-->

Nagabumi Eps 75: Putri Seorang Penyamun

Eps 75: Putri Seorang Penyamun

PARA mabhasana itu sudah siap untuk mati, ketika Radri dan Sonta melompat ke tepian dan me lenting ringan di pucuk batu-batu besar.

''Giliran kalian sekarang,'' kata Radri kepada anak buahnya, ''aku sudah capai membunuhi anak buah Si Kera Gila.''

Sepuluh perompak melompat ke atas perahu tambang. Mereka mengangkat senjata dan segera menyerang para mabhasana yang berjumlah lima orang itu dengan jurus mematikan. Namun belum juga sampai senjata mereka menyentuh tubuh, ataupun tertangkis oleh golok para mabhasana, sesosok bayangan berkelebat cepat tak tertangkap mata, disusul bunyi tinju menghantam tubuh, dan tahu-tahu kesepuluh perompak itu sudah berteriak kesakitan sebelum jatuh ke sungai.

''Aaaaaaaaahhh!'' Byur... ''Aaaaaaaahhh!'' Byur...

Byur...

Byur...

Byur...

Para mabhasana yang sudah siap menyambut serangan juga terkejut karena mendadak kehilangan lawan mereka. Tentu mereka harus tetap waspada karena masih ada sepuluh lagi anak buah Radri dan Sonta yang s iap menyerang. Namun dari lentikan kilat yang berkeredap sekejap, terlihat betapa mereka pun sangat amat terkejut. Di atas perahu tambang itu, di balik tirai hujan, terlihatlah seorang perempuan yang tubuhnya penuh rajah, sehingga ia seperti mengenakan busana, padahal sampai kepada payudaranya pun terbuka. Payudaranya tidak besar, hanya sebesar buah jeruk, tampak sesuai dengan gambar rajah yang seperti membungkus tubuhnya. Dengan payudara seperti itu, ia t idak perlu menutupinya dalam permainan ilmu s ilat, karena memang tidak akan menimbulkan gangguan apa pun. Perempuan inilah, yang berkain dari pinggang sampai ke lutut, dengan dua pisau panjang bergerigi terselip di pinggangnya yang ramping itu, yang telah menjatuhkan sepuluh perompak secepat kilat dengan tangan kosong. Kesepuluh perompak yang tadi jatuh tercebur, berenang ke tepian berbatu-batu dan naik dengan tubuh menggigil tak berani membalas.

''Nilam ! Kenapa kamu selalu mencampuri urusan Ayah!''

Naru mengangkat alis. Perempuan yang telah menolong mereka ini anak Radri? Putri seorang penyamun?

''Ayah selalu berprasangka buruk kepadaku, padahal semuanya kulakukan demi kepentingan Ayah!''

''Hmmh! Kepentinganku? Apa maksudmu dengan perbuatanmu kali ini, Nilam?''

''Ayah memang seorang perompak, dan pekerjaan seorang perompak memang merampas harta benda, tetapi kali ini Ayah merampas harta benda yang salah.''

''Jelaskanlah maksudnya, wahai Nilam, putriku yang selalu mengganggu.''

Naru menghela nafps. Ayah beranak ini berbicara di tengah hujan lebat, dan nasib mereka semua sangat tergantung dari percakapan itu. Bukanlah nyawa para mabhasana yang mereka bicarakan itu, melainkan perihal harta benda tersebut. Nyawa manusia tidak ada artinya dibandingkan barang- barang. Ia perhatikan perempuan yang disebut Nilam itu. Cantik, tetapi tampaknya sangat kejam. Kedua pisau panjangnya saja bergerigi, seperti telah menjelaskan tujuan penggunaannya yang bukan sekadar melumpuhkan, melainkan juga menyakiti lawan.

''Tidak tahukah Ayah bahwa harta benda yang berada dalam pedati ini bukan sembarang harta benda orang kaya, melainkan harta benda yang dipesan oleh kerajaan?''

Radri dan Sonta telah diberi tahu remaja tanpa nama itu perihal serba-serbi isi pedati. Justru pemberitahuan itulah yang telah menggoda keduanya.

''Ya, kami tahu riwayat isi pedati itu. Justru karena kami jadi bersemangat merebutnya.''

