Nagabumi Eps 66: Merajai Gunung dan Samudra

Eps 66: Merajai Gunung dan Samudra

 Namun tiba-tiba lingkaran manusia yang membentuk gelanggang itu terkuak. Kulihat seorang bangsawan duduk di atas kuda hitam. Ia masuk pelahan ke tengah gelanggang sambil menatap berkeliling. Busananya mewah, mulai dari mahkota sampai kalung, gelang anting-anting dan cincin, sangat menyilaukan mata yang melihatnya.

Dia bagaikan datang dari langit. Selain gelang tangan. ia juga mengenakan gelang lengan, juga ikat pinggang emas yang melingkari widihan rajayoga sutera tipis yang dikenakannya.

Bagaikan mendadak saja ia sudah ada di sang. Semua orang segera bersimpuh dan menyembah. Aku sebetulnya tidak pernah menyembah kepada siapapun seumur hidupku, tetapi aku juga tidaklah begitu angkuhnya sehingga harus menyulitkan hidupku sendiri, maka aku pun pura-pura ikut menyembah, ingin mengetahui saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Para pesilat, punggawa dan sepuluh pariraksa anakbuahnya juga menyembah. Kudengar kudanya masih berjalan berputar- putar sebentar sebelum ia berbicara pelan.

"Sejak kapan anggota bala sarajya di bawah Rakai Panunggalan mempermalukan dirinya sendiri seperti ini?"

Tiada suara yang menjawabnya. Suasana sunyi senyap, padahal ratusan orang berkumpul di situ. Detak kaki kudanya terdengar jelas. Di berbagai sudut, kadatuan pariraksa atau pengawal istana tetap berdiri menjaga kemungkinan.

"Sejak kapan pula punggawa Kerajaan Mataram begitu bersemangatnya untuk memerangi seorang perempuan, hanya untuk dikalahkan?"

Hanya detak kaki kuda melangkah pelan menjadi jawaban. Kuda itu mendengus, seperti mewakili kegusaran penunggangnya. "Kuharap yang merasa dirinya bersalah maju ke depan."

Suara itu sangat perlahan untuk tidak mengatakn lemah lembut. Aku mencoba melirik dalam keadaan menyembah dengan dahi menyentuh tanah seperti itu. Ternyata sulit melihat apa pun. Jadi kupejamkan saja mataku. Menancap ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang. Dalam keterpejaman dapat kusaksikan keadaan melalui pergeseran tubuh dengan udara, maupun panas tubuh itu sendiri yang dalam keterpejaman terlihat jelas memancarkan cahaya redup di luar kulitnya.

Punggawa itu melangkah berjongkok dengan kepala tetap tertunduk. Pedangnya tertinggal di tanah. Tubuhnya gemetar.

Katakan padaku, hukuman apa yang pantas bagi s iapa pun yang mempermalukan kerajaan!"

Pungggawa itu tidak menjawab. Keringatnya menetes satu demi satu.

"Dikau tidak mengerti, Punggawa?"

Pungggawa itu mengangguk. Airmatanya mengambang. "Katakan!"

Pelahan sekali jawaban itu keluar dari mulutnya. "Mati..."

"Bicaramu pelan seperti perempuan, khalayak tidak bisa

mendengarnya." "M-a-t-i."

Suara punggawa yang bergetar itu tidak keras, tetapi

dalam kesenyapan seperti ini, bahkan hembusan napasnya pun terdengar jelas.

"Berdiri." Bangsawan itu berujar pelan. Kudengar tubuh punggawa itu beranjak. Lantas kusaksikan dalam keterpejamanku tangan bangsawan itu melambai kepada salah seorang pengawalnya yang segera melompat mendekat. Dengan anggukan kepala, bangsawan itu memberi isyarat. Lantas membalikkan kudanya memunggungi punggawa itu.

Kadatuan pariraksa itu menggerakkan tangannya. Dalam sekejap pedang?hya telah kembali ke sarungnya.

Tubuh punggawa itu ambruk tanpa kepala lagi. Kudengar suara orang-orang menelan ludah.

Lantas kudengar suara langkah kuda yang menjauh.

"Kira tidak berperang dengan Kadatuan Sriv ijaya," katanya. "Tidak satu pun warganya yang datang ke Yavabhumipala boleh disentuh. Hormatilah orang asing dari manapun mereka datang. Mereka adalah tamu kita."

Segenap, pengawal menaiki kuda mereka kembali, mengiringinya dari belakang. Orang-orang masih saja menyembah. Baru setelah terdengar rombongan berkuda itu menderap dan kemungkinan besar tidak kelihatan lagi, orang- orang mengangkat kepala. Sebagian menjerit dan berteriak melihat kepala punggawa yang sudah terpisah dari tubuhnya.

