agaknya cukup menarik."

Wanamerta dan Sendang Papat sekali lagi terkejut bukan main. Kenapa anak muda itu mengetahui beberapa unsur gerak yang dipelajarinya dari Mahesa Jenar? Kemudian terdengarlah anak muda yang gagah tampan itu meneruskan, "Tetapi sayang, bahwa Paman Sendang Papat kurang berhasil mengambil keuntungan dari gabungan ilmu Ki Ageng Supit Wanakerta dengan ilmu dari perguruan Pengging."

Sendang Papat menjadi semakin heran. Ia belum pernah mengenal Ki Ageng Supit dari Wanakerta. Sedang yang dikenalnya hanya Wanamerta. Tiba-tiba ia tidak dapat menunda keinginannya untuk mengetahui serba sedikit tentang anak muda itu, sehingga sambil bertempur ia berteriak, "Aku belum kenal Ki Ageng Supit dari Wanakerta."

"Kalau begitu..." jawab anak muda itu, "Kakang Sendang pasti kenal salah seorang muridnya." "Siapakah dia?" tanya Sendang Papat.

"Wiraraga atau Dalang Mantingan," jawab anak muda itu. Kembali Sendang Papat keheranan. Ternyata anak muda itu kenal pula kepada Ki Dalang Mantingan. Sementara itu orang-orang Pamingit menjadi semakin mendesak pula. Sehingga akhirnya Wanamerta dan Sendang Papat benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam keadaan yang demikian itulah tiba-tiba anak muda yang masih berdiam diri di pinggir tanah lapang itu berkata lantang, "Maafkan aku Kiai Wanamerta dan Kakang Paman Papat kalau aku ikut campur pula dalam pertempuran ini."

Setelah selesai dengan kata-katanya, segera ia mendorong kudanya untuk terjun ke dalam pertempuran. Mula-mula orang Pamingit itu tidak banyak memperhatikannya. Mereka mengira bahwa anak muda itu tidak terlalu jauh terpaut dari keempat kawannya. Tetapi ketika anak muda itu telah benar-benar bertempur, ternyata ia benar-benar mengejutkan. Dalam saat yang sangat pendek, ternyata ia telah berhasil melemparkan dua orang Pamingit dari kudanya.

"Gila...!" teriak salah seorang yang terlempar itu dengan penuh kemarahan. Punggungnya terasa betapa sakit, sedang bajunya tersobek lebih sekilan. Dengan mengumpat-umpat ia berusaha untuk mengejar kudanya kembali dan dengan susah payah ia meloncat ke punggungnya. Demikian pula kawannya yang seorang lagi.

Sambil memungut pedangnya ia berteriak, "Anak gila, agaknya kaupun ingin menjadi bangkai seperti Wanamerta dan Sendang Papat."

Anak muda itu tertawa. Sedang tandangnya menjadi semakin mengherankan. Ia menyerang seperti elang untuk kemudian melingkar dan menyerang kembali. Ia tidak pernah menghindari setiap serangan, dan bahkan dengan tertawa nyaring ia melawan dua tiga orang sekaligus.

"Aneh," pikir Wanamerta dan Sendang Papat seperti berjanji. Perhatian orang-orang Pamingit kemudian lebih banyak tertuju kepadanya daripada Wanamerta dan Sendang Papat. Apalagi mereka berduapun menjadi seolah-olah penonton yang keheranan. Demikian juga keempat kawan-kawannya. Anak muda itu, yang bertubuh tegap dan kekar dan tampan, bertempur seperti anak bermain kejar-kejaran.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesungguhan. Sayang bahwa cahaya api yang semakin pudar, tidak memberi kesempatan kepada Wanamerta dan Sendang Papat untuk mengenalnya dengan baik.

Dengan nada yang segar, anak muda itu berkata, "He, kawan-kawan dari Pamingit. Kenapa kalian bersusah payah mengejar-ngejar Kiai Wanamerta dan Kakang Sendang Papat, sedang orang-orang yang bersalah tidak kau tangkapi?"

"Siapa yang bersalah itu?" teriak orang-orang Pamingit dengan marah.

"Sontani dan orang-orangnya," jawab anak muda itu. "Omong kosong," bentak orang Pamingit yang lain sambil memutar pedangnya menyambar punggung anak itu. Dengan enaknya anak muda itu mengelak tanpa berkisar. Tetapi kemudian dengan satu gerakan yang sederhana ia telah berhasil memukul dengan tangannya.

Ya, dengan tangannya, pergelangan tangan orang yang menyerangnya, sehingga terdengar ia mengaduh perlahan, dan pedangnya terpelanting jatuh di tanah.

Orang itu menggeram marah, tetapi ia memacu kudanya menjauhi anak muda itu, sebelum ia berhasil mendapatkan sebilah pedang yang lain yang dipungutnya dari seorang kawannya yang telah terbaring di tanah. Anak muda itu masih bertempur dengan lincahnya.

Wanamerta dan Sendang Papat, seolah-olah terbebas sama sekali dari perkelahian itu. Mereka kini tinggal menghadapi seorang-seorang. Sedang yang lain lebih banyak mencari perhatian untuk menjatuhkan pemuda itu lebih dahulu.

Dengan tertawa anak muda itu kemudian terdengar berkata, "He, kawan-kawan Pamingit. Demikianlah kira-kira yang akan kalian alami, kalau kalian pada suatu saat terpaksa bertempur melawan Arya Salaka."

SEORANG dari anak muda itu mengulangi kata-katanya, ”Arya Salaka...?” Sedangkan dalam hati Wanamerta dan Sendang Papat tertarik pula pada kata-kata itu. ”Ya, Arya Salaka dapat bertempur jauh lebih baik lagi. Aku hanya menirukan beberapa bagian dari ilmunya,” lanjut anak muda itu. Tak ada yang terdengar menjawab perkataannya. Tetapi orang-orang Pamingit itu agaknya menjadi semakin marah. Namun mereka harus melihat kenyataan bahwa mereka tidak akan mampu melawan anak muda itu bersama-sama dengan Wanamerta, Sendang Papat dan keempat anak-anak muda yang lain, yang menganggap perkelahian itu seperti permainan saja. ”Arya Salaka dapat memukul hancur kepala kuda yang kalian naiki hanya dengan tangannya.” Anak muda itu meneruskan.

Dan tiba-tiba ia menyambar salah seorang lawannya, dan dengan gerak yang mengejutkan ia menghantam kepala kuda itu. Terdengarlah suara ledakan disusul dengan teriakan-teriakan anak-anak muda yang lain, seperti mereka melihat kawannya menang bertaruh. Kuda itu menggeliat dan memekik tinggi. Sesaat kemudiah jatuh berguling untuk selama-lamanya. Dari kepalanya mengalir darah bercampur otak yang menghambur-hambur.

Orang yang semula melekat di punggung kuda itu, juga terbanting. Seperti orang lumpuh ia menyaksikan kepala kudanya pecah. Tubuhnya terasa gemetar dan seolah-olah segala persendian tubuhnya terlepas satu sama lain.

”Hebat..., hebat   ” teriak kawan-kawannya.

Tetapi orang-orang Pamingit menjadi pucat karenanya. ”Hebat ” desis Wanamerta dan

Sendang Papat perlahan-lahan.

