Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 34

Jilid 34

Sementara itu orang-orang Banyubiru telah dikejutkan oleh kedatangan sebuah rombongan kecil orang-orang berkuda. Dua orang yang di depan mempunyai perawakan yang sedang, tegap dan kuat. Seorang memakai baju hijau gadung, kain lurik hijau gadung pula. Di atas kuping kanannya terselip sekuntum bunga melati hutan. Sedang di sebelahnya, yang seorang lagi berbaju lurik bergaris-garis tebal berwarna coklat dan berkain lurik merah soga berikat kepala biru gelap.

Dengan wajah tengadah mereka memegangi kendali kuda-kuda mereka, yang dengan tegap berjalan ke arah pusat kota. Beberapa orang yang menyaksikan mereka berdua terpaksa menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka belum pernah mengenalnya, namun mereka seolah-olah melihat dua ekor burung rajawali yang dengan megahnya terbang di udara. Sedang bagi mereka yang pernah mengenalnya lima tahun yang lalu, segera bergumam di dalam mulutnya, dengan mata terbelalak penuh keheranan. ”Bukankah yang menyelipkan bunga di telinga kanannya itu pernah tinggal di Banyubiru beberapa tahun yang lalu, dan bernama Mahesa Jenar...?”

Tetapi segera mereka menjadi semakin heran, ketika mereka kemudian memandang tiga orang berkuda di belakang sepasang rajawali itu. Dan mereka segera meneruskan gumam mereka, ”Dan bukankah mereka itu Ki Wanamerta, Penjawi dan Bantaran...?”

Mula-mula orang-orang Banyubiru itu hanya saling memandang diantara mereka. Tetapi ketika seorang diantara mereka tanpa disengaja menyebut nama Mahesa Jenar agak keras, terdengarlah mereka menjawab bersahutan, ”Ya, orang itulah Mahesa Jenar.” ”Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia datang bersama Bantaran dan Penjawi, bahkan dengan Ki Wanamerta?” terdengar suara yang lain.

Tak seorangpun yang menyahut. Malahan mereka tiba-tiba menjadi bingung. Sebab Bantaran dan Penjawi bagi penduduk Banyubiru yang tetap tinggal di kampung halaman mereka serta tidak terlalu banyak mengerti tentang seluk-beluk tanah mereka sendiri, merupakan tokoh-tokoh yang membingungkan. Kadang-kadang penduduk Banyubiru itu mengharap-harap kedatangan mereka, namun kadang-kadang mereka tiba-tiba membencinya sebagai orang-orang yang selalu membawa bencana.

Daerah-daerah, desa-desa dan pedukuhan-pedukuhan yang disinggahi oleh Bantaran dan Penjawi dalam saat-saat terakhir ini, merupakan tanda tidak baik bagi penduduknya. Sebab sesaat kemudian akan datanglah pasukan-pasukan dari Pamingit dan Banyubiru sendiri untuk mengadu dan menangkapi beberapa orang untuk diperiksa.

Sekarang penduduk Banyubiru itu melihat Bantaran dan Penjawi datang bersama-sama dengan Mahesa Jenar. Seorang yang dapat disejajarkan dengan pepunden mereka, Ki Ageng Gajah Sora. Malahan bagi orang-orang Banyubiru itu tampaklah Mahesa Jenar seperti Ki Ageng Gajah Sora itu sendiri, yang datang kembali ke kampung halamannya.

Tetapi sedemikian jauh, mereka hanya dapat saling berbisik diantara mereka sendiri. Tak seorangpun diantara mereka yang berani maju ke depan dan bertanya tentang teka-teki yang berputar-putar didalam benaknya.

ROMBONGAN Mahesa Jenar itu pun merasakan, bahwa setiap orang yang melihat kedatangan mereka menjadi heran dan bertanya-tanya diantara mereka. Tetapi rombongan itu pun tetap berdiam diri seperti sama sekali tak ada orang yang melihat mereka.

Demikianlah rombongan itu dengan tenangnya terus berjalan, lewat jalan-jalan sempit diantara daerah-daerah persawahan, menembus jalan-jalan desa dan melintasi jembatan- jembatan bambu di atas parit-parit yang mengalirkan airnya yang jernih.

”Kakang Kanigara...” tiba-tiba terdengar Mahesa Jenar berbisik. ”Adakah Kakang melihat sesuatu yang tidak sewajarnya?”

”Ya” jawab Kanigara. ”Tetapi itu sudah agak jauh lewat.”

Mahesa Jenar mengangguk. Katanya, ”Kalau demikian apa yang Kakang lihat, aku lihat pula.”

Kemudian kembali mereka berdiam diri. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih sibuk menduga-duga orang aneh yang dijumpainya sesaat sebelum mereka memasuki tlatah Banyubiru. Seorang berkuda, yang seolah-olah membayangi perjalanan mereka dari punggung-punggung perbukitan. Tetapi ketika rombongan itu memasuki daerah Banyubiru, segera orang itu lenyap di seberang bukit.

Tiba-tiba Mahesa Jenar, Kebo Kanigara beserta segenap orang dalam rombongan itu terkejut, ketika mereka mendengar derap beberapa ekor kuda yang berlari kencang ke arah mereka. Dan belum lagi mereka mengucapkan kata-kata, dari balik tikungan di depan mereka muncullah sebuah rombongan orang berkuda pula. Lebih dari limabelas orang.

Mahesa Jenar mengendorkan lari kudanya, diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka masih belum mengetahui, apakah tujuan orang-orang berkuda itu. Maka ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, dan tidak mengurangi kecepatan mereka, Mahesa Jenar beserta keempat kawannya segera menepi. Agaknya orang-orang berkuda itu tergesa-gesa. Demikianlah rombongan itu dengan cepatnya berlari melintas. Beberapa orang menoleh kepada Mahesa Jear, tetapi beberapa orang yang lain agaknya tidak peduli. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara segera menutup hidung mereka, supaya tidak dimasuki debu yang berhambur-hamburan dibelakang rombongan itu. Tetapi ketika rombongan itu telah melampauinya, tiba-tiba terdengarlah sebuah aba-aba dari antara mereka. Dan dengan tiba-tiba pula rombongan itu berhenti bersama-sama, sehingga kuda-kuda mereka meringkik dan berputar-putar.

Kemudian beberapa orang diantara mereka tiba-tiba memutar kuda mereka, dan berlari ke arah rombongan Mahesa Jenar.

Ketika Mahesa Jenar memandang Kanigara, Kanigara pun sedang memandangnya. Dengan kedipan mata, Kanigara memberi isyarat kepada Mahesa Jenar dan ketiga kawannya yang lain. Sebab bagaimanapun juga, sesuatu yang tak diharapkan dapat terjadi karena orang-orang itu masih belum mereka kenal sama sekali.

Wanamerta, Bantaran dan Penjawi segera mempersiapkan diri. Sebagi utusan yang bermaksud menempuh penyelesaian yang baik, mereka tak bersenjata, kecuali di punggung mereka terselip sebilah keris sebagai suatu kelengkapan yang lazim. Karena itu, ketika mereka melihat keadaan yang tidak menentu, segera mereka memutar keris mereka di lambung kiri.

Beberapa orang itu menjadi semakin dekat, dan ternyata yang lainpun mengikuti mereka pula. Dan semakin dekat mereka itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bersiap pula untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Seorang yang bertubuh besar berkulit hitam mengkilap dan bermata tajam seperti mata serigala mengendarai kudanya paling depan dan langsung mengarah kepada Kebo Kanigara.

Melihat orang itu datang kepadanya, Kanigara pun segera menyambutnya. Mula-mula orang itu menghentikan kudanya beberapa langkah dari Kebo Kanigara, kemudian memandangnya dengan tajam. Baru beberapa saat kemudian ia bertanya, ”Ki Sanak, siapakah kalian ini, dan apakah keperluan kalian?”

Kanigara tidak segera menjawab. Tetapi dengan matanya ia minta pertimbangan kepada Mahesa Jenar yang sedikit banyak sudah mengenal daerah Banyubiru. Ketika Mahesa Jenar menggeleng kecil, tahulah Kebo kanigara, bahwa orang-orang itu bukanlah orang- orang Banyubiru. Karena itu segera ia menjawab, ”Apakah Ki Sanak bukan orang Banyubiru?”

Orang itu mengerenyitkan keningnya. Ia tidak senang pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan pula. Karena itu dengan kasar ia mengulangi pertanyaannya, ”Aku bertanya kepadamu, siapakah kalian ini?”

Kebo Kanigara tidak ingin bertengkar. Karena itu ia menjawab, ”Kalau kalian belum mengenal kami, pastilah kalian bukan orang Banyubiru, sebab kami adalah penduduk daerah ini.”

Orang itu memandang Kebo Kanigara dengan penuh kecurigaan. Kemudian dipandanginya Mahesa Jenar, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi berganti-ganti. ”Benarkah kalian penduduk Banyubiru...?” desaknya.

WANAMERTA mendesak maju. Kemudian ia menyahut, ”Sejak lahir aku tinggal di daerah ini. Kau curiga...?”

Tiba-tiba orang itu tertawa. Jawabnya, ”Tidak kakek tua. Aku percaya kalau kau orang Banyubiru. Sebab bentuk kalian mengingatkan aku kepada bentuk-bentuk batu padas yang berbongkah-bongkah keras dan kasar.”

Wanamerta tersinggung oleh jawaban itu.Tetapi ia didahului oleh Kebo Kanigara yang mengenal gelagat. Katanya, ”Sesudah kalian tahu bahwa kami adalah orang-orang Banyubiru, maka kamipun ingin mengetahui, siapakah kalian dan dari manakah kalian?”

Sekali lagi orang itu tertawa. Jawabnya, ”Aku baru saja menemui kepala daerah perdikan kalian. Tetapi orang itu ternyata keras kepala.”

”Kau benar,” sahut Mahesa Jenar. ”Orang itu memang keras kepala. Tetapi apakah keperluan kalian?”

Tiba-tiba orang itu terdiam. Lalu ia mendorong kudanya beberapa tapak maju mendekati Kebo Kanigara. Dengan perlahan-lahan hampir berbisik ia bertanya, ”Ki Sanak, aku lihat kalian bukanlah orang kebanyakan. Karena itu kalian pasti sudah tahu bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten berada di Banyubiru. Nah katakan kepadaku, siapakah yang menyimpan kedua keris itu.”

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara beserta ketiga kawannya terkejut mendengar pertanyaan itu. Untunglah bahwa mereka segera dapat menguasai diri, sehingga perasaan itu tidak terlalu membekas di wajah mereka. Tetapi pertanyaan itu merupakan penegasan dari berita-berita yang mengatakan bahwa di Banyubiru tersebar desas-desus, yang menyatakan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten berada di tempat itu. Karena itu tiba-tiba Kanigara ingin mengetahui dengan pasti, siapakah orang-orang itu. Demikian juga agaknya Mahesa Jenar dan bahkan ketiga kawan-kawannya. Maka bertanyalah kemudian Kebo Kanigara, ”Dari manakah kalian mendengar berita tentang kedua keris itu?”

Orang berkulit hitam dan bermata serigala itu tertawa. ”Apakah untungmu mengetahui dari mana aku mendengarnya?”

Kanigara menyahut, ”Sayang, kau mimpi di siang hari. Tak ada keris di tanah perdikan Banyubiru, kecuali kerisku sendiri serta keris kawan-kawanku ini.”

”Jangan begitu, Ki Sanak,” potong orang itu. ”Kalau kau mau menunjukkan kepadaku, kau akan menerima hadiah cukup.”

”Apakah hadiah itu?” sela Mahesa Jenar.

”Apa saja yang kau kehendaki. Uang? Emas atau permata?” jawab orang itu.

”Sayang kami tidak mengetahuinya,” desis Mahesa Jenar. Pandangan orang bermata serigala itu menjadi semakin tajam. Sekali dua kali ia menengok kepada kawan- kawannya yang berada di belakangnya, seolah-olah ia ingin mengetahui kesiapsiagaan mereka.

”Memang orang-orang Banyubiru keras kepala,” gumam orang itu. ”Seperti kepala daerah perdikannya.”

”Ki Sanak...” kata Kebo Kanigara kemudian, ”Yang paling mengetahui segala sesuatu di Banyubiru ini adalah Ki Ageng Lembu Sora. Kalau kau tadi telah menemuinya, maka kenapa tidak kau tanyakan kepadanya? Atau barangkali kalau kau sudah menanyakannya dan dijawabnya kedua keris itu tidak berada di Banyubiru, maka jawaban itu pastilah benar.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya semakin menunjukkan ketidakpuasannya. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menyabarkan diri dan berkata ditahan-tahan. ”Kalian tinggal memilih. Menunjukkan di mana keris itu berada dan menerima hadiah atau tidak mau menjawab, tetapi kalian binasa.

Kanigara masih tetap berkata dengan sabarnya, ”Ki Sanak. Apakah yang akan kami katakan tentang kedua keris itu, kalau kami benar-benar tidak mengetahuinya?”

Orang berkulit hitam itu sekali lagi menengok kepada kawan-kawannya dan seperti orang minta pertimbangan ia berkata, ”Apakah yang sebaiknya kami lakukan atas orang- orang ini?”

