Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 21

Jilid 21

Tetapi menilik Sawung Sariti masih mencarinya, maka kemungkinan besar kedua keris itu masih belum diketemukan. Tetapi agaknya orang tua itu telah menerima keterangan yang salah tentang daerah perdikan itu. Dengan licinnya Lembu Sora pasti membujuknya, sehingga orang tua itu percaya pada kisah yang disusunnya. Maka karena tidak ada keturunan lain yang dapat diharap meneruskan dan mewarisi ilmunya, maka Sawung Sariti telah menerima langsung pelajaran dari orang tua itu.

Pertempuran itu berlangsung semakin lama semakin dahsyat. Sedang hati Manahan semakin gelisah pula. Sebab ia melihat pertarungan antara hidup dan mati dari cabang perguruan Ki Ageng Sora Dipayana. Dua orang sahabat yang pada masa-masa yang silam selalu bekerja bersama untuk kesejahteraan umat manusia. Tetapi pada saat itu, ia tidak mampu berbuat apa-apa.

Manahan sama sekali tidak dapat melerainya, karena apa yang dilakukan oleh Sawung Sariti telah jauh menyimpang dari sifat keutamaan ilmu Ki Ageng Sora Dipayana. Sedang agaknya Kyai Ageng Sora Dipayana telah bekerja mati-matian menurunkan ilmu itu kepadanya. Ternyata dengan ketangkasan dan keperkasaan Sawung Sariti, yang dengan tangkasnya, bertempur melawan Handaka.

Untunglah bahwa Handaka pernah mengalami kemajuan yang pesat sekali, selama enam malam di pantai Tegal Arang. Dimana seorang yang berilmu mumpuni berpura-pura menyerangnya setiap malam berturut-turut. Kalau seandainya Handaka hanya melulu menerima pelajaran darinya tanpa suatu loncatan, maka bagaimana bisa muridnya itu mampu melawan murid Ki Ageng Sora Dipayana.

Tetapi ternyata bahwa kedua anak itu berimbang.

Mengalami perlawanan yang tidak kalah hebatnya dari ilmunya sendiri, Sawung Sariti menjadi gelisah. Ia menjadi curiga terhadap anak muda yang melawannya itu. Maka sekali lagi ia berteriak,

“He anak sombong, siapakah sebenarnya kau? Dan darimanakah kau mengenal bahwa yang gugur itu Paman Sawungrana?”

Handaka menyeringai marah sambil menjawab,

“Buat apa kau tahu siapakah aku. Sebab sebentar lagi namamu akan terhapus dari muka bumi.”

Sawung Sariti adalah seorang anak muda yang sombong. Selama hidupnya ia selalu dihormati dan dimanjakan. Karena itu ketika ia mendengar jawaban Handaka, hatinya bertambah menyala-nyala. Karena itu ia tidak lagi berpikir lain kecuali membinasakan lawannya. Ia tidak lagi mempedulikan apakah lawannya bersenjata atau tidak.

Cepat seperti kilat tangan Sawung Sariti menarik pedangnya dan diputarnya seperti baling-baling. Ternyata ketangkasannya mengolah senjata tidak mengecewakan pula. Melihat lawannya bermain pedang, Handaka meloncat beberapa langkah mundur, dan dengan gerak yang tidak kalah cepatnya tangannya telah memegang sebuah ujung tombak bertangkai pendek. Itulah Kyai Bancak. Tanda kebesaran tanah perdikan Banyubiru.

Sawung Sariti sendiri belum pernah melihat tombak itu. Karena itu ia sama sekali tidak terkejut. Bahkan ia menyerang dengan garangnya. Perlawanan Handaka pun tidak kalah dahsyatnya. Agaknya salah seorang pengawalnya pernah mengenal tombak itu. Tombak yang mempunyai cahaya kebiru-biruan. Karena itu dengan gugup ia berteriak,

“Angger, itulah tombak Kyai Bancak.”

Meskipun Sawung Sariti belum pernah melihat Kyai Bancak, ia pernah mendengarnya. Karena itu ketika ia mendengar nama itu disebutkan, ia pun menjadi terkejut dan meloncat mundur.

Handaka kini benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Maka ketika ia mendengar seseorang menyebut nama tombaknya, ia menjadi bangga, dan dengan sengaja ia ingin menunjukkan kepada Sawung Sariti bahwa tombak kebesaran Banyubiru itu ada padanya. Karena itu segera ia berteriak menjawab,

“He orang yang berwajah hantu, kau mengenal tombak ini...?”

Karena pengaruh tombak di tangan Handaka, tiba-tiba orang itu menjadi takut dan menjawab,

“ ya, ya... anak muda, aku kenal tombak itu.”

“Ayo katakan siapakah yang pernah memiliki tombak ini?” desak Handaka. Orang yang ketakutan itu menjawab gugup, “Ki Ageng Gajah Sora.” “Bagus...” jawab Handaka, “Siapakah Gajah Sora itu?”

Seperti orang yang kehilangan akal orang itu menjawab, “Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.”

“Bagus...” ulang Handaka.

“Kalau kau tahu itu, katakan kepada anak muda sombong yang mengaku putra kepala daerah perdikan Banyubiru dan Pamingit sekaligus, bahwa Banyubiru bukanlah miliknya.”

Mendengar percakapan itu Sawung Sariti menjadi berdebar-debar. Ia memang pernah mendengar ceritera tentang tombak itu. Dan ia mengetahui pula bahwa kakak sepupunya hilang tak tentu perginya, membawa Kyai Bancak.

Dalam saat yang pendek itu otaknya berputar keras. Tidak mustahil bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah kakak sepupunya. Ia pernah bergaul pada waktu kecil. Tetapi setelah beberapa tahun tidak bertemu, memang ada kemungkinan untuk tidak mengenalnya lagi. Apalagi anak muda yang berdiri di hadapannya itu wajahnya kehitaman-hitaman terbakar terik matahari serta berpakaian lusuh dan jelek. Kalau demikian, lalu siapakah yang mengaku menjadi bapaknya itu...?

Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan saja kepada anak muda yang memegang tombak itu,

“Anak muda yang perkasa, adakah kau sebenarnya memang berhak atas tombak itu? Adakah kau tahu seseorang yang berhak memilikinya kecuali aku?” jawab Handaka.

“Menurut pendengaranku, satu-satunya orang yang berhak atas tombak itu, kecuali Paman Gajah Sora yang sekarang masih di Demak, adalah putranya yang bernama Arya Salaka,” sahut Sawung Sariti.

Mengikuti pembicaraan kedua anak muda yang sedang diamuk oleh kemarahan itu, Manahan menjadi agak cemas. Ternyata Sawung Sariti yang biasa bergaul dengan orang- orang pemerintahan mempunyai cara-cara yang licin dalam setiap pembicaraan, sedang Handaka yang hidup diantara para petani dan nelayan, memiliki kejujuran yang utuh. Sehingga ia sama sekali tidak sadar bahwa ia terseret ke dalam sebuah percakapan yang berbahaya. Manahan yang sadar akan itu, cepat berusaha untuk mencegah Handaka menjawab pertanyaan Sawung Sariti. Tetapi agaknya ia terlambat.

Sebab demikian tangannya bergerak untuk menggamit anak itu, terdengarlah mulut Handaka berkata,

“Akulah Arya Salaka, karena itu aku mengenal Paman Sawungrana yang gugur karena pokalmu.”

Meskipun sebelumnya Sawung Sariti sudah menduga-duga, namun mendengar jawaban itu ia masih terkejut sekali sehingga tubuhnya bergetar. Dengan demikian sekaligus ia melihat bahaya yang lebih besar menghadang di depannya. Sepeninggal Sawungrana, sebenarnya ia telah mengurangi jurang yang menghalanginya untuk sampai pada kekuasaan yang penuh atas Banyubiru dan Pamingit sepeninggal ayahnya. Tetapi ternyata Arya Salaka yang memang masih diragukan itu, benar-benar masih hidup dan sekarang berdiri di hadapannya.

Karena itu, tidak ada tindakan yang lebih tepat dan baik menurut anggapannya kecuali melenyapkannya sama sekali. Maka segera ia berteriak nyaring,

“Bagus sekali, kalau kau benar-benar Arya Salaka. Maafkanlah aku Kakang, bahwa aku harus bertindak tegas meskipun terhadap saudara sepupuku sendiri, karena kau telah bersekutu dengan Wiradapa.”

Kemudian terdengar Sawung Sariti berteriak lebih keras lagi,

“Hei orang-orang yang berada di pendapa, kepunglah rumah ini, jangan seorang pun boleh lari.”

Lalu katanya kepada dua orang pembantunya beserta lurah Gedangan, “Ayo tangkap anak ini.”

Mendengar perintah Sawung Sariti itu, barulah kedua orang pengawalnya itu sadar. Bagaimanapun juga mereka adalah pengikut-pengikut Sawung Sariti. Sehingga meskipun anak muda yang disebutnya melakukan perlawanan, tak ada pilihan lain selain menangkapnya hidup atau mati. Karena itu segera mereka berloncatan menyerbu.

Sementara itu orang-orang yang berada di pendapa Kalurahan itu pun sudah mulai bergerak. Memang sejak mereka mendengar suara ribut di ruang dalam, mereka menjadi bingung.

Tetapi karena mereka takut untuk meninggalkan pendapa itu, maka dengan gelisah mereka tetap saja tidak meninggalkan tempatnya. Baru ketika mendengar suara Sawung Sariti berteriak, maka seperti kuda yang dilepas dari kandang, mereka menghambur berlarian mengepung rumah lurah Gedangan, sebagian lagi menerobos masuk. Sehingga terdengar suara hiruk pikuk tak keruan.

Wiradapa menjadi keheran-heranan dan bingung melihat tingkah laku anak perantau malas itu, menjadi sadar pula akan bahaya. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampuri pertempuran antara kedua anak muda yang memiliki kepandaian yang jauh di atasnya. Maka yang dapat dikerjakan adalah mengurangi tenaga lawan Handaka. Dengan tanpa diduga-duga maka segera ia menyerang lurahnya yang sudah bersiap untuk membantu Sawung Sariti menangkap anak muda yang dikenalnya sebagai anak perantau malas.

