Nagabumi Eps 67: Penantang dari Seberang

Eps 67: Penantang dari Seberang

Bayangan yang berkelebat itu bergerak tak terlihat ke balik pohon-pohon jati. Tanpa harus menunggu terlalu lama, segera terdengar jerit kesakitan dari balik pohon-pohon itu dan terlihatlah tubuh-tubuh yang terlempar sebagai mayat.

Kemudian terdengar suara tawa lemah di hutan jati itu, tetapi bergema dan terdengar di mana-mana.

''Aku orang yang paling tidak suka dengan para pembokong, maka kalian beruntung dapat terhindar dari kejahatan, tapi apa yang kalian lakukan di bhumi Jawa ini, jika tenaga kalian dibutuhkan Srivijaya tercinta? Janganlah larut dalam kekecewaan pribadi semata. Kembalilah, tugas kalian sudah selesai, jangan membuang waktu lagi, apalagi mencari musuh yang tidak perlu. Pergilah ke pantai utara, sebuah kapal menantikan kedatangan kalian.''

Lantas bayangan itu berkelebat menghilang. Aku tidak membuntutinya sejauh tiada ancaman terhadap para pesilat tersebut. Tentu saja peristiwa ini tidak kuduga sama sekali. Aku mengikuti rombongan pesilat yang mengamen sepanjang jalan ini, karena khawatir sepuluh anak buah punggawa yang terbunuh itu akan menyerang mereka dengan cara licik. Aku telah memperkirakan, meski sepuluh orang itu menyerang sekaligus, melihat penguasaan perempuan pesilat itu atas Jurus Kipas Maut yang digunakannya mengatasi punggawa tadi, maka tak ada yang harus kukhawatirkan. Namun aku tetap khawatir, karena siapa pun yang ilmu silatnya masih rendah tetapi hatinya penuh dendam, sangat mungkin melaksanakan niatnya dengan jalan curang.

Kekhawatiranku terbukti. Mereka yang tewas ini masih membawa panah dan busur, sumpit dan anak sumpit, maupun segenggam jarum beracun yang semuanya dalam keadaan siap digunakan untuk menyerang. Aku bisa berkelebat sangat cepat untuk melindungi mereka bertiga ketika senjata-senjata itu meluncur, tetapi bayangan itu telah berkelebat lebih dahulu sebelum para pembokong melepaskan senjata-senjata itu. Bahwa aku mengetahui keberadaannya hanya sejenak sebelum peristiwa itu terjadi, membuktikan tingkat ilmu silatnya yang tidak berada di bawah ilmu silatku. Dunia persilatan adalah dunia yang misterius. Para pendekar berkelebat datang dan pergi seperti m impi. Tiada seorang pun mengetahui segala cerita dengan utuh. Berbagai macam cerita beredar dari kedai ke kedai, tetapi tidak berarti tiada cerita lain selain dari yang terdengar di kedai itu bukan? Kenyataan menunjukkan dirinya sepotong demi sepotong, ada kalanya ketika yang dimaksudkan sudah berubah sama sekali.

Dunia Javadvipa adalah dunia yang lamban. Tidak semua orang mengetahui berlangsungnya pembangunan candi raksasa Bhumisambharabudhara yang merekah bagaikan teratai di tengah kolam yang mengerahkan beribu-ribu orang itu. Para pendekar mungkin mampu bergerak cepat, tetapi mereka tidak bergaul dengan orang banyak dan hanya peduli kepentingan diri mereka sendiri, yakni mencapai kesempurnaan hidup melalui pencapaian ilmu dalam dunia persilatan, yang hanya dapat diujikan dalam pertarungan. Jika berita yang begitu penting seperti pembangunan candi hanya kebetulan saja kuketahui, karena telah melaluinya dalam perjalananku, maka bagaimana pula akan bisa kuketahui sesuatu dari kedatuan Srivijaya?

Dalam perjalanan di pedalaman Javadvipa, tidak akan selalu kita berjumpa manusia. Mereka yang melakukan perjalanan dapat berjalan berhari-hari tanpa pernah menjumpai manusia satu pun jua, maka menjumpai orang- orang yang melakukan perjalanan secara berombongan adalah jamak, sedangkan bila seseorang melakukan perjalanan sendirian maka boleh dipastikan dia bukan saja seorang pemberani, melainkan juga seorang yang terampil dalam banyak perkara. Menghadapi mara bahaya di jalan, artinya bukan sekadar menghadapi begal, melainkan juga binatang buas, kuda atau dirinya sendiri yang sakit, dan segala macam perkara yang tiada pernah akan terduga.

