-->

Nagabumi Eps 73: Di Ratawun

Eps 73: Di Ratawun

"Sahaya tiba di Ratawun bagaikan turun dari angkasa

karena dibawa sepasang burung rajawali. Sahaya merasa sikap mereka memang gelisah karena perangkat upacara itu tidak kunjung tiba. Namun usaha menjelaskan maksud kedatangan sahaya tersulitkan oleh terkejutnya para pejabat desa maupun pejabat istana melihat tibanya sahaya dengan cara dibopong seoramg pria berbusana asing dari angkasa; yang sebetulnyalah tiada lain kemampuan seorang pendekar berkelebat dengan ilmu meringankan tubuh sehingga bisa melenting dari pucuk pohon yang satu ke pucuk pohon yang lain sebelum akhirnya tiba-tiba saja mendarat dengan ringan tanpa suara.

"Bukannya mereka memperhatikan warta yang sahaya bawakan, sebaliknya mereka bahkan sibuk mempertanyakan asal-usul para penolong sahaya itu, yang dijawab oleh kedua pendekar itu bahwa keduanya adalah pedagang dari sebuah negeri jauh di seberang lautan, yang sementara waktu menetap di Javadvipa.

"'Pedagang apa?' kata mereka pula.

"'Pedagang kundika,' demikianlah jawabnya dalam bahasa Melayu.

Mendengar kata kundika akupun menduga-duga darimana kedua pendekar itu berasal. Memang benar bahwa wadah air tersebut, sejauh terbuat dari tanah liat saja, telah dapat dibuat di Javadvipa. Namun kundika yang lebih canggih, hanyalah yang datang bersama mereka yang datang dari utara, dengan kapal-kapal yang berlabuh di kota-kota pantai sepanjang Suvarnabhumi maupun Javadvipa, baik sebagai barang dagangan maupun harta milik pribadi yang dibawa dalam perpindahan di berbagai jalur perdagangan antarnegara di Suvarnadvipa . Maka, jika keduanya mengaku sebagai pedagang kundika, dan mestinya dengan berbagai barang dagangan lain pula. Itu merupakan cara menyamar yang bisa diterima.

Namun bagaimana caranya penduduk Mataram tahun 796 menerima dalam akalnya betapa kedua orang itu datang berkelebat untuk segera menghilang? Adalah Campaka yang menerima banyak pertanyaan, yang membuatnya tiada habis mengerti bahwa hal itu seolah menyita perhatian lebih banyak daripada masalah benda-benda upacara yang terlambat.

''Demikianlah Tuan mereka sibuk bertanya-tanya dengan terpesona. '''Jadi yang disebut dunia persilatan itu memang ada? Jadi laki-perempuan yang mengantarmu itu pendekar silat dari mancanegara?'

''Sahaya tentu saja juga sulit menjelaskannya Tuan, karena pertemuan sahaya dengan keduanya, seperti Tuan ketahui, juga hanya selintas pintas sebagaimana layaknya kelebat seorang pendekar dalam dunianya yang memang seperti dongeng. Hanya setelah terpaksa sahaya agak keras berbicara, maka mereka menaruh perhatian.

''Maka sahaya ceritakan segenap pengalaman para mabhasana yang pernah sahaya dengar, bahwa isi pedati itu nyaris dirampok pengawalnya sendiri, yang lantas setelah Tuan mengawalnya, tetap saja berada dalam ancaman perampokan Gerombolan Kera Gila seperti sahaya telah ikut mengalaminya, dan bagaimana akhirnya berpisah karena menjalankan tugas dari Tuan. Itu pun perhatian masih harus berbelok lagi karena mendengar perihal Tuan.

'''Jadi Pendekar Tanpa Nama itu memang ada? Kukira itu hanya dongeng dunia persilatan yang beredar dari kedai ke kedai!''

'''Tuan dan Puan,' kata sahaya dengan suara tegas, -- meskipun pendekar yang tidak memiliki nama tersebut masih mengawal para mabhasana dan lima pedati yang diangkut perahu tambang besar jenis akirim agong, betapapun usianya masih lima belas tahun. Beliau memang sakti, tetapi tipu daya dan serangan licik masih akan dapat memperdayainya.'''

Itulah yang memang terjadi, karena racun dalam cakar Si Kera Gila dalam ilmu persilatan adalah bagian dari tipu daya dan seorang pendekar dari golongan putih tak akan pernah menggunakannya. Teringat selintas betapa dalam diriku telah terkandung segenap ilmu sihir dan ilmu racun paling jahat warisan Raja Pembantai dari Selatan yang belum mampu kuberdayakan sepenuhnya. ''Tetapi Tuan, rupanya sahaya pun tidak dapat segera membaca keadaan. Mereka tampaknya justru berharap agar upacara penyerahan sima itu gagal, karena sebetulnya mereka kecewa dan terkejut bahwa tanpa dikehendaki para mabhasana itu telah terkawal oleh Tuan.''

