-->

Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 13

 
Jilid 13

“Itupun aneh, dengan demikian ia akan mendapat banyak saingan.”

“Pendapat Palindih itu memang masuk akal. Gajah Sora terdiam untuk beberapa saat. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa kedua pusaka itu telah lenyap. Lalu apakah yang harus dikatakan, selain mengatakan apa yang telah terjadi. Apapun yang akan dikatakan, tetapi sudah pasti bahwa pada saat itu, ia tidak akan dapat menunjukkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Sesaat kemudian Arya Palindih melanjutkan, “Anakmas..., aku memang telah pernah mendengar beberapa diantara nama-nama yang Anakmas sebutkan itu, tetapi bagiku adalah sulit untuk dapat membayangkan bahwa kekuatan dari sebuah gerombolan perampok akan dapat menyamai kekuatan Banyubiru. Bagaimanapun kuatnya Bugel Kaliki dari Gunung Cerme, namun dapatkah ia melawan para pengawal seperti yang anakmas katakan itu?”

Mendengar kata-kata Arya Palindih, kuping Gajah Sora rasa-rasanya seperti terjilat api. Karena itu segera wajahnya berubah menjadi merah. Tetapi meskipun demikian ia berkata tenang, “Paman..., mungkin Paman tidak percaya. sebab Paman adalah seorang perwira prajurit yang lebih sering bertempur dalam satuan yang besar, bukan pertempuran perorangan yang kadang-kadang mempunyai segi-segi yang jauh berbeda. Meskipun aku tahu bahwa secara perseorangan pun Paman termasuk seorang yang mumpuni. Atau barangkali karena Paman adalah seorang yang maha kuat, sehingga Paman sukar membayangkan kelemahan orang lain?”

Kata-kata Gajah Sora pun tak kurang tajamnya, sehingga sekali lagi Arya Palindih menggeser duduknya. Tetapi Arya Palindih juga berusaha menahan dirinya, sehingga masih dalam suasana yang baik ia berkata, “Mungkin Anakmas, mungkin. Aku lebih senang mengatur siasat daripada menangani lawan. Juga terhadap orang seperti Bugel Kaliki, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya itu pun aku akan mempergunakan siasat untuk menjebaknya.”

Kembali perasaan Gajah Sora seperti tertusuk sembilu. Maka katanya di dalam hati, “Sayang Paman Palindih belum pernah bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Pasingsingan, Sima Rodra, Ki Ageng Pandan Alas atau ayahnya sendiri.”

Tokoh-tokoh yang lebih percaya pada dirinya sendiri daripada bertempur dalam satuan- satuan yang besar, dalam keadaan-keadaan tertentu. Seandainya sekali waktu Arya Palindih dapat berkenalan dengan salah seorang diantara mereka, maka mungkin ia akan berubah pendirian. Sebab mulai dengan penggemblengan diri, Arya Palindih telah berada di dalam lingkungan keprajuritan, sehingga kecuali para pelatih di dalam lingkungannya, ia tidak banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh di luar.

Berbeda dengan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Mereka masuk di dalam lingkungan keprajuritan dengan bekal yang telah cukup. Itulah sebabnya, mereka mempunyai kelebihan.

Suasana kemudian menjadi tegang. Masing-ma-sing berusaha untuk tetap menguasai dirinya de-ngan baik.

Tetapi bagaimanapun mereka telah merasa bahwa keadaan tidak menguntungkan. Arya Palindih datang dengan menjunjung kewajiban, sedang Gajah Sora terpaksa terlibat dalam keadaan yang bertentangan dengan tugas tamu-tamunya.

Apalagi ketika Arya Palindih kemudian melanjutkan, “Anakmas, sebenarnya, perkenankanlah aku menyatakan, bahwa yang ketiga kalinya, dari keperluanku datang kemari, adalah menjunjung perintah Baginda Sultan Demak, untuk menerima kembali kedua pusaka Istana yang hilang itu, serta ada bersama kami, Baginda mengirimkan berbagai hadiah yang seharusnya aku terimakan kepada Anakmas sebagai tanda terimakasih Baginda kepada Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.”

Setelah berkata demikian, Palindih menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah sesuatu yang menyekat dadanya telah terlontar keluar.

Sebaliknya, dada Gajah Sora kini bertambah sesak. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bertindak. Bagaimanapun ia seharusnya mentaati perintah Baginda Sultan Demak. Tetapi kedua karis itu benar-benar telah lenyap. Yang menyulitkan adalah, bahwa Arya Palindih tidak dapat mempercayai keterangannya.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar yang mendengarkan segala pembicaraan Gajah Sora dan Arya Palindih tidak kalah gelisahnya. Pikirannya pun menjadi kalut. Tidak aneh kalau pada suatu saat mereka saling tidak dapat menguasai diri, maka akibatnya akan menjadi jelek sekali.

Mahesa Jenar kenal betul keduanya, kelebihan-kelebihan mereka dan kekurangan- kekurangan mereka. Mungkin dalam pertempuran seorang lawan seorang, Gajah Sora akan dapat menguasai lawannya, meskipun tidak dengan begitu mudah. Tetapi dengan beberapa orang, Arya Palindih merupakan seorang pemimpin yang berbahaya sekali. Usianya yang telah banyak itu, telah menunjukkan kematangannya. Ditambah dengan pengalamannya yang jauh lebih banyak daripada Gajah Sora. Apalagi orang-orang yang dibawa Arya Palindih rata-rata mempunyai kekuatan yang sama. Berbeda dengan orang- orang Banyubiru, selain Gajah Sora, maka jarak kepandaian mereka agak jauh.

Dalam kegelisahannya, Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, semoga keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan.

“Paman Arya...” akhirnya Gajah Sora berkata, “Seharusnya aku merasa bahwa aku mendapat kehormatan yang besar menerima hadiah langsung dari Baginda Sultan Demak. Tetapi sekali lagi, bahwa kali ini terpaksa aku tidak dapat menyerahkan kedua pusaka itu, karena kedua-duanya sudah tidak berada di tanganku lagi. Kalau Paman tidak percaya, aku persilahkan Paman berbuat sekehendak Paman untuk membuktikan kebenaran kata-kataku.”

“Maafkanlah aku, Anakmas, Aku kira tak ada artinya, seandainya aku menggeledah rumah Anakmas ini.”

“Lalu apakah yang akan Paman lakukan?” tanya Gajah Sora. Arya Palindih tidak segera menjawab. Sekali lagi ia memandang berkeliling, seolah-olah sedang membanding-bandingkan kekuatan prajurit yang dibawanya dengan Laskar Banyubiru yang berada di pendapa. Baru beberapa saat kemudian ia berkata, dengan nada yang sudah agak berbeda;

“Anakmas, aku adalah petugas negara. Sebenarnya aku sama sekali tidak menaruh syak terhadap Anakmas. Tetapi aku merasa bahwa telah terjadi keanehan-keanehan di sini. Sampai saat ini orang masih percaya, bahwa Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten bersama akan dapat merupakan pusaka kebesaran raja-raja di Jawa. Bahkan ada yang percaya, bahwa hanya mereka yang memiliki pusaka-pusaka itu yang dapat merajai pulau ini dengan selamat. Karena itu, seandainya Anakmas memiliki kepercayaan yang sedemikian, hendaknya Anakmas merelakan keinginan Anakmas merajai pulau ini, sebab disamping pusaka-pusaka itu, ketentuan tahta masih bergantung kepada wahyu pula.”

Kata-kata Arya Palindih, yang diucapkan dengan jelas itu, setiap patah, seolah-olah merupakan sebuah tusukan langsung ke arah jantung Gajah Sora. Karena itu ia menjadi gemetar menahan diri. Mulutnya menjadi seolah-olah terbungkam, meskipun di dalam dadanya bergulung-gulung keterangan-keterangan yang banyak sekali, yang seperti banjir akan menjebol tanggul.

Sadarlah ia sekarang, bahwa pasti ada pihak ketiga yang akan memancing ikan di air keruh. Ia jadi curiga, siapakah yang memberitahukan kepada para pejabat di Istana Demak, bahwa kedua pusaka itu telah berada di tangannya. Siapapun yang telah mengatur sedemikian cermatnya sehingga seolah-olah segala sesuatu itu berjalan menurut urutan-urutan yang sudah ditentukan. Beberapa gerombolan bersama-sama datang menyerbu daerahnya, sesudah itu, pejabat-pejabat Istana datang kepadanya untuk minta pusaka-pusaka yang telah lenyap itu.

Tetapi justru karena kesadaran akan adanya pihak ketiga yang sengaja akan mengadu- domba dirinya dengan alat-alat negara itu, maka ia menjadi agak tenang. Karena itu meskipun masih dengan bibir yang gemetar ia menjawab,

“Paman Palindih. Sekali lagi aku mohon maaf. Paman telah mengenal aku sejak aku masih muda. Aku selalu mementingkan kepentingan negara diatas segala-galanya, jangankan aku berangan-angan untuk menjadi raja di pulau ini, sedangkan daerah perdikan yang hanya selebar daun sirih ini pun aku sama sekali tak keberatan ketika ayahku menyatakan untuk membagi dua. Kemudian lebih dari pada itu aku tak dapat memberikan keterangan lebih banyak lagi. Tetapi harap Paman ketahui bahwa aku berkata sejujur-jujurnya.”

