-->

Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 19

 
Jilid 19

Demikian pula pada malam kelima. Otak Handaka rasa-rasanya hampir meledak memikirkan hal itu. Apalagi ketika orang kelima ini ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Tidak seperti keempat orang sebelumnya, yang datang dari jurusan yang tidak sama, namun kedatangan mereka itu dapat diketahui sebelumnya, meskipun ada dua diantaranya yang datang dari jurusan yang aneh, dari laut. Tetapi orang kelima ini jauh lebih aneh lagi. Tahu-tahu orang itu sudah berdiri di belakang Handaka dengan suara garang dibarengi dengan suara tertawa yang menyeramkan.

“Handaka, kau mau melarikan dirimu kemana lagi. Berbulan-bulan aku mencarimu, dan sekarang aku menemukan kau di sini.”

Empat malam berturut-turut Handaka sudah bertempur dengan orang-orang yang tak dikenal, dan empat kali pula ia berhasil mengalahkan mereka. Namun kali ini bulu tengkuknya meremang juga. Wajah orang ini sama sekali bersih, hanya alisnya agak terlalu lebat dan hampir bertemu di atas hidungnya. Tetapi wajah yang bersih itu seakan- akan memancarkan udara maut dari setiap lubang-lubangnya.

Kemudian terdengar kembali orang itu berkata,

“Ha, agaknya kau sudah ketakutan. Aku kira kau anak yang berani. Bukankah kau murid Manahan sepengecut kau ini.”

Handaka adalah seorang anak yang berani. Meskipun hatinya tergetar pula menghadapi sesuatu, tetapi ia tidak akan menilai seseorang berlebih-lebihan. Apalagi orang itu telah menghinanya dengan menyebut-nyebut nama gurunya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Dengan mulut yang terkatub rapat serta gigi yang gemeretak, Handaka tidak menanti orang itu selesai berkata. Seperti seekor banteng luka ia dengan dahsyatnya menyerang orang itu.

Orang yang mendapat serangan itu agaknya terkejut. Tetapi dengan tangkasnya ia menggeser kakinya sehingga ia terbebas dari serangan Handaka. Tetapi Handaka yang hatinya sudah terbakar oleh kemarahan itu, dengan cepatnya menyerang pula. Sekali lagi orang itu terpaksa mengelakkan diri, tetapi agaknya ia tidak mau diserang terus-menerus.

Kemudian dengan garangnya ia pun menyerang kembali. Namun ternyata Handaka memiliki kelincahan yang cukup pula, sehingga serangan orang itu dapat dielakkannya. Kemudian terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Masing-masing melancarkan serangan-serangan yang dahsyat dan berbahaya. Tetapi masing-masing ternyata memiliki kegesitan dan ketahanan yang cukup.

Handaka yang telah bertempur empat malam berturut-turut dan memenangkan setiap pertempuran, ternyata sangat mempengaruhi jiwanya. Ia semakin percaya kepada kekuatan dirinya sendiri. Dan perasaan yang demikian sangat membantu keadaannya pada malam kelima itu. Meskipun ia merasa bahwa orang kelima ini memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang-orang sebelumnya, namun hatinya yang telah dibesarkan oleh peristiwa-peristiwa empat malam sebelumnya menjadikannya tetap tatag dan tenang.

Tetapi suatu hal yang kurang menguntungkan bagi Handaka, adalah karena orang itu jauh lebih besar dan lebih tinggi, maka kesempatan orang itu untuk mengenainya agak lebih banyak. Tangan serta kakinya yang agak lebih panjang, ternyata mempengaruhi jalan pertempuran itu.

Rupa-rupanya orang itu mempergunakan keuntungan itu sebaik-baiknya. Ia selalu melawan serangan Handaka dengan serangan pula. Beberapa kali Handaka dapat dikenai dengan cara demikian sebelum tangannya sempat menyentuh tubuh orang itu. Sehingga Handaka menjadi semakin marah dan bertempur mati-matian.

Ternyata kali ini lawannya benar-benar tangguh. Orang itu licin seperti belut, serta lincah seperti singgat. Beberapa kali, apabila serangan-serangan Handaka agaknya sudah tidak dapat dihindari, tiba-tiba saja ia melenting beberapa langkah, dan kemudian dengan cara yang sama ia telah menyerang kembali.

Menghadapi serangan yang demikian Handaka merasa agak sulit. Dengan menjatuhkan diri ia mencoba membebaskan dirinya. Tetapi orang itu tidak membiarkan Handaka lolos. Dengan kakinya yang kokoh ia meloncat kearah dada anak itu. Sekali lagi Handaka berguling. Tetapi sekali lagi orang itu melakukan serangan yang sama pula sebelum Handaka sempat berdiri.

Handaka kemudian menjadi agak gugup. Berapa kali ia harus bergulung-gulung di pasir pantai itu. Tiba-tiba ia teringat kepada lawan-lawannya yang pernah dikalahkannya. Ada beberapa unsur gerak yang dapat dikuasainya. Karena itu ketika sekali lagi Handaka mendapat serangan dengan cara yang sama, setelah ia berhasil menggeser tubuhnya, cepat-cepat ia menangkap pergelangan kaki lawannya.

Dengan mempergunakan daya dorongnya sendiri, Handaka ternyata berhasil menjatuhkan orang itu, dengan menghantam betisnya. Ia sendiri pernah pula mengalami hal yang demikian. Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling, kesempatan itu cepat dipergunakan oleh Bagus Handaka untuk berdiri.

Tetapi demikian ia berdiri, orang itupun dengan suatu gerak seperti roda yang bergulung telah berdiri di hadapannya pula.

Bagus Handaka, melihat hal itu menjadi bertambah marah. Matanya menjadi merah menyala-nyala dan dadanya berdegupan. Dengan dahsyatnya ia melontar maju menyerang dada orang itu. Serangan itu demikian tak terduga-duga sehingga orang asing itu tak sempat mengelak. Karena itulah maka dadanya terpaksa terhantam hebat. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut.

Handaka tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi. Dengan garangnya ia memburu dan sekali lagi menghantamnya. Sayang bahwa kali ini orang itu sempat memiringkan tubuhnya, sehingga serangan Bagus Handaka tidak mengenai sasarannya, bahkan ia sendiri hampir-hampir kehilangan keseimbangan.

Dalam saat yang demikian, tampak lawannya mengayunkan tangannya dengan dahsyatnya. Melihat serangan itu, Handaka agak bingung.

Tiba-tiba tanpa sadar Handaka telah mempergunakan unsur-unsur gerak yang pernah ditiru-tirukannya dari lawan-lawannya sebelumnya. Cepat ia sedikit merendahkan diri, menangkap tangan orang itu sambil memutar tubuhnya, dan dengan bantuan tenaga berat lawannya. Handaka menarik orang itu melampau pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terlempar keatas lewat diatas pundaknya dan terbanting di pasir pantai.

Tetapi sekali lagi Handaka keheran-heranan. Demikian orang itu terbanting, demikian ia bergulung-gulung dan dengan cepatnya bangkit kembali. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa. Karena itu demikian orang itu berdiri, demikian kaki Handaka terlontar mengenai perutnya. Sekali lagi orang itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Tetapi seterusnya ketika Handaka menyusul menyerang dagu orang itu, maka orang itu pun menghantamnya.

Kali ini Handaka mengalami kembali hal yang sangat merugikannya. Tangannya agak lebih pendek dari tangan lawannya. Dengan demikian sebelum tangannya menyentuh dagu orang itu, terasa wajahnya seperti tersentuh bara. Dengan kerasnya wajahnya terangkat dan ia terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terlentang. Serangan itu disusul dengan suatu serangan yang garang sekali.

Seperti seekor harimau, lawannya menerkam selagi Handaka belum sempat bangun. Maka tidak ada suatu cara yang mungkin untuk membebaskan dirinya kecuali dengan kedua kakinya Handaka menghantam tubuh orang yang seperti melayang ke arahnya. Akibatnya adalah bebat sekali. Orang itu terlempar ke udara.

Kali ini Handaka juga menjadi keheran-heranan. Dengan gerak yang bagus orang itu melingkar di udara dan jatuh pada punggungnya untuk kemudian berguling dua kali. Setelah itu dengan cepatnya ia meloncat berdiri.

Pada saat itu Handaka pun telah berdiri. Keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, yang hampir seluruhnya terbalut oleh debu-debu pasir pantai.

Sebenarnya Handaka pada saat itu telah menjadi gelisah sekali. Lawannya ternyata benar-benar licin seperti belut.

Tetapi kemudian terjadilah suatu hal di luar dugaan. Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah dan liar. Nafasnya mengalir dengan derasnya. Handaka melihat keadaan itu, sehingga kelegaan membersit di hatinya.

Ia tahu bahwa lawannya telah kehabisan tenaga. Karena itu ia tidak mau memberi kesempatan lagi. Cepat ia melangkah maju dan menyerangnya dengan hebat.

Ternyata orang itu telah hampir tidak mampu melawannya. Beberapa kali Handaka berhasil menghantamnya sampai orang itu terhuyung-huyung dan roboh. Sekali lagi kegembiraan membayang di wajah Handaka. Orang yang hebat ini pasti akan dapat ditangkapnya.

