-->

Nagabumi Eps 29: Tanpa Mata Ketiga

Eps 29: Tanpa Mata Ketiga

KURASAKAN angin yang berdesau kencang begitu aku jatuh meluncur ke bawah. Aku memang telah menguasai ilmu meringankan tubuh, tetapi hanya dalam hubungannya dengan kebutuhan untuk berlari secepat angin, bahkan bila perlu lebih cepat dari angin itu sendiri. Selain berlari, aku juga telah sangat terlatih memanfaatkannya untuk melompat ke atas, ibarat melawan daya tarik bumi yang berputar karena tarikan matahari. Tentu bersama dengan itu aku harus menguasai pula ilmu melompat turun dengan ringan seperti kapas. Apalah artinya melompat dari genting ke genting tanpa suara tetapi mendarat di tanah dengan suara bergedebuk?

Namun setinggi-tinggi lompatan dengan ilmu meringankan tubuh, tidaklah akan setinggi tebing ini. Dalam pertarungan melawan murid Naga Hitam yang bernama Si Nalu, kami juga melompat dari batu ke batu dan dari dahan ke dahan sebelum kami berdua mencapai dataran di atas tebing ini, tempat sebuah pertapaan telah dibangun untuk memencilkan diri. Ini berarti aku juga tidak akan mampu meringankan tubuhku ketika melompat ke bawah, jika jaraknya melebihi jarak yang mampu dicapai oleh lompatanku ke atas. Sedangkan jarak antara dataran di atas tebing itu dengan tanah di bawahnya ratusan kali lipat jarak antara tanah dan puncak pohon kelapa, kemampuanku melompat ke atas saat itu. Ini berarti tubuhku akan hancur ketika jatuh terbanting. Meluncur dan meluncur ke bawah seperti batu tanpa mampu meringankan tubuh sama sekali. Apakah riwayatku akan tamat sampai di s ini?

Kenapa aku bisa begitu lengah? Namun siapa akan menduga betapa seorang pendeta yang tampak begitu alim dan cendekia akan mendorong dengan tenaga dalam luar biasa? Betapa tiada akan luar biasa pula jika bahkan hanya anginnya saja, dan bukan sentuhan tangannya yang mendorong ke depan, telah membuatku terpelanting melewati tepi tebing dan kini me luncur ke bawah seperti batu dengan cepat sekali?

Meski meluncur dengan sangat cepat aku masih bisa berpikir, dan itulah sebabnya aku bisa mengambil kesimpulan betapa aku tidak akan tertolong lagi. Bagaimanakah caranya seseorang atau sesuatu bisa menolongku dalam keadaan seperti ini? Tak ada ranting yang dapat sekadar kuraih dan tiada pula sesuatu di bawah sana akan dapat menampung kejatuhan diriku tanpa luka yang berarti

KUBUKA mataku dalam kejatuhanku dan tiba-tiba muncullah sosok berbusana kulit kayu yang meluncur cepat sekali dari atas, dengan kepala di bawah dan kedua tangan lurus merapat ke samping tubuh seperti berusaha menembus udara, tetapi yang mendadak lambat ketika sete lah menyalipku kakinya maju ke depan dan tangannya meraih tubuhku untuk dibopongnya. Begitulah ia mendarat dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna sambil membopongku, meski kemudian aku dilemparnya begitu saja ke atas tanah, karena memang dengan hanya berguling sekali aku lantas melompat berdiri.

Aku langsung menjura kepada sang pendeta yang telah menjatuhkan, tetapi juga sekaligus menyusul dan menangkap tubuhku itu, untuk menyatakan terima kasihku kepadanya. Namun apa yang terjadi? Ternyata ia mendorongkan lagi tangannya ke depan, dan sekali lagi tubuhku terlontar ke udara begitu rupa, Di udara aku berjungkir balik untuk memunahkan pengaruh dorongan angin pukulannya yang sangat bertenaga itu. Belum lagi mendarat sosok berbusana kulit kayu itu sudah berada di depanku untuk sekadar menyentuh dadaku dengan ujung jari-jarinya, tetapi akibatnya membuat aku terpelanting menggelosor di tanah meninggalkan jejak seretan tubuh yang panjang di tanah.

Aku segera melenting berdiri dan pasang kuda-kuda. Namun ke manakah sosok berbusana kulit kayu itu? Tiba-tiba saja aku terjatih dengan wajah terjerembab ke tanah, karena sebuah dorongan ringan dari belakang pada punggungku. Aku segera melompat jungkir balik ke belakang, tetapi rupa- rupanya aku memang sedang diperma inkan oleh seseorang yang tingkat kepandaian ilmu silatnya bagaikan seratus kali di atasku. Jangankan untuk membalas, bahkan untuk menghindari serangan tanpa membalas pun tidaklah dimungkinkan. Ia selalu mendorong dan menyentuh tanpa melukaiku, yang tidak kurasakan sebagai keberuntungan, melainkan penghinaan, karena dengan begitu aku akan mengalami kekalahan tanpa kematian. Suatu tabu dalam dunia persilatan.