”Terserah Ki Lurah,” jawab salah seorang diantara mereka. ”Hem....” ia menarik nafas. ”Ki sanak, kami merasa perlu untuk memberi pelajaran kepada kalian, sekaligus memberi peringatan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Kalau ia akan tetap berkeras kepala, nasib rakyatnya akan tidak menyenangkan. Sekali lagi aku memberi kesempatan kepada kalian untuk menunjukkan kepada kami di mana kedua keris itu disimpan. Menilik sikap, pakaian dan keadaan kalian, kalian adalah orang-orang penting di Banyubiru ini. Tetapi kalau kalian tetap tidak mau bicara, maka kalian akan menjadi orang pertama yang akan kami jadikan korban. Kalian akan kami bunuh dengan cara yang mengerikan. Mata kalian akan kami copot dari batok kepala kalian. Dada kalian akan kami silang dengan pisau dan isi perut kalian akan kami tumpahkan keluar. Nah, bukankah itu mengerikan? Setiap hari akan kami lakukan hal yang serupa sampai kepala daerahmu atau seseorang mau mengatakan kepada kami, baik karena ketakutan maupun karena ia ingin hadiah, di mana kedua keris itu berada.”

Semua yang mendengar kata-kata itu terkejut. Apalagi Wanamerta, Bantaran dan Penjawi sebagai orang-orang Banyubiru yang sebenarnya. Penjawi, yang paling muda diantara mereka, adalah orang yang berdarah paling panas. Ia segera mendesak maju. Sebenarnya ia dapat membiarkan saja hal itu berlaku di Banyubiru. Sebab itu adalah tanggungjawab Lembu Sora pada saat ini. Sedang mereka sendiri pada saat itu agaknya mungkin sekali untuk menyelamatkan diri. Tetapi sebagai seorang yang berangan-angan masa depan yang gemilang bagi rakyat Banyubiru, ia tidak dapat berpangku tangan.

TERBAYANGLAH di dalam otak Penjawi, masa yang mengerikan akan berlangsung di Banyubiru. Masa duka yang bersusun-susun. Beban yang berat, serta usaha-usaha penyingkiran yang dilakukan oleh Lembu Sora atas orang-orang yang setia kepada tanah tercinta, dengan berbagai macam cara. Bahkan kalau perlu dengan mengadakan pembunuhan. Akan ditambah lagi dengan pameran pembunuhan oleh pihak lain. Yang dapat dipastikan, orang-orang itu datang dari golongan hitam.

Maka berkatalah Penjawi dengan lantangnya, ”Ki Sanak. Dengan semua keteranganmu dan caramu menakut-nakuti kami, kami dapat memastikan bahwa kalian datang dari daerah yang kelam. Dari dunia yang penuh dengan noda-noda dan dosa-dosa. Kalian adalah orang-orang yang kami namakan golongan hitam. Sebab hati kalian adalah hati yang berwarna hitam. Sekarang kalian mencoba menakut-nakuti kami, dan rakyat kami. Tetapi kami sama sekali tidak takut. Sebab kami berdiri diatas kebenaran. Meskipun demikian kami ingin menjelaskan kepadamu sekali lagi, bahwa sebenarnyalah keris-keris itu tidak ada pada kami. Tidak ada di Banyubiru. Karena itulah, baik kami maupun Lembu Sora tak akan dapat mengatakan di mana keris itu disimpan.”

Kata-kata Penjawi terpotong oleh suara tertawa yang mengerikan. Orang yang bermata serigala itu tiba-tiba menjadi buas. Matanya semakin lama semakin liar dan berwarna merah. Dengan marahnya ia berteriak, ”Jangan mengigau. Aku tidak peduli apakah kau menganggap aku orang-orang hitam, merah, hijau atau apa saja. Tetapi kalau kau tetap berkeras kepala, kami akan melakukan rencana kami, dan mayat kalian akan kami sebarkan ke segenap sudut Banyubiru.” Juga Penjawi menjadi marah. Wajahnya menjadi tegang dan berwarna darah. Bantaran dan Wanamerta kemudian segera mempersiapkan diri. Namun dalam ketegangan itu masih terdengar suara Kanigara tenang, ”Ki Sanak. Apa yang akan kalian lakukan kepada kami, adalah tanggungjawab kami dan kewajiban kami untuk melindungi diri. Tetapi agaknya kalian sama sekali belum mengenal kami. Orang-orang Banyubiru yang berjiwa jantan. Nyawa kami telah lama kami letakkan di ujung pengabdian kami. Karena itu sebaiknya kalian mempertimbangkannya sekali lagi.”

Kembali terdengar orang yang berkulit hitam dan bermata serigala itu tertawa keras- keras seperti hampir gila. Dengan buasnya ia menjawab, ”Apakah arti kejantanan orang Banyubiru bagi kami. Selama darah kalian masih merah, serta kalian masih belum dapat melenyapkan diri dalam satu kerdipan mata, maka kalian adalah korban-korban kami yang menyenangkan. Ketahuilah, bahwa kami datang dari Nusa Kambangan mengemban tugas dengan kekuasaan penuh.”

Meskipun orang-orang Banyubiru itu sudah menduga sebelumnya, bahwa gerombolan itu adalah gerombolan hitam, namun hati mereka tergetar pula. Bahkan kemudian terdengar Mahesa Jenar menyahut, ”Apakah kalian anak buah Ular Laut?”

”Nah...” sahut orang itu. ”Kau pasti pernah mendengar kebesaran namanya. Dengan tangannya ia akan dapat menyapu bersih segenap isi Banyubiru.

”Hem,” gumam Mahesa Jenar. ”Agaknya pengetahuanmu terlalu sempit. Kau belum tahu betapa dahsyatnya tangan Ki Ageng Lembu Sora. Apakah artinya Jaka Soka baginya. Barangkali kau juga belum mendengar tentang putranya yang bernama Sawung Sariti.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menjawab dengan kasarnya, ”Omong kosong semuanya. Andaikata kau berkata benar, maka Kyai Nagapasa akan dapat menyelesaikan dengan sangat mudahnya.”

”Kyai Nagapasa...?” ulang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara hampir bersamaan.

Orang itu tertawa kembali. Katanya, ”Kau menjadi pucat seperti mayat mendengar nama itu.”

”Bagaimana aku menjadi pucat mendengar nama yang tidak berarti itu. Bahkan mendengar pun aku belum pernah,” jawab Mahesa Jenar.

”Itu pertanda kepicikan pendengaranmu.” Orang itu menjelaskan dengan bangga. ”Kyai Nagapasa adalah nama ilmu pamungkas perguruan Nusa Kambangan. Dengan nama itu pula kami sebut orang yang memiliki dan mengembangkan. Ia adalah guru Jaka Soka.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Agaknya benar-benar akan terjadi peristiwa- peristiwa yang menggemparkan. Kini yang berhadapan bukan saja tokoh-tokoh muda dari kalangan hitam, namun agaknya tokoh-tokoh tua, guru-guru merekalah yang mengambil alih persoalan.

Dalam sepintas, membayanglah di dalam angan-angan Mahesa Jenar akan nama-nama Pasingsingan, Umbaran, Sima Rodra dari Lodaya, Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme, Sura Sarunggi yang telah kehilangan kedua muridnya dari Rawa Pening, dan sekarang terdengar lagi sebuah nama Kyai Nagapasa. Namun disamping itu ia menjadi puas karena pancingannya berhasil untuk mengetahui asal orang-orang itu. Melihat Mahesa Jenar terdiam, orang itu mengangkat dadanya. Ia merasa bahwa orang-orang Banyubiru itu menjadi ketakutan. Karena itu sekali lagi ia menggertak, ”Nah, adakah kalian mau berkata tentang kedua keris itu, setelah kalian mendengar nama-nama yang berdiri di belakang kami?”

Orang yang berwajah buas, bermata serigala itu menjadi terkejut sekali ketika ia mendengar Mahesa Jenar menjawab, ”Sampaikan salamku kepada Jaka Soka, apabila kau sempat pulang kembali.”

Dengan mata terbelalak orang itu memandang Mahesa Jenar seperti ingin menelannya bulat-bulat. Sikapnya yang seolah-olah menganggap Jaka Soka tidak lebih dari dirinya, menyebabkan orang bermata serigala itu marah bukan kepalang. Ia menganggap Mahesa Jenar orang yang tak tahu diri. Dengan membentak-bentak ia berkata, ”Ayo, mintalah maaf atas kelancangan mulutmu itu. Kalau tidak, kau akan mati dengan menderita.”

”Penderitaan bagi laki-laki bukanlah hal yang sangat menakutkan,” jawab Mahesa Jenar.

JAWABAN itu kembali sangat mengagetkan anak buah Jaka Soka, sehingga dengan demikian ia sudah tidak merasa perlu untuk berbicara lebih banyak. Dengan lantangnya ia berkata kepada anak buahnya, ”Kepung kelinci-kelinci yang tak tahu diri ini.”

Agaknya orang-orang Nusa Kambangan itu telah benar-benar terlatih dan berpengalaman. Sebab demikian mereka mendengar aba itu, dalam waktu sekejap mereka telah bergerak dengan cepatnya membentuk sebuah gelang yangmelingkari Mahesa Jenar beserta ketempat kawan-kawannya.

Bersamaan dengan itu, ternyata Wanamerta, Bantaran dan Penjawipun telah siap pula dengan keris ditangan kanan dan kendali kuda ditangan kiri. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tampak masih tenang-tenang saja. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan seolah-olah mereka sedang mempertimbangan bersama apakah yang akan mereka lakukan. Tiba-tiba tampaklah Mahesa Jenar tersenyum. Dengan sangat tenangnya, seolah-olah tidak terjadi apapun pada saat itu ia berkata kepada orang yang berkulit hitam dan bermata serigala itu. ”Ki Sanak, apakah yang akan kalian lakukan?”

Melihat ketenangan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, orang itu menjadi heran. Malahan kemudian ia merasakan betapa besarnya perbawa sanak kadangku. Betapa tangguhnya kalian semuanya ini. Namun apabila seorang diantara para petani di sawah atau anak- anak yang sedang bermain melihat perkelahian ini, maka dengan memukul kentongan mereka akan mengerahkan segenap penduduk Banyubiru yang berjumlah ribuan orang, untuk mengepung kalian, dan justru kalianlah yang akan ditangkap oleh mereka. Meskipun demikian kalian tak usah cemas, bahwa kalian akan mengalami siksaan, apalagi dicincang. Sebab kami, penduduk Banyubiru mendasarkan watak kami kepada ketaatan. Kami mengagungkan nama Allah Yang Maha Kuasa, yang akan kami ujudkan dalam pengalaman kami dalam hidup sehari-hari.”

Perkataan Mahesa Jenar itu ternyata berkesan di hati orang bermata serigala itu. Tampaklah wajahnya yang buas itu menjadi tegang. Alisnya seolah-olah bertemu satu sama lain di atas hidungnya yang besar. Dengan liarnya ia memandang jauh-jauh ke sawah di sekitarnya, ke desa yang terdekat, dan ke segenap sudut dan persimpangan jalan.

Pematang-pematang di sawah, pagar-pagar batu yang mengelilingi desa-desa terdekat, gunduk-gunduk padas di tepi jalan, tiba-tiba di mata orang itu berubah menjadi orang- orang yang dengan cermatnya mengawasi segala gerak-geriknya. Apalagi ketika jauh- jauh dilihatnya beberapa orang, ya... orang yang sebenarnya sedang menggarap sawahnya.

Hati orang itu tiba-tiba menjadi kecut. Apalagi kemudian Mahesa Jenar berkata, ”Ki Sanak... jangan ganggu kami di tanah sendiri. Kalian hanya dapat datang kemari dalam saat-saat tertentu dan dalam jumlah tertentu. Tetapi kami berada di tempat ini di segala waktu, dan jumlah kami tak akan terhitung olehmuu.”

Ternyata perkataan Mahesa Jenar itu merupakan sebuah pukulan terakhir yang benar- benar tak terlawan oleh orang bermata serigala itu. Apalagi ketika ia melihat kawan- kawannya menjadi gelisah. Gelisah oleh kata-kata Mahesa Jenar itu. Maka tiba-tiba terdengarlah ia berteriak nyaring dan bersamaan dengan itu, ia menarik kendali kudanya untuk kemudian lari secepat-cepatnya meninggalkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara beserta Wanamerta, Bantaran dan Penjawi yang menjadi terheran-heran melihat peristiwa itu. Melihat orang berwajah serigala itu dengan pucat berlari sejadi-jadinya diikuti oleh seluruh anak buahnya.

Meskipun demikian, untuk kepuasan perasaan mereka, orang-orang Nusa Kambangan itu masih menggemakan ancaman, ”Awaslah kalian orang-orang Banyubiru. Aku akan datang pada waktunya dengan seluruh orang-orang kami.” Gema ancaman itu memukul lereng-lereng bukit kecil yang banyak berserakan di sekitar daerah itu dan bergulung- gulung berulang beberapa kali. Namun Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara hanya tersenyum saja.

Beberapa saat kemudian terdengar suara Wanamerta bergumam, ”Angger, kenapa orang- orang itu dibiarkan saja pergi?”.

