Nagabumi Eps 81: Berlayar ke Samudradvipa

Eps 81: Berlayar ke Samudradvipa

SAMUDERA terbentang bagaikan tanpa batas. Kujilat bibirku yang terasa asin. Angin menderu bagaikan seribu dongeng menjadi satu. Kapal samudera ini melaju karena kuatnya angin yang ditangkap layar. Seluruh layar terkembang penuh. Kapal membelah laut biru tua menuju Samudradvipa. Sudah tiga hari kapal terus menerus melaju siang dan malam tanpa henti. Segalanya serba baru bagiku. Namun terutama pemandangan lautan yang luas terbentang itulah yang sangat menarik hatiku. Sampai di manakah lautan ini berakhir? Apakah yang berada di balik cakrawala itu?

Melaju di atas samudera membuat membuat segala persoalan di darat terlupakan. Daratan menjadi kecil, segenap persoalannya menjadi tidak penting, dan perebutan kekuasaan menjadi perkara yang lucu. Di sini hanya ada langit dan hamparan laut yang keluasannya membuat manusia merenungkan makna keberadaan dirinya di dunia ini. Kapal menjadi titik kecil, bagai pengembara sunyi di keluasan semesta tanpa tepi.

"Tak bisa daku bayangkan hidup bertani seperti orang Mataram," kata seorang pelaut, "hidup berbulan-bulan menjaga sawah sampai panen, hanya untuk mulai menanam lagi."

"JANGAN merendahkan petani," kata pelaut yang lain, "tidak mudah bersawah dan tanpa petani bagaimana kita bisa makan nasi?" "Kita t idak mati kalau tak makan nasi, kita bisa hidup hanya makan ikan dan kerang."

"Ya, tetapi mencari ikan membuat kita tidak bertemu anak dan isteri, kalau bertani anak dan isteri bisa ikut ke sawah, ikut bekerja bersama kita."

"Hmm. Itulah bedanya pelaut dan petani, pelaut harus pergi, petani tidak bisa pergi. Daku bersyukur menjadi pelaut dan melihat dunia. Daku tak sudi setiap hari berangkat ke petak sawah yang sama sampai mati."

"Tidak harus begitu tentu. Orang-orang Mataram itulah yang menyerbu Champa dan mengobrak-abriknya."

"Membakar kuil-kuil mereka segala! Kurang pekerjaan karena panen terlalu banyak, itu pun menggunakan kapal dan awak kapal Sriv ijaya! Tidak ada cerita petani membuat kapal- kapalnya sendiri!"

"Jangan salah, mereka semua dulu juga pelaut seperti kita Markis! Pengetahuan mereka yang berkembang kemudian membuat mereka mampu menumbuhkan bibit menjadi padi, jadi waktunya tidak habis untuk berlayar dan menangkap ikan hanya untuk makan."

"Jadi apa yang mereka lakukan Darmas? Daku tidak tahu apa yang lebih baik selain angin laut, matahari senja, dan dunia yang terbentang di balik cakrawala sana."

"Kemapanan yang dijamin panen telah mengembangkan kebudayaan, Markis. Tidakkah dikau lihat kita pernah mendatangkan segala alat? Segalanya berkembang di bawah wangsa Shailendra, Markis, mereka membangun candi di mana-mana; pemeluk Siva maupun Mahayana seperti berlomba, takkurang pula candi Mahayana dengan gaya Siva dan sebaliknya!"

"Hmmmhhh! Para pemeluk kepercayaan asing!" "Tunggu dulu, Markis! Mereka tidak hanya membangun candi, pulang dari sawah di kampung mereka berlangsung pembacaan berbagai kitab, sebagian belajar membaca, sebagian belajar menulis; jangan dibandingkan dengan menangkap dan membakar ikan!"

"Daku tak akan bisa hidup terikat dengan tanah seperti itu, daku lebih suka lautan, yang dapat kulayari menuju tempat- tempat terjauh, Darmas."

"Setidaknya dikau tak bisa melecehkan mereka, Markis, dengan kitab yang mereka tulis sendiri kelak, yang menyampaikan gagasan-gagasan mereka sendiri, keberadaan hidup mereka akan sangat bermakna bagi banyak orang di masa depan."

"Daku tak suka hidup dalam kepalaku sendiri Darmas, daku mau menghayati dengan tubuhku, berlayar ke tujuh lautan. Tidakkah hal itu yang membuat kita menjadi manusia Srivijaya?"

"Dikau dengarkah rencana candi yang mulai mereka bangun itu Markis? Kukira candi semacam itu maknanya dari saat ke saat akan bergaung begitu rupa mencapai seribu lautan. Aku tidak memandang diriku sebagai pelaut Sriv ijaya rendah Markis, ibarat kata telah kita jelajahi segenap pelosok bumi dan menyusuri sungai-sungainya sampai hulu yang terdalam, tetapi kemampuan mengolah tanah menjadi sawah betapapun telah memberi kemapanan yang melahirkan banyak kemungkinan bagi peradaban."

