Nagabumi Eps 68: Dua Pedang Menulis Persandingan

Eps 68: Dua Pedang Menulis Persandingan

Cahaya Kota Kapur. Nama apakah itu? Seperti bukan gelar seorang pendekar. Namun barangkali nama itu adalah nama yang diberikan kepadanya karena sesuatu yang terdapat dalam ilmunya. Telah kudengar selintas tentang penduduk Kota Kapur yang seluruh tubuhnya berlumur kapur. Apakah yang dimaksudkan dengan Cahaya? Mungkinkah ia seorang pendekar yang begitu penting bagi Kota Kapur itu? Aku belum melupakan kalimat dari prasasti yang disalin itu. Aku tidak mengira betapa dalam dunia persilatan harus kuhadapi begitu banyak ilmu gaib. Aku tidak terlalu suka ilmu gaib karena aku selalu menganggapnya sebagai bukan ilmu silat, tetapi dalam kenyataannya ilmu silat nyaris tidak terpisahkan dari ilmu gaib. Pernah kunyatakan betapa ilmu silat itu dalam penceritaan kembali telah menjadi susastra, maka dalam hal ini sungguh ilmu gaib telah meningkatkan kesusastraannya.

Cahaya Kota Kapur berwajah tampan, berkumis tipis yang sebagian sudah beruban, dan tampak kepercayaan dirinya besar sekali. Aku mengetahui kehadirannya selalu hanya beberapa kejap sebelum ia memperlihatkan diri, yang menandakan betapa ilmu meringankan tubuhnya memang tinggi sekali. ''Pendekar, benarkah dikau tidak bernama?'' ''Ya, aku tidak pernah mempunyai nama...'' Ia tersenyum.

''Tidakkah dikau menghendaki sebuah nama untuk dirimu sendiri, sekadar untuk membedakan dirimu dengan yang lain?''

Kini kupaksakan diriku tersenyum, karena percakapan seperti ini bagiku sangat membosankan.

''Cahaya Kota Kapur, dikau menantangku bertarung, ataukah bercakap-cakap? Waktuku tak banyak untuk melayanimu.''

Kalimatku seolah-olah belum selesai ketika kusadari ujung pedangnya sudah berada di dekat leherku. Aku berkelebat menghindar dan kami berdua segera menjadi segulungan cahaya yang tidak terlihat mata orang biasa. Dengan segera kualami artinya nama Cahaya Kota Kapur. Bukan saja kelebat tubuhnya yang menjadi cahaya mesti diimbangi dengan kecepatan melebihi cahaya, tetapi betapa setiap kali pedangnya kutangkis, entah bagaimana caranya meletuplah dari pedang itu serbuk kapur yang berhamburan di udara.

Aku memainkan I lmu Pedang Naga Kembar, dengan sepasang pedang hitam yang muncul dari dalam tangan sebagai warisan Raja Pembantai dari Selatan. Paduan keduanya memang luar biasa. Membuatku senang memainkannya dan tidak berusaha terlalu cepat menyelesaikan pertarungan. Meskipun suatu pertarungan yang berbahaya sebaiknya diselesa ikan dengan segera, karena dalam pertarungan tingkat tinggi kelengahan sekejap sudah berarti kematian, aku tidak dapat menahan godaan untuk memperagakan Ilmu Pedang Naga Kembar bagai memperagakan keindahan sebuah tarian, meski pertarungan ini tidak ada penontonnya. Aku merasakan diriku lebih sebagai penari yang lebih peduli kepada gerak daripada seseorang dari rimba hijau yang ingin selalu menundukkan lawan.

Begitulah aku berputar-putar dan melenting-lenting mengitari Cahaya Kota Kapur. Setiap kali pedang kami beradu berhamburanlah serbuk kapur se lembut tepung ke mana- mana. Udara penuh serbuk memutih karena serbuk kapur itu, lelatu api berkilatan karena perbenturan pedang sebentar- sebentar terlihat di antaranya. Benturan logam terdengar sebagai dentingan halus dalam gulungan cahaya pertarungan kami yang cepat, sangat cepat, dan begitu cepatnya sehingga tidak bisa diikuti mata orang biasa.

Kemudian kusadari kehebatan kedua pedang hitam di tanganku yang bagaikan terisi jiwa seorang pembunuh itu. Kedua pedang itu ternyata mampu menyerap habis serbuk- serbuk kapur yang beterbangan di udara tersebut, tepat ketika aku sudah tak tahan lagi menahan nafas terus menerus dalam pertarungan secepat itu.