''Apakah yang Ayah katakan telah Ayah ketahui itu?'' ''Bahwa semua barang ini pesanan istana, yang akan

diserahkan untuk upacara penyerahan sima. Ada pihak yang bermaksud merampas, dengan tujuan menggagalkannya. Apa salahnya jika aku saja yang merampoknya?''

Hujan bukannya makin reda. Petir memekakkan telinga. Nilam yang rambut panjangnya basah dan menempel di kulit punggungnya yang penuh rajah berteriak keras berusaha mengatasinya.

''PERBUATAN itu sangat berbahaya Ayah! Ini bukan perampokan biasa! Ini perampokan sebagai bagian pengkhianatan terhadap negara! Jika kita merampoknya juga, kita akan menghadapi dua pihak, para pengkhianat yang merasa jarahannya tercuri maupun para pengawal rahas ia istana! Mengambil barang-barang ini terlalu besar akibatnya, akibat yang tidak perlu pula!''

Radri terdiam. Lantas mendengus.

''Anak perempuan! Pintar bicara seperti ibunya!'' Sudah jelas ia harus mengakui kebenaran kata-kata putrinya.

''Jangan sebut lagi tentang Ibu! Biarlah hidupnya tenang di alam barzah!''

Terbayang oleh Naru suatu sengketa keluarga yang tidak dapat ditebaknya.

''Bagaimana aku harus percaya ini semua bukan karanganmu Nilam?''

Nilam menghela napas panjang. ''Kalapasa. ''

''Kalapasa?''

''Kalapasa mengetahui semuanya.''

Hmm. Kalapasa. Radri mengetahui bahwa Nilam berkasih- kasihan dengan seorang anggota Kalapasa, dan dari sanalah maka penjelasannya bisa dipercaya. Sebagai putri seorang penyamun, Nilam jauh lebih berotak daripada ayahnya.

''Jadi apa yang harus kita lakukan Nilam?''

Di antara keredap kilat, Naru melihat senyuman Nilam yang licik.

''Kita tidak akan merampok, melainkan menyelamatkan barang-barang ini.''

''Lantas?''

''Tentu kita t idak akan memilikinya Ayah, kita akan menjadi pahlawan.''

Radri masih tidak percaya betapa ia tak akan memiliki harta benda yang ibarat kata sudah jatuh ke tangannya. Naru tidak bisa membayangkan, betapa dapat menjadi begitu licin seorang putri penyamun seperti Nilam.

''Jadi kita akan menyerahkannya?'' ''Ya, kita akan menyerahkannya.'' ''Kepada siapa?''

Nilam kembali menunjukkan bagaimana ia dapat memegang kendali.

''Kudengar pengawal rahasia istana sedang menyusul para mabhasana ini.''

Kini Radri tahu bahwa Nilam te lah menyelamatkan mereka, berkat segala pesan yang didapatkannya dari seorang anggota Kalapasa, meski ia sendiri tidak menyukai lelaki yang sudah beristri itu. ''Dasar anak penyamun,'' katanya kepada Nilam waktu itu, ''bisanya menyamun suami orang.''

Nilam yang cerdas tentu saja menjawabnya, ''Apakah Ayah bukan penyamun, sehingga menyamun istri orang sampai Ibu meninggal karena merana?''

Namun kini Radri sedang memikirkan sesuatu yang lain. Ia turun dari batu, dengan nada yang sudah berubah.

''Nilam, Ayah setuju pendapatmu, kamu memang cerdas seperti ibumu, yang juga anak seorang penyamun; tetapi bagaimana kalau kita tidak usah menyerahkan semuanya?''

''Maksud Ayah?''

''Dari tiap karung kita ambil sedikit-sedikit, tentu mereka tidak akan tahu. Benda-benda ini sangat berharga, biarlah seluruh anggota kita memilikinya meski hanya sedikit-sedikit sahaja.''

Nilam tertawa terbahak-bahak.

''Bahkan penyamun pun tidak boleh sebodoh itu, Ayah! Hahahaha! Apakah Ayah pikir juru hitung bendaharawan istana tidak akan menghitungnya.''

