Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 16

 
Jilid 16

“Entahlah Adi, tetapi kami tadi telah berjumpa di temat ini. Karena barangkali kami sama-sama tidak mau mengatakan keperluan kami, maka kami menjadi saling curiga. Aku mengira bahwa orang itu adalah salah seorang anggota golongan hitam, barangkali ia pun mengira aku demikian pula, sehingga akhirnya kami berkelahi. Mula-mulai kami tidak bersungguh-sungguh tetapi akhirnya kami jadi mata gelap.”

Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.

“Benarkah begitu, Adi Gajah Alit?” Mahesa Jenar menegaskan. “Begitulah, Kakang, sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak.”

Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata, “Tuan terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat memandang bulan.”

“Aku tidak dapat mengatakan,” potong Mahesa Jenar, “Siapakah yang lebih unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening.”

Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan, “Apakah sebenarnya kepentingan Adi Gajah Alit kemari?”

Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya, “Katakanlah. Kakang Mantingan adalah orang yang tahu membawa masalah. “

“Kakang.... Gajah Alit memulai, Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari.”

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan tengah bulan ini?” “Ya, bahkan aku tidak seorang diri.”

“Kau tidak seorang diri?” ulang Mahesa Jenar.

“Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron.” Gajah Alit meneruskan.

Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga. Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.

“Di manakah Adi Paningron sekarang?” tanya Mahesa Jenar.

“Sejak senja kami berpisah, jawab Gajah Alit. Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu.”

“Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami masih harus bekerja keras.“

Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap.

Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?

Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar. Karena itu ia berkata, “Kakang Mahesa Jenar tidak perlu khawatir tentang Kakang Paningron. Ia adalah seorang penjabat yang baik, tetapi juga bukan jenis orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain.”

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek. “Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.”

“Percayakan itu padaku,” tegas Gajah Alit.

”Baiklah...Kalau demikian aku bersamamu menunggu kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri.”

Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya terdengar ia berkata, “Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi.”

“He...?” Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu. “Dengan siapa Kakang pergi?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku,” jawab Mantingan.

Mahesa Jenar dan Gajah Alit berbareng mengangguk-angguk. Terlintaslah dalam angan- angan mereka, bahwa kakak seperguruan Mantingan setidak-tidaknya adalah setingkat dengan Mantingan.

Dan memang sebenarnyalah demikian. Kakak seperguruannya itu pun baru saja menerima ilmu Pacar Wutah berbareng dengan Mantingan, menjelang keberangkatan mereka.

Meskipun Wiraraga lebih lama menekuni pelajaran gurunya, tetapi karena sifatnya yang pendiam dan jarang-jarang keluar dari padepokan seperti gurunya, maka Mantingan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Karena itu, keperkasaan Mantingan tidaklah kalah dengan kakak seperguruannya itu.

Dalam perjalanannya yang berbahaya itu, Ki Ageng Supit tidak sampai hati melepaskan Mantingan pergi sendiri, sebab ia pernah mendengar siapa saja yang tergolong dalam lingkaran hitam. Karena itu ia minta Wiraraga menyertainya.

“Di manakah kakak seperguruan Kakang itu?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Seperti juga Adi Gajah Alit, Kakang Wiraraga memisahkan diri sejak kemarin. Malam ini kami berjanji akan bertemu. Meskipun tempat yang kita cari itu masih belum dapat kami temukan.”

”Mudah-mudahan Kakang Paningron tidak bertemu dan bertempur dengan kakak seperguruan Kakang Mantingan,” sela Gajah Alit sambil tertawa lucu.

“Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar.

“Kalau demikian...” lanjut Mahesa Jenar, “Aku tunggu di sini. Kalian cari kawan-kawan kalian itu, dan bawalah mereka kemari. Tempat pertemuan itu tak usah kalian cari-cari lagi.”

“Kenapa?” tanya Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng.

“Carilah kawan-kawan kalian dan cegahlah kalau mereka benar-benar bertemu dan bertempur seperti kalian tadi. Aku menunggu kalian di sini.”

Kemudian terdengar Gajah Alit tertawa riuh. “Untunglah aku bertemu Kakang di sini. Melihat gelagatnya pasti Kakang Mahesa Jenar telah menemukan tempat itu.”

“Tepat!” sambung Mantingan, “Aku juga menduga demikian.”

Mahesa Jenar pun kemudian tertawa. “Mungkin kalian benar, karena itu kalian harus cepat-cepat menemukan kawan-kawan kalian.”

“Baiklah,” jawab mereka berbareng.

Ketika mereka telah tidak tampak lagi, segera Mahesa Jenar mencari tempat untuk beristirahat. Direbahkannya dirinya di atas sebuah batu besar, sambil memandang bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit.

Untuk beberapa lama pikirannya sempat melayang mondar-mandir dari waktu ke waktu, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.

Menjelang tengah malam, Mahesa Jenar mendengar langkah orang mendekati tempatnya berbaring. Cepat ia bangkit dan memandang ke arah suara itu. Tetapi kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat bayangan dua orang mendekatinya, serta keduanya membawa senjata ciri perguruan Ki Ageng Supit, yaitu trisula. Jelaslah bagi Mahesa Jenar bahwa kedua orang itu pasti Mantingan dan Wiraraga. Maka demikian kedua orang itu sampai di hadapan Mahesa Jenar, demikian Mantingan memperkenalkan kakak seperguruannya kepada Mahesa Jenar dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Mendengar nama itu segera Wiraraga membungkuk hormat sambil berkata, “Berbesarlah hatiku dapat berkenalan dengan seseorang yang pernah menggemparkan istana, karena berhasil menggagalkan pencurian pusaka di gedung perbendaharaan. Juga yang telah banyak menyelamatkan rakyat dari gangguan kejahatan.”

Mendengar pujian itu Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula. “Terimakasih Kakang, tetapi perguruan Kakang adalah perguruan yang terkenal pula. Karena itu seharusnya akulah yang merasa beruntung berkenalan dengan Kakang.”

Kembali Wiraraga mengangguk. Wajahnya yang ketua-tuaan itu tampak tersenyum- senyum. Meskipun umurnya tidak terpaut banyak dari Mantingan, tetapi nampaknya Wiraraga telah jauh lebih tua. Rambutnya telah mulai ditumbuhi uban. Matanya memancar lembut, tetapi dalam.

Tubuhnya kekar meskipun tidak begitu tinggi. Wiraraga memang benar-benar seorang pendiam. Tidak banyak ia berkata-kata. Ia lebih senang mendengarkan Mantingan berbicara daripada ia sendiri yang berbicara. Maka karena sifat-sifatnya itulah maka Wiraraga nampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah Gajah Alit datang pula bersama-sama dengan Paningron. Bagi Paningron, kehadiran Mahesa Jenar di situ sangat mengejutkan. Agaknya Gajah Alit belum memberitahukan lebih dahulu, sehingga suasana kemudian menjadi riuh.

Setelah pertemuan itu menjadi lebih tenang, barulah mereka berbicara tentang tokoh- tokoh hitam yang akan mengadakan pertemuan pada purnama penuh yang akan datang, serta tempat pertemuan mereka.

Dengan teliti Mahesa Jenar memberikan gambaran tentang lapangan yang akan dipergunakan, serta memberitahukan bahwa dalam pertemuan itu akan hadir Pasingsingan dan Sima Rodra. Dua orang angkatan tua yang setingkat dengan guru-guru mereka. Karena itu mereka harus sangat berhati-hati.

Dalam pertemuan itu mereka memutuskan untuk pada saat itu juga pergi ke tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu serta seterusnya mengatur agar setiap saat tempat itu dapat diawasi bergiliran.

Demikianlah maka segera mereka berlima pergi bersama untuk melihat keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan.

Sejak saat itu, mulailah rombongan Mahesa Jenar itu mengadakan pengawasan dengan teliti berganti-ganti. Mereka telah berhasil menemukan tempat yang sangat baik. Tempat itu agak menjorok ke atas, tetapi ditumbuhi pepohonan yang agak lebat. Dari tempat itu, mereka akan dapat melihat apa saja yang terjadi di lapangan rumput yang terbentang di hadapannya. Meskipun pada siang hari, tempat itu akan tetap merupakan tempat yang tersembunyi. Mereka yang sedang bertugas mengadakan pengawasan harus memanjat sebuah pohon yang tak begitu tinggi, namun berdaun rimbun. Sedang yang lain dapat dengan aman beristirahat tidak lebih dari dua puluh langkah dari tempat itu, sambil menikmati ketupat sambal, bekal yang dibawa oleh Mantingan atau jadah jenang alot, bekal Gajah Alit.

Pada siang hari itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat betapa orang-orang Uling Rawa Pening berusaha keras menyelesaikan pekerjaan mereka, bahkan pada malam harinya pun pekerja-pekerja itu tetap melakukan tugas mereka sampai barak-barak itu siap dipergunakan.

Maka pada hari berikutnya, menjelang purnama penuh, tampaklah di tempat itu kesibukan-kesibukan yang padat. Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menjelang hari sepenggalah.

Ketika matahari telah mencapai puncaknya, maka mulailah penjagaan-penjagaan sekeliling tempat itu semakin ditertibkan. Sri Gunting sendiri yang memimpinnya. Beberapa orang telah diperintahkan untuk meronda keliling, serta beberapa orang lagi ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap perlu.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berani lagi berbuat seenaknya. Sebab setiap saat ada kemungkinan para peronda melintasi tempat mereka bersembunyi. Karena itu, daripada mereka harus selalu memperhatikan keadaan di sekeliling mereka, maka mereka lebih menganggap aman apabila mereka semuanya memanjat pohon. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah menegangkan urat syaraf mereka.

Berdasarkan atas pikiran itu, maka segera mereka berlima memilih tempat mereka masing-masing. Tidak terlalu dekat satu sama lain, tetapi juga tidak terlalu jauh.

Beberapa saat, perasaan mereka dihinggapi oleh ketegangan yang semakin lama semakin memuncak, karena mereka harus menunggu suatu peristiwa yang cukup penting. Sedang di bawah mereka beberapa peronda sudah lebih dari dua kali lewat hilir-mudik. Namun untunglah bahwa tak seorang pun dari mereka merasa perlu untuk menyelidiki dahan- dahan kayu di atas mereka.

Ketika matahari telah condong ke barat, mulailah rombongan yang pertama datang ke tempat itu. Rombongan yang datang paling awal adalah rombongan dari Gunung Tidar. Beberapa waktu yang lampau Mahesa Jenar pernah menyaksikan orang-orang dari golongan hitam ini berkumpul, tetapi agaknya kali ini pertemuan mereka lebih bersifat resmi. Suami-istri Sima Rodra itu datang bersama beberapa pengiring, di bawah pimpinan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang menjorok, membuat garis-garis di wajah kulitnya yang hitam. Dengan demikian nampak betapa kokohnya ia, bahkan mirip seekor orang hutan.

Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menyambut rombongan itu, serta langsung dibawa ke salah satu barak yang terbesar, yang agaknya merupakan ruang pertemuan. Setelah mereka berbicara beberapa saat, rombongan itu kemudian dipersilahkan memasuki salah satu barak yang lain, yang rupa-rupanya menjadi tempat penginapan.

Demikian datanglah berturut-turut rombongan dari hutan Tambakbaya. Lawa Ijo bersama-sama dengan Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemoro Aking, Bagolan dan beberapa orang lagi. Disusul oleh kedatangan Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya.

Meskipun Mahesa Jenar telah menduga sebelumnya bahwa Lembu Sora pasti akan hadir juga dalam pertemuan itu, namun hatinya berdebar-debar pula menyaksikan kedatangannya.