Anak muda itu memutar kudanya sekali. Dan orang-orang Pamingit mulai menjauhinya. ”Lihatlah kepala kuda itu,” katanya. Wajahnya yang cerah itu beredar berkeliling. ”Nah, siapa yang ingin kepalanya sendiri aku pecahkan seperti kepala kuda itu?” katanya pula.

Tak seorangpun terdengar menjawab. Orang-orang Pamingit itupun telah berhenti menyerang dengan kuda-kuda mereka, tegak beberapa langkah berkeliling, seperti hendak mengepung anak muda itu.

Namun tak seorangpun berani mendekati. ”Nah, ketahuilah bahwa Arya Salaka pun mampu berbuat demikian,” katanya.

”Tetapi itu tidak mengherankan.” Tiba-tiba salah seorang dari orang-orang Pamingit itu berkata. Mata anak muda itupun menjadi redup. Dengan sudut matanya ia memandang orang Pamingit itu. ”Kau tidak heran ?” Ia tanya.

Ternyata orang Pamingit itu menjadi gemetar. Tetapi ia malu untuk menunjukkan perasaan takutnya. Meskipun terbata-bata ia menjawab, ”Sawung Sariti pun mampu melakukan. Ia memiliki aji Lebur Sekethi.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Lalu berkata, ”Hebat. Memang, Lebur Sekethi pun hebat pula. Sehebat Sasra Birawa dan Cundha Manik dari Gunungkidul. Tetapi ilmu semacam itupun mengenal tingkatan pula. Sawung Sariti menekuni ilmunya sambil makan dan minum seenak-enaknya. Kalau ia lelah, ia dapat berbaring di tempat pembarian yang empuk dan baik. Tetapi tidak dengan Arya Salaka.”

Anak muda itu berhenti sambil menarik nafas. Ia menunggu kalau-kalau ada yang mencoba menjawabnya. Namun orang-orang Pamingit itu menjadi seperti orang-orang terinjak. Diam.

”Dengarlah...” katanya kemudian, ”Sawung Sariti berlatih di dalam pendapa yang terlindung dari terik matahari. Beberapa orang mengipasinya kalau keringatnya mulai mengalir. Dengan tergesa-gesa gadis-gadis menyediakan air hangat bila ia haus.”

Anak muda itu kemudian meneruskan, ”Tetapi apa yang terjadi dengan Arya Salaka? Ia mesu diri sejadi-jadinya dalam masa pembajaan. Apabila siang, ia berlatih di terik panas matahari. Apabila malam ia berlatih dalam buaian angin malam. Kalau ia lelah, ia membaringkan dirinya, beralas rumput,berselimut langit. Kalau ia haus, minumlah ia air hangat yang baru memancar dari sumbernya. Sedangkan kalau ia lapar, dengan sabarnya ia menunggui perapian dimana ia merebus jagung atau ketela pohon.”

”Disamping itu, ia memperkuat tubuhnya dengan bekerja keras. Ia mencangkul diantara para petani. Berjuang melawan ombak dan taupan diantara para nelayan. Nah, katakan sekarang hai orang-orang Pamingit. Siapakah yang kira-kira akan lebih kuat dan masak menguasai ilmunya. Arya Salaka atau Sawung Sariti?” lanjut anak muda itu.

Tak ada jawaban.

Orang-orang Pamingit itu masih diam. Beberapa orang menjadi semakin pucat. ”Tidakkah ada yang dapat menjawab?” tanya anak muda itu pula. Lalu tiba-tiba sambil menunjuk kepada orang yang semula memperbandingkan Arya Salaka dan Sawung Sariti, anak muda itu bertanya, ”Hai, kau yang membanggakan anak Lembu Sora itu, jawablah, manakah yang lebih masak. Lebur Sekethi yang dibumbui dengan pemanjaan diri ataukah Sasra Birawa yang dialasi oleh penderitaan lahir dan batin, namun dijiwai oleh ketawakalan dan pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa...?”

Orang yang ditunjuk itupun menjadi semakin ketakutan. Terasa lututnya bergetar. Dan mulutnya tiba-tiba seperti terkunci.

”Tidakkah kau bisa menjawab?” tanya anak muda itu pula. Namun orang itupun benar- benar tak mampu menjawab. Karena itu terdengarlah anak muda itu tertawa. ”Jangan takut,” katanya. ”Aku tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian, apabila tidak berbuat hal-hal yang tak aku kehendaki.”

ANAK MUDA itu diam sesaat, lalu meneruskan, ”Ketahuilah dan rasakanlah kebenaran kata-kataku. Ilmu yang bagaimanapun dahsyatnya, tetapi ia tidak diterapkan dalam pengabdian yang benar, ia sama sekali tak berarti. Bahkan ia akan menjadi jauh lebih berbahaya dari segala macam ilmu. Sebaliknya Arya Salaka telah menempatkan dirinya dalam kancah penderitaan lahir batin. Dengan suatu keyakinan, bahwa berbahagialah mereka yang menderita. Sebab dengan demikian ia akan dapat menempatkan dirinya dalam pengabdian untuk mereka yang menderita. Dalam tempat itulah Arya Salaka akan mempergunakan ilmunya. Dan tidak mustahil bahwa pada suatu ketika Arya Salaka akan berdiri berentang muka dengan Sawung Sariti. Masing-masing dengan Sasra Birawa dan Lebur Seketi. Tetapi Lebur Saketi yang telah dinodai.” Ketika anak muda itu diam untuk sesaat, lapangan itu dicengkam oleh kesepian. Suara api telah lama terhenti. Dan nyalanyapun telah menjadi semakin pudar pula. ”Kalau begitu...” akhirnya anak muda itu berkata pula, ”Tinggalkan tempat ini. Katakan kepada laskar Pamingit yang lain bahwa Arya Salaka akan datang. Katakan bahwa seorang anak muda telah mempertunjukkan ilmu Arya itu. Sebagian kecil saja. Sebab Arya Salaka tidak saja dapat memecahkan kepala kuda, tetapi batu sebesar kepala kuda itu, dan bahkan kepala kalian semua.”

Mendengar kata-kata itu, mulailah laskar Pamingit itu gelisah. Mereka, yang bagaimanapun juga adalah laskar-laskar yang dipercaya, agak malu untuk begitu saja meninggalkan tugasnya. Karena itulah maka anak muda itu membentak, ”Kenapa kalian belum juga pergi? Apakah kalian masih ingin melihat pertunjukan yang lain...? Pergilah. Kenangkanlah di dalam dadamu. Kalau Arya Salaka mampu berbuat demikian, apakah yang akan dapat dilakukan oleh gurunya, Mahesa Jenar?”

Sekarang orang-orang Pamingit itu tidak menunggu perintah itu untuk ketiga kalinya. Ketika salah seorang dari mereka, menarik kekang kudanya, dan kemudian memutarnya, yang lain-lainpun segera berloncatan meninggalkan tanah lapang yang mengerikan itu. Sesaat kemudian tinggallah Wanamerta, Sendang Papat, anak muda yang perkasa itu dan keempat kawannya.