Aku sudah membuka mulut untuk meminta penjelasan, tetapi pikiranku terbaca dengan cepat.

"Jangan bicara," katanya dengan suaranya yang lemah, "awas kepala!"

Aku menyerang ke arah suara itu, tetapi hanya menyapu angin. Di sekelilingku berkelebat terus menerus bayangan kuning tanpa bisa kulihat sosoknya dengan jelas. Ilmu silat pendeta yang kurus kering ini tentu tinggi sekali. Seberapa cepat pun aku bergerak dan seberapa banyak tenaga dalam telah kukerahkan, bahkan untuk melihatnya secara tegas pun aku tidak mampu. Ia akan tampak hanya jika ia ingin aku melihatnya.

"Aku di sini," katanya selalu. Namun ketika aku menoleh dan menyerangnya setelah terlihat ia berada di mana, segera ia akan menghilang kembali.

Apa maksudnya ia mempermainkan aku seperti itu? Suatu ketika ia menyerang dari arah tertentu, dan seperti memberi kesempatan aku menangkisnya, tetapi ia mengulang jurus yang sama dari arah yang sama secara terus menerus, yang tidak memberi peluang kepadaku untuk menangkis secara lain. Pengulangan itu dilakukannya setiap kali dengan kecepatan yang bertambah tinggi dan tenaga yang makin berisi. Tidak hanya dalam bentuk pukulan satu jurus, tetapi jurus-jurus dalam suatu rangkaian, yang karena begitu seringnya diulang-ulang tanpa memberiku kesempatan menangkis secara lain, tanpa kukehandaki lantas aku menguasai rangkaian jurus-jurus tertentu.

Apakah yang sedang dilakukannya dengan terus menyerang tanpa membunuhku seperti itu? Aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku, tetapi ia bergerak sangat cepat tanpa bisa kulihat. Seharusnya dari tadi ia membunuhku. Ia selalu mampu menembus pertahananku dengan sentuhan-sentuhan ringan, Aku merasa sangat tidak enak, seperti diperma inkan, tetapi tidak mendapat peluang apapun kecuali untuk menangkis, menangkis, dan menangkis, dan ia tidak akan berhenti menyerang demi jurus tangkisan tertentu sebelum aku berhasil menangkisnya. Namun begitu aku berhasil menangkis dengan segera ia menyerang dengan jurus lain yang menghendaki tangkisan lain, yang tentu saja mula-mula selalu menembus pertahananku.

Kami bertarung sampai jauh malam, sampai akhirnya ia berkelebat menghilang di balik kelam.

Aku terengah-engah sendirian dalam kegelapan. Siapakah pendeta ini? Benarkah ia sa lah satu dari pendeta yang selalu bertapa, berdoa mengelilingi pertapaan sambil memegang tasbih, dan hanya makan dari hasil bercocok tanam?

Jika ia memang selama ini berada di sana dan mengetahui keberadaanku, bukankah selama ini berarti ia mengawasi aku?

Menilik busananya yang berbeda, mengapa aku sampai tidak mengetahuinya? Mungkinkah sebenarnya ia tidak termasuk di antara penghuni wihara yang berada di sana? Betapa cerobohnya aku yang tak dapat melindungi bahkan keselamatanku sendiri. Bagaimana mungkin berharap akan menyelamatkan seluruh desa dari pembantaian Naga Hitam? Aku telah mendengar tindak angkara murka Naga Hitam terhadap siapa pun yang berani melawannya, apalagi membunuh salah seorang muridnya. Namun belum lagi bertemu dengan Naga Hitam, seorang lawan tangguh yang begitu tangguhnya sehingga begitu mampu mempermain- mainkan diriku telah muncul, dan tentunya kalau mau sangat mampu membunuhku.

Dalam kegelapan malam aku berpikir, masih perlukah aku naik lagi ke vihara di atas tebing itu? Peristiwa itu membuat aku merasa dipermalukan, karena merasa telah ditunjukkan betapa aku telah memandang para bhiksu dengan sebelah mata, bahwa aku tidak pernah memandang mereka itu mungkin saja memiliki ilmu silat, apalagi ilmu silat dengan tingkat yang sangat tinggi!.

Bhiksu itu jelas ingin menunjukkan betapa ilmu silatku masih rendah. Itu menjadi semacam peringatan agar aku tidak terlalu percaya diri untuk mampu menghadapi Naga Hitam. Namun berapa lama lagikah aku bisa melatih diri agar siap mengimbangi ilm u silat Naga Hitam, jika sewaktu-waktu penguasa wilayah persilatan Kubu Utara itu datang menerjang?

