Nagabumi Eps 84: Mantra Nagarjuna

Eps 84: Mantra Nagarjuna

MATA yang tajam menatapku itu. Ah, dia berusaha menyihirku! Aku kenal jenis tatapan seperti ini. Jika aku lengah dan terpaku di bawah pengaruhnya, aku akan menuruti apapun yang diperintahkan kepadaku, yang bahkan takperlu diungkapkan melalui kata-kata. Jika aku termakan dan tertelan oleh tatapan seperti itu, aku mungkin saja akan tetap tinggal di tempat setelah kedai itu tutup dan semua orang pergi. Meski kedai ini berada di pelabuhan, dan karena itu bukannya tak mungkin buka sepanjang malam karena kapal yang setiap saat berkemungkinan datang, aku tak ingin siapapun kiranya akan berkerumun di hadapanku, menggerak- gerakkan tangan di depan mataku. Jika aku berada di bawah pengaruh tatapan sihir seperti itu, aku bisa tetap duduk mematung dengan tatapan mata kosong, dalam waktu yang lamanya ditentukan oleh kekuatan sihir itu.

Mata yang menatapku memang dari jenis mata yang besar, tajam, dan dalam. Ditambah dengan daya sihir, mata itu menjadi tatapan yang menggiriskan, membuat pemilik mata yang ditatapnya berdebar gentar, dan itulah suatu kelengahan, yang meskipun berlaku hanya dalam beberapa kejap, dapat membuat siapapun melakukan apapun kepadanya. Dalam dunia persilatan, inilah saat yang tepat misalnya untuk me lakukan serangan. Sehingga s iapapun yang mempelajari ilmu silat dengan sendirinya, meskipun serba sedikit, mempelajari ilmu daya pengaruh semacam ini. Namun pemilik mata itu, justru karena kemampuan ilmu sihirnya tinggi, tampaknya tidak melakukannya untuk melakukan serangan. Dengan segala kelebihannya ia bermaksud menguasai jiwaku! Mata siapakah itu?

Di pelabuhan ini berlalu lalang manusia dari berbagai suku dan bangsa, yang meskipun tidak terlalu banyak, belum pernah kujumpai. Kulihat orang-orang Kling yang kulitnya gelap dan berasal dari Lanka, sebuah pulau di se latan Jambhudvipa, orang-orang Negeri Atap Langit yang kulitnya putih dan matanya sipit, orang-orang Champa, orang-orang dari semenanjung Malayu yang agak lebih terang kulitnya dari kulitku, juga orang-orang dari Javadvipa yang merantau ke mari, dan tentu saja orang-orang Srivijaya yang serumpun dengan orang-orang Malayu itu.

AKU tidak dapat menentukan siapa dia dari pengetahuan dan pengalamanku yang serbasedikit ini. Namun betapapun diri dan tubuhku kini menjadi gudang perbendaharaan ilmu sihir yang diwariskan Raja Pembantai dari Selatan. Begitu hebatnya ilmu-ilmu sihir yang kuwarisi itu, sehingga dapat menanggapi dengan sendirinya tanpa kukehendaki, selama ilmu yang menyerang itu termasuk dalam perbendaharaan tersebut. Itu juga berarti bahwa tanpa kusadari selama ini, sebetulnya aku juga dapat melakukan hal yang sama terhadap siapa pun!

Orang yang bercerita itu belum berhenti, orang-orang masih terpesona oleh caranya bercerita, begitu juga Daski yang memperhatikan dengan cermat, tentu karena pesan Naga Laut untuk memasang mata dan telinga. Sebegitu jauh, aku merasa keterangan yang kuperlukan sudah cukup. Maka kulayani dahulu orang yang bermaksud menyihirku itu. Kubuka jalan agar ilmu-ilmu s ihir yang terpendam dalam diriku mengalir untuk menanggapi sihir yang menyerangku. Diam- diam kupuji ketekunan Raja Pembantai dari Selatan mengumpulkan ribuan jenis sihir yang dapat langsung bekerja tanpa harus dipenuhi syaratnya lagi. Sihir dalam diriku dapat dihidupkan tanpa harus membakar kemenyan, dupa, maupun dibacakan mantra lagi.