Tetapi ketika sekali lagi ia maju menyerang, tiba-tiba orang itu melemparkan segenggam pasir ke arah matanya. Cepat-cepat Handaka memalingkan mukanya, namun beberapa butir pasir telah menyebabkan matanya terasa nyeri sekali. Ketika ia sedang sibuk membersihkan mata itu, terasa sebuah hantaman mengenai punggungnya.

Untunglah bahwa tenaga orang itu, telah hampir separo lenyap, sehingga dengan demikian hantamannya telah tidak lebih dari sebuah dorongan saja. Meskipun demikian, karena Handaka sama sekali tidak menduga bahwa lawannya akan berbuat curang, menjadi sangat terkejut dan jatuh tertelungkup. Dengan marahnya Handaka cepat memutar tubuhnya, untuk menanti serangan berikutnya, yang dapat saja dilakukan dengan curang oleh lawannya itu.

Tetapi Bagus Handaka menjadi terkejut sekali sehingga tubuhnya menjadi gemetar.

Orang yang sudah kehabisan tenaga dan hampir saja dapat ditangkapnya itu lenyap seperti debu dibawa angin. Beberapa kali Bagus Handaka mengusap-usap matanya yang masih terasa agak nyeri, tetapi orang itu benar-benar telah lenyap.

Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di atas pasir. Dilayangkannya pandangannya ke segenap malam, tetapi di pantai yang luas itu, pastilah ia tak dapat melihat seseorang. Bulu tengkuknya tiba-tiba terasa meremang. Meskipun ia selama ini mendapat didikan untuk tidak takut kepada hantu, namun mengalami peristiwa ini, hatinya bergetar juga.

Kecuali itu, terasa pula kengerian merayapi perasaannya. Untunglah kali ini ia masih dapat membebaskan diri, meskipun hampir saja ia kehilangan akal.

Lalu bagaimana dengan malam besok?

Sekarang Bagus Handaka tidak berani main-main lagi. Kalau besok datang seseorang menyerangnya, dan memiliki sedikit saja kelebihan dari orang ini, maka pasti ia tidak dapat melawannya. Sedangkan kalau para penyerang itu dapat menangkapnya, hampir pasti bahwa dirinya benar-benar akan digantung di tengah-tengah Alas Roban.

Karena itu akhirnya Bagus Handaka memutuskan untuk menyampaikan segala peristiwa yang pernah dialami itu kepada gurunya, serta menyerahkan segala penyelesaiannya kepadanya.

Pada saat Bagus Handaka melangkah pulang ke pondoknya, terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Di langit sebelah timur sudah mulai tampak membayang warna fajar, diantar oleh angin pagi yang sejuk.

Namun tubuh Bagus Handaka justru mulai merasa nyeri dan sakit-sakit. Empat malam sebelumnya ia bertempur terus-menerus, tetapi tidak pernah ia merasakan lelah, letih dan sakit-sakit seperti saat itu.

Sampai di pondok, ia melihat Manahan telah bangun dan menunggui api. Agaknya ia sedang merebus air. Cepat-cepat Handaka mendekatinya dan berkata,

“Bapak, biarlah aku yang merebus air dan jagung.” Manahan tersenyum melihat kedatangan Bagus Handaka. “Apakah kau turun ke laut Handaka?” “Tidak Bapak,” jawab Handaka singkat.

“Dari pantai...?” tanya Manahan lebih lanjut. Handaka menganggukkan kepalanya. Dalam cahaya api barulah Bagus Handaka melihat tubuhnya merah-merah biru dan berdarah di beberapa tempat. Ketika Manahan melihat luka-luka itu, serta melihat wajah Handaka yang pucat dan nafasnya yang kurang teratur, ia menjadi keheran-heranan. Maka kemudian ia bertanya,

“Handaka, apakah yang terjadi? Apakah kau berselisih dengan kawan-kawanmu, sehingga kau berkelahi?”

“Tidak, Bapak,” jawab Handaka. “Lalu kenapa kau?” desak Manahan.

Bagus Handaka yang memang telah berkeputusan untuk menyampaikan keadaan yang dialaminya lima malam berturut-turut itu pun segera duduk disamping Manahan, dan segera mengalirlah ceritera dari mulutnya. Sejak malam pertama sampai malam terakhir, lengkap dengan bentuk-bentuk wajah dari orang-orang yang menyerangnya.

Mendengar ceritera Bagus Handaka itu, Manahan menarik alisnya. Memang ia pun menjadi keheranan-heranan, apakah pamrih orang-orang itu menyerang Bagus Handaka.

“Handaka..., kenapa kau baru sekarang mengatakan semua kejadian itu kepadaku?” tanya Manahan.

Dengan jujur Handaka mengatakan segala keinginannya untuk mengetahui kelanjutan peristiwa-peristiwa itu, serta keinginannya untuk menyelesaikan masalah itu sendiri.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya berkobar pula kemarahan ketika ia mendengar bahwa orang kelima yang menyerang Bagus Handaka itu telah menyebut-nyebut namanya. Padahal pada saat orang itu ia hanya melawan seorang anak-anak.

“Handaka... kata Manahan kemudian, Pergilah kau besok sekali lagi ke pantai. Aku akan melihat siapakah yang selalu datang itu.”

Mendengar kesanggupan gurunya, Handaka menjadi bergembira. Besok apabila benar- benar ada seseorang yang datang menyerangnya, meskipun kepandaiannya berlipat tiga, namun pasti orang itu akan dapat ditangkap oleh gurunya. Karena itu ia tersenyum- senyum sendiri. Dipandanginya api yang berkobar-kobar di hadapannya, yang bergerak- gerak seolah-olah menari-nari riang. Dan sebentar kemudian mendidihlah air yang dipanasinya. Segera ia bangkit untuk mengambil daun serai serta gula kelapa. Itulah kegemaran gurunya, air serai bergula kelapa.

Hari itu rasa-rasanya panjang sekali bagi Bagus Handaka. Matahari seolah-olah menjalani garis edar dengan malasnya. Sehari itu ia merasa amat malas untuk bermain- main dengan kawan-kawannya. Dihabiskannya waktunya dengan berangan-angan. Namun akhirnya, perlahan-lahan datanglah senja. Langit yang cerah dengan gumpalan- gumpalan mega yang berarak-arak mulai dirayapi oleh warna-warna lembayung. Bagus Handaka yang hampir tidak sabar itu memaki-maki di dalam hati. Kenapa kedatangan malam tidak saja langsung tanpa melewati senja?

Setelah melampaui masa-masa yang menjengkelkan, kemudian malam turun dengan tabir hitamnya. Bagus Handaka segera berangkat ke pantai, dimana ia biasa duduk-duduk memandangi ombak lautan. Manahan sengaja tidak berangkat bersama-sama supaya kehadirannya tidak diketahui. Ketika Manahan telah sampai di pantai pula, segera ia bersembunyi dengan membaringkan dirinya di belakang sebuah puntuk pasir tak begitu jauh dari Bagus Handaka.

Bersamaan dengan semakin gelapnya malam, hati Bagus Handaka menjadi semakin tegang dan gelisah. Jangan-jangan orang-orang yang menyerangnya telah mengetahui bahwa gurunya berada di tempat itu, sehingga para penyerang itu tidak berani mendekatinya.

Dan dalam kesempatan itu, ia mencoba pula mengingat-ingat kelima orang yang datang berturut-turut setiap malam. Masing-masing menyatakan bahwa mereka satu sama lain tidak berhubungan. Sejak semula ia sudah tidak percaya.

Tetapi yang mengherankan, bahwa seolah-olah kedatangan mereka telah diatur sedemikian, sehingga setiap orang yang datang pasti memiliki kepandaian setingkat lebih tinggi dari orang sebelumnya.

Tiba-tiba ketika sedang berangan-angan, Bagus Handaka dikejutkan oleh suara tertawa dekat di sampingnya. Suara itu terdengar nyaring dan menggetarkan hatinya. Cepat ia meloncat bangkit dan bersiap. Perasaannya telah mengatakan kepadanya bahwa orang ini pasti salah seorang yang datang untuk menyerangnya pula seperti malam-malam yang lewat.

Ketika ia memandang wajah orang itu, hatinya menjadi bertambah berdebar-debar. Wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan wajah manusia. Barangkali demikian itulah wajah hantu yang ditakuti oleh anak-anak. Beberapa bintil-bintil sebesar biji rambutan bertebaran hampir di seluruh wajah itu. Gigi-giginya tampak berleret pada saat orang itu tertawa.

Kemudian disela-sela tertawanya ia berkata,

“Siapakah nama anak muda yang bermain-main di pantai di malam hari...?”

Meskipun sebenarnya Bagus Handaka ngeri juga melihat wajah itu, namun karena ia merasa bahwa gurunya berada di dekatnya, hatinya menjadi tabah pula. Maka jawabnya lantang, “Kenapa kau bertanya? Kau pasti sudah tahu pula siapa aku. Dan kau pasti akan menangkapku seperti yang pernah dilakukan oleh lima orang sebelum kau datang, pada malam-malam sebelum malam itu.”

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu, tertawanya menjadi bertambah keras. “Bagus... bagus, jadi sebelum ini telah datang lima orang mendahului aku? Agaknya monyet- monyet itu ingin menerima hadiah pula dengan menangkap anak ini. Dan kau dapat mengalahkan mereka berlima?”