"Jangan lupa Darmas, Srivijaya itu pusat kebudayaan, para pelajar dari Funan sejak lama menimba ilmu di tempat kita dahulu, sebelum dianggap layak menerima pelajaran igama di Jambhudvipa."

"Kamu tidak salah, Markis, tapi Sriv ijaya sedang mengalami kemunduran."

"Ah! Dirimu dengan isi kepalamu Darmas!" "Apakah dengan kepalamu yang bebal dikau bermaksud menghinaku Markis?"

Kulihat tangan keduanya telah meraba gagang pisau mereka masing-masing. Aku tidak mengerti kenapa perbincangan yang bagiku menarik itu begitu mudah berakhir di ujung senjata!

Namun Pangkar sudah berada di sana.

"Siapa pun yang ingin berkelahi di kapal ini sebaiknya berhadapan lebih dahulu dengan Pangkar," katanya.

Mereka masih saling menatap dengan waspada, karena lemparan pisau secepat kilat hanya butuh kelengahan sekejap mata. Tentu mereka sama sekali tidak takut kepada Pangkar, tetapi tampaknya sadar betapa berlebihan jika harus menyelesaikan perbedaan dengan perkelahian.

Baru tiga hari aku berlayar, tentu baru sedikit yang kupelajari, sehingga tidak terlalu banyak yang bisa kuceritakan kembali. Namun karena segala sesuatunya memang baru bagiku, rasanya begitu banyak yang merasuki diriku.

Kapal yang kutumpangi tergolong kapal besar dalam jenisnya, yakni kapal untuk me layari lautan, karena selain bercadik juga menggunakan layar, dengan layar tanjak empat persegi panjang pada tiga tiang. Kapal sejenis yang lebih kecil, hanya perlu menggunakan dayung, kemungkinan hanya untuk mencari ikan, atau pelayaran sepanjang tepi pantai, tetapi tidak untuk menyeberangi samudera luas ke negeri yang jauh. Inilah kapal yang telah digunakan leluhur kami para pemukim Suvarnadvipa untuk pelayaran antarpulau mereka sejak lima ratusan tahun lalu.3) Kapal ini cukup untuk memuat 30 awak kapal, dan sekarang kami hanya 25 orang seluruhnya, dengan angkutan yang bagiku terasa banyak, yakni tumpukan tinggi rempah-rempah dagangan, bergentong-gentong air tawar, persediaan beras, kayu bakar, dan banyak lagi keperluan lain yang pastilah sangat berat. Untuk semua barang itu dibutuhkan ruang sebesar kubus 13 langkah; sementara awak kapal menempati ruangan seluas 18 langkah empat persegi.4)

Dengan layar tanjak empat persegi, kapal melaju dengan tenang.5 Aku melaksanakan tugasku dengan sungguh- sungguh, dan berusaha tidak pernah memperlihatkan kelebihanku sama sekali, antara lain karena memang kesempatannya tidak mudah didapatkan. Membersihkan lantai geladak misa lnya, sebetulnya dapat kulakukan dengan kecepatan kilat menggunakan tenaga dalam, sehingga pekerjaanku akan cepat se lesai dan aku bisa menimba pengetahuan.

Namun kapal ini berisi banyak orang, tiada seorang pun dapat menyendiri tanpa terpandang banyak orang. Bahkan dengan kedudukan sebagai nakhoda tiada keistemewaan apapun selain berada di balik kemudi dan memberi perintah di sana-sini. Saat ia ingin tidur, tiada tempat lain selain bersama segenap awak kapal lainnya. Maka bergerak secepat kilat sampai hilang dari pandangan takmungkin berlangsung tanpa memancing kecurigaan.

Kemudi kapal terletak di bagian samping dan dari geladak sampai tiang se lalu ada awak kapal yang bergerak dengan cekatan. Begitulah menyesuaikan diri dengan semua itu, karena aku memang tidak mengetahui apapun tentang bagaimana harus bekerja di atas kapal. Dalam tiga hari, tentu saja aku belum tahu apa-apa, segalanya masih serba membingungkan, tetapi aku senang berada di atas kapal ini, karena setiap saat diri dan tubuhku bergerak merambah wilayah baru.

(Oo-dwkz-oO)

JAVADVIPA sudah tidak kelihatan lagi. Saat malam tiba dan sebagian besar awak kapal tertidur, aku beranjak ke dinding kapal, melamun sembari menatap percikan ombak di dinding kapal. Lautan luas dalam kegelapan membuat pikiran mengembara di balik kelam. Kudengarkan suara percikan, tiupan angin yang seperti siulan, dan derik sendi-sendi kayu dalam geraknya yang tenang. Sejak berangkat meninggalkan Javadvipa, hujan deras terus menerus membasahi kami, meski tanpa badai sama sekali. Benar ombak bertambah tinggi dan angin bertiup lebih kencang dengan arah takmenentu, tetapi kulihat wajah nakhoda itu begitu tenang, mestinya karena sering menghadapinya sebagai peristiwa alam yang wajar terjadi.

