Nagabumi Eps 65: Orang-orang Srivijaya

Eps 65: Orang-orang Srivijaya

LELAKI tinggi besar yang kulitnya hitam itu bercerita

tentang peristiwa di Kota Kapur, bahwa prasasti itu memang sudah banyak memakan korban, yakni bahwa ternyata ada saja yang mampu membaca baris-baris kutukan tersebut. Pada saat mereka membacanya maka mereka jatuh menggelepar seperti telah diracuni. Agaknya para perancang kalimat yang tertera pada prasasti itu memang mengarahkannya kepada musuh tertentu, yang terandaikan bahasanya sama dengan bahasa kutukan tersebut. Artinya, siap apun yang mampu membaca kalimat kutukan itu pasti datang dari negeri musuh, dan akan terkutuk. Anak negeri sendiri diandaikan takdapat membacanya, seperti memang sudah terjadi, dan tidak akan mendapat petaka apa pun.

''Jadi, jika dia seorang mata-mata misalnya, dari negeri lawan itu, pasti tak dapat menghindar untuk tidak membacanya, dan akan jatuh menggelepar.''

Prasasti itu diletakkan di gerbang kota , sehingga s iap apun orang asing yang lewat dan membacanya, dan berasal dari negeri yang menguasai bahasa kutukan tersebut akan jatuh menggelepar.

''Seperti keracunan?'' ''Ya, seperti keracunan, tetapi itu berkat mantra kutukan tersebut.''

Telah mengendap ribuan mantra sihir yang dipindahkan Raja Pembantai dari Selatan itu ke dalam diriku, sebegitu jauh takt erdapat mantra seperti mantra kutukan pada prasasti Kota Kapur tersebut. Kalau ada, dan aku bisa membacanya, akupun tentunya telah terkena kutukan.

Orang-orang dalam kedai mendekat kembali. Lelaki tinggi besar yang hitam itu bercerita bahwa tanpa harus dijaring dengan mantra kutukan pun sebetulnya sangat mudah menandai orang-orang as ing, karena orang-orang Kota Kapur memang merupakan Manusia Kapur. Tubuh mereka memutih bukan karena kulitnya yang putih, tetapi karena kapur basah yang dioleskan dengan jerami ke tubuh mereka. Maka segalanya memang serba memutih di Kota Kapur, kota yang terletak di antara pegunungan kapur, tempat angin yang berhembus selalu membawa serbuk-serbuk kapur.

'ITU bukan kadatuan Srivijaya, prasasti itu didirikan di sana untuk mencegah pemberontakan.''

Orang-orang Kota Kapur dengan begitu juga disebut Manusia Kapur, karena mereka menganggap kapur sebagai bagian diri mereka. Namun selain masalah wajah dan tubuh yang dilabur kapur, sebetulnya orang-orang Kota Kapur sama saja dengan orang lain.

''Jadi, mengapa Bapak mengatakan tenagaku dibutuhkan di sana?''

''Oh, itu! Karena mereka semua orang-orang terpelajar Bocah! Mereka hanya suka membaca saja. Di sana orang berdebat di jalanan. Tidak ada yang bekerja. Mereka membayar orang lain untuk bekerja di ladang, menangkap ikan, dan menggali tambang.

''Tambang?'' ''Ya, ada tambang timah di sana. Kadatuan membuat mata uang dari hasil tambang itu.''

Dalam kepalaku terbayangkan sebuah dunia yang serbaputih. Pegunungan kapur, kota kapur, dan manusia- manusia berlumur kapur...

''Apa saja yang mereka perdebatkan?''

''Ah, pertanyaan dikau bagus Bocah, tetapi aku hanya tahu mereka berdebat, mungkin tentang agama, mungkin pula tentang filsafat, tetapi jangan m inta daku menjelaskan apa isinya. Daku hanya menjadi kuli di sana, memikul barang- barang dagangan, dari kapal maupun untuk dimuat ke atas kapal. Semuanya kapal-kapal dagang Sriv ijaya, datang dan pergi dari Javadvipa, Pulau Bangka hanyalah tempat persinggahan.''

Orang-orang lain kemudian juga banyak bertanya. Aku mengundurkan diri dan menjauh. Di luar kedai kulihat kerumunan manusia yang sedang menyaksikan pertunjukan silat. Seorang anak tampak memperagakan jurus-jurusnya, sementara orangtuanya suami isteri tampak mengiringinya dengan kendang dan tiupan seruling. Anak itu gerakannya memang luwes dan memikat seperti tarian. Rupanya mereka baru saja mulai.