Lelaki tinggi besar yang tadi bercerita di dalam kedi berkata kepada pariraksa punggawa tersebut.

"He, cepat urus pemimpin kalian! Banyak anak kecil di sini!"

Para pariraksa yang masih belum hilang rasa terkejutnya tergopoh gopoh membungkus tubuh dan kepala punggawa itu dengan tikar yang harus cepat pula mereka bayar. Mereka memasukkan mayat itu ke dalam gerobak yang lalu mereka hela sendiri sambil bersungut-sungut.

Aku sudah mengangkat kepala sejak tadi. Semula orang banyak masih tertegun-tegun, tetapi setelah gerobak berisi badan dan kepala itu menghilang pasar segera kembali. Namun tidak berarti ketegangan juga menghilang, tidak seorang pun kemudian menegur ketiga pesilat itu.

Ketiganya sedang berkemas. Sebelum melanjutkan perjalanan mereka makan dan minum dahulu, dan karena itu mereka memasuki kedai, baru sampai di pintu, pemilik kedai sudah berteriak dari dalam.

"Maaf, Bapak, janganlah masuk kedai ini, kami tidak ingin masalah terjadi lagi. Maaf, carilah tempat lain, Bapak."

Mereka urung memasuki kedai.

"Marilah kita pergi saja, Kakak, sepanjang perjalanan juga baru

kita mendapat sambutan seperti ini," ujar perempuan pesilat yang kini telah mengenakan ken seperti perempuan- perempuan lain, kain itu melingkari pinggang ke bawah. Dadanya kini terbuka. Kulihat rajah matahari berada atas pusarnya.

"Ya, marilah kita pergi," kata lelaki pesilat itu sembari menggandeng anaknya.

Mereka pun pergi dengan tabah. Kurasa mereka sangat menyesali kejadian itu. Aku mengamati semuanya dengan perasaan waswas. Mereka sama sekali tidak bersalah, tetapi kita tidak se lalu tahu apa pikiran orang lain. Terutama kukhawatirkan keselamatan anak kecil itu. Aku segera berkelebat mengikuti mereka.

Sepanjang jalan ke luar desa, melalui deretan hutan jati, kulihat mereka berjalan dengan kepala tertunduk.

"Salahkah aku melayani tantangannya, Kakak?"

"Sama sekali tidak, memang tidak ada kemungkinan lain selain melayaninya, asal tidak ada yang terbunuh."

"Tapi akhirnya dia terbunuh, bukan?" "Kukira bukan kita yang harus disa lahkan. Aku, hanya sedih karena tidak bisa menghindarinya."

"Maafkan saya, Kakak, telah menimbulkan kesulitan." "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Memang kita

harus selalu siap dengan peristiwa yang tidak kita inginkan dalam perjalanan. Yang penting anakmu selamat. Jika terjadi sesuatu kepadanya, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada orangtuanya."

Aku terkesiap. Jadi anak itu bukan anaknya?

Barangkali keduanya juga bukan suami-istri. Bisa saja, bukan?

Entah curiga, siapakah anak itu sebenarnya? Seperti teringat kepada nasibku sendiri, aku menjadi lupa segalanya selain keselamatan anak itu. Sembari mengikuti mereka dari kejauhan, kucoba mengingat apa yang kuketahui tentang Srivijaya sampai hari ini.

Lebih dari seratus tahun yang lalu, sebuah kerajaan yang didirikan orang-orang Melayu di Suvarnabhumi atau Suvarnadvipa atau juga Samudradvipa bangkit sebagai kekuatan armada pelayaran terkuat yang melayani jalur perdagangan di Jambhudvipa dan Negeri Atap Langit. Semula negeri mereka kecil dan terletak di wilayah selatan Suvarnabhumi, dan wilayah itu terletak antara daerah gunung yang menjulang dan lautan yang cakrawalanya bagai takberbatas bagaikan dua daya sakti yang akan membuat rahayat wilayah itu menjadi jaya. Seperti telah disebutkan dalam salinan prasasti yang dibacakan di dalam medan tadi, negeri itu bernama Kadatuan Sriv ijaya. Semula ditaklukkannya kerajaan kerajaan kecil di sepanjang sungai yang menghubungkan gunung dengan lautan, sehingga dikuasainya segenap jalur perdagangan di sungai, yang telah memakmurkannya begitu rupa sehingga sang raja sanggup melontarkan batangan emas tiap hari ke muara sungai. Melontarkan artinya mempersembahkan. Sungai dianggap keramat, seperti juga lautan, dapat memakmurkan dan menyejahterakan, tetapi juga dapat membanjiri dan menenggelamkan. Maka taksembarang air dari sungai dapat digunakan seorang penguasa untuk mandi, air sungai itu harus disucikan dengan bebungaan, terutama untuk menjamin kesuburan kerajaannya. Tanpa kesuburan tiada panen dan tanpa panen matahari akan tenggelam bersamanya. Penguasaan mereka atas jalur sungai dan selat di hadapannya mengembangkan diri mereka sebagai manusia-manusia bahari, yang bukan saja memiliki kemampuan menjelajah luar biasa dengan perahu-perahu cadik mereka, tetapi juga hasrat untuk menundukkan negeri-negeri di sekitarnya. Pusat pemerintahan yang letaknya begitu masuk ke dalam muara sungai membuat penguasanya memegang kendali atas pedalaman beserta hasil hutannya yang sangat menguntungkan.

