Nagabumi Eps 94: Menuju Kotaraja

Eps 94: Menuju Kotaraja

SEBETULNYA aku tidak mampu bermain sulap, tetapi aku tentu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, dan memang dalam diriku terwariskan perbendaharaan ilmu sihir Raja Pembantai dari Selatan yang pada dasarnya tidak pernah kupelajari sama sekali. Apa yang telah diceritakan Daski kepada mereka? Sebenarnyalah belum terpecahkan keberadaan penyihir di kedai yang berusaha menyihirku waktu itu. Siapakah dia? Apakah dia mengenalku? Untuk apa dia berusaha menyihirku? Daski yang mungkin dapat membaca berlangsungnya pertarungan sihir tentu mengetahui apa yang kulakukan. Dia katakan bahwa di luar Javadvipa ilmu sihir adalah ma inan kanak-kanak. Mengapa tidak? Bukankah pernah kudengar cerita tentang prasasti di Kota Kapur yang dapat mengutuk itu?

Aku berpikir keras. Kepada Daski telanjur kuakui betapa aku memang memiliki ilmu sihir, meski tanpa sengaja. Kemungkinan besar apa yang telah disaksikannya di kedai pun diceritakannya pula, meski takdapat kutebak seberapa jauh Daski sanggup menembus dunia dalam wilayah sihir itu untuk mampu mengetahui se luk beluk ilmu sihirkuosedang aku sendiri pun taktahu seluk beluk ilmu itu. Segala sesuatu berjalan dengan sendirinya, seperti baru kuketahui di kedai saat itu, bahwa ilmu-ilm u sihir dalam diriku itu akan tergerak menanggapi, tanpa harus dirapal atau dibaca mantranya sama sekali, saat mengalami serangan ilmu sihir. Bahkan tanggapan itu telah menyesuaikan diri dengan jenis ilmu sihir yang menyerangnya. Takbisa kubayangkan kesaktian Raja Pembantai dari Selatan dengan ilmu-ilmu ini. Sekarang aku sudah lupa kenapa bisa mengalahkannya. Mungkinkah dulu sebenarnya ia hanya mengalah?

"Ayo! Anak muda tanpa nama! Berikan kami pertunjukan kalau begitu!" Apa yang harus kulakukan? Kulirik Daski. Ia tak berkata apa-apa, artinya ia tidak mendesakku untuk memperlihatkan ilmu sihir itu. Aku merasa lebih wajar memanfaatkan ilmu silatku, tetapi aku pun tidak merasa nyaman harus memamerkannya di depan kawan-kawan seperti itu.

Keadaanlah yang kemudian menolongku, ketika Naga Laut muncul dari balik kerumunan awak kapalnya kepada diriku.

"Ada apa ini? Ayo sudah! Kembali ke pekerjaan masing- masing! Anak muda takbernama ini tentu belum makan! Berikan apa yang kita punya! Terapung-apung dua belas hari di lautan tentu bukanlah hal yang menyenangkan!"

Kerumunan itu bubar. Naga Laut menghampiriku.

"Gantilah bajumu itu, Anak, sayang sekali kita tidak punya sesuatu yang pantas untuk Putri Asoka."

"Berikan saja pakaian seperti kita, Bapak, betapapun kini Putri adalah bagian dari kapal ini."

Naga Laut mengarahkan kapalnya menuju kotaraja, dengan maksud mencari orang-orang yang telah memerintahkan secara langsung pembantaian di tengah laut itu. Mereka telah membawa sejumlah merpati yang mestinya dikirim kembali, karena pengurus merpati yang berada di Kota Kapur itu pun takpernah mengetahui nama-nama para pemesan pembantaian. Pesan-pesan dikirim lewat gulungan kain kecil yang diikatkan kepada kaki merpati. Segalanya dengan bahasa rahasia. Sehingga segala sesuatunya belum menjadi terlalu jelas.

