Nagabumi Eps 60: Rehat dan Filsafat

Eps 60: Rehat dan Filsafat

Pembaca yang Budiman, sekali lagi iz inkanlah diriku yang

tua ini beristirahat sebentar. Usiaku boleh seratus tahun dan aku memiliki tenaga dalam, tetapi pengalamanku menulis masih sangat singkat, apalagi untuk menulis sesuatu yang belum dapat kuketahui kapan berakhir.

Ada kalanya aku menulis sangat lambat. Hanya beberapa kalimat, di atas lembaran lontar yang baru saja mengering, dengan guratan pengutik yang membentuk aksara Kawi. Kupilih menulis dalam aksara dan bahasa ini, karena aku memang membayangkan bahwa orang akan membacanya dalam bahasa ini. Lagipula, di se luruh Javadvipa, bukankan semua orang berbicara bahasa ini? Tentu aku taktahu nasib tulisanku, jika pada suatu kali tiada lagi bahasa Kawi ini di muka bumi.

Kadang kala aku menulis dengan lambat, karena tidak semuanya teringat olehku secara tepat. Pertarungan yang berlangsung secara cepat misalnya, tidak selalu dapat kuingat dengan rinci bagaimana gerakan itu telah berlangsung. Memang bisa terjadi karena lupa dan tidak sedikitpun dapat kuingat lagi, dapat pula karena memang tidak mungkin dituliskan meski aku mengingat sampai yang sekecil-kecilnya, karena jika dituliskan dengan tetap rinci, se lain akan menjadi takterhitung lagi berapa ratus lembar lontar diperlukan untuk sebuah pertarungan yang hanya singkat, justru akan terasa berlebihan dan tidak meyakinkan sebagai kenyataan yang sungguh kualami.

Ini berarti sambil menulis, sebetulnya aku masih memikirkan cara untuk menulis dengan sebaik-baiknya. Sangat menggelisahkan bagiku, jika suatu peristiwa kualami sebagai sesuatu yang dahsyat, tetapi ketika kutuliskan dan kubaca kembali tampaknya tidak menjadi sesuatu yang luar biasa. Apakah rahasia orang menulis?

Nah!

Aku memang telah berusaha menulis dengan sejujur- jujurnya, tetapi seberapa jauh tulisanku akan terbaca dan meyakinkan sebagai kenyataan? Dapatkah tulisanku dipercaya jika telah kuceritakan peristiwa yang bisa diakibatkan oleh Wabah Kencana, Jurus Bayangan Cermin, dan apalagi nanti Jurus Tanpa Bentuk?

Jika aku menuliskan sesosok bayangan berkelebat bagaimanakah Pembaca yang Budiman akan menerimanya juga sebagai sesosok bayangan berkelebat ? Mungkinkah Pembaca yang Budiman menerima suatu penggambaran sebagaimana aku menggambarkannya? Jika dalam hal gambar pahatan pada batu kesamaan antara penggambaran dan penerimaan masih mungkin dijamin, meski kemudian penafsiran akan menghancurkan kembali kesamaan itu, seberapa mungkinkah kesamaan itu masih mungkin berlangsung dalam penggambaran dengan kata-kata?

Aku berusaha menggambarkan kembali segenap pengalamanku seperti aku telah mengalam inya, tetapi selain daya dan kemampuan penggambaranku terbatas, di samping ingatanku yang juga amat sangat terbatas, penerimaan siapapun yang membaca catatanku ini juga akan sangat menentukan. Aku sendiri tidak dapat berbuat apa-apa dalam mengarahkan ketentuan atas penerimaan para pembaca. Hidup pada masa apakah Pembaca yang Budiman sekarang ini? Jika pembaca hidup dalam masa yang sama denganku sekarang ini, yakni tahun 871, itu pun belum dapat dipastikan bahwa penggambaranku akan diterima seperti yang kuinginkan, bahkan boleh dipastikan siapapun di zamanku tetap akan membacanya dengan ia punya sudut pandang dan bukan pandanganku. Apalagi pembaca catatan ini seratus tahun kemudian pada 971, atau seribuseratus tahun kemudian pada 1971 bukan?

SAAT itu aku sudah tidak tahu lagi di mana diriku. Menjadi zat yang lebur dalam zat semesta raya, tiada lagi diri, hanya zat, melebur dalam udara tanpa kesadaran, yang telah kutinggalkan sebagai catatan.

