Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 05

Jilid 05

DALAM keributan itu, tiba-tiba gadis cantik itu berdiri tegak. Kepalanya terangkat dan dadanya menengadah. Lenyaplah kesan-kesan ketakutan dan kecemasan yang membayang di wajahnya. Dari mulutnya yang mungil itu terdengarlah suaranya yang gemetar.

“Saudara-saudara seperjalanan... aku minta maaf kalau kehadiranku diantara saudara- saudara menyebabkan saudara-saudara menemui kesulitan. Tetapi ketahuilah bahwa orang ini tidak akan berguna membunuh saudara-saudara sekalian, sebab aku telah memutuskan untuk bunuh diri.”

Kemudian gadis itu berpaling kepada Mahesa Jenar. Lalu katanya.

“Ki Sanak, aku berterima kasih kepadamu, atas usahamu menyelamatkan jiwaku. Tetapi adalah lebih berharga jiwa dari sekian banyak orang termasuk ki sanak sendiri, daripada aku seorang. Karena itu berikanlah keris itu kembali kepadaku.”

Sudah tentu Mahesa Jenar tidak dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu terjadi. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, mengabdikan diri bagi kedamaian hati rakyat dan kemanusiaan. Sebab dengan demikian ia telah mengabdikan dirinya pula kepada tanah tumpah darah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mahesa Jenar sangat terharu mendengar ucapan gadis yang menyediakan diri sebagai tumbal keselamatan sekian banyak orang. Tetapi belum lagi ia sempat menjawab, terdengar suara Jaka Soka.

“Perantau tolol. Jangan kau serahkan kepadanya, supaya aku selamatkan jiwamu. Berikan saja keris itu kepadaku.”

Tetapi Mahesa Jenar sudah mendapat suatu ketetapan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Jaka Soka akan membunuh semua orang yang ada, hanya untuk merampas seorang gadis. Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak menghendakinya.

Karena itu, dengan sikap seekor banteng, Mahesa Jenar melangkah, lalu berdiri diantara gadis yang pucat itu. Wajahnya memancarkan kebulatan tekadnya, apapun yang akan dihadapi. Meskipun ia harus melawan Jaka Soka dan Lawa Ijo sekaligus. Dengan tenangnya pula ia menjawab kata-kata Jaka Soka.

“Jaka Soka yang dikenal sebagai seorang Bajak Laut yang menakutkan. Buat apa aku mengharap kau membebaskan jiwaku. Kalau aku terpaksa berkubur di tengah-tengah hutan Tambak Baya ini. Karena aku membela kebenaran, aku sama sekali tidak akan menyesal. Karena itu selagi aku masih bernafas, kau tak akan dapat menyentuh gadis yang belum aku kenal sebelumnya ini.”

Jawaban Mahesa Jenar ini hebat akibatnya. Muka Jaka Soka segera berubah menjadi merah membara, dibakar oleh kemarahannya. Kalau tadi ia melihat orang itu dapat bergerak begitu cepat, baginya bukanlah ukuran bahwa orang itu cukup berharga untuk dilawannya. Apalagi sebelum itu, perantau tolol itu telah melawannya bersama-sama dengan ketujuh orang pengawal, dan sama sekali tak menunjukkan keistimewaan apa- apa. Meskipun demikian, dalam hati Jaka Soka mengakui, bahwa orang itu benar-benar orang tolol yang berani.

Selain itu, kata-kata Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang mengejutkan pula terhadap para pengawal. Dengan tak terduga sama sekali, pemimpin pengawal yang telah agak lanjut usia itu tiba-tiba meloncat ke samping Mahesa Jenar. Dengan penuh tanggung jawab ia berkata.

“Jaka Soka, akupun pernah mendengar kebesaran namamu. Dan sekarang aku sempat menyaksikan pula. Bahkan sekaligus aku dapat mengetahui betapa biadabnya Bajak Laut dari Nusa Kambangan ini. Karena itu, bagaimana aku berani berlagak di hadapanmu. Tetapi karena kali ini aku sedang dibebani oleh suatu tanggung jawab, maka bersama- sama perantau yang belum aku kenal ini, aku bersedia menjadi banten. Apa artinya sisa umurku yang tinggal beberapa tahun lagi, kalau dilumuri oleh suatu pengkhianatan akan tugas yang dibebankan di pundakku.” “Cukup!”

Potong Jaka Soka. Tetapi suaranya terputus sampai sekian, karena getaran kemarahannya. Wajahnya menjadi semakin merah. Giginya gemeretak, sedangkan matanya seolah-olah memancarkan api, seperti perapian yang masih menyala-nyala. Apalagi ketika dilihatnya kesembilan pengawal yang lain pun tiba-tiba serentak berdiri dengan teguhnya menggenggam senjata masing-masing demikian eratnya. Seakan-akan teguhnya ingin mengatakan, bahwa gugurlah mereka dalam tugasnya dengan senjata di tangan.

Tetapi kembali terjadi hal yang sama sekali tak diduga-duga. Orang yang dianggapnya sebagai perantau tolol yang menumpang berjalan, bahkan ada diantara mereka yang memberikan beban dengan menyanggupinya untuk memberi upah sekedarnya itu, berkata dengan lantangnya kepada pemimpin pengawal itu.

“Bapak ..., Bapak telah lanjut usia. Apalagi orang yang dilawan bukan sembarang orang. Karena itu minggirlah. Biarlah aku yang berumur sebaya melawannya, untuk mewakili mereka yang berhati kecil, sekecil hati kelinci, sehingga kehilangan rasa kesetiakawanan mereka. Bahkan ada yang sampai hati menyalahkan gadis ini pula. Tetapi karena aku tidak sepantasnya mempergunakan keris Sigar Penjalin milik seorang sakti ini, baiklah keris ini aku titipkan kepadamu. Janganlah gadis ini diberi kesempatan untuk bunuh diri sebelum kita semua binasa.”

Karena pengaruh perbawa kata-kata Mahesa Jenar itu, maka orang tua itu seolah-olah diluar sadarnya menerima keris Sigar Penjalin. Sementara itu Lawa Ijo rupanya benar- benar tak mau terlibat dalam persoalan ini. Karena itu ia bersikap sebagai seorang penonton saja, yang kemudian malahan perlahan-lahan duduk pada sebuah akar pohon.

Sedang Jaka Soka kini telah sampai pada puncak kemarahannya. Meskipun demikian ia masih ingat pada harga dirinya. Segera pedang kecilnya disarungkan ke dalam tongkat hitam manis, dan melemparkan tongkat itu kepada Lawa Ijo.

“Lawa Ijo, tolong bawakan tongkatku ini,”

Kata Jaka Soka dengan nada geram. Lalu katanya kepada Mahesa Jenar.

“Setan. Kau berani meremehkan aku. Aku harap kau maju bersama-sama, supaya cepat selesai pekerjaanku. Membunuh kalian. Semua. Tak seorang pun akan aku sisakan.”

Segera sesudah itu Jaka Soka bersiap untuk menghancur-lumatkan orang yang telah berani menghinanya. Sementara itu Mahesa Jenar pun telah bersiap pula. Sebab ia tahu benar bahwa lawannya itu adalah orang yang mendapat sebutan Ular Laut yang Ganas dari Nusa Kambangan.

Mereka yang menyaksikan adegan itu, hatinya berdegub, dipenuhi oleh bermacam- macam persoalan. Meskipun ada juga yang merasa tersentuh oleh sindiran Mahesa Jenar, bahwa tak seorang pun diantara mereka yang berani membela gadis yang sedang dalam kesulitan itu. Bahkan ada pula yang mengumpatinya, kecuali para pengawal yang merasa memikul tanggung jawab.

Tetapi tak seorang pun dari mereka yang menaruh setitik harapan kepada perantau yang tolol meskipun berani itu. Bahkan ada yang menganggap kelakuan Mahesa Jenar itu hanya akan menambah kemarahan Jaka Soka, sehingga akan mempercepat kematian mereka tanpa pertimbangan lagi.

Gadis cantik itu sendiri memandang Mahesa Jenar sebagai orang yang aneh. Setelah menyaksikan Mahesa Jenar bersama-sama dengan para pengawal tak dapat memenangkan perkelahian melawan pemuda tampan yang ternyata bernama Jaka Soka itu, tiba-tiba sekarang ia, si perantau itu, ingin melawannya seorang diri.

Disamping perasaan itu, timbul pula suatu perasaan lain yang asing dalam diri gadis itu. Suatu perasaan dimana ia ingin mendapatkan perlindungan dari orang yang aneh itu lebih daripada yang lain-lain, juga lebih daripada para pengawal itu sendiri, meskipun ia tidak tahu apakah orang itu akan dapat melakukannya. Sesaat kemudian, kembali terdengar Jaka Soka menggeram hebat.

“Sebenarnya sayanglah tanganku ini dikotori oleh darah kelinci seperti tampangmu itu. Tetapi karena kau adalah kelinci yang paling tak tahu diri, maka terpaksa aku ingin menguliti tubuhmu.”

Kata-kata itu benar-benar menyeramkan. Tetapi lebih-lebih lagi ketika orang-orang itu melihat tangan Ular Laut itu menjulur dengan dahsyatnya ke arah tulang-tulang iga Mahesa Jenar. Rupanya Jaka Soka yang seakan sedang gila dibakar oleh kemarahannya itu, ingin membunuh lawannya dengan pukulan yang pertama.

Mereka yang menyaksikan gerak Jaka Soka itu tersirat darahnya. Beberapa orang memejamkan matanya, sebab menurut dugaan mereka tulang-tulang iga perantau tolol itu segera akan rontok seluruhnya. Bahkan beberapa orang segera memegangi dada masing- masing, se-olah-olah tulang iga merekalah yang akan lepas berderai-derai.

Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar telah benar-benar siap dan waspada. Sebab ia tahu bahwa lawannya bukanlah lawan biasa, tetapi ia adalah seorang pemuda yang mempunyai nama di kalangan aliran hitam.

Meskipun demikian ia kagum juga melihat kegesitan Ular Laut itu. Melihat serangan yang datang dengan dahsyatnya, segera Mahesa Jenar dengan cepatnya pula mengelak ke samping. Seterusnya ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Karena itu, ketika ia berhasil membebaskan diri dari serangan pertama Jaka Soka, segera ia membuka serangan pula. Sebuah serangan dengan kakinya menyambar perut lawannya.

Tetapi Jaka Soka bukan anak kemarin sore. Ketika ia merasa bahwa serangannya yang pertama gagal, segera ia mengubah sikapnya dan dengan satu gerakan melingkar ia berhasil mengelakkan serangan Mahesa Jenar.

