Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 18

 
Jilid 18

Mahesa Jenar yang sedang diliputi oleh berpuluh ribu masalah itu hampir tak mendengar suara Arya. Ia masih saja berjalan cepat tanpa menoleh.

Mendengar Arya berteriak-teriak, Mahesa Jenar berhenti menoleh. Tetapi, Arya yang biasanya mendapat perhatian sepenuhnya dari Mahesa Jenar, kini rasa-rasanya sangat menjengkelkan sekali. Dengan keras pula Mahesa Jenar berteriak,

“Arya..., tidakkah kau dapat berjalan lebih cepat?” “Aku lelah sekali Paman,” jawab Arya.

“Baru beberapa langkah kau berjalan. Ayo belajarlah menjadi seorang laki-laki. Apakah kau, yang sudah sebesar itu masih harus selalu dimanjakan...? Didukung sampai punggungku patah?” teriak Mahesa Jenar dengan kasarnya.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya terkejut bercampur heran. Ia belum pernah melihat Mahesa Jenar bertindak sekasar itu terhadapnya. Padahal ia sama sekali tidak merasa berbuat suatu kesalahan. Ia ingat jelas bahwa pamannya kemarin berkata kepadanya agar ia tidur saja, pamannya akan pergi berburu. Kemudian ketika ia terbangun, ia sedang didukung oleh pamannya sambil berlari-lari. Dan sekarang tiba-tiba saja pamannya marah kepadanya.

Sedang Arya kebingungan, terdengar kembali suara Mahesa Jenar, “Arya..., tidakkah kau mau berjalan?”

Arya tersentak, cepat ia melangkah menyusul. Namun di hatinya terasa ada sesuatu yang mengeram. Dan tiba-tiba saja terasa tenggorokannya tersumbat. Alangkah asingnya sikap pamannya. Sikap yang belum pernah dirasakannya selama ia bertemu dengannya. Apalagi sejak ayahnya meninggalkan Banyubiru, dan sejak beberapa orang selalu mengejar-ngejarnya dan akan membunuhnya. Pamannya selama itu selalu melindunginya dengan saksama. Tetapi sekarang sikap Paman Mahesa Jenar itu tiba-tiba berubah. Maka tanpa dirasanya matanya jadi membasah.

Dengan susah payah Arya berusaha untuk mencegah air mata yang hampir pecah. Namun akhirnya Arya Salaka tidak tahan lagi. Apalagi ketika didengarnya Mahesa Jenar membentaknya,

“Arya, kau anak laki-laki yang sudah sebesar itu masih juga menangis? Ayo, berlarilah kalau kau masih mau beserta aku. Kalau tidak, terserahlah kepadamu.”

Setelah berkata demikian, Mahes Jenar melangkah melanjutkan perjalanannya. Meskipun kemudian terdengar suara Arya memanggil-manggilnya, “Paman..., Paman...!” Tiba-tiba saja langkah Mahesa Jenar terhenti. Dilihatnya di pinggir jalan sempit di tepi hutan itu seseorang berdiri seperti menantinya. Ketika Mahesa Jenar berhenti, tampaklah orang itu melambaikan tangannya memanggil. Hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar, apalagi kemudian ketika dikenalnya orang itu adalah Ki Ageng Pandan Alas. Kakek dan guru Rara Wilis, yang telah memecahkan hatinya.

Tetapi ketika Mahesa Jenar sadar bahwa ia tidak dapat bermain-main dengan orang tua itu, maka dengan langkah yang berat ia pergi mendekatinya.

“Mahesa Jenar...” kata orang tua itu setelah Mahesa Jenar berdiri di hadapannya, Aku “menangkap suatu sikap yang aneh padamu.”

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya tanpa menjawab.

“Kenapa kau pergi tanpa pamit kepadaku?” lanjut Ki Ageng Pandan Alas. Juga kali ini Mahesa Jenar tidak menjawab.

Terdengarlah orang tua itu tertawa lirih, namun wajahnya tidak secerah biasanya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Tetapi ketika pandangannya membentur mata orang tua itu, kembali ia menundukkan mukanya. Dengan suara yang berat ia menjawab,

“Ki Ageng..., aku adalah orang yang tak berarti, yang tidak sepantasnya tinggal bersama- sama dengan Ki Ageng, Adi Pudak Wangi dan Demang Sarayuda yang kaya raya.”

Sekali lagi Ki Ageng Pandan Alas tersenyum.

“Mahesa Jenar..., aku telah mendengar seluruhnya percakapanmu dengan Rara Wilis di padang perburuan.”

”Aku juga melihat bagaimana kau menyaksikan Rara Wilis berkelahi melawan dua orang yang kemudian kau bunuh dengan lemparan batu. Tetapi seterusnya, menurut gagapanku, kau menjadi tersinggung karenanya. Maka segera aku menyusulmu untuk mendapat penjelasan. Tetapi mendengar kata-katamu tadi, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau merasa disisihkan, karena kau bukan seorang yang kaya seperti Sarayuda,” kata Ki Pandan Alas.

Mahesa Jenar mengangguk perlahan-lahan.

“Ki Ageng..., bukankah Ki Ageng mendengar sendiri, bagaimana Rara Wilis menanyakan kepadaku? Kenapa aku tidak menjabat kedudukanku kembali? Bukankah itu sudah jelas, bahwa Rara Wilis sama sekali tidak senang melihat seseorang yang merantau memperjuangkan keyakinannya?” “Bukan tidak senang, Mahesa Jenar...” jawab Ki Ageng Pandan Alas.

“Tetapi sebagai seorang gadis, pastilah ia berangan-angan. Angan-angan itu akan dapat dipenuhi oleh Ki Demang Sarayuda, yang memiliki tanah, ternak dan pangkat. Apalagi ia adalah seorang yang sakti pula, yang akan dapat melindungi keselamatan Rara Wilis,” sela Mahesa Jenar.

Mendengar kata Mahesa Jenar itu, wajah Ki Ageng Pandan Alas nampak berkerut. Alisnya bergerak-gerak, sedang matanya memancarkan perasaannya yang kecewa.

“Mahesa Jenar...,” meskipun Sarayuda itu muridku, “namun aku melihat beberapa kelebihan ada padamu. Tetapi ternyata bahwa kau juga mempunyai kekurangan yang besar. Hatimu keras seperti baja, tetapi getas seperti baja pula. Kalau demikian... baiklah, aku akan berusaha untuk membentuk Sarayuda lebih lanjut, untuk melenyapkan kekurangan-kekurangannya agar dapat menyamaimu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, dalam sekejap saja Ki Ageng Pandan Alas telah melangkah jauh. Ketika Mahesa Jenar akan menjawab, orang tua itu telah hilang masuk ke dalam hutan.

Maka, tiba-tiba timbullah penyesalan di hati Mahesa Jenar. Mungkin ia sudah menyakitkan hati orang tua itu. Sehingga dengan demikian kemungkinan untuk dapat kembali kepada Rara Wilis menjadi semakin tipis. Karena itu tiba-tiba menggeloralah kembali kejengkelan di dalam dadanya. Dunia ini menjadi seolah-olah gelap dan tanpa masa depan. Hidupnya menjadi tak berarti sama sekali. Kalau demikian buat apa ia mesti berjuang untuk masa depan. Masa yang akan dipenuhi oleh kepahitan hidup...?

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Ki Paniling yang sebenarnya bernama Radite, yang menjauhkan diri dari pergaulan ramai. Yang kemudian lebih senang hidup diantara para petani miskin tanpa berpikir tentang masa depan. Tentang negara, tentang bangsa.

Oo..., adakah demikian balas jasa yang diterimanya atas perjuangan yang dilakukan selama ini? Kalau demikian maka alangkah tenteramnya hidup Paniling.

