Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 11

 
Jilid 11

“Ki Sanak... potong Mahesa Jenar, kenapa kau begitu tergesa-gesa. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu kepada penduduk Banyubiru ini supaya mata mereka tidak menyorotkan pandangan kecurigaan.”

Orang itu sekarang sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya karena putus asa. Ia tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. Matanya berubah menjadi liar dan mencari tempat-tempat yang lemah, di mana ia mungkin menerobos untuk melarikan diri. Tetapi orang yang mengerumuninya itu seolah-olah sengaja mengepungnya rapat-rapat.

Setelah orang itu tidak dapat melihat kemungkinan itu tiba-tiba ia menarik keris yang terselip di bawah bajunya. Maka dengan suara yang parau ia berteriak, “Minggir, atau aku terpaksa membunuh kalian.”

Melihat orang itu menarik kerisnya, beberapa orang yang mengerumuninya surut ke belakang. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Orang Banyubiru bukanlah sebangsa penakut. Kalau mereka mundur hanyalah supaya ada jarak cukup dapat bertindak tepat. Apalagi Mahesa Jenar. Ia sama sekali tak berkisar dari tempatnya.

“Janganlah bermain-main dengan benda yang demikian, sebab senjata hanyalah mendatangkan bencana, terutama bagi yang membawanya” kata Mahesa Jenar sambil tersenyum.

“Diam...!” teriak orang itu semakin putus asa. “Pergi kau, atau biarkan aku pergi.”

Orang itu selangkah mendekati Mahesa Jenar dengan keris terhunus. Melihat orang itu mendekati Mahesa Jenar, beberapa orang bergerak pula. Mereka masih belum tahu sampai di mana kemampuan bertindak Mahesa Jenar, sehingga penduduk Banyubiru merasa perlu untuk melindungi tamu mereka. Tetapi Mahesa Jenar masih saja berdiri di tempatnya.

Sementara itu terdengarlah beberapa orang keluar dari halaman. Mereka ternyata Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya. Ketika mereka mendengar ribut-ribut di luar, mereka ingin pula mengetahuinya. Dan ternyata Arya Salaka telah berlari memberitahukan persoalan itu kepada ayahnya.

Orang-orang yang berdiri berkerumun segera menyibak, ketika mereka melihat kepala daerah mereka datang. Melihat orang-orang berdatangan, orang yang mencurigakan itu menjadi semakin pucat, dan semakin kebingungan.

Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Ketika Ki Ageng Lembu Sora melihat orang itu, matanya menjadi merah menyala. Dan tidak seorang pun yang mengira bahwa Lembu Sora secepat kilat menarik kerisnya dan sambil berteriak ia meloncat menikam perut orang itu.

“Orang inikah yang telah berani menganiaya putra Kakang Gajah Sora?” katanya. Gerakan Lembu Sora terlalu cepat sehingga tak seorang pun dapat mencegahnya.

Orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Cepat-cepat tangannya memegang perutnya yang terluka, dan kerisnya sendiri terlepas jatuh. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, sedang wajahnya memancarkan rasa heran dan kemarahan yang tak terhingga. Ia memandangi Lembu Sora dengan matanya yang semakin pucat. Dari sela- sela jarinya mengalir gumpalan-gumpalan darah cair. Bibirnya yang menjadi putih itu bergerak-gerak, tetapi tak sepatah katapun terucapkan, sampai akhirnya ia tersungkur dan tak bernafas lagi. Kemudian terdengarlah suara-suara yang tidak jelas dari beberapa orang yang menyaksikan dengan penuh keheranan atas kejadian itu. Mereka semua sudah mengenal bahwa Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora, tetapi mereka sama sekali tidak membayangkan bahwa adik Gajah Sora dapat bertindak sekasar itu terhadap seseorang yang belum jelas kesalahannya.

Apalagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora sendiri, yang menjadi kurang senang atas tindakan Lembu Sora.

Kau terlalu tergesa-gesa Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora.

“Maafkan aku Kakang....” jawab Lembu Sora. “Aku terlalu tidak dapat menahan hati terhadap orang yang menganiaya putra Kakang. Sebab aku sendiri mempunyai seorang anak yang sebaya dengan Arya, yaitu Sawung Sariti, sehingga aku merasa bahwa tindakan yang kasar terhadap anak-anak adalah tindakan yang paling terkutuk”

Gajah Sora menarik alisnya. Kemudian diperintahkannya beberapa orang untuk mengurusi jenazah itu, sedang beberapa orang yang lain supaya mencari keluarganya, apabila mungkin.

Setelah semuanya mulai dikerjakan, Gajah Sora dan Lembu Sora serta para pengiringnya masuk kembali. Mahesa Jenar masih saja berdiri diantara mereka yang sedang menyelesaikan penguburan jenazah itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah. Tadi ia sempat meneliti wajah Lembu Sora lebih saksama.

Matanya yang berapi-api, bibirnya yang agak tebal dan selalu tertarik ke bawah bagian- bagian tepinya, menunjukkan bahwa ia benar-benar orang yang tidak tanggung-tanggung. Yang dapat membunuh orang, asal ia mau, dan sesudah itu dapat melupakannya dengan sekaligus seperti tak terjadi apa-apa.

Tetapi bagaimanapun, apa yang baru dilakukan adalah tindakan yang kasar sekali. Tiba- tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. “Apakah hal itu cukup kuat sebagai suatu alasan untuk membunuh. Tidak mungkinkah kalau pembunuhan itu dilakukan karena ada sebab-sebab lain...?”

Sementara itu datanglah Arya Salaka mendekatinya. Wajahnya tampak tidak seriang biasanya. “Aku menyesal Paman. Aku tidak mengira bahwa orang itu akan mengalami nasib terlalu buruk, sehingga Paman Lembu Sora membunuhnya,” bisiknya kepada Mahesa Jenar.

“Sudahlah, Arya... lain kali jangan terlalu nakal. Untunglah aku melihat kau berkelahi. Kalau tidak, barangkali kepalamu tadi sudah terbentur dinding,” jawabnya.

“Mula-mula aku hanya ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan orang itu, Paman,” katanya. “Kelakuannya nampak aneh. Dan aku tidak sempat memberitahukan kepada siapapun.” “Sudah pernahkah kau melihat orang itu sebelumnya?” tanya Mahesa Jenar.

“Belum. Yang pasti ia bukan orang Banyubiru. Aku hampir mengenal semua orang di kota ini,” jawabnya.

Mahesa Jenar merenung sejenak. Lalu katanya, “Sudahlah, lupakan itu. Marilah kita sekarang berjalan-jalan. Barangkali kau dapat menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah aku lihat.”

Maka kembali Mahesa Jenar berjalan-jalan tanpa tujuan. Kali ini ia pergi bersama Arya Salaka yang nakal. Diajaknya Mahesa Jenar mendaki lereng bukit Telamaya.

“Dari sana Paman dapat melihat seluruh dataran Tanah Rawa,” kata Arya Salaka. “Dari Banyubiru, dataran itu juga dapat dilihat, Arya,” jawab Mahesa Jenar.

“Tetapi pandangan kita tidak seluas apabila kita berdiri di sana” bantah Arya Salaka.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Memang ia sama sekali tidak mempunyai tujuan. Jadi ke mana saja pergi, bagi Mahesa Jenar adalah sama saja.

Sampai di lereng bukit yang agak tinggi, mereka berdua dapat melihat hampir seluruh dataran. Tanah-tanah yang subur dengan padinya tampak seperti permadani kuning yang dibentangkan di bawah kaki mereka. Sedang di bagian timur tampak Rawa Pening berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam tertarik pada beberapa titik yang bergerak- gerak. Titik-titik itu terlalu kecil, tetapi mata Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya bahwa titik-titik itu adalah orang-orang berkuda.

“Kau lihat titik-titik yang bergerak-gerak itu?” tanya Mahesa Jenar kepada Arya Salaka.

”Yang mana Paman?” tanya Arya Salaka sambil berusaha mempertajam pandangan matanya.

”Di sebelah selatan rawa itu,” jawab Mahesa Jenar. Akhirnya Arya Salaka dapat melihatnya pula. “Ya..., aku melihatnya, Paman,” katanya.

“Kau tahu, apakah itu kira-kira?” tanya Mahesa Jenar. Arya mengerinyitkan alisnya. “Entahlah,” jawabnya. “Itu adalah orang-orang berkuda,” kata Mahesa Jenar.

“Orang-orang berkuda?” tanya Arya. Rupanya ia sangat tertarik. “Di sini memang sering ada orang-orang berkuda. Tetapi yang bergerombol demikian adalah jarang sekali. Berapa orang kira-kira mereka, Paman?”

Mahesa Jenar mengamat-amati sejenak, lalu katanya, “Ya, antara sepuluh orang.“

Tiba-tiba wajah Arya Salaka berubah. Pasti terpikir sesuatu olehnya. Maka berkatalah “Ia, Paman, marilah kita lihat, siapakah mereka itu.”

Mahesa Jenar tersenyum. “Jarak itu tidak terlalu dekat Arya, belum tentu lewat tengah hari kita sampai ke sana. Bukankah jalan menuju ke tempat itu berkelok-kelok?”

“Kita pulang dahulu. Lalu kita ambil kuda, dan pergi ke sana,” Arya menjelaskan maksudnya.

Arya tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar, tetapi terus saja menghambur lari menuruni tebing.

Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Memang sebenarnya ia pun tertarik pada rombongan orang-orang berkuda yang datang dari arah timur itu.

Ketika Mahesa Jenar sampai di luar dinding halaman rumah Arya, ia melihat Arya sudah menunggunya dengan dua ekor kuda. Yang seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu. Ketika Mahesa Jenar menghampirinya, segera Arya menyerahkan kuda yang berwarna abu-abu itu kepadanya.

“Mudah-mudahan tamasya ini menyenangkan Paman,” kata Arya sambil meloncat ke atas punggung kudanya. Kemudian tanpa menunggu Mahesa Jenar, ia telah memacu kudanya. Mahesa Jenar segera menyusul sambil menggerutu di dalam hati, “Memang anak ini nakal sekali.”

Sebentar kemudian kuda-kuda itu telah menuruni jalan-jalan perbukitan, dan segera mencapai jalan yang menuju ke Rawa Pening.

Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu bergulung-gulung di terik matahari. Berkali-kali Mahesa Jenar yang berjalan di belakang menghapus wajahnya, yang rasanya bertambah tebal oleh debu yang melekat.

Setelah mereka berkuda beberapa saat, tampaklah jauh di depan mereka debu yang berhambur-hamburan. Segera Arya memperlambat kudanya sampai Mahesa Jenar berjalan di sampingnya.

”Itukah mereka Paman?” tanya Arya Salaka. “Ya, itulah mereka,” jawab Mahesa Jenar.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Arya lagi.

“Terserahlah kepadamu,” jawab Mahesa Jenar tersenyum. “Bukankah aku hanya mengikutimu?”

Arya mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat, apakah yang mendorongnya untuk pergi. Tetapi yang ditemukannya hanyalah suatu keinginan untuk mengetahui semata-mata. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Karena itu ia menjadi bingung mendengar jawaban Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar menangkap kesan itu. Lalu katanya, “Arya, lain kali pikirkan dahulu sebelum kau bertindak, supaya kau tidak mudah terjerat dalam suatu bahaya. Sekarang aku kau bawa ke dalam suatu tindakan yang tak kau ketahui sendiri maksudnya.”

