-->

Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 09

Jilid 09

Si istri tampak berpikir sejenak, lalu katanya,

‘Itu berarti akan mempercepat saat pertemuan akhir tahun ini di Rawa Pening. Mungkin mereka akan bersama-sama datang ke Gunung Tidar untuk memperebutkan pusaka- pusaka itu.”

“Mungkin” jawab suaminya. “Itu berarti pekerjaan kita bertambah berat.” “Lalu bagaimana dengan Adi Gemak Paron itu?” potong istrinya. “Sebab Adi Yuyu Rumpung yang lolos dari kejaran kami pasti segera akan melaporkan kejadian ini”

Belum lagi mereka menentukan sikap, tiba-tiba terdengarlah derap kuda dari arah lain. Tampaklah bahwa semua orang dalam gerombolan itu terkejut. Tidak terkecuali suami- istri Sima Rodra.

”Rupa-rupanya Adi Gemak Paron tidak hanya berdua” desis si istri. “Kau benar” jawab suaminya.

“Bersiaplah kalian!!” Perintahnya kepada anak buahnya.

Maka segera mereka pun bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Suara derap kuda itu semakin lama semakin jelas. Dan Mahesa Jenar pun tidak kalah cemasnya, sebab arah derap kuda itu menuju kepadanya. Karena itu, ia pun melipat dirinya lebih kecil lagi di bawah sebuah gerumbul yang berdaun rapat.

Sejenak kemudian kuda yang larinya seperti terbang meluncur hanya beberapa langkah di samping Mahesa Jenar. Melihat penunggang-penunggangnya, Mahesa Jenar agak keheran-heranan pula. Mungkinkah mereka dari gerombolan Uling Rawa Pening? Sebab tampaklah wajah mereka berbeda dengan wajah-wajah gerombolan Sima Rodra. Sedangkan pakaian mereka pun sama sekali tidak seperti pakaian orang yang mati itu.

Rombongan yang kedua ini terdiri dari orang yang jumlahnya lebih banyak. Semua kira- kira ada 15 orang. Ketika rombongan yang kedua ini melihat rombongan Sima Rodra, mereka pun tampak terkejut. Maka dengan segera mereka menarik tali kekang kuda mereka, sehingga kuda-kuda mereka berdiri dan berhenti seketika.

Melihat rombongan yang baru saja datang itu, ternyata Sima Rodra beserta anak buahnya bertambah terkejut lagi, sehingga ketika rombongan yang kedua itu telah berhenti. Sima Rodra segera berkata.

“Aku menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya kepada rombongan Ki Ageng Lembu Sora.”

Mendengar sapa Sima Rodra itu, giliran Mahesa Jenar yang terkejut bukan kepalang. Inilah orangnya yang bernama Ki Ageng Lembu Sora, putra kedua dari Ki Ageng Sora Dipayana.

Ki Ageng Lembu Sora adalah seorang yang bertubuh sedang, berwajah keras. Matanya memancarkan sinar ketamakan dan pemujaan kepada nafsu-nafsu jasmaniah.

Sambil masih duduk di atas kudanya ia menjawab. “Salamku kepada kalian.” ”Terima kasih Ki Ageng,” jawab Sima Rodra.

“Kenapa kalian berada di tempat ini?” tanya Ki Ageng Lembu Sora.

“Kami sedang mengejar orang ini, Ki Ageng,” jawab Sima Rodra sambil menunjuk kepada mayat Gemak Paron.

”Siapakah dia?” tanya Lembu Sora kembali.

“Ia berusaha untuk mencuri pusaka kami, Kiai Kala Tadah. Untunglah bahwa aku dapat mengenainya dengan sumpit, sehingga ia tidak dapat melarikan diri lebih jauh lagi”

Jawab Sima Rodra.

Lembu Sora tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya. "Dari manakah dia?"

"Dari daerah Rawa Pening," jawab Sima Rodra.

"Gerombolan yang dipimpin oleh Uling Rawa Pening...?" Lembu Sora menegaskan. "Ya," jawab Sima Rodra.

Sekali lagi Lembu Sora mengangguk-angguk.

“Untunglah gerombolan Uling itu sampai sekarang masih diberi kesempatan berdiri. Kalau saja Kakang Gajah Sora sudah mau bertindak maka umur gerombolan itu tidak akan lebih dari satu senja” kata Lembu Sora kemudian.

“Rupanya hal itu pun disadari oleh sepasang Uling itu, sehingga mereka tidak berani berbuat apa-apa di dalam wilayah kekuasaan Ki Ageng Gajah Sora. Meskipun secara perseorangan belumlah pasti bahwa kakak-beradik Uling itu dapat dikalahkan oleh Gajah Sora” sahut Sima Rodra.

"Kau yakin akan hal itu?" potong Lembu Sora. "Hal yang mungkin sekali," jawab Sima Rodra.

Lembu Sora tampak mengernyitkan alisnya. Ia tampak tidak begitu senang mendengar keterangan Sima Rodra itu. Seperti kau yakin bahwa kau tidak dapat aku kalahkan, katanya kemudian.

Sima Rodra menarik nafas panjang. Tampaklah betapa tajam pandangan matanya. Perlahan-lahan ia menegakkan kepalanya, memandang ke arah puncak-puncak pohon raksasa yang bertebaran di hutan. Jelas, betapa ia mencoba menguasai dirinya untuk tidak bertindak tergesa-gesa.

Sebentar kemudian, baru Sima Rodra menjawab.

"Ki Ageng, aku tidak ingin berkata demikian. Selama kita masih saling menghormati persetujuan kita. Biarlah, apa saja yang akan terjadi di daerah Banyu Biru dan Rawa Pening. Sedang diantara kita hendaknya tetap berlaku persetujuan yang sudah sama-sama kita terima, supaya kita tidak usah menilai, siapakah diantara kita yang lebih kuat. Sedangkan apa yang berlaku sekarang aku rasa sudah saling menguntungkan."

Wajah Lembu Sora menjadi tegang pula. Rupanya ia pun sedang berusaha untuk menguasai perasaannya.

Sejenak kemudian dengan mata yang berapi-api ia berkata.

"Bagus, kalau kau masih tetap dalam pendirianmu itu. Tetapi aku dengar kau mulai membuat perkara. Karena itu aku sekarang memerlukan berkeliling pagar perdikanku untuk mengetahui kebenaran berita bahwa kau mulai merambah ke daerah lalu lintas dengan Pamingit."

"Itu tidak benar, " potong Sima Rodra, "Aku tidak biasa berbuat kecurangan-kecurangan yang naif semacam itu. Mungkin dalam kehidupanku telah ribuan kali aku berbuat curang, tetapi untuk keperluan yang cukup bernilai dan seimbang dengan kecurangan yang terpaksa aku lakukan."

Sima Rodra diam sejenak. Suasana segera meningkat semakin tegang. Tampaklah bahwa masing-masing telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi setiap kemungkinan.

"Yang benar... dua orangku pagi ini telah mati di Pangrantunan, " lanjut Sima Rodra. Lembu Sora tampaknya agak terkejut mendengar berita itu, sehingga ia bertanya. "Kenapa? "

"Sebabnya masih belum begitu jelas, sebab aku masih belum sempat mengusutnya, karena ada peristiwa pencurian pusaka ini. Tetapi dua-tiga hari yang akan datang, pastilah aku sendiri akan datang ke Pangrantunan untuk melihat siapakah yang telah berbuat kejahatan itu, " jawab Sima Rodra.

“Sima Rodra..., yang termasuk dalam persetujuan kita hanyalah sumbangan hasil bumi dari penduduk Pangrantunan, bukan orang-orangnya, sahut Lembu Sora.

"Tetapi aku tidak membiarkan pembunuhan itu menjadi kebiasaan. Karena itu, yang bersalah harus mendapat hukuman, " jawab Sima Rodra. "Aku beri wewenang kau melakukan hukuman hanya kepada yang bersalah. Tetapi awas, jangan berbuat sekehendakmu saja atas orang-orangku. Sebab ganti yang kau berikan kepadaku akhir-akhir ini ternyata mulai merosot nilainya, " kata Lembu Sora.

Mendengar kata-kata Lembu Sora yang terakhir, tiba-tiba Sima Rodra tertawa menggelegar, katanya kemudian.

"Jangan takut Ki Ageng, lain kali pasti akan lebih memberi kepuasan kepada Ki Ageng..."

"Aku berkata sebenarnya, karena itu segala sesuatunya terserah kepadamu. Aku akan melanjutkan perjalanan sekarang," potong Ki Lembu Sora.

Sehabis mengucapkan kata-kata itu, segera ia menarik tali kekang kudanya, serta mencambuknya keras-keras, sehingga kudanya terloncat dan berlari kencang. Para pengikutnya segera mengikutinya pula. Suami-istri Sima Rodra bersama anak buahnya mengawasinya sampai hilang di balik semak-semak.

Setelah itu kembali terdengar Sima Rodra tertawa tergelak-gelak.

"Orang gila. Rupa-rupanya masih juga ada sisa-sisa minatnya untuk meninjau daerah perdikannya yang sebentar lagi pasti akan dapat aku telan seluruhnya," kata Sima Rodra kemudian.

“Jangan terlalu tergesa-gesa. Apa kau kira Ki Ageng Gajah Sora akan tinggal diam?” potong istrinya.

“Dengan kedua pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tangan kita, pastilah bahwa kita akan menguasai segenap aliran hitam di pulau Jawa, seperti apa yang pernah kita janjikan bersama. Sesudah itu apakah arti kekuasaan Gajah Sora. Sedangkan Demak sendiri lambat laun pasti akan dapat aku lenyapkan pula” kata Sima Rodra.

Istri Sima Rodra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya.

“Mudah-mudahan semua itu tidak hanya merupakan sebuah impian yang akan lenyap bersama terbitnya matahari.”

Si suami tertawa perlahan-lahan. Seperti kepada dirinya sendiri ia berkata.

