-->

Nagabumi Eps 90: Di Laut Takbernama

Eps 90: Di Laut Takbernama

Matahari nyaris lenyap di balik cakrawala dan langit semburat keemasan, tetapi takdapat kutebak apa makna pesona senja bagi Puteri Asoka, karena wajahnya mendadak saja sangat muram. Aku ingin menanyakan sesuatu, tetapi aku merasa lebih baik menundanya. Ternyata justru yang ingin kutauyakan itulah sumber masalah kemuramannya.

"Tuan"

"Ya, Puteri"

"Herankah Tuan bahwa tangan sahaya sudah bebas, ketika Tuan melihat sahaya kembali?" "Ya, tentu sahaya heran, Puteri. Apakah yang telah terjadi?"

Maka Puteri Asoka pun bercerita.

"Saat sahaya terikat di tiang dengan sebelah tangan, air mendadak saja telah mengempas memenuhi ruang, dan terus datang sampai sahaya tenggelam dalam keadaan tangan masih terikat dengan begitu kencangnya, sehingga mustahil bagi tangan sahaya yang satu untuk melepasnya. Sahaya menahan nafas, paru-paru sahaya terasa hampir meledak, dan mata tiada mampu menembus air laut di ruang gelap lambung kapal yang agaknya sedang terjungkir."

Bahkan aku pun menahan nafas mendengar ceritanya. "Sahaya telah merasa kematian sahaya akan segera tiba,

ketika   tiba-tiba   ikatan   sahaya   telah   menjadi   sangat

longgarnya. Lantas ada tangan yang menarik sahaya dengan segera ke atas dalam kekacauan luar biasa, karena kapal juga telah berjungkir balik begitu rupa. Namun tangan itu tidak pernah melepaskan sahaya, entah ke mana sahaya di bawa, menabrak segala dinding, tiang, dan entah apa, berbagai macam tertumbuk kepala sahaya

"Sahaya sudah takkuat ketika tiba-tiba kepala sudah ada di permukaan air. Meski hujan badai dan petir meledak-ledak sementara air menyeret ke dalam pusaran, terasa betapa segarnya udara di lautan bebas bagi sahaya. Siapakah yang telah menyeret saya ke atas dan telah menyelamatkan jiwa sahaya? Sahaya semula mengira bahwa Tuan yang telah menolong sahaya"

"Maafkan sahaya Puteri, segalanya terjadi di luar kekuasaan sahaya"

"Ah, sahaya bukannya menggugat Tuan, jangan salah paham, sahaya hanya ingin menceritakan betapa terkejutnya sahaya ketika wajah itu muncul di hadapan sahaya. Wajah bajak laut yang menjijikkan itu Tuan!" "Samudragni!"

"Tapi wajah itu berubah sama sekali, menjadi sangat mengharukan Tuan!

"Maafkan daku," katanya, dan ia merangkulkan tangan sahaya pada ujung haluan perahu yang buritannya sedang berada di bawah.

"Pegang terus sekuat-kuatnya sampai pertolongan tiba,' katanya, 'kapal ini akan berputar balik diseret pusaran, jadi Puteri akan sebentar di atas sebentar tenggelam. Jangan takut. Kematian tak akan tiba sebelum waktunya. Tabahlah Puteri, maafkan daku, dan selamat tinggal"

"Ia membiarkan dirinya diseret ombak, wajahnya pucat, ketika tubuhnya bersama gelombang terlihat lambungnya yang sudah terluka sangat parah"

"Ia berusaha menebus dosanya, Puteri"

"Sahaya tidak tahu bagaimana mesti merumuskan perasaan sahaya. Ia sangat menjijikkan bagi sahaya, tetapi dia pula yang menyelamatkan jiwa sahaya"

Matahari lenyap sepenuhnya di bawah permukaan laut. Langit hanya merah, merah, dan merah keemas-emasan. Mestinya ini pemandangan yang indah, tetapi nasib kami belum mendapat kejelasan. Sampai berapa lama kami akan terapung-apung seperti ini? Dengan semua peristiwa yang telah berlangsung ini, kutahu betapa tugas yang kubebankan kepada diriku sendiri, tidak akan begitu saja dengan mudah bisa kuselesa ikan. Tugas menyelamatkan Puteri Asoka menjadi sangat tidak tergantung oleh keberadaanku seorang, tetapi juga keberadaan orang-orang lain dan bahkan keadaan alam. Terapung-apung di atas rakit di tengah samudera luas seperti ini, manusia manakah dapat mementingkan kehendaknya sendiri melampaui keadaan alam?