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan penuh kesibukan di dalam hati. Tetapi ketika ia melihat kesan wajah Mahesa Jenar, segera ia berkata hampir berteriak “Paman, jangan Paman mengganggu. Aku sudah kebingungan.”

Kembali Mahesa Jenar tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga kembali Arya bertanya, “Aku akan tidak berbuat lagi Paman. Tetapi bagaimana sekarang?”

Akhirnya Mahesa Jenar kasihan juga melihat Arya bingung. Maka katanya, “Kenapa kau menjadi bingung? Bukankah biasa saja kalau kita berjalan berpapasan? Apa halangannya?”

Jawaban Mahesa Jenar yang sederhana itu telah membuat Arya menjadi geli sendiri. Katanya dalam hati, “Ya kenapa aku bingung. Bukankah benar kata Paman Mahesa Jenar itu...?”

Akhirnya Arya Salaka tertawa sendiri. Tetapi tanpa disadarinya sendiri otaknya yang tangkas dapat mengikuti jalan pikiran Mahesa Jenar. Dengan berpapasan saja sudah dapatlah kiranya didapat kesan mengenai orang-orang berkuda itu.

Orang-orang berkuda itu semakin lama jaraknya menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar masih selalu cemas atas tindakan-tindakan Arya yang kadang-kadang tak terkendalikan itu.

“Arya, terhadap orang-orang yang sama sekali belum kau kenal, jangan berbuat sebelum kau ketahui beberapa hal lebih dahulu. Juga terhadap orang-orang berkuda itu. Kita berjalan biasa saja dan jangan menimbulkan kesan yang menarik perhatian mereka, supaya mereka tidak bercuriga,” kata Mahesa Jenar memperingatkan Arya. Arya memalingkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Aku sudah berjanji Paman, untuk tidak melanggar nasehat-nasehat Paman.”

Orang-orang berkuda itu sudah demikian dekat, dan sebentar kemudian mereka telah bersilang jalan. Ternyata mereka terdiri sekitar 10 orang dan bersenjata lengkap. Mereka pada umumnya bertubuh tegap dan gagah. Wajah-wajah mereka tampak keras dan mengandung sifat-sifat yang kurang menyenangkan.

Ketika mereka berpapasan, 10 pasang mata itu bersama-sama mengawasi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Untunglah Arya Salaka tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian sehingga mereka biarkan saja anak itu lewat bersama seseorang yang mungkin dianggap bapaknya.

Tetapi dalam waktu yang sekejap itu banyak artinya bagi Mahesa Jenar. Orang-orang itu pastilah mempunyai maksud yang tidak baik. Kedatangan mereka di daerah Perdikan Banyubiru dengan senjata lengkap, pasti mempunyai hubungan dengan keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sebab bagaimanapun hal itu disekapnya sebagai suatu rahasia, namun tidaklah mustahil bahwa Sima Rodra sendirilah yang dengan sengaja meniup-niupkan berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten berada di Banyubiru. Hal ini harus segera diketahui oleh Ki Ageng Gajah Sora.

“Paman..., kemana kita sekarang?” Tiba-tiba suara Arya mengejutkan Mahesa Jenar yang sedang sibuk berpikir.

Mahesa Jenar segera menoleh ke belakang. Orang-orang berkuda itu telah agak jauh di belakang mereka.

“Ke manakah jalan ini Arya?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku belum pernah berjalan jauh lewat jalan ini, Paman,” jawab Arya. “Tetapi kata ayah, jalan ini menuju ke Pajaten dan kemudian lewat daerah hutan akan sampai ke jalan silang ke Bergota setelah membelok kembali ke arah barat.”

Mahesa Jenar tampak berpikir sejenak. Kemudian ia bertanya lagi, “Adakah simpangan yang dapat menghubungkan kembali dengan Banyubiru tanpa mengambil jalan yang kita lewati tadi?”

”Aku belum tahu, Paman,” jawab Arya.

“Kita berhenti sebentar Arya,” kata Mahesa Jenar sambil menarik kekang kudanya. Arya juga segera menghentikan kudanya.

“Arya...,” kata Mahesa Jenar, “Kita harus segera kembali. Kalau mungkin lewat jalan lain. Sebab kalau kita mengambil jalan yang sama, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang berkuda itu sehingga mungkin mereka akan berbuat sesuatu atas kita.” Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia dapat mengerti keterangan Mahesa Jenar. Tiba-tiba hampir berteriak ia berkata, “Paman... aku pernah pergi berburu bersama ayah. Kami mendaki lereng bukit ini lewat lorong sempit yang biasa dilewati orang mencari kayu. Aku tidak tahu apakah aku dapat menemukan jalan itu kembali. Tetapi yang masih aku ingat, kami lewat di sebelah randu alas raksasa yang tampak itu, Paman.”

Mahesa Jenar memandang ke arah pohon raksasa yang ditunjukkan oleh Arya. Pohon itu terletak di tengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat di lereng bukit itu.

“Mungkinkah orang-orang tadi juga akan pergi berburu, Arya...?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku kira tidak, Paman. Sebab perlengkapan mereka sama sekali bukan perlengkapan orang berburu,” jawab Arya.

Diam-diam Mahesa Jenar memuji kecerdasan otak anak itu. Katanya kemudian, “Beranikah kau mencoba membawa aku bertamasya ke bawah pohon itu?”

Arya berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Marilah kita coba, Paman. Bila kita dapat mencapai pohon itu jalannya akan lebih mudah untuk mencapai Banyubiru. Sebab lorong di bawah pohon itu akan tembus sampai ke Sendang Muncul. Kalau sudah sampai di sendang itu sambil memejamkan mata aku dapat menuntun Paman sampai ke rumah ayah.”

“Kau terlalu sombong Arya,” potong Mahesa Jenar sambil tersenyum. “Sebaiknya kita coba saja. Tetapi kalau kau tidak berhasil membawa aku sampai ke rumahmu, awas. Aku tidak mau lagi bermain gundu.”

Arya tidak menjawab lagi. Tetapi segera ia menarik kekang kudanya dan memutarnya untuk seterusnya meloncat menyusup hutan yang tidak begitu lebat di lereng timur pegunungan Telamaya.

Mahesa Jenar pun segera mengikuti Arya. Sebenarnya ia sama sekali tidak sangsi lagi setelah Arya dapat menunjukkan ancar-ancar untuk mencapai Banyubiru. Sebab baginya sama sekali tidak akan menemui kesulitan untuk mencapai pohon randu alas raksasa itu. Meskipun demikian sengaja ia berjalan di belakang untuk memberi kesempatan kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu.

Ternyata Arya sama sekali tidak mengecewakan. Dengan tangkasnya ia mengendalikan kudanya ke arah yang benar, meskipun sekali-sekali kuda itu harus berjalan sangat berhati-hati kalau sedang mendaki tebing yang terjal.

Akhirnya setelah beberapa lama mereka menyusup semak-semak dan belukar yang tidak begitu tebal, akhirnya dengan bangga Arya berkata, “Inilah Paman, Arya telah dapat menemukan jalan”

Mahesa Jenar tersenyum melihat wajah Arya yang lucu. Maka katanya, “Kau memang seorang pemburu yang hebat, Arya. Binatang-binatang buruanmu pasti tidak akan dapat melepaskan diri kalau kau sedang memburunya”

Di luar dugaan Mahesa Jenar, tampak wajah Arya tiba-tiba merengut.

“Hanya itukah, Paman...? Tidakkah aku dapat menjadi lebih baik daripada seorang pemburu? Ayah mengharap bahwa aku akan dapat menjadi seorang pahlawan”

Kata-kata Arya itu sangat mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak mengira bahwa di dalam dada anak itu telah tertanam suatu cita-cita yang sedemikian besarnya.

Kembali Mahesa Jenar kagum, tidak hanya kepada anak itu, tetapi sekaligus Ki Ageng Gajah Sora yang telah berhasil mencetak pola cita-cita hari depan anaknya.

Saat yang demikian, kembali mengetuk perasaan Mahesa Jenar tentang gambaran masa depannya sendiri. Tak seorang pun yang akan dapat melanjutkan cita-citanya.

Kalau pada suatu ketika ia sudah tidak dapat lagi menggerakkan tangannya serta tak dapat lagi melangkahkan kakinya, maka ia akan terpencil dari segenap percaturan. Dan tak seorang pun akan berkata, Aku adalah keturunan Mahesa Jenar, dan ayahku mengharap aku menjadi seorang pahlawan.

Apakah artinya perjuangan masa kini, apabila perjuangan itu tidak dapat tanggapan dari masa depan? Pastilah apa yang telah dihasilkan atas cucuran keringat dan darah itu satu persatu akan lenyap seperti lenyapnya batu dari permukaan air. Hilang. Tenggelam ditelan bergolaknya gelombang sejarah.

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar oleh suara Arya yang masih belum puas ketika Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaannya.

“Benarkah begitu Paman, bahwa suatu waktu aku akan dapat menjadi seorang pahlawan?” tanya Arya.

“Tentu, tentu... Arya. Kau akan menjadi seorang pahlawan,” jawab Mahesa Jenar cepat- cepat.

Tampaklah Arya Salaka mengangguk puas.

“Nah, sekarang kita tinggal menuruti lorong sempit ini untuk mencapai Sendang Muncul,” sambung Arya Salaka.

“Marilah Arya, kau berjalan di depan,” jawab Mahesa Jenar.

Segera Arya dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya menuju ke Sendang Muncul. Tetapi di sepanjang perjalanan itu Mahesa Jenar tidak dapat melepaskan diri dari gangguan gagasannya mengenai masa depannya. Tiba-tiba belum beberapa lama mereka berjalan, Arya Salaka menghentikan kudanya. Matanya tertambat pada sesuatu di atas tanah, di jalan yang sedang dilaluinya. Tetapi belum lagi ia mengucapkan sesuatu, Mahesa Jenar telah melihat telapak-telapak kuda di lorong sempit itu. Telapak-telapak itu muncul dari dalam belukar di tepi lorong itu dan beberapa langkah setelah mengikuti lorong itu, kemudian lenyap pula ke seberang yang lain.

“Telapak-telapak kuda Paman,” desis Arya.

Mahesa Jenar menganggukkan kepala. Ia mencoba untuk mengetahui adakah telapak- telapak kuda itu ada hubungannya dengan orang-orang berkuda yang baru saja berpapasan jalan. Menilik arahnya, maka tidaklah mungkin bahwa telapak telapak ini adalah telapak kaki-kaki kuda yang dijumpainya tadi. Jumlahnya juga tidak sesuai. Telapak-telapak ini tidak lebih dari lima ekor kuda.

Maka segera ia mendapat firasat bahwa bahaya yang besar telah mendatangi kota ini. Karena itu katanya kepada Arya.

“Arya... mungkin ada bahaya di sekitar kita, karena itu marilah kita pulang. Mungkin ada gunanya kita membicarakan hal ini dengan ayahmu.”

Rupanya Arya mengerti pula. Karena itu sambil mengangguk ia mempercepat jalan kudanya.

Ketika matahari telah melampaui titik tengah, mereka sampai di Sendang Muncul. Dari sana mereka dapat menaburkan pandangan ke dataran di muka lambung pegunungan itu. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang dijumpainya tadi. Pasti mereka telah membelok masuk hutan. Hal ini juga merupakan suatu pertanda yang berbahaya.