“Aku harus bekerja lebih keras. Mungkin akan banyak hal yang harus aku hadapi dalam perjalanan ke istana Demak.”

“Lalu apa yang akan kita perbuat sekarang?” Tiba-tiba istrinya bertanya.

Sima Rodra itu menjadi seperti orang yang tersadar dari lamunannya. Kembali ia mengamat-amati mayat Gemak Paron. Sebentar kemudian ia berkata.

“Marilah Nyai, sebaiknya kita kembali. Mungkin sehari dua hari kakak-beradik Uling dari Rawa Pening akan berkunjung ke rumah kita. Baru sesudah itu kita pergi ke Pangrantunan untuk mencari pembunuh-pembunuh itu.”

“Tidakkah kita selesaikan sama sekali masalah Pangrantunan yang tinggal tidak seberapa jauh lagi?”

Sima Rodra tampak agak berpikir, tetapi segera ia menjawab.

“Masalah Pangrantunan sama sekali bukan masalah yang perlu mendapat perhatian banyak. Tetapi sepasang Uling itu benar-benar memerlukan persiapan yang cukup untuk menyambutnya.”

Setelah itu maka segera ia pun berdiri meninggalkan mayat Gemak Paron, langsung menuju ke kudanya. Dan sejenak kemudian rombongan itu pun pergi meninggalkan mayat itu tetap terkapar, sambil membawa kembali pusaka yang disebutnya Kiai Kala Tadah.

Setelah derap kuda mereka tak terdengar lagi, Mahesa Jenar perlahan-lahan keluar dari persembunyiannya. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya. Meskipun ia tidak tahu bunyi perjanjian antara Ki Ageng Lembu Sora dan Sima Rodra, tetapi bahwa Ki Ageng Lembu Sora bersedia menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk sumber perbekalan dari golongan hitam, adalah suatu tindakan yang tercela.

Apapun yang diterima Lembu Sora dari Sima Rodra sebagai gantinya, hal itu adalah suatu penghinaan atas kekuasaan yang dipegangnya, dengan membiarkan adanya kekuasaan asing turut serta mencampuri masalah di dalam rangkah. Apalagi ketika Mahesa Jenar teringat akan rencana Sima Rodra, tidak saja menguasai Perdikan ini, tetapi ia sudah mulai merintis jalan ke Demak.

Tetapi ketika ia teringat bahwa Ki Ageng Sora Dipayana dengan ujudnya yang baru telah kembali ke Pangrantunan, hatinya menjadi agak tenteram. Pasti orang tua itu tidak akan membiarkan pengkhianatan itu tetap berlangsung. Sebab kekuasaan yang selalu dibayangi oleh kekuasaan lain tidaklah lebih dari kekuasaan boneka.

Sebentar kemudian segera Mahesa Jenar sadar akan tugasnya. Ia harus cepat-cepat pergi ke Gunung Tidar. Kalau benar apa yang diperhitungkan oleh Sima Rodra, yaitu kemungkinan akan datangnya Uling dari Rawa Pening, maka ia harus berusaha untuk mendahuluinya. Sebab kalau tidak, dan sepasang Uling itu sampai berhasil merebut kedua keris pusaka itu, maka tugasnya akan bertambah sulit.

Karena itu Mahesa Jenar pun segera melanjutkan perjalanannya. Sejenak kemudian ia telah memasuki daerah hutan yang cukup lebat pula. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa di dalam hutan itu seolah-olah telah dibuat sebuah jalan, yang walaupun sempit tetapi cukup baik untuk lalu lintas kuda maupun orang berjalan. Maka tidaklah ada kesulitan apa-apa bagi Mahesa Jenar untuk langsung menuju ke Gunung Tidar.

Tetapi belum lama ia menyusur jalan rimba, tiba-tiba didengarnya telapak kuda yang lari sangat kencang dari arah depan.

Mula-mula Mahesa Jenar mengira orang-orang Sima Rodra. Tetapi ketika diketahuinya bahwa suara derap kuda itu tidak lebih dari seekor, maka maksudnya untuk menghindar itu diurungkan. Ia tetap saja berdiri menepi dengan maksud untuk mendapatkan suatu pengertian baru tentang Sima Rodra dari orang itu.

Sebentar kemudian tampaklah seekor kuda yang lari seperti terbang menuju ke arahnya. Penunggangnya adalah orang yang pendek kokoh dan berjambang tebal.

Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, ia pun tampak terkejut. Segera ia menarik kekang kudanya sehingga kuda itu berhenti beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar. Mula-mula wajah orang itu tampak tegang.

Tetapi ketika ia melihat ikat pinggang orang itu, yang lebarnya hampir selebar telapak tangan serta dibuat dari kulit kerbau, menjadi terkejut. Segera ia ingat kepada Gemak Paron yang mati kena sumpit punggungnya, juga memakai ikat pinggang yang serupa.

Maka kesimpulan bagi Mahesa Jenar, orang ini pasti juga salah seorang dari gerombolan Uling Rawa Pening. Mungkin orang inilah yang tadi disebut-sebut dengan nama Yuyu Rumpung, yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Sima Rodra.

Kalau demikian, kiranya Yuyu Rumpung tadi telah berhasil menyelinap ke dalam hutan, sementara gemak Paron berlari terus. Kemudian setelah diketahuinya bahwa Sima Rodra telah kembali ke sarangnya, ia segera berusaha untuk melarikan diri.

Orang berkuda itu, setelah memandangi Mahesa Jenar sejenak segera bertanya, “Siapakah kau yang berani lewat di jalan yang khusus bagi gerombolan Sima Rodra? “

Tiba-tiba timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menjajagi kekuatan gerombolan Uling ini, dengan mencoba kekuatan salah seorang anggotanya yang terkemuka. Dengan demikian ia akan dapat mengetahui kira-kira sampai dimana kekuatan anggota-anggota yang lain. Sedang pimpinan rombongannya sendiri pastilah tidak akan banyak terpaut dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan mungkin juga Sima Rodra.

Setelah berpikir sejenak, Mahesa Jenar segera menjawab.

“Namaku Yuyu Rumpung, dan berasal dari Rawa Pening. Aku adalah salah seorang kepercayaan kakak-beradik Uling untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi sayang bahwa aku dan Gemak Paron hanya berhasil mengambil tombak pendek yang bernama Kala Tadah. Itu saja Gemak Paron terpaksa menebus dengan nyawanya, sedang tombak itu kembali kepada pemiliknya.”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, segera wajah orang itu, yang sebenarnya adalah Yuyu Rumpung, menjadi merah menyala. Ia menjadi marah sekali karena jawaban itu seolah-olah merupakan suatu sindiran akan ketidakmampuannya melakukan tugas yang dibebankan kepadanya bersama Gemak Paron. Karena itu dengan gigi yang gemeretak ia berteriak.

“Orang gila, jangan kau mau main-main dengan Yuyu Rumpung. Meskipun aku tidak berhasil mencuri kedua pusaka itu, tetapi aku pasti akan bisa mematahkan lehermu. Tetapi sebelum itu, supaya aku tahu, siapakah yang telah aku bunuh, hendaknya kau mengatakan namamu yang sebenarnya.”

Mendengar teriakan Yuyu Rumpung, Mahesa Jenar hanya tertawa dingin.

“Kau memang lekas marah. Untuk melaksanakan tugas yang sulit itu seharusnya Uling Rawa Pening memilih orang yang tenang dan dapat menguasai perasaannya. Mungkin Gemak Paron tidak selekas engkau ini menjadi marah” jawab Mahesa Jenar.

Rupanya Yuyu Rumpung sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi. Segera ia meloncat dari kudanya dan dengan suatu gerakan yang dahsyat ia langsung menyerang Mahesa Jenar dengan suatu pukulan ke arah pelipis.

Ternyata Yuyu Rumpung adalah orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pukulannya mengandung tenaga yang hebat, serta cepat.

Mendapat serangan yang demikian cepatnya, Mahesa Jenar segera merendahkan diri dan dengan sebagian tenaganya ia mempergunakan ujung sikunya untuk menyerang lambung lawannya. Tetapi Yuyu Rumpung pun ternyata lincah sekali, sehingga ia tidak terlambat meloncat mundur menghindar. Tetapi dalam hati ia pun tidak habis heran.

Siapakah orang yang berjalan di dalam hutan seorang diri, tetapi mempunyai keuletan yang sedemikian tinggi. Apalagi ia sudah tahu nama, asal serta tugas yang sedang dilaksanakan.

Mahesa Jenar tidak sempat merenung-renung, sebab ketika sadar bahwa serangannya gagal, segera ia memutar tubuhnya, dan dengan kaki kirinya ia menghantam perut Yuyu Rumpung. Sekali lagi Yuyu Rumpung terpaksa meloncat ke samping, tetapi kali ini ia tidak mau terus-menerus diserang. Karena itu demikian kakinya melekat diatas tanah, segera ia maju menyodok perut Mahesa Jenar.

Kali ini sengaja Mahesa Jenar tidak menghindarkan diri, tetapi dengan tangannya ia memukul tangan Yuyu Rumpung ke samping. Yuyu Rumpung yang percaya pada kekuatannya, ketika melihat Mahesa Jenar menangkis pukulannya sama sekali ia tidak berusaha menarik tangannya, malahan seluruh tenaganya dikerahkan. Maka segera terjadilah suatu benturan yang keras sekali. Dengan tak diduga sama sekali oleh Yuyu Rumpung, bahwa lawannya memiliki tenaga yang dahsyat, sehingga ia jatuh terguling.

Sebaliknya Mahesa Jenar pun merasakan kekuatan Yuyu Rumpung sehingga tangannya terasa agak sakit.