Para pendekar selalu mengembara seorang diri, karena mereka inginkan dunia untuk diri mereka sendiri sahaja; tenggelam dalam renungan tentang dunia, yang akan sangat terganggu jika ketenangannya terganggu. Ini juga membuat mereka akan berkelebat menghilang jika bertemu suatu rombongan, tetapi sebaliknya langsung bertarung ketika pendekar bertemu dengan pendekar.

DEMIKIANLAH sungai telaga dunia persilatan membawa adatnya sendiri yang tidak dikenal dalam kehidupan sehari- hari, yang betapapun bagi mereka rimba hijau dunia persilatan itu bagaikan sebuah dongeng. Bagaimana mungkin sebuah dongeng menjadi begitu nyata seolah-olah selama ini memang ada?

Di hutan jati yang sepi, sepuluh mayat bergelimpangan dalam keadaan yang mengenaskan, dan ketiga orang itu saling berpandangan. Anak itu memegang tangan yang perempuan.

''Bunda, aku tidak mau pulang,'' katanya, ''aku tidak mau pulang!''

Perempuan pesilat itu pun menenangkan.

''Kita t idak akan pulang, Dinda, tidak sekarang.''

Perempuan itu tampak sangat menghormati anak ini, benar juga dia bukan anaknya! Bahkan dia tentunya bukan sembarang anak kecil, karena tidak akan terjadi dua manusia pesilat yang sangat meyakinkan ini akan bersedia terlibat urusan dengan anak orang lain sampai begini jauh. Anak siapakah dia sebenarnya? Sepenting apakah anak ini, sehingga ia harus dibawa mengembara menyeberang lautan, dari Sriwijaya ke Yavabhumipala tempat igama-igama besar sedang bertarung untuk memimpin makna kehidupan dunia?

''Kakak, apa yang harus kita lakukan dengan jenazah ini?

Apakah kita harus membakarnya semua?''

Lelaki pesilat itu menarik napas panjang dan mengembuskannya.

''Yah, tiada sesuatu pun yang memburu-buru kita, sebaiknya kita sempurnakan saja mereka.''

Begitulah mereka berdua mulai membuat pancaka pembakaran mayat. Tangan mereka sungguh terampil memotong dahan dan saling mengikatkannya sehingga menjadi pancaka yang layak untuk sebuah pembakaran yang dilakukan dengan kesungguhan. Apakah masih harus kuikuti mereka demi keselamatannya? Kurasa aku tidak mungkin mengikuti mereka selama hidupnya. Kuanggap ancaman bagi mereka yang paling nyata sudah teratasi. Mereka akan baik-baik saja.

Ketika aku berbalik dan pergi, asap pembakaran telah membubung keluar dari hutan jati. Burung-burung gagak beterbangan dan berkaok-kaok seperti menyesali pembakaran itu.

Biarlah mereka teruskan kisah mereka sendiri.

Aku melesat pergi dan segera tahu sekelebat bayangan mengikuti. Kutancap kecepatanku dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit, tetapi aku hanya mengerahkan setengah dari kecepatan yang kumiliki. Ia terus menerus mengikutiku meski telah kubuat jalan pelarian yang sulit. Dari celah pohon yang satu ke celah pohon yang lain, ia terus berkelebat membuntuti. Aku sebetulnya sedang malas bertarung, tetapi dalam keadaan seperti itu pun minat seorang penantang harus dihormati. Namun apakah ia membuntutiku memang karena semangat untuk bertarung, ataukah memang membuntuti aku demi kepentingan untuk membuntuti itu sahaja?

Aku menambah kecepatan sampai tak bisa diikutinya. Hanya untuk muncul di belakangnya. Ia berhenti karena kehilangan jejak. Kudengar ia menggerutu.

''Kupikir ia tak tahu jika kubuntuti, ternyata ia sengaja mengecohku. Hhh...''

Ia seorang pemuda yang menyoren pedang, seperti banyak pendekar lain yang memilih jalan hidup di rimba hijau. Kurasa aku tidak ingin memberinya kesempatan, karena sudah pasti akan dapat kukalahkan. Maka sekali lagi aku berbalik dan pergi, melenting ke atas pepohonan dan meloncat dari pucuk ke pucuk, terbang menghilang ke arah utara.