Dalam cengkaman keheranan Wanamerta dan Sendang Papat tertegun seperti tonggak batu. Mereka tersadar ketika anak muda itu mendekati mereka sambil berkata, ”Paman Wanamerta, sebaiknya Paman meninggalkan tempat ini. Siapa tahu bahwa laskar Pamingit akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Meskipun barangkali aku masih dapat melindungi Paman dan Kakang Sendang Papat, meskipun seandainya Lembu Sora sendiri yang datang, namun perbuatan itu sama sekali kurang bijaksana. Bukankah Paman mendapat kesempatan untuk pergi sekarang?”

”Ya, ya, Ngger,” jawab Wanamerta terputus-putus, ”Aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga.”

”Paman dapat mempergunakan kuda-kuda kami untuk kawan-kawan Paman dan Kakang Sendang Parapat. Tinggalkan kota ini sebelum matahari terbit. Supaya Paman tidak banyak mengalami gangguan, serta kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya dapat dikurangi.”

Anak muda itu meneruskan. ”Baik, baik Ngger,” jawab Wanamerta, yang seolah-olah merasa dirinya betapa bodohnya. Tiba-tiba ia teringat pada keinginannya untuk mengetahui siapakah pemuda yang aneh, yang memiliki keperkasaan yang luar biasa itu. Katanya kemudian, ”Tetapi perkenankanlah aku mengetahui siapakah Angger-angger ini semuanya?” A

nak muda itu tersenyum. Jawabnya, ”Paman tidak perlu mengenal aku. Aku adalah anak kabur kanginan. Tanpa tempat tinggal, tanpa sanak kadang.” Wanamerta menarik nafas panjang. Desaknya, ”Ah, apakah keberatan Angger?. Aku hanya sekadar ingin menceritakannya kepada Angger Mahesa Jenar dan Cucu Arya Salaka, bahwa Angger telah menyelamatkan kami berdua.”

Anak muda itu tertawa. Kemudian ia meloncat dari kudanya. Ia tidak menjawab pertanyaan Wanamerta, tetapi katanya, ”Bawalah kudaku. Kawan-kawanku akan mengantarkan. Seterusnya, pakailah kuda-kuda mereka untuk kembali ke perkemahan.”

”Terimakasih Ngger,” jawab Wanamerta, ”Kami mengucapkan terimakasih yang tak ada taranya. Tetapi Angger belum menjawab pertanyaanku.” Sekali lagi anak itu menghindari pertanyaan Wanamerta, katanya, ”Waktuku tidak terlalu banyak Paman. Kami persilahkan Paman berangkat.”

Lalu kepada kawan-kawannya ia berkata, ”Antar Paman sampai tempat Kakang Sendang Parapat disembunyikan. Pinjamkan dua ekor kuda kalian. Aku akan pulang dahulu dengan berjalan kaki.” Pemuda itu tidak menunggu lama, kepada Wanamerta ia minta diri, katanya, ”Sudahlah Paman, aku tidak akan membuat permusuhan-permusuhan di Banyubiru. Lebih baik aku menyembunyikan diri. Salamku buat Paman Mahesa Jenar dan Arya Salaka, Bibi Wilis dan Widuri, kalau ia turut serta. Juga untuk Paman Kebo Kanigara.”

Setelah itu, maka dengan tidak menunggu jawaban, ia melangkah meninggalkan Wanamerta dan Sendang Papat yang memandanginya dengan kagum. Anak itu berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Seakan-akan dari tubuhnya memancarkan kewibawaan yang agung.

Tiba-tiba Wanamerta ingat kepada kata-katanya. Kata-kata anak muda yang tak mau dikenal itu, bahwa Arya Salaka pun mampu melakukan apa yang baru saja dilihatnya dengan Sasra Birawa. Karena itulah ia menjadi bangga dan berbesar hati. Meskipun Arya agak lebih muda dari anak yang aneh itu, namun ia yakin bahwa Arya Salaka pun akan mampu menggemparkan orang-orang Pamingit kelak.

”Marilah Paman ” Tiba-tiba seorang dari anak muda yang empat itu mengajak.

WANAMERTA terkejut. Seperti orang tersadar dari mimpinya, ia menjawab tergagap, ”Marilah Angger.” Sesaat kemudian berjalanlah iring-iringan kuda itu ke rumah Prana, tempat Sendang Parapat disembunyikan. Sendang Papat menggandeng kuda anak muda yang tak mau dikenalnya, sedang Wanamerta duduk dengan muka tunduk.

Tiba-tiba seperti orang yang teringat sesuatu Wanamerta bertanya, ”Anak-anak muda, siapakah sebenarnya kalian ini?” Mereka berempat tersenyum bersama-sama. Salah seorang dari mereka menjawab, ”Kami adalah anak-anak Banyubiru saja Kiai.” Wanamerta menarik nafas kecewa. Anak-anak itupun agaknya tidak mau menyatakan diri mereka. Ia menjadi heran, kenapa hal itu disembunyikan. Apakah mereka takut pembalasan dendam dari orang-orang Pamingit? Dan bukankah ia bukan orang Pamingit? Dan bukankah anak muda yang pertama tadi tidak takut kepada Lembu Sora sekalipun? Alangkah hebatnya. Seorang yang masih semuda itu, telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan dengan Ilmu Lembu Sora. Tetapi Wanamerta tidak bertanya lagi. Ia merasa bahwa hal itu tak akan berguna. Kenangannya kemudian bergeser kepada Sendang Parapat. Mudah-mudahan ia mendapat pertolongan.

Perjalanan mereka tidak memerlukan waktu lama. Rumah Prana tidak begitu jauh dari tanah lapang itu. Begitu mereka sampai, Sendang Papat tidak menunggu lagi. Segera ia meloncat menambatkan kudanya serta kuda yang dituntunnya, untuk kemudian dengan tergesa-gesa mengetuk pintu rumah itu. Sekali dua kali, ketukannya tidak mendapat jawaban.

Baru setelah Sendang Papat mengulang-ulang, terdengarlah seseorang bertanya, ”Siapa...?”

”Aku Sendang Papat,” jawabnya. Perlahan-lahan pintu rumah itupun terbuka. Seorang yang telah setengah umur, berdiri dibalik pintu itu. ”Paman Prana,” sapa Sendang Papat. ”O, kau Sendang, masuklah,” jawab Prana.

”Aku bersama dengan Kiai Wanamerta,” jelas Sendang Papat. ”Marilah Kiai,” ajak Prana, ”Marilah masuk.” Wanamerta mengangguk sambil menjawab, ”Baiklah Prana.” Lalu kepada keempat pemuda yang mengantarnya ia berkata, ”Kami persilahkan angger singgah di rumah sahabat ini.”

”Terimakasih Kiai, kami akan segera pulang,” jawab mereka. Dan setelah mereka meninggalkan dua kuda mereka, segera merekapun minta diri. Keempat anak muda itu dengan mempergunakan dua ekor kuda segera meninggalkan halaman itu.

”Anak-anak yang aneh,” gumam Wanamerta. Sendang Papat sudah tidak sabar lagi. Segera ia bertanya tentang adiknya. Setelah pintu rumah itu ditutup kembali, segera mereka dibawa ke ruang belakang, dimana Sendang Parapat dibaringkan.

Ketika Wanamerta dan Sendang Papat memasuki ruangan itu, mereka melihat tubuh Sendang Parapat diam terbaring. Di sebelahnya duduk tiga orang kawannya.