Tetapi satu hal yang Mahesa Jenar masih menunggu-nunggu. Yaitu kehadiran Jaka Soka. Sampai matahari rendah sekali, Ular Laut dari Nusakambangan itu belum menampakkan diri. Sedangkan Pasingsingan dan Sima Rodra menurut perhitungan Mahesa Jenar pasti akan muncul ketika pertemuan itu sudah akan dimulai.

Sesaat kemudian matahari tenggelam dengan damainya, disusul oleh cahaya purnama penuh yang memancar dari sebuah bola yang melayang-layang di langit.

Pada saat yang demikian, agaknya pertemuan antara golongan hitam itu sudah akan dimulai.

Beberapa orang telah keluar dari barak-barak mereka, dan berkumpul di pinggir lapangan rumput itu. Uling Putih dan Uling Kuning untuk penghabisan kali memeriksa tempat pertemuan itu. Setelah ia merasa bahwa segala sesuatunya tidak ada kekurangan, maka segera terdengar sebuah kentongan dipukul perlahan-lahan.

Sesaat kemudian munculah tokoh-tokoh hitam dari barak mereka masing-masing menuju ke lapangan. Juga Ki Ageng Lembu Sora yang akan mengikuti pertemuan itu. Tetapi diantara mereka masih belum nampak Jaka Soka, Pasingsingan dan Sima Rodra.

Uling Putih sebagai tuan rumah segera mempersilahkan tamu-tamunya di tempat yang telah direncanakan. Lembu Sora sebagai tamu kehormatan menempati sisi sebelah barat bersama-sama dengan Uling Rawa Pening. Bagian selatan disediakan untuk Rombongan dari Gunung Tidar, sedangkan Bagian timur untuk gerombolan Hutan Tambakbaya. Bagian utara yang disediakan untuk rombongan dari Nusakambangan masih tampak kosong. Sedang tempat-tempat yang disediakan untuk Pasingsingan dan Sima Rodra pun masih tampak kosong. Tetapi belum lagi mereka selesai menempatkan diri, tiba-tiba dari arah utara munculah satu rombongan, yang di depan mereka berjalan seorang muda yang berwajah tampan. Ialah Jaka Soka yang datang sambil tersenyum-senyum, beserta beberapa pengiringnya.

Dengan munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.

Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut. Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.

Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora. Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya yang dipergunakannya sebagai perisai.

Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka. Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang lambung Lembu Sora dengan pedangnya.

Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.

Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi, sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar menyertai putaran pedangnya.

Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya menjadi semakin berbahaya pula.

Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka menjadi sadar atas apa yang terjadi.

Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka, hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka, kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.

“Biarkanlah mereka”, kata Uling Putih. “Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa.”

Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan, “Aku setuju dengan pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan. Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang? Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak sendiri binasa.”

Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.

Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.

Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang- orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.

Tak seorang pun dari orang-orang Lembu Sora atau Jaka Soka yang berani memulai sebelum mereka mendapat perintah dari pemimpin-pemimin mereka. Sedang Lembu Sora maupun Jaka Soka agaknya ingin menyelesaikan masalah itu seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Sebab dengan demikian akan puaslah hati mereka masing-masing yang berhasil membinasakan lawannya karena tangan sendiri.

Perkelahian antara Jaka Soka dan Lembu Sora semakin lama makin bertambah dahsyat. Masing-masing mengeluarkan segala kepandaiannya untuk membinasakan lawannya. Mereka sama sekali sudah tidak ragu-ragu lagi, seandainya lawan masing-masing terpenggal lehernya atau tersobek dadanya.

Lembu Sora yang kuat dan garang seperti singa itu menyerang semakin dahsyat dengan pedang yang terayun kian-kemari, sedang Jaka Soka berkelahi benar-benar seperti seekor ular yang membelit, menjalur dan mematuk-matuk berbahaya sekali.

Semua yang menyaksikan pertempuran itu terpaksa menahan nafas. Mau tidak mau mereka harus mengagumi keperkasaan kedua orang yang sedang bertanding. Lembu Sora percaya akan kekuatan tubuhnya melawan Jaka Soka yang mempunyai cara bertempur yang lemas sekali.

Sesaat kemudian pertempuran itu sampai ke taraf yang menentukan. Baik Jaka Soka maupun Lembu Sora telah mengerahkan segenap tenaganya secara berlebih-lebihan, sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah merasa bahwa tenaga mereka seakan- akan telah terperas habis. Karena itu sebelum mereka jatuh dan tidak bertenaga lagi, mereka telah sedemikian bernafsu untuk membinasakan lawannya.

Maka pada saat yang demikian, pada saat semua yang hadir lagi menahan nafas, tiba-tiba muncullah orang yang selama ini mereka nanti-nantikan, ialah Pasingsingan dan Sima Rodra. Melihat Lembu Sora dan Jaka Soka sedang dengan dahsyatnya mempertaruhkan nyawanya, Pasingsingan dan Sima Rodra mengernyitkan alisnya.

Tiba-tiba hampir tak diketahui apa yang sudah dilakukan oleh Pasingsingan, Jaka Soka dan Lembu Sora terpental bersama-sama beberapa langkah, dan kemudian mereka jatuh bergulingan. Ketika mereka bangun, mata mereka menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Tetapi ketika mereka melihat Pasingsingan telah berdiri diantara mereka, wajah mereka yang merah itu segera menjadi pucat dan ketakutan.

“Apa yang telah kalian lakukan?” bentak Pasingsingan.

Lembu Sora dan Jaka Soka sama sekali tidak menjawab. Dan karena mereka tidak menjawab, Pasingsingan segera memanggil Lawa Ijo, dan bertanya kepadanya,

“Kenapa mereka berkelahi?”

Dengan singkat Lawa Ijo menceriterakan apa yang telah terjadi, pertentangan antara Jaka Soka dan Lembu Sora pada saat mereka sedang mencegat pasukan-pasukan dari Demak beberapa waktu berselang.

Mendengar ceritera Lawa Ijo, sekali lagi Pasingsingan menyernyitkan alisnya, kemudian katanya, “Kenapa kalian diam saja melihat perkelahian itu?” Lawa Ijo, Sepasang Uling Rawa Pening, dan Sima Rodra terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tak seorang pun yang dapat menjawabnya.

“Kalian tak usah berbohong, sebab kalian akan bersyukur kalau salah seorang sekutu kalian atau kedua-duanya binasa,” lanjut Pasingsingan.

Yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu semakin diam, sebab Pasingsingan langsung dapat menebak isi hati mereka.

Kemudian Pasingsingan menoleh kepada Jaka Soka dan Lembu Sora. “Kalian telah merusak suasana malam purnama ini,” katanya.

Lembu Sora dan Jaka Soka tidak berkata sepatah pun. Mereka menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Kembalilah ke tempat kalian masing-masing,” perintah Pasingsingan.

Mendengar perintah itu segera Lembu Sora berjalan menuju ke tempatnya semula. Sedang para pengiringnya kemudian juga pergi ke tempat masing-masing.

Sementara itu Lawa Ijo, Sima Rodra muda telah mengambil tempatnya pula, sedang sepadang Uling Rawa Pening sibuk mempersilahkan Jaka Soka untuk menempatkan diri beserta para pengirinya di sisi utara. Adapun Pasingsingan kemudian dipersilahkan duduk bersama-sama dengan Sima Rodra tua di sisi sebelah barat, di samping tempat duduk Uling Rawa Pening.

Setelah suasana menjadi tenang kembali, serta para peserta pertemuan itu telah duduk di tikar pandan di sisi-sisi yang telah ditentukan, berkatalah Pasingsingan dengan nyaringnya, “Kalian, orang yang disebut golongan hitam, tetapi yang sebenarnya bercita- cita luhur seperti lazimnya manusia yang selalu ingin mencapai tingkatan tertinggi dalam kehidupan, bersyukurlah di dalam hati kalian bahwa pada malam hari ini kalian dapat berkumpul bersama-sama. Tetapi kalian pasti tak akan dapat berbuat sesuatu, sebab tidak ada diantara kalian yang pantas menjadi pemimpin diantara kita. Terbukti bahwa tidak seorang pun diantara kalian yang berhasil membawa keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu kemari.”

Pasingsingan diam sebentar. Pandangannya beredar dari setiap wajah yang berada di sekitar lapangan kecil itu. Sejenak kemudian ia melanjutkan, “Kalau kalian ingin mendapatkan tingkatan itu dengan mengadu kepandaian, maka cara itu pun tidak akan menyelesaikan masalahnya. Sebab suatu pertarungan diantara kalian dalam saat ini pasti hanya akan memakan waktu berlarut-larut. Coba lihat apa yang dilakukan oleh Jaka Soka dengan Ki Ageng Lembu Sora. Andaikata mereka dibiarkan bertempur terus pasti mereka akan mati kelelahan kedua-duanya, bersama-sama, atau kalau mereka menghemat tenaga mereka, pertempuran semacam itu akan dapat berlangsung berhari-hari”. Kembali Pasingsingan diam sejenak, lalu ia melanjutkan, “Yang penting sekarang kesatuan diantara kita masih kita perlukan. Marilah kita ubah persetujuan kita, dengan mengadakan persetujuan baru. Barang siapa yang terdahulu menemukan Keris Nagasasra dan Sabuk Inten, dialah yang segera diumumkan dan kita angkat menjadi pemimpin kita, dan kita dukung perjuangannya melawan pemerintah Demak.”

Suasana kemudian menjadi hening sepi. Tetapi dalam pada itu degup jantung Mahesa Jenar serta kawan-kawannya bertambah cepat. Apalagi Mahesa Jenar, Gajah Alit dan Paningron yang datang sebagai prajurit-prajurit Demak. Tetapi bagaimanapun mereka harus menahan diri, sebab di hadapan mereka berkumpul tokoh-tokoh hitam yang kuat, ditambah lagi dengan Pasingsingan dan Sima Rodra yang pernah mereka dengar namanya.

Tetapi lebih terkejut lagi mereka berlima ketika Pasingsingan kemudian melanjutkan, Sedangkan sekarang kalian mempunyai pekerjaan yang lebih penting. Pertemuan ini dapat kalian lanjutkan nanti setelah pekerjaan kita selesai. Nanti kita dapat mengatur siasat, menentukan sikap dan sebagainya, setelah orang-orang lain yang tidak kita undang tidak turut serta mendengarkan pembicaraan kita.

Yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi sibuk berpikir serta menduga-duga. Demikian pula Mahesa Jenar dan kawan-kawannya yang dengan lamat-lamat dapat mendengarkan setiap pembicaraan mereka, menjadi sibuk berpikir pula, sampai Pasingsingan berkata lebih lanjut, “Kalian ternyata terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara kalian untuk membinasakan kawan sendiri daripada berhati-hati menghadapi lawan.”

Orang-orang golongan hitam itu menjadi bertambah bingung, sedang Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, jantungnya bertambah cepat bergetar. Apakah kehadiran mereka telah diketahui oleh Pasingsingan?

Melihat kebingungan orang-orang yang berkumpul di sisi-sisi lapangan itu, terdengar Sima Rodra tua tertawa pendek. “Apakah yang akan kalian banggakan untuk dapat menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang tidak tentu di mana sekarang berada. Apakah benar-benar telah hilang dari Banyubiru atau hanya disembunyikan saja oleh si Gajah Sora atau si tua bangka Sora Dipayana, ayah Lembu Sora itu. Sedangkan apa yang ada di hadapan hidung kalian saja tidak kalian ketahui,” katanya.

