Nagabumi Eps 48: Pendekar Tangan Pedang

Eps 48:  Pendekar Tangan Pedang

HARI sudah malam. Aku berkelebat dengan kecepatan kilat. Rembulan ditelan Batara Kala. Dunia rasanya gelap sekali. Meski tetap juga kudengar gesekan kain dengan udara. Seseorang telah membuntuti aku dengan kecepatan yang sama!

Di tengah jalan antardesa aku berhenti. Sawah penuh dengan kunang-kunang. Suara gesekan kain dengan udara juga berhenti. Aku memang berhenti, tetapi tidak membalikkan badan. Meski begitu aku mendengar suara nafasnya. Ia telah menjaga agar suara nafasnya tidak terdengar, tetapi apapun yang dilakukannya aku akan tetap mendengarnya, karena aku bahkan mendengar degup jantungnya, sehingga aku tahu betapa kepandaiannya memang sangat tinggi. Ia telah berhasil membuntuti aku dengan kecepatan setinggi itu tanpa perubahan degup jantung sama sekali. Aku menghela nafas, pendalaman ilmu silat selama sepuluh tahun tidak dengan sendirinya membuat kita jadi pendekar tanpa tanding.

Aku membisu, menunggu dia bicara. Namun dia tidak mengucapkan apapun. Aku tetap menunggu, tetapi kali ini tidak menunggu dia bicara, melainkan menunggu serangannya. Apalah artinya bertukar kata-kata jika tujuannya adalah pertarungan, yang hanya bisa dihentikan oleh kematian?

Terdengar denting logam beradu. Aku terkesiap. Dari dentingnya aku tahu itulah dentingan dari dua pedang yang sangat tipis tetapi juga sangat amat tajam, begitu tajam sehingga bahkan benang yang jatuh akan terputus ketika menyentuh mata pedang itu. Aku memusatkan perhatian tanpa berbalik. Kudengar dengusan nafas. Apakah dia tersinggung karena aku tidak berbalik sama sekali? Kupusatkan perhatian kepada gerakan pedang yang berada di kedua tangannya. Aku tahu kedua pedang itu akan sangat berbahaya. Sedangkan malam begitu kelam. Aku takdapat mengandalkan pandangan.

Aku menunggu dia bergerak, tetapi ia takjuga bergerak. "Kulihat dikau bergerak seperti kilat dalam kegelapan.

Kukenal hampir semua pendekar yang berilmu tinggi di Yawabumi, dan semua yang telah kukenal kukalahkan dalam pertarungan, tetapi semuanya tidak mampu bergerak secepat dirimu. Aneh sekali bahwa aku belum mengenal namamu. Siapakah dikau Tuan Pendekar?"

Sejenak aku termangu. Mengikuti adab dunia persilatan, seharusnya aku membalikkan badan dan menghadapinya, tetapi entah kenapa aku tidak merasa aman melakukannya, karena pendekar ini tentunya memiliki kemampuan bergerak cepat yang luar biasa. Saat aku menoleh akan menjadi kesempatan besar baginya untuk meniup nyawa, karena untuk menancapkan pedangnya di leherku memang hanya perlu kelengahan sekedipan mata.

"Maafkan aku, aku tidak mempunyai nama," kataku.

"Tanpa nama? Hmmhh. Apakah aku harus bertarung dengan seorang pendekar tanpa nama? Hmm. "

Aku tidak menjawab, meski hatiku bertanya-tanya siapakah dia yang telah mengalahkan set iap pendekar yang ditemuinya?

Kuperhatikan se laksa kunang-kunang sejauh mataku dapat melihatnya di malam yang begitu gelap, tetapi yang justru membuat pijar cahaya kunang-kunang itu terlihat semakin terang. Dari pergerakan kunang-kunang itu kuketahui ia mengangkat kedua pedangnya. Aku memusatkan pikiran.

Ketika ia berkelebat, aku sudah melayang jungkir balik di atasnya. Segera kulihat betapa kedua tangannya yang buntung dari siku telah digantikan sepasang pedang. Ujung kedua pedangnya yang runcing bergerak sangat cepat, terlalu cepat, begitu cepat, bagaikan lebih cepat dari cepat dan terus menerus mengejar leherku. Namun aku segera menarik nafas, mengolahnya, dan memanfaatkan pendalamanku atas maya deha atau badan bayangan, sehingga seluruh gerakannya yang cepat tiada tara bukan saja dapat kuhindari, tetapi bahkan kemudian bisa kutirukan.