“Paman...” tiba-tiba terdengar suara Arya dekat di belakang Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar suara itu. Tetapi ketika ia menoleh dan nampak wajah Arya yang kuyu, kembali terungkitlah kejengkelannya. Anak itu adalah isi dari masa depan yang gelap, yang pahit, yang akan menyiksanya. Buat apa ia harus ikut serta membinanya. Anak itu bukanlah anaknya. Biarlah Gajah Sora sendiri bertanggung jawab atasnya. Kalau kelak ia marah kepadanya, biarlah Gajah Sora mencoba mengukur lebar dadanya.

Karena pengaruh pikirannya yang kelam itu berteriaklah Mahesa Jenar membentak, “Pergi..., pergi kau kelinci cengeng. Buat apa kau ikuti aku?” Mendengar suara kasar itu, dada Arya Salaka rasa-rasanya seperti tersambar petir, sehingga tubuhnya menggigil ketakutan. Belum lagi ia dapat bersuara, Mahesa Jenar telah melompat berlari. Berlari kencang-kencang seperti orang yang kehilangan ingatan. Meskipun kemudian terdengar jerit Arya Salaka,

“Paman..., Paman...” namun suara itu semakin lama semakin jauh semakin jauh di belakangnya.

Suara Arya Salaka itu akhirnya lenyap menghantam batas-batas hutan. Sedang Mahesa Jenar masih saja berlari menyusup semak-semak seperti orang gila. Dengan napas yang terengah-engah, ia mendaki bukit kecil sambil masih terus berlari, menjauhi manusia. Ia akan pergi ke suatu tempat dimana hidupnya tak tersentuh oleh apapun.

Di puncak sebuah bukit, atau di pusat hutan yang lebat, ia akan bertapa. Menghadapkan hidupnya melulu buat masa langgeng. Akan ditinggalkannya dunia yang penuh dengan bayangan dan angan-angan seperti mimpi yang nikmat, tetapi kemudian yang membantingnya ke dalam jurang kekecewaan yang maha dalam.

Tetapi, tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat sebuah bayangan menghadang perjalanannya di tempat yang temaram oleh bayangan pepohonan. Karena itu segera ia memperlambat langkahnya. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika dari kejauhan dilihatnya bayangan itu mengenakan jubah abu-abu.

“Pasingsingan...” desisnya. Hatinya kemudian agak gelisah. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum sendiri.

“Bagus,” desisnya. “Kalau Pasingsingan mau membunuh aku pula, aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya.”

Mendapat pikiran itu, kembali Mahesa Jenar berlari, ke arah orang yang berjubah abu- abu yang disangkanya Pasingsingan itu. Tetapi kembali ia terkejut bukan kepalang, ketika ternyata orang yang berjubah abu-abu itu tidak mengenakan topeng kasar seperti yang biasa dipergunakan oleh Pasingsingan.

Apalagi ketika Mahesa Jenar sempat memandang wajah orang itu. Kurus dan janggutnya yang sudah putih tumbuh lebat pepat, menutup sebagian dari mukanya, sedang rambutnya yang sudah putih dibiarkannya terurai menjuntai dari bawah ikat kepalanya. Menilik garis-garis umur yang tergores di keningnya, nyatalah bahwa umur orang itu sudah sangat tua, namun tubuhnya masih nampak segar dan kuat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang telah mengambil keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten di Banyubiru. Orang itu berpakaian mirip dengan jubah Pasingsingan, namun bukan Pasingsingan. Sedang rambutnya yang putih itu, dapat saja pada waktu ia mengambil keris di Banyubiru digelungnya di bawah ikat kepalanya. Adapun wajahnya, tak seorangpun yang mengetahuinya. Karena itu tiba-tiba timbul dugaannya bahwa orang inilah yang telah mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Maka dengan tiba-tiba pula Mahesa Jenar berteriak,

“He Kyai..., adakah kau yang mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten?”

Orang itu sama sekali tidak menjawab dan tidak bergerak. Hanya matanya saja yang tajam bersinar memandang ke arah Mahesa Jenar tanpa berkedip.

Karena pandangan mata itu, hati Mahesa Jenar jadi gelisah. Seolah-olah ada suatu pengaruh yang aneh pada dirinya. Maka untuk mengatasi kegelisahannya, kembali ia berteriak,

“He, siapakah kau, yang telah berani mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyu Biru...?”

Orang itu masih belum menjawab. Tetapi pandangan matanya semakin dalam menembus dada Mahesa Jenar yang menjadi semakin gelisah. Dan seperti orang yang bingung, Mahesa Jenar membentak-bentak,

“Kau yang mengambil, he..? Ayo bilang, tak usah kau ingkari. Kalau demikian, kembalikan keris itu kepadaku. Kembalikan...!”

Karena orang itu masih saja tidak menjawab, perasaan Mahesa Jenar menjadi semakin melonjak-lonjak. Timbullah suatu perasaan kecut dan ngeri di dalam dirinya. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya itu memancarkan suatu perbawa yang aneh. Sehingga kemudian Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan kecemasannya, bercampur-baur dengan perasaan bingung dan pepat.

Mahesa Jenar mundur beberapa langkah, disilangkan satu tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi. Sambil memusatkan segala tenaganya, Mahesa Jenar mengangkat satu kakinya dan ditekuknya ke depan. Sambil berteriak nyaring Mahesa Jenar meloncat maju,

“Kembalikan keris-keris itu atau kau binasa.”

Setelah itu, tangannya terayun deras dengan aji Sasra Birawa tersimpan di dalamnya. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali tak terkirakan. Dengan cekatan, tangan orang tua itu bergerak dan dalam sekejap tangan Mahesa Jenar yang sedang mengayunkan Sasra Birawa itu dengan tenang ditangkapnya. Dengan demikian maka Mahesa Jenar tersentak oleh kekuatannya yang tidak tersalur itu, sehingga seolah-olah suatu pukulan yang dahsyat telah menghantam dadanya. Tetapi hanya sebentar. Sebab sesaat kemudian terasalah seolah-olah udara yang sejuk mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga dengan demikian tubuhnya sama sekali tidak merasakan suatu gangguan apapun.

Mengalami peristiwa itu, jantung Mahesa Jenar berdesir hebat sekali. Sadarlah ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang yang maha sakti. Yang memiliki kedahsyatan ilmu lahir dan batin. Karena itu, ketika tangannya telah dilepaskan, Mahesa Jenar segera mundur beberapa langkah dan kemudian seperti orang yang tak berdaya, Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya duduk bersila menghadap kepada orang yang tak dikenalnya itu.

Dengan gemetar Mahesa Jenar berkata,

“Maafkanlah kelancanganku Kyai, dan perkenankanlah aku mengetahui siapakah sebenarnya Tuan?”

Terdengarlah orang tua berjubah abu-abu itu tersenyum.

“Sudahlah Mahesa Jenar, kau tak perlu terlalu merasa bersalah. Bahkan aku menjadi gembira ketika kau masih ingat kepada kewajibanmu untuk menemukan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sehingga kau berani bertindak terhadap apapun dan siapapun. Dengan demikian maka masa depanmu tidaklah akan gelap sama sekali,” jawabnya.

Mendengar kata-kata orang tua yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, Mahesa Jenar menjadi tertegun heran.

“Apakah gerangan maksudnya?”

Kemudian terdengarlah orang tua itu melanjutkan,

“Mahesa Jenar..., apakah sebenarnya yang kau cari, sehingga kau sampai ke tempat ini?”

Perasaan Mahesa Jenar terasa seperti disentakkan mendengar pertanyaan itu. Yah, apakah sebetulnya yang dikehendaki sehingga sampai ke tempat ini...?