Ketika Sendang Papat meraba tubuh adiknya itu, Sendang Parapat membuka matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berkata, ”Maafkan aku Kakang, aku tidak dapat memenuhi harapanmu. Menjadi prajurit yang baik.”

Sendang Papat merapatkan diri duduk di samping adiknya. Bisiknya, ”Kau telah berusaha Parapat. Kejadian ini sama sekali bukan salahmu. Orang-orang Sontani telah mulai dengan curang, menyerang kau dari belakang.”

”Tidak sepantasnya aku mengemban tugas ini Kakang.” Sendang Parapat meneruskan seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata kakaknya. ”Jangan berpikir terlalu jauh, Parapat...” sahut Wanamerta. ”Kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Bukankah tak seorangpun mampu berbuat sesuatu, apabila ia mendapat serangan seperti serangan atas dirimu? Sekarang, tenangkan hatimu. Mudah- mudahan lukamu lekas sembuh.”

”Ya,” jawab Sendang Parapat, ”Aku ingin lukaku lekas sembuh. Sekarang, aku tunggu. Besok aku akan kembali dengan keris ditangan.” Wanamerta, Sendang Papat dan mereka yang mendengar kata-kata itu menjadi terharu.

”Bagus...” bisik Wanamerta. ”Kau akan segera kembali ke Banyubiru.” Sendang Parapat diam. Tetapi wajahnya sudah tidak terlalu pucat. Nafasnya telah mulai teratur. Darah sudah tidak mengalir lagi dari lukanya. Agaknya Ki Prana berhasil mendapatkan jenis daun-daunan yang baik. Dalam keadaan yang demikian itulah Wanamerta dan Sendang Papat teringat kepada pesan anak muda yang aneh itu, ”Tinggalkan tempat ini sebelum matahari terbit.”

”Sendang...” berbisik Wanamerta, ”bagaimana dengan pesan anak muda itu?”

”Baiklah kita usahakan Kiai. Kita tinggalkan kota ini sebelum matahari terbit,” jawab Sendang Papat. Mereka berdua bersama-sama memandang Sendang Parapat. Dapatkah anak itu diajak berjalan atau berkuda? Agaknya Sendang Parapat merasa, bahwa dirinya menjadi persoalan. Karena itu perlahan-lahan ia berkata, ”Aku dapat berbuat apa saja yang kalian kehendaki. Berjalan pulang atau bertempur sekarang juga.”

Wanamerta menarik nafas. Anak muda ini memang berhati baja seperti juga kakaknya yang hampir saja bunuh diri. ”Parapat...” jawab Wanamerta, ”Baiklah kami berkuda pulang ke perkemahan. Di sana dapat kita kaji untung rugi dari setiap langkah kita dengan tenang.”

”Apalagi berkuda,” jawab Parapat. Kemudian merekapun segera bersiap. Prana tidak dapat menahan mereka, sebab ia tahu bahwa mereka sedang melakukan tugas mereka. Setelah luka Sendang Parapat dibalut, maka segera ia dipapah dan diangkat ke atas punggung kuda untuk dinaiki bersama dengan kakaknya.

PRANA berdesis, “Kuda yang bagus. Dari mana Kiai mendapatkan kuda ini?”

“Dari seorang anak muda yang tak mau kami kenal,” jawab Wanamerta. “Yang berempat tadi?” tanya Prana.

“Seorang lagi,” jawab Wanamerta pula. “Kawan dari yang empat ini.”

“O...” sahut Prana, “Kalau yang empat itu, aku kenal mereka.”

“He...?” Sendang Papat memotong, “Siapakah mereka?” “Belum lama mereka muncul. Sebelumnya mereka selalu tekun ke padepokan Lemah Telasih,” jawab Prana. “Putra Ki Lemah Telasih?” tanya Wanamerta.

“Ya. Putra dan kemenakan Ki Lemah Telasih,” jawab Ki Prana. “Ya ampun,” sahut Wanamerta, “Jadi mereka anak-anak dan kemenakan Ki Lemah Telasih yang juga disebut Buyut Banyubiru itu?”

“Ya.” “Yang seorang lagi?” Sendang Papat menyela.

“Siapa?” sahut Prana, “Mereka hanya selalu berempat. Tak ada orang lain di padepokan itu.”

“Ada. Seorang yang gagah tampan dan berwibawa anggun. Sungguh anak yang luar biasa,” sambung Sendang Papat.

Ki Prana menggelengkan kepalanya.

“Entahlah,” jawabnya. Wanamerta dan Sendang Papat jadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksa untuk mendapat jawaban. Karena itu segera mereka minta diri untuk segera kembali ke perkemahan.

Sesaat kemudian mereka segera berangkat beriringan. Sekarang ketiga orang kawan Sendang-lah yang berkuda di muka. Kemudian Sendang kakak-beradik.

Malam masih gelap bukan main. Di langit bintang-bintang berkedip-kedip gemerlapan. Angin pegunungan yang segar perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang sedang menempuh perjalanan.

Alangkah dinginnya. Tetapi udara yang segar itu telah menyegarkan tubuh Sendang Parapat. Di sana-sini terdengar ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya.

“Hampir pagi,” desis Wanamerta.

“Fajar telah membayang di timur,” sahut Sendang Papat. Kemudian mereka diam.

Masing-masing terbenam ke alam yang lampau. Semasa Banyubiru mengalami masa yang aman damai. Semasa mereka menikmati hidup yang tenteram. Sebelum orang-orang dari golongan hitam mulai mengganggu daerah ini, disusul oleh nafsu berkuasa dari adik Ki Ageng Gajah Sora sendiri.

Dua bencana yang sama-sama menjadikan Banyubiru porak poranda. Dikenangnya masa-masa yang lampau. Sekali dua kali, dalam perayaan-perayaan bersih desa, ia selalu muncul dalam malam-malam yang mengesankan. Sebagai seorang penari yang baik bersama dengan adiknya, ia selalu mendapat perhatian dari kawan-kawannya. Apabila ia menari topeng dalam lakon Panji, yang kadang-kadang pertunjukan itu sampai menjelang pagi. Ia kemudian menjadi bangga kalau pertunjukan selesai, tanpa melepaskan pakaian penernya, ia berjalan menyusur jalan-jalan kota, pulang ke rumahnya. Ia menjadi semakin bangga kalau gadis-gadis yang berdiri di tepi jalan saling berbisik, “Itulah Sendang Papat, penari terbaik dari anak-anak muda di Banyubiru.”

Fajar kali inipun ia menyusuri jalan kota. Tetapi untuk menjauhinya. Tak seorangpun kali ini yang berbisik-bisik, “Itulah Sendang Papat, penari terbaik dari anak-anak muda di Banyubiru.” Namun meskipun demikian, kali ini pun ia bangga. Hatinya sendirilah yang berbisik-bisik, “Inilah Sendang Papat, salah seorang anak muda di Banyubiru yang berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran.”