“Mereka datang satu-persatu,” jawab Handaka.

“Alangkah bodohnya mereka,” sambung orang berwajah iblis itu. “Tentu kau dapat mengalahkannya.”

“Jangan banyak bicara,” potong Bagus Handaka dengan beraninya, “Jangan coba bohongi aku. Kau pasti telah bersekongkol dengan mereka. Dan barangkali kau malam ini akan mencoba menangkap aku bersama-sama. Ayo datanglah berenam."

Kembali orang yang menakutkan itu tertawa berderai-derai sampai seluruh tubuhnya bergetar.

“Hebat, kau memang hebat. Tetapi jangan terlalu sombong. Sebab malam ini nyawamu benar-benar akan lenyap. Aku harus menangkap kau, mati atau hidup. Meskipun kalau aku membawamu hidup-hidup hadiahnya akan berlipat banyaknya. Sebab pertunjukan membunuh Bagus Handaka akan dapat mendatangkan uang yang banyak sekali.”

Tanpa sadar, bulu tengkuk Bagus Handaka serentak berdiri. Perkataan orang berwajah menakutkan itu sangat mempengaruhi perasaannya. Apakah sebenarnya latar belakang dari semua kejadian ini? Kenapa orang itu menyebut-nyebut pertunjukan membunuh Bagus Handaka?

Mau tidak mau Bagus Handaka menjadi ngeri juga. Ia sudah membayangkan dirinya diikat di tengah-tengah lapangan, kemudian setiap orang diperkenankan untuk melukainya, sampai mati. Tetapi apa salahnya?

Tiba-tiba ia menjadi marah sekali. Ini hanyalah suatu gertakan saja. Karena itu ia menjawab sambil berteriak keras-keras,

Jangan coba-coba takut-takuti aku.” Namun demikian terasa suara Handaka bergetar pula.

Mendengar teriakan Bagus Handaka, orang itu sekali lagi tertawa keras-keras. “Jangan berbohong pula. Kau sudah ketakutan bukan? Bagus..., semakin takut kau, semakin lucu pertunjukan itu jadinya.”

Sekarang Bagus Handaka benar-benar menjadi marah sekali. Ternyata orang itu telah menghinanya. Karena itu segera ia meloncat dan langsung menyerang leher dengan jari- jarinya.

Orang itu, yang masih enak tertawa, ternyata terkejut melihat kecepatan bergerak Bagus Handaka, sehingga tertawanya segera terhenti.

“Memang kau anak berani. Tetapi hati-hatilah.”

Sambil berkata demikian ia merendahkan dirinya, dan dengan kakinya ia menghantam lambung Bagus Handaka. Bagus Handaka yang menyerang dengan sekuat tenaga, tidak sempat menarik serangannya, maka yang dapat dilakukan adalah memukul kaki itu dengan tangannya ke samping. Ternyata usahanya berhasil pula. Orang itu terputar sedikit dan dengan demikian lambungnya dapat diselamatkan, meskipun tangannya yang berbenturan dengan kaki orang itu terasa sakit.

Dengan demikian Bagus Handaka segera dapat mengetahui, bahwa orang ini mempunyai ilmu diatas orang-orang yang pernah menyerangnya. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak gentar ketika diingatnya bahwa gurunya telah menungguinya.

Mengingat hal itu, segera Bagus Handaka menjadi bertambah tatag, karena itu serangannya menjadi bertambah sengit. Tetapi perlawanan orang itu bertambah sengit pula. Bahkan ia pun telah menyerangnya dengan gerak-gerak yang sangat membingungkan dan berbahaya sekali. Namun ternyata Bagus Handaka telah memberikan perlawanan dengan gigih.

Setiap serangan yang datang, bagaimanapun berbahayanya, Handaka selalu dapat menghindarkan dirinya. Malahan tidak jarang pula iapun berhasil membalas serangan- serangan itu dengan serangan-serangan yang tak kalah berbahayanya.

Namun serangan-serangan itu pun selalu tidak berhasil pula.

Maka pertempuran itu semakin lama menjadi bertambah hebat dan cepat. Masing- masing menyerang dan menghindar berganti-ganti, sehingga tampaknya kedua orang itu seperti bayangan yang sedang libat-melibat dengan cepatnya, semakin lama semakin cepat.

Tetapi kemudian ternyata bahwa Bagus Handaka tidak dapat menyamai kecepatan gerak lawannya, sehingga tiba-tiba terasa punggungnya terdorong oleh suatu kekuatan yang besar sekali. Dengan derasnya ia terlempar ke udara.

Mengalami peristiwa itu hati Bagus Handaka berdesir. Untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Tetapi untunglah bahwa otaknya yang cerdas dapat bekerja dengan cepat. Ia pernah menyaksikan lawannya terlempar ke udara pula, namun ia dapat jatuh dengan enaknya, seolah-olah sama sekali tidak terasakan sesuatu. Maka tanpa dikehendakinya sendiri Bagus Handaka menirukan gerak-gerak yang pernah disaksikannya itu. Cepat- cepat ia berusaha melingkarkan diri dan menjatuhkan diri pada punggungnya, yang kemudian dilanjutkan dengan berguling sampai dua kali. Setelah itu ia melenting berdiri.

Untunglah bahwa Bagus Handaka telah dibekali dengan olah keprigelan yang cukup, serta kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga meskipun gerak-geraknya masih belum sempurna, namun ia tidak pula mengalami sesuatu.

Melihat cara Bagus Handaka membebaskan diri dengan cara yang demikian, terdengar lawannya tertawa keras-keras sambil berkata,

“Hai monyet kecil, dari mana kau belajar berjungkir balik demikian...? Untunglah bahwa kau mengenal cara yang baik untuk menyelamatkan dirimu.”

Bagus Handaka tidak sempat menjawab kata-kata itu. Dengan darah yang mendidih ia meloncat maju kembali untuk menyerang lawannya sejadi-jadinya. Tangannya bergerak berganti-ganti mengarah ke segenap tubuh lawannya, sedang kakinya bergerak dengan lincahnya di atas pasir pantai. Tetapi ternyata lawannya tidak kalah lincah pula.

Untuk beberapa lama serangan-serangannya tidak dapat menyentuh tubuh lawannya sama sekali. Bahkan ketika ia mencoba untuk menyerang mata lawannya dengan jarinya, maka tiba-tiba terasa kepalanya berguncang hebat. Guncangan yang pertama, disusul dengan yang kedua.

Untunglah dalam keadaan terakhir Bagus Handaka masih sempat melihat sebuah kepalan tangan sekali lagi mengarah kepelipisnya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Tangan itu dengan derasnya menyambar tidak lebih dari tebal daun padi di muka hidungnya. Untunglah bahwa Bagus Handaka masih dapat bekerja cepat.

Tangan itu segera ditangkapnya, serta sambil merendahkan diri ia pergunakan tenaga dorong serta berat badan lawannya sendiri untuk membantingnya ke tanah lewat pundaknya.

Dengan kerasnya orang itu terpelanting. Tetapi meski ia jatuh terlentang namun ia berusaha jatuh di atas kedua kaki serta pundaknya saja yang menyentuh tanah. Bagus Handaka tidak mau membiarkannya dalam sikap yang demikian, cepat-cepat ia menyerang lagi lawannya sebelum sempat memperbaiki keadaannya. Dengan kakinya ia menghantam dada orang yang masih terlentang itu. Gerak Bagus Handaka sedemikian cepatnya sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya. Maka terdengarlah keluhan pendek. Tetapi sesaat kemudian kaki lawannya itu dengan cepatnya menyapu kakinya, sehingga Bagus Handaka jatuh terbanting pula.

Ketika ia kemudian tegak, lawannya telah berdiri di hadapannya pula. Bahkan dengan suatu lontaran dahsyat ia menyerang ke arah dadanya. Dengan cepatnya Bagus Handaka merendahkan dirinya, dan bersamaan dengan itu ia menjulurkan kakinya lurus-lurus, sehingga dengan demikian ia berhasil mengenai perut lawannya.

Agaknya lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa Bagus Handaka akan menyerang selagi ia melakukan serangan yang sedemikian cepat. Karena itu ia terdorong keras beberapa langkah surut disusul dengan serangan Bagus Handaka yang dahsyat pula.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin hebat dan cepat. Pada malam kelima, Bagus Handaka yang hampir merasa dapat dikalahkan, ternyata memiliki nafas yang lebih baik dari lawannya sehingga akhirnya lawannya menjadi lemas karena kehabisan nafas.

Tetapi orang keenam ini agaknya mempunyai nafas lebih baik dari kuda. Karena itu semakin lama terasa Bagus Handaka semakin terdesak, tenaganya semakin lama semakin berkurang pula setelah ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan dirinya.

Akhirnya pertempuran itu pun menjadi berat sebelah. Beberapa kali Bagus Handaka terpaksa terlempar, terbanting dan kadang-kadang perutnya terasa terguncang-guncang hebat. Dari mulut serta hidung melelehlah darah segar. Sampai sedemikian jauh Bagus Handaka tidak melihat gurunya datang membantunya. Bahkan ketika matanya sudah mulai berkunang-kunang pun Manahan masih belum menampakkan dirinya. Ia menjadi keheran-heranan. Apakah sebenarnya maksud Manahan dengan membiarkannya demikian? Seolah-olah segenap sisa-sisa tenaganya ia tetap melawan dengan beraninya.

