Nagabumi Eps 30: Perbincangan Nagasena

Eps 30: Perbincangan Nagasena

Tangannya bergerak melemparkan anak panah ke jantungku, tetapi tangan kiriku sama sekali belum lumpuh. Dalam rasa kepuasannya, raksasa yang perkasa ini telah menjadi lengah.

"Dalam pertarungan tingkat tinggi, kelengahan sekejap mata berarti maut," ujar pasangan pendekar yang telah mengasuhku

Peringatan itu terbukti, untunglah bukan kepada diriku, melainkan lawanku. Tangan kiriku telah menyentuh sebutir kerikil, kulempar kearah mata kanannya dengan tenaga dalam terakhir yang bisa kukerahkan. Ia menjerit keras karena kerikil itu masuk dan merasuk untuk menghancurkan matanya. Kesempatan kugunakan untuk melompat dan merebut anak panahnya dengan tangan kiri, lantas gilirankulah kini menancapkan anak panah itu pada jantungnya.

Jawara yang bertubuh tinggi besar itu ambruk tanpa menjerit lagi. Ia mati selagi masih berdiri dan ketika tubuhnya ambruk tengkurap, anak panah itu menancap makin dalam sampai tembus di punggungnya.

Namun pandanganku pun gelap saat itu, dan dadaku serasa begitu sesak tanpa bisa bernapas. Tak kurasakan tubuhku pun menimpa muntahan darah dari mulutku sendiri.

Hari hari se lanjutnya hanya kuketahui dari cerita orang- orang Desa Balingawan yang menemukan aku di tengah jalan setelah kembali dari pemujaan di depan patung Durga.

Seusai upacara puja lewT tengah malam, rombongan yang berpapasan denganku menemukan aku tergeletak di samping tubuh tinggi besar yang sudah menjadi mayat. Mereka yang mengenaliku segera membalikkan tubuhku. Kata mereka, waktu itu wajahku penuh dengan darah hitam, sebab aku telah memuntahkannya karena luka dalam.

"Lihat, ini Lelaki Tanpa Nama yang tinggal di desa kita.

"Ya, dia yang me latih para pemuda, dan memperkenalkan cara penjagaan keamanan kepada mereka."

"Dia masih hidup..."

Kata mereka napasku sangat lemah dan hanya satu demi satu, seperti sudah akan berakhir. Semula mereka mengaku bingung, tapi kemudian mereka segera membuat tandu untuk membawaku ke desa. Satu orang dikirim lebih dahulu untuk memberitahu orang-orang dan menyiapkan tempat, dan dua orang dikirim ke wihara untuk meminta pertolongan seorang bhiksu yang mengenal ilmu pengobatan, yang selama ini memang berlaku sebagai rogasantaka bagi penduduk Desa Balingawan. Padahal tidaklah mudah mendaki ke wihara dengan memutari tebing pada malam hari seperti itu. Namun darah hitam yang kumuntahkan dan menggenang begitu telah membuat mereka berpikir, bahwa pertolongan untukku haruslah segera.

Tindakan mereka memang tepat. Jika tidak, aku sudah tidak bisa lagi hidup untuk menceritakan pengalamanku ini. Sementara aku dibawa ke pondok yang selama ini telah disediakan untukku, kedua utusan ke wihara merayap melalt jalan setapak yang mendaki, untuk tiba di sana setelah bunga- bunga merekah dalam cahaya matahari.

Sesampainya di sana mereka menemui bhiksu yang menguasai ilmu pengobatan itu yang temyata dengan tenang menyuruh mereka pulang. Maka mereka pun segera turun kembali dengan setengah memaki, tetapi hanya untuk menjadi terkejut sekali, karena sesampainya di bawah mereka jumpai rogasantaka atau tabib itu sudah sibuk mengobati.