Saat udara menjadi bersih, Ilmu Pedang Naga Kembar telah sampai kepada Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Maka kupilih percakapan antara Nagasena dan Raja Milinda tentang Jatidiri dan Kelahiran Kembali yang akan mengakhiri riwayat Cahaya Kota Kapur, yang tentu saja juga akan lahir kembali:

Sang Raja bertanya: ''Jika seseorang lahir kembali, wahai Yang Mulia Nagasena, apakah dia adalah seseorang yang baru saja mati atau yang lain?''

Yang dituakan itu menjawab: ''Ia bukan yang sama maupun lainnya.''

''Berikan daku gambaran!''

"Apakah yang Paduka pikirkan, wahai Raja Besar? Ketika Paduka berwujud bayi kecil, baru saja lahir dan sangat lemah, apakah itu Paduka seperti sekarang yang sudah dewasa?" "Bukan, bayi itu adalah seseorang, daku sekarang yang dewasa, adalah seseorang yang lain."

"Jika demikian, maka, wahai Raja Besar, Paduka tidak mempunyai ibu, tidak mempunyai bapak, tidak mencapai sesuatu dan tidak bertahap! Apakah kita akan menganggap bahwa terdapat seorang ibu bagi janin pada tahap pertama, yang lain pada tahap kedua, yang lain lagi pada tahap ketiga, berbeda lagi pada tahap keempat, masih berbeda pada sang bayi, dan lain lagi bagi yang telah dewasa? Apakah bocah yang tertahapkan ini satu orang, dan yang dilahirkan bocah berbeda? Apakah yang melakukan kejahatan seseorang, tetapi yang tangan dan kakinya dipotong adalah orang lain?"

"Jelas tidak! Namun apakah yang akan dikau katakan, Yang Mulia, dengan semua itu?"

Yang dituakan menjawab: "Aku pun bukan bayi kecil, yang baru lahir dan masih lemah, maupun yang dewasa; tetapi semuanya melebur dalam kesatuan tubuh ini."

"Berikan daku perbandingan!"

"Jika seseorang menyalakan api penerangan, bisakah memberi penerangan sepanjang malam?"

"Ya, bisa."

"Apakah api yang membakar pertama kali sama dengan yang membakar kemudian?"

"Tidak, tidak sama."

"Ataukah api yang membakar kemudian itu sama dengan api yang membakar pada saat terakhir?"

"Tidak, tidak sama."

"Apakah dengan begitu kita menganggap terdapat satu lampu pada saat dinyalakan pertama kali, dan lampu lain kemudian, dan lampu lain lagi pada saat terakhir?" "Tidak, itu karena cahaya lampu memancar sepanjang malam."

"Meskipun begitu kita harus memahami persandingan dari suatu rangkaian kesinambungan dharma. Saat kelahiran kembali dharma terbit, sementara yang lain berhenti; tetapi dua keberlangsungan itu mengambil tempat secara bersama dan bersambung. Maka, tindak pertama kesadaran dalam keberadaan baru, juga taksama dengan tindak terakhir kesadaran dalam keberadaan sebelumnya, dan taksama juga dengan yang lain-lainnya."

"Berikan kepadaku perbandingan lain!"

"Susu, sekali pemerahan susu selesai, beberapa saat kemudian menjadi dadih; dari dadih menjadi mentega mentah; dan dari mentega mentah menjadi mentega masak. Sekarang apakah boleh dikatakan bahwa susu adalah sama dengan dadih, atau mentega mentah, atau mentega masak?"

"Tidak, tentu tidak. Namun mereka terbentuk karena susu." "Begitu juga mesti dipahami persandingan dari rangkaian

dharma yang berkesinambungan."

Saat itulah Cahaya Kota Kapur tak bisa menghindar lagi, karena dalam Jurus Dua Pedang Menulis Kematian, sebetulnya kematian sudah dipastikan. Adalah kesaktian dan kecepatannya yang luar biasa saja, membuat begitu banyak aksara harus dituliskan oleh kedua pedangku untuk menyelesaikan perlawanannya. Harus kuakui itu pun bukan perkara mudah, karena ia mengenal aksara yang semula kugunakan. Semula kugunakan aksara Pallawa, ketika kuketahui ia bukan hanya mengenal aksaranya, tetapi juga mengenal kutipan dari ajaran Nagasena, maka kuubah aksaranya ke aksara Kawi, yang rupanya tak terlalu dikuasainya dan saat itulah pertahanannya berantakan.

Namun aku tidak menulis aksara apa pun di tubuhnya. Suatu hal yang selalu dilakukan Pendekar Aksara Berdarah yang pernah kusaksikan pertarungannya, yang membuatku tergerak untuk mengembangkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian sebagai suatu jurus yang meminjam tulisan tertentu secara harafiah.