Sampai beberapa saat kemudian ketika ia terbanting diatas pasir dan seolah-olah ia sudah sama sekali tidak dapat bergerak lagi, dilihatnya orang berwajah menakutkan itu tertawa berderai sambil selangkah demi selangkah mendekatinya. Bagus Handaka tidak tahu lagi bagaimana ia harus melawan. Tangannya serasa sudah membeku dan darahnya seolah- olah sudah tidak mengalir lagi.

Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba orang itu, yang sudah tinggal beberapa langkah dari padanya, terhenyak dan memandang ke suatu titik. Maka sekali lagi meledaklah tertawanya yang mengerikan, disusul dengan suaranya yang menggelegar, “Hai, kaukah itu? Jadi kau datang pula untuk membantu muridmu...?”

Mendengar suara orang itu, melonjaklah sebuah kegembiraan di hati Bagus Handaka. Agaknya gurunya telah datang. Dan apa yang diduganya adalah benar. Ketika ia mengangkat mukanya, dilihatnya Manahan berjalan dengan tenangnya ke arah orang yang berwajah mirip hantu itu. Melihat gurunya datang, tiba-tiba Bagus Handaka merasa bahwa akan datanglah saatnya ia mengetahui latar belakang dari semua peristiwa- peristiwa itu.

Ketika Manahan telah berdiri di muka orang berwajah jelek itu terdengarlah orang berwajah menakutkan itu berkata, “Kaukah yang bernama Manahan?”

Manahan menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Kenapa kau tanyakan itu? Bukankah kau sudah pasti bahwa guru Bagus Handaka bernama Manahan?”

Kembali terdengar orang itu tertawa berderai sehingga suaranya memenuhi pantai. “Aku tidak mengira bahwa Manahan orangnya seperti kau ini.”

Terdengarlah Manahan menjawab sambil tersenyum, “Lalu dari mana kau tahu bahwa aku bernama Manahan?”

“Karena kau datang pada saat Bagus Handaka sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku kira tidak ada orang lain yang akan menolongnya, selain gurunya,” sahut orang itu. “Lalu apa anehnya aku ini?” tanya Manahan pula.

“Aku jadi kecewa melihat tampangmu. Seharusnya kau berwajah seperti asahan batu, berkumis lebat dan bertubuh seperti orang hutan. Supaya ujudmu sesuai dengan namamu yang terkenal itu.”

”Tak ada orang yang mengenal aku sebagai seorang yang seharusnya bertubuh demikian. Aku adalah seorang petani yang tidak lebih dari menggarap sawah setiap hari,” jawab Manahan.

Mendengar jawaban Manahan yang masih bernada dingin itu, Bagus Handaka bertambah heran pula. Kenapa gurunya tidak saja langsung menghantamnya sampai pingsan. Apalagi orang itu telah menghinanya pula.

Dalam gelap malam Handaka melihat orang berwajah menakutkan itu menyeringai, benar-benar seperti hantu. Namun Manahan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan masih saja ia tersenyum-senyum.

“Bagus.... Kau adalah seorang petani yang baik, Manahan. Pekerjaan petani adalah pekerjaan yang mulia pula. Tanpa petani maka banyaklah orang yang kelaparan. Tetapi daerah pertanian bukankah daerah pelarian? Apabila seseorang telah berputus asa dalam melaksanakan tugasnya sendiri, maka kemudian orang itu menerjunkan diri dalam daerah pertanian. Bukankah demikian...?”

Mendengar kata-kata orang itu tampaklah wajah Manahan berkerut. Segera senyumnya lenyap dari bibirnya. Namun tak sepatah katapun ia menjawab. Sehingga kemudian terdengar orang yang menakutkan itu meneruskan,

“Atau barangkali kau sudah bercita-cita untuk menjadi seorang tuan tanah yang kaya raya, yang dapat menandingi kekayaan demang Gunung Kidul?”

Hampir terlonjak Manahan mendengar kata-kata itu. Juga Bagus Handaka menjadi keheran-heranan. Kemana arah bicara orang yang berwajah hantu itu. Tetapi ia menjadi semakin tidak sabar ketika ia masih saja melihat Manahan tegak seperti patung. Bahkan kemudian ia menjadi bertambah tidak mengerti ketika kemudian orang itu berkata, “Bagus Handaka..., untunglah kau untuk satu pertunjukan yang menarik di daerahku. Tetapi hati-hatilah lain kali aku datang lagi.”

Setelah itu segera ia meloncat dan melarikan diri seperti terbang di gelap malam. ”Bapak...!” teriak Bagus Handaka.

Manahan memandang anak itu dengan wajah yang dingin pula.

Sambil berdiri perlahan-lahan Bagus Handaka mendekati gurunya sambil berkata pula,

“Kenapa Bapak membiarkan orang itu pergi? Selama ini aku ingin menangkap salah seorang diantaranya. Dengan hadirnya Bapak di sini aku mengharap bahwa aku akan dapat mengetahui alasan mereka menyerang aku. Tetapi Bapak membiarkan orang itu pergi.”

“Bagus Handaka,” kata Manahan tidak menjawab pertanyaan anak itu. “Bagaimana keadaan tubuhmu?”

“Sakit, Bapak,” jawabnya agak jengkel. “Tetapi bagaimana dengan orang tadi?

Kau sudah dapat bergerak kembali?” sambung Manahan tanpa menghiraukan kata-kata Bagus Handaka.

“Sudah, Bapak...” jawab Handaka masih belum mengerti.

“Bagus.... Bersiaplah. Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkapmu,” kata Manahan tiba-tiba.

“Bapak... apakah artinya ini?” tanya Handaka semakin bingung.

“Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkap kau dan akan menyerahkan kau kepada orang yang menyuruh mereka datang berturut-turut selama enam malam. Aku sekarang sudah tahu, siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Dan aku juga ingin menerima hadiah itu supaya aku dapat kaya-raya seperti Demang Gunung Kidul. Jelas?”

Handaka mendengar kata-kata gurunya seperti orang bermimpi. Tetapi tiba-tiba ia melihat gurunya benar-benar bersiap untuk menyerangnya. Sehingga ia menjadi bertambah bingung.

“Handaka...” kata Manahan kemudian, “Terserahlah padamu, apakah kau masih ingin hidup atau tidak. Aku tidak mempunyai kepentingan dengan kau lagi. Kau harus melawan aku. Kalau tidak, aku akan membawamu hidup-hidup. Kalau kau mau melawan, aku beri kau keringanan. Aku akan membawa kau setelah kau aku binasakan, supaya kau tidak menjadi bahan pertunjukan.”

Agaknya Handaka sadar bahwa ia tidak bermimpi. Ia harus memilih dua hal yang sama- sama tak dikehendaki. Karena itu ia menjadi bingung sekali. Tetapi ia tidak sempat berpikir-pikir lebih lanjut. Sebab tiba-tiba gurunya telah melangkah dan menghantam lambung. Maka dengan gerak naluriah Handaka menghindarkan diri.

Dengan kekuatan yang ada padanya ia melenting tinggi dan kemudian jatuh berguling- guling menjauhi gurunya. Tetapi Manahan mengejar terus sambil melepaskan serangan- serangan yang sangat berbahaya dan bersungguh-sungguh.

Ia memang pernah berlatih dengan gurunya seperti ia harus berkelahi sungguh sungguh, namun terasa bahwa selama itu gurunya selalu menyesuaikan diri dengan gerak- geraknya. Tetapi kali ini Manahan benar-benar telah menyerangnya dengan pukulan- pukulan yang dapat membinasakan. Karena itu Bagus Handaka menjadi benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali meloncat-loncat berlari, berguling dan cara- cara lain untuk menghindari serangan-serangan Manahan. Namun demikian Manahan menyerang terus seperti orang kehilangan akal. Tetapi kemudian muncullah suatu pikiran yang agak jernih dalam otak Bagus Handaka. Tiba-tiba ia merasa bahwa saat ini adalah saat terakhir baginya untuk menunjukkan kepada gurunya, ketekunan serta kesungguhannya selama ini dalam menerima segala ilmu serta pelajarannya.

Ia sudah pasti, bahwa kalau benar-benar gurunya akan membunuhnya, maka saat terakhir ini akan dipergunakan sebaik-baiknya. Ia harus dapat menunjukkan kepada gurunya hasil-hasil yang telah dicapainya dalam olah kanuragan.

Meskipun Handaka menjadi semakin tidak mengerti kepada sifat-sifat gurunya, karena ketakutan-ketakutannya yang kadang-kadang aneh, misalnya beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia ditinggal berlari jauh sekali sampai ia merasa bahwa tidak akan mungkin dapat menemukannya, tetapi tiba-tiba gurunya itu, yang pada saat itu bernama Mahesa Jenar datang kembali kepadanya, yang kemudian untuk beberapa tahun melatihnya dengan tekun. Sekarang tiba-tiba gurunya itu berbuat keanehan lagi.

Tetapi agaknya kali ini gurunya tidak lagi bermain-main. Sebab apabila ia lengah, maka pastilah nyawanya akan melayang.

