Nagabumi Eps 50: Daerah Tak Bertuan

Eps 50: Daerah Tak Bertuan

DI daerah tak bertuan, kejahatan merajalela tanpa hambatan. Ini sering terjadi pada tahun-tahun pertama pergantian kekuasaan. Penguasa lama, betapapun berkuasa dan berwibawanya dia, akan se lalu menghadapi sejumlah penguasa daerah terpencil yang tidak terlalu mudah dikuasai, bukan saja karena jarak yang jauh dan sulit, melainkan juga karena jarak yang jauh membuat lingkaran wibawa seorang penguasa tidak terlalu berdenyar. Daerah terpencil harus dikuasai dengan penempatan para pejabat dari pusat pemerintahan. Namun kebijakan semacam ini bukan tanpa akibat. Di satu pihak mengukuhkan kekuasaan pusat pemerintahan, di lain pihak bercokolnya orang asing sebagai penguasa daerah mengundang semangat perlawanan. Pada saat pergantian kekuasaan, para pewaris kekuasaan di daerah terpencil yang sudah lama merasa tertindas di bawah kekuasaan Rakai Panamkaran, memanfaatkan peluang untuk merebut kekuasaan di daerah tersebut ketika kedudukan Rakai Panunggalan yang kini menjadi penguasa Mataram belum terlalu kokoh.

Namun di daerah tak bertuan, terlalu banyak orang merasa layak berkuasa dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Ada golongan yang merasa berhak sebagai keturunan penguasa lama yang ditundukkan, jika tidak dibantai habis seluruh keluarganya, semasa pemerintahan Rakai Panamkaran; ada golongan yang merasa berhak karena memang telah menghimpun kekuatan dan merasa mampu merebut kekuasaan dengan dukungan banyak orang; ada golongan yang sebetulnya mewakili pemerintahan pusat semasa kekuasaan Rakai Panamkaran, dan kini berpikir untuk melepaskan diri dari kekuasaan Rakai Panunggalan yang baru saja naik tahta dan dianggapnya belum mendapat terlalu banyak dukungan dari para penguasa daerah yang lain.

Di antara berbagai golongan yang berebut kekuasaan di daerah terpencil itu, pada awal goyahnya kekuasaan pusat tidak akan ada yang terlalu berkuasa; kedudukan yang satu dirongrong kedudukan yang lain, dan karena tidak satu golongan pun mempunyai pasukan yang cukup kuat untuk mengukuhkan kekuasaan, mereka saling mengirim pembunuh bayaran, para tikshna, yang akan membunuh siapa pun secara diam-diam tanpa meninggalkan jejak, atas pesanan siapapun yang membayarnya. Keadaan ini akan berhenti ketika pusat pemerintahan mengirimkan pasukan yang kuat, membantai, menindas, dan menghukum siapapun yang tidak mengakui kekuasaan dari pusat, lantas bercokol di sana dengan perwakilan yang akan selalu waspada terhadap setiap gejala perlawanan dan pemberontakan. Namun orang-orang daerah terpencil ini agaknya tidak pernah belajar, dan memelihara minat untuk juga berkuasa di daerah itu setiap kali kesempatan terbuka.

Itulah sebabnya daerah tak bertuan tak hanya menunjuk kekosongan kekuasaan, melainkan juga kekacauan akibat pertikaian berbagai golongan yang dapat membingungkan, apalagi bagi orang asing yang hanya kebetulan me lewati daerah tak bertuan tersebut seperti diriku. Keadaan semacam itu bukan tidak merasuk ke dunia persilatan. Para pendekar dengan kemampuan bersilat yang tinggi sehingga bisa membantai satu pasukan seperti membalik tangan, sering tergoda dan memang digoda untuk mendukung sa lah satu golongan. Bila harta benda dunia tak cukup menggoda, kepada mereka ditawarkan sebagian dari kekuasaan, tanpa pernah mengetahui betapa setelah kekuasaan didapatkan mereka akan dianggap duri dalam daging yang harus dilenyapkan. Pada tahap inilah para ahli racun akan mendapatkan pekerjaan!