Merpati-merpati hanya tahu tempat asalnya, jadi memang terdapat sejumlah merpati yang dipertukarkan melalui sejumlah utusan, agar pesan-pesan dapat dikirim dan saling berbalas dengan cepat menyeberangi selat, antara Kota Kapur dan kotaraja. Lantas kuingat cerita tentang keahlian memanah di kalangan pengawal rahas ia istana, yang antara lain tujuannya adalah memanah burung-burung merpati dengan tugas rahasia seperti itu, tentu untuk memergoki pesan-pesan rahasia yang dibawanya.

Demikianlah kapal Naga Laut melaju dalam udara cerah menuju kotaraja. Selama perjalanan, Naga Laut bercerita kepadaku tentang Muara Jambi seperti dikenalnya, yang sebelum diserbu Sriv ijaya juga merupakan negeri makmur beradab dan berbudaya tinggi.

"SUNGAI Batanghari berkelak-kelok seperti naga raksasa dan pada setiap kelokan itu, Anak, dari sungai bisa dikau lihat arca-arca terindah yang pernah dibuat orang di Suvarnabhumi. Arca Buddha, arca Prajnaparamita, arca Avalokitesvara, arca Gajasimha, dan arca padmasana. Namun arca-arca yang terindah itu telah dirusak oleh orang-orang yang cemburu kepada keindahannya, karena meskipun manusia memang lebih mulia daripada batu, kejahatannya telah membuat manusia itu merasakan dirinya lebih buruk dan semakin buruk di antara karya-karya terbaik yang pernah dihasilkan manusia.

"Jika dikau saksikan arca-arca itu sekarang, Anak, sepuluh arca Buddha ada yang tinggal potongan kaki maupun tangannya. Gaya pahatan mereka sama, terutama pakaiannya, berupa jubah tipis yang menutupi sebelah atau kedua belah bahu, panjangnya sampai di atas mata kaki, dan di bawah jubah ini masih ada kain lagi yang lebih panjang dari jubahnya. Namun tangan mereka terpotong-potong begitu rupa sehingga tidak semua sikap tangannya, yakni mudra, dapat diketahui. Tujuh arca terbuat dari batu pasir, dan tiga sisanya terbuat dari logam, yakni perunggu dan perunggu berlapis emas.

"Di antara yang tertua dari arca-arca Buddha itu, yang juga cara pemakaian jubahnya menutupi kedua bahu, adalah gaya pengarcaan yang sama dengan gaya seni Pala dari bagian timur Jambhudvipa dari masa sesudah dinasti Gupta. Namun para seniman Muara Jambi tidak mengikuti begitu saja gaya Jambhudvipa, karena mereka pun memiliki pandangannya sendiri, tentang yang indah dan tidak indah.

"Arca Prajnaparamita, jika dikau akan sempat melihatnya, Anak, meski tampak indah penggarapannya, kepala dan kedua lengannya sudah hilang sama sekali. Orang-orang tua masih bisa bercerita tentang arca itu, betapa wajahnya cantik sekali." 20

Naga Laut matanya menerawang menentang angin, seperti terlihat olehnya bentuk utuh arca itu: Seorang dewi yang duduk bersila vajrapayanka, yakni kaki bersilang dan kedua telapak kaki menghadap ke atas; bertangan dua dalam sikap vyakhyanamudra atau chinmudra, yakni ibu jari dan telunjuk kanan membentuk lingkaran, jari yang lain ke atas, tangan kiri di bawahnya, keduanya di depan dada; di sebelah kiri badan terdapat teratai dengan kitab di atasnya. Sikap tangan vyakhyana menggambarkan sikap berbicara atau memberi penjelasan.

"Arca itu terletak di samping kiri pintu masuk sebuah candi," ujar Naga Laut mengingat-ingat lagi, "duduk bersila vajraparyanka, tanpa sandaran arca di bagian belakangnya. Tidak ada lagi laksana yang tampak di sini, karena pecah pada bagian kanan kiri badan, tetapi pada salah satu sisi masih tampak tangkai teratai. Meski tidak utuh lagi, nilai seninya tetap tinggi, seperti terlihat dari kehalusan penggarapan lipit- lipit ujung dan tepian kain yang menutup seluruh lapik arca.