Teringatlah kemudian apa yang pernah dialami akhir-akhir ini, yang masalahnya berkisar di sekitar Rara Wilis. Namun untuk menguraikan kepada orang tua itu, Mahesa Jenar masih merasa kurang enak. Karena itu ia jadi bimbang sehingga beberapa lama ia tidak menjawab.

Karena Mahesa Jenar masih berdiam diri, terdengarlah orang tua itu meneruskan,

“Aku kira, aku dapat menduga-duga apa yang sebenarnya telah kau alami Mahesa Jenar. Dan ketika aku melihat kau berlari-lari ke arah yang sama sekali tak kau ketahui, aku pun dapat mengira-ngira pula, apa yang akan kau lakukan. Sebab sebagian besar dari percakapanmu dengan Kyai Ageng Pandan Alas, serta kemarahanmu kepada Arya Salaka dapat aku dengar. Ditambah lagi dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini yang dapat aku lihat pula. Hubunganmu dengan cucu Ki Ageng Pandan Alas serta murid Ki Ageng Pandan Alas yang bernama Sarayuda.”

Mendengar uraian orang tua itu, Mahesa Jenar seperti orang yang dihadapkan pada suatu peristiwa yang diluar kemampuan jalan pikirannya. Demikian banyaknya masalah yang dapat diketahui oleh orang tua itu. Kalau demikian maka orang tua itu pasti telah beberapa hari mengikutinya. Karena itu, pasti orang itu adalah orang yang sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya. Dengan demikian ia menjadi agak berani pula.

Maka katanya, “Apa yang Tuan katakan adalah benar.” Maka terdengarlah orang tua itu tertawa.

“Bagus... katanya. Kau sadari semua itu, dan sekarang kau akan pergi kemana?”

Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Apakah sebaiknya ia bekata terus terang? Sebab andaikata ia berbohong maka orang tua itupun agaknya dapat mengetahui pula.

Karena itu jawabnya,

“Aku akan pergi bertapa, Kyai. Menjauhi kesibukan kesibukan duniawi yang menjemukan.”

Sekali lagi orang tua itu tertawa.

“Apakah dengan bertapa serta menjauhkan diri dari persoalan manusia itu, kemudian keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten akan datang kepadamu dengan sendirinya?”

Sedikit-sedikit arah pembicaraan orang tua itu sudah dapat ditangkap oleh Mahesa Jenar. Ia menjadi bertanya pula pada diri sendiri, apakah sebenarnya yang dicarinya selama ini?

“Mahesa Jenar..”. lanjut orang tua itu, “Kau adalah seorang kesatria, bukan seorang brahmana atau pertapa. Kewajiban kesatria adalah membina kesejahteraan umat manusia, kesejahteraan bangsanya dan tanah airnya. Apakah yang dapat kau lakukan apabila kau mengasingkan dirimu di puncak gunung atau di tengah-tengah hutan yang lebat? Di dalam goa-goa atau di bawah pohon beringin tua? Mahesa Jenar, aku sudah tua. Aku adalah gambaran dari orang-orang yang tak berarti. Tinggal di dalam goa yang jauh dari masalah-masalah bangsa dan tanah air, dimana aku meneguk air jika aku haus serta mencari ketenteraman diri. Tetapi dengan demikian masalah keluarga besar kita tak akan dapat diselesaikan. Sekarang adakah kau mau memperbanyak jumlah dari orang-orang yang demikian itu?”

Kata-kata orang tua itu memancar ke hati Mahesa Jenar seperti sinar matahari yang memecahkan gelapnya malam. Meskipun ia masih duduk tepekur, namun dadanya telah menyala kembali dengan api kekesatriaannya. “Masihkah kau akan melanjutkan mencari pusaka-pusaka yang hilang itu?” tanya orang tua itu.

Karena pertanyaan itu Mahesa Jenar tersentak.

Jawabnya tergagap, “Ya... Tuan, aku tetap mencarinya. Dan adakah Tuan mengetahui di manakah kedua keris itu sekarang?”

Orang tua itu tersenyum, lalu jawabnya, ”Aku tahu. Kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu.”

Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua itu.

“Mahesa Jenar...” lanjut orang itu, “hati-hatilah kelak akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi. Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan itu.”

Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar, “Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?”

Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil- manggilnya,

“Paman..., Paman Mahesa Jenar..., di manakah kau Paman...?”

Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.

“Apa salah anak itu kepadamu Mahesa Jenar?” tanya orang tua itu sambil tersenyum.

Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan dan kekalutan pikiran.

“Mahesa Jenar...” terdengarlah kembali kata-kata orang tua itu, “Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu”.

Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya, “Siapakah sebenarnya Tuan?”

Orang tua itu tersenyum.

“Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat itu melangkah pergi.

Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan,

“Paman..., Paman Mahesa Jenar.... Kenapa aku kau tinggalkan sendiri, Paman...?”

Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu ia berteriak pula, “Arya..., tunggulah Paman segera datang.“

Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar, berteriak lebih keras lagi, “Paman..., Paman ”

Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab, dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.

“Arya ” bisik Mahesa Jenar.

Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu. Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.

Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.

“Arya ” kata Mahesa Jenar, “Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis. Diamlah”. Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.

“Sudahlah Arya...” sambung Mahesa Jenar, “Kalau kau terlalu lama menangis kau dapat kemasukan angin.”

"Aku takut" kata Arya.

“Takut...?” tanya Mahesa Jenar. “Apa yang kau takutkan?”

“Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri,” jawab Arya.

Mendengar jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Adalah wajar kalau seorang anak sebesar Arya Salaka menjadi ketakutan ditinggalkan seorang diri di padang ilalang di pinggir hutan yang sama sekali tak dikenalnya, bagaimanapun beraninya anak itu.

“Tidak Arya..., Paman tak akan meninggalkan kau sendiri,” kata Mahesa Jenar membesarkan hati anak itu.

“Tetapi tadi Paman berlari kencang sekali,” potong Arya.

Mendengar kata-kata Arya itu, Mahesa Jenar tersenyum. Senyuman yang pahit bagi dirinya sendiri.

Namun jawabnya, “Tadi Paman tidak akan meninggalkan kau, Arya. Tetapi karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan, dan tidak boleh orang lain tahu, apalagi anak-anak. Karena hal itu adalah rahasia besar, maka aku pergi mendahuluimu untuk beberapa lama.”

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan pandangan yang penuh keragu-raguan. Apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar tadi menurut anggapannya bukanlah sekadar mendahului, tetapi benar-benar telah berusaha untuk meninggalkannya.

“Karena itu ia bertanya, Tetapi tadi Paman marah kepadaku.” Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Namun hatinya mengeluh.

“Sudahlah Arya, sekarang dan seterusnya Paman tak akan meninggalkan kau lagi.” Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun hatinya masih tetap ragu. “Kemana Paman pergi, aku ikut Paman.” “Bagus Arya, bagus,” jawab Mahesa Jenar. “Nah, sekarang kemana?” “Terserahlah kepada Paman,” jawab Arya.

“Kau lelah?” tanya Mahesa Jenar.

“Tidak, kalau berjalan dengan Paman aku masih kuat”, jawab Arya dengan mantapnya, meskipun sebenarnya kakinya sudah terlalu letih. Agaknya Mahesa Jenar mengetahui pula kelelahan Arya, karena itu katanya,

“Kita beristirahat sebentar Arya, nanti kalau kau sudah tidak begitu letih, kita berjalan kembali.”

Arya menjadi gembira mendengar ajakan pamannya. Memang sebenarnya ia lelah sekali setelah beberapa lama berlari-lari mengejar Mahesa Jenar. Maka jawabnya,

“Baiklah Paman. Aku akan beristirahat dahulu.”