Begitulah aku telah menuliskan catatan ini se lama berhari- hari dan berminggu-minggu nyaris tanpa henti, kecuali tentu saja ketika aku harus menjalankan pekerjaanku sebagai pembuat lontar.

"Orang tua, dikau selalu mengambil sepuluh lembar dari setiap seratus lontar yang dikau buat. Ada apa sebenarnya, orang tua? Dikau menulis tanpa beranjak dari tempatmu duduk bagaikan seorang empu, karya tulis apakah yang kau buat wahai orang tua?"

Demikianlah pengusaha lembaran lontar yang mempekerjakan aku akhirnya bertanya. "Maafkanlah sahaya, Tuan, sungguh-sungguh maafkanlah sahaya, adapun sepuluh lembar lontar yang sahaya ambil dari tiap seratus lembar itu sahaya gunakan hanyalah untuk belajar menulis sahaja."

"Belajar menulis? Hmm. Coba lihat."

Ia memperhatikan caraku mengguratkan aksara dari sebuah lembaran.

"Apa lagi yang dikau pelajari, tulisanmu ini tulisan orang yang sudah biasa menulis."

"Ya, sahaya dahulu kala bekerja pada seorang guru silat, Tuan, yang mengejakan kata-kata untuk sahaya guratkan, tetapi itu pun lebih banyak gambar-gambar Tuan, gambar jurus-jurus ilmu silat."

Lantas ia tatap tubuhku yang takberbaju.

"Apakah dikau juga seorang pesilat, wahai orang tua?"

Harus kuakui tubuhku tidaklah terlalu kurus dan kering sebagai manusia berusia seratus tahun, tetapi bukankah aku sedang menyamar sebagai orang berumur 60 tahun?

"Setiap pemuda di kampung kami memang belajar silat, Tuan, tetapi hanya beberapa jurus sahaja, sebagai bagian pertahanan desa."

"Ah, begitu," ia mengangguk-angguk, "di manakah kampungmu itu orang tua?"

Tak kusangka tentu, pertanyaan itu.

"Sahaya hanyalah orang kampung, Tuan, sahaya berasal dari wilayah Kledung."

"Kledung? Hmm. Aku ingat orangtuaku bercerita tentang Sepasang Naga dari Celah Kledung."

Aku tercekat. Sudah seratus tahun umurku, tetapi ingatan kepada pasangan pendekar yang mengasuhku dengan penuh kasih sayang itu masih membuat mataku berlinang-linang. Namun kali ini aku tidak memperlihatkannya.

"Bagus sekali dongeng tentang mereka itu," katanya lagi, "kurasa memang luar biasa untuk mendapatkan kematian yang sempurna sebagai seorang pendekar, bukan kematian karena terlalu banyak makan."

Ia melangkah pergi, tapi berhenti sebentar untuk bertanya. "Jadi apakah yang sedang kau tulis, orang tua?"

Apalagi yang bisa kujawab?

"Kenang-kenangan saya sahaja Tuan, sekadar mengisi waktu luang, sebelum nyawa kita melayangO."

Ia meneruskan langkahnya dan hilang ditelan pintu bilik rumahnya. Di depan pondokku anak-anak kecil masih bermain dakon. Aku masih tertegun. Riwayat Sepasang Naga dari Celah Kledung diterima sebagai dongeng. Tentu tidak ada salahnya. Aku mengaku telah menjadi juru tulis bagi seorang guru silat, karena hanya pengalaman menulis kitab ilmu silat itulah yang pernah kulakukan sebagai seorang penulis, dan seperti telah kuakui, lebih banyak gambar daripada kata-kata yang terdapat dalam kitab ilmu silat.

