Nagabumi Eps 98: Di Negeri Orang Khmer

Eps 98: Di Negeri Orang Khmer

SEKITAR dua belas hari kemudian kapal ini memasuki

muara Sungai Mekong, hilir dari Sungai Siemreap. Nakhoda membelokkan arah, karena bermaksud singgah di Fu-nan lebih dahulu. "Banyak sekali pesanan istrinya yang dari Champa itu," kata seorang awak kapal.

Peranan Fu-nan sebagai pusat perdagangan sebetulnya sudah memudar, semenjak Sriv ijaya menguasai segenap lintas dan titik penting dalam jalur perdagangan antara Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa. Namun itu tidak berarti Fu-nan lantas menjadi kota mati. Dahulu tempat pertemuan berbagai bangsa di dunia ini terletak pada sebuah delta di Sungai Mekong, di tepian batas wilayah Kamboja, pada suatu titik tempat Teluk Siam telah menyusut jadi semakin dekat ke sungai.

Fu-nan, dengan ibu kota bernama Vadyapura, adalah nama yang diberikan para pedagang Negeri Atap Langit. Ke sanalah, sejak ratusan tahun lalu, para pedagang dan pengembara dari negeri-negeri utara datang mengambil sutera, ketika pada saat yang bersamaan Fu-nan menjadi penting sebagai pembentuk jalur kelautan antara Jambhudvipa dan Negeri Atap Langit, melampaui wilayah di se latan yang kelak disebut Suvarnadvipa. Dengan jalur ini, para pedagang dari Jambhudvipa tidak perlu berlayar memutari Semenanjung Malayu melalui Selat Melaka, melainkan cukup sampai Teluk Benggala, tepatnya Tanah Genting Kra, yakni tanah tersempit di semenanjung itu yang dapat ditempuh untuk menyeberang ke Teluk Siam, dan mempersingkat pelayarannya.

Bahwa yang disebut Fu-nan terletak di pantai timur dari Teluk Siam, dan bukan sebaliknya, yang dari sudut pandang kelautan agak aneh, memang beralasan. Fu-nan adalah satu- satunya tempat dari berbagai kota di pantai sekitar Teluk Siam yang tanahnya bisa digarap dengan hasil bumi berkelimpahan. Tanah antara pantai dan sisi barat Sungai Mekong dapat dan telah digarap menjadi persawahan, yang pada awalnya tentu saluran-sa luran pengairannya belum seperti yang berada di Javadvipa saat ini, melainkan memanfaatkan genangan alami air dari sungai ke tanaman padi tersebut. Kelimpahan beras yang tersedia ini sangat berguna bagi penambahan bekal para pelaut, maupun untuk persediaan pangan para pelaut itu, yang pada masa angin tidak bertiup dari arah benua, yakni Negeri Atap Langit maupun Jambhudvipa, yang selalu berlangsung sampai setengah tahun.

Jadi memang para pedagang memang datang pada saat bersamaan, dan pergi juga bersamaan, ketika setengah tahun yang lain angin bertiup masing-masing ke arah sebaliknya. Begitu rupa tepatnya jadwal ini, sehingga penduduk setempat menyebut orang-orang asing ini sebagai burung-burung musim. Mereka bisa tinggal se lama lima bulan ketika menunggu angin ini, dan selama lima bulan ini tentu saja tidak tinggal diam. Demikianlah campur aduknya para pendatang dari berbagai penjuru bum i, artinya bukan hanya dari Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa, melainkan juga dari negeri- negeri di balik negeri mereka jika dipandang dari selatan ini, bertemu, bergaul, dan kadang juga tetap tinggal di sana, karena menjadi perantara dalam jalur dagang, atau penerjemah, yang kemudian juga tak jarang meleburkan diri dalam perkawinan dengan penduduk setempat.

