-->

Nagabumi Eps 24: Kejatuhan Mayat yang Terkena Embun

Eps 24: Kejatuhan Mayat yang Terkena Embun

Saat itu tahun 786. Umurku baru 15 tahun dan Rakai Panunggalan baru berkuasa. Kekuasaannya tidak akan terlalu lama, hanya sembilan tahun, dibanding pendahulunya, Rakai Panamkaran, yang berkuasa 38 tahun, dan Sanjaya yang berkuasa 24 tahun. Sanjaya disebut pendiri kerajaan Mataram, tetapi bahkan sejak kekuasaan pendahulunya, yakni Sanna, wilayah kekuasaan yang disebut kerajaan hanya mungkin diakui me lalui penaklukan raja-raja di sekitarnya. Namun meski penaklukan tersebut tidak selalu melalui suatu pendudukan, melainkan pengakuan atas kedaulatan oleh para penguasa yang takluk,1) bukan berarti tidak berlangsung gerakan perlawanan. T iada kekuasaan raja tanpa perlawanan, bahkan sang raja harus mempertimbangkan dan menawar setiap gerakan perlawanan tersebut, yang akan membuatnya tetap bertahan. Kiranya itulah yang membuat kehadiran Siwa dan Mahayana tidak menimbulkan perpecahan di Yawabumi.

Agama tidak akan menimbulkan perpecahan, tetapi mereka yang berkepentingan untuk mengambil bagian dalam perebutan kekuasaan, tidak akan melupakan keberadaan agama untuk dimanfaatkan. Keadaan semacam itulah yang sedang berlangsung di Yawabumi bagian tengah, ketika aku mengawali pengembaraanku yang akan menjadi panjang.

USIAKU masih 15 tahun, Aku menyoren pedang di punggungku dan aku membawa sejumlah besar kitab di dalam sebuah peti kayu. Kuletakkan peti kayu itu di dalam pedati yang ditarik seekor kerbau. Aku duduk di atas punggung kuda, kebingungan akan pergi ke mana dengan beban peti kayu itu. Sudah jelas orang-orang dunia persilatan berkepentingan dengan isi peti kayu tersebut, kitab-kitab ilmu persilatan dan ilmu pengetahuan-barangkali mereka tidak menghendaki semuanya, terutama tentu Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar, yang telah membuat pasangan pendekar yang mengasuhku menjadi jaya dan takterkalahkan. Namun aku merasa harus tetap menyelamatkan semuanya. Kusadari betapa pengetahuanku belum memadai untuk menentukan kitab mana yang lebih baik dari yang lain.

Kitab I lmu Pedang Naga Kembar kusimpan dalam kantung kulit bertali kain yang melilit tubuhku, siapapun yang bermaksud merampasnya harus melangkahi mayatku lebih dahulu. Namun aku tidak menganggap kitab-kitab lain yang berada di dalam peti kurang penting dibandingkan Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar. Kuingat ayahku pernah berkata, kedudukan segenap pengetahuan dalam dunia ilmu adalah setara. Apalah artinya ilmu persilatan tanpa ilmu pengobatan? Apalah artinya ilmu pengobatan tanpa ilmu tumbuh- tumbuhan? Apalah artinya ilmu tumbuh-tumbuhan tanpa ilmu pengetahuan tentang tanah, iklim, dan musim?

"Keberadaan ilmu yang satu ditentukan oleh keberadaan ilmu yang lain, anakku," ujar ayahku, "pengetahuan yang satu berkaitan dengan pengetahuan yang lain, ilmu pengetahuan adalah susunan pengetahuan-pengetahuan itu sendiri, yang satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain."

Makanya semua kitab ini menjadi penting bukan? Kurasakan betapa beratnya tanggungjawab untuk menyelamatkan kitab-kitab ini. Bukan karena ingin menguasai pengetahuan sendirian, melainkan karena jika jatuh ke tangan yang haus kekuasaan, ilmu pengetahuan akan menjadi alat penindasan yang mengerikan.

"Kalau suatu hari dikau mewarisi kitab-kitab ini anakku," ujar ibuku, "jangan pernah dikau biarkan jatuh ke tangan orang-orang jahat. Terutama jangan sampai direbut dan dikuasai ilmunya oleh orang-orang golongan hitam."

Meskipun orang-orang golongan hitam mampu mempelajari ilmu-ilmu yang berat dan membuat mereka menjadi orang berilmu tinggi, ibuku tidak pernah sudi menyebut mereka sebagai pendekar. "Alangkah berbahayanya ilmu pengetahuan yang mengabdi kejahatan," katanya selalu, "jangan pernah lupa bahwa ilmu pengetahuan harus dipersembahkan bagi kemanusiaan."

Dalam perjalanan tiba-tiba aku menjadi sedih mengingat hari-hariku bersama pasangan pendekar itu. Tidak kupedulikan lagi siapa sebenarnya diriku. Bagiku merekalah orangtuaku dan hanya itulah yang bagiku akan selalu berlaku. Meskipun aku masih berusia 15 tahun, aku tidaklah begitu naif untuk melihat diriku sendiri sebagai remaja, karena sejak aku mulai menyadari keberadaanku di dunia, aku selalu mengamati dan meresapi dunia di sekelilingku dengan perhatian sepenuhnya.

Begitulah aku berjalan dari hari ke hari tanpa tujuan, tetapi dengan kepala yang penuh berisi dengan renungan. Aku berhenti hanya untuk memberi kesempatan kuda dan kerbau itu untuk makan rumput, minum, dan terutama bagi kerbau itu untuk mandi di kali. Sembari mereka beristirahat, aku akan tidur-tiduran di bawah pohon yang rindang. Terus menerus membaca kitab-kitab itu satu persatu. Aku merasa bersyukur kedua orangtuaku mengajarkan aku membaca dan menulis, dan meskipun aku saat itu belum mampu menulis untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanku, setidaknya aku mampu menyalin sembari membaca baik-baik kitab yang disa lin.

Kedua orangtuaku memberi aku tugas menyalin kitab-kitab yang keropaknya mulai usang dimakan waktu. Ada yang bahkan sudah merupakan hasil salinan semenjak abad-abad yang telah silam. Betapa manusia mempertahankan pengetahuan yang sudah didapatnya itu dari zaman ke zaman. Ketika aku menyalin itu, meskipun bagi orangtuaku tujuannya adalah latihan menggoreskan pengutik di atas keping-keping rontal yang telah menjadi lontar, tetapi dengan begitu aku menjadi pembaca yang mau tidak mau menjadi cermat. Orangtuaku yang tinggi budi juga selalu membicarakan isi kitab-kitab itu sebatas wawasan pengetahuanku. Namun meski takpaham dan takmengerti seperti telah kuceritakan tadi, aku akan tetap selalu mendengar perbincangan mereka sendiri, yang selalu teringat ibarat tulisan pada keropak yang setiap saat bisa kubaca kembali. Begitu pula dengan Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar yang sedang kubaca. Aku membaca kembali sembari mencari kemungkinan, bagaimanakah caranya ilmu pedang berpasangan itu akan bisa dibawakan oleh satu orang, bahkan hanya dengan satu pedang.

AKU mengingat bagaimana orangtuaku membicarakannya. "Apakah ilmu pedang ini bisa dimainkan tanpa pasangan?" "Tentu sulit, karena dalam pengertian pasangan

terkandung serangan serentak dengan empat pedang, ini tidak

mungkin dilakukan satu orang. KecualiO" "Kecuali ia bisa memecah diri jadi dua orang."

"Artinya mempunyai kemampuan bergerak sangat cepat, sehingga mampu berada di segala tempat dengan seketika."

"Tapi tidak mungkin seseorang mempunyai kemampuan macam itu kan?"

"Mungkin saja."

"Tidak mungkin, karena kecepatan seseorang terbatas dan tidak juga mungkin menggandakan tubuhnya."

"Bukan tubuhnya yang harus digandakan, tetapi bayangan tentang dirinya itu yang dapat mengelabui lawan sebagai dua orang yang menyerang bersamaan dengan empat pedang di tangan kiri dan kanan masing-masing."

Aku membaca Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar sambil tiduran di bawah pohon yang rindang. Di samping pohon itu terdapat sungai kecil tempat kerbau berendam. Kudaku merumput di dekatku sembari menggerak-gerakkan ekornya. Aku membaca sambil mengisi perut dengan jambu mete. Di seberang sungai kecil itu terdapat hamparan sawah menguning yang mengundang burung-burung pipit. Anak- anak yang menjaga sawah memainkan orang-orangan dengan tali untuk menakuti burung-burung pipit itu. Ke manakah orang-orang dewasanya?

Aku masih asyik membaca ketika kusadari sejumlah orang mendatangiku dari kejauhan. Orang-orang desa yang berikat kepala dan bertelanjang dada. Segala macam alat pertanian mereka bawa, seperti siap menggunakannya sebagai senjata. Apakah mereka membawa persoalan? Meskipun ilmu meringankan tubuhku masih berada pada tingkat yang paling dasar, aku masih bisa menghilang dari hadapan mereka dengan mudah, tapi bagaimana dengan kuda, kerbau, dan tumpukan keropak dalam peti kayu di atas gerobak itu? Aku pergi meninggalkan pondok di Celah Kledung yang telah kutempati se lama limabelas tahun untuk menyelamatkan kitab-kitab ini dari penjarahan. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Namun aku memang belum tahu apa yang harus kulakukan.