Sampai sekian Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa orang ini kira-kira tidak lebih dari Carang Lampit, orang kedua sesudah Wadas Gunung dalam gerombolan Lawa Ijo. Maka ketika dengan sedikit kesulitan Yuyu Rumpung berdiri, segera Mahesa Jenar meloncatinya, dan dengan tangannya yang kokoh kuat, segera ia menangkap kedua lengan Yuyu Rumpung, dan dengan lututnya ia menekan punggungnya. Yuyu Rumpung terkejut melihat kegarangan lawannya. Tetapi tak ada lagi kesempatan baginya untuk melepaskan diri.

Selanjutnya terdengar Mahesa Jenar bertanya,

“Yuyu Rumpung, selain kau dan Gemak Paron, siapakah yang termasuk orang-orang penting dalam gerombolanmu?”

Pertanyaan ini telah memusingkan kepala Yuyu Rumpung. Ia pun segera mengetahui bahwa orang ini pasti bukan dari golongan hitam, sebab dari golongan itu, pada umumnya sudah mengenal siapa-siapa yang menjadi orang-orang terpenting dalam gerombolan masing-masing.

Ketika sampai beberapa lama ia tidak menjawab, terasa tekanan lutut di punggungnya semakin keras semakin keras. Sehingga terpaksa ia berkata,

“Apakah kepentinganmu dengan mengetahui orang-orang kami?”

“Itu adalah soalku, yang kuminta hanyalah kau sebutkan nama-nama itu, dan jangan bohong” jawab Mahesa Jenar,

Sementara itu punggung Yuyu Rumpung semakin terasa sakit, sehingga akhirnya ia tak dapat mengelak lagi.

“Gemak Paron adalah orang kedua dalam gerombolan kami, sedang aku adalah orang ketiga” jawabnya.

“Siapakah orang pertama?” tanya Mahesa Jenar lagi. “Orang pertama adalah kakang Seri Gunting“

“Kenapa bukan Seri Gunting itu yang pergi untuk mencuri pusaka-pusaka itu? “Kakang Seri Gunting sedang tidak ada di rumah. “ “Kemana dia?”

“Ke Nusa Kambangan. “ “Ke tempat Jaka Soka?”

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Yuyu Rumpung menjadi bertambah heran. Rupanya orang ini sudah agak banyak mengenal tokoh-tokoh hitam. Karena itu ia harus lebih berhati-hati, sebab mungkin malahan seluruhnya sudah diketahui, sehingga pertanyaan-pertanyaannya hanya merupakan sebuah pancingan saja.

Maka jawabnya..

“Ya, kakang Seri Gunting pergi ke tempat Jaka Soka.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Tahulah ia bahwa kekuatan gerombolan hitam itu benar-benar seimbang, sehingga pertemuan akhir tahun di Rawa Pening benar-benar akan menarik.

Ketika Mahesa Jenar tidak memerlukan hal-hal lain lagi, segera Yuyu Rumpung dilepaskan, tetapi ia tidak membiarkannya pergi berkuda.

“Yuyu Rumpung, kau boleh pergi, tetapi aku ingin meminjam kudamu. Sedang kau dapat mencari kuda Gemak Paron untuk kau pakai. Aku temukan tadi mayatnya di luar hutan. Kalau kau akan mencarinya, pergilah membelok ke selatan, di mulut lorong ini” kata Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar sengaja membiarkan Yuyu Rumpung berjalan kaki dan menunjukkan arah yang salah atas mayat Gemak Paron, supaya orang ini tidak segera sampai di Rawa Pening. Ia mengharap untuk dapat mendahului kakak beradik Uling itu.

Yuyu Rumpung yang tidak tahu maksud Mahesa Jenar, menjadi keheranan. Tetapi bagaimanapun juga ia merasakan keperkasaan orang itu. Maka ketika ia mendapat kesempatan untuk pergi, segera iapun meloncat dan melangkah cepat sekali menjauhi Mahesa Jenar, meskipun ia menggerutu tak habisnya karena kudanya dirampas.

Sedangkan Mahesa Jenar merasa mendapat keuntungan dengan pertemuannya dengan Yuyu Rumpung. Ia sudah mendapat gambaran sedikit tentang kekuatan gerombolan Uling Rawa Pening, sedangkan keuntungannya yang lain ia telah dapat menghambat dijalan orang itu, sehingga, kemungkinan untuk dapat mendahului sampai ke Gunung Tidar semakin besar. Sedangkan kuda yang dirampasnya, sama sekali tak diperlukannya, sebab dengan kuda itu, ia tidak lagi bebas untuk dapat menyusup kegerumbulan apabila ia berjumpa dengan orang yang perlu dihindari. Juga jarak yang ditempuhnya sudah tidak begitu jauh lagi. Kalau misalnya ia dapat mencapai Gunung itu sebelum sore, ia masih juga harus menunggu sampai matahari terbenam. Maka akhirnya dilepaskannya kuda Yuyu Rumpung itu, dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Sementara itu cahaya merah telah membayang di langit mewarnai mega yang betebaran. Sedang didalam hutan, sinar matahari yang sudah sangat lemah itu tidak kuasa lagi untuk melawan kegelapan yang perlahan tapi pasti akan turun menyeluruh sampai kesegenap lekuknya.

Malam itu seperti biasa dalam perjalanannya di hutan, Mahesa Jenar memilih tempat tidurnya diatas cabang pohon untuk menghindari serangan binatang buas. Meskipun hutan itu tidak segarang hutan Mentaok, tetapi didalamnya hidup pula jenis harimau yang cukup berbahaya, yaitu harimau loreng. Malam itu tak ada sesuatu hal yang terjadi. Kecuali tubuh Mahesa Jenar menjadi gatal digigit nyamuk yang banyaknya bukan main.

Ketika langit disebelah Timur mulai meremang, Mahesa Jenar segera turun dari tempat istirahatnya. Dan setelah sekali dua kali ia menggeliat, maka ia segera memulai kembali perjalanannya ke Gunung Tidar sambil mencari sumber air untuk mencuci mukanya. Jalan yang ditunjukkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu ternyata jauh lebih dekat daripada apabila ia menempuh jalan yang direncanakannya semula. Jalan ini langsung memotong arah ketujuannya. karena itu maka ia tidak perlu untuk tergesa sebab ia masih harus menunggu gelap untuk bertindak.

Pada saat ia melewati longkangan hutan itu, ia dapat jelas melihat Gunung Tidar berdiri tegak seperti jamur raksasa, yang konon merupakan pusar Pulau Jawa, sudah tidak begitu jauh lagi dihadapannya. Sehingga perjalanan Mahesa Jenar kali ini merupakan sebuah perjalanan yang justru diperlambat. Meskipun demikian ia masih juga agak kesiangan sampai didataran yang mengitari bukit itu, sehingga ia mempunyai waktu sekedar untuk beristirahat.

Maka ketika sampai saaatnya matahari turun serta burung mulai berkitaran mencari tempat untuk tidurnya, berdirinya Mahesa Jenar dengan wajah yang tegang memandangi Gunug Tidar dimana berdiam suami isteri Sima Rodra, yang telah berhasil menyimpan sepasang keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Dalam keadaan yang demikian seolah-olah ia mulai menilai dirinya kembali. Sudahkah ia siap untuk melakukan tugas yang penting itu. Ia seorang diri harus terjun langsung kedalam sarang sepasang harimau yang cukup ganas. Berkali-kali ia meremaskan tangannya dimana disimpan senjata kepercayaannya Sasra Birawa.

Sementara kemudian, ketika benar-benar matahari telah melenyapkan diri dibalik Gunung Tidar itu, mulailah Mahesa Jenar melaksanakan tugas untuk membebaskan kedua pusaka itu berdasarkan petunjuk dari Kiai Ageng Sora Dipayana.

Untuk naik ke bukit itu, ia tidak langsung mendaki dari arah Timur, tetapi ia melingkar ke Selatan dan dari sanalah dengan hati-hati sekali ai selangkah demi selangkah mendekati lereng bukit itu. Sebentar ia berhenti untuk mendengarkan kalau ada langkah seseorang ataupun tarikan napas. Untunglah bahwa telinga dan matanya cukup terlatih.

Ketika sampai pada tanjakan pertama dari Bukit Tidar tampaklah bahwa Sima Rodra benar-benar memasang perbentengan untuk melindungi sarangnya. Batu besar yang tampaknya berserak itu ternyata merupakan pasangan yang apabila sedikit saja tersentuh, pasti akan tergelincir dan menggelundung ke bawah. Untunglah bahwa tiap gerak Mahesa Jenar selalu dilandasi oleh ketelitian serta kehati-hatian. Setelah merayap bebrapa saat Mahesa Jenar berhasil melintasi pagar yang pertama untuk kemudian menjumpai benteng. Batu padas yang besar disusun meninggi sampai hampir dua kali tinggi orang. Dengan hati-hati

Mahesa Jenar mendekati benteng itu. Kemudian dengan tangannya ia meraba-raba, seolah ingin mengetahui sampai dimana kira-kira kekuatan padas itu. Mungkin dengan kekuatan tangannya ia bisa, meskipun tidak sekaligus tetapi setidaknya sedikit demi sedikit menghancurkan padas yang tidak sekeras batu.

Kalau Mahesa Jenar menghancurkan padas itu, maka besar kemungkinannya bahwa kedatangannya akan segera diketahui oleh pengawal-pengawal yang pasti berkeliaran di dalam benteng itu. Maka dicarinya cara lain untuk dapat melampauinya. Sekali lagi Mahesa Jenar meraba-raba serta menaksir kekuatannya. Kemudian dipilihnya cara dengan memanjat saja, dan kemudian meloncat masuk.

Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati memanjat dinding batu padas itu. Sampai di atasnya ia tidak langsung meloncat, tetapi dengan perlahan-lahan sekali ia melekatkan dirinya merapat dinding dan untuk beberapa lama ia menelungkup di situ sambil mengamat-amati keadaan di dalam daerah sarang Sima Rodra itu.