''Barang sebanyak ini?'' ''Ayah! Sekeping inmas pun, kalau hilang, mereka akan mengetahuinya!''

''Haaaaaaaaaahhhhh!''

Radri meraung ke angkasa untuk menyalurkan kejengkelannya.

Naru bergidik mendengar perkembangan ini. Harta benda memang tidak jadi dirampas, bahkan akan dikembalikan, tetapi bukankah para mabhasana ini telah mendengar bahwa pengembalian itu bukanlah pengembalian yang tulus? Para petinggi istana mungkin sangat peduli kepada tiap keping inmas di antara barang-barang di dalam pedati itu, tetapi apakah juga akan peduli kepada jiwa para mabhasana? Naru yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya, baru menyadari betapa murah jiwa manusia di tengah dunia persilatan. Telah disaksikannya sepak terjang remaja tak bernama itu menghadapi lawan-lawannya. Betapa kejam dunia persilatan itu, betapa tanpa ampun!

Meskipun kawanan penyamun itu tidak saling mengucapkan sesuatu tentang nasib mereka. Naru dapat membaca suatu gelagat yang sangat tidak mengenakkan perasaan.

Nilam menoleh kepada para mabhasana. ''Turun kalian,'' katanya.

Perintahnya jelas sangat tegas dan penuh wibawa. Ketika melewatinya, Naru mengamati sepintas rajah di tubuh Nilam yang membuatnya seperti mengenakan busana atasan. Rupanya gambar seekor naga melingkar dan mengangakan mulutnya. Kepalanya berada di depan dengan mulut menganga, kedua payudara nilam yang sebesar buah jeruk separo menjadi mata naga itu, dengan kedua puting berikut lingkaran di tepiannya menjadi lingkaran hitam mata naga. Suatu rajah yang indah, pikir Naru, sekaligus ganas dan mengerikan. Jika suatu gambar rajah merupakan usaha seseorang untuk menunjukkan siapa dirinya, mungkinkah dapat ditafs irkan bahwa Nilam ingin menjadi naga yang menerkam? Istilah naga mencerminkan wibawa, tetapi juga suatu kuasa. Apakah Nilam ingin berkuasa dan menerkam siapa pun di bawah kekuasaannya?

Mereka melangkah di antara batu-batu menonjol di tepian, dan setelah mencapai dataran yang rata di baliknya, mereka digiring masuk hutan. Tampak betapa ini pun merupakan daerah takbertuan. Seberapa besarkah kekuasaan seorang raja di sebuah wilayah tanpa manusia? Di sanalah orang-orang yang ingin menjadi tuan atas dirinya sendiri bercokol. Mereka ingin hidup bebas atas kehendak mereka sendiri. Tak sudi tunduk kepada kekuasaan apa pun. Tidak kepada seorang raja, tidak pula kepada suatu igama. Tidak sudi membayar pajak, tidak pula akan menyerahkan tanah untuk candi. Bila perlu bahkan membangun kekuasaan mereka sendiri.

Maka demikianlah para penyamun di sepanjang sungai menentukan wilayah kekuasaannya bagi diri mereka, tak peduli apakah itu daerah yang tidak pernah disentuh manusia, ataupun bagian dari wilayah yang dinyatakan sebagai wilayah kerajaan. Dalam hal yang terakhir inilah para penyamun akan berhadapan dengan para penegak hukum, pasukan yang dikirim untuk membasmi mereka sampai ke akar-akarnya. Meski dalam kenyataannya, para penyamun bukan saja masih bercokol di berbagai wilayah tepian sungai, melainkan jumlahnya dari saat ke saat menjadi semakin banyak.

Naru melihat Nilam memberi tanda kepada anak buah ayahnya. Dengan patuh mereka segera melaksanakan perintahnya, yakni menutup mata para mabhasana dengan kain. Semenjak saat itu Naru hanya mendengar suara-suara. Ia berpikir, apakah diri mereka akan dibunuh? Semula ia mengira bahwa mata itu harus ditutup, karena jalan yang akan mereka lalui adalah jalan rahas ia. Sebagai orang-orang di luar hukum, mereka harus menjaga agar tempat persembunyian mereka tidak diketahui siapa pun. Hanya anggota kawanan mereka boleh mengetahuinya. Ini memang sebuah kemungkinan, tetapi Naru yang dalam keadaan tubuh menggigil, karena hujan deras kini disapu angin dingin, masih mampu berpikir, bahwa tujuan Nilam untuk membunuh para mabhasana sangat masuk akal.

