Nagabumi Eps 92: Pendekar Dawai Maut

Eps 92: Pendekar Dawai Maut

Pasangan pendekar yang mengasuhku pernah berkata, bahwa mengembara dalam dunia persilatan artinya aku akan menjumpai banyak pendekar, yang semakin tinggi ilmu silatnya akan semakin aneh pula perilakunya jika dibandingkan perilaku orang awam dalam kehidupan sehari-hari. Keanehan pendekar yang satu akan sangat berbeda dengan keanehan pendekar yang lain, yang meskipun tampak aneh, sebetulnya berhubungan erat dengan ilm u silat yang mereka dalami dan andalkan dalam pencapaian menuju kesempurnaan. Maka, meskipun merasa takjub dan terheran-heran dengan perilaku manusia yang memetik kecapi di tengah lautan luas di atas selembar papan dalam kegelapan, aku wajib menahan diri dari rasa takjub dan terheran-heran, karena keterpesonaan semacam itu hanya akan membuka kelengahan.

Sebaliknya, aku bersikap amat sangat waspada terhadap sosok yang tidak kasat mata dalam kegelapan, tetapi dapat kulihat me lalui cahaya yang berasal dari suatu daya dalam tubuhnya di dalam keterpejaman mataku. Ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang sangat baik dalam menerjemahkan kedudukan udara yang tersibak benda-benda padat, cair, maupun sesama udara dengan beban yang berbeda, seperti yang terjadi ketika dirambati daya bunyi.

Lantas kudengar suara tertawa yang amat lirih, tetapi terasa getir dan menusuk perasaan. Sementara kecapi itu masih terus berbunyi. Puteri Asoka terbangun, menggeliat bagaikan berada di istananya sendiri, kuberi tanda agar jangan membuat suara dan memang kemudian tidak kudengar ia bergerak, mungkin justru dinikmatinya suara kecapi itu yang seperti menyanyikan kisah cinta yang sedih. Justru karena itulah tawa yang lirih tetapi tajam dan getir itu semakin menusuk perasaan. Ini bukan jenis suara yang ketajamannya dapat menjelma benda padat, melainkan benar-benar mempermainkan perasaan dan berarti sangat mengganggu pemusatan perhatian.

Puteri Asoka sudah menangis tersedu-sedu. Aku memecah belah pusat perhatian di dalam kepalaku, yang berarti kubiarkan bagian itu saja yang terganggu, sembari mempelajari kisah yang dibawakannya.

"Kenalilah lawanmu sebaik dikau mengenal dirimu Anakku," kata ibuku dulu, "karena hanya dengan begitu dikau dapat mengenali kelemahannya,."

Mengenal dalam waktu singkat, bagaimana caranya? Memang pernah kudengar tentang ilmu-ilm u penjerat sukma seperti ini, yang membuat seseorang takperlu membunuh untuk melumpuhkan lawan-lawannya dan mencapai kemenangan. Konon pernah terjadi beribu-ribu orang dari dua kerajaan pada masa lalu Yawabhumipala yang siap saling menyerbu, hanya bisa diam di tempat, meneteskan airmata sampai meratap dan merayap di medan yang seharusnya menjadi gelanggang pertempuran. Aku hanya mendengar dongengnya, tetapi kini kudengar suara kecapi yang bisa menjerat sukma itu. Kubayangkan sesuatu yang terkisahkan oleh suara kecapi itu, dan betapa siapa tiada akan menangis jika penafsiran apapun dari suaranya akan membawa seseorang kepada cermin dirinya sendiri?

Mendadak saja aku dihadapkan kembali kepada sebuah suasana ketika aku bergelayut di dalam selendang ibu kandungku. Pergelayutan yang tenang, diiringi kidung pengantar tidur yang penuh kasih dan sayang. Di dalam selendang artinya aku tidak melihat apapun kecuali bayang- bayang baur dalam kelembutan dan keharuman dada ibuku, ketenteraman mutlak yang tidak dapat kubayangkan jika seseorang tidak pernah, meski sekejap dan cukup sekejap saja, merasakan suatu ketenangan dalam buaian. Suasana yang kemudian tinggal menjadi kesepian panjang, sepanjang- panjang kesepian yang bisa dirasakan manusia. Kesepian panjang, kekosongan panjang, kehampaan terpanjang, sepanjang-panjang kehampaan yang menyakitkanO Dirikukah yang sedang berjalan sendirian dalam gambaran seorang lelaki yang berjalan sendirian di atas tanah yang retak-retak dengan kepala tertunduk sehingga dari hari ke hari dalam perjalaan tanpa henti hanya melihat ujung kakinya sendiri?