Mendapat serangan yang tiba-tiba itu, lurah Gedangan terkejut, maka segera ia mengurungkan niatnya, dan terpaksa ia melayani Wiradapa, kawan yang telah sekian lama bersama-sama membangun pedukuhan Gedangan itu.

Sedang kedua pengawal Sawung Sariti ikut menyerang Handaka. Tetapi satu hal yang mereka lupakan, bahwa mereka sama sekali tak memperhitungkan kehadiran Manahan, yang justru adalah guru Handaka.

Sementara itu beberapa orang telah memasuki ruangan itu. Suasana kemudian berubah menjadi ribut tak keruan. Di ruang yang tak seberapa lebar itu berjejal-jejalan orang yang bersama-sama akan menangkap Handaka. Ketika Manahan melihat dua orang pengawal Sawung Sariti beserta banyak orang yang lain mulai mengerubut muridnya, ia tidak dapat tinggal diam. Segera ia pun menerjunkan dirinya ke dalam kekalutan itu.

Melihat Manahan turut campur, marahlah kedua orang pengawal Sawung Sariti, yang mengira bahwa Manahan tidak lebih dari seorang yang hanya dapat berlari-lari saja. Maka dengan acuh tak acuh salah seorang darinya mendorong Manahan minggir. Tetapi betapa terkejutnya, ketika tangannya seolah-olah menyentuh dinding besi, bahkan ia sendiri terdorong surut. Maka segera orang itu mengerti, bahwa Manahan pun tidak kalah hebatnya dari anak yang telah bertempur melawan Sawung Sariti.

Karena itu, ia tidak dapat menganggap enteng lagi, bahwa musuhnya hanya seorang yang mampu berlari-lari saja. Dengan demikian terpaksa ia menyediakan tenaga sepenuhnya untuk melawan Manahan, dengan perhitungan bahwa biarlah Sawung Sariti mendapat bantuan dari orang-orang yang telah datang memasuki ruangan itu. Kemudian apabila ia telah dapat menyingkirkan Manahan, barulah Handaka akan diselesaikan.

Dengan demikian maka terjadilah tiga lingkaran pertempuran. Handaka melawan Sawung Sariti dibantu oleh beberapa orang, Manahan melawan dua orang pengawal Sawung Sariti, dan Wiradapa melawan lurahnya.

Sesaat kemudian ternyata dugaan para pengawal Sawung Sariti itu meleset. Mereka sama sekali tidak dapat dengan segera menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun mereka bukanlah orang yang dapat diremehkan, namun untuk menundukkan Manahan bukanlah pekerjaan yang ringan.

Sedangkan Handaka, ketika harus mengalami lawan yang jumlahnya sama sekali tak seimbang, menjadi agak terdesak. Untunglah bahwa ia memiliki keuletan serta ketabahan hati.

Perhatian Handaka pada berjenis-jenis binatang hutan yang sedang berkelahi, banyak memberi manfaat kepadanya. Tetapi ia tidak usah terlalu lama bercemas hati. Sebab perlahan-lahan tetapi pasti Manahan terus-menerus mendesak lawannya. Bahkan sebagian dari tenaganya telah dapat dipergunakannya untuk mengurangi tekanan pengeroyokan terhadap muridnya.

Wiradapa yang bertempur pula dalam keadaan berimbang dengan kekuatan lurah Gedangan. Mereka agaknya telah mencurahkan segala kemampuan mereka untuk segera mengalahkan lawannya. Tetapi disamping itu, bergolaklah kegelisahan diantara mereka. Baik Lurah Gedangan, Wiradapa maupun Sawung Sariti bersamaan para pengiringnya, meskipun sebabnya berbeda-beda. Sebagian dari mereka menjadi bertanya-tanya di dalam hati, siapakah sebenarnya kedua orang yang mereka anggap perantau malas itu. Sebab dalam keadaan yang demikian, ternyata bahwa kepandaian mereka dalam ilmu tata berkelahi tidak ada yang menandingi. Beberapa saat kemudian Sawung Sariti yang cerdik, akhirnya merasa bahwa akhir dari pertempuran itu tidaklah seperti yang diharapkan. Ruangan yang sempit itu sama sekali tak menguntungkannya. Sebab beberapa orang yang mengeroyok lawannya itu, malahan kadang-kadang menganggunya. Sehingga terpaksa beberapa kali ia harus berteriak-teriak dan malahan beberapa kali pula ia terpaksa memukul orangnya sendiri yang sangat menjengkelkannya. Karena hal itulah maka akhirnya ia membuat perhitungan- perhitungan dengan seksama. Dalam waktu yang dekat ia harus dapat mengatasi keadaan, dan setidak-tidaknya menyelamatkan dirinya sendiri.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin ribut dan kacau. Apalagi ketika tiba-tiba pelita yang tergantung di dinding terlempar jatuh. Minyaknya yang tumpah berhamburan itu segera dijilat api, dan dalam sekejap telah menyala berkobar-kobar. Maka terjadilah keributan yang semakin kacau. Orang-orang di dalam ruangan itu tidak lagi memperhatikan lawan-lawan mereka, tetapi mereka segera berusaha untuk dapat keluar dan menghindarkan idri dari nyala api yang semakin lama semakin besar, bahkan akhirnya api itu telah merayap sepanjang dinding ruangan.

Dalam keadaan yang demikian, Handaka dan Manahan menjadi kehilangan pengamatan atas lawan-lawan utamanya. Beberapa orang yang berlari-lari kian kemari itu, sangat mengganggunya. Bahkan beberapa orang telah melanggar mereka dan mendorong- dorong mereka tanpa sengaja. Manahan yang segera dapat mengerti dan menguasai masalahnya menjadi sangat marah. Sebab ia yakin bahwa Sawung Sariti telah dengan sengaja membakar ruangan itu. Karena itulah maka dengan sekuat tenaga ia menerjang orang-orang yang menghalangi jalannya menerobos keluar sambil berteriak,

“Handaka, lawanmu telah berada di luar.”

Mendengar suara gurunya, Handaka pun segera meloncat dan menyibakkan orang-orang yang sedang kacau itu. Beberapa orang jatuh bergulingan dan terinjak-injak kawan- kawan mereka sendiri. Namun Manahan dan Handaka sama sekali tak sempat memperdulikan mereka itu. Perhatiannya terpusat kepada Sawung Sariti, anak pamannya yang telah berkhianat kepada ayahnya.,

Namun alangkah kecewa mereka itu. Sebab demikian Manahan dan Handaka sampai di halaman, terdengarlah derap kuda menderu, dan seperti terbang lepaslah tiga buah bayangan orang berkuda melarikan diri.

“Itulah dia...” teriak Manahan, “Marilah kita cari sisa kuda mereka.”

Handaka tidak menunggu kalimat Manahan berakhir. Segera dia berlari ke halaman belakang. Tetapi ternyata kandang kuda itu telah kosong. Agaknya Sawung Sariti yang cerdik itu sempat menyingkirkan dan menakut-nakuti kuda yang lain, sehingga kuda- kuda itu lari berpencaran.

Handaka menjadi seperti orang yang kebingungan berlari-lari mengelilingi kandang kuda itu. Namun ia sama sekali tak menemukan seekor pun. “Gila!” geramnya penuh kemarahan.

Manahan pun tidak kalah marahnya. Namun ia lebih dapat menguasai diri. Maka katanya kemudian kepada muridnya, Sudahlah Handaka, baiklah kita bicarakan apa yang harus kita kerjakan seterusnya.

Sementara itu, terdengarlah jerit dan teriakan diantara ledakan-ledakan kebakaran. Dalam waktu yang pendek, api telah menguasai hampir seluruh rumah kalurahan yang dibuat dari kayu, bambu dan ijuk itu. Beberapa orang berlari-larian menjauhi.

Diantara mereka tampaklah tertatih-tatih Wiradapa yang agaknya menderita luka-luka.

Melihat Wiradapa yang sudah hampir-hampir tak mampu lagi menjauhkan dirinya dari kemarahan api itu, hati Handaka dan Manahan bersama-sama tergetar. Cepat mereka meloncat dan memapahnya ke halaman belakang. Ketika Wiradapa sadar bahwa yang menolongnya itu adalah dua orang yang dianggapnya perantau malas dan ternyata telah sangat membingungkannya itu, cepat-cepat ia menjatuhkan diri sambil berkata perlahan- lahan,

“Tuan, maafkanlah aku. Aku tidak tahu siapakah sebenarnya tuan-tuan ini. Sedang tuan muda ini agaknya masih ada hubungan darah dengan tuan muda Sawung Sariti yang tamak itu.”

Manahan cepat-cepat menangkap lengan Wiradapa dan menariknya berdiri.

“Kakang Wiradapa, kami adalah benar-benar dua orang perantau seperti apa yang kami katakan.”

Wiradapa menggelengkan kepala.

“Aku telah mendengar perdebatan antara anak muda yang disebut-sebut bernama Arya Salaka, putra Ki Ageng Gajah Sora yang memiliki tombak Kyai Bancak, dengan Sawung Sariti yang mengaku dirinya putra kepala daerah perdikan Banyubiru.”

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, maka jawabnya, “Baiklah Kakang, nanti saja saatnya Kakang akan tahu juga. Tetapi bagaimana sekarang dengan api itu?”

Mendengar kata-kata Manahan itu, barulah Wiradapa sadar bahwa rumah lurah Gedangan hampir musnah dimakan api. Dalam keadaan itu, tak seorangpun yang mencoba untuk memadamkannya.

Suasana takut, cemas dan bermacam-macam lagi telah menguasai seluruh penduduk Gedangan, dengan kedatangan Sawung Sariti beserta rombongannya, yang tampak penuh mengandung rahasia. Itulah sebabnya tak seorangpun yang berani mendekati halaman kalurahan yang menjadi terang benderang oleh lidah api yang menyala-nyala seperti hendak menjilat langit.