Kemudian mereka mencari tempat yang teduh di bawah pepohonan, di tepi hutan. Arya Salaka dengan segera merebahkan dirinya berbaring diatas rumput-rumput kering. Dan, karena lelahnya maka segera ia pun tertidur.

Mahesa Jenar memandang Arya yang sedang tidur itu dengan perasaan belas kasih. Apalagi kalau diingatnya, bahwa hampir saja anak itu ditinggalkannya seorang diri. Dari wajah anak itu tampaklah memancar ketulusan serta keberanian yang diwarisinya dari ayahnya, Gajah Sora. Karena itu, apabila Arya Salaka menerima pendidikan serta latihan yang baik, pastilah kelak ia akan menjadi seorang pemuda yang perkasa.

Sementara itu matahari telah menempuh lebih dari tiga-perempat bagian dari jalan peredarannya, karena itu panasnya tidak begitu tajam lagi. Di langit yang biru bersih, hanya kadang-kadang saja tampak awan tipis mengalir perlahan-lahan.

Bersama dengan awan yang tipis itu kenangan Mahesa Jenar membubung tinggi. Diingatnya segenap masa lampaunya yang penuh dengan bermacam-macam kejadian silih berganti. Ketenaran dua keagungan sebagai seorang perwira pasukan Naramanggala, kepahitan dan kekecewaan, kecemasan dan bermacam-macam lagi peristiwa yang datang silih berganti di masa perantauannya.

Namun akhirnya, ketika awan di langit itu pecah berpencaran ditiup angin, maka hilang pulalah semua kenangan yang mengganggu pikiran Mahesa Jenar. Yang tampak sekarang adalah masa yang menghadang di hadapannya. Masa yang akan penuh dengan tantangan- tantangan yang harus dijawab dengan tindakan-tindakan yang tepat.

Tetapi kemudian tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang tua yang telah membawanya kembali ke jalan yang lurus. Siapakah kira-kira orang itu? Benarkah orang itu yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten? Ketika pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan kepadanya maka ia sama sekali tidak menyangkalnya meskipun tidak pula membenarkan. Ditilik dari pakaiannya maka Mahesa Jenar hampir pasti bahwa orang itulah yang mengambil kedua pusaka itu dari Banyubiru, sebab jarang orang yang berpakaian jubah berwarna abu-abu, kecuali Pasingsingan dan orang itu.

Meskipun Mahesa Jenar belum pernah melihat wajah asli Pasingsingan yang nama sebenarnya adalah Umbaran, namun pastilah bahwa orang tua itu bukannya Umbaran.

Kalau demikian sampailah Mahesa Jenar pada suatu dugaan bahwa orang tua itu adalah Pasingsingan tua, guru dari Paniling, atau yang sebenarnya bernama Radite, Anggara dan Umbaran. Namun ia sendiri tidak yakin, apakah dugaannya itu benar.

Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar mendapat kesimpulan bahwa usaha untuk menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten akan merupakan suatu usaha yang berjangka panjang. Sebab sampai saat itu segala sesuatunya masih gelap. Gelap sama sekali.

Tak ada satu titik pun yang dapat menunjukkan arah lenyapnya kedua pusaka yang sedang menjadi rebutan oleh beberapa pihak itu. Akibat dari itu, pasti akan menyangkut Gajah Sora pula. Makin lama waktu yang diperlukan untuk menemukan kedua keris itu, semakin lama pula waktu pembebasan yang akan diberikan kepadanya. Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, mudah-mudahan Paningron dan Gajah Alit dapat menolong meringankan tuduhan yang dibebankan kepada Gajah Sora.

Tetapi ketika Mahesa Jenar baru asyik berangan-angan, tiba-tiba terdengarlah derap kuda yang semakin lama semakin dekat. Karena itu segera didukungnya Arya yang masih tidur, dibawa masuk ke dalam semak-semak yang rimbun. Untunglah bahwa Arya yang kelelahan itu tidak terbangun. Sedang Mahesa Jenar, dengan hati-hati sekali mengintip dari celah-celah rapatnya dedaunan ke arah suara kuda-kuda itu.

Sebentar kemudian dari balik tikungan semak-semak muncullah tiga orang berkuda. Melihat tiga orang itu, dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar.

Mereka adalah sepasang Uling dari Rawa Pening, disertai oleh Sri Gunting.

Menilik perbekalan mereka, maka Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa dua bersaudara Uling itu akan menempuh perjalanan yang jauh. Mula-mula timbul keinginan Mahesa Jenar untuk menghadang mereka serta langsung membinasakan mereka.

Tetapi tiba-tiba diingatnya pesan Ki Paniling, bahwa ia dinasehatkan untuk tidak bertindak tergesa-gesa. Ia harus tahu pasti bahwa tindakannya benar-benar akan menguntungkan. Sedang pada saat itu, ia masih belum yakin bahwa ia seorang diri dapat mengalahkan orang-orang itu.

Apalagi ia sedang membawa Arya. Kalau sampai terjadi sesuatu atas anak itu, maka letak kesalahan ada padanya. Karena itu akhirnya, Mahesa Jenar hanya mengintip dengan dada yang bergetar menahan perasaannya.

Ketika ketiga orang itu lenyap dari pandangan matanya, Mahesa Jenar segera menyadari, betapa semakin sulitnya pekerjaan yang akan dilakukan. Dengan melihat kedua orang itu Mahesa Jenar dapat menerka, bahwa pasti tidak saja sepasang Uling itu yang pergi merantau, tetapi pasti juga tokoh-tokoh hitam yang lain, menempuh perjalanan dan bertebaran ke segenap penjuru untuk dahulu-mendahului menemukan Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Kalau saja ia bertemu dengan Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, bagaimanapun masih ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menyelamatkan diri.

Tetapi bagaimana halnya kalau di perjalanan ia berjumpa dengan tokoh-tokoh tua seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Bugel Kaliki dan barangkali tokoh-tokoh tua yang berdiri di belakang Sepasang Uling dan Jaka Soka, atau guru-guru mereka, yang ternyata juga mengingini pusaka-pusaka itu?

Terhadap mereka tidak akan banyak yang dapat dilakukan. Untunglah sampai saat ini beberapa kali jiwanya selalu terselamatkan oleh pertolongan mereka dari angkatan yang sebaya. Tetapi kalau tak seorangpun dari mereka yang melihat, pasti bahwa tinggal nama Mahesa Jenar saja yang mungkin masih sering disebut-sebut orang.

Mengingat hal itu, tiba-tiba dirasanya bulu tengkuknya berdiri. Tetapi ketika segera menyusul gema yang berkumandang di rongga hatinya, gema suara orang tua yang tak dikenalnya, yang mengatakan bahwa Keris Nagasasra dan Sabuk Inten berada di dalam kekerasan hatinya serta usahanya, maka nyala tekad di dalam hatinya berkobar semakin besar, sebesar nyala api di lubang kepundan Gunung Merapi, yang tak akan dapat padam oleh hujan selebat apapun serta angin sekencang apapun.

Sementara itu Arya telah menggeliat pula. Ketika ia membuka matanya maka yang pertama-tama dilakukan adalah berteriak memanggil,

“Paman..., Paman Mahesa Jenar ”

“Sst...!” desis Mahesa Jenar. “Kenapa kau berteriak, Arya ?”

Dengan pandangan yang masih diliputi oleh keragu-raguan, Arya mengawasi Mahesa Jenar tanpa berkedip.

“Paman tidak meninggalkan aku lagi bukan?”

Mahesa Jenar   tertawa   kosong,   dengan   penuh   pengertian   atas   kecemasan   yang mencengkam perasaan Arya.