''Tuan-Tuan dan Puan-Puan iz inkanlah kami sekadar unjuk kepandaian di sini, tiada lain maksud kami hanyalah mencari makan, maafkan sebelumnya. Bagi yang satu guru dan satu ilmu mohon jangan mengganggu, karena pertunjukan ini memang hanya untuk penghiburan.''

Pandai sungguh lelaki itu menepuk kendang dan perempuan itu meniup seruling. Mulut lelaki itu pun berbunyi seperti memainkan alat lain, mengiringi permainan silat anak mereka. Penonton agaknya senang dan berkali-kali bertepuk tangan. Kuperhatikan anak itu memainkan silat burung bangau yang digabungkan dengan silat harimau, aliran yang paling sering disebarkan di antara orang-orang awam. Jika ilmu silat orang-orang sungai telaga dan rimba hijau sering sudah dirusak oleh ilmu racun dan ilmu sihir, yang menunjukkan minat hanya demi kemenangan pertarungan, maka ilmu silat yang dima inkan orang awam lebih tampil sebagai seni beladiri atau olahraga kesehatan. Maka menyaksikannya lebih menyenangkan dibanding pertarungan para pendekar yang selalu berakhir dengan tumpahnya darah.

Anak itu bersilat seperti menari. Indah sekali. Melompat dan menendang dengan tangan terkembang seperti bangau, berguling dan mengelak untuk kembali menerkam seperti harimau, gerakannya manis dan meyakinkan seo lah ada lawan terbayang di hadapannya, dan setelah berakhir membungkuk hormat ke segala penjuru. Setelah selesai, berganti ibunya masuk ke tengah lingkaran, dan anak itu ganti memegang seruling.

Ibunya bersilat dengan sepasang kipas yang indah seperti hiasan dinding. Ia berguling, melompat, dan menendang, sementara kipasnya bagaikan bisa berubah menjadi perisai cahaya yang melindunginya dari segala serangan. Namun kadang-kadang, ia berhenti seperti patung, dan bergerak pelan seperti menari, sebelum memperagakan bagaimana kipas itu bisa menjadi senjata dengan kebutan mematikan. Kukenali jurus itu sebagai Jurus Kipas Maut yang memang diandalkan para pesilat bersenjata kipas.

Kemudian masuklah lelaki itu sebagai penyerang, kendangnya diambil alih anak itu, yang rupanya juga bisa memainkan kendang. Aku tergeleng-geleng. Sungguh keluarga yang luar biasa! Lelaki itu menyerang dengan sebuah golok. Meski tampak bersungguh-sungguh, sudah jelas ia tidak ingin melukai istrinya. Golok itu tampak meliuk-liuk di antara cahaya kipas, tapi segera terjepit dan dilemparkan ke udara. Sementara suaminya berpura-pura ternganga melihat golok itu terlempar ke atas, ia ditendang oleh istrinya sampai terguling- guling. Istrinya cepat menyimpan kipas dan menangkap kembali golok itu, lantas mengacungkannya ke arah sang suami.

''Ampuuuunn! Ampuuunnn!'' Suaminya menyembah pura- pura ketakutan dan orang-orang tertawa geli serta kegirangan.

LELAKI itu melompat dan bersama istrinya segera menjura kepada penonton, sementara anak kecil itu segera berkeliling sambil membawa batok kelapa. Tidak semua penonton melempar mata uang, maka batok kelapa itu pun tidak terisi terlalu banyak.

''Terima kasih! Terima kasih khalayak! Itulah sekadar peragaan, bagaimana perempuan dapat membela dirinya meski hanya berbekal kipas! Jika ada kesalahan yang tidak disengaja mohon maaf! Kini kami pamit mundur melanjutkan pengembaraan!''

Mereka bertiga menjura untuk terakhir kalinya dan penonton bertepuk tangan gembira. Aku juga ikut bertepuk tangan, terharu melihat mereka bertiga. Diam-diam telah kulempar mata uang emas ke dalam batok kelapa tadi.

Namun segera terdengar suara garang. ''Tunggu!''

Seorang lelaki berkum is tebal memasuki lingkaran. Tampak jelas ia seorang punggawa, rambutnya tersanggul rapi, berkelat bahu, berkain wdihan dan berikat pinggang emas, bahkan berterompah. Ia datang sudah membawa golok.

''Kau bilang perempuan dapat membela dirinya dengan kipas?''

Matanya menatap tajam ke arah lelaki itu, yang tampaknya segera menangkap nada tantangan, tetapi tampak menahan diri. ''Begitulah Tuan, itulah yang kami sampaikan sebagai pertunjukan, mohon maaf bila terdapat kesalahan.''