Beberapa orang yang berdiri jauh dari tempat kebakaran, memandang api itu dengan mata yang sayu serta hati yang berdebar-debar. Selama ini mereka menganggap bahwa dari rumah itulah ketertiban dan kepemimpinan pedukuhan mereka dipancarkan. Sedang pada saat itu mereka melihat api dengan lahap telah menelannya, tanpa dapat berbuat sesuatu, karena mereka sama sekali telah kehilangan akal. Mereka sudah sama sekali tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba diantara gemeretak suara api yang menjadi semakin besar itu, terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan.

Yang kemudian disusul dengan suara memanggil-manggil, “Wiradapa... Adi Wiradapa yang bodoh. Kemarilah, kemarilah.”

Wiradapa, Manahan dan Handaka terkejut mendengar suara itu. Segera mereka berjalan perlahan-lahan mengelilingi api dan mencari siapakah yang telah memanggil-manggil itu. Ketika mereka sampai di sisi rumah yang hampir habis itu, kembali terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak.

Alangkah terkejut mereka, ketika mereka melihat lamat-lamat di atas pendapa yang telah hampir runtuh, seseorang yang berdiri bertolak pinggang. Berdesirlah dada mereka ketika mereka mengetahui bahwa yang berdiri sambil tertawa-tawa itu adalah lurah Gedangan.

Untuk sesaat mereka tertegun menyaksikan pemandangan yang menyeramkan itu. Apalagi ketika dengan mata kepala sendiri mereka melihat lurah Gedangan itu berkata nyaring,

“He, Adi Wiradapa... kenapa kau menolak bekerja sama dengan kami. Lihatlah kini rumahku sudah berdinding emas bertiang baja. Aku kini menjadi seorang yang kaya raya. Dan sebentar lagi aku akan diangkat menjadi Bupati.” Setelah itu kembali lurah Gedangan itu tertawa terbahak-bahak.

“Kakang Lurah... Kakang Lurah ” Tiba-tiba Wiradapa berteriak.

Lurahnya yang berdiri di tengah-tengah api yang menyala-nyala itu sama sekali tak mendengar teriakannya. Malahan masih saja ia tertawa dan tertawa.

“Kakang Lurah...!” teriak Wiradapa sekali lagi, “Tinggalkan pendapa itu, sebelum Kakang terbakar.”

Tetapi kali ini pun suara Wiradapa itu sama sekali tidak terdengar oleh lurah Gedangan yang telah terganggu urat syarafnya itu. Ia masih saja berdiri bertolak pinggang sambil berkata-kata tak menentu lagi. Tiba-tiba Manahan dan Handaka terkejut ketika mereka melihat Wiradapa meloncat ke arah pendapa. Untunglah cepat mereka berhasil menahannya. Tetapi Wiradapa agaknya kehilangan kesadarannya pula. Sambil meronta-ronta ia berteriak,

“Kakang Lurah... Kakang Lurah... Kemarilah. Rumah itu sudah terbakar. Turunlah, turunlah ”

Namun akhirnya suaranya lenyap ditelan berderaknya suara pendapa itu runtuh.

Bersamaan dengan itu lenyap pula bayangan lurah Gedangan yang tenggelam ditelan oleh angan-angannya untuk menjadi kaya raya serta menjadi Bupati.

Bersamaan dengan runtuhnya pendapa kalurahan itu, Wiradapa menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya. Bagaimanapun, lurah Gedangan yang lenyap di dalam nyala pi itu adalah kawan seperjuangannya membangun pedukuhan itu.

Mereka bersama-sama mengalami jerit tangis serta tawa nyanyinya para perintis yang kemudian dapat membangunkan pedukuhan yang nampaknya menjadi semakin maju. Sedang pada saat itu di hadapan matanya, ia menyaksikan kawan senasib sepenanggungan itu lenyap di telan api.

Dengan tak terduga-duga, terdengarlah Wiradapa menggeram dan terisak. Meskipun terpaksa pada saat yang terakhir ia menempuh jalan yang berselisih dengan kawan sepenanggungan itu, namun apa yang pernah mereka alami ternyata telah begitu dalam menggores di dalam hatinya.

“Sudahlah Kakang,” bisik Manahan menghibur. “Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang penting apakah yang akan datang. Dengan peristiwa ini janganlah Kakang Wiradapa kehilangan akal dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Dengan hilangnya Kakang Lurah Gedangan, bukan berarti kewajiban Kakang Wiradapa untuk tampil ke depan terhenti. Sehingga apa yang pernah dicapai itu tidak akan tersia-sia saja.”

Mendengar kata-kata Manahan, perlahan-lahan kesadaran Wiradapa berangsur-angsur utuh kembali. Bahkan dengan nasehat itu terasalah bahwa masa depan pedukuhan itu seolah-olah terletak di tangannya. Pasang surut serta timbul tenggelamnya pedukuhan Gedangan di kemudian hari berada di dalam tanggung jawabnya.

Karena itulah maka seolah-olah ia mendapat tenaga baru. Dengan tekad yang telah membulat di dalam dadanya, ditengadahkannya mukanya, memandang kepada nyala api yang masih saja berkobar-kobar menelan korbannya.

Tetapi mata Wiradapa kini sudah tidak sesayu tadi. Bahkan tampaklah memancar tekad yang teguh, bahwa ia akan bekerja keras untuk melaksanakan tugas yang maha berat itu.

Lewat matanya yang menyala-nyala yang mengimbangi nyala api yang membakar kalurahan itu, seolah-olah tersiratlah kata janjinya untuk meneruskan pembinaan pedukuhan kecil yang telah dirintisnya bersama-sama dengan orang yang kini telah luluh karena ketamakannya.

Kemudian tiba-tiba meloncatlah Wiradapa, berdiri tegak menghadap ke arah pendapa yang telah menelan lurahnya, dan terdengarlah dari mulutnya suara bergetar perlahan- lahan, “Mudah-mudahan Tuhan selalu menuntunku, serta menunjukkan jalan yang benar bagiku. Demikian pula kepada rakyat Gedangan yang sedang ditelan kegelapan.”

Manahan dan Handaka merasakan bahwa Wiradapa benar-benar memiliki keluhuran budi. Karena itu mereka merasa terharu melihat sikapnya yang sama sekali tidak mendendam kepada lurahnya yang hampir saja menjerumuskannya ke dalam jurang kematian yang sangat mengerikan di tangan putra kepala daerah perdikan Pamingit, Sawung Sariti.

Berbareng dengan itu, di ujung timur fajar mulai mengembang. Cahaya yang kemerah- merahan dipancarkan ke seluruh permukaan bumi, membelah kehitaman malam. Di sana sini terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, seolah-olah sama sekali tidak mempedulikan bahwa pernah terjadi suatu kegoncangan di dalam pedukuhan kecil yang biasanya damai dan tenang itu. Seakan-akan segan menghadapi tantangan cahaya pagi yang perkasa, api yang menelan seluruh isi kelurahan itu berangsur-angsur surut. Sedang Wiradapa, Manahan dan Handaka masih saja berada di halaman.

“Tuan...” kata Wiradapa kemudian, Apakah yang harus aku kerjakan pertama-tama?

Manahan sadar bahwa pertanyaan yang diucapkan dengan setulus hati itu, bersandar kepada keinginannya untuk mengetahui, siapakah sebenarnya mereka itu. Maka dengan bersungguh-sungguh Manahan menjawab,

“Kakang, menurut pendapatku, yang harus Kakang kerjakan pertama-tama adalah memulihkan kepercayaan rakyat kepada Kakang Wiradapa. “

“Akan kucoba. Aku merasa bahwa beberapa orang masih percaya sepenuhnya kepadaku. Kepada mereka akan aku bebankan pekerjaan itu. Mudah-mudahan mereka berhasil,” sahut Wiradapa.

Selanjutnya ia meneruskan, “Marilah Tuan beristirahat di pondokku. Barangkali Tuan sudi mengatakan siapakah sebenarnya Tuan-Tuan yang telah menyelamatkan pedukuhan ini dari ketamakan, keserakahan dan dari jalan yang sama sekali sesat, yang akan ditempuh Kakang Lurah.”

Manahan serta Handaka tidak dapat menolak ajakan itu. Maka segera Handaka melangkah meningggalkan halaman serta rumah yang telah menjadi abu.

Tetapi sampai di regol dinding halaman, Handaka berhenti. Matanya kemudian menjadi semakin sayu. Mula-mula Manahan tidak tahu, kenapa muridnya berlaku demikian. Tetapi kemudian ia dapat menangkap apakah yang sedang bergolak di dalam dada anak itu.

Perlahan-lahan Handaka memutar tubuhnya menghadap ke sisa-sisa reruntuhan rumah yang sudah menjadi musna sama sekali. Dengan pandangan yang pedih tampaklah bibirnya bergerak-gerak menyebut nama Sawungrana. Seseorang yang pernah memberinya permainan pada masa kecilnya. Orang yang pernah menjadi kawannya berlatih. Juga seorang dari beberapa dari beberapa orang yang tak begitu banyak, yang merupakan pagar-pagar keamanan Perdikan Banyubiru. Ia adalah orang kedua setelah Wanamerta.

Kini orang itu telah tiada lagi. Jenazahnya pun tak dapat diselamatkan karena kekalutan yang terjadi. Manahan yang dapat merasakan sepenuhnya kepedihan hati muridnya itu merasa pula bersalah, bahwa dalam keributan itu sama sekali tak diingatnya untuk menyelamatkan jenasah Sawungrana. Namun adalah lebih baik demikian daripada dikubur disuatu tempat tanpa diketahui oleh seorangpun.

“Handaka...” kata Manahan meghibur hati muridnya, “Marilah kita lepaskan pamanmu Sawungrana dengan hati yang ikhlas, agar perjalanannya menghadap Allah sang Pencipta tidak terganggu.”

Perlahan-lahan Handaka mengangguk kecil seolah-olah memberikan hormatnya yang terakhir kepada abu jenazah Sawungrana. Baru setelah itu ia melangkah meninggalkan halaman kelurahan itu bersama-sama dengan gurunya serta Wiradapa.