Sebuah prasasti batu dari tahun 683 menyatakan betapa telah dipilih pasukan pilihan sebnyak 2000 orang dan 20.000 orang yang dicalonkan untuk menyerbu Jambi-Malayu, kerajaan saingan mereka di utara yang menguasai jalur lalu lintas sungai dan sepanjang pantai. Pembacaan prasasti kutukan tadi memang telah mengingatkan aku kepada prasasti lain.

Swasti sri sakawasatita 605 ekadasi su klapaksa wulan waisakha da punta hiyam nayik di samwau manalap siddhayua di saptami suklapaksa,

wulan jyestha dapunta hiyam marlapas dari m inana tamwan mamawa

yam waladualaksa danan ko - duaratus carer di samwau danan jalan,

sariwu tluratus sapulu dua wanakna datam di mater jap sukhacita di, pancami suklapaksa wulan-laghu mudita datam marwuat wanua - sri

wijaya siddharayatra subhiksa

Pernah kudengar bahwa perahu mereka yang kecil, dengan kemampuan mengangkut antara 20 sampai 25 orang, berperan penting dalam pengangkutan hasil hutan maupun hasil laut naik-turun jalur sungai dari hulam ke hilir dan sebaliknya. Melalui pelabuhan sungai maupun laut, Kadatuan Srivijaya mengawasi dan mengatur lalu lintas perdagangan hasil hutan hasil laut, dan terutama hasil pertanian. Pengawasan tidak menunjukkan terdapatnya penguasa yang memaksakan kehendak, sebaliknya justru terbentuk dari kesetaraan mereka yang berkepentingan, seperti yang telah berlangsung dengan peleburan kekuasaan dan perlambangan, dalam segala daya baik dari penguasa golongan Melayu maupun para bhiksu yang datang dari luar.

Maker sejak tahun 670 berkembanglah Sriv ijaya sebagai kerajaan bahari yang mampu melayani segala tuntutan jasa pelayaran di seluruh Suvarndvipa di pedalaman maupun antarnegara. Bagi Negeri Atap Langit, bahlan semenjak masa Wangsa Song tahun 420-479 dan Wangsa Qi tahun 479 - 502 jasa para pelaut yang disebut berasal dari Selat Sunda itu sudah berperan menentukan dalam pengambilan muatan dari wilayah barat Jambhudvipa maupun Lanka, dan membawanya melalui Suvarnadvipa untuk disampaikan ke pasar wilayah selatan Negeri Atap Langit. Wilayah selatan menjadi pasar yang ramai, karena sejak abad keempat kekuasaan Wangsa Han mesti berbagi dengan suku-suku pengembara yang datang menyerbu dari utara dan mengakibatkan perpindahan besar-besaran ke selatan.

Adapun para pedagang Negeri Atap Langit juga berm inat terhadap segala sesuatu yang hanya bisa didapatkan dari Suvarnadvipa maupun wilayah utaranya, seperti damar, kayu harum, cula badak, burung pekakak, bulu-bulu burung, dan kulit penyu. Di abad kelima dan keenam kebutuhan bertambah ke arah rempah-rempah, seperti lada dan bumbu-bumbu, termasuk cengkeh, pala, dan bunga pala, yang dimanfaatkan tak sekadar sebagai bumbu masak melainkan juga untuk pengobatan.

Kegiatan mereka yang disebut pelaut dari pelabuhan di sekitar se lat antara Samudradvipa dan Javadvipa ini akhirnya mendesak peranan Fu-nan yang terletak di muara Sungai Mekong, yang sejak tahun 240-an menguasai jalur perdagangan yang berhubungan dengan Negeri Atap Langit. Pada abad keenam, menjelang bangkitnya Sriv ijaya, peranan Fu-nan tergantikan oleh Chen La, penamaan yang diberikan oleh para pedagang Negeri Atap Langit kepada orang-orang Khmer yang bermukim di sepanjang bagian tengah Sungai Mekong.

