Nagabumi Eps 39: Membela Pelacur dan Diserbu Perompak Sungai

 
Eps 39: Membela Pelacur dan Diserbu Perompak Sungai

JERITAN itu membuat semua orang pada pagi yang dingin itu tertegun. Para penjaga yang berada di gardu pajak segera berlompatan ke sana, dan terlihatlah lelaki yang tinggi besar itu telah terkapar bergelimang darah. Perempuan yang disebut pelacur itu telah membunuhnya dengan sebilah pisau yang masih terus dihunjamkannya.

"Matilah dikau pengkhianat durjana! Telah kau bunuh suamiku dari belakang dalam pertempuran meski berada di pihak yang sama! Matilah dikau! Matilah dikau! Matilah dikau!"

Para penjaga di gardu pajak berlompatan ke sana dan segera meringkus perempuan itu. Ia terus meronta ketika mereka berusaha mengikatnya.

"Dibunuhnya   suamiku    karena    menghendaki    diriku!

Bebaskan aku! Sudah menjadi hakku untuk membunuhnya!"

Para penjaga membawanya ke gardu. Para mabhasana yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala. Mereka yang keluar dari kedai segera membicarakannya.

"Mereka baru saja keluar dari sini, tak sangka perempuan itu berniat membunuhnya."

"Kalau memang benar apa yang dikatakannya, ia harus dibebaskan dari hukuman."

SEBAIKNYA, apa yang dikatakannya sulit dibuktikan di pengadilan. Ia akan mati terbakar!"

"Atau mati tenggelam."

"Ayo kita bertaruh! Dia akan ditenggelamkan atau dibakar?"

Para penjudi itu lantas ramai-ramai bertaruh. Mereka telah berjudi semalaman dan masih saja bertaruh setelah terang tanah. Aku teringat hukuman bagi pelacur jika membunuh seorang lelaki, menurut Arthasastra hukuman akan berupa pembakaran di atas api penguburan atau ditenggelamkan ke dalam air. Jadi, ketika lelaki itu dibakar, maka perempuan itu sebagai pembunuhnya akan dibakar bersamanya. Namun ditenggelamkan ke dalam air juga tidak akan kurang tersiksa.

Aku merasa pembelaan diri perempuan itu harus didengar, tetapi siapakah yang akan mendengarkannya? Tempat ini jauh terpencil dari kotaraja, hukum terlalu sering berjalan tidak semena-mena. Dengan memeriksa Arthasastra, sebenarnya bisa dibayangkan perjalanan hidup seorang pelacur.

Pengarah Para Pelacur harus mengangkat sebagai pelacur dengan seribu pana

seorang gadis dari ke luarga pelacur atau dari keluarga bukan pelacur,

yang sangat cantik, muda, dan seni wati dan seorang wakil pelacur

untuk separo usaha keluarg a

bila seorang pelacur lari atau meninggal puterinya atau saudara perempuannya harus menjalankan usaha keluarga

atau ibunya harus menyediakan seorang wakil pelacur

bila tidak ada, raja harus menghapus usaha itu sesuai kelebihan dalam hal kecantikan dan perh iasan ia harus dengan seribu pana mengangkat giliran

terendah, menengah, atau tertinggi (untuk keha diran) agar menambah hormat

dengan payung, pembawa air, kipas, tandu, kursi, dan kereta

bila kehilangan kecantikan ia harus mengangkat sebagai Ibu harga tebusan adalah 24.000 pana untuk seorang pelacur

12.000 pana untuk pute ra pelacur sejak umur delapan tahun

yang terakhir harus bekerj a sebagai pengamen raja

budak perempuan seorang pelacur yang sudah lewat masa kerjanya harus bekerja di gudang atau dap ur

seseorang yang tidak dapat mengerjakannya harus dikekang

harus membayar upah bulanan 1,25 pana ia harus mencatat pembayaran para tamu, hadiah, penghasilan, pengeluaran,

dan keuntungan seorang pelacur dan harus melarang

tindakan pengeluara n berlebihan memberikan perhiasan

untuk disimpan orang la in selain ibunya

denda 4,25 pa na

menjual atau menjanjikan miliknya denda 50,25 pana

cedera yang terliha t denda 24 pana

cedera badan d ua kali lipat denda 50,25 pana memotong telinga

denda 1,5 pana dalam hal kekerasan

untuk gadis yang eng gan denda tertinggi ditentuka n (jika ia bersedia)

