Nagabumi Eps 69: Mandala dalam Kurungan

Eps 69: Mandala dalam Kurungan

Penyergapan mendadak itu sudah diperhitungkan, dan siapa pun yang mengalami penyergapan seperti itu niscaya tiada dapat meloloskan diri. Seratus pisau terbang berdesing ke arahku dari segala jurusan. Tanpa berpikir lagi aku melenting ke atas dengan tujuh putaran. Sesampainya di atas, sebelum turun kembali, kedua pedang hitam dengan sendirinya muncul dari kedua tanganku.

INILAH saat yang menentukan, karena saat yang selanjutnya hanya bisa berarti kedua pedang itu menuliskan kematian para penyergap itu. Namun sudah kukatakan tadi betapa penyergapan itu sudah diperhitungkan. Maka pada saat aku sedang akan berkelebat membantai, empat tali jerat yang liat dan bagaikan berkehendak seperti ular telah melingkari kedua tangan dan kakiku. Tubuhku langsung terpentang dengan tali-tali merentang ke empat jurusan. Kedua pedang hitam itu dengan sendirinya masuk kembali ke dalam tanganku.

Maka kuperberat tubuhku begitu rupa sehingga tali-tali yang liat itu tidak dapat menahanku turun ke bawah. Namun tindakan ini pun rupanya sudah diperhitungkan, karena ketika aku tiba di bawah rupanya sudah terdapat dasar sebuah kurungan bambu. Baru aku menyentuhnya, empat dinding kurungan datang merapat dari empat arah. Apakah ini berarti aku dapat melompat ke atas? Aku belum selesai berpikir ketika angin pukulan tenaga dalam dari empat jurusan memaksaku menangkisnya, jika aku tidak ingin terkapar muntah darah. Bukan hanya tertangkis, angin pukulan Telapak Darah yang dengan peleburan ilmu-ilmu Raja Pembantai dari Selatan telah menjadi beracun, ternyata mengenai pula keempat penyerang tersebut. Empat sosok jatuh dari pohon dalam keadaan sudah tidak bernyawa, tetapi tak sempat kulakukan apa pun terhadap atap kurungan yang melayang dari atas. Brrrggg! Enam bidang kurungan, empat dinding dan dua bidang sebagai dasar dan atap, langsung saling mengunci. Trrrkk!

Aku langsung terkurung bagaikan binatang rimba masuk jebakan. Empat pelempar tali jerat menarik talinya masing- masing sehingga kedua tangan dan kakiku kembali terpentang. Lantas dari balik setiap celah kurungan bambu ditusukkan puluhan tombak tanpa ada yang luput. Bukan untuk membantaiku, melainkan sekadar untuk mengunci tubuhku. Jadi aku terpentang mengambang dalam kurungan karena disangga tombak-tombak yang mengisi segenap celah kurungan. Menggerakkan tubuh pun aku tidak akan mampu. Namun ketika dalam keadaan seperti ini tombak-tombak selanjutnya ditusukkan pula, kali ini benar-benar untuk membantaiku, kukeraskan tubuhku dengan tenaga dalam setiap kali mata tombak itu menyentuhku kulitku, sehingga patah begitu saja bagaikan terbuat dari tanah liat. ''Kurang ajar! Rupa-rupanya dia kebal!''

Aku sama sekali tidak kebal. Siapa pun yang tenaga dalamnya lebih tinggi dariku tentu akan mampu menusukkan apa pun ke dalam tubuhku, meskipun itu hanya selembar daun bambu.

''Angkat saja kalau begitu! Biarlah Paduka Yang Mulia Naga Hitam sendiri mencungkil bola mata astacandala ini!''