Malam itu rasanya sepi sekali. Lebih sepi daripada malam-malam yang pernah dilewatinya. Sekali duakali terdengar anjing liar menyalak di kejauhan, disaut dengan pekikan burung hantu yang sedang mencari mangsa.

Mahesa Jenar masih saja berbaring menelungkup diatas dinding batu. Matanya berputar menjelajahi seluruh lingkaran yang membentang di hadapannya. Adapun daerah di dalam benteng Sima Rodra itu pun merupakan suatu lapangan yang bersemak-semak dan rumput-rumput liar bertebaran tumbuh di sana sini. Sebenarnya tempat itu merupakan tempat yang baik sekali untuk dapat menyusup mendekati goa Sima Rodra di lambung sebelah utara bukit itu. Sebab dengan adanya semak-semak dan rumput-rumput liar itu, justru memberi kemungkinan yang lain, bahwa di dalam semak-semak itulah orang-orang Sima Rodra berjaga-jaga untuk mengawasi keamanan sarangnya.

Sampai beberapa lama Mahesa Jenar masih saja melekatkan dirinya pada dinding padas itu. Tiba-tiba terasalah angin yang bertiup perlahan-lahan menghembuskan bau yang wangi. Bau yang dibawa angin dari utara ini mempunyai pengaruh yang aneh sekali. Terasa betapa tubuh Mahesa Jenar menjadi nyaman, serta matanya menjadi berat sekali.

Angin yang aneh ini datang mengalir terus-menerus seperti mengalirnya air sungai. Sehingga pengaruhnya semakin lama semakin mencengkeram diri Mahesa Jenar.

Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang terlatih lahir-batin. Untunglah bahwa ia segera menyadari keadaannya, bahwa pasti ia telah kena pengaruh bau wangi itu, yang sengaja disebarkan orang untuk melemahkan syaraf, sehingga orang menjadi kantuk.

Inilah kekuatan sirep yang seperti pernah dialami beberapa tahun lalu, yang disebarkan oleh Lawa Ijo. Tetapi menilik kekuatannya, rasanya sirep kali ini agak lebih kuat dari yang dahulu, serta sifatnyapun berlainan pula.

Karena itu Mahesa Jenar segera memusatkan kekuatan batin, dan seperti orang yang sedang mengheningkan cipta, Mahesa Jenar diam tanpa bergerak di tempatnya berusaha melawan pengaruh sirep itu.

Meskipun agak lambat, tapi sedikit demi sedikit ia berhasil menguasai dirinya kembali, sehingga akhirnya ia merasa bahwa ia telah lepas dari daya sirep itu.

Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Apakah sirep ini datang dari Sima Rodra? Tetapi kalau benar demikian, maka anak buahnya sendiri yang tidak mempunyai daya tahan yang cukup akan tertidur pula. Dengan demikian maka kekuatan mereka akan jauh berkurang. Jadi adalah suatu kemungkinan bahwa sirep ini datangnya dari luar. Dari orang lain. Tetapi siapa? Kakak-beradik Uling tak mungkin akan secepat ini mencapai Bukit Tidar, kecuali kalau ia berada pada jarak yang dekat sejak Gemak Paron menyusup masuk ke goa Sima Rodra ini.

“Akh..., tak akan selesai pekerjaan ini dengan menimbang-nimbang saja. Lebih baik aku masuk dan melihat keadaan” gerutu Mahesa Jenar.

Segera setelah itu, dengan tidak meninggalkan ke hati-hatian, Mahesa Jenar meloncat masuk ke dalam lingkungan sarang sepasang harimau yang cukup ganas itu. Dengan mengendap-endap ia berjalan, lewat lambung sebelah timur ia memutar ke arah utara.

Tetapi mendadak ia dikejutkan oleh teriakan yang mirip dengan aum seekor harimau, disusul oleh jerit yang mengerikan. Pastilah suara ini berasal dari suami-istri Sima Rodra yang sedang marah. Cepat Mahesa Jenar meloncat semakin dekat ke arah suara itu. Beberapa kali ia melihat beberapa penjaga tidak dapat meloloskan diri dari pengaruh sirep yang tajam itu.

Ketika ia sudah semakin dekat, ia bertambah terkejut lagi ketika ia mendengar derap orang berkelahi. Darah Mahesa Jenar segera bergejolak hebat. Siapakah yang telah mendahuluinya masuk sarang Sima Rodra...?

Perlahan-lahan ia maju setapak demi setapak, sehingga akhirnya ia mendapat perlindungan sebuah padas yang cukup besar di sebelah timur goa Sima Rodra. Kembali darah Mahesa Jenar tersirap ketika ia menyaksikan suami-istri Sima Rodra itu sedang bertempur dengan seorang yang bertubuh tinggi, berwajah bulat, serta berdada lebar. Tetapi karena gelap, ia tidak dapat segera mengenal wajahnya. Pertempuran itu ternyata berlangsung dengan hebatnya.

Suami-istri Sima Rodra ternyata memang bukan namanya saja yang garang. Tetapi tandangnya pun tidak kalah hebat dengan namanya. Kakinya yang meskipun besar-besar, sebesar bumbung petung, tetapi seperti seekor harimau, dengan lincahnya ia meloncat, menyerang dan menghantam. Sedang istrinya bertempur dengan tangan yang dikembangkan.

Segera Mahesa Jenar mengenal bahwa cara yang demikian selalu dipergunakan oleh seorang yang sangat percaya akan kekuatan jari-jarinya, atau yang lebih mengerikan, ia bersenjatakan kuku-kukunya yang beracun.

Melihat cara suami-istri Sima Rodra bertempur, segera ia mengingat akan ceritera Demang Pananggalan. Maka Mahesa Jenar hampir dapat memastikan bahwa yang pernah datang ke Prambanan serta pernah menculik gadis dan dibawa ke Gunung Baka adalah gerombolan Sima Rodra ini. Maka ketika ia telah menyaksikan sendiri kegarangannya, ia pun menjadi yakin bahwa Demang Pananggalan memang bukan lawan dari orang ini.

Dalam menghadapi segala hal, tampaknya suami-istri Sima Rodra selalu bertempur bersama, sehingga untuk melawan orang yang baru setingkat Pananggalan pun mereka bertempur bersama.

Kalau demikian halnya, maka bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi dalam pertemuan golongan hitam di Rawa Pening? Bolehkah mereka bertempur berpasang- pasang, ataukah hanya seorang-seorang?

Menilik gerak serta keperkasaannya, maka pastilah Sima Rodra sendiri memiliki kehebatan yang sama dengan Lawa Ijo, sedang istrinya ternyata sedikit di bawahnya.

Tetapi karena perempuan itu bersenjatakan kuku-kukunya sendiri maka ia pun nampak sangat berbahaya. Apalagi ketika sekali tampak di ujung kuku itu berkilat suatu cahaya, maka sudah pasti bahwa di ujung kuku-kuku itu ditaruh logam yang mungkin sekali beracun.

Tetapi lawan Sima Rodra itu pun ternyata orang luar biasa. Mahesa Jenar sendiri pernah bertempur berpuluh kali menghadapi orang-orang perkasa. Yang terakhir adalah Jaka Soka serta Lawa Ijo. Tetapi untuk menghadapi dua orang sekaligus baginya adalah pekerjaan yang berat sekali. Kalau ia terpaksa bertempur melawan keduanya, maka pastilah pagi-pagi ia sudah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa.

Sedang orang itu, yang bertempur dengan Sima Rodra, nampaknya tanpa mempergunakan lambaran ilmu apapun, kecuali ketangkasan serta kekuatan jasmaniah yang cukup terlatih. Maka, Mahesa Jenar tak berhenti menebak. Siapakah gerangan dia. Kalau yang datang kakak-beradik Uling, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan bertempur berpasangan pula. Ataukah dia yang bernama Sri Gunting? Kalau orang ini Sri Gunting, maka Uling Rawa Pening itu seharusnya mempunyai kesaktian yang luar biasa.

Sambil berpikir berputar balik, Mahesa Jenar menyaksikan pertempuran yang berjalan seru itu. Berkali-kali suami-istri Sima Rodra itu mengaum dan memekik hebat dibarengi dengan serangan-serangan sangat berbahaya. Tetapi orang yang melawannya itu meskipun agak kerepotan selalu juga berhasil menghindar, bahkan beberapa kali ia dapat mengadakan pembalasan-pembalasan.

Gerak suami-istri Sima Rodra itu tampaknya memang serasi sekali dalam keganasannya. Mereka selalu berhasil saling mengisi dengan gerak-gerak membingungkan. Kadang- kadang mereka tidak menyerang, tetapi hanya berlari berputar mengelilingi lawannya, dan kadang-kadang mereka bersama-sama menerkam dari arah yang berlawanan.

Sebaliknya, lawannya pun memiliki ketangkasan yang luar biasa pula. Sekali-kali ia melesat jauh, tetapi sesaat kemudian ia sudah berdiri di satu sisi dari kedua-duanya dan menyerang dengan pukulan yang dahsyat. Beberapa kali ia melingkar, meloncat dan berputar selagi masih di udara. Tangannya bergerak menyambar-nyambar, seolah-olah berubah menjadi seorang raksasa jelmaan Harjuna Sasra Bahu yang mempunyai seribu tangan memegang seribu macam senjata, dalam ceritera pewayangan.

Demikianlah maka pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya. Tetapi karena Sima Rodra seolah-olah dapat mensenyawakan diri, serta kekuatannya, maka semakin lama tampaklah bahwa lawannya menjadi semakin terdesak.

Melihat keadaan itu, otak Mahesa Jenar bekerja keras. Bagaimanakah kalau ia mengambil keuntungan dari pertempuran itu? Ia masih belum tahu sama sekali, siapakah gerangan yang bertempur itu.