Aku merasa lega dapat menunda pertumpahan darah. Namun sampai kapan? Aku melesat dan meluncur. Melenting- lenting dan me luncur. Berkelebat di antara bayangan mega- mega yang menyembunyikan matahari, aku teringat Nyayabindutika:

kenyataan atau bhuta adalah tujuan yang benar Empat Kebenaran Agung

disadari oleh pengetahuan hakiki bhavana atas kebenaran menjaga agar tujuan yang benar selalu berada dalam ingatan prakarsa adalah pengetahuan atas bayangan

dari tujuan mendekati ketajaman

AKU melangkah sekadar mengikuti ke mana arah langkah kakiku menuju. Sebetulnya aku merasa penasaran dengan kawan-kawan yang terpisah dariku sepuluh tahun yang lalu. Bagiku mereka sebenarnyalah merupakan tanggung jawabku. Bukankah mereka mengandalkan diriku agar perjalanan mereka selamat sampai tujuan? Semenjak aku jatuh tak sadarkan diri di atas rakit karena racun Si Kera Gila, berhasilkah para mabhasana itu menyampaikan harta benda dalam gerobak yang dipersiapkan untuk upacara penyerahan sima? Apakah yang terjadi dengan Radri dan Sonta, kedua tukang tambang yang perkasa itu? Bagaimana pula nasib Campaka, perempuan yang juga telah memperlihatkan keperkasaannya dalam pertempuran seru di atas rakit menghadapi perompak sungai dari Gerombolan Kera Gila?

Ketika keluar dari gua aku bukan tak ingat kepada mereka semua. Namun peristiwa demi peristiwa yang kualami semakin menjauhkan diriku, meski bukan berarti aku tidak mencari keterangan tentang mereka. Aku tercenung mengingat segala kisah yang tak terselesaikan. Bukan sekadar bagaimana nasib Campaka, atau bahkan para pesilat Sriv ijaya yang disebutkan ditunggu oleh sebuah kapal, atau dewa penolong yang telah mengarahkan diriku kepada penemuan segala kunci ilmu persilatan, tetapi juga riwayat diriku sendiri betapa masih terselimuti kabut.

Apakah aku harus menuntaskan segalanya atau kubiarkan saja? Hidup bukanlah dongeng yang begitu jelas pembabakannya maupun begitu pasti awal dan akhirnya. Hidup terlalu sering meninggalkan pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab. Benarkah dalam hidup ini semua pertanyaan harus ada jawabannya?

Mengapa kuajukan pertanyaan-pertanyaan ini? T idakkah ini sekadar merupakan pembenaran untuk tidak mencari jawaban? Pertanyaan-pertanyaan itu bagaikan bayang-bayang yang selalu mengikuti tubuh, tanpa pernah menjadi manusia...

Anda harus menjaga

jangan sampai dikuasai badan Anda jangan pula disakiti dengan bertapa

jangan beri kesempatan berbuat semaunya arahkan perbuatan

ke jalan bodhi

namun jangan tergesa

Anda pasti 'kan menjadi Buddha

Aku masih terus melangkah dengan riang mengikuti langkah kakiku, ketika bayangan berkelebat yang telah kutinggalkan itu muncul kembali. Apakah ia telah mengikuti diriku tanpa kuketahui?

Aku baru saja mencapai suatu puncak bukit. Dari puncak bukit ini kulihat suatu cakrawala berkabut di kejauhan. Aku merasakan angin yang lembab dan as in. Apakah aku sudah mendekati lautan?

Ia mengenakan ikat kepala berwarna hitam. Bajunya yang berlengan juga hitam, meski tidak hitam kelam, sebaliknya hitam kusam karena selalu terkena panas matahari. Ia juga mengenakan celana dengan warna hitam yang sama kusamnya. Lantas ada semacam kain yang bergambar yang mengikat baju dan celananya. Terlihat sarung pedang menggelantung di pinggangnya. Adapun pedangnya sudah berada di tangan kanan. Dari balik ikat kepala itu kulihat rambutnya sudah beruban. Mungkin usianya mendekati enam puluh, tetapi wajahnya jauh dari keriput.

Aku menghela napas panjang. Kukira kali ini pertarungan tidak terhindarkan, terutama karena aku tidak mungkin menghindarinya lagi. Telah kualami sejak tadi betapa kecepatannya tidak tertandingi, jadi inilah lawan yang harus kuhadapi dalam jalan pertarungan seorang pendekar yang ingin menyempurnakan ilmu silatnya.

Aku menghela napas panjang bukan karena takut, melainkan karena kini aku cenderung lebih ingin mendalami filsafat daripada silat. Telah kusebutkan betapa aku selalu mendalami filsafat agama demi kepentingan ilmu silat, tetapi belakangan aku se lalu memikirkan filsafat sebagai filsafat itu sendiri. Aku ingin menjadi orang awam yang tenggelam dalam bacaan filsafat untuk mencapai pencerahan, meski tidak berarti keinginan untuk mengembara pudar sama sekali.