Tetapi yang terdengar di fajar yang dingin itu hanyalah angin yang berdesir. Warna semburat merah mulai tersirat dari balik punggung-punggung pegunungan. Dan rombongan itupun menjadi semakin jauh dari pusat kota menuju ke perkemahan yang sudah dekat berada di hadapan mereka. Sebab sebelum mereka berangkat, mereka sudah mengetahui bahwa laskar Banyubiru itupun akan merangkak maju mendekati kota. Ketika mereka telah melampui batas, legalah hati mereka. Sebab kemungkinan untuk menemui bahaya menjadi semakin berkurang. Mereka pasti, bahwa laskar Lembu Sora tak akan mengejar mereka. Sebab merekapun pasti ragu pula, apakah orang-orang Banyubiru itu tidak membawa banyak kawan.

Ketika matahari kemudian menjenguk dari atas perbukitan dan melemparkan sinarnya yang pertama, Wanamerta dan kawan-kawannya telah jauh dari setiap bahaya yang mengancam. Mereka dapat berjalan dengan tenang menuju ke perkemahan, di sana menunggu Mahesa Jenar dan Arya Salaka.

Tetapi semakin dekat mereka dengan perkemahan, semakin gelisahlah mereka. Apakah yang akan dikatakan oleh Mahesa Jenar tentang mereka, tentang rombongan kecil yang ditugaskan untuk meyakinkan rakyat Banyubiru tentang kebenaran perjuangan Arya Salaka...?

Rombongan kecil itu mendapat tugas untuk memperbanyak kawan, bukan lawan. Sedang yang terjadi adalah sebuah keributan dan bencana, meskipun itu adalah di luar kehendak mereka. Namun disamping perasaan gelisah mereka tidak lupa, mengucap syukur di dalam hati mereka, bahwa mereka telah terlepas dari bahaya maut yang hampir saja menjebak mereka. Mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, yang masih memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati kecerahan sinar matahari. Ketika matahari sepenggalah, tampaklah di hadapan mereka, di dalam sebuah lembah yang berdinding curam, rumah-rumah kacang daun ilalang.

Itulah perkemahan anak-anak Banyubiru. Mereka memilih tempat itu untuk menghindari penyerbuan yang tiba-tiba. Sebab di lembah itu, mereka hanya dapat dicapai lewat mulut yang menghadap ke dua arah. Sehingga dengan demikian, mereka seolah-olah berada di dalam sebuah benteng yang kuat.

DEMIKIANLAH kedatangan Wanamerta mengejutkan anak-anak Banyubiru. Mereka menyangka bahwa Wanamerta akan tinggal di dalam kota beberapa hari lamanya. Tiba- tiba baru semalam mereka meninggalkan induk pasukan, kini mereka telah datang kembali. Apalagi ketika mereka melihat salah seorang dari rombongan itu terluka.

”Sendang Parapat terluka,” teriak salah seorang. ”He..?” sahut yang lain terkejut, ”Apa katamu?”

”Sendang Parapat terluka,” teriak orang pertama. Teriakan itu kemudian berkumandang, dan mengalir dari mulut ke mulut yang lain. Maka gemparlah perkemahan itu. Seorang kemudian berlari menemui Mahesa Jenar dan dengan nafas yang memburu berkata tergesa-gesa, ”Wanamerta telah kembali. Sendang Parapat terluka. Agaknya lukanya cukup berat.”

Mahesa Jenar, Arya Salaka dan Kebo Kanigara yang berada di perkemahan itu terkejut. Dengan gemetar Arya Salaka terloncat berdiri sambil bertanya, ”Apa katamu? Sendang Parapat terluka?”

Orang itu mengangguk.

Arya Salaka benar-benar terpengaruh oleh berita itu. Sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat menghambur menyongsong rombongan kecil itu, disusul oleh Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketegangan yang gelisah.

Dari kejauhan Arya melihat rombongan kecil itu dikerumuni oleh laskarnya. Wanamerta telah turun dari kudanya. Demikian juga kawan-kawannya yang lain, kecuali Sendang Papat yang masih menjaga adiknya di atas punggung kuda.

Ketika orang-orang yang mengerumuni Wanamerta itu melihat kedatangan Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, segera menyibaklah mereka. Sesaat kemudian disusul kedatangan Mantingan, Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri.

Arya Salaka memandang Sendang Parapat yang pucat di atas punggung kudanya. Ketika matanya tersangkut pada darah yang memerah di pakaian anak muda itu, hatinya berdesir cepat.

Tiba-tiba terdengarlah pertanyaannya dengan suara yang bergetar, ”Kau terluka Kakang Parapat?”

Sendang Parapat mengangguk. Namun mulutnya mencoba untuk tersenyum. Dengan suara perlahan-lahan ia menjawab, ”Tidak seberapa. Hanya luka kecil.”

Arya menarik nafas, kemudian terdengarlah giginya berdetak. Dari matanya memencar kemarahan yang tak terkira. ”Siapakah yang melukaimu?”

Sendang Parapat tidak menjawab. Ia menoleh kepada Wanamerta. Agaknya ia minta supaya orang tua itulah yang menjelaskannya. Tetapi sebelum Wanamerta berceritera, berkatalah Mahesa Jenar, ”Paman, bawalah Sendang Parapat ke kemahku. Biarlah lukanya mendapatkan perawatan. Sementara itu Paman dapat berceritera dengan tenang tentang apa yang telah terjadi atas Paman dan Sendang berdua.”

Wanamerta mengangguk. Kemudian dibawanya Sendang Parapat ke kemah Mahesa Jenar. Kebo Kanigara yang telah cukup lama tinggal di padepokan Karang Tumaritis, agaknya telah prigel pula mengobati luka. Demikianlah ia mencoba membuka luka Sendang Parapat dan membersihkannya dengan air hangat.

”Bagaimana Kakang?” tanya Mahesa Jenar. Sedangkan Arya Salaka menjadi gelisah mondar-mandir di dalam ruangan itu.

”Mudah-mudahan luka-luka ini segera sembuh,” jawab Kebo Kanigara, yang kemudian mengobati luka-luka dengan ramuan dedaunan dan akar-akaran yang memang sudah disediakan.

Ketika Sendang Parapat telah dibaringkan, maka mulailah Mahesa Jenar bertanya kepada Wanamerta, ”Apakah yang telah terjadi dengan rombongan kecil itu.”

Dengan hati-hati Wanamerta menceritakan semua yang telah dialaminya. Sejak ia menginjakkan kakinya di kota, sampai ia meninggalkan kota itu, tanpa menyembunyikan atau menambahnya sama sekali. Diceriterakan pula bagaimana Sendang Papat seolah- olah menjadi gila ketika ia mengira adiknya telah mati. Sehingga bagaimana mungkin seorang penari sampai hati membakar seperangkat gamelan.

Mahesa Jenar mendengarkan setiap kata-kata Wanamerta dengan seksama. Demikian juga Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Bahkan pada wajah Arya Salaka kemudian tergores luka di hatinya, sehingga keringat dingin membasahi dahi serta punggungnya. Ia merasa bahwa Wanamerta telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menghindari bentrokan yang mungkin terjadi, namun agaknya orang-orang yang menentangnya itu benar-benar telah kehilangan jantungnya.

Sedangkan Wanamerta kemudian menjadi gelisah kembali. Bagaimanakah penilaian Mahesa Jenar kepada hasil pekerjaannya.

Ketika Wanamerta telah berhenti berceritera, terdengarlah Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ruangan itu kemudian menjadi sepi senyap. Semuanya menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Mahesa Jenar.