(Oo-dwkz-oO) Rakit yang kubuat dari sembarang balok yang terapung- apung itu sama sekali bukan rakit yang nyaman, karena memang sama sekali tidak rata. Ikatannya pun tidak dijamin akan ketat selamanya, bisa dengan tiba-tiba merenggang, karena pengikatnya pun sangat terbatas untuk menyatukan balok-balok yang lebih tepat disebut batang-batang kayu itu. Ada yang berasal dari pecahan kapal dari masa entah kapan, ada pula sekadar potongan batang pohon terapung, yang terikat dengan cara kurang patut sama sekali. Namun kelelahan yang amat sangat telah membuat Puteri Asoka t idur nyenyak, senyenyak-nyenyak tidur manusia yang pernah kusaksikan.

Di tengah laut, di tengah samudera luas terbentang yang permukaannya diselaputi cahaya kejingga-jinggaan dari rakit ini sampai ke cakrawala, kulihat sosok Puteri Asoka yang meski masih 12 tahun, telah menampakkan keanggunannya sebagai puteri bangsawan. Di hadapan cahaya keemasan, tetapi yang segera akan memudar, sosoknya yang tertidur di atas rakit membujur kehitaman, memperlihatkan garis tepi wajah yang kecantikannya ibarat kata nyaris sempurna, jika sempurna hanya untuk Laksmi dan Uma, bahkan hingga ke lentik bulu matanya yang indah tiada terperi. Kurasa ia akan menjadi seorang perempuan sempurna kelak, seharusnya, tentu jika lautan tidak menelan kami.

Aku menghela nafas panjang dan melihat sekeliling. Rasanya belum lama meninggalkan Javadvipa, tetapi bagaikan sudah terlalu banyak peristiwa kualami. Kubah langit yang keemasan telah menjadi semakin redup, bias kejinggaan di permukaan laut yang tenang, terlalu tenang, setenang- tenangnya tenang, telah berubah menjadi ungu muda. Menyisakan ombak yang bergoyang-goyang pelan, yang setelah mengalami hujan badai dengan angin puting beliung seperti itu, memang memberikan perasaan lega, tetapi yang kutahu menyisakan pertanyaan besar apakah kami akan terselamatkan. Puteri Asoka tidak memikirkan itu, dan ia tidur dengan nyenyaknya di atas rakit di samudera mahaluas yang bergoyang-goyang. Aku juga enggan memikirkannya sekarang. Bukankah sangat tidak menarik untuk membayangkan betapa kami akan berhari-hari berada di atas rakit, tidak mampu pergi ke mana pun, kelaparan, kepanasan, dan kedinginan, sampai akhirnya hanya mati saja yang paling mungkin terjadi. Apakah kami harus mengalami apa yang paling mungkin dibayangkan sebelumnya, bahwa terik matahari akan membuar bibir kami mengelupas, cahayanya membutakan mata, dan mengalami kesakitan jasmani karena terpaksa minum air laut setiap hari?

Aku tidak ingin membayangkan apa-apa, tetapi kadang- kadang terlintas juga gambaran betapa sebuah kapal melihat kami dari jauh dan seseorang dari puncak layar berseru.

"Rakit di haluan!"

Maka kapal itu akan melambatkan lajunya, dan lantaas terdengar teriakan susulan dari puncak layar itu.

"Dua mayat di atas rakit!"

Aku tersentak dengan gambaran yang muncul dari lamunan itu. Aku harus memikirkan sesuatu yang berada di depan mataku, dan hal itu adalah tetap bertahan hidup.

Senja telah usai, cahaya keemasan yang masih lama bertahan setelah matahari tenggelam sudah berubah menjadi kegelapan. Di langit, syukurlah, segera bertebaran bintang- bintang. Sayang sekali aku tidak mampu membaca peta perbintangan itu seperti seorang pelaut, yang mampu menjadikannya sebagai penunjuk jalan dalam pelayaran. Aku ingin sekali, tetapi tidak mampu. Padahal setiap pelaut mampu menjadikannya peta yang sangat berharga. Mengertilah aku sekarang, bahwa wawasanku sebagai manusia hanyalah keberhinggaanku sebagai manusia dalam kebudayaan darat, yakni segala sesuatu yang hanya mungkin dikenal, diketahui, dan dikembangkan di darat.

