Nagabumi Eps 76: Menghasut Lingkar Para Raja

Eps 76: Menghasut Lingkar Para Raja

KINI menjadi jelas bagiku bagaimana Naru bisa mendadak muncul bersama para pengawal rahas ia istana dan menemukan Campaka yang didera kegalauan karena pengkhianatan yang takmasuk di akalnya. Pengawal rahas ia istana telah mengendus rencana penggagalan upacara penyerahan sima melalui kelompok Kalapasa, tetapi saat itu rombongan mabhasana sudah jauh dan telah mengalami berbagai macam peristiwa. Meski begitu, mereka berusaha mengikuti jejaknya dan mendengar berbagai peristiwa yang telah dialam i rombongan ini. Mereka putuskan untuk menyelamatkan para mabhasana dari ancaman Gerombolan Kera Gila, tanpa mengetahui bahwa diriku dan Campaka berada dalam rombongan.

Sebuah pesan susulan dari jaringan Ka lapasa menceritakan punahnya Gerombolan Kera Gila dan kemungkinan bahwa Nilam, puteri penyamun Radri, akan mengambil alih harta benda tersebut untuk memaksakan perjanjian dengan kerajaan. Pesan itu tentu saja tidak menyebut-nyebut tentang diriku dan pertarungan dengan Kera Gila; maupun pengiriman Campaka yang berlangsung karena ketidak tahuan kami atas pengkhianatan oleh para penyelenggara upacara penyerahan sima itu sendiri. Sumber berita yang terbatas kepada pengamatan dari tepi sungai, membuat para petugas Kalapasa tidak dapat memastikan apa yang berlangsung di atas perahu di tengah sungai besar yang nyaris selalu mengalir dalam curah hujan lebat itu.

Lagipula Kalapasa adalah jaringan rahasia penyelusup, bukan jaringan rahas ia mata-mata seperti Cakrawarti, yang mampu memanfaatkan setiap manusia dari setiap kasta di setiap tempat demi kepentingan mutu pesan rahasia yang dijualnya. Namun anggota Kalapasa yang berkasih-kasihan dengan Nilam telah mendengar dari puteri anak penyamun itu, bahwa Gerombolan Kera Gila telah dibantai seorang remaja tak bernama, tetapi Si Kera Gila masih hidup dan masuk akal jika diperkirakan akan membalasnya. Radri dan Sonta rupanya telah menyampaikan pesan rahasia berantai kepada Nilam, ketika perahu tambang mereka menurunkan Campaka di pelabuhan sungai.

Rencana Nilam setelah menerima pesan itu memang matang, merampok dan menjadikan benda-benda upacara itu sandera untuk mengambil alih wilayah kekuasaan Gerombolan Kera Gila di sepanjang sungai. Namun justru gagasan yang disampaikannya kepada kekasih gelap itulah, yang ternyata dijual untuk membuktikan kesetiaan Kalapasa saat itu terhadap kerjasama dengan pengawal rahasia istana.

Maka rontoklah rencana Nilam yang matang, tetapi Naru mengingatkan para pengawal rahasia istana tentang keberadaan Campaka yang ternyata memasuki sarang serigala.

Mendengar cerita Campaka tentang apa yang diceritakan Naru, kukagumi kesungguhan hati para pengawal rahas ia istana dalam pengabdiannya kepada kerajaan, maupun keterampilan serta ketabahan mereka yang tinggi menghadapi segala kesulitan. Kudengar betapa mereka telah memacu kudanya begitu rupa di sepanjang tepi sungai, setelah susah payah mencari jejak sebelumnya, lantas menyeberanginya dengan kuda yang terpaksa harus berenang, dan tiba tepat pada saat Naru dan kawan-kawannya nyaris ditewaskan.

"Merekalah yang menawarkan kepada sahaya untuk dilatih dan bergabung sebagai pengawal rahas ia istana," ujar Campaka, "apalagi setelah mereka ketahui bahwa ayah dan suami sahaya adalah prajurit."

Begitulah, sepuluh tahun kemudian adalah Campaka, yang bukan hanya melatih, bukan hanya memimpin pasukan, tetapi memimpin pembasmian dan perburuan terhadap seluruh jaringan kejahatan Naga Hitam. Tidak tahukah ia bahwa penyebaran ketakutan oleh jaringan kejahatan Naga Hitam digerakkan dari dalam istana itu sendiri?

