-->

Nagabumi Eps 45: Aturan untuk Raja

Eps 45: Aturan untuk Raja

Meskipun mereka berbicara dengan perlahan dan nyaris berbisik-bisik, dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, segalanya begitu jelas seperti aku berada di antara mereka. Dengan penyempurnaan melalui olah pernafasan selama sepuluh tahun, sebetulnya ilmu pendengaranku ibarat kata bukan hanya mampu mendengar semut berbisik di dalam liang, melainkan juga ikan berbisik di dalam a ir. Kendala semula bahwa ilm u pendengaran ini hanya membaca gelombang bunyi di udara, kini mampu pula menembus segala gerak di bawah permukaan air.

Tidak semua hal bisa kumengerti dari perbincangan itu, terutama apabila mereka membicarakan masalah-masalah yang hanya mereka sendiri yang tahu. Namun baiklah kucoba mengambil kesimpulan dalam ketertinggalanku sepuluh tahun terakhir mengenai berbagai perkembangan belakangan ini.

RUPA-RUPANY A mereka juga sedang mencoba merumuskan sesuatu, sebagai suatu tugas dari istana. Mereka terutama sedang mencatat jumlah penduduk yang bertani, dan bukannya berburu, atau hidup dari menangkap ikan. Mereka mempermasalahkan tentang pembuatan sendiri benda-benda yang semula hanya bisa mereka nantikan datangnya di pelabuhan.

Mereka bicara tentang usaha menenun bahan pakaian sendiri, maupun juga membuat sendiri secara besar-besaran alat dari logam seperti kapak besi, mata tombak, pedang, sabit, dan bajak; dan tidak mengandalkan barang-barang sudah jadi yang selama ini datang dari wilayah utara. Mereka juga membicarakan perkembangan yang terjadi di pantai utara Yawabumi, bahwa terdapat hubungan dengan pusat-pusat peradaban baru di wilayah utara, seperti tampak dari barang-barang dan berbagai pengetahuan baru yang datang bersama kapal-kapalnya. Mereka juga mencatat bahwa di pedalaman, terdapat perluasan pemukiman para petani, yakni bahwa mereka menetap dan tidak berpindah-pindah seperti seratus tahun sebelumnya. Pertanian tanaman dilakukan secara tetap, meskipun penyaluran air berkembang terbatas hanya di sekitar pemukiman mereka. Artinya negara belum menanganinya secara menyeluruh dengan menyatukan penyaluran air di seluruh wilayah kekuasaannya. Namun ini mungkin disebabkan karena bersama dengan itu terdapatlah keadaan yang tidak terlalu tenang, akibat perebutan kekuasaan antara para penguasa wilayah yang masing-masing mengukuhkan dirinya dengan gelar rakai.

Pajak, yang semula hanya terdengar dalam istilah drawya haji, yakni sedikit kelebihan bahan pangan yang diberikan setiap desa, kini didampingi istilah gawai haji, tenaga kerja untuk kepentingan penguasa. Ini menyangkut jenis pekerjaan seperti kerajinan gerabah, logam, termasuk emas, dan juga pekerjaan seni seperti arca dari batu maupun logam, yang juga diperlukan sebagai a lat-alat upacara.

Aku mulai mendapat gambaran, ternyata menghilang sepuluh tahun tidak membuat aku terlalu ketinggalan, karena berbagai cita-cita kebudayaan, terutama cita-cita kenegaraan dan keagamaan pada dasarnya telah menjadi perjuangan sejak sepuluh tahun lalu. Adapun antara cita-cita kenegaraan dan keagamaan itu dapat berlangsung sejalan maupun kadang-kadang bertentangan, karena setiap penguasa meskipun tidak akan menindas agama yang berbeda dengan agamanya sendiri, akan tetap mendahulukan kepentingan agama yang dipeluknya. Keadaannya sekarang, meskipun agama Siwa masuk lebih dahulu, kini perkembangan agama Mahayana, terutama dari aliran Tantrayana, pesat sekali. Namun ini tidak berarti agama Siwa pudar, seperti terlihat dari persa ingan pembangunan candi-candi. Di antara banyak candi Mahayana, akan menyeruak candi Siwa, yang usaha penggalangannya dapat berlangsung berpuluh-puluh tahun.