Mahesa Jenar menoleh. Dengan tenang ia menjawab, ”Kami berada di daerah yang tak kami kenal. Kami tidak yakin bahwa apabila kami bertempur melawan orang-orang itu, Lembu Sora akan membenarkan sikap kami. Kalau kejadian ini dianggapnya akan dapat membahayakan ketenteraman Banyubiru, maka ia dapat mempergunakan persoalan ini sebagai alasan untuk melakukan hal-hal yang tidak kami inginkan. Karena itu sebaiknya kami menghindarkan diri dari segala peristiwa yang dapat merugikan perjalanan kami, meskipun kami nyata-nyata tidak memulainya.”

Wanamerta mengangguk-anggukkan kepala penuh pengertian. Demikian juga Bantaran dan Penjawi. Perlahan-lahan mereka menyarungkan keris-keris mereka kembali.

Kemudian rombongan itu meneruskan perjalanannya perlahan-lahan. Tetapi dengan demikian mereka jadi tertunda untuk beberapa waktu. Namun demikian sesuatu yang penting telah mereka alami. Yaitu, mereka tidak lagi dapat mengabaikan desas-desus tentang beradanya kedua pusaka Demak di Tanah Perdikan Banyubiru.

Semakin dekat dengan pusat kota, semakin rapatlah penduduk tanah perdikan itu. Dan dengan demikian semakin banyak pulalah orang-orang yang melihat kedatangan Mahesa Jenar, didampingi oleh seorang yang belum mereka kenal, dan di belakang mereka berdua, tampaklah Bantaran, Penjawi dan tetua tanah perdikan itu, Wanamerta.

BEBERAPA orang menjadi terharu karenanya. Dengan dada sesak, mereka melambaikan tangan mereka. Namun diantara mereka ada pula yang mengumpat di dalam hati, dan yang kemudian membenahi pakaian dan kekayaan mereka sambil menggerutu, ”Kalau setan-setan itu lewat, akan celakalah daerah kami ini. Kenapa perampok-perampok itu tidak mati disambar petir atau tertangkap pada saat mereka merampok...?”

Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada seorangpun. Meskipun kepada anak atau adiknya. Sebab ia tahu benar, bahwa pemuda-pemuda Banyubiru memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap tanah mereka, serta sedang berjuang memulihkan hak tanah itu kepada tempat yang sewajarnya. Laki-laki maupun wanita.

Demikianlah ketika mereka muncul di alun-alun Banyubiru, tampaklah dari rumah kepala daerah perdikan itu, beberapa orang berdiri berjajar di depan regol halaman. Mahesa Jenar tersenyumn melihat sambutan itu. Agaknya seseorang telah melaporkan kedatangannya, sehingga Ki Ageng Lembu Sora dapat menyiapkan diri, menyambut kedatangan mereka, meskipun ujud sambutan itu sendiri masih belum diketahuinya. Karena itulah, meskipun wajah-wajah mereka mengulum senyum segar, namun mereka tidak meninggalkan kewaspadaan sepenuh-penuhnya.

Semakin dekat mereka dengan rumah kepala daerah itu, senyum Mahesa Jenar menjadi semakin suram. Sebab ia menjadi semakin jelas bahwa di belakang orang-orang yang berdiri di regol halaman, tampaklah ujung-ujung tombak yang berjajar-jajar rapat. Dan ketika Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke sudut-sudut pagar halaman di ujung alun-alun sebelah-menyebelah, tahulah ia bahwa halaman rumah kepala daerah perdikan Banyubiru itu dijaga rapat sekali. Beberapa orang siap dengan senjata di tangan mereka.

Mahesa Jenar   menoleh   kepada   Kebo   Kanigara.   Agaknya   orang   itupun   sedang memperhatikan keadaan dengan seksama. Lebih seksama lagi daripada Mahesa Jenar. Sebab kecuali ia melihat ujung-ujung senjata yang gemerlapan karena cahaya matahari, juga karena ia sama sekali belum pernah datang ke tempat itu sebelumnya. Karena itu sebagai seorang yang sudah cukup makan garam, maka untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia perlu mengetahui keadaan di mana ia sedang berada.

Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun melihat suasana itu. Hati mereka menjadi berdebar-debar. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam catatan Lembu Sora untuk dilenyapkan. Bahkan mereka adalah orang-orang yang pertama-tama.

Dalam pada itu, mereka menjadi ragu. Apakah kedatangan mereka itu tidak hanya sekadar mengantarkan nyawa mereka. Dan bukankah mereka sudah mengusulkan kepada Mahesa Jenar, bahwa cara yang demikian itu sangatlah berbahaya.

Tetapi mereka sudah berada di depan hidung Lembu Sora. Apapun yang akan terjadi harus mereka hadapi sebagai seorang jantan. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang masih tetap tenang, meskipun wajah-wajah mereka menjadi bersungguh-sungguh pula.

Rombongan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Beberapa orang yang berdiri di regol halaman itupun telah mulai bergerak maju untuk menyambutnya. Dan yang paling depan dari mereka adalah Lembu Sora sendiri dan Sawung Sariti.

Ketika mereka sudah lebih dekat lagi, segera Mahesa Jenar menghentikan kudanya dan langsung meloncat turun diikuti oleh kawan-kawannya. Beberapa orang anak buah Lembu Sora segera berlari-larian menerima kuda-kuda mereka.

Berbeda dengan pada saat Mahesa Jenar berjumpa untuk pertama kalinya dengan Lembu Sora, kali ini kepala daerah perdikan Pamingit itu menyambutnya dengan tertawa-tawa, meskipun sikapnya yang sombong itu masih saja memancar dari wajahnya yang tengadah.

”Marilah, Adi Mahesa Jenar...” sambutnya. ”Aku merasa bergembira sekali mendapat kunjunganmu.”

Mahesa Jenar mengangguk hormat sambil menjawab, ”Sebagai seorang yang pernah menerima kebaikan hati dari penduduk Banyubiru, sekali-kali aku ingin menengoknya kembali.”

”Bagus-bagus...” sahut Lembu Sora. ”Marilah kami persilahkan kalian masuk dan naik ke pendapa yang memang telah kami persiapkan untuk menyambut kedatangan kalian.”

Maka berjalanlah mereka beriring-iring naik ke pendapa yang sudah direntangi tikar pandan yang putih bersih. Pendapa yang lima tahun lalu pernah dikenal pula oleh Mahesa Jenar sebagai tempat untuk duduk-duduk menghirup hawa sejuk yang mengalir di sepanjang lereng-lereng pegunungan Telamaya. Sebagai tempat untuk bermain-main Arya Salaka bersama-sama dengan ayahnya, Ki Ageng Gajah Sora. Juga sebagai tempat untuk memulai memberikan dasar-dasar ilmu tata berkelahi dan dasar-dasar tempaan jiwa oleh Gajah Sora kepada putra tunggalnya, Arya Salaka.

Sekarang ia kembali berada di pendapa itu sebagai tamu. Tamu yang membawa tugas berat dari anak Ki Ageng Gajah Sora untuk menyampaikan permintaan yang amat penting. Yaitu haknya kembali atas tanah perdikan ini.

Setelah mereka melingkar di atas tikar pandan itu, mulailah Lembu Sora mengucapkan selamat atas kedatangan tamu-tamunya itu. ”Adi Mahesa Jenar, kami keluarga Banyubiru dan Pamingit mengucapkan selamat datang kepada Adi bersama-sama dengan rombongan, kepada kawan Adi yang belum aku kenal, dan kepada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi.”

Mahesa Jenar mengangguk. Jawabnya, ”Terimakasih Kakang. Mudah-mudahan segenap keluarga Pamingit dan keluarga Banyubiru selamat dan sejahtera. Kecuali itu perkenankanlah aku memperkenalkan kawanku ini. Ia adalah seorang Putut dari Karang Tumaritis, bernama Karang Jati.”

Lembu Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar nama tempat itu. Karang Tumaritis.

SEBELUM Lembu Sora ingat nama Karang Tumaritis, tiba-tiba terdengar Sawung Sariti menyela, ”Aku sudah pernah datang ke tempat itu. Karang Tumaritis tempat tinggal Panembahan Ismaya. Orang yang mengaku dirinya waskita tetapi tak sesuatupun yang diketahuinya.”

”Ya, kepada Panembahan itulah aku menghambakan diri,” sela Kebo Kanigara.

Sawung Sariti memandang Kebo Kanigara dengan sikapnya yang khusus. Seperti juga ayahnya, ia mewarisi sikap sombong. Tetapi tiba-tiba sikapnya segera berubah. Ia melihat Kebo Kanigara justru tidak di Karang Tumaritis, tetapi di Gedangan ketika ia pada saat itu membawa laskarnya bersama-sama dengan Sima Rodra, Bugel Kaliki dan laskar sepasang Uling dari Rawa Pening.

Tetapi untuk sementara ia tidak berkata apa-apa dan berusaha untuk menghilangkan kesan perasaannya itu dari wajahnya. Sebab mau tidak mau, dan meskipun ia tidak sempat menyaksikan Kebo Kanigara bertempur pada saat itu, karena ia sendiri segera terlibat dalam perkelahian dengan Arya Salaka, namun bahwa Bugel Kaliki, Sima Rodra tua, dan Jaka Soka dapat diusir dan malahan Janda Sima Rodra terbunuh pula, maka mau tidak mau kekuatan orang itu harus diperhitungkan, disamping kesaktian Mahesa Jenar yang mengagumkan. Disusul kemudian berita kematian sepasang Uling dari Rawa Pening.

Kemudian, setelah mereka tenang sejenak, kembali terdengar Lembu Sora berkata kepada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, ”Paman Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, sudah lama rakyat Banyubiru merindukan kalian. Kemanakah kalian? Kemanakah kalian pergi selama ini? Dan apakah keperluan kalian? Sebenarnya tenaga kalian sangat kami perlukan di sini untuk membantuku selama ini.”

Sambil mengangguk-angguk Wanamerta menjawab, ”Anakmas Lembu Sora, aku semakin lama semakin menjadi tua. Dan apakah arti hidupku ini bagi Banyubiru, kalau tidak dapat berbuat sesuatu untuknya. Karena itu aku mencoba untuk menemukan putra Anakmas Gajah Sora, Arya Salaka.”

Warna merah membersit di wajah Ki Ageng Lembu Sora. Namun segera ia berusaha untuk menenteramkan hatinya. Bahkan kemudian ia bertanya seolah-olah ia sendiri mengharap kehadiran anak itu. ”Lalu, adakah usaha Paman Wanamerta berhasil...?”

”Pangestu Angger, aku berhasil,” jawabnya.

Lembu Sora menarik nafas panjang untuk meredakan debar jantungnya. Kemudian ia berkata pula, ”Aku tidak dapat mengerti, bagaimana Paman Wanamerta dapat bertemu dengan anak itu.”

”Mudah saja, Anakmas,” jawab Wanamerta, ”Aku pergi ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh Cucu Sawung Sariti.”

Sawung Sariti menjadi gelisah. Namun ia adalah anak yang cerdik. Secerdik ayahnya. Maka dengan berpura-pura terkejut ia menjawab, ”Adakah Eyang Wanamerta pernah pergi ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi?”

”Benar Cucu Sawung Sariti,” jawab Wanamerta. ”Dan menemukan Kakang Arya Salaka...?”

Sambil mengangguk puas, Wanamerta menjawab, ”Benar Cucu.”

Tiba-tiba Sawung Sariti menjawab sambil tertawa keras-keras. Katanya di sela-sela derai tawanya, ”Sayang, Eyang Seperti aku juga mula-mula terjebak oleh suatu kecurangan

yang hampir sempurna. Seorang anak muda yang sebaya dengan aku mengaku bernama Arya Salaka.”

Darah Wanamerta tersirat mendengar jawaban itu. Juga Bantaran dan Penjawi. Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Wajah mereka segera berubah merah dan jantung mereka berdentam seperti guruh yang menggelegak di dalam dada mereka. Bagaimanapun mereka mencoba menahan diri, namun terasa juga tangan-tangan mereka menjadi gemetar karenanya.

Tetapi sebelum mereka dapat mengatur perasaan mereka, terdengarlah suara Lembu Sora, ”Adi Mahesa Jenar, aku memang pernah mendengar tentang seorang anak muda menamakan dirinya Arya Salaka. Tetapi aku belum pernah melihatnya. Sebagai seorang paman, aku pasti akan mengenalnya kembali meskipun sudah sejak kurang lebih lima tahun yang lalu tak melihatnya. Aku sejak kanak-kanak tidak akan melupakannya. Namun perlu Adi ketahui bahwa seorang anak muda yang bernama Arya Salaka itu pernah diketemukan mati terbunuh. Ia kehilangan pusakanya Kyai Bancak dan sebuah peniti yang barangkali dari emas, serta timangnya bertetes intan.”

Sekali lagi sebuah petir seolah-olah meledak di dalam pendapa itu. Bahkan jauh lebih dahsyat dari cerita Sawung Sariti. Penjawi yang paling tidak dapat menahan diri, dengan tergagap berteriak, ”Bohong, semuanya bohong...!”

Lalu suara Penjawi hilang tersumbat di kerongkongan. Seolah-olah berjejal-jejal berebut dahulu, sehingga dengan demikian malah tak sekata pun yang muncul seterusnya.

Mendengar kata-kata Penjawi yang terbata-bata itu, Lembu Sora tersenyum. Senyum yang sangat menyakitkan hati. Tetapi kemudian ia berkata dengan ramahnya, ”Jangan berprasangka yang bukan-bukan, Penjawi. Aku sama sekali tak bermaksud membohongi kalian. Tetapi sebaiknya kalian dapat mempertimbangkan kejadian-kejadian yang pernah berlaku. Kalian jangan membabi buta atas kesetiaan kalian kepada Arya Salaka, sebagai ungkapan kesetiaan atas tanah yang sama-sama kita cintai.”