Melihat keseluruhan itu, Wiradapa menjadi semakin tidak mengerti. Apakah hubungan antara anak muda itu dengan orang yang terbunuh itu? Namun demikian ia tidak bertanya sesuatu. Maksudnya biarlah hal itu disimpannya sampai nanti di pondoknya. Sampai di rumahnya Wiradapa disambut dengan tangis oleh isrinya, yang menyangka bahwa suaminya telah lenyap dan tak akan dapat bertemu kembali.

Tetapi ternyata bahwa suaminya itu kini masih utuh berdiri di hadapannya, meskipun beberapa luka-luka yang cukup banyak menggores-gores tubuhnya.

Karena itulah maka, dengan kegirangan yang tiada terkatakan, Nyai Wiradapa segera menangkap beberapa ekor ayam, sebagai pesta keselamatan buat suaminya. Sehari itu Manahan dan Handaka sibuk melayani dan menjawab pertanyaan pertanyaan yang mengalir tanpa henti-hentinya dari Wiradapa dan beberapa orang kepercayaannya yang kemudian datang mengunjunginya. Mereka mendengarkan uraian Manahan dengan mulut ternganga dan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa dua orang yang mereka sangka perantau malas itu dapat menyelamatkan pedukuhan mereka dari kehancuran mutlak.

Handaka ternyata sudah tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Terpaksa ia menyatakan dirinya sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora yang bernama Arya Salaka. Sedangkan Mahesa jenar, meskipun kemudian diketahui bukan ayah Handaka, namun ia masih berhasil menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Ketika orang-orang kepercayaan Wiradapa itu mengetahui keadaan sebenarnya, serta peran apakah yang telah dilakukan oleh Manahan bersama muridnya, serta setelah mereka menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu kedua orang itu, maka mereka serentak berpendapat, bahwa tak ada orang lain yang pantas melindungi pedukuhan kecil itu selain mereka berdua.

Tetapi sayang bahwa dengan rendah hati Manahan dan muridnya terpaksa menolak kepercayaan rakyat Gedangan, meskipun mereka sanggup untuk beberapa lama tinggal di situ.

Alangkah kecewanya mereka, ketika permintaan itu tak dapat dipenuhi, namun bagaimanapun mereka tetap menaruh harapan pada masa depan, di bawah pimpinan Wiradapa, serta untuk sementara mendapat bimbingan langsung dari Manahan serta muridnya.

Demikianlah sejak hari itu, pedukuhan Gedangan telah mendapatkan wajahnya yang baru. Pedukuhan kecil itu berhasil mencapai kedamaian dan ketenangannya kembali setelah beberapa orang kepercayaan Wiradapa bekerja mati-matian memberikan sesuluh yang diperlukan kepada mereka yang telah tersesat. Kepada mereka yang mendapat banyak janji dan harapan-harapan yang diberikan oleh lurah mereka yang lama, yang telah hilang ditelan api yang diminyaki oleh ketamakannya sendiri.

Berbeda dengan keadaan dipadukuhan kecil itu, perasaan Manahan dan Handaka sendiri selalu digelisahkan oleh angan-angan mereka tentang beberapa masalah yang belum terpecahkan. Apalagi ketika ternyata kehadiran Handaka telah diketahui oleh Sawung Sariti yang pasti akan sampai ke telinga Lembu Sora. Hal itu bukanlah suatu hal yang boleh diabaikan. Selama Lembu Sora masih mengingini daerah perdikan Banyubiru yang kelak akan dilintirkan kepada anaknya, selama itu nyawa Handaka selalu dikejar- kejarnya.

Manahan masih saja menebak-nebak, laskar mana sajakah yang telah dipergunakan oleh Sawung Sariti untuk membunuh Sawungrana. Mungkinkah ia mempergunakan laskar Pamingit atau laskar sewaan yang lain. Menurut perhitungan Manahan Sawung Sariti pasti telah mempergunakan dua golongan laskar yang saling tidak tahu-menahu. Laskar pertama adalah laskar Pamingit yang harus bertahan bersama-sama dengan laskar Gedangan, sedang laskar yang lain, harus menyerang rombongan mereka.

Dalam keributan itulah Sawung Sariti menghabisi jiwa Sawungrana. Mungkin dengan tangannya sendiri, mungkin dengan tangan kedua pengawalnya yang berwajah seram itu. Mereka mendapat perintah untuk dengan bersungguh-sungguh bertempur mengusir para penyerang, yang menurut lurah mereka akan merampok pedukuhan kecil itu. Bahkan dari lurah yang tamak itu, mereka mendapat janji menerima upah yang tinggi.

Hal ini adalah sama sekali tidak wajar, bahwa berjuang untuk tanah serta kampung halamannya dijanjikan orang untuk menerima hadiah. Tetapi dalam beberapa hari saja, bekas-bekas peristiwa itu sudah mulai dilupakan orang. Mereka mulai bekerja keras membangun pedukuhan mereka dengan petunjuk-petunjuk Manahan dalam berbagai segi. Dari segi pertanian, perkebunan sampai pada segi-segi pertahanan dan pertempuran.

Beberapa orang yang memang berbakat serta mempunyai kemungkinan untuk menerima ilmu tata berkelahi, mendapat latihan-latihan kilat dari Manahan dan Handaka yang kemudian terpaksa mempergunakan namanya sendiri Arya Salaka. Tetapi agaknya anak itu lebih senang dipanggil Handaka.

Suasana yang tenang, damai namun penuh dengan daya gerak dan pencapaian nilai yang jauh lebih maju dalam segala segi itu, tiba-tiba menjadi sangat terganggu.

Pedukuhan kecil yang hampir tidak mempunyai banyak persoalan dengan lingkungan di luarnya, pada suatu saat mendadak telah dikacaukan oleh kedatangan orang-orang berkuda dari arah tenggara. Laskar berkuda itu tanpa sebab dan tanpa bertanya sesuatu langsung mengadakan pembunuhan dan pembakaran dengan ganasnya.

Pada suatu subuh yang kelam di permulaan musim ketiga, pedukuhan kecil itu digetarkan oleh suara titir dari setiap kentongan yang ada di pedukuhan itu. Setiap laki- laki mulai dari yang menginjak usia dewasa sampai mereka yang masih dapat tegak, segera berloncatan bangun dan berlari-larian berkumpul di halaman lurah mereka yang baru, Wiradapa, dengan senjata siap di tangan.

Di halaman itu tegak seperti batu karang, Manahan dan Handaka. Dahi mereka tampak berkerut-kerut penuh dengan teka-teki tentang serbuan dari orang-orang berkuda yang seolah-olah tanpa sebab dan tanpa wara-wara. Sedang Wiradapa sendiri sibuk mengatur barisan laskar Gedangan dibantu oleh beberapa orang kepercayaannya.

Dalam pada itu datanglah berlari-larian seorang pengawas yang melaporkan bahwa pasukan berkuda itu dipimpin oleh dua orang suami-istri. Tergetarlah dada Manahan mendengar laporan itu. Karena itu segera bertanya,

“Kau melihat kedua orang suami istri itu...?”

“Ya, Tuan... aku melihat sendiri. Beberapa kawan kami yang mencoba menahan serangannya, menjadi binasa hanya dengan sapuan tangan mereka,” jawab pengawas itu.

“Bagaimanakah bentuk tubuh mereka?” tanya Manahan mendesak.

“Si suami bertubuh gagah kekar, berambut lebat hampir menutupi seluruh wajahnya. Istrinya bertubuh tinggi ramping, berkuku panjang seperti seekor harimau betina,” jawab orang itu pula.

“Sima Rodra Gunung Tidar...” desis Manahan. Mendengar nama itu hati Wiradapa tergetar. Begitu pula mereka yang pernah mendengar nama itu termasuk Handaka.

Bagaimanapun besar jiwa kepahlawanan penduduk Gedangan serta kecintaan mereka terhadap kampung halaman mereka, namun mendengar nama itu diucapkan hati mereka menjadi tergoncang. Sima Rodra Gunung Tidar di telinga mereka adalah seolah-olah nama hantu yang siap menerkam nyawa setiap orang yang melawan kehendaknya. Tetapi yang sama sekali tak mereka ketahui apakah salah mereka terhadap hantu-hantu itu, sehingga pedukuhan itu harus menjadi korbannya.

“Tuan...” kata Wiradapa, “Lalu apakah yang mesti kami kerjakan apabila benar-benar yang datang itu Sima Rodra Gunung Tidar?”

Manahan menyesal telah menyebut nama itu, sehingga telah menakut-nakuti dan memperkecil hati mereka. Karena itu untuk mengembalikan keberanian laskar Gedangan, Manahan menjawab dengan tertawa kecil, Kakang Wiradapa, bukankah kami sudah bertekad untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dengan tetesan darah? Sedangkan mengenai suami-istri Sima Rodra itu serahkanlah kepadaku serta anakku Handaka. Mereka adalah kenalan lamaku. Mungkin ia akan berpendirian lain setelah melihat aku di sini.

Untuk beberapa saat mereka tampak ragu-ragu. Tetapi hati mereka kemudian menjadi tegar ketika mereka melihat Manahan melangkah diikuti oleh muridnya, dengan wajah yang tenang, ke arah api yang menyala-nyala di ujung pedukuhan itu.

“Kakang Wiradapa..” kata Manahan sebelum meninggalkan halaman. “Kepunglah mereka. Hancurkan laskarnya sedapat mungkin. Biarkan pimpinannya aku layani dengan muridku ini.”

“Baiklah Tuan,” jawab Wiradapa mantap.

Setelah itu dengan tengara kentongan, pasukan itu berpencar menurut siasat yang telah dipersiapkan. Dengan petunjuk Manahan pula atas pengalaman yang pernah diperoleh Ki Asem Gede, laskar Gedangan supaya menyerang dengan senjata jarak jauh. Panah dan api. Mereka supaya menghindari pertempuran perseorangan. Sebab nilai perseorangan laskar Gedangan tidak akan dapat mengimbangi nilai perseorangan laskar yang datang dari bukit hantu itu.