Ah, rupanya gerombolan Naga Hitam yang sedang kupikirkan itu! Siapakah yang layak bergelar astacandala sebenarnya? Aku atau mereka? Dengan jalan yang ditempuh Naga Hitam sekarang, ia yang dahulu termasuk pendekar golongan merdeka, apabila mengumpulkan orang-orang jahat yang tersempal dari masyarakatnya seperti sekarang ini, boleh dianggap telah bergabung dengan golongan hitam. Sebenarnya Naga Hitam bukanlah orang yang menempuh jalan kejahatan itu sendiri, melainkan karena hanya golongan hitam yang sejalan dengannya untuk diajak berperan dalam permainan kekuasaan. Suatu kehendak yang harus dibayarnya dengan keterpencilan dan keterasingan dari dunia persilatan. Para pendekar golongan putih dengan sendirinya akan menjadi lawan, sedangkan para pendekar golongan merdeka tidak akan pernah lagi menghargainya sebagai seorang pendekar. Betapa menggiurkannya kekuasaan bagi Naga Hitam, sehingga dilepaskannya kehormatan seorang pendekar dalam dunia persilatan!

Namun adalah kekuasaan jua kini yang sedang mengejarnya ke mana pun jaringannya bersembunyi. Para pengawal rahasia istana yang terlatih dalam penyelidikan dan pembasmian setiap gerakan pengkhianatan terhadap negara rupanya telah berhasil menyudutkan mereka. Kini, sebagai pembongkar rahasia pengkhianatan itu, gerombolan Naga Hitam telah berhasil menangkapku.

''Astacandala! Kali ini dikau benar-benar akan mati!'' Dendam mereka tampaknya memang meluap-luap, tetapi mereka tidak tahu cara membunuhku. Sebaliknya, dalam diriku sekarang terhimpun segala macam ilmu sihir dan ilmu racun yang ingin benar kuujikan kepada gerombolan penjahat ini. Kupejamkan mataku dan melalui ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang kuketahui jum lah mereka 120 orang, dikurangi empat orang yang tewas karena pukulan Telapak Darah. Keempat orang yang tewas itu, mengingat tingkat tenaga dalamnya, kurasa merupakan petinggi rombongan ini. Jenazah keempatnya dinaikkan ke kuda mereka masing-masing, dan rombongan ini segera berangkat sambil berlari.

SERATUS enam belas orang berlari secara terjaga dalam kegelapan, sebagian orang berlari sambil mengangkat kurungan. Aku tetap berada dalam keadaan hanya dapat melihat tanah di bawah. Sempat kulihat mereka semua berkancut dengan kain yang sudah kumal, berdestar dengan kain yang juga tak berwarna lagi, dan semuanya bersenjata pisau panjang serta pedang. Kukenal suatu ilm u silat yang memainkan kedua senjata ini, pedang untuk membabat dan memancing tangkisan, pisau panjang menyambar tanpa terlihat setiap saat terbuka pertahanan. Barangkali Naga Hitam telah mengembangkan ilmu itu untuk pertempuran berkelompok, mengingat kegiatannya kemudian yang lebih sering membutuhkan banyak orang.

Mereka berlari cukup cepat. Kupikir, semakin aku bisa memperlambat perjalanan ini, semakin aku berpeluang untuk selamat. Meskipun aku telah meningkatkan kemampuan tenaga dalamku berpuluh kali lipat, yang kuperhitungkan mampu mengimbangi tenaga dalam seorang Naga Hitam, aku tidak boleh terlalu percaya diri untuk merasa mampu menghadapinya dalam keadaan terikat seperti ini. Semakin aku bisa memperlambat laju rombongan ini, semakin besar kemungkinan gerombolan ini belum sampai di tempat tujuannya pada saat hari terang. Jadi aku diam-diam mulai meludah ke tanah.

Rombongan ini cukup cerdik karena sebagian besar telah memisahkan diri berikut empat kuda yang membawa empat jenazah. T inggal lima puluh orang mengawalku, dua puluh di depan dan dua puluh di belakang, sementara sepuluh orang mengangkut kurungan. Kurasakan jalan mulai mendaki, jadi aku harus bertindak cepat sebelum mereka memasuki daerah yang semakin terpencil.