Itulah yang te lah kukatakan, sepuluh tahun bisa lama, bisa pula tidak berarti apa-apa. Berarti masih banyak perkara di sekitar urusan sima, makin tegas tuntutan pajak berupa tenaga terampil di segala bidang untuk membangun tempat pemujaan, dan makin jelas betapa segalanya mewakili kepentingan kekuasaan. Itu perkembangan dunia awam. Bagaimana dengan perkembangan dunia persilatan? Rupanya aku memang beruntung memasuki kedai pada saat yang tepat, karena dengan segera bagaikan bisa mengejar segala ketertinggalan.

"Semua ini hanya bisa berjalan karena peranan Naga Hitam," ujar seseorang.

"Apakah Naga Hitam yang menjadi penyebab keruntuhan Panamkaran?"

"Naga Hitam telah membangun jaringan dengan bantuan kelompok Cakrawarti, yang hanya diketahui setelah para pengawal rahasia istana berhasil membongkarnya."

"Tapi terlambat?"

"Terlambat, karena Panunggalan sudah naik takhta dan meski Naga Hitam telah membantunya, Panunggalan tak sudi mengenalnya. Makanya Naga Hitam tidak mendapat kedudukan apa-apa, termasuk dalam pasukan kerajaan."

"Karena itu sekarang ia merongrong wibawa Rakai Panunggalan."

"Sebetulnya bukan Panunggalan yang meminta bantuan Naga Hitam, melainkan kelompok Cakrawarti." "Ah, Panunggalan dibantu Cakrawarti untuk menggulingkan Panamkaran, dan Cakrawarti telah berhasil menggarap Naga Hitam!"

"Memang, tetapi bagi Panunggalan orang seperti Naga Hitam, betapapun ditakuti dalam dunia persilatan, adalah seorang candalaO"

Saat itu mereka semakin merendahkan suaranya sambil melirikku. Aku tetap makan dengan bunyi keras dan bersendawa pula keras-keras seperti orang kurang beradab.

"Hoooiiiikkk..."

Kepala mereka tersentak mendengar bunyi sendawaku, tetapi tetap meneruskan perbincangannya.

"Hmm. Caturwarnna ini menyulitkan orang-orang dengan tingkat keterampilan tinggi, tetapi berasal dari kasta yang rendah."

"Itulah yang berlangsung di istana, tetapi di pedalaman seperti ini, agama saja tidak jelas bagi penduduk untuk memilih yang mana. Kadang mereka peluk kedua-duanya begitu saja. Namun untuk permainan kekuasaan di istana, syarat-syarat itu penting. Hanya kasta Ksatriya sahih berma in, sedangkan kasta Brahmana dianggap tabu mempunyai minat untuk kekuasaan itu."

"Datangnya Mahayana membuat para Brahmana harus mempertahankan sesuatu."

"Karena Buddha menghapus kasta!"

"Itulah! Anehnya, di kalangan pemeluk Buddha pun kasta Siwa dari masa sebelumnya kadang masih berlaku, meski sejak dulu pun tidak diikuti dengan setia."

"Padahal Naga Hitam bukankah candala tanpa kasta!" "Hah? Siapa dia?" "Dia keturunan wangsa Sanjaya yang terusir semenjak wangsa Syailendra berkuasa!"

"Bukankah wangsa Syailendra keturunan wangsa Sanjaya juga?"

"Itu yang kudengar, tetapi apa buktinya? Betapapun agama keduanya berbeda."

"Naga Hitam seorang pemuja Durga?"

"Naga Hitam? Dikau yakin orang-orang persilatan, dari golongan hitam pula, memeluk kepercayaan tertentu? Aku lebih percaya Naga Hitam itu setia kepada kepercayaan asli Yawabumi."

"Bukankah Sanjaya pemuja Siwa?"

"Naga Hitam merongrong siapapun yang berkuasa, dan tidak ada penguasa yang mengutamakan kepercayaan asli dengan candi-candinya yang membebani rakyat itu!"

"Kurasa kita tidak pernah tahu apa yang berada di dalam kepala Naga Hitam, tetapi jelas ia mempunyai minat terhadap kekuasaan, dan kali ini merasa tertipu oleh jaringan Cakrawarti."