Pendekar dari tanah seberang itu terkapar bagaikan tanpa luka, tetapi goresan luka terkecil pun yang berasal dari pedang hitam warisan Raja Pembantai dari Selatan tentu saja tidak akan pernah membiarkan siapa pun selamat. Dengan segenap kemampuanku telah kuusahakan suatu kematian yang tidak menyakitkan, tetapi kematian yang diakibatkan oleh kedua pedang hitam yang bisa masuk sendiri ke dalam kedua tanganku itu tetap saja berbeda dari akibat luka dari pedang biasa. Racun dalam kedua pedang hitam itu adalah racun yang telah dimatangkan dayanya oleh darah para korban. Tiada racun lain yang bisa menandinginya.

Kudekati Cahaya Kota Kapur, ia tampak menahan rasa sakit yang teramat sangat.

"Terima kasih atas pertarungan ini," katanya, "carilah para naga, dan kalahkan mereka..."

Lantas ia menghembuskan napas penghabisan. Saat itu hari menggelap, meski langit masih menyisakan cahaya kemerah-merahan. Dalam sekejap segera kutinggalkan tempat itu. Dari kejauhan terlihat api dari pancaka seadanya yang kudirikan bagi pembakaran jenazah Cahaya Kota Kapur. Apinya yang merah menyala-nyala di atas bukit, bagai berusaha menjilat-jilat langit yang juga semburat merah bagaikan terbakar.

Ketika api itu akhirnya padam, langit pun menjadi gelap, dan aku pun berkelebat dalam kegelapan meneruskan perjalananku.

(Oo-dwkz-oO)

DEMIKIANLAH aku meneruskan perjalanan dalam kegelapan sambil memikirkan sesuatu, bahwa siapa pun yang berusaha mencapai kesempurnaan dalam ilmu persilatan di sungai telaga Yavabhumipala cepat atau lambat harus menghadapi para naga yang mana pun jua. Bukankah para naga mendapatkan gelarnya juga sebagai usaha mencapai kesempurnaan dalam dunia persilatan dengan cara menempur semua orang yang menyoren pedang dari tiga golongan sampai tak terkalahkan lagi? Gelar Naga adalah gelar yang didapatkan sebagai pengakuan atas suatu wibawa. Dengan kata wibawa maka berarti pemegang gelar Naga itu bukan sekadar diakui ketinggian ilmu silatnya, karena ia pasti tidak terkalahkan; tetapi lebih penting adalah betapa ia lebih disegani daripada ditakuti. Sebenarnyalah gelar Naga juga memberi arti seorang pelindung dan kepada merekalah siapa pun yang lemah dan tidak berdaya meminta pertolongan.

Namun sejauh dapat kupikirkan perjalanan waktu telah mengubah makna itu. Jika para naga tidak saling menempur, bukan saja itu berarti masing-masing dari mereka belum boleh dikatakan mencapai kesempurnaan dalam ilmu s ilatnya, tetapi juga bisa dikatakan telah membelokkan tujuan dalam pembelajaran ilmu persilatan. Apakah mereka masing-masing takut kalah? Jika memang demikian, sudah pasti gelar Naga itu tidak berhak lagi mereka sandang karena betapapun terdapat lawan di depan mata yang sama sekali belum mereka tundukkan; dan itu berarti tujuan seorang pendekar dalam jalan pedang untuk mencapai kesempurnaan, meskipun melalui kematian, telah mereka hindari. Sebaliknya, seperti telah disampaikan pendekar Cahaya Kota Kapur, mereka bagaikan menjauh dari para penantang, dengan menyebarkan semacam ketentuan baru, bahwa para penantang haruslah lebih dahulu merupakan pendekar tak terkalahkan di antara para pendekar tak terkalahkan. Dengan cara ini, sangat mungkin tak seorang pun dari para naga itu akan pernah mendapat penantang, karena para penantangnya akan terus saling berbunuhan dari waktu ke waktu. Sebaliknya, kudengar kemudian bahwa para naga ini telah menjadi raja-raja kecil yang sulit digapai, bukan saja karena sangat sulit menemukan tempat mereka bermukim yang sangat dirahasiakan, tetapi juga karena mereka memasang barisan pengawal pribadi secara berlapis-lapis dengan ketat sekali. Dengan cerita semacam ini aku tidak mendapat kesan atas keberadaan para naga sebagai seorang pendekar yang mengembara dari pertarungan satu ke pertarungan lain untuk menggapai kesempurnaan ilmu silat; mereka memang melakukannya dahulu, tetapi untuk membangun kekuasaan.