"Delapan arca Avalokitesvara dari perunggu! Mahkota meninggi dengan hiasan raya dan rambut ikal terurai pada kedua bahu, dengan cara berdiri dalam sikap tribhanga, kali ini gayanya membuktikan hubungan Muara Jambi dengan Jambhudvipa bagian selatan."

Tentu pernah kupelajari perihal Avalokitesvara sebagai salah satu bodhisattwa, yakni tingkatan sebelum menjadi Buddha. Bodhisattwa merupakan kelompok dewa yang berasal dari kelima Dhyani-Buddha atau Tathagata. Sebuah cerita mengatakan, Dhyani-Buddha Amitabha setelah berhenti samadhi memancarkan sinar putih dari mata kanannya dan keluarlah Padmapani atau Avalokitesvara itu sendiri. Jadi Avalokitesvara itu adalah anak rohani Amitabha dengan saktinya yang bernama Pandara.

AVALOKITESVARA adalah bodhisattwa paling dikenal di antara para dewa Mahayana, dianggap menguasai alam semesta pada masa Buddha Gautama sampai munculnya Maitreya, yakni Buddha yang akan datang. Masa itu termasuk putaran waktu atau kalpa masa kini yang disebut Bhadrakalpa. Avalokitesvara justru menolak untuk mencapai nirvana, tujuan segenap penganut Buddha, karena melihat masih sangat banyak orang belum bisa mencapainya. Maka Avalokitesvara memilih tetap tinggal, supaya dapat membantu manusia untuk menemukan jalan kebenaran yang akan membawanya ke nirvana. Ia berkorban tak menuju nirvana, karena kasih dan cintanya kepada manusia. Sikapnya ini membuat ia selalu dipuja dan diseru untuk dim intai pertolongan saat manusia berada dalam kesulitan.

Bagiku, sangat menarik bahwa seruan-seruan kepada Avalokitesvara menggambarkan bahaya yang biasa dialami oleh para pedagang dan para pendeta Buddha. Avalokitesvara menjadi pelindung para pedagang dan pendeta Buddha yang banyak melakukan perjalanan, termasuk penjelajahan di lautan. Arca-arca logam berukuran kecil dibuat untuk keperluan pemujaan dalam perjalanan seperti itu. Aku baru sadar bahwa pada puncak lunas kapal Naga Laut ini juga terukir bentuk Avalokitesvara, sebagai tokoh yang mengenakan busana dan perhiasan seperti raja, dan juga memakai mahkota. Laksana-nya adalah aksamala atau tasbih dan teratai merah yang disebut padma, yang membuatnya disebut juga sebagai Padmapani.

Delapan arca yang dikisahkan Naga Laut itu tergolong kelompok chala, yakni bisa dipindah-pindahkan, yang menunjukkan terdapatnya pergerakan dalam pemukiman, tetapi yang semuanya tak pernah jauh dari daerah aliran sungai.

"Begitulah, Anak, arca gajah terdapat tiga buah, lambang kekuatan, sifat jantan dan kebijaksanaan, di punggungnta terdapat singa, tetapi singa ini juga sudah hilang entah ke mana. Ya, arca gajasimha, kami juga bisa membuatnya, semula terletak di kanan dan kiri pintu candi, kini tergeletak di sembarang tempat, takterawat dan rusak, merana sampai meneteskan airmata!"

Arca tidak bisa menangis, tetapi kutahu Naga Laut yang termasyhur sebagai penghancur kapal-kapal Sriv ijaya itulah yang hatinya menangis. Kerinduan dan kesedihan atas nasib tanah airnya bagaikan mendadak saja menguak, mengharu biru begitu rupa.

