-->

Nagabumi Eps 61: Bagaikan Ruang Angkasa

Eps 61: Bagaikan Ruang Angkasa

Pembaca yang Budiman, izinkanlah aku untuk menunda jawaban atas pertanyaaan Nawa, yang bertanya apakah benar aku seorang pendekar itu, sampai waktu rehat berikutnya, karena aku takut jadi terlalu melantur. Bukankah aku sedang menceritakan diriku yang berusia 25 tahun, bertemu dengan Pendekar Melati, dan bertarung antara hidup dan mati melawan Raja Pembantai dari Selatan? Aku harus segera menceritakannya kembali sebelum semuanya terlupakan dalam waktu.

Senjata-senjata rahasia itu berdatangan dari segala penjuru. Aku memejamkan mata, menancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, agar semuanya menjadi jelas tergambar dan takhanya sekadar terdengar sebagai suara desingan. Udara ditembusi jarum- jarum beracun yang meluncur dengan kecepatan takterbayangkan. Serangan macam ini hanya dapat di atasi dengan naluri yang terlatih, karena kecepatannya memang memang melampaui kecepatan pikiran. Namun dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, kecepatannya bagai terlambatkan meski dalam kenyataannya tidak sama sekali. Tetap meluncur dan siap merajam tubuhku maupun tubuh Pendekar Melati.

Dalam keremangan masih dapat kutangkap bias cahaya redup hijau kekuningan penanda t ingginya tingkat racun yang dibawanya, sehingga jangankan terajam, hanya tergores pada kulit saja sudah lebih dari cukup untuk mengantar korban ke jalan kematian mengerikan. Pernah kusaksikan seorang pendekar terkena jarum beracun semacam itu di tengah pertarungan dan langsung menggelepar dengan lidah terjulur dan bola mata nyaris terlompat keluar. Mengerikan sekali! K ini ribuan jarum mendesing dari segala penjuru mengancam diriku! Keadaan menjadi jauh lebih berbahaya, karena di belakang jarum-jarum itu sejumlah sosok menyerbu dengan kecepatan yang sama!

Ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang menjabarkan semuanya sebelum aku dapat bertindak dengan kecepatan melebihi kilat. Pertama, bahwa jarum-jarum beracun yang meluncur itu berjum lah 200.000 sehingga pantaslah bias cahaya dan gesekannya pada udara lebih mudah dibaca daripada jika jarum yang dilepaskan hanya satu saja adanya; kedua, 200.000 jarum itu dilepaskan oleh 20 sosok bayangan yang berkelebat begitu cepat ke arah kami dengan berbagai senjata terhunus.

Berarti setiap orang melepas 10.000 jarum beracun, bukan dari sebuah kantung, melainkan dari dalam tangannya! Mereka pasti duapuluh anggota Barisan Setan Iblis yang te lah dibangun kembali oleh Raja Pembantai dari Selatan.

KECEPATAN jarum-jarum itu menunjukkan darimana ia berasal, karena hanya dengan daya gaib maka 200.000 jarum beracun itu dapat meluncur serentak dan tidak berturut-turut. Perbedaannya juga sangat jelas, berapa banyakpun jarum yang diluncurkan berturut-turut, akan memakan ruang yang lebih sempit daripada yang terluncur serentak dari segala arah. Itu berarti tidak hanya keluar dari te lapak tangan seperti ketika Raja Pembantai dari Selatan mengeluarkan pedangnya, melainkan dari segenap pori-pori kulit di lengannya dengan cara dikebutkan seperti menyentakkan selendang, tentu saja dengan lambaran tenaga dalam. Dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, dalam hembusan maut yang datang mengancam, kucari celah untuk membuka peluang. Namun aku takdapat memikirkan diriku sendiri, aku juga harus memikirkan Pendekar Me lati, meski perempuan pendekar itu telah berusaha membunuhku!

Persoalannya, dalam beradu punggung seperti ini set iap gerakan haruslah berpadanan, sementara kami bukan hanya takpernah berlatih bersama, melainkan ilmu kami sendiri belum tentu sesuai dipadu padankan, apalagi dalam keadaan yang begini mendesak. Aku memegang dua batang bambu kuning dan ia memegang sebuah toya. Akankah Pendekar Melati memahami isyaratku jika kulakukan gagasanku? Aku telah melihat kecepatannya dan betapapun waktu untuk berpikir tiada lagi.