Arya Palindih adalah seorang prajurit yang sudah berpengalaman. Wajahnya yang masih tampak segar itu ditandai oleh kekerasan hati serta sifat kepemimpinan yang tegas. Namun bagaimanapun ia adalah pengemban tugas negara yang mempunyai batas-batas tertentu.  Sebenarnya ia sama sekali tidak dapat mempercayai ceritera Gajah Sora itu. Ia mendapat keterangan bahwa pusaka-pusaka itu benar-benar telah berada di Banyubiru. Dan ceritera tentang serbuan-serbuan itu adalah usaha Gajah Sora sendiri untuk menyembunyikan kedua pusaka-pusaka itu. Dan ia tidak dapat mengerti akan keterangan-keterangan yang didengarnya. Apalagi ketika ia melihat bagaimana teraturnya Laskar Banyubiru menerima kedatangannya, sehingga anehlah kalau hanya beberapa orang gerombolan liar sampai dapat berhasil merampas kedua pusaka itu.

Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, kembali Palindih bertanya,

”Anakmas, bolehkah aku bertanya lagi, kenapa Anakmas tidak segera menyerahkan kedua keris itu ke Demak setelah Anakmas berhasil merampasnya, sehingga sampai Sultan Demak terpaksa memerintahkan petugas-petugasnya untuk datang mengambilnya? Untunglah bahwa Sultan Demak cukup bijaksana sehingga masih juga beliau mengirimkan hadiah-hadiah untuk Anakmas.”

Pertanyaan yang demikian, sama sekali tak diduganya. Karena itu Gajah Sora menjadi bingung. Memang ia merasakan suatu kekhilafan bahwa sampai beberapa hari ia masih belum menyerahkan keris itu. Tetapi maksudnya mula-mula adalah untuk menenangkan suasana dahulu. Pada suatu saat secara tiba-tiba ia akan mengejutkan Baginda dengan penyerahan kedua pusaka itu. Disamping itu ia terlalu percaya pada kekuatan laskarnya dan lingkungan ayahnya, Sora Dipayana. Namun bagaimanapun ia telah berbuat suatu kekhilafan. Karena itu, karena ia tidak mungkin berkata lain, maka dengan jujur ia menjawab, “Paman, memang aku telah melakukan kekhilafan.”

Jawaban Gajah Sora itu sama sekali juga tidak diduga oleh Palindih, seperti juga Gajah Sora tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan yang demikian. Dan jawaban ini telah mengejutkannya. Sebab ia melihat dari mata Gajah Sora bahwa ia telah berkata sejujur-jujurnya. Karena itu ia jadi bimbang. Namun bagaimanapun keterangan Gajah Sora tentang hilangnya kedua pusaka itu sangatlah aneh baginya.

Memang, Arya Palindih pernah mendengar nama-nama beberapa orang penjahat ulung. Bahkan ia mendengar pula bahwa diantaranya pernah berhasil memasuki Istana Demak dan hampir saja memasuki Gedung Perbendaharaan. Untung pada saat itu, seorang perwira yang perkasa dari pengawal raja yang bernama Rangga Tohjaya dapat mencegahnya.

Arya Palindih juga pernah mendengar tokoh-tokoh angkatan yang lebih tua daripada Lawa Ijo yang berhasil memasuki istana itu, sebagai siluman-siluman yang berbahaya.

Namun meskipun demikian, lepas dari masalah percaya atau tidak percaya, Palindih adalah seorang perwira yang tegas dan taat akan kewajibannya. Ia adalah prajurit sejati, namun cukup bijaksana. Karena itu berkatalah Arya Palindih, “Anakmas, pengakuan Anakmas bahwa Anakmas khilaf telah membuka pikiranku, tetapi bagiamanapun juga aku adalah prajurit yang mendapat tugas untuk meminta kembali pusaka-pusaka istana itu. Dan aku telah melakukan tugasku. Sayang bahwa menurut keterangan Anakmas, kedua pusaka itu telah lenyap. Karena aku tidak mendapat kekuasaan untuk bertindak lebih jauh, maka aku tidak akan melakukan hal-hal lain kecuali melaporkan peristiwa ini kepada Baginda Sultan.”

Baru kemudian kalau ada kewajiban-kewajiban lain serta ketentuan-ketentuan lain, mungkin aku segera akan datang kembali ke Banyubiru.

Kata-kata Arya Palindih itu merupakan angin sejuk yang telah mengendorkan semua wajah-wajah yang tegang dari semua yang hadir di pendapa itu. Bahkan Mahesa Jenar yang mendengar percakapan dari balik dinding, juga menarik nafas lega. Dengan demikian setidak-tidaknya ada waktu sehari dua hari untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Untunglah seandainya dalam waktu yang singkat itu Ki Ageng Pandan Alas atau Ki Ageng Sora Dipayana setidak-tidaknya telah mendapat keterangan tentang kedua pusaka yang hilang itu.

Gajah Sora yang dapat menanggapi keadaan serta kebijaksanaan Arya Palindih segera menjawab, “Paman, aku sejak semula memang percaya bahwa Paman selalu bertindak bijaksana. Meskipun demikian aku akan selalu berusaha untuk meyakinkan Paman bahwa aku telah berkata dengan jujur. Aku berjanji bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga serta kemampuan yang ada di daerah ini, berusaha menemukan kembali kedua keris yang hilang itu sebagai bukti kesetiaanku kepada negara.”

Arya Palindih mendengarkan ucapan Gajah Sora itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Di dalam hatinya menjalar suatu pengertian yang berpengaruh. Akhirnya dengan kata-kata yang lunak ia berkata, “Anakmas..., Anakmas adalah bekas prajurit pilihan pada masa Anakmas masih muda. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengerti peristiwa yang terjadi menurut ceritera Anakmas, namun aku percaya bahwa oleh jiwa kepahlawanan yang tersimpan di dalam dada Anakmas itu, maka Anakmas telah berlaku sebenarnya.”

Baik Gajah Sora, Arya Palindih, Mahesa Jenar dan semuanya yang hadir di pendapa itu menyadari, bila sampai terjadi suatu bentrokan, akibatnya pasti akan jelek sekali. Sebab Laskar Banyubiru tidak dapat dianggap remeh. Laskar yang berakar pada jiwa rakyat yang setia. Mungkin Demak akan dapat mengatasinya dengan tidak banyak kesukaran.

Tetapi korbannya pasti akan banyak sekali. Tidak saja korban jiwa, tetapi korban yang lebih besar artinya bagi negara yang pada saat itu sedang terancam oleh kekuasaan penjajahan Portugis yang sudah membangun pangkalannya di Malaka. Maka usaha yang pertama, yang harus diutamakan adalah memperkuat garis armada Banten - Jayakarta - Cirebon - Demak - terus ke timur - Supit Urang - langsung ke Hitu dan Ambon, sebagai garis utama untuk melumpuhkan usaha Portugis, terutama di bidang perniagaan laut dan kesiap-siagaan armada, yang setiap saat dapat menerobos ke wilayah Demak.

Bersandarkan pada kesadaran itulah, maka kemudian Arya Palindih yang tegas namun bijaksana itu berkata, “Anakmas, aku kira tugasku kali ini sudah selesai, meskipun tidak seperti yang aku harapkan. Dengan demikian aku akan minta diri, dan mudah-mudahan perkembangan selanjutnya tidak akan menyulitkan Anakmas dan kami.” Meskipun Gajah Sora mencoba menahannya, Arya Palindih sudah memutuskan untuk segera pulang ke Demak dan melaporkan apa yang sudah terjadi, dengan harapan bersama bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan baik.

Sepeninggal Arya Palindih, segera Gajah Sora mengadakan pertemuan dengan segenap pembantunya serta Mahesa Jenar. Namun banyak hal yang tak dapat mereka selesaikan.

Sebab kuncinya terletak pada kedua keris yang hilang itu. Tetapi adalah menjadi kewajiban Gajah Sora untuk memerintahkan kepada semua laskarnya agar tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan suasana.

Tetapi bagaimanapun, setelah peristiwa kedatangan utusan dari Demak itu, Gajah Sora menjadi perenung. Mahesa Jenar yang semula bermaksud meninggalkan Banyubiru, kemudian menjadi tidak sampai hati. Karena itu ditahankannya dirinya untuk tetap tinggal di Banyubiru sebagai kawan berunding dan berbincang Gajah Sora.

Hiburan yang utama bagi Gajah Sora adalah anaknya yang kini sudah hampir pulih kembali. Bahkan sudah mulai lagi dengan tingkahnya yang aneh-aneh dan diluar kebiasaan anak-anak yang sebaya dengan Arya Salaka, yang kadang-kadang sangat memusingkan kepala ayahnya. Meskipun pada umumnya Arya tidak berani membantah peringatan-peringatan ayahnya, tetapi kadang-kadang diluar pengawasan ia melakukan hal-hal yang berbahaya.

Beberapa kemudian tidak terjadi hal-hal yang luar biasa. Rakyat dengan tenang dan tenteram bekerja di sawah serta ladang mereka. Padi-padi yang sudah mulai menguning, bahkan ada diantaranya yang sudah masak untuk dipetik. Berduyun-duyunlah wanita turun kesawah serta saling menolong memotong padi, sedang laki-laki bergotong royong bekerja menyiapkan sawah-sawah yang telah dituai untuk ditanami kembali. Rumah- rumah yang terbakar pada saat penyerbuan gerombolan-gerombolan liar itu, secara gotong royong telah dibangun kembali. Bahkan tampak lebih kokoh dan lebih baik daripada yang semula.