Ia masih terus berbicara dengan penuh kenangan tentang padmasana, lapik berhiaskan kelopak bunga teratai dengan lubang di tengah yang dapat digunakan sebagai alas arca; juga yang tidak berlubang sehingga menjadi alas untuk meletakkan sesajian; stupa yang tergunakan sebagai stambha, sejenis tiang pemujaan sebagai bagian empat makara.

"Makara-makara terindah! Berserakan seperti batu tanpa guna!"

Kurasakan nada kesedihannya, yang agaknya tak tergantikan oleh penghancuran kapal-kapal Srivijaya. Enam makara tersebar di berbagai tempat di Muara Jambi: Makara dengan tokoh laki-laki di dalam mulutnya, setidaknya ada tiga

-tokoh laki-lakinya membawa gada dan pasa atau tali jerat, berbentuk membulat, bertaring atas dan bawah, belali melengkung, mata bulat menonjol, berhiaskan sulur, pada s isi kanan dan kiri terdapat hiasan seperti sayap burung.

"Tapi salah satunya, gada dan pasanya sudah aus takterlihat lagi!" Naga Laut, yang oleh kedatuan Sriv ijaya hanya dikenal sebagai bajak laut berbahaya, begitu rinci perhatian dan ingatannya kepada benda-benda seni, yang tentu saja merupakan sarana igama. Masih disebutkannya makara dengan untaian bunga dan malai terjulur di dalam mulutnya. Di bawahnya terdapat kinnara, makhluk berkepala manusia dan berbadan burung, yang juga telah aus. Makara ini bertaring, tetapi tampak halus, matanya sipit, kecil, diperhiaskan dengan sulur-suluran.

Bahkan diingatnya rincian sebuah arca tanah liat yang kecil, menggambarkan wajah manusia yang alisnya tipis melengkung panjang, matanya terbuka berbentuk lonjong, mulutnya setengah terbuka, pada kedua sudut bibir ada lubang,Aisebetulnya ada taringnya dulu di situ. Pada telinga kirinya terdapat sebagian hiasan telinga, pada dahinya terdapat bulatan dengan titik di tengahnya, sementara di atas bulatan terdapat sisa-sisa jamang.

"Bapak ingat semuanya!"

"BEGINI Anak, umurku sekarang enam puluh tahun. Jika sekarang kita berada pada 796, berarti aku dilahirkan 736, sedangkan pada 690 saja kerajaan Jambi Malayu sudah tiada lagi.8) Namun semangat perlawanan itulah, Anak, ditiupkan kepada setiap jiwa secara turun-temurun, sehingga Sriv ijaya dengan segala kekuasaan tidak pernah bisa tetap tinggal tenang. Lagipula, kenapa harus dilupakan Anak, jika kedatuan Srivijaya sendiri dengan bangga menatahkan penyerbuannya pada batu?"

Naga Laut ternyata mengingat sebagian dari prasasti yang terdapat di Kedukan Bukit, di tepi sungai, di arah barat daya kotaraja:

Kemakmuran! Keberuntungan! Pada tahun Saka 605, hari ke sebelas paro terang bulan Waisakha, Sri Baginda naik kapal untuk mencari kesaktian. Hari ketujuh paro terang bulan Jyestha, raja membebaskan diri dari (...). Ia memimpin bala tentara yang terdiri atas dua puluh ribu orang menggunakan perahu, pengikut yang berjalan kaki sejumlah seribu tiga ratus dua belas orang tiba di hadapan (Raja?), bersama-sama, dengan sukacitanya. Hari kelima paro terang bulan (...), ringan, gembira, datang dan membuat negeri (...) Srivijaya, sakti, kaya (...)

"Kebanggaan buat para penakluk barangkali, tetapi sama sekali tidak bagi yang telah diserang dan dihancurkan, yang dalam kenyataannya selalu melakukan perlawanan. Jika tidak bersenjata, setidaknya dalam kehidupan sehari-hari; dan jika itu pun tidak maka masih dapat melakukannya dalam impian."

Aku tertegun.