Mungkin tapak-tapak kuda yang dijumpainya itu juga berasal dari orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi. Karena itu maka mereka berdua segera melanjutkan perjalanan pulang, untuk menyampaikan apa yang telah mereka lihat itu kepada Ki Ageng Gajah Sora.

Sampai di rumah, segera mereka menambatkan kuda-kuda mereka di belakang dapur, dan sesudah itu mereka langsung pergi ke pendapa.

Ki Ageng Gajah Sora ketika melihat kedatangan Mahesa Jenar segera mempersilahkannya. Pada saat itu Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Lembu Sora beserta beberapa orang pengiringnya sedang duduk bercakap-cakap di pendapa.

Sikap Ki Ageng Lembu Sora masih saja tidak menyenangkan bagi Mahesa Jenar. Meskipun demikian Mahesa Jenar sama sekali tak menunjukkan ketidaksenangannya. “Sudahkah Adi berkeliling sampai ke segala sudut?” tanya Ki Ageng Gajah Sora.

“Sudah Kakang,” jawab Mahesa Jenar. “Bahkan aku telah sampai agak jauh ke sebelah timur. Aku dibawa Arya sampai ke pohon randu alas raksasa, yang katanya, ia pernah mengikuti Kakang berburu ke sana.”

“Kau bawa Pamanmu sampai ke kediaman Kaki Klantung itu Arya?” tanya Gajah Sora kepada anaknya.

“Ya..., Ayah...,” jawab Arya yang rupanya akan berceritera lebih banyak lagi, tetapi segera disahut oleh Mahesa Jenar, “Jadi randu alas itu terkenal dengan tempat kediaman Kaki Klantung?”

“Begitulah kata orang,” jawab Gajah Sora.

“Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang pemburu. Yang pertama kami bertemu dengan 10 orang, lalu di sebelah randu alas itu kami temui telapak-telapak kaki kuda, kira-kira sebanyak lima ekor,” sambung Mahesa Jenar.

Mendengar keterangan Mahesa Jenar, Ki Ageng Gajah Sora mengerutkan keningnya. Terbayang pada wajahnya, perasaan yang kurang wajar.

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan keheran-heranan. Mahesa Jenar tahu betul bahwa yang mereka jumpai bukanlah pemburu-pemburu. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu, apakah maksud Mahesa Jenar dengan berkata demikian.

“Suatu kehormatan bagiku,” tiba-tiba Ki Ageng Gajah Sora berkata, “Sekian banyak pemburu-pemburu telah memerlukan datang berburu ke wilayah Banyu Biru. Memang sebelum ini, sering benar orang pergi berburu babi hutan. Tetapi sekian banyak orang sekaligus adalah suatu hal yang jarang-jarang sekali terjadi.”

Sementara itu, Mahesa Jenar selalu berusaha untuk memperhatikan wajah Ki Ageng Lembu Sora. Tetapi ternyata wajah itu tidak menunjukkan perubahan. Ia mendengarkan saja percakapan Mahesa Jenar dengan Gajah Sora tanpa menaruh perhatian apa-apa.

Ketika udara menjadi semakin panas, maka Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya dipersilakan beristirahat di gandok kulon, sedang Mahesa Jenar dipersilakan untuk makan siang bersama Arya, sebab yang lain telah mendahuluinya.

Sementara Mahesa Jenar makan, ia sempat melihat kesibukan Gajah Sora. Rupanya laporannya menarik perhatiannya. Ia memerintahkan beberapa orang untuk melihat lihat keadaan kota di bagian timur, sedang beberapa orang lain diperintahkan untuk mengelilingi bagian kota yang lain. Sesudah makan, Mahesa Jenarpun segera kembali ke ruangnya di gandok wetan. Tetapi baru saja ia membaringkan dirinya, didengarnya seseorang mendatanginya. Ternyata orang itu adalah Ki Ageng Gajah Sora.

“Adi...” kata Gajah Sora sambil duduk di atas bale-bale panjang di sisi tempat berbaring Mahesa Jenar.

“Aku sangat tertarik kepada ceriteramu.”

Mahesa Jenar pun segera bangkit. “Memang, orang-orang yang aku jumpai itu menarik perhatian, Kakang,“ jawabnya.

“Bagaimanakah pertimbanganmu tentang orang-orang itu, Adi?” tanya Gajah Sora.

“Kesannya kurang baik,” jawab Mahesa Jenar. “Dan rupa-rupanya Kakang telah mengambil tindakan yang benar. Memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga. Mereka, orang-orang berkuda itu, aku kira sedang berada di hutan-hutan, menanti saat untuk bertindak. Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan.”

“Limabelas orang adalah jumlah yang kecil, Adi,” kata Gajah Sora. “Tetapi mungkin tidak hanya itu. Dan apabila mereka dikendalikan oleh tangan yang baik, maka akibatnyapun besar pula.”

“Nah, baiklah kita tunggu laporan orang-orangku sambil berjaga-jaga. Sekarang aku persilakan Adi beristirahat.”

Kembali Mahesa Jenar ditinggalkan seorang diri di dalam ruang itu. Ia mencoba membayangkan kembali wajah-wajah orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi.

Pastilah sesuatu akan terjadi di kota ini. Terbayanglah dalam angan-angannya beberapa puluh orang berkuda sedang merayap-rayap mendekati kota, yang selanjutnya pasti akan membuat keributan. Kalau mereka merasa cukup kuat, mungkin mereka akan menyerbu rumah ini untuk mengambil Keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sejenak kemudian Mahesa Jenar mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celah- celah pintu yang tidak tertutup rapat, ia dapat melihat Wanamerta dengan beberapa orang pengiring memasuki halaman. Meskipun Wanamerta telah lanjut usia, tetapi nampaklah betapa tangkasnya ia meloncat turun dari kudanya.

Dengan langkah yang tergesa-gesa, Wanamerta naik ke pendapa untuk menemui Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi sejenak kemudian ia telah turun kembali. Dipanggilnya beberapa orang pengiringnya untuk diberi perintah-perintah. Setelah itu segera orang- orangnya meloncat ke atas kuda masing-masing dan sekejap kemudian mereka telah lenyap di balik regol halaman.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia lega melihat kecepatan bertindak Gajah Sora. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampurinya apabila tidak diminta.

Ketika orang-orang itu telah pergi, Wanamerta kembali ke pendapa, untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Ki Ageng Gajah Sora.

Sementara itu wajah langit di sebelah barat mulai membayang cahaya kemerah-merahan. Dan sejalan dengan semakin rendahnya matahari, hati Mahesa Jenar menjadi semakin tegang pula. Teringat jelas kata-kata Sima Rodra tua bahwa ia sama sekali belum melepaskan keinginannya untuk memiliki kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Mahesa Jenar mulai menghubung-hubungkan, apakah orang-orang berkuda itu mempunyai hubungan dengan kata-kata Sima Rodra itu.

Belum lagi ia mendapat suatu kesimpulan apapun, maka masuklah seseorang ke dalam ruangannya untuk meminta Mahesa Jenar naik ke pendapa.

Di dalam pendapa itu ternyata telah hadir pula kecuali Wanamerta, juga Ki Ageng Lembu Sora dan beberapa orang pengiringnya. Juga tampak beberapa orang pembantu Gajah Sora dalam melakukan tugasnya sebagai kepala daerah perdikan.

Menghadapi beberapa tokoh itu, Mahesa Jenar teringat pada masa-masa ia masih menjadi seorang prajurit. Sesudah itu, ia biasa menghadapi setiap masalah seorang diri. Dan sekarang ia akan menghadapi suatu masalah, dimana ia tidak berdiri sendiri. Karena itu disamping ketegangan yang ada di dalam hatinya, sedikit membersit kegembiraannya pula.

Ternyata Ki Ageng Gajah Sora pada saat itu sedang membicarakan masalah orang-orang berkuda yang berada di sekitar kota. Orang-orang berkuda itu tidak saja datang dari arah timur seperti yang ditemui oleh Mahesa Jenar, tetapi menurut laporan, orang-orang berkuda semacam itu datang pula dari arah barat. Maka jelaslah sudah bahwa mereka mempunyai maksud yang jahat.

Pada pertemuan itu Mahesa Jenar mendengar pula kesediaan Ki Ageng Lembu Sora untuk tidak pulang pada hari itu. Ia bermaksud untuk turut serta berjaga-jaga apabila ada hal-hal yang tidak dikehendaki.

“Adi Mahesa Jenar... sebenarnya aku tidak mau mengganggu kesenangan Adi di Banyu Biru ini sebagai seorang tamu. Tetapi tiba-tiba keadaan orang-orang itu mendatangi daerah yang tak berarti sama sekali ini. Kalau mereka bermaksud merampas harta benda, maka di daerah miskin ini sama sekali akan mengecewakan mereka. Tetapi bagaimanapun kami terpaksa mempertahankan diri terhadap apapun yang pernah kami miliki,” kata Gajah Sora beberapa saat kemudian.

Kata-kata itu tegas bagi Mahesa Jenar. Meskipun Gajah Sora tidak menyebut-nyebut tentang kedua pusaka simpanannya, tetapi ia telah minta kepada Mahesa Jenar untuk bersama-sama mempertahankan pusaka-pusaka itu. Sementara itu, terdengarlah derap kuda dengan kencangnya berlari memasuki halaman. Seorang pemuda yang tegap kuat segera menghentikan kuda itu dan langsung meloncat turun. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia naik ke pendapa menghadap Ki Ageng Gajah Sora.

Menilik wajahnya, pasti ia membawa sesuatu berita yang penting. Untuk beberapa lama ia tidak berkata apa-apa sambil memandangi orang-orang yang hadir. Tampaknya ia ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu.

Ki Ageng Gajah Sora melihat keragu-raguannya, maka katanya, “Katakanlah apa yang telah kau lihat.”

“Ki Ageng...” katanya di sela-sela nafasnya yang mengalir cepat, “Pasukan Paman Sanepa telah terlibat dalam suatu pertempuran dengan kira-kira 30 orang berkuda yang datang dari arah barat.”

“Tigapuluh...?” ulang Gajah Sora. “Ya, Ki Ageng,” jawab pemuda itu.

“Berapa orang yang dibawa oleh pamanmu?” tanya Ki Ageng. “25 Orang, Ki Ageng,” jawabnya.

“Seimbang,” kata Ki Ageng. “Tetapi kau boleh membawa orang-orang Sanjaya bersamamu. Nah, pergilah. Di sana ada 10 orang.”

“Baik, Ki Ageng.” Lalu dengan tangkasnya ia meloncat turun dan dengan kecepatan luar biasa, ia naik ke punggung kudanya. Sekejap kemudian derap kuda itu telah semakin jauh dan lenyap.

“Kita sudah mulai,” kata Gajah Sora yang tampaknya masih tenang saja.

“Kakang Wanamerta,” sambung Gajah Sora, “Suruhlah membunyikan tanda bahaya, supaya orang-orang kita di segenap arah mempersiapkan diri dan mengerti bahwa di salah satu sudut kota ini telah terjadi bentrokan.”

Wanamerta segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh kota Banyubiru, bunyi titir yang bersahut-sahutan.