''Ikuti daku!'' kataku.

Kubungkukkan badanku dan punggungnya mengikuti punggungku, kutiarapkan tubuhku ke tanah dan punggungnya tetap menempel di punggungku, tetapi saat itulah ia memutar toyanya seperti baling-baling berkecepatan sangat tinggi, begitu cepatnya sampai tidak kelihatan lagi.

''Tahan!'' Kataku lagi.

Artinya ketika aku berguling me lepaskan diri dari tindihan punggungnya, punggungnya itu tidak perlu terus menempel ke tanah, melainkan tetap mengambang, karena jarum-jarum itu ada yang meluncur hanya sehasta di atas tanah. Saat itu aku telah berkelebat di balik jarum-jarum tersebut dan menghadapi Barisan Setan Iblis. Kejadiannya sangat cepat dan tidak bisa diikuti mata. Namun karena mengalami sendiri dapat kujelaskan seperti berikut: Karena serangan jarum itu serentak, maka dapat dimentahkan dengan satu kali putaran toya, tentu dengan syarat tiada celah selubang jarumpun untuk menembusnya, yang berarti toya itu harus berputar dengan kecepatan yang lebih tinggi dari jarum-jarum beracun tersebut. Maka ketika Barisan Setan Iblis itu tiba, serangan jarum- jarum yang mendesis itu sudah dimentahkan. Pendekar Me lati telah berdiri di atas kakinya dan kami membagi ruang agar masing-masing menghadapi sepuluh orang, karena aku masih juga belum terlalu yakin ilmu kami berdua cocok untuk dipadankan menghadapi duapuluh lawan. Jadi sete lah bekerjasama sementara, kami bekerja sendiri-sendiri lagi. Aku berkelebat memojokkan sepuluh orang agar menghadapiku saja dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Aku yakin Pendekar Melati pun akan mampu menghadapi sepuluh orang sisanya.

Menghadapi sepuluh anggota Barisan Setan Iblis, meskipun sepintas lalu seperti pertarungan dalam dunia persilatan pada laz imnya, sebetulnya sama sekali tidak seperti itu. Bahwa ilmu silat mereka tinggi telah dijamin oleh nama dan pengalaman gurunya, Raja Pembantai dari Selatan itu. Namun bahwa di samping ilmu silat mereka yang tinggi itu se lalu dima inkan secara licik dan licin, kenyataan bahwa selalu terdapat unsur racun dan sihir dalam ilmu mereka itu membuat pertarungan tidak menjadi mudah. Aku berkelebat dengan cepat, tetapi sepuluh orang itu pun berkelebat tidak kalah cepat. Hanya angin berkesiur di sekitar tempat pertarungan. Senja yang semakin remang bagi mereka tentu semakin menguntungkan, karena mereka sangat pandai menghindar ke balik kelam. Sungguh seperti memiliki ilmu siluman.

Senjata mereka semua serba aneh. Ada yang seperti tombak berbentuk cakar, ada yang seperti pisau saja tetapi bertali panjang, ada yang menggunakan sepasang arit besar bergerigi, ada yang bersenjata gada mahaberat   tetapi dima inkan dengan ringan, ada yang menggunakan senjata jala, ada yang bersenjata ruyung besi, ada yang memainkan toya tetapi terbagi tiga, ada yang pisau terbangnya bagaikan tiada habisnya, ada yang bersenjatakan limpung, ada yang bersenjatakan tombak tetapi ujungnya adalah kapak dua sisi. Masing-masing senjata itu memiliki keistimewaan yang jarang diungkap dalam kitab-kitab ilmu silat, sehingga melayani permainannya, apalagi secara bersama-sama menjadi sangat berat.

BARISAN Setan Iblis ini tubuhnya dibalut kain serba hitam. Dalam senja yang semakin lama semakin kelam mereka bagaikan menyatu dalam kegelapan. Tinggal topeng tengkoraknya yang karena kesamaannya kadang-kadang membingungkan, karena aku bagaikan menghadapi satu lawan tetapi dengan sepuluh gerakan. Maka kuputuskan untuk menyerang dan melumpuhkannya satu persatu, karena secara bersama mereka terlalu licik untuk dikalahkan. Seperti mereka, akupun mampu berkelebat ke balik kelam, dan segera mendesak salah satunya dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian.