adalah dana teren dah untuk kekerasan

jika seorang pria mengekang pelacur yang tidak bersedia

atau membantunya melarikan diri atau merusak kecantikannya dengan melukai

denda 1.000 pan a

atau denda ditambahkan sesuai pentingnya kedudu kan

sampai dua kali lipat uang teb usan

bila seorang pria melukai pelacur yang diangkat denda akan tiga kali uang tebusan

untuk membunuh seorang ibu, puterinya, atau budak perempuan

yang hidup dari kecantik annya akan dikenakan

denda tertinggi u ntuk kekerasan dalam semua hal,

denda pelanggara n pertama

dua kali lipat untuk pelangga ran kedua tiga kali lipat untuk pelanggaran ketiga dan apapun bisa dilakukan

untuk pelanggaran keempat

seorang pelacur yang tidak mendekati lelaki atas perintah raja

akan mendapat seribu pukulan dengan cambuk atau denda 5.000 pana

seorang pelacur yang setelah menerima bayaran memperlihatkan ketidak sukaannya

akan didenda dua kali pembayaranny a bila menipu dalam hal kehadirannya kepada para tamu yang menginap

harus membayar delapan kali jumla h pembayaran kecuali bila sakit

atau ada kekurang an pada pria

bila pelacur itu membunuh seorang pria

hukuman berupa pembakaran di atas api penguburan atau ditenggelamkan di dalam air

bila seorang pria merampas perhia san barang atau pembayaran yang diwajibkan bagi seor ang pelacur

pria itu akan didenda delapan kali jum lah itu menjual atau menjanjikan miliknya

denda 50,25 pana cedera yang terliha t denda 24 pana

cedera badan dua kali lipat denda 50,25 pana memotong telinga

denda 1,5 pana dalam hal kekerasan

untuk gadis yang eng gan denda tertinggi ditentuka n (jika ia bersedia)

adalah dana terendah untuk kekerasan

jika seorang pria mengekang pelacur yang tidak bersedia

atau membantunya melarikan diri atau merusak kecantikannya dengan melukai

denda 1.000 pan a

atau denda ditambahkan sesuai pentingnya kedudu kan

sampai dua kali lipat uang teb usan bila seorang pria melukai pelacur yang diangkat denda akan tiga kali uang tebusan

untuk membunuh seorang ibu, pute rinya, atau budak perempuan

yang hidup dari kecantikannya akan dikenakan

denda tertinggi u ntuk kekerasan dalam semua hal,

denda pelanggaran pertama

dua kali lipat untuk pelangg aran kedua tiga kali lipat untuk pelanggaran ketiga dan apapun bisa dilakukan

untuk pelanggaran keempa t

seorang pelacur yang tidak m endekati lelaki atas perintah raja

akan mendapat ser ibu pukulan dengan cambuk atau denda 5.000 pana

seorang pelacur yang setelah menerima bayaran memperlihatkan ketidak sukaannya

akan didenda dua kali pembayarannya bila menipu dalam hal kehadirannya kepada para tamu yang menginap

harus membayar delapan kali juml ah pembayaran kecuali bila sakit

atau ada kekurang an pada pria bila pelacur itu membunuh seo rang pria

hukuman berupa pembakaran di atas api penguburan atau ditenggelamkan di dalam air

bila seorang pria merampas perhia san barang atau pembayaran

yang diwajibkan bagi seor ang pelacur

pria itu akan didenda delapan kali jum lah itu

IA beranjak ke arah gardu, tempat perempuan itu ditahan dan kerumunan sudah dibubarkan. Suasana mungkin sepi, tetapi kurasa ini bukanlah tempat yang sunyi. Kami menyandarkan seluruh pedati di tempat penitipan dan bermaksud istirahat sebentar di penginapan sebelum menyeberang, sambil menunggu hasil kerja Naru itu. Kulihat tadi ia mengambil pundi-pundi dari dalam pedati, sehingga takbisa kuhindarkan kesan betapa ia akan menyuap para petugas itu.

Kutatap sekitarku, inilah salah satu dari tempat penyeberangan yang banyak terdapat di Yawabumi Tengah bagian se latan, salah satu dari 47 naditirapradesa yang artinya tempat-tempat di tepi sungai. Istilah itu berhubungan dengan dua pengertian, yakni tempat penyeberangan maupun pelabuhan sungai. Adalah pelabuhan sungai yang jauh lebih ramai, meski tempat penyeberangan ini tidak bisa dianggap sunyi. Aku segera mandi di tepi sungai dan memasuki penginapan, artinya sebuah rumah panjang berdinding bambu yang menyediakan tikar.