''Lantas apa yang mereka lakukan kepadamu?''

''Inilah yang kemudian terjadi Tuan. Sejumlah orang bersenjata tiba-tiba sudah mengepung sahaya dan tentu saja tiada yang dapat sahaya lakukan selain melawan. Sahaya cabut kedua pedang di punggung sahaya dan sahaya lawan mereka sekuat tenaga. Segenap serangan mereka adalah mematikan, artinya mereka ingin membunuh dan tidak sekadar menangkap sahaya. Sekitar duapuluhlima orang mengepung sementara orang-orang desa menonton saja.

''Untunglah, meskipun mereka tampaknya prajurit, karena berbusana seperti orang biasa, kepandaian silatnya tidak ada yang mencapai tingkat pendekar, yakni menggunakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Jadi untuk sementara sahaya masih dapat melawan dengan segala keterbatasan jurus-jurus yang bisa dima inkan dengan kedua pedang sahaya.

''Sembari bertarung sahaya berteriak marah kepada para pejabat yang hanya menonton. --Wahai Tuan-Tuan, apakah maksudnya semua ini Tuan? Semua orang telah berjuang dan berkorban demi kerajaan, yakni menyelamatkan benda-benda upacara penyerahan sima, apakah Tuan-Tuan bermaksud melakukan pemberontakan? Apakah berarti Tuan-Tuan tetap bermaksud menerima harta karun tetapi tanah ternyata tidak diserahkan? Katakanlah, agar jika sahaya memang harus mati, tidak akan mati penasaran dan hantu sahaya tidak mengganggu kehidupan Tuan,i kata sahaya.

''Ternyata pancingan sahaya berhasil. 'Huahahahaha, perempuan pandai! Dikau pandai bermain pedang dan pandai pula bermain kata-kata! Huahahahaha! Tapi karena dikau memang akan mati, dikau diiz inkan mengetahui segalanya! Huahahaha!'

''Sembari bertarung dalam keadaan selalu terdesak, sahaya mendengarkan baik-baik kalimat seorang pejabat istana. 'Perempuan pandai, ketahuilah bahwasanya bukan kami yang memberontak terhadap kerajaan, melainkan raja yang dikau bela itulah yang telah melakukan pengkhianatan. Pengkhianatan terhadap siapa? Tentu saja pengkhianatan terhadap igama! Bagi kami hanya ada satu kebenaran, yakni kebenaran kami! Meskipun seorang raja, jika ia membiarkan penyerahan sima bagi igama yang berbeda, kami anggap telah mengkhianati igamanya sendiri. Maka tanah ini kami sita dan benda-benda upacara tetap menjadi milik kami! Mengerti dikau Dewi?'

''Sahaya menjadi bingung, karena segalanya tampak ruwet. Bukankah tidak ada cerita tentang permusuhan antara Mahayana dan Siva? Siapa mengkhianati siapakah ini? Lagipula igama macam apakah yang telah menjadi begitu kerdilnya, sehingga tidak mengakui kebenaran, setidaknya keberadaan, igama lainnya? Nanti sahaya memang dapat meraba apa yang telah terjadi, tetapi saat itu sahaya hanya berpikir untuk menyelamatkan nyawa sahaya dahulu, yang telah dipastikannya untuk melayang hari itu juga.

''Maka sahaya memainkan jurus yang sahaya pelajari dari ayah dan suami, tentang bagaimana menghadapi pasukan yang lebih banyak dalam pertempuran. Maka sahaya berlari seolah putus asa untuk memancing kepungan. Apabila mereka kemudian mengepung sahaya dengan penuh kelengahan, karena rasa puas yang belum waktunya, saat serangan serentak dengan bayangan puluhan tombak akan menembus tubuh sahaya, maka sahaya berguling seperti trenggiling untuk berputar dengan kedua tangan terentang seperti baling- baling. ''Sahaya sendiri pun belum pernah melihat akibat dari jurus yang meskipun pernah sahaya coba dalam latihan, jelas belum pernah sahaya gunakan karena belum pernah terlibat pertempuran. Apa yang sahaya saksikan sangat mengibakan perasaan. Sebetulnya siasat ini digunakan dalam keadaan terdesak, ketika jumlah pasukan berjalan kaki harus melawan pasukan berkuda. Suatu siasat agar membuat kuda yang ganas dan terlatih dapat terlumpuhkan dengan cepat, sehingga perbandingan kekuatan segera berimbang. Namun dalam hal ini, bukan kaki kuda yang termakan babatan baling- balong kedua pedang sahaya yang ternyata sangat tajam itu, melainkan kaki manusia.