Betapapun telah kupelajari Jurus Penjerat Naga dengan cepat, tetapi kusadari apalah artinya kecepatan dan tenaga dalam seorang remaja 15 tahun bagi tokoh besar seperti Naga Hitam? Aku perlu waktu bertahun-tahun untuk melatih ilmu silatku dan juga akan lebih terbantu jika mendapat lawan latih-tanding yang akan mampu mengasah jurus-jurus yang kupelajari itu. Jika hanya berlatih sendiri seperti se lama ini, aku tidak akan mengetahui kesalahan kesalahanku.

Aku teringat betapa lebih mudahnya ilmu silat merasuk, ketika selalu berlatih-tanding dengan pasangan pendekar yang mengasuhku. Betapa segenap serangan mereka telah memancing keluar dan mengasah seluruh kemampuanku.

Namun menghadapi lawan yang berat seperti sekarang ini, tiada lagi kedua orangtuaku itu. Mendadak saja kurasakan betapa mendalam aku telah menjadi bagian dari kehidupan mereka, sehingga ketiadaan mereka sekarang sungguh terasa sebagai kekosongan. Dalam kelam kurasakan kesenyapan yang kering, kesenyapan yang menggelisahkan clan memberi perasaan tidak enak. Aku -kenang kepada pasangan pendekar yang telah berlaku sebagai orangtuaku dalam keadaanku sekarang yang penuh dengan tekanan.

Aku masih 15 tahun. Benarkah aku siap untuk hidup mandiri? Betapapun misalnya aku tidak akan menangis maupun kelaparan, mesti kuakui terdapatnya kerinduan teramat sangat yang menyayat perasaan. Aku ingin sekali mereka berada di sini sekarang ini. Aku ingin mereka ada di sisiku sekarang ini!

Aku melangkah dalam kekelaman menuju ke kampung dengan perasaan sendu. Dalam perjalanan kujumpai sejumlah orang yang sedang membawa benda benda upacara menuju ke sebuah patung Durga. Kuketahui juga keberadaan patung itu yang berada di luar desa. Dewi Durga dalam kitab-kitab Purana dan Tantra adalah pembinasa asura, penguasa tanam- tanaman dan kesuburan selain juga menguasai berbagai penyakit menular.

Namun di Yavabhumi hanya dikenal sebagai pembinasa dan penguasa penyakit; sedangkan kedudukannya sebagai penguasa tanaman dan kesuburan digantikan oleh Sri Laksmi yang lambat laun hanya disebut sebagai Dewi Sri.

Di sini, Durga dipuja dalam upacara-upacara Tantra Vamacara yang dilakukan oleh aliran Siva yang disebut aliran Bhairava atau Bhairavapaksa. Ibuku bercerita bahwa di Jambhudvipa aliran ini disebut Kapalika dan kebengisannya tampak dalam cara menghukum manusia yang melanggar tabu di tempat tinggal Durga, yang tentu maksudnya adalah tempat patung itu berada. '

Kulihat mereka membawa benda benda upacara. Sebegitu jauh tidak terlihat korban manusia. Namun aku tahu bahwa di kaki patung yang digambarkan terdiri dari sejumlah tengkorak manusia, terdapat juga tengkorak-tengkorak manusia yang sebenarnya. Aku bergidik, teringat berbagai bentuk pemujaan seperti yang tertulis dalam kitab-kitab. Dalam Pattupadu terdapat uraian tentang Korravai, tiada lebih dan tiada kurang nama lain bagi Durga dalam bentuknya yang mengerikan:

dengan menggerakkan bahunya

yang sangat bidang is menarl-nari

menarikan tari kemenangan di depan anaknya, Murugan

dengan rambutnya yang kusut

dan giginya yang besar-besar dan tidak rata menghiasi mulutnya yang lebar

mata berputar-putar karena marah wujudnya sangat menakutkan dengan telinga dihias i anting-anting berupa ular dan burung hantu perut buncit

gerak-gerik menakutkan

mencongkeli mata sebuah kepala berwarna hitam kemudian dimakannya sehingga mulut berlumuran darah

Juga dalam kitab Sillapadikaram cerita tentangnya tidak kalah mengerikan:

rambut lengket diikat di atas kepala kulit mengkilat bagaikan kulit ular kobra cula babi hutan menghias i rambutnya bagaikan sebuah bulan sabit

mata ketiga di dahinya leher benwarna hitam karena minum racun

kalungnya untaian gigi harimau kulit binatang melilit pinggang baju terbuat dari kulit gajah busur siap pakai di tangan

naik seekor kijang tanduk bercabang

genderang berbunyi terompet melengking-lengking suku Maravar membunuh kerbau di depan patungnya sebagai persembahan

seperti juga biji-bijian yang dimasak, wwang-wwangan, burung merak, dan unggas lainnya

Wwang-wwangan itulah yang antara lain kulihat dibawa oleh orang-orang yang berangkat untuk memuja Durga tadi. Lebih baik wwang-wwangan daripada manusia, pikirku, juga lebih baik daripada kerbau atau ayam yang tiada berdosa. Namun mereka sungguh hidup di dalam kepercayaannya dan aku sungguh tidak merasa berhak mempersalahkan apa pun dari segala sesuatu yang mereka percaya.