"Sedangkan kelompok itu sekali menghilang susah dicari!" Mereka masih bicara sementara aku menyimpulkan sendiri.

Naga Hitam boleh takterkalahkan di dunia persilatan, tetapi

seluk beluk tipu daya dalam perebutan kekuasaan tampaknya bukan sesuatu yang dikuasainya. Ia bermaksud memanfaatkan jaringan Cakrawarti untuk menembus jalan ke istana, sebaliknya kelompok itulah yang justru telah memanfaatkannya. Panamkaran terguling, Panunggalan naik tahta, Naga Hitam tidak diperhitungkan dalam pembagian kekuasaan.

Apakah jasa yang dibutuhkan dari seorang Naga Hitam? Ia dibutuhkan untuk menjauhkan dunia persilatan, terutama para naga, dari lingkaran dunia kekuasaan. Telah diketahui bagaimana para naga ini sangat saling menghormati, sehingga jika Naga Hitam menampakkan isyarat betapa permainan kekuasaan dunia awam tidak perlu dicampuri, maka para naga memang tidak akan mencampurinya. Bukan karena para naga ini takut kepada Naga Hitam, tetapi sekadar karena tidak merasa perlu bersengketa atas sesuatu yang tidak menyangkut kepentingan mereka. Kepentingan para pendekar hanyalah ilmu silat, kesempurnaan ilmu silat sebagai jalan mencapai kesempurnaan dalam kehidupan, meski jalan yang ditempuh itu menuju kematian. Hanya pendekar yang takterkalahkan belum menemui kematian, padahal kematian dalam dunia persilatan adalah penanda kesempurnaan. Maka seorang pendekar akan terus menempuh pertarungan untuk mencapai kesempurnaan dalam persilatan, apabila kemudian ia menemui kematian dalam pertarungan, di sanalah hidupnya tersempurnakan.

Tentang Naga Hitam, jika memang pembelaannya terhadap kepercayaan asli menjadi pendorong perjuangannya menentang penguasa yang merestui penyebaran, bahkan memeluk, agama Siwa dan Mahayana, maka aku tentu sangat menghormatinya. Namun sungguh terlalu banyak masalah sulit dijelaskan, antara lain karena memang bercampur baur, dalam permainan kekuasaan, apalagi karena segalanya memang tergantung kepada perbincangan, yang bagaikan selalu menghindari ketepatan dugaan.

"Apakah yang harus kita lakukan?"

Mereka semua untuk sejenak terdiam. Siapakah mereka? Aku merasa mereka adalah orang-orang yang terpelajar,

dan barangkali pula bekerja untuk istana, karena kepada siapa pula pekerjaan menghitung dan mengkaji dunia ini akan mereka persembahkan?

Namun jelas mereka sendiri bukan bagian dari lingkaran istana, meski keangkuhan sebagai warga kotaraja masih terbawa-bawa pula. Mereka jelas bukan petani, tetapi cara berbusananya menurut aku cukup sederhana, meski bahan busananya adalah pilihan, bukan berdasarkan kemewahan melainkan kemungkinannya agar tahan lama. Wajah-wajah mereka tampak seperti keturunan ningrat yang halus, tampan, dan kuning langsat kulitnya, tetapi busananya bukan ringring bananten dan bukan pula patarana bananten, kain berwarna emas. Rambut mereka yang panjang di antaranya disanggul dengan sisir kulit penyu. Namun selain itu mereka tidak mengenakan perhiasan apapun. Kain yang mereka kenakan tidak bergambar apapun.

"Kita mengetahui segala hal yang tidak mereka ketahui, itu berarti kita sebetulnya memiliki sebagian syarat kekuasaan, tetapi kita tidak dikenal dan tidak mempunyai pengikut, dan juga kita tidak menguasai ilmu keprajuritan maupun ilmu persilatan."

"Tapi Naga Hitam juga tidak menguasai ilmu keprajuritan." "Makanya seorang Naga Hitam saja tidak cukup, perlu

seorang panglima yang mampu memimpin pasukan perang."

"Coba kita periksa Arthasastra dulu. Pertama adalah Aturan untuk Raja."