Orang-orang yang duduk di pendapa itu wajahnya menjadi bertambah tegang. Mereka masih menanti perintah, apakah yang harus mereka kerjakan.

Tetapi Ki Ageng Gajah Sora sendiri dapat melakukan tugasnya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

Pada saat itu gelap malam telah mulai turun. Batang-batang pohon di halaman menjadi semakin kabur diselubungi oleh kehitaman malam yang bertambah pekat.

Tiba-tiba di daerah utara tampaklah langit berwarna darah. Disusul oleh bunyi kentongan tiga kali lima kali ganda, berturut-turut.

“Kebakaran,” kata Wanamerta.

Dengan mata yang memancarkan kemarahan Ki Ageng Gajah Sora memandang kearah langit yang membara diarah utara itu. Tetapi meskipun demikian ia masih bersikap tenang.

“Siapakah yang berada di sana?” tanya Gajah Sora kepada Wanamerta. “Adi Pandan Kuning,” jawab Wanamerta singkat.

“Pandan Kuning...?” ulang Gajah Sora. “Ya.”

“Kalau begitu mereka pasti terdiri dari orang-orang pilihan pula, sehingga di hadapan Paman Pandan Kuning, mereka berhasil membakar rumah,” kata Gajah Sora hampir bergumam.

“Paman...,” kata Gajah Sora kemudian, “Suruh seseorang sediakan kuda-kuda kami.”

Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan perlahan-lahan tetapi artinya adalah besar sekali. Gajah Sora sendiri telah merasa perlu untuk sewaktu-waktu bertindak. Menurut perhitungannya, orang-orang yang mendatangi Banyubiru itu pasti terdiri dari orang- orang yang tak dapat direndahkan.

Wanamerta tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Ki Ageng Lembu Sorapun telah memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula.

Saat orang-orang itu menyiapkan kuda di halaman, muncullah diantara mereka Arya dengan dua ekor kuda di tangannya. Seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu.

“Inilah kuda Paman,” teriaknya kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar terkejut melihat Arya hadir dalam kesibukan itu. “Kau mau kemana, Arya?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku ikut Paman ke tempat kebakaran itu,” jawabnya. “Arya..., potong Gajah Sora, Kau jangan menambah kesibukanku dan pamanmu. Masuklah ke dalam. Kalau kau mau pergi juga, seterusnya aku tak mau mengajari kau sama sekali.”

Arya memandang ayahnya dengan penuh kecewa. Tetapi ia sama sekali tidak berani membantah. Sebab dalam saat-saat yang demikian ayahnya memang dapat bertindak agak keras terhadapnya.

Sementara itu keributan semakin menjadi-jadi. Orang-orang Banyubiru adalah orang- orang yang cukup terlatih di bawah pimpinan Gajah Sora.

Karena itu di beberapa tempat yang juga timbul pertempuran-pertempuran, Laskar Banyubiru segera dapat menguasai keadaan. Tetapi di bagian barat dan utara, ternyata kekuatan mereka tak dapat dianggap ringan.

Di pendapa, Ki Ageng Gajah Sora beberapa kali menerima penghubung-penghubung dari daerah pertempuran, dan dengan cermatnya ia memberikan perintah dan petunjuk- petunjuk.

Tetapi tiba-tiba orang-orang yang berada di pendapa itu bersama-sama digetarkan oleh bunyi kentongan dua-tiga-dua-tiga dari arah utara, sedangkan api tampak semakin menjalar ke beberapa arah.

Mendengar bunyi kentongan itu, kemarahan Gajah Sora tak dapat dikendalikan lagi. Bunyi kentong dua-tiga-dua-tiga mempunyai arti yang sama sekali tidak menyenangkan. Tanda itu mengatakan bahwa Laskar Banyubiru terdesak hebat.

Dengan gigi yang terkatub rapat, Gajah Sora terloncat dari duduknya. “Setan manakah yang mencoba mengganggu ketenteraman Banyubiru?” katanya geram.

“Paman Wanamerta...” kata Gajah Sora kepada Wanamerta, “Aku akan pergi ke tempat itu. Rupanya kekuatan lawan dipusatkan di sana. Berilah tanda supaya sebagian dari pasukan cadangan dikerahkan ke utara.”

Segera Wanamerta memerintahkan memukul kentongan dua-empat-dua-empat berturut- turut. Bersama dengan itu Gajah Sora meloncat ke atas kudanya. Adi Lembu Sora dan Mahesa Jenar, marilah kita lihat daerah itu, katanya.

Mahesa Jenar nampak ragu sebentar. Kalau mereka seluruhnya meninggalkan tempat itu, lalu bagaimanakah dengan keris yang disimpan oleh Gajah Sora?

Rupanya keragu-raguan itu diketahui oleh Gajah Sora.

“Tak seorang pun yang akan dapat mengalahkan Paman Pandan Kuning kalau bukan seorang yang luar biasa hebatnya. Jadi menurut perhitunganku, pimpinan dari gerombolan itu berada di sana. Biarlah rumah ini aku serahkan kepada Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Aku percaya kepada Paman berdua dengan beberapa orang pasukannya. Berilah aku tanda kalau keadaan memaksa. Ingat Paman, tak seorangpun boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah ini.”

“Baik Anakmas, aku akan menjaganya,” jawab Wanamerta. “Siapa yang di halaman belakang?” tanya Gajah Sora. “Panjawi dengan laskarnya,” jawab Wanamerta.

“Bagus, aku percaya pula pada anak muda itu. Kelak ia pasti menjadi seorang prajurit pilihan. Nah, Paman... aku akan berangkat.”

Sekejap kemudian Gajah Sora mendera kudanya dan lari dengan kencangnya.

Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya segera menyusul dan yang paling belakang adalah Mahesa Jenar dengan kuda abu-abu yang dibawa oleh Arya tadi.

Maka segera iring-iringan itu meluncur seperti angin ke arah tempat kebakaran di sebelah utara Banyubiru di kaki bukit Telamaya. Dari tempat yang agak tinggi di luar halaman, mereka dapat melihat dengan jelas api yang berkobar-kobar di beberapa tempat.

Melihat nyala api itu, hati Gajah sora menjadi semakin panas. Ia memacu kudanya lebih laju lagi. Kuda yang telah berlari sekuat tenaga itu menurut perasaan Gajah Sora seperti ular yang merambat di dedaunan. Lambat sekali.

Tetapi akhirnya dengan menahan kekesalan hati, mereka sampai juga di tempat pertempuran. Dari jarak yang cukup, Gajah Sora dengan rombongannya dapat melihat arena pertempuran yang terjadi di pinggir sebuah perkampungan.

Rupanya pertempuran itu telah berlangsung dengan serunya. Di kedua belah pihak telah jatuh beberapa orang korban.

Ternyata, pasukan-pasukan cadangan Banyubiru yang dipimpin oleh Ki Bantaran telah tiba di tempat itu dan telah pula melibatkan diri dalam pertempuran. Dalam pengamatan yang sebentar itu Gajah Sora melihat betapa kuatnya pihak lawan.

Dilihat dari bekas-bekasnya, ternyata bahwa arena pertempuran itu telah bergeser agak jauh mendekati perkampungan. Bahkan beberapa orang dari mereka telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah.

Kemarahan hati Gajah Sora semakin menggelora. Karena itu setelah ia menemukan pertimbangan mengenai keseluruhan pertempuran itu, segera ia memberikan perintah. “Lembu Sora... bawalah anak buahmu ke sebelah kiri. Lingkari arena ini, dan kau harus dapat menguasai jalan kecil di ujung sawah itu. Kalau aku berhasil mendesak mereka, usahakan jangan dibiarkan mereka lolos. Aku ingin tahu siapa mereka. Bawalah beberapa orang bersamamu.”

“Baik Kakang,” jawab Lembu Sora. Setelah itu iapun segera pergi ke tempat yang telah ditentukan. Ia melingkar menyusup perkampungan untuk kemudian muncul kembali menuju ke jalan kecil di ujung sawah.

Dalam keremangan cahaya api yang menjilat ke udara, arena pertempuran itu seolah- olah sengaja dijadikan daerah yang diterangi oleh ribuan obor di sekitarnya.

Sepeninggal Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar berdiri mengawasi medan. Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja. Karena itu ia mempunyai pandangan yang cukup masak mengenai keadaan medan. Maka segera ia melihat kelemahan Laskar Banyubiru.

“Kakang, menurut pengamatanku, letak kesalahan Laskar Banyubiru adalah, beberapa orang yang cukup masak berkumpul di dalam satu titik. Sehingga di bagian-bagian lain banyak terdapat kelemahan,” kata Mahesa Jenar.

Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau benar Adi Mahesa Jenar. Aku melihat pula kelemahan itu. Tetapi pastilah mereka menghadapi keadaan darurat. Bahkan Bantaran pun telah terlibat dalam perkelahian di titik itu,” jawabnya.

“Siapakah yang bersenjatakan pedang panjang serta melompat-lompat dengan lincahnya itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Itulah Pandan Kuning,” jawab Gajah Sora. Yang bersenjata tombak itu adalah Bantaran. Lainnya adalah orang-orang pilihan dari Laskar Banyubiru.”

“Kakang...” tiba-tiba Mahesa Jenar berkata agak terkejut, Rupanya mereka hanya melawan satu orang saja.”

Gajah Sora mempertajam pandangannya. Nyala api yang berkobar-kobar di sekitar daerah pertempuran itu membuat ratusan bayangan dari orang-orang yang bertempur itu, beraneka ragam. Ada yang panjang, ada yang besar seperti raksasa yang meloncat-loncat menerkam mangsanya. Karena itu keadaan medan menjadi agak kabur.

“Aku kira tidak hanya seorang, Adi, tetapi dua orang,” jawab Gajah Sora.

“Ya, dua orang, sambung Mahesa Jenar hampir berteriak, Dan aku pernah mengenal kedua orang itu.”

Hampir saja Mahesa Jenar meloncat menyerbu. Tetapi tiba-tiba dilihatnya Lembu Sora telah mendahuluinya dari arah belakang. Lembu Sora menyambar dari atas kudanya seperti seekor elang yang sedang marah. Geraknya tangkas dan tangguh. Rupanya ia adalah seorang yang ahli bertempur di atas kuda. Pandan Kuning, Bantaran, dan lebih dari tujuh orang bertempur bersama-sama melawan dua orang. Tetapi dua orang itu ternyata tangguh sekali. Sehingga sampai sekian lama kedua orang itu masih tampak segar dan lincah.

Sekarang mereka mendapat bantuan Lembu Sora. Ternyata Lembu Sora juga tidak mengecewakan. Ia bersenjatakan sebuah pedang yang panjang dan besar. Pedang itu di tangannya yang kokoh kuat, hanya seperti setangkai lidi yang berputar-putar dan berkilauan kena cahaya api.

Dari jarak yang agak jauh itu, terdengar tidak jelas Lembu Sora memberikan aba-aba, dan sebentar kemudian keadaan segera berubah dengan cepatnya. Pandan Kuning dengan kawan-kawannya segera memotong batas kedua lawannya, sedang Lembu Sora dengan garangnya menyerang yang seorang dari mereka. Maka segera terjadi dua lingkaran pertempuran. Lembu Sora melawan seorang, sedang seorang lagi harus melayani Pandan Kuning dan kawan-kawannya.