''Seluruhnya, dua puluh lima orang itu bergelimpangan dengan jerit memilukan. Betapa taktega sahaya menyaksikannya, tetapi mereka semua dengan bersemangat ingin membunuh sahaya bukan? Tidak semua memang jadi putus kakinya, ada yang hanya tergores, tetapi jika goresan itu menghancurkan tempurung lutut, tentu saja sangatlah melumpuhkan dengan rasa nyeri taktertahankan. Maka di hadapan sahaya terbentanglah pemandangan memilukan itu, kaki kiri atau kanan yang terlepas dari tubuhnya, takkurang- kurangnya yang lepas kedua-duanya, atau tempurung lutut hancur tergores dua-duanya, tetapi yang hanya di sebelah kiri atau kanan pun takbisa berdiri lagi dan hanya bisa mengerang-erang. Sahaya dapat membunuh mereka semua jika berminat, tetapi itu tidak mungkin sahaya lakukan.

''Sahaya bangkit berdiri perlahan-lahan dengan mata yang barangkali telah dibaca sebagai nyalang dan haus darah, rambut sahaya yang penuh debu tanah mungkin pula telah menambah kengerian orang-orang terhadap sahaya. Terbukti ketika sahaya melihat ke sekeliling dan melangkah, orang- orang desa yang menonton di lapangan itu segera lari lintang pukang. ''Tempat itu menjadi lengang. Hanya tersisa sejumlah pejabat istana dan desa yang berdiri kebingungan, tidak tahu apa yang mesti diperbuat. Belum jelas bagi sahaya, masalah igama yang bagaimana telah membuat para pejabat ini mengkhianati kepercayaan istana kepada mereka, tetapi bagi sahaya cara-cara licik se lamanya takbisa dibenarkan. Sahaya mendekati mereka, dan meskipun ketakutan mereka takbisa lari. Beberapa orang bahkan tampak terkencing sehingga menetes dan membasahi kainnya. Sahaya merasa marah teringat segala usaha yang telah kita semua lakukan. Meskipun baru sebentar bertemu dan mengenal para mabhasana, kedua tukang perahu, maupun Tuan sendiri, kesamaan nasib sebagai sasaran penyerbuan para penyamun sungai, dan perjuangan bersama melawannya, telah membuat sahaya merasa menjadi bagian dari rombongan, lebih dari sekadar sebagai kawan seperjalanan.

''Sahaya baru mau membuka mulut, bertanya mengapa mereka tega melakukan pengkhianatan yang licik seperti ini, ketika dari belakang sahaya muncul seregu pasukan berkuda. Sahaya masih tertegun ketika mendadak seseorang melompat turun dari kuda dan langsung memeluk sahaya yang masih dikuasai perasaan. Ternyata dialah Rama Naru, pemimpin rombongan mabhasana itu. Bagaimana beliau dengan cepat dapat menyusul, akan sahaya ceritakan nanti, yang jelas saat itu kami berpelukan dan sahaya menangis karena takbisa lagi menahan haru.

'''Sudahlah, Anak, biarkan pasukan rahasia istana menjalankan tugasnya. Anak sudah selamat. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Tapi daku masih sedih dengan lenyapnya pendekar tak bernama yang telah membantu kita itu, yang rupa-rupanya meski pertarungannya belum terlalu banyak, tetapi belum pernah terkalahkan dan sudah mulai disebut-sebut sebagai Pendekar Tanpa Nama. Di tengah sungai kami telah diserang bayangan berkelebat yang menurut Radri dan Sonta kemungkinan besar adalah Si Kera Gila sendiri, pemimpin para penyamun di sungai itu yang tentu telah mengetahui betapa anak buahnya musnah.'

''Apakah yang terjadi kemudian, Rama Naru?'

'''Pendekar Tanpa Nama itu lenyap bersama bayangan berkelebat itu, mereka berdua tercebur dan tampaknya bertarung di dalam air. Kami belum tahu lagi apa yang terjadi setelah itu, karena perahu tambang itu terus terseret arus yang semakin lama ternyata semakin deras.'

(Oo-dwkz-oO)

Selama Campaka bercerita, aku memikirkan sesuatu di balik pengalamannya. Bahwa berbagai peristiwa yang dialaminya tersangkut dengan suatu peristiwa yang jauh lebih luas. Setidaknya dua perkara dapat kutarik dari ceritanya: pertama, tentang penyerahan sima; kedua, tentang bangunan untuk igama. Tentu harus kuyakinkan diriku sendiri betapa aku memang harus mengetahui perkara kedua hal itu, sebelum mencoba menarik suatu kesimpulan dari cerita Campaka.