Inilah percobaanku yang pertama, dengan apa yang kelak akan kusebut Jurus Bayangan Cermin, dan karena aku terbiasa melatihnya dengan bayang-bayangku sendiri yang tidak bisa kulebihi kecepatannya, berhadapan dengan lawan sesungguhnya seperti ini tidak akan menjadi lebih sulit. Masalahnya, dua pedang yang menempel pada tangan buntung tidaklah sama dengan pedang yang dipegang tangan tanpa cacat. Terdapatnya pergelangan pada tangan tanpa cacat, dan tiadanya pergelangan pada tangan buntung berpedang, membuat perbedaan ilmu pedang yang besar.

"Akulah Pendekar Tangan Pedang," katanya, "supaya dikau tidak mati dengan penasaran."

GERAKAN Pendekar Tangan Pedang tidaklah bisa diperkirakan sebagai ilm u pedang, melainkan ilmu tangan kosong, tetapi yang setajam-tajamnya pedang. Aneh sekali rasanya, seperti menghadapi tangan, tetapi sebetulnya pedang; sehingga aku ragu mesti menghadapinya dengan jurus ilmu pedang atau ilmu tangan kosong. Sementara berpikir, aku hanya bisa menghindar dari ketajaman pedangnya yang bergerak takterlihat mata telanjang dalam kekelaman malam. Semula aku kebingungan, tetapi maya deha segera memberi jawaban, aku yang bertangan kosong memperlakukan tanganku itu juga sebagai pedang. Tenaga dalam membuat tanganku lebih keras dari batu. Maka selain kecepatannya sejak awal memang bisa kuimbangi, ketajaman pedangnya bisa kuatasi dengan dua tangan yang tidak mempan senjata tajam.

Dalam suatu kesempatan seluruh jurus serangannya kutangkis dengan tangan. Terdengar suara berdenting-denting penuh lentik api dari pedang yang seolah menimpa logam, sampai mata pedangnya menjadi rusak dan hilang keanggunan. Belum usai ia terkejut karena mengira tanganku seharusnya menjadi buntung, segera kuserang ia dengan rangkaian jurus yang telah berhasil kuserap dan kumainkan sedemikian rupa sehingga meskipun segalanya mirip tetapi terbalik bagaikan bayangan cermin.

"Ah! Jurus apa ini?!"

Tak sadar ia berteriak, memperlihatkan keterkejutannya.

Dalam kekelaman malam ia berkelebat mencoba menghindari jurus yang sepertinya sangat dikenal tetapi takkuasa dihadapinya. Namun aku berkelebat lebih cepat mencegatnya di semua jurusan. Ia mengerahkan segenap kecepatannya, tetapi seperti apapun gerakannya, aku selalu mengikutinya seperti bayangan, yang terbalik seperti cermin, sehingga akan selalu mematikannya.

Pendekar Tangan Pedang, kini aku tahu bagaimana ia mengalahkan lawan-lawannya. Jurus-jurusnya tercipta bagi tangan buntung berpedang seperti dirinya. Jurus yang dilahirkan dalam pemahaman seperti inilah yang merupakan sumbangan ilmu bagi dunia persilatan. Sayang sekali ia berhadapan denganku, yang telah memanfaatkan pendekatan samadhi badan bayangan ke dalam ilmu silat, yang mustahil disadari para petarung yang tidak pernah membaca, atau hanya peduli kepada ilmu silat sebagai ilmu silat sahaja.

Aku ibarat te lah menjadi bayang-bayangnya, tetapi bayang- bayang yang takbisa dikuasa inya. Bayang-bayang yang setiap saat bisa melepaskan diri dari tubuh, bahkan kemudian menyerang tubuh itu sendiri dengan pukulan mematikan.

"Siapakah namamu pendekar," katanya di tengah pertarungan, "katakan supaya aku tidak mati penasaran."

"Sudah kukatakan aku tidak mempunyai nama," kataku.

Saat itu kuselesa ikan perlawanannya dengan dorongan pukulan Telapak Darah. Aku takperlu mengenainya, karena anginnya saja telah membuat ia terlontar ke belakang sampai terbentur ke sebuah pohon.

Malam kelam. Namun kulihat jejak telapak yang merah di dadanya. Ia hanya berkain selingkar pinggang, kain yang kibarannya kudengar ketika ia memburuku. Sungguh ia seorang pendekar berilmu tinggi, bukan sekadar karena ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi, tetapi karena tangan pedangnya telah melahirkan ilmu pedang yang tiada duanya, yang telah mengalahkan segenap ilmu pedang bagi tangan sempurna. Kuambil sebuah pelajaran dari pertemuan ini: Cacat tubuh bukanlah suatu kekurangan, cacat tubuh dalam dirinya bahkan merupakan suatu kesempurnaan, seperti telah dibuktikan Pendekar Tangan Pedang.