"Jangan tertawa dahulu, Anak, dalam penindasan manusia harus melakukan segalanya agar tetap hidup. Dalam keadaan tertindas, impian adalah suatu sumbangan penting bagi siapa pun yang bertekad untuk tetap menegakkan kepala."

Prasasti itu memang bukan tentang penaklukan Jambi- Malayu, tetapi bala tentara yang disebutkan di sana itulah yang telah ditafs irkan Naga Laut telah menimbulkan kehancuran di mana-mana di Muara Jambi.

Begitulah Naga Laut, seperti juga pendekar Naga Emas, adalah nama yang digunakan turun temurun demi tujuan hidup di dunia yang sama. Namun anak buah mereka berubah. Jika Naga Laut I, sebagai salah satu bekas panglima Jambi-Malayu, ketika menyempalkan diri sebagai warga Srivijaya dan memilih untuk selamanya merongrong kewibawaan Sriv ijaya memiliki anak buah dari suku bangsa yang sama, yakni warga keturunan Jambi Malayu; maka semenjak kepemimpinan Naga Laut II, awak kapalnya lambat laun semakin beragam.

Bajak laut selamanya merupakan orang-orang sempalan yang semula terasing dari masyarakatnya. Mereka tidak perlu memiliki s ifat jahat untuk menjadi bajak laut, cukup asal tidak mendapat tempat karena berbagai macam alasan, dan merasa nyaman di antara kumpulan manusia berbagai suku bangsa tersebut, bergabunglah mereka ke sana.

ORANG-ORANG yang terbuang, merasa nyaman dalam kumpulan orang-orang terbuang, dan bersedia melakukan apa pun demi kumpulannya yang terbuang itu. Begitulah mereka mengembara bersama dalam satu kapal, menjelajahi dunia dan mengarungi pelosok-pelosoknya; bertarung, berperang, dan berjuang dalam suka dan suka bersama, yang membentuk ikatan kesetia kawanan yang luar biasa di antara mereka, melebihi ikatan saudara.

Bahwa kini mereka menuju kotaraja untuk mencari jejak otak pembantaian, tidak mesti diandaikan mereka turuti sepenuhnya kehendak Naga Laut III, yang selalu membagikan hasil jarahannya kepada orang-orang miskin, takpernah melakukan pemerkosaan, dan hanya membunuh jika jiwa terancam. Mereka juga berkepentingan bahwa samudera tidak harus dikuasai siapapun yang bermaksud memaksakan kehendaknya.

Telah kuceritakan bahwa untuk mendapatkan nafkah mereka berdagang seperti para pelaut lain, tepatnya berdagang dan menyediakan jasa angkutan, baik di antara pulau-pulau dui Suvarnadvipa maupun ke wilayah yang lebih luas di luarnya, antara bagian selatan Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa. Dalam jalur itulah mereka berebut tempat dengan kapal-kapal lain dari Srivijaya, dan tanpa alasan apapun Naga Laut memang akan selalu menyerangnya.

"Begitulah kehidupanku, Anak, aku tak bisa menghindar untuk berjuang dan berbakti untuk negeriku yang terjajah. Jika aku harus mati di lautan seperti ayahku, atau mati dalam penjara bawah tanah seperti kakekku, biarlah aku mati, asal jalan hidupku tetap tegas dan jelas, yakni melakukan segala tindakan untuk menyatakan, bahwa samudera bukanlah hak milik kedatuan Sriv ijaya!" Langit terang. Kapal melaju. Naga Laut memerintahkan agar Putri Asoka diurus dengan. Bagi Putri itu telah disediakan bilik para awak kapal yang sudah dikosongkan. Hanya dirinyalah kini menempati bilik itu, tertidur bersama nasibnya yang belum menemukan titik terang.

Aku sedang memperhatikan lumba-lumba berloncatan mengiringi kapal, ketiga pengawas di puncak layar berteriak.

"Hoi! T iga kapal di depan!"

Kami berloncatan ke haluan. Tampak tiga kapal berbendera kedatuan Sriv ijaya!

(Oo-dwkz-oO)