”Paman ” Terdengarlah Mahesa Jenar berkata perlahan-lahan. ”Kalau demikian, maka

peristiwa itu dapat berakibat buruk. Hari ini orang-orang Pamingit pasti akan mengadakan tindakan-tindakan yang dapat melukai hati rakyat Banyubiru sebagai pembalasan dendam.

SEMUA terdiam. Wanamerta sendiri menyadari hal itu. Karena itu ia berusaha sedapat- dapat menghindarkan diri dari setiap bentrokan yang terjadi. Tetapi ia tidak berhasil. Kemudian terdengar Mahesa Jenar meneruskan, ”Tetapi bukanlah salah Paman.”

Wanamerta menarik nafas. Syukurlah kalau Mahesa Jenar mengetahui kesulitan yang dihadapinya pada waktu itu. Dalam pada itu Mahesa Jenar menyambung kata-katanya pula, ”Tetapi siapakah yang telah berusaha untuk menyelamatkan Paman dari tangan orang-orang Pamingit itu?”

Wanamerta menggeleng lemah. ”Aku tidak dapat mengetahuinya Ngger. ”Aneh...” Mahesa Jenar bergumam. ”Tetapi keempat kawan-kawannya dapat dikenal oleh Ki Prana,” sahut Sendang Papat, ”Mereka adalah putra-putra dan kemenakan Ki Lemah Telasih yang juga disebut Ki Banyubiru.

Tetapi yang seorang itu tak diketahuinya.” ”Bagaimana dengan tanda-tanda yang dimilikinya?” tanya Mahesa Jenar pula. Kemudian Wanamerta mencoba untuk menggambarkan tokoh anak muda yang aneh itu.

Tiba-tiba Widuri tertawa. Dan suara tertawanya telah mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Ketika ia sadar bahwa seluruh perhatian tertumpah kepadanya, ia menunduk malu.

”Kenapa kau tertawa?” tanya ayahnya. ”Anak muda yang aneh itu,” jawabnya. ”Kenapa dia?” desak ayahnya.

”Bukankah anak muda itu Kakang Karang Tunggal?” sahut Widuri. ”He...?” Kanigara mengerutkan keningnya. Akhirnya ia berkata, ”Kau benar. Anak itu pasti Karang Tunggal.” Mahesa Jenar akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Iapun agaknya sependapat bahwa anak muda itu tidak lain adalah Putut Karang Tunggal, yang nama sebenarnya adalah Mas Karebet, atau mendapat sebutan lain Jaka Tingkir.

”Siapakah dia...?” Wanamerta ingin tahu. ”Kemanakanku,” jawab Kebo Kanigara, ”Nakalnya memang bukan main.” Wanamerta menarik alisnya yang sudah keputih- putihan. Sejak semula ia telah mengagumi Kebo Kanigara seperti ia mengagumi Mahesa Jenar. Jadi kalau kemenakannya dapat melakukan hal yang sedemikian dahsyatnya, agaknya sudah pada tempatnya. Karena itu ia berkata, ”Itulah sebabnya, maka anak muda itu telah mengenal Arya Salaka, Mahesa Jenar, Ki Ageng Supit, Wiraraga dan Mantingan.” ”Anak muda itu telah mengenal Ki Ageng Supit, Kakang Wiraraga dan aku?” tanya Ki Dalang Mantingan. ”Ya, Ngger,” jawab Wanamerta. ”Disebut-sebutnya nama-nama itu.”

”Tidak aneh,” potong Kebo Kanigara, ”Ia berjalan dari satu ujung keujung negeri ini yang lain. Ia singgah hampir setiap perguruan yang ada.”

”Luar biasa....” Terdengar hampir setiap mulut bergumam. Namun mereka tidak lama terpaku pada anak muda yang aneh itu. Sebab merekapun pada saat itu menghadapi keadaan yang cukup gawat. Meskipun di dalam hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terselip pula pertanyaan, kenapa Jaka Tingkir itu tiba-tiba saja berada di Banyubiru? Bukankah ia berangkat dari Karang Tumaritis, untuk mohon diri kepada ibu serta ibu angkatnya untuk mengabdi ke Demak? Apakah ia telah menyia-nyiakan waktu sekian lamanya untuk berjalan kesana- kemari tanpa ujung pangkal, sedangkan seorang yang waskita, telah mengatakan kepadanya, bahwa ia akan sanggup untuk menerima jabatan Agung? Tetapi pertanyaan itu tak terucapkan. Sebab tak seorangpun yang akan dapat menjawab.

Yang kemudian terdengar adalah suara Mahesa Jenar, ”Paman, bagaimana menurut tanggapan Paman. Apakah orang-orang Pamingit itu akan membuat onar?”

Kembali perhatian Wanamerta terlempar kepada peristiwa malam tadi. Setelah berpikir sejenak iapun menjawab, ”Mungkin Anakmas. Hal itu adalah mungkin sekali.”

”Kalau begitu kita harus mencegahnya.” Mahesa Jenar bergumam seperti untuk diri sendiri. Namun tanggapan Arya Salaka ternyata hebat sekali. Tiba-tiba ia berdiri tegak, dan dengan dada tengadah ia berkata, ”Marilah Paman. Betapa rinduku pada tanah kelahiran. Dan betapa rinduku kepada pangabdian.”

Akibat dari kata-kata Arya Salaka itu ternyata bukan main. Tiba-tiba ruangan itupun menjadi riuh. Wanamerta, Sendang Papat, Bantaran, Panjawi, dan para pemimpin laskar Banyubiru yang lain tiba-tiba serentak berkata, ”Kita serahkan jiwa raga kita untuk kampung halaman, untuk masa depan tanah kelahiran.”

Mahesa Jenar terharu melihat kesetiaan itu. Pernyataan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru itu merupakan cermin dari setiap hati yang lain. Mereka agaknya telah bersedia sepenuh-penuhnya, apapun yang terjadi atas mereka. Bahkan Sendang Parapat yang terbaring itupun berkata perlahan-lahan namun penuh dengan gelora kesetiaannya, "Kiai Wanamerta, bawalah aku serta. Aku sudah akan sembuh sore nanti.”

”Baiklah,” jawab Mahesa Jenar kepada para pemimpin itu.

”Memang masa depan Banyubiru terletak di tangan kalian. Karena keyakinan itu pulalah maka kalian bersedia berkorban. Laralapa. Menderita selama ini dan untuk masa-masa yang belum kalian ketahui ujungnya. Meskipun seandainya kalian tidak akan mengecap kenikmatan hasil perjuangan kalian, namun anak cucu kalian akan menulis di atas lontar, bahwa pada suatu masa, rakyat Banyubiru bangkit berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Berjuang untuk anak cucu mereka tanpa pamrih bagi diri sendiri, dengan membiarkan dirinya menderita sakit dan lapar. Namun dengan cita-cita luhur dan murni.”

DADA para pemimpin itupun menjadi semakin bergelora. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu. Ke Banyubiru sekarang juga. Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, ”Karena itu, bersiaplah kalian. Aku akan pergi ke Banyubiru sekarang juga dengan Arya Salaka.” Ketika Mahesa Jenar berhenti berbicara, tampaklah para pemimpin Banyubiru itu saling berpandangan.