Namun demikian, apabila hal itu sudah dikehendaki oleh gurunya, maka yang dapat dilakukan adalah menyenangkan hati gurunya pada saat terakhir itu. Ia harus menunjukkan kepada gurunya hasil pelajaran yang diterimanya selama ini dengan sebaik- baiknya. Dengan demikian ia akan dapat membesarkan hati gurunya itu yang telah berjerih payah mendidiknya.

Mendapat pikiran yang demikian, maka tiba-tiba Bagus Handaka merasa seolah-olah telah menerima segala kekuatannya kembali. Seolah-olah badannya merasa bertambah segar dan sehat.

Tanpa mengenal ketakutan atas kematian yang bakal datang, Handaka kemudian bergerak dengan cepat seperti seorang anak-anak yang menari-nari riang menjelang ayahnya pulang dari rantau. Dengan demikian maka ia telah berbuat sebaik-baiknya untuk melawan gurunya yang sangat disegani serta dicintainya itu.

Pertempuran itu segera berjalan semakin cepat. Bagus Handaka telah berusaha untuk mengurangi tekanan Manahan dengan menyerangnya pula berkali-kali. Ia tiba-tiba saja merasa bahwa ia telah dapat melayani gurunya jauh lebih baik daripada saat-saat yang lampau. Dengan tangkasnya ia menyerang, melenting, kemudian melingkar di udara kalau kebetulan ia terlempar oleh pukulan-pukulan gurunya yang dahsyat. Ia sudah berusaha sebaik-baiknya.

Dalam keadaan yang demikian, setitik pun tak ada maksud Handaka untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Sebab adalah tidak mungkin sama sekali baginya berbuat demikian. Jadi yang dilakukan itu adalah benar-benar suatu pernyataan kebaktian seorang murid terhadap gurunya. Sebab bagaimanapun, Manahan adalah gurunya.

Manahan adalah seorang yang perkasa, yang pernah menjabat sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja. Karena itu kemampuannya pun luar biasa. Apalagi sebenarnya tenaga Bagus Handaka telah berada jauh di bawah kekuatannya, karena sebelumnya ia sudah harus bertempur mati-matian melawan seorang yang berwajah seperti hantu.

Daya perlawanan Bagus Handaka pun segera tampak surut. Dengan demikian maka serangan-serangan Manahan pun semakin banyak mengenai tubuhnya.

Meskipun demikian, Bagus Handaka sama sekali tidak mengeluh. Dengan tenaganya yang semakin lama semakin lemah itu ia tetap melawan sedapat-dapatnya.

Tetapi apa yang dapat dilakukannya adalah tidak seberapa lama. Sebuah serangan Manahan yang dahsyat datang mengarah ke lambungnya. Dengan tenaga yang masih ada padanya, Bagus Handaka mencoba menghindari serangan itu dengan memiringkan tubuhnya, tetapi ia tidak berhasil. Dengan kerasnya ia terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh terbanting. Yang dapat dilakukannya hanyalah mencoba menyelamatkan tubuhnya dengan berusaha menjatuhkan diri sebaik-baiknya. Dan apa yang diusahakan itu sebagian dapat berhasil.

Namun setelah itu, kembali seluruh tulang-tulangnya terasa telah terlepas. Tubuhnya menjadi lemas dan darahnya seolah-olah tidak mengalir lagi. Bagaimanapun ia berusaha namun ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun demikian, Bagus Handaka tetap tidak mengeluh sama sekali. Dengan dada menengadah ia menanti apapun yang bakal terjadi.

Sekilas dilihatnya langit yang biru gelap ditaburi bintang-bintang seperti jutaan lampu yang tergantung jauh sekali di udara, dengan sinarnya, yang berkedip-kedip mengelilingi bintang raksasa Bima Sakti yang melintang ke utara.

Kemudian dilihatnya gurunya, yang diakunya sebagai ayahnya setelah ayahnya yang sebenarnya pergi meninggalkannya, berjalan mendekatinya. Dan Bagus Handaka telah siap menerima apapun yang akan dilakukan oleh gurunya itu, meskipun untuk sesaat terlintas pula wajah-wajah ayahnya Gajah Sora. Ibunya, serta wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah bengis yang pernah akan membunuhnya pada saat ia ditolong oleh seorang yang menamakan dirinya Sarayuda, serta wajah keenam orang yang datang berturut-turut menyerangnya.

Dan sekarang yang berada di depannya adalah gurunya, Manahan yang sebenarnya dikenalnya dengan nama Mahesa Jenar, yang menyatakan dirinya sebagai orang yang ketujuh.

Dengan sekuat tenaga perasaannya, Bagus Handaka mencoba melenyapkan semua bayangan yang berturut-turut datang mengganggu otaknya. Dipusatkannya pikirannya untuk menghadapi apapun yang bakal terjadi, dengan tabahnya.

Dan tiba-tiba dirasanya tangan gurunya itu meraba-raba tubuhnya. Memijat-mijat tangannya dan kemudian dengan suara yang rendah berkata,

“Tidakkah kau dapat bergerak lagi Handaka?”

Dengan mata yang cerah, Bagus Handaka memandangi wajah gurunya. “Aku sudah berusaha sebaik-baiknya, Bapak.”

Kemudian tampaklah Manahan merenungi anak itu. Alisnya yang lebat bergerak-gerak karena kerut-kerut di keningnya. Seolah-olah ia sedang menghitung setiap titik di permukaan tubuh muridnya. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan menarik nafas dalam-dalam serta mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lalu terdengar ia bertanya kembali,

“Adakah dengan cara demikian kau melawan orang-orang yang menyerangmu enam malam berturut-turut?”

Bagus Handaka tidak segera mengerti maksud pertanyaan gurunya. Karena untuk beberapa saat ia tidak menjawab, terdengar kembali Manahan berkata,

“Ingat-ingatlah apa yang telah kau lakukan selama enam malam berturut-turut.” Bagus Handaka semakin tidak mengerti. Tetapi ia menjawab juga,

“Bapak, selama itu akupun telah berusaha sebaik-baiknya melawan mereka. Bahkan aku sudah mencoba untuk menangkap salah seorang diantaranya. Tetapi aku tidak berhasil.”

Sekali lagi Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Bagus Handaka menjadi bertambah bingung. Apalagi ketika kemudian dilihatkan gurunya tersenyum sambil membangunkannya. Duduklah Handaka. Dan cobalah menggerak-gerakkan tubuhmu perlahan-lahan. Dengan otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus Handaka mencoba sedapat- dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di atas pasir pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya kembali...?

Ternyata Manahan tidak berbuat demikian. Juga ternyata gurunya itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian gurunya itu duduk pula di sampingnya dan dengan wajah yang jernih berkata,

“Sudahkah kau ingat keenam orang yang menyerangmu?” Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja, “Sudah, Bapak.”

“Baik..”. sahut Manahan, “Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari kelima orang itu, sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi kau belum pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang yang menyerangmu itu.”

Untuk sesaat Bagus Handaka jadi termenung. Memang selama itu ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu. Maka dicobanya sekali lagi untuk membayangkan kembali kelima orang itu berturut-turut.

“Bagaimanakah dengan orang yang pertama?” tanya Manahan.

Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka menjawab, “Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.”

“Orang kedua?” desak Manahan.

Dengan mengingat-ingat mengerti sepenuhnya maksud pertanyaan gurunya, karena itu setelah merenung beberapa lama ia menjawab hampir berteriak, “Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.”

“Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu?” tanya Manahan pula. Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia berkata,

“Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.”

“Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda?” desak Manahan. Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba Handaka menjadi ragu. Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya malam, wajah-wajah mereka tampak berbeda-beda.

“Sayang, aku tak dapat menangkapnya,” gumam Bagus Handaka. Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya,

“Inginkah kau menangkapnya?”

“Ya,” jawab Handaka. “Aku ingin tahu kenapa mereka menyerang aku.” “Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh?” tanya Manahan pula.

Bagus Handaka menatap Manahan dengan pandangan yang aneh. Apa yang terjadi lima malam berturut-turut telah cukup memusingkan kepalanya. Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya menjadi semakin kabur dan penuh teka-teki.

Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan,

“Handaka.... Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai persamaan bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi untuk dapat menangkapnya.”

Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Tetapi orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang yang belum memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan yang besar untuk dapat menangkapnya.

Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum.

“Meskipun demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?” Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.

“Jangankan kau Handaka,” sambung Manahan, “Sedang aku pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.”

Mendengar perkataan itu Handaka terkejut bukan main, sampai ia tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan kebingungan yang memenuhi hatinya.

Handaka... kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, “Sudah sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.”

Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama, meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula. “Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa yang aku lakukan, tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan. Otakku masih cukup sehat untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sedang apa yang aku lakukan, adalah untuk meyakinkan dugaanku terhadap keenam orang yang telah menyerangmu enam malam berturut-turut. Dengan caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang yang datang berturut-turut itu.”

“Bapak...” potong Handaka dengan penuh haru, “Jadi Bapak tidak benar-benar mau membunuhku?”

Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu. Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, “Kenapa aku akan membunuhmu?”

“Bukankah Bapak sendiri berkata demikian?” jawab Handaka.

“Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu?” tanya Manahan pula.

Tidak Bapak.... Aku sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi aku hanya bermaksud untuk menunjukkan hasil pelajaran-pelajaran yang aku terima selama ini pada saat-saat terakhir.