Dalam pengalamanku melakukan perjalanan bersama para mabhasana sepanjang sungai, kukenali kelemahan dan kekurangan pengetahuanku atas segala sesuatu yang mungkin terjadi di atas sungai. Namun bahkan bagi kebudayaan darat, sungai adalah bagian yang penting dari segala kemungkinannya, sehingga segala kemungkinan yang dilahirkan keberadaan sungai tidaklah menjadi asing dalam kebudayaan darat. Tidak begitu dengan segala kemungkinan yang dapat berlangsung di laut. Buktinya aku merasa sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa! Aku merasa sangat menyesal tidak pernah mempelajari ilmu perbintangan ini, setidaknya pada tingkat seorang pelaut untuk mampu menentukan arah perjalanannya di lautan.

Dari sekelumit pengetahuanku aku hanya tahu titik selatan dikenali dari susunan bintang-bintang yang mirip gubuk penceng (1), dan dari sana kucoba memperhitungkan tempatku berada sekarang, dengan mempertimbangkan kedudukan Kota Kapur di Pulau Wangka dari Javadvipa, kecepatan kapal yang membawa kami, berapa sebenarnya hujan badai berlangsung, dan lama perjalananku ketika membawa Puteri Asoka pergi menjauh dengan kecepatan seribu lumba-lumba. Aku tahu perhitunganku yang tidak didasari pengalaman ini akan lebih banyak melesetnya daripada tepat, tetapi aku memang hanya perlu merasa telah melakukan sesuatu dan tidak hanya pasrah dengan keadaan. Setidaknya aku yakin, bahwa kesalahan yang manapun tetap tidak mempengaruhi dugaanku, bahwa jika sekarang aku menghadap ke utara dan arus membawaku ke barat, maka aku akan terdampar di pantai timur yang manapun di Samudradvipa.

Keraguan terhadap kepastian perhitungan memang sangat berpengaruh kepada keputusanku untuk tetap tinggal di rakit ini. Aku memang mungkin saja mengerahkan tenaga dalam untuk mengayuh rakit dengan tangan, atau membawa saja Puteri Asoka seperti sebelumnya, yakni meluncur dengan kecepatan seribu lumba-lumba, tetapi kutahu pasti bahwa setelah mengerahkan tenaga dan perhitunganku ternyata keliru, akibatnya akan jauh lebih berbahaya. Maka begitulah menghayati malam di atas rakit di tengah lautan bagaikan suatu tamasya, sembari mengira-ira apakah yang kuketahui tentang Samudradvipa, yang oleh banyak pelaut as ing disebut sebagai Suvarnabhumi atau Suvarnadvipa, sebelum mereka menyadari bahwa kedua istilah itu dituliskan dalam kitab-kitab oleh mereka yang belum mengunjungi sendiri, dan hanya mengetahui arahnya, sehingga dimaksudkan sebagai suatu istilah bagi wilayah yang luas sekali.

Dari cerita di kedai yang semula kuanggap tidak penting, kuingat gambaran keadaan Muara Jambi yang teringat olehku dalam kesunyian ini. Muara Jambi digambarkan sebagai negeri sesuai dengan keadaan alam yang bergunung-gunung di sekitarnya. Di sana banyak dibangun candi pemujaan dengan parit-parit yang dibuat sesuai ketentuan igama, yang tentu membuatnya berguna untuk menyalurkan air agar tidak menggenangi halaman candi. Di sana, kata sang juru cerita waktu itu, terdapat tiga kelompok candi yang masing-masing terdiri dari beberapa candi. Setiap kelompok candi itu dipisahkan oleh sungai, yang ternyata memang sengaja dibuat untuk itu.

AKU lupa mengapa juru cerita di kedai itu menyebut hal ini, apakah ia ingin menyebutkan orang-orang Muara Jambi itu merupakan bangsa yang berbudaya, ataukah menunjukkan bahwa justru setelah Sriv ijaya memerintah di sana, negeri itu menjadi pusat igama.