Sebaliknya Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Melihat lawannya menghindar, cepat-cepat ia memotong arah dan tahu-tahu ia sudah berada di muka Jaka Soka kembali, sekaligus menyerang dengan tangkasnya ke arah leher lawannya. Jaka Soka menjadi terperanjat bukan buatan. Apalagi sebelumnya ia memandang orang itu sebagai seorang yang tak berarti meskipun mempunyai cukup keberanian. Dengan demikian kewaspadaannya jadi berkurang.

Karena itu, ketika dengan tak diduganya sama sekali lawannya itu dapat bergerak dengan lincahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri. Mau tidak mau ia harus melawan serangan itu dengan sebuah pertahanan yang rapat, kalau ia tidak mau binasa.

Karena itu terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Mahesa Jenar telah mempergunakan sebagian besar tenaganya, sedangkan Jaka Soka pun telah mengerahkan kekuatannya pula. Akibatnya adalah hebat sekali. Tubuh Mahesa Jenar bergetar hebat dan ia terdorong surut kebelakang. Jaka Soka pun terlempar beberapa depa, dan kemudian meski sudah berusaha, ia tak berhasil menguasai keseimbangan tubuhnya. Sehingga ia jatuh beberapa kali berguling, barulah ia berhasil meloncat tegak kembali.

Mengalami hal ini, dada Jaka Soka serasa akan pecah. Darahnya mendidih dan menggelagak sampai kepala. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa lawannya, yang dalam pandangannya semula tidaklah lebih dari seekor kelinci yang tidak tahu diri itu, ternyata memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya. Karena itu, matanya menjadi semakin menyala.

Tahulah Jaka Soka sekarang, kenapa tadi ia sama sekali tidak berhasil membunuh seorang pun dari para pengawal yang mengeroyoknya. Rupanya orang ini tidak saja kebetulan menubruk kawan-kawannya, melemparnya dengan pasir pada saat tepat tongkatnya hampir menyambar korban, kemudian jatuh bergulingan menimpa beberapa orang yang dadanya hampir rontok oleh tongkatnya. Hal itu pastilah disengaja untuk menyelamatkan para pengawal itu. Sebab ternyata bahwa orang itu mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Mahesa Jenar sendiri terkejut pula mengalami benturan itu. Ternyata tenaga Jaka Soka pun dahsyat, sehingga ia tergetar surut. Dalam hal ini Mahesa Jenar sadar, bahwa Jaka Soka terlalu menganggapnya tak berarti, sehingga apabila Jaka Soka sungguh-sungguh menggempurnya dengan segenap kekuatan dan ilmunya, maka keadaannya pasti akan lain. Bahkan mungkin keadaannya akan berimbang.

Sesaat kemudian, baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar telah mempersiapkan diri kembali untuk memulai perkelahian. Mereka berdua sadar, bahwa kekuatan mereka tidak terpaut banyak. Maka kunci kemenangan dari pertempuran ini terletak dalam kepandaian serta keprigelan mereka membawakan diri dalam keadaan-keadaan yang genting.

Sebentar kemudian perkelahian itu segera mulai kembali dengan sengitnya. Cara berkelahi Jaka Soka itu benar-benar seperti ular. Melingkar, melilit lawannya dan mematuk dengan jari-jarinya demikian dahsyatnya. Geraknya cepat dan licin tak terduga- duga.

Sedangkan Mahesa Jenar bersikap lebih tenang. Ia bertempur seperti seekor banteng yang teguh, kokoh dan tangguh. Ia tidak begitu banyak bergerak, tetapi demikian tubuhnya berkisar, menyambarlah udara maut ber-putar-putar.

Perkelahian itu berlangsung demikian dahsyatnya. Mereka bergerak sambar menyambar diantara pepohonan hutan, sehingga terdengarlah suara berderak batang-batang patah kena sambaran tangan mereka yang keras bagaikan besi.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu telah berlari-lari berpencaran. Sedang dalam otak mereka berkecamuk seribu satu pertanyaan mengenai diri perantau aneh itu. Setelah mereka menyaksikan betapa hebat tenaganya, serta betapa dahsyat caranya bertempur, mereka menjadi kebingungan.

Adanya Jaka Soka diantara mereka, serta munculnya Lawa Ijo dengan tiba-tiba itu saja, telah cukup memeningkan kepala mereka. Apalagi keputusan Jaka Soka untuk membunuh mereka semua, karena mereka menyaksikan perbuatannya, menculik seorang gadis. Dan sekarang, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang lagi, yang semula mereka anggap sama sekali tak berarti, tetapi ternyata dapat mengimbangi ketangkasan Jaka Soka. Karena itu, pastilah akan muncul pula sebuah nama diantara mereka yang akan mengejutkan pula, Nama orang yang mereka sangka perantau tolol itu.

Di saat yang sedemikian tegangnya, dimana berputar-putar udara yang bernafaskan maut, pecahlah fajar di ujung Timur. Cahayanya yang kuning kemerah-merahan melimpah ke persada bumi yang dipenuhi oleh segala macam pertentangan. Pertentangan-pertentangan yang mudah diselesaikan, pertentangan-pertentangan yang sulit diselesaikan, bahkan kadang-kadang terdapat pertentangan-pertentangan yang tak mungkin dipecahkan.

Meskipun cahaya kemerahan itu masih begitu lemah untuk dapat menerangi pedalaman hutan yang lebat, tetapi berkas-berkas cahayanya yang menerobos dedaunan, sedikit banyak telah dapat pula menyibak gelapnya malam, dan mengurangi kepekatan rimba, menggantikan cahaya perapian yang telah terlalu lama padam. Maka makin lama semakin tampak jelaslah dua bayangan yang sedang mati-matian mengadu tenaga itu.

Sementara itu Lawa Ijo telah mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Di dalam hati ia memuji juga keuletan Jaka Soka yang pada akhir tahun ini akan bersama-sama mengadakan semacam pertandingan dengan beberapa orang lainnya, termasuk dirinya.

Diam-diam ia merasa mendapat keuntungan dengan kejadian itu. Sebab dengan demikian ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan Jaka Soka, yang pada akhir tahun ini pasti akan menjadi salah seorang lawannya yang berat. Karena itu sejak pertempuran berkobar, perhatiannya terikat kepada setiap gerak Jaka Soka. Tetapi setelah pertempuran itu berlangsung agak lama, Lawa Ijo menangkap gerak-gerak yang menarik perhatiannya dari lawan Jaka Soka. Maka segera perhatiannya beralih. Gerak orang ini demikian tenang, kokoh dan tangguh. Pastilah ia bukan orang sembarangan. Sesaat kemudian mendadak Lawa Ijo terkejut sekali sampai ia meloncat selangkah ke depan. Matanya dengan tajamnya mengawasi setiap gerak Mahesa Jenar sampai matanya seolah-olah mau meloncat dari kepalanya.

Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu pada gerak-gerak Mahesa Jenar. Gerakan-gerakan yang pernah dilihatnya, bahkan pernah dialami kedahsyatannya. Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, secepat sambaran halilintar, ia meloncat maju ke tengah-tengah arena pertempuran. Sementara itu dengan nyaringnya mulutnya berteriak.

“Jaka Soka, minggirlah!”

Baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar serentak terkejut mendengar seruan itu. Apalagi ketika mereka melihat bahwa Lawa Ijo telah meloncat ke tengah-tengah mereka. Maka sesaat pertempuran itu terhenti, dan tanpa berjanji lebih dahulu, mereka bersama-sama meloncat selangkah surut. Wajah Jaka Soka masih merah membara sebagai ungkapan kemarahan yang menyala di dalam dadanya.

“Lawa Ijo, apalagi yang kau maui dariku sehingga kau hentikan perkelahian ini. Meskipun aku tidak segera dapat membunuh orang yang sombong ini, tetapi aku sudah bertekad untuk melayani sampai berapa hari pun, bahkan bertahun-tahun sampai salah seorang dari kami hancur,” kata Jaka Soka.

“Kau benar Soka, tetapi sudah aku katakan, bahwa daerah ini adalah daerahku, sehingga kaupun harus menurut angger-angger-ku,” sahut Lawa Ijo.

Jaka Soka memandang Lawa Ijo dengan mata yang menyalakan api kemarahan. “Apalagi yang kau kehendaki dariku?” katanya.

“Aku tak menghendaki apa-apa lagi daripadamu, Soka, kecuali serahkan orang ini kepadaku,” jawab Lawa Ijo.

Mata Jaka Soka bertambah berapi-api lagi.

“Lawa Ijo, apakah kau sudah memandang aku sedemikian rendahnya sehingga kau perlu menolong aku?” kata Jaka Soka lagi.

Lawa Ijo mendengus pendek. Sambil menggeleng ia berkata.

“Sama sekali tidak, kawan. Tetapi seperti yang kau katakan tadi, bahwa yang aku hadiahkan kepadamu hanyalah gadis itu saja. Dan sekehendakmulah kalau yang lain-lain akan kau bunuh. Tetapi orang ini tidak. Sebab aku sendirilah yang akan membereskannya.”

Mendengar ucapan Lawa Ijo itu, wajah Jaka Soka menjadi semakin menyala. Giginya gemeretak dan tubuhnya menggigil menahan marah. Dengan suara gemuruh ia menjawab.

“Aku bukan perempuan yang perlu perlindungan laki-laki. Buat apa aku menerima hadiah dari seekor kelelawar busuk seperti tampangmu itu? Lawa Ijo... jangan coba merendahkan aku.”

Meskipun wajah Lawa Ijo nampaknya jauh lebih buas dari wajah Jaka Soka yang tampan itu, namun ternyata kepala Lawa Ijo agak lebih dingin. Karena itu ia sama sekali tidak menunjukkan kegusarannya mendengar kata-kata Jaka Soka itu. Bahkan ia masih menjawab dengan tenang meskipun tampak pula kegarangannya.

“Jaka Soka, aku tidak peduli atas tanggapanmu terhadap permintaanku. Serahkan orang itu kepadaku. Sebab aku mempunyai urusan yang lebih penting dari urusanmu. Urusanku menyangkut nama baik dan harga diri perguruanku, sedang urusanmu hanyalah urusan perempuan itu saja.”

Oleh keterangan Lawa Ijo yang terakhir itu, nyala kemarahan Jaka Soka menjadi surut.

Sedang pancaran matanya yang berapi-api itu pun segera redup dan membayangkan keheranan. Tanyanya kemudian.

“Kau katakan bahwa kau mempunyai urusan dengan orang ini perkara perguruanmu?”

Lawa Ijo mengangguk, Jaka Soka menjadi bertambah heran. Dan tanpa disengaja ia memandang Mahesa Jenar. Baru sekarang ia memperhatikan lawannya itu dengan saksama. Tubuhnya tegap kekar. Dadanya bidang. Meskipun ia berwajah lunak, tetapi pandangan matanya memancarkan kecermelangan pribadinya.

