Nagabumi Eps 23: Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar

Eps 23: Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar

CELAH itu menggelap karena langit memang menggelap. Tidak ada yang bisa kulihat lagi se lain kekelaman yang membenam, semakin lama semakin mengelam dan semakin mengesahkan kehadiran malam. Apakah aku harus hidup sendiri sekarang, betul-betul sendiri dan se lamanya hanya sendiri? Kepergian kedua orangtuaku, yang telah menyatakan diri mereka tidak akan pernah kembali lagi, bagaikan suatu isyarat bahwa kehidupanku sudah waktunya menjadi mandiri. Memang benar aku nyaris menguasai segala kepandaian yang kubutuhkan agar tidak mati kelaparan, mampu membela diri, bahkan mendapat penghasilan; dalam hal itu pengetahuan dan keterampilan yang mereka perkenalkan kepadaku tidak perlu diragukan lagiotetapi kasih sayang tiada tergantikan yang mereka limpahkan telah membuat jiwaku mendadak kosong hanya dalam semalam.

DALAM kegelapan malam dadaku terasa hampa dan kehampaan ini mengingatkanku kepada hari-hari pertamaku bersama mereka. Bukankah aku bayi yang terenggut dari pelukan seseorang yang kemungkinan besar bukan ibuku? Berapa lamakah perempuan yang melahirkan aku sempat merawatku dan jika aku memang bayi yang telah berpindah tangan dari perempuan yang melahirkanku, seberapa lamakah seseorang yang merawat dan menyusuiku telah memberi perasaan terdapatnya seorang ibu kepada diriku? Betapapun perasaan hampa karena kehilangan itulah yang kurasakan setiap kali berusaha menggapai masa terawal dari kesadaranku, kesadaran yang hanya bisa dirasa-rasakan!

Namun dengan terbaliknya keropak-keropak kenangan, merasuklah aliran lembut kebahagiaan dari lengan-lengan kukuh tetapi penuh dengan kasih sayang tiada terbahasakan. Siapakah orangtuaku sesungguhnya? Sungguh aku tidak, tidak pernah, dan bagaikan tidak akan pernah mengetahuinya, tetapi aku sungguh merasa mempunyai orangtua, ayah dan ibu yang sangat mencintaiku, aku tidak merasa kekurangan dan kehilangan sesuatu pun, karena kekurangan dan kehilangan memang adalah milikku.

Di antara lengan kukuh itulah akan selalu kudengar senandung. Apakah ibuku akan menidurkan aku, atau memberitahuku akan sesuatu? Aku tidak merasa mampu menuliskan kembali senandung dalam nyanyian itu, karena aku merasa kata-kata dalam syairnya seperti akan berubah maknanya tanpa nada-nada yang terdengar disenandungkannya. Aku hanya merasa seperti terhanyutkan di sebuah sungai riwayat, betapa seorang anak mungkin saja tak akan pernah mengetahui asal-usulnya, dan betapa juga orangtuanya tidak akan pernah mengetahui nasib anak yang telah dengan terpaksa dititipkannya kepada seseorang itu.

Kupandang langit malam, bintang-bintang berserak di tempat yang bisa dipastikan. Namun percaturan nasib antarmanusia siapakah yang bisa memastikannya? Seseorang lahir di suatu tempat, seseorang yang lain lahir di tempat lain, dan apabila mereka dipertemukan ternyata hanya untuk saling berbunuhan. Siapakah ayahku yang sebenarnya? Siapakah ayah dari ayahku dan siapakah kakek dari kakekku? Siapakah ibu dari ibuku dan siapakah nenek dari nenekku? Manusia makin lama makin banyak memenuhi Yawabumi, manusia pertama yang menginjak Yawabumi entah pula darimana datangnya, tetapi kemudian semua orang datang beramai- ramai ke Yawabumi. Siapakah kedua orangtuaku sesungguhnya? Mungkinkah mereka tidak berasal dari Yawabumi? Ibuku meninggalkan kantung kulit bergambar kura-kura di atas bunga teratai. Tidakkah kura-kura melambangkan harapan untuk berumur panjang dan teratai yang merekah dimaksudkan sebagai pencerahan? Jika umurku ternyata mencapai 100 tahun sampai hari ini dan ternyata tidak mati-mati juga, bagaimanakah bisa dihubungkan dengan gambar kura-kura pada kantung kulit tersebut? Aku sudah lupa dan memang berusaha dengan berhasil melupakan pesan yang tertulis pada keping lontar di dalam kantung kulit tersebut: Tolong selamatkan putra kami. Namun kini aku terpaksa menjadi teringat kembali.