“Kalau aku akan meninggalkan engkau, bukankah lebih baik pada saat kau sedang tidur?”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya menjadi percaya bahwa pamannya tidak akan pergi meninggalkannya. Setelah beberapa kali menggeliat, segera Arya duduk di samping Mahesa Jenar.

“Sudah tidak lelah lagi kau Arya?” tanya Mahesa Jenar. “Bukankah sejak tadi aku tidak lelah Paman?” jawab anak itu. Terdengar Mahesa Jenar tertawa pendek, katanya meneruskan,

“Bagus kalau begitu. Nah sekarang kau sudah siap untuk berjalan lagi?” “Tentu Paman, tentu aku siap berjalan setiap saat,” sahut Arya.

“Kalau begitu, mari kita berjalan,” ajak Mahesa Jenar.

Oleh ajakan itu segera Arya meloncat berdiri dengan sigapnya. Memang setelah ia tertidur beberapa lama, tubuhnya telah menjadi segar kembali.

“Kita sekarang kembali ke rumah kita sebentar Arya” ajak Mahesa Jenar meneruskan. “Kenapa hanya sebentar Paman?” tanya Arya.

“Biarlah kami tinggalkan rumah itu. Rumah dimana kau hampir saja mengalami bencana,” jawab Mahesa Jenar.

Seterusnya ia menerangkan, “Arya, rumah itu ternyata sudah diketahui oleh orang-orang yang ingin membunuhmu. Karena itu bukankah lebih baik kalau kita pergi? Kita mampir sebentar hanyalah untuk mengambil tombak pusaka Banyubiru Kyai Bancak. Biarlah tombak itu kau bawa serta. Supaya tidak mencurigakan, nanti sebaiknya kita lepas tangkainya.”

“Baiklah Paman,” jawab Arya sambil menganggukkan kepalanya.

Kemudian berangkatlah mereka berdua meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian matahari tenggelam di ujung barat langit.

Dalam kegelapan, mereka tetap meneruskan perjalanan. Mahesa Jenar yang berpandangan tajam dapat menempuh perjalanan dengan tidak banyak menemui kesulitan, sambil menggandeng Arya Salaka. Belum sampai tengah malam, mereka berdua telah tiba di pedukuhan dimana telah mereka bangun tempat untuk berteduh.

Pada pagi harinya, tetangga-tetangga Mahesa Jenar yang baik hati, ketika mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil menemukan anak yang mereka anggap anak Mahesa Jenar sendiri, dengan selamat, segera berkerumun untuk mengucapkan syukur.

Mereka bertanya bergantian tak ada henti-hentinya sehingga Mahesa Jenar kerepotan untuk menjawabnya.

Tetapi kemudian, mereka, tetangga-tetangga yang baik itu menjadi tercengang-cengang ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar mohon diri kepada mereka untuk pergi meneruskan perantauannya seperti ketika belum menetap di pedukuhan itu. Para tetangga yang menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang petani yang banyak memberikan sesuluh kepada mereka, menjadi agak kecewa. Kata salah seorang dari mereka,

“Adakah kami berbuat kesalahan terhadap Angger?”

“Tidak, Bapak,” sahut Mahesa Jenar cepat. “Sama sekali tidak.”

“Atau barangkali Anda marah kepada kami?” sambung yang lain, “Karena kami tidak dapat melindungi anak Adi?”

“Juga tidak,” jawab Mahesa Jenar. “Tidak ada kesalahan saudara-saudara kepada kami.” “Lalu kenapa Adi mau pergi?” tanya seseorang pula.

Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata, “Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari nasibku sendiri.”

Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.

Pada suatu saat kami akan datang kembali, kata Mahesa Jenar kepada mereka yang mengantar sampai ke ujung desa.

Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.

Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.

Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata. Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan. Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah perdikan Banyubiru.

Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya. Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di rerumputan yang hijau segar.

Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.

Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.

“Arya...” kata Mahesa Jenar setelah mereka berjalan bersama-sama.

“Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh- jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?”

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya.

“Apakah kalau aku berganti nama, orang tak mengenal aku lagi?” katanya.

“Bukan begitu Arya,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi setidak-tidaknya orang tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang dapat menemukanmu?”

Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya,

“Paman, meskipun namaku sudah diganti, tetapi apabila seseorang berkata tentang seorang anak yang berjalan bersama-sama dengan Mahesa Jenar, bukankah segera orang mengenal aku? Sebab yang selalu berjalan bersama-sama dengan Arya Salaka adalah Mahesa Jenar.” “Kau benar-benar cerdas Arya,” jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, “Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama.”

Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.

“Nah, Arya... siapakah nama yang pantas buat mengganti namamu?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama kemudian ia menggeleng- gelengkan kepalanya. “Katanya, Terserahlah kepada paman”.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka.

“Arya, kau tahu bahwa namaku adalah Mahesa Jenar.

Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu benar- benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu nama Handaka.”

“Handaka...” ulang Arya, “Apakah Handaka itu?”

“Handaka adalah nama binatang bertanduk pula,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng.”

Mendengar uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka dengan bangga ia berkata,

“Aku pernah mendengar ayah berceritera tentang seekor banteng.” “Apa kata ayahmu?” tanya Mahesa Jenar.

“Banteng adalah binatang yang hebat sekali” jawab Arya.

“Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka,” kata Mahesa Jenar meneruskan.

“Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?” “Handaka Sora, seperti nama ayah” usul Arya. “Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu,” jawab Mahesa Jenar.

“Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar.”

”Lalu apakah yang baik menurut Paman?” tanya Arya Salaka.

“Begini Arya... aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah Nama lengkapmu adalah

Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?”

Mata Arya menjadi berkilat-kilat. “Bagus Paman. Bagus sekali. Nah, sejak saat ini aku

bernama Bagus Handaka.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Dan sekarang siapakah namaku?”

“Terserahlah kepada Paman,” jawab Handaka.

“Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk seterusnya.” “Baiklah Bapak.”

“Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan.”

“Baiklah Bapak Manahan.”

“Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan.”

“Tentu Paman... eh   Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus

tanah tercinta.”

Manahan dengan menepuk pundak Handaka berkata pula,

“Bagus Handaka, karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu Lembu Sora.”

“Adi Sawung Sariti?” potong Handaka. Manahan mengangguk. Katanya meneruskan, “Anak itu pun sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat pula. Karena itu kau jangan sampai kalah.”

“Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora,” jawab Handaka.

Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan diri, desis Handaka.

Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.

Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi gunung serta lembah- lembah.

Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian bernama Handaka.

Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas. Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota, mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.

Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam dada mereka.

Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorangpun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu, sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan- gerakan pembelaan diri dengan segala unsur-unsurnya.

Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya dapat dikuasainya dengan baik.

Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat. Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.

Akhirnya mereka sampai ke suatu daerah pedukuhan yang kecil, dimana para penduduknya hidup sebagai nelayan. Disamping itu mereka gemar berburu kalong, sejenis binatang malam yang mirip dengan kelelawar, tetapi lebih besar dan pemakan buah-buahan. Meskipun ada juga diantara mereka yang bercocok tanam, tetapi penghidupan sebagai seorang petani agak tidak begitu menarik perhatian.

Di pedukuhan itulah Manahan dan Handaka berhenti berjalan. Mereka menyatakan diri untuk tinggal bersama-sama di padepokan itu. Meskipun penduduknya tampaknya agak bersikap kasar, namun sebenarnya hati mereka tulus.

Karena itu Manahan dan anaknya diterima oleh mereka dengan tangan terbuka.

Di pedukuhan itulah Manahan menambah jumlah mereka yang mengolah tanah pertanian. Dengan tidak mencolok Manahan membawa cara-cara baru dalam pengolahan tanah dan cara-cara pengairan yang agak teratur. Karena itu dalam waktu singkat Manahan telah menjadi orang yang disenangi oleh penduduk pedukuhan itu.