Tidak mengherankan jika Fu-nan yang berada di delta Sungai Mekong itu menjadi tempat yang menarik, sebagai tempat pertemuan dan pertukaran kebudayaan, yang hanya menyurut kemudian, selain karena kapal-kapal Sriv ijaya kemudian menguasai lautan dan menawarkan barang-barang mereka sendiri secara langsung, sehingga peran Fu-nan sebagai perantara menjadi hilang; juga karena berbagai wilayah di bagian selatan Negeri Atap Langit maupun Jambhudvipa berhasil mengembangkan tanah menjadi persawahan sebagai persediaan pangan, sehingga kegiatan di lautan pun berkurang. Bukankah pernah kuceritakan serbasedikit tentang ini?

KAPAL mengembangkan layar untuk melawan arus. Meskipun dari lautan kami sudah memasuki sungai, tepi kiri dan kanannya masih begitu jauh, nyaris tidak kelihatan. Hanya samar-samar di tepian terlihat pucuk pohon-pohon kelapa. Tiada beda jauh tampaknya dengan Javadvipa yang kutinggalkan. Perahu-perahu para pencari ikan kadang berpapasan di kejauhan. Kulihat bagaimana mereka memperhatikan kami. Mereka pasti mengenali kapal ini datang dari perairan yang jauh di se latan. Benarkah tiada dendam sama sekali dari mereka kepada pihak yang mereka sebut "orang-orang Yawa" dalam prasasti mereka?

Jantung kerajaan Champa semula letaknya di Thua-thien, kemudian di daerah Quang-nam, tetapi pada pertengahan abad ini terdapat pemindahan pusat ke selatan, yakni Pandurangga yang juga disebut Phan-rang, dan ke Kauthara yang bernama lain Nha-trang, tergantung mengacu kepada bahasa Sansekerta atau bahasa yang dipengaruhi pembentukannya oleh Negeri Atap Langit. Dinasti baru ini memiliki kebiasaan mengganti nama raja yang meninggal dengan nama baru, sesuai nama dewa yang dirujuk di kayangan sana. Raja pertama mereka, Prithiv indravarman, setelah meninggal mendapat nama Rudraloka. Nah, penggantinya yang bernama Satyavarman, anak saudara perempuannya, yang harus menghadapi serangan dari Javadvipa tahun 774.

Dari Dhawa kudengar lagi cerita yang mereka tulis pada prasasti perihal serangan itu:

Orang-orang yang lahir di negeri-negeri lain Orang-orang yang hidup dari makanan yang lebih menjijikkan dari bangkai

Orang-orang yang menakutkan Sama sekali hitam lagi kurus Mengerikan lagi jahat seperti maut yang datangnya naik kapal Mereka dikejar dengan kapal-kapal yang baik dan dikalahkan di laut

Kuingat cerita yang mirip dengan itu di sebuah kedai, yang dari sana kuketahui Raja Pembantai dari Selatan terlibat dalam penyerbuan tersebut. Raja Pembantai dari Selatan yang diberi makanan bagi kejahatannya, agar tidak memakan rahayat Mataram di bawah Rakai Panamkaran, yang membawa serta Barisan Setan Iblis dengan kekejaman yang bagaikan tidak mungkin dilakukan manusia. Jadi setelah cerita Pak Tua di kedai di Javadvipa dahulu, aku telah mendengarnya lagi dari Dhawa, rupanya peristiwa ini sering diceritakan kembali.

Maka demikianlah candi batu bata itu dibangun kembali tahun 784, berarti sepuluh tahun kemudian, dan saat itulah prasasti tersebut dituliskan. Namun tiga tahun kemudian, ketika pemerintahan sudah diserahkan kepada adiknya, Indravarman, serangan dari Javadvipa rupanya datang lagi, kali ini merusak Candi Bhadradhipsaticvara yang terletak di sebelah barat kotaraja Virapura.