PENJAWI bukanlah orang yang dapat banyak bicara. Karena itu semakin banyak yang akan diucapkan, semakin sulit kata-kata itu keluar dari mulutnya. Demikian juga Bantaran yang hanya dapat mengingsar-ingsar duduknya dan meraba-raba hulu kerisnya.

Wanamerta sendiri menjadi bingung. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan mendapat jawaban yang demikian. Sedangkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, meskipun menjadi gelisah, mereka masih tetap pada kesadaran yang penuh. Karena itu Mahesa Jenar masih dapat berkata las-lasan, ”Kakang Lembu Sora, apakah yang Kakang katakan itu merupakan pendapat Kakang Lembu Sora?”

Lembu Sora mengernyitkan keningnya. Terhadap Mahesa Jenar ia harus berhati-hati. Karena itu ia mempertimbangkan setiap kata-katanya dengan baik. Maka setelah berfikir sejenak ia menjawab. ”Adi, aku tidak mengatakan demikian. Tetapi aku wajib mempertimbangkan setiap keadaan, supaya aku tidak meletakkan keputusan yang salah”.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu katanya meneruskan, ”Baik. Kalau demikian bagaimanakah kalau berita tentang kematian yang Kakang dengar itu salah...?”

Lembu Sora berpikir sekali lagi. Baru ia menjawab, ”Mudah-mudahan berita yang aku dengar itu salah. Tetapi bagaimana aku tahu kalau berita itu tidak benar?”

”Kakang akan tahu bahwa berita itu tidak benar setelah Kakang nanti dapat bertemu dengan Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.

Lembu Sora tersenyum. Katanya, ”Bagaimanakah aku dapat percaya bahwa yang datang kemudian itu Arya Salaka?”

”Ia harus membawa tanda kebesaran Banyubiru,” jawab Mahesa Jenar. ”Dan bukankah Kakang akan dapat mengenal kembali kemenakan Kakang itu?”

”Permainan yang bagus,” potong Sawung Sariti. ”Aku pernah bertemu dengan Paman Mahesa Jenar di Gedangan bersama-sama dengan anak muda yang menamakan diri Arya Salaka, yang membawa tombak yang dinamainya Kyai Bancak.”

”Diam!” Tiba-tiba terdengar Bantaran membentak. Semua orang terkejut mendengar bentakan itu. Bahkan Bantaran sendiri terkejut.

Sawung Sariti sama sekali tidak senang mendengar Bantaran membentaknya. Karena itu ia menjawab tajam, ”Bantaran... kalau kau membentak aku sekali lagi, aku sobek mulutmu.”

Tetapi kata-kata bentakan itu sudah terucapkan. Sebagai laki-laki, Bantaran tidak mau dihinakan, meskipun ia tahu bahwa Sawung Sariti bukanlah lawannya. Tetapi mati atas landasan kesetiaan kepada Banyubiru adalah pengabdian yang didambanya selama ini. Dengan demikian tiba-tiba menengadahkan dadanya sambil berkata, ”Aku akan berbuat sekali, dua kali, sepuluh kali lagi, sesuka hatiku.”

Hampir saja Sawung Sariti meloncat, kalau ia tidak ditahan Lembu Sora, yang agaknya kepalanya masih cukup dingin. Namun kata-katanya sangat menyakitkan hati. ”Sawung Sariti, adakah cukup berharga bagimu untuk menyentuh tubuhnya?”

Sawung Sariti menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin memadamkan api yang berkobar-kobar di dalam dadanya. Namun dari matanya terpancarlah bara kemarahan yang tak terhingga.

Mahesa Jenar melihat keadaan berkembang ke arah yang tidak diharapkan, meskipun ia tidak dapat menyalahkan Bantaran, Wanamerta maupun Penjawi. Ia sebenarnya sama sekali tidak menduga bahwa sampai sedemikian jauh keingkaran Lembu Sora dan Sawung Sariti terhadap kemenakannya serta sepupunya sendiri. Terhadap kadang tuwa yang selalu bersikap baik kepada mereka, Gajah Sora.

Mahesa Jenar pernah mendengar cerita tentang hubungan mereka. Lembu Sura dengan Gajah Sora sebagai kakak-beradik. Ia pernah mendengar bagaimana Gajah Sora sebagai saudara tua selalu melindungi dan membimbing adiknya dalam berbagai soal, dan banyak mengalah dalam berbagai hal. Namun akibatnya, kemanjaan Lembu Sora itu menjadi berlebih-lebihan dan menelan Gajah Sora sendiri. Kalau sekali dua kali, Gajah Sora pernah marah kepadanya, adalah wajar. Sebagai seorang kakak yang ingin melihat adiknya tidak berbuat kesalahan-kesalahan.

Mahesa Jenar berusaha untuk tetap memelihara suasana pertemuan itu agar tidak bertambah kusut, meskipun dadanya sendiri seperti hendak meledak. Maka berkatalah ia dengan setenang-tenangnya, seolah-olah tidak terjadi ketegangan sama sekali di dalam pertemuan itu. ”Kakang Lembu Sora, baiklah kita berbicara mengenai beberapa soal yang penting. Biarlah kita singkirkan masalah-masalah kecil yang tidak berarti.”

Lembu Sora menelan ludahnya serta menggigit bibirnya. Ia kagum juga kepada Mahesa Jenar yang dapat menguasai perasaannya dengan baik. Tetapi ia sudah bertekad untuk menganggap bahwa Arya Salaka sudah tidak ada lagi di muka bumi ini. Karena itu Lembu Sora menjawab, ”Baiklah Adi, aku tidak pernah menolak berbicara dengan siapa saja, selama pembicaraan itu akan berguna. Berguna bagi Pamingit, bagi Banyubiru, dan berguna bagi kita semua.”

”Demikianlah harapan kami,” sahut Mahesa Jenar. ”Kedatangan kami ini pun pada kepentingan Banyubiru. Bukan kepentingan kami sendiri.”

Lembu Sora tersenyum. Dengan penuh kesadaran akan kebesaran dirinya, ia menjawab, ”Nah, katakanlah apa yang berguna bagi Banyubiru itu?”

Aku membawa tugas dari Angger Arya Salaka, untuk menyampaikan baktinya kepada Kakang Lembu Sora,” sahut Mahesa Jenar.

Lembu Sora menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan mengerutkan keningnya ia menjawab, ”Adi Mahesa Jenar, jangan mengada-ada. Kau bagiku adalah seorang yang pantas dihormati seperti Kakang Gajah Sora dahulu menghormatimu. Namun demikian hormat kami pun mengenal batas. Sebagai kepala daerah perdikan yang besar, yang terbentang dari Pamingit sampai Banyubiru, aku harus bersikap baik, namun tegas dalam garis kepemimpinan. Karena itu aku minta kepada Adi untuk tidak menyebut-nyebut nama Arya Salaka, seorang yang telah tidak ada lagi.”

MAHESA JENAR mengangkat dadanya seolah-olah ada sesuatu yang menyilang di dalamnya. Dengan sudut matanya ia melihat betapa wajah Wanamerta, Bantaran dan Penjawi sudah menjadi merah padam. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih berkata, ”Bukankah Kakang Lembu Sora tidak melihat sendiri, seorang anak muda yang disebut bernama Arya Salaka itu terbujur di tanah tak bernafas lagi?”

Perasaan tidak senang yang tajam terpercik di wajah Lembu Sora. Kemudian terdengarlah ia menjawab, ”Aku tidak sempat untuk mengurusi masalah-masalah tetek bengek yang tidak berarti. Bukankah aku mempunyai petugas-petugas untuk keperluan itu...?”

”Kalau benar Kakang berbuat demikian, maka agaknya Kakang Lembu Sora telah berbuat suatu kesalahan. Persoalan Arya Salaka bukanlah persoalan tetek bengek yang tak berarti. Arya Salaka adalah putra kepala daerah perdikan Banyubiru, yang berhak untuk menggantikan kedudukan itu apabila ayahnya berhalangan melakukan tugasnya,” sahut Mahesa Jenar yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.

”Hemmm...” dengus Lembu Sora. Wajahnya pun telah mulai semburat merah. ”Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan kepada Adi, bahwa aku tidak dapat mempercayaimu sejak perjumpaan kita yang pertama-tama. Sejak hilangnya pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.”

Dada Mahesa Jenar benar-benar seperti dihantam linggis, mendengar kata-kata itu. Sehingga tidak sesadarnya ia menggeretakkan giginya. Namun bagaimanapun juga dengan susah payah ia masih menahan diri, dan berkata, ”Kakang, aku tidak keberatan terhadap sikapmu kepadaku. Tetapi bagaimanakah seandainya anak muda yang aku namakan Arya Salaka itu mendapat kesaksian dari segenap penduduk daerah perdikan ini, dan mereka menerimanya sebagai Arya Salaka yang sebenarnya?”

Pertanyaan ini sekali lagi menggelisahkan Lembu Sora. Sawung Sariti pun tidak tahan lagi untuk membiarkan pembicaraan yang tak disukainya itu berlarut-larut. Maka ia pun kemudian menyela, ”Ayah, apakah gunanya pembicaraan ini kita layani? Sebaiknya biarlah tamu-tamu kita ini kita persilakan berdiam diri. Dengan rendah hati atau kalau perlu kita terpaksa memaksa mereka dengan cara kita.”

Mahesa Jenar memandang Sawung Sariti dengan sudut matanya. Sekali lagi ia merasa muak melihat wajah itu. Wajah yang tampan dan bersih namun di belakang wajah itu tersirat kelicikan hatinya. Tiba-tiba ia teringat kepada Jaka Soka dari Nusa Kambangan.

”Angger...” kata Mahesa Jenar kemudian, ”Biarlah kami berbicara secara orang tua. Sebaiknya Angger bermain-main saja di halaman, daripada mencampuri urusan ini.”

Bara yang mula-mula berkobar di dada Sawung Sariti masih belum padam, ditambah dengan kata-kata Mahesa Jenar yang cukup tajam itu. Maka semakin menyalalah hatinya. Tetapi sebelum ia menjawab, Lembu Sora telah mendahuluinya, ”Adi Mahesa Jenar, aku tidak mau membicarakannya lagi. Aku sudah memutuskan untuk menganggap Arya Salaka telah mati, dan Kakang Gajah Sora pun telah dihukum mati di Demak, sebagai akibat dari pengkhianatannya, meskipun aku telah berusaha untuk mencegahnya.”

”Maaf Kakang,” potong Mahesa Jenar, ”Aku datang untuk membicarakannya. Bukan untuk sekadar menghadap yang dipertuan di Banyubiru sekarang.”

”Cukup...!” potong Lembu Sora, ”Tidak ada yang aku bicarakan.”

Mahesa Jenar benar-benar tersinggung karenanya, ditambah dengan perasaan muaknya sejak bertemu dengan orang itu untuk pertama kalinya. Karena itu ia menjawab lantang, ”Kalau kau tidak mau berbicara, aku akan berbicara dengan rakyat Banyubiru, dan membuktikan kepada mereka bahwa Arya Salaka akan berada di tengah-tengah mereka.”

Mendengar ancaman Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terperanjat. Tetapi kemudian ia pun menjadi marah dan menjawab, ”Adi Mahesa Jenar, akulah kepala daerah perdikan ini. Akulah yang berwenang atas rakyat dan daerah ini. Tak seorang pun aku perkenankan melanggar wewenangku. Apalagi kau. Ayah Sora Dipayana pun tidak.” Wanamerta mendengar kata-kata itu dengan dada yang berdentam-dentam. Telinganya serasa tersentuh api. Maka katanya lantang, meskipun ia langsung berhadapan dengan bahaya yang dapat saja merenggut jiwanya, ”Anakmas Lembu Sora, akulah yang mula- mula minta kepada Anakmas untuk mengawasi daerah perdikan ini sepeninggal Anakmas Gajah Sora. Tetapi cerita tentang Anakmas Lembu Sora tak dapat ditutup-tutupi lagi. Cerita tentang hilangnya Anakmas Arya Salaka, yang untung dapat diselamatkan oleh Anakmas Mahesa Jenar. Cerita tentang laskar yang Anakmas namakan Laskar Pamingit dan Banyubiru yang ingin membebaskan Anakmas Gajah Sora dengan menyerang pasukan dari Demak. Seterusnya cerita tentang hilangnya Pandan Kuning dan Sawung Rana.”

”Cukup!” teriak Lembu Sora. ”Ternyata rambutmu yang telah memutih itu sama sekali tidak mencerminkan hatimu yang putih. Kau ingin melihat darah mengalir di Banyubiru. Kalau dengan demikian kau akan dapat mengambil keuntungan, maka kaulah orang yang pertama-tama aku lenyapkan sekarang ini.”

”Tak seorang pun yang dapat melenyapkan kenyataan yang telah terjadi. Betapapun orang berusaha menutupi kebenaran dan menghapuskan. Namun kebenaran itu tak akan lenyap,” sanggah Wanamerta dengan berani.

”Jangan menggurui aku,” bentak Lembu Sora. ”Aku tahu, kau sudah berusia lanjut. Tetapi jangan berlagak lebih pandai daripada orang-orang muda. Bagiku tidak ada tempat bagi kalian di Banyubiru.”