Aku tidak tertarik kali ini untuk menggunakan Jurus Bayangan Cermin, karena aku tidak ingin sama sekali mengenal apalagi memiliki ilm u Barisan Setan Iblis ini. Apalagi, seperti yang kujaga dari ilmu gurunya, tiada jaminan aku tidak akan menyerap pula segenap racun yang telah menyatu dengan ilmu itu ke dalam tubuhku. Selain itu aku belum lupa dengan segala upacara dalam pelajaran ilmu setan yang sangat menjijikkan, sampai aku tidak tega dan tidak kuat pula menceritakannya kembali karena dapat menimbulkan kemualan.

Begitulah aku me lenting ke atas dan menjungkirkan kepalaku ke bawah, merentangkan kedua tangan yang memegang bambu kuning dan takturun lagi. Dengan cara itulah, dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kuhadapi setiap orang yang wajahnya bertopeng tengkorak itu. Jurus untuk dua pedang ini sungguh kugunakan untuk menulis kematian mereka. Kepada setiap orang kuberikan jurus mematikan berupa aksara Kawi yang membentuk tulisan, yang jika dikumpulkan akan membentuk kata-kata berikut. Bagaikan ruang angkasa Taktercela

Takbersifat Takberwujud Takterlukiskan Takterukur Takberwarna Serba luas Merasuk

Ke sepuluh bagian

Berhadapan satu persatu, senjata mereka kehilangan keampuhan dalam keterpecahan. Sepuluh orang itu tanpa ampun segera tewas tanpa kepala. Batang bambu kuningku merah karena darah. Tak kusangka ilmu pedangku telah berkembang sedemikian rupa sampai kepada kecepatan pikiran. Seolah-olah aku hanya perlu berpikir untuk mengalahkan lawan dan tidak perlu menggerakkan apapun. Rupanya tanpa sadar itu kulakukan agar mereka t idak sempat menggunakan ilmu sihirnya, karena betapapun ilmu sihir hampir selalu berhasil menipu dan mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya, sehingga mendapatkan hasil yang tampak nyata, seperti sastra. Makanya, seperti kupelajari dari pasangan pendekar yang mengasuhku, ilmu pikiran itu harus dilawan dengan tindakan dalam pikiran, artinya juga suatu ilmu pikiran juga. Begitulah akhirnya Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang kumainkan bergerak secepat dan sesaat yang sama ketika aku memikirkannya.

Dalam keremangan yang nyaris mendekati kegelapan aku lebih baik memejamkan mata untuk menghindari pengaruh sihir mereka, karena aku tahu jika kubuka mataku yang semula sepuluh orang bisa menjadi seratus jumlahnya tanpa kita ketahui mana yang perlu ditangkis dan mana yang tidak, dan tiba-tiba kita bisa kehilangan kedua lengan kita, meski lebih sering tentu kepala kita. Lawan-lawanku sudah tewas, ketika kubuka kembali mataku, kusaksikan Pendekar Melati memainkan toya bagaikan suatu seni pertunjukan. Dengan menancapkan toya pada tanah, ia bisa berputar-putar berpegangan pada toya itu sampai tidak terlihat oleh mata dan tahu-tahu tendangan kakinya telah memecahkan kepala salah satu anggota Barisan Setan Iblis. Ketika tampak kembali, ia sudah berdiri di atas toya yang tertancap di atas tanah itu dengan satu kaki, sementara kaki lainnya yang semula tertekuk membuka dan meluruskan diri dengan indah, lantas sembari merendahkan tubuh ke depan berputar perlahan dengan dua tangan terentang. Seperti patung yang berputar dengan lamban, tetapi apabila diserang, maka begitu saja senjata lawan telah bersarang pada tubuh pemiliknya sendiri. Kadang ditinggalkannya toya itu untuk menangkap lawannya dengan tangan dan menancapkannya kepada toya yang masih juga berdiri itu, yang tentu saja membuat nyawa lawannya segera terbang ke alam baka.

Toya itu sudah penuh darah ketika lawannya tinggal satu. Ia cabut toya yang ternyata tidak tertancap, melainkan berdiri begitu saja di atas tanah. Pendekar Melati maju perlahan seperti siap me lontarkan toya menembus tubuh lawannya, tetapi lawannya itu mundur terus sampai menabrak dinding bangunan batu tanpa bilik itu. Namun ketika ia mengangkat toyanya, anggota terakhir Barisan Setan Iblis bertopeng tengkorak itu tubuhnya menembus masuk ke balik dinding batu!