Kehidupan yang aman damai telah memancar kembali menjiwai daerah Perdikan Banyubiru.

Tetapi, tidak demikian halnya dengan perasaan Gajah Sora. Meskipun sehari-hari ia tampak tenang dan segar, serta seperti biasanya ia ikut serta bekerja dengan rakyat Banyu Biru untuk kesejahteraan daerahnya, namun didalam hatinya tersimpan duri yang selalu menusuk-nusuk perasaannya.

Bagaimanapun, ia tidak dapat melupakan, bahwa akan datang saatnya ia harus mempertanggungjawabkan hilangnya kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Meskipun ia dapat mengharapkan etikad baik dari Arya Palindih, namun bagaimanapun usaha-usaha dari pihak ketiga pasti masih selalu ada. Usaha-usaha dari golongan yang tidak ingin melihat kehidupan damai di Banyubiru khususnya, dan Demak pada umumnya. Tidak aneh kalau hal ini didalangi oleh orang-orang yang sengaja merongrong kebesaran Demak untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sebab di dalam lingkungan mereka ada orang-orang yang cukup tangkas otaknya. Pasingsingan, Bugel Kaliki, Sima Rodra tua dapat mewayangkan orang-orang dalam yang tidak teguh imannya.

Karena itu, karena kecurigaannya kepada golongan-golongan yang ingin dengan sengaja mengeruhkan suasana. Gajah Sora telah mengambil kebijaksanaan untuk mengirimkan beberapa orang kepercayaannya ke Demak untuk mengetahui perkembangan keadaan. Orang-orang itu bertugas untuk mendengarkan desas-desus tentang keadaan Banyu Biru yang tersiar dipusat pemerintahan itu, serta kalau perlu mengadakan perlawanan dengan menceriterakan keadaan yang sebenarnya kepada kalangan yang seluas-luasnya.

Tetapi akhirnya, dengan dada yang gemuruh Gajah Sora mendengar laporan dari salah seorang kepercayaannya itu, bahwa di Demak telah berkembang keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Di Demak dengan tak diketahui sumbernya, telah tersiar berita bahwa kini di Banyubiru telah diadakan latihan keprajuritan secara teratur dan besar-besaran, sebagai salah satu usaha untuk tetap mempertahankan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Orang-orang Gajah Sora yang tidak seberapa jumlahnya itu telah berusaha untuk menyebarkan berita yang sebenarnya, namun rupanya arus kabar yang sengaja mengeruhkan suasana itu tak dapat dibendungnya. Bahkan akhirnya telah mempengaruhi beberapa pejabat Istana Demak.

Belum lagi Gajah Sora sempat mendalami serta mengupas masalah itu, datanglah orangnya yang kedua dengan suatu berita yang lebih mengejutkan lagi, yaitu, bahwa Demak telah mengirim satu pasukan untuk meneliti keadaan di Banyubiru.

Mendengar berita ini, pikiran Gajah Sora seolah-olah menjadi gelap. Karena itu segera ia memanggil pembantu-pembantunya beserta Mahesa Jenar. Apakah yang sebaiknya mereka lakukan apabila pasukan dari Demak itu benar-benar mendatangi Banyubiru.

Persoalan ini kemudian menjadi buntu. Tak seorangpun yang dapat memberikan ketetapan pendirian. Tetapi bagaimanapun, mereka merasa bahwa sebenarnya mereka sama sekali tak bersalah dengan hal ini. Gajah Sora hanyalah berbuat suatu kekhilafan yang sebenarnya tak begitu besar seandainya akibatnya menjadi lain.

Akhirnya, ketika tak seorangpun yang berhasil memecahkan persoalan itu dengan sebaik-baiknya, maka satu-satunya kemungkinan adalah menunggu sampai pasukan dari Demak itu datang, dan kemudian bersama-sama memperbincangkan masalahnya. Gajah Sora sadar bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap, sebab kemungkinan- kemungkinan yang tak diinginkan selalu akan terjadi. Maka yang dapat dilakukan sekarang adalah mempertinggi kewaspadaan.

Diantara mereka yang selalu gelisah karena keadaan, maka yang paling gelisah adalah Mahesa Jenar, karena ia dapat melihat kebenaran sikap masing-masing. Ia tidak dapat menyalahkan Ki Ageng Gajah Sora seandainya orang itu tetap merasa tak bersalah. Sebab ia sendiri telah berjuang mati-matian untuk merampas keris-keris itu, dan kemudian dengan sekuat tenaga pula telah dipertahankannya. Juga orang-orang Gajah Sora pasti akan mempertahankan kepala daerah mereka yang mereka segani dan cintai itu.

Tetapi sebaliknya, ia mengerti juga alasan Sultan Demak seandainya Baginda murka. Sebab Baginda merasa bahwa yang paling berhak atas kedua pusaka itu adalah pemerintah.

Malam harinya, Mahesa Jenar hampir tidak dapat memejamkan mata. Ia selalu berangan- angan apakah kiranya yang terjadi seandainya pasukan Demak itu telah berada di Banyubiru. Yang menambah kesulitan pikiran Mahesa Jenar adalah, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?

Baru ketika ayam berkokok untuk ketiga kalinya, Mahesa Jenar terlena diatas pembaringannya untuk beberapa saat. Sebab sebentar kemudian ia mendengar hiruk- pikuk di halaman. Segera ia meloncat bangun dan lari keluar. Dilihatnya beberapa orang telah berada di sana, sedang Ki Ageng Gajah Sora dengan wajah merah menyala berdiri di ambang pintu rumahnya.

Segera Mahesa Jenar naik ke pendapa, langsung menuju kepada Gajah Sora. "Kakang..., apakah yang terjadi?"

Gajah Sora memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang gelisah. "Aku tahu kesulitanmu Adi, karena itu sebaiknya kau tidak ikut serta," jawabnya.

"Apakah yang akan Kakang lakukan?" tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

"Aku tidak dapat menahan diri lagi," jawabnya. "Aku telah memerintahkan untuk menyiapkan laskar Banyubiru. Aku tidak peduli akan apa yang terjadi. Aku hormati kebesaran Demak sebagai pimpinan tertinggi atas segala pemerintahan di daerah-daerah, namun alangkah kerdilnya pikiran mereka."

Mendengar jawaban Gajah Sora itu darah Mahesa Jenar serasa berhenti. Dengan penuh kebingungan ia bertanya kembali, "Apa yang telah mereka lakukan?"

Sementara itu terdengarlah tanda bahaya bergema di seluruh lereng bukit Telamaya, disusul dengan tanda-tanda supaya laskar Banyubiru berkumpul di alun-alun. Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah mendengar tanda-tanda itu. Apa yang telah mereka lakukan...”

Gajah Sora tidak menjawab, tetapi sorot matanya bertambah menyala. Ketika dilihatnya kudanya telah siap di halaman, tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, ia berlari melintasi pendapa dan langsung meloncat ke atas punggung kudanya. Sesaat kemudian Gajah Sora sudah lenyap diantara beberapa orang yang bersama-sama memacu kudanya ke alun-alun, dimana sudah berkumpul segenap Laskar Banyubiru.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi untunglah bahwa Mahesa Jenar mempunyai otak yang jernih, sehingga beberapa saat kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali.

Maka dengan tangkasnya ia meloncat ke belakang, ke kandang kuda. Diambilnya kuda abu-abu yang biasa dipakainya.

Dengan cekatan ia mempersiapkan pelananya. Dan dalam sekejap kemudian, ia telah berlari diatas punggung kuda abu-abu itu menyusul Gajah Sora, serta apabila mungkin mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Tetapi ketika ia keluar dari halaman, segera di arah timur tampak api menyala-nyala. Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang, sehingga terlontar suatu teriakan tertahan. Tak mungkin Tak mungkin. Tentara Demak bukan gerombolan-gerombolan liar yang biasa

membakar rumah dan merampok isinya.

Maka segera timbul gambaran di dalam otaknya, bahwa ini pasti suatu usaha pengadu- dombaan. Walaupun demikian ia bermaksud untuk membuktikan siapakah yang telah berbuat gila itu. Segera ia menarik kekang kudanya, dan memutar ke arah api yang menyala-nyala di sebelah timur itu. Kudanya yang lari secepat angin itu, dalam beberapa saat kemudian telah hampir sampai di tempat api yang menyala-nyala. Di beberapa tempat, ia bertemu dengan orang-orang yang berusaha mengungsikan diri. Kepada salah seorang diantaranya, ia bertanya, "He..., Kakang yang menjauhkan diri dari keributan, tahukan kau siapakah yang membakari rumah-rumah itu?"

Orang itu berhenti sejenak, lalu memandang kepada Mahesa Jenar dengan heran. Tetapi bagaimanapun ia selalu mengharap perlindungan dari manapun datangnya. Maka jawabnya, "Aku tidak tahu, tetapi mereka selalu berteriak-teriak, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit dari Demak yang mendapat perintah untuk menghancurkan Banyubiru, sebab Banyubiru akan memberontak terhadap Demak."

"Bagaimanakah cara mereka berpakaian?" selidik Mahesa Jenar lebih lanjut.

"Mereka memakai baju merah, ikat kepala merah dan celana merah pula. Adapun kainnya berwarna hitam," jawab pengungsi itu.

“Wiratamtama,” desis Mahesa Jenar.