KECENDERUNGAN semacam ini, jika kita banyak membaca, sebenarnyalah merupakan cerita yang selalu berulang. Namun di Yawabumi tahun 786, berapa banyakkah manusia membaca, dan apa pula yang mau dibaca? Kitab-kitab disa lin dan disebarkan dengan amat sangat terbatas, selain hanya dibaca dan dim iliki kasta tertentu. Sebaliknya, cerita lisan beredar begitu rupa dengan keragaman dan pengembangan berganda yang tak mungkin dilacak lagi sumbernya. Menambah kebingungan siapa pun bagi mereka yang ingin mencari apapun yang dapat dipercaya sebagai kebenaran. Sesuatu yang sudah telanjur mustahil!

Daerah tak bertuan adalah ladang yang subur bagi golongan hitam, karena daerah tak bertuan juga berarti daerah tanpa hukum, dan di daerah tanpa hukum berlakulah hukum rimba, yakni betapa siapa pun yang paling mampu memaksakan kekuasaannya, maka dialah yang akan berkuasa.

Dalam ketidakpastian perlindungan di bumi, apakah yang dapat dilakukan rakyat jelata? Mereka mengharapkan perlindungan para penguasa langit! Dem ikianlah, maka pada suatu malam bulan Asvina saat rembulan terang di daerah takbertuan itu kusaksikan suatu upacara keagamaan yang khusyuk. Kulihat penduduk sebuah desa berkumpul di depan patung Durga Mahisasuramardini.

Kuperhatikan patung itu, memperlihatkan Durga bertangan delapan yang berdiri dengan sikap tenang, kedua kakinya berada di atas punggung kerbau dalam sikap abhangga, yakni berdiri tegak, kepala dan tubuh terletak pada satu garis yang disebut madhyasutra , kaki kanan sedikit bengkok karena dilipat. Wajah Durga tampak cantik tapi bertaring. Kudengar kata-kata pemuka desa yang memimpin upacara ini. saya mencari Dewi Durga sebagai pelindungku yang warnanya seperti api

yang membakar dengan panasnya yang dahsyat dialah puteri matahari

yang dipuja agar memberi hasil pada setiap upacara korban hormat kepada kekuatanmu

o dewi yang hebat

Puja pembuka itu kemudian diteruskan dengan cara pemujaan Durga seperti pernah kubaca dari Mahabharata, yakni parva keempat Bhisma-parva, yang diucapkan oleh Arjuna, dan parva keenam Virata-parva, yang diucapkan oleh Yudhistira.

saya menghormat tuan, kepala para yogin tuan adalah sama dengan Brahman tinggal di hutan Mandara

Kumari, Kali, isteri Kapala atawa Siva hitam warnanya

hormat kepadamu o Mahakali Candi, Canda

hormat kepadamu Tarini

yang dilengkapi keberuntungan

yang berasal dari suku Kata atawa Katyayani sangatlah dihormati

menakutkan Karali sang pemberi kemenangan dan tuan adalah kemenangan itu sendiri

tuan yang memiliki bendera bulu merak dihias i segala jenis permata

memiliki tombak yang hebat pedang dan perisau kulit

adik wanita Kresna ketua gembala lembu Jyestha yang lahir dalam keluarga gembala Nanda gemar akan darah Mahisa

Kausiki yang berbusana kuning dengan senyum menawan mulutnya menelan segenap asura hormat kepadamu

yang bahagia di medan perang Uma pemberi Shaka

tuan berwarna putih dan hitam penghancur asura Kaithaba

bermata keemasan bermata setengah terbuka berwarna mata abu-abu

tuan adalah Veda dan sruti yang sangat suci tuan sangat berguna bagi brahmana

yang melakukan upacara korban tuan adalah Jataveda

dan tuan selalu hadir di kuil-kuil yang suci di kota-kota penting Jambhudvipa

di antara ilmu pengetahuan

tuan adalah pengetahuan bagi Brahman tuan adalah kelepasan

dari makhluk yang bertubuh o Ibu Skanda

o Bhagavati Durga!

tuan berada dalam darah yang sulit dicapai

Svaha, Svadha, Kalaa, Kastha Sarasvati, Savitri

ibu dari Veda

dan tuan disebut Vedanta

saya menghormati tuan dengan sepenuh hati dengan kehendakmu

berilah kemenangan perang kepada kami tuan yang tinggal di tempat terpencil yang menakutkan dan sukar dicapai

di dalam rumah para pemujamu di Patala dalam perang tuan menaklukkan Danava tuan adalah kantuk Mohini dan tidur Nidra

DALAM pertarungan yang berlangsung sangat cepat, kami bertukar pukulan beberapa kali, tetapi semua pukulannya tertahan oleh telapak tanganku sedangkan seluruh pukulan Telapak Darah masuk dengan telak. Ia terjengkang dengan mulut memuntahkan darah tetapi sempat melemparkan sesuatu ke arahku, yang segera kutangkis karena tak sempat kuhindari.