"Tiga tahun lalu ia mengirim utusan ke Negeri Atap Langit, tidak jelas untuk apa," ujar Naga Laut kemudian, "kudengar Indravarman juga sangat ingin membangun kembali candi yang dihancurkan orang-orang Shailendra itu."

Kupandang wajah Naga Laut, benarkah ia bermaksud singgah di Fu-nan hanya untuk memenuhi pesanan istrinya yang sangat cantik dan muda, yang berasal dari Champa itu? Apakah yang masih tersisa dari sebuah kota bandar yang telah memudar? Saat itu sungguh aku tidak menduga, betapa bodohnya pertanyaanku itu.

Menjelang Fu-nan, sungai agak menyempit, meskipun sebetulnya masih juga luas, dan kami makin sering berpapasan dengan perahu-perahu setempat, tampaknya penduduk yang pergi dan pulang ke ladang atau sawahnya. Busana mereka, meski sederhana, tampak indah bagiku, bukan sekadar karena cerita yang tergambarkan pada kain yang mereka kenakan, tetapi juga cara melipat dan mengikat kain-kain itu pada pinggangnya, yang memberikan suatu ciri tersendiri. Tentu, bahwa di atas perahu kebanyakan dari mereka akan duduk saja, tetapi mereka yang perahunya berhenti karena harus menebar jala kadang berdiri dan kulihat sosok-sosok mengesankan, dalam latar berbagai arca terindah di tepi sungai.

BENARKAH raja-raja Shailendra menyerbu karena merasa berhak atas tanah Kamboja sebagai turunan raja-raja yang pada masa lalu berkuasa di Fu-nan? Nanti akan kuketahui, bahwa meskipun orang-orang Yawabhumipala yang datang bersama serbuan Shailendra itu telah digambarkan sebagai makhluk-makhluk menjijikkan, betapapun kebudayaan Shailendra memang telah memberi pengaruh yang tidak sedikit kepada wilayah ini.

Meskipun sudah tidak menjadi pusat perdagangan, masih banyak orang dari negeri-negeri yang jauh melintasi Fu-nan, seperti kulihat dari berbagai jenis kapal yang tampak di sana. Aku tidak sempat mengamati satu per satu, karena dalam deretan kapal-kapal yang berlabuh di bandar itu suasana serba cerah ceria. Mataku berbinar-binar. Naga Laut tersenyum menatapku.

"Beda nian dengan Javadvipa kan, Anak?"

"Apakah kotaraja kedatuan Sriv ijaya tidak seperti ini, Bapak?"

"Ya, tentu ramai juga, dikau harus sempatkan ke sana jika kembali, Anak, tetapi lebih banyak yang dikau bisa lihat di s ini Anak, jalan-jalanlah bersama Dhawa," ujar Naga Laut, sembari mengingatkan, "jangan terlibat apa pun, Anak, kita masih harus masuk ke pedalaman."

Di antara kapal-kapal yang berlabuh, kulihat juga beberapa kapal Srivijaya, tetapi yang belum tentu berlayar demi kepentingan Sriv ijaya, karena kapak-kapal itu tidak jarang menjual jasa sebagai kapal angkutan lengkap dengan awak kapalnya. Entah kenapa melihat kapal-kapal itu aku mendapat firasat tertentu. Bahwa mungkin saja kapal itu telah mengangkut seseorang dari Javadvipa. Permusuhan wangsa Shailendra terhadap orang-orang Khmer yang kami sebut kmir ini tidaklah harus berarti hubungan terputus sama sekali, sebaliknya bentrok bisa terjadi justru dari pergulatan suatu hubungan itu sendiri. Namun jika terdapat seseorang yang lain dari Javadvipa di tanah orang-orang Khmer ini, apakah bagiku yang seharusnya menjadi masalah?

Maka setelah membantu para awak kapal menaikkan barang, karena Naga Laut memang menafkahi diri dan para awak kapalnya sebagai pedagang maupun penyedia jasa angkutan, dan tidak mengandalkan jarahan dari kapal-kapal Srivijaya yang hanya dibagi-bagikannya saja, aku melenggang keluar dari wilayah pelabuhan.