"Terimakasih, Kakang," kata Mahesa Jenar kepada orang itu sambil menarik kekang kudanya, yang kemudian berlari kembali secepat angin ke arah api yang semakin lama semakin tinggi seolah-olah akan menjilat langit. Pakaian orang-orang yang membakar rumah itu, adalah pakaian prajurit Demak dari kesatuan penggempur yang bernama Wiratamtama, yang terdiri dari orang-orang pilihan dan perwira, bahkan dapat dikatakan sama dengan pasukan pengawal raja, yang disebut kesatuan Nara Manggala. Tetapi pakaian mereka agak berbeda. Sebab Nara Manggala memakai ikat kepala biru, ikat pinggang kuning. Karena itu ia semakin bernafsu untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang telah menamakan diri mereka prajurit-prajurit dari Demak itu.

Ketika matahari mulai bercahaya di arah timur, Mahesa Jenar sampai di tempat kebakaran. Ternyata orang yang membakar rumah-rumah itu sebagian besar sudah melarikan diri. Tinggallah di sana-sini beberapa orang saja yang masih berusaha untuk menemukan barang-barang yang berharga dari rumah-rumah yang terbakar itu.

Melihat kelakuan mereka yang tak ubahnya dengan anjing yang mengais di keranjang sampah, hati Mahesa Jenar terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Ia tidak saja merasa marah, bahwa orang-orang yang menamakan diri prajurit-prajurit itu telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah, tetapi kelakuan mereka adalah suatu penghinaan langsung terhadap kebesaran nama Wiratamtama khususnya dan prajurit Demak umumnya.

Karena itu segera ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa sama sekali mereka bukanlah prajurit-prajurit Demak yang sebenarnya. Karena itu tanpa bertanya-tanya lagi Mahesa Jenar segera menyerbu ke arah mereka.

Beberapa orang yang sedang sibuk mencari barang-barang itu, segera terkejut ketika mereka mendengar derap kuda mendekati mereka, apalagi ketika dilihatnya seorang yang belum dikenalnya langsung menuju ke arah mereka, dengan sikap yang garang.

Segera mereka melihat bahaya yang datang. Tetapi karena jumlah mereka yang banyak itu, mereka sama sekali tidak takut ketika dilihatnya bahwa yang datang hanyalah seorang. Meskipun demikian mereka bersiap-siap pula menanti kedatangan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar yang memacu kudanya seperti badai, dengan penuh kemarahan langsung menyerang orang-orang yang menantinya dengan sikap tak acuh itu. Baru ketika tiga orang bersama-sama terpelanting dengan meninggalkan suara parau yang terputus, sadarlah mereka bahwa yang datang itu bukan orang sembarangan.

Dengan kebingungan karena terkejut mereka mencoba mempersiapkan senjata-senjata mereka, tetapi itu tidaklah banyak gunanya, sebab sekejap kemudian Mahesa Jenar telah mengulangi serangannya. Sekali lagi dua orang sekaligus terlempar dengan mengumandangkan teriakan tinggi.

Orang-orang lain yang melihat kelima kawannya sudah menggeletak tak bernyawa itu, menjadi ketakutan, dan dengan tidak menunggu lebih lama lagi segera mereka melarikan diri bercerai-berai.

Mahesa Jenar segera berusaha menangkap salah seorang diantaranya. Dan kemudian membantingnya di tanah. Dengan ibu jarinya yang kuat Mahesa Jenar siap menekan leher orang itu. Sementara itu ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

Orang itu menjadi ketakutan setengah mati. Karena itu, meskipun ia berusaha menjawab, tetapi mulutnya menjadi tergagap-gagap tak keruan. Mahesa Jenar menyumpah-nyumpah di dalam hati. Karena bagaimanapun ia memaksa, mulut orang itu pasti tak akan dapat mengeluarkan kata-kata yang dapat dimengerti.

Akhirnya dengan sangat marah Mahesa Jenar menarik bajunya sehingga orang itu berdiri. Bersamaan dengan itu darah Mahesa Jenar tersirap sampai ke kepala, ketika dilihatnya, melingkar perut orang itu sebuah ikat pinggang yang lebar, dengan gambar dua ekor uling yang saling melilit. Karena itu Mahesa Jenar berteriak nyaring, “Kau dari gerombolan Uling Rawa Pening...?”

Mulut orang itu tampak bergerak-gerak, tapi suara yang keluar dari mulutnya tak ubahnya seperti suara orang bisu. Meskipun demikian karena kepalanya mengangguk- angguk, tahulah Mahesa jenar bahwa orang itu benar-benar dari gerombolan Uling Rawa Pening. Karena itu marahnya semakin membara di dalam dadanya. Alangkah banyaknya unsur-unsur yang ingin merusak kedamaian tanah perdikan kecil di lereng bukit Telamaya itu.

Tetapi kemudian Mahesa Jenar terkejut ketika ia mendengar suara tertawa di belakangnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Arya Salaka agak jauh di belakangnya, duduk di atas kuda hitamnya. Begitu asyiknya Mahesa Jenar mengurusi tangkapannya, sehinga ia sama sekali tak memperhatikan kedatangan Arya yang tentu dengan sengaja bersembunyi dan sangat berhati-hati.

“Apa kerjamu di situ Arya?” teriak Mahesa Jenar.

“Apa pula yang Paman kerjakan itu?” jawab Arya berteriak pula. Mendapat jawaban yang nakal itu, Mahesa Jenar menjadi jengkel. “Kemarilah,” panggilnya keras-keras.

Perlahan-lahan Arya menjalankan kudanya mendekati Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak mau dekat benar, sebab ia mengira bahwa Mahesa Jenar akan marah kepadanya.

Dengan masih memegangi tangkapannya erat-erat, Mahesa Jenar mengulangi pertanyaannya” Apa kerjamu disini?”

Arya menjadi agak bingung, sebab ternyata Mahesa Jenar benar-benar tak senang akan kehadirannya. Meskipun demikian ia menjawab dengan jujur. Aku melihat Paman memacu kuda ke arah timur. Aku kira pasti ada hal-hal yang menarik sehingga aku ingin ikut melihatnya.

“Lalu apa yang sudah kau lihat?” desak Mahesa Jenar.

“Paman Mahesa Jenar menangkap kelinci,” jawab Arya. Mau tidak mau Mahesa Jenar menjadi geli mendengar jawaban Arya. Memang anak itu nakalnya bukan main.

“Nah, ayo lekas pulang,” perintah Mahesa Jenar. “Nanti bersama Paman,” jawab Arya.

Mahesa Jenar menjadi bertambah jengkel. “Pulanglah Arya, supaya ayahmu tidak marah.”

”Aku takut pulang sendiri,” jawabnya mengelak.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa Arya sama sekali tidak takut. Maka mau tidak mau ia harus mengantar anak itu pulang. Lalu dengan sebuah sentakan yang keras Mahesa Jenar mendorong tangkapannya sehingga orang itu terdorong dan terbanting menelentang. Matanya memancarkan perasaan takut yang amat sangat, sedang nafasnya seperti berdesak berebut keluar. Arya menjadi geli melihat orang itu. “Tidakkah Paman bermaksud membunuh orang itu?”

Mendengar kata-kata Arya orang itu menjadi semakin ketakutan, sehingga akhirnya malahan Mahesa Jenar menjadi kasihan kepadanya. “Kalau kau masih mempunyai sisa tenaga, pergilah cepat-cepat menjauhi aku sebelum aku mencekikmu,” katanya.

Orang itu menjadi ragu-ragu sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar, seperti ia tidak percaya pada pendengarannya.” Sampai kemudian terdengar, Pergilah!”

Orang itu segera berdiri dan mundur beberapa langkah. Sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi Mahesa Jenar, seperti kuda pacu di lapangan pertandingan.

Arya melihat kelakuan orang itu seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Maka timbullah kenakalannya, untuk menakut-nakuti orang itu. “Tangkap orang itu, Paman..., tangkap orang itu. Ia akan melaporkan kepada pemimpinnya bahwa Paman ada di sini.”

Mendengar Arya berteriak-teriak, orang itu berlari semakin cepat tanpa menoleh, dibarengi dengan suara tertawa. Arya bergelak-gelak. Arya baru berhenti tertawa ketika didengarnya Mahesa Jenar berkata, “Marilah Arya, ada kerja yang lebih penting daripada menunggumu bermain-main di sini.”

Belum lagi habis kata-kata Mahesa Jenar, sayup-sayup menyusur lereng perbukitan terdengarlah suara sangkakala bergema.  Mahesa Jenar terkejut mendengar suara itu. Maka tanpa sesadarnya ia berkata – “Itulah pasukan dari Demak.” “Dari Demak?” ulang Arya.

Mahesa Jenar memandang wajah Arya yang masih memancarkan kebeningan hatinya itu dengan saksama. Meskipun anak itu nakalnya bukan main, tetapi hatinya bersih, sebersih hati ayahnya.

“Marilah kita lihat,” ajaknya.

Kemudian mereka berdua melarikan kuda mereka naik ke lereng yang lebih tinggi lagi. Dari sana dapatlah mereka melihat sebuah iring-iringan besar berjalan perlahan-lahan seperti semut yang merayapi dinding-dinding batu.

Mahesa Jenar menjadi terkejut bukan kepalang, ketika ia melihat pasukan Demak itu berjalan sudah dengan gelar perang. Bukan lagi merupakan barisan yang akan mengunjungi sebuah wilayah kerajaannya. Gelar itu merupakan gelar yang langsung akan dapat menghantam pertahanan lawan. Yaitu gelar Cakra Byuha.

