Nagabumi Eps 32: Ke Mana Sungai Kehidupan Membawaku?

Eps 32: Ke Mana Sungai Kehidupan Membawaku?

Harini menghentikan pembacaannya dan menatapku. "Diteruskan atau tidak? Dikau tampak lelah dan mengantuk setelah minum ramuan itu."

"Sebaliknya, aku sudah tidur se lama tiga hari dan setelah minum ramuan itu badanku jadi panas dan berkeringat. Pikiranku terang dan badanku rasanya segar sekali, hanya tenaga saja yang belum kupunyai. Teruskan saja Harini, jika dikau masih sudi, ataukah sebaiknya kubaca saja sendiri?"

Harini tersenyum sembari mengusap dahiku. Ia membaca kembali.

Pagi masih dingin. Matahari belum muncul. Lapangan rumput di Telaga Darah itu masih berembun. Orang-orang yang menyoren pedang di punggung?nya dan disebut pendekar itu, yang telah menyaksikan Pendekar Lautan Tombak dan Pendekar Satu Jurus berhadapan sejak dini hari kemarin, kini menahan papas. Pendekar Lautan Tombak tampak menggeser kuda-kudanya dan mengangkat tombaknya perlahan-lahan. Mereka tahu bahwa pertarungan dalam diam itu akan segera berubah menjadi gerakan, dan seperti apa pun gerakannya tentu akan berlangsung cepat sekali, bahkan begitu cepat, lebih cepat dari kedipan mata, sehingga jika mereka berkedip ketika gerakan itu akhirnya terjadi, maka gerakan yang mereka nantikan dari pagi sampai pagi lagi itu tak akan bisa mereka saksikan.

Tampaknya siapa pun yang sedang menyaksikan pertarungan itu telah menjadi mengerti, bahwa Pendekar Lautan Tombak sedang mengujikan siasat bertarung baru yang belum pernah dihadapkan kepada Pendekar Satu Jurus. Selama ini lawannya selalu dengan segera menyerang lebih dahulu,

dan pada saat itulah Pendekar Satu Jurus akan dapat melihat kelengahan lawannya dan memanfaatkannya dengan keccpatan tiada tara. Jika sejak kemarin Pendekar Lautan Tombak ternyata tidak juga menyerang meski telah berhadapan, maka hanya terdapat dua kemungkinan dari siasatnya, jika tidak menunggu serangan Pendekar Satu Jurus lebih dulu, dan menantikan munculnya pertahanan yang terbuka; tentu menyerang lebih dulu, tetapi hanya jika Pendekar Satu Jurus memperlihatkan kelengahan, meski itu hanyalah secercah kelengahan saja.

Ternyata setelah sehari semalam Pendekar Satu Jurus tidak juga menyerang dan memang seperti tidak akan pernah menyerang, tampaknya Pendekar Lautan Tombak memilih untuk menyerang lebih dulu.

Para pendekar juga telah memperkirakan, bahwa kemungkinan besar Pendekar Lautan Tombak telah mempertimbangkan betapa dirinya semestinya Iebih mampu bergerak lebih cepat, sehingga bisa melumpuhkannya sebelum Pendekar Satu Jurus bergerak menyerang; di samping, bahwa setelah berdiri berhadapan dengan penuh kewaspadaan selama sehari semalam bukan tidak mungkin bahwa Pendekar Satu Jurus yang lanjut usia itu se lain berkurang tenaga dan mengendur kewaspadaannya, juga akan menjadi lengah meski hanya sekejap, yang dalam pertarungan s ilat tinggi tentu saja sangat menentukan. Hanya diperlukan kelengahan sekejap untuk menembus pertahanan lawan dan membunuhnya untuk meraih kemenangan.

Pendekar Lautan Tombak mengangkat tombaknya, tapi tidak juga menyerang. Apa lagi yang ditunggu?

Punggung-punggung bukit yang semula kehitaman dengan latar belakang cahaya ungu muda, kini tampak semakin hitam karena matahari yang merangkak naik telah membuat garis di punggung-punggung itu semakin terang menyilaukan. Beberapa saat kemudian puncak tertinggi dari bulatan matahari itu me lewati punggung bukit dan cahaya pertamanya yang sangat menyilaukan itu meluncur dan menyiram Telaga Darah, termasuk ke arah pandangan mata Pendekar Satu Jurus! Saat itulah Pendekar Lautan Tombak melepaskan tombaknya dengan kecepatan yang telah memberinya nama di dunia persilatan, tetapi saat itu pula ia rpental ke belakang dengan bunyi seclak dari mulutnya yang memuntahkan ?rah. Seperti semua korban Pendekar Satu Jurus yang lain, Pendekar Lautan Tombak bukan perkecualian, ia tewas dalam satu jurus tak sampai sekejap telah menyerang.