Kawanan ini bermaksud menunjukkan jasa, dengan tujuan menjadikan kekuasaan negara sebagai pelindung kegiatan mereka. Permainan seperti ini bukan tidak pernah dilakukan oleh para pejabat istana. Mereka biarkan para perompak sungai merajalela, selama terdapat upeti yang diserahkan kepada mereka. Dalam keadaan seperti ini ada kalanya berlangsung pemerasan luar biasa, karena mereka ternyata mengirim pasukan setiap kali upeti dianggap kurang. Para penyamun atau perompak yang garang menjadi pihak yang diperas! Bukankah dengan begitu istana telah menjadi bagian dari jaringan kejahatan pula?

Namun, kali ini, demikianlah mungkin pikiran Nilam, bukan sekadar kawanannya akan membina hubungan dengan salah seorang pejabat istana dengan sembunyi-sembunyi; melainkan karena jasa yang akan mereka reka untuk itu, maka bukan seorang pejabat culas tersembunyi yang akan mereka jadikan bagian jaringan, sebaliknya adalah istana yang akan memberi penghargaan atas jasa mereka secara resmi! Betapapun, jasa menyelamatkan barang-barang bagi kepentingan upacara sima bukanlah sembarang jasa, karena kegagalan upacara merupakan kegagalan mendapatkan tanah untuk kepentingan yang sangat berguna. Tentu saja rencana Nilam hanya bisa berjalan jika para mabhasana yang telah mendengarkan perbincangan mereka ditutup mulutnya, tentu untuk selama-lamanya...

Naru mendengar suara hujan, dan juga mendengar percakapan yang jelas merupakan bahasa sandi. Seperti bahasa Kawi yang mereka ucapkan sehari-hari, tetapi yang dibalik-balik dengan aturan tertentu, menjadi ''bahasa maling'' yang hanya dikuasai para candala pengabdi dunia hitam. Langkah Naru menyapu semak-semak, sementara hujan agaknya telah menjadi gerim is. Tanah terasa sekali sangat amat becek, sehingga terdengar beberapa kali para mabhasana yang ditutup matanya dengan kain itu terjatuh.

SETIAP kali terjatuh, mereka ditunggu untuk bangkit berdiri. Kadang-kadang mereka jatuh begitu rupa sampai wajah mereka menyelusup ke dalam tanah becek. Terdengar suara makian para penyamun, yang dirasa oleh Naru telah ditugaskan untuk membantai mereka. Takterdengar lagi suara Nilam. Naru berpikir tentang malapetaka yang akan menimpa istana, apabila para penyamun mendapatkan kepercayaan sebagai orang-orang yang berjasa. Padahal tanpa remaja takbernama itu, bagaimana Gerombolan Kera Gila yang jaya musnah bagaikan tanpa sisa?

Mendadak alam yang telah menjadi hening ketika gerim is menghilang itu, dipenuhi dengan bentakan, teriakan dan makian yang sangat merendahkan dan menghina. Lantas sebentar-sebentar terdengar jerit kesakitan dan suara tubuh yang jatuh berdebam, sembari masih mengerang penuh penderitaan. Ditutupi kain dengan tangan terikat erat ke belakang, jelas membuat para mabhasana kebingungan. Naru mencoba tenang, dan merasa senang: Agaknya mereka sedang dibebaskan!

''Para   penyamun,   kami   prajurit   kerajaan   Mataram!

Menyerah atau mati!''