“Anak itu punya otak juga,” gumam Gajah Sora. “Ia pasti bermaksud membunuh seorang demi seorang.”

“Bukankah ia putra Ki Ageng Sora Dipayana pula?” kata Mahesa Jenar. Gajah Sora tersenyum.

“Sayang ia agak bengal,” jawabnya.

Mahesa Jenar tidak menjawab, perhatiannya terikat sekali pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya. Tetapi kemudian ia menjadi agak bingung melihat ketidak-wajaran dalam pertempuran itu.

“Kakang Gajah Sora, tidakkah Kakang melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya?” ”Ya.” jawab Gajah Sora. Rupa-rupanya ada pertempuran segitiga di daerah ini. “Tepat,” Kakang, kata Mahesa Jenar.

“Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

“Biarlah Lembu Sora dan Paman Pandan Kuning melayani lawannya yang rupa-rupanya tidak terlalu membahayakan,” jawab Gajah Sora.

“Marilah kita bersihkan saja yang lain, baru kita membantu menangkap kedua orang itu,” kata Gajah Sora selanjutnya. Sehabis berkata demikian, Gajah Sora mendera kudanya langsung terjun ke dalam kancah pertempuran.

Sepeninggal Gajah Sora, Mahesa Jenar masih beberapa saat berdiri mengawasi medan. Rupanya Gajah Sora ingin mempergunakan siasat lawan untuk memukul mereka kembali. Pemimpin-pemimpin gerombolan penyerbu itu agaknya telah mengatur siasat dengan cermatnya. Mereka berhasil memancing tokoh-tokoh Laskar Banyubiru untuk berkumpul di dalam satu lingkaran, sedang orang-orangnya akan menjadi agak leluasa untuk menjalankan pengacauan dan pembakaran.

Gajah Sora memaklumi siasat itu. Dan ia juga tidak dapat menyalahkan pemimpin pemimpin laskarnya untuk mengepung pimpinan gerombolan yang tangguh itu. Sebab apabila mereka tidak menghadapi bersama-sama, maka dengan mudahnya mereka akan dibinasakan satu demi satu.

Karena itu, Gajah Sora berhasrat memecahkan siasat itu dengan merusak barisan laskar gerombolan itu. Dengan demikian pemimpin-pemimpin mereka pasti akan mendatanginya tanpa diminta. Sebab pastilah mereka menyangka bahwa tak seorang pun akan mampu menahan laskar mereka yang mereka perkuat, meskipun ada laskar lain yang ada diluar perhitungan, sehingga terpaksa terjadi pertempuran segitiga.

Namun salah satu dari mereka ternyata telah berhasil dengan siasat mereka, dan membakar rumah penduduk yang tak berdaya. Sedang di dalam perhitungan mereka, Gajah Sora sendiri akan tetap berada di rumahnya untuk menjaga pusaka-pusaka yang disimpannya.

Tetapi yang masih belum dapat dipecahkan, baik oleh Mahesa Jenar maupun Gajah Sora, adalah adanya dua laskar yang dalam waktu bersamaan menyerang Banyubiru.

Sedang mereka bertempur pula satu sama lain, meskipun maksud mereka hampir jelas, yaitu menginginkan pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Kecuali itu Mahesa Jenar juga sangat tertarik ketangguhan dua orang tokoh gerombolan yang dengan tangkasnya dapat mempertahankan diri dari kepungan Pandan Kuning serta kawan-kawannya.

Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya. Laskar Banyu Biru telah berjuang mati-matian untuk mencoba mempertahankan tanah mereka serta seluruh isinya.

Dengan munculnya Lembu Sora, keadaan sudah mulai berubah. Lembu Sora ternyata juga merupakan seorang laki-laki yang luar biasa. Pedangnya yang terlalu besar menurut ukuran biasa itu berputar seperti baling-baling yang dengan dahsyatnya selalu melingkari lawannya dengan serangan-serangan maut.

Tetapi lawan Lembu Sora pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Sayang bahwa jarak mereka agak jauh dari Mahesa Jenar. Apalagi prajurit-prajurit yang sedang bertempur itu selalu bergerak-gerak membayangi pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas.

Karena tertarik kepada kedua orang pemimpin gerombolan yang perkasa itu, Mahesa Jenar ingin lebih mendekat lagi. Maka segera ia turun dari kudanya dan mengikatkan kuda itu pada sebatang pohon. Dengan perlahan-lahan, ia menerobos medan yang sedang ribut, ia berjalan mendekati Lembu Sora.

Beberapa kali Mahesa Jenar mendapat serangan dari laskar-laskar gerombolan itu, tetapi dengan satu-dua gerakan saja Mahesa Jenar telah dapat merobohkan mereka.

Di bagian lain, di tengah pertempuran itu tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh rendah. Rupanya Laskar Banyubiru ketika melihat kepala daerah mereka yang perkasa terjun ke arena, mereka menjadi gembira sekali.

Tiba-tiba, seolah-olah tubuh mereka masing-masing mendapat tambahan kekuatan yang hebat. Karena itu mereka bersorak-sorak gemuruh. Dan bersamaan dengan itu gerak mereka menjadi lebih dahsyat.

Sorak sorai itu segera disambut oleh hampir seluruh Laskar Banyubiru yang berada di arena itu.

Dengan kehadiran Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera keadaan medan menjadi berubah. Laskar dari kedua gerombolan yang semula bertempur satu sama lain, memusatkan kekuatan mereka untuk menggempur Laskar Banyubiru.

Meskipun demikian, Laskar Banyubiru kini kekuatannya sudah jauh bertambah.

Sejalan dengan itu, lawan Pandan Kuning yang semula bertempur berpasangan, dan kemudian harus melawan seorang diri, merasakan juga tekanan yang semakin berat. Karena itu ia bertempur semakin seru serta mengerahkan seluruh tenaganya. Apalagi ketika didengarnya Laskar Banyubiru bersorak-sorak.

Tiba-tiba dari arah lain terdengarlah sebuah suitan nyaring. Disusul dengan bunyi suitan pula dari orang yang sedang bertempur melawan Pandan Kuning.

Rupanya suitan-suitan itu merupakan tanda-tanda dan perintah. Segera tampaklah beberapa laskar gerombolan berlontaran menyerbu Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Mereka mencoba untuk mengganti kedudukan pemimpinnya yang dengan satu gerakan dahsyat memecahkan kepungan Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Ia melepaskan diri dari pertempuran itu untuk dapat langsung menghadapi Gajah Sora.

Maka ketika orang itu telah berdiri di luar lingkaran, Mahesa Jenar segera dapat melihatnya dengan jelas. Dan pada saat itu pula rasanya jantung Mahesa Jenar menggelegak hebat.

Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya, adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.

“Lawa Ijo ” geram Mahesa Jenar diantara suara gemeretak giginya yang beradu dengan kerasnya.

Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama dengan Lawa Ijo.

Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai, sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur.

Sebuah permainan gila-gilaan, desis Mahesa Jenar. Tubuhnya menjadi gemetar menahan deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah.

Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari Mahesa Jenar.

Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah segar bugar kembali.

Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali.

Sekarang, kedua orang itu, Lawa Ijo dan Jaka Soka, yang sebenarnya merupakan saingan yang hebat sekali, untuk sementara dapat bekerja bersama-sama, untuk dapat merampas Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Karena itu, tidak ada suatu hasrat pun yang bergolak di dalam dada Mahesa Jenar pada saat itu, kecuali membinasakan Lawa Ijo dan sekaligus kalau mungkin Jaka Soka. Sebab orang-orang yang berciri watak demikian, merupakan duri yang selamanya selalu akan menyakiti tubuh masyarakat.

Pada saat itu Jaka Soka sedang bertempur mati-matian melawan Lembu Sora. Kekuatan keduanya benar-benar seimbang.

Lembu Sora kini sudah turun dari kudanya untuk melawan Jaka Soka yang bertempur seolah-olah melilit dan melingkar-lingkar seperti ular. Tetapi dalam pertempuran itu, Jaka Soka benar-benar tak mampu mendekati lawannya yang dapat mengurung dirinya dalam lingkaran sambaran pedangnya yang besar itu. Maka untuk sementara Mahesa Jenar dapat melepaskan Jaka Soka. Syukurlah apabila Lembu Sora berhasil membinasakannya. Tetapi setidak-tidaknya pertempuran itu akan berlangsung lama, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menemaninya bermain, setelah ia membinasakan Lawa Ijo.

Mahesa Jenar pada saat itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu. Ia sudah bersedia untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa dalam pukulannya yang pertama. Ia tidak mau didahului oleh Gajah Sora dengan Lebur Seketinya untuk membinasakan Lawa Ijo.

Tetapi kembali dadanya terguncang. Ketika ia sudah hampir meloncat ke arah Lawa Ijo, tiba-tiba dari antara laskar yang bertempur itu meloncatlah seorang yang berperawakan tinggi besar berambut lebat dengan kumis dan janggut yang lebat pula.

Ia bersenjata tombak pendek. Dan bersamaan dengan serangannya yang menderu seperti angin ribut itu, terdengar suaranya mengaum dahsyat seperti seekor harimau yang sedang marah.

“Kau gila Lawa Ijo...,” teriaknya. Jangan mencoba menghalangi aku atau mendahului maksudku.

Lawa Ijo tampaknya agak terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia adalah seorang yang tangkas. Karena itu, dengan satu loncatan ia berhasil membebaskan dirinya. Bahkan kemudian terdengarlah suara tertawanya yang menyeramkan.

“Kita sama-sama mengail di satu kolam, Harimau jelek,” katanya kemudian. “Apakah salahnya?”

“Tetapi akulah yang paling berhak atas keris-keris itu,” jawab orang yang tinggi besar itu, yang tidak lain adalah Sima Rodra muda dari Gunung Tidar.

Kembali Lawa Ijo tertawa pendek, “Salahmulah bahwa keris-keris itu sampai terlepas dari tanganmu.”

Sima Rodra muda itu tidak menjawab, tetapi segera ia melanjutkan serangannya dengan tombak pendeknya yang dinamainya Kyai Kalatadah, yang pernah hampir saja dicuri oleh anak buah sepasang Uling dari Rawa Pening.

Serangan itu datangnya cepat sekali sehingga Lawa Ijo tidak sempat mengelak. Segera ia menggerakkan kedua pisau belatinya untuk menangkis serangan Sima Rodra. Dua kekuatan yang dahsyat saling beradu. Terdengarlah suara gemerincing nyaring dan bunga api berpencaran di udara.

Mahesa Jenar tertegun melihat kejadian itu. Segera ia mengurungkan niatnya. Dan tiba- tiba saja timbul keinginannya untuk menyaksikan dua tokoh golongan hitam itu mengadu tenaga. Maka segera terjadilah pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya percaya pada kekuatan tubuhnya sehingga tampaknya mereka berdua segan untuk mengelakkan diri dari benturan-benturan. Kedua tangan Lawa Ijo yang memegang dua bilah pisau belati panjang itu menyambar-nyambar, seolah-olah berdatangan dari segala arah. Sedang Sima Rodra dengan dahsyatnya pula memutar tombak pendeknya mengarah ke segenap bagian tubuh Lawa Ijo.

Kedua orang tokoh hitam itu, apabila tidak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap- luap, pastilah mereka akan menghindari pertempuran. Sebab mereka telah merasa bahwa kekuatan mereka seimbang, sehingga perkelahian yang semacam itu hanya akan membuang-buang waktu saja.