Semua itu tentunya hanyalah pernah kudengar. Dalam negeri seperti ini kita tidak dapat membedakan antara warta dan cerita, karena setiap penyampai wacana tiada terhindar pastilah tergoda untuk memberikan penafsirannya. Lagi pula bagi dunia awam, dunia persilatan bagaikan suatu dongeng tiadalah yang dapat menghalangi pencerita mana pun untuk melibatkan kesan. Setiap, warta nyaris tidak pernah dise lidiki, bahkan segera terceritakan kembali tanpa kehendak maupun kewajiban untuk setia kepada sumber penceritaan.

Dengan demikian segala cerita memang tercatat dalam kepalaku, tetapi kutunda untuk mempercayainya tanpa bukti, meski terhadap setiap cerita itu tentu terdapat cara untuk menggali kenyataannya sendiri. Dalam hal Naga Hitam, sebelum kudengar segala cerita tentang dirinya, telah kualami bagaimana harus kuhadapi segenap pembunuh yang dikirimkannya, tanpa pernah terjamin apakah perburuan itu telah dihentikannya sekarang. Kutahu perhatian Naga Hitam sedang terarah ke istana, suatu kehendak yang mendapat jalan ketika pihak istana memanfaatkan jasanya untuk menyebar kengerian dengan berbagai bentuk pembunuhan. Namun para juru siasat istana yang tentu saja sangat berpengalaman dalam permainan kekuasaan takpernah berhubungan langsung dengan Naga Hitam. Mereka menggunakan guhyasamayamitra atau perkumpulan rahasia Cakrawarti sebagai penghubung, dan menghindari hubungan secara langsung yang sangat berbahaya bagi kedudukan istana jika klialayak mengetahuinya.

Maka ketika kubongkar rahas ia persekongkolan ini di tengah pembangunan candi raksasa Bhumisambharabuddhara itu, serangan balik hanya terarah kepada jaringan kejahatan yang dikelola orang-orang Naga Hitam. Takpernah diketahui betapa segenap pembunuhan mengerikan dengan tujuan menyebar kengerian itu memang berasal dari istana, supaya peranan kerajaan tampak menjadi penting lagi. Aku tidak mendengar lagi perkembangan yang terjadi setelah peristiwa tersebut, tetapi sejauh yang kuketahui tentang para kadatuan gudha pariraksa atau pengawal rahas ia istana, aku yakin jaringan kejahatan Naga Hitam akan mendapat kesulitan yang sangat berarti. Meskipun Naga Hitam sendiri kuyakini Sakti, tetapi tingkat ilmu silat para pengawal rahasia istana yang tinggi dan cara kerjanya yang penuh perhitungan serta siasatnya yang cerdas pasti mampu mengobrak-abrik jaringan kejahatan Naga Hitam.

Untuk itu semua, kutahu pembalasan Naga Hitam akan ditujukan kepada diriku. Hmmm. Bukankah aku mengasingkan diri se lama sepuluh tahun memang agar siap menghadapi Naga Hitam? Semenjak aku keluar dari gua juga sudah kukembangkan ilmu silatku sampai berlipat ganda. Dengan Jurus Bayangan Cermin bukankah telah kuserap hampir semua ilmu dari setiap lawan yang menghadangku? Dengan pemahaman barn atas Benih Aksara Cawan Matahari bukankah telah kukembangkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian sampai takterlawan lagi? Sedangkan ilm u warisan Raja Pembantai dari Selatan jelas memberi jaminan atas kemampuanku untuk melawan ilmu-ilmu golongan hitam terjahat, mulai dari ilmu racun, ilmu s ihir, maupun segala jenis ilmu silat mereka yang tidak pernah terlepas dari bantuan dunia gaib. Apa lagi yang masih kutunggu? Memang benar aku sangat percaya betapa gelar Naga bukanlah gelar yang kosong sebagai bukti betapa seseorang takterkalahkan, tetapi betapapun memang sudah tiada lagi nama besar yang harus kutantang dan kuhadapi untuk mencapai dan mengukur kesempurnaan. Sejumlah nama pendekar takterkalahkan yang sering disebut-sebut orang ternyata sudah mengundurkan di, dunia persilatan. Menantang para naga kini menjadi suatu keharusan, hanya terhadap Naga Hitam aku mempunyai alasan takterelakkan, bahwa harus dengan suatu pertarungan penghabisan urusan kami akan terselesaikan.

Demikianlah aku berjalan menembus malam, tenggelam dalam pikiranku tanpa menyadari betapa lebih dari seratus orang telah mengintaiku di kiri kanan jalan maupun di balik semak dan di atas pepohonan.

(Oo-dwkz-oO)