Akibatnya sama sekali tak terduga, benda itu me ledak tanpa suara dan dengan cahaya sangat terang mengagetkan serta mengeluarkan asap, sedangkan baunya terasa aneh dan memabukkan.

Kutatap sepintas apa yang terjadi dengan orang-orang di depan arca, untuk sejenak mereka bagaikan orang yang tersihir, tetapi lantas bergelimpangan. Aku pun hampir mengalami nasib yang sama jika tidak segera menahan napas. Bau yang aneh itu membuat orang-orang menjadi lemas tanpa daya, dan dalam keadaan seperti itu ledakan cahaya tersebut membuat segala benda tak bergerak terlihat bergerak. Terutama arca Durga bertangan delapan tersebut!

Apa yang menjadi firasatku terbukti. Penduduk desa yang memuja Durga itu dalam kesadaran terbius akan mengira sesembahan mereka itu te lah melemparkan bola-bola berasap tersebut, dan bukan seseorang yang tidak pernah mereka ketahui bersembunyi di belakangnya.

Kudorong kedua tangan agar angin pukulan mengembuskan asap yang membius itu, tetapi pengaruhnya telanjur berakibat ke dalam urat syaraf di dalam otak mereka.

"Durga! Durga! Kami selalu memuja dirimu dan memberi persembahan korban, apa salah kami!" Aku mendekati pelempar bola asap bercahaya itu. Ia mengenakan busana serba hitam agar tak mudah dipergoki dalam penyusupan malam. Di dadanya banyak jejak Telapak Darah yang membuat kematiannya terpastikan. Siapakah dia? Ia mengenakan kain ikat kepala yang juga hitam. Segera kusingkap pula kain hitam yang melingkari bagian atas tubuhnya, dan terlihat rajah cakra di dada kanannya.

"Cakrawarti, O" desisku.

Entah rencana besar apa yang sedang berlangsung di Yawabumi, tetapi ada sejumlah persoalan yang kurasa berhubungan, yang telah membuat aku sempat mengira betapa upacara memuja Durga itu memang telah berakhir dengan kekacauan.

Kubongkar kain yang melingkari pinggangnya, selain terdapat banyak bungkusan racun dan senjata rahasia, seperti paku, lempengan logam berbentuk bintang dan cakra, jarum- jarum beracun, ternyata terdapat pula sebuah surat.

Tertulis di atas lontar kalimat seperti berikut:

Cakrawarti kini bekerja untuk Naga Hitam

Tugas pertama menghancurkan kepercayaan Lenyapkan segera setelah dibaca

Agaknya ini sejenis surat edaran, bersifat rahasia, dan anggota Cakrawarti yang satu ini telah melakukan keteledoran. Seharusnya surat ini tak ada lagi pada dirinya karena telah dimusnahkan. Kuambil surat itu dan segera menolong orang-orang yang terkapar bergelimpangan dengan impian buruk dalam kepalanya yang berada di luar kesadaran. Dengan penyaluran tenaga dalamku mereka dapat disadarkan, tetapi kenangan atas peristiwa yang baru saja terjadi tidak bisa dihapus lagi. Bagi mereka, Durga yang mereka puja telah menyakiti pengabdian dan kepercayaan. Luka di badan mudah disembuhkan, luka dalam hati tak jelas obatnya.

Dengan surat dan mayat anggota Cakrawarti itu, aku ingin meyakinkan mereka, bahwa bukan arca Durga Mahisasuramardini yang berdiri di atas kerbau itu yang telah membuat mereka terkapar tanpa kesadaran. Namun kulihat mereka sudah tidak peduli kepada arca itu lagi. Mereka saling menolong setelah bangkit, lantas melangkah terseok-seok kembali ke desa, tanpa sekalipun menoleh kepada arca itu lagi. Juga tidak peduli kepadaku sama sekali.

Malam masih kelam. Hanya tersisa lampu minyak kelapa di antara sesaji di bawah arca. Angin menggoyangkan api, membuat delapan tangan Durga bagaikan bergerak-gerak, dan kepalanya menggeleng-geleng takbisa mengerti.

ku menghela napas, segalanya mungkin terjadi di daerah tak bertuan.

(Oo-dwkz-oO)