Kata mereka aku tidak sadarkan diri se lama tiga hari, dan selama itu aku ditangisi oleh Harini yang telah membereskan pondokku. Rogasantaka atau juga rogantaka itu menempelkan kedua telapak tangannya di dadaku, tempat aku rupanya telah menerima pukulan Telapak Darah. Terlihat bekas telapak tangan di situ, berwarna merah darah dan mulai membiru, pertanda racun Telapak Darah telah bekerja. Rogasantaka itu menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuhku, yang menghangatkan aliran darah sepanjang tubuh, melawan daya- daya jahat dari pukulan Telapak Darah itu. Darah hitam mengalir keluar dari mulut, hidung, dan telingaku. Inilah suatu cara penyembuhan untuk mengusir segenap unsur yang berdaya jahat yang meracuni tubuh.

Pada hari ketiga rogasantaka atau rogajna itu pergi, tetapi meninggalkan catatan ramuan obat kepada Harini.

"Dia akan terbangun nanti, minumkan Baja ramuan obat ini," katanya. Waktu aku tak sadar, pikiranku terbawa kepada kisah-kisah ayahku tentang Nagasena. Di bumi Yunani yang bernama Baktria, terdapatlah kota bernama Sagala, sebuah pusat perdagangan. Kota itu sangat indah, semakin indah karena sungai sungai dan perbukitan di sekitarnya. Pemandangan mengesankan di luar kota, sementara di dalam kota, taman, tanah lapang, hutan kecil, danau, dan kolam teratai membuat Sagala sangat istimewa. Di sanalah bermukim rajanya,

Milinda, seorang raja yang berpengetahuan, terpelajar, berpengalaman, cerdas, cakap, dan mampu, yang suka berdebat dengan kaum Brahmana.

Suatu ketika, mereka yang disebut para arahat, mengirim utusan kepada Yang Mulia Nagasena, yang bermukim di Taman Asoka di Kota Patna. Dikisahkan betapa Nagasena secara ajaib langsung menghilang dan tiba di tempat para liat bermukim. Para arahat berkata.

"Raja Milinda itu, wahai Nagasena, terus-menerus melecehkan tatatertib bhiksu dengan pertanyaan-pertanyaan dan pertanyaan-atas-pertanyaan, dengan kilah dan dalih maupun kilah-atas-kilah dan dalih-atas-dalih. Pergilah ke sana Nagasena, tundukkan dial"

Nagasena menjawab.

Tak masalah dengan hanya satu Raja Milinda! Jika pun seluruh raja Jambhudvipa datang kepadaku dengan pertanyaan pertanyaan mereka, daku juga akan mematahkannya dan mereka akan terdiam selamanya! Kalian dapat berangkat ke Sagala tanpa khawatir sesuatu apa."

Maka para tetua itu berangkat ke Sagala, mencerahkan kota dengan jubah kuning cemerlang mereka yang bercahaya, dan menghirup udara segar pegunungan suci. Yang Mulia Nagasena bermukim di Wihara Sankheyya bersama 80.000 bhiksu. Raja Milinda diiringi rombongan 500 cerdik pandai, naik ke sana dan memberi sa lam persahabatan serta duduk disamping Nagasena, yang telah membalas salam, dan basa- basinya telah menyenangkan hati raja.

Raja Milinda pun berkata.

'Dengarkanlah wahai 500 orang Yunani dan 80.000 bhiksu, Nagasena ini telah berkata, beliau bukan pribadi yang nyata ada! Bagaimanakah daku mesti bersetuju dengan itu?!"

Maka Raja Milinda bertanya kepadanya.

"Bagaimanakah nama penghormatan Anda disebutkan dan siapakah nama Anda, wahai Tuan?"

"Daku dikenal sebagai Nagasena, wahai Raja Besar, dan sebagai Nagasena jua rekan-rekan agamawan biasa menyebutku. Namun seandainya orangtuaku memberi nama seperti Nagasena, atau Surasena, atau Virasena, tau Sihasena, betapapun, kata Nagasena ini hanyalah suatu satuan, penandaan, tilah bagi suatu pengertian, sebutan untuk sekarang, hanya sebuah nama. Tiada pribadi yang nyata di sini bisa terlihat."

Raja Milinda pun berkata.