Hari sudah gelap, aku bermaksud menengok keramaian di luar sana yang seperti menunggu malam tiba. Sebelum keluar dari gerbang, kulewati kapal-kapal Srivijaya yang bentuknya sama belaka dengan kapal kami. Terganggu oleh pemikiranku sejak tadi, aku sengaja memasang ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

Kapal itu kosong, tetapi beberapa orang terdengar bercengkerama. Ternyata aku tidak mengenal bahasanya. Bagiku hanya terdengar seperti suara burung, jadi mereka bukan orang Sriv ijaya yang berbahasa Malayu maupun orang Mataram yang bahasanya kukenal. Jadi mereka bukanlah awak kapal, karena sebuah kapal tidak akan disewakan tanpa awak kapalnya, mungkin mereka adalah penumpang, atau bahkan penyewa kapal. Aku pun terus melangkah, tetapi terpaksa harus menghentikannya lagi, ketika di antara bunyi bahasa bersuara burung itu terdengar kata-kata seperti "Shailendra" dan juga"Yava". Memang ini bisa berarti apa saja yang tidak ada hubungannya dengan kedatangan kami, tetapi tentu juga bisa berarti suatu perbincangan tentang kami.

Aku masih mendengarkan. Aku terkesiap, karena tiap sebentar, di antara berbagai bunyi yang tidak kupahami, terselip kata kresna-naga. Kata itu sangat kukenal, karena diucapkan orang-orang di Yawabhumipala, yang tiada lain artinya adalah Naga Hitam!

Apakah kiranya yang sedang dilakukan Naga Hitam sekarang, jika namanya masih juga disebut-sebut orang di tempat yang begitu jauh dari Yawabhumipala?

SEBEGITU luasnyakah jaringan Naga Hitam itu, sehingga barangkali serbuan orang-orang Shailendra telah menggunakan jasanya pula? Suatu serbuan yang berhasil hanya mungkin jika didukung oleh keterangan-keterangan berharga tentang titik-titik kelemahan musuh, dan bilamana perlu didukung berbagai tindak penyebaran ketakutan, yang sangat bisa dilakukan gerombolan Naga Hitam. Namun dengan siapakah ia bekerja di negeri jauh ini sekarang?

Aku masih berpikir, ketika Dhawa datang menyusulku dari belakang.

"Nakhoda mencari awak kapal baru," katanya, "jumlah kita terlalu sedikit untuk terus berjuang."

Kuangkat tanganku agar dia diam. Namun rupanya suara Dhawa itu justru terdengar oleh mereka, sehingga mendadak saja dari balik dinding kapal itu muncul dua sosok yang segera saling memandang dengan kami!

Melihat diriku, sa lah seorang di antara mereka berdua langsung berteriak.

"Pendekar Tanpa Nama!"

Ia pun menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk lingkaran, lantas memasukkannya ke dalam mulut. Terdengar suitan keras, dan entah darimana saja berlompatanlah sejumlah orang yang begitu datang langsung mengepung kami berdua. Dalam kegelapan aku tidak bisa segera mengenali para pengepung ini. Namun teriakan tadi menggunakan bahasa yang berlaku di Javadvipa, jadi kemungkinan besar ia berasal dari sana.