Mereka semua masih muda tetapi tampak dewasa, mungkin antara usia 30 sampai 35. Kuperhatikan lagi, perawakan mereka memang serba mulus, seperti tidak pernah bekerja di ladang atau apapun yang membutuhkan tenaga tubuh. Gulungan rontal salinan Arthasastra terbuka di meja. Mereka semua jelas bisa membaca, karena bukan hanya mampu, tetapi juga nyaris hafal di luar kepala segenap isi Arthasastra melebihi yang telah kukenali selama ini. Berikut adalah bagian yang mereka perbincangkan.

bila raja giat pengikutnya menjadi giat mengikuti keteladanannya bila ia lengah

mereka ikut lengah bersamanya

dan mereka akan menghabiskan pekerjaannya raja yang lemah

akan jatuh ke tangan musuh-musuhnya karena itu ia sendiri harus berdaya membagi waktu s iang hari

menjadi delapan nalika atau bagian begitu pula dengan waktu malam hari melalui ukuran bayangan

yang ditimbulkan matahari suatu bayangan mengukur paurusa,

satu paurusa dan empat angula

dan sore hari ketika bayangan menghilang inilah empat seperdelapan bagian awal dari hari pembagian dijelaskan seperti berikut seperdelapan pertama dari hari

hendaknya mendengarkan

tindakan yang diambil untuk kegiatan pertahanan serta penghitungan penghasilan dan pengeluaran seperdelapan kedua dari hari

hendaknya memperhatikan

masalah warga negara dan orang desa selama yang ketiga

hendaknya mandi, makan, serta belajar selama yang keempat

hendaknya menerima pembayaran tunai

dan memberi tugas kepada para kepala bagian selama yang kelima

hendaknya berujuk-kata dengan dewan menteri melalui surat

dan menerima keterangan rahasia yang disampaikan para mata-mata selama yang keenam dipersilakan tamasya atau bersukaria sekehendaknya atau berujuk-kata

dengan siapapun yang dikehendakinya selama yang ketujuh

hendaknya memeriksa gajah-gajah, kuda, kendaraan,

dan pasukan

selama yang kedelapan

hendaknya membicarakan rencana ketentaraan bersama panglima angkatan bersenjata

bila hari selesai

hendaknya melakukan sandhya (bersembahyang memuja Tuhan) pada saat matahari tenggelam

selama seperdelapan bagian pertama malam hari hendaknya ia menanyai para petugas rahasia selama yang kedua

hendaknya ia mandi, makan, dan belajar selama yang ketiga

hendaknya pergi tidur sambil mendengarkan susunan bunyi yang indah

baik nyanyian

maupun keindahan suara-bunyi tanpa kata selama yang keempat dan kelima

harap terus tidur sahaja selama yang keenam hendaknya ia bangun

karena suara-bunyi keindahan

dan merenungi ajaran ilmu tentang kekuasaan maupun tugas yang telah dilakukan

selama yang ketujuh

hendaknya berujuk-kata dengan para penasehat dan mengirimkan para petugas rahasia

selama yang kedelapan

ia hendaknya menerima restu

dari para pendeta, penasehat, para guru, bertemu dengan tabib, kepala masak, dan juru ramal perbintangan

setelah menghormati sapi

dengan mengitari seekor sapi betina, anak sapinya, dan sapi jantan

hendaknya ia menuju ke ruang pertemuan atau

hendaknya ia membagi siang dan malam dalam bagian yang berbeda

sesuai dengan kemampuan

dan penyelesaian tugas-tugasnya sampai di ruang pertemuan hendaknya ia mengizinkan tanpa batas mereka yang ingin menemuinya berkaitan dengan masalah mereka

karena seorang raja yang sulit dihubungi akan melakukan kebalikan

dari apa yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan

oleh mereka yang dekat kepadanya sebagai akibatnya

ia mungkin terpaksa menghadapi pemberontakan

atau ditundukkan musuh-musuhnya karena ia harus memperhatikan dewata, pertapaan, vidharma , brahmana ahli Veda, ternak dan tempat-tempat suci,