"Sihir setan." Pendekar Melati mendesis.

KE manakah lawannya itu menghilang? Mungkinkah ia berada di dalam bangunan tanpa bilik? Kukelilingi bangunan penuh hiasan itu, dan memang tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Apakah ia berada di dalam rongga dan apakah yang akan terjadi jika ia memang berada di dalamnya tetapi tidak dapat keluar lagi? Aku baru menyelesaikan satu lingkaran ketika lagi-lagi Pendekar Melati menyerangku dengan bernafsu.

''Pendekar Melati! Apa salahku padamu? Mengapa dikau ingin membunuhku?''

''Diam lah! Pertahankan saja dirimu, atau kusempurnakan hidupmu!''

Jadi Raja Pembantai itu benar. Perempuan pendekar yang dirinya sendiri memburu kesempurnaan hidup melalui jalan persilatan itu memang harus menyerang untuk memenuhi harapannya. Jika tidak, tak seorang pendekar pun akan melayani apalagi menantangnya bertarung, karena bertarung dan mengalahkan seorang perempuan, meskipun ia seorang pendekar perkasa, masihlah sulit diterima. Sementara itu, tentu saja kalah dari seorang perempuan, meski itu perempuan pendekar yang paling perkasa, tetap saja memalukan. Kukira memang itu sebabnya ia selalu menyerang dengan jurus mematikan, selain karena perbincangan apapun tidak akan mengarah kepada kesepakatan bertarung, hanya dengan begitu lawannya akan mengerahkan segenap kemampuan, termasuk balas menyerang. Pendekar Melati selalu berhasil memaksakan pengertian, bahwa selama dirinya masih hidup, lawannya pasti binasa, dan memang itulah yang selama ini terjadi.

Ia merangsekku dengan toya yang memainkan Jurus Kera Sakti Bermain Toya. Telah kudengar betapa jurus itu memang merupakan puncak permainan toya dan kini kualami sebagai jurus yang menyerangku. Kedua ujung toya itu berubah jadi selaksa memburu titik-titik mematikan di tubuhku. Aku berguling-guling di tanah menghindari serangan, lantas melenting ke udara untuk turun lagi dengan Jurus Elang Emas Mengepakkan Sayap. Kedua batang bambu kuningku juga berubah menjadi se laksa. Tidak satupun sambaran toya itu yang tidak tertangkis dan memang sebaiknya begitu, karena jika tidak, aku akan segera menjadi seonggok tubuh yang lumpuh, yang setiap saat akan menjadi takbernyawa.

Pertarungan kami seimbang, tetapi Pendekar Melati tidak menggunakan kembali ilmu menyerap tenaganya yang belum dapat kuatasi; sebaliknya aku pun belum menggunakan Jurus Bayangan Cermin karena aku seperti mempunyai perasaan tidak ingin mengalahkannya.

''Pendekar Melati! Raja Pembantai dari Selatan itu belum mati! Bagaimana kalau ia tiba-tiba menyerang kita?''

''Pendekar Tanpa Nama! Sejak kapan dikau takut menghadapi lawan sendirian? Siapapun yang masih hidup di antara kita, dialah yang akan menghadapinya!''

Namun keadaan berkembang tidak seperti diduganya, karena tepat pada saat dia terperangkap Jurus Penjerat Naga yang kumainkan secara tersembunyi di balik Jurus Dua Pedang Menulis Kematian, dan toyanya berhasil kujepit kedua batang bambu kuningku, sesosok bayangan hitam muncul dari dalam tanah mengirimkan pukulan ke dadaku sehingga aku terlempar seratus langkah, sedangkan Pendekar Melati telah dihembusnya dengan racun penidur dari mulutnya dan langsung ambruk ke tanah taksadarkan diri.

Dadaku sesak dan panas, tetapi darahku naik ke kepala mengalami kelicikan ini. Kulihat seorang tua berjenggot melambai yang dalam kekelaman itu matanya tampak merah menyala. Mata iblis! Raja Pembantai dari Selatan itu bermaksud menyihirku!