Sebentar kemudian terjadilah pertempuran yang dahsyat sekali. Agaknya cara-cara yang pernah dipakai oleh Ki Asem Gede itu benar-benar membingungkan laskar Sima Rodra. Karena itulah tiba-tiba terdengar Sima Rodra mengaum hebat menunjukkan kemarahannya. Setiap dada yang disinggung oleh getaran suara itu menjadi bergetaran seperti terhantam angin ribut. Suara yang terlontar dari mulut harimau liar itu benar-benar dahsyat akibatnya. Laskar Gedangan, yang mula-mula berbesar hati melihat hasil perjuang-an mereka, tiba-tiba keberaniannya kuncup dan hampir lenyap. Apalagi ketika melihat seorang laki-laki bertubuh besar kekar di atas kudanya mengamuk sejadi-jadinya.

Tetapi pada saat mereka sudah hampir kehabisan akal, tiba-tiba muncul di dalam pertempuran, seseorang yang dengan tenangnya menyapa orang bertubuh besar kekar yang sedang mengamuk di atas kudanya itu.

“Selamat datang Sima Rodra. Maafkanlah bahwa aku agak terlambat menyambutmu.”

Kesan dari sapa itu adalah luar biasa pula. Sima Rodra tampaknya terkejut sekali, sehingga ia menjadi tertegun diam seperti patung. Ia sama sekali tidak mengira bahwa di pedukuhan terpencil itu ditemuinya orang yang menjadi musuh utamanya. Tidak saja musuh perseorangannya tetapi telah benar-benar menjadi musuh golongannya.

Melihat kesan wajah Sima Rodra itu, laskar Gedangan menjadi semakin tergugah semangatnya, disamping semakin besar tanda tanya yang mengetuk-ngetuk hati mereka. Agaknya orang yang menamakan dirinya Manahan itu benar-benar orang yang aneh, sehingga terhadap hantu Gunung Tidar itu pun sikapnya sangat meyakinkan.

Tiba-tiba menggelegarlah suara Sima Rodra, “Apa kerjamu di sini Mahesa Jenar?”

Mendengar nama itu disebutkan, terasa agak janggal bagi Manahan, yang telah membingungkan mereka.

“Aku datang di pedukuhan ini sengaja menunggumu setelah beberapa lama kita tidak bertemu”, jawab Manahan sambil tertawa pendek.

Sima Rodra terdengar menggeram marah.

“Jangan campuri urusanku untuk menumpas tikus-tikus yang telah berani membunuh beberapa orangku beberapa waktu yang lalu.”

Berdesirlah hati Manahan oleh jawaban itu. Segera ia dapat menghubungkan kedatangan Sawung Sariti, serangan laskar yang tak dikenal serta keributan-keributan yang ditimbulkan. Karena itu segera ia menjawab sekaligus menebak,

“Sima Rodra, agaknya kau yang telah menjual diri kepada Sawung Sariti untuk membunuh Kakang Sawungrana?”

Kembali Sima Rodra menggeram. “Apa pedulimu ?” “Ketahuilah...” sahut Manahan, “Akulah yang telah membunuh beberapa orang yang tak aku ketahui golongannya dalam keributan-keributan yang timbul. Aku sangka mereka adalah orang-orang Pamingit atau manapun yang tak kukenal. Dan mereka itu telah ditelan api yang dinyalakan oleh Sawung Sariti sendiri”

Mendengar keterangan Manahan, mata Sima Rodra Suami Istri menjadi merah menyala- nyala. Mereka yang belum pernah mengenal wajah itu menjadi menggigil ketakutan. Handaka, seorang yang hampir tak mengenal takut, hatinya menjadi berdebar-debar pula.

“Kalau begitu...”. terdengar suara Sima Rodra bergetar hebat, “Kepadamulah aku harus menuntut balas”

“Memang demikianlah adilnya,” jawab Manahan. “Karena itulah aku sudah bersedia melayanimu bersama-sama dengan anak angkatku ini”.

Sekali lagi Sima Rodra menggeram hebat. Ia sama sekali tidak mau tersinggung kehormatannya sebagai seorang yang percaya kepada kekuatan diri. Karena itu segera ia berteriak gemuruh.

“Hentikan pertempuran. Aku ingin mendapat penyelesaian yang adil dengan Mahesa Jenar.”

“Bagus ” sahut Mahesa Jenar. “Agaknya kau dapat pula bersikap jantan.”

Sesaat kemudian berhentilah pertempuran antara laskar Gedangan melawan laskar dari Bukit Tidar. Segera mereka berkerumun untuk menyaksikan pertunjukan yang jarang terjadi di pedukuhan kecil itu.

Tiba-tiba belum lagi mereka bertempur terdengarlah suara istri Sima Rodra itu melengking,

“Kyai.... serahkanlah orang itu kepadaku. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Bukankah aku sekarang berbeda dengan dua tiga tahun yang lalu ?”

Mendengar kata-kata itu hati Manahan berdesir, meskipun ia tahu bahwa maksud kata- kata itu untuk menakut-nakutinya. Tetapi tidaklah mustahil bahwa apa yang dikatakan itu mengandung kebenaran. Sebab selama itu, ayahnya, Sima Rodra tua dari Lodaya, pasti tidak tinggal diam. Ilmunya yang mengerikan, Macan Liwung, serta kecekatannya bergerak yang mirip seperti seekor harimau, sangat menakjubkan.

Kemudian terdengarlah Sima Rodra menjawab,

“Berikanlah kesempatan pertama kepadaku sebagai suatu kehormatan yang dapat kami berikan kepadanya yang terakhir.”

Manahan benar-benar tersinggung mendengar kata-kata itu. “Jangan berebut dahulu. Kalian akan mendapat giliran masing-masing. Tetapi kalau kalian masih membiasakan diri bertempur berpasangan, biarlah Handaka membantuku, sebab aku merasa pasti bahwa aku tidak akan mampu melawan kalian berdua.”

Merahlah telinga Suami Istri Sima Rodra mendengar jawaban itu. Apalagi yang disebutnya dengan nama Handaka tidak lebih dari seorang anak-anak. Karena itu dengan marahnya Harimau Liar itu menjawab,

“Baiklah biarlah aku binasakan kau sampai kepada muridmu. Supaya untuk seterusnya kau tidak selalu mengganggu.”

Selesai dengan kata-katanya itu, segera suami istri itu meloncat dari kudanya dan dengan gerakan seperti badai mereka menyerang Manahan dan Handaka. Sima Rodra bertempur melawan Manahan, sedang istrinya dengan marahnya menyerang Handaka.

Melihat gerakan mereka, Manahan agak terkejut. Memang ternyata mereka telah mendapat banyak kemajuan. Karena itu segera ia mencemaskan muridnya. Dalam kesempatan yang pendek ia berbisik,

“Handaka, hindari setiap benturan serta sentuhan dengan kuku-kuku harimau betina itu. Sebab kuku itu beracun. Aku hanya percaya kepada kecepatanmu bergerak. Bukan kekuatanmu.”

Handaka maklum kepada nasehat gurunya. Segera ia sadar bahwa lawannya memiliki ketinggian ilmu di atasnya. Karena itu ia harus melayani dengan otaknya, tidak dengan tenaganya melulu.

Dan ternyata kemudian setelah mereka bertempur beberapa saat, segera Handaka merasa betapa angin yang sangat membingungkan melibatnya dari segenap arah. Untunglah bahwa ia banyak menaruh perhatian pada setiap gerak yang dianugerahkan kepada alam oleh Penciptanya, kepada setiap makhluk yang paling lemah sekalipun.

Kali ini Handaka benar-benar menjadi seekor kelinci yang harus menghindari terkaman serigala ganas, seperti yang pernah diamatinya dengan saksama. Atau seperti seekor kancil yang menyelinapkan hidupnya diantara kaki-kaki harimau yang garang.

Karena itulah maka ia tidak dapat bertempur di tempat yang sempit, Handaka kemudian berkisar dari tempatnya, menyusup pepohonan dan mempergunakan batang-batang pohon sebagai perisai.

Meskipun demikian, ternyata bahwa ia selalu berhasil menyelamatkan dirinya dari libatan gerakan-gerakan yang dahsyat dari Harimau Betina Gunung Tidar yang garang itu, meskipun ia terpaksa berlari-larian dan hanya sekali-sekali saja menyerang, apabila benar-benar ada kesempatan. Bahkan dengan demikian ia berhasil membuat istri Sima Rodra itu semakin marah dan menjerit-jerit tak habis-habisnya. Sedangkan Manahan dengan tangguhnya bertempur melawan Sima Rodra. Dalam beberapa saat saja, Manahan benar-benar harus mengakui bahwa ilmu lawannya telah meningkat, sedang selama ini ilmunya sendiri tidak seberapa mengalami penambahan, sebab memang tak ada orang yang menuntunnya lebih lanjut. Hanya karena ketekunan diri saja maka Manahan menjadikan ilmunya lebih masak. Maka pertempuran antara dua orang perkasa itu pun berlangsung dengan dahsyatnya. Sima Rodra menjadi semakin garang, karena hatinya dibebani oleh dendam yang meluap-luap, sedang Manahan dengan penuh tekad serta janji kepada diri sendiri, untuk melenyapkan setiap unsur kejahatan yang merusak sendi-sendi penghidupan.

Kemudian mereka pun tidak dapat bertahan bertempur di titik yang sama.

Perlahan-lahan pertempuran itu berkisar dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain, dengan menandai bekas-bekas yang mengerikan. Pohon-pohon berderakan roboh, serta batu-batu menghambur-hambur simpang-siur di udara. Kaki-kaki mereka telah memecahkan apa saja yang terinjak.

Medan pertempuran itu kemudian menjadi seolah-olah daerah angin prahara yang belit- membelit dan hantam-menghantam, bahkan kadang-kadang dibarengi dengan teriakan yang membahana seperti guntur disusul dengan benturan-benturan dahsyat dari tangan- tangan mereka yang saling menghantam.

Laskar dari kedua belah pihak yang menyaksikan pertempuran itu menjadi terpukau diam. Meskipun mereka pernah pula menyaksikan pertempuran-pertempuran dahsyat, apalagi laskar dari Gunung Tidar, namun kali ini merupakan suatu pertempuran yang benar-benar jarang terjadi.