Hati Mahesa Jenar berdebar sangat kerasnya. Mungkin beberapa penyelidik dari Demak telah menangkap tanda bahwa yang sudah dibunyikan oleh Gajah Sora, serta mereka mungkin salah terima terhadap nyala yang tidak boleh tidak pasti mereka saksikan. Nyala api yang ditimbulkan oleh kelakuan gerombolang Uling dari Rawapening, yang merasa sangat berkepentingan apabila di Banyubiru timbul keributan-keributan.

Segera Mahesa Jenar pun teringat bahwa Gajah Sora telah pula menyiapkan pasukannya. Maka apabila tidak ada pencegahan, pertempuran yang dahsyat pasti akan terjadi. Karena itu dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mengajak Arya Salaka untuk segera kembali menemui Ki Ageng Gajah Sora.

Dengan kecepatan penuh, Mahesa Jenar dan Arya Salaka melarikan kuda masing-masing langsung menuju ke alun-alun Banyubiru.

Ketika mereka sudah memasuki kota, kembali dada Mahesa Jenar terpukul oleh suatu kenyataan bahwa Gajah Sora telah membawa pasukannya untuk menyongsong pasukan Demak itu dengan gelar yang seimbang. Yaitu gelar Gajah Meta.

Gajah Sora tampak garang di atas kuda putihnya. Di tangannya tergenggam erat pusaka Banyubiru yang sakti, Kyai Bancak. Disampingnya dengan kepala menengadah tampak orang yang telah agak lanjut usianya, tetapi ialah satu-satunya kepercayaan yang tak pernah berkisar dari samping Gajah Sora, yaitu Wanamerta.

Di sisi yang lain dengan kepala tegak dan dada yang terbuka, seorang pemuda yang kelak akan terkenal namanya sebagai seorang perwira, yaitu Penjawi. Di belakangnya berturut-turut berjalan beberapa perwira pilihan. Di belakangnya lagi berkibarlah dengan megahnya bendera-bendera lambang kebesaran tanah perdikan Banyubiru. Panji-panji di atas dasar merah terlukis gambar seekor gajah berwarna kuning keemasan. Di samping bendera itu berkibar pula beberapa panji-panji kemegahan serta umbul-umbul beraneka warna, yang bertangkaikan tombak-tombak yang sudah tak bersarung.

Melihat pasukan itu, sejenak Mahesa Jenar tertegun. Ia adalah bekas seorang prajurit yang tidak saja satu dua kali mengalami pertempuran-pertempuran hebat. Tetapi ketika ia melihat tata barisan Gajah Sora dan gelar Gajah Meta, hatinya kagum juga. Ia jadi percaya bahwa Laskar Banyubiru merupakan laskar yang sudah masak di bawah pimpinan seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup.

Tetapi ketika ia teringat akan kemungkinan yang terjadi apabila pasukan ini bertemu dengan pasukan Demak, darahnya menjadi berdesir cepat. Maka segera ia melarikan kudanya, langsung menuju ke arah Gajah Sora.

Gajah Sora melihat kedatangan Mahesa Jenar, tetapi sikapnya menjadi agak lain dari biasanya. Dengan pandangan kosong, Gajah Sora menghentikan kudanya dan bertanya hambar, “Apakah maksud Adi Mahesa Jenar menemui aku?”

Mahesa Jenar merasakan perbedaan sikap ini, tetapi ia tidak peduli. Dengan suara yang perlahan-lahan tetapi jelas ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Orang-orang yang menyaru sebagai prajurit-prajurit Demak telah membakari rumah-rumah penduduk. Dengan demikian maka laporan yang sampai kepada Gajah Sora pasti prajurit-prajurit Demak yang melakukan pembakaran itu.

Gajah Sora mendengar dengan baik kata-kata Mahesa Jenar, tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah. Meskipun demikian ia bertanya, “Lalu apa kata Adi Mahesa Jenar terhadap gelar Cakra Byuha itu?”

Mendengar pertanyaan itu terasa sesuatu berdesir di dada Mahesa Jenar. Rupa-rupanya Gajah Sora telah mengetahui bahwa prajurit Demak mendekati Banyubiru dalam gelar perang yang berbahaya. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Baru kemudian Mahesa Jenar berkata, Kakang Gajah Sora, ini adalah suatu kesalahpahaman yang berbahaya.

“Sudahlah Adi, Aku sudah mengatakan bahwa aku menyadari kesulitan Adi sekarang ini. Karena itu aku persilahkan Adi kembali saja.”

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak senang mendengar kata-kata Gajah Sora itu, tetapi ketika ia akan menjawab, dilihatnya Gajah Sora melambaikan tangannya, dan iring-iringan itu mulai bergerak kembali. Iring-iringan raksasa yang terdiri ribuan prajurit yang terpecah-pecah menjadi bagian-bagian dalam gelar yang lengkap, Gajah Meta.

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia merasa bahwa agak terlambat untuk menahan Gajah Sora, namun ia tidak putus asa. Tanpa mengingat kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya apabila ia bertemu dengan prajurit-prajurit Demak, Mahesa Jenar mengikuti perjalanan pasukan Banyubiru, untuk menyongsong kedatangan pasukan-pasukan dari Demak.

Setelah itu tak sepatah katapun yang terdengar. Masing-masing berjalan tanpa bersuara. Di kepala masing-masing berputarlah berbagai masalah yang berbeda-beda.

Selangkah demi selangkah Laskar Banyubiru maju terus, dan selangkah demi selangkah mereka semakin dekat dengan pasukan-pasukan yang datang. Tetapi setiap jengkal mereka maju, setiap kali pula dada Mahesa Jenar merasa terbentur sesuatu yang seolah- olah hendak pecah oleh ketegangan yang semakin memuncak.

Sebentar kemudian pasukan itu menyusup, menerobos pepohonan dan kebun-kebun yang sedang memamerkan buah-buahan yang lebat, menembus pagar-pagar dan meloncati dinding-dinding rendah untuk tidak mengubah tata barisan mereka, dalam gelar perang Dirada Meta.

Kemudian muncullah pasukan itu di lapangan terbuka, sebuah padang rumput tempat para penggembala melepaskan binatang-binatang peliharaan. Masih dalam tata barisan yang teratur, mereka menuruni lereng bukit Telamaya.

Sejenak kemudian Gajah Sora melambaikan tangannya, dan berhentilah iring-iringan pasukan Banyubiru. Bersamaan dengan itu hampir berbareng terdengarlah gumam yang seperti mengumandang diantara anggota laskar itu. Sebab jauh di hadapan mereka, di bawah kaki bukit Telamaya, tampaklah dalam gelar Cakra Byuha pasukan-pasukan dari Demak.

Lebih dari itu semua adalah goncangan dada Mahesa Jenar. Kini benar-benar dadanya serasa akan meledak. Tidak saja sedapat mungkin dirinya selalu berusaha untuk menjauhi setiap prajurit dari Demak, untuk melenyapkan segala kenangan pada masa kebanggaannya sebagai seorang prajurit pengawal raja, tetapi sekaligus ia merasa terharu melihat kebesaran pasukan itu. Meskipun masih belum begitu jelas, tetapi bagi Mahesa Jenar apa yang dilihatnya itu seolah-olah telah melekat di pelupuk matanya.

Dengan membeda-bedakan warna pakaian mereka yang tampak seperti kelompok- kelompok yang beraneka warna, Mahesa Jenar segera mengenal pasukan dari kesatuan apa saja yang telah ditugaskan untuk datang ke Banyubiru. Karena pengenalan itu pula Mahesa Jenar merasakan suatu tekanan yang dahsyat dalam hatinya. Sebab ia mengetahui dengan pasti bahwa benar-benar pasukan itu merupakan pasukan tempur yang kuat sekali.

Dalam gelar Cakra Byuha yang merupakan lingkaran bergerak itu, tampaklah dalam kelompok depan pasukan Wira Tamtama dengan bendera yang terkenal, Tunggul Dahana, bendera yang mempunyai dasar merah dan bergaris hitam lintang melintang. Pada gerigi di sebelah kiri tampak pasukan penggempur Angkatan Laut Demak yang terkenal. Pasukan ini diikutsertakan dengan suatu kemungkinan terjadi pertempuran di daerah rawa-rawa.

Di bawah panji-panji Sura Pati, yaitu sebuah panji-panji yang berwarna merah bergambar ikan sura raksasa yang menggigit sebilah keris berwarna putih, pasukan penggempur Angkatan Laut yang bernama Wira Jala Pati itu merupakan kesatuan yang mengerikan.

Yang lebih menggetarkan dada Mahesa Jenar adalah pasukan yang berada dalam lingkungan gerigi sebelah kanan. Pasukan ini adalah pasukan yang tak asing lagi baginya. Sebab ia sendiri pernah menjadi bagian pasukan tersebut, yaitu pasukan Nara Manggala di bawah panji-panji Garuda Rekta, panji-panji yang berwarna kuning, dengan lukisan seekor garuda berwarna merah, yaitu pasukan pengawal raja.

Mahesa Jenar sadar bahwa pasukan inilah yang harus membawa kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dengan selamat sampai di Istana.