Tentu bukanlah kitab ilmu silat seperti yang telah kutulis itulah yang terbayang di kepala pembuat lembaran lontar untuk istana tersebut. Telah kuceritakan betapa dunia persilatan hanya terdengar bagaikan dongeng di telinga orang-orang awam, tetapi memang terdapat juga ilmu silat yang merupakan bagian dari kebudayaan orang-orang awam tersebut. Di dunia orang awam, ilmu silat adalah pelajaran wajib set iap orang sebagai kelengkapan hidupnya, karena kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan penjarahan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun selain sebagai cara untuk membela diri, ilmu silat juga hadir sebagai seni, yang biasa dipertunjukkan dalam pesta dan upacara, mulai dari pesta pernikahan sampai upacara panen. Ini berarti memang terdapat guru-guru yang mengajarkan ilmu silat, tetapi tidak terdapat pekerjaan guru silat, karena dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki pekerjaan masing-masing, apakah sebagai petani, tukang besi, pengantar surat, atau juga seorang pejabat desa. Mereka yang memiliki kepandaian ilmu silat tanpa pekerjaan, malah dapat dicurigai sebagai sekadar tukang pukul atau pembunuh rahasia, dan tentu saja ini akan sangat menggelisahkan. Mereka yang menjual ilm u silatnya kepada siapapun yang bersedia membayarnya, termasuk melakukan pembunuhan, akan menenggelamkan diri dalam kehidupan rahasia. Memang dunia penuh kerahasiaan inilah yang justru akan menghubungkannya dengan dunia persilatan sebenarnya, seperti yang telah kutuliskan dan kualami sendiri.

DENGAN ini juga semoga Pembaca yang Budiman menjadi lebih jelas, bagaimana menempatkan ilmu silat dunia awam dalam perbandingannya dengan ilmu silat sungai telaga dunia persilatan. Apa yang bagi orang awam merupakan dongeng, bagiku merupakan suatu kenyataan yang dapat kutuliskan, aku mengenalnya sebagai bagian diriku, sebagai dunia yang telah selalu kuhidupi dan menghidupkan diriku. Maka jika aku menuliskan betapa suatu pertarungan telah berlangsung dalam kecepatan cahaya sehingga takdapat diikuti mata orang biasa, maka pertarungan tersebut memang telah berlangsung seperti itu, setidaknya seperti yang kurasakan ketika mengalaminya. Masalahnya, seberapa mungkin aku berdaya membahasakannya? Mula-mula ini tentu masalah kemampuanku sebagai penulis, tetapi kemudian juga seberapa berdaya bahasa menerjemahkan dan mencerminkan kenyataan dunia persilatan itu. Mungkinkah ada sesuatu yang takterbahasakan di dunia ini? Ataukah harus dikatakan bahwa dunia persilatan dan dunia bahasa adalah sesuatu yang ternyata tidak berhubungan antara yang satu dengan lainnya? Kalau begitu caranya, dunia persilatan yang terbaca bukanlah persilatan jua adanya, melainkan dunia sastra, karena jurus- jurus silat tidak tampil sebagaimana adanya, melainkan melalui kata-kata. 

Pembaca yang Budiman, iz inkanlah diriku yang tua ini mengelantur ke sana kemari lebih dahulu, karena menulis berpanjang-panjang dengan liar tidaklah membuatku bahagia tanpa sekadar usaha merenungkannya. Bukankah pernah kukatakan, dengan suatu cara, bahwa dunia persilatan bukanlah seperti me lainkan adalah kesusastraan? Dalam penulisan dan pembacaan, sungai telaga dunia persilatan hidup dalam kata-kata, dan bukan permainan pedang. Memang kata-kata menjadi lebih tajam daripada pedang, bahkan kata-kata juga telah mempertajam pedang itu sendiri. Bukankah pernah kuceritakan tentang ketajaman sebuah pedang yang mampu membelah ketebalan sehelai rambut dan bukan kepanjangannya? Harus kukatakan sekarang bahwa akupun masih dapat bercerita tentang ketajaman sebuah pedang yang dapat membelah ketebalan sehelai rambut bahkan menjadi tujuh bagian. Manakah kiranya yang lebih hebat kemudian, ilmu persilatan ataukah ilmu penulisan? Jika hanya lewat tulisan dunia persilatan mendapatkan keberadaannya, maka dapat dibayangkan betapa tanpa kata- kata sungai telaga persilatan merupakan dunia yang terlalu sunyi.

Penemuan tentang peranan kata-kataku sendiri dalam dunia persilatan agak mengejutkan bagiku. Menemukan diriku sendiri sebagai seorang pesilat kata-kata tidaklah menyenangkan diriku. Tidakkah dalam usahaku membuat pembaca tersenangkan dan percaya, aku tentu akan menuliskan sesuatu dengan cara yang mengecoh mereka? Tidakkah aku akan cenderung membuat pembaca yang manapun berpihak kepadaku, menyetujui pendapatku, dengan cara menggiringnya ke arah itu? Mampukah kiranya aku menahan diriku sendiri untuk tidak berlaku seperti itu?