Punggawa itu menunjuk dengan goloknya.

''Itu berarti menurut mulutmu yang lancang siapa pun yang berkelamin betina bisa mengalahkan yang berkelamin jantan dalam pertarungan?''

Lelaki itu masih menahan diri.

''Jika seorang perempuan belajar silat, Tuan.''

''Hmmh! Seperti seorang pendekar maksudmu? Seperti dongeng tentang dunia persilatan? Sanggupkah betinamu itu membuktikannya?''

Lelaki itu seperti masih akan mengatakan sesuatu yang bernada mengalah, tetapi istrinya tampak sudah naik pitam.

''Biarkan dia maju Kakak! Biarkan semua orang menyaksikannya!''

Punggawa itu mendengus. ''Hmmh! Kakak ''

Lantas ia meludah ke tanah.

''Ternyata kalian orang-orang Sriv ijaya yang berkeliaran! Kita memang tidak sedang berperang, tetapi nyali besarmu cukup menyinggung perasaan!'

''Maafkan kami Tuan    ''

''Kakak! Biarkan dia maju! Tak pernah ada seorang pun yang keberatan dengan kedatangan kita! Bukankah dia memang minta pembuktian!''

Lelaki itu belum sempat menjawab ketika punggawa tersebut berseru, ''Dengarlah khalayak! Kalian akan menjadi saksi bahwa pertarungan ini untuk membuktikan apakah benar mereka yang berkelamin betina mampu mengalahkan yang berkelamin jantan! Mereka telah berani unjuk kepandaian, berarti harus berani mempertanggungjawabkan! Artinya jika betina ini nanti kutewaskan, tidak boleh ada tuntutan!''

Lantas katanya kepada lelaki pesilat itu, ''Kecuali kamu cabut kata-katamu, bahwa betina bisa membela diri dengan kipas jika diserang lelaki, maka nyawa betinamu masih bisa kamu selamatkan!''

Lelaki yang sejak tadi seperti mengalah itu saling berpandangan dengan istrinya. Anaknya memegang tangan ibunya dengan tegang.

''Biarkan aku, Kakak, biarlah semua orang menyaksikannya, bukan kita yang mencari gara-gara.''

Aku juga ikut menjadi tegang. Lelaki itu mengangguk, seperti memberi isterinya itu perkenan.

''Baiklah Tuan, jika Tuan mendesak, saya menerimanya, tak akan menuntut jika isteri saya mati di tangan Tuan ''

''Ayah!''

Anaknya berteriak, tetapi ibunya mengelus kepala anaknya itu sebelum melangkah ke tengah lingkaran. Penonton bergumam, suaranya seperti lebah mendengung. Kedai itu berada di sebuah pasar desa yang ramai, tetapi yang mendadak senyap ketika perempuan itu me langkah ke tengah lingkaran yang kini menjadi gelanggang pertarungan antara hidup dan mati.

Perempuan itu, kukira 40 tahunan usianya memang berbusana seperti pesilat. Ia tidak mengenakan kain dari pinggang ke bawah seperti perempuan lain, melainkan berkancut seperti lelaki, hanya saja ia menutupi payudaranya dengan kain saling menyilang yang terikat di pinggang, sehingga tidak akan mengganggunya ketika me lompat dan berguling. RAMBUTNYA yang tidak terlalu panjang terikat seperti ekor kuda, dan ia masih mengikatkan sepotong kain pada lingkar kepalanya sehingga sisa kainnya jatuh bersama rambut ekor kudanya. Ia berdiri di sana dengan sepasang kipas, tetapi ia menyembunyikan tangan kanannya yang juga memegang kipas di balik pinggang. Artinya ia akan menghadapi punggawa itu hanya dengan tangan kiri.

''Bersiaplah untuk mati, wahai betina Sriv ijaya!''

Punggawa itu datang berjalan dengan pongah. Ia bahkan tidak merasa perlu mengikat kain wdihan-nya yang menjumbai dan sebetulnya menghalangi pergerakan dalam pertarungan. Namun tampaknya ia menganggap tak akan ada pertarungan. Ia bergerak cepat seperti mau membacok kayu. Luput. Ia membacok lagi. Luput lagi. Bahkan perempuan pesilat itu nyaris belum bergerak. Hanya menggeser kuda-kudanya sedikit dan tangan kanannya tetap menyembunyikan kipas di balik pinggang.