"Terima kasih atas pelajaranmu," kukatakan kepadanya sambil menjura.

"Terimakasih," katanya dengan mulut bersimbah darah, akibat yang selalu dialami korban pukulan Telapak Darah, "terimakasih, Pendekar Tanpa Nama.."

Lantas hidupnya menjadi sempurna dalam kematian.

(Oo-dwkz-oO)

AKU membayar petani pertama yang lewat agar menyempurnakan jenazah Pendekar Tangan Pedang. Sebelum ayam jantan terdengar berkokok untuk pertama kalinya, aku memandang dan merenungkan kehidupan seorang pendekar seperti Pendekar Tangan Pedang itu.

Apakah tangannya buntung sejak lahir, ataukah korban pemapasan dalam pertarungan? Jika buntung sejak lahir, maka ia memilikinya sebagai tangan sempurna, karena memang seperti itulah hidupnya bermula. Jika tangannya buntung sebagai korban pemapasan dalam pertarungan, tentu ia membutuhkan masa penyesuaian, dan tentu saja ia hebat karena dapat mengubah kekurangannya menjadi kekuatan. Aku bisa membayangkan, dan memang telah merasakan sendiri kedahsyatan Ilmu Silat Tangan Pedang itu, yang akan menimbulkan kesulitan besar jika dilayani sebagai ilmu pedang untuk dimainkan oleh sepasang tangan yang utuh.

SETIAP ilmu silat memiliki kelebihan, sebenarnyalah kalah dan menang bukan ukuran bagi ilmu silat yang dima inkan, melainkan ukuran bagi pendekar yang memperagakannya. Apakah ia memperagakannya dengan sempurna ataukah apa adanya, apakah ia telah memanfaatkan segenap kemungkinan pengembangan ataukah secara lugas mengikuti petunjuk yang dipelajarinya. Dengan begitu ukurannya memang tidak terlalu pasti, karena seorang pendekar ternama dapat dikalahkan seseorang yang baru saja berguru, tetapi telah memanfaatkan peluang yang tidak bisa lebih tepat lagi. Pertarungan adalah perkara bagaimana menempatkan diri dalam ruang dan waktu. Pendekar yang terhebat bisa saja suatu ketika lengah, ketika pertahanan terbuka satu depa dan dalam waktu yang sekejap itu telah dimanfaatkan lawannya yang baru belajar dengan satu-satunya jurus yang diketahuinya. Maka, meskipun menang dalam pertarungan, aku sangat mengagumi Ilmu Silat Tangan Pedang, yang meskipun telah kuserap melalui Jurus Bayangan Cermin dan kukembalikan untuk mengalahkannya pula, tidaklah terjam in bisa kumainkan lebih baik dari penemunya.

Kuperhatikan pendekar yang telah tewas itu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tidak terlalu tegap, dan usianya pun tidak terlalu muda lagi. Sebagian rambutnya telah memutih. Kurasa aku beruntung bertemu dengannya setelah mendalami maya deha bagi persilatan. Jika tidak, aku pun tentu akan menemui kesulitan seperti para pendekar yang telah dikalahkannya.

Kubayangkan kehidupannya mencari lawan dengan tangan berpedang seperti itu. Karena kedua tangannya tidak ditutupi apapun, tentu ia tidak pernah memperlihatkan diri di dunia orang awam; sebab jika orang-orang awam melihatnya dengan tangan berpedang seperti itu, ia pasti akan menjadi tontonan. Bagaimanakah caranya ia memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan tangan berpedang seperti itu? Samar-samar aku teringat cerita ibuku tentang seorang pendekar yang menarik perhatian di sebuah kedai, karena mengiris daging bakar di atas meja, dan membawa potongannya ke mulut, dengan dua pedang tipis panjang yang mengganti lengan seperti itu. Apakah yang diceritakannya Pendekar Tangan Pedang? Mungkin aku masih terlalu kecil waktu ibuku bercerita, tetapi kuingat kembali sekarang lanjutan cerita itu, bahwa ketika orang-orang di dalam kedai menertawakan caranya makan, ia menantang mereka semua dan ketika mereka berloncatan mengeroyok dengan senjata terhunus, ia membunuhnya di tempat itu juga, sembari tetap duduk untuk mengiris dan memakan daging bakar.