Beberapa waktu yang lalu Lawa Ijo sudah pernah bertempur melawan Sima Rodra. Tetapi tak seorang pun yang dapat mengatasi yang lain. Kemudian setelah beberapa lama mereka berpisah merendam diri untuk mempersiapkan pertemuan terakhir tahun ini, tiba- tiba mereka bertemu dalam satu tujuan yang sama.

Meskipun masing-masing telah mendapat tambahan ilmu yang cukup banyak, namun ternyata kekuatan mereka masih tetap seimbang.

Melihat pertempuran itu, hati Mahesa Jenar tergetar juga. Seandainya ia tidak memiliki ilmu sakti Sasra Birawa, mungkin sulit baginya untuk dapat mengalahkan baik Lawa Ijo maupun Sima Rodra.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ingin dapat menjatuhkan lawannya dengan segera.

Tetapi yang agak mengherankan Mahesa Jenar, kenapa Sima Rodra baru saat itu muncul di arena. “Apakah kerjanya sebelum itu...?” Padahal sesaat sebelum ia menyerang Lawa Ijo, laskarnya sudah jauh terdesak oleh Laskar Banyubiru yang merasa mendapat tenaga baru dengan hadirnya Gajah Sora.

Di lain bagian dari pertempuran itu nampak Lembu Sora dan Jaka Soka bekerja keras untuk dapat menguasai lawannya. Tetapi ternyata keduanya pun memiliki kekuatan yang seimbang. Hanya keseimbangan pertempuran diantara laskar-laskar mereka kini telah berubah sama sekali. Laskar Banyubiru dalam waktu yang dekat pasti akan dapat menguasai keadaan, apalagi pada saat itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar ada didalam barisan Laskar Banyubiru tanpa ada yang dapat menghalangi gerakan-gerakan mereka.

Tetapi sementara itu, tiba-tiba agak jauh di ujung desa, Mahesa Jenar melihat bayangan yang bergerak-gerak dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan mereka jauh lebih cepat dan lincah daripada gerakan-gerakan Sima Rodra maupun Lawa Ijo.

Segera Mahesa Jenar tertarik pada bayangan itu. Dan untuk sementara ia lupa bahwa ia sedang menonton pertempuran antara dua orang tokoh hitam yang gagah itu. Oleh karena itu ia segera meloncat memburu ke arah bayangan yang tampaknya hanya samar-samar, dan selalu bergerak-gerak itu. Ketika sudah dekat, barulah ia dapat melihat agak jelas bahwa dalam kepekatan malam yang hanya dapat dicapai samar-samar oleh sinar-sinar api yang masih berkobar-kobar itu, ada dua orang yang sedang bertempur pula.

Tetapi pertempuran ini sangat mengejutkan hati Mahesa Jenar. Kedua orang yang sedang bertempur itu ternyata memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Mereka bergerak-gerak, berputar-putar dan meloncat-loncat seperti tubuhnya tidak memiliki berat. Bahkan kadang-kadang kedua orang itu meloncat tinggi berputar di udara, dan kadang-kadang hampir seperti terapung-apung untuk beberapa saat. Tetapi kadang-kadang mereka berubah menjadi dua orang yang seolah-olah bertubuh besi yang saling membentur, menghantam dengan kuatnya, seakan-akan mereka bukan manusia-manusia yang tubuhnya terdiri dari daging dan tulang-tulang yang dapat patah.

Melihat bayangan yang bertempur dengan hebatnya itu Mahesa Jenar tertegun heran. Pastilah kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi.

Sementara itu, rupanya Gajah Sora melihat pula dua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata seperti juga Mahesa Jenar, ia pun berusaha untuk mendekat.

“Siapakah mereka?” tanya Gajah Sora.

Mahesa Jenar menggelengkan kepala. “Entahlah,” jawabnya.

“Marilah dengan hati-hati kita dekati, mereka pasti tergolong dalam angkatan yang jauh di atas kita,” sambung Gajah Sora.

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi apa yang dikatakan oleh Gajah Sora itu memang sudah terpikir olehnya. Karena itu segera ia pun menyusup ke sebuah halaman dan dengan mengendap-endap bersama Gajah Sora, berusaha untuk mendekati dua orang yang sedang bertempur dengan hebatnya itu.

Untuk mendekati tempat pertarungan itu tidaklah sulit bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora, sebab mereka bertempur di satu tempat yang sempit tanpa berkisar dari satu titik, yaitu di tengah jalan dusun di ujung desa.

Semakin dekat mereka dengan titik pertarungan itu, menjadi semakin jelas pula ketinggian ilmu kedua orang yang bertanding itu. Mereka saling menghantam, menangkap dan membanting lawannya. Tetapi demikian salah seorang terlempar ke atas tanah, demikian ia melenting dan tegak kembali untuk dalam sekejap telah dapat membalas menyerang pula.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar tergolong orang-orang yang memiliki kesaktian yang tidak kecil artinya di kalangan orang-orang perkasa. Tetapi melihat cara kedua orang itu bertempur terasalah bahwa ilmu mereka itu baru merupakan ilmu yang permulaan saja.

Ketika mereka berdua, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, sedang terikat oleh pertempuran itu, tiba-tiba terdengarlah salah seorang diantara mereka berkata, “Hei, apa kerjamu di sini?”

Gajah Sora dan Mahesa Jenar terkejut bukan main. Mereka berdua berada di tempat yang terlindung dan gelap. Sedangkan mereka berdua saja masih belum sempat menyaksikan kedua orang yang berdiri di tengah jalan itu dengan baik, tetapi justru salah seorang diantaranya sudah dapat melihat mereka yang berlindung.

Untuk sementara Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih berdiam diri. Mungkin bukan mereka yang disapa.

“Rupa-rupanya kau sengaja memanggilnya supaya membantumu,” jawab yang lain masih sambil bertempur.

“Tutup mulutmu,” bentak yang lain pula. Jangan terlalu sombong. “Kau kira bahwa aku tak mampu melawanmu.”

Yang lain diam tak menjawab, tetapi rasanya mereka bertempur semakin seru.

Ketika sesaat kemudian Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih belum menjawab, kembali terdengar suara orang yang pertama.

“Hai Gajah Sora dan Mahesa Jenar, kenapa kau berdiri seperti patung di situ?”

Mendengar nama mereka disebut, baru Gajah Sora dan Mahesa Jenar yakin bahwa benar-benar mereka berdualah yang disapa oleh orang itu. Tetapi belum lagi salah seorang menjawab, terdengar suara orang kedua, “Hei, kenapa kalian tak membantu bapakmu yang sudah hampir kehabisan napas?”

Mendengar kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tersentak. Mereka tidak perlu lagi bersembunyi-sembunyi. Karena itu mereka berdua meloncat mendekat.

Ketika mereka sudah demikian dekat, barulah mereka tahu bahwa benar-benar Ki Ageng Sora Dipayana yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu melawan seorang bertubuh raksasa yang mempunyai kesaktian sejajar pula. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum mengenal orang itu.

“Gajah Sora...” kata Ki Ageng Sora Dipayana tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari lawan-lawannya. “Kenapa kau begitu bodoh meninggalkan rumahmu tak terjaga?”

“Paman Wanamerta, Sawungrana dan Panjawi dengan pasukannya berjaga-jaga di sana, Ayah,” jawabnya.

“Apa arti dari mereka bertiga. Pulanglah. Ajak Mahesa Jenar. Tinggalkan Lembu Sora bersamaku di sini,” perintahnya. “Bukankah laskarmu di sini tidak banyak menderita kekalahan?”

“Mereka memberikan tanda kekalahan itu, Ayah,” jawab Gajah Sora.

“Akh... kau memang terlalu muda digugah kemarahan Gajah Sora. Prajurit Banyubiru meskipun terpaksa menarik pasukannya beberapa kali tetapi masih belum memberi tanda kekalahan. Paling-paling mereka akan minta bantuan laskar cadangan.”

“Tetapi tanda itu telah dibunyikan, Ayah ” Gajah Sora mencoba menjelaskan.

Ki Ageng Sora Dipayana Dipayana masih melayani lawannya dengan gigih. Mereka bertempur dengan cara yang agak membingungkan bagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Tubuh mereka seolah-olah menjadi kebal dan tidak dapat disakiti oleh pukulan yang bagaimanapun kerasnya. Karena itu baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar tidak tahu bagaimana terbuka kemungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran itu.

"Gajah Sora... yang membunyikan tanda itu bukanlah Laskar Banyubiru. Tetapi itu hanyalah suatu cara buat menarikmu untuk datang ke daerah pertempuran ini," kata Ki Ageng Sora Dipayana.

Mendengar keterangan ayahnya, hati Gajah Sora terguncang hebat. Karena itu segera ia meloncat meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke rumahnya.

"Gajah Sora " panggil ayahnya sebelum Gajah Sora jauh. Gajah Sora berhenti sejenak.

"Suruhlah Pandan Kuning, Bantaran, Panunggal dan beberapa orang kemari. Suruhlah mereka membawa tali yang kuat untuk mengikat kucing sakit-sakitan ini."

"Hemmm !" geram lawannya. "Kau kira kau bisa menangkap aku?"

"Kalau dalam keadaan keseimbangan... setetes air akan mempunyai pengaruh untuk mengubah keseimbangan itu. Maka kedatangan beberapa orang yang tak berarti itu pasti mempunyai akibat yang tak kau harapkan," jawab Sora Dipayana.

"Setan tua..., kau licik sekali!", Kembali orang itu menggeram berusaha menangkap seorang penyerang.

"Apakah itu licik?", jawab Sora Dipayana.

"Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar," berangkatlah, katanya kepada Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera berlari meninggalkan tempat itu, sambil memberi aba-aba kepada Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Apalagi pada waktu itu keadaan pertempuran seolah-olah sudah hampir seluruhnya dapat dikuasai oleh Laskar Banyubiru, kecuali pertarungan antara Sima Rodra muda dengan Lawa Ijo serta Jaka Soka melawan Lembu Sora.

Gajah Sora cepat-cepat melompat ke kuda putihnya, sedang Mahesa Jenar berlari kencang-kencang ke kudanya yang ditambatkannya tadi. Dan sejenak kemudian mereka telah berpacu ke arah rumah Ki Ageng Gajah Sora.

Seperti pada saat mereka berangkat, demikian pula pada saat itu, rasanya kuda-kuda itu berjalan demikian lambatnya. Beberapa kali mereka mendera kuda mereka untuk segera sampai di rumah. Sebab kalau sampai Ki Ageng Sora Dipayana merasa khawatir, maka pastilah ada sesuatu yang mengancam keselamatan pusaka-pusaka yang disimpannya.

Pada saat mereka meninggalkan arena pertempuran itu, mereka masih dapat mendengar suara lawan Ki Ageng Soradipayana itu mengaum seperti seekor harimau, dan sesaat kemudian disahut oleh auman yang menyeramkan pula dari Sima Rodra muda.

Ketika mereka menoleh, tampaklah sebagian dari laskar yang sedang bertempur itu berloncatan meninggalkan gelanggang, seperti air laut yang sedang surut. Maka dengan cepatnya jumlah laskar itu menjadi berkurang.

Tetapi mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan perubahan itu dengan seksama, sebab pikiran mereka telah lari mendahului ke arah pusaka-pusaka yang mereka simpan.