Sebaliknya, dapat kubaca apakah yang telah dibaca orang itu untuk menyihirku. Meskipun sihir yang sama terdapat dalam diriku, tetapi karena aku tidak mempelajarinya dari langkah ke langkah maupun dari kata-kata, melainkan terpindahkan langsung jadi, aku tentu saja tidak mengenal kata-kata itu. Untunglah aku sedikit mengerti bahasa Sansekerta, sehingga dapat kubaca ayat sihir yang sedang mengalir ini.

sarvesam bhavana, sarvatra na vidyate svabhavascet tvadvacanamasvabhavam na nivartayitum svabhamalam

Aku terkejut, karena ayat ini bukanlah ayat sihir, meski bagi yang tidak memahami bahasa Sansekerta akan mengiranya sebagai mantra antahberantah. Adapun artinya kira-kira adalah:

jika hakikat sesuatu, apap un itu, tak ada di mana pun pernyataanmu mestinya adalah ketiadaan hakikat sesuatu bukannya kedudukan untuk menolak hakikat sesuatu Ini tidak seperti mantra, karena mantra dalam bahasa apa pun berisi tujuan diucapkannya mantra itu, seperti menidurkan, membuat sakit, atau membunuhnya sekalian. Ini tidak. Jelas ini merupakan suatu penalaran tajam, yang bagiku sangat amat menggoda, meski kini aku tiada sempat memikirkannya, karena sihir adalah sihir, bahkan bukan tidak mungkin pilihan atas mantra semacam itu memang disengaja untuk memukau diriku.

Siapakah orang ini, dengan mantra yang berbunyi seperti itu? Ketajaman matanya sungguh menerkam, bahkan kurasa ia menambah ketajamannya dengan riasan di sekitar matanya itu. Agaknya ketajaman tatapan yang menerkam menjadi andalan ilmu sihirnya, yang ternyata terdapat pula dalam diriku sehingga mantranya dapat kubaca. Seberapa jauh ia menguasai ilmu sihir, setidaknya yang berhubungan dengan mantra itu? Sementara mantra yang sama dalam diriku dengan seksama sedang mementahkannya dari kata ke kata, kuperiksa tingkat-tingkat pendalaman mantra itu, yang ternyata tertulis bersumber dari Kitab Vigrahavyavartani, dan kumanfaatkan lanjutan bacaan mantranya itu untuk menyerang dan menguji kemampuannya.

yadi sarvesam bhavanam hetau pratyayesu ca hetupratyayasamagryam ca prthak ca sarvatra svabhavo na vidyata iti krtva sunyah sarvabhava iti

na hi bije hetubhute nkuro sti, na prthivyaptejovavyadinamekaikasmin pratyasamjnite

na pratyayesu samagresu, na hetupratyayasamagryam, na hetupratyayavinirmuktah prthageva ca

yasmadatra sarvatra svabhavo nasti tasmannihsvabhavo nkurah

yasmannihsvabhavastasmacchunyah

yatha cayamankuro nihshabhavo nihsvabhavatvacca sunyastatha sarvabhava api nihsvabhavatvacchunya iti DAPATKAH dibayangkan betapa pertarungan sihir ini berlangsung di sebuah kedai yang ramai, ketika hari terang cuaca pada siang yang panas? Sembari merapal mantra ini dalam hati, aku tentu juga mempelajari artinya.

apakah dalam masalah, dalam keadaan, dalam paduan antara masalah dan keadaan, atau dalam sesuatu yang lain,

di mana pun takhadir hakikat sesuatu, apapun itu. berdasarkan ini dikatakan, segala sesuatu adalah hampa. misalnya kecambah takjuga terdapat dalam benih (atau)

masalahnya

tak juga dalam sesuatu yang dikenal sebagai keadaan, yakni tanah, air, api, angin, dan lainnya,

tidak satu persatu, maupun dalam keseluruhan tak juga dalam paduan masalah dan keadaan

tak juga apapun yang berbeda dari masalah dan keadaan. karena tiada hakikat sesuatu.

karena di mana pun tiada hakikat sesuatu, kecambah adalah ketiadaan hakikat sesuatu suatu kehampaan.

dan seperti kecambah ini adalah ketiadaan dari suatu ketiadaan hakikat sesuatu

dan karenanya hampa

begitu pula segala sesuatu hampa

karena mengada sebagai ketiadaan dari hakikat sesuatu

Aku belum selesai mengolah penalaranku terhadap pengertian itu, ketika mendadak saja lelaki yang berusaha menyihirku itulah justru yang mendadak terlempar dari bangkunya, dan tubuhnya terkejang-kejang. Perhatian segera beralih dari orang yang bercerita tadi, kepada penyihir yang kini memegang sendiri lehernya, seperti berusaha melepaskan diri dari suatu cekikan yang sangat kuat mencengkeram lehernya, sementara dari mulutnya keluar busa hijau muda seperti memuntahkan cairan alpukat.