"Tidak terlalu mudah mengubah lingkungan seperti itu," kuingat dia berkata, "apalagi untuk bangunan-bangunan suci. Sejak memilih tempat, membersihkan tanah, menggali tanah, peletakan batu pertama, upacara peresmian, semua merujuk ke Silpasastra, Silpaprakasa, Wastusastra, dan Natysastra, yang memang dipegang para silpin dan sthapaka." (2)

Semua bangunan itu memang dari kayu. "Tetapi kelak mereka akan menggantinya dengan batu bata," ujar sang juru cerita lagi, (3) "meskipun kita dan orang-orang Jambhudvipa sama-sama memuja lima Tathagata, enam belas Vajrabodhisattva, dan enam belas Vajratara, tidak perlu segala yang mereka kerjakan harus kita kerjakan juga!" (4)

Aku tak tahu mengapa penggambaran tentang Muara Jambi dari orang yang bercerita di kedai itu sekarang tiba-tiba teringat lagi, meskipun pada saat mendengarnya aku merasa itu sama sekali tidak ada hubungannya. Mungkinkah karena Puteri Asoka yang tergolek di atas rakit itu membuat aku berpikir tentang asal usulnya? Padahal kutahu ia dilahirkan di kotaraja kedatuan Sriv ijaya, dan belum pernah kembali ke negeri leluhurnya! Bahkan dirinya taktahu menahu perkara sengketa Jambi Malayu dengan Sriv ijaya. Namun akibat sengketa itu telah menimpa dirinya yang tidak berdosa. Terapung-apung di tengah lautan takbernama, karena memang nama menjadi tidak penting lagi ketika hanya alam yang berbicara.

Tetapi kukira aku menjadi terbayang-bayang atas penggambaran negeri itu, karena hanya dari cerita itulah kuketahui sesuatu tentang Muara Jambi, dan juga belum pernah melihatnya. Aku sendiri taktahu apakah mempunyai minat pergi ke sana. Aku memang siap terlibat seribu satu petualangan, tetapi aku tidak pernah berm impi akan segera terapung-apung seperti ini, ketika baru beberapa hari meninggalkan Yawabhumipala.

Angin bertiup perlahan-lahan. Kudengar kecipak air di tepi rakit, kecipak air lautan yang lebih sering membasahi rakit daripada sekadar menyentuh tepiannya. Aku berdiri di atas rakit itu. Memandang ke kejauhan, sejauh-jauh pandangan bias mencapainya. Hanya kekelaman malam menjadi jawaban.

Apakah yang bisa kulakukan dalam malam yang kelam? Aku tidak ingin berpikir. Aku tidak ingin berpikir sama sekali dan menikmati malam dengan selaksa bintang di langit yang hanya mengingatkan aku kepada kebodohanku.

Namun seandainya perhitunganku tidak terlalu keliru, dan arus tidak berubah-ubah, maka esok pagi mestinya aku sudah terdampar di sebuah pantai dari Suvarnadvipa.

Kurebahkan badanku, dan kusadari betapa rakit ini barangkali merupakan rakit terburuk yang pernah ada. Permukaannya sama sekali tidak rata, karena batang pohon memang tidak dimaksudkan sebagai balok yang mulus. Balok, batang, papan, tiang, dan entah apalagi terikat jadi rakit yang harus disyukuri masih bisa mengambang. Pengikatnya pun campur aduk antara rami, kain, dan sayatan kulit bambu maupun kulit pohon, yang kulakukan dengan ujung pedang hitam dari dalam tanganku.

Memandang langit penuh bintang, kureka sebuah gambar dengan garis yang menghubungkan antara bintang yang satu dengan lainnya. Ternyata aku telah membayangkan gambar naga. Tentu aku belum pernah melihat naga, tetapi aku sekarang dapat membayangkannya. Bagaikan terdapat garis putih yang berjalan dari satu bintang ke bintang lain, yang terletak pada jalan yang dilalui garis putih itu untuk membentuk gambar naga.

Mula-mula bentuk badannya dari kepala sampai ekornya, kemudian sirip pada punggungnya, kakinya, cakarnya, sisik- sisiknya, rincian kepalanya dengan mata ganas yang menyala- nyala, mulutnya yang menganga, gigi berikut taringnya, lidah yang bernyala api, serta hembusan dengus dari hidungnya yang beracun. Makhluk seperti ini tidak ada, tetapi mengapa begitu berkuasa dan berwibawa, seperti kehadirannya merupakan sesuatu yang nyata? Benarkah kekuasaan dan kewibawaan itu harus ada lambangnya? Seberapa pentingnyakah ke- kuasaan dan kewibawaan itu, sehingga dalam dunia persilatan gelar naga dapat menjadi begitu bermakna?

Ternyata kemudian bahwa aku pun tertidur.

Di tengah laut aku berm impi tentang sawah-sawah menguning, padang rumput menghijau, dan hutan jati yang sejuk tempat aku biasa mencari kayu bakar di sekitar pondok di Ce lah Kledung.

(Oo-dwkz-oO)