“Pantas bahwa aku tak dapat menjatuhkannya. Siapakah orang ini?” pikir Jaka Soka. Pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Jaka Soka.

Dan sekaligus semua telinga yang berada di sekitar arena itu segera memperhatikan. Sebab pertanyaan yang demikian itu timbul pula di setiap hati orang menyaksikan pertempuran itu. Bahkan diantara mereka telah timbul harapan baru, setelah mereka menyaksikan kridha orang yang mereka anggap tidak lebih dari seorang perantau. Lebih- lebih sepasang suami-istri yang telah merasa terlanjur menyuruh orang itu membawakan beban mereka.

Maka semua perhatian pada saat itu tertambat pada mulut Lawa Ijo yang akan menjawab pertanyaan Jaka Soka. Sementara itu terdengarlah Lawa Ijo tertawa pendek. Kemudian barulah ia menjawab,

“Jaka Soka... jangan kau terkejut kalau aku mengucapkan nama orang ini. Ia adalah orang yang telah membunuh adik seperguruanku kemarin lusa. Watu Gunung. Dan yang tidak akan pernah aku lupakan, orang ini pernah pula melukai bagian dalam dadaku.”

Berdebarlah setiap jantung mereka yang mendengar kata-kata ini. Pastilah orang ini bukan orang sembarangan. Tidak terkecuali Jaka Soka. Sudah sejak lama ia mengenal Lawa Ijo. Dan pernah pula ia berkelahi melawan orang ini. Tetapi tak pernah salah seorang dari mereka berdua dapat mengatasi yang lain. Kalau orang ini pernah melukai Lawa Ijo pastilah ia memiliki kesaktian yang tinggi.

Kemudian terdengarlah Lawa Ijo melanjutkan kata-katanya.

“Sayang bahwa ia tidak bersikap perwira. Ia menyerang aku pada saat aku sedang meloncat turun dari atap gedung perbendaharaan istana Demak.”

Hati Mahesa Jenar melonjak mendengar sindiran Lawa Ijo. Ia sama sekali tak mau menerima keterangan itu. Sebab pada saat ia menyerang Lawa Ijo, ia sedang berusaha untuk melindungi Gadjah Alit yang justru diserang oleh Lawa Ijo dengan sikap yang tidak perwira. Kecuali Lawa Ijo tidak menyerang dari depan, juga pada saat itu Gadjah Alit sedang dikerubut oleh tiga orang. Tetapi meskipun demikian ia tidak merasa perlu melayani fitnah itu. Karena itu ia diam saja.

Dalam pada itu, Jaka Soka pun segera teringat bahwa memang Lawa Ijo pernah bercerita kepadanya, tentang luka yang dideritanya pada saat ia berusaha memasuki gedung perbendaharaan di Demak. Karena itu sebelum Lawa Ijo menyebut nama Mahesa Jenar, ia mendahului berteriak.

“Lawa Ijo, kalau demikian inikah orangnya yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar Rangga Tohjaya yang terkenal itu?”

Mendengar nama itu tergetarlah perasaan mereka yang pernah mengenal kebesarannya. Lebih-lebih para pengawal dan para pedagang yang datang dari pesisir utara. Tetapi dalam pada itu, dalam dada masing-masing terbersitlah semacam harapan baru yang menjadi semakin teguh, bahwa jiwa mereka akan tertolong. Karena itu menjadi semakin besarlah hati mereka. Selain itu para pengawal kemudian telah bersiap pula terjun ke dalam pertempuran seandainya Lawa Ijo dan Jaka Soka akan bersama-sama menyerang Rangga Tohjaya.

Tetapi rupanya Lawa Ijo tidak akan berbuat demikian.

“Jaka Soka, karena itulah aku minta kerelaanmu untuk membuat perhitungan dengan Rangga Tohjaya ini. Sebab aku mempunyai dugaan, bahwa ia pun sedang mencari aku. Maka sebaiknya kami tidak menyia-nyiakan pertemuan ini,” kata Lawa Ijo. Sekarang, setelah mengerti persoalannya, Jaka Soka tidak lagi merasa direndahkan oleh Lawa Ijo. Ia pun menganggap bahwa sikap Lawa Ijo yang demikian itu adalah wajar. Karena itu ia menjawab.

“Sekehendakmulah Lawa Ijo. Sebab daerah ini adalah daerahmu. Tetapi urusan gadis itu akan tetap menjadi urusanku, meskipun aku akan menunggu sampai kau selesai. Kalau kau tak berhasil dalam usahamu untuk membalaskan dendam adikmu, aku akan juga membuat perhitungan dengan orang ini. Sebab ia dengan sengaja telah mempermainkan aku ketika ia bersama-sama dengan para pengawal yang mengerubut aku.”

“Bagus. Sekarang minggirlah,” desis Lawa Ijo.

Sesudah itu maka Lawa Ijo menghadap ke arah Mahesa Jenar. Matanya yang sudah memancarkan kekejaman serta kebengisan itu menjadi bertambah mengerikan.

“Tohjaya, bersiaplah. Aku akan membuat perhitungan,” ujar Lawa Ijo geram.

Mahesa Jenar tak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terkatup rapat, tetapi ia maju beberapa langkah mendekati Lawa Ijo dengan sikap yang meyakinkan dan penuh kepercayaan pada diri sendiri.

Sementara itu langit telah menjadi semakin cerah. Angin pagi yang bertiup lambat- lambat menggoyangkan daun-daun pepohonan dan membuat suara berdesir diantara cabang-cabangnya. Suaranya merintih, seolah-olah suara lagu yang mengiringi ratapan hati setiap orang yang menyaksikan permainan maut antara Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tohjaya dengan Lawa Ijo. Dua orang yang sama-sama terkenal dari aliran yang berlawanan, yang pada saat itu sedang mengadakan perhitungan hutang pihutang nyawa.

Namun betapa moleknya wajah pagi, tak seorang pun yang berada di sekitar arena pertempuran itu sempat memperhatikan. Bahkan tak seekor burung pun di tempat itu yang sempat berkicau menyambut datangnya matahari.

Seperti Jaka Soka, Lawa Ijo pun tak akan merendahkan dirinya melawan Mahesa Jenar dengan mempergunakan senjata. Tetapi setelah ia mengembalikan tongkat hitam Jaka Soka, ia tidak menitipkan belati panjangnya, melainkan dengan kekuatan jari-jarinya, belatinya itu dipatahkan, dan kemudian dilemparkan jauh-jauh. Mau tidak mau, mereka yang menyaksikan pertunjukan itu hatinya terguncang.

Segera setelah itu, maka dengan suatu suitan nyaring, Lawa Ijo mulai menyerang lawannya. Kedua tangannya direntangkan dan jari-jarinya siap merobek tubuh lawannya. Dengan suatu loncatan yang dahsyat, ia menyambar kepala Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar sadar bahwa apabila serangan ini mengenai sasarannya, maka ia yakin bahwa kepalanya akan dapat berlubang sedalam jari. Sebelum ini, Mahesa Jenar pernah bertempur dengan Lawa Ijo, karena itu ia tidak dapat mengira-ngirakan kekuatannya, meskipun ia yakin bahwa selama ini pastilah Lawa Ijo telah mendapat tambahan yang tidak sedikit.

Melihat serangan Lawa Ijo yang dahsyat itu, segera Mahesa Jenar merendahkan dirinya, tetapi sekaligus dengan tangannya ia menyerang perut lawannya dengan empat jari.

Sebenarnya Lawa Ijo sadar bahwa serangannya yang pertama pasti tak akan mengenai sasarannya. Karena itu ia selalu waspada, sehingga ketika ia melihat serangan Mahesa Jenar, dengan tangkasnya pula ia menghindarkan diri. Ia menarik sebelah kakinya ke belakang dan berputar sedikit. Kemudian sambil merendahkan diri ia menghantam tangan Mahesa Jenar dengan sikunya. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau tangannya disakiti. Ia segera menarik serangannya dan mendadak ia meloncat setengah langkah surut, tetapi demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melontarkan dirinya ke samping Lawa Ijo, dan dengan tumitnya ia menghantam lambung.

Lawa Ijo terkejut melihat gerakan ini. Kaki Mahesa Jenar bergerak demikian cepatnya.

Tetapi Lawa Ijo pun mempunyai cukup pengalaman. Segera ia merendah hampir rata tanah, tetapi demikian ia merendah, kakinya secepat kilat menyambar betis Mahesa Jenar.

Sekarang Mahesa Jenar yang berada dalam keadaan yang sulit, selagi satu kakinya terangkat. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cukup tenang, sehingga dalam keadaan yang nampaknya demikian sulitnya ia masih sempat mengelakkan diri. Dengan sebelah kakinya ia menjejak tanah dan meloncat tinggi. Dengan satu gerakan kakinya, Mahesa Jenar dapat mengubah arah, sehingga tubuhnya terjatuh kembali beberapa depa dari lawannya.

Lawa Ijo menjadi marah melihat serangan-serangannya yang dilakukan dengan segenap tenaganya itu sama sekali tak berhasil. Karena itu segera ia pun menyerang kembali dengan dahsyatnya. Tangannya, dengan sepuluh jari yang kokoh bergerak menyambar- nyambar dari segala arah.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu berdiri terpaku seperti patung. Hati mereka terpukau oleh pertunjukan maut yang sedang berlangsung dengan dahsyatnya.

Sebentar-sebentar terdengar suara gemeretak batang-batang kayu yang patah terhantam, baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh Lawa Ijo. Sedang tanah tempat mereka bertempur, seolah-olah telah berubah sedemikian rupa sehingga menjadi bersih dari segala tumbuh- tumbuhan.

Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin hebat. Tampaklah betapa hebatnya mereka berdua. Sampai sekian lama tidak nampak siapakah diantara keduanya yang lebih unggul. Lawa Ijo bertempur dengan penuh dendam akan pembalasan, sedangkan Mahesa Jenar bertempur dengan suatu tekad yang telah bulat pula, melenyapkan kejahatan sampai ke akarnya.

Demikian dahsyatnya pertempuran itu, sehingga waktu berjalan cepat sekali. Dengan tak terasa, matahari telah miring rendah di ufuk barat. Seolah-olah sengaja mempercepat jalannya untuk menghindari kesaksian, bahwa di tengah-tengah hutan Tambak Baya telah terjadi suatu pergulatan maut yang mengerikan.

Daerah pedalaman hutan yang selamanya tak pernah menerima cahaya matahari sepenuhnya itu, kini telah kembali suram. Cahaya matahari yang sudah semakin lemah, tidak mampu lagi menembus sepenuhnya kelebatan daun-daun pepohonan rimba yang liar dan pekat itu. 