Para pelaut dari sekitar selat antara Samudradvipa dan Javadvipa ini mulai mengambil alih peran, ketika mereka mula- mula menawarkan barang pengganti atas barang-barang yang semestinya dikirim ke pasar Negeri Atap Langit, seperti ratus yang menggantikan dupa, maupun kapur barus yang menggantikan kemenyan. Tak lama kemudian, mereka taklagi menawarkan barang pengganti, melainkan merebut pasar dengan memperkenalkan barang dagangan mereka sendiri yang memang tiada duanya, ke pelabuhan-pelabuhan di Fu- nan dan Jambhudvipa, seperti kapur barus, yakni damar yang disaring dengan kayu dan dihargai sebagai obat, dupa, dan minyak rengas. Kemudian menjadi sangat terkenal kapur barus, asli dari Barus yang oleh pedagang Negeri Atap Langit disebut Poli, dan terdapat di barat laut Suvarnabhumi, kayu gaharu yang harum dari K ih-ri Ti-mun, sebuah pulau nun jauh di timur pulau yang disebut Jambhudvipa dalam bahasa Negeri Atap Langit, rempah-rempah dari kepulauan yang lebih lagi ke utaranya yang disebut para pedagang Wangsa Tang di Negeri Atap Langit sebagai M i-li-ki-u, dan semua itu jalur perdagangannya sungguh mereka mereka kuasai.

Selat itu terletak antara Suvarnabhumi dan Javadvipa, sedangkan Srivijaya terletak di muara sungai di pedalaman Suvarnabhumi, yang membuatnya menguasai wilayah gunung maupun samudra. Mereka yang berada jauh di utara, apakah itu di Negeri Champa, Jambhudvipa, maupun Negeri Atap Langit, tidak terlalu paham perbedaan tempat seperti itu, bahkan sangat wring mencampuradukkan Suvarnabhumi, Suvarnadvipa, dan Javadvipa. Betapapun, selat itu juga berada di bawah kekuasaan Sriv ijaya. Namun adalah penguasaan selat di Tanah Melayu yang menjadi kunci kejayaan Srivijaya. Negeri yang menyebut dirinya Kadatuan ini berdiri di atas jalur perdagangan bahari dengan para pelautnya yang bukan sekadar menjelajah, tetapi juga menguasai samudra.

Kini sedang kubayangi ketiga warga Sriv ijaya yang sedang mengembara di Yavabhumipala. Mereka melakukan perjalanan sembari menjual kepandaian bersilat sebagai hiburan. Mereka bersilat diiringi tabeh dan wangsi, meyakinkan banyak orang betapa seni beladiri dapat menjadi indah sebagai kesenian itu sendiri, sebagai pertunjukan yang dapat diandalkan. Mereka baru saja men dapat masalah yang berakhir menyedihkan. Seorang punggawa yang tidak percaya dan tidak ingin perempuan dapat mengalahkan lelaki dalam bersilat telah kena batunya, karena setelah menantang perempuan pesilat itu dengan sombong ternyata dirinya sendiri bertekuk lutut, bahkan ketika perempuan itu hanya menggunakan tangan kiri.

Mereka bertiga bukan orang yang kejam. Mereka sangat terpukul oleh punggawa itu, meskipun sombong, telah dipenggal kepalanya oleh seorang bangsawan, karena tepergok berusaha mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok rombongan pesilat yang hanya menjual pertunjukan. Aku mengikuti mereka karena merasa waswas memikirkan nasib mereka bertiga. Aku tidak menemukan alasan mengapa diriku harus khawatir, mengingat-ingat kepandaian bersilat lelaki dan perempuan itu. Mungkin aku memang memikirkan anak kecil itu, karena dalam suatu bayangan baur samar- samar yang pernah kualami ketika aku masih bayi seperti kembali. Bagaikan bisa kuingat kekacauan macam apa yang bisa berlangsung dalam pengeroyokan. Tidak jelas benar mengapa aku memikirkan nasib mereka, jika. sebetulnya aku juga percaya kepada kemampuan mereka.

Namun kulihat sesosok bayangan berkelebat sangat cepat, begitu rupa cepatnya sehingga aku yakin mereka bertiga tidak melihatnya. Manusia berkelebat ini ilmu silatnya jelas sangat tinggi. Apakah yang akan dilakukan bayangan yang berkelebat ini, sekadar membuntuti ataukah justru justru akan mencegat mereka? Aku juga berkelebat membayanginya tanpa suara.

(Oo-dwkz-oO)