Berbeda dengan pertempuran itu, Handaka masih saja bermain kucing-kucingan. Dengan cerdiknya ia memilih tempat-tempat yang gelap dan berpohon-pohon meskipun kadang- kadang ia dikejutkan oleh pukulan yang dahsyat dari Istri Sima Rodra, yang mematahkan pohon-pohon yang dipergunakan sebagai perisai.

Keadaan sebenarnya sangat menggetarkan hati Handaka. Namun adalah suatu keuntungan bahwa baik tubuhnya maupun jiwanya telah tertempa hebat, sehingga bagaimanapun ia tidak kehilangan akal.

Meskipun demikian, disamping melayani lawannya yang tangguh luar biasa, Manahan masih selalu mencemaskan muridnya. Hanya kadang-kadang saja ia sempat melirik Handaka yang berlari-larian di dekatnya, kemudian anak itu menyerang sekali dua kali, kemudian kembali berlindung di balik pohon-pohonan.

Namun bagaimanapun juga akhirnya Manahan terpaksa mengakui bahwa Handaka sama sekali tak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

Karena itu Manahan telah berjuang semakin keras. Ia mengharap dapat segera menyelesaikan pertempuran. Dengan demikian ia akan dapat pula menyelamatkan Handaka. Tetapi ternyata Sima Rodra sekarang bukan lagi Sima Rodra tiga tahun yang lalu. Sima Rodra itu ternyata telah memiliki berbagai macam ilmu yang belum dimilikinya dahulu. Gerakannya menjadi sangat garang, cekatan dan sangat berbahaya, sehingga untuk menandinginya, Manahan sudah harus memeras segenap ilmunya. Karena itu ia menjadi gelisah. Bagaimana jadinya Handaka kalau ia tidak segera dapat menolongnya.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal di luar dugaan. Ketika Handaka telah benar-benar terdesak, dan tidak mampu untuk berbuat sesuatu, hati Manahan tergoncang hebat. Cepat ia meloncat mundur, menghindar dari lingkaran pertempuran.

Pada saat itu ia melihat tangan istri Sima Rodra itu telah terayun deras sekali, sedang Handaka yang baru saja kehilangan keseimbangan dan jatuh bergulingan, masih belum sempat meloncat berdiri.

Manahan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk meloncat mendekati. Maka satu- satunya kemungkinan adalah menyelamatkan muridnya dari jarak jauh.

Untunglah bahwa ia masih sempat menyambar sebuah batu dan dengan sekuat tenaga batu itu dilemparkan ke arah istri Sima Rodra. Ternyata pertolongannya itu untuk sementara berhasil. Istri Sima Rodra terpaksa meloncat menghindari batu yang dengan derasnya menyambar kepalanya.

Saat yang sangat berharga itu ternyata dapat dipergunakan Handaka dengan baiknya. Cepat ia melenting berdiri dan dengan tangkasnya pula tangannya menyambar tombaknya, Kyai Bancak. Pada saat itu Manahan tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Sebab Sima Rodra telah menggeram dengan hebatnya dan menerkamnya sebagai seekor harimau yang kelaparan. Sehingga sesaat kemudian pertempuran telah berulang lagi dengan dahsyatnya.

Demikian juga Handaka, ia harus sudah bekerja mati-matian melawan istri Sima Rodra itu. Meskipun di tangannya telah tergenggam Tombak Pusaka Banyubiru, namun ia masih banyak mengalami kesulitan. Tetapi sedikit banyak tombak di tangannya itu akan dapat memperpanjang daya perlawanannya.

Tiba-tiba, ketika Handaka sekali lagi mengalami tekanan yang hebat, sedang Manahan masih belum sempat untuk menolongnya, datanglah sebuah bayangan yang seperti melayang memasuki lingkaran pertempuran.

Dengan tangan kirinya ia mendorong Handaka, sehingga anak itu jatuh terpelanting. Dan sesudah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung menyerang istri Sima Rodra. Handaka ketika kemudian telah dapat meloncat berdiri, memandang orang itu dengan penuh keheranan. Tenaganya meskipun terasa lunak, namun kuatnya bukan kepalang. Meskipun demikian, dalam keheranannya itu ia menjadi gembira pula. Sebab menilik kekuatannya, ia mengharap bahwa orang itu dapat mengimbangi istri Sima Rodra. Kemudian dengan mulut ternganga ia memperhatikan pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya. Kedua-duanya memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan, sehingga pertempuran itu seolah-olah berubah menjadi bayang-bayang daun yang bergerak-gerak ditiup angin pusaran.

Manahan dan Sima Rodra suami-istri pun tidak pula kalah herannya. Mereka sama sekali tidak mengenal siapakah orang yang telah berani ikut campur dalam pertempuran itu. Namun beberapa saat mereka tidak sempat memperhatikan lebih saksama lagi, karena masing-masing masih harus berjuang diantara hidup dan mati. Hanya kemudian terdengar istri Sima Rodra itu berteriak melengking karena marahnya.

“He, orang yang tak tahu diri. Siapakah kau yang berani mencampuri urusan kami?”

Namun orang yang perkasa itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan ia mempercepat gerakannya sehingga istri Sima Rodra itu terpaksa bekerja lebih keras lagi, sejalan dengan memuncaknya kemarahannya. Tetapi agaknya lawannya pun memiliki ketangkasan yang mengagumkan. Tangannya dengan lemasnya bergerak menyambar- nyambar seperti ujung ribuan cambuk yang bergerak bersama-sama, sehingga dengan demikian terasa bahwa serangan orang itu datangnya dari ribuan arah pula.

Hal yang sedemikian itu dapat dilihat pula oleh Sima Rodra. Ia kemudian agak mencemaskan istrinya. Maka sekarang ialah yang bekerja mati-matian untuk segera dapat menundukkan lawannya. Karena itu tandangnya menjadi semakin garang. Serangannya datang bergulung-gulung seperti ombak yang diguncang oleh badai. Namun ternyata lawannya tangguh seperti batu karang, yang sama sekali tak dapat ditundukkan.

Karena itu, maka tiba-tiba Harimau Hitam dari Gunung Tidar itu tidak sabar lagi. Dengan mengaum hebat, direntangkannya kedua belah tangannya, serta tubuhnya menggeletar dengan hebatnya. Itulah tandanya bahwa Hantu Gunung Tidar itu akan mempergunakan Aji Macan Liwung.

Melihat sikap lawannya, Manahan terkejut. Ia pernah melihat sikap yang demikian ketika ia melawan orang berkerudung kulit harimau hitam bersama-sama dengan Gajah Sora. Yang kemudian ternyata bahwa orang itu adalah Sima Rodra tua dari Lodaya. Ia mengenal gerak yang demikian, yang menurut seorang sakti dari Banyuwangi, Titis Anganten, adalah pemusatan tenaga untuk melontarkan Aji Macan Liwung. Karena itu untuk sesaat hatinya tergetar hebat. Tetapi Manahan tidak sempat berbuat banyak. Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, dilihatnya Sima Rodra itu telah meloncat dengan suatu auman yang mengerikan.

Untunglah bahwa Manahan adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh yang mumpuni. Ditambah lagi dengan pengalaman yang telah menempa dirinya siang malam. Karena itu, melihat Sima Rodra menerkamnya dengan ajinya yang sangat berbahaya, Manahan tetap dapat menguasai dirinya. Dengan cermat ia mempelajari gerak lawannya untuk dengan tepat menghindarkan dirinya. Ketika kedua tangan Sima Rodra dengan kuku-kukunya yang mengembang itu melayang ke arahnya, cepat Manahan menjatuhkan diri dan berguling-guling ke arah yang berlawanan, justru lewat di bawah kaki Sima Rodra yang melayang di atas satu kakinya, kakinya yang lain ditekuk ke depan, sebuah tangannya menyilang dada dan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi. Dengan gerak secepat petir menyambar, Manahan meloncat dan menghantamkan sisi telapak tangannya ke arah dada Sima Rodra yang baru saja berhasil memutar tubuhnya. Maka terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat. Sima Rodra yang telah mengenal pula tanda-tanda yang mengerikan itu, segera mencoba menghimpun kekuatannya untuk melawan. Namun Sasra Birawa adalah suatu ilmu yang jarang ada tandingnya.

Itulah sebabnya maka tubuh Sima Rodra yang besar kekar itu terlempar beberapa langkah, dan kemudian seperti sebuah batu terbanting berguling-guling, dibarengi dengan pekik ngeri yang keluar sekaligus dari mulut istri Sima Rodra dan orang yang melawannya. Untuk beberapa kejap, orang yang bertempur melawan Harimau Betina Gunung Tidar itu diam mematung mengawasi tubuh Sima Rodra yang kemudian terbujur diam tak bergerak. Sedang mata yang membayangkan kengerian dan ketakutan tersirat di wajah istri Sima Rodra. Agaknya ia merasa, dengan kekalahan yang dialami oleh suaminya itu, merupakan suatu titik batas yang tak akan mampu lagi diatasi. Apalagi dengan demikian ia merasa bahwa ia harus berhadap-hadapan dengan orang yang telah berhasil membinasakan suaminya itu, di samping orang yang tak dikenalnya. Karena itu, meskipun dendamnya menggelegak sampai ke lehernya, maka ia lebih baik menghindarkan diri dari kebinasaan, untuk kelak dapat membalaskan sakit hati serta kematian suaminya. Maka selagi mereka masih belum sampai menarik perhatian atasnya, lebih baik ia melenyapkan diri.

Mendapat keputusan itu, secepatnya ia meloncat ke arah kudanya, dan dalam sekejap melontarkan diri ke punggung kuda itu, untuk seterusnya menarik kendali kudanya yang kemudian berlari seperti angin. Berbareng dengan itu mengumandanglah suara Harimau Betina itu berteriak,

“Tunggulah hari pembalasan akan datang.”