Dua orang perkasa yang sedang bertempur mati-matian itu pun nampak tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki ketahanan jasmaniah yang luar biasa. Baik Mahesa Jenar maupun Lawa Ijo memang pernah mengalami pertempuran sampai berhari-hari. Kali ini mereka telah mengerahkan segala tenaga mereka. Setelah hal itu berlangsung hampir sehari penuh, terasalah bahwa kemampuan mereka mulai menurun.

Dalam hal ini, yang lebih merasa gelisah adalah Lawa Ijo. Perasaannya dibebani oleh dendam yang tiada taranya. Sejak dirinya dilukai di halaman Kraton Demak, ia sudah berjanji di dalam hatinya, bahwa pada suatu saat ia harus membinasakan orang yang telah melukainya itu. Ditambah lagi, orang itu pula yang telah membunuh adik seperguruannya.

Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali menghancurlumatkan orang ini.

Tetapi ternyata, setelah sekian lama ia merendam diri serta mencecap ilmu gurunya yang sakti, Pasingsingan, dengan penuh semangat, namun sudah sehari ia bertempur masih belum ada tanda-tandanya bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya, apalagi membinasakan. Karena itu ia menjadi tidak sabar lagi. Tujuannya hanyalah secepat mungkin membinasakan Rangga Tohjaya. Dengan demikian barulah ia merasa puas.

Untuk mencapai maksudnya itu, Lawa ijo meloncat mundur beberapa langkah dari lawannya. Secepat kilat tangannya mengambil sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya. Segera cincin pemberian gurunya itu dikenakan di jari tangan kanannya. Tampaklah bahwa cincin itu bermata batu akik merah menyala. Itulah batu akik yang dinamai Kelabang Sayuta.

Bentuk akik Kelabang Sayuta tidaklah seperti kebiasaan batu-batu akik yang diasah halus, tetapi batu ini permukaannya kasar dan bahkan bergerigi tajam. Mahesa Jenar tertegun melihat lawannya mengenakan cincin. Pasti itu bukan sembarang cincin, tetapi belum lagi ia sadar benar Lawa Ijo telah meloncat menyerangnya dengan garang.

Lawa Ijo telah mengerahkan segenap sisa tenaganya yang terakhir. Mahesa Jenar terkejut diserang secara demikian. Lawa Ijo ternyata tidak lagi mempergunakan perhitungan, melainkan asal saja ia membenturnya. Secepat kilat Mahesa Jenar menghindar ke samping, tetapi seperti orang gila Lawa Ijo menerjangnya kembali, demikian terjadi beberapa kali.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya banyaklah kesempatan bagi Mahesa Jenar untuk memukul Lawa Ijo. Meskipun demikian ia masih belum mempergunakan kesempatan itu, sebab ia masih ingin mengetahui latar belakang dari tindakan-tindakan Lawa Ijo yang aneh itu. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam, seharusnya Lawa Ijo tidaklah kehilangan akal sampai sedemikian itu.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga-duga maksud lawannya. Sebab Lawa Ijo merangsang semakin hebat. Sehingga akhirnya terpaksa Mahesa Jenar melayani pula dengan segenap tenaganya. Maka pertempuran itu menjadi semakin seru dan aneh. Gerak Lawa Ijo menjadi semakin liar dan seolah-olah membabi buta namun tidak kurang pula berbahayanya.

Akhirnya Mahesa Jenar tak dapat lagi menahan dirinya mengalami tekanan yang gila, kasar dan liar itu. Karenanya, ketika ia melihat suatu kesempatan, maka segera ia meloncat maju, dan dengan gerakan yang dahsyat ia menghantam pelipis lawannya. Melihat serangan yang demikian hebatnya, Lawa Ijo sama sekali tak berusaha menghindarkan diri. Memang kesempatan yang demikianlah yang ditunggunya setelah sekian lama ia berusaha membentur tubuh lawannya, tetapi belum berhasil.

Dengan mengerahkan segala sisa tenaganya yang ada, Lawa Ijo melawan dengan sebuah pukulan yang dahsyat pula, menghantam tangan Mahesa Jenar. Maka terjadilah suatu benturan yang mengerikan. Mulutnya menyeringai menahan sakit, seolah-olah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Sendi-sendi tulangnya seakan-akan copot dari sambungannya. Sesaat pandangannya jadi kabur berputar-putar.

Sementara itu mereka yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu, darahnya serasa berhenti mengalir, ketika mereka melihat keadaan Mahesa Jenar. Mereka menyaksikan suatu keadaan yang tak terduga-duga. Pada saat terjadi benturan, tubuh Mahesa Jenar tergetar hebat, sehingga ia terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling pula.

Ketika Mahesa Jenar berusaha untuk meloncat berdiri, tiba-tiba tangan kanannya terasa pedih tak terhingga. Ketika ia mengamati tangan itu, ternyata terdapat sebuah goresan kecil.

Itulah luka akibat batu akik Kelabang Sayuta.!

Seterusnya, tidak hanya rasa perih itu saja, tetapi tiba-tiba mengalirlah rasa dingin yang seakan-akan menjalar menurut peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sehingga tubuhnya menjadi gemetar dan seakan-akan beku. Wajah Mahesa Jenar segera berubah menjadi pucat seputih mayat.

Jaka Soka yang selama itu, dengan enaknya melihat perkelahian itu, menjadi keheran- heranan juga menyaksikan akibat dari benturan itu. Lama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar yang sedemikian gagahnya, yang sudah bertempur hampir sehari penuh, dapat dirobohkan justru pada saat ia menyerang dan dibalas dengan sebuah serangan pula.

Para pengawal rombongan, yang merasa telah mendapat perlindungan dalam melakukan tugasnya, melihat kejadian itu dengan hati yang remuk. Pemimpin pengawal, dengan tidak menghiraukan keselamatan diri, segera meloncat mendekati Mahesa Jenar yang masih terduduk dan menggigil hebat.

Segera pemimpin pengawal itu berjongkok di samping Mahesa Jenar sambil meraba- raba tangannya. Tetapi ketika ia menyentuh tangan Mahesa Jenar itu, alangkah terperanjatnya. Tangan itu dingin seperti beku dan di beberapa tempat tampaklah semacam bisul-bisul yang baru tumbuh. Segera pemimpin pengawal yang tua dan berpengalaman itu mengetahui bahwa tubuh Mahesa Jenar telah terkena racun yang mengerikan. Maka segera ia dapat memastikan bahwa racun ini pasti berasal dari cincin yang dipakai oleh Lawa Ijo, yang bermata batu akik merah menyala, yang bernama Kelabang Sayuta.

Sejenak kemudian Lawa Ijo perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Meskipun masih agak pening, ia sudah dapat berdiri tegak. Maka ketika ia melihat Mahesa Jenar terduduk di tanah dengan wajah yang pucat, ia menjadi bergembira. Dan tiba-tiba terdengarlah suara tertawanya yang menakutkan seperti suara hantu yang memanggil- manggil dari lubang kubur.

Semua yang mendengar suara itu tegaklah bulu romanya. Kekalahan Mahesa Jenar berarti nyawa mereka akan lenyap. Sebab Jaka Soka telah mengambil keputusan untuk menghilangkan jejak penculiknya.

Hati pengawal tua yang menahan tubuh Mahesa Jenar yang lemas itu, juga berdebar. Ia menjadi sangat sedih. Bukan karena takut menghadapi kematian yang sudah membayang di matanya, tetapi hatinya menjadi pedih sekali bahwa kemungkinan besar jiwa Mahesa Jenar, seorang pahlawan yang tanpa menghiraukan dirinya sendiri telah berusaha menyelamatkan rombongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya, tak akan tertolong lagi. Lebih-lebih ketika diingatnya bahwa Lawa Ijo telah melakukan perbuatan yang curang dan keji, dengan mempergunakan racun yang keras sekali untuk menumbangkan lawannya.

Maka hati pengawal tua itu serasa menyala dibakar oleh kemarahan. Ia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai mati. Seperti serangga menjelang api. Tetapi ketika ia akan bangkit dan melawan dengan mengamuk sejadi-jadinya, tiba-tiba terasa hawa yang hangat mengalir dalam tubuh Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut, tetapi ia tetap menahan dirinya. Hawa yang hangat itu ternyata mengalir semakin deras dan bahkan hampir mencapai titik panas tubuh yang wajar.

Timbullah berbagai pertanyaan dalam dirinya. Apakah yang akan terjadi dengan Mahesa Jenar ini? Sebentar kemudian bahkan panas itu dengan cepat naik melampaui batas panas tubuh yang biasa. Hal ini menjadikan pengawal tua itu semakin bingung. Apalagi sampai sekian lama Mahesa Jenar sendiri seolah-olah pingsan dan tidak bergerak sama sekali.

Memang Mahesa Jenar pada saat itu sedang kehilangan tenaga. Batu akik Kelabang Sayuta itu mempunyai kekuatan mirip dengan bekerjanya racun. Bahkan hampir sekuat racun bisa ular Gundala Wereng. Sehingga tubuh yang dikenainya, meskipun hanya segores kecil, akan menjadi bengkak-bengkak seperti ditumbuhi oleh beribu-ribu bisul. Kemudian tubuh itu akan lemas dan mengalami kelumpuhan menyeluruh, dan akhirnya disusul dengan kematian, dalam waktu yang singkat.

Ketika kekuatan akik Kelabang Sayuta itu sedang bekerja didalam tubuh Mahesa Jenar dengan mengikuti peredaran darah, tiba-tiba terjadilah suatu benturan yang dahsyat di dalam tubuh itu. Sebab pada saat itu, ketika tersentuh rangsangan dari luar, bisa ular Gundala Seta yang ada dalam tubuhnya mulai bekerja pula. Dalam pergolakan itu timbullah panas, sehingga tubuh Mahesa Jenar menjadi melampaui titik panas yang wajar.

Bisa ular Gundala Seta mempunyai kasiat yang luar biasa. Lebih-lebih ular ini adalah senjata Wisnu untuk melawan Kala, lambang dari keangkaramurkaan. Maka sedikit demi sedikit bisa ular Gundala Seta yang memang sudah ada di dalam tubuh Mahesa Jenar itu mendesak lawannya, menawar racun akik Kelabang Sayuta. Dengan demikian tubuh Mahesa Jenar menjadi berangsur-angsur baik kembali.

Meskipun demikian Mahesa Jenar adalah orang yang cerdik. Ia tidak segera menunjukkan keadaan itu. Sebab apabila sampai diketahui bahwa ia berangsur-angsur baik, tidak mustahil Lawa Ijo akan segera bertindak. Membinasakannya sekaligus.

Dalam hal yang demikian ia masih saja berpura-pura tidak sadarkan diri dan membiarkan tubuhnya ditahan oleh pengawal tua itu.