Namun demikian Gajah Sora sambil memacu kudanya masih sempat bertanya, "Adi Mahesa Jenar, siapakah kira-kira yang bertempur melawan ayah itu? "

Mahesa Jenar menarik keningnya. Lalu jawabnya, "Aku tak dapat mengatakan dengan pasti Kakang. Tetapi aku kira ia adalah Sima Rodra tua dari Lodaya."

"Tepat seperti dugaanku," sahut Gajah Sora. "Bulu-bulu yang jarang-jarang yang tumbuh di wajahnya, tubuhnya yang besar seperti raksasa, dan akhirnya teriakannya yang seperti aum seekor harimau. Hanya saja ia tidak mengenakan kerudung kulit harimau hutan seperti pada saat kita jumpai pertama kali. Itu adalah usahanya untuk menyamar sebagai laskar biasa, Kakang.

"Untunglah bahwa Ki Ageng Sora Dipayana tidak membiarkan daerah ini," kata Mahesa Jenar.

Gajah Sora tidak menjawab lagi. Kudanya dipacu semakin kencang. Kudanya adalah kuda pilihan, yang memiliki kecepatan berlari seperti anak panah. Tetapi pada saat itu rasa-rasanya kuda itu berlari seperti keong yang merayap-rayap di batu-batu berlumut. Semakin dekat mereka dengan halaman rumah Gajah Sora, hati mereka menjadi semakin tegang. Pikiran mereka dipenuhi oleh berbagai macam gambaran yang mungkin terjadi pada kedua keris pusaka yang disimpannya.

Akhirnya ketika mereka muncul dari sebuah kelokan jalan, terbentanglah di hadapan mereka Alun-alun Banyubiru, dan setelah menyeberangi jalan-jalan itu, mereka akan sampai di rumah Gajah Sora.

Dari kejauhan, rumah itu nampaknya sepi saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan, apalagi keributan-keributan. Tetapi meskipun demikian hati mereka malahan semakin bergelora.

Tiba-tiba tampaklah di hadapan mereka, di tengah-tengah alun-alun, di antara dua batang beringin tua yang tumbuh di alun-alun itu, meloncat-loncat dua bayangan dengan gerakan-gerakan aneh.

Ternyata mereka adalah dua orang yang sedang bertempur pula, gerakan-gerakan mereka tampak aneh dan cepat seperti dua ekor burung yang sedang berlaga, sambar menyambar. Sebentar mereka berloncatan dan berkelahi diatas dinding pohon beringin yang hanya secengkal tebalnya. Tetapi seolah-olah kaki mereka memiliki alat perekat, sehingga mereka tidak dapat jatuh. Yang mengagumkan kadang-kadang mereka berloncatan dan berkejaran diantara ranting-ranting dan sulur beringin tua itu, dengan gerakan yang seolah-olah mereka berada diatas tanah saja.

Melihat mereka yang bertempur itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar menarik kekang kudanya, dan berhenti beberapa langkah dari pohon beringin itu. Didalam gelap malam serta gerak-gerak yang melontar kesana kemari, agak sulitlah bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora untuk segera mengenal orang yang sedang berkelahi itu. Tetapi menilik gerak serta cara mereka, pastilah mereka tergolong dalam tataran yang sama tinggi dengan Ki Ageng Sora Dipayana.

Beberapa kali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melarikan kudanya melingkari pohon beringin itu. Tetapi setiap kali mereka hanya melihat bayangan yang berloncatan dan lenyap di balik pohon beringin itu.

Namun bagaimanapun, Gajah Sora dan Mahesa Jenar telah memiliki dasar-dasar ilmu kepandaian yang cukup, sehingga meskipun agak lama akhirnya dengan terperanjat sekali mereka melihat salah seorang diantaranya mengenakan jubah abu-abu dan bertopeng kayu yang kasar buatannya, sehingga mirip dengan wajah hantu.

“Pasingsingan,” desis Mahesa Jenar. “Ya, Pasingsingan,” ulang Gajah Sora. Belum lagi mereka dapat mengenal dengan baik yang satu lagi, terdengarlah lawan Pasingsingan itu berkata, “Hai anak-anak bodoh, jangan menonton seperti menonton adu jago. Lebih baik kau pulang dan lihat barang-barangmu.”

Mendengar suara orang itu, darah Mahesa Jenar tersirap. Ia pernah mendengar suara itu dan bahkan ia pernah menerima perintahnya untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Maka dengan tak disengaja ia berteriak, “Bukankah tuan Ki Ageng Pandan Alas” Maka jawab orang itu, “Ingatanmu baik sekali Mahesa Jenar, tetapi lekaslah pergi.”

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dua tokoh sakti telah memperingatkan mereka mengenai pusaka-pusaka itu. Maka segera mereka memutar kuda mereka dan dilarikan menuju ke halaman rumah Gajah Sora. Dalam waktu yang pendek itu Gajah Sora sempat bertanya, “Beliaukah Ki Ageng Pandan Alas?”

“Ya, beliaulah. Apakah Kakang Gajah Sora belum pernah mengenalnya?” kata Mahesa Jenar.

Pernah, tetapi sudah lama sekali, jawab Gajah Sora.

Sementara itu kuda mereka telah sampai di muka pintu gerbang halaman rumah Gajah Sora. Dua orang penjaga gerbang masih berdiri dengan tegapnya. Ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar datang, segera kedua penjaga itu membungkuk hormat.

Gajah Sora tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menanyakan tentang keamanan rumahnya, maka kepada dua orang penjaga itu ia bertanya, “Apakah yang sudah terjadi?”

“Tidak ada apa-apa yang terjadi, Ki Ageng,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar agak lega sedikit, tetapi dalam lubuk hati mereka yang paling dalam tersembunyi suatu kebimbangan atas kebenaran keterangan penjaga itu.

Mereka berdua seolah-olah mendapat suatu firasat yang kurang menenteramkan hati mereka. Maka mereka berdua segera memasuki halaman dan langsung menuju ke pendapa.

Di pendapa itu tampak Wanamerta dan Sawungrana masih duduk dengan tenangnya. Ketika mereka melihat Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera mereka berdua pun berdiri menyambutnya.

”Paman Wanamerta... tidak adakah sesuatu yang terjadi di sini?” tanya Gajah Sora tidak sabar. “Pangestu Anakmas tak ada sesuatu yang terjadi,” jawab Wanamerta.

Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tambah lega mendengar jawaban itu. Sebab Wanamerta dan Sawungrana bukanlah anak kecil yang dapat dipermainkan.

Di halaman rumah itu masih nampak beberapa orang laskar yang berjaga-jaga berjalan hilir mudik dengan senjata siap di tangan, sedangkan di gandok kulon, tempat pondokan Ki Ageng Lembu Sora pun masih nampak beberapa orangnya ikut berjaga-jaga.

“Bagaimanakah dengan Panjawi?” tanya Gajah Sora pula.

“Agaknya juga tidak mengalami sesuatu, Anakmas. Baru saja Adi Sawungrana nganglang ke belakang rumah, dan di sana Panjawi tampak selalu bersiaga,” jawab Wanamerta,

“Syukurlah,” desis Gajah Sora.

Mendengar semua keterangan itu, gelora perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar terasa agak mengendor sedikit, setelah mereka mengalami ketegangan perasaan beberapa saat lamanya. Memang sulit untuk dapat memasuki halaman itu tanpa dilihat oleh salah seorang pengawal. Sebab dinding halaman Gajah Sora cukup tinggi dan gerbangnya pun terjaga rapat.

Beberapa orang pengawal berjaga-jaga di sekeliling halaman, di setiap tujuh delapan langkah seorang dan melekat dinding halaman. Kalau demikian, maka agaknya peringatan-peringatan yang diberikan oleh Ki Ageng Sora Dipayana maupun Ki Ageng Pandan Alas hanyalah sikap hati-hati dari orang-orang tua saja.

Tetapi belum lagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar puas menarik nafas lega, tiba-tiba dikejutkan oleh jerit Arya Salaka dari dalam rumah. Serentak mereka berdiri dan dengan kecepatan yang luar biasa mereka meloncat ke arah suara Arya. Wanamerta dan dua tiga orang yang berdiri paling dekat dengan pintu segera mendorongnya dan meloncat masuk.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar rupa-rupanya tidak sabar lagi menunggu Wanamerta yang meskipun geraknya termasuk dalam tataran yang tinggi, untuk bergantian masuk lewat pintu yang hanya satu itu. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar dengan kekuatan penuh menerobos dinding gebyok itu sehingga pecah berantakan.

Ketika mereka bersama-sama telah sampai di muka ruangan Gajah Sora, rasa-rasanya darah mereka berhenti mengalir.

Mereka masih sempat menyaksikan Arya Salaka terpelanting dan terbentur dinding. Seketika itu juga ia terjatuh dan pingsan. Dari mulutnya meleleh darah merah segar. Sedang di tangannya tergenggam erat sebuah tombak pendek yang juga berlumuran darah. Tombak itu adalah tombak pusaka Ki Ageng Gajah Sora yang bernama Kyai Bancak, hadiah dari Pangeran Sabrang Lor, yang juga bergelar Adipati Unus, pada waktu ia mengikuti pasukan Sabrang Lor itu ke Semenanjung Melayu untuk mengusir penjajahan Portugis. Kyai Bancak sebenarnya adalah pasangan dari pusaka lain yang berupa sebuah bende.

Sedang di muka pintu kamarnya ia melihat sesosok tubuh yang terhuyung-huyung. Di dadanya tampak luka yang menyemburkan darah. Dalam kejadian yang sekejap itu melayanglah sebuah bayangan yang hampir tak dapat ditangkap oleh penglihatan, menyambar orang yang hampir terjatuh karena luka di dadanya itu. Maka berpindahlah dua buah keris yang dipegang oleh orang yang terluka di dadanya itu ke tangan yang menyambarnya. Itulah Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta adalah orang-orang yang memiliki kecepatan bergerak dalam tingkatan yang cukup tinggi. Tetapi terhadap bayangan itu, mereka tak mampu berbuat sesuatu. Mereka hanya melihat bayangan itu lenyap lewat atap.

Meskpun demikian, Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta bukanlah orang yang mudah putus asa. Sambil berteriak nyaring Gajah Sora meloncat memburu bayangan itu, disusul oleh Mahesa Jenar dan Wanamerta. Tetapi demikian Gajah Sora muncul di atas atap lewat lobang yang sama, bayangan itu telah lenyap sama sekali.

Karena itu bergetarlah dada mereka bertiga oleh kemarahan dan keheranan yang bercampur aduk. Bayangan itu seolah-olah adalah bayangan hantu yang tiba-tiba muncul untuk menambah keributan di Banyubiru dan kemudian lenyap seperti lenyapnya asap dihembus angin.

Tetapi bagaimanapun cepatnya bergerak bayangan itu, namun ada sesuatu yang dapat ditangkap oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar.

Bayangan itu agaknya memakai jubah abu-abu. Tetapi Gajah Sora dan Mahesa Jenar sama sekali tak dapat melihat wajahnya. Namun demikian segera perasaan mereka lari kepada Pasingsingan. Orang itu beberapa saat yang lalu bertempur melawan Ki Ageng Pandan Alas di alun-alun, tak begitu jauh dari rumah itu. Tetapi bagaimana ia dapat berhasil melepaskan diri dari pengawasan Pandan Alas? Maka bergulatlah di dalam otak Gajah Sora dan Mahesa Jenar berbagai pertanyaan. Adakah Pasingsingan berhasil mengalahkan Pandan Alas...?