Mereka tidak begitu mengerti maksud kata-kata Mahesa Jenar. Maka terdengarlah Penjawi bertanya, ”Apakah Tuan dan Adi Arya Salaka saja yang akan pergi ke Banyubiru?” Mahesa Jenar menarik alisnya. Hati-hati ia menjawab, ”Tidak. Kalian semua juga akan pergi. Tetapi baiklah aku mendahului.”

Penjawi segera mengetahui maksud Mahesa Jenar. Mahesa Jenar agaknya masih akan mempergunakan cara damainya, yang menurut dugaannya sama sekali tak akan berhasil. Karena itu terdengarlah ia menyahut, ”Tuan dan Adi Salaka, di belakang Tuan berdua adalah kami sekalian. Seluruh laskar Banyubiru ini.”

Mahesa Jenar sekali lagi menarik alisnya. Dengan ragu-ragu ia memandang Kebo Kanigara, seolah-olah minta pertimbangan. Kebo Kanigara pun mengetahui betapa sulitnya mengendalikan perasaan sekian banyak orang yang sedang marah. Tetapi sama sekali kurang bijaksana kalau ia turut campur dalam pembicaraan itu. Sebab laskar Banyubiru itu lebih banyak mengenal Mahesa Jenar daripada dirinya. Dengan demikian Penjawi hanya dapat menganguk-anggukkan kepalanya dan mencoba mengetahui perasaan Arya Salaka. Kalau saja Arya Salaka dapat ditenangkan, maka ada harapan untuk menenangkan seluruh laskar Banyubiru itu. Tetapi ketika terpandang wajah anak muda itu, baik Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara hanya dapat menekan dada mereka. Sebab dari mata anak itu memancarkan api kemarahannya yang menyala-nyala sehingga dalam mata itu seolah-olah membayangkan cahaya api yang bergelora. Apalagi ketika kemudian terdengar anak muda itu berkata, ”Paman, matahari masih belum tinggi di puncak langit. Kalau Paman memerintahkan, sekarang juga kita akan berangkat.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Namun di dalam hatinya berkecamuk kecemasan yang gemuruh. Kalau ia menuruti perasaan marah yang meluap-luap dari pemimpin laskar Banyubiru itu, maka akibatnya adalah di luar kemauannya. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang mengerikan antara sesama keluarga. Antara orang-orang Banyubiru melawan orang-orang Pamingit yang pasti akan dibantu oleh sebagian kecil orang-orang Banyubiru juga. Banyubiru dan Pamingit adalah ibarat daun sirih. Wajah dan punggungnya. Meskipun berbeda ujudnya, namun apabila digigit, akan sama rasanya. Sebab keduanya adalah belahan dari tanah perdikan yang tunggal, tanah perdikan Pangrantunan.

Karena itulah maka Mahesa Jenar mencoba untuk mencegahnya. Dengan sangat hati-hati pula ia berkata, ”Tentu. Aku tentu akan segera minta kalian untuk berangkat. Tetapi kau adalah kunci persoalan itu, Arya. Mestikah kita memilih jalan yang pahit lebih dahulu sebelum kita coba jalan yang licin?”

”Masih adakah jalan yang licin itu, Paman?” tanya Arya Salaka. ”Kemungkinan masih selalu ada, Arya. Apalagi kakekmu Ki Ageng Sora Dipayana telah meminta agar kau datang kepadanya,” jawab Mahesa Jenar. Arya Salaka diam sesaat. Tetapi ketika ia melihat Sendang Parapat terbaring, menyala kembalilah hatinya. Karena itu ia menjawab, ”Kalau Eyang Sora Dipayana mampu mencegahnya, maka peristiwa ini tak akan berlarut-larut.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Agaknya Arya telah hampir tidak sabar lagi. Meskipun ia dapat mengetahui perasaan apakah yang telah mendorong anak muda itu, namun apa yang diucapkan itu adalah pertanda betapa sakit luka hati yang dideritanya. Didorong pula oleh sifat kepemimpinan yang dimilikinya, maka ia merasa bertanggungjawab atas keselamatan rakyat Banyubiru.

Tetapi karena itu pulalah maka Mahesa Jenar merasa bahwa usahanya bertambah sulit. Namun demikian ia menjawab, ”Arya, persoalan yang dihadapi oleh eyangmu adalah terlalu sulit. Bukan sekadar mencegah tindakan-tindakan pamanmu saja. Tetapi ada persoalan-persoalan lain yang memaksanya untuk berbuat bijaksana.”

Arya Salaka kurang dapat memahami cara berpikir gurunya. Namun sebagai seorang murid yang selama ini merasakan betapa gurunya itu mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab, maka Arya Salaka tidak berani lagi untuk membantahnya.

Di sudut hatinya, Arya Salaka pun menaruh kepercayan yang kuat terhadap gurunya itu. Kepercayaan yang sedikit terdesak oleh kemarahan yang meluap-luap. Ia tahu pasti, bahwa seperti bisanya gurunya akan membawanya lewat jalan yang paling bersih dari kemungkinan noda-noda yang dapat memercik pada dirinya. Tetapi disamping itu, ketidaksabarannya telah memukul-mukul dadanya, seolah-olah akan pecah. Mahesa Jenar pun tahu, bahwa kalau kemudian Arya Salaka itu diam, bukanlah karena ia dapat meyakini kata-katanya. Kediaman anak itu baginya, seperti api yang tertutup sekam. Namun api itu tetap menyala di dalam. Karena itulah Mahesa Jenar harus dapat mengambil sikap yang sebijaksana mungkin. Ia harus tidak mematahkan anak-anak Banyubiru, namun ia pun tidak dapat membiarkan anak-anak Banyubiru itu menjadi korban ketergesa-gesaan mereka. Setelah berpikir sesaat terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Arya Salaka, siapkanlah laskarmu. Kita berangkat bersama-sama.”

Sambutan atas ucapan itu, terdengar seperti gunung meledak. Laskar Banyubiru itupun bersorak dengan riuhnya. Tiba-tiba di dalam ruangan itu menari-narilah ujung-ujung senjata, seperti anak-anak yang riang berloncat-loncatan. Berkilat-kilat ujung-ujung pedang, tombak, keris dan sebagainya. Diiringi oleh janji setia yang diucapkan tak teratur berebut keras.

PARA pemimpin laskar Banyubiru itupun kemudian berpencaran ke pasukan masing- masing. Sesaat kemudian riuhlah perkemahan itu. Arya Salaka mempunyai daya tarik yang tak ternilai besarnya, disamping perasaan keadilannya yang terinjak-injak. Karena itu, tanpa dikehendakinya, iapun melompat ke luar dari ruangan itu. Dengan wajah berseri ia melihat laskarnya mempersiapkan diri. Ia berjalan dari satu kemah ke kemah yang lain. Ia melihat kelompok demi kelompok, seolah-olah ia ingin mengetahui segenap kekuatan yang ada dalam laskarnya. Namun dalam pada itu, di dalam kemahnya, Mahesa Jenar duduk termenung. Ia tidak dapat pergi meninggalkan laskar Banyubiru dalam keadaan yang demikian. Sebab di luar pengawasannya, dapat saja mereka melakukan hal-hal yang justru merugikan nama baik mereka dan bertentangan dengan tujuan mereka. Tetapi untuk membawa mereka serta agaknya juga akan menjadi persoalan. Bagaimana sebaik-baiknya menghentikan mereka, dan memberi kesempatan kepadanya untuk menemui Ki Ageng Sora Dipayana bersama- sama dengan Arya Salaka. Ia masih mengharap kewibawaan orangtua itu atas putra serta cucunya.