Meski begitu, perasaan yang kualami sekarang tidaklah seperti ketika aku termenung menatap Celah Kledung sampai ditelan kegelapan tersebut. Ketika itu aku hanya teringat orangtuaku seperti yang telah kualami dan kuhayati sebagai orangtuaku meskipun mereka bukanlah orangtuaku yang sebenarnya. Tantangan siapakah yang akan mereka penuhi dan siapakah kiranya yang akan mampu mengalahkan Sepasang Naga dari Celah Kledung yang begitu sakti? Meskipun sejak kecil sudah kudengar pepatah itu, di atas langit ada langit, aku selalu menganggap pasangan pendekar yang mengasuhku bagai takakan pernah terkalahkan. Betapa tidak jika aku telah menyaksikan latihan-latihan mereka sejak kecil, bahkan ikut berlatih bersama mereka, sehingga pendapatku itu sungguh ada dasarnya.

Dalam pertarungan latihan mereka berdua terlalu sering membuatku terpesona dengan gerak mereka yang mengingatkan kepada terbangnya elang, lompatan harimau, dan sentakan naga. Apabila mereka kemudian menguji I lmu Pedang Naga Kembar maka dalam kelebat cahaya pedang mereka yang berkilatan akan tampaklah gambaran naga kencana yang mengibas dengan anggun dan penuh pesona, dengan gagah tetapi juga mematikan. Ilmu Pedang Naga Kembar adalah ilm u pedang berpasangan, gunanya agar sepasang pendekar ini berada di satu pihak ketika menghadapi lawan, apakah itu hanya satu orang ataukah satu pasukan. Namun menghadapi lawan yang hanya satu orang itu harus dengan catatan bahwa lawannya tersebut memang betul-betul digdaya. Entah bagaimana caranya melatih ilmu berpasangan tersebut dengan saling berhadapan. Meskipun ketika tiba-tiba saatnya mereka memang berpasangan seperti menghadapi lawan, maka gerak yang kusaksikan tiada lain selain keindahan.

MUNGKIN karena itulah sebagai anak kecil kemudian aku selalu mencoba-coba menirunya. Mencoba gerak ini dan mencoba gerak itu, sampai akhirnya jatuh karena takmampu. Maka kemudian pasangan pendekar ini akan terhenti latihannya.

Tertawa dan menyambarku, menimang-nimang dan lantas membawaku terbang setinggi pohon kelapa, membopongku sambil me layang dan melenting dari puncak pohon yang satu ke puncak pohon yang lain.

Demikianlah mata, pergerakan, dan kesetimbangan ragaku menjadi terbiasa dengan kedudukan dalam ketinggian, percepatan dalam perkelebatan, dan keheningan dalam pemusatan pikiran di tengah pertarungan. Ada kalanya pasangan pendekar ini bertarung sambil berganti-ganti melemparkan aku, sebagai latihan pertarungan sambil membawa beban.

Pada malam hari mereka berbincang sembari menghadapi sebuah kitab, artinya gulungan keropak lontar yang dibuka, dan perbincangan itu bisa berlangsung sampai larut sekali. Sebagai anak kecil, aku tentu tiada terlalu paham, dan lebih sering jatuh tertidur di pangkuan sa lah satu dari mereka, ketika berusaha sekuat bisa menangkap persoalan dan mengikutinya. Namun ada kalanya yang terbaca itu disenandungkan dengan lirih dan perlahan, sehingga meskipun masih tetap tiada dapat menangkap maknanya dan tetaplah kemudian tertidur dalam keterbuaian, tetapi kata dalam nada-nada itu terhapalkan bagaikan lagu dalam perbendaharaan kenangan.

Kemudian, kelak, pada masa mendatang, aku akan terheran-heran dengan pengenalan atas suatu pengetahuan yang tiada pernah kusadari ternyata memilikinya, karena terpendam dalam-dalam di dalam endapan kenangan. Pengetahuan yang bagaikan begitu saja muncul padahal telah lama bermukim dalam bawah sadar dan menyeruak ketika terpanggil oleh pengalaman yang mengingatkan.

Menyadari apa yang telah kumiliki melalui keberadaan mereka, aku tidak dengan segera dapat memaklumi, kenapa sepasang pendekar yang sangat berbudaya memilih bertarung sampai mati, daripada menghindari pertarungan untuk mempertahankan kehidupan.

Aku percaya, keberadaanku telah mereka perhitungkan untuk menerima sebuah tantangan, jika kemudian mereka memutuskan untuk berangkat dan meninggalkan aku, itu berarti mereka percaya aku akan mampu hidup dalam kemandirian.

(Oo-dwkz-oO)

DALAM gelap, aku memang merasa sendiri, terlalu sendiri, dan terandaikan akan selalu sendiri. Memang benar aku akan mampu hidup mandiri, tetapi aku merasa lebih suka bersedih dan merana daripada bersikap seolah-olah tiada perubahan apapun dalam hidupku.

Kukira aku memang tiada mempunyai maksud lain selain meneruskan kehidupan di Celah Kledung. Namun hidup tidak selalu berlangsung seperti yang kita angankan.