Mahesa Jenar sekali lagi mencoba untuk yang terakhir kalinya menempuh cara yang sebaik-baiknya bagi penyelesaian Banyubiru. Katanya, ”Ki Ageng Lembu Sora, mumpung segala sesuatu belum telanjur, marilah kita tenangkan hati kita. Berilah aku kesempatan untuk menunjukkan kemauan kami yang sebenarnya. Bahwa tak ada artinya pertentangan antara kita sama kita. Biarlah kita cari jalan yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah kita.”

LEMBU SORA mendengus. Matanya benar-benar telah memancar merah bara. ”Agaknya kaulah sumber dari keributan ini. Kau telah membuat seorang anak muda menggantikan kesempatan Arya Salaka untuk kepentinganmu. Kau cari seorang anak muda yang mirip dengan anak itu. Kau ajari dia menyebut aku paman dan menyebut nama ayahnya Gajah Sora. Kau ajari dia menuntut hak atas Banyubiru.”

”Ki Ageng Lembu Sora...” potong Mahesa jenar, ”Demi kehormatan kita masing- masing, jangan katakan yang bukan-bukan.”

”Nah...” jawab Lembu Sora berapi-api, ”Bukankah kau takut melihat kenyataan itu? Kenyataan bahwa permainan kotormu telah aku ketahui.”

”Kau telah benar-benar tersesat. Kalau tanggapanmu itu jujur, maka kau benar-benar telah berdiri di atas alas yang gelap, yang sama sekali tak dipancari oleh kebijaksanaan.” ”Cukup!” teriak Lembu Sora dengan gemetar. ”Jangan membuat aku kehilangan kesabaran.”

Mahesa jenar adalah seorang jantan. Seorang perwira yang tak mengenal surut. Ketika ia mendengar teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan itu, bagaimanapun sabarnya ia menjadi marah pula. Karena itu ia pun kemudian menjawab lantang, ”Kakang Lembu Sora, kalau kau berbicara atas hak maka akulah yang memegang hak sekarang ini atas Banyubiru. Aku telah menerima wewenang langsung dari Kakang Gajah Sora sejak Kakang Gajah Sora meninggalkan daerah ini. Akulah yang mendapat tugas darinya untuk mengamankan Banyubiru dan putranya, Arya Salaka. Akulah sekarang yang mempunyai kewajiban untuk mengatur Banyubiru berdasarkan dan bersumberkan wewenang yang diberikan oleh Kakang Gajah Sora. Karena itu jangan mencoba membatasi usahaku memulihkan pemerintahan di Banyubiru.”

Lembu Sora telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Tiba-tiba ia berkisar maju dekat-dekat di muka Mahesa Jenar. Sambil menuding wajahnya, Lembu Sora berkata, ”Kau adalah orang yang paling berbahaya bagi Banyubiru. Kau adalah sumber bencana sejak hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Aku telah menasihatkan kepada kakang Gajah Sora untuk menangkapmu. Tetapi ia tidak mau. Dan sekarang ketika kau hadir kembali ke daerah ini, tersebarlah desas-desus bahwa keris itu berada di Banyubiru. Bukankah itu jelas? Jelas bahwa kau yang telah mencuri kedua pusaka itu.”

Mahesa Jenar tiba-tiba juga kehilangan pengamatan diri. Ketika tangan Lembu Sora masih berada di depan wajahnya, tiba-tiba dengan kerasnya ia memukulnya ke samping. Dan kemudian dengan cepatnya, secepat getaran cahaya, ia meloncat turun dari pendapa, dan berkata kepada Lembu Sora dengan marahnya, ”Lembu Sora... aku adalah laki-laki seperti kau.”

Lembu Sora pun kemudian meloncat tak kalah cepatnya. Dengan wajah yang bengis ia berdiri berhadapan dengan Mahesa Jenar. Sementara itu Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun segera berloncatan, dan tiba-tiba mereka sudah bersiap untuk bertempur.

Dalam pada itu, setiap laskar Banyubiru dan Pamingit yang berada di halaman itu segera mendesak maju. Dan dalam waktu yang singkat mereka telah mengepung pendapa itu. Apalagi ketika kemudian Lembu Sora berkata lantang kepada mereka, ”Hai laskar Banyubiru.... Selamatkan daerahmu dari orang-orang yang ingin merampas milikmu. Sebab mereka masih belum melupakan, beberapa tahun yang lalu, mereka hampir mencincang kau ketika mereka menyadari bahwa kau telah mencuri pusaka-pusaka yang dengan susah payah diusahakan oleh kakang Gajah Sora. Tetapi Kakang Gajah Sora terlalu baik hati kepadamu.”

Laskar Banyubiru dan Pamingit itu pun kemudian semakin mendesak maju. Dan tiba- tiba terdengar diantara mereka suatu teriakan, ”Bunuh...!”

Mahesa Jenar memutar tubuhnya seperempat lingkaran. Dengan kaki renggang ia menghadapi setiap kemungkinan. Ketika dilihatnya laskar di sekitarnya semakin mendesak maju, ia pun berteriak kepada Lembu Sora, ”Aku adalah orang terakhir yang mendapat kepercayaan Kakang Gajah Sora.”

Lembu Sora menyahut keras, ”Omong kosong!”

Tetapi Mahesa Jenar tidak memperhatikannya sama sekali. Dengan lantang ia meneruskan kata-katanya, ”Kalau ada diantara kalian laskar Banyubiru benar-benar laskar Banyubiru, dengarkanlah kata-kataku. Kalau kalian menyerang aku, adalah sama saja kalian menyerang Gajah Sora yang memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengasuh dan mengamankan putranya, Arya Salaka. Dengan demikian kalian telah melupakan diri kalian sendiri sebagai pengawal-pengawal setia Banyubiru. Siapakah yang telah bekerja sepenuh hati untuk Banyubiru...? Siapakah yang telah membangun tempat-tempat ibadah yang tersebar di empat penjuru Banyubiru...? Siapakah yang telah menggali parit-parit untuk sawah-sawah kalian...? Dan siapakah yang paling bersedih hati pada saat Banyubiru dilanda oleh arus kejahatan dari gerombolan hitam dan menelan banyak korban, beberapa tahun yang lalu? Dan siapakah yang telah mempertaruhkan dirinya bagi ketenteraman rakyat Banyubiru ketika pasukan dari demak datang ke tempat ini karena desas-desus dan fitnah atas kebersihan hati rakyat Banyubiru, disamping kesetiaannya kepada panji-panji Gula Kelapa yang pernah dibelanya mati-matian. Siapa...? Dan siapakah diantara kalian yang pada saat itu ikut serta dengan Gajah Sora, dan hampir saja terjadi perlawanan tergadap Demak? Siapa? Dan apakah yang kalian lakukan sekarang? Kalian telah mengingkari diri kalian dan kesetiaan kalian atas tanah ini.”

Lembu Sora tidak mau mendengar Mahesa Jenar berkata terus. Dengan penuh kemarahan ia berteriak, ”Jangan dengarkan orang ini mengigau di tengah hari. Dan jangan dibiarkan ia mengelabuhi mata rakyat Banyubiru. Nah, karena orang itu tidak mau menutup mulutnya, adalah tugas kalian untuk menyumbatnya.”

Beberapa orang Pamingit semakin merapatkan kepungan mereka. Tetapi beberapa laskar Banyubiru menjadi ragu-ragu. Tiba-tiba mereka ingat jelas, seperti baru kemarin saja terjadi, Ki Ageng Gajah Sora segelar sepapan dengan gelar perang Gajah Meta menyongsong kedatangan pasukan Demak dalam gelar Cakra Byuha.

JELAS tergambar kembali dalam ingatan laskar Banyubiru, ketika pasukan Demak mengubah gelarnya menjadi gelar Garudha Nglayang. Diingat pula oleh mereka, bagaimana Gajah Sora menjadi gemetar ketika dilihatnya panji-panji yang berwarna gula kelapa melambai-lambai di atas ujung pasukan Demak. Pada saat itulah mereka melihat Gajah Sora menyerahkan putranya, Arya salaka, kepada orang itu. Orang yang bernama Mahesa Jenar, yang sekarang berdiri di hadapan mereka.

Karena itulah, ketika orang-orang Pamingit bergerak maju, mereka tetap berdiri di tempat, seolah-olah terpaku di atasnya. Dengan demikian, tanpa dibuat terjadilah dua lingkaran pasukan di halaman itu. Pasukan Pamingit yang semakin mendesak maju, dan di luar lingkaran itu berdirilah dengan bimbang pasukan lembu Sora yang semula berasal dari laskar banyubiru, yang tidak banyak mengerti tentang mereka sendiri, dan tentang tanah mereka.

Sedangkan orang-orang Pamingit yang menjadi semakin rapat itu pun kemudian ragu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar siap dalam siaga tempur. Di sampingnya, berseberangan di tiga penjuru, terlihat Wanamerta yang tua, Bantaran yang kokoh kuat, dan penjawi dengan wajah yang tegang namun penuh keikhlasan. Mereka memegang keris masing-masing, siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Tetapi kemudian mereka menjadi sadar akan tugas mereka, ketika mereka melihat Lembu Sora dengan wajah berapi-api berdiri bertolak pinggang di dalam lingkaran itu. Apalagi ketika kemudian Lembu Sora tidak sabar lagi, tiba-tiba dengan suara berdesing menakutkan mencabut pedangnya. Pedang yang tidak berukuran lumrah.

Melihat pedang itu, hati Mahesa Jenar benar-benar melonjak didesak oleh kemarahannya. Agaknya Lembu Sora telah benar-benar ingin membunuhnya. Karena itu tiba-tiba ia bersiap dalam sikap terakhir. Apabila pedang itu ternyata benar-benar terayun ke arahnya, maka ia harus dalam waktu sesingkat-singkatnya memukul kembali. Pukulan yang menentukan. Sebab kemudian ia harus bertempur melawan jumlah yang besar.

Dan, apa yang ditunggunya benar-benar terjadi. Dengan suara berdesing panjang, pedang itu terayun deras sekali menyambar lehernya. Tetapi Mahesa Jenar telah benar-benar siap. Siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu dengan lincahnya ia merendahkan diri dan meloncat ke samping. Dalam pada itu Wanamerta, Bantaran dan Penjawi segera berloncatan merenggang untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Sedang ujung-ujung tombak yang rapat berjajar di sekitar mereka telah menunduk mengarah ke dada mereka.

Mahesa Jenar pada saat itu telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Ia merasa bahwa tidaklah mungkin baginya bersama-sama dengan kawan-kawannya yang hanya berjumlah lima orang itu bertempur melawan segenap laskar yang berada di halaman itu, yang diantaranya ada orang-orang seperti Lembu Sora, Sawung Sariti, bahkan mungkin akan ikut campur pula Ki Ageng Sora Dipayana.

Karena itu ketika pedang Lembu Sora dengan derasnya menyambar di atas kepala mahesa Jenar, segera ia tegak di atas satu kakinya, dan hampir saja ia menyalurkan segenap kekuatannya pada sisi telapak tangan kanannya dalam ujud ilmunya yang luar biasa, Sasra Birawa.

Beberapa orang berloncatan mundur, sedangkan Lembu Sora sendiri menjadi cemas. Ia tidak bisa berbuat lain daripada segera mempersiapkan dirinya atas lambaran ilmu saktinya, Lebur Sakethi.

Tetapi tiba-tiba melontarlah sesosok tubuh memasuki lingkaran itu. Dan dengan tenang berdiri di depan mahesa Jenar, menepuk kedua pundaknya dan berkata lirih, ”Tenangkan hatimu, Mahesa Jenar. Ilmumu sekarang adalah jauh lebih dahsyat daripada lima tahun yang lalu.” Kata-kata itu bagi Mahesa Jenar seolah-olah setetes embun di atas relung-relung hatinya yang membara. Apalagi ketika ia melihat wajah orang itu, yang dengan senyum kecil memandangnya seperti seorang kakak dengan penuh kasih sayang. Maka tiba-tiba pandangan Mahesa Jenar jatuh di tanah di depannya.

Mahesa Jenar menjadi malu kepada diri sendiri, dan kepada Kebo Kanigara. Orang yang telah membawanya kembali ke alam kesadaran. Apalagi ketika Kebo Kanigara berbisik, ”Bukan demikian maksud kedatanganmu kali ini, Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar yang masih tertunduk itu berdesis perlahan-lahan, ”Maaf Kakang. Aku kehilangan kesadaranku ketika Lembu Sora menyerangku.”

”Angkatlah wajahmu...” Kebo Kanigara meneruskan, ”Dan lihatlah siapa yang berdiri di depan Lembu Sora itu.”

Ketika Mahesa Jenar mengangkat wajahnya, dan memandang ke arah Lembu Sora, ia menjadi terkejut. Di depan orang itu telah berdiri seorang tua, yang sudah berambut putih dan berjenggot putih, memandangnya dengan mata sayu suram.

Tanpa disengaja Mahesa Jenar segera membungkuk hormat, sambil berkata dengan takzimnya. ”Baktiku untuk Paman Sora Dipayana.”

Orang tua itu mengangguk pula. Jawabnya, "Salamku untukmu, Mahesa Jenar, dan untuk kalian yang datang bersamanya.”