Aku masih belum pulih benar. Namun sebetulnya aku sudah bisa berangkat lagi. Aku bimbang dan diliputi keraguan. Pertama, aku memang ingin mengajarkan ilmu pedang kepada Campaka, hal ini bukanlah masalah bagiku, tetapi ini membuat aku harus tetap tinggal untuk sementara. Kedua, aku diliputi keraguan apakah aku harus menempur dan membasmi Naga Hitam dengan segera, ataukah mengikuti kata hatiku untuk pergi mengembara? Aku tidak bisa mengambil keputusan karena aku telah membiasakan diriku untuk hidup menurut aliran sungai kehidupan yang akan membawaku; ke mana arus mengalir ke sanalah aku akan berada, ke mana ujung kakiku mengarah ke sana pula aku akan melangkah. Itulah memang kehidupan yang kuinginkan, mengembara seperti angin, tanpa halangan dan tanpa tujuan, selain melakukan pengembaraan itu sendiri.

NAMUN kusadari sepenuhnya, betapa sikap seperti itu adalah suatu sikap yang mewah. Hanya dapat dilakukan oleh siapa pun yang tidak terikat oleh suatu kewajiban, apakah itu kewajiban kepada keluarga, kepada tanah, kepada kerajaan, dan kepada kehidupan. Seorang pendekar kelana memang tidak terikat oleh apapun, tetapi ia tetap terikat oleh kewajiban kepada kehidupan. Bahwa dalam segala kesempatan ia wajib memelihara dan menjaga kehidupan seperti merawat tanaman dalam pertumbuhan.

Dengan kemampuannya dalam ilmu silat, itu berarti ia harus menggunakannya untuk membela mereka yang tertindas, lemah dan tidak berdaya, serta menegakkan keadilan, karena ketidak adilan akan membunuh kehidupan. Suatu kewajiban yang akan terasa berat bagi mereka yang masih memikirkan dirinya sendiri, ketika dengan bersemangat mencari ilmu sebanyak-banyaknya dalam perjalanan mengembara ke berbagai penjuru bumi dalam suasana kebebasan. Maka, seperti yang kulakukan sekarang, aku tidak bisa terlalu lama tinggal di suatu tempat, tetapi juga tidak akan menolak setiap masalah yang berpapasan dengan jalan kehidupanku dan menuntut untuk diselesaikan.

Persoalannya, seberapa cepatkah urusanku dengan Naga Hitam bisa segera diselesaikan? Ia selalu bisa memburu dan menemukanku, tetapi tidak kujamin diriku bisa memburu dan menantangnya. Dengan segenap cita-cita dan jaringan yang dim ilikinya untuk terlibat dalam permainan kekuasaan, kuragukan Naga Hitam berminat mempertaruhkan semua itu dalam suatu pertarungan. Aku tidak berani takabur, bahwa aku pasti akan mampu melumpuhkannya dalam suatu pertarungan, tetapi kurasa Naga Hitam mempunyai alasan kuat untuk tidak turun sendiri sampai sekarang untuk menghabisiku, dan itu adalah kemampuanku untuk juga bisa mengakhiri pertarungan dengan kemenanganosedang arti kekalahan dalam dunia persilatan, meski bermakna kesempurnaan, juga berwujud kematian.

Naga Hitam belum pernah terkalahkan. Aku juga belum pernah terkalahkan. Namun pengalaman Naga Hitam yang panjang, dan berbagai kemenangannya melawan pendekar- pendekar ternama, yang membuatnya diakui sebagai naga, bukanlah suatu kelebihan sembarangan.

Aku tidak gentar menghadapi Naga Hitam. Aku hanya berpikir, jika Naga Hitam sampai hari ini tidak pernah menemuiku sendiri, meski sudah begitu banyak murid dan pengikutnya tewas ditanganku, maka aku pun tidak akan pernah bisa mencarinya. Salah satu jalan adalah menantangnya secara terbuka, karena jika ia tidak melayaninya maka ia akan terpermalukan se lama-lamanya. Namun harus kuakui bahwa hal semacam itu tidaklah sejalan dengan perasaanku. Aku tidak ingin membuat seseorang bertanding hanya karena takut dipermalukan. Apalagi aku sendiri pun tidak mempunyai keinginan mendapat nama dan meraih gelar. Bukankah aku seperti telah ditakdirkan untuk lahir dan menjalani kehidupan tanpa suatu nama?