Namun di hadapanku lantas muncul sosok hitam dari balik kelam. Penduduk yang berpapasan denganku sudah tidak terlihat lagi, jadi ia bukan salah satu dari mereka. Namun betapa mirip ia dengan Durga. Rambutnya yang lengket diikat di atas kepala. Kulitnya berkilat seperti kulit ular kobra dan cula babi hutan menghiasi rambutnya seperti bulan sabit layaknya. Apakah ia sengaja meniru penampilan Bhatari Durga? Tentu ia tidak memiliki mata ketiga, tetapi memang kulit binatang melilit pinggangnya, perutnya buncit, tetapi ia bukan seorang wanita. Di balik rompi kulit gajahnya yang terbuka hanya terdapat dada berbulu saja. Ia menyandang busur yang menyilang badannva, sedang tangan kanannya memegang sebuah anak panah. Ketika tertawa, cahaya rembulan memperlihatkan giginya yang besar-besar. Ia berdiri tegak di sana, menjulang seperti raksasa.

"Hahahahahaha? Jadi dikaulah anak kecil yang membunuh Si Nalu? Hahaha- -haha! Aku tidak mengerti kenapa aku harus juga membunuh dirimu,tetapi set idaknya kepalamu bisa kupersembahkan kepada Durga!.

"Huahahahahahal" Aku terkesiap. Mulutku mengucap. "Naga Hitam..."

Orang itu mendadak terdiam.

"Tak perlu tangan guruku untuk membunuhmu..."

Ia berkelebat cepat dalam gelap dan segera mengurungku bagaikan angin putting beliung dengan panahnya yang dima inkan seperti pedang. AKu tidak membawa senjata. Pedangku masih berada di atas, di wihara. Ketika bhiksu yang Sakti itu mendorongku dengan angin pukulannya sampai aku jatuh, aku sedang beristirahat dari latihan dan menikmati senja. Kini aku mengerti pesan orangtuaku, bahwa seorang pendekar harus selalu siap menghadapi bahaya setiap saat, seperti memang akan ada seseorang yang selalu siap membunuhnya.

Tubuh lelaki berambut lengket dengan baju rompi kulit gajah seperti asur, pembinasa ini, meskipun tinggi besar seperti raksasa, ternyata sangat lincah dan ringan sehingga kecepatannya sangat luar biasa. Aku melenting-lenting berusaha menghindari kepungannya, tetapi ia terus-menerus selalu berhasil mengejarku. Ujung anak panahnya hampir selalu mengarah ke leherku. Setiap kali berhasil menghindar tercium olehku bau am is dari racun jahat pada mata anak panah itu. Kulihat leher raksasa itu yang sudah menghitam, seolah-olah ia pernah menguji segenap keampuhan racun dengan menelannya sendiri! Ia pasti seorang ahli racun, dan benar juga mulutnya mulai meludah-ludah sembari menyerangku.

Aku mengerahkan kecepatanku, tetapi suatu ketika ludahnya mengenai mataku. Meski hanya mata sebelah kiri yang terkena, pengaruhnya besar sekali, karena tangan kananku langsung lumpuh. Semua ini berlangsung cepat sekali. Kini kutangkis segenap serangannya dengan tangan kiri. Ini tentu tidak cukup untuk menghadapi lawan dengan ilmu silat setinggi itu. Sebuah pukulan telapak tangan mengenai dadaku. Aku terguling-guling sambil memuntahkan darah segar.

Aku terkapar tanpa bisa bangkit kembali. Mataku yang sebelah kiri tidak bisa dibuka. Kudengar suara langkah mendekat. Sekali lagi terlihat cula babi hutan itu bagaikan bulan sabit yang menghias i rambutnya. "Siapa namamu, Nak?" katanya sembari mengangkat anak panah itu. Membunuhku kali ini semudah membalik telapak tangan.

Dengan sebelah mataku kutatap matanya. Aku menggeleng lemah. "Tanpa nama "

Ia menghentikan gerak anak panah yang dipegangnya, menirukan aku dengan sangat pelahan.

"Tanpa nama. ?"

Namun ia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Tanpa Nama! Huahahahahaha! Pendekar Tanpa Nama!

Huahahaha?haha!"

Lantas ia melemparkan anak panahnya ke arah jantungku. (Oo-dwkz-oO)