Merasa goloknya tak akan pernah mengenai sasaran, punggawa itu mulai menyerang dengan jurus-jurus yang menjebak, dan tidak bisa sekedar dihindari jika tak mau terbunuh. Ternyata bahwa punggawa ini memiliki juga ilmu silat yang bisa diandalkan dalam keprajuritannya. Namun jangankan membunuh, menyentuh pun takbisa dilakukannya sama sekali, padahal perempuan pesilat itu seolah-olah belum bergerak sama sekali. Sebaliknya, sekali-kalinya bergerak, dengan kipas di tangan kirinya ia bisa memukul pelan kepala punggawa tersebut seperti menghukum anak kecil.

Semakin marah tentunya punggawa itu. Ia putar pedangnya begitu rupa sampai wujudnya tidak terlihat.

''Matilah engkau betina siluman!'' Ia berteriak kalap.

Namun perempuan pesilat itu menguasai Jurus Kipas Maut dengan baik. Masih dengan tangan kanan berkacak pinggang, ia melayani perma inan pedang punggawa itu dengan tangan kiri. Gerakannya jauh lebih cepat, sehingga bukan hanya kepala punggawa itu, tetapi bahkan pedang itu sendiri bisa ditepuk-tepuknya seperti guru mengajari murid.

Punggawa itu memaki, tetapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Penonton berdecak menyaksikan kepandaian perempuan itu, yang akhirnya masih dengan tangan kiri menepuk pedang dengan kipas sampai jatuh dan dengan kipas yang sama dan kini dikembangkannya ia tampar wajah sang punggawa yang langsung jatuh terguling-guling. Perempuan itu langsung siap dengan kuda-kuda berikutnya, dengan kipas terkembang menutupi wajahnya. Matanya menatap tajam ke arah punggawa itu.

''Bukankah, sahaya bisa membela diri, wahai Tuan?''

Melihat ini semua, penonton bertepuk tangan dan menggumam kembali penuh kekaguman.

Punggawa itu berdiri dan menggerakkan tangan. Wajahnya penuh dengan dendam kesumat. Muncul sepuluh orang dari lingkaran, yang bersikap seperti anak buah punggawa itu, mengepung rombongan kecil pesilat ini.

''Kalian telah mengganggu ketenteraman, harus ditangkap!''

Namun keluarga pesilat ini rupanya sudah siap menghadapi segala keadaan. Mereka segera berkelompok saling memunggungi, siap menghadapi lawan dari jurusan manapun. Meskipun, tampak pasangan suami isteri tersebut sangat melindungi anak mereka, yang betapapun memang masih di bawah umur.

''Tuan-Tuan yang gagah dari kerajaan Mataram,'' ujar lelaki yang disebut berasal dari Sriv ijaya itu, ''mohon perhatian bahwa kami tidak menyalahi perjanjian yang mana pun. Kami telah bertarung untuk membuktikan perempuan dapat mengalahkan kaum lelaki dengan ilm u silat, seperti yang te lah dim inta, di bawah kesaksian khalayak. Jika mereka tidak merasa terganggu, mengapa kami dianggap mengganggu ketenteraman?''

Lantas ia berteriak, ditujukan kepada semua orang. ''Khalayak! Kami datang hanyalah untuk mencari nafkah dan membina persahabatan; bahkan negara kita pun tidak saling bermusuhan! Kami mohon keadilan!''

Punggawa itu juga berteriak, ''Awas! Siapa pun yang membela orang-orang Sriv ijaya ini tak akan lolos dari hukuman!''

Khalayak penonton itu saling berpandangan. Tidak pernah mereka duga tentunya betapa peran mereka kini sangat menentukan. Sebagai penonton semula seolah-olah mereka tak terlibat, kini mendadak harus ikut bertanggung jawab untuk setiap keputusan, apakah membela para perantau tersebut, ataukah membiarkannya ditangkap para petugas kerajaan.

Sepuluh anak buah punggawa itu sudah menghunus pedang mereka masing-masing, siap menangkap keluarga itu. Meskipun aku mempersiapkan diriku untuk membantu, kalau hanya menghadapi sepuluh orang tersebut, ditambah punggawa itu sekalipun, kuperkirakan suami istri itu akan tetap unggul. Aku hanya memikirkan anak kecil itu, yang setiap saat bisa saja tersambar ayunan pedang. Aku percaya anak itu memang telah dilatih dengan baik, tetapi dalam pertarungan tingkat rendah yang bisa menjadi sangat liar dan purba ini segalanya bisa berlangsung di luar perhitungan apa pun.

(Oo-dwkz-oO)