Begitulah aku diliputi kebimbangan.

(Oo-dwkz-oO)

DI samping balai-balaiku tergeletak Kitab Arthasastra. Setiap anggota pasukan pengawal rahas ia istana harus mempelajarinya. Aku juga pernah membuka-bukanya, seperti aku telah membuka semua kitab lain dalam peti kayu milik orangtuaku yang kutinggal di Desa Balinawan itu. Membuka- bukanya tidak sama dengan mempelajarinya. Betapapun aku merasa perlu untuk suatu saat berguru secara tersendiri perihal isi Arthasastra itu. Namun kisah Campaka tentang segala permainan yang penuh kerahasiaan di istana telah menggugah minatku untuk membuka-buka kembali Arthasastra tersebut.

Perhatianku segera tertarik kepada Buku Keduabelas, Tentang Raja yang Lemah, tepatnya Bab Tiga pada Bagian 165, yang berjudul "Menghasut Lingkar Para Raja." Bagian ini terdiri atas 21 pasal dan semuanya akan kuungkapkan.

para petugas rahasia

yang bekerja dekat dengan rajanya musuh dan disukai raja tersebut

hendaknya memberi tahu

kepada siapa saja yang bersahabat dengan kepala pasukan jalan kaki,

kepala pasukan kuda, kereta temur, dan gajah bahwa raja marah

dengan kepercayaan seperti kepada sahabat

bila desas-desus sudah padat para pembunuh bayaran setelah bersiap dengan segala bahaya

yang akan timbul dari pergerakan malam hari hendaknya pergi ke rumah para kepala itu dan berkata,

''Dengan perintah raja, Datanglah bersama kami.''

hendaknya mereka dibunuh begitu keluar rumah dan berkata kepada yang berada di dekatnya, ''Inilah pesan raja.''

kepada yang tidak dibunuh

para petugas rahasia hendaknya berkata bahwa dirinya diberitahu raja,

''Mereka ini meminta sesuatu yang tidak boleh dim inta; kuberikan kepada mereka

upaya agar mereka percaya kepadaku; mereka sekongkol dengan musuh; usahakan menghancurkan mereka.'' hendaknya petugas rahasia

bertindak seperti itu. dengan ini dijelaskan seluruh kelompok orang yang dapat dibujuk

atau petugas rahasia yang bekerja di dekat raja memberitahunya, bahwa seorang petinggi berhubungan dengan orang-orang dari pihak musuh bila ini dipercaya, tunjukkan para pengkhianat

yang membawa surat dari dia dan katakan, ''Ini orangnya!''

atau, setelah menyuap pejabat utama dengan tanah dan para kepala pasukan dengan uang

hendaknya dibuat memerangi bangsa sendiri atau membawa mereka pergi

hendaknya ia membuat putera raja

yang tinggal di dekat atau dalam benteng dibujuk oleh petugas rahasia, ''Kau adalah putra

yang memiliki keunggulan pribadi lebih besar tapi kau disisihkan;

lalu mengapa kau berbeda? perangi dan rebut kerajaan; putra mahkota akan segera menghancurkanmu.''

setelah membujuk para kepala hutan dengan uang dan kehormatan

ia hendaknya

membuat kerajaannya dihancurkan atau, ia hendaknya berkata kepada musuh yang berada di belakang, ''Raja ini setelah

menghancurkan saya,

pasti akan menghancurkanmu; serang dia dari belakang;

bila ia berbalik kepadamu,

aku akan menyerang dia dari belakang.''

atau, ia hendaknya berkata kepada sekutu musuh, ''Aku bendunganmu;

kalau aku pecah;

raja ini akan menguasai kalian semua; mari kita bersatu

dan mengacau dari jalur pengirimannya.''

maka ia hendaknya mengirimkan surat-surat kepada mereka yang bersatu

dengan dia

dan mereka yang tidak bersatu, ''Raja ini, setelah mencabut akarku, pasti akan bertindak melawanmu: awas; lebih baik kau membantuku.'' ia hendaknya mengirimkan seruan kepada raja yang di tengah

dan yang tidak berpihak, agar menyerah kepadanya, supaya selamat.