Aku terhenyak. Maksud hati mengenal lawan, mengapa justru tergambarkan diri sendiri dari bagian yang takkukenali sama sekali? Kubuka mata, agar terjadi jarak dengan suara kecapi yang sudah kuketahui darimana asalnya itu. Sekali lagi kucoba menduga sesuatu. DI antara percik riak gelombang dan kekelaman malam, denting-denting kecapi itu membayangkan suatu ratapan karena cinta yang tak putus dirundung malang, kasih tak sampai, kesia-siaan yang mengenaskan, jerit kerinduan tak berbalas, yang berputar silih berganti, tumpuk-menumpuk, menggumpal, menyatu dendam sepanas karena perasaan berterima. Pada saat itu denting kecapi te lah menjadi dentang yang memenuhi langit, dan diakhiri suara ledakan!

Kubayangkan, jika masih terbayangkan oleh diriku sendiri dalam ledakan itu, tamatlah sudah riwayatku sampai di situ.

Suara kecapi itu kemudian tidak terdengar lagi. Hanya suara tawa lirih yang seperti sengaja tidak diperdengarkan, tetapi hanya dititipkan kepada angin yang asin agar sampai ke telingaku. Aku tetap waspada. Terdengar suara yang sama lirihnya dengan tawa itu.

"Dikau seorang pendekar yang hebat anak muda, orang lain sudah mimpi dan tak bangun lagi mendengar petikan kecapiku, langsung terbang ke alam barzah. Ketahanan batinmu tinggi, tak bisa kubayangkan akan setinggi apa lagi kepandaianmu seumurku nanti. Janganlah menjadi jumawa anak muda, pelajarilah segala sesuatu, apa pun itu, meskipun dari sesuatu yang sangat sederhana"

Kupejamkan mataku, tetapi sosoknya tiada dapat dilacak lagi oleh ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, artinya kukejar dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit pun tak akan bisa tersusul. Lagi pula, kuanggap ia tidak bermaksud jahat kepadaku. Jika mau, ia bisa saja membunuh Puteri Asoka misalnya, tetapi ia memang bukan seorang pembunuh, melainkan seorang pendekar yang sedang menguji kesempurnaan pencapaian ilmunya. Mungkin itulah yang disebutkan ibuku sebagai para pendekar yang perilakunya semakin aneh, seiring dengan pertambahan ketinggian ilmunya. Barangkali dulu ia juga seperti orang-orang lain yang belajar ilm u silat. Mula-mula belajar dengan tangan kosong, disambung senjata tajam seperti golok, pedang, kelewang, dan tombak berbagai ukuran, dan baru kemudian memikirkan sebuah jurus yang bukan sekadar dapat diandalkannya, melainkan merupakan penemuan dan pernyataan atas keberadaan dirinya di dunia persilatan. Siapakah nama pendekar itu, yang menyebutku anak muda dengan suara lemah seolah-olah dirinya sudah tua sekali? Namun segera kupetik makna lain kalimat itu, karena seorang pendekar sakti kuanggap tidak akan sembarang bicara, yakni bahwa dari penilaiannya, apa pun dasarnya, aku akan dapat bertahan hidup sampai seusia dirinya. Mungkinkah itu berarti juga bahwa dalam pendapatnya aku akan mengalahkan lawan- lawanku siapa pun itu? Seperti anjurannya, aku memang tidak berani memastikan apa pun, selain menghargai pengalamannya, dalam arti tidak melibatkan perkembangan ilmu s ilat yang belum diketahuinya.

Ibuku memang pernah bercerita bahwa pada masa mudanya terdapat seorang pendekar tak terkalahkan yang sebelum mempelajari ilmu silat adalah pengamen yang mencari nafkah di kotaraja. Sebagai pengamen ia telah sangat dikenal, dan karena itu dialah yang ditangkap karena seorang tikshna atau pembunuh bayaran telah menggantikannya masuk istana, dengan membawa kecapinya itu. Pembunuh bayaran tersebut telah membekuknya terlebih dahulu, mengikat tangan dan kakinya, lantas menyamar sebagai dirinya memasuki istana pada malam hari. Dalam suasana keramaian dan kesibukan pesta, ia lolos dengan mudah. Bahkan para pengawal rahasia istana yang biasanya waspada, tak mengira penyamaran seperti yang akan menjadi jalan masuk seorang pembunuh bayaran.