Rasanya lelah sekali badanku dan aku langsung jatuh tertidur begitu menyentuh tikar.

(Oo-dwkz-oO) WAKTU aku terbangun, hari sudah sangat siang dan tubuhku rasanya sangat penat. Baru kemudian kusadari pelacur yang hampir saja dihukum mati itu sudah bersimpuh di sampingku. Lantas muncul Naru, yang tampaknya juga seperti baru bangun dari tidur.

"Aku hanya bisa membebaskan dia jika membelinya, Bocah, tidak ada pengadilan di sini, kecuali jika mau kembali ke kotaraja."

Aku mengerti, rombongan ini dinanti di Ratawun, arah sebaliknya. Perempuan ini telah dibebaskan dari hukuman, tetapi ia kini menjadi seorang budak. Apakah ia masih ingin menjadi seorang pelacur? Jika mampu, ia bisa membeli dirinya sendiri dengan uang hasil pekerjaannya nanti.

Seperti bisa membaca pikiranku, Naru berkata.

"Perempuan ini tidak ingin menjadi pelacur lagi. Ia merasa jalan hidupnya mengikuti dirimu."

Mengikuti diriku? Bagaimana mungkin? Namun Naru sudah menyahutku.

"Biarlah perempuan ini mengikuti perjalanan kita," katanya, "biarlah dialam inya sendiri bahwa mengikuti dirimu tidaklah mungkin."

Maka, perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pelacur itu akhirnya sudah berada bersama kami ketika semuanya, dengan segala pedati, muatan, dan kerbau- kerbaunya, telah berada di atas perahu tambang penyeberangan berjenis akirim agong. Dua penambang bertubuh tinggi kekar berdiri di depan dan belakang, mengarahkan perahu ke seberang yang tempatnya tidak tepat berada di seberangnya, melainkan agak menyerong.

KUPANDANGI sungai itu, begitu luas dan bergerak malas, meski kutahu ketenangan permukaan ini sangat mengecoh. Air sungai ini berwarna cokelat, menyilaukan karena pantulan cahaya matahari. Dari seberang datang berpapasan perahu pengangkut akirim agong yang lain. Memang sepanjang bengawan ini terdapat pasar-pasar di tepi sungai, yang menyatu atau berada di dekat pelabuhan sungai. Kemudian terlihat sebuah delta. Nanti setelah melewati delta tersebut baru akan terlihat pangkalan tambang di seberang sungai tempat kami diturunkan.

Delta itu cukup besar, bahkan terdapat semak-semak dan pepohonan. Jika malam pastilah menyeramkan sekali. Entah kenapa perasaanku mengatakan sesuatu akan terjadi. Perahu mengikuti arus yang semula tampak pelan, tetapi kemudian bertambah lama bertambah cepat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sungai yang menjadi lalu lintas perdagangan juga memancing kehadiran para perompak sungai. Tukang tambang juga mengenali para perompak dan itulah sebabnya mereka dibayar mahal, karena selain bertugas menyeberangkan para pedagang dan barang-barangnya, juga berkewajiban melindunginya pula.

Maka menjadi tukang tambang berarti harus mempunyai ilmu silat yang tinggi. Bukan sembarang ilmu silat biasa, karena ancaman bahaya yang mereka hadapi datang dari para perompak sungai yang sangat menguasai cara bertarung di atas perahu maupun di dalam air.

Kemudian apa yang kukhawatirkan terjadilah.

"Tuan, waspadalah dan siapkan senjata-senjata Tuan. Kita kedatangan tamu," ujar tukang tambang yang di depan.

Lantas ia berkata kepada temannya di belakang.

"Radri, bersiaplah! Kawan-kawan lama itu tidak kapok juga dengan gebukan kita!"

Radri menyahut dari belakang.

"Biarkan gerombolan astacandala itu datang Sonta! Sudah lama kita t idak main-ma in dengan mereka!" Aku melihat sekeliling dan baru sadar betapa kami sedang diserbu dari segala jurusan oleh sekitar limapuluh orang, yang berenang sangat cepat ke arah kami dengan pisau di mulutnya. Kecepatannya membuktikan bahwa mereka adalah para perenang andalan, dan bahwa mereka tiba-tiba muncul agaknya karena sebelum itu mereka datang entah dari mana dengan cara menyelam. Betapapun, aku harus menghindari pertarungan di dalam air.