Tetapi menurut perhitungan Mahesa Jenar, ia lebih baik melawan yang seorang itu apabila terpaksa, daripada melawan Sima Rodra suami-istri. Karena itu ia memutuskan untuk menerjunkan diri dalam kancah pertarungan itu untuk membantu lawan Sima Rodra. Dan sesudah itu ia akan mengadakan perhitungan dengan lawannya. Mudah- mudahan lawan Sima Rodra itu tidak bersamaan maksud dengan kedatangannya, sehingga ia tidak perlu berhadap-hadapan sebagai lawan.

Setelah Mahesa Jenar mendapatkan ketetapan hati, maka segera ia mempersiapkan diri. Dibetulkannya ikat pinggangnya, kancing-kancing bajunya, dan ikat kepalanya, supaya nanti tidak mengganggunya.

Demikianlah dengan menggeram keras untuk menandai kehadiran, Mahesa Jenar langsung menyerang istri Sima Rodra, dengan suatu kepercayaan bahwa ia telah dibebaskan dari akibat racun karena jasa kawan sepermainannya, Anis dari Sela. Racun Lawa Ijo yang didapatkannya dari Pasingsingan pun tak berhasil membunuhnya, apalagi jenis racun yang lain, yang tidak berasal dari orang seperti Pasingsingan.

Kedatangan Mahesa Jenar sangat mengejutkan mereka yang sedang bertempur, sehingga suami-istri Sima Rodra berloncatan mundur. Lawannya pun sejenak berdiri termangu, sehingga untuk sesaat suasana jadi hening, sepi seperti daerah kematian yang mengerikan. Tetapi hal yang sedemikian itu tidak berlangsung lama, sebab terdengar suara parau Sima Rodra membentak Mahesa Jenar.

“Hei..! siapakah kau yang ikut serta mengantarkan nyawa? “

Mahesa Jenar tidak menyahut pertanyaan itu, tetapi ia berkata kepada lawan Mahesa Jenar,

“Aku belum mengenal Tuan, tetapi aku berdiri di pihak Tuan.” Sebelum orang itu menjawab, terdengar teriakan istri Sima Rodra, “Kami bunuh kalian berdua”

Istri Sima Rodra tidak menantikan lagi jawaban, tetapi dengan loncatan yang garang ia menyerang dengan kuku-kukunya yang diarahkan kepada Mahesa Jenar.

Segera pertempuran itu dimulai kembali. Tetapi sekarang Sima Rodra tidak dapat lagi mengurung lawannya, sebab sekarang mereka harus berhadapan satu lawan satu. Meskipun demikian, tidak segera dapat dilihat siapakah yang akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Suami-istri Sima Rodra yang menjadi semakin marah itu bertempur semakin garang pula. Mereka segera mengerahkan tenaga serta kesaktian mereka untuk segera dapat membinasakan lawan-lawannya yang berani memasuki daerahnya, apalagi berani menantangnya.

Dalam keadaan demikian, lawan Sima Rodra itu sempat juga menyaksikan Mahesa Jenar bertempur. Menyaksikan kelincahannya, keperkasaannya, serta kepercayaannya kepada diri seperti lazimnya seorang perwira, ia pun menjadi berpikir tentang Mahesa Jenar. Sebab orang yang memiliki kehebatan yang sampai ke tingkat itu, pastilah bukan orang sembarangan.

Pertempuran berlangsung terus. Tetapi dalam beberapa saat kemudian tampaklah bahwa Mahesa Jenar berhasil menguasai lawannya, sebaliknya orang yang telah bertempur itupun, setelah lawannya berkurang seorang, dapat pula sedikit demi sedikit mendesak musuhnya. Dengan demikian pertempuran itu ternyata sudah tidak seimbang lagi.

Dalam kemarahannya, suami-istri Sima Rodra itu bertempur semakin buas, liar dan kasar. Sedang lawannya, tampaknya tetap tenang dan yakin. Sesaat kemudian terdengar suara yang aneh keluar dari mulut Sima Rodra. Suara jeritan yang mirip dengan aba-aba. Apalagi setelah itu, tampak pula gerak-gerak mereka yang mencurigakan.

Meskipun mereka bertempur terus, tampak bahwa mereka sedang berusaha untuk mendekati lobang goa. Mahesa Jenar maupun lawan yang seorang lagi, dapat segera menangkap maksud itu, karena itu mereka menjadi lebih waspada.

Dan apa yang dicurigakan itu memang ternyata benar. Untunglah bahwa kawan bertempur Mahesa Jenar memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Sehingga ketika pada suatu saat, dengan sekali gerakan suami-istri Sima Rodra itu meloncat akan memasuki goanya, secepat itu pula kawan bertempur Mahesa Jenar itu telah meloncat menghalang-halangi.

Kembali Sima Rodra mengaum hebat karena marahnya. Bersamaan dengan itu geraknya menjadi semakin liar. Tetapi keadaan itu tetap tidak menolong dirinya, sehingga mereka tetap terdesak terus. Dalam keadaan yang demikian sekali lagi terdengar suara aneh dari harimau liar itu. Tetapi kali ini ternyata mereka lebih berhati-hati.

Demikian teriakan itu berhenti demikian mereka meloncat cepat seperti didera halilintar ke balik sebuah batu besar di samping goanya. Segera Mahesa Jenar dan kawan bertempurnya itu memburu. Tetapi terlambat.

Sesaat kemudian terdengar deru yang hebat dibalik batu itu, dan berguguranlah tanah di sekitarnya menyeret batu besar itu seolah-olah terhisap kedalam sebuah lobang besar di bawah tanah. Agar tidak turut terseret ke dalamnya, maka Mahesa Jenar bersama dengan lawan Sima Rodra itu serentak meloncat mundur. Selanjutnya untuk beberapa lama mereka hanya merenungi onggokan tanah bekas guguran itu.

“Sebuah pintu rahasia,” desis orang itu.

Memang sejak semula Mahesa Jenar juga menduganya demikian, apabila yang berkepentingan sudah ada di dalamnya, dengan sedikit sentuhan pada alat yang diperlukan, gugurlah tanah di atas pintu itu, dan menutup lubangnya sehingga mereka tidak akan dapat dikejar, untuk selanjutnya keluar dari pintu rahasia yang lain.

Sebentar kemudian kembali orang itu berkata, “Terimakasih atas pertolongan Tuan.”

“Aku hanya membantu mempercepat penyelesaian saja, sebab tanpa aku pun tampaknya Ki Sanak pasti dapat menyelesaikan seorang diri,” jawab Mahesa jenar.

Orang itu tertawa lirih. “Tuan terlalu menyanjung aku, tetapi sebenarnya bahwa kedatangan tuan menyelamatkan nyawaku. Hanya sayang bahwa aku terpaksa tidak dapat terlalu lama menemui Tuan, sebab ada satu pekerjaan yang harus aku selesaikan, katanya kemudian“

Jantung Mahesa Jenar berdesir lembut. Apakah gerangan yang akan dilakukannya? Karena itu ia mencoba bertanya,

“Apakah yang memaksa Ki Sanak begitu tergesa-gesa?”

“Suatu pekerjaan yang tak berarti. Aku hanya ingin memeriksa keadaan di dalam goa, jawabnya.”

Mahesa Jenar mulai melihat adanya sesuatu rahasia pada orang itu. Karenanya ia tidak bertanya tentang siapakah dia dan dari manakah datangnya, sebab pertanyaan yang demikian tentu tidak akan mendapat jawaban. Maka kemudian ia hanya berkata,

“Bolehkah aku turut serta masuk kedalam goa? “

Orang itu tampak ragu-ragu sejenak, baru ia menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan,

“Tuan, apakah sebenarnya yang akan Tuan lakukan di atas bukit kecil ini?”

Mendengar pertanyaan orang itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Tetapi pasti bahwa ia tidak akan menyebutkan keperluan yang sebenarnya. Maka dijawabnya dengan sekenanya saja,

“Aku datang untuk menuntut balas atas kematian kakakku di Pangrantunan.” “Pangrantunan?” sahut orang itu.

“Ya,” jawab Mahesa Jenar.

Tampaklah orang itu berpikir sejenak. Lalu katanya kemudian, “Tuan... orang Pangrantunan?”

”Ya,” jawab Mahesa Jenar pendek.

Sayanglah bahwa Mahesa Jenar tak dapat melihat sorot mata orang itu di dalam gelap. Kalau saja ia mengetahui, dapatlah ia mengerti bahwa orang itu curiga kepadanya.

Sejenak kemudian orang itu berkata, “Apakah yang Tuan lakukan seterusnya? Tuan pasti tidak akan dapat menemukan Suami-Istri itu untuk beberapa lama.”

“Tak apalah. Tetapi aku hanya ingin melihat-lihat saja,” jawab Mahesa Jenar.

“Mudah-mudahan apa yang Tuan katakan benar, silahkan Tuan melihat. Seterusnya aku berjanji untuk membalas budi Tuan membinasakan suami-istri itu pada kesempatan lain. Semoga Tuan benar-benar tidak mempunyai kepentingan lain” gumam orang itu.

Kemudian orang itu pergi bersama Mahesa Jenar, memasuki goa Sima Rodra dengan hati-hati. Mungkin terdapat berbagai rahasia di dalamnya. Goa itu sebenarnya tidaklah begitu dalam. Tetapi di dalamnya terdapat beberapa ruang yang dindingnya dilapisi papan, tak ubahnya seperti ruang-ruang rumah biasa. Ruang itu diterangi dengan oncor- oncor.

Dua ruang sudah mereka masuki, tetapi mereka tak menemukan sesuatu. Maka sampailah mereka pada ruang yang ketiga, yang tidak seperti ruang-ruang lain. Ruang ini mempergunakan pintu yang ditutup rapat. Ternyata pintu ini tidak hanya ditutup rapat, tetapi juga dikancing dengan kancing yang tak dapat diketahui oleh orang lain.

Ketika sudah beberapa lama mereka tak berhasil membukanya, mereka menjadi tidak sabar lagi. Mereka berdua sepakat untuk membuka pintu itu dengan paksa. Dengan demikian, mereka mempergunakan kaki mereka untuk bersama-sama menjebol pintu kayu yang terkancing itu.