Sedang pada gerigi bagian belakang, yang jumlahnya tidak begitu banyak, tampaklah pasukan inti dari pasukan pengawal kota, yang disebut pasukan Manggala Sraya, dengan bendera merah bergaris silang putih, bernama Tunggul Mega.

Tetapi lebih dari segala itu, lebih dari kemegahan bendera-bendera Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega, adalah panji-panji yang berada di tengah lingkaran yang bergerigi itu. Sebuah panji-panji yang dikelilingi oleh sekelompok kecil prajurit dari kesatuan Manggala Pati yang hampir dapat dikatakan kesatuan berani mati. Panji-panji itu adalah bendera Kerajaan Demak yang berwarna gula kelapa.

Menyaksikan semuanya itu, Mahesa Jenar seolah-olah mendadak menjadi seorang lumpuh yang duduk di atas kudanya. Kesadarannya hilang, dan ia menurut saja kemana kudanya berjalan.

Hal itu bukanlah disebabkan ia merasa takut berhadapan dengan kesatuan itu. Sebab ia adalah setingkat dengan setiap perwira yang memimpin setiap kesatuan dalam pasukan Demak itu. Bahkan mungkin Mahesa Jenar masih memiliki kelebihan-kelebihan yang langsung diterima dari gurunya. Tetapi perasaan yang tak dapat disebutkan sebabnya telah menjalari dirinya.

Tanpa disengaja, Mahesa Jenar memandang ke arah Gajah Sora yang masih diam seperti patung memandangi pasukan Demak yang mendekatinya. Perasaannya bergolak hebat. Sebenarnya Gajah Sora sama sekali tidak mencemaskan pasukannya. Sebab ia merasa bahwa kekuatan kedua pasukan itu tidak akan terlalu banyak terpaut.

Meskipun nilai dari setiap anggota Laskar Banyubiru tidak dapat menandingi prajurit- prajurit dari Demak, Gajah Sora juga mempunyai beberapa orang pilihan dan mempunyai pasukan yang lebih banyak. Kalau perlu ia dapat mengubah gelarnya dalam gelar Samudera Rob atau Gelatik Neba seperti banjir melanda pasukan Demak. Untuk beberapa saat pasukan Banyubiru di bawah panji-panji Dirada Sakti, yaitu panji- panji merah berlukiskan gajah yang berwarna kuning emas itu masih diam tak bergerak, sementara pasukan Demak semakin lama semakin dekat. Karena itu semakin jelaslah kemudian setiap langkah dari setiap orang dalam gelar Cakra Byuha yang sempurna. Namun sampai sekian mereka masih belum dapat mengenal orang-orang yang diserahi tugas memimpin pasukan Demak itu.

Sesaat kemudian setelah pasukan itu menjadi semakin dekat, tampaklah seorang yang duduk diatas kuda berwarna sawo, yang agaknya memegang pimpinan, melambaikan tangannya. Maka segera berhentilah pasukan itu. Pemimpin pasukan itu, yang karena jaraknya yang masih agak jauh, belum dapat dikenal, segera memanggil dua orang pembantunya. Rupanya mereka sedang merundingkan siasat.

Mahesa Jenar kini merasa bahwa ia sudah tidak akan mampu berbuat sesuatu. Dua pasukan yang sudah berhadapan agaknya sukar untuk ditahannya. Apalagi ketika yang diduganya benar-benar terjadi. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak tidak mungkin dapat melawan pasukan Banyubiru dalam gelar yang demikian, sebab keadaan medan memang menguntungkan pasukan Banyubiru yang berada di tempat yang lebih tinggi.

Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak harus mengubah tata barisannya sehingga mereka dapat mencapai tempat yang sama tinggi. Pemimpin pasukan Demak itu dilihatnya mengangkat kedua tangannya dan kemudian dengan gerak melingkar tangannya bersilang dan kemudian direntangkan kembali. Itu adalah suatu aba-aba untuk mengubah tata barisannya.

Pasukan Demak adalah pasukan yang terlatih baik. Karena itu segera setiap pimpinan kelompok dengan serentak mengulangi aba-aba pimpinan pasukan, dan sesaat kemudian pasukan itu tampaknya menjadi berserak-serakan tak karuan. Tetapi sebenarnya mereka sedang bergerak untuk menempati tempat-tempat mereka dalam gelar perang yang baru, Garuda Nglayang.

Meskipun dengan gelar ini pasukan Demak sama sekali tak bermaksud mengepung pasukan Banyubiru, tetapi mereka berusaha untuk mencapai tempat yang cukup tinggi, sebab dengan gelar yang memencar ini, sayap-sayap kanan dan kiri akan dapat maju mendahului induk pasukannya, dan seterusnya menerjang dari arah lambung.

Melihat pasukan dari Demak telah memulai dengan gerakannya, setiap laskar Banyubiru segera menjadi gelisah. Mereka serentak memandang kepada Gajah Sora, untuk menunggu perintah lebih lanjut, terutama pimpinan-pimpinan kelompok.

Sebenarnya Gajah Sora segera dapat berusaha mencegah maksud pasukan Demak itu dengan mengubah gelarnya pula. Hal ini disadari oleh setiap pemimpin laskar Banyubiru. Karena mereka pun telah siaga untuk melaksanakan perubahan gelar itu. Namun untuk beberapa saat Gajah Sora tidak memberikan perintah sesuatu. Bantaran dan Sawungrana yang memegang pimpinan sebagai ujung-ujung gading dalam gelar Dirada Meta, Pandan Kuning dengan beberapa pasukan pilihan sebagai pengawal panji-panji Dirada Sakti, menjadi semakin gelisah. Wanamerta dan Panjawi pun tidak dapat mengetahui sebabnya, kenapa mereka masih harus diam menunggu. Mahesa Jenar juga menebak-nebak di dalam hati, apakah maksud sebenarnya dari Gajah Sora itu. Ataukah ia mempunyai suatu siasat di luar pengetahuannya?

Andaikata Mahesa Jenar memegang pimpinan, pasukan Banyubiru harus segera berubah dalam gelar Wulan Panunggal, untuk menghalangi sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang melengkung itu, sehingga dapat mengimbangi kekuatan sayap Garuda Nglayang, apalagi jumlah mereka lebih banyak.

Dalam setiap perhitungan perang, waktu memegang peranan yang penting, sehingga meskipun hanya sekejap, kadang-kadang mempunyai arti yang besar.

Demikianlah pasukan Demak yang terlatih baik itu, hanya memerlukan waktu yang singkat untuk dapat menempati kedudukannya yang baru. Bahkan pasukan sayap kanan dan kiri telah mulai mendaki tebing.

Melihat semuanya itu, Panjawi dan Sawungrana hanya dapat saling memandang, dan sekali dua kali mereka melemparkan pandangannya kepada Mahesa Jenar yang berada di luar kedudukan gelar, meskipun ia berada tidak jauh dari mereka itu.

Sebenarnya di dalam hati Mahesa Jenar tersimpanlah suatu kecemasan yang sangat besar, melihat tingkah laku Gajah Sora. Mungkinkah ia menjadi mata gelap dan putus asa, sehingga sejak langkah pertama sudah akan dipergunakan gelar-gelar yang menentukan seperti gelar Samudera Rob atau Gelatik Neba, yang sebenarnya sama sekali tidak perlu?

Memang, gelar itu akan cepat mencapai penyelesaian, tetapi korbannya tak akan dapat dihitung lagi.

Karena itu Mahesa Jenar menunggu perkembangan keadaan dengan hati yang berdebar- debar. Tetapi dalam keadaan yang demikian ia tidak akan mengganggu pemimpin pasukan.

Sementara itu, sayap-sayap kiri dan kanan dari pasukan Demak telah mencapai tempat yang sama tinggi dengan pasukan Banyubiru. Bahkan mereka telah siap pula melancarkan serangan ke arah lambung pasukan Banyubiru yang masih mempergunakan gelar Dirada Meta. Dalam hal ini dengan suatu isyarat tangan dari pemimpin mereka, pastilah mereka akan segera bergerak.

Tetapi rupanya dalam barisan Demak pun terjadi sesuatu. Pemimpin pasukan mereka ternyata tidak segera memberikan aba-aba untuk mulai menyerang. Agaknya mereka menjadi heran pula, kenapa dalam keadaan yang demikian pasukan Banyubiru masih belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk mulai bertindak. Karena itu, pemimpin pasukan dari Demak itu pun tidak tergesa-gesa bertindak.

Semenara itu, terjadilah suatu hal yang sama sekali tak terduga-duga. Dengan suara lirih dan dalam, terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora memanggil Wanamerta dan Panjawi. Sesaat kemudian Gajah Sora memalingkan mukanya, mencari Mahesa Jenar, dan dengan isyarat ia diminta mendekatinya.

Ketika Mahesa Jenar melihat wajah Ki Ageng Gajah Sora, ia menjadi terkejut. Wajah itu nampak begitu suram dan basah oleh keringat yang tak sempat diusapnya. Segera ia menarik kekang kudanya, dan cepat-cepat mendekatinya.

Agaknya telah terjadi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ketika Mahesa Jenar telah berada di sampingnya, semakin jelas bahwa tubuh Gajah Sora gemetar. Kemudian dengan suara yang bergetar pula ia berkata, “Paman Wanamerta, tetua tanah perdikan Banyubiru. Panjawi, harapan masa datang, dan Adi Mahesa Jenar yang berpandangan luas. Harap kalian mengetahui keputusanku.... Aku sama sekali tidak gentar menghadapi pasukan dari Demak itu, meskipun ternyata terdiri dari pasukan penggempur yang kuat.”