Terdengar suara ranting kering yang terinjak. Meski tidak kulihat sosoknya aku tahu dia berada di mana. Di dalam rumah tak ada lampu menyala. Barangkali orang yang datang mengendap-endap itu juga tidak tahu di mana aku berada.

Mestikah aku melumpuhkannya dengan pisau terbang yang terdapat di balik dinding rumah? Dalam usia 15 tahun, jika aku berkata melumpuhkannya sudah pasti berarti membunuhnya, karena ilmu totok jalan darah yang rum it belum kukuasai sepenuhnya. Lebih mudah bagiku untuk membunuhnya. Namun benarkah aku harus membunuhnya?

Aku menggulingkan diriku ke dalam rumah. Lantas mengendap-endap keluar dari pintu belakang. Di belakang rumah terdapat sepetak ladang jagung. Aku menyelinap dan bersembunyi di sana tanpa suara. Lantas, masuklah sosok berbalut busana serba hitam itu ke dalam rumah.

Aku menahan nafas. Bukanlah sekadar apa yang diinginkannya jadi pertanyaanku, melainkan bagaimana aku harus menghadapinya. Terbetik dalam kepalaku bahwa kedatangannya berhubungan dengan kepergian ayah dan ibuku. Namun bukan takmungkin ini hanya seorang penantang lain yang kadang-kadang memang tanpa aturan datang mengajak beradu.

Ia datang pada malam buta dan mengendap-endap pula.

Mengingatkanku kepada suatu kejadian serupa.

AKU masih tidur nyenyak ketika ayahku membangunkan aku perlahan-lahan sembari membekap mulutku. Ketika mataku terbuka kulihat telunjuknya di depan mulut. Aku segera mengerti. Kulirik ke samping, ibuku yang rambutnya masih terurai dan hanya mengenakan selembar kain yang terikat di atas dada, tampak merapat ke dinding dan memegang pedang. Aku dan ayahku tidak beranjak. Ditunjuknya arah atap daun enau, dan tampak telapak tangan meraba-raba dari luar, berusaha mencari celah untuk diangkat. Ayahku meraup butiran kacang tanah di lantai sambil memberi isyarat kepada ibuku. Mereka tampak siap. Lantas ayahku sekali lagi memberi isyarat agar aku diam. Kemudian dijentikkannya kacang itu, yang melesat ke arah tangan yang meraba-raba tersebut. Ibuku menunggu.

Ketika kacang mengenai telapak tangan tersebut, ternyata melesak masuk, bahkan menembusnya! Terlihat tangan itu ditarik dan terdengar teriak kesakitan memecah malam, saat itu ibuku sudah berkelebat keluar dan melayang ke atas atap. Rupa-rupanya ia mengayunkan pedang dan tubuh itu terdengar menggelinding ke bawah. Berdebam jatuh di atas tanah.

Ayahku keluar dengan pandangan bertanya. Ibuku yang melayang turun ternyata sudah memegang pisau terbang yang dilemparkan kepadanya. Ia tunjukkan pisau itu kepada ayahku.

"Siapa kau dan siapa yang menyuruhmu?"

Ayahku bertanya kepada orang itu. Segenap busananya hitam menutup tubuh meski agak kusam.

"Ampun!"

Orang itu terkapar dengan dada terbelah karena ayunan pedang ibuku, yang ketika me lesat tangan kirinya sempat menangkap pisau terbang yang dilemparkan orang itu. Dadanya bergaris luka memerah darah, tetapi ia belum mati.

"Kamu akan segera mati," kata ibuku, "lakukanlah kebaikan dalam akhir hidupmu. Katakan siapa yang menyuruhmu."

Ia tampak kesakitan, tetapi masih bisa tersenyum. "Kebaikan...," desahnya, "kebaikan?"

Lantas ia pun mati.

Ayahku menyingkap kain yang ikut terobek oleh pedang ibuku, dan mendekatkan lampu yang baru dinyalakannya. Ternyata pada dadanya terdapat rajah bergambar cakra. Kuingat ayah dan ibuku saling berpandangan. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Dalam cahaya api dari lampu kulihat ibuku yang hanya berbalut selembar kain, rambutnya terurai, dan memegang pedang bersimbah darah. Aku masih ingat kain batiknya yang bergambar bunga-bungaan.

Ibuku lantas mendekatiku. Mungkin aku masih berumur sekitar 6 tahun waktu itu. Ayahku yang rambutnya juga masih terurai menaikkan orang yang sudah mati itu ke atas punggung kuda, lantas membawanya pergi setelah merapikan diri.

"Tidurlah kembali anakku," kata ibuku, sembari mengusap wajahku. Ingatan selanjutnya hanyalah kegelapan.

Kegelapan itulah agaknya yang telah mengembalikan ingatanku, ketika pada usia 15 tahun dalam keadaan baru saja ditinggalkan kedua orangