-->

Nagabumi Eps 49: Iblis Pemakan Daging

Eps 49: Iblis Pemakan Daging

AKU merasa tidak seorang pun menyaksikan pertarunganku

melawan Pendekar Tangan Pedang, tetapi mengapa semenjak peristiwa itu selalu ada saja pendekar yang mencariku untuk mengadu kepandaian dalam ilmu silat?

Kematian Pendekar Tangan Pedang agaknya telah menggegerkan dunia persilatan, karena sebelumnya Pendekar Tangan Pedang bagaikan tidak menemui tandingan. Kini setelah diketahui seseorang akhirnya mengalahkan Pendekar Tangan Pedang, mereka yang ingin menguji kemampuan dan mendapatkan nama sebagai pendekar berkeliaran mencariku.

Aku sebetulnya tidak mudah dicari, apalagi jika aku sengaja menghindar untuk ditemukan, tetapi sebaliknya aku sendiri pun sedang mencari-cari lawan, sehingga kuhadapi set iap tantangan dengan riang.

Demikianlah aku menikmati kehidupanku sebagai seorang pendekar. Bertarung dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari lawan satu ke lawan yang lain, sampai takbisa kuhitung lagi berapa banyak pendekar lawanku tersempurnakan hidupnya melalui diriku.

Sepintas lalu aku tampak mengembara ke sana dan kemari tanpa tujuan kecuali mencari dan melayani tantangan, tetapi langkahku mengarah ke satu arah yang jelas, yakni ke utara, dengan dua tujuan: pertama, mengacak-acak wilayah dan memancing Naga Hitam keluar mencariku; kedua, aku ingin melihat laut dan menyeberanginya menuju negeri-negeri yang jauh. Telah kudengar tentang kapal-kapal as ing yang mendarat di berbagai pelabuhan di pantai utara Yawabumi dan telah kusaksikan orang-orang as ing segala rupa dari berbagai penjuru menyusuri sungai-sungai ke pedalaman. Jika mereka semua dapat merantau sampai kemari, mengapa aku takdapat mengembara ke negeri mereka?

Tentu saja aku masih penasaran, siapakah kiranya yang mengetahui diriku menewaskan Pendekar Tangan Pedang, dan bagaimanakah caranya berita itu tersebar? Memang benar aku telah membayar seorang petani untuk membakar jenazahnya di atas pancaka, meski aku taktahu apakah Pendekar Tangan Pedang itu memeluk Siwa, Mahayana, atau penyembah nenekmoyang di kuburan-kuburan batu, tetapi aku tak yakin petani itu mengerti siapa lelaki bertangan buntung yang kedua lengannya diganti pedang tersebut. Orang-orang awam taktahu menahu dunia persilatan, mereka hanya mendengar sedikit-sedikit tentang dunia persilatan dari orang-orang menyoren pedang yang bahkan tidak memiliki tenaga dalam. Dari orang-orang seperti ini, dunia persilatan hadir sebagai dongeng.

TAK tahulah aku berapa lama waktu sudah berjalan dan berapa orang sudah tewas di tanganku dalam pertarungan antarpendekar di dunia persilatan. Setidaknya setiap putaran hari pasar takkurang dari dua atau tiga orang menantangku bertarung dan selalu kulayani sampai mereka menemukan kematian yang telah mereka ketahui akan menimpa.

Dalam setiap pertemuan selalu terjadi percakapan seperti berikut.

"Benarkah dikau yang bergelar Pendekar Tanpa Nama?" "Aku tidak pernah menyatakan suatu gelar tetapi aku

memang tidak mempunyai nama."

"Itulah nama dikau sekarang, dan nama itu sudah terdengar di mana-mana sebagai pendekar tanpa tanding, berilah aku kesempatan mengenal ilmu dikau yang tinggi."

"Ilmu silatku tidaklah tinggi dan aku masih juga ingin belajar dari dikau, wahai pendekar yang gagah berani."

Setelah itu biasanya kami bertarung sampai salah satu dari kami mati, meski dalam hal diriku maka lawanku itulah yang akan mati. Tidak semuanya mati dengan gagah berani, ada juga yang melarikan diri dan selalu kubiarkan saja meskipun aku mampu mengejar dan tetap membunuhnya. Mereka yang melarikan diri ini memang tidak dapat disebut pendekar karena ilmu silat bagi mereka hanyalah alat untuk mencapai kekuasaan dalam kemenangan dan bukan jalan menuju kesempurnaan. Mereka biasanya berasal dari golongan hitam, atau juga golongan merdeka tetapi yang begitu mementingkan dirinya sendiri sehingga tidak pernah siap untuk menerima kekalahan.

Seperti perjumpaanku dengan Pendekar Tangan Pedang, maka perjumpaan dengan para pendekar ini selalu merupakan pengalaman tersendiri. Ada yang berkelebat dari balik kelam tiba-tiba di tengah jalan dan langsung melibatkan aku dalam pertarungan; ada yang menggebrak mendadak di dalam kedai ketika aku sedang enak-enak makan; ada yang menyerang diam-diam dari jarak jauh ketika aku sedang tidur-tiduran di pasar desa yang sepi; ada yang mengirimkan bisikan lewat angin ketika aku beristirahat dan mengasingkan diri di sebuah candi yang sudah rubuh dan ditinggalkan; ada juga yang mengirimkan surat resmi, tertulis dengan huruf indah di atas lempengan logam; dan pernah pula ada yang menyebarkan pemberitaan lisan maupun tertulis bahwa dirinya menantangku bertarung pada saat tertentu, memang karena tidak dapat mencari untuk menemuiku.

Sebegitu jauh, perjumpaanku dengan Pendekar Tangan Pedang itulah yang lebih sering kudengar kembali, seperti terjadi ketika aku masuk dan makan di sebuah kedai.

"Pertarungan antara Pendekar Tangan Pedang dan Pendekar Tanpa Nama itu berlangsung pada malam yang gelap gulita saat bulan ditelan Batara Kala tetapi sawah di penuhi berlaksa kunang-kunang. Saat itu Pendekar Tangan Pedang sedang bersamadhi di tepi sungai ketika dilihatnya sesosok bayangan berkelebat cepat, nyaris takbisa diikuti oleh matanya, melenting di atas sungai dan lenyap di balik gerumbul pepohonan bambu. Kelebatnya yang sangat cepat dan keringanan tubuhnya menunjukkan betapa tinggi ilmu silat yang dikuasainya, dan karena Pendekar Tangan Pedang merasa belum pernah menjumpai seseorang dengan ilmu setinggi itu maka dia pun mengejarnya."

Benarkah begitu kejadiannya? Aku heran, bagaimanakah cara pencerita tersebut, atau siapa pun yang ia dengar ceritanya, telah melihatnya?

Aku memang berkelebat cepat saat itu dengan perasaan rawan dan galau, dan barangkali karena itu aku sejenak lengah dan hilang kewaspadaan. Benarkah Pendekar Tangan Pedang sedang bersamadhi di tepi sungai pada malam gelap gulita, ketika aku berkelebat keluar dari kedai dan melenting di atas permukaan sungai? Pertanyaanku, bagaimanakah caranya seseorang dapat mengetahuinya tanpa kami ketahui kehadirannya sama sekali? Cerita ini tidak terlalu seperti dongeng, itulah sebabnya mengherankan sekali bahwa seseorang telah dapat mengetahuinya, meski tentu saja orang-orang awam di dalam kedai tersebut kurang memiliki kesadaran untuk mempertanyakannya. Mungkinkah mereka tidak mempertanyakan apapun karena memang menerima dan menikmatimya sebagai dongeng sahaja? Betapa tidak akan menganggapnya dongeng jika dunia persilatan memang penuh dengan kejadian luar biasa yang sulit dipercaya?

"Pendekar Tangan Pedang berkelebat, tetapi Pendekar Tanpa Nama mengetahuinya, dan akhirnya menunggu di tengah jalan desa di antara sawah-sawah. Pertarungan mereka tidak bisa diikuti oleh mata."

AKU tidak ingin mengulang cerita ini, ia memang bercerita tepat seperti kejadiannya, yang membuat aku terheran-heran karena bagaikan terdapat saksi mata atas seluruh peristiwa itu. Bukankah ia sudah menyebut diriku sebagai Pendekar Tanpa Nama? Artinya orang pertama yang menyebarkan cerita ini mendengar percakapanku dengan Pendekar Tangan Pedang pada malam buta itu. Aneh sekali! Tidak sembarang orang dapat menjadi saksi mata tanpa kami ketahui keberadaannya, jika ilmunya tidak sangat tinggi.

Jika memang ada seseorang yang telah menyaksikan selengkapnya, semenjak aku berkelebat keluar dari kedai, dibuntuti Pendekar Tangan Pedang, dan menewaskannya dengan pukulan Telapak Darah, pastilah kepandaiannya tidak rendah dan aku harus mengetahui siapa orangnya. Perasaan diawas i bukanlah perasaan yang nyaman.

Ini berarti aku harus mencari dan menemukan orangnya, lantas menantangnya bertarung sampai salah seorang di antara kami perlaya!

Namun pikiran ini mengejutkan diriku sendiri. Bukankah selama ini aku juga diawas i dalam pengertian yang agak mirip dengan dilindungi?

Aku belum melupakan betapa di Desa Balinawan aku telah didorong jatuh melayang dari puncak tebing yang curam, hanya untuk disambut kembali sebelum menyentuh tanah, dan dipaksa untuk menguasai jurus-jurus tertentu melalui serangan-serangan tajam yang mengarahkan; aku juga tentu masih sangat teringat betapa seseorang telah menolongku ketika pingsan karena racun Kera Gila, mengarahkan aku kepada pendalaman ilmu silat berdasarkan penemuanku sendiri, bahkan jelas menuliskan pesan tertulis di atas batu besar di bawah permukaan sungai yang jernih, bahwa aku perlu waktu sepuluh tahun untuk mampu mengalahkan Naga Hitam.

Apakah mereka orang yang sama, yakni pendeta dari biara terpencil di atas tebing itu? Siapakah dia sebenarnya? Masih hidupkah dia sekarang, dan terutama apa maunya? Jika aku pernah merasa seseorang mungkin menolongku diam-diam dalam berbagai peristiwa sepuluh tahun yang lalu, masihkah seseorang yang sama itu mengikuti seluruh tindakanku?

Bagaimanakah kiranya jika seseorang itu ternyata adalah juga seseorang yang kuduga mengawasiku? Jika tidak, mungkinkah sebenarnya aku sekarang ini diawasi oleh dua orang? Apakah mereka saling mengenal ataukah saling berseteru?

Perasaan betapa diriku mungkin diawas i oleh dua orang tanpa kuketahui membuat aku marah kepada diriku sendiri. Bagaimana mungkin setelah meningkatkan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang sampai berpuluh kali lipat aku masih dapat diawas i tanpa mengetahui keberadaan mereka? Aku merasa masih harus meningkatkan tenaga dalam dan kecepatan bergerakku, agar mampu mengejar dan menangkap siapapun yang berhasil kupergoki sedang mengawasi diriku!

(Oo-dwkz-oO)

AKU keluar dari kedai. Di luar, seseorang ternyata telah menantiku. Ia bercaping begitu lebar, sehingga bayangannya menutupi seluruh wajah dan tak bisa kulihat. Kain yang melapisi caping dari daun pandan itu sudah compang-camping dan warnanya tak jelas lagi, begitu pula busananya yang sudah tak berbentuk sama sekali, hanya seperti kain tak berwarna yang menutup tubuh. Kain itu lebar seperti jubah, tetapi berlengan begitu lebar sehingga pergerakannya tetap bebas, menutupi pula sebagian pahanya, diikat dengan kulit ular pada pinggangnya. Takpernah kulihat orang berbusana seperti itu di Yawabumi. Aku menghentikan langkah sekitar duapuluh langkah di hadapannya. Jelas ia menghendaki pertarungan denganku.

Di balik punggungnya tampak menonjol gagang sebuah senjata yang belum kutahu apa. Ia tampak tegap dan tinggi. Dari balik caping rambut panjangnya yang merah dan gimbal tampak lengket satu sama lain. Angin yang bertiup melambai- lambaikan rambutnya itu, tetapi ketika aku berhenti melangkah, ia mengangkat tangan kanan, dan angin ternyata berhenti bertiup.

Siang mendadak panas sekali. Aku diam dan menunggu.

Ketika ia menurunkan tangannya itu, angin bertiup kembali seolah diperintahkannya. Lantas seluruh, sekali lagi seluruh, dedaunan di sekeliling kedai itu berguguran, bertumpuk rapi di atas bumi seperti sengaja dipertunjukkan untukku.

Kulihat sekeliling. Pepohonan hanya tersisa ranting- rantingnya yang meranggas. Bumi bagaikan baru saja terbakar.

INI sebuah siang yang panas. Saat yang sangat tidak enak untuk bertarung. Namun kita tidak se lalu bisa memilih waktu pertarungan, seperti tidak dapat menentukan waktu kematian. Seorang pendekar melayani tantangan setiap saat, kapan pun datangnya, di mana pun tempatnya, siapa pun orangnya, demi kehormatan sebuah pertarungan dalam pencarian kesempurnaan. Namun aku tidak peduli kepada semua keajaiban itu. Hanya memperhatikan baik-baik seluruh gerakan tubuhnya dengan cermat.

Ia mengibaskan tangan kirinya. Kurasakan gelombang udara yang dahsyat mengempas dan siap menggulung ke arahku. Kugeser tubuhku ke samping. Maka kedai di belakangku mendadak pecah berhamburan ke segala arah tanpa ujud lagi.

Tiada lagi kedai itu. Orang-orang yang berada di dalamnya ketika aku keluar tadi tampaknya juga berhamburan tanpa bentuk lagi. Kulihat selintas, darah dan daging terciprat dan menempel di batang-batang pohon. Orang ini pasti kejam sekali. Ia tertawa terbahak-bahak.

''Huahahahahahaha! Iblis Pemakan Daging mengirimkan salam Naga Hitam padamu!''

Ah! Naga Hitam!

Kemarahanku kepada diriku sendiri karena takmampu mengungkap siapa yang barangkali telah selalu mengawas iku mendadak saja seperti tertumpah kepada orang ini. Namun ia telah melemparkan capingnya yang berputar seperti senjata cakra ke arahku. Lantas ia sendiri berkelebat ke arahku sembari mencabut senjata di punggungnya.

Ini serangan yang sulit. Menangkis serangan caping berarti pertahanan terbuka terhadap serangan Iblis Pemakan Daging, sedangkan menghindarinya juga tetap disambut serangan yang sama tanpa kesiapan menghadapinya. Serangan ini hanya dapat dihindari dengan masuk ke dalam bum i, tetapi aku belum pernah me lakukannya. Berbeda dari masuk dan bertarung di dalam air. Padahal serangan ini berlangsung lebih cepat dari pikiran!

Kujejak bumi di bawahku sehingga lebur jadi debu yang lebih lembut dari abu, membentuk lubang besar seketika, merekah dan dengan sendirinya menelan tubuhku. Caping itu melesat di atas kepalaku, begitu juga senjata yang disabetkan Iblis Pemakan Daging, yang ternyata merupakan sebilah ruyung. Dengan ruyung yang bergerigi tajam itu dia menggebuk, yang dengan tenaga dalam sematang itu akan membuat tubuh yang digebuknya langsung menjadi daging cacah. Namun kenapakah ia disebut Iblis Pemakan Daging? Nanti baru akan kuketahui bahwa Iblis Pemakan Daging selain mengandalkan ilmu memainkan ruyung, ternyata juga memainkan ilmu sihir, yang antara lain menuntut agar ia memakan daging manusia sebagai syarat penguasaan ilmunya!

Sudah kukatakan tadi ia seorang yang kejam, baginya nyawa manusia tak ada harganya, kecuali sebagai kebutuhan memenuhi santapannya! Saat itu aku memang belum mengenal kecenderungannya tersebut, tetapi apa yang dilakukannya terhadap kedai dan orang-orang yang masih berada di dalamnya itu telah membuatku merasa wajib menamatkan riwayat hidupnya. Ini bukan pertarungan antara pendekar demi kesempurnaan ilmu silat dan kesempurnaan hidupnya, melainkan antara penjahat berjiwa iblis dan seseorang yang sedang begitu muak dengan keberadaan kejahatan itu sendiri. Ini bukan pertarungan untuk merayakan kehidupan pendekar, dengan saling mengantarkan lawan menuju kesempurnaan, melainkan pertarungan wajib seorang pendekar untuk membasmi kejahatan.

Dari dalam lubang, di antara kepulan debu selembut abu, aku melesat sangat amat tinggi ke atas, dan melihat kedudukan Iblis Pemakan Daging yang berbalik siap menyerang kembali ke dalam lubang. Aku me luncur turun dengan kepala di bawah lebih cepat dari naiknya. Kupanggil dia.

''Pemakan Daging!''

Ia menolah ke atas, tapi saat itu secepat kilat begitu mendarat aku telah mengirimkan totokan dengan dua jari yang membutakan kedua matanya. Ia sabetkan ruyungnya ke kiri ke kanan tanpa jurus lagi. Aku melompat jungkir balik sembari menendang punggungnya tanpa tenaga dalam sama sekali. Lebih dari cukup untuk menjerumuskannya masuk ke dalam lubang.

Ia jatuh terjerembab. Lubang itu cukup dalam untuk membuatnya takbisa naik lagi. Kurasa keadaannya sekarang sangat mengenaskan, kebalikan dari sikapnya semula yang anggun dan begitu yakin akan kemenangan. Namun mengingat kekejamannya yang pasti telah berlangsung lama sebagai anak buah Naga Hitam, aku merasa tidak perlu berbelas kasihan kepadanya sama sekali.

"Pendekar Tanpa Nama!" Kini ia berteriak ketakutan.

"Bunuhlah aku! Sempurnakanlah aku! Sebelum penduduk

desa merajamku!"

Aku baru sadar betapa orang-orang sudah berkerumun di sekitar lubang besar hasil jejakanku. Orang-orang desa membawa golok, arit, kapak, tombak, atau sekadar batang kayu bakar. Mereka mendekat dengan wajah kuyu, sembari satu persatu menggumam perlahan.

"Iblis itu sudah tidak berdaya sekarang, lebih baik kita membantainya sekarang, agar dia merasakan hukuman."

"Hukuman apa yang pantas bagi iblis pemakan manusia ini?"

"Pemakan saudara-saudara kita, pemakan anak-anak kita..."

Rupanya ia telah merajalela di daerah tak bertuan yang sedang kulewati ini. Namun ia terlalu sakti untuk ditundukkan, lagipula ia bersekutu dengan Naga Hitam. Aku melangkah pergi, menyerahkan nasib iblis tersebut kepada mereka yang selama ini telah ditindasnya.

(Oo-dwkz-oO)