Waktu aku terbangun, hari masih gelap. Terlihat Harini tergolek di amben yang lebih rendah di samping amben-ku. Kedua tangannya terangkat ke atas dan rambutnya yang panjang menutupi sebagian dadanya yang terbuka. Meskipun gelap, kedua lengannya yang kuning langsat itu seperti bercahaya.

Terhirup olehku harum tubuhnya. Dalam keadaan terbaring dalam pemulihan akibat luka dalam, aku terperangkap oleh wisaya.

Sebelum tidur, tampaknya Harini telah mandi terlebih dahulu, lantas mengolesi tubuhnya dengan burat, selain karena baunya kukenal, juga karena kulihat di tepi kainnya terdapat bubuk-bubuk emas. Ia sendiri tampak menjadi anggun karena tubuhnya bagaikan berlapis hancuran emas.

Saat aku menatapnya dalam gelap itu, Harini membuka mata. la t idak tampak mengantuk sama sekali. Matanya tajam menembus kegelapan, membuat dadaku berdegup dan berdebar-debar. la mengulurkan tangannya, memegang tanganku yang juga terulur menyambutnya.

'Tdaki Tanpa Nama, dikau membuka mata," katanya berbisik perlahan. "Apakah dikau mencari Harini?"

la menarik tanganku. Mengarahkan ke dadanya. Namun jarak amben-ku yang tinggi ini terlalu jauh bagi tanganku untuk mencapai ambennya yang pendek. Maka Harini menyentak tanganku, sehingga aku terseret ke bawah, dan jatuh ke pelukannya. Aku seperti mendadak sembuh. Sembari mencium bibirnya kutarik kainnya ke bawah dan ia menarik kainku ke bawah juga. Dari begitu banyak ilmu yang kutekuni, dari Harini kukenal berbagai seni permainan cinta, karena semenjak membaca Kama Sutra, ia selalu mau menguji yang tertulis dalam kitab itu hanya denganku.

selama seratus tahun hidupnya

manusia harus berhasil mengejar tiga tujuan yang saling bergantung satu sama lain

yakni kebajikan (dharma), kemakmuran (artha), dan cinta (kama)

menyerasikannya satu sama lain,

tanpa prasangka kepada yang mana pun jua

Beberapa lama kemudian terdengar ayam jantan berkokok, tetapi kami masih akan terbangun nanti setelah matahari lebih tinggi. Di pondok ini, pintu tiada berdaun dan jendela selalu terbuka. Waktu aku terbangun matahari te lah menghangatkan kaki kami dan ketika Harini terbangun ia langsung tersenyum.

"Lelaki Tanpa Nama, dikau masih terlalu muda, tetapi te lah berlaku seperti lelaki dewasa."

"Apakah yang harus kukatakan kepadamu, Harini, perempuan pertama yang kukenal dan kugauli, yang tiada akan pernah kutinggalkan lagi."

Harini tersenyum, tetapi dengan se laput mendung yang menyapu wajahnya.

"Janganlah menjanjikan sesuatu yang belum tentu akan kaupenuhi, wahai Lelaki Tanpa Nama, tapi Harini sudah bahagia betapa hidupnya pernah menjadi bagian dari hidup Lelaki Tanpa Nama..."

"Harini yang indah, apakah yang telah membuatnya berpikiran demikian Lelaki Tanpa Nama mencintainya dengan kerelaan dan ketulusan."

"Lelaki Tanpa Nama, dikau seorang pendekar, selamanya tetap akan menjadi pendekar, dan suratan seorang pendekar adalah mengembara."

Benarkah begitu? Aku selalu ingin mengembara, tetapi aku sama sekali tidak ingin menjadi seorang pendekar. Meski begitu, karena diasuh dan dibesarkan Sepasang Naga dari Celah Kledung, aku merasa harus menguasai ilmu persilatan sepenuhnya. Mungkinkah menguasai ilmu silat setinggi- tingginya tanpa hidup sebagai seorang pendekar?