Perasaan mereka yang mendengarkan kata-kata itu menjadi semakin kisruh. Melihat keadaan itu agaknya Pasingsingan tidak sabar lagi. “Berdirilah kalian dan berjalanlah kalian ke arah tenggara. Lihatlah setiap pohon yang tumbuh di sana, kalian akan menemukan orang yang telah kalian sangka mati terguling ke dalam jurang beserta empat orang kawannya,” katanya keras-keras.

Tampaklah betapa terkejutnya tokoh-tokoh hitam yang sedang berkumpul itu. Tetapi tidak kurang pula terkejutnya Mahesa Jenar dengan kawan-kawannya. Ternyata kehadiran mereka telah diketahui oleh Pasingsingan dan Sima Rodra. Bagaimanapun mereka terpaksa mengakui betapa tinggi ilmu kedua orang dari angkatan tua itu.

Di samping itu, kata-kata Pasingsingan merupakan suatu peringatan bagi Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya, untuk tidak mempunyai pilihan selain berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidup masing-masing, meskipun mereka sadar bahwa seandainya Pasingsingan dan Sima Rodra ikut campur maka tak ada jalan untuk melepaskan diri dari maut. Meskipun demikian, kemungkinan-kemungkinan itu memang sudah terpikirkan sejak mereka berangkat. Karena itu, satu-satunya jalan adalah mencari korban sebanyak- banyaknya sebelum dirinya binasa.

Karena itu sebelum mereka terkunci di atas pohon, maka segera dengan cepat Mahesa Jenar turun diikuti oleh kawan-kawannya. Demikian mereka sampai di atas tanah, segera mereka menyiapkan senjata masing-masing. Gajah Alit segera menimbang-nimbang bola besinya yang bertangkai rantai, Paningron bersenjata sebuah tombak yang berkait kecil, sedang Mantingan dan Wiraraga tampak menggosok-gosok trisula masing-masing, seolah-olah sedang membesarkan hati senjata-senjata itu.

Hanya Mahesa Jenar sendirilah yang tidak bersenjata, tetapi di sisi telapak tangannya tersimpan senjata yang dahsyat, yaitu Aji Sasra Birawa.

Sementara itu, tokoh-tokoh hitam yang terdiri dari tujuh orang, Sima Rodra muda suami- istri, kakak-beradik Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan Lembu Sora segera berloncatan berlari-lari ke arah yang ditunjukkan oleh Pasingsingan.

Ketika tokoh-tokoh hitam itu sedang mendekati Mahesa Jenar dengan kawan-kawannya, terdengarlah Sima Rodra berteriak dengan suaranya yang gemetar, “He, kalian laskar yang mengikuti pemimpin-pemimpin kalian kemarin. Janganlah kalian menjadi penonton saja. Kepunglah orang-orang yang telah memberanikan diri bertindak sombong dan merendahkan kita sekalian.”

Mendengar perintah Sima Rodra tua, segera laskar-laskar golongan hitam itu bubar berlari-larian memencar ke segenap arah untuk mengepung Mahesa Jenar dan kawan- kawannya.

Gajah Alit yang merasa bahwa senjatanya kurang menguntungkan bila dipergunakan di tempat yang berpohon-pohon, segera berkata, “Kakang Mahesa Jenar, aku kira lebih baik aku menyongsong mereka di tempat terbuka supaya rantaiku tidak melilit-lilit pepohonan.”

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, Gajah Alit telah menghambur lari seperti sebuah batu yang menggelinding cepat sekali. Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya yang lain, agaknya tidak tega melepaskan Gajah Alit menyongsong seorang diri. Karena itu, ia segera menyusulnya, menyongsong lawan-lawan mereka di tempat yang terbuka.

Yang mula-mula sekali sampai adalah Lawa Ijo. Hatinya yang panas melebihi bara itu tidak dapat dikendalikan lagi. Dendamnya kepada Mahesa Jenar bertimbun-timbun sampai menyentuh langit. Tetapi di antara gerumbul di tepi lapangan itu yang muncul pertama-tama adalah Gajah Alit. Tanpa menanyakan apa-apa lagi, Gajah Alit langsung menyerangnya.

Lawa Ijo terpaksa membatalkan maksudnya untuk mencari Mahesa Jenar, karena ia harus melayani Gajah Alit yang menilik geraknya, ternyata sangat berbahaya.

Lawa Ijo tidak berani menganggap enteng kepada lawannya yang gemuk pendek hampir bulat itu. Apalagi ketika Lawa Ijo mendengar desing bola besi yang berputar-putar mengerikan melibat tubuhnya. Cepat-cepat ia meloncat mundur dan cepat ia berdiri di atas tanah, kedua tangannya telah memegang pisau belati panjangnya. Dengan senjata- senjata itulah ia bertempur melawan Gajah Alit.

Yang menyusul dibelakang Lawa Ijo adalah Sepasang Uling dari Rawa Pening. Sambil memutar-mutar cemetinya, mereka menyerang dengan ganas sekali. Tetapi segera mereka terhenti ketika Mantingan dan Wiraraga menghadangnya. Agaknya sepasang Uling itu sudah menjadi sedemikian marahnya sehingga langsung mereka menghantam Wiraraga dan Mantingan, dua orang yang kini tidak dapat direndahkan. Mereka telah dibekali dengan sebuah ilmu yang sukar tandingannya, yaitu Pacar Wutah.

Melihat sepasang Uling itu menyerang berpasangan, segera Wiraraga dan Mantinganpun melawan nya dengan berpasangan pula.

Paningron agaknya lebih suka melawan seorang yang bertubuh besar dan tinggi serta berkumis dan berjanggut lebat. Ialah Sima Rodra Muda dari Gunung Tidar.

Yang datang terakhir adalah Lembu Sora dan Jaka Soka, yang sudah hampir kehabisan tenaga setelah mereka bertempur sendiri, beserta isteri Sima Rodra.

Karena semuanya telah mempunyai lawannya masing-masing, maka Mahesa Jenar mau tidak mau harus bertempur melawan ketiga orang itu untuk mencegah bantuan mereka kepada tokoh-tokoh yang sedang mengadu tenaga. Adalah suatu keuntungan besar bahwa Lembu Sora dan Jaka Soka baru saja bertempur mati-matian sehingga hampir tiga perempat bagian tenaganya telah terperas habis. Juga karena pertentangan diantara mereka itu pula, maka pasangan mereka tidak begitu tertib sehingga Mahesa Jenar tidak begitu banyak mengalami kesulitan untuk melawan mereka bertiga.

Sejenak kemudian terjadilah lingkaran-lingkaran pertempuran yang hebat di tepi lapangan itu. Lawa Ijo dengan kedua pisau di tangannya menyerang bertubi-tubi dengan marahnya. Ia bermaksud untuk membinasakan Gajah Alit secepat-cepatnya supaya segera ia dapat melawan Mahesa Jenar. Di hadapan gurunya, Lawa Ijo menjadi bertambah garang, sebab ia tidak perlu lagi takut terhadap aji Sasra Birawa.

Karena itu gerakannya menjadi bertambah sengit. Tetapi Gajah Alit adalah perwira dari pasukan Nara Manggala, pasukan pengawal raja. Karena itu kepandaiannya hampir mumpuni, dan sama sekali tidak berada di bawah Lawa Ijo. Apalagi tangan yang pendek- pendek itu diperpanjang dengan rantainya yang berkepala bola besi, yang seakan-akan bola besi itu mempunyai mata, sehingga seolah-olah selalu mengejar kepala Lawa Ijo ke mana kepala itu disingkirkan. Dengan demikian untuk sementara Lawa Ijo harus melupakan Mahesa Jenar, sebab orang yang dihadapi itu pun merupakan seorang yang perkasa.

Di bagian lain, Uling Putih dan Uling Kuning bertempur berpasangan melawan Wiraraga dan Mantingan yang bertempur berpasangan pula. Di bawah cahaya purnama penuh, perkelahian itu tampak betapa berbahayanya apabila salah seorang menjadi lengah sedikit saja. Mereka berloncatan, sambar-menyambar dengan hebatnya. Sepasang cemeti di tangan kedua Uling itu berputar-putar dan terayun-ayun ke segenap penjuru, seolah-olah menjadi gumpalan-gumpalan asap yang melibat isi-mengisi satu sama lain. Tetapi sementara itu dua Trisula di tangan Wiraraga dan Mantinganpun bergerak berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan. Ujungnya yang bermata masing-masing 3 buah itu seakan- akan berubah menjadi ratusan bahkan ribuan, yang oleh kedahsyatan ilmu Pacar Wutah menjadi benar-benar seperti genggaman demi genggaman bulan pacar yang ditebarkan, sehingga sangat sulit untuk menghindarinya.

Paningron mempunyai cara sendiri dalam pertempurannya melawan Sima Rodra muda yang bersenjatakan pusakanya, sebuah tombak pendek yang dinamainya Kala Tadah. Ia tidak begitu banyak bergerak. Di atas kedua kakinya, ia berdiri teguh, sedang tombak berkaitnya tergenggam di tangannya. Ia hanya berkisar setapak demi setapak menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Dan apabila serangan datang, tangannyalah yang bergerak tangkas sekali. Tetapi meskipun demikian, apabila tampak padanya kesempatan, seperti kilat ia meloncat dan menyerang dengan garangnya. Tetapi Sima Rodra pun adalah seorang yang cukup berpengalaman, sehingga segera ia menyesuaikan diri dengan lawannya. Ia tidak berani banyak membuang tenaga yang tidak perlu, sebab dengan demikian, lawannya akan dapat membinasakan apabila tenaganya sudah separoh habis.

Sedangkan Mahesa Jenar yang menghadapi tiga orang sekaligus, bertempur seperti banteng terluka. Ia masih mencoba mengalahkan lawannya tanpa Aji Sasra Birawa yang mengerikan itu. Sebab gurunya selalu berpesan kepadanya bahwa apabila nyawanya tidak terancam benar-benar, sebaiknya ia tidak mempergunakan Sasra Birawa itu. Tetapi kemudian ternyata bahwa ketiga lawannya meskipun sudah tidak mempunyai tenaga penuh, namun akhirnya, karena mereka bersama-sama harus mempertahankan jiwa mereka, gerak mereka pun menjadi garang. Agaknya Lembu Sora dan Jaka Soka untuk sesaat dapat melupakan pertentangan mereka, ditambah dengan istri Sima Rodra yang bertempur dengan jari-jarinya yang mengembang dan di ujung-ujung jari itu tampak kuku-kukunya yang panjang dan bersalutkan logam yang pasti beracun. Itulah senjatanya yang ditakuti lawan-lawannya.

Lembu Sora dengan pedang panjangnya dan Jaka Soka dengan pedang lenturnya merupakan bahaya-bahaya yang setiap saat dapat mencabut jiwa Mahesa Jenar.

Sementara itu laskar golongan hitam dari tingkat yang paling bawah sampai pada orang- orang seperti Wadas Gunung, Sri Gunting, Sakayon, Carang Lampit dan sebagainya menyaksikan pertempuran itu dengan mata tanpa berkedip. 12 Orang yang perkasa sedang bergulat mati-matian antara hidup dan mati. Diantara kilatan senjata serta sambaran-sambaran angin yang ditimbulkan oleh pertempuran itu, berkali kali terdengar dentangan senjata serta teriakan-teriakan nyaring, yang bahkan kadang menimbulkan percikan bunga api memancar-mancar.

Pasingsingan dan Sima Rodra pun mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Tetapi sampai sekian jauh ia masih belum memerintahkan kepada laskar-laskar golongan hitam itu untuk turut serta dalam pertempuran itu, sebab hal itu belum pasti akan menguntungkan, malahan mungkin akan merepotkan saja.

Dalam ketegangan yang semakin lama semakin memuncak itu, seolah-olah waktu berjalan lambat sekali. Agaknya bulan pun ingin menyaksikan pertempuran yang hebat itu sehingga perjalanannya agak terganggu.