"Dengarkanlah wahai 500 orang Yunani dan 80.000 pendeta, Nagasena ini telah berkata, beliau bukan pribadi yang nyata ada! Bagaimanakah daku mesti bersetuju dengan itu!"

Kepada Nagasena, ia pun berkata.

"Apabila, wahai Yang Termulia Nagasena, tiada pribadi bisa tampak

dalam kenyataan, maka siapakah, daku tanyakan kepada Tuan, yang telah memberikan kepada Tuan sesuatu yang membuat Tuan seperti adanya Tuan sekarang melalui jubah, makanan, penginapan, dan obat-obatan? Siapakah dia yang menjaga akhlak dan budi pekerti, laku samadhi, dan menyadari Empat Jalan dan Cabang-cabangnya, dan setelah itu Nirwana? Siapakah yang telah membunuh makhluk hidup, mengambil yang tidak diberikan, melakukan penyimpangan syahwat, menceritakan kebohongan, dan meminum racun? Siapakah yang melakukan Lima Karma Takberampun? )2 Jika di sana tiada pribadi, tiada akan ada guna dan nirguna; kegunaan dan ketiadagunaan, dan tiada penghubung di antara mereka; tiada hasil perbuatan baik atau buruk, dan tiada penghargaan maupun hukuman bagi mereka. Jika seseorang harus membunuhmu, wahai Yang Mulia Nagasena, tidaklah akan berupa guru, penyuluh, atau pendeta yang telah ditahbiskan! Dikau baru saja mengatakan kepadaku betapa rekan sejawat agamawan biasa menyebutmu 'Nagasena'. Maka, apakah 'Nagasena' ini? Mungkinkah hanya rambut dari kepala 'Nagasena' ?"

"Bukan, wahai Raja Besar!"

"Ataukah mungkin kuku, gigi, kulit, otot, urat, tulang, sungsum, ginjal, hati, selaput gendang, limpa, paru-paru, usus besar, usus kecil, perut, kotoran badan, empedu, tenggorokan, nanah, darah, lemak, airmata, keringat, ludah, ingus, lendir, kencing, atau otak dalam kepala, apakah mereka ini 'Nagasena'?"

"Bukan, wahai Raja Besar!"

"Atau apakah 'Nagasena' suatu bentuk, atau rasa, atau pandangan,

atau kehendak taksadar, ataukah kesadaran?" "Bukan, wahai Raja Besar!"

"Lantas apakah merupakan perpaduan bentuk, rasa, pandangan, kehendak taksadar, dan kesadaran?"

"Bukan, wahai Raja Besar!"

"Kalau begitu, seperti telah kutanyakan, daku takdapat menemukan Nagasena sama sekali. 'Nagasena' ini hanyalah suara belaka, tetapi siapakah Nagasena yang sebenarnya? Junjungan kalian ini telah menyatakan kebohongan, berbicara dusta! Sebenarnya tiada Nagasena!"

Maka Yang Mulia Nagasena berkata kepada Raja Milinda. "Sebagai raja, Paduka telah dibesarkan dalam kehalusan

budi bahasa

maupun ketinggian budi pekerti dan Paduka menghindari segala jenis perilaku kasar. Jikalau Paduka berjalan pada tengah hari dalam terik, panas, di tanah berpasir ini, maka kaki Paduka akan mengarah ke tanah berkerikil, dan itu akan melukai Paduka, tubuh Paduka akan menjadi letih, pikiran Paduka terganggu, dan kewaspadaan tubuh Paduka akan terhubungkan dengan kesakitan.

Lantas bagaimanakah Paduka akan datang, dengan berjalan kaki ataukah dengan kuda tunggangan?"

"Daku tidak datang berjalan kaki, Tuan, tetapi dengan kereta."

"JIKALAU Paduka datang dengan kereta, maka mohon dijelaskan kepada sahaya, apakah kereta itu. Apakah tiangnya itu kereta?"

"Bukan, Yang Mulia!"

"Kalau begitu gandarnya itulah kereta?" "Bukan, Yang Mulia!"