Setelah derap suara kuda yang kemudian disusul oleh para pengawalnya itu lenyap, suasana menjadi hening sepi. Mereka kini ternyata telah berada agak jauh dari ujung desa, dimana pertempuran itu dimulai. Manahan, Handaka, orang yang takdikenal itu, beserta setiap orang yang berada di situ, berdiri diam seperti batu dengan wajah-wajah yang tegang.

Pandangan mereka berganti-ganti beralih dari Manahan, Handaka yang masih menggenggam Kyai Bancak, orang yang hanya tampak remang-remang dalam gelap malam, dan Sima Rodra yang terbujur diam, meskipun masih terdengar ia lamat-lamat mengerang menahan sakit dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

Untuk beberapa lama, orang itu mengawasi Sima Rodra pula. Tetapi kemudian, terjadilah suatu hal yang tak seorang pun menduganya. Dengan menggeram orang itu dengan dahsyatnya menjadi terkejut sekali. Untunglah bahwa ia cekatan, sehingga meskipun agak sulit, ia berhasil menghindarkan dirinya. Tetapi agaknya pemuda itu tidak mau berbicara lagi. Sekali lagi ia menyerang Manahan, sekali lagi dan sekali lagi berturut-turut.

Mula-mula Manahan yang masih bingung menebak-nebak, hanya selalu menghindar- hindar saja. Dengan suara bergetar ia mencoba bertanya, Ada apakah Ki Sanak menyerang aku?

Akibat dari pertanyaan itu mengherankan. Orang yang menyerang Manahan itu tiba-tiba terloncat selangkah mundur. Meskipun wajahnya tak begitu jelas dalam gelap malam, namun agaknya orang itu memperhatikan Manahan dengan saksama. Tetapi kemudian kembali ia mengejutkan tidak saja Manahan, juga orang-orang yang hadir menjadi semakin bertanya-tanya dalam hati. Sebab sesaat kemudian orang itu dengan tiba-tiba kembali meloncat menyerang Manahan dengan dahsyatnya.

Kembali Manahan dengan penuh pertanyaan mencoba menghindarkan diri dari serangan-serangan yang sangat berbahaya itu. Sekali dua kali Manahan masih berhasil meloncat-loncat seperti berpijak di atas batubara. Namun apa yang dapat dilakukan itu tidaklah lama. Sebab bagaimanapun juga orang itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi pula, sehingga akhirnya Manahanpun menjadi jengkel. Akhirnya terpaksa Manahan pun mulai membalas serangan demi serangan. Dalam sekejap terjadilah kembali pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya memiliki tenaga serta kecepatan gerak yang mengagumkan.

Pertempuran ini pun tidak kalah dahsyatnya dengan pertempuran yang telah terjadi antara Manahan melawan Sim Rodra. Meskipun lawan Manahan ini belum memiliki kedahsyatan tenaga seperti Sima Rodra, namun kelincahannya sangat mengagumkan. Ia memiliki daya serang yang luar biasa serta membingungkan. Dua belah tangannya itu merupakan senjata yang sangat berbahaya.

Kini, Manahan seolah-olah kini berhadapan dengan seorang yang memiliki beberapa pasang tangan, yang bergerak bersama-sama menyerangnya.

Itulah sebabnya semakin lama Manahan semakin kehilangan kesabaran. Ia tidak mau menjadi korban dari suatu masalah yang gelap, yang sama sekali tak diketahuinya. Maka akhirnya, dengan mengerahkan kekuatannya, Manahan pun kemudian berjuang dengan hebatnya. Serangannya datang seperti asap yang bergulung-gulung melibat lawannya. Karena itu beberapa lama kemudian terasa bahwa Manahan akan dapat menguasai keadaan. Setapak demi setapak tetapi pasti, ia selalu berhasil mendesaknya.

Tetapi dalam pada itu lawannya pun segera mengerahkan segenap tenaganya. Gerakannya menjadi semakin lincah dan cepat. Agaknya ia pun menyadari bahwa lawannya memiliki beberapa kelebihan daripada dirinya. Karena itu ia bertempur dengan sangat berhati-hati. 

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu, termasuk Handaka, tidak habisnya keheran-heranan. Mereka sama sekali tidak tahu persoalan apa yang telah terjadi. Mula- mula mereka melihat seseorang membantu Handaka melawan istri Sima Rodra sehingga sepasang Harimau Gunung Tidar itu sudah dapat dikalahkan. Tetapi yang tiba-tiba saja malahan orang yang telah membantu itu dengan dahsyatnya berganti menyerang.

Namun demikian tak seorangpun berani berbuat sesuatu. Tak seorangpun yang berani mencoba melerainya. Jangankan para penduduk Gedangan, sedang Handaka pun melihat pertempuran itu dengan wajah yang kagum. Pada saat Manahan bertempur dengan Sima Rodra, ia sama sekali tidak sempat menyaksikannya, sebab ia sendiri harus selalu berloncat-loncatan menghindari serangan istri Sima Rodra.

Pada saat ia menyaksikan pertempuran antara orang yang menolongnya itu melawan istri Sima Rodra yang tak sehebat gurunya, iapun telah mengaguminya. Apalagi pertempuran itu. Diam-diam ia menjadi semakin kagum melihat keperkasaan Manahan, namun ia heran juga melihat orang dapat bertempur selincah lawan gurunya itu.

Tetapi yang tak seorang pun tahu, adalah kesibukan hati Manahan. Ketika lawannya telah sangat terdesak, dan melawannya dengan segenap ilmu yang dimilikinya, Manahan menjadi berdebar-debar. Agaknya ia pernah bertempur dengan seseorang yang memiliki ilmu yang demikian dahsyat serta lincah. Meskipun demikian sesaat ia masih bertempur sepenuh tenaga. Ia tak mau ditelan oleh angan-angannya, yang belum mendapat kepastian. Karena itulah ia masih saja mendesak maju, serta mempersempit setiap kesempatan bergerak dari lawan, yang bagaimanapun lincahnya, akhirnya merasakan juga ilmunya belum dapat disejajarkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Manahan.

Akhirnya ketika ia sudah tidak mampu lagi melawan dengan tangannya, tiba-tiba memancarlah sebuah cahaya yang berkilat-kilat. Di tangan orang itu kemudian tergenggam sehelai pedang yang tipis, yang agak lebih kecil sedikit dibandingkan dengan pedang biasa. 

Melihat pedang itu hati Manahan berdesir. Cepat ia meloncat mundur, dan dengan dada bergetaran ia akan mencoba untuk menghentikan pertempuran. Namun belum lagi mulutnya sempat mengucapkan kata-kata, orang itu telah meloncat menyerang dadanya. Tetapi sekarang Manahan tidak lagi berusaha untuk melawan, bahkan menghindar pun tidak.

Ketika ia melihat pedang itu, dan kemudian ia melihat ujung pedang itu selalu bergetar dalam tangan lawannya, ia sudah pasti, siapakah orang itu. Karena itu betapa menyesalnya, bahwa ia telah benar-benar bertempur, dan bahkan mungkin sudah menyakitinya pula.

Dalam sesaat itu, ia sudah dapat mengetahui hampir segala persoalan kenapa tiba-tiba ia diserangnya. Juga ia yakin bahwa lawannya telah pula mengetahui siapakah sebenarnya dirinya.

Sebaliknya, orang itupun terkejut ketika Manahan sama sekali tak menghindari mata pedangnya yang sudah hampir merobek dada itu. Kalau semula ia benar-benar marah dan dendam, namun ketika Manahan sama sekali seolah-olah pasrah diri, hatinya bergoncang.

Tiba-tiba saja timbullah suatu perasaan, bahwa tidak semestinyalah ia harus melukai orang itu, apalagi setelah lawannya itu pasrah. Lebih-lebih sampai mengambil jiwanya. Karena itu, kemudian dengan gugupnya ia mencoba untuk menarik serangannya.

Tetapi sayang bahwa lontaran tenaga loncatnya sedemikian besar. Maka yang dapat dilakukannya adalah mengubah arah pedangnya. Meskipun demikian, karena ujung pedangnya yang setajam pisau pencukur itu sudah hampir melekat dada, maka terpaksa ujung pedang itu masih menggores lengan Manahan.

Mengalami peristiwa itu, Manahan berdesis kecil sambil terdorong setapak ke samping oleh gerak naluriahnya. Tetapi setelah itu, kembali ia tegak seperti patung, tanpa suatu usaha untuk membalas, apalagi membinasakan lawannya.

Berdesirlah setiap dada, dari mereka yang mengelilingi arena pertempuran itu. Sedang diantara mereka, dada Handakalah yang paling terguncang. Tanpa disengajanya ia telah meloncat maju. Tetapi kemudian ia tidak berani melangkah, sebelum mendapat izin dari gurunya.

Meskipun keinginannya untuk melakukan apapun karena kemarahannya yang telah memuncak melihat gurunya dilukai, pada saat gurunya sudah menghentikan perlawanan. Sedangkan ia yakin bahwa kalau saja Manahan menghendaki, pasti ia berhasil menghindari tusukan pedang itu.

Tetapi lebih dari segala keanehan yang telah terjadi, orang-orang di sekitar arena pertempuran itu seolah-olah benar-benar melihat suatu pertunjukan yang sengaja untuk memusingkan kepala mereka. Sebab setelah itu, tiba-tiba ia melihat orang yang telah melukai Manahan itu pun berdiri pula seperti patung sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun sangat menyesal bahwa Manahan telah terluka.

Orang itu merasa bersalah, bahkan lebih dari itu, berbagai-bagai perasaan bergulat di dalam hatinya. Karena itu dengan tangan bergetar ia menyarungkan pedangnya perlahan- lahan. Setelah itu, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Sima Rodra yang masih saja terlentang sambil mengerang kesakitan. Segera ia menjatuhkan dirinya, dan berlutut di sampingnya.

Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian yang mendalam. Setiap orang seakan-akan mencoba untuk tidak melakukan suatu gerakan pun. Bahkan suara nafas mereka menjadi tertahan-tahan pula.

Tetapi tiba-tiba di dalam kesepian itu terdengarlah suara tangis yang tertahan. Beberapa orang hampir menjadi tak percaya kepada dirinya sendiri, bahwa mereka telah mendengar tangis seorang perempuan. “Ayah...” terdengar suara di antara isak tangis itu.