Lawa Ijo, dengan dada menengadah, memandang tubuh Mahesa Jenar. Matanya memancarkan kepuasan hatinya. Ia tertawa berkepanjangan sampai Jaka Soka membentaknya.

“Hai Kelelawar Hijau yang busuk.Jangan kau tertawa demikian. Aku bisa jadi pening mendengar suaramu yang memuakkan itu.”

Tetapi Lawa Ijo sama sekali tak mendengarnya. Ia sedang menikmati kemenangannya.

“Soka, lihatlah.... Orang ini yang diagung-agungkan oleh prajurit Demak. Di sini ia menjumpai kematian sedemikian nistanya. Dan tak seorang pun akan sempat menguburnya. Apalagi dengan suatu upacara keprajuritan, diiringi dengan tunggul- tunggul dan panji-panji. Sebab orang-orang lain pun segera akan mengalami nasib yang sama karena tanganmu,” kata Lawa Ijo.

Jaka Soka merasa diperingatkan akan tugasnya. Segera ia pun tersenyum aneh, sedangkan matanya yang redup membayangkan tuntutan maut yang mengerikan.

“Bagus, Lawa Ijo. Kita akan sama-sama menikmati kemenangan. Dan tak seorang pun dapat menahan aku membawa gadis cantik itu pulang ke Nusa Kambangan,” jawab Jaka Soka.

Tetapi sebentar kemudian, kepuasan mereka dipecahkan oleh suatu kenyataan yang sangat aneh bagi Lawa Ijo. Tak pernah seorang pun yang dapat melepaskan diri dari kematian, apabila tubuhnya tergores sedikit saja oleh aji Klabang Sayuta. Tetapi apa yang disaksikan sekarang adalah sama sekali tidak masuk akal.

Demikianlah ketika Mahesa Jenar merasa bahwa tubuhnya telah pulih kembali, segera dengan kecepatan gerak laksana kilat menyambar, ia meloncat, dan tahu-tahu ia sudah berdiri dihadapan Lawa Ijo. Semua yang menyaksikan hatinya tercekam, seperti melihat mayat yang bangun dari kubur. Bahkan mereka seolah-olah melihat diri mereka sendirilah yang karena pertolongan Tuhan Yang Maha Esa telah dibebaskan dari daerah mati.

Mahesa Jenar disamping rasa sukur yang tak terhingga, bahwa lantaran sahabat karibnya, Kiai Ageng Sela, ia telah menerima anugerah dari Allah SWT yang telah membebaskannya dari pengaruh segala macam bisa. Namun ia juga menjadi marah bukan kepalang kepada Lawa Ijo.

Ternyata Lawa Ijo yang telah mematahkan pedangnya sendiri dengan jari-jari sewaktu perkelahian akan dimulai, bukanlah benar-benar seorang jantan. Seperti juga Watu Gunung, Lawa Ijo sama sekali tidak memperhatikan sikap kejujuran dalam segala masalah.

Wajah Mahesa Jenar berubah menjadi merah membara. Mulutnya terkatub rapat, tetapi giginya gemeretak. Terhadap orang-orang yang demikian, tidak lagi ada sikap yang manis.

Maka karena marahnya yang meluap-luap, Mahesa Jenar tidak lagi dapat mengendalikan dirinya sendiri. Sebelum Lawa Ijo sadar terhadap kejadian itu, Mahesa Jenar telah mengangkat satu kakinya yang ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Secepat kilat Mahesa Jenar meloncat maju, dan dengan sedikit merendahkan diri ia menghantam lambung lawannya dengan ilmunya yang terkenal, Sasra Birawa.

Lawa Ijo melihat segala gerak-gerik lawannya seperti dalam mimpi. Ia baru sadar ketika tiba-tiba dilihatnya Mahesa Jenar meloncat dekat sekali di hadapannya, dan tangannya melayang ke arah lambungnya. Tetapi segala sesuatunya telah terlambat. Terkena pukulan sisi telapak tangan Mahesa Jenar yang dilambari ilmu Sasra Birawa itu rasanya bagaikan tertimpa seribu gunung yang runtuh bersama-sama.

Demikian Lawa Ijo merasakan kedahsyatan Sasra Birawa, pandangannya terlempar dengan derasnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya mengarah tepat ke sebatang pohon raksasa yang berdiri kokoh kuat bagai benteng baja.

Mereka yang menyaksikan peristiwa itu menjadi bingung. Mereka tidak dapat mengerti perasaan apa yang berkecamuk di kepalanya, seolah-olah terlepas dari kesadaran diri. Sebab kejadian yang dilihatnya itu adalah hal yang tak dapat dibayangkan bisa terjadi.

Tetapi belum lagi tersadar, telah disusul pula oleh suatu peristiwa yang lain, yang tidak dapat mereka mengerti pula. Beberapa orang menjadi sedemikian bingungnya sehingga pingsan.

Tubuh Lawa Ijo yang melayang demikian derasnya dan hampir-hampir membentur sebatang pohon raksasa itu, tahu-tahu sudah berada dalam dukungan seorang yang berjubah abu-abu. Tak seorang pun tahu dari mana dan kapan ia datang. Wajah orang itu sama sekali tidak tampak, karena ia mengenakan topeng yang buatannya kasar dan jelek, semua orang memandang orang berjubah itu dengan tubuh gemetar.

Dalam pada itu, tiba-tiba Jaka Soka segera melangkah maju dan dengan hormatnya. “Paman Pasingsingan, aku menyampaikan hormat setinggi-tingginya!”

Kata Jaka Soka kepada orang berjubah itu.

Pasingsingan. Nama itu mendengung kembali di telinga Mahesa Jenar. Inilah rupanya Guru Lawa Ijo yang telah datang untuk menolong muridnya. Maka mau tidak mau hatinya tercekam pula.

Ia pernah mendengar kesaktian orang ini dari gurunya. Dan sekarang, ia telah berhadap- hadapan dengan orang itu dalam keadaan yang tak menguntungkan.

“Rangga Tohjaya....” Tiba-tiba terdengar Pasingsingan berkata, tanpa menghiraukan salam Jaka Soka. Suaranya berat, dalam dan tak begitu jelas seperti bergulung dalam perutnya, karena pengaruh topeng yang dipakainya itu.

“Untunglah Lawa Ijo bukan sembarang orang, sehingga meskipun ia terluka parah, tetapi aku yakin bahwa ia masih akan dapat hidup,” sambung Pasingsingan.

Orang itu berhenti sejenak. Matanya yang berada dibalik topengnya itu memandang Mahesa Jenar dengan tajamnya.

“Hal itu adalah karena pertolonganku. Kalau tidak, ia pasti sudah binasa terbentur pohon ini. Karena itu, kau aku anggap telah melakukan pembunuhan atas muridku,” lanjut Pasingsingan.

Kembali hati Mahesa Jenar melonjak. Ia tahu apa arti kata-kata itu. Dalam hal yang demikian, tiba-tiba ia teringat kepada almarhum kedua gurunya yang merupakan angkatan yang sama dengan Pasingsingan itu. Kalau saja mereka masih ada, pasti mereka tidak akan membiarkannya berhadap-hadapan sendiri. Tetapi sekarang ia seorang diri menghadapinya.

Sebagai seorang prajurit pastilah Mahesa Jenar tidak selalu menggantungkan dirinya kepada orang lain. Karena itu, meskipun ia tahu, bahwa kekuatannya tak seimbang, ia bertekad untuk melawan mati-matian. Maka segera kembali ia memusatkan pikiran, mengatur jalan pernafasannya dan mengumpulkan segala tenaganya pada sisi telapak tangannya, meskipun ia belum bersikap.

Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan mendengus lewat hidungnya.

“Hem..., kalau Sasra Birawa itu gurumu yang mempergunakan, barangkali aku harus berpikir bagaimana menghindarinya. Tetapi kalau hanya kau yang akan mencobakan pada tubuhku, barangkali sebaiknya aku menyediakan diri sebelum aku membunuhmu!”

Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, mau tidak mau hati Mahesa Jenar bergetar hebat. Bukan karena ia takut mati. Tetapi kematian yang demikian pada saat ia diperlukan untuk melindungi suatu rombongan yang akan binasa, adalah sayang sekali.

Tetapi apa boleh buat.

Sementara itu tampaklah Pasingsingan bergerak maju. Ia selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar tanpa meletakkan Lawa Ijo dari dukungannya.

“Tohjaya, kau adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan kau telah beruntung mewarisi ilmu saktinya Sasra Birawa. Karena itu lawanlah aku. Supaya kau mati dengan tangan merentang, bukan mati sebagai seekor lembu yang disembelih,” kata Pasingsingan.

Mahesa Jenar yang sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada mati, kini seperti sudah tidak mempunyai perasaan lagi. Tak perlu lagi ada pertimbangan-pertimbangan lain. Maka segera ia pun bersiap untuk menerjang lawannya, menjelang saat matinya. Sementara itu Pasingsingan berdiri dengan acuh tak acuh saja seperti tidak akan terjadi sesuatu atas dirinya.

Orang-orang lain yang berada di situ, sudah seperti orang linglung yang tak tahu apa- apa. Perasaan mereka sudah terbanting-banting beberapa kali sampai hancur.

Meskipun ada diantara mereka yang matanya terbuka dan seolah-olah memandang Mahesa Jenar dan Pasingsingan berganti-ganti, tetapi mereka tidak mengerti tentang apa yang dilihatnya. Mereka tidak lagi dapat membayangkan, bahwa sebentar lagi Pasingsingan akan dapat berbuat sekehendaknya atas Mahesa Jenar tanpa ada yang dapat merintanginya. Tetapi sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh suara berdentangnya orang menebang pohon. Ini adalah suatu keanehan baru, sesudah bertubi-tubi terjadi peristiwa-peristiwa yang aneh berturut-turut.

Pada saat itu, meskipun matahari belum tenggelam, tetapi sinarnya sudah demikian lemahnya sehingga tidak dapat lagi menembus rimbunnya daun-daun pepohonan rimba, sehingga di dalam hutan itu sudah menjadi agak gelap. Pada saat yang demikian, tidaklah biasa seseorang menebang pohon.

Apalagi di tengah hutan Tambakbaya. Orang-orang yang mencari kayu, baik kayu bakar maupun untuk perumahan, tidak akan menebang kayu di tengah rimba yang demikian lebatnya. Lebih-lebih tidak jauh dari tempat itu, baru saja terjadi pertarungan yang dahsyat antara Mahesa Jenar dan Lawa Ijo. Berkali-kali terdengar Lawa Ijo bersuit atau berteriak nyaring. Mustahil kalau suara-suara itu tak didengarnya.

Tetapi ternyata suara itu terus terdengar. Bahkan semakin lama semakin jelas. Makin nyatalah, bahwa sumber suara itu tidak begitu jauh. Yang lebih mengherankan lagi, suara berdentangnya pohon yang ditebang itu, bagaikan nada-nada lagu yang mempesona.