Diam-diam Manahan memuji di dalam hati. Benar-benar anak ini berhati bersih dan setia. Karena itu Manahan menjadi semakin terharu. Namun demikian ia berusaha agar wajahnya sama sekali tidak membayangkan perasaannya.

“Handaka...” kata Manahan kemudian, “Baiklah aku beritahukan dugaanku atas semua kejadian-kejadian yang berlaku itu, supaya kau tidak terlalu lama menebak.”

Handaka menjadi sangat tertarik. Karena itu ia menggeser duduknya semakin dekat dengan gurunya.

“Handaka....” Manahan melanjutkan, “Mengucapkan syukur atas semua peristiwa yang berlaku enam malam berturut-turut. Meskipun barangkali untuk dua-tiga hari tubuhmu akan masih terasa sakit-sakit, namun setelah itu kau akan berbangga karenanya.”

“Apakah yang dapat aku banggakan Bapak?” tanya Handaka.

Manahan tersenyum, lalu jawabnya, “Aku telah mencoba untuk memancingmu dalam suatu perkelahian. Apapun alasanmu tetapi kau telah berbuat sebaik-baiknya. Sedang apa yang kau lakukan sebagian adalah bukan hasil pelajaran yang aku berikan.”

“Bapak...” potong Handaka, “Kenapa kau berbuat demikian. Aku tidak pernah belajar kepada siapapun kecuali kepada Bapak.”

Kembali Manahan tersenyum. “Meskipun andaikata unsur-unsur itu tidak kau miliki sekarang, kemudian aku pun akan memberikannya pula. Tetapi kemajuan yang kau capai selama lima hari akan sama dengan kemajuan yang akan kau capai dalam waktu berbulan-bulan apabila hal itu kau pelajari dariku, serta dalam keadaan yang biasa.”

Masih saja Handaka belum mengerti maksud gurunya. Sehingga kemudian Manahan berkata pula,

“Handaka..., menurut dugaanku orang yang datang enam malam berturut-turut itu adalah orang yang sama.”

“Orang yang sama?” tanya Handaka keheran-heranan.

“Ya,” jawab Manahan. Orang itu hanya mengubah mukanya sedikit dengan menggores- goreskan warna-warna hitam dan kadang-kadang memasang kumis dan janggut palsu.

“Tetapi tingkat kepandaiannya sama sekali tidak sama, Bapak,” potong Handaka. Sekali lagi Manahan tersenyum.

“Itulah sebabnya kepandaianmu meningkat dengan wajar, meskipun waktunya dipercepat. Dan ketahuilah bahwa yang dapat berbuat demikian hanyalah orang-orang sakti yang berilmu mumpuni.”

Handaka menjadi termenung karenanya.

“Jadi apakah maksudnya menyerangku...? Dan kenapa dikatakannya bahwa orang-orang itu akan menangkap aku untuk sebuah pertunjukan pembunuhan...?” tanya Handaka.

“Satu-satunya cara untuk memaksamu bekerja sekeras-kerasnya adalah menakut- nakutimu dengan cara demikian,” jawab Manahan.

Bagus Handaka menarik nafas dalam-dalam. Mengertilah ia sekarang bahwa orang yang datang setiap malam itu sama sekali tidak akan membunuhnya seperti gurunya itu pula.

“Adakah Bapak mengenal orang yang datang setiap malam itu?” tanya Handaka kemudian.

Manahan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu. Meskipun aku telah berusaha mengenal gerak-geraknya sebaik-baiknya namun aku tetap tidak dapat mengatakan siapakah dia. Apalagi apa yang diberikan kepadamu selama ini ternyata adalah urut-urutan pelajaran dari ilmuku sendiri yang akan aku berikan pula kepadamu.”

Sekarang semuanya menjadi agak jelas bagi Handaka. Ternyata orang itu datang kepadanya dengan maksud baik. Menuntunnya untuk berlatih lebih keras. Dan tahulah ia sekarang kenapa pada malam-malam pertama, kedua dan ketiga orang itu seolah-olah hanya memiliki unsur-unsur gerak yang itu-itu saja, sehingga dengan demikian ia berhasil menguasai unsur-unsur itu, serta kemudian pada malam-malam berikutnya tanpa disengajanya unsur-unsur itu terselip pada gerak-gerak perlawanannya, sedang lawan- lawannya dapat memberikan perlawanan sebaik-baiknya dan diulang-ulangnya pula.

Karena itu, dadanya jadi bergelora. Apalagi ketika gurunya berkata,

“Handaka... orang yang datang berturut-turut itu pastilah seorang yang sakti, jauh lebih sakti dari gurumu ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak berusaha untuk menangkapnya, sebab hal itu pasti akan sia-sia. Hal itu juga ternyata pula, bahwa orang itu dapat mengetahui bahwa aku berada di sekitar ini meskipun aku telah bersembunyi sebaik-baiknya.”

Handaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa seorang yang sakti, bahkan lebih sakti dari gurunya, datang kepadanya dengan cara-cara yang aneh.

“Jadi Bapak diketahuinya sebelum Bapak menampakkan diri?” Tidak hanya itu saja Handaka... Manahan meneruskan, “Sedang aku pun telah menerima nasihatnya pula.”

“Nasihat untuk Bapak?” tanya Handaka terkejut. Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bukankah orang itu berkata kepadaku bahwa pertanian bukanlah daerah pelarian. Bukan daerah tempat orang-orang yang berputus asa apabila kewajibannya sendiri sudah tak dapat ditunaikan...?”

Handaka memandang Manahan dengan mata yang bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Sampai Manahan melanjutkan,

“Handaka..., barangkali kau sama sekali tak dapat menghubungkan perkataan-perkataan itu dengan keadaan kita. Tetapi ketahuilah bahwa ada sesuatu hal yang selama ini belum pernah aku katakan kepadamu, sebab kau masih aku anggap terlalu kanak-kanak. Sekarang, aku kira kau telah cukup dewasa untuk mengetahui lebih banyak hal tentang keadaan kita. Keadaan serta kewajiban-kewajibanku dan keadaan serta kewajiban- kewajibanmu.”

Bagus Handaka mendengarkan setiap kata gurunya dengan saksama. Sakit-sakitnya di seluruh tubuhnya sudah tidak dirasakannya lagi. Sementara itu angin malam bertiup lemah, dan bintang-bintang di langit telah mengubah susunannya. bintang Waluku telah jauh condong di barat, sedang bintang Bima Sakti telah mulai mengabur pada kedua ujungnya, jauh di selatan dan utara.

Bagus Handaka   Manahan meneruskan perlahan-lahan.

Sebenarnya saat ini aku sedang mengemban suatu tugas yang berat. Tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sekarang, karena kau telah cukup dewasa, ternyata seorang sakti yang tak dikenal telah berkenan langsung mengajarmu, maka baiklah aku berterus-terang pula. Saat ini aku sedang berusaha untuk mencari dua pusaka Istana yang hilang, berwujud keris yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Handaka mendengarkan ceritera gurunya sampai tidak sempat berkedip. Sedang Manahan kemudian berceritera tentang kedua keris yang pernah diketemukannya bersama ayahnya, Gajah Sora. Tetapi keris itu kemudian hilang kembali. Dan karena itu pula maka ayahnya terpaksa menghadap Sultan Demak untuk mempertanggungjawabkan hilangnya kedua pusaka itu.

Sepeninggal Gajah Sora, Banyubiru kemudian ditimpa oleh banyak malapetaka dan Bagus Handaka sendiri hidupnya selalu terancam bahaya.

“Untunglah bahwa Paman Lembu Sora segera bertindak,” desis Bagus Handaka, Dengan demikian pasti Ibu serta Banyubiru dapat diselamatkan.

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu Manahan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata dengan suara sayu,

“Kau keliru Handaka.” “Keliru?” sela Handaka terkejut.

Ya, kau keliru. Manahan menjelaskan,

“Sayang bahwa pamanmu sama sekali tidak berbuat demikian. Meskipun apa yang dikatakan kepada semua warga Banyubiru, pamanmu telah berusaha menyelamatkan ibumu serta daerah perdikan itu, namun nyatanya tidaklah demikian. Sebab pamanmulah sebenarnya sumber keributan itu.”

Handaka menjadi semakin tidak mengerti. Ia melihat sendiri ketika itu pamannya telah membantu ayahnya menghalau gerombolan yang menyerang Banyubiru. Bahkan kemudian ibunya telah memerintahkan Sawungrana untuk meminta bantuan pamannya pula ketika kemudian timbul hura-hara.

“Handaka...” sambung Manahan, “Ketahuilah, pamanmulah yang berusaha untuk menyingkirkan ayahmu. Karena pamanmu ingin menguasai seluruh daerah perdikan Pangrantunan Lama. Karena itu ia telah berusaha untuk menyingkirkan kau pula, yang pasti akan menjadi penghalang usahanya itu.” Mendengar kata-kata terakhir itu, menggigillah tubuh Bagus Handaka karena kemarahan yang mencengkam perasaannya. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa apa yang terjadi adalah kebalikan dari dugaannya.

“Benarkah apa yang Bapak katakan...?” Handaka bertanya untuk mendapat suatu kepastian.

“Aku telah berkata sebenarnya,” jawab Manahan.

“Tetapi kenapa Bapak baru mengatakan itu kepadaku sekarang?”