Ternyata bahwa pembunuh bayaran itu telah menggunakan salah satu dawai kecapi tersebut untuk mencekik leher seorang tamu negara. Dengan adanya pembunuhan tersebut, telah berlangsung sengketa dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Diduga, negeri yang utusannya tewas itulah yang sengaja melakukan pembunuhan tersebut, agar memiliki alasan menyerbu kotaraja. Penyerbuan dan penumpasan atas pemberontakan tersebut akan menjadi cerita tersendiri, di sini hanya akan kuceritakan kembali apa yang terjadi terhadap pengamen tersebut.

Para pengawal rahasia istana yang kesal dengan kelengahan mereka sendiri, dalam sekejap telah tiba di balai persinggahan dekat pasar, tempat para pengamen dan pedagang keliling, pengembara, juga tentunya pengemis dan gelandangan, ditampung dengan sekadarnya. Dalam sekali sabet lepaslah ikatan yang membelenggu pemain kecapi.

"Pintar! Dikau ikat dirimu sendiri! Jangan kira kami akan terkecoh oleh tipuan murah semacam ini!"

Pemain kecapi itu diseret sepanjang jalan menuju ke istana.

Semua orang melihatnya.

"Apa kesalahan pemain kecapi itu? Ia hanya seorang pengamen, bicara saja tidak pernah, mengapa ia harus dianggap membunuh tamu istana yang sial itu?"

"Itulah! Untuk menutupi kegagalan sendiri, orang lain yang disa lahkan!"

Namun kemungkinan itu bukan mustahil. Seorang penyusup ulung dapat saja berkelebat ke istana dan kembali lagi untuk pura-pura terikat. Hanya saja kali ini yang terjadi tidak demikian. Meski ternyata para pengawal rahasia istana memilih untuk mempercayai kemungkinan itu saja, karena harus ada sesuatu untuk dipersa lahkan!

Demikianlah pengamen itu telah disiksa agar mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya-dan ia memang tidak pernah bisa dipaksa untuk mengakui apapun. Setelah berhari-hari menyiksa, tanpa memberinya makan dan minum, tanpa pengadilan ia pun dihukum: Kedua kakinya dipotong. Adapun alasannya seperti tidak ada hubungannya.

"Jika ia dapat bertahan hidup, maka ia masih akan dapat mengamen dengan kecapinya itu."

Namun sebetulnya ia diharapkan akan mati, karena para pengawal rahas ia istana itu kemudian waswas, bahwa pengamen itu tahu benar mereka telah sangat keliru.

Konon, tubuhnya yang sudah tanpa kaki di lemparkan begitu saja ke dalam jurang setelah membawanya naik ke atas gunung. Setelah tubuhnya, dilemparkan pula kecapinya, yang dawainya sudah berkurang satu, karena digunakan pencurinya untuk mencekik tamu istana tersebut.

Para pengawal rahas ia istana yang berkuda, yang berbusana serba putih, dengan senjata pedang keperakan yang ketajamannya berkilat pada dua sisi, yang sungguh tampan dan gagah lelakinya, cantik dan perkasa perempuannya, mereka semua, duabelas orang banyaknya, mengamati tubuh takberkaki dan kecapi itu melayang jatuh ke jurang yang dalam. Begitu jauh dan dalamnya, sehingga mereka takmungkin tahu apakah keduanya mencapai dasar dalam remuk atau utuh.

Tentu saja, seharusnya, orang maupun kecapi itu akan remuk dan hancur. Artinya orang itu akan mati dan kecapi itu tidak akan berwujud lagi, karena tepian jurang itu bukanlah suatu dinding yang mulus. Sehingga mungkin saja tubuh dan kecapi itu akan terpental ke sana dan ke mari lebih dulu sebelum tiba di dasar jurang dan tinggal berada di sana selama-lamanya sampai akhir zaman tiba.