Rupanya Pasingsingan heran juga mendengar suara itu. Diangkatnya wajahnya yang terlindung dibalik topengnya dan tampaklah ia mendengarkan suara itu dengan saksama. Dalam keadaan yang demikian, suasana berubah menjadi sunyi. Suara berdentangnya pohon ditebang itu menjadi bertambah jelas seakan-akan memenuhi seluruh rimba. Gemanya bersahut-sahutan disegala arah sehingga amat sulitlah untuk mengetahui dengan pasti sumber suara itu.

Sebentar kemudian suara itu menjadi agak kendor dan semakin perlahan-lahan pula. Tetapi sementara itu disusullah dengan mendengungnya suara baru yang juga seharusnya tak mungkin terjadi.

Di tengah-tengah rimba yang liar pekat, dan yang diliputi oleh suasana perkelahian dan hawa pembunuhan itu, menggemalah sebuah lagu. Dandanggula yang diungkapkan oleh sebuah suara yang indah. Lagu itu sedemikian mempesona, sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi lupa akan segala-galanya kecuali lagu itu sendiri.

Jaka Soka dan Mahesa Jenar adalah orang yang cukup masak. Tetapi meskipun demikian tampak juga bahwa mereka dihinggapi oleh perasaan-perasaan yang aneh. Dandanggula itu terdengar begitu jelas sehingga kata demi kata dapat dimengerti dengan baik. Bunyi syair dari tembang itu adalah:

Lir sarkara, wasianing jalmi Ambudiya budining sasatnya Memayu yu buwanane, Ing reh hardaning awruh, Wruhing karsa kang ambeg asih, Sih pigunane karya, mBrasta ambeg dudu, Mengenep enging cipta, Wruh unggayaning tindak kang ala lan becik, Memuji tyas raharja (Kusw)

Tak seorang pun yang mengetahui tanggapan Pasingsingan atas lagu itu dengan pasti, sebab wajah orang itu tertutup oleh kedok. Tetapi melihat sikapnya, ia sama sekali tidak senang mendengarnya, meskipun lagu itu dibawakan oleh suara yang merdu dan syairnya mengandung nasihat yang baik. Sebagaimana seseorang harus berusaha menyelamatkan dunia ini dengan banyak memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang luas tentang cinta manusia untuk memberantas kejahatan. Serta dengan mengendapkan cipta untuk mengetahui batas antara baik dan buruk. Disertai doa kepada ALLAH SWT untuk kebahagiaan.

Kemudian malahan Pasingsingan menjadi gelisah ketika ia mendengar lagu itu diulang kembali, akhirnya, tiba-tiba ia berputar menghadap ke utara dan dengan garangnya ia menggeram. Sedang kata-katanya sangat mengejutkan mereka yang mendengarnya, seperti halilintar meledak di atas kepala masing-masing. Termasuk Mahesa Jenar dan Jaka Soka.

”Setan tua...! Apa maksudmu mengganggu urusanku? Baiklah. Hanya sayang kali ini aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Karena itu lain kali aku akan menemuimu, kalau aku tidak sedang membawa beban seperti kali ini. Sampai ketemu Pandan Alas!”

Kata Pasingsingan, setelah itu tanpa diketahui arahnya, tahu-tahu Pasingsingan telah lenyap dari pandangan mereka beserta Lawa Ijo.

Lenyapnya Pasingsingan itu tidak begitu menarik perhatian Mahesa Jenar dan Jaka Soka. Seperti berjanji, mereka setelah mendengar nama Pandan Alas, segera meloncat ke utara, kearah mana Pasingsingan tadi menghadap. Mereka menduga, bahwa dari sanalah sumber suara tadi datangnya. Sebab kebetulan Mahesa Jenar dan Jaka Soka berbareng ingin melihat wajah orang aneh itu.

Tetapi setelah agak jauh mereka menyusup, yang mereka temui hanyalah bekas luka pada pokok sebuah pohon raksasa. Meskipun mereka hanya menemui bekasnya saja, namun telah cukup menggetarkan hati mereka. Sebab menurut pendengaran mereka, waktu Ki Ageng Pandan Alas menebang pohon itu hanyalah sebentar saja, sedang yang mereka lihat bekasnya adalah luar biasa.

Sebatang pohon raksasa yang besarnya lebih dari empat pemeluk, ternyata telah luka hampir separonya. Sedang tatal kayu bekas tebangan itu, berbongkah-bongkah hampir sebesar kepala anjing. Sungguh mengagumkan. Apalagi ketika disamping pohon itu, yang mereka ketemukan hanyalah sebuah kampak kuno dari batu, yang diikat pada setangkai dahan basah sebagai pegangannya.

”Luar biasa,” desis Jaka Soka.

Mahesa Jenar mengangguk mengiakan.

”Aku tidak dapat mengira kekuatan apa yang telah membantu orang itu, sehingga ia dapat berbuat sedemikian mengagumkan.” Jaka Soka tidak menjawab. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Akhirnya setelah dipertimbangkan bolak-balik ia mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu serta mengurungkan maksudnya menculik gadis yang memiliki keris Sigar Penjalin milik Ki Ageng Pandan Alas.

”Mahesa Jenar, ternyata aku salah duga kepadamu. Karena itu baiklah kali ini aku mengaku kalah dan mengurungkan niatku menculik gadis cantik itu. Aku merasa bersyukur, bahwa kau tidak mempergunakan ilmumu yang menurut Paman Pasingsingan disebut Sasra Birawa, ketika melawan aku. Kalau demikian halnya, maka aku kira aku pun akan jadi lumat. Juga benar apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo, bahwa Pandan Alas benar-benar berada di segala tempat. Sekarang baiklah aku pergi dulu. Sampai lain kali,” kata Jaka Soka kepada Mahesa Jenar.

Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera dengan lincahnya Jaka Soka alias Ular Laut yang terkenal sebagai bajak laut yang bengis itu meloncat dan lenyap diantara lebatnya hutan.

Tinggallah kini Mahesa Jenar seorang diri. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah dan persoalan. Tetapi yang penting adalah mengatur rombongan itu kembali. Dan kemudian membicarakan kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut.

Ketika Mahesa Jenar sampai di tempat rombongan, ia melihat bahwa beberapa orang telah tampak mulai agak tenang kembali. Terutama para pengawal. Malahan ada diantaranya yang sudah dapat mengatur barang-barangnya. Meskipun demikian mereka masih saja nampak ketakutan. Ternyata ketika mereka mendengar gemerisik daun yang disebakkan oleh Mahesa Jenar, mereka masih terkejut juga. Tetapi ketika mereka melihat, bahwa yang datang adalah Mahesa Jenar, perasaan mereka nampak lega. Malahan ada yang berlari-lari menyambut dan langsung berjongkok dan menyembahnya. Terutama sepasang suami-istri yang telah minta kepadanya untuk membawa bebannya. Kedua orang itu menyembah sambil menangis minta diampuni.

Segera Mahesa Jenar pun menenangkan mereka, serta segera minta agar para pengawal menyalakan api. Sebentar kemudian beberapa orang telah mengumpulkan kayu, serta apipun segera dinyalakan.

Mereka, seluruh anggota rombongan, telah duduk mengelilingi api yang menyala-nyala dan menjilat-jilat ke udara. Daun-daun di atas nyala api itu bergerak-gerak seperti menggapai-gapai kepanasan. Malam pun segera turun dengan cepatnya. Pepohonan serta dedaunan nampak seperti diselimuti oleh warna yang hitam kelam. Di sana-sini mulai terdengar kembali suara-suara binatang malam.

Pada wajah-wajah di sekeliling api itu, masih menggores rasa cemas dan takut.

Kejadian-kejadian siang tadi sangat berkesan di hati mereka. Pertarungan-pertarungan dahsyat dan kejadian-kejadian yang aneh terjadi berturut-turut seperti peristiwa-peristiwa dalam mimpi yang menakutkan, terutama gadis cantik yang hampir-hampir saja menjadi sumber bencana. Ia masih saja merasa bahwa dirinya bersalah sehingga rombongan itu mengalami kekacauan, ia, bahkan hampir dimusnahkan, kalau tidak secara kebetulan ada seorang perkasa yang melindunginya. Karena itu ia masih saja belum berani memandang wajah-wajah kawan seperjalanannya.

Sejenak kemudian, kesepian itu dipecahkan oleh Mahesa Jenar yang berkata kepada orang-orang dalam rombongan itu.

“Kawan-kawan, bahaya tidak lagi bakal datang, setidak-tidaknya malam ini. Karena itu tenanglah dan beristirahatlah. Aku kira kalian sehari penuh masih belum juga makan. Sekarang kesempatan itu ada. Sesudah itu kalian bisa tidur nyenyak seperti tadi malam.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, mereka serentak diperingatkan oleh rasa lapar yang semula tak dihiraukan. Segera diantara mereka membuka bekal-bekal mereka, tetapi tidak sedikit diantara anggota rombongan itu yang sudah tidak punya rasa lapar lagi. Juga sesudah itu, tak seorang pun yang dapat merasa kantuk.

Sejenak kemudian mulailah Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, tentang bagaimana baiknya rombongan tersebut.

Menurut pendapat Mahesa Jenar, sebaiknya rombongan itu tidak meneruskan perjalanan. Sebab kalau pada langkah pertamanya mereka sudah menemui kesulitan, kelanjutannya pun akan tidak menguntungkan.

Kemungkinan-kemungkinan yang tak menguntungkan adalah banyak sekali. Lawa Ijo, terang, bahwa ia tidak berdiri sendiri. Ia adalah seorang pemimpin dari sebuah gerombolan yang cukup besar. Hanya sekarang gerombolan itu seakan-akan sedang dibekukan. Tetapi, kalau sampai mereka mendengar, bahwa kepala mereka dilukai, mereka pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu, selagi masih ada waktu, sebaiknya rombongan itu besok pagi berangkat kembali ke tempat semula.

Tak seorang pun diantara mereka yang dapat menolak pendapat ini. Memang pada umumnya mereka telah dihinggapi perasaan takut yang luar biasa. Untunglah, bahwa pada saat itu datang Mahesa Jenar menolong mereka. Kalau tidak, mereka pasti sudah jadi bangkai.

Tetapi dalam suasana yang demikian, mendadak gadis cantik yang merasa dirinya bersalah, berkata kepada Mahesa Jenar.