Ketika kalimat ini diucapkan, anak buah Radri sebetulnya tinggal sedikit. Tangan Naru yang terikat tiba-tiba terasa bebas, dan dengan cepat ia membuka kedua matanya. Dalam kegelapan di balik tirai hujan, pertarungan terlihat sudah mencapai saat terakhir. Para penyamun yang dilihatnya di tepi sungai tadi sudah terkapar. Hanya tinggal Radri yang bertahan, karena Sonta juga sudah terlihat tengkurap dengan tombak menembus punggungnya. Naru segera mengenali para pembebasnya sebagai pengawal rahasia istana. Peringkat tertinggi dalam lapisan pasukan kerajaan, di atas pasukan kerajaan sebagai peringkat terbawah, maupun pengawal raja yang berada di atasnya. Namun menghadapi lawan, mereka tampil dengan satu nama resmi untuk menunjukkan wewenang hukumnya, yakni prajurit kerajaan Mataram.

''Kami tak mengakui kerajaan mana pun!'' Radri berteriak lantang.

Namun Radri pun akhirnya tumbang dengan sepuluh pisau terbang di dadanya. Para mabhasana yang semuanya telah membuka penutup mata, dengan cepat saling berpandangan. Nilam tak berada di tempat dan artinya ia masih berkeliaran, padahal dialah yang sebetulnya sungguh paling berbahaya.

Baru berpikir seperti itu, suatu bayangan berkelebat dan menyerang pengawal rahas ia istana dengan sangat cepatnya. Secepat berpikir itu sendiri, lima pengawal rahasia istana terguling dengan sayatan mengerikan di dadanya, hasil sayatan pisau panjang Nilam yang bergerigi itu.

''Waspada! Anak penyamun itu!'' Terdengar teriakan mengingatkan.

Tentu bukan pengawal rahasia istana jika tidak dengan cepat bisa mengatasi masalahnya. Lima korban itu tidak bertambah lagi karena Nilam telah dikepung limabelas orang pengawal rahasia istana, laki dan perempuan, dengan jurus- jurus kepungan yang untuk sementara takbisa dipecahkan oleh Nilam. Mereka mengitari Nilam dengan jurus Naga Menimang Telur Emas yang membuat Nilam hanya dapat menangkis dengan sepasang pisau panjang bergeriginya itu. Dalam perputaran cepat yang membuat kelima belas pengawal takterlihat mata itu, setiap saat terdapat senjata yang menyerang Nilam. Dalam hal ilmu silat, jelas ilmu Nilam lebih tinggi daripada ayahnya, karena ilmu silatnya bukanlah sekadar ilmu silat tukang tambang yang mengandalkan jurus- jurus dengan galah dan dayung lagi. Ilmu meringankan tubuhnya tinggi, terbukti dari gerakan tubuhnya yang tidak terlihat, dan jelas Nilam menguasai tenaga dalam, seperti ketika ia membuyarkan kepungan itu.

''Huahhhh!'' teriaknya.

Dua orang anggota pengawal rahas ia istana roboh sambil memuntahkan darah. Perempuan yang tubuhnya dibelit gambar rajah naga menganga itu berjungkir balik dengan ringan ke atas, dan hinggap pada dahan sebuah pohon.

''Kalian para pengawal rahas ia istana yang terkemuka, kudoakan kalian akan tetap hidup dalam tugas-tugasmu, agar bisa mengalami pembalasanku. Kalian telah membunuh ayahku dan menghancurkan persaudaraannya. Daku Nilam, putri satu-satunya, tidak akan tinggal diam. Namun daku tahu kalian tidak akan menemukan tempat ini dan menggerebek kami, jika tidak karena pengkhianatan seorang kepadaku.

''Kalian pintar telah menggunakan anggota Kalapasa yang bermulut manis dan berhasil merayu daku. Akan daku cari dia sebelum kalian sempat memberi tahunya, dan akan daku kirimkan seluruh anggota tubuhnya kepada masing-masing dari kalian. Ingat, tak seorang pun dari kalian pembunuh ayahku akan lolos dariku.

''Kalian boleh bermimpi buruk setiap malam sampai daku mencabut nyawa kalian. Perhatikan bahwa daku, Nilam, selalu membalas, dan pembalasan daku akan selalu lebih kejam!''

Nilam lantas melemparkan butiran-butiran kain sebesar kelereng ke arah para pengawal rahas ia istana, yang ketika ditangkis meledak serta mengeluarkan asap menutupi pandangan.

Angin malam segera menyingkirkan asap di udara yang basah, tetapi pada saat itu Nilam sudah menghilang.

(Oo-dwkz-oO)