MEMBACA Arthasastra bagian tersebut membuat aku bergidik, karena jika memang menjadi kitab yang dirujuk para penyelenggara kekuasaan, maka takterbayangkan olehku suasana dalam istana yang penuh pertarungan di bawah permukaan. Wajah-wajah yang tidak dapat dipastikan kejujurannya, dan saling curiga yang hanya bisa dituntaskan dengan pembunuhan untuk memastikan keamanan. Jika pun negeri lain tidak merupakan ancaman, maka kecurigaan akan adanya pemberontakan sudah cukup untuk memanaskan keadaan. Perasaan terancam menimbulkan ketakutan, ketakutan mendorong penindasan, dan penindasan mendorong pemberontakan, yang hanya akan berjalan jika didukung pengkhianatan. Seribu satu kepentingan membuat berbagai hubungan antar pejabat dalam istana menjadi ruwet dan tidak mungkin dipetakan lagi. Bagaimana caranya pengawal rahasia istana mengatasi keadaan ini? Seberapa jauhkah pemahaman atas isi Arthasastra akan membantunya? Jika Arthasastra menjadi pegangan setiap pelaku dalam jaringan benang kusut ini, bagaimana pula para pelaku itu akan saling menghindar dan mengatasi yang lain?

Di antara semua itu, aku menaruh perhatian kepada dua hal jika menerapkannya kepada istana Rakai Panunggalan yang harus dijaga keamanannya oleh Campaka: Pertama, bahwa istana menjadi tempat berkeliaran Cakrawarti yang menjalankan peran petugas rahasia, maupun sasaran Kalapasa yang menjalankan peran pembunuh bayaran; kedua, bahwa dengan hadirnya Kalapasa maka akan, dan mungkin telah, berlangsung pembunuhan takterpecahkan, karena seni membunuh, termasuk secara gaib, adalah pada tujuannya agar siapa yang membunuh tidak pernah diketahui. Perhatian ini, tentu, adalah untuk Campaka, karena sebagai pemimpin sebuah pasukan pengawal rahasia istana, bukan saja ia harus mampu menangkal dan melacak jejak kejahatan seperti itu, melainkan juga karena dirinya pun takmustahil dapat menjadi sasaran pembunuhan.

Para pembunuh dalam permainan seperti itu tidak akan sekadar membunuh, melainkan juga berkemungkinan membunuh demi sebuah pengarahan kepada kesan tertentu, misalnya bahwa korban dibunuh oleh seseorang yang memang harus difitnah, dengan bukti-bukti meyakinkan. Aku tidak merasa yakin mengetahui cara menangkal fitnah, tetapi kurasa dapat kuberikan kepada Campaka cara menangkal pembunuhan, baik yang terbuka maupun yang diam-diam.

Maka pada suatu saat menjelang malam, ketika kelelawar baru mulai berangkat terbang dengan latar belakang gunung berkabut, setelah usai kuberikan kepadanya Ilmu Pedang Naga Kembar, kuminta ia melakukan samadhi dan mengosongkan dirinya sendiri.

''Hanya ada kegelapan dalam dirimu,'' kataku. ''Hanya ada kelabu.

''Hanya ada putih.

''Hanya ada cahaya. ''Hanya ada kebeningan. ''Hanya ada keheningan. ''Hanya ada kekosongan. ''Tiada lagi dirimu.''

Lantas kupindahkan kepadanya sesuatu dalam diriku yang akan membuatnya mampu menangkis bacokan belati atau menendang siapa pun yang akan menyentuhnya tanpa peringatan saat ia sedang tidur, dan tetap tak perlu bangun meski telah dihindarinya daun pintu yang jatuh karena tertiup angin, sehingga ia yang mesti berada di bawahnya telah berada di atasnya. Kemudian kuuji dia dengan cambukan mendadak saat bersamadhi itu, dan ternyata tangannya bergerak cepat menangkap cambuk itu. Kemudian kusambar sembarang dedaunan di sembarang pohon sembari mengitarinya agar aku bisa menyerangnya sambil berputar dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata. Ternyata dengan tenangnya pula Campaka telah menggerakkan tangannya dalam samadhi, bagaikan seorang penari, bagaikan Durga yang menggerakkan keenam tangannya, sehingga ratusan daun yang telah kuubah menjadi setajam belati dan meluncur ke tempat-tempat mematikan di sekujur tubuhnya itu, rontok bagaikan daun kering kembali.