Di pedukuhan itu, Handaka mendapat kesenangan baru. Dengan para nelayan kadang- kadang ia ikut serta berlayar menangkap ikan. Adalah mengherankan bahwa Handaka yang belum begitu lama hidup di kalangan para nelayan, kesigapannya telah hampir melampaui pemuda-pemuda nelayan yang sebayanya.

Agaknya kesenangannya bermain-main di Rawa Pening, serta kegemarannya menangkap Uling, merupakan bekal yang baik bagi seorang nelayan. Apalagi darah pelaut yang mengalir dalam tubuh ayahnya, Gajah Sora, agaknya melimpah juga kepada anak ini. Ditambah lagi dengan latihan-latihan keprigelan yang diterimanya dari Manahan. Dengan demikian Handaka pun menjadi cepat terkenal diantara teman-temannya. Bahkan orang- orang tua pun kemudian mengaguminya.

Tetapi ada kegemaran Handaka yang lain, yang tidak sama dengan pemuda-pemuda nelayan pada umumnya. Handaka mempunyai kegemaran menyepi apabila semua pekerjaannya sudah selesai. Kadang-kadang ia betah duduk lama-lama di pasir pantai yang sepi. Memandang ke arah laut yang luas. Pada gelombang-gelombang yang selalu bergerak disapu angin.

Apabila tubuhnya terasa lelah sekali, di pasir pantailah Handaka merebahkan diri, yang kadang-kadang ketika terdengar ayam berkokok menjelang matahari terbit, ia baru bangkit dan berjalan pulang ke pondoknya.

Manahan sama sekali tidak keberatan atas kelakuan muridnya itu. Ia mengharap bahwa dengan demikian Handaka mendapat ketenangan dan pengendapan.

Dalam kesepian yang demikian kadang-kadang ditemukannya masalah-masalah besar dalam perjuangan masa depan. Karena itu ia sama sekali tak mengganggunya. Dibiarkannya Handaka pada saat terluangnya menyepikan diri, sedang Manahan sendiri waktu-waktu luangnya selalu diisi dengan duduk-duduk di sudut desa bersama-sama dengan para petani yang menunggui sawahnya yang sering diganggu oleh babi hutan. Dalam keadaan yang demikian banyaklah masalah-masalah yang dapat diberikan kepada para petani secara tidak langsung.

Tetapi pada suatu malam terjadilah suatu hal yang mengejutkan. Saat itu, ketika malam kelam membalut pantai, Handaka sedang duduk seperti biasa merenungi lampu-lampu perahu nelayan yang hilir-mudik di laut. Tiba-tiba dilihatnya seseorang berjalan lurus ke arahnya. Di dalam gelap malam, Handaka tidak segera mengenal siapakah orang itu. Tetapi ia tahu pasti bahwa orang itu bukanlah Manahan.

Ketika orang itu sudah berdiri dekat di hadapannya, mendadak tanpa berkata apa-apa orang itu langsung menyerangnya. Mula-mula Handaka terkejut bukan main, tetapi kemudian ia sadar bahwa ia harus membebaskan dirinya. Karena itu segera ia meloncat menghindar. Tetapi penyerangnya tidak membiarkannya lolos, malahan kembali ia menyerang lebih hebat.

Untuk beberapa saat Handaka menjadi ragu. Apakah salahnya dan siapakah orang itu? Sambil meloncat menghindar, ia berteriak,

“Siapakah kau, dan apakah sebabnya kau menyerang aku?”

Tetapi penyerang itu sama sekali tak menghiraukannya. Dengan penuh nafsu orang itu menyerang terus.

Akhirnya karena tak ada kemungkinan lain, Handaka terpaksa melayaninya.

Mula-mula ia masih berusaha untuk meyakinkan orang itu, bahwa mungkin ia keliru. Sebab selama ini Handaka merasa tak ada seorang pun yang memusuhinya di seluruh pedukuhan nelayan itu.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang dalam,

“Handaka, kau sekarang tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku.” Sekali lagi ia mencoba bertanya,

“Apakah hubunganmu dengan diriku sehingga kau bermaksud menangkap aku? Dan siapakah sebenarnya kau ini?”

Orang itu tidak menjawab, tetapi tertawanya yang nyaring terdengar sangat mengerikan. Dan berbareng dengan itu serangannya menjadi bertambah cepat dan mendesak. Tetapi Handaka sekarang bukanlah Arya Salaka dua tahun yang lalu. Handaka adalah seorang pemuda yang meskipun umurnya belum lebih dari 15 tahun, namun karena gemblengan yang menempa dirinya setiap saat, maka ia adalah seorang pemuda yang tangkas dan kuat. Karena itu ia dapat berkelahi dengan tenang dan lincah. Sehingga serangan-serangan orang yang tak dikenalnya itu beberapa kali dapat dihindarinya dengan mudah.

Tetapi ia tidak dapat terus-menerus menghindar dan mengelak. Sebab orang yang menyerangnya menjadi semakin marah. Gerak-geriknya semakin cepat dan berbahaya. Karena itu, akhirnya Handaka terpaksa melakukan serangan-serangan pula, sebagai suatu cara terbaik untuk mempertahankan diri.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin hebat. Namun di masa-masa yang pendek, Handaka sempat mengamat-amati wajah penyerangnya. Orang itu agaknya telah berumur sedikit lebih tua dari gurunya. Wajahnya tampak bengis dan berkumis tebal. Selebihnya ia tidak begitu jelas. Kecuali orang itu selalu bergerak, juga karena malam yang kelam.

Untunglah bahwa orang itu tidak memiliki ilmu yang tinggi, sehingga meskipun Handaka pantas menjadi anaknya, tetapi dalam perkelahian itu, meskipun ia harus bekerja keras, ia sama sekali tidak perlu cemas akan kesudahan dari pertempuran itu.

Setelah mereka bertempur beberapa lama, akhirnya Handaka mendengar desah nafas lawannya semakin lama semakin cepat. Ia menjadi bergembira, karena dengan demikian ia tahu bahwa sebentar lagi lawannya akan kehabisan nafas. Karena itu, ia tidak perlu untuk melawannya dengan sungguh-sungguh. Ia cukup mengganggunya sehingga apabila nafas orang itu telah benar-benar tersekat, maka ia dengan mudah akan dapat menangkapnya. Mungkin gurunya tahu siapakah orang itu. Tetapi agaknya penyerang itu menyadari kelemahannya.

Karena itu, dengan tergesa-gesa orang itu meloncat mundur sebelum kehabisan nafas dan berusaha melarikan diri. Tetapi Handaka sama sekali tak melepaskannya. Cepat ia berusaha mengejarnya. Namun ia menjadi keheran-heranan. Orang yang nafasnya tinggal seujung kuku itu, masih dapat melarikan diri dari kejarannya.

Handaka berhenti mengejar ketika orang itu menyusup ke dalam semak-semak yang rimbun. Sulitlah baginya untuk mencari seseorang di dalam gelapnya malam diantara semak-semak itu.

Setelah puas merenungi semak-semak itu, kemudian dengan langkah yang berat Handaka berjalan pulang ke pondoknya. Di dalam otaknya terjadilah suatu keributan. Ia sibuk menebak-nebak, siapakah orang yang dengan tiba-tiba saja menyerangnya. Bukan karena suatu kekeliruan, tetapi benar-benar dirinyalah yang dicari.

Sampai di pondoknya segera ia mencari gurunya. Tetapi ternyata Manahan masih belum pulang. Handaka yang tahu akan kebiasaan gurunya segera pergi menyusul ke pojok desa.