Gajah Sora berhenti sebentar, lalu lanjutnya, “Tetapi aku tak akan melawannya.”

Mendengar kata-kata Gajah Sora itu, Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar sangat terkejut. Segera wajah-wajah mereka memancarkan perasaan mereka yang menyimpan berbagai pertanyaan. Tetapi tak seorangpun yang menyatakannya.

“Dengarlah dengan baik,” sambung Gajah Sora, “Mungkin Adi Mahesa Jenar yang paling dapat mengerti perasaanku.”

Gajah Sora diam sebentar untuk menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. Matanya yang sayu dan kemerah-merahan itu, tanpa berkedip memandang ke arah bendera Gula Kelapa yang berbentuk segitiga panjang sebagai lambang kebesaran Demak.

“Beberapa tahun yang lampau..., Aku pernah bertempur melawan orang-orang Portugis di Semenanjung Malaka untuk mempertahankan kebesarannya. Pada saat itu diatas kapalku berkibar pula dengan megahnya bendera Gula Kelapa itu. Haruskah aku sekarang melawannya? Tidak, aku tidak bisa.”

Kembali Gajah Sora terdiam. Dan kembali Gajah Sora menelan ludah beberapa kali. Matanya nampak semakin merah bukan oleh nyala kemarahan.

Mendengar kata-kata itu, bulu tengkuk Mahesa Jenar serasa serentak berdiri. Kata-kata itu langsung menyusup ke perasaannya yang paling dalam. Agaknya perasaan yang demikian pulalah yang menyebabkan dirinya seperti orang yang kehilangan pegangan. Tetapi Wanamerta dan Panjawi mempunyai tanggapan yang lain. Wajahnya menjadi tegang. Mereka tidak begitu mengerti maksud Gajah Sora. Karena itu Wanamerta segera bertanya, “Bagaimanakah maksud Ki Ageng sebenarnya?,”

“Lalu apakah yang akan Ki Ageng lakukan?” sela Panjawi yang menjadi semakin gelisah.

“Aku akan berbicara dengan mereka,” jawab Gajah Sora.

Mendengar jawabnya itu Wanamerta dan Panjawi saling memandang dengan kebingungan.

“Mereka tidak datang untuk berbicara,” jawab Panjawi kemudian, “Tetapi mereka datang dengan gelar perang.”

Kembali mata Ki Ageng Gajah Sora melekat pada Sang Saka Gula Kelapa yang seolah- olah melambaikan tangan-tangannya kepada Gajah Sora, sebagai salam hangat setelah agak lama tidak bertemu. Karena itu hati Ki Ageng Gajah Sora menjadi semakin terkoyak-koyak. 

“Kalau mereka tidak dapat berbicara, kata Gajah Sora Sora selanjutnya, aku akan menyertai mereka ke Demak. Sebab aku percaya bahwa pemerintahan berjalan dalam garis-garis hukum. Bagaimanapun juga masalah ini adalah masalah kita bersama yang harus dapat kita selesaikan, tanpa pertumpahan darah.”

Wanamerta dan Panjawi agaknya masih belum begitu mengerti maksud Gajah Sora, sehingga terdengar suara Wanamerta agak tertahan, “Anakmas, kami adalah orang-orang yang bersedia dibujur-lintangkan untuk keselamatan Anakmas.”

Gajah Sora memandang Wanamerta dengan penuh pengertian dan haru. Tetapi ia sudah mempunyai suatu ketetapan bahwa ia sama sekali tak bermaksud menodai Sang Saka Gula Kelapa. Karena itu katanya, “Paman..., aku tahu kesetiaan Paman dan segenap laskar Banyubiru. Tetapi aku harap Paman juga mengetahui kesetiaanku kepada bendera itu, Sang Saka Gula Kelapa, sebagai lambang kesatuan negara. Termasuk Banyubiru. Sebab Banyubiru sendiri tak ada artinya di muka bumi ini, kalau tidak bersama-sama dengan daerah-daerah lainnya berkembang di taman sarinya. Negara kita ini. Sebaliknya, negara kita ini tidak pula akan tegak melawan badai sejarah kalau tidak berakar di dalam jiwa rakyat di daerah-daerah, termasuk Paman dan seluruh rakyat Banyubiru.”

Wanamerta dan Panjawi menundukkan mukanya dalam-dalam. Di dalam hatinya telah membayang sedikit pengertian akan ucapan pemimpinnya yang sangat dicintainya itu. Namun bagaimanapun, agaknya amat sulit baginya untuk melepas Gajah Sora pergi sebagai seorang terdakwa yang telah melakukan pengkhianatan.

Karena itu Wanamerta masih mencoba bertanya, “Anakmas, tidakkah Anakmas dapat berbicara dengan mereka dalam kesempatan lain yang lebih baik, sehingga Anakmas tidak dianggap sebagai seorang tangkapan?”

”Tak akan ada lagi kesempatan kecuali ini, Paman. Sebab kalau aku tidak mempergunakan kesempatan ini, pasti akan terjadi pertumpahan darah sesama kita yang tak ada artinya,” jawab Ki Ageng Gajah Sora.

Kembali Wanamerta menundukkan kepalanya. Ia kenal betul akan sifat dan watak Gajah Sora. Apabila ia sudah menjatuhkan keputusan, maka tak seorang pun yang akan dapat mengubahnya. Karena itu, dengan perasaan yang tertekan ia terpaksa berdiam diri.

Sebaliknya Panjawi yang masih belum dapat mengendapkan dirinya, berkata menyela, “Ki Ageng..., sebenarnya kami lebih senang apabila Ki Ageng memerintahkan kepada kami untuk menghunus pedang kami daripada melepaskan Ki Ageng pergi sebagai seorang tawanan.” 

Gajah Sora tersenyum pahit. Lalu jawabnya, "Aku bukanlah tawanan prajurit yang kalah perang, Panjawi. Hal ini pasti disadari pula oleh orang-orang Demak itu, bahwa aku masih tegak di hadapan pasukanku yang belum pasti dapat mereka kalahkan."

"Karena itu berikanlah kepada kami perintah, Ki Ageng," sahut Panjawi yang agaknya masih berdarah panas.

"Panjawi..." jawab Gajah Sora, "Memang di dalam tubuhmu mengalir darah jantan sejati. Tetapi dengarlah perintahku baik-baik. Kau dan Wanamerta tetap berada di tempatmu. Jagalah bahwa tak seorang pun dalam pasukan ini yang berkisar dari tempatnya."

Mendengar perintah itu, dada Panjawi serasa menerima pukulan yang maha dahsyat, sampai ia memejamkan mata beberapa saat untuk dapat menenangkan perasaannya kembali.

“Adi Mahesa Jenar...” kata Gajah Sora kepada Mahesa Jenar yang selama itu dengan penuh pergolakan di dalam dadanya memperhatikan setiap kata-kata Gajah Sora. Wanamerta dan Panjawi, “Di manakah Arya?”

Pertanyaan ini mengejutkan benar, sebab untuk beberapa saat Mahesa Jenar telah melupakan anak ini.

“Bukankah tadi anak itu datang di belakang Adi?” sambung Gajah Sora.

:Benar, Kakang,” jawab Mahesa Jenar agak gugup sambil melayangkan pandangannya berkeliling, sampai akhirnya tertumbuk pada seekor kuda hitam dengan seorang anak di punggungnya dan tampaknya dengan enaknya melihat dua pasukan yang hampir bertempur itu seperti melihat rombongan pawai prajurit. Melihat hal itu jantung Mahesa Jenar berdesir. Apakah yang terjadi andaikata kedua pasukan itu benar-benar bertempur, sedangkan Arya berada diatas sebuah gundukan tanah dalam garis serangan sayap kanan pasukan Demak. Andaikata sampai terjadi sesuatu atasnya pastilah ia harus mempertanggungjawabkannya.

Maka dengan isyarat Arya dipanggil untuk mendekati ayahnya. Tetapi rupa-rupanya anak itu agak takut, sehingga isyarat itu sampai harus diulangi dua kali.

Ketika Arya telah berada disampingnya, dengan pandangan yang semakin sayu dan kata- kata yang gemetar, Ki Ageng Gajah Sora berkata kepada Arya, “Arya..., kau telah pernah mempergunakan tombakku yang sakti ini. Karena itu, pada hari ini tombak ini aku hadiahkan kepadamu.”

Arya yang tidak tahu masalahnya, mendengar kata-kata ayahnya itu menjadi terkejut dan menduga-duga, tetapi sekejap kemudian ia menjadi kegirangan. Wajahnya berseri-seri dan dengan segera ia maju mendekat.

Sebaliknya adalah Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar. Ketika mereka mendengar kata Gajah Sora itu dada mereka bergoncang hebat. Sebab mereka sadar akan arti kata- kata itu. Dengan demikian maka Ki Ageng Gajah Sora telah menyerahkan pemerintahan Banyubiru kepada putra satu-satunya yang belum dewasa.

“Apakah artinya ini Ki Ageng?” tanya Panjawi dengan suara bergetar.

“Ayah akan menghadiahkan tombak itu kepadaku, sahut Arya dengan riangnya. Dan bukankah ayah bermaksud mengijinkan aku untuk turut bertempur sekarang ini?”

Semua yang mendengar kata-kata Arya itu menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih Gajah Sora sendiri.