Tetapi sesaat kemudian Sima Rodra dan Pasingsingan menjadi agak cemas melihat jalannya pertempuran. Sudah sampai sekian lama, namun orang-orangnya masih belum ada tanda-tanda dapat menguasai lawannya. Apalagi ketika tiba-tiba mereka menyaksikan Mahesa Jenar, yang ternyata akhirnya merasa terdesak, telah mengambil sikap. Kakinya diangkat dan ditekuk kedepan, satu tangannya menyilang dada sedang tangannya yang lain diangkat tinggi-tinggi. Segera pula ia mengatur pernafasannya dan memusatkan tenaganya pada sisi telapak tangannya. Itu adalah pertanda bahwa Mahesa Jenar telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang tersimpan di dalam sisi telapak tangannya, Sasra Birawa.

Lembu Sora, Jaka Soka dan Istri Sima Rodra, yang menyaksikan sikap Mahesa Jenar itu segera berloncatan mundur dan berpencaran. Mereka sadar bahwa apabila salah seorang dari mereka sampai tersentuh tubuhnya maka mereka tidak dapat mengharapkan untuk dapat menyaksikan terbitnya matahari fajar besok.

Karena itu mereka menjadi semakin hati-hati, dan tidak berani menyerang sekenanya, meskipun mereka masing-masing bersenjata.

Melihat keadaan itu, Sima Rodra ternyata tidak mau membiarkan tokoh-tokoh hitam itu kehilangan hati. Maka segera terdengar ia mengaum hebat. Akibatnyapun hebat sekali. Suara itu rasanya seperti mengguncang isi dada. Pasingsingan yang melihat Sima Rodra tua itu sudah akan bertindak, ia pun tidak tinggal diam. Meskipun bukanlah sewajarnya kalau orang-orang angkatan tua itu harus melawan Mahesa Jenar, namun bagi mereka tidak akan ada banyak bedanya, apakah Lawa Ijo dan kawan-kawannya, apakah Pasingsingan dan Sima Rodra yang membinasakan, meskipun mula-mula ia mengharap bahwa anak muridnya beserta kawan-kawannya dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri untuk tidak membawa-bawa namanya. Tetapi sekarang, terpaksa ia terjun ke dalam pertempuran itu.

Tetapi baru saja ia meloncat,  terdengarlah Sima Rodra berkata, “Pasingsingan,  kau jangan memperkecil perananku dalam pembunuhan yang akan aku lakukan. Kau tinggal pilih, aku atau kau yang membunuh kelima ekor kelinci yang sombong itu.”

Mendengar teriakan Sima Rodra itu Pasingsingan tertawa. “Apakah bedanya? Kau yang membunuh kelima-limanya, atau aku, atau kita berdua?” jawabnya.

Terdengarlah Sima Rodra menggeram. Kemudian katanya, “Baiklah.... Marilah kita berlomba. Siapakah diantara kita orang tua-tua ini yang masih cukup kuat bergerak. Kau atau aku yang terbanyak dapat membunuh kelima orang yang sudah jemu memandang purnama malam ini.”

Kembali terdengar Pasingsingan tertawa. Suara tertawanya seolah-olah menyusup ke dalam tulang dan daging, sehingga menimbulkan perasaan nyeri dan pedih. Ketika suara tertawanya itu lenyap, terdengarlah suara suitan nyaring diikuti oleh suatu auman dahsyat. Dan seperti kilat berloncatanlah Pasingsingan dan Sima Rodra memasuki arena.

Mahesa Jenar yang masih menunggu kesempatan beserta keempat kawannya mendengar seluruh percakapan itu. Mau tidak mau hati mereka tergetar hebat.

Ternyata sekarang Pasingsingan dan Sima Rodra akan ikut serta dalam pertempuran itu. Mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang takut mati, tetapi sebentar lagi mereka harus binasa sebelum dapat berbuat sesuatu atas tokoh-tokoh hitam itu. Itulah yang menggelisahkan hati mereka. Tetapi kenyataan itu sama sekali tak dapat diingkari lagi.

Segera darah mereka bergolak ketika mereka mendengar suitan Pasingsingan yang disusul dengan auman dahsyat Sima Rodra. Apalagi ketika dengan aba-aba itu, tokoh- tokoh hitam yang sedang bertempur itu segera berloncatan menjauhkan diri dari lawan masing-masing, agar tidak mengganggu kedua tokoh angkatan tua yang akan terjun dalam pertempuran.

Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya sadar bahwa saat terakhir telah hampir tiba. Ketika lawan-lawan mereka berloncatan pergi, untuk sesaat mereka tertegun, tetapi sesaat kemudian tanpa sesuatu tanda apapun, agaknya mereka mempunyai persamaan perhitungan, sehingga seolah-olah digerakkan oleh satu tenaga, mereka berloncatan saling mendekat, untuk dapat bersama-sama melawan kedua orang tokoh dari angkatan tua itu.

Melihat mereka berkumpul dalam satu lingkaran, terdengarlah Pasingsingan dan Sima Rodra tertawa hampir berbareng.

“Suatu kesetiakawanan yang mengagumkan. Meskipun kalian berdatangan dari perguruan yang berbeda-beda, tetapi karena nasib kalian telah akan kami tentukan, maka kalian dapat bekerja sama dengan rapi sekali. Nah sekarang, lawanlah kami berdua yang tak bersenjata ini dengan segenap kemampuan kalian, sebelum kalian tak sempat menikmati lezatnya madu,” kata Pasingsingan. Kata-kata itu hebat akibatnya. Bunyinya terdengar lebih dahsyat dari seribu guruh yang meledak bersama-sama. Tetapi justru karena itu maka setiap hati dari kelima orang itu menjadi pasrah pada garis hidupnya masing-masing. Dengan demikian maka lenyaplah segala perasaan gentar dan cemas. Yang ada dalam dada mereka hanyalah satu kepercayaan bahwa pintu sorga akan terbuka bagi mereka yang gugur dalam menunaikan tugas mereka untuk membela kebenaran dan kebajikan. Karena itu mereka menjadi lebih mantap menggenggam senjata masing-masing yang siap diayunkan.

Sesaat kemudian tampilah Pasingsingan dan Sima Rodra bersama-sama, berbareng dengan bergeraknya setiap senjata kawan-kawan Mahesa Jenar. Segera berkobarlah suatu pertempuran yang dahsyat. Kedua orang dari angkatan tua itu memang ternyata memiliki ketinggian ilmu yang luar biasa, sehingga dengan tertawa-tawa saja Pasingsingan dan Sima Rodra dengan senangnya mempermainkan korbannya.

Dalam pada itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya telah bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri. Mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Pasingsingan dan Sima Rodra yang hanya dua orang itu seolah-olah seperti angin ribut yang melanda dari segenap penjuru, sedang suara tertawa mereka mengumandang dari segala arah.

Semakin lama Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bingung. Mereka sudah tidak tahu lagi di mana lawan-lawan mereka berada. Tetapi tahu-tahu tubuh mereka telah tersentuh oleh tangan-tangan yang panasnya melampaui panas api.

Mereka sadar bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra sampai saat itu baru sampai pada taraf menggoda saja, serta menimbulkan kebingungan dan kesakitan yang semakin lama semakin merata di segenap tubuh Mahesa Jenar dan kawan-kawannya.

Sehingga akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu bertempur seperti orang gila yang mengayun-ayunkan senjata tanpa tujuan, bahkan hampir-hampir saja mereka telah mengenai satu sama lain.

Sementara itu suara tertawa Pasingsingan dan Sima Rodra semakin lama menjadi semakin mengerikan dan menggoncang-goncang dada. Mahesa Jenar dan kawan- kawannya semakin lama menjadi semakin tak terkendalikan. Mereka bergerak berputaran tanpa tujuan dan hampir diluar kesadaran mereka masing-masing.

Sesaat kemudian agaknya Pasingsingan dan Sima Rodra telah jemu dengan permainan mereka. Karena itu segera terdengar Pasingsingan berkata, “Sima Rodra, agaknya “kelinci-kelinci itu sudah hampir gila. Apakah kita perlu membunuhnya ataukah kita buat saja mereka benar-benar gila? Buat apa kita menonton orang-orang gila berkeliaran di daerah ini?”

“Baiklah, kita bunuh saja mereka dengan senjata mereka sendiri”, jawab Sima Rodra. Mendengar percakapan Pasingsingan dengan Sima Rodra itu, Mahesa Jenar dengan keempat kawannya meremang seluruh tubuhnya. Tetapi juga karena itu darah mereka meluap-luap karena marah. Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ada, mereka pasrahkan jiwa dan raga kepada kekuasaan yang Tinggi. Dan sesudah itu mereka bersiap untuk menghadapi saat-saat terakhir.

Mahesa Jenar serta keempat kawannya itu masih sempat menyaksikan di bawah remang- remang cahaya purnama yang disaput mega, bayangan Pasingsingan dan Sima Rodra menyambar ke arah mereka, dan sejenak kemudian mereka melihat kedua orang itu berdiri sambil tertawa nyaring beberapa langkah di hadapan mereka dengan sebuah tombak berkait di tangan Pasingsingan serta sebuah trisula di tangan Sima Rodra.

“Nah...” kata Pasingsingan, “Jangan salahkan aku kalau kalian mati karena senjata kawan sendiri. Yang mula-mula harus membuat perhitungan adalah Mahesa Jenar. Kau telah membunuh Watu Gunung, melukai Lawa Ijo, dan dengan Gajah Sora kalian menyerang aku di Banyubiru. Kaulah orang yang pertama-tama harus binasa. Setelah itu sebenarnya bagiku sudah tidak ada soal lagi, apakah aku atau Sima Rodra yang akan membelah perut kalian.”

Mahesa Jenar mendengarkan kata-kata itu dengan dada yang bergetar. Bukan oleh ketakutan bahwa maut akan melibatnya, tetapi karena ia harus meninggalkan tugas-tugas sucinya sebelum seujung kuku dapat diselesaikan. Namun bagaimanapun ia adalah seorang jantan, karena itu ia tidak akan ada artinya. Maka segera ia pun mempersiapkan dirinya dengan apa yang ada padanya.

Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, agaknya keempat kawan Mahesa Jenar tidak akan membiarkan Mahesa Jenar menjadi korban yang pertama-tama. Karena itu seperti orang yang berebutan, mereka tiba-tiba berloncatan mengelilinginya. Mahesa Jenar menjadi terharu melihat kesetiakawanan yang sedemikian tinggi. Meskipun Paningron dan Wiraraga kini sudah tidak bersenjata lagi, tetapi mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang akan datang.

Melihat kejadian itu Pasingsingan menjadi marah.

“Ke tepilah kalian yang tidak berkepentingan. Atau kalian semuanya akan bersama-sama binasa,” katanya.

Tak seorangpun menjawab, tetapi tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Hal itu menjadikan Pasingsingan semakin marah. Tetapi belum lagi ia berkata sesuatu, Sima Rodra yang agaknya tidak sabar lagi, menggeram. “Mereka ternyata benar-benar telah gila dan tidak mampu berkata-kata. Karena itu buat apa kita memilih korban. Marilah bersama-sama kita binasakan mereka sekaligus.”

Pasingsingan tidak menjawab. Tetapi segera mereka berdua bergerak dan seperti petir mereka menyambar bersama-sama.

Tetapi sementara itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berdiam diri saja sambil menunggu dada mereka tertembus senjata. Mereka pun segera berusaha untuk melawan sekuat-kuat tenaga mereka. Maka segera terjadilah sekali lagi pertempuran yang maha dahsyat.