Kubayangkan jika aku dan kapal ini tak di sini. Tetap berlangsung hujan deras dan ombak meninggi, sementara angin bertiup dengan suara mendebarkan hati, tetapi siapakah kiranya yang akan mendengarnya? Alam berbicara sendiri dan takpeduli apakah ada atau tiada manusia menghuni. Segala makna memang datang dari manusia, yang menatap dan mendengar, lantas memberi arti. Seperti malam yang tenang takberhujan kali ini. Tanpa manusia, lautan tempat kapal ini sekarang berlayar akan tetap seperti ini, diriku saja kini menuliskannya kembali, sehingga suasana ini akan tetap tinggal dengan makna terberi. Tiada makna dalam diri alam sendiri. Makna datang dari manusia, apa pun makna yang diberikannya.

Aku mendongak ke atas dan menatap hamparan bintang. Ini suatu hal yang sering kulakukan dalam perjalanan di daratan, apabila dalam kelelahan aku tidur di hamparan rerumputan. Namun aku memandangnya tanpa manfaat apapun selain untuk kesenangan dan hiburan. Di kapal ini, pemegang kemudi yang menggantikan nakhoda juga selalu memandang bintang-bintang, tetapi untuk menentukan ke mana kapal harus diarahkan. Mereka telah mempelajari hamparan bintang-bintang itu yang keberadaan dan perubahan kedudukannya dapat mereka pastikan. Berdasarkan itulah mereka perhitungkan kedudukan mereka sendiri. Meskipun mereka barangkali tidak bisa membaca, kemampuan mereka membaca langit malam itu bagiku luar biasa. Begitulah aku memandang ke laut lepas yang hanya memberikan kegelapan. Tiada rembulan yang kubayangkan akan memperlihatkan permukaan laut yang keperakan, seperti yang kusaksikan pada malam sebelum berangkat dari pelabuhan. Pada malam hari itu kulihat cahaya rembulan menyepuh permukaan laut dengan warna perak, membuat buih pada set iap pucuk gelombang berkilau-kilauan. Kuingat deburnya yang mendesah pelahan, yang sungguh merayu dan mengundang. Kini aku sudah berada di atas kapal ini, berharap-harap cemas menghayati setiap gairah penjelajahan. Kusadari betapapun di tengah lautan luas kapal bagaikan tak bergerak ke mana-mana, sebetulnya kami terus menerus bergerak maju.

Di tengah lautan, manusia begitu kecil dibanding keluasan alam semesta. Sangat bisa kumaklumi sikap orang Sriv ijaya terhadap orang-orang Mataram yang memilih untuk terikat kepada tanahnya dengan membangun candi-candi bagaikan tiada hentinya, dan kini bahkan ingin membangun candi terbesar di dunia. Mereka yang dunianya seluas lautan mempunyai pandangan terhadap dunia yang tentunya berbeda dengan mereka yang dunianya sebatas sawah ladangnya sahaja. Begitu pula mereka yang telah menenggelamkan dirinya dalam pemikiran dari berbagai kitab yang dibacanya, juga akan memandang dunia secara berbeda dengan mereka yang menerima alam sebagai alam itu sahaja tanpa pergulatan pembermaknaan di baliknya.

Dalam dunia yang penuh keragaman, tiada mungkin berlaku ukuran baku bagi segala sesuatu, sehingga dalam kebersamaan diperlukan berbagai macam kesepakatan tertentu.

NAMUN akhirnya hanya kuasa kesepakatan yang berlaku, dunia menjadi sempit, dan kekerdilan pemikiran merajalela. Maka seseorang yang berusaha melihat dunia harus berangkat mengembara, atau menguak tempurung kekerdilannya melalui kitab-kitab yang membuka mata. Maka aku merasa bersyukur telah berada di atas kapal ini, bagaikan berada di tepi batas bumi, terus menerus mengejar cakrawala...

"Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Anak? Sehingga dikau hampir selalu berjaga menatap kegelapan malam?"

Aku menoleh, nakhoda sudah berada di belakangku, membuka bungkusan kapur sirih dan mulai mengunyahnya. Lelaki paro baya itu tampak begitu perkasa, giginya utuh dan kehitaman karena sirih, bibirnya merah juga karena sirih, tetapi sejak kali pertama melihatnya di pelabuhan, kusukai destar atau ikat kepalanya yang bergambar tokek. Semenjak kapal berangkat berlayar, entah kenapa ia memanggilku Anak, kukira bukan karena usia, karena tak kurang yang seusia denganku di antara awak kapal ini. Kuanggap saja karena aku yang paling hijau pengalamannya di antara semua awak kapal. Atau, ini lebih mungkin, semenjak Pangkar tak dapat mengalahkanku, ia tak mau menyamakan aku dengan setiap anak kapal yang selalu ia panggil namanya.