Sebaliknya, aku telah sampai ke puncak tempat bisa kuhirup angin laut yang membuat jantungku serasa berdegup lebih kencang karena gairah hidup yang meningkat pesat. Jika aku ingin menyeberang lautan, menuju ke suatu negeri yang disebut-sebut bernama Srivijaya, aku harus membunuh pendekar yang mencegatku ini. Betapapun tinggi ilmunya, betapapun canggih tipu dayanya, betapapun luas pengalamannya, aku harus mengalahkannya, yang tiada lebih dan tiada kurang mengakhiri riwayat hidupnya.

Apakah dia juga tidak akan berkata-kata dan langsung menyerang sesuai kebiasaan dalam pertarungan untuk mencapai kesempurnaan?

Ternyata dia bicara.

''Daku datang ke bhumi Jawa untuk mencari para naga. Seandainya daku tundukkan para naga itu satu per satu dan daku merajai dunia persilatan di bhumi Jawa maka hidupku akan menjadi sempurna. Namun bukan saja tiada pernah kutemui satu pun dari para naga yang masyhur namanya, melainkan sebaliknya setiap lawan yang kutundukkan berkata aku tak kan mampu mengalahkan seorang pendekar yang tiada bernama...''

Aku tertegun.

''Tidakkah itu merupakan suatu penghinaan, wahai pendekar? Tidakkah merupakan penghinaan betapa seseorang yang mencari nama dengan mencari para naga yang ternama diandaikan tiada mampu melawan seorang pendekar tiada bernama?''

Aku tidak menjawab. Suaranya memang lembut dan halus, tetapi sudah jelas keangkuhannya setinggi langit. Maka, seperti telah kukuasai berkat ilmu warisan Raja Pembantai dari Selatan, kukeluarkan kedua pedang dari dalam tanganku.

Kini giliran dirinya yang tertegun.

''Ah! I lmu gaib! Tapi Cahaya Kota Kapur sudah menelan semua ilmu gaib yang paling mungkin diciptakan di muka bumi. Majulah Pendekar Tanpa Nama, agar daku paham mengapa dikau harus kukalahkan sebagai syarat menghadapi para naga.''

Begitukah? Sejauh berhubungan dengan para naga aku hanya mengalami betapa murid-murid Naga Hitam masih terus memburuku, bahkan sampai hari ini. Namun tentang para naga yang lain, meski pernah kum impikan untuk belajar ilmu silat dari mereka satu per satu, tampaknya aku hanya dapat mempelajarinya dengan cara menjadikan mereka lawan. Sekarang, jika tersebar suatu ketentuan bahwa sebelum menantang para naga maka seseorang harus menghadapiku dahulu, tentulah merupakan siasat licik siapa pun dia yang berusaha menyingkirkan diriku.

Seperti yang telah berlangsung dalam dunia persilatan selama ini, seperti yang juga telah dilakukan para naga itu sendiri, cara terbaik untuk mendapat nama adalah menantang seorang pendekar bernama besar. Di antara nama-nama besar, yang selama ini dianggap terbesar adalah gelar Naga, karena seseorang mencapai gelar itu bukan hanya setelah tak terkalahkan untuk waktu yang sangat lama, tetapi juga karena telah menundukkan nama-nama yang besar dalam dunia persilatan. Telah kuceritakan tentang acuan para naga kepada delapan penjuru mata angin, yang kemudian juga menjadi semacam wilayah kekuasaannya, dengan satu wilayah tersisa, yakni wilayah tengah yang diperebutkan oleh siapa pun yang masih menghendaki gelar naga.

Tiada seorang pun tahu, siapakah dari antara para naga ini yang paling sakti dan tiada terkalahkan. Suatu keinginan yang semakin sulit dipenuhi karena di antara para naga ini lantas terjadi semacam persekutuan, dengan terbentuknya Musyawarah Sembilan Naga. Ini berarti menantang naga yang satu harus juga berarti siap menghadapi delapan naga yang lain, meski hubungan antarnaga ini bukanlah suatu hubungan persaudaraan maupun seperguruan. Musyawarah Sembilan Naga itu terbentuk hanya oleh kesamaan kepentingan, yakni kekuasaan atas dunia persilatan.

Maka inilah yang terjadi, para pendekar tak terkalahkan harus saling berhadapan dan saling membunuh sebelum sempat menghadapi para naga yang semakin sulit dicari di mana gerangan keberadaannya.

Cahaya Kota Kapur telah berada di hadapanku. Kami berada di puncak bukit ketika hari menjelang senja. Langit merah keemasaan. Ia mengangkat pedangnya yang memantulkan cahaya. Ada berapa banyak ilmu pedang di dunia ini? Aku menunggu saat dia menyerang.

(Oo-dwkz-oO)