Dengan satu tendangan yang hampir bersamaan mereka dapat memecahkan pintu itu, yang dengan suara gemeretak pecah berserakan. Tetapi meskipun pintu itu sudah menganga lebar, mereka tidak tergesa-gesa masuk. Sebab bukanlah mustahil bahwa ada apa-apa di dalamnya.

Setelah beberapa saat tak ditemukan apapun, maka dengan langkah yang sangat hati-hati mereka melangkah masuk. Tetapi demikian mereka melangkahkan kakinya melewati tlundak pintu, demikian serentak bulu roma mereka berdiri.

Di sudut ruangan itu mereka melihat sebuah nampan di atas sebuah meja yang dialasi dengan kain beludru buatan Tiongkok yang berwarna kuning keemasan. Dan yang mengejutkan mereka adalah cahaya yang biru kekuning-kuningan, yang memancar dari dua keris yang diletakkan di atas kain beludru itu. Karena itu, untuk sesaat mereka tegak berdiri seperti patung.

Mahesa Jenar, sebagai seorang perwira istana, sudah pasti bahwa apa yang dilihatnya itu sangat mengharukan hatinya. Ia yakin sekarang bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten itu adalah keris-keris yang asli.

Mahesa jenar memang pernah melihat keris itu beberapa kali, dahulu sebelum lenyap dari Istana Demak. Memang tidak semua prajurit bahkan perwira yang beruntung dapat menyaksikan keris itu. Karena Mahesa Jenar saat itu menjadi pengawal raja dan istana, maka ia diberi kesempatan untuk menyaksikan pada saat keris itu dimandikan pada hari pertama setiap tahun. Karena itu ia hampir tidak dapat lagi mengendalikan diri. Hampir saja ia meloncat mendekati keris-keris itu kalau saja orang yang berdiri di sampingnya itu tidak menggamitnya.

“Apakah Tuan berkepentingan dengan keris-keris itu?” kata orang itu.

Mahesa Jenar kini tak dapat mengelak lagi. Kedua keris yang dicarinya sudah ada di hadapannya. Maka apapun yang terjadi haruslah dihadapinya.

“Benar Ki Sanak, aku datang untuk kedua keris ini. Aku harap Tuan mempunyai kepentingan yang tidak sama dengan kepentinganku,” jawab Mahesa Jenar tegas.

”Hem....!” orang itu menggeram. “Aku sudah menduga. Tetapi sayang bahwa kepentingan kita sama.”

Mendengar kata-kata orang itu seharusnya Mahesa Jenar tidak lagi terkejut, namun demikian darahnya bergelora hebat.

“Ki Sanak, maafkanlah, aku tidak dapat melepaskannya lagi,” kata Mahesa Jenar sambil menahan diri.

Orang itu merenung sejenak. Dalam keremangan cahaya oncor-oncor, Mahesa Jenar melihat betapa gelisah perasaannya, sehingga akhirnya keluarlah kata dari mulutnya,

“Tuan, aku telah berhutang budi kepada Tuan. Tetapi aku akan tetap pada pendirianku untuk mendapatkan benda-benda keramat dari Istana Demak itu.”

Mahesa Jenar tidak tahu siapakah orang itu sebagaimana orang itu tidak mengenal Mahesa Jenar. Karena itu mereka saling berketetapan hati untuk dapat menguasai kedua pusaka itu.

Bagaimanapun Mahesa Jenar menyabarkan diri, namun akhirnya terloncat pula kata- katanya yang tajam,

“Ki Sanak, seharusnya tadi aku membiarkan Tuan bertempur seorang diri dan sekaligus dibinasakan oleh suami-istri Sima Rodra itu.”

“Kalau demikian... Tuan akan berbuat kesalahan. Bukankah lebih mudah untuk melawan aku seorang menurut pertimbangan Tuan daripada melawan mereka berdua?”

Jawab orang itu, yang meskipun nampaknya masih setenang semula, tetapi isi kata- katanya tidak kalah runcingnya.

Sekali lagi darah Mahesa Jenar menggelegak. Ternyata orang itu dapat dengan cepat menebak perhitungannya.

“Ki Sanak benar, memang demikianlah apa yang akan aku lakukan” jawab Mahesa Jenar tanpa tedeng aling-aling.

“Baik Tuan. Tetapi sebaiknya Tuan mempertimbangkan sekali lagi” sahut orang itu. ”Tidak ada pertimbangan lain” jawab Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar sudah pasti sekarang, bahwa ia harus bertempur melawan orang itu.

Sebenarnya ia masih bimbang terhadap bakal lawannya. Menilik sikap serta kata- katanya, agak aneh kalau ia termasuk golongan hitam yang lain, yang menginginkan pusaka-pusaka itu. Sebentar kemudian Mahesa Jenar teringat pula keramahan Jaka Soka pada waktu ia akan menyertai rombongan orang-orang yang akan melintas hutan Tambakbaya, juga suami-istri Sima Rodra itu sendiri, yang dengan ramah minta menginap di Kademangan Prambanan. Karena itu ia tidak akan menilai orang itu dari sikap serta kata-katanya.

Sementara itu orang itu menjawab, Kalau demikian, marilah kita tentukan bersama, siapakah yang berhak untuk menguasai kedua keris itu.

Mahesa Jenar sudah yakin bahwa memang demikianlah yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang itu, mau tak mau ia terpaksa menaruh hormat kepadanya.

“Kata-kata Tuan adalah kata-kata jantan. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kejantanan Tuan,” jawab Mahesa Jenar kemudian.

Yang engherankan, tetapi juga agak menjengkelkan Mahesa Jenar, orang itu masih saja tertawa lirih.

“Marilah kita keluar, supaya kita tidak harus berdesak desakan dengan dinding-dinding ruang ini,” katanya.

Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia langsung melangkah keluar diikuti oleh orang itu. Sambil berjalan Mahesa Jenar menimbang-nimbang tentang lawannya. Pastilah orang ini berilmu tinggi dan pasti orang itu pula yang telah menyebarkan sirep sedemikian tajamnya. 

Maka ketika mereka sudah sampai di luar goa, segera mereka saling berhadapan dengan taruhan yang besar. Juga masing-masing menyadari bahwa mereka akan berhadapan dengan lawan yang cukup tangguh. Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali bekerja mati- matian untuk memperebutkan kedua pusaka itu. Apalagi Mahesa Jenar yang langsung atau tidak langsung ikut serta bertanggung jawab akan keselamatan pusaka itu. Maka taruhannya untuk mendapatkan kedua keris itu adalah nyawanya. Sejenak kemudian setelah mereka bersiap, terdengarlah orang itu berkata, “Marilah Tuan, permainan kita mulai.”

“Silahkan,” jawab Mahesa Jenar pendek.

Dan segera terjadilah suatu pertarungan yang dahsyat. Meskipun mula-mula mereka tampaknya agak segan-segan, tetapi ketika mereka merasakan benturan-benturan serta tekanan-tekanan dari masing-masing pihak, akhirnya mereka tidak lagi mengendalikan diri.

Lawan Mahesa Jenar itu ternyata memang orang perkasa luar biasa, gerakan-gerakannya serba cepat dan mempunyai tenaga yang hebat, sehingga menimbulkan desiran-desiran angin yang menyambar-nyambar mengiringi setiap gerak dari tubuhnya. Sedang Mahesa Jenar adalah seorang yang mempunyai pengalaman yang cukup baik, sehingga setiap gerakan tangan serta kakinya selalu mempunyai arti serta membahayakan. Tubuhnya yang tidak sebesar lawannya itu, bergerak-gerak seperti bayangan yang dengan lincahanya menari-nari mengitari lawannya dengan belaian maut.

Lawannya yang bertubuh tegap itu lebih mempercayakan diri pada kekuatannya, sehingga beberapa kali ia dengan beraninya menyerang dengan mempergunakan kedua tangannya, bahkan dengan serangan-serangan berganda, sehingga suatu ketika Mahesa Jenar tidak sempat lagi mengelakkan diri.

Pukulan orang itu, ditambah sekaligus dengan berat tubuhnya yang besar, mengenai pelipis Mahesa Jenar demikian kerasnya, sehingga Mahesa Jenar terdorong beberapa langkah ke belakang. Tetapi rupanya ia tidak saja berhenti sampai sekian. Sebelum Mahesa Jenar dapat memperbaiki keadaannya, kembali ia berhasil mengenai lambung Mahesa Jenar dengan kakinya. Kembali Mahesa Jenar terhuyung-huyung surut beberapa langkah. Untunglah bahwa ia mempunyai ilmu yang tinggi sehingga meskipun dengan agak kesulitan, dalam sekejap ia telah berhasil tegak diatas kedua kakinya yang kokoh kuat bagaikan tonggak baja.

Karena beberapa pukulan yang dapat mengenainya itu, Mahesa Jenar menjadi marah bukan buatan. Wajahnya tampak menyala, serta matanya menyorotkan sinar-sinar yang memancarkan pergolakan darahnya. Sekali ia melompat ke depan, dan dengan sebuah gerak tipuan yang bagus ia berhasil menarik perhatian lawannya pada tangan-tangannya yang menyerang ke arah kepala. Kemudian dengan kecepatan yang hampir tidak tampak, ia mengangkat kaki kanannya dan langsung menghantam dada lawannya.

Demikian keras serangan itu, sehinggam lawannya terpental beberapa langkah. Tetapi demikian ia tegak, demikian ia telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Bahkan sesaat kemudian ia telah melangkah maju, dan dengan kuatnya ia menghantam ke arah dada Mahesa Jenar. Dengan satu langkah, Mahesa Jenar bergerak ke samping, dan demikian pukulan itu tidak mengenai sasarannya demikian Mahesa Jenar membalas dengan sebuah pukulan pada wajah orang itu.