Senja telah berubah menjadi malam. Bumi hanya kegelapan. Aku tidak melihat apapun kecuali kedua mata yang menyala itu. Aku tahu tak akan bisa mengalahkan ilmu sihirnya dalam kegelapan, karena akan sangat mungkin diciptakannya bayangan tanpa kenyataan yang sangat menipu pandangan. Jika dari mata yang merah menyala itu meluncur api yang seperti siap membakarku, tentu aku akan menghindar karena tak akan pernah tahu itu memang api yang panasnya membara ataukah sekadar api sihir untuk mengecoh sahaja, padahal aku tahu Raja Pembantai dari Selatan itu mampu melakukan keduanya. Maka kupejamkan mataku dan sekali lagi kutancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

''Sihir adalah perma inan pikiran,'' lagi-lagi aku teringat kata ibuku dulu, ''jadi harus dilawan dengan pikiran. Pusatkanlah perhatian dan jangan menganggap perma inan sebagai kenyataan, maka dikau akan mampu mengatasinya seberapa hebat pun permainan lawan. Tetapi ingat, dikau jangan pernah meremehkan, karena itulah awal mula kelengahan.''

"Sihir setan." Pendekar Melati mendesis.

DADAKU sesak dan panas, tetapi darahku naik ke kepala mengalami kelicikan ini. Kulihat seorang tua berjenggot melambai yang dalam kekelaman itu matanya tampak merah menyala. Mata iblis! Raja Pembantai dari Selatan itu bermaksud menyihirku!

Senja telah berubah menjadi malam. Bumi hanya kegelapan. Aku tidak melihat apapun kecuali kedua mata yang menyala itu. Aku tahu tak akan bisa mengalahkan ilmu sihirnya dalam kegelapan, karena akan sangat mungkin diciptakannya bayangan tanpa kenyataan yang sangat menipu pandangan. Jika dari mata yang merah menyala itu meluncur api yang seperti siap membakarku, tentu aku akan menghindar karena tak akan pernah tahu itu memang api yang panasnya membara ataukah sekadar api sihir untuk mengecoh sahaja, padahal aku tahu Raja Pembantai dari Selatan itu mampu melakukan keduanya. Maka kupejamkan mataku dan sekali lagi kutancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

''Sihir adalah perma inan pikiran,'' lagi-lagi aku teringat kata ibuku dulu, ''jadi harus dilawan dengan pikiran. Pusatkanlah perhatian dan jangan menganggap perma inan sebagai kenyataan, maka dikau akan mampu mengatasinya seberapa hebat pun permainan lawan. Tetapi ingat, dikau jangan pernah meremehkan, karena itulah awal mula kelengahan.''

Dalam saat yang gawat seperti ini, aku merasa bersyukur telah diasuh oleh Sepasang Naga dari Ce lah Kledung.

''Maafkanlah aku wahai Pendekar Tanpa Nama, kuakui sebetulnya aku tadi merasa jeri dan bermaksud menghilang. Namun kuingat kembali betapa aku sudah merasa sangat bosan dengan kehidupan. Maka aku harus kembali untuk bertarung dengan kalian. Sayang sekali hanya dengan dikau kini aku berhadapan, tetapi hanya dengan beginilah dikau akan mengeluarkan se luruh kemampuan, jika memang ingin menyelamatkan perempuan pendekar yang sejak tadi kau lindungi ini dari kematian.''

Iblis ini sungguh sakti dan kemampuannya membaca pikiran sangat tinggi. Aku t idak akan terlalu peduli seandainya diriku terbunuh karena kekalahan dalam pertarungan, seandainya aku memang terbunuh dalam puncak pencapaian. Namun aku akan mengusahakan diriku tidak akan pernah dibunuh, artinya harus membunuhnya, jika itu akan menyelamatkan Pendekar Melati yang selalu mau membunuhku itu dari kematian.

Mataku terpejam. Sosok Raja Pembantai dari Selatan itu masih tampak dalam keterpejamanku sebagai garis cahaya yang membentuk tubuhnya. Begitu jelas bercahaya dalam kegelapan, yang justru tidak akan terlihat sama sekali jika mataku terbuka dan menatap kekelaman, karena tubuhnya pasti telah melebur dengan malam. Gambaran sosok dengan garis cahaya sepanjang tubuhnya itulah yang telah diberikan ilmu pendengaran kepada pikiran. Kupusatkan perhatian dengan telingaku, dan memang kudapatkan gambaran.

Sepasang pedang hitam penuh racun berbisa itu kembali muncul dari dalam tangannya, lantas ia menetak tubuh Pendekar Melati yang masih tergeletak pingsan tanpa daya! (Oo-dwkz-oO)