NAMUN apakah mungkin? Limapuluh manusia yang menggigit sebilah pisau menyilang di mulutnya melaju dengan cepat seperti ikan lumba-lumba. Dengan hanya berdiri semuanya di atas perahu ini saja, kami semua akan tercebur ke sungai. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Sonta dan Radri, kedua tukang tambang yang bertanggung jawab atas keselamatan barang maupun jiwa kami. Perempuan yang mengikuti kami itu kulihat mengambil sebilah golok milik entah siapa yang tergeletak di situ. Kulihat pegangannya kuat dan mantap. Rasanya tidak mungkin ia t idak mengenal ilmu silat.

"Siaga semuanya! Siaga! Siaga! Siaga!"

Sonta dan Radri memberi aba-aba. Para mabhasana juga telah memegang golok. Kulirik Sonta dan Radri hanya akan menggunakan dayungnya. Mereka tampak gagah dan perkasa. Namun laju kelimapuluh perompak yang datang meluncur sambil membawa pisau di mulutnya itu sungguh mendebarkan hati.

"Siaga! Siaga! Siaga! Bacok saja setiap orang yang mendekat!"

Dalam jarak beberapa depa dari perahu, para perompak yang terdepan melejit ke atas dan ke depan seperti ikan lumba-lumba, di udara mereka mengambil pisau dari mulutnya, lantas sembari me layang turun ke atas perahu berusaha membacok setiap orang dari kami. Namun para mabhasana menyambut mereka dengan sambaran golok. Seorang perompak ambruk di perahu dengan isi perut berhamburan, seorang yang lain terpental kembali ke sungai dengan lengan putus dan segera dihanyutkan arus, sementara yang lain berhasil mendarat di perahu dan memburu kami dengan penuh nafsu pembunuhan. Para perompak ini hanya berkancut seperti orang sadhu, tetapi tubuh mereka dirajah dengan gambar kalajengking tanda gerombolan mereka.

Suasana di perahu hiruk pikuk karena para perompak berkelahi sambil berteriak-teriak dan menjerit-jerit seperti kera. Perempuan itu menguasai ilmu beladiri dengan sangat baik, meski tampaknya tidak memiliki tenaga dalam. Setiap kali seorang perompak menusukkan pisau, perempuan itu selalu berhasil mengelak, bahkan melesakkan goloknya ke arah belakang yang langsung bersarang dalam perut lawannya, yang tentu saja akan meraung kesakitan. Di atas perahu yang kini sudah dipenuhi perompak, ia mengelak dan mengelak sembari menusukkan goloknya ke depan dan ke belakang tanpa melihat lagi, dan selalu menelan korban yang akan meraung keras sekali dengan darah bercipratan.

Para perompak tak hanya melompat ke atas seperti ikan lumba-lumba, tetapi juga hilang menyelam ke dalam air sebelum akhir muncul di tepi perahu untuk meloncat naik dengan sebat sembari mengambil pisau di mulutnya. Para mabhasana bergerak ke sana kemari membacoki perompak yang melejit dari bawah, yang tentu saja tidak membiarkan dirinya agar bisa dibacok dengan mudah. Suara golok beradu pisau terdengar berdentang-dentang ditingkah suara jerit dan raungan kera, yang menjadi teriakan panjang ketika sambaran golok mengoyak tubuh mereka.

Sonta dan Radri memutar dayungnya seperti angin puting beliung. Setiap kali mengenai badan pasti meretakkan tulang dan setiap kali mengenai kepala pastilah yang terkena kehilangan nyawa. Suara anginnya terdengar gemuruh mengerikan. "Majulah kalian tikus-tikus sungai! Majulah! Serahkan nyawamu supaya lahir kembali sebagai musang! Hahahahahaha!"

"Jangan terlalu cepat Sonta! B iarkan mereka sadar sebelum meninggalkan dunia! Hohohohoho!"

Namun sebanyak perompak yang dilumpuhkan, sebanyak itu pula perompak yang datang meluncur di sungai seperti ikan lumba-lumba mengepung dari segala arah. Sebagian dari mereka bahkan menyelam ke bawah perahu dan mulai menggoyang-goyangnya pula!

(Oo-dwkz-oO)