Tetapi adalah di luar dugaan mereka semuanya, bahwa tiba-tiba saja Mahesa Jenar dapat memberikan perlawanan yang mengerikan. Dengan sebatang dahan kayu ia menyambar, melompat, menangkis dan menyerang dengan dahsyatnya hampir di luar kemampuan manusia.

Mahesa Jenar seolah-olah berada di segala tempat dan dapat menggagalkan segala serangan Pasingsingan dan Sima Rodra, walaupun tidak diarahkan kepadanya. Sehingga baik kawan-kawan Mahesa Jenar sendiri maupun Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi terheran-heran. Mantingan, Gajah Alit, Wiraraga dan Paningron sampai-sampai terpaksa berhenti bertempur karena Mahesa Jenar selalu bergerak dan seolah-olah melayang- layang di hadapan mereka, pada setiap waktu nyawa mereka terancam, sehingga di dalam lingkaran pertempuran itu seakan-akan ada beribu-ribu Mahesa Jenar yang bertempur bersama-sama. Karena itu dada mereka sekarang tergoncang hebat, tidak karena Pasingsingan dan Sima Rodra, tetapi justru karena Mahesa Jenar yang berubah menjadi ribuan Mahesa Jenar dengan kesaktiannya yang dapat menandingi Pasingsingan dan Sima Rodra.

Sebaliknya Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi terheran-heran tak keruan. Menghadapi lima orang yang sebenarnya bagi mereka sama sekali tak berarti itu, tiba- tiba saja menjadi agak kerepotan.

Serangan-serangan mereka yang seharusnya sudah tidak mungkin dielakkan oleh orang- orang yang setingkat dengan Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu, tiba-tiba dapat dimusnahkan hanya oleh sepotong dahan kayu. Karena itu mereka menjadi semakin marah. Apalagi ketika mereka melihat kelima orang yang melawannya itu bergerak berputaran melingkar dan melibat satu sama lain dengan gerak yang tak terduga-duga dan membingungkan.

Sebenarnya kawan-kawan Mahesa Jenar itu sama sekali tidak mampu mengadakan gerakan-gerakan yang sedemikian rumitnya, tetapi Mahesa Jenar lah yang mendorong mendesak dan kadang-kadang menarik mereka untuk membuat gerakan-gerakan yang aneh-aneh.

Akhirnya Pasingsingan menjadi tidak sabar lagi, demikian juga Sima Rodra. Segera mereka melemparkan senjata-senjata rampasan itu, dan tiba-tiba di tangan Pasingsingan telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang berwarna kuning gemerlapan, sedang di jari-jari Sima Rodra seolah-olah tumbuhlah kuku-kukunya yang panjang dan bersalut logam. Agaknya kedua orang itu telah sedemikian marahnya sehingga mereka merasa perlu mempergunakan senjata-senjata simpanan mereka.

Dalam pada itu, segenap tokoh-tokoh hitam yang menyaksikan pertempuran itu menjadi cemas dan kebingungan. Berkali-kali mereka menggosok-gosok mata mereka, sebab di dalam keremangan cahaya bulan yang tidak seterang siang hari, mereka telah menyaksikan suatu pertempuran yang tak dapat diikuti oleh pikiran-pikiran mereka. Pasingsingan dan Sima Rodra adalah dua tokoh yang berada dalam tingkatan guru Mahesa Jenar, bahkan mungkin berada diatas guru-guru orang-orang lain kawan-kawan Mahesa Jenar.

Tetapi ternyata untuk melawan mereka berlima, kedua orang sakti itu telah terpaksa mempergunakan senjata-senjata mereka yang hampir sama sekali tak pernah mereka perlihatkan. Apalagi di dalam lingkaran pertempuran itu, mereka melihat bayangan Mahesa Jenar berubah, seakan-akan lebih dari satu Mahesa Jenar yang berdiri di sana sambil bergerak menyambar-nyambar tak terikuti oleh pandangan mereka.

Sementara itu pisau belati panjang Pasingsingan telah mulai bergerak menyambar- nyambar, sedang jari-jari Sima Rodra yang berkuku panjang-panjang mengembang mengerikan. Namun Mahesa Jenar dapat dengan tangkasnya melawan setiap serangan kedua tokoh itu. Malahan sekali-sekali potongan dahan kayu di tangannya berhasil mengenai tubuh Pasingsingan dan Sima Rodra. Dengan demikian sekarang bergantilah bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra yang menjadi kebingungan dan bertempur dengan gelisah.

Barulah teka-teki itu terpecahkan ketika Pasingsingan dan Sima Rodra yang sudah kebingungan meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak dengan kelima lawannya yang aneh itu.

Karena Pasingsingan dan Sima Rodra adalah dua orang yang sudah kenyang makan asin pahit kehidupan, maka mereka segera menaruh curiga bahwa pasti ada sesuatu yang tidak wajar.

Ketika mereka telah berdiri dengan jarak dua tiga langkah, tahulah mereka bahwa mata mereka telah terkelabui. Karena itu segera Pasingsingan berteriak nyaring dibarengi oleh suara auman dahsyat dari Sima Rodra untuk menyatakan kemarahan hati mereka.

Ternyata yang berdiri di hadapan mereka itu, yang semula adalah lima orang, tiba-tiba tanpa setahu orang setingkat Pasingsingan dan Sima Rodra telah berubah menjadi tujuh orang. Sedang kedua orang yang melibatkan diri kedalam pertempuran itu berpakaian kumal dan berwarna gelap mirip sekali dengan pakaian Mahesa Jenar.

Apalagi gerak mereka pun sedemikian dekat dengan gerak anak perguruan Pengging itu. Mereka berdualah yang memegang tongkat potongan dahan kayu. Sedang Mahesa Jenar yang sebenarnya tanpa diketahuinya sendiri telah memegang sepotong dahan kayu yang mirip dengan kedua dahan yang lain. Itulah sebabnya bahwa dalam keributan pertempuran itu Mahesa Jenar seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu Mahesa Jenar yang berada di segala tempat.

Mengalami peristiwa itu Pasingsingan dan Sima Rodra untuk sejenak tertegun heran. Ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. Meskipun Pasingsingan dan Sima Rodra sadar bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa, namun peristiwa itu adalah peristiwa yang hampir tak mungkin dapat dimengerti. Hal ini adalah suatu pertanda bahwa kedua orang yang memasuki arena itu adalah orang yang mumpuni.

Apalagi Mahesa Jenar sendiri beserta keempat kawannya. Mereka jadi ragu-ragu sendiri apakah otak mereka telah benar-benar tidak bekerja dengan baik.

Baru kemudian sadarlah mereka bahwa ada orang lain yang sengaja akan menolong jiwa mereka. Karena ternyata ketika mereka sempat memperhatikan setiap wajah diantara mereka, dapatlah mereka ketahui bahwa kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar, kumal dan gelap itu, sama sekali bukan Mahesa Jenar. Wajah-wajah mereka tampak merah kehitam-hitaman.

Di bawah cahaya bulan yang remang-remang, memang sangat sulit untuk mengenali siapakah mereka itu. Apalagi agaknya kedua orang itu dengan sengaja telah mewarnai wajah-wajah mereka dengan warna-warna hitam dan merah. Sedemikian hebatnya peristiwa itu mempengaruhi perasaan mereka sehingga kelima orang itu tubuhnya menjadi gemetar.

Sementara itu darah Pasingsingan dan Sima Rodra serasa mendidih, membakar rongga dada mereka. Mereka merasa bahwa perbuatan kedua orang itu telah dilakukan dengan sengaja untuk menghinanya. Karena itu mereka menjadi marah sekali. Maka terdengarlah suara Pasingsingan yang seolah-olah melingkar-lingkar di dalam perut.

“Hai orang-orang yang telah berbuat seolah-olah jantan tanpa tandingan, kalian telah menghinakan kami. Apakah kalian tidak sadar bahwa perbuatan kalian itu dapat mengancam keselamatan jiwa kalian?”

Maka terdengarlah salah seorang menjawab dengan nada yang tajam tinggi dibuat-buat, sehingga semua orang yang mendengarnya mengetahui bahwa suara itu bukanlah suara aslinya untuk menyembunyikan diri,

“Aku hanya ingin bermain-main saja Pasingsingan, seperti kau ingin bermain-main dengan kelima kelinci-kelinci ini. Bukankah permainanku tidak kalah baiknya dengan permainanmu?”

Mendengar jawaban itu Sima Rodra menyahut dengan suaranya yang menggeletar, “Apa hubungan kalian dengan orang-orang yang akan aku binasakan itu?”

Kembali terdengar jawaban, “Hubungannya adalah, aku tidak senang melihat kau membinasakan orang-orang yang tak bersalah.”

Oleh jawaban itu, darah Sima Rodra dan Pasingsingan semakin menggelegak.

“Aku beri kesempatan kau minta ampun kepadaku, kata Sima Rodra. Atau, aku akan membinasakan kalian juga?”

Terdengarlah suara tertawa tinggi nyaring. Kemudian orang itu menjawab pula,

“Aku tidak senang melihat kau membinasakan kelima orang yang tak bersalah itu, apalagi kau akan membinasakan kami berdua. Pastilah, bahwa kami menjadi semakin tidak senang lagi.”

“Janganlah kalian berbicara seenaknya,” bentak Pasingsingan.

“Kau anggap bahwa orang-orang itu tak bersalah? Aku mempunyai sebuah ceritera yang tak akan habis aku ceriterakan semalam suntuk untuk membuktikan kesalahan mereka.”

“Aku sudah tahu apa yang akan kau ceriterakan.” Terdengar kembali sebuah jawaban,

“Dan aku mengerti pula apa yang kau anggap kesalahan orang-orang itu, bahwa mereka telah berusaha mencegah kejahatan-kejahatan yang kalian atau murid-murid kalian lakukan.”

Karena jawaban itu Pasingsingan hampir tak dapat menguasai dirinya, namun ia masih bertanya pula, “Siapakah sebenarnya kalian?”

“Orang yang selalu menyembunyikan wajahnya di belakang topeng yang jelek itu, tak perlu berusaha mengetahui siapakah orang-orang yang berdiri di hadapannya”, jawab orang itu.

Sekarang Pasingsingan benar-benar tak dapat menguasai dirinya. Dengan satu gerakan yang hampir tak dapat ditangkap oleh kecepatan pandangan mata, Pasingsingan meloncat maju. Belati panjangnya berkilau gemerlapan oleh sinar bulan yang remang-remang. Sedang Sima Rodra yang melihat kawannya mulai bertindak, segera pula mengaum menggetarkan sambil menerkam, tak ubahnya seekor harimau lapar.

Yang menyaksikan kedua serangan tokoh-tokoh hitam dari angkatan tua itu, dadanya berdesir. Seakan-akan tak ada seorang pun yang dapat menghindarkan diri dari serangan yang demikian dahsyatnya.

Tetapi ternyata dugaan mereka meleset. Dua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar itu, yang masing-masing menerima serangan dari Pasingsingan dan Sima Rodra, masih sempat berteriak nyaring,

“Mahesa Jenar, undurlah beserta kawan-kawanmu. Biarlah mereka selesaikan urusan ini dengan orang-orang yang sebaya.”

Setelah itu mereka segera berloncatan menghindari serangan-serangan lawannya yang hampir saja telah mengenainya. Mahesa Jenar dengan keempat kawannya, setelah mendengar kata-kata orang yang tak dikenalnya itu, segera berlari menjauhi sampai lebih dari 10 langkah.

Setelah itu maka terjadi suatu pertarungan yang maha dahsyat. Pertarungan yang jarang terjadi. Pasingsingan yang telah terkenal sebagai seorang yang paling ditakuti itu bertempur mati-matian dengan seorang yang tak dikenal, yang memiliki ilmu sempurna.