Tetapi akhirnya ia menjadi ragu. Apakah hal yang demikian saja sudah merupakan suatu hal yang perlu dibicarakan dengan gurunya. Apakah dalam hal-hal yang kecil tidak cukup kalau diselesaikannya sendiri.

Karena pikiran itu maka Handaka kemudian membatalkan maksudnya untuk menyatakan peristiwa yang baru saja dialami itu kepada gurunya. Sehingga ketika ia sampai di pojok desa, dan ketika ia sudah duduk diantara para petani dan nelayan yang sedang tidak turun ke laut, ia sama sekali tak berkata apapun mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau mengganggu Manahan dengan soal-soal yang remeh-remeh.

Tetapi apa yang dialami kemudian adalah sangat memusingkan kepalanya. Pada malam berikutnya, ketika ia sedang berbuat seperti kebiasaannya, tiba-tiba datanglah seseorang yang juga tanpa sebab menyerangnya. Tetapi orang ini adalah orang yang lain dari yang menyerangnya kemarin. Orang ini agaknya sudah jauh lebih tua dari gurunya.

Seperti malam sebelumnya, Handaka berusaha pula meyakinkan bahwa mungkin orang itu keliru. Tetapi juga seperti malam sebelumnya, Handaka terkejut dan keheran-heranan ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang tinggi,

“Tak usah kau mengelakkan diri. Soalnya sudah cukup jelas. Dan kau harus menyerah kepadaku sebelum orang lain berhasil menangkapmu mati atau hidup.”

Maka bersilang-silanglah teka-teki di dalam kepala Handaka. Apakah sebabnya maka hal ini bisa tejadi? Tiba-tiba ia teringat kepada orang-orang yang beberapa tahun yang lalu memburunya. Adakah orang-orang ini juga terdiri dari gerombolan yang sama? Karena itu dengan keras Handaka berkata,

“Hai orang tua yang tak tahu diri, adakah kau termasuk dalam gerombolan orang-orang yang akan membunuhku beberapa tahun yang lalu?”

Terdengar orang itu tertawa dengan nada yang tinggi. Jawabnya,

“Aku tidak mengenal orang-orang lain yang memburumu. Tetapi aku memerlukan kau seperti orang-orang lain yang barangkali juga memerlukan.”

Handaka menjadi semakin bingung.

“Adakah hubungan semua itu dengan tanah perdikan Banyubiru?

Banyubiru?” tanya orang tua itu dengan heran. “Aku belum pernah mendengar nama Tanah Perdikan Banyubiru.”

“Lalu apa perlumu menangkap aku?” potong Handaka. Sekali lagi orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang semakin tinggi. Tetapi bersamaan dengan itu serangan menjadi bertambah cepat dan berbahaya.

Handaka pun kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Ia menjadi jengkel sekali atas kejadian-kejadian itu. Karena itu ia bertekad untuk menangkap penyerangnya kali ini.

Tetapi ternyata orang tua ini mempunyai ilmu yang agak lebih tinggi dari orang yang menyerang kemarin. Meskipun umurnya sudah lanjut, namun geraknya masih sangat membahayakan. Serangannya datang tiba-tiba dan kadang-kadang tak terduga.

Mula-mula Handaka menjadi agak mengalami kesulitan. Ia belum pernah melihat beberapa dari unsur-unsur gerak lawannya. Tetapi karena orang tua itu agaknya belum memiliki unsur-unsur gerak yang banyak macamnya, maka serangannya selalu dilakukan berulang kali dengan unsur-unsur gerak yang hanya ada beberapa macam itu saja. Meskipun unsur-unsur gerak itu mula-mula agak membingungkannya, tetapi lambat laun dapat dikuasainya. Apalagi karena Handaka sendiri telah banyak menerima bahan-bahan serta ilmu yang cukup banyak dari gurunya.

Malahan ketika mereka telah bertempur beberapa lama, Handaka mulai dapat mengenal ilmu lawannya dengan baik. Karena itu seperti malam sebelumnya, ia tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia pasti akan dapat mengatasi lawannya yang sudah tua itu.

Tetapi karena kali ini ia benar-benar ingin menangkap penyerang itu, maka Handaka selalu berusaha untuk dengan secepat-cepatnya menjatuhkan lawannya, meskipun hal itu tidak dapat dilakukannya dengan mudah.

Akhirnya, ketika orang tua itu merasa bahwa Handaka bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya dapat ditakut-takuti serta dengan mudahnya dapat ditangkap, bahkan malahan dalam beberapa hal Handaka dapat melebihinya, maka tak ada jalan lain daripada melarikan diri.

Apalagi ketika ternyata Handaka dapat melawannya dengan mempergunakan bagian- bagian dari unsur-unsur geraknya sendiri. Orang tua itu menjadi bertambah takut lagi.

Cepat-cepat ia meloncat mundur beberapa langkah, dan kemudian berusaha untuk berlari secepat-cepatnya. Handaka yang sudah mengira hal itu akan terjadi, segera meloncat menghadang. Tetapi orang tua itu seakan-akan telah dapat memperhitungkan pula tindakan Handaka, karena demikian Handaka melontarkan diri, demikian orang tua itu membalik ke arah yang berlawanan, dan seperti terbang orang itu berlari masuk ke dalam semak-semak yang gelap.

Handaka yang mengejarnya menjadi keheran-heranan. Meskipun ternyata ilmunya tidak kalah tinggi, bahkan beberapa unsur gerak orang tua itu malahan telah dapat dikuasai, namun dalam hal berlari ternyata ia masih kalah. Karena itu dengan hati yang semakin jengkel Handaka terpaksa melepaskan orang tua itu pergi. Dengan kejadian-kejadian itu, teka teki yang melibat dirinya menjadi semakin kisruh. Ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah dialami, namun ia sama sekali tak dapat menghubungkannya dengan peristiwa dua malam terakhir itu.

Tetapi Handaka adalah seorang pemuda yang berani, cerdas dan banyak hal yang ingin diketahui. Karena itulah maka, setelah mengalami peristiwa dua malam berturut-turut, malahan ia ingin untuk mengetahui apakah yang akan terjadi seterusnya. Ia ingin melihat apakah pada malam-malam berikutnya akan terjadi pula hal-hal semacam itu. Malahan ia mengharap kedatangan salah seorang diantaranya, sehingga apabila orang itu dapat ditangkapnya, maka pastilah latar belakang dari peristiwa-peristiwa itu dapat disingkapkan.

Namun sampai sedemikian jauh Handaka masih belum merasa perlu untuk menyampaikan masalah itu kepada gurunya. Nanti apabila salah seorang dari mereka dapat ditangkapnya, barulah Handaka bermaksud membawa orang itu kepada Manahan.

Pada malam berikutnya Handaka sengaja menghindarkan diri dari beberapa kawannya yang sering mengajaknya turun ke laut. Dengan demikian maka ia dapat leluasa pergi ke pantai untuk menanti peristiwa yang aneh, yang barangkali masih ada kelanjutannya.

Dan apa yang dinantinya benar-benar datang.

Ketika angin laut menghembus perlahan-lahan mempermainkan buih di pantai, Handaka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang seolah-olah muncul saja dari dalam laut, dan dengan langkah yang cepat langsung menuju ke arahnya.

Meskipun Handaka sengaja menanti kejadian itu, namun hatinya tergetar juga. Dua malam berturut-turut ia mengalami serangan dari orang yang tak dikenalnya.

Tetapi orang-orang itu datang dari arah semak-semak, sedangkan kali ini orang itu muncul seakan-akan dari dalam air.

Ketika orang itu sudah semakin dekat, Handaka segera meloncat berdiri serta mempersiapkan diri. Sebab menilik gerak serta arah datangnya, maka orang ini pasti lebih berbahaya dari dua orang yang pernah dilawannya.