“Aku menganggap bahwa sebelum ini, kau belum cukup dewasa, Handaka,” jawab Manahan pula.

Tetapi agaknya Handaka tidak puas mendengar keterangan itu, maka ia mendesak, “Dan kenapa pada saat itu Bapak tidak berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan itu?”

Manahan membenarkan letak duduknya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pergolakan perasaan muridnya.

Dengan sabar Manahan menjelaskan,

“Handaka   , waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat menunjukkan

bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Juga karena kelicinan pamanmu, di hadapan ayahmu aku pernah hampir-hampir dibinasakan oleh Laskar Banyubiru sendiri, karena mereka curiga kepadaku tentang hilangnya kedua keris itu. Untunglah bahwa ayahmu sempat mencegahnya. Kemudian aku tidak yakin bahwa kecurigaan para pimpinan Laskar Banyubiru itu kepadaku telah lenyap dari hati mereka seluruhnya atau baru sebagian saja dari antara mereka.”

Mendengar penjelasan gurunya, Bagus Handaka semakin terbakar hatinya. Matanya kemudian menjadi merah menyalakan kemarahannya. Giginya terdengar gemeretak serta denyut jantungnya bertambah cepat. Dan tiba-tiba saja lenyaplah segala perasaan sakit dan nyeri. Meskipun masih agak tertatih-tatih ia bangkit berdiri serta dengan suara lantang ia berkata,

“Bapak , apapun yang terjadi atasku, aku tidak ambil pusing. Besok pada saat matahari

terbit aku minta ijin Bapak untuk kembali ke Banyubiru. Aku atau Paman Lembu Sora yang akan binasa tidaklah menjadi soal. Tetapi aku harus menuntut balas.”

“Handaka..”. kata Manahan masih setenang tadi, “Duduklah.”

Handaka dengan tidak sabar memandangi Manahan yang masih saja duduk di pasir pantai. “Tidakkah sekarang sudah saatnya Bapak...?” Kita harus bertindak tegas.

“Duduklah Handaka....” Meskipun Manahan berkata perlahan-lahan, namun nadanya penuh dengan tekanan, sehingga Handaka tidak dapat berbuat lain, kecuali duduk kembali di sisi gurunya.

“Handaka...” sambung Manahan, “Aku dapat mengerti sepenuhnya perasaan yang bergelora di dalam dadamu. Tetapi jangan membiasakan diri bertindak tergesa-gesa. Membunuh pamanmu Lembu Sora barangkali tidaklah terlalu sulit, meskipun bagaimana saktinya. Tetapi akibat dari perbuatan itu sudahkah menjadi perhatianmu? Setidak- tidaknya pasti akan timbul permusuhan antara Pamingit dan Banyubiru. Kalau benar demikian, maka diantara kedua daerah perdikan itu pasti akan ditelan oleh masa depan yang suram.”

Setelah diam sejenak, Manahan melanjutkan, “Dalam kekalutan itu akan hadirlah kekuatan-kekuatan dari pihak lain yang akan menelan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Sebab dalam hal ini golongan hitam pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian dapatlah dipastikan bahwa di atas mayat-mayat laskar Pamingit dan Banyubiru akan berkibar bendera-bendera mereka, bendera yang bergambarkan harimau hitam, sepasang uling yang berlilitan, kelelawar raksasa berkepala serigala, ular laut yang ganas. Setelah itu lenyaplah sudah nama daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Lenyap pulalah hasil jerih payah eyangmu Sora Dipayana yang dengan memeras keringat dan darah membangun kedua daerah perdikan itu. Lenyap pulalah nama kebesaran keluarga Sora yang selama ini disegani oleh daerah-daerah lain, bahkan sampai ke Istana Demak. Yang ada kemudian tinggalah nama-nama Sima Rodra, Uling Rawa Pening, Lawa Ijo, dan Jaka Soka.”

Bagus Handaka adalah seorang anak yang cerdik. Karena itu segera ia dapat menangkap maksud gurunya. Namun meskipun demikian amat sulitlah baginya untuk mengendalikan perasaannya.

Maka bertanyalah ia, “Bapak, kalau demikian apakah kita biarkan saja Paman Lembu Sora tidak terhukum atas kesalahannya itu?”

“Itu pasti Handaka,” jawab Manahan.

“Siapa yang bersalah harus dihukum. Tetapi kita harus menjaga agar kita dapat menarik garis antara pamanmu Lembu Sora dan orang-orangnya yang sama sekali tidak tahu- menahu, sehingga dengan demikian pertumpahan darah yang luas dapat terhindar. Itu adalah tugasmu Handaka, meyakinkan orang-orang Pamingit dan Banyubiru, bahwa pamanmu telah berbuat suatu dosa yang harus dipertanggungjawabkan.”

Bagus Handaka menjadi tertegun diam. Perkataan Manahan itu seolah-olah satu demi satu menyusup ke dalam dadanya serta mendinginkan hatinya. Sadarlah bahwa pekerjaan yang dihadapinya bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi harus ditempuhnya dengan penuh kebijaksanaan. “Lalu apakah yang harus aku lakukan Bapak?” tanya Handaka kemudian.

Untuk beberapa saat Manahan tidak menjawab. Ia sendiri masih belum tahu dengan pasti, apa yang akan dilakukannya. Namun demikian ia kemudian menjawab, “Handaka, kita harus meninggalkan pedukuhan ini. Aku harus tetap berusaha mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Disamping itu ada baiknya kalau kita mencari berita tentang Banyubiru dan perkembangannya setelah kau tinggalkan. Kemudian baru kau menentukan cara untuk memecahkan masalahnya. Meskipun kau sebenarnya belum dewasa penuh, namun aku kira kau telah cukup untuk memulai pekerjaan yang besar itu, dengan kehati-hatian dan yang mungkin memerlukan waktu tidak sehari dua hari, tetapi setahun dua tahun, bahkan mungkin lebih dari itu.”

Bagus Handaka memperhatikan setiap kata gurunya yang menambah keyakinannya bahwa pekerjaan yang betapapun beratnya itu pasti akan dapat diselesaikan. Namun ia sadar bahwa jalan yang akan ditempuhnya bukanlah jalan yang lurus dan licin, tetapi pasti akan penuh dengan rintangan dan bahaya.

Namun ia sadar pula bahwa apa yang dilakukannya nanti seharusnya tidak menyingkir dari bahaya-bahaya itu, tetapi ia harus berani menghadapi serta mengatasinya.

Kemudian untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan serta gambaran-gambaran masa yang akan datang. Masa yang pasti akan penuh dengan perjuangan.

“Bagus Handaka ”

Kemudian terdengar Manahan memulai, “Marilah kita pulang. Sejak besok kita harus sudah berkemas-kemas. Kita tinggal menunggu padi yang sudah menguning. Setelah itu baiklah kita melanjutkan perantauan kita untuk menemukan kedua pusaka itu, beserta mempersiapkan diri untuk mendapatkan kembali tanah pusaka yang kau tinggalkan. Sekarang bekalmu telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu.”

Bagaimanapun Bagus Handaka masih belum begitu yakin kepada kata-kata gurunya. Benarkah ilmunya sudah sedemikian menanjak sehingga gurunya merasa bahwa bekalnya telah cukup banyak? Karena itu bertanyalah ia meyakinkan, “Bapak, benarkah ilmuku telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu ?”

Mendengar pertanyaan muridnya, Manahan tersenyum. “Bagus Handaka..., aku telah mengujimu. Dalam keadaan payah dan luka-luka kau mampu melawan aku sampai beberapa lama. Hal itu tidak akan dapat kau lakukan lima atau enam hari yang lalu. Bahkan aku telah mencoba untuk menyerangmu dengan bersungguh-sungguh walaupun masih dalam batas-batas tertentu. Tetapi kau nyata-nyata telah bertambah jauh. Karena itu maka yang akan aku berikan kepadamu seterusnya tinggallah tingkat yang tertinggi.” Oleh keterangan-keterangan itu, diam-diam Bagus Handaka jadi berbangga.

Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak dikenalnya, namun tak sepatah kata pun yang meluncur keluar.

Kemudian berjalanlah mereka berdua perlahan-lahan sepanjang pantai menuju ke pondoknya. Di sepanjang jalan hampir tak ada kata-kata yang mereka ucapkan.

Apalagi Bagus Handaka, yang sedang merenungi dirinya sendiri. Dicobanya mengingat- ingat kembali segala peristiwa yang pernah dialaminya dengan lebih saksama. Dicobanya mengingat-ingat setiap gerak yang pernah dilakukan dan yang pernah disaksikan. Akhirnya ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa memang banyak unsur-unsur yang tanpa sesadarnya telah dimiliki dan bahkan telah dikuasainya dengan baik.

Maka, sejak matahari terbit di pagi harinya,

“Handaka mulai berkemas-kemas. Sesuai dengan perintah gurunya, apabila padi telah dituai, maka mereka segera akan meninggalkan pedukuhan Tegal Arang, untuk meneruskan perjalanan ke tempat yang tak ditentukan.”

Namun sesuai dengan harapan gurunya untuk mengetahui perkembangan Banyubiru, maka mereka pasti akan mendekati tempat itu, dengan harapan bahwa mereka sudah tidak akan dikenal lagi setelah hampir tiga tahun meninggalkan tempat itu. Bila perlu, mereka akan mempergunakan penyamaran.