Kebo Kanigara masih belum memutar tubuhnya. Ia masih menghadap kepada Mahesa Jenar. Dengan berbisik ia bertanya, ”Nah, bukankah kau sudah mengenalnya? Apakah orang itu ayah Lembu Sora?”

”Ya,” jawab Mahesa Jenar perlahan.

”Aku mengaguminya. Ia pasti seorang yang sakti, menilik geraknya yang luar biasa,” gumam Kebo Kanigara sambil membalikkan diri, dan kemudian membungkuk hormat pula.

Dengan wajah yang masih sesuram semula, Sora Dipayana berkata, ”Aku menyesal bahwa sesuatu yang sama-sama tak kita kehendaki telah terjadi.”

Dengan suara yang dalam, Kebo Kanigara menjawab, ”Demikian pula kami. Mudah- mudahan hal-hal yang tak dikehendaki itu tidak terulang kembali.”

SORA Dipayana mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian pandangan matanya berkisar kepada Penjawi, Bantaran, dan kemudian Wanamerta. ”Adi Wanamerta... apakah kau sehat-sehat saja selama ini...?” Wanamerta menjadi terharu mendengar sapaan Sora Dipayana itu. Sora Dipayana baginya adalah seorang pemimpin yang pada masa-masa menjalankan tugas menjadi kebanggaannya. Kebanggaan seluruh daerah perdikan yang dulu disebut Pangrantunan. Karena itu dengan hormat ia menjawab, ”Kakang, sebagaimana Kakang, agaknya akupun selamat. Demikian juga anak-anak Banyubiru yang pergi bersamaku.”

Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat berkeliling, matanya menjadi bertambah suram. Ia melihat dua lingkaran di halaman itu. Laskar Pamingit di lingkaran pertama, dan laskar Banyubiru di lingkaran kedua. Masing-masing masih erat memegang senjata mereka. Bagi Sora Dipayana, yang hampir seluruh hidupnya diserahkan kepada tanah perdikan itu, melihat peristiwa itu dengan sedih. Apa yang dilihatnya di halaman itu adalah lambang perpecahan yang terjadi saat itu. Perpecahan antara Pamingit dan Banyubiru. Dua daerah yang seharusnya dapat saling mengisi dan saling memperkuat ketahanan diri dalam segala bidang.

Kemudian kepada lembu Sora ia berkata, ”Lembu Sora, bukankah lebih baik kalau kau persilakan tamumu ini duduk kembali? Dan bukankah lebih akrab kalau kau jamu tamu- tamumu ini dengan sekadar pelepas haus, daripada kau suguhkan kepada mereka pameran kekuatan yang tak berarti?”

Lembu Sora tidak begitu senang mendengar kata-kata ayahnya. Tetapi ia tidak berani membantah. Karena itu ia hanya dapat menggigit bibir, sehingga sekali lagi Sora Dipayana berkata, ”Lembu Sora, persilakan tamumu duduk kembali.”

”Baik ayah,” jawabnya singkat. Tetapi Lembu Sora masih belum mempersilakan tamu- tamunya. Malah kemudian ada sesuatu yang dicarinya. ”Sariti... Sariti ” panggilnya.

“Ya, ayah ” jawab Sawung Sariti, masih duduk di tangga pendapa.

“Kemarilah.”

Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi bibirnya masih menyeringai kesakitan. Sehingga ketika Lembu Sora melihatnya, ia menjadi terkejut. ”Kenapa kau?”

Sawung Sariti tidak menjawab. Hanya matanya saja yang membentur wajah kakeknya. Lembu Sora kemudian tergopoh-gopoh datang kepadanya, dan sekali lagi ia bertanya, ”Kenapa kau  ?”

”Kakek ” jawab Sariti singkat.

Lembu Sora menoleh kepada ayahnya. Kemudian ia bertanya, ”Kenapa dengan Sariti, ayah ?”

”Ah,” jawab Sora Dipayana sambil mengerutkan keningnya. ”Aku hanya mencegahnya bermain-main dengan tombak.” Semua mata segera tertuju kepada Sawung Sariti. Ia menjadi tidak senang, ketika seolah- olah dirinya menjadi tontonan. Tetapi ia tidak segera dapat berdiri dan pergi dari tempatnya. Kakinya terasa sakit bukan main, bahkan seolah-olah tidak dapat digerakkan sama sekali. Sedang tangannya menjadi semutan dan gemetar.

”Ayah...” kata lembu Sora dengan nada menyesal, ”Apakah Ayah akan membiarkannya demikian?”

Sora Dipayana perlahan-lahan berjalan mendekati cucunya. dengan sareh ia berkata, ”Sariti, lain kali janganlah kau berbuat hal-hal yang berbahaya.”

Sawung Sariti hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala, meskipun hatinya mengumpat tidak habis-habisnya. Ia hanya dapat menyeringai dan berdesis-desis ketika kemudian Ki Ageng Sora Dipayana mengurut punggungnya.

”Nah, masuklah,” perintahnya kemudian. ”Jangan campuri perkara orang tua-tua.”

Sawung Sariti kemudian berdiri dan terhuyung-huyung berjalan masuk ke dalam pringgitan. Di depan pintu, sekali lagi ia menoleh dan memandang Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, dengan penuh dendam.

Ketika anak itu sudah lenyap di balik pintu, terdengar Sora Dipayana berkata, ”Lembu Sora, apakah kau masih memerlukan laskar sebanyak itu untuk menyambut tamumu?”

”Ayah...” jawab Lembu Sora, ”Aku tidak menyiapkan laskar ini untuk menyambut kedatangan Adi Mahesa Jenar. Tetapi semula aku menyiapkan laskarku karena Banyubiru baru saja didatangi oleh orang-orang dari Nusa Kambangan untuk mencari kedua pusaka Demak yang hilang, yang katanya berada di Banyubiru ini.”

Sora Dipayana mengerutkan keningnya kembali. Jawabnya, ”Baiklah, kalau demikian kau dapat membubarkannya.”

”Baiklah, Ayah,” jawab Lembu Sora singkat, dan kemudian dengan tangannya ia memberi isyarat kepada pemimpin laskar yang berada di halaman itu. Kemudian segera membubarkan laskar Pamingit dan Banyubiru. Sebentar kemudian halaman itu menjadi kosong, kecuali beberapa orang yang khusus bertugas sebagai pengawal-pengawal pribadi Lembu Sora.

SEKALI lagi Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi dipersilahkan naik ke pendapa. Tetapi kali ini Lembu Sora sudah tidak tenang lagi duduk bersama. Karena itu ia berkata, ”Ayah, biarlah untuk sementara ayah menemani tamu- tamu kita. Aku ingin menyelesaikan persoalan kecil dibelakang sebentar.”

Ki Ageng Sora Dipayana menganggukkan kepalanya, jawabnya, ”Baiklah Lembu Sora, tetapi sesudah pekerjaanmu itu selesai datanglah dan duduklah di sini bersama-sama.” Lembu Sora tidak menjawab. Dengan langkah gontai ia berjalan meninggalkan tamu- tamunya yang duduk bersama dengan Ki Ageng Sora Dipayana.

Sepeninggal Lembu Sora, berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, ”Angger berdua. Sebenarnyalah kedatangan kalian sangat mengejutkan kami dan rakyat Banyubiru. Sudah sejak bertahun-tahun mereka melupakan nama Mahesa Jenar bersama dengan lenyapnya nama Gajah Sora dan Arya Salaka.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia menyahut, ”Adakah nama itu lenyap pula dari hati Tuan? Bukan Mahesa Jenar, tetapi Gajah Sora dan Arya Salaka.”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Dan ketika Mahesa Jenar memandang wajahnya yang suram, ia menjadi terkejut. Membayanglah di dalam sepasang matanya yang sayu, seolah-olah mendung menyelimuti langit. Dengan tertahan- tahan ia menjawab, ”Gajah Sora adalah harapan bagi masa kini, sedang Arya Salaka adalah harapan masa depan. Bagaimana aku dapat melupakan mereka?”

”Tetapi masa kini telah hilang dari tangannya,” sahut Mahesa Jenar meneruskan. Perlahan-lahan namun jelas.

Sora Dipayana memandangi mata Mahesa Jenar dengan cermat. Ia melihat pertanyaan yang bergulat di dalamnya. Karena itu ia berkata, ”Anakmas Mahesa Jenar, aku tidak pernah menolak kalau ada orang meletakkan tanggungjawab di dalam tanganku. Aku tidak pernah mengelakkan tuduhan bahwa aku seolah-olah membiarkan keadaan berkembang seperti apa yang terjadi kini. Tetapi aku ingin juga mengatakan, alasan- alasan apakah yang telah menyudutkan aku ke dalam keadaan ini.”

Ki Ageng Sora Dipayana berhenti sejenak. Dengan seksama ia mengawasi Kebo Kanigara. Dan tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya, ”Siapakah Angger ini?”

”Aku adalah seorang Putut, Tuan. Yang menghambakan diri pada Panembahan yang tinggal di bukit Karang Tumaritis dan bernama Panembahan Ismaya,” jawab Kebo Kanigara.

”Sebagai seorang Putut, aku bernama Putut Karang Jati,” lanjut Kanigara.

Sora Dipayana mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia bertanya pula, ”Adakah Anakmas bergelar lain selain nama Angger sebagai seorang Putut?”

Kebo Kanigara ragu sejenak. Ketika ia menoleh kepada Mahesa Jenar, Mahesa Jenar pun agaknya bimbang hati.

Akhirnya kepada orang tua itu Kebo Kanigara tidak merasa perlu untuk menyembunyikan diri.

Karena itu ia menjawab, ”Tuan, aku memang memiliki nama lain. Nama yang diberikan oleh ayah bunda pada saat aku dilahirkan nama itu adalah Kebo Kanigara.”

Mendengar nama itu Ki Ageng Sora Dipayana menegakkan kepalanya. Ia lupa-lupa ingat akan nama itu. Namun bagaimanapun juga orang yang bernama Kebo Kanigara itu sangat menganggumkannya. Ia melihat ketika orang yang bernama Kebo Kanigara itu menepuk pundak Mahesa Jenar untuk menenangkannya. Ia melihat betapa Mahesa Jenar tidak berani memandang wajah orang itu. Karena itu, orang yang bernama Kebo Kanigara itu pasti mempunyai pengaruh yang kuat atas Mahesa Jenar. Apalagi menilik sikapnya yang tenang penuh kepercayaan kepada diri sendiri, telah menyatakan betapa ia memiliki ilmu yang kuat dan meyakinkan pula.

Kalau Kebo Kanigara itu seorang Putut yang bernama Karang Jati, dan memiliki ilmu yang cukup meyakinkan, bagaimanakah agaknya Panembahan yang bernama Ismaya itu? Dan apakah hubungannya dengan Mahesa Jenar, sehingga ia datang bersamanya? Tetapi Sora Dipayana merasa kurang pada tempatnya untuk menanyakannya.

Sementara itu Kebo Kanigara pun sedang memperhatikan Ki Ageng Sora Dipayana dengan seksama. Ia pernah mendengar nama itu dari ayahnya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan ia pernah mendengar pula bahwa Ki Ageng Sora Dipayana itu adalah sahabat ayahnya dan memiliki ilmu yang setingkat.

Agaknya apa yang dikatakan oleh ayahnya itu tidak berlebih-lebihan. Ia melihat dengan mata kepala sendiri apa yang baru saja terjadi. Ketika Sawung Sariti dengan diam-diam bersiap untuk melontarkan tombak ke punggung Mahesa Jenar, Kebo Kanigara telah bersiap untuk mencegahnya.

Tetapi tiba-tiba ia melihat Sora Dipayana itu seperti melayang terbang ke arah anak muda itu. Dengan satu sentuhan di punggungnya, Sawung Sariti tiba-tiba gemetar dan jatuh terduduk di tangga tanpa dapat berdiri lagi.

Kemudian seperti berjanji, mereka masing-masing meloncat masuk kedalam lingkaran laskar Pamingit untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Kebo Kanigara berusaha untuk menenangkan Mahesa Jenar, sedang Sora Dipayana mencegah Lembu Sora untuk berbuat lebih banyak lagi.

Setelah mereka berdiam diri sejenak, mulailah Sora Dipayana melanjutkan kata-katanya, ”Angger berdua, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi. Anggaplah bahwa sebuah dongeng yang akan saya utarakan nanti sebagai suatu usaha untuk meringankan perasaanku dari himpitan tanggungjawab yang hampir tak dapat aku laksanakan. Atau barangkali dapat kalian artikan sebagai suatu usaha untuk meringankan kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan.”

Ki Ageng Sora Dipayana berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan, "Pada saat itu, aku baru saja datang kembali dari perjalananku mencari jejak kedua pusaka Demak yang hilang kembali, setelah diketemukan oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama. Aku datang kembali ke Banyubiru tanpa membawa kedua keris itu. Apalagi membawanya kembali, jejaknya pun tak dapat aku ketahui."

Setelah berhenti sejenak, Ki Ageng Sora Dipayana meneruskan ceritanya. "Yang aku ketemukan di Banyubiru pada saat itu, adalah pemerintahan tanah perdikan ini telah beralih ke tangan Lembu Sora. Dari dia aku mendengar cerita tentang apa saja yang telah terjadi di tanah perdikan ini.