Tiba-tiba aku teringat betapa orangtuaku telah pergi untuk tidak kembali. Sampai sekarang, tidak terlalu jelas bagiku, apakah mereka tidak kembali karena tewas dalam pertarungan, ataukah sekadar melanjutkan pengembaraan yang telah sekian lama tertunda, antara lain karena mengasuhku? Aku tidak )ernah merasa bisa mendapat kepastian, karena jika memang benar mereka :ewas dalam pertarungan, sepertinya tidak mungkin beritanya tak akan sampai kepadaku. Sepasang Naga dari Celah Kledung adalah nama yang besar dalam dunia persilatan dan I lmu Pedang Naga Kembar nyaris tanpa kelemahan untuk bisa dikalahkan. Jika itulah yang memang terjadi, oleh sebab apakah kiranya maka peristiwa itu tidak menjadi perbincangan di dunia persilatan dari kedai ke kedai dan tidak terdengar olehku?

Memang benar para pendekar besar sering memiliki perilaku ajaib dan karena itu juga tindak-tanduknya sulit dimengerti dan dipahami.

Mereka muncul mendadak di suatu tempat dan segera menghilang tidak jelas ke mana. Tidak jarang pula mereka berganti haluan, mengundurkan diri dari dunia persilatan, dan menjadi warga biasa, orang awam yang terserap ke dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang membuat sejumlah pendekar yang telah mengundurkan diri itu akan menimbulkan kegemparan, ketika terpaksa keluar dari persembunyian dan melakukan tindakan tegas, apabila tidak tahan lagi menyaksikan ketidakadilan di sekitarnya.

Apakah kedua orangtuaku sebetulnya berada di sekitarku dan selalu mengawasi aku? Andaikan ya, aku tak tahu kenapa mereka harus melakukan itu dan karena itu aku pun tenggelam dalam pertanyaan pertanyaan tiada berjawab.

Lelaki Tanpa Nama, ketahuilah bahwa Harini masih ada," sebuah suara berbisik di telingaku.

Harini mendekapku dari belakang dengan segenap keharuman tubuhnya yang seperti membuatku terbangun sekali lagi. Serbuk keemasan itu sebagian telah berpindah ke tubuhku. Aku tahu Harini menyukai wewangian dan di desa itu memang hanya Harini yang menguasai pengetahuan tentang hal itu dengan baik, karena segalanya lebih kurang telah tercatat dalam berbagai kitab.

Dari kitab yang dim iliki ayahnya aku pun pernah membaca tentang jebad kasturi, wewangian yang bersumber dari kelenjar jenis musang tertentu. Wewangian itu biasa disiramkan ke hiasan telinga. Harumnya kasturi juga dimanfaatkan untuk mewangikan bedak, kain, peraduan, bunga-bunga yang dikenakan pada busana, bahkan pangungangan. Di hutan luar desa, terdapat segenap tanaman yang dapat diolah menjadi wewangian, seperti bunga dan kayu cendana, daun pandan dan bunganya yang disebut pudak, dan juga tanaman agaru, yang kayunya, yakni kayu laka, bunganya yang disebut ergelo dan menyan, yakni getahnya, semua merupakan bahan wewangian.

"Lelaki Tanpa Nama...," bisiknya. "Ya..."

'Bolehkah Harini menanyakan sesuatu kepadamu, Lelaki Tanpa Nama?"

"Dikau tidak pernah bertanya seperti ini Harini, ada apa?"

Aku berbalik dan melihatnya, sungguh Harini perempuan matang seperti yang sudah seharusnya apabila menguasai Kama Sutra, tetapi kenapa kali ini ia menundukkan kepala? Saat mengangkat wajah, airmatanya sudah berlinang.

"Harini..."

Umurku memang masih 15 tahun, dalam permainan cinta pun aku masih seorang bocah ingusan. Namun pada saat seperti ini aku seperti merasa sudah seharusnya bersikap seolah-olah telah dewasa. Kuseka airmata di pipinya.

"Apakah yang telah diperbuat oleh Lelaki Tanpa Nama ini, Harini, hingga porempuan bernama Harini harus mengeluarkan airmata begini rupa?"

Airmatanya menderas, tetapi ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak, tidak, Harini tidak akan pernah meminta. Harini hanya mau memberi, memberikan segalanya untuk Lelaki Tanpa Nama..."

Aku mengangguk dan memeluknya, tetapi aku hanyalah seorang remaja 15 tahun yang buta pemahaman cinta. Harini sudah 20 tahun. Perempuan ini lebih berpengalaman dan lebih mengerti, meski kusadari betapa pengetahuanku tentang Harini sebetulnya juga terbatas sekali. Bukankah aku hanya seorang pengembara, yang terbawa langkah kaki hingga sampai kemari?