Demikianlah, tidak sampai dua pekan, padi telah masak.

Tetapi demikian orang pergi menuai, demikian Manahan dan Bagus Handaka mulai minta diri kepada tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di pedukuhan itu.

Tentu saja, hal itu sangat mengejutkan mereka, yang mengira bahwa Manahan dan anaknya akan tetap tinggal bersama mereka sampai hari tuanya.

“He..., kau mau kemana lagi Manahan?” tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh pendek, kasar dan berambut tegak.

“Kami telah menerima kau dengan baik, tetapi kau agaknya tidak betah tinggal di pantai.”

Meskipun kata-kata itu diucapkan dalam nada yang kasar seperti tubuhnya, namun sebenarnya itu adalah suatu pernyataan yang jujur dari rasa persahabatannya.

“Maafkan Kakang,” jawab Manahan. “Aku terpaksa meninggalkan kalian karena aku masih mempunyai pekerjaan yang lain.” “Apa yang harus kau kerjakan?” tanya yang lain, seorang nelayan yang kurus dan berkumis tipis.

“Aku masih harus mencari bapakku,” jawab Manahan berbohong.

Orang yang kurus dan berkumis tipis itu mengerutkan keningnya, lalu sambungnya, “Kemana bapakmu pergi...?”

Manahan menggeleng-gelengkan kepala.

“Itu yang aku tidak tahu. Karena itu aku harus mengelilingi seluruh pulau untuk menemukannya.”

Hampir semua orang yang mendengar, mengerutkan dahinya. Mereka merasa aneh bahwa seseorang sampai kehilangan bapaknya. Tetapi meskipun demikian ternyata mereka tidak berhasil mencegah. Manahan serta Bagus Handaka pergi meninggalkan mereka. Banyak pula kawan-kawan Handaka yang menjadi kecewa karena kepergiannya.

Maka dengan rendah hati Manahan menyerahkan seluruh hasil panennya kepada para tetangganya, dan dengan hati yang agak berat pula, setelah bergaul hampir tiga tahun dengan para nelayan yang kasar namun berhati bersih, ia terpaksa meninggalkan mereka. Suatu hal yang terpaksa berulang kali dialaminya. Menetap di suatu tempat dan kemudian meninggalkannya, dan kembali ia harus berjalan menyusur jalan-jalan pedukuhan, hutan dan lereng-lereng gunung serta lembah-lembah yang hijau padat.

Tetapi kali ini Manahan tidak membawa muridnya menyembunyikan diri, tetapi bahkan sebaliknya. Mereka berusaha mendekati Banyubiru untuk mengambil ancang-ancang atas perjuangan yang bakal dilakukan. Mereka harus lebih dahulu mengetahui seluk-beluk daerah itu dan mengetahui tanggapan rakyatnya terhadap pimpinan daerah yang sebenarnya tidak berhak sama sekali itu.

Dengan Kyai Bancak, tanda kebesaran Banyubiru yang berwujud sebuah ujung tombak, di pinggangnya, setelah dilepas dari tangkainya, Bagus Handaka berjalan dengan tegapnya menuju ke arah selatan. Manahan yang berjalan di belakangnya memandangi anak itu dengan bangga. Ia mengharap agar Bagus Handaka benar-benar dapat menjadi seorang anak yang kuat dan berhati mulia seperti harapan ayahnya.

Tetapi dengan demikian Manahan jadi teringat kepada Gajah Sora. Apakah kira-kira yang terjadi atasnya? Namun ia percaya bahwa Gajah Alit dan Paningron dapat membantu kesulitannya. Setidak-tidaknya memperingan tuduhan yang ditimpakan atasnya.

Perjalanan Manahan dan Handaka kemudian sampai pada daerah hutan dan kemudian mereka harus menyusur kaki gunung Slamet, membelok kearah timur. Demikianlah dari hari ke hari mereka selalu berjalan tanpa henti-hentinya. Ternyata kekuatan jasmaniah Bagus Handaka cukup memuaskan. Ia sama sekali tetap segar dan lincah. Disamping itu selama perjalanan mereka, masih sempat juga Manahan memberikan tambahan pengetahuan kepada muridnya. Dan bahkan karena kecerdasan Bagus Handaka, maka dapatlah ia menemukan unsur-unsur gerak yang bagus, yang ditirunya dari gerak-gerak binatang buas.

Dengan tuntunan gurunya, Bagus Handaka yang hampir menghabiskan waktunya selama perjalanan itu dengan memperhatikan gerak-gerik kera-kera yang berloncatan dari dahan ke dahan, maka kemudian ia berhasil menirukan beberapa bagian, yang dapat dileburnya ke dalam unsur-unsur gerak yang telah dimilikinya.

Handaka juga senang sekali memperhatikan perkelahian antar binatang. Dari binatang yang paling buas sampai binatang yang paling lemah. Diperhatikannya pula, bagaimana seekor kancil berhasil melepaskan diri dari terkaman serigala-serigala yang buas, dan bagaimana seekor banteng dengan tangguhnya menanti serangan seekor harimau dan kemudian dengan tanduk-tanduknya yang tajam membinasakannya.

Dengan demikian Bagus Handaka mendapatkan berbagai macam pengetahuan dari alam. Manahan sendiri sebenarnya kagum atas ketangkasan otak muridnya, maka ia menjadi semakin bangga bahwa tidak sia-sialah ia menuntun anak itu.

Karena itu, Manahan selalu memberinya petunjuk-petunjuk atas kemungkinan kemungkinan yang dapat dimanfaatkan dari setiap gerak yang dilihatnya. Kecuali gerak- gerak binatang, juga gerak-gerak dari benda-benda yang lain, seperti angin pusaran, air bah dan bahkan kelincahan gerak nyala api.

DI sepanjang perjalanan itu, tidak sedikitlah pengetahuan yang ditangkap oleh Handaka. Dan karena itu pula ia sama sekali tidak merasakan suatu kejemuan atau keletihan selama ia bersama-sama dengan gurunya menyusuri jalan-jalan hutan yang lebat dan sulit. 

Setelah meninggalkan lembah kaki gunung Slamet, mereka mulai dengan perjalanan yang tidak kalah sulitnya. Mereka menyusur tebing pegunungan Prau, setelah melampaui beberapa pedukuhan yang tak berarti.

Tetapi meskipun mereka sama sekali tidak mengenal letih, namun kadang-kadang mereka terpaksa berhenti pula untuk beberapa lama di suatu tempat. Kadang-kadang sampai satu dua bulan, kadang-kadang malahan lebih. Setelah itu kembali mereka meneruskan perjalanan mereka sambil berbuat bermacam-macam kebajikan.

Di tempat-tempat yang pernah dilewati oleh mereka itu, banyaklah hal-hal yang ditinggalkannya. Pemberitahuan tentang banyak hal. Tentang pertanian dan sebagainya.

Karena itu mereka selalu meninggalkan kesan yang baik, sehingga nama Manahan dan Bagus Handaka menjadi banyak dikenal orang. Pada suatu kali mereka memasuki sebuah pedukuhan yang sepi di ujung hutan. Penduduknya yang menamakan pedukuhannya itu Gedangan, terdiri dari petani-petani yang menggarap sawah dengan cara yang sederhana sekali. Mereka masih belum begitu menaruh perhatian kepada saluran-saluran air. Untunglah bahwa tanah mereka adalah tanah yang subur, sehingga meskipun dengan cara-cara yang sangat sederhana, hasil pertanian mereka dapat mencukupi kebutuhan.

Berbeda dengan pengalaman-pengalaman mereka, Manahan dan Bagus Handaka ketika memasuki pedukuhan itu, mengalami penerimaan yang aneh. Hampir setiap mata memandang mereka dengan penuh kecurigaan. Manahan dan Handaka merasakan keasingan penerimaan itu. Karena itu mereka bersikap hati-hati dan berusaha untuk tidak menyinggung perasaan mereka.

Kepada salah seorang dari para petani yang sedang berdiri di pematang, Manahan bertanya dengan hormatnya,

“Kakang, apakah aku diperkenankan untuk memasuki pedukuhan ini?”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi sekali dua kali ia melemparkan pandangannya kepada beberapa orang yang bertebaran menggarap sawah di sekitarnya.

Baru setelah beberapa saat ia menjawab, “Siapakah kau berdua?” “Aku bernama Manahan dan ia anakku, Handaka,” jawab Manahan.

Mendengar nama itu, orang itu mengernyitkan alisnya. Agaknya nama itu asing baginya. Kemudian terdengar ia berkata,

“Entahlah aku tak tahu. Berkatalah kepada lurah kami.”

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bertanya pula, “Di manakah Bapak Lurah itu?”

“Maksudku, di mana rumahnya?” sambung Manahan.

Kembali orang itu ragu-ragu dan kembali ia menebarkan pandangannya kepada orang- orang yang sedang menggarap sawah di sekitarnya. Tiba-tiba ia menunjuk pada salah seorang daripadanya sambil berkata,” Bertanyalah kepada orang itu.”

Manahan menoleh menurut arah tangan orang itu. Dilihatnya di sudut desa berdiri seorang yang bertubuh pendek kokoh dengan urat-urat yang menonjol. Namun matanya membayangkan kejernihan hatinya.