Adapun yang kuludahkan adalah racun. Ya, aku mampu membuat ludahku beracun dan mematikan. Meski bagi mereka yang tanpa sengaja menginjak ludahku, hanya akan kesemutan, kehilangan rasa, sebelum akhirnya mengalami kelumpuhan. Sejumlah orang di bagian belakang mulai terguling tanpa sebab yang jelas. Mereka hanya merasa kesemutan, dan karena kehilangan rasa maka bagai tak berpijak, dan ketika terguling tak bisa menggerakkan kakinya lagi. Mula-mula rombongan masih berhenti sebentar untuk menolong. Perjalanan dilanjutkan dengan meninggalkan satu orang untuk memapah, tetapi ketika terjadi lagi beberapa kali karena aku memang terus menerus meludah agar terinjak, siapa pun yang terguling ditinggalkan begitu saja tanpa dipedulikan. Jelas kemarahan Naga Hitam bagi mereka jauh lebih mengerikan daripada nasib malang teman-temannya itu.

Demikianlah rombongan masih terus berlari terengah- engah dalam kegelapan ma lam. Namun kurasakan kesejukan udara pagi hari. Meskipun bumi masih gelap gulita, dunia akan segera kembali menjadi terang. Aku tak tahu apa artinya kecuali bahwa kemungkinan untuk se lamat lebih pantas jadi harapan.

"Cepat! Cepat! Kita harus tiba sebelum hari terang!"

Namun seorang demi seorang terus terguling lagi. Sampai tiada lagi orang di depan, karena semuanya mengangkut kurungan. Aku terus meludah. Kubayangkan sepanjang perjalanan orang-orang bergelimpangan. Tidak mati. Hanya lumpuh tanpa kejelasan. Urutannya jelas mengarah ke tempat bermukim Naga Hitam. Apakah aku harus berhenti meludah?

Tali liat yang menjerat kedua kaki dan tanganku sehingga terpentang begini diikatkan pada empat sudut kurungan. Tiba- tiba saja kurasakan keempatnya mulai mengendor, meski tidaklah begitu kendornya sehingga aku tetap saja terpentang, apalagi dengan adanya tombak-tombak yang mengganjal tubuhku. Seseorang telah menolongku!

Namun aku tetap saja tak bisa bergerak dengan adanya tombak-tombak itu. T inggal sepuluh orang berjalan terengah- engah, takkuat berlari lagi, mungkin juga karena jalanan mulai mendaki. Aku belum bisa mengambil keputusan, apakah memancing para penyelidik kerajaan menyelidiki urutan mayat sampai ke tempat bermukim Naga Hitam, ataukah siap menghadapi segala kemungkinan dalam keadaan tetap seperti sekarang.

Aku jelas tetap akan dibunuh, karena tombak-tombak yang takberhasil menembus tubuhku tadi memang dimaksudkan untuk membunuhku. Apakah yang akan dilakukan Naga Hitam jika melihat diriku dalam keadaan seperti ini? Aku akan sangat senang jika ia memilih untuk bertanding, tetapi aku meragukan kemungkinan itu karena kesempurnaan dalam ilmu silat sudah tidak menjadi tujuannya lagi, yang juga berarti ia sudah tidak s iap untuk mati. Bahwa ilmu s ilatnya begitu tinggi, sehingga ia menjadi salah satu di antara para naga, tidaklah kuragukan sama sekali, tetapi kehendak untuk menikmati kekuasaan sungguh membuat orang menjadi sangat malas untuk mati. Sikap seorang pendekar yang hanya hidup dengan pedang dan pakaian yang melekat di badan sungguh jauh dari dirinya.