NAMUN jika pun segenap gerak berkalimat itu dapat dibacanya, bagaimanakah caranya menghindarkan pernyataan kematian? Telah disebutkan betapa ketika dihadapkan kepada lawan maka Jurus Dua Pedang Menulis Kematian bagai suratan kematian itu sendiri. Bagaimanakah caranya menolak atau menghindari suratan kematian? Padahal itulah yang akan dituliskan oleh Campaka kepadaku, dan tentunya dariku kepada Campaka --bagaimanakah caranya kami tidak saling berbunuhan?

Demikianlah tadi kukatakan betapa aku bersiap untuk sebuah aksara, tetapi ternyata Campaka tidak mengeluarkan aksara sama sekali, setidaknya bukan aksara yang kukenal! Astaga, mungkinkah aku tewas karena ilmu yang kuturunkan sendiri? Untuk diperhatikan, aku tidak pernah menganggap Campaka muridku, karena ilmu yang kuberikan bukanlah gubahanku sepenuhnya. Aku hanya mengembangkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian pada akhir rangkaian I lmu Pedang Naga Kembar gubahan pasangan pendekar yang telah mengasuhku. Ilmu silat bagiku adalah hak milik semua orang yang ingin mempelajarinya, tak seorang guru pun berhak menguasai ilmu silatnya untuk diri sendiri sahaja, karena jika itu terjadi maka kesempurnaan rohani yang diburunya dalam ilmu persilatan tidak akan pernah dicapainya. Jadi, telah kuberikan semuanya yang kuketahui mengenai Ilmu Pedang Naga Kembar sampai kepada Jurus Penjerat Naga dan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Maka jika terdapat sesuatu yang tak kukenal dari gerak Campaka, apakah yang telah dilakukannya? Aku bergerak secepat- cepatnya untuk terus menghindari buruan ujung pedangnya yang sangat berbahaya. Campaka telah memadukan gerakannya dengan bunyi mulut. Namun bunyi mulut itu pun tidak mengartikan sesuatu. Hanya bunyi demi bunyi itu sendiri. Aku sempat kebingungan dan hanya bisa menghindar dan menghindar, sembari berpikir keras untuk memecahkannya.

Telah kukatakan bahwa meski dalam sepuluh tahun ini kemajuan ilmu silat Campaka sungguh luar biasa, tetapi perkembangan ilmu silatku sendiri jauh berlipat ganda dibanding kemajuan Campaka. Maka jika Campaka telah menyulitkan aku sekarang, tentu itu bukanlah karena ia punya tenaga dalam atau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, seberapa hebat pun kemajuan Campaka dalam hal itu, belumlah akan mengungguli aku. Adapun Ilmu Pedang Naga Kembar yang baru saja kuturunkan, jelaslah kuketahui se luk beluknya seperti aku mengenal diriku. Apakah yang telah terjadi?

Hanya satu jawaban dimungkinkan. Campaka telah menggunakan otaknya! Tak ada ilmu silat lain yang dikuasai Campaka berada di luar pengetahuanku, sehingga tak bisa lain ini berarti Campaka telah menafsirkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian dengan caranya sendiri, yang sengaja menghindari kemungkinanku untuk mengenalinya! Namun bagaimana itu mungkin, jika aksara yang dikenal Campaka tidak lebih banyak, bahkan mestinya lebih sedikit daripada berbagai jenis aksara yang kukenal? Maka tentu tetaplah Campaka memanfaatkan aksara yang kukenal juga, tetapi dengan cara penulisan yang berbeda. Adalah tugasku untuk memecahkannya! Tidak mudah melakukan hal ini, dalam pertarungan dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata! Namun pernah kukatakan, jika kita mampu bergerak lebih cepat dari cepat, maka yang cepat itu akan tampak begitu lamban, sehingga mungkin diperiksa dan dibaca segenap pergerakannya. Maka aku bergerak dua kali lebih cepat dari semula, begitu cepatnya sehingga seolah-olah aku dapat membelah diriku jadi dua; yang satu melayani Campaka, yang lain mengamati pergerakan pedangnya. Dengan cara ini segera kudapatkan pemecahannya. Campaka telah menggunakan otaknya, aku pun harus menggunakan otakku!