kanak-kanak, orang tua yang sakit, yang sedih, yang takberdaya,

dan para wanita menurut urutan ini

atau sesuai dengan pentingnya masalah

ia hendaknya mendengarkan setiap hal yang mendesak dan tidak menundanya

karena yang ditunda menjadi sulit ditangani bahkan tidak mungkin dise lesaikan ia hendaknya memperhatikan

masalah orang-orang yang pakar dalam Veda dan para pertapa

setelah pergi ke api pemujaan bersama para pendeta dan penasehat setelah bangkit dari duduknya

dan memberi salam kepada para pelamar ia hendaknya memutuskan

tentang para pertapa

dan para pakar dalam kerja sihir

setelah berujuk-kata dengan pakar ketiga Veda bukan seorang diri sahaja

karena mereka mungkin marah pula bagi seorang raja

sumpah sucinya adalah kesediaan bekerja pengorbanan dalam urusan pemerintahan adalah pengorbanan sucinya

imbalan dari pengorbanannya adalah sikap yang adil

dan upacara pendewasaan dalam pengorbanan baginya adalah penasbihannya

kebahagiaan rakyatnya adalah letak kebahagiaan raja apa yang berguna bagi rakyat

juga berguna bagi dirinya sendiri

apa yang berharga bagi dirinya sendiri belum tentu bagi negara

apa yang berharga bagi rakyatnya adalah berguna bagi dirinya

maka hendaknya raja giat memajukan kesejahteraan akar kesejahteraan adalah bekerja

sedangkan malapetaka adalah kebalikannya tiadanya kerja menghancurkan yang telah didapat maupun yang belum diterima

melalui kerja diperoleh imbalan

dan ia akan mendapat limpahan kekayaan Mereka berdebat. Mereka seperti para pemikir, tetapi bukan jenis yang mengabdikan se luruh hidupnya kepada raja. Sebaliknya mereka seperti menggugat dan dengan pemikirannya membongkar segala sesuatu yang selama ini terlanjur dianggap sebagai kebenaran, yang ternyata hanyalah bangunan nilai yang terlanjur disepakati sebagai kebenaran. Pemikiran mereka menarik, meski berprasangka baik terhadap Naga Hitam menurut pendapatku jika tidak didasari pengetahuan mendalam atas tokoh tersebut dapat berbahaya. Perkiraanku semula bahwa mereka seperti mendapat tugas dari istana jadi meragukan. Namun jika memang demikian, kurasa mereka terpaksa menyimpan banyak hasil kerja mereka untuk diri mereka, terutama tidak memberikan pendapat mereka sendiri, jika masih ingin kepala mereka tidak lepas dari badannya.

Aku ingin sekali bergabung. Namun mereka telah mengatakan diriku ini seorang astacandala. Aku tertawa dalam hati, tetapi juga sedih, merana, dan merasa sendiri, meski kuingat kata pasangan pendekar yang mengasuhku, bahwa jalan hidup seorang pendekar adalah jalan kesuny ian, tempat seseorang hanya ditemani dirinya sendiri.

Isi perdebatan mereka tentang persyaratan seorang raja memerintah atau tidak, sudah bukan urusan penting lagi bagiku, karena kupikirkan tentang Naga Hitam. Apakah dia masih mencari dan mengirimkan orang-orangnya untuk memburu aku? Sebelum mencari dan menantangnya bertarung, aku harus mengetahui dahulu segala sesuatu tentang Naga Hitam itu, yang akan kuanggap sebagai jalan masukku ke dalam dunia persilatan.

Namun kepada siapakah aku harus bertanya? Aku tidak dapat mempercayai para juru cerita, karena demi kepentingan mereka sendiri biasanya cerita itu sudah dilebih-lebihkan sebagai bagian dari pertunjukan. Jika bertanya kepada seseorang yang dianggap mengerti, tidak ada jaminan betapa kisah yang disampaikannya itu mendekati kenyataaan. Apakah itu berarti aku harus memata-matainya sendiri? Bagaimana caranya? Apakah itu harus berarti menyatroni perguruannya atau menguntitnya ke mana pun dia pergi? Ataukah aku harus berpura-pura menjadi muridnya saja?

Kedai makin ramai, ketika dari luar datang lagi orang-orang lain.

(Oo-dwkz-oO)