Setidaknya aku bisa melompat berdiri dan menyimpan kembali Kitab Imu Pedang Naga Kembar di dalam kantung kulit yang se lalu melekat di tubuhku. Orang-orang desa ini menghentikan langkahnya. Mereka mengitari aku dan kudaku. Seseorang tampak mendekati peti itu dan seperti berniat membukanya.

"He! Jangan sentuh peti itu!"

Anak muda itu berhenti. Ia hanya beberapa tahun lebih tua dariku tampaknya. Keadaan menjadi tegang.

"Buka!" Seseorang berkumis tebal melintang, tetapi sebagian sudah beruban, memberi perintah. Ia tampak berwibawa dan disegani di antara orang-orang ini.

Dengan segera tanganku sudah memegang dan aku melesat meloncati ubun-ubun mereka untuk mendarat di depan peti. Ujung pedangku sudah menempel pada dagu pemuda itu.

"Selangkah lagi kalian maju, leher anak ini tembus sampai ke belakang"

Mereka tertegun. "Jaluk!"

Seorang yang lebih berumur lagi menyeruak, rambutnya

sudah putih semua, meskipun tubuhnya masih sangat tegap. Kurasa mereka semua orang baik-baik dan anak muda yang kujadikan sandera ini adalah anaknya.

"Jangan bergerak!" Aku   menggertak dan mendorong pedang itu sedikit.

"Bapak!"

Anak muda itu takut sekali rupanya. Tak seorangpun melakukan sesuatu. Ini saatku bicara.

"Apa yang kalian mau dari aku? Aku tidak mempunyai kesalahan apapun kepada kalian. Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat dan menumpang berteduh di bawah pohon ini. Jika itu merupakan kesalahan aku m inta maaf dan meminta iz in, juga untuk kudaku yang memakan rumput di desa ini dan kerbauku yang mandi di sungai kecil itu. Maafkan aku! Aku akan segera pergi jika dianggap mengganggu, tapi jangan sentuh peti ini, karena aku akan membunuh anak muda ini sebelum kalian mengeroyok dan membunuhku." Orang-orang desa ini saling berpandangan. Mereka telah melihat bagaimana aku melayang dengan mudah di atas ubun-ubun mereka. Artinya aku juga bisa menghabisi nyawa mereka jika menghendakinya, dan memang hanya itulah yang bisa kulakukan jika terpaksa bentrok dengan mereka, karena ilmu s ilatku masih sangat terbatas.

TIDAKLAH terlalu mudah melumpuhkan seseorang tanpa membunuhnya dalam pertempuran keroyokan, seperti yang akan mereka berlakukan kepadaku, kecuali memiliki ilm u silat tingkat tinggi.

"Anak! Sabarlah!" Orang tua berambut putih itu mengangkat kedua tangannya, "Biarkan Bapak bicara, dan marilah kita bicara baik-baik!"

Aku melihat peluang menghindari bentrokan. Namun aku juga harus tetap hati-harti.

"Baik jika begitu! Mundurlah tiga langkah dan mari kita duduk di atas rumput setelah menyarungkan senjata kita masing-masing."

Aku bisa menyarungkan pedangku. Namun alat-alat pertanian yang dibawa orang-orang desa itu bukanlah senjata, jadi tidak ada sarungnya, mereka letakkan saja di atas rumput setelah mendengar kata-kataku. Anak muda yang kusandera tadi kum inta tetap duduk di dekatku.

"Silakan bicara Bapak, jika sahaya memang belum diiz inkan pergi..."

"Anak! Begini ceritanya..."

(Oo-dwkz-oO)

SEMALAM di Desa Balinawan, desa yang kulewati ini, tergeletak sesosok mayat dengan darah berceceran di tegalan Gurubhakti. Mayat itu tergeletak begitu saja, tak jelas siapa meletakkannya, bahkan bukan penduduk Balinawan pula. Barangkali seseorang telah membunuhnya di tempat lain dan meletakkannya di sana, karena penduduk desa saling mengenal dengan baik dan semua orang jelas berada di balai desa menonton wayang topeng. Karena tegalan Gurubhakti termasuk wilayah desa Balinawan, maka penduduk Balinawan yang akan menanggung denda sesuai peraturan kerajaan saat itu. Kejadian itu bukanlah yang pertama, bahkan cukup sering, sehingga dana bersama penduduk akhirnya habis untuk membayar denda. Mereka menjadi m iskin dan menaruh dendam kepada orang-orang yang tidak mereka ketahui s iapa, karena meskipun telah didatangkan tiga orang patih dari istana, tetap saja rah kasawur in dalan dan wipati wankay kabunan terjadi.