Aku merasa sehat, tetapi itu tidak berarti aku sembuh dengan cepat. Setidaknya perlu waktu sebulan bagiku untuk menyehatkan tubuhku melalui olah pernapasan supaya siap berlatih kembali. Aku merasa sangat ragu, bahkan merasa malu, untuk kembali ke wihara di atas tebing itu lagi. Maka akupun berlatih di tempat-tempat sepi yang lain, di sekitar Desa Balingawan, meski rasanya seperti tidak mendapat kemajuan. Artinya aku tahu pasti dengan cara latihan seperti yang telah kujalani, berapa lama pun aku berlatih, pada saat berjumpa dengan Naga Hitam aku akan dikalahkan dan menemui kematian.

Memang benar aku telah mempelajari Jurus Penjerat Naga yang diajarkan oleh Pendekar Satu Jurus, tetapi sudah terbukti tiada artinya melawan pendeta kurus kering yang telah mempermainkan aku, bahkan aku juga nyaris terbunuh oleh raksasa pemilik ilmu pukulan tangan kosong Telapak Darah, yang ternyata murid Naga Hitam. Sembari berlatih, aku mengingat kembali pengalaman bertarungku. Mencoba belajar dari kesalahan, dan menemukan sesuatu dalam perenungan. Maka kemudian kusadari betapa bhiksu berkalung tasbih yang telah mendorongku jatuh ke jurang itu sebetulnya sedang melatih aku dalam gerak berbagai jurus tertentu. Jurus bisa sama, tetapi penafsiran boleh dipastikan akan berbeda, dan tidak set iap penafsiran akan berhasil mencapai tujuan dari Jurus Penjerat Naga yang tergambar dalam kitab itu.

Membandingkannya dengan sepotong riwayat Pendekar Satu Jurus yang dibacakan Harini untukku, aku tahu betapa bahkan Pendekar Satu Jurus sendiri belum pernah menggunakannya dalam suatu pertarungan. Pernah kusebutkan bahwa Jurus Penjerat Naga terdiri dari serangkaian jurus takmenyerang yang baru kemudian diakhiri jurus mematikan. Namun agaknya lawan Pendekar Satu Jurus pada masanya, yakni sekitar 100 tahun sebelum aku dilahirkan, tidak pernah terlalu kuat. Lawannya tidak pernah terlalu kuat untuk membuka serangan dalam beberapa jurus, seluruhnya sudah bisa dilumpuhkan saat mereka lakukan serangannya yang pertama. Jadi, ternyata memang dimungkinkan Pendekar Satu Jurus menyerang hanya setelah jurus?jurus takmenyerang itu mengundang serangan beruntun, tetapi lawan seperti ini tidak pernah ditemuinya.

Aku telah me latih semua gerakan itu di ruangan tertutup di wihara, tetapi yang disebut ilmu silat memang hanya dapat berkembang dalam pertarungan. Kuingat bagaimana bhiksu itu se lalu menyerangku dari arah tertentu berkali-kali, dengan jenis serangan tertentu, yang memaksaku mengeluarkan jurus?jurus tertentu berkali-kali juga. Rupa-rupanya saat itu ia sedang melatihku.

Celakanya hanya setelah tenagaku terkuras itulah muncul murid Naga Hitam yang bahkan tak kuketahui namanya, dan berhasil melukai aku dengan pukulan Telapak Darah yang sangat beracun.

Aku menjadi curiga, siapakah bhiksu itu sebenarnya? Pendeta macam apakah yang makannya hanya sedikit karena sepanjang waktu hanya bertapa, ternyata memiliki ilmu silat yang begitu tinggi sehingga bisa menyusulku yang didorongnya jatuh, untuk menyambut tubuhku dan mendarat seperti bangau dengan ringan sekali?

Kusadari betapa masih hijaunya diriku di rimba hijau. Mereka yang malang melintang di dunia persilatan ini bisa mengenali seseorang hanya dari jurus jurusnya, meski sebelumnya belum pernah bertemu. Mereka juga dengan mudah mengenali seseorang dari senjata yang dipakainya, meski senjata-senjata itu sepintas lalu m irip satu sama lain. Namun semua ini tidak mengurungkan niatku untuk suatu ketika meneruskan perjalanan, dan barangkali mau tidak mau akan terbawa-bawa ke dalam urusan dunia persilatan. Seperti telah kukatakan, aku sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari nama sebagai pendekar, tetapi aku tidak akan melawan atau menolak jika arus sungai hidupku tak urung membawaku ke dunia persilatan jua.

Sebagai pengembara aku menuruti langkah kakiku. Sebagai manusia kuturuti arus sungai kehidupan yang membawaku. (Oo-dwkz-oO)