“Arya, aku tidak bermaksud demikian. Sebab hari ini aku akan bepergian jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali. Kaulah yang berhak untuk memiliki pusaka itu, tetapi sementara biarlah pusaka itu kau titipkan kepada eyangmu Wanamerta,” kata Gajah Sora dengan suara lembut.

Wajah Arya yang riang itu segera berubah menjadi kecewa dan bertanya-tanya. Pandangannya beredar diantara orang-orang yang berada di sekitarnya seperti minta penjelasan. Akhirnya ia bertanya, “Ayah akan pergi jauh sekali?”

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk. “Selama ayah pergi, kau tidak boleh nakal Arya. Kau harus menurut segala petunjuk eyangmu Wanamerta. Dan yang akan melanjutkan pelajaranmu dan olah kanuragan adalah pamanmu Mahesa Jenar. Bukankah begitu Adi...?”

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan, tetapi ia tidak dapat berkata lain daripada mengiyakan.

Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada Meta.

Tiba-tiba Gajah Sora mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Pemimpin pasukan Demak yang rupa-rupanya cukup bijaksana dan tidak berbuat sesuatu, ketika ia menyaksikan Gajah Sora sedang berunding dengan bawahannya, juga mengangkat tangan kanannya untuk menjawab isyarat Gajah Sora.

Sekali lagi Gajah Sora memandang kepala barisannya. Kemudian ia berkata kepada Wanamerta, “Sepeninggalku perintahkan pasukan ini mengundurkan diri, Paman. Aku percayakan Banyubiru dalam kebijaksanaan paman selama aku pergi, Aku juga minta agar Adi Mahesa Jenar sudi menjadi pelindung daerah yang tak berarti ini. Aku titipkan Arya kepadamu,” lanjut Gajah Sora kepada Mahesa Jenar.

Kemudian, sehabis mengucapkan kata-kata itu, Gajah Sora menarik kekang kudanya yang kemudian berlari dengan kencangnya menuju ke arah pasukan dari Demak.

Melihat Gajah Sora telah datang seorang diri, pemimpin pasukan dari Demak itupun segera menyongsongnya bersama dua orang pengawalnya.

Melihat Ki Ageng Gajah Sora pergi seorang diri ke arah pasukan-pasukan dari Demak itu, Arya terkejut. Untuk beberapa saat ia diam kebingungan. Tetapi setelah ingatannya berjalan kembali, ia berteriak memanggil. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat bertindak, menangkap kendali kuda Arya yang hampir berlari memburu.

Sambil memanggil-manggil ayahnya, Arya meronta-ronta memukul-mukul tangan Mahesa Jenar yang memegang kendali kudanya itu.

Wanamerta memandangi Arya dengan dada yang sesak. Perlahan-lahan ia mendekati anak itu dan menghibur sebisa-bisanya. Namun untuk beberapa saat Arya masih saja berusaha untuk melepaskan tangan Mahesa Jenar dan berteriak-teriak sejadi-jadinya.

Sebenarnya bukan saja Arya yang menjadi bingung dan meronta-ronta, tetapi segenap hati laskar Banyubiru menjadi bingung, dan meronta-ronta pula. Bahkan kemudian terdengarlah suara bergumam yang semakin lama semakin keras. Bantaran dan Sawungrana tampak menjadi gelisah. Sedang Pandan Kuning yang tak dapat menahan diri lagi berteriak nyaring, “Apakah artinya ini semua Kakang Wanamerta...?”

Wanamerta dapat mengerti semuanya itu, dapat mengerti kenapa seluruh laskar Banyubiru menjadi gelisah dan bingung. Karena itu segera ia mengangkat tangannya untuk menenangkan keadaan, sedang tangannya yang lain mengacungkan pusaka Kyai Bancak tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia telah mendapatkan wewenang atas nama Arya Salaka untuk memimpin daerah perdikan Banyubiru.

Sementara itu keributan agak dapat ditenangkan, tetapi hati laskar Banyubiru itu sama sekali tak dapat ditenangkan. Mereka, dengan darah yang bergelora melihat Ki Ageng Gajah Sora berlari di atas kudanya menemui pemimpin pasukan dari Demak yang datang menyongsongnya. Apalagi beberapa saat kemudian seluruh laskar Banyubiru yang berada di lereng bukit Telamaya itu menyaksikan dengan jelas bahwa pemimpin mereka Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan mereka bersama-sama dengan pemimpin pasukan dari Demak itu, yang sebentar kemudian memberi aba-aba kepada seluruh prajurit Demak untuk menarik gelar Garuda Nglayang itu menjadi suatu barisan tidak dalam gelar perang.

Rasa-rasanya laskar Banyubiru itu hampir meledak ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka telah pergi menyertai pasukan dari Demak, yang menurut anggapan mereka tidak lebih dari seorang tawanan.

Dalam keadaan yang demikian, segera Wanamerta membalikkan kudanya dan merasa perlu untuk memberi penjelasan. Segera dengan isyarat tangan ia memanggil segenap pimpinan kelompok dalam kesatuan laskar Banyubiru. Anak-anakku Laskar Banyubiru yang setia kepada pemimpinnya. Atas nama kekuasaan yang telah diserahkan kepada Arya Salaka, aku perintahkan kepadamu untuk tetap tenang, dan setelah ini menarik kembali seluruh laskar kita. Penjelasan mengenai hal ini akan aku berikan kemudian, kata Wanamerta.

Mendengar keterangan singkat dari seorang kepercayaan Gajah Sora itu beberapa orang menjadi ribut, sedang beberapa orang lagi menjadi kebingungan. Tetapi bagaimanapun laskar Banyubiru adalah laskar yang patuh dan setia sehingga bagaimanapun terjadi pergolakan di dalam dada namun mereka harus mentaati perintah pemimpin mereka atau yang dikuasakan. Dan sekarang, ternyata Wanamerta yang memegang pusaka Kyai Bancak itu berbicara atas nama Pemimpin tanah perdikan Banyubiru.

Karena itu tak seorangpun yang berani melanggar perintahnya. Panjawi yang sebenarnya sama sekali tidak rela melepaskan Gajah Sora, menjadi gemetar tubuhnya. Wajahnya jadi sebentar merah dan sebentar kemudian memutih pucat hampir seperti mayat. Giginya terdengar gemeretak dan pengertian perasaan yang bercampur aduk antara marah, kecewa, dan bingung, tetapi juga kesadaran dan pengertian bahwa apa yang dikatakan Gajah Sora adalah benar.

Sementara itu iring-iringan pasukan Demak itu berjalan terus semakin jauh, meninggalkan kepulan debu putih yang segera lenyap disapu angin pegunungan. Sebentar kemudian pasukan yang membawa Ki Ageng Gajah Sora itu lenyap sedikit demi sedikit di tikungan, seperti ditelan oleh anak pegunungan yang menonjol di hadapan laskar Banyubiru itu.

Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan. ”Arya..., marilah kita pulang,” kata Wanamerta lembut. Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.

“Pulanglah, Arya...” sambung Mahesa Jenar, “Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?”

Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.

“Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru?” tanya Arya di sela-sela isaknya.

“Pasti, Arya, Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul.”

Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.

Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.

Sepeninggal pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar akan terjadi.

Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.

Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang agak tersembunyi.

Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu.

Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata.

Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar Samudera Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang besar.

Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk melawan gelar Samudera Rob.

Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora.

Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan.

Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samudera Rob itu bagai gelombang menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan.

Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian sebenarnya.

Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu. Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan.

Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir melandanya.

Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua dan ketiga.

Tetapi karena   jumlah   penyerang-penyerang   itu   sedemikian   banyaknya,   maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.

Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari punggung kudanya, seolah- olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur.

Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda.

Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang- orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu, ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil itu.

Mendapat pikiran itu, terus saja Mahesa Jenar memutar kudanya, dan dengan mengambil jalan melingkar ia menuju ke arah bukit kecil, dimana orang-orang yang dicurigainya itu berada. Dengan hati-hati ia berusaha untuk mendekati orang itu dari arah belakang.

Maka setelah Mahesa Jenar berhasil mencapai bukit kecil itu, ia segera turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon dengan ikatan yang tidak begitu keras, supaya apabila setiap saat diperlukan, tidak terlalu sukar baginya untuk melepaskan tali itu.

Dengan hati-hati sekali ia merangkak naik dan selalu berusaha untuk melindungi dirinya dengan batang-batang pohon dan daun-daun yang rimbun. Bahkan kadang-kadang ia memilih jalan menyusur tebing-tebing yang curam agar tidak menarik perhatian.

Di atas bukit itu ternyata beberapa orang berkuda yang dengan saksama mengikuti jalannya pertempuran di lembah. Mahesa Jenar yang dengan sangat hati-hati berhasil mendekati mereka, segera mengenal siapakah mereka itu.

Pada saat Mahesa Jenar mengetahui orang-orang yang berkuda itu, rasanya dirinya seperti terlempar ke dalam sebuah khayalan yang sangat menakutkan dan sukar untuk dipercaya. Karena itu jantungnya terasa seperti berdentam-dentam tak keruan. Cepat ia berusaha menguasai diri dan mengatur pernafasan untuk menenangkan dirinya. Meskipun demikian, ia menjadi gemetar juga.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang cukup berpengalaman, sehingga apa yang dilakukan bukanlah pencetusan perasaannya belaka, tetapi juga hasil dari pemikirannya yang masak.