Demikian pula Sima Rodra. Ternyata lawannya memiliki ilmu yang tinggi pula sehingga pertempuran diantara mereka tidak kalah hebatnya.

Sejenak kemudian pertempuran itu sudah tidak dapat disaksikan dengan jelas. Yang tampak hanyalah asap yang bergulung-gulung libat melibat, serta kilatan cahaya yang menyambar-nyambar, disertai dengan angin yang melingkar-lingkar diantara mereka yang sedang bertempur itu.

Selain suara derap mereka yang sedang berjuang itu tak ada lagi yang bergerak, bahkan tak seorangpun yang sempat mengedipkan mata.

Suasana di lapangan kecil di tepi hutan itu benar-benar dicekam oleh suasana tegang yang mengerikan. Angin yang bertiup semilir seakan-akan menyebarkan udara maut ke segenap penjuru, sedang bunga-bunga liar menaburkan bebauan yang menjadikan udara bersuasana mati namun harum.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin lama semakin dahsyat. Orang-orang yang tak dikenal itu ternyata benar-benar dapat menandingi Pasingsingan dan Sima Rodra. Bahkan semakin lama semakin nampak bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi agak terdesak.

Hal ini adalah suatu kejadian yang sangat menggoncangkan dada mereka yang menyaksikan. Mereka jadi sibuk menduga-duga siapakah kedua orang itu. Wajahnya yang sengaja disaput dengan warna-warna hitam dan merah itu menjadi sangat susah untuk dikenali di dalam keremangan cahaya bulan.

Ketika Pasingsingan dan Sima Rodra semakin terdesak, maka tak ada pilihan lain dari mereka kecuali mempergunakan ilmu-ilmu terakhir yang menjadi andalan mereka. Segera Sima Rodra meloncat beberapa langkah mundur. Dengan sebuah auman yang hebat ia menggetarkan tubuhnya. Itulah suatu pertanda bahwa Harimau Liar dari Lodaya itu telah mempergunakan ajinya yang dahsyat, Macan Liwung.

Sedang di lain pihak, Pasingsingan segera mengenakan cincinnya yang bermata merah menyala, Kelabang Sayuta, dibarengi dengan ilmunya Alas Kobar. Akik Klabang Sayuta adalah semacam batu akik beracun yang sangat tajam dan pernah dipergunakan oleh Lawa Ijo untuk menghantam Mahesa Jenar. Untunglah Mahesa Jenar memiliki daya penawarnya. Sedang aji Alas Kobar sebenarnya adalah suatu ilmu yang maha dahsyat, yang apabila dipergunakan untuk menyerang lawan, akibatnya seperti api yang maha besar, yang seolah-olah sanggup memusnakan hutan yang lebat. Melihat kedua lawannya telah mempergunakan ilmu-ilmu yang paling akhir dimiliki, serta mempunyai daya hancur yang luar biasa, maka kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar itu segera berloncatan mundur. Tampaklah mereka mengerutkan kening dan menarik nafas panjang. Tetapi mereka sudah tidak memiliki waktu banyak untuk berfikir, sebab sesaat kemudian Pasingsingan dan Sima Rodra telah siap untuk menghancurlumatkan lawan-lawan mereka.

Mahesa Jenar beserta keempat kawannya yang menyaksikan gerak Pasingsingan dan Sima Rodra yang berubah menjadi buas dan mengerikan itu, menahan nafas. Dada mereka berdegupan. Apakah kira-kira yang akan terjadi apabila kedua orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu sampai terjamah oleh tangan-tangan yang siap menyebar maut itu?

Sebaliknya adalah Lawa Ijo, Sima Rodra beserta kawan-kawannya. Seolah-olah mereka sudah melihat bahwa perkelahian itu sudah sampai pada akhir. Kedua orang itu pasti segera akan lebur menjadi tepung, dan sesudah itu mereka akan menyaksikan lawan- lawannya yang paling dibencinya, yaitu Mahesa Jenar akan lumat pula beserta keempat kawan-kawannya.

Tetapi apa yang mereka saksikan adalah sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Kedua orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu kemudian tampak berdiri tegak di atas kedua kaki yang renggang, sedang kedua tangan mereka bersilang dengan telapak tangan masing-masing di atas pundak seperti orang yang sedang bersemedi. Tetapi apa yang mereka lakukan itu hanya sesaat, tidak lebih dari sekeredipan mata.

Setelah itu, segera mereka berloncatan dan bergerak, mirip dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Tetapi tak seorang pun yang mengetahuinya, bahwa kedua orang itu telah mempergunakan ilmu yang mereka namakan Naga Angkasa. Ilmu yang telah mereka ciptakan bersama setelah mereka bertahun-tahun menekuni dan mempelajari gerak dari binatang-binatang di udara. Sehingga akhirnya mereka menemukan suatu kedahsyatan dari gerak burung rajawali yang mereka gabungkan dengan kelembutan gerak seekor ular yang sanggup membelit, melingkar dengan lemasnya. Dilambari dengan kekuatan batin yang sempurna dari kedua orang yang tak dikenal itu, maka Naga Angkasa merupakan suatu ilmu yang sukar untuk diperbandingkan.

Karena itu, beradunya ilmu-ilmu yang dahsyat itu kemudian menimbulkan suasana yang hampir tak dapat digambarkan. Macan Liwung, Alas Kobar dan Naga Angkasa. Di dalam lingkaran pertempuran itu terjadilah benturan-benturan yang mengerikan. Meskipun mereka tidak bersenjata, sentuhan tubuh-tubuh mereka dengan ilmu mereka masing- masing telah melebihi berdentangnya senjata.

Ketika pertempuran itu kemudian bergeser semakin mendekati hutan, maka tampaklah pepohonan menjadi bergoyang-goyang oleh angin yang timbul karena gerakan-gerakan mereka yang sedang bertempur. Daun-daun kering berterbangan melebihi tiupan angin kemarau. Kemudian disusul dengan kengerian yang memuncak.

Tangan-tangan mereka yang tak dapat menyentuh lawan-lawan mereka, yang dengan gerak yang tak dapat dicapai oleh mata biasa berhasil menghindar, dan kemudian mengenai pepohonan, menjadi roboh berantakan. Suaranya berderak-derak menggetarkan seluruh hutan di tepi Rawa Pening itu, disela oleh teriakan nyaring dan auman dahsyat Sima Rodra tua.

Baik Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, maupun Lawa Idjo beserta seluruh golongan hitam, ketika menyaksikan kedahsyatan pertempuran itu, kemudian seperti orang-orang yang melihat pertunjukan yang menakutkan.

Pertempuran itu sendiri semakin lama menjadi semakin dahsyat.

Sementara itu bulan yang berjalan menyusur garis edarnya, semakin lama menjadi semakin tinggi tergantung di langit yang bersih. Hanya sekali-kali mega putih seperti kapas berterbangan di muka wajahnya yang kuning pucat, seperti wajah gadis yang ketakutan melihat pahlawannya sedang berjuang diantara hidup dan mati.

Ketika bulan itu sudah melampaui titik puncak langit, terjadilah perubahan dalam keseimbangan pertempuran di hutan Rawa Pening. Kedua orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar serta wajahnya disaput dengan warna merah dan hitam itu kemudian berpendapat bahwa apabila keringatnya semakin banyak mengalir, akan hanyutlah warna- warna hitam dan merah di wajahnya. Maka dengan demikian pasti mereka akan dikenal oleh lawan-lawannya. Apalagi kalau pertempuran itu sampai menjelang fajar. Karena itu, segera mereka mengeluarkan segenap ilmunya, kekuatan lahir dan batinnya. Naga Angkasa itu semakin lama menjadi semakin garang setelah mendapatkan saluran yang lapang.

Pasingsingan yang percaya kepada ilmunya Alas Kobar menjadi keheran-heranan dan gelisah. Ilmu yang dapat menghindarkan diri dari panasnya ilmu Alas Kobar yang melebihi bara api. Bahkan kadang-kadang ia terlibat dalam satu keadaan yang sangat berbahaya.

Udara yang dingin seolah-olah meniup-niup dari segala arah dan melilit-lilit tubuhnya seperti ular. Sementara ia sedang berusaha menguraikan lilitan hawa dingin itu, tiba-tiba melayanglah lawannya dari udara dengan tangan yang mengembang siap menerkam lehernya. Untuk melawan serangan yang demikian, terpaksa ia mempergunakan pisaunya di tangan kiri dan akik Klabang Sejuta di tangan kanan dilambari dengan ilmunya Alas Kobar. Beruntunglah Pasingsingan bahwa agaknya lawannya mengenal betapa saktinya kedua senjatanya itu sehingga beberapa kali ia berhasil membebaskan diri dari serangan- serangan maut yang mengerikan itu.

Sima Rodrapun diam-diam mengumpat dalam hati. Lawannya benar-benar seperti hantu yang menakutkan. Gerakan-gerakannya cepat tak terduga, sedang aji Macan Liwung ternyata sampai sekian lama tak dapat menjatuhkannya. Karena itu ia menjadi semakin ganas dan beberapa kali mengaum keras.

Namun bagaimanapun juga lawannya benar-benar seorang yang luar biasa, yang menyerangnya seolah terbang di udara, tetapi sekali-kali berguling dan tangannya mematuk seperti kepala ular mengarah ke bagian-bagian tubuhnya yang lemah.

Benturan-benturan yang terjadi di dalam pertempuran itu, meyakinkan Sima Rodra bahwa lawannyapun memiliki kekuatan yang dapat menandingi kekuatan Macan Liwung. Karena itu ia menjadi gelisah sebab sesudah Macan Liwung tidak ada lagi yang dapat dibanggakan. 

Sesaat lagi semakin jelaslah bahwa kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar itu mempunyai beberapa kelebihan dari lawannya. Lawan Pasingsingan hampir dalam setiap geraknya dapat memotong gerakan-gerakan Pasingsingan, bahkan mendahuluinya. Karena itu Pasingsingan menjadi semakin heran dan kebingungan.

Tetapi sama sekali ia tak dapat meraba-raba, dari perguruan manakah ilmu yang diwarisi oleh lawan-lawannya yang aneh itu. Sebab menilik beberapa geraknya, ia mengenal sumber-sumber yang bermacam-macam. Bahkan ada beberapa kemiripan dengan gerakan-gerakan dari perguruannya sendiri, tetapi ia juga melihat beberapa gerakan yang sesuai dengan dasar-dasar gerak peninggalan dari almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh yang bersumber dari Ranggalawe yang dahsyat itu. Malahan ia melihat juga gerakan- gerakan hebat yang berasal dari almarhum Raden Gadjah yang pernah dengan susah payah dipelajarinya namun sama sekali belum sempurna.

Karena kegelisahan serta kebingungan itulah maka Pasingsingan bertempur semakin lama semakin kehilangan keseimbangan. Meskipun kemarahannya menggelegak sampai kepala, namun tenaganya tidak dapat mengimbangi perasaannya. Sehingga semakin bernafsu ia mengalahkan lawannya semakin hilanglah keseimbangan gerakannya.

Agaknya sedemikian pula dengan Sima Rodra. Bagaimanapun ia berusaha dengan sekuat tenaganya yang diandalkan itu, namun ilmunya Macan Liwung memang berada di bawah kedahsyatan Naga Angkasa. Karena itu semakin lama Sima Rodra tua itu menjadi semakin terdesak mundur. Beberapa kali ia mencoba untuk mengadakan serangan- serangan yang membahayakan, tetapi usahanya selalu tidak berhasil.