Pemberian anugerah sima oleh raja seringkali diikuti oleh pembukaan tanah lama yang kurang menghasilkan, seperti ladang, pekarangan, kebun, menjadi ladang baru yang lebih menghasilkan, yakni sawah. Ini merupakan cara-cara raja untuk membuat rakyatnya sejahtera, sehingga bukan hanya dibebaskan dari pajak, tetapi tanahnya pun menambah kemakmuran pula. Adapun bagi petinggi desa, ketika kemampuan memimpin dinilai dari kemampuannya membagi kekayaan, cara memperlihatkannya adalah pada saat membagi harta ketika desanya mendapatkan anugerah sima.

Di bagian awal rangkaian upacara ini, digambarkan bagaimana pemimpin desa, yang mendapat anugerah sima dari raja, membagi-bagikan harta kekayaannya kepada berbagai lapisan khalayak. Harta kekayaan yang diberikan sebagai hadiah, yakni pasek-pasek atau pisungsung, adalah busana wdihan untuk laki-laki dan ken untuk perempuan dalam berbagai corak; serta logam mulia, yakni mas dan pirak. Mereka yang mendapat hadiah ini adalah para pejabat dari tingkat pusat, bahkan mulai dari sang raja sendiri sampai pejabat desa. Tidak ketinggalan wakil dari desa-desa tetangga atawa wanua i tpi s iring dari tempat sima itu diberlakukan.

Namun tak selalu tanah itu dipandang dari kesuburannya, dan dikembangkan dari ladang menjadi sawah. Bagi raja, pemberian anugerah sima kepada pimpinan desa juga dipandang sebagai tindakan keagamaan. Pernah kujumpai sejumlah prasasti yang menyebutkan betapa pendapatan raja menjadi hanya sepertiganya, karena duapertiga bagian lainnya diberikan kepada kepala sima dan untuk bangunan keagamaan yang berada di atas tanah itu. Di wilayah pusat kerajaan, sang raja sendiri juga mendirikan bangunan keagamaan dengan ukuran yang lebih besar. Jika kutafsir kembali berbagai kalimat dalam prasasti itu, terdapat hubungan antara pujian terhadap kebesaran raja dan upayanya mendirikan bangunan suci, yang disebut arca dewa atau lingga. Dengan mendirikan bangunan igama, terwajibkan pula seorang penguasa untuk memeliharanya.

Para pejabat penerima sima juga menyadari betapa anugerah membawa kewajiban baru yang tidak dapat diingkari, yakni pemeliharaan bangunan suci yang berdiri di atas tanah sima miliknya. Bentuk pemeliharaan paling nyata adalah memberikan sebagian hasil pajaknya untuk kepentingan bangunan suci tersebut. Kewajiban kerja bakti bersama-sama juga diadakan untuk perbaikan bangunan yang disebut buncang haji, mengadakan upacara pemujaan kepada dewa yang disebut bhatara, lengkap dengan beaya persajiannya.

Waktu masih kecil, bersama orangtuaku pernah kulewati Canggal di atas Gunung Wukir, dan di sana terdapat prasasti yang ditulis tahun 732. Karena belum lancar membaca huruf Sansekerta, maka ayahku menceritakan isinya, yang sekarang ini kuingat juga menjelaskan hubungan raja dan rakyatnya dalam hubungan dengan bangunan keagamaan.

Prasasti itu dikeluarkan oleh raja Sanjaya ketika mendirikan lingga di atas Gunung Wukir, terletak di dekat sebuah candi. Prasasti itu terdiri dari 12 pada. Menurut ayahku pada 1 menguraikan pembangunan lingga oleh Sanjaya di atas gunung, pada 2-4 memuat pujaan kepada Siva, pada 5 memuat pujaan kepada Brahma, pada 6 adalah pujaan kepada Visnu, pada 7 menguraikan suburnya pulau Jawa yang kaya akan tambang emas dan menghasilkan padi, tempat didirikannya candi Siva dari Kunjarakunjadesa demi kebahagiaan khalayak.

Pada 8-9 menguraikan bahwa pulau Jawa diperintah oleh raja Sanna yang sangat bijaksana, adil tindakannya, perwira dalam peperangan, dan bermurah hati kepada rakyat. Ketika Sanna meninggal dunia, negara berkabung, sedih kehilangan pelindung. Pada 10-11 menguraikan tentang pengganti Sanna, yakni puteranya, raja Sanjaya, yang dikiaskan sebagai matahari. Sanjaya tidak menerima kekuasaan langsung dari Sanna, melainkan dari kakak perempuannya. Pada 12 menguraikan kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun, sehingga rakyat hidup serba senang.

Dengan sedikit pengetahuan seperti itu, apa yang dapat kukaji dari pengalaman Campaka?

(Oo-dwkz-oO)