Kali ini Mahesa Jenar sekali lagi tak berhasil mengenainya, sehingga orang itu terdorong mundur. Mahesa Jenar tidak mau memberi kesempatan lagi, sekali lagi ia menyodok perut lawannya, sehingga orang itu menggeliat kesakitan dan meloncat beberapa langkah ke samping. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau kehilangan kesempatan yang baik itu. Ia pun sekali lagi meloncat dan dengan bergelombang ia menyerang bertubi-tubi sehingga orang itu terdesak mundur dan mundur.

Tetapi rupanya keadaannya tidaklah tetap demikian. Tiba-tiba orang itu menggeliat ke samping, dan dengan suatu putaran yang cepat ia berhasil membingungkan Mahesa Jenar, yang ingin memotong putaran itu. Cepat ia mempergunakan kesempatan ini untuk meloncat ke samping lawannya, dan dengan suatu gerakan yang tangkas ia merendahkan diri. Setengah lingkaran ia memutar tubuhnya untuk langsung menyerang Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut melihat gerakan-gerakan yang berubah-ubah itu, sehingga ketika sebuah pukulan melayang ke wajahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri.

Demikian kerasnya pukulan itu sehingga Mahesa Jenar terdorong beberapa langkah. Pukulan itu terasa sakitnya bukan main.

Sebagai seorang perwira, tubuh Mahesa Jenar cukup mempunyai daya tahan yang kuat. Tetapi dikenai oleh pukulan ini wajahnya menjadi panas dan sejenak pandangan matanya agak kabur. Ketika ia mengusap wajah itu dengan tangannya, terasa sesuatu yang cair dan hangat meleleh dari hidungnya…..darah.

Mengalami kenyataan itu, marahnya semakin memuncak. Ia benar-benar harus berkelahi dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Maka ketika orang itu menyerangnya kembali, Mahesa Jenar segera merendahkan diri. Dengan pangkal telapak tangannya ia berhasil menghantam dagu lawannya. Terdengarlah suara gemeratak gigi beradu. Demikian kerasnya serta dibarengi kemarahan, maka pukulan Mahesa Jenar seperti berlipat-lipat dahsyatnya, sehingga muka orang itu terangkat tinggi-tinggi.

Mahesa Jenar tidak mengabaikan kesempatan berikutnya. Selagi muka orang itu masih terangkat, ia meloncat maju menumbukkan dirinya sambil menghantam perut orang itu dengan lututnya. Terdengarlah orang it mengaduh tertahan dan terlontar surut. Mahesa Jenar langsung memburu dan menghantamnya bertubi-tubi.

Orang itu terdorong terus hingga suatu ketika ia tidak dapat mundur lagi karena punggungnya sudah melekat dengan dinding padas. Mahesa Jenar melihat kesempatan itu. Ia tidak mau melepaskan lawannya kali ini. Maka dengan kekuatan penuh ia meloncat maju dan menghantamkan muka orang itu dengan kedua tangannya sekaligus. Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah demikian saja. Tiba-tiba, ketika Mahesa Jenar meloncat, orang itu pun menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Serangan yang sama sekali tak diduga oleh Mahesa Jenar. Karenanya, serangan itu bulat-bulat telah melemparkannya dan ia jatuh terguling beberapa kali.

Mahesa Jenar telah mengalami pertempuran dengan lawan yang beraneka macam, pada saat ia bertempur dengan Lawa Ijo, seorang tokoh hitam yang perkasa, ia pun mengerahkan segenap tenaganya. Tetapi bagaimanapun ia tidak merasakan adanya tekanan-tekanan yang sedemikian hebatnya seperti saat ini. Tidak saja ia tidak berhasil menekan lawannya, tetapi benar-benar ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sakit-sakit dan nyeri.

Mengingat bahwa yang dipertaruhkan adalah pusaka-pusaka istana, serta kesadarannya akan pertanggungjawabannya sebagai seorang yang merasa turut serta membina kesejahteraan rakyat, maka ia merasakan kengerian yang sangat apabila pusaka-pusaka itu sampai jatuh ke golongan hitam yang manapun. Karena itu tidak ada jalan lain bagi Mahesa Jenar kecuali membinasakan orang itu.

Pada saat ia tidak dapat menguasai lawannya, maka cara satu-satunya adalah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Maka ketika tidak ada pilihan lain, segera ia meloncat bangkit dan segera ia memusatkan segala kekuatan batinnya serta mengatur pernafasannya, memusatkan segala kekuatan lahir-batin pada telapak tangan kanannya.

Demikianlah ia berdiri di atas satu kakinya, sedang kakinya yang lain ditekuk ke depan. Tangan kirinya disilangkannya di muka dadanya, sedang tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Kemudian demikian cepat bagai sambaran kilat ia meloncat maju dan dengan dahsyat ia mengayunkan tangan kanannya ke arah kepala lawannya.

Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar terkejut bukan buatan. Segera ia meloncat mundur sambil berteriak,

“Tahan... Tuan, tahankan dulu. “

Tetapi Mahesa Jenar sudah terlanjur bergerak. Kalau ia menahan serangannya maka kekuatan yang sudah tersalur itu pasti akan memukul dirinya sendiri lewat bagian dalam tubuhnya. Karena itu tidak ada cara lain kecuali melanjutkan serangannya untuk membinasakan lawannya.

Melihat Mahesa Jenar tidak mengubah serangannya, tiba-tiba orang itu pun segera bersiap, tidak menghindarkan diri, karena tidak ada kesempatan lagi, melainkan ia berdiri di atas kedua kakinya yang melangkah setengah langkah ke depan, lutut kaki kanannya diteuk sedikit.

Mula-mula ia merentangkan kedua tangannya, tapi ketika pukulan Mahesa Jenar sudah melayang, segera ia menyilangkan kedua tangannya di muka wajahnya, melihat sikap itu, jantung Mahesa Jenar seperti berhenti berdenyut karena terkejut. Tetapi segala sesuatu sudah terlambat. Sebab tangan Mahesa Jenar sudah tinggal berjarak beberapa cengkang saja dari orang itu, dengan satu gerakan pendek, kedua tangan yang disilangkan di muka wajahnya, orang itu menahan hantaman tangan Mahesa Jenar. Dan sesaat kemudian terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat seperti berbenturnya halilintar.

Akibatnya dahsyat pula. Orang itu terlempar jauh ke belakang dan bulat-bulat terbanting di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Matanya menjadi gelap dan nafasnya tersekat di kerongkongan. Sebentar kemudian ia tak dapat merasakan sesuatu.

Pingsan.

Mahesa Jenar sendiri, yang menghantamkan ilmunya Sasra Birawa, merasakan bahwa tangannya seolah-olah tertahan oleh selapis baja yang tebalnya lebih dari sedepa. Karena itu kekuatan yang dilontarkan itu seolah-olah membalik dan memukul bagian dalam tubuhnya, ditambah dengan desakan dari orang yang dipukulnya itu. Karena itu Mahesa Jenar juga terlempar, tidak hanya seperti sebuah balok yang melayang, tetapi seperti kayu yang oleh kekuatan raksasa dihantamkan ke punggung padas yang ada di belakangnya.

Demikian dahsyatnya Mahesa Jenar terbanting sehingga pada saat itu juga, pada saat ia terhempas, ia sudah tak dapat lagi merasakan apa-apa kecuali kepekatan yang dahsyat menerkam dirinya. Dan ia pun pingsan.

Demikianlah keadaan segera menjadi senyap. Hanya desir angin di rerumputan serta semak-semak yang kedengaran gemeresik lembut. Di kejauhan terdengar suara binatang malam, serta gonggong anjing yang berebutan mangsa. Di mulut goa Sima Rodra itu menggeletak sebelah-menyebelah dua sosok tubuh yang sama sekali tak sadarkan diri.

Baru beberapa saat kemudian, oleh kesegaran angin yang mengusap wajahnya, orang itu, yang telah bertempur mati-matian melawan Mahesa Jenar, yang ternyata mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga dialah yang pertama-tama dapat menarik nafas dan perlahan-lahan menggerakkan tubuhnya. Tetapi demikian ia berusaha bergerak terdengarlah ia mengeluh perlahan. Ternyata tubuhnya terasa nyeri dan sakit seluruhnya.

Unuk beberapa saat orang itu terpaksa berdiam diri, mengatur jalan pernafasannya serta berusaha untuk menguasai kembali pikirannya.

Angin masih berhembus perlahan-lahan. Dan ini telah menolong menyegarkan tubuh orang itu, sehingga beberapa saat kemudian ia berhasil dengan susah payah mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar pada kedua tangannya.

Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Keringat dingin masih saja mengalir membasahi seluruh pakaiannya. Baru setelah tubuhnya terasa bertambah segar ia perlahan-lahan bangkit berdiri. Ketika ia memandang ke daerah sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada tubuh yang masih terbaring tak bergerak, beberapa langkah dari mulut goa. Sekali lagi ia menarik nafas. Ia tahu benar bahwa pukulan lawannya itu adalah pukulan yang tak ada taranya dahsyatnya.

Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar yang masih belum sadar. Dengan mata yang bercahaya orang itu memandangi tubuh Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.

Memandangi tubuh yang meskipun tidak setinggi dia, tetapi tampak kokoh kuat bagai seekor banteng.

Ketika orang itu melangkah selangkah lagi mendekati Mahesa Jenar, terasa bahwa tubuhnya semakin terasa sakit. Karena itu ia berhenti dan duduk di atas padas beberapa langkah dari tubuh Mahesa Jenar yang masih terbujur tak bergerak.

Ia terpaksa menahan diri, tidak segera mendekatinya sampai tubuhnya sendiri agak terasa kuat. Karena itu dibiarkannya Mahesa Jenar terbaring tak bergerak beberapa langkah di hadapannya.

Ketika sekali lagi angin malam membelai tubuh-tubuh yang sedang kesakitan itu, tampak bahwa Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Dan sesaat kemudian ia sudah dapat membuka matanya, meskipun masih samar-samar. Apalagi di dalam kegelapan malam.

Yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang bertaburan di langit, dan sesudah itu matanya tertumbuk pada tubuh tinggi tegap berdada lebar, duduk di atas padas di hadapannya, yang dengan tajam memandanginya seperti sebuah bayangan hantu hitam yang akan menerkamnya. Tetapi pada sat itu ia sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Sambungan-sambungan tulangnya terasa seperti lepas dan tak dapat dikuasainya. Karena itu kalau terjadi sesuatu ia sama sekali tak akan dapat membela diri.

Maka sekali lagi Mahesa Jenar memejamkan matanya untuk mengumpulkan ingatannya. Dan perlahan-lahan ketika tubuhnya terasa semakin segar karena angin malam yang lembut, ingatannya pun sedikit demi sedikit menjadi cerah kembali meskipun kepalanya masih saja pening dan seperti berputar-putar.

Apa yang baru saja dialami menjadi semakin jelas dalam kepalanya. Bagaimana ia mempergunakan ilmu kepercayaannya Sasra Birawa dan bagaimana orang yang dihantamnya itu merentangkan tangannya dan selanjutnya disilangkan di muka wajahnya.

Dan sekarang, orang yang dikenai ilmunya itu ternyata masih saja hidup dan duduk di dekatnya. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar tiba-tiba merasa gembira sekali. Dan kegembiraannya itu telah sangat mempengaruhi keadaannya, sehingga tiba-tiba ia dapat duduk, meskipun dengan susah payah untuk menegakkan tubuhnya yang duduk lemah seperti tak bertulang. Meskipun demikian, wajah Mahesa jenar tampak cerah dan matanya menyorotkan cahaya segar.

Demikian pula orang yang duduk di atas padas itu. Ketika ia menyaksikan Mahesa Jenar telah dapat duduk, ia pun menjadi gembira. Senyum yang tulus telah menggerakkan bibirnya. Perlahan-lahan dengan suara parau ia menyapa,

“Tidakkah tuan mengalami sesuatu? “

Mahea Jenar tersenyum pula, meskipun agak kecut. Bagaimana aku mengatakan bahwa aku tidak mengalami sesuatu kalau bangun saja rasanya seperti tidak mungkin, jawab Mahesa Jenar.

Orang itu menundukkan kepalanya seperti menyesali dirinya. “Maafkan aku,” katanya kemudian.

Mendengar kata-kata itu segera Mahesa Jenar menyahut,

“Jangan Tuan menyalahkan diri sendiri. Akulah yang seharusnya minta maaf kepada Tuan, sebab akulah yang pertama-tama mulai. Berbahagialah aku bahwa Tuan ternyata sehat walafiat karena kesaktian Tuan.”

“Tuan salah duga. Aku pun mengalami keadaan seperti Tuan. Sampai sekarang aku masih belum berhasil untuk mencapai jarak ke dekat Tuan terbaring, karena seluruh sendi tulang-tulangku sakit bukan kepalang, karena di dalam tangan Tuan tersimpan aji Sasra Birawa,” sahut orang itu sambil tertawa lirih.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. “Sekali lagi, maafkan aku,” katanya.

“Tak apalah... malahan aku merasakan suatu keuntungan, mendapat kehormatan mencicipi ilmu Tuan yang maha dahsyat itu. Dan dengan demikian aku mengenal Tuan, yang pasti salah seorang murid dari Paman Pengging Sepuh,” jawab orang itu.

Mahesa Jenar mengangguk perlahan.

“Benar Tuan, aku tinggal satu-satunya murid yang masih harus menjunjung tinggi nama kebesaran Ki Ageng Pengging Sepuh Almarhum. Untung jugalah bahwa aku tidak binasa kali ini. Kalau hal itu terjadi, berakhirlah nama perguruan Pengging. Bukankah Tuan telah mempergunakan aji Lebur Sekethi?”

“Terpaksa. Hanya sekadar supaya aku tidak lumat,” gumam orang itu seperti kepada diri sendiri.

“Benar Tuan..., Tuan sama sekali benar. Akulah yang terlalu lancang. Tetapi siapakah sebenarnya Tuan? Bukankah Lebur Sakethi itu menurut guruku Almarhum dan yang kukenal adalah milik Ki Ageng Dipayana?” potong Mahesa Jenar.

“Tuan menebak dengan tepat. Karena itu ketika Tuan mengatakan bahwa Tuan adalah orang Pangrantunan, segera aku menjadi curiga. Sebab Pangrantunan adalah daerah masa kanak-kanakku. Aku adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab orang itu.

“Apakah Tuan yang disebut Ki Ageng Gajah Sora?” “Benar Tuan. Akulah yang bernama Gajah Sora”

Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar jadi merenung. Untunglah bahwa tak terjadi sesuatu dalam pertempuran tadi. Kalau saja ada salah langkah, maka akibatnya akan mengerikan. Salah satu diantaranya pasti binasa. Sebab ajian seperti Sasra Birawa dan Lebur Sakethi mempunyai daya yang dahsyatnya luar biasa. Tidak hanya sebagai ajian yang tidak saja dipergunakan menyerang, tetapi juga bertahan.

Sejenak kemudian terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora bertanya kepadanya, “Tetapi sampai sekarang Tuan belum menyebut nama Tuan.”

Mahesa Jenar seperti tersadar dari renungannya, maka jawabnya, “Namaku adalah Mahesa Jenar.”

“Mahesa Jenar?” ulang Gajah Sora. “Aku belum pernah mendengar nama ini dari ayahku yang sering menyebut-nyebut nama sahabat-sahabatnya serta murid-muridnya. Bukankah seorang murid Ki Ageng Pengging itu terbunuh...?”

“Ya,” jawab Mahesa Jenar, “Bahkan tidak saja ia muridnya, tetapi juga putranya.” Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ki Kebo Kenanga   Bukankah begitu?”

“Ya,” jawab Mahesa Jenar pendek.

“Kakaknya, Ki Kebo Kanigara, kabarnya lenyap tak meninggalkan bekas” sambung Gajah Sora “Dan Tuan? Adakah Tuan mempunyai sebutan yang lain?”

“Semua yang Tuan katakan adalah benar. Akulah yang sedikit sekali mengenal sahabat- sahabat guruku. Mungkin ini disebabkan Guru sudah lama melenyapkan diri, dan akhirnya diketahui bahwa beliau telah wafat, sehingga tidak banyak yang dapat diceritakan kepadaku.”

”Adapun mengenai aku sendiri, memang benarlah kata Tuan, sebab sejak aku menjadi prajurit, aku selalu dipanggil dengan nama Tohjaya.”

“Tohjaya..., ya Tohjaya” ulang Gajah Sora, “Kalau nama ini memang pernah aku dengar. Tidak saja dari ayahku, tetapi hampir setiap orang menyebutnya sebagai pengawal raja. Tetapi kenapa Tuan sampai di sini?”

Akhirnya dengan singkat Mahesa Jenar bercerita tentang segala-galanya yang pernah dialami. Juga tentang pertemuannya dengan Ki Ageng Sora Dipayana di Pangrantunan dan pertemuannya dengan Ki Ageng Lembu Sora.

“Memang, anak itu agak Bengal” sahut Gajah Sora kemudian. “Biarlah lain kali aku mengurusnya. Juga tentang sepasang Uling, yang sampai sekarang masih aku biarkan saja sambil menunggu orang-orang golongan hitam itu berkumpul. Tetapi yang penting sekarang, apakah yang kita lakukan?”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepala sambil memandangi mulut goa yang masih saja ternganga seperti mulut seekor naga raksasa yang siap menelannya.

Beberapa saat ia agak kebingungan. Tetapi akhirnya ia berkata,

“Kalau saja tadi aku tahu bahwa Tuan adalah Ki Ageng Gajah Sora, maka aku kira aku tidak akan mengganggu Tuan. Nah Tuan, sekarang terserah kepada Tuan akan kedua keris itu.”

“Tidak” jawab Gajah Sora, “Tuan lebih berhak untuk mengambilnya serta menyerahkan kembali ke Istana Demak”

“Aku adalah seorang perantau, Aku kira lebih aman kalau Tuan yang menyimpannya sampai datang waktunya untuk diserahkan kepada yang berhak nanti”

Tampaklah sejenak Gajah Sora merenung menimbang-nimbang. Akhirnya ia berkata,

“Baiklah, sekarang kedua pusaka itu kita ambil dan kita bawa pulang. Bukankah Tuan sudi singgah ke Banyu Biru sehari dua hari...? Atau sampai pada saat pertemuan kalangan hitam. Di sana dengan aman segala sesuatu dapat kita bicarakan”

Tentu saja Mahesa Jenar tidak dapat menolak ajakan itu. Karena itu ia pun segera mengiakan. Maka setelah itu, setelah mereka merasa bahwa tubuh mereka telah dapat dibawa berjalan, masuklah mereka dengan sangat hati-hati ke dalam goa itu dan langsung menuju ke ruang dimana kedua pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten disimpan.

Setelah menyembah beberapa kali, maka diambillah kedua pusaka itu dan dibawa keluar seorang satu, dengan tujuan untuk membawanya ke Banyu Biru, ke rumah Ki Ageng Gajah Sora yang untuk selanjutnya akan dibicarakan penyerahannya kepada yang berhak di Istana Demak. Tetapi belum lagi mereka sempat meninggalkan daerah bukit Tidar, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kuda yang cukup banyak mendaki Gunung Tidar dari arah utara. Kedatangan mereka ini sudah pasti sangat mengejutkan Mahesa Jenar maupun Ki Ageng Gajah Sora.

“Siapakah mereka?” tanya Mahesa Jenar.

“Entahlah” jawab Ki Ageng Gajah Sora sambil menggelengkan kepalanya.

Derap kuda itu semakin lama semakin dekat, dan tampaknya mereka langsung menuju ke arah goa