Ia menganggap bahwa selama ini tak seorang pun yang mampu mengatasi ilmunya yang mengerikan itu. Pandan Alas, Sora Dipayana, Titis Anganten yang mewarisi sebagian ilmunya Menak Jingga dari Blambangan dan sahabatnya sendiri Bugel Kaliki yang terkenal itupun setinggi-tingginya baru dapat menyamainya.

Namun tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan seorang yang tak dikenal yang dapat melebihi ketinggian ilmunya. Meskipun wajah orang-orang itu tak jelas baginya namun pasti bahwa mereka bukan orang dari Pandan Alas beserta sahabat-sahabatnya.

Karena itu hatinya lambat laun menjadi kecil pula. Ia masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Apabila ia sampai dilibat oleh lawannya sehingga ia benar-benar dibinasakan maka segala rencananya akan pudar.

Bagaimanapun, seperti juga Pasingsingan, ia berkeinginan melihat muridnya, bahkan anaknya sendiri menjadi orang yang berkekuasaan besar. Itulah sebabnya ia bekerja mati- matian untuk mendapatkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dengan sekutunya Pasingsingan, meskipun ia sadar bahwa kemudian Pasingsingan pasti akan mengusahakan agar keris itu dapat dimiliki oleh murid kesayangannya, Lawa Ijo.

Karena itu, baik Sima Rodra maupun Pasingsingan merasa bahwa bagaimanapun mereka tak akan mampu untuk mengalahkan lawannya. Ia tidak berani memerintahkan kepada Lawa Ijo dan kawan-kawannya untuk ikut serta dalam pertempuran itu, sebab bahayanya akan besar sekali apabila mereka sampai tersentuh kesaktian ilmu lawannya. Apalagi dengan demikian Mahesa Jenar dan kawan-kawannya pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu jalan yang sebaik-baiknya selagi masih berkesempatan adalah menarik diri.

Mendapat keputusan itu, maka segera terdengarlah suara tertawa Pasingsingan yang mengerikan. Suara itu bergetar di antara gerak-geraknya yang semakin terdesak itu.

Mahesa Jenar dan kawan-kawannya terkejut mendengar suara Pasingsingan, yang seolah-olah mendapat suatu kemenangan yang gemilang. Tetapi sebenarnya suara itu adalah suatu pertanda kepada Lawa Ijo dan anak buahnya untuk segera menghindarkan diri. Karena itu, betapa kecut hati Lawa Ijo beserta anak buahnya melihat suatu kenyataan bahwa Pasingsingan yang diagung-agungkan itu tidak dapat mengatasi lawan-lawannya.

Maka, tidak perlu diulangi lagi, Lawa Ijo segera meloncat dan berlari sekencang- kencangnya menjauhi lawan-lawan Pasingsingan, disusul oleh Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking dan kawan-kawannya.

Melihat Lawa Ijo dan para pengiringnya melarikan diri, tokoh-tokoh golongan hitam itu terkejut. Segera mereka sadar bahwa keadaan menjadi sangat genting. Apalagi ketika kemudian terdengar geram Sima Rodra seperti merintih-rintih, dan kemudian disusul dengan lenyapnya Suami Isteri Sima Rodra muda menyusup kedalam hutan, maka pemimpin-pemimpin gerombolan hitam itu tidak menunggu lebih lama lagi, segera mereka dengan pengiring-pengiring mereka berlari-lari menyelamatkan diri mereka masing-masing.

Melihat peristiwa itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi keheran-heranan. Mereka sama sekali tidak dapat mengetahui apakah yang terjadi. Sesaat kemudian terdengarlah orang-orang yang berpakaian seperti Mahesa Jenar itu tertawa nyaring. Sedang solah mereka menjadi semakin lincah dan berbahaya.

Akhirnya Sima Rodra merasa bahwa tidak ada gunanya ia bertahan lebih lama lagi. Mungkin ia masih dapat bertempur sampai sehari, namun kesudahannya akan sudah pasti, yaitu lawannya akan dapat membinasakannya. Karena itu, dengan mengaum hebat, ia meloncat undur dan setelah itu dengan kecepatan yang mungkin dicapainya, ia berusaha untuk menyelamatkan diri. Melihat Sima Rodra Rodra itu berlari seperti terbang meninggalkannya, lawan Sima Rodra itu tertawa kembali. Tetapi sama sekali ia tidak berusaha untuk mengejarnya.

Berbeda dengan lawan Pasingsingan. Ketika Pasingsingan tinggal seorang diri, iapun segera berusaha untuk melepaskan diri dari pertempuran itu, namun lawannya sama sekali tidak memberi kesempatan. Bahkan akhirnya dengan mengerahkan segenap tenaganya lahir dan batin, dilambari dengan ilmu Naga Angkasa, lawan Pasingsingan itu berhasil melibat tubuh Pasingsingan dengan gerak-geraknya yang mirip dengan gerak Ular, tetapi yang kadang-kadang seperti seekor burung Rajawali yang meniup menyambar-nyambar. Mengalami peristiwa itu Pasingsingan menjadi bingung.

Keringat dinginnya mengalir membasahi jubah abu-abunya.

Dengan segenap kekuatannya ia mencoba bertahan, dan melindungi dirinya dengan Belati Panjangnya yang bernama Kiai Suluh, serta akik Kelabang Sayuta dibarengi dengan ilmunya Alas Kobar dan Gelap Ngampar. Namun Naga Angkasa itu seperti hantu saja yang berada disegala tempat dan menyerang dari segala penjuru.

Pasingsingan mengeluh didalam hati. Karena itulah maka pemusatan pikirannya sedikit demi sedikit menjadi terurai, sehingga dengan demikian daya kekuatan Alas Kobar serta Gelap Ngampar pun menjadi berkurang. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba terasalah udara dingin sedingin air embun, membelit diseluruh bagian tubuhnya, dibarengi dengan suatu teriakan dahsyat seperti teriakan burung rajawali yang sedang marah, terasalah pundaknya dicengkam oleh tangan yang kuat seperti baja.

Dengan cepat ia menggerakkan pisau panjangnya, tetapi sama sekali tak mengenai sesuatu. Cepat ia mengulangi berkali-kali, tetapi yang ada dihadapannya bagaikan hantu yang dapat berkisar-kisar dengan cepatnya tanpa mengadakan gerakan sesuatu. Bahkan akhirnya tangan yang sekuat baja itu berhasil menangkap tangannya dan dipilinnya kebelakang. Pasingsingan merasakan suatu keanehan membersit didalam dadanya. Bahwa didunia ini ada kekuatan seperti itu, yang sama sekali tak diduganya semula. Sebenarnya ia sendiri merasakan bahwa ilmunya tidak usah terlalu jauh kalah dari ilmu lawannya. Hanya kekuatan orang itu agaknya yang luar biasa.

Dengan mengerahkan segenap kekuatannya yang terakhir Pasingsingan mencoba untuk melepaskan diri, namun orang itu agaknya mengerahkan segenap kesaktiannya pula untuk dapat tetap menguasai Pasingsingan.

Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat kejadian itu dengan jantung yang berdegupan hebat. Meskipun mereka agak terguncang perasaan, namun timbul pula kebanggaan serta ketenteraman diri. Mereka menyaksikan bahwa akhirnya Pasingsingan dapat dikalahkan.

Tiba-tiba dalam keremangan cahaya bulan mereka melihat tangan orang yang menangkap Pasingsingan itu bergerak cepat sekali sehingga dalam sekejap ditangan itu telah berkilat-kilat cahaya sebuah keris yang agaknya tidak kalah hebatnya dari pisau belati panjang Pasingsingan. Dengan penuh bernafsu orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu mengayunkan kerisnya untuk menembus dada Pasingsingan.

Tetapi kembali Mahesa Jenar dan kawan-kawannya dikejutkan oleh bayangan yang melontar kearah mereka yang sedang bertempur itu. Ia adalah orang yang satu lagi, yang berpakaian mirip Mahesa Jenar, yang tadi bertempur dengan Sima Rodra.

Dengan cekatan ia menangkap tangan kawannya yang memegang keris yang hampir saja memusnahkan orang yang memakai kedok jelek berjubah abu-abu dan menamakan diri Pasingsingan.

Orang itu agaknya terkejut, sehingga pegangannya mengendor. Kesempatan ini agaknya dapat dipergunakan Pasingsingan dengan baik. Cepat ia berusaha membebaskan diri, dan dalam sekejap tampaklah ia seperti terbang berlari menyusup kedalam hutan. Jubahnya yang abu-abu melambai-lambai ditiup angin malam, namun hanya sesaat, karena sesaat kemudian ia telah lenyap ditelan lebatnya hutan.

Orang yang memegang keris, yang hampir saja menyobek dada Pasingsingan itu memandang kawannya dengan mata yang bertanya-tanya. Rupa-rupanya ia menjadi sangat kecewa.

Katanya “Kakang, kenapa kakang menahan aku pada saat Pasingsingan sudah diambang maut?”

Kawan orang itu menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia melangkah menjauh. Matanya yang sayu dilemparkan ke arah purnama yang dengan tenangnya mengambang di langit yang bersih. Hanya kadang-kadang saja tampak beterbangan kelelawar- kelelawar yang sedang mencari mangsa.

“Adi..”. terdengarlah orang itu berkata, “Entahlah apa sebabnya, aku tidak dapat membiarkan Pasingsingan itu terbunuh. Mungkin masanya memang belum sampai.

Masihkah Kakang ingin melihat kejahatan-kejahatan berikutnya yang akan dilakukan oleh Pasingsingan?” desak yang lain.

“Tentu tidak, Adi,” jawabnya. “Tetapi apakah kata bapa guru nanti atas kematian Pasingsingan. Sebab bagaimanapun juga ia adalah muridnya pula. Apalagi sebenarnya letak kesalahan yang menyebabkan segala kejadian ini, adalah aku sendiri. Kalau terjadi kejahatan-kejahatan, maka sebenarnya semuanya itu bersumber pada diriku. Bersumber pada pemuasan nafsu yang tiada mengenal batas. Karena itulah maka hukuman yang sepantasnya adalah dibebankan kepadaku.”

“Kau terlalu perasa, Kakang. Kalau suatu kota tenggelam dilanda banjir, bukanlah mata air yang harus memikul beban kesalahannya? Sebab dari mata air itulah sawah-sawah mendapat air, serta kepentingan-kepentingan lain yang berguna. Meskipun karena mata air itu dapat timbul banjir. Tetapi perkembangannya telah melampaui beberapa tingkatan yang tidak ada hubungannya. Air yang mengalir ke lautan menjadi mendung dan kemudian hujan lebat. Barulah terjadi banjir.

Untuk mencegah banjir itu haruskah orang-orang menutup segenap mata air? Seperti Kakang merasa bersalah kalau Pasingsingan berbuat kejahatan-kejahatan?”

Orang yang lain itu sama sekali tak menjawab. Perlahan-lahan tampak orang itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi pandangannya masih melekat pada bulan di langit.

“Kakang... orang yang satu melanjutkan, Aku persilahkan Kakang melenyapkan perasaan itu. Perasaan yang menyalahkan diri tanpa batas. Suatu pengakuan yang demikian tidak akan menguntungkan. Bagi Kakang, bagi orang lain dan bagi bebrayan agung.”

“Sudahlah Adi,” potong yang lain. “Nada suaranya jauh dan dalam. Aku tahu akan perasaanmu. Suatu rasa kesetiaan dan kecintaanmu kepada saudara tua. Namun barangkali aku masih menunggu sampai guru memberikan ijinnya.”