Dari Lembu Sora aku mendengar bahwa Gajah Sora dihukum mati oleh Sultan Demak karena pengkhianatannya. Dan darinya pula aku mendengar bahwa Arya Salaka telah diketemukan terbunuh dan kehilangan tombak pusakanya, Kyai Bancak."

"Tidak benar," potong Mahesa Jenar.

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-angguk. Katanya,"Aku tidak percaya cerita itu sejak aku mendengarnya. Tetapi apakah yang aku hadapi seterusnya di sini ? Di tanah perdikan ini ? Lembu Sora adalah anakku pula. Anak terkasih dari ibunya. Sedang kepada ibunya aku tidak dapat melupakan duka derita yang disandangnya pada saat itu. Duka derita sebagai ungkapan kesetiaan seorang istri yang baik, pada saat aku sedang bekerja mati-matian membangun tanah perdikan ini, yang semula bernama Pangrantunan. Dan pada saat itulah Lembu Sora dilahirkan.

Dengan Lembu Sora didalam embanan, ibunya membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan kami. Kadang-kadang Lembu Sora itu dibawanya menuai padi diterik panas matahari, menumbuk dan kemudian menanaknya sekali. Sedang Gajah Sora pada saat itu telah dapat berjalan mengikutinya kemana ia pergi, menggandengnya disepanjang pematang dan di jalan-jalan yang sama sekali belum berujud jalan seperti sekarang ini."

Sora Dipayana berhenti sesaat. Pandangan matanya terlempar jauh, seolah-olah menerawang kembali kepada masa-masa silam. Masa-masa pahit yang pernah dialami.

Setelah orang tua itu menelan ludahnya, maka mulailah ia meneruskan ceritanya, "Rupa- rupanya Allah Swt berkenan kepada usahaku itu, sehingga beberapa tahun kemudian terwujudlah padepokan yang kemudian berkembang menjadi semakin ramai dan subur. Aku menjadi bangga ketika kemudian tanah ini dikuatkan dengan suatu piagam menjadi tanah perdikan. Tanah perdikan yang semakin lama menjadi semakin berkembang. Bersamaan dengan itu semakin berkembang pulalah perasaan iba dan kasih istriku kepada Lembu Sora. Ia selalu ingat kepada saat-saat bayi itu mengalami masa-masa pahit. Namun akibatnya adalah sifat-sifat manja pada anak itu. Bahkan kemudian sifat itu semakin menjadi-jadi.. Dan kesalahan itu barangkali yang telah menjerumuskannya kedalam keadaannya sekarang ini. Keadaan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan."

Sekali lagi Ki Ageng Sora Dipayana berhenti, seolah-olah ia menjadi sangat lelah. Beberapa kaliia menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya ditekankan ke lantai yang dilambari tikar pandan,seolah-olah dengan demikian ia ingin mencari kekuatan untuk menahan berat badannya yang tidakseberapa besar itu. Beberapa saat kemudian ia mulai lagi dengan ceritanya, "Meskipun kemudian aku sadar bahwa akuharus berdiri diatas kebenaran dan keadilan, namun aku bermaksud untuk berlaku bijaksana. Aku ingin menyelesaikan masalahnya tanpa mengorbankan salah satu diantaranya. Karena itulah maka diam-diam aku pergi ke Demak untuk membuktikan ketidak benaran cerita Lembu Sora. Tetapi aku terbentur pada suatu kenyataan, bahwa Gajah Sora ternyata terlibat dalam suatu keadaan yang sulit. Ia dapat dilepaskan apabila kesalahannya nyata-nyata tidak terbukti, apabila Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten telah dapat diketemukan, dan ternyata benar-benar tidak disembunyikannya."

Kemudian dengan nada yang rendah dan sedih, Ki Ageng Sora Dipayana bergumam, "Lalu berapa tahunkah kedua keris itu dapat ditemukan ?"

Mata orang tua itu menjadi sayu. Dan nada kata-katanya menjadi sangat rendah. "Apalagi umurku menjadi semakin tua. Berapa tahun lagi aku masih diperkenankan oleh Yang Maha Esa untuk dapat menikmati segarnya angin pegunungan Telamaya ini ? Apakah yang terjadi seandainya aku harus meninggalkan tanah ini menghadap Yang Maha Kuasa, sedang Gajah Sora masih belum kembali ? Sedang Arya Salaka kemudian lenyap tanpa bekas, seolah-olah ia telah benar-benar mati terbunuh ? Itulah sebabnya kenapa aku tidak mempunyai pilihan lain daripada untuk sementara mempergunakan tenaga yang ada untuk kepentingan tanah ini. Aku sadar bahwa dari berbagai penjuru dapat datang bahaya. Gerombolan kalangan hitam yang liar dari Gunung Tidar, Rawa Pening dan Alas Mentaok. Bahkan ternyata dari Nusa Kambangan pun bahaya itu dapat datang setiap saat."

Ki Ageng Sora Dipayana mengakhiri ceritanya dengan suatu tarikan napas kecewa. Ia melihat masa depan yang suram bagi tanah perdikannya yang dibangunnya dengan cucuran keringat.

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun merasakan apa yang bergetar di dalam orang tua itu. Mereka ikut serta dihadapkan pada persimpangan jalan yang tidak dikenalnya.

Jalan manakah yang harus dipilihnya.

Ki Ageng Sora Dipayana tidak dapat membiarkan tanah perdikannya ditelan oleh kekuatan hitam yang ada disekitarnya. Sedang yang ada padanya pada saat itu tidak ada lain, kecuali Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Maka orang tua itu tidak dapat berbuat lain daripada membentengi Pamingit dan Banyubiru dengan menempa Lembu Sora dan Sawung Sariti.

Untuk sesaat pendapa Banyubiru itu menjadi sepi. Masing-masing berdiam diri dan membiarkan angan angan mereka merayapi daerah yang tak mereka kenal.

KI AGENG Sora Dipayana masih saja memandangi titik-titik di kejauhan.

Menembus alam kasatmata dan hinggap ke dalam alam yang hanya dapat dicitakan. Banyubiru yang gemah ripah loh jinawi. Jauh dari sifat cecengilan dan fitnah. Jauh dari keirihatian dan ketamakan.

”Adakah kita akan sampai ke sana...?” Tiba-tiba terdengar Sora Dipayana bergumam.

Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan orang-orang lain yang mendengarnya menjadi terkejut. Bahkan Sora Dipayana sendiri seolah-olah menjadi tersadar oleh kata-katanya sendiri.

”Sampai ke mana Ki Ageng?” tanya Wanamerta.

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas panjang. Lalu ia melipat tangannya di dadanya. Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Wanamerta itu. Maka katanya, ”Wanamerta... kau adalah orang tertua yang pernah ikut serta membanting tulang, membina tanah ini. Bahkan sejak tanah ini masih bernama Pangrantunan. Seperti aku, agaknya kau mencita- citakan tanah ini menjadi tanah yang subur. Wadah dari masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Tetapi kau agaknya lebih beruntung daripadaku. Pada saat saat seperti sekarang ini kau berhasil menarik garis tegas.”

Wanamerta merasa, seolah-olah Ki Ageng Sora Dipayana sedang menyesali dirinya. Menyesali keadaan yang menghadapkannya kepada persoalan yang serba salah. Maju tatu, mundur ajur. Karena itu maka ia berusaha untuk memperingan beban orang tua itu. Katanya. ”Ki Ageng, kalau dalam wawasan Ki Ageng aku dapat menarik garis tegas pada keadaan seperti sekarang ini, adalah karena aku mempunyai kesempatan yang lebih banyak. Aku dapat menilai Anakmas Gajah Sora dan Anakmas Lembu Sora dalam keadaan yang wajar, karena aku tidak tersangkut pada persoalan-persoalan yang tali- temali seperti Kakang Sora Dipayana.”

”Kau benar Wanamerta,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. ”Kau lebih beruntung lagi, karena kau berhasil menemukan Arya Salaka.”

”Itu adalah karena doa dan pangestu Kakang,” sahut Wanamerta.

Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana menoleh kepada Mahesa Jenar dan berkata kepadanya, ”Mahesa Jenar, adakah Arya Salaka itu sehat-sehat saja?”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Baik Ki Ageng. Arya Salaka sekarang dalam keadaan segar bugar. Ia menyampaikan baktinya kepada Ki Ageng Sora Dipayana.”

”Hem...” Sora Dipayana bergumam. ”Ia pasti segagah ayahnya. Lima tahun yang lalu ia telah jauh lebih gagah dari kawan-kawan sebayanya. Apalagi sekarang.”

”Ia mirip benar dengan ayahnya, Paman.” Mahesa Jenar menyambung. Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum puas. Tetapi hanya sesaat, sebab kemudian ia teringat kembali pada keadaan yang dihadapi kini. Di dalam rumah itu ada Sawung Sariti yang mewarisi sifat-sifat ayahnya. Meskipun demikian ia tidak mau membiarkan keadaan berkembang berlarut-larut kearah yang tak dikehendaki. Karena itu ia harus berbuat sesuatu.

Menempatkan kembali segala sesuatunya pada tempat masing-masing. Karena itu ia berkata, ”Mahesa Jenar, bawalah Arya Salaka kemari.”

Mendengar kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana itu, Mahesa Jenar beserta segenap kawan-kawannya menjadi bergembira. Wajah-wajah mereka menjadi cerah dan bercahaya. Tetapi ketika mereka sadar bahwa kekuasaan Banyubiru pada saat itu seolah- olah berada sepenuhnya di tangan Lembu Sora, mereka menjadi ragu. Dan tanpa mereka sadari mereka segera memandang kearah pintu dimana Lembu Sora tadi masuk.

Sora Dipayana ternyata menangkap perasaan mereka. Perasaan yang sebenarnya berkecamuk juga di dalam rongga dadanya. Tetapi ia berpendapat bahwa keadaan di Banyubiru harus segera mendapat bentuk yang tegas. Apabila keadaan dibiarkan seperti saat itu maka kehidupan rakyatnya pun jadi mengambang tanpa pegangan. Mereka menjadi ragu-ragu untuk berbuat banyak, sebab mereka selalu dibebani oleh perasaan takut dan was-was. Mereka selalu dihadapkan pada keadaan yang tidak tetap,

yang setiap waktu dapat berubah-ubah tanpa ketentuan.

Karena pendapat itulah maka kemudian Ki Ageng Sora Dipayana berkata, ”Mahesa Jenar, aku kira kau sedang mempertimbangkan apakah yang akan terjadi apabila Arya Salaka kau bawa kemari?”

Mahesa Jenar mengangguk sambil menjawab, ”Benar Paman. Memang aku menjadi bimbang akan nasib anak itu kelak.”

”Sebenarnya aku pun bimbang. Tetapi aku menghendaki agar keadaan seperti sekarang ini segera berakhir. Karena itu aku akan mencoba agar segala sesuatu akan menjadi jelas dalam waktu yang dekat. Mudah-mudahan aku masih mempunyai pengaruh yang cukup atas anakku sendiri.”

Jelas terasa dalam nada kata-katanya. Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar sedang dihadapkan pada suatu persoalan yang sulit.

Mahesa Jenar akhirnya merasa bahwa pertemuan itu sudah cukup baginya. Ia sudah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang keadaan di Banyubiru, yang sudah cukup pula dipergunakannya sebagai bekal untuk menentukan langkah-langkah seterusnya. Karena itu segera ia mohon diri untuk kembali ke daerah Candi Gedong Sanga.

Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana menahannya untuk beberapa saat karena ia masih ingin menjamu tamu-tamunya dengan sekadar minuman dan makanan. ”Sebentar lagi hari akan malam, Paman, sebaiknya kami berangkat sekarang.” Mahesa Jenar mencoba untuk memaksa kembali.

Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana menjawab, ”Apakah bedanya siang dan malam bagimu Anakmas Mahesa Jenar? Apalagi kau berjalan bersama dengan Angger Kebo Kanigara, selain masih ada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi. Tak ada sesuatu yang akan dapat menghalangi perjalananmu.”

MAHESA JENAR tersenyum mendengar pujian itu. Sambil mengangguk ia menjawab, ”Itu terlalu berlebihan, Paman. Kecuali apabila Paman Sora Dipayana mengantarkan kami.”

”Tetapi kemudian kau harus mengantar aku kembali Mahesa Jenar,” sahut Sora Dipayana, ”Dengan demikian semalam suntuk kita akan saling mengantar”.

Mahesa Jenar dan Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum mendengar kelakar itu, bahkan juga orang-orang lain yang mendengarnya, meskipun di dalam dada mereka masih tersimpan beberapa soal yang sukar dipecahkan.

Demikianlah, akhirnya mereka terpaksa menunggu sampai hidangan disajikan. Minum dan makan. Meskipun mereka duduk bersama menikmati hidangan itu dengan Lembu Sora dan Sawung Sariti, namun tidak banyak yang mereka percakapkan. Mereka menjadi kaku dan tegang, sehingga tidak banyak makanan yang dapat mereka makan, serta minuman yang dapat mereka minum.

Setelah selesai mereka menikmati jamuan itu, serta setelah mereka beristirahat sejenak, maka sekali lagi Mahesa Jenar memohon diri untuk kembali ke perkemahan anak-anak Banyubiru. Kali ini Ki Ageng Sora Dipayana tidak menahannya lagi. Dilepaskannya Mahesa Jenar beserta rombongannya sampai ke halaman untuk seterusnya meninggalkan rumah kepala daerah perdikan Banyubiru itu.