“Tuan, aku terpaksa tidak dapat menerima saran Tuan untuk kembali. Sebab aku memang tidak punya tempat untuk kembali. Tetapi aku juga tidak dapat memaksa rombongan ini berjalan terus. Karena itu, baiklah kalau rombongan ini berjalan kembali dengan para pengawal, aku akan berjalan sendiri melanjutkan perjalanan ke Pliridan. Hanya sebagai bekal perjalanan, aku minta kerisku tadi dikembalikan kepadaku. Sebab kalau aku bertemu seorang seperti pemuda yang akan menculik aku, sebaiknyalah kalau aku bunuh diri.” Gadis itu mengucapkan kata-katanya dengan mata sayu diwarnai oleh hatinya yang putus asa. Ia merasa tidak berhak lagi berkumpul dengan orang-orang serombongannya. Sebab ia telah merasa berbuat kesalahan yang tak termaafkan.

Mahesa Jenar dan beberapa orang tampak mengerutkan keningnya. Memang dalam keadaan terjepit, ada diantara mereka yang sampai hati mengumpati gadis itu. Tetapi dalam keadaan yang demikian, timbul pulalah perasaan iba terhadapnya.

Gadis itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Matanya yang bulat, nampak mengambang air mata yang ditahan sekuat-kuatnya, tak ada jalan buat kembali, ujarnya lirih, dalam kata-kata itu, ternyata bahwa ada sesuatu rahasia yang menyelubungi diri gadis itu. 

Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang diri gadis itu, yang sampai saat itu masih belum dikenal namanya.

“Siapakah sebenarnya kau ini? Serta apakah hubunganmu dengan Ki Ageng Pandan Alas?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

Gadis itu mengangkat mukanya sedikit. Lalu jawabnya.

“Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak mengenal siapakah Ki Ageng Pandan Alas itu. Kalau aku memiliki keris yang tuan hubungkan dengan nama Pandan Alas, adalah diluar pengetahuanku. Aku menerima keris itu dari almarhum ibuku, sedangkan ibu menerimanya dari kakek. Seorang petani miskin yang sedang merantau mencari daerah baru, dan sekarang menurut almarhum ibuku, kakek itu tinggal di daerah Pliridan. Dan sama sekali tak bernama Pandan Alas, tetapi bernama Ki Santanu, sedangkan aku sendiri dinamai oleh ayahku, Rara Wilis”

Mahesa Jenar mendengarkan jawaban gadis yang bernama Rara Wilis itu dengan seksama, pengakuannya, bahwa ia sama sekali tak mengenal Ki Ageng Pandan Alas semakin menarik perhatian Mahesa Jenar. Mendadak berkilatlah dalam hatinya, suatu keinginan untuk mengetahui rahasia yang menyelubungi gadis itu. Sehingga berkatalah Mahesa Jenar.

“Bapak-bapak para pengawal, serta saudara-saudara seperjalanan. Barangkali aku mempunyai suatu cara yang dapat memenuhi kehendak kalian. Sebaiknya kalian kembali dengan para pengawal, mungkin tak akan banyak menemui halangan, sedangkan gadis ini, yang berkeras hendak melanjutkan perjalanan dan menemui kakeknya, biarlah aku antarkan saja. Sebab perjalanan ke Pliridan bukanlah suatu pekerjaan yang ringan”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu melonjaklah kegirangan di hati Rara Wilis. Tiba-tiba matanya yang berkaca-kaca itu jadi berkilat-kilat. Tetapi sebentar kemudian kembali perasaan kegadisannya menguasai dirinya, sehingga wajahnya jadi kemerah- merahan, serta kembali ia menundukkan mukanya.

Mahesa Jenar pun menangkap perubahan wajah Rara Wilis. Dan tidak disadarinya hatinya pun bergoncang. Sebaliknya beberapa orang lain menjadi kecewa mendengar keputusan Mahesa Jenar untuk tidak menyertai mereka kembali. Sebab bersama sama dengan Mahesa Jenar, mereka semua merasa bahwa keamanan mereka terjamin.

Sementara itu kembali Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, serta memberi petunjuk mengenai beberapa kemungkinan. Sehingga akhirnya terdapat suatu keputusan, bahwa mereka semuanya akan kembali dengan para pengawal, sedangkan Mahesa Jenar sendiri akan mengantar Rara Wilis sampai ke Pliridan.

Demikianlah pada malam itu hampir tak seorang pun dapat tidur, kecuali beberapa orang, karena lelah lahir dan batin, seakan-akan terlena sambil bersandar di pokok pepohonan. Berbeda dengan siang tadi, dimana hari seakan-akan berlari demikian cepatnya, malam itu rasa-rasanya tak bergerak. Suara binatang malam, serta desiran angin rimba terasa sangat menjemukan dan menakutkan. Mereka semua mengharap agar malam lekas berakhir. Sehingga cepat-cepat mereka dapat pergi meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Baru setelah mereka mengalami kejemuan yang luar biasa, terdengar ayam rimba berkokok bersahut-sahutan. Dari celah-celah kelebatan dedaunan hutan, tampaklah membayang warna merah di langit. Segera orang-orang itu semua mengatur barang- barangnya dan menyiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang berlawanan dengan yang ditempuhnya kemarin, kecuali Rara Wilis yang setelah menerima kembali kerisnya akan melanjutkan perjalanannya ke Pliridan, diantar oleh Mahesa Jenar sendiri.

Maka setelah semuanya bersiap, serta setelah para pengawal dan mereka yang mengadakan perjalanan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada Mahesa Jenar, mulailah mereka berangkat kembali. Di depan sendiri berjalan pengawal tua itu dengan senjata di tangan. Baru setelah rombongan itu lenyap dibalik pepohonan, Rara Wilis beserta Mahesa Jenar pun berangkat melanjutkan perjalanan ke barat, ke daerah Pliridan.

Di perjalanan, tidak banyak yang mereka percakapkan, kecuali apabila Mahesa Jenar memandang perlu untuk memberitahukan tempat-tempat berbahaya atau binatang binatang berbisa.

Tetapi perjalanan Mahesa Jenar sekarang bertambah laju, karena tidak harus bersama- sama dengan rombongan yang besar. Sekali dua kali Mahesa Jenar pun harus berlaku seperti pemimpin rombongan pengawal, menuntun bahkan menggendong Rara Wilis apabila jalan sangat sulit, meskipun keduanya agak segan-segan. Tetapi terpaksalah hal itu dilakukan. Sebab memang sekali dua kali mereka menjumpai rintangan yang berat.

Demikianlah mereka berjalan terus seakan-akan tak mengenal lelah. Bagi Rara Wilis, perjalanan ini, meskipun melewati daerah hutan yang tak kalah liarnya dengan yang ditempuh kemarin, tetapi rasanya tidak begitu berat. Bahkan setelah lebih dari setengah hari ia berjalan, sama-sekali tak terasa lelah olehnya, haus ataupun lapar.

Perjalanan yang begitu sulit itu bagaikan sebuah tamasya, diantara kehijauan ladang serta keindahan taman. Gemerisik daun kering yang dilemparkan oleh angin, terdengar merdu. Rara Wilis sendiri tidak begitu menyadari, kenapa hatinya menjadi sedemikian bening dan cerah.

Tidak banyak hal yang mereka temui di perjalanan. Ketika malam datang, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Setelah rumput-rumput liar di bawah pohon itu dibersihkan, segera Rara Wilis merentangkan tikarnya, sedangkan Mahesa Jenar mengumpulkan kayu dan kemudian menyalakan api.

Malam itu pun dilampauinya dengan tak ada sesuatu yang terjadi. Pagi-pagi setelah mereka mempersiapkan diri, segera perjalanan pun dilanjutkan.

Perjalanan itu masih harus melampaui satu malam lagi. Maka pada hari ketiga itu, Rara Wilis serta Mahesa Jenar menempuh perjalanan yang terakhir untuk mencapai daerah Pliridan.

Matahari telah miring ke barat, hutan Tambakbaya semakin lama semakin bertambah tipis. Pepohonan tidak lagi selebat dan liar seperti daerah pedalaman. Sementara itu terasa debaran jantung yang aneh dalam dada Rara Wilis. Telah lebih sepuluh tahun ia tak berjumpa dengan kakeknya. Sekarang, ia ingin mencarinya di daerah yang tak dikenalnya.

Sebentar kemudian mereka telah sampai pada perbatasan hutan. Di depan mereka tinggallah beberapa grumbul kecil yang tidak begitu berarti.

“Inilah daerah Pliridan,” gumam Mahesa Jenar hampir kepada dirinya sendiri.

Mendengar ucapan Mahesa Jenar, Rara Wilis yang berjalan di depan jadi terhenti. Beberapa macam perasaan bercampur aduk di otaknya. Sekali ia menarik nafas panjang. Alangkah lega hatinya setelah hutan yang lebat itu dapat dilewatinya.

Tetapi sementara itu lalu kemana ia mesti pergi?

Sekali dua kali ia menoleh kepada Mahesa Jenar. Wajahnya yang cerah itu menjadi agak suram oleh kebimbangan hatinya. Mahesa Jenar dapat menangkap perasaan Rara Wilis.

“Rara Wilis, dapatkah kau menunjukkan di daerah manakah kira-kira kakekmu tinggal?” tanya Mahesa Jenar.

Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Memang ia sama sekali tak mengerti arah tempat tinggal kakeknya. Ia hanya mendengar, bahwa kakek itu tinggal di daerah Pliridan. Mahesa Jenar juga menjadi agak bimbang. Ia beberapa tahun yang lalu pernah mengenal daerah ini. Tetapi apa yang dilihatnya sekarang, ternyata mengalami banyak perubahan.

“Tuan,” kata Rara Wilis dengan penuh keragu-raguan, “Aku sama sekali tidak membayangkan kalau demikianlah keadaan daerah Pliridan. Menurut gambaran angan- anganku. Pliridan adalah sebuah desa yang dilingkungi oleh persawahan dan ladang. Tetapi ternyata daerah ini hanyalah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul- gerumbul liar.”

“Tetapi aku kira tidaklah demikian seluruhnya, Rara Wilis. Beberapa tahun yang lalu, desa-desa seperti yang kau bayangkan itu memang pernah ada. Entahlah kenapa sekarang keadaan itu berubah. Meskipun demikian aku yakin, bahwa di sekitar daerah ini masih juga didiami orang. Karena itu baiklah kita coba mencarinya.”

Di wajah Rara Wilis masih saja membayang kebimbangan hatinya, bahkan kebimbangan itu kemudian berubah menjadi suatu ketakutan. Bagaimanakah kalau ia tak dapat menemui kakeknya? Pastilah, bahwa Mahesa Jenar tak akan dapat terus-menerus menemaninya. Melihat perubahan wajah Rara Wilis, Mahesa Jenar pun menangkap perasaannya, karena itu ia mencoba menghiburnya.

“Rara Wilis, tak usah kau merasa takut. Aku masih mempunyai perasaan kuat, bahwa di sini masih didiami orang. Seandainya tidak demikian, maka aku bersedia mengantar kau pulang ke rumah ayahmu.”