"Biarlah kodratnya menentukan, apakah ia akan tetap hidup tanpa kedua kakinya itu, dan bisa melanjutkan kehidupannya dengan kecapi tersebut."

Suatu kalimat tidak masuk akal, bertentangan dengan niat mereka untuk melenyapkannya dari muka bumi. Suatu kalimat yang kemudian ternyata merupakan tulah, karena inilah yang kemudian terjadi.

Setelah tubuh dan kecapi itu hilang dari pandangan, Setelah tubuh dan kecapi itu hilang dari pandangan, sesosok tubuh yang semula berkelebat dari pohon ke pohon di tepi jurang nyaris tertimpa oleh tubuh, dan kemudian oleh kecapi itu.

"Uh! Hampir saja..."

Tampaknya ia kenali tubuh itu sebagai tubuh manusia yang bernasib ma lang, maka dirinya pun me luncur bagaikan anak panah mendahului tubuh tanpa kaki itu. Mendekati tubuh, kedua kakinya yang semula di belakang diayunkannya ke depan ketika mendahului, sehingga kemudian dapat disangganya tubuh itu dengan tangan, sebelum mendarat perlahan-lahan seperti burung bangai mendarat di danau. Baru kemudian tiba pula benda jatuh yang lebih ringan, yakni kecapi itu, yang segera ditangkapnya dengan tangan yang lain.

"Hmmh! Sendirian di dasar jurang yang gelap, dengan tubuh tanpa kaki dan kecapi yang dawainya hilang satu! Apakah yang bisa dilakukan Naga Putih dengan ini semua?"

Waktu itu kutanyakan kepada ibuku, siapakah yang telah menceritakan riwayat ini kepadanya, sehingga setiap sudut pandang dapat diceritakannya?

"Tentu dari Naga Putih sendiri, pendekar besar golongan putih yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Peristiwa yang takdiketahuinya sendiri, ia dapatkan dari pemilik tubuh takberkaki itu."

"Jadi dia belum mati?"

"Belum! Begini lanjutan ceritanyaO" Naga Putih, yang rambut bergelungnya sudah putih, alisnya putih, dan kumismya juga putih itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Hati manusia yang terbuat dari apa bisa memperlakukan manusia lain seperti ini? T idak satu manusiapun di muka bumi ini akan lolos dari karmapala perbuatannya sendiri. Hmm. Karmaku telah mempertemukan diriku dengan karma pemuda. Biarlah dunia menyaksikan apa yang akan terjadi nanti."

Inilah kemudian yang disaksikan dunia.

Beberapa tahun kemudian, seorang pengawal rahas ia istana sedang dipijat oleh isterinya, ketika dari dalam kegelapan di luar rumah terdengar petikan kecapi. Semula hanya terdengar sayup-sayup, tetapi kemudian terdengar jelas, dengan nada dan lagu sangat amat sendu, sampai isterinya yang sedang memijat punggungnya itu menangis.

"Kenapa dikau menangis tanpa sebab seperti itu, tidak biasanya bagimu tersedu sedan begitu, apakah karena suara kecapi yang aneh itu?"

Sebetulnya suara kecapi tidak akan berubah terlalu banyak karena hilangnya satu dawai, kecuali tentu bagi yang sangat mengenalnya. Sedangkan seorang pengawal rahas ia istana mungkin akan mendengar nada dan lagu petikan kecapi dengan sangat seringnya, karena berbagai acara kenegaraan selalu akan diturtup dengan hiburan. Jadi ia merasakan sesuatu yang aneh, meski tidak tahu sebabnya-yang jelas ia tidak suka isterinya menangis seperti itu. Ia berteriak ke arah jendela dengan keras.

"He! Siapapun yang memetik kecapi di luar itu, berhentilah sekarang juga! Berisik! Malam-malam mengganggu orang istirahat!"

Namun bukan saja kecapi itu tidak lantas berhenti, bahkan dari balik kegelapan itu terdengar suara orang tertawa. Lirih juga, tetapi terdengar jelas sekali. Suatu jenis tertawa yang muncul bukan karena perasaan geli atas sesuatu yang lucu, tetapi tawa getir atas nasib malang manusia yang begitu jumawa padahal bukanlah apa-apa di tengah keluasan semesta ini; juga tawa yang terdengar sedih dalam usaha menertawakan diri sendiri yang malang, agar selamat melewati kesengsaraan. Namun pengawal rahas ia istana itu. rupanya takmampu menafsirkan berbagai lapisan makna yang mungkin diberikan oleh sebuah tawa yang begitu lirih dari balik kegelapan seperti itu. Sebaliknya, ia menganggap suara tawa itu sangat menertawakan dirinya.