Ketika rombongan kecil itu telah lenyap dibalik regol, serta derap langkah kudanya tidak terdengar lagi, berkatalah Lembu Sora menyesali ayahnya, ”Ayah, kenapa ayah menyuruh orang itu membawa anak yang menamakan diri Arya Salaka itu kemari?”

”Apakah keberatanmu Lembu Sora?” tanya ayahnya pula.

”Apakah ayah dapat menerimanya sebagai Arya Salaka yang sebenarnya? Dan apakah ayah masih mau memberi kepercayaan kepada orang yang bernama Mahesa Jenar itu?” desak Lembu Sora beruntun.

”Lembu Sora,” jawab ayahnya. ”Biarlah kita buktikan bersama. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan membuktikan bahwa orang yang bernama Mahesa Jenar ini memiliki sifat-sifat pengecut dan jahat, apabila anak muda yang dinamakan Arya Salaka itu benar-benar bukan cucuku. Tetapi sebaliknya, apabila anak muda itu benar-benar Arya Salaka, maka orang yang mengabarkan kepadamu bahwa Arya Salaka telah terbunuh, ternyata ia keliru, atau orang itu memang belum mengenal cucuku dengan baik.”

Mendengar kata-kata ayahnya, yang kedengarannya tegak di tengah-tengah itu, Lembu Sora mengatupkan giginya. Ia sama sekali tidak senang mendengar keputusan ayahnya mengundang Arya Salaka datang ke Banyubiru. Karena itu, ia harus berusaha untuk mencegahnya. Tetapi ia tidak berani mengemukakan keberatannya itu kepada ayahnya.

Ketika Lembu Sora kemudian pergi meninggalkan ayahnya, dan menengok ke alun-alun di hadapan rumah itu, ia masih melihat debu berserakan yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda Mahesa Jenar beserta rombongannya. Tetapi kuda-kuda itu sendiri sudah tidak begitu jelas kelihatan.

Dari kejauhan, bayangan yang kelam seolah-olah datang menerkam daerah perdikan itu dengan perlahan-lahan. Sedang di ufuk barat, matahari yang kelelahan telah membenamkan dirinya dibalik punggung-punggung bukit. Sinarnya yang lamat-lamat untuk sesaat masih tersangkut di awan-awan yang mengalir lambat-lambat menyapu wajah langit yang berwarna biru tua.

Tiba-tiba sesaat kemudian bermunculanlah bintang-bintang yang gemerlapan menggantung di awang-awang.

Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit. Bintang-bintang yang semakin padat sangat mengagumkannya. Ia kagum kepada kebesaran alam, kepada benda-benda yang bertebaran di angkasa, kepada tata alam yang sempurna. Tetapi kekagumannya kepada alam, kepada benda-benda yang berkilat-kilat di angkasa itu akhirnya terdampar pada sumbernya. Yaitu kekagumannya kepada Yang Maha Sempurna, yang telah menjadikan semuanya ini. Allah Swt.

Demikianlah di dalam perjalanan itu hampir tak terdengar mereka bercakap-cakap. Masing-masing berdiam diri, kecuali memperhatikan jalan-jalan di hadapan mereka, agaknya mereka masih juga sibuk menilai peristiwa yang baru saja terjadi dan yang kira- kira akan terjadi.

Seperti juga ketika mereka datang di Banyubiru, pada saat itu yang berjalan di depan adalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, sedang di belakangnya Wanamerta dan seterusnya Bantaran dan Penjawi.

Dalam keheningan malam yang menjadi semakin dalam, hanya derak-derak batu-batu padas yang tersentuh kaki-kaki kuda itu sajalah yang terdengar disamping suara-suara belalang di kejauhan.

Di langit, kelelawar menari-nari dengan lincahnya, seolah-olah tak ada mahluk lain yang berani mengganggunya, sebab malam hari itu adalah milik mereka.

Ketika Mahesa Jenar beserta rombongannya sedang menempuh perjalanan itu di perkemahan anak-anak Banyubiru, di sekitar Candi Gedong Sanga tampaklah persiapan- persiapan dan penjagaan-penjagaan yang lebih ketat daripada biasanya. Apa yang diceriterakan Endang Widuri merupakan pertanda bahaya yang mengancam. Meskipun mereka belum yakin dari manakah bahaya itu datang.

Mantingan, Wirasaba dan Jaladri sama sekali tidak berani meninggalkan gardu pimpinan. Sebab mereka menduga bahwa setiap saat mereka akan dikejutkan oleh peristiwa yang tak mereka kehendaki.

KETIKA itu Arya Salaka pun merasa tidak tenang berbaring di dalam pondoknya. Perasaannya selalu saja mengganggu. Karena itu kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan keluar. Di luar, ia berpapasan dengan beberapa orang penjaga yang menyapanya dengan hormat. ”Angger, kemanakah Angger akan pergi?”

”Aku hanya ingin berjalan-jalan saja, Paman. Udara terlalu panas, dan aku masih belum berhasrat untuk tidur,” jawab Arya.

”Tetapi hati-hatilah Angger.” Orang itu melanjutkan, ”Jangan meninggalkan lingkaran perkemahan ini.”

”Baik Paman,” jawab Arya Salaka.

Setelah orang itu menjauhinya, terdengar ia bergumam, ”Agaknya orang itupun mendapat firasat yang kurang baik.”

Sejalan dengan itu, tiba-tiba ia teringat kepada Widuri yang tinggal bersama Rara Wilis dan Nyi Penjawi. Mula-mula ia menjadi cemas bahwa orang yang dikalahkan oleh gadis itu mendendamnya dan berusaha untuk membalasnya. Namun kemudian hatinya menjadi tenteram ketika ia sadar bahwa Widuri bukan anak-anak yang masih perlu mendapat perlindungan khusus. Tingkat ilmunya adalah jauh lebih tinggi dari setiap orang yang berada di luar pondok yang mencoba melindunginya. Apalagi dalam pondok itu berada pula Rara Wilis.

Meskipun demikian Arya Salaka berhenti sejenak untuk mengawasi pondok itu. Pondok dimana tinggal di dalamnya Endang Widuri. Tetapi pondok itu nampaknya sepi saja, seolah-olah ikut tertidur dengan para penghuninya. Sedang di sekitar pondok itu ia melihat tiga orang berjaga-jaga. Ia menjadi lega.

Kemudian Arya melangkah kembali menikmati udara malam yang sejuk. Sekali dua kali ia memandang ke arah langit. Bintang-bintang yang semakin padat sangat mengagumkannya. Ia, seperti juga gurunya, pada saat yang bersamaan itu, kagum kepada kebesaran alam, kepada benda-benda yang bertebaran di angkasa, kepada tata alam yang sempurna. Juga seperti gurunya yang sedang menuju ke perkemahan itu, kekagumannya kepada alam, kepada benda-benda yang berkilat-kilat di angkasa itu akhirnya terdampar kepada sumbernya, yaitu kekagumannya kepada Yang Maha Sempurna, yang telah menjadikan semuanya ini. Dalam keadaan yang demikian, seolah-olah terngiang kembali segala nasehat dan petuah-petuah dari gurunya. Seakan-akan mendengung di dalam rongga telinganya kata- kata Mahesa Jenar.

”Arya, yang penting dari setiap usahamu, adalah usaha-usaha dan perbuatan-perbuatan yang dapat banyak berarti bagi rakyatmu kelak, untuk mendatangkan kebahagiaan lahir dan batin. Tetapi yang lebih penting lagi adalah pertanggungjawabanmu sebagai seorang pemimpin yang akan dituntut di akhirat kelak, Karena itulah maka amal perbuatanmu sekarang harus berdasarkan ajaran agama Islam, berdasar Alquran dan Hadits Nabi.

Sambil berangan-angan, tanpa disadari Arya Salaka telah berjalan sampai ke batas perkemahan. Ia masih melihat seorang penjaga berdiri tegak di tengah jalan, sedang di pinggir jalan itu duduk tiga orang yang lain. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk ikut serta duduk bersama mereka. Karenaitu perlahan-lahan ia mendatanginya.

Ketiga orang-orang itu melihat seseorang menghampirinya, hampir serentak mereka menyapa lirih, ”Siapa?”

”Arya,” jawab Arya Salaka.

”O...” terdengar salah seorang dari mereka itu. ”Akan kemanakah Angger?” ”Aku ingin duduk bersama-sama dengan Paman di sini,” jawab Arya.

”Ah,” sahut orang itu. ”Di sini banyak nyamuk. Tidakkah Angger perlu beristirahat?”

”Aku belum ingin tidur, Paman,” jawab Arya pula, dan yang kemudian duduk di samping ketiga orang itu.

Ketika orang itu mengingsar duduknya, sedang orang yang tegak di tengah jalan itu menoleh pula kepadanya.

”Tidakkah Angger lebih enak duduk di gardu pimpinan bersama-sama Adi Mantingan?” tanya yang berdiri itu.

”Nanti aku akan ke sana juga,” jawab Arya.

Orang-orang itu tidak bertanya lagi. Tetapi mereka merasa bertambah beban. Karena mereka belum kenal kepada anak itu setelah beberapa tahun terpisah. Mereka merasa bahwa Arya Salaka itu masih saja seperti dahulu. Masih harus mendapat perlindungan dan perawatan. Karena itu maka seorang dari ketiga orang yang duduk itu kemudian tegak pula dan berjalan-jalan hilir-mudik. Sedang kedua orang yang lain, meskipun tidak berkata apa-apa, tetapi mereka mengingsar duduknya, sehingga seorang di sebelah kiri dan seorang lagi di sebelah kanan Arya. Arya tersenyum di dalam hati, tetapi ia juga bangga atas anak buahnya yang sangat hati- hati itu. Disamping itu, ia merasa bahwa agaknya Mantingan menganggap bahwa keadaan perkemahan itu benar-benar dalam bahaya.

Ketika Arya telah duduk diantara kedua orang itu, mulailah ia bertanya-tanya tentang beberapa hal.

Tentang Banyubiru sepeninggalnya. Tentang pamannya Lembu Sora. Bahkan tentang pohon jambu di halaman yang dahulu ditanamnya.

”Pohon jambu itu luar biasa lebatnya,” jawab orang yang duduk di sebelah kirinya.

ARYA SALAKA kemudian mencoba membayangkan pohon itu. Alangkah rindangnya duduk di bawahnya apabila matahari yang terik sedang membakar seluruh halaman rumanya. Tetapi yang terakhir terbayang di dalam otaknya adalah orang yang paling dikasihinya. Orang yang telah melahirkannya dan mengasuhnya dengan penuh cinta kasih. Orang itu adalah ibunya. Nyai Ageng Gajah Sora.

Terbayanglah wajah ibunya yang sayu pucat berdiri di regol halaman rumahnya. Dengan penuh harapan ia menanti kedatangan ayahnya. Gajah Sora dari Demak. Dan dengan penuh harapan pula ia menanti kedatangannya, satu-satunya anak yang dimilikinya.

Tetapi kemudian dibayangkannya, bahwa ibunya akan menjadi putus asa kalau yang ditunggunya sekian lama tidak kunjung tiba. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah menangis di ruang tidurnya dengan membenamkan wajahnya di bawah bantalnya yang telah basah oleh air mata.

Arya menarik nafas dalam-dalam. Sekali-kali ia memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayang-bayang yang mengganggu otaknya. Tetapi bayangan-bayangan itu menjadi semakin jelas dan seolah-olah ibunya itu melambai-lambai kepadanya dengan wajah sedih dan berkata, ”Arya, aku sudah sedemikian rindunya kepadamu.”

Arya terkejut ketika terasa tetesan cairan yang hangat di pipinya. Cepat ia mengusapnya dengan lengan bajunya. Tetapi mau tidak mau, dadanya menjadi sesak oleh sesuatu yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya.

”Hem....” Beberapa kali Arya menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, untuk mengurangi himpitan perasaan yang menekan dadanya.

Semula ia ingin menanyakan kepada orang-orang Banyubiru itu tentang keadaan ibunya. Tetapi kemudian ia menjadi ketakutan. Ketakutan pada jawaban yang akan didengarnya. Jangan-jangan jawaban mereka atas pertanyaan itu akan dapat menambah sedih hatinya. Karena itu, maksudnya untuk bertanya tentang ibunya dibatalkan.

Sementara itu malam menjadi semakin jauh. Bintang-bintang telah berkisar dari tempatnya semula ke arah barat. Di ujung selatan, bintang Gubug Penceng telah melampaui garis tegak lurus.

Dalam pada itu tiba-tiba terasa sesuatu yang aneh. Angin yang silir bertiup perlahan- lahan. Begitu nyamannya sehingga tiba-tiba pula perasaan kantuk seolah-olah menyengat perasaannya.

Dua orang yang berada di kedua sisinya itu telah beberapa kali menguap. Sedang orang yang berjalan hilir mudik itu pun merasakan pula serangan kantuk yang dalam. Demikian pula orang yang tegak berjaga-jaga di tengah jalan. Dengan tanpa mereka sadari, mereka jatuh terduduk.

Arya Salaka pun merasakan juga serangan kantuk itu. Tetapi karena pengalamannya selama ini, telah mempertajam nalurinya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tiba-tiba ia teringat ceritera gurunya tentang semacam ilmu yang dapat mempengaruhi kesadaran seseorang. Yaitu ilmu sirep.