"Dia keracunan," kata seseorang.

"Tidak, dia kesurupan," kata yang lain.

"Keduanya tidak," ujar seorang pelaut berambut perak yang memeriksa busa hijau muda itu dengan ujung belati melengkung, "lihat, busa ini mengeluarkan asap dengan desisan pada logam belati pusaka ini, dia termakan oleh sihirnya sendiri..."

Orang-orang di dalam kedai itu saling memandang. Aku teringat batu prasasti yang maksudnya mengutuk itu. Namun kata-kata dalam prasasti itu memang ditujukan untuk mengutuk, meski bunyi kutukannya sendiri tidak bisa dibaca. Adapun kalimat-kalimat yang dapat kubaca, dan mestinya bahkan dapat kutanggapi penalarannya ini, bagaikan tidak ada hubungannya dengan s ihir sama sekali, kecuali jika ditafsirkan begitu rupa dan dihubung-hubungkan sekenanya. Aku yang telah menafsirkan ajaran keigamaan untuk pengembangan ilmu silat, tidak terlalu as ing dengan kebebasan penafsiran, meski setiap penafsiran itu tetap harus dapat dipertanggung jawabkan pendekatannya. Dalam hal ilmu sihir yang mengacu kepada olah penalaran ini, belum kutemukan pendekatan yang dapat menjadikan kalimat-kalimat itu sebagai mantra yang mampu menyihir.

Kemudian akan kuketahui kelak bahwa Kitab Vigrahavyavartani itu juga ditulis oleh Pendeta Nagarjuna. Namun tentu nama yang baru kudengar itu tak terlintas dalam keadaan hiruk-pikuk begini.

Lelaki yang tercekik-cekik dan berbusa-busa hijau muda itu ketika diangkat tubuhnya dari lantai kayu ke atas meja pendek, karena kedai rumah panggung ini memang tidak berbangku panjang, dalam keadaan begitu ternyata matanya masih mencari-cari aku. Saat bertatap mata, kulihat mata itu berkata-kata dan kata-katanya seperti menyangatkan sesuatu, yang tentu saja aku tidak tahu sama sekali tentang. Namun kukira, terutama karena ia t idak mengira, bukan hanya karena aku selamat dan terhindar dari tekanan s ihirnya, tetapi karena aku dapat membalasnya dengan ilmu yang sama. Lebih tidak menyangka lagi ia tentunya, ketika mantra sihir yang menerkamnya bahkan dari peringkat yang lebih lanjut. Setidaknya terlihat dari akibat yang menimpanya.

JUGA kelak akan kuketahui, bahwa untuk merapal mantra, seseorang bahkan tidak perlu mengetahui maknanya. Jadi orang ini pun, tidak seperti diriku, hanya mengenal rapal itu sebagai bunyi suatu mantra. Sedangkan bunyi itu sungguh hanya akan terdengar sebagai bunyi justru ketika yang mengucapkan taktahu artinya; maka bahasa Sansekerta pun menjadi suatu mantra. Adapun bunyi itu sungguh hanya akan terdengar sebagai bunyi justru ketika yang mengucapkan tak tahu artinya; maka bahasa Sansekerta pun menjadi suatu mantra yang tidak menyampaikan pengertian me lainkan bunyi berulang, bunyi bergumam, bunyi merapal, bunyi bermantra, bunyi takberarti tetapi mengada dalam penyuaraan berkeyakinan.

"Adalah keyakinan yang membuat segala kegaiban bisa berjalan," kata pasangan pendekar yang mengasuhku itu, "maka keyakinan itulah yang harus dihancurkan untuk memudarkan kegaibannya."