DISEBUTKAN selain sering berpesta pora dengan para tokoh golongan hitam, Naga Hitam mempunyai istri sampai 20 orang. Para perempuan itu dipersembahkan oleh berbagai kelompok golongan hitam yang membutuhkan perlindungan Naga Hitam. Begitu juga dengan segala kebutuhan dan kemewahan berlimpah yang dinikmati perguruannya. Namun pasukan pengawal rahasia istana pasti telah membuat kenikmatan hidupnya terganggu.

Aku telah membunuh murid-muridnya, aku telah mengacaukan rencana-rencananya untuk berperan dalam permainan kekuasaan. Semua itu tanpa kumaksudkan memusuhi dirinya.

Jalan semakin mendaki. Di sebelah kanan terdapat tebing, di sebelah kiri jurang menganga. Aku masih berpikir ketika tiba-tiba kunci yang saling mengikat kurungan terlepas. Para pengangkut kurungan itu pun tiba-tiba terjerembab sehingga kurungan yang masing-masing bidangnya semula terikat erat jatuh berdebam dan berantakan. Aku ikut jatuh tetapi dengan segenap bidang kurungan yang lepas-lepas itu ambruk menimpa diriku, sehingga aku tidak bisa bergerak, karena tombak-tombak yang berada di antara celah tetap melekat di sana. Kini siapa pun dapat membunuh diriku dalam keadaan tengkurap tanpa daya seperti itu.

"Bunuh dia! Bunuh dia!"

Kudengar perintah seperti itu. Dengan cepat kusalurkan segenap tenaga dalam ke titik-titik mematikan dalam tubuhku, karena titik-titik seperti itulah memang yang sangat dikenali para pembunuh. Kurasakan sejumlah bacokan mengeluarkan bunyi seperti menimpa besi. Namun sejumlah bacokan lain menghunjam titik-titik yang tidak mematikan, dan betapapun tetap saja rasanya menyakitkan. Sebilah pisau panjang menembus pinggang. Aku membalikkan kepala dengan susah payah, mencoba melihat pelakunya, tetapi aku hanya melihat sesosok bayangan putih berkelebat dan pemegang pisau panjang yang menembus pinggangku itu terpental dan hilang ke dalam jurang. Sejak itu aku tidak tahu apa-apa lagi, meski kemudian memimpikan riwayat hidup Naropa: Tilopa berkata:

"Jika Anda menginginkan pengajaran, buatlah sebuah mandala."

Tetapi Naropa tidak mempunyai beras, sehingga ia harus membuatnya

dari pas ir;

dan walaupun dicarinya ke mana-mana,

air untuk dipercikkan tak ditemukannya.

Tilopa bertanya:

"Apakah Anda tidak punya darah?"

Naropa membuat darahnya muncrat dari nadinya; dan dicarinya pula ke mana-mana,

tetapi bunga takditemukannya. Tilopa menyindirnya:

"Tiadakah Anda punya anggota badan?

Potonglah kepalamu

dan letakkanlah di tengah mandala.

Ambillah tangan dan kakimu serta aturlah semua itu di seputarnya."

Naropa menuruti perintah itu,

dan dipersembahkannya mandala itu kepada gurunya, sembari pingsan karena kehabisan darah.

Ketika ia siuman kembali,

Tilopa bertanya kepadanya:

"Naropa, apakah Anda merasa berbahagia?"

Sampai di sini m impi itu terputus, aku mendengar suara pertempuran di sekitarku yang sangat hiruk pikuk. Rasanya lemah sekali tubuhku, dan mataku serasa amat sangat berat untuk dibuka. Aku masih tengkurap dengan wajah mencium tanah basah, tetapi suara-suara jerit kesakitan, bentakan, dan makian riuh rendah keluar masuk telingaku. Sepintas kudengar ringkik kuda dan kaki manusia bergedebukan di sekitarku. Pinggangku serasa luar biasa nyeri. Aku tak sadarkan diri lagi.

Kemudian mimpiku berlanjut.

"Kebahagiaan dipersembahkan kepada guru. Mandala ini dibuat dari darah dan dagingku." Tilopa kemudian berkata:

"Naropa, badan ini

yang dicemari segala kenikmatan, tiada mempunyai hakekat.