Tetapi akibat perkataan itu adalah sebaliknya dari yang diharapkan. Karenanya Mahesa Jenar menjadi terkejut sekali ketika dilihatnya Rara Wilis malahan meneteskan air mata. Meskipun sudah ditahan sekuat-kuatnya.

Sekarang Mahesa Jenar yang kebingungan. Sekali lagi ia merasa demikian tumpulnya perasaannya. Ia pernah mengalami suasana yang bersamaan, meskipun keadaannya berbeda. Yaitu pada waktu ia berhadapan dengan Nyai Wirasaba. Pada saat itu juga ia menjadi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dikerjakan.

Sekarang Rara Wilis itu pun menangis di hadapannya tanpa sebab. Justru pada saat ia berusaha untuk menghiburnya. Karena itu perasaannya menjadi tidak enak sekali.

Tetapi setelah ia mempunyai sebuah pengalaman yang tak menyenangkan, ia tidak lagi mau menebak-nebak. Maka terlintaslah dalam pikirannya, bahwa jalan yang terbaik adalah menanyakan sebabnya, kenapa Rara Wilis menangis. Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi agak lega sedikit. Dan dengan hati-hati sekali ia mencoba bertanya.

“Rara Wilis, aku telah mencoba untuk menenangkan hatimu, tetapi justru akibatnya adalah sebaliknya. Karena itu, dapatkah aku menanyakan, apakah sebabnya kau menangis?” Rara Wilis tidak segera menjawab. Ia melangkah beberapa kali ke samping, dan kemudian menjatuhkan dirinya duduk di rumput-rumput liar. Dari matanya masih saja terurai tetesan-tetesan airmata. Baru setelah beberapa saat, ia menjawab dengan kata-kata yang tersekat-sekat.

“Tuan, aku merasa bersyukur, bahwa aku dapat berjumpa dengan seorang yang demikian baik hati seperti Tuan. Karena itu tak adalah jalan bagiku untuk menyatakan terima kasihku yang tak terhingga. Tetapi sangatlah menyesal Tuan ..., bahwa kalau aku tak dapat menemukan kakekku, aku tak dapat kembali kepada ayahku. Meskipun ayahku dahulu tergolong orang yang berada, tetapi tak adalah tempat bagiku di sana.”

Mahesa Jenar menjadi semakin menebak-nebak tentang keadaan gadis aneh itu. Rupanya banyak rahasia yang menyelubungi dirinya, sehingga ia terpaksa menempuh perjalanan yang sedemikian berbahayanya.

“Rara Wilis,” tanya Mahesa Jenar kemudian, “aku bukanlah ingin terlalu banyak mengetahui tentang dirimu, tetapi bagiku kau adalah seorang gadis yang diselubungi oleh kabut rahasia yang kelam.”

“Mungkin Tuan benar,” jawab Rara Wilis, “Tetapi buat tuan tidaklah sepantasnya kalau aku menyembunyikan sesuatu rahasia.”

Mata Rara Wilis yang bulat tetapi sayu itu memandang Mahesa Jenar, seperti mata kanak-kanak yang minta perlindungan. Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Di luar kesadarannya ia pun ikut serta duduk diatas rumput- rumput liar.

Setelah diam sejenak, Rara Wilis memulai ceritanya. “Tuan, ayahku adalah seorang yang banyak mempunyai pengaruh di daerah Pegunungan Kidul. Meskipun daerah itu tandus dan kering, tetapi ayahku mempunyai peternakan yang cukup, sehingga dapatlah ia digolongkan orang berada. Tetapi ibuku adalah keturunan orang yang miskin. Kakekku semasa masih tinggal di Pegunungan Kidul, tidaklah lebih dari seorang buruh yang bekerja dengan upah yang sangat kecil. Meskipun demikian kakek termasuk orang yang tidak mau menjadi beban orang lain. Sepuluh tahun yang lalu kakek yang merasa kehidupannya semakin hari semakin sulit, terpaksa pergi meninggalkan kampung halaman. Memang sebelum itupun kakek adalah seorang perantau. Mungkin ini disebabkan oleh kehidupannya yang sulit, sehingga pada saat-saat tertentu, yaitu pada saat paceklik, kakek pergi meninggalkan kampung untuk beberapa bulan. Tetapi sejak 10 tahun yang lalu, kakek tidak kembali pulang.”

Rara Wilis pun bercerita bahwa pada masa kanak-kanak.

"Apabila kakek berada di rumah, selalu digendongnya kemana ia pergi. Kepergiannya tidak terlalu lama mempengaruhi perasaanku. Sebab ayah dan ibuku selalu memanjakan aku. Tetapi akhir-akhir ini terjadilah peristiwa-peristiwa yang merusak kehidupan damai itu. Beberapa tahun yang lalu, di kampung halamanku, datanglah seorang perempuan dari Bagelen. Kelakuannya tidaklah seperti lazimnya perempuan-perempuan di daerah kami. Di daerah kami banyak pendekar yang ternama, termasuk ayahku yang bernama Ki Panutan. Tetapi tidaklah biasa seorang perempuan jadi pendekar. Berbeda halnya dengan perempuan pendatang itu. Ternyata ia adalah seorang pendekar perempuan, yang tidak diduga-duga. Ia pun telah dapat mengalahkan beberapa pendekar ternama di daerah kami."

Rara Wilis berhenti sejenak. Alisnya tampak berkerut. Ia mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah berlaku.

"Tuan ...," sambungnya beberapa saat kemudian. "Keanehan perempuan itu tidak saja pada kependekarannya, tetapi juga pada tingkah lakunya. Kadang-kadang ia bersikap garang dan kasar seperti halnya pendekar laki-laki di daerah kami. Tetapi kadang-kadang ia menjadi lunak dan mesra, penuh sifat halus seorang wanita."

Rara Wilis kembali berhenti bercerita sejenak.

"Rupanya gabungan dari kedua sifat-sifat itulah yang telah memecahkan kebahagiaan rumah-tangga kami. Sebab ternyata hubungan perempuan itu dengan ayahku semakin hari semakin rapat. Ibuku adalah perempuan lugu, yang hanya dapat bekerja di dapur dan meladeni seorang suami seperti apa yang dilakukan perempuan-perempuan lain di desa kami. Ibuku tidaklah dapat memberi saran, nasihat atau apapun semacam itu kepada ayahku sebagai seorang pendekar. Juga ibuku tidak pandai merayu hati laki-laki. Dan karena itulah maka semakin dekat ayahku dengan perempuan pendatang itu, semakin jauh ia dari ibuku. Rupanya hal itu dapat dilihat oleh penduduk di daerah kami, sehingga menimbulkan suasana yang kurang menyenangkan. Tetapi lebih daripada itu, ayah pun perangainya seakan-akan berubah. Ia pun kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan aneh. Minum minuman keras dan hal-hal kasar lainnya. Kepadaku pun ayah menjadi semakin jauh pula."

Lagi-lagi Rara Wilis berhenti sejenak.

"Alangkah benciku kepada perempuan itu, seperti ia juga sangat benci kepadaku. Bahkan ia selalu menyakitiku tanpa ada pembelaan dari ayah, apalagi ibu yang hanya dapat memelukku dan menangisi. Waktu itu, tak banyak yang dapat aku ketahui, selain pada suatu hari datanglah beberapa orang pendekar terkenal, yang dulu adalah sahabat- sahabat ayahku. Tanpa kuketahui sebab-sebabnya, mereka bertempur melawan ayahku serta perempuan pendatang itu. Rupanya ayahku memang seorang pendekar pilihan dan perempuan itu pun tak kalah garangnya. Sehingga meskipun ayah dan perempuan itu dikerubut, tetapi dapat juga memberi perlawanan yang berarti. Ibuku sendiri waktu itu tak dapat berbuat lain, kecuali memelukku dan menangis sejadi-jadinya di belakang dapur rumah kami. "

"Akhirnya ...," lanjut Rara Wilis, "bagaimanapun kuatnya ayahku serta perempuan pendatang itu, namun tidaklah dapat menahan arus kemarahan pendekar-pendekar ternama di dareh kami yang demikian banyak jumlahnya. Sehingga sejak itu, ayahku pergi dengan perempuan pendatang itu, dan tidak pernah kembali. Sejak itu pula ibu selalu menanggung kesedihan yang tak terhingga, meskipun anehnya, tetangga-tetangga bersikap baik sekali. Bahkan para pendekar yang mengerubut ayahku, bersikap manis sekali kepada ibuku. Bahkan istri-istri mereka selalu berusaha untuk dapat bercakap- cakap dan menghibur ibuku. Tetapi rupanya ibuku lebih suka mengurung dirinya serta membenamkan diri dalam duka." Kata Rara Wilis.

"Beberapa tahun kemudian membayanglah puncak kesedihan yang bakal terjadi. Ibuku sakit. Semakin lama sakit itu semakin keras dan seolah-olah sudah terasa, bahwa sakit itu tak akan dapat diobati. Ternak kami yang sekian banyaknya, kekayaan kami, tidak dapat membendung arus kematian yang semakin lama semakin deras bergulung-gulung menghantam tebing-tebing kehidupan ibuku.

Maka setelah beberapa tahun kemudian dari kepergian ayahku, ibuku menutup mata, serta meninggalkan keris yang Tuan namakan Sigar Penjalin itu kepadaku, sebagai suatu bukti bahwa aku adalah keturunan Ki Santanu dari Pegunungan Kidul. Jadi sama sekali bukan Ki Ageng Pandan Alas dari Wanasaba. Maka akupun akhirnya merasa, bahwa aku tidak dapat hidup tanpa ada satu pun yang aku cintai. Meskipun aku mendapat warisan yang cukup banyak, tetapi semuanya itu tak berarti bagi hidupku yang kering."

Rara Wilis mengakhiri ceriteranya dengan sedu-sedan yang seperti meledak dari rongga dadanya.

Mahesa Jenar mendengarkan ceritera Rara Wilis itu dengan penuh haru. Rupanya kegersangan hati gadis itulah yang mendorongnya untuk menempuh jalan yang sangat berbahaya, mencari kakeknya, sekadar untuk dapat menyangkutkan cinta serta harapannya. Mungkin ia mengharapkan kakeknya suka kembali ke kampung halaman, untuk bersama-sama hidup dalam suasana yang hanya dapat dikenangnya kembali.

Tetapi meskipun Mahesa Jenar dapat ikut serta sepenuhnya merasakan betapa keringnya hidup tanpa sangkutan cinta, namun ia tidak dapat berbuat suatu untuk menenangkan hati gadis cantik itu. Oleh karenanya ia menjadi gelisah sendiri. Perlahan-lahan ia berdiri lalu berjalan mondar-mandir tanpa tujuan.