Kebo Kanigara pun agaknya menemui kesulitan dalam persoalan ini. Perlahan-lahan ia berkata, ”Mahesa Jenar, tipislah harapan kita, untuk menempuh jalan lain, kecuali bertempur. Sebab laskar Banyubiru sudah sedemikian lama menahan diri. Dan Arya Salaka sendiri tampaknya tidak sabar lagi.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Ia masih mempunyai harapan untuk menghentikan pasukan itu di tengah jalan, dan membiarkan mereka menunggu sesaat. Tetapi bagaimanakah caranya, sehingga tidak menimbulkan kejengkelan pada laskar yang setia itu?

”Kalau Arya dapat kau tenangkan, Mahesa Jenar, mungkin seluruh laskar inipun akan tunduk pada perintahnya. Sebab api didalam dada mereka itupun semakin berkobar ketika Arya Salaka berada di antara mereka,” lanjut Kebo Kanigara.

”Tak ada jalan untuk berbuat demikian Kakang. Arya telah waringuten. Agaknya ia tak dapat diajak berunding lagi. Meskipun seandainya ia diam, namun kediamannya itu justru berbahaya bagi dirinya,” jawab Mahesa Jenar.

Tiba-tiba dalam kesenyapan itu terdengar Rara Wilis berkata kepada Endang Widuri, ”Endang, bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah kau bergembira pula seperti Arya Salaka?” Widuri tidak tahu arah persoalannya. Meskipun ia mendengar pembicaraan ayahnya dan Mahesa Jenar, namun sebenarnya ia lebih setuju dengan pendapat Arya Salaka. Kenapa Banyubiru itu tidak digempur saja.

Karena itu iapun menjawab, ”Aku bergembira seperti Kakang Arya Salaka. Aku kagum pada sikap jantan yang dimilikinya.”

Rara Wilis mengangguk-angguk. ”Kaupun bersikap jantan,” katanya. ”Kenapa aku...?” sahutnya.

”Aku hanya sekadar bergembira melihat sikapnya.” Rara Wilis tersenyum. Seperti bergumam ia berkata kepada diri sendiri, ”Aku teringat pada cerita Purwa, pada saat menjelang Baratayuda. Orang-orang Pandawa pun menjadi ragu-ragu. Apakah mereka harus berjuang melawan sanak kadang mereka sendiri. Tetapi akhirnya pertempuran itupun tak dapat dihindari. Tak dapat dihindari, meskipun segala usaha damai telah dicoba. Prabu Duryudana lebih senang mendengar nasihat Durna daripada pamannya sendiri. Diantaranya Resi Bima, seorang Resi yang bijaksana, dan Prabu Salya, mertua Prabu Duryudana sendiri.

Yang mendengar ceritera itupun berdiam diri. Masing-masing dengan tanggapannya sendiri. Namun tak seorangpun yang memotong cerita itu.

”Ketika Bisma gugur...” lanjut Wilis, ”Para kadang Pandawa masih sempat menghadap Resi yang dipundhi-pundhi itu. Mereka masih sempat minta maaf dan minta pangestu kepadanya. Demikian juga sebelum Prabu Salya gugur. Nakula dan Sadewa sempat mengharap orang tua yang sakti itu. Dengan air mata mereka berdua minta agar mereka dijauhkan dari dosa mereka, karena mereka harus bertempur melawan saudara-saudara mereka yang lebih tua.”

Sekali lagi Rara Wilis diam sesaat. Widuri mendengarkan dengan penuh minat. Tetapi wajahnya telah berubah dari semula. ”Ketika kedua junjungan para darah Barata itu gugur, menyesallah kedua belah pihak. Tetapi lebih menyesal lagi mereka, seandainya mereka tidak sempat menghadap sebelumnya. Mohon maaf segala kekhilafan lahir batin. Dan akan lebih menyesal pulalah mereka, seandainya sebelum Baratayuda itu mulai, mereka belum bersimpuh di hadapan para junjungan itu.”

Wilis meneruskan. Widuri menarik nafas. Otaknya memang benar-benar cemerlang seperti bintang pagi. Sebelum Rara Wilis meneruskan, Widuri berkata perlahan-lahan, ”Bukankah Arya Salaka mampunyai junjungan pula di Banyubiru? Bukankah eyang Arya Salaka itu berada di sana, dan mungkin akan gugur pula dalam bentrokan ini?”

Rara Wilis mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan perlahan-lahan pula ia menjawab, ”Tak seorangpun yang mampu menyampaikan kekhilafan ini kepada Arya Salaka. Bukankah kau mau menolongnya, supaya ia tidak akan menyesal sepanjang hidupnya kelak?”

Widuri memandang ayahnya, Mahesa Jenar, Wilis dan orang-orang lain di dalam ruangan itu dengan senyum yang kecil. Tiba-tiba ia merasa berbahagia menerima tugas itu. ”Tidak adakah orang lain yang dapat berbuat demikian...?” bisik hatinya.

”Akan aku coba,” katanya, ”Supaya Kakang Arya Salaka tidak berbuat kesalahan. Bukankah maksud bibi sebaiknya Arya Salaka sowan eyang Ki Ageng Sora Dipayana? Bukankah dengan demikian Paman Mahesa Jenar dapat melaksanakan rencananya? Namun apabila rencana itu gagal, Arya Salaka tidak akan menyesal seandainya eyangnya itu gugur seperti Resi Bisma. Sebab ia telah bersujud di bawah kakinya.

SEMUA yang mendengar percakapan itu menarik nafas dalam-dalam. Mahesa Jenar mengucap syukur dalam hati atas kelincahan perasaan Rara Wilis. Sebagai seorang gadis, ia mempunyai tanggapan yang lebih halus terhadap pergaulan Arya Salaka dan Endang Widuri.

Tanpa disengaja, ia mengamat-amati gadis itu seperti belum pernah melihat sebelumnya. Dalam keadaan yang sedemikian, Mahesa Jenar sempat juga sekali lagi mengagumi gadis itu. Namun di dalam hatinya, Rara Wilis bukanlah gadis belasan tahun lagi. Bahkan ia sudah melampaui dunia remaja, yang tak pernah dinikmatinya seperti gadis-gadis yang lain. Hidupnya penuh dengan persoalan-persoalan yang rumit, yang menuntut ketabahan hati dan malahan akhirnya menjadikan gadis itu tidak saja berhati tabah, tetapi juga bertubuh kuat dan berilmu cukup tinggi. Meskipun demikian ia tidak dapat menerima uluran tangan saudara tua seperguruannya, untuk menikmati kelimpahan raja brana, sebagai seorang isteri Demang yang kaya raya. Ia lebih senang menunggunya, seorang kleyang kabur kanginan. Bahkan ikut serta dengan dirinya, menempuh penghidupan yang penuh dengan bahaya dalam pengabdiannya kepada Tuhan, manusia serta kemanusiaan. Memancarkan cinta kasih abadi dari sumbernya yang tertinggi.