"Tiada yang mengganggu pikiranku Bapak, sebaliknya sangat kunikmati perjalanan ini, pada saat-saat yang memungkinkan untuk menikmatinya."

Ia menepuk bahuku.

"Begitulah kehidupan di atas kapal, Anak, kita harus selalu menyibukkan diri, karena jika tidak, kita bisa mati oleh kebosanan kita sendiri."

Aku tahu perasaan itu. Jika dalam tiga hari ini aku tidak disibukkan oleh berbagai tugas, mulai dari menarik tali layar sampai membersihkan lumut di dinding kapal, kumengerti jika aku akan dilanda kebosanan. Apalagi jika kita berada di atas kapal berbulan-bulan! Aku tidak menganggap diriku orang laut, maka segala sesuatu yang mengganggu kenyamanan kuterima sebagai sesuatu yang harus kupelajari. Ketika kapal baru saja meninggalkan Javadvipa, masih sempat singgah di beberapa pulau kecil untuk membeli perbekalan. Setiap kali mendekat terlihat perahu-perahu sampan datang menyambut, orang-orang di atasnya mendayung perahu dengan wajah berseri. Kadang-kadang memang sudah membawa perbekalan, seperti ayam dan sayuran, mencoba menjual lebih cepat dari mereka yang di darat, tetapi lebih sering perahu sampan itu mendekat hanya karena senang melihat kapal datang.

Kedatangan sebuah kapal berarti pertemuan dengan orang- orang lain, maka mereka menyambutnya dengan senyum lebar dan wajah berseri-seri. Dengan perahu kecil, tentu wilayah pelayaran mereka terbatas pada wilayah pencarian ikan, bukan penjelajahan menuju wilayah-wilayah baru yang belum dikenal. Meskipun begitu, dengan perahu-perahu cadik yang kecil itu tak sedikit dari mereka berani mengembara sampai jauh, keluar dari wilayah perairannya. Bukankah dahulu kala para pendatang dari negeri-negeri yang jauh di utara Suvarnadvipa, juga tiba bukan dengan kapal-kapal raksasa yang tak terbayangkan dapat mengarungi samudera?

"Hendak ke manakah Anak sebenarnya dengan menumpang kapal ini? Tak saya lihat Anak seperti pedagang, dan meski Anak kalahkan Pangkar dalam adu panco, Anak taktampak seperti pekerja kasar yang tak dapat mengerjakan pekerjaan lainnya."

Kali ini aku dapat menjawab dengan sejujurnya.

"Sahaya hendak mengembara Bapak, hendak mencari ilmu."

Nakhoda itu manggut-manggut dengan penuh pengertian, sembari meludahkan sirihnya ke lautan.

"Itulah yang Bapak lakukan semasih muda Anak. Bapak juga tak mengerti dengan banyak orang yang tak pernah pergi, tak pernah keluar dari batas kampungnya sampai mati." "Tapi tidakkah orang Sriv ijaya adalah orang-orang pelaut dan semuanya pernah menjelajahi segala penjuru dunia?"

Tentu saja pertanyaanku terdengar bodoh. Nakhoda itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk bahuku.

"Hahahahaha! Tidak semua orang di Mataram juga dapat membuat candi, Anak, tak sedikit yang hanya mampu berkelahi, dan tak mau berhenti menyerbu ke sana kemari, hanya untuk mati di ujung belati."

NAKHODA itu tentu sedang bicara tentang kebijakan sebuah negara, tetapi kalimat itu sangat mengena kepada orang yang mendalami ilm u silat seperti diriku. Hanya mampu berkelahi! Aku tertegun dan nyaris merasa rendah diri atas pernyataan yang sebetulnya tak berhubungan dengan diriku itu, meskipun kupelajari segenap ilmu dengan semangat tinggi, memang benar semua itu kupelajari demi pencapaian ilmu s ilatku.

Aku masih tertegun, ketika muncul cahaya lentera di kejauhan, yang tentunya juga berasal dari sebuah kapal. Nakhoda itu segera menunjukkan sikap waspada. Ia memasukkan ibu jari dan telunjuk yang membentuk lingkaran dan bersuit. Segenap awak kapal yang semula tidur mendengkur segera melompat bangun dan bersiaga dengan pisau belati me lengkung di tangannya. Pangkar melemparkan pisau belati semacam itu juga kepadaku yang segera kutangkap.

Kapal itu makin lama semakin dekat.

(Oo-dwkz-oO)