Tanah mereka kini sebenarnya telah menjadi sima, bebas dari denda, tetapi keamanan yang belum terjamin mengganggu perasaan mereka. Karena mereka hanya merelakan tanahnya jika bisa hidup tenang dan tenteram. Semestinyalah sima adalah suatu anugerah, tetapi dalam kenyataannya penduduk desa bagaikan tidak memiliki tanah mereka dengan bebas, meski ibarat telah membeli keamanan dengan tanah itu. Siapakah yang mengacaukannya?

"Anak! Bapak melihat Anak memiliki kelebihan. Mohon sudilah tinggal sejenak di Balinawan ini untuk membantu pemulihan keamanan desa kami. Mohon! Sudilah!"

Aku tertegun dan bukan tidak menyadari perilaku orang desa yang naif itu. Aku percaya ia meminta dengan tulus, tetapi apakah orang tua itu tidak meminta kepada orang yang salah? Aku baru berumur 15 tahun! Tidak sepantasnya diberi tanggung jawab memelihara keamanan desa seperti ini. Apalagi dari suatu keadaan yang membutuhkan perhatian seksama dan sangat berbeda dari sekadar masalah kekerasan dalam dunia persilatan. Adapun dunia persilatan saja belum kugeluti sepenuhnya. Apalah yang bisa dilakukan seseorang yang berumur 15 tahun di Yawabumi abad VIII meski bisa menulis dan membaca? Sampai sekarang pun aku tidak terlalu yakin para raja dalam sejarah Yawabumi bisa membaca. Para kawi se lalu merendahkan diri mereka dalam manggala karya- karyanya bahwa seluruh kepandaiannya diabdikan kepada sang raja yang kedudukannya seperti dewa. Namun kurasa mereka tahu benar, betapa mereka menggenggam dunia sebagai pemilik sabda yang telah disucikan oleh segala mantra.

"Bapak! Sahaya hanyalah seorang anak ingusan, pengembara miskin tanpa kekayaan, yatim piatu yang merana tanpa bekal kemampuan! Sahaya seorang bodoh tanpa pengalaman!"

"Anak! Mohon bantulah kami Anak! Kepadamulah kupasrahkan segala nasib desa ini!"

AKU tertegun. Orang tua itu bersujud dan menyembah- nyembah sampai wajahnya terbenam di tanah. Apakah yang bisa kulakukan sebenarnya dalam membela sebuah desa dari tangan-tangan ulah sahasa?

"Bapak! Sahaya hanya seorang bocah ingusan! Ampunilah sahaya!"

"Anak! Nasib kami di tangan Anak! Ampunilah kami!"

Ini pasti karena aku telah melompat jungkir balik dengan ringan di atas ubun-ubun mereka. Kuduga mereka belum pernah melihat seorang pendekar yang sebenarnya, barangkali juga tidak menyadari kalau dunia persilatan itu ada. Perbendaharaan wacana penduduk desa adalah kisah-kisah kepahlawanan penuh percintaan yang dibacakan dari keropak.

Dalam kisah-kisah itu para pahlawan memiliki kesaktian yang ajaib, karena para pahlawan adalah para ksatria penjelmaan dewa. Apabila kemudian mereka dalam dunia nyata lantas menyaksikan peristiwa di luar dugaan seperti yang telah kuperagakan, tidakkah terdapat bahaya betapa mereka telah menganggapku sebagai penjelmaan dewa? Alangkah berbahaya! Namun aku tidak melihat suatu jalan untuk melepaskan diri dari keadaan ini. Setidaknya hidupku kini mempunyai suatu tujuan, meski hanya untuk sementara, yakni mengembalikan keamanan Desa Balinawan. Dalam usia 15 tahun, gairahku untuk membasmi kejahatan terasa meluap-luap dan menggebu sekali. Meski aku tahu untuk itu aku harus mulai lebih bersungguh-sungguh mempelajari ilmu persilatan.

Aku menoleh ke arah kerbauku yang sedang mandi, dan kudaku yang makan rumput, lantas kepada peti kayu di atas pedati. Memikirkan isinya, aku seperti tiba-tiba mendapatkan cara untuk memanfaatkannya bagi kepentingan banyak orang.

Kini, dalam usia 100 tahun ketika mengingat kembali pemikiranku waktu itu, aku tersenyum sendiri menyadari betapa naifnya diriku saat itu.