Ia bangkit dari ranjang tempat isterinya sedang memijat dirinya itu. Mengambil pedang yang tergantung di dinding.

"Biar kubungkam mulut orang bodoh itu!" Lantas ia berkelebat ke arah suara kecapi itu.

Kemudian para tetangga tidak mendengar apa-apa lagi,

selain suara seperti orang tercekik.

Malam sunyi. Rembulan sendirian di langit. Perempuan itu menuruni tangga rumahnya.

"Kanda, di manakah dikau Kanda?"

Ia melangkah menuju kegelapan malam. Hanya untuk menjerit sekeras-kerasnya.

"Tolongngngng!    Tolongngngng!     Suam iku     dibunuh!

Tolongngng!"

Penduduk berlompatan keluar dari rumahnya, sebagian membawa obor. Ada juga pengawal rahas ia istana lain yang tinggal di situ. Ia keluar dengan rambut yang sudah lepas gelungannya. Di tangannya terdapat pedang yang masih berada di sarungnya.

Mereka terbelalak. Pengawal rahasia istana ini tewas dengan leher tercekik dawai kecapi. Bahkan pedang yang dipegangnya pun belum keluar dari sarungnya, yang menandakan lawannya bergerak dengan amat cepat, dan menunjukkan pula tingkat ilmunya yang tinggi sekali, karena tidak ada pengawal rahasia istana yang ilmunya silatnya rendah. Semuanya menguasai ilmu tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, selain menguasai olah segenap senjata yang terdapat di dalam dunia persilatan.

Semula tidak ada yang paham apa yang sedang terjadi. Namun setelah tiga sampai empat orang pengawal rahas ia istana terbunuh dengan cara yang sama, yakni mendengar suara petikan kecapi di malam hari, mendengar suara tawa yang lirih dan menggetirkan perasaan, terpancing keluar untuk memburu suara itu, hanya untuk terbunuh dengan cekikan dawai kecapi yang melingkar di leher, sisa anggota kelompok segera mempunyai dugaan.

"TIGA tahun lalu kita membuang seorang pengamen, seorang pemain kecapi, setelah kita potong kakinya dari lutut ke bawah, ke dalam jurang. Kita telah menuduhnya sebagai tikshna, pembunuh bayaran yang menyamar sebagai pengamen kecapi, yang telah membunuh seorang tamu istana dan melibatkan kerajaan dalam suatu pertempuran besar, yang syukurlah kita menangi. Ia selalu menyangkal, tetapi kita menghukumnya sebagai mata-mata lawan, yang sengaja membunuh temannya agar negerinya memiliki alasan menyerbu kita."

"Dia menyangkal, tetapi dia juga tidak dapat menunjukkan pembunuh yang sebenarnya!"

"Tentu tidak mungkin. Dia hanya seorang pengamen!" "Sudahlah. Jangan bertengkar lagi. Kemungkinan besar dia

tidak   mati,    mungkin   menyangkut   di   batang   pohon,

menemukan seorang guru silat dan membalas dendam."

"Dengan kaki terpotong seperti itu, tentu ilmu silatnya sudah sangat tinggi! Semua saudara kita tewas tanpa sempat mengeluarkan pedang dari sarungnya!" Salah seorang dari pengawal rahasia istana itu memegang lehernya dengan wajah seperti baru saja menelan sesuatu yang pahit.

"Mati dengan leher tercekik dawai kecapi. Sungguh kematian yang sangat tidak enak..."

Mereka semua tinggal delapan orang sekarang. Semua berada di atas kuda perkasa. Berkumpul di perempatan jalan di kotaraja, yang pada tengah malam itu memang sudah menjadi sangat lengang. Saat itulah terdengar petikan kecapi dengan nada dan lagu sangat pilu. Meluruhkan hati s iapa pun yang mendengar.

Serentak para pengawal rahas ia istana itu menarik pedang dari sarung di punggung.

(Oo-dwkz-oO)