"Jadi adalah roda-rodanya, ataukah kerangkanya, atau

gagang benderanya, atau kuknya, atau tali kekangnya, atau tongkat pemacunya?"

"Bukan, Yang Mulia!" "Kalau begitu perpaduan antara gandar, roda, kerangka, gagang bendera, kuk, tali kekang, dan tongkat pemacu, yang merupakan kereta?"

"Bukan, Yang Mulia!"

"Maka, seperti yang ingin sahaya tanyakan, apakah sahaya dapat menemukan sebuah kereta sama sekali. 'Kereta' ini hanyalah suatu bunyi. Namun apakah kereta yang sebenarnya? Paduka telah menceritakan kebohongan, telah berdusta! Sebenarnya tidak ada kereta! Paduka adalah raja terbesar di seluruh India. Lantas kepada siapakah Paduka merasa takut untuk menyatakan kebenaran?"

Lantas Nagasena menyatakan.

"Kini dengarlah kalian 500 orang Yunani dan 80.000 pendeta, Raja Milinda ini mengatakan kepadaku telah datang menunggang kereta. Namun ketika dim inta menjelaskan kepadaku apakah sebuah kereta itu, ia tidak dapat meyakinkan keberadaannya. Bagaimana seseorang mungkin bersetuju dengan itu?"

Limaratus orang Yunani itu kemudian memberi tepuk tangan kepada Yang Mulia Nagasena dan berkata kepada Raja Milinda.

"Sekarang cobalah Paduka keluar dari masalah ini jika mampu!"

Namun Raja Milinda berkata kepada Nagasena.

"Nagasena, aku tidaklah berdusta. Atas ketergantungannya kepada kuk, roda-roda, kerangka, gander, gagang bendera, dan lain-lainnya, di sanalah terletak satuan 'kereta', penandaan, istilah bagi suatu pengertian, sebutan umum, dan sebuah nama."

"Paduka telah berbicara dengan baik perihal kereta. Begitu juga dengan sahaya. Dalam ketergantungannya kepada 32 bagian tubuh dan lima Skandha )3 terdapatlah satuan 'Nagasena', penandaan ini, istilah bagi suatu pengertian, sebutan umum dan hanya sebuah nama. Dalam kenyataan yang paling dimungkinkan, betapapun, pribadi ini tidak dapat terlihat. Dan inilah yang telah dikatakan Vajira, saudara perempuan kita, ketika bermuka-muka dengan Sang Buddha: 'Pada tempat unsur-unsur pokok ini hadir, kata sebuah kereta diterapkan. Jadi, begitu pula, pada tempat skandha berada, istilah badan pada umumnya digunakan.'"

"Bagus sekali, wahai Nagasena, mengherankan! Dengan sangat cerdas pertanyaan-pertanyaan ini telah Tuanku jawab! Jika Sang Buddha sendiri berada di sini, akan disetujuinya pula apa yang telah Tuanku katakan. Tuan telah membicarakannya dengan cakap, wahai Nagasena! Perbincangan yang cakap!"

)4

(Oo-dwkz-oO)

AKU memang terbangun pada hari ketiga. Ketika membuka mata kulihat Harini menatapku sambil berurai airmata, meski pada saat mataku terbuka airmata itu memang sedang dihapusnya. Dalam pandanganku yang masih kabur terlihat wajah Harini yang bahagia dan aku taktahu betapa memang tiga hari lamanya aku terkapar dan tidak bergerak seperti orang mati. Aku merasa sangat lemas dan takbisa menggerakkan tubuhku.

"Jangan bergerak dulu, telan dulu ramuan ini," kata Harini.

Menggunakan daun yang ujungnya terlipat dan dikunci dengan lidi, Harini menyuapiku. Waktu kutelan ramuan itu aku hampir muntah karena pahitnya luar biasa. Namun Harini segera membuka mulutku agar ramuan itu tetap masuk. Ini seribu kali lebih pahit dari daun papaya, pikirku, siapa bisa menjamin ini semua bukannya racun?

(Oo-dwkz-oO)