Kemudian kuketahui bahwa Campaka telah menggunakan huruf yang sama saja, tetapi telah memecahkannya menjadi garis-garis lurus, garis-garis lengkung, dan titik-titik, yang memiliki keteraturan begitu rupa sehingga dalam perbandingannya akan dapat dikenali sebagai aksara juga. Pantas semula gerakan kedua pedangnya bagiku sangat membingungkan! Dengan cara ini setiap aksara yang biasanya terbentuk oleh satu gerakan singkat, kini menjadi lebih panjang dan lebih lama waktunya untuk menjadi kata, dan tentu lebih lama lagi menjadi kalimat. Dalam kecepatan yang tidak dapat diikuti mata, kemampuan memecahkan ini, meskipun bukan merupakan sembarang penemuan, masih belum berarti apa-apa; karena bukankah kematian pada dasarnya telah dituliskan? Mungkinkah menghindari kematian yang telah disuratkan, dengan dua pedang pula?

LANTAS kuambil sebatang tongkat, kuperlakukan bagai tombak yang siap menusuknya. Kutusukkan tongkat itu dengan cepat seolah tombak menusuk lehernya, tetapi yang berhenti hanya dalam jarak satu jari dari lehernya yang jenjang. Ternyata Campaka masih bersamadhi, tetap bergeming sama sekali! Ketika ujung tongkat itu kugerakkan lagi untuk menyentuh lehernya, ia lenyap begitu saja, dan mendadak sudah berada di atas dahan sebuah pohon di belakangku, masih dalam keadaan bersamadhi! Maka aku teringat langkah kakinya yang begitu ringan sehingga tak terdengar olehku itu. Telah tergabung dalam dirinya kecepatan dan kegaiban yang akan membuatnya sulit tertandingi. Itu pula suatu syarat mutlak, jika ingin mampu memainkan I lmu Pedang Naga Kembar sampai pada tingkat Jurus Penjerat Naga, yang sengaja diciptakan untuk menghadapi para naga apabila terpaksa bentrok suatu ketika; maupun Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang telah kukembangkan sendiri. Lantas kusapa dia dengan I lmu Pembisik Sukma agar dia memudarkan samadhi, karena ingin kuperiksa pengaruh tenaga gaib itu kepada I lmu Pedang Naga Kembar yang dimainkan berpasangan.

Dalam cahaya bulan kami segera berkepak seperti kelelawar saling menyambar buah-buahan. Pertarungan kami berlangsung di atas pucuk-pucuk pepohonan yang bagi kami terasa bagaikan lapangan. Campaka menggunakan kedua pedangnya dan aku menggunakan kedua pedang hitam dari dalam tanganku. Sembari terbang saling desak mendesak kami bertukar tusukan dan babatan yang ketika berbenturan mengeluarkan percik-percik api di tengah malam. Suara logam tipis berbenturan lembut tanpa nafsu pembunuhan meski terjamin akan tetap mematikan.

Ilmu Pedang Naga Kembar sebetulnya diciptakan Sepasang Naga dari Celah Kledung untuk dimainkan berpasangan. Namun menyadari bahwa latihan hanya akan berlangsung antara pasangan tersebut, maka suatu cara pengujian ketepatan penguasaan telah diciptakan pula berdasarkan kebutuhan, yakni bahwa suatu jurus tertentu akan berhadapan dengan jurus tertentu. Dalam ketepatan penguasaan, keberpasangan tersebut akan tampak indah karena penuh dengan pesona gerakan.

Campaka tersenyum bahagia menghayati keindahan gerak jurus-jurus I lmu Pedang Naga Kembar, karena kami bagai membawakan tarian terbang berpasangan. Namun tentu saja aku tidak ingin membuatnya lengah, maka beberapa kali kukejutkan dia dengan berbagai serangan mendadak, dengan penambahan kecepatan, dan gabungan berbagai jurus yang sengaja kubuat membingungkan. Ternyata bahwa Campaka melayani semua itu dengan jurus-jurus pasangan yang telah digabungkannya pula. Kami berkelebat saling sambar menyambar tanpa suara sepanjang malam, mendaki tingkatan dari jurus ke jurus sampai melewati Jurus Penjerat Naga dan tiba pada Jurus Dua Pedang Menulis Kematian.

Sampai di sini kami harus berhati-hati, karena mengeluarkan jurus ini bagai menentukan kodrat yang sesuai dengan namanya, yakni akan berakhir dengan kematian lawan. Mungkinkah kami menghindarkan kematian yang kami tentukan sendiri?

(Oo-dwkz-oO)