Mahesa Jenar mendengarkan percakapan itu dengan saksama. Kecuali dirinya tak seorang pun yang mengerti siapakah kedua orang itu. Tetapi bagi Mahesa Jenar, percakapan mereka cukup memberi penjelasan, siapakah mereka berdua. Karena itu segera ia berlari dan berjongkok di hadapan mereka. Keempat kawan-kawannya, meskipun tidak dapat mengerti siapakah mereka itu, namun sebagai ucapan terima kasih, mereka segera menirukan perbuatan Mahesa Jenar.

“Paman...,” kata Mahesa Jenar, “Perkenankanlah aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas pertolongan Paman Paniling dan Paman Darba.”

Kedua orang itu, yang memang sebenarnya adalah Paniling dan Darba, menjadi agak terkejut mendengar nama-nama mereka disebut oleh Mahesa Jenar. Maka terdengarlah Darba tertawa pendek.

“Dari mana kau tahu tentang kami? Adakah warna-warna yang tersaput di wajah kami telah terhapus?”

“Aku telah mengenal paman berdua, baik suara Paman yang sebenarnya itu, maupun persoalan-persoalan yang Paman perbincangkan,” jawab Mahesa Jenar.

“Memang otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau,” sahut Darba sambil tertawa kembali.

“Bukankah begitu kakang?” sambungnya kepada Paniling. Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah mengira kalau kau akan berbuat itu. Mengintip musyawarah orang-orang dari golongan hitam. Sadar atau tidak sadar, kau telah bermain-main api kembali. Karena itulah kami datang kemari. Beberapa waktu yang lampau aku telah memperingatkan agar kau berhati-hati menghadapi orang-orang dari golongan hitam itu. Hampir saja kau binasa pada saat kau dikerubut oleh tokoh-tokoh hitam itu. Sekarang kau masuk ke dalam bahaya yang lebih besar lagi, dimana hadir Sima Rodra tua dan Pasingsingan.”

Mahesa Jenar sama sekali tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Pamanmu Paniling terlalu hati-hati, Mahesa Jenar,” sahut Darba.

“Mungkin karena umurnya yang telah lanjut. Tetapi kira-kira pada saat mudanya melebihimu.”

“Mungkin,” potong Paniling sambil tersenyum, “Memang anak-anak muda senang menyerempet-menyerempet bahaya.”

“Dan karena itulah mereka mencapai kemajuan-kemajuan,” sambung Darba,

“Karena dengan pengalaman-pengalaman mereka, masa depan seakan-akan telah diratakan. Sedang bagi mereka yang tidak berani menempuh bahaya, tak sesuatu apapun yang akan bisa dicapainya.”

“ Meskipun demikian...” jawab Paniling,

“Segala sesuatu wajib diperhitungkan. Kalau kita berani menempuh bahaya, bukan berarti kita harus bunuh diri. Mahesa Jenar, kami datang kemari karena kami mencemaskan kau. Tetapi Adi Darba mengusulkan supaya kami membuat permainan ini dengan berpakaian mirip pakaianmu. Sebab kami tahu bahwa kau tidak pernah berganti pakaian kecuali kalau pakaianmu satu-satunya itu sedang kau cuci.”

Semua yang mendengar kata-kata Paniling itu tersenyum. Mahesa Jenar menjadi agak malu. Memang, ia sama sekali tidak mempunyai pakaian lain selain yang dipakainya. Kalau pakaian itu dicuci, terpaksa ia menunggu sampai kering.

“Maksudku...” sahut Darba, “Salah seorang diantara kami yang mungkin dapat berbuat sesuatu mewakilimu. Dengan demikian tak seorang pun berani merendahkan kau lagi. Tetapi ternyata kau datang berlima, sehingga kami agak menemui kesulitan. Untunglah bahwa kami menemukan suatu cara untuk bermain-main dengan Pasingsingan. Sayang, Kakang Paniling menahan kerisku yang sudah melekat di dada Pasingsingan itu.”

Ki Paniling segera memotong, “Sudahlah Adi Darba, aku minta maaf kalau aku membuat kau kecewa. Sekarang yang penting adalah usaha untuk menemukan kembali keris yang hilang itu.”

“Mahesa Jenar..”. sambung Paniling, “Apakah kau tidak memperkenalkan sahabat- sahabatmu itu kepadaku?”

Mendengar pertanyaan Paniling, Mahesa Jenar seakan-akan disadarkan dari kekhilafannya. Segera ia mulai memperkenalkan satu persatu sahabat-sahabatnya yang telah bersama-sama melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya.

Dan kepada sahabat-sahabatnya, Mahesa Jenar memperkenalkan Paniling dan Darba sebagai dua orang petani yang sakti, yang telah menolong jiwanya untuk kedua kalinya. Namun sama sekali tidak disinggung-singgungnya bahwa Paniling itulah yang dahulu pernah mengenakan jubah abu-abu dan kedok yang kasar, dan yang menamakan diri Pasingsingan.

Setelah mereka saling memperkenalkan diri, maka berkatalah Paniling,

“Mahesa Jenar, aku kira kerjaku untuk kali ini sudah selesai. Aku dan pamanmu Darba akan segera kembali. Tetapi pesanku, janganlah terlalu lama anak pungutmu kau tinggalkan. Sebab bagaimanapun juga, banyaklah bahaya yang mengancam anak itu.”

Kembali Mahesa Jenar seperti orang yang tersadar dari mimpi. Segera ia ingat kepada Arya, anak yang sampai sekarang masih menjadi buruan pamannya sendiri. Karena itu tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenteram. Meskipun Arya kini telah berada di tempat yang jauh, namun mungkin saja orang-orang Lembu Sora akan sampai ke sana.

Maka setelah Paniling dan Darba pergi meninggalkan mereka, segera mereka mengadakan pembicaraan tentang pekerjaan-pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh mereka masing-masing.

Gajah Alit dan Paningron harus segera kembali ke Demak untuk melaporkan segala kejadian di tepi Rawa Pening itu. Melaporkan tentang kebenaran laporan mengenai adanya golongan hitam yang kuat dan berbahaya bagi ketenteraman negara. Dengan manyaksikan serta mengalami sendiri, Paningron serta Gajah Alit harus percaya, bahwa orang yang bernama Pasingsingan dan Sima Rodra, tetua dari golongan hitam, termasuk orang yang tak dapat diabaikan, meskipun jumlah orang-orang yang demikian itu tidak banyak.

Demikianlah maka segera Paningron dan Gajah Alit mohon diri. Mahesa Jenar melepaskan mereka berdua dengan pesan agar untuk sementara dirinya jangan tersinggung-singgung pula dalam laporan mereka, sebab ia masih belum mempunyai keinginan untuk kembali ke Demak sebelum Nagasasra dan Sabuk Inten diketemukan. Juga Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan itu untuk menitipkan bukti-bukti tentang kebenaran alasan-alasan Gajah Sora, bahwa ia tidak mampu mempertahankan kedua keris itu dari usaha-usaha golongan lain untuk memilikinya. Bagaimanapun hebatnya Gajah Sora, yang pernah menerima hadiah pusaka sebuah tombak yang bernama Kyai Bancak, namun menghadapi orang-orang seperti Pasingsingan dan Sima Rodra, maka Gajah Sora tidak lebih dari seorang anak-anak yang baru saja dapat berjalan.

Dalam pada itu Wiraraga pun minta diri untuk kembali ke Wanakerta bersama-sama dengan Ki Dalang Mantingan. Tetapi sebelum mereka berangkat, Mahesa Jenar minta kepada Ki Dalang Mantingan untuk membantu mengawasi tanah perdikan Banyubiru.

Dalam kedudukannya sebagai seorang dalang maka ia akan lebih leluasa bergerak di mana saja.

Maka setelah segala pembicaraan selesai, berpisahanlah mereka. Masing-masing ke arah tujuan masing-masing. Gajah Alit dan Paningron kembali ke Demak, Wiraraga dan Mantingan ke Wanakerta lewat Banyubiru.

Sedangkan Mahesa Jenar harus segera kembali kepada Arya Salaka yang telah beberapa hari ditinggalkan seorang diri, dan hanya dititipkan kepada para tetangga.

Mengingat kata-kata Ki Paniling, hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Memang sebenarnyalah pasti Lembu Sora tetap akan berusaha untuk membunuh Arya. Sebab sepeninggal Gajah Sora, Aryalah yang paling berhak atas tanah perdikan Banyubiru. Sedang apabila Arya ini dilenyapkan, maka keturunan Sora Dipayana tidak ada lain tinggal Lembu Sora seorang diri. Dengan demikian maka Banyubiru dengan sendirinya akan jatuh ke tangan orang itu.

Mengingat hal itu semuanya, maka segera Mahesa Jenar mempercepat langkahnya untuk dapat segera sampai ke rumah, dimana Arya ditinggalkan. Di perjalanan pulang itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak tenteram. Ia telah menyatakan kesanggupannya kepada Gajah Sora untuk memelihara anak itu, serta mendidiknya dan mengajarinya dalam olah kanuragan sehingga anak itu kelak dapat menjadi orang yang berguna.

Ketika burung-burung menyambut fajar yang segar dalam belaian angin pagi yang bertiup halus dari pegunungan serta melintasi lembah-lembah, Mahesa Jenar masih tetap berjalan cepat-cepat. Seakan-akan kesegaran fajar itu tak terasa baginya. Namun meskipun demikian, sinar matahari pagi yang memancar cerah, dapat menimbulkan perasaan yang cerah pula. Karena itu Mahesa Jenar mempercepat langkahnya. Karena perasaannya yang kecemasan, ia sama sekali tak dipengaruhi oleh kelelahannya.

Demikianlah seharian Mahesa Jenar berjalan terus. Hanya sekali dua ia berhenti untuk mencari sumber air, apabila terasa lehernya disekat dahaga, serta kemudian untuk beberapa saat ia menyegarkan tubuhnya dengan duduk-duduk sejenak. Hanya sejenak, sebab ia tidak dapat membiarkan perasaannya diburu oleh kegelisahan. Karena itu, dengan tergesa-gesa segera Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya pula. Demikian pula ketika matahari yang lelah setelah menempuh peredarannya sehari penuh itu menjelang garis pertemuan langit dan bumi, serta sebentar lagi seolah-olah tenggelam ditelan garis pemisah itu. Mahesa Jenar sama sekali tidak peduli.

Meskipun perlahan-lahan, karena gelapnya malam kemudian mentakbiri bumi, Mahesa Jenar tetap berjalan terus di bawah sinar bulan yang baru saja lewat purnama penuh.

Maka di pertengahan malam, Mahesa Jenar melihat cahaya pelita yang berpancaran di sebuah dusun yang kecil. Itulah desa dimana Arya ditinggalkannya.

Melihat nyala pelita yang seolah-olah melambai-lambai meneriakkan nama Arya Salaka, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Meskipun Salaka itu bukan sanak dan bukan kadang, namun telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Apalagi mengingat segala pesan- pesan dari Gajah Sora. Maka pertanggungjawaban anak itu seluruhnya ada padanya.

Tetapi semakin dekat Mahesa Jenar dengan desa itu, hatinya menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia seakan-akan mendapat suatu firasat yang tidak baik.

Demikianlah dengan gelisah dan setengah berlari Mahesa Jenar memasuki desanya yang kecil, yang biasanya selalu diliputi oleh suasana tenteram dan damai. Tetapi pada malam itu, tampaklah beberapa kesibukan yang aneh. Dari jarak yang semakin dekat, Mahesa Jenar melihat beberapa orang berjalan cepat-cepat dengan membawa obor, dan yang lebih mengejutkan lagi mereka menuju ke sebuah gubuk kecil di sudut desa itu. Itulah rumah yang dibangunnya, serta ditinggalinya bersama-sama dengan Arya.