Untunglah, bahwa pada saat itu sisi telapak tangan Manahan menghantam dada Sima Rodra, ia sedang dalam kesiagaan penuh untuk melontarkan ajinya Macan Liwung, sehingga daya kekuatannya pun telah dipergunakan hampir sepenuhnya. Dengan demikian ia telah terhindar dari kebinasaan yang mengerikan. Bahkan karena kekuatan tubuhnya yang melampaui kekuatan manusia biasa, setelah mengalami penggemblengan dari mertuanya, Sima Rodra tua dari Lodaya, ia masih tetap hidup, meskipun keadaannya sudah sangat payah karena luka-luka di tubuhnya bagian dalam.

Karena itu ia masih dapat mendengar seseorang menangis di sampingnya. Ketika ia membukakan matanya, ia terkejut. Yang menangis berlutut di sampingnya itu adalah orang yang telah bertempur melawan istrinya. Maka dengan penuh keheranan ia memandanginya.

Apalagi sekali lagi ia mendengar orang itu memanggilnya dengan suara sayu, “Ayah ”

Bagaimanapun buasnya Harimau Gunung Tidar itu, ketika pada saat-saat jiwanya dalam bahaya, dan tiba-tiba seorang dengan sayu menangisinya, kebuasannya tiba-tiba menjadi luluh. Lebih-lebih lagi ketika ternyata suara itu adalah suara perempuan. Disamping perasaan sakit yang menyengat-nyengat hampir seluruh tubuhnya, hatinya diganggu oleh pertanyaan yang hampir tak masuk di akalnya, bahwa masih ada seorang perempuan kecuali istrinya, yang sudi menangisinya, justru baru saja ia bertempur mati-matian melawan istrinya itu.

Maka karena kebingungannya itulah dengan suara yang gemetar ia bertanya, “Siapakah kau  ?”

Orang yang berlutut itu memandang wajah Sima Rodra dengan pandangan lembut penuh haru. Meskipun ia pernah mendendamnya, namun sekarang, di hadapan orang yang telah sama sekali tak mampu bergerak itu, segala perasaan dendamnya seperti lenyap dihanyutkan banjir.

Karena beberapa lama tidak terdengar jawaban, kembali Sima Rodra bertanya terputus- putus, Siapakah kau  ?

Orang yang berlutut di hadapannya itu seperti tersadar dari mimpi. Maka dengan suara yang gemetar pula ia menjawab lirih,

“Ayah..., aku anakmu , Rara Wilis.”

“Wilis, kau Rara Wilis...?” tanya Sima Rodra dengan suara yang tergagap. Matanya terbelalak, memancarkan cahaya yang aneh.

“Ya, ayah   Aku Rara Wilis.” “Wilis... Wilis....” Suara Sima Rodra mengulang-ulang nama itu seperti hendak meyakinkan kebenarannya. Dan mendadak ia berusaha untuk mengangkat kepalanya, namun tenaganya sudah tidak memungkinkan lagi, karena itu segera ia terjatuh kembali.

Untunglah Manahan yang dikenal oleh Sima Rodra dan Rara Wilis dengan nama Mahesa Jenar, dengan cepat menangkap kepala Sima Rodra, sehingga tidak terantuk tanah.

Melihat Mahesa Jenar berusaha menolongnya, Sima Rodra menggeram marah. Meskipun tubuhnya telah terlalu letih, namun ia memaki-maki juga.

“Pergilah kau Mahesa Jenar yang menyangka bahwa dirimu adalah manusia yang paling suci di dunia ini. Jangan kau kotori tanganmu dengan kejahatan yang melekat pada tubuhku.”

Meskipun demikian, Mahesa Jenar tidak melepaskan tangannya untuk menahan kepala Sima Rodra. Dan karena Sima Rodra tidak berdaya untuk menghindari maka akhirnya ia berdiam diri.

“Tenangkanlah hatimu Sima Rodra,” bisik Mahesa Jenar. “Dalam saat yang demikian tidak seharusnya kau masih mendendam.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu kembali Sima Rodra menggeram. Namun ia tidak berkata apa-apa. Akhirnya kembali matanya menatap orang yang mengaku diri anaknya. Maka meluncurlah dari bibirnya yang bergerak perlahan-lahan suatu keluhan singkat. Kemudian ia mencoba berkata pula,

“Wilis... benarkah kau anakku...?”

“Ya ayah, aku benar-benar anakmu yang kau tinggalkan bersama ibu,” jawab Rara Wilis sedih.

“Di mana ibumu sekarang?” tanya Sima Rodra semakin lemah.

Kembali Rara Wilis terisak. Dengan kata-kata yang hampir tak terdengar ia membisiki ayahnya, “Ibu telah meninggal, setahun sepeninggal ayah.”

Sima Rodra menarik nafas dalam-dalam.

“Wilis...” katanya kemudian, “Maafkanlah ayahmu ini. Mungkin kau telah mendengar segenap garis perjalanan hidupku yang dipenuhi oleh noda-noda hitam. Sampaikan pula permintaan maafku kepada kakekmu, Ki Santanu”

“Ayah...” sahut Rara Wilis, “Lupakanlah apa yang pernah terjadi. Aku sudah berjuang dengan sepenuh tenagaku atas petunjuk dan bantuan kakek yang ternyata juga bernama Ki Ageng Pandan Alas.” “Pandan Alas...?” ulang Sima Rodra.

“Ya ayah, Kakek Santanu adalah Ki Ageng Pandan Alas,” jawab Rara Wilis menegaskan.

“Oo...” kembali Sima Rodra menarik nafas dalam-dalam. Suaranya semakin perlahan- lahan, meskipun cukup jelas,

“Alangkah bodohnya aku, dan agaknya mataku telah buta pula. Tetapi, benarkah bahwa Ki Santanu itu Ki Ageng Pandan Alas...? Agaknya daripadanya pula kau memperoleh ilmu yang dahsyat itu  ”

Rara Wilis mengangguk kecil. “Aku pelajari dengan tekun, siang dan malam, untuk dapat merebut ayah kembali dari tangan Harimau Betina Gunung Tidar. Setelah cukup ilmuku, aku pergi merantau mencari ayah pula. Ketika aku mendengar di daerah ini, segera aku menyusul. Dan sekarang aku telah menemukan ayah dalam keadaan parah.”

Kembali terdengar Rara Wilis menangis terisak-isak. Sedangkan mata Sima Rodra itu memancarkan sinar kemarahan yang tak terhingga kepada Mahesa Jenar.

“Sudahlah Wilis...” kata Sima Rodra, “Kau adalah seorang gadis yang perkasa melampaui laki-laki biasa. Karena itu jangan menangis. Kalau kau bertemu dengan kakekmu, sampaikan baktiku. Ki Panutan yang telah mendurhaka. Tetapi dapatkah kau buktikan bahwa Ki Santanu adalah Ki Ageng Pandan Alas?”

Perlahan-lahan Rara Wilis mengangguk. Ditariknya sebilah keris dari wrangka di lambungnya di balik bajunya. Sambil menunjukkan keris itu ia berkata,

“Inilah ayah.”

“Sigar Penjalin ” desis Sima Rodra, “Cobalah aku merabanya.”

Segera keris itu diserahkan kepada Sima Rodra yang menerimanya dengan sisa tenaganya. Meskipun demikian, terjadilah sesuatu diluar dugaan mereka. Dengan tangannya yang lemah Sima Rodra mencoba menggoreskan keris yang sakti tiada taranya itu ke tangan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Demikian juga Rara Wilis yang sama sekali tidak menduga bahwa ayahnya akan berlaku demikian. Karena itu tidak sesadarnya ia memekik kecil.

“Kenapa kau terkejut Wilis ? Biarlah aku mati bersama-sama dengan orang yang telah

membunuhku. Adakah kau kenal dia ?”

Rara Wilis mengangguk perlahan. Melihat Rara Wilis mengangguk, Sima Rodra, yang mula-mula bernama Ki Panutan, mengernyitkan alisnya, “Hem...” desahnya. “Siapakah orang ini sebenarnya...?”

“Namanya Mahesa Jenar, yang mencoba melawan kejahatan. Menurut kakek, ia adalah bekas seorang prajurit yang bergelar Rangga Tohjaya.”

“Bekas prajurit...?” ulang Ki Panutan, yang kemudian disebut Sima Rodra muda. “Apakah hubunganmu atau kakekmu dengan dia?”

“Tak ada,” sahut Rara Wilis.

“Tetapi Kakang Mahesa Jenar itu pernah membebaskan aku dari kebuasan Jaka Soka Nusakambangan.”

“He...” Sima Rodra terkejut, setelah itu tubuhnya bertambah lemah. Dengan suara yang hampir berbisik ia berkata,

“Syukurlah kau terlepas dari tangan Ular Laut yang keji itu.” Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata,

“Maafkan aku Mahesa Jenar. Agaknya kau benar-benar telah berjuang untuk menegakkan sendi-sendi kebajikan. Kalau demikian biarlah dalam saat yang terakhir ini aku bercermin diri. Baik... kau Wilis... maupun kau Mahesa Jenar... telah menempatkan diriku pada titik kesadaran. Karena itu aku akan berlalu dengan hati yang lapang.”

“Ayah...” potong Rara Wilis, “Aku telah bersusah payah, berusaha untuk menemukan ayah.”

Ki Panutan itu tampak tersenyum.

Meskipun wajahnya yang ditumbuhi oleh rambut-rambutnya yang lebat, yang baru beberapa waktu berselang memancarkan cahaya yang mengerikan, sebagai seorang yang menamakan dirinya Sima Rodra, kini tiba-tiba telah berubah sama sekali.

Dengan mata yang bersih bening, serta senyum keikhlasan, ia berbisik perlahan sekali, “Wilis... biarlah aku pergi. Puaslah sudah hatiku setelah aku mengetahui bahwa anakku telah menjadi seorang gadis yang perkasa, serta berhati bersih. Kau mau berlutut di sampingku meskipun kau tahu bahwa hidupku penuh diwarnai oleh noda dan dosa.”