Terdapat deretan obor yang berlaku sebagai penerangan di sepanjang pelabuhan, karena sampai malam kapal-kapal masih datang dan pergi. Bukan hanya yang datang dan pergi ke mancanegara, tetapi lebih banyak lagi yang datang dan pergi ke pedalaman. Cahaya api itulah yang telah membuat pisau belati lurus panjang mereka berkilat, berkeredapan dalam malam. Cahaya juga memperlihatkan sosok-sosok mereka yang ramping, terlalu ramping untuk ukuran tubuh seorang pelaut yang tenaga besarnya dibutuhkan set iap saat. Bukan hanya ramping tetapi juga sangat rapi, bagaikan siap pergi ke sebuah pesta atau upacara. Mereka semua berkain dengan tenunan membentuk gambar-gambar indah, kepala berikat, telinga beranting, tangan bergelang, leher berkalung, jauh nian dengan diriku dan Dhawa yang hanya berkancut dan berselempang kain tanpa gambar sekadar menahan dingin malam.

Dhawa mencabut pisau, tetapi kutahan.

"Sarungkan kembali Dhawa, aku tak mau ada korban jiwa."

Aku membuka kain yang kuselempangkan, siap menyambut serangan mereka. Orang yang mengenaliku tadi berbicara dengan bahasa burung kepada para pengepung, yang tampak menjadi semakin siap.

"Pendekar Tanpa Nama," ujarnya pula kepadaku dalam bahasa yang berlaku di Yawabhumipala, "Naga Hitam berkirim salam kepadamu, sebelum kami semua mencabut nyawamu!"

Aku menghela napas. Rasanya sudah mengembara begini jauh, tetapi masih juga Naga Hitam memburuku sampai ke Fu- nan. Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Mungkin memang salah aku meninggalkan Javadvipa tanpa menyelesaikan urusanku lebih dahulu dengan Naga Hitam. Namun siapakah yang harus disalahkan jika Naga Hitam tak pernah turun tangan sendiri dan aku juga lebih tertarik untuk mengembara daripada berurusan dengan satu orang tanpa tahu kapan habisnya? Seperti yang pernah kukatakan, dengan terbunuhnya sejumlah murid, seharusnyalah Naga Hitam sudah mencari dan membunuhku dengan tangannya sendiri. Sebaliknya, cukup dengan satu kali tantangan terbuka kepada Naga Hitam yang kusebarkan di sungai telaga dunia persilatan, maka betapapun sibuknya ia dalam permainan kekuasaan, demi nama dan kehormatannya ia harus menghadapiku di tempat yang telah ditentukan.

Aku tidak habis pikir kenapa minatku berhadapan dengannya hilang, sementara aku berkubang sepuluh tahun di dalam gua untuk melipat gandakan ilmu silat hanya untuk menghadapi ancamannya. Aku pernah berniat memburunya demi menghapus rasa keterancaman darinya, tetapi aku juga tahu Naga Hitam tak akan mudah dicari jika dirinya memang tak ingin ditemukan. Namun aku tahu pasti betapa penting baginya untuk memusnahkan aku sekarang, setelah jaringan seluruh gerombolannya diobrak-abrik para pengawal rahas ia istana. Aku tanpa sengaja mungkin telah membuat banyak rencananya berantakan.

Meski begitu aku yakin betapa pertemuan ini hanya sebuah kebetulan. Apalah artinya diriku seorang, bagi Naga Hitam yang urusannya sudah berada di tingkat kerajaan? Bahkan Pahoman Sembilan Naga pun, yang merupakan dewan musyawarah tertinggi dalam dunia persilatan, bagaikan tidak lagi digubrisnya. Mencapai kesempurnaan sebagai manusia melalui jalan persilatan bagaikan sudah tidak lagi menjadi tujuan seorang Naga Hitam. Suatu hal yang tidak terbayangkan berlaku bagi seseorang yang telah mencapai wibawa naga. "Mengapa Naga Hitam begitu takut menghadapiku, seseorang tak bernama yang hanya punya sepasang kaki untuk berjalan melihat dunia?"

Ia tertawa terkekeh-kekeh. Dalam sekejap di tangannya terlihat senjata rantai berbandul besi. Tangannya terangkat memberi tanda agar sekitar dua puluh orang bersenjata pisau panjang yang serba berkilatan itu menyerang!

(Oo-dwkz-oO)