Hmm. Kejujuran adalah perkara yang rum it. Kiranya ilmu penulisan memberikan tuntutan yang tidak kalah besar tanggungjawabnya dibanding ilmu persilatan. Apabila dalam ilmu persilatan kita harus bertanggungjawab atas setiap kematian yang kita sebabkan, maka dalam ilmu penulisan kita harus bertanggungjawab agar setiap kalimat tidak merupakan penipuan; karena set iap kali seorang pembaca terkecoh pandangannya atas kenyataan, dosa seorang penulis sama besar dengan pembunuhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Padahal seorang pendekar hanya dapat menewaskan seorang lawan satu kali; sedangkan kalimat demi kalimat yang tersusun menjadi pesan tersampaikan, bukan hanya mungkin dibaca seseorang berkali-kali, tetapi terutama mungkin saja dibaca berbagai orang dari zaman ke zaman berganti-ganti; belum lagi jika akan sering dibacakan di depan para pendengar dari kampung ke kampung, sehingga jumlahnya sungguh takterhitung banyak sekali.

Aku menghela nafas. Itu berarti seorang penulis berpeluang mengumpulkan dosa sebuah pembunuhan banyak sekali tanpa disadari. Padahal, dalam penulisanku ini, aku hanya ingin menemukan suatu penyebab dalam riwayat hidupku, yang telah membuat para pembunuh bayaran memburu diriku, dan seseorang menginginkan aku mati.

Mengapa seseorang menghendaki aku mati? Atau mungkinkah sejumlah orang bersepakat menentukan bahwa sebaiknya aku mati? Mungkinkah bukan sejumlah pribadi, melainkan negara itu sendiri, seperti yang dapat kutafsirkan dari se lebaran perburuanku yang resmi, yang memutuskan aku harus mati?

MENGAPA seseorang menghendaki aku mati? Atau mungkinkah sejumlah orang bersepakat menentukan bahwa sebaiknya aku mati? Mungkinkah bukan sejumlah pribadi, melainkan negara itu sendiri, seperti yang dapat kutafsirkan dari se lebaran perburuanku yang resmi, yang memutuskan aku harus mati?

Benarkah suatu ajaran rahasia yang menjadi sumber masalah ini? Kuakui dengan jujur, betapa aku sungguh tidak mengerti. Jika suatu ajaran rahasia telah disebut sebagai vidharma atau apatha atau vipatha atau juga mithyadusti karena kerahasiaan itu sendiri, maka apakah yang tidak rahasia dalam segala ajaran di atas bumi Javadvipa ini? Tidakkah setiap ajaran memang memiliki rahasianya sendiri?

(Oo-dwkz-oO)

AKU masih menulis ketika dunia seperti membuka diri kepadaku, mengeluarkan diriku dari dunia di dalam batok kepalaku sendiri. Kulihat bajing me lompat naik turun pohon kelapa, menyeberang dari daun ke daun yang jadi bergoyang dan meneteskan sisa-sisa air hujan. Orang-orang kampung menyeberangi halaman puri untuk menyingkat jalan. Anak kecil berlari-lari di sekitar ibu yang menggendong adik bayinya. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari, kenapa kini menjadi indah sekali, meski segala sesuatunya hanyalah sama, sama, dan sama saja sama sekali.

Lantas kusadari betapa cara memandang itulah yang sudah berubah. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari yang tampaknya memang akan selalu sama dapat saja menjadi lebih dari biasa jika kita memandangnya sebagai sesuatu yang luar biasa. Jadi mengapa aku tidak memandang segala sesuatu sebagai luar biasa sahaja? Mengapa aku tidak harus memandang segala sesuatu sebagai istimewa bukan?