Para pendekar dengan jatidiri yang mandiri, terasing dari masyarakat karena keberbedaan mereka. Pendekar Tangan Pedang karena kebuntungannya. Darimanakah datangnya kebuntungan itu? Jika terpapas karena pertarungan, dalam pertarungan macam apa? Apakah pertarungan satu lawan satu di puncak bukit di bawah sinar rembulan, pertempuran hebat antara dua pasukan dalam perang antarkerajaan, ataukah sekadar hukuman karena mencuri atau sebagai prajurit tertawan lawan? Segalanya mungkin, termasuk bahwa tangannya buntung sejak lahir, dan apapun cerita yang mengawalinya pada akhirnya ia harus hidup dengan kedua tangan berpedang itu.

Orang-orang awam selalu melain-lainkan mereka yang hadir dengan perbedaan. Bagi para pendekar, orang awam ini tidak mengerti hakikat kehidupan, bahwa manusia harus menjadi dirinya sendiri, yang merupakan suatu perbincangan penting dalam dunia persilatan. Mereka yang belajar kepada perguruan silat yang besar, tidak akan pernah mendapat nama sebesar mereka yang menggali ilmu silat berdasarkan pendalamannya sendiri. Maka para pendekar silat golongan merdeka memang menjadi pribadi yang lebih menarik daripada murid-murid perguruan silat terkenal, yang selalu bersilat sesuai dengan aturan perguruan. Bukan hanya pribadinya tentu, melainkan takkalah memukau adalah ilmu silatnya. Gerakan-gerakan yang paling aneh dan paling indah dari berbagai jurus dengan nama-nama ajaib datang dari para pendekar golongan merdeka, dan bukan dari anggota partai- partai persilatan tersohor.

Kecenderungan ini disebabkan suatu pilihan, apakah ilmu silat itu akan diamalkan dengan cara mengajarkannya kepada sebanyak mungkin orang; ataukah kepada murid-murid tertentu saja yang akan membawanya kepada kesempurnaan, yang pada saat dibutuhkan mampu menundukkan dan membasmi para dedengkot golongan hitam. Ketika ilmu silat diajarkan kepada sebanyak mungkin orang, artinya berlangsung penyederhanaan terhadap ilmu silat tersebut, agar dapat dipelajari semua orang dengan mudah, demi berbagai macam kepentingan dalam masyarakat: Apakah untuk rakyat yang dibutuhkan sebagai prajurit untuk maju berperang; ataukah untuk membentuk partai persilatan yang memang membutuhkan banyak orang.

PILIHAN membawa ilmu silat kepada suatu kesempurnaan, artinya kesempurnaan pribadi dalam kesempurnaan ilmu silat itu sendiri, adalah pilihan mereka yang kemudian disebut para pendekar. Suatu pilihan yang merupakan jalan sunyi, karena dalam pembelajarannya seorang pendekar hanya berbicara dengan dirinya sendiri, dan akan mencapai kesempurnaanya dalam kematian.

Sangat bisa dimaklumi betapa tidak terlalu banyak orang menempuh jalan ini. Suatu jalan yang bagi orang awam bagaikan hanya terdengar dalam dongeng dan kitab-kitab. Suatu jalan yang tidak mereka kenal. Sehingga mereka tidak bisa menghargai seorang pendekar yang tangan buntungnya berpedang, bahkan melihatnya sebagai tontonan, lantas mengejeknya.

Siapakah yang harus dikasihani dalam hal ini? Pendekar yang mengiris daging bakar dengan tangan pedangnya? Atau orang-orang awam tak berpengetahuan yang naif dan malang?

Masih kuperhatikan jenazah Pendekar Tangan Pedang yang seperti duduk me lorot di bawah pohon. Mungkin usianya sudah 60 tahun. Siapakah dia? Dari mana asalnya? Seperti apakah riwayat hidupnya? Darah di mulutnya telah mengering. Sayang sekali aku harus mengakhiri hidupnya. Namun dengan itulah ia mencapai kesempurnaan hidupnya. Aku yang belum pernah dikalahkan dan terbunuh, belum mencapai kesempurnaan itu. Seperti mereka akupun akan mencari kesempurnaan dalam ilmu persilatan, mencari lawan tangguh yang sekiranya mungkin membunuhku, sebagai bagian yang terwajibkan dalam pembelajaran ilmu persilatan. Sebagai suatu pilihan dalam kemerdekaan.

Kutengok ke se latan, punggung-punggung bukit tampak bergaris cahaya keemasan. Fajar segera menyingsing. Aku harus menyingkir dari pandangan para petani yang akan melalui jalan ini untuk mengolah sawahnya. Meski dari mereka pun sebetulnya masih banyak yang ingin kuketahui.

Aku berkelebat pergi.

(Oo-dwkz-oO)