Melihat Handaka berdiri serta mempersiapkan diri, orang itu terhenti. Agaknya ia heran melihat sikap Handaka. Tetapi kemudian terdengar ia tertawa pendek, menyeramkan.

“Aku tidak akan keliru lagi. Bukankah kau yang bernama Handaka?”

Di dalam gelap, Bagus Handaka mencoba mengawasi wajah orang itu. Tetapi yang dapat diketahuinya adalah, orang itu janggut serta kumisnya tumbuh lebat sekali, sehingga menutupi hampir seluruh lubang mulut serta hidungnya. Selain dari itu tak ada lagi kesan yang diperolehnya. Dengan suara yang mantap, Handaka menjawab, “Ya, aku Handaka. Kau mau apa?”

Kembali terdengar suara tertawa pendek yang menyeramkan.

“Kau memang berani Handaka. Aku kira kau akan memungkiri dirimu. Kau tidak takut mendapat bahaya?”

“Kenapa aku mesti takut. Aku sudah mengira bahwa kau akan berkata seperti orang- orang yang pernah menyerangku dua malam berturut-turut meskipun orangnya tidak sama,” potong Handaka.

Agaknya orang itu heran mendengar kata-kata Handaka, sehingga ia bertanya, “Dua malam berturut-turut kau mendapat serangan?”

Sekarang Handaka yang tertawa berderai.

“Aku bukan anak-anak yang masih pantas kau bohongi dengan cara demikian. Adakah suatu peristiwa kebetulan sampai tiga kali berturut-turut dengan cara yang sama?”

Mendengar jawaban Handaka, orang itu berdesis, “Agaknya mereka telah mendahului aku.”

Lalu tiba-tiba ia berkata kepada Handaka,

“Tetapi kenapa kau masih sempat bermain-main di sini. Kalau apa yang kau katakan benar, aku kira kau sudah tergantung mati di tengah Alas Roban.”

Mau tidak mau jantung Handaka tergetar hebat mendengar kata-kata itu. Apakah sebabnya orang-orang itu memburunya dan akan menggantungnya di Alas Roban...? Karena itu pula ia menjadi marah sekali. Ia tidak pernah merasa berbuat salah kepada orang lain, tetapi kenapa ada orang yang menginginkan kematiannya?

Kemudian dengan tidak menunggu lebih lama lagi, Handaka meloncat mendahului menyerang orang itu. Serangannya hebat sekali dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada.

Orang yang berkumis dan berjanggut lebat itu agaknya terkejut sekali. Ia tidak mengira bahwa Handaka akan memulai lebih dahulu. Cepat ia meloncat ke samping. Tetapi Handaka tidak membiarkannya. Disusullah serangan itu dengan serangan berikutnya. Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga orang asing itu tidak sempat mengelakkan dirinya. Karena itu cepat-cepat ia berusaha menahan serangan Handaka dengan kedua tangan yang disilangkan di muka dadanya.

Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Handaka terdorong beberapa langkah surut, tetapi orang itu pun tak dapat bertahan pada tempatnya dan terlempar beberapa langkah pula. Dengan demikian masing-masing mengetahui bahwa kekuatan mereka berimbang. Maka untuk memenangkan pertempuran selanjutnya adalah terletak pada keprigelan dan ketinggian ilmu masing-masing.

Karena itu segera Handaka mempersiapkan dirinya. Ia merasa bahwa apabila orang itu dapat mengalahkannya, maka taruhannya adalah nyawanya. Ia tidak mau mati bergantungan di tengah-tengah Alas Roban, dan bangkainya nanti akan menjadi makanan burung gagak.

Sesaat berikutnya terjadilah pertempuran yang dahsyat. Masing-masing mempergunakan segenap tenaganya serta segenap ilmunya. Meskipun Handaka masih terlalu muda untuk melawan orang yang berjanggut dan berkumis lebat itu, namun karena latihan-latihan berat yang pernah dilakukan selama ini, maka ia pun tidak mengecewakan. Sebaliknya orang asing itu pun ternyata bukan pula seperti dua orang yang menyerangnya malam- malam sebelumnya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu berlangsung dengan serunya.

Hanya kadang-kadang saja Handaka dikejutkan oleh gerakan-gerakan yang aneh-aneh yang dilakukan oleh lawannya. Tetapi karena lawannya itu pun agaknya belum menguasai benar-benar ilmunya itu, sehingga pelaksanaannya masih belum seperti yang diharapkan. Handaka yang lincah dan kuat itu dapat untuk beberapa kali menyelamatkan diri dari serangan-serangan yang demikian.

Setelah mereka bertempur beberapa lama maka terasalah oleh Handaka bahwa meskipun kekuatan orang itu dapat menyamainya tetapi ia masih dapat membanggakan kelincahannya.

Orang itu agaknya terlalu memberatkan serangan-serangannya pada kekuatan tenaga serta beberapa unsur geraknya yang meskipun berbahaya tetapi belum dapat dilakukannya dengan lancar. Karena itu lambat laun ia merasa bahwa ia akan dapat berhasil mengatasinya.

Sebaliknya orang asing itu akhirnya kehabisan akal. Semua ilmu serta tenaganya sudah dicurahkannya, namun ia sama sekali tidak berhasil menangkap anak yang dicarinya itu. Meskipun beberapa kali ia berhasil mengenai tubuh Handaka, namun ia sendiri dapat dikenai oleh anak itu dua kali lipat.

Dengan demikian maka sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk memenangkan pertempuran itu. Maka akhirnya orang itu putus asa, dan menyerang membabi buta dengan ilmu andalannya. Dengan demikian bagi Handaka, malahan menguntungkan sekali. Sebab dengan membabi buta, lawannya telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri serta kewaspadaan. Karena itulah agaknya Handaka semakin lama semakin berada dalam keadaan yang menguntungkan.

Tetapi hampir seperti kejadian-kejadian pada malam-malam sebelumnya, orang itu pun kemudian meloncat melarikan diri. Juga kali ini Handaka sama sekali tak berhasil mengejarnya. Apalagi orang aneh yang muncul dari dalam air itu berlari terjun ke dalam air pula.

Ketika orang itu lenyap, Handaka berdiri bertolak pinggang di batas air. Dadanya melonjak-lonjak dipenuhi oleh kemarahan, keheranan dan kengerian yang bercampur aduk. Tiga malam ia mengalami peristiwa yang disaput oleh kabut rahasia. Apakah kejadian ini akan berlangsung berlarut-larut...?

Tetapi jiwa keingintahuan Handaka tiba-tiba menguasai perasaannya kembali. Bagaimana dengan malam keempat? Kalau hal ini disampaikan kepada gurunya, mungkin kejadiannya akan berubah. Ia ingin melihat para penyerang itu datang berturut- turut sampai orang yang terakhir. Lalu apakah yang terjadi sesudah itu...?

Demikianlah kembali pada malam keempat. Handaka mencari-cari alasan untuk tidak terjun ke laut. Kawan-kawannya yang mengajaknya sama sekali tidak curiga bahwa Handaka sedang melakukan suatu perbuatan yang aneh namun sebenarnya penuh dengan bahaya.

Dan apa yang diharapkan kali inipun benar-benar datang pula.

Dengan penuh pertanyaan di dalam hati Handaka berjuang dengan sekuat tenaga untuk menangkap penyerangnya. Namun kali inipun ia tidak berhasil. Malahan orang keempat ini berhasil menghantam pergelangan tangan kirinya sehingga terasa sangat sakit. Untunglah bahwa akhirnya ia masih dapat mengalahkan orang itu, meskipun ia tidak pula berhasil menangkapnya.