Maka kulihat orang-orang yang melangkah di halaman bukan sebagai orang-orang yang melangkah di halaman, melainkan sebagai penari yang bergerak penuh keanggunan, meski mereka hanya melangkah dan berjalan sebagaimana biasanya mereka melangkah dan berjalan. Namun segalanya kemudian memang berubah apabila kemudian aku dapat menyaksikan pantulan matahari pada rambut lurus panjang baru saja dim inyaki, wajah ceria dalam canda dan tawa yang menoleh kepadaku antara terlihat dan tidak terlihat karena semburat cahaya di belakang kepala mereka, serta suara- suara riang anak-anak bermain dakon sebagai latar belakang segala pemandangan. Gadis-gadis dengan kain di pinggang dan dada mereka yang terbuka, para jejaka dengan destar di kepalaO

Begitu sederhana, begitu biasa, tetapi dalam pandanganku kini penuh dengan pesona.

Lantas muncullah Nawa, anak yang sangat bersemangat untuk belajar membaca dan menulis itu.

"Kakek, lihatlah tulisanku."

Ia membawa sejumlah lembaran lontar. Aksara telah diguratkannya dengan cukup rapi, meski terkadang masih berlari ke sana kemari,

"Apakah yang kamu tulis itu Nawa? Marilah kubaca." Maka aku pun membacanya.

"Salinan ya?"

"Ya, dari Arthasastra di dalam sana, apakah tulisanku dapat dibaca?"

Aku terkejut, bukan karena apa yang dituliskannya sebagai salinan, melainkan yang telah dibacanya sebagai pengetahuan. Anak sekecil ini telah menyalin bagian tentang Daftar Ilmu-Ilmu, bagaimana kelak ia jadinya?

Anvikshaki, ketiga Veda, Varta dan Dandaniti inilah ilmu-ilmu Vidya

ketiga Veda, Varta, dan Dandaniti inilah ketiga ilmu

kata para pengikut Maha Rsi Manu sedangkan Anvishaki

hanyalah cabang tersendiri dari Veda hanya Varta dan Dandaniti

yang termasuk ilmu

kata para pengikut Maha Rsi Brhaspati karena pengetahuan Veda

hanyalah suatu selubung bagi seseorang

yang memahami cara-cara di dunia Dandaniti

adalah satu-satunya ilmu

kata para pengikut Maha Rsi Usana padanya terikat usaha-usaha

yang berhubungan dengan semua ilmu empatlah sesungguhnya jumlah ilmu-ilmu itu kata Kautilya

karena dengan bantuan semua ilmu itu seseorang dapat belajar

tentang kebenaran dan kesejahteraan karenanya semua disebut Vidya Samkhya, Yoga, dan Lokayata

inilah yang membentuk Anvikshaki kebenaran dan kebatilan tindakan dipelajari dari Veda

kesejahteraan dan kemiskinan dipelajari dari Varta

kebijakan baik dan buruk dipelajari dari Dandaniti begitu pula

kemampuan dan kelemahan ketiga ilmu

Anvikshaki memberikan manfaat kepada orang-orang dengan tetap teguh

di dalam kemalangan dan kemenangan akan meningkatkan kemahiran

di dalam pikiran, ucapan, dan tindakan Anvikshaki atau Filsafat cahaya segala ilmu alat bagi segala

penunjang hukum dan kewajiban

NAWA baru enam tahun umurnya. Bagaimana jadinya jika ia bertahan pada jalan pengetahuan seperti sekarang se lama hidupnya? Ia akan beranjak dari jalan pengetahuan menuju jalan ilm u pengetahuan. Kuingat kehidupanku sendiri pada masa kecilku, bagaimana caranya aku mengenal pengetahuan dan persilatan. Nawa masih belajar menuliskan aksara, tetapi telah dapat kubayangkan pintu dunia yang terbuka untuknya.

"Aksaramu sudah tertulis dengan bagus Nawa, tetapi kata dan kalimat mestinya ditulis rata, tidak meloncat-loncat dan jadinya miring seperti ini."

Mata Nawa berbinar dan penuh cahaya.

"Tapi aku sudah dapat mengejanya Kakek!"

Lantas katanya: "Anvikshaki atau Filsafat adalah cahaya segala ilmu, benarkah itu Kakek?"

Aku hanya tersenyum, mengusap kepalanya, sembari berdoa di dalam hati, semoga ia tidak mengenal dan menghendaki juga untuk menguasai ilmu persilatan. Aku tidak dapat membayangkan, jika jiwa semurni ini kelak harus menumpahkan darah.

Namun tiba-tiba ia berkata.

"Kakek, benarkah Kakek seorang pendekar?"

(Oo-dwkz-oO)