Rupanya serangan dari sumber mantra yang sama, tetapi dari peringkat yang lebih lanjut itulah yang membuatnya gentar, dan kejutan itu baginya telah mengguncangkan dunia dan lebih dari cukup untuk membuatnya menggelepar, tercekik-cekik dengan mulut berbusa hijau muda. Dalam hal ilmu s ihir yang muncul dengan sendirinya dari diriku, memang bekerja tanpa perlu dirapal lagi karena aku hanya menerimanya sebagai kegaiban yang diwariskan Raja Pembantai dari Selatan itu. Jika aku mempelajarinya, tentu aku tidak mungkin menerimanya sebagai bunyi, atau aksara tak berarti dalam pembacaanku.

Bahasa Sansekerta, meskipun banyak berpengaruh kepada bahasa yang digunakan di Javadvipa, tak berarti dikenal semua orang, apalagi di kalangan rakyat kecil, maka bunyi yang mana pun dari bahasa itu ternyata mungkin dijadikan mantra. Sudah lama memang bahasa Sansekerta dimanfaatkan lebih daripada sebagai bahasa, karena ketidak mampuan banyak orang untuk memahami dan menggunakannya telah membuat mereka memandangnya sebagai perlambang keistimewaan, maupun segala sesuatu yang dipandang tinggi dalam kehidupan.

"Awas! Awas! Lihat dia kejang-kejang lagi!"

Memang terlihat orang yang bermaksud menyihirku semakin kejang. Aku takut dia akan mati, maka aku mendekat untuk melihat sesuatu yang bisa kulakukan. Namun setelah aku mendekat kekejangannya makin menjadi, matanya melotot lebar kepadaku, dan ia berusaha bergerak menjauh dariku sedapat mungkin dengan tangan tertunjuk kepadaku.

Aku terkesiap. Semua orang melihat ke arahku. Dalam keadaan masih menunjuk itulah dia mengejang untuk terakhir kalinya dan tewas.

Suasana menjadi tegang dan sepi dan mencekam. Pelaut berambut perak tadi mendekat dan memeriksa. Entah apa yang diperiksanya, tetapi ia kemudian melirik kepadaku selintas. Dadaku berdegup. Tidakkah ini merupakan tuduhan tak langsung?

Aku bersiap. Betapapun aku memang selalu siap untuk bertarung, juga jika set iap orang di dalam kedai ini bermaksud menangkapku.

Namun setelah menutup kedua mata yang melotot itu ia berkata tanpa melihatku. "Ini tenung kiriman dari seberang laut," ujarnya tenang, "tentu dia punya urusan dengan orang-orang seberang laut itu."

Perhatian orang kembali kepada mayat itu. Daski mengambil kesempatan untuk menggelandangku keluar.

"Aku melihat semuanya," ujarnya, "di mana dikau belajar ilmu s ihir seampuh itu?"

Tidak terbayangkan olehku betapa sulitnya menyamar untuk tidak menjadi diriku. Aku tidak mempunyai masalah sebetulnya, yang membuat aku harus menyembunyikan diri dan melarikan diri dari sesuatu, tetapi bahkan tanpa masalah pun sudah begitu sulit rasanya bagiku untuk hidup seperti orang biasa tanpa diganggu. Betapapun, aku telah memilih jalan hidupku.

"Apa yang dikau lihat, Daski?"

"Bahwa dikaulah yang telah membuatnya tercekik-cekik begitu. Apa yang telah terjadi?"

"Apa yang membuat dikau begitu yakin dirikulah pelakunya?"

"Anak muda tanpa nama! Tidak usahlah dikau mengelak lagi! Di luar Javadvipa, sihir adalah ma inan kanak-kanak! Semenjak orang itu menatapmu sudah kulihat cahaya hijau memancar dari matanya ke arahmu, tetapi karena dapat kulihat cahaya putih membentengi dirimu ketika cahaya itu mendekat, kutahu tak akan ada masalah dengan dirimu."

"BAGAIMANA mungkin dikau bisa melihat semua itu, Daski?'

"Kukira bahkan orang tua itu pun melihatnya, bahwa orang itu telah menyerang dikau lebih dahulu. Tingkat ilmu sihir dikau juga sudah sangat tinggi, sehingga siapa pun yang mampu melihat pertarungan sihir itu tidak mampu menilai dan mengukur ilmu dikau. Tak usahlah berpura-pura lagi, dari mana dikau mempelajarinya?"