Walau demikian,

badan sarana mengalami kenikmatan yang abadi.

Lihatlah pada kaca dari pikiranmu, suatu keadaan antara,

tempat tinggal gaib Dakini." Kemudian iapun disembuhkan dan diberi ajaran

tentang "keadaan antara".

Lantas aku seperti merasakan diriku tertidur dalam suatu tidur yang panjang dan sangat menyenangkan, ketika hidup dan mati menjadi tidak penting lagi, karena hanya terdapat kehidupan abadi. Meski ini pun ternyata hanya mimpi.

"Seandainya semua orang tahu nikmatnya kehidupan abadi," ipikirku, " barangkali semua orang ingin segera mati..."

Namun aku belum mati. Umurku 25 tahun dan berada di tahun 796 di Javadwipa, di sebuah negeri yang disebut bernama Mataram, di bawah kepemimpinan Rakai Panunggalan. Aku merasa sangat lapar. Wajahku seperti penuh dengan benang laba-laba. Sebuah wajah cerah mendadak muncul di hadapanku dengan sebuah mangkok kayu.

"Campaka...," kataku lemah.

"Pendekar Tanpa Nama, Tuan tak sadarkan diri selama tiga hari..."

Tiga hari? Pantas aku merasa lapar sekali. Mulutku menganga saja ketika dengan daun pisang disuapinya aku dengan bubur bercampur daging cincang itu.

"Tuan mengalami demam luka, tubuh Tuan sempat panas sekali, Tuan juga mengigau..."

"Di manakah kita?" Campaka tersenyum.

"Tuan Pendekar, kita berada di bekas persembunyian Naga Hitam."

Aku hanya bisa ternganga.

"Para penyelidik pasukan rahas ia istana berhasil menemukannya setelah menyelusuri mayat-mayat bergelimpangan yang mati keracunan. Ketika berhasil menyusul, kami melihat Tuan berada dalam kurungan yang sudah berantakan dan sedang sibuk dibacok orang-orang Naga Hitam, dan kami segera mengambil tindakan."

"Kamu yang menolongku? Melepas tali-tali jerat itu?" "Bukan Tuan, kami memang melihat tali-tali itu sudah

terlonggarkan. Kami kira Tuan sendiri yang telah melakukannya."

"Tidak Campaka, seseorang telah menolongku diam- diam..."

Aku mencoba bangkit. Namun pinggangku sakit sekali. "Jangan bergerak dulu Tuan, biarkan ramuan untuk luka yang dibikin Campaka bekerja."

Aku tergeletak lagi. Pinggangku penuh dengan dedaunan obat yang telah ditumbuk, airnya diserap kain bersih, dan kainnya ditempelkan ke luka itu. Tampak luka itu cepat kering, tetapi tentu saja sama sekali belum kering.

Kulihat sekeliling. Ini rumah panggung kayu yang sederhana sekali. Di bawah lantai kudengar dengus babi dan anjing yang menyalak-nyalak. Di luar terdengar suara banyak orang.

Campaka mengerti arti pandangan mataku yang bertanya- tanya.

"Naga Hitam ternyata tidak ada di sini. Seluruh anak buahnya yang berada di sini tewas terbunuh. Sebelumnya kami juga telah membasmi lima puluh anggotanya yang bertemu di jalan."

Tentu itulah rombongan yang memisahkan diri dalam perjalanan kemari. Para pengawal rahasia istana rupanya melakukan sapu bersih. Tidak seorang tokoh pun, siapa pun dia, yang kewibawaannya boleh me lampaui kewibawaan istana. Walaupun ia seorang Naga Hitam yang tak terkalahkan di dunia persilatan.

Dalam keadaan lemah, dalam suapan Campaka aku berpikir, seorang tokoh seperti Naga Hitam tentu tidak akan tinggal diam.

(Oo-dwkz-oO)