Pada saat itu, lebih-lebih Gajah Sora yang menyaksikan pusaka simpanannya dan yang telah direbutnya dengan taruhan nyawanya hilang tanpa dapat berbuat sesuatu di hadapannya. Juga anaknya dilukai oleh seseorang yang tak dikenal di rumahnya. Seolah- olah di dalam dadanya menyalalah api yang berkobar-kobar dan jauh lebih panas dari api yang menyala-nyala di ujung utara kotanya. Nyala di dalam dadanya ini memancar lewat matanya yang merah berapi-api, giginya gemeretak, dan bibirnya bergerak-gerak. Tetapi tak sepatah kata pun yang terucapkan. Otak Gajah Sora yang cerdas segera dapat meraba apa yang telah terjadi di rumahnya. Rupa-rupanya seseorang telah berusaha untuk mengambil kedua pusakanya. Tetapi malang baginya, sebab Arya dapat mengetahui perbuatan itu sehingga anak yang otaknya cemerlang itu mengintipnya dengan tombak pusaka di tangan.

Rupa-rupanya pada saat ia keluar dari ruang tidurnya, Arya telah menusuk dada orang itu dengan Kyai Bancak. Tetapi meskipun demikian orang yang sudah pasti bukan orang sembarangan itu dengan sisa tenaganya yang sudah lemah, berhasil menghantam Arya sehingga Arya terlempar dan terbanting membentur dinding. Pada saat itulah datang orang ketiga yang dengan kecepatan seperti cahaya kilat, berhasil merampas kedua pusaka itu.

Api kemarahan yang membentur dinding perasaan Gajah Sora itu tidak lagi dapat dibendungnya. Karena itu dengan gerak yang seolah-olah tak dikuasainya sendiri, ia meloncat terjun dari atap rumahnya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil berlari, tangannya menggapai tombak pusakanya dan menariknya dari tangan Arya, langsung keluar halaman dan sekaligus meloncat ke punggung kudanya.

Mahesa Jenar dapat menangkap apa yang bergolak di dalam dada sahabatnya, sebab memang ia pun mempunyai rabaan yang sama pula atas kejadian yang baru saja berlalu. Karena itu ia dapat menduga kemana Gajah Sora akan pergi. Pastilah ia akan melihat apakah Pandan Alas masih ada di antara Ringin Kurung dan bertempur dengan Pasingsingan, ataukah Pandan Alas itu sudah tidak berdaya lagi. Maka tanpa berpikir lagi, ia pun meloncat ke atas punggung kudanya dan lari menyusul Gajah Sora.

Wanamerta yang meskipun dapat mengambil kesimpulan yang sama atas kejadian yang disaksikannya, namun ia sama sekali tidak mengetahui tentang orang yang berjubah abu- abu yang telah dilihat oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar di tengah alun-alun. Karena itu ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukan.

Untunglah sebelum berangkat Mahesa Jenar sempat berkata kepadanya, Paman Wanamerta. Paman tidak perlu ikut bersama kami, jagalah rumah ini baik-baik. Mungkin ada suatu perkembangan keadaan. Aduklah seluruh halaman rumah ini, meskipun kemungkinan untuk menemukan hantu itu tipis sekali.

Setelah itu Mahesa Jenar lenyap pula di atas punggung kuda abu-abu yang berlari dengan derap yang gemuruh seperti badai, mengejar Gajah Sora dengan kuda putihnya.

Jarak antara rumah Gajah Sora dan pohon beringin yang berdiri tegak di tengah alun- alun, yang seakan-akan tidak peduli atas apa yang sudah terjadi di sekitarnya itu tidaklah begitu jauh. Karena itu dalam waktu yang singkat mereka berdua telah berhasil mendekati ringin kurung itu.

Maka mereka menjadi terkejut dan heran tak habis-habisnya ketika dari jarak yang sudah agak dekat mereka masih melihat dua bayangan yang berloncat-loncat dan melontar kesana kemari diantara sepasang beringin itu. Di sana masih jelas dapat disaksikan Pasingsingan dan Ki Ageng Pandan Alas bertempur. Bahkan semakin sengit. Tetapi jubah yang dipakai oleh orang yang menyambar kedua keris pusaka itu tepat benar dengan jubah yang dipakai oleh Pasingsingan.

Sebenarnya dalam keadaan yang biasa, Gajah Sora akan dapat mempertimbangkan bahwa tidak mungkin dalam satu saat Pasingsingan dapat berada di dua tempat dan melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tetapi pada saat itu, karena kemarahannya yang meluap-luap, ia membutuhkan wadah untuk menumpahkannya.

Satu-satunya kemungkinan sebagai tempat penampungan kemarahan Gajah Sora adalah Pasingsingan yang sedang bertempur dengan Pandan Alas.

Meskipun ia tahu bahwa Pasingsingan bukanlah lawannya, karena orang itu memiliki ilmu yang sejajar dengan Ki Ageng Sora Dipayana, namun sama sekali Gajah Sora sudah tidak mampu lagi membuat pertimbangan-pertimbangan.

Karena itu, dengan otak yang buntu, ia memacu kudanya habis-habisan, langsung mengarah kepada kedua orang yang sedang bertempur itu dengan Kyai Bancak siap di tangan.

Melihat sikap Gajah Sora, yang seolah-olah tidak dapat terkendali itu, Mahesa Jenar menjadi cemas. Sebenarnya ia sendiri merasa sangat marah atas hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi karena justru hal itu terjadi di rumah Gajah Sora maka Gajah Sora-lah yang merasa lebih bertanggungjawab. Ditambah lagi cedera yang dialami oleh anak satu- satunya. Karena itu bagaimanapun hebatnya kemarahan yang bergolak di dada, Mahesa Jenar masih dapat bersikap lebih tenang.

Maka segera Mahesa Jenar berusaha sekuat-kuatnya untuk memacu kudanya lebih cepat agar dapat menyusul Gajah Sora, untuk mencoba mencegahnya berbuat sesuatu yang berbahaya. Dibungkukkannya badannya dalam-dalam sampai melekat ke punggung kudanya. Namun kuda Gajah Sora bukanlah kuda sembarangan.

Larinya bahkan semakin cepat seperti angin.

Pada saat itu Gajah Sora sudah tidak dapat berpikir lain, kecuali menyerang Pasingsingan habis-habisan. Ia sama sekali sudah tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena perbuatannya itu.

Maka ketika jarak mereka sudah semakin dekat, segera Gajah Sora mengangkat tombak pusakanya. Tombak yang jarang sekali keluar dari rangkanya. Tapi kali ini, tombak yang ujungnya sudah membekas darah itu seolah-olah menjadi semakin haus dan buas.

Untunglah bahwa Gajah Sora tidak bermaksud langsung menyerang Pasingsingan dengan tombak di tangan. Ternyata bagaimanapun gelap pikirannya, namun sebagai seorang yang cukup berpengalaman, nalurinya yang tajam masih dapat mempengaruhi tindakannya.

Dengan hati yang dibakar oleh kemarahan, Gajah Sora mengangkat tombaknya yang bermaksud membinasakan Pasingsingan. Maka dengan sekuat tenaga, bahkan dengan ilmunya Lebur Seketi yang disalurkan lewat tangannya yang memegang tombak pusaka itu, ditambah lagi dengan tenaga dorong dari kecepatan berlari kuda putihnya yang seperti angin, Gajah Sora melepaskan tombaknya ke arah Pasingsingan, yang sedang sibuk melayani Ki Ageng Pandan Alas.

Perbuatan Gajah Sora itu sama sekali tak diduganya. Meskipun Pasingsingan sudah tahu bahwa Gajah Sora bersenjata, tetapi ia tidak mengira bahwa senjata itu akan dilemparkan kepadanya. Karena itu ketika ia melihat Gajah Sora mengangkat tombaknya, Pasingsingan menjadi terkejut.

Kalau saja pada saat itu Pasingsingan berdiri seorang diri, maka serangan Gajah Sora itu tidak akan berarti sama sekali baginya. Tetapi pada saat itu ia sedang bertempur mati- matian melawan Ki Ageng Pandan Alas. Untuk melayani lawannya itu saja Pasingsingan sudah harus mengerahkan segenap tenaganya, apalagi tiba-tiba ia menerima serangan yang cukup berbahaya. Sebab bagaimanapun Gajah Sora bukanlah anak kemarin sore yang dengan begitu saja boleh diletakkan di luar garis. Karena itu ketika Pasingsingan melihat sebatang tombak yang berkilauan, seperti kilat datang menyambarnya, ia menjadi agak gugup.

Meskipun demikian ia adalah seorang tokoh yang namanya boleh disejajarkan dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten, dan sebagainya. Karena itu, bagaimanapun sulitnya keadaan, masih saja ia mampu menghindar.

Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, Pasingsingan melontarkan diri jauh ke belakang dan seolah-olah hinggap di atas dinding ringin kurung. Sedang pada saat yang bersamaan, Ki Ageng Pandan Alas meloncat beberapa langkah ke belakang untuk menghindarkan diri dari kaki kuda Gajah Sora yang seakan-akan tidak lagi dapat dikendalikan, seperti pikiran Gajah Sora.

Apalagi ketika Gajah Sora melihat bahwa serangannya gagal maka hatinya yang sudah terbakar itu rasa-rasanya menjadi semakin hangus. Dengan sekuat tenaga ia menarik kekang kudanya dan kemudian memutarnya menghadap ke arah Pasingsingan untuk segera menyerangnya kembali. Meskipun ia kini sudah tidak bersenjata namun di telapak tangannya masih tersimpan aji Lebur Seketi.

Tetapi tiba-tiba Gajah Sora terpaksa mengurungkan serangannya, sebab pada saat itu tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan tertawa menggelegar. Meskipun suara tertawanya tidak begitu keras, getarannya memukul-mukul seperti akan memecahkan dada.

Ternyata, meskipun tombak Gajah Sora tidak mengenai tubuh Pasingsingan, tetapi karena keadaan yang sulit, Pasingsingan agak terlambat menghindar sehingga tombak yang menyambarnya itu menyobek jubah abu-abunya. Karena itu, ia merasa terhina sekali oleh seorang anak-anak saja. Maka ia menjadi marah sekali. Dan terlontarlah kemarahannya itu lewat suara tertawanya yang mengerikan.

Mahesa Jenar yang pada saat itu telah sampai pula ke tempat itu segera menghentikan kudanya dan memusatkan segala kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara tertawa Pasingsingan yang mengerikan itu. Tetapi suara tertawa itu ternyata tidak segera berhenti, malahan semakin berkepanjangan dan merupakan serangan-serangan yang datang bertubi-tubi dengan dahsyatnya. Ia pernah mendengar Lawa Ijo menyalurkan kesaktiannya lewat suara tertawa yang menggeletar, sehingga memerlukan daya perlawanan yang kuat untuk tidak jatuh ke dalam pengaruhnya yang berbahaya.

Tetapi suara tertawa Pasingsingan yang tidak begitu keras itu mengandung tenaga kesaktian yang jauh lebih hebat dari suara Lawa Ijo.