Bagaimanakah aku harus menjawabnya? Sesunggguhnyalah aku taktahu perbendaharaan sihir macam apa sajakah yang terdapat dalam diriku. Tentu juga tidak bisa kubayangkan, bagaimana seseorang dapat melihat cahaya hijau dari mata seseorang meluncur ke arahku, sementara dari tubuhku muncul cahaya putih yang melindungiku.

"Aku hanya mendapatkannya tanpa belajar," aku merasa tak perlu mengelak lagi, "dari seseorang yang sudah hampir mati."

Sembari menjauh, Daski berbisik.

"Ssssst! Teruslah bicara, sejumlah orang mengikuti kita."

Aku terus berbicara tentang apa yang terjadi sehingga ilmu-ilmu sihir itu bisa merasuk ke dalam diriku. Tentu aku tidak bercerita tentang pertarungan yang kecepatannya tidak dapat dilihat mata, juga tentang Pendekar Melati, atau bahwa yang telah mewariskan ilmu itu adalah Raja Pembantai dari Selatan. Cukup kukatakan betapa seorang tua yang hampir mati dan kutemukan di jalan telah mengalirkan ilmu-ilmu sihir yang dimilikinya untukku.

"Hahahahahaha! Dikau sungguh beruntung! Dikau dapat menggunakannya untuk mencari nafkah sebagai penjual tontonan! Anak-anak sangat menyukai tontonan ajaib!"

Aku tidak tahu seberapa sungguh-sungguh Daski bicara, dalam keadaan kami harus pura-pura asyik berbicara karena dikuntit orang tersebut, tetapi sejak kecil aku memang sudah mengagumi penjual tontonan seperti itu. Ketika diajak ayah dan ibuku mengunjungi kotaraja, aku terheran-heran melihat para penjual tontonan yang dikerumuni orang banyak di jalanan. Ada yang membakar tubuhnya dengan api, ada yang menusuk lidahnya dengan bambu, bahkan ada yang memenggal kepalanya sendiri tetapi tidak mati. Kuingat orang yang sudah tanpa kepala itu masih memegang pedang di tangan kanan, sementara tangan kiri memegang kepalanya sendiri. Adapun kepala ini ternyata juga hidup dan bisa berkata-kata seperti ini, "Ah! Siapakah kiranya yang tubuhnya tiada berkepala di sana? Ah! Ternyata tubuhku sendiri!" Maka kemudian tangan kiri itu akan mengembalikan kepala tersebut ke lehernya sendiri, yang langsung menyambung bagai tak pernah putus sama sekali. "Nah, kalau begini diriku sekarang dapatlah kiranya membuang air seni," katanya lagi, dan para penonton tertawa, dan penjual tontonan itu akan membungkuk hormat, dan penonton bertepuk tangan.

"Aku ingin bisa seperti itu," kataku dulu kepada ibuku.

"Itu bukan ilmu ma inan, anakku, bagaimana kalau kepalamu tidak bisa kembali?"

Aku waktu itu terdiam. Sekarang juga terdiam. Daski memberi isyarat agar kami memasuki perkampungan nelayan yang sedang sepi, karena penghuninya sedang melaut. Kutahu Daski ingin menjebak para penguntit itu, yang jumlahnya lima orang.

"Di ujung itu, dikau ke kiri dan aku ke kanan, saat mereka terbagi dua berarti mereka terkepung di antara kita. Nanti aku akan bersuit, dan teman-teman kita akan muncul dari set iap rumah."

Aku memandangnya karena tak mengerti. Daski tersenyum. "Para awak kapal ada di rumah-rumah itu, bersama istri-

istri para nelayan." Aku ternganga.

"Jangan melongo seperti itu anak muda, siapkan pisaumu!"

Aku tidak memerlukan senjata apa pun sebenarnya, tetapi kuperlihatkan juga kepada Daski, bahwa aku telah meraba gagang pisau belati melengkung yang diberikan Pangkar kepadaku waktu itu. Daski mengangguk dan di ujung lorong kami berpencar. Kulirik selintas ke belakang, dua orang mengikuti aku, dan tiga orang mengikuti Daski. Beberapa saat kemudian Daski berbalik menghadapi para penguntitnya, memasukkan jari telunjuk dan ibu jari yang dilingkarkan ke dalam mulut, lantas terdengar suitan kencang sekali.

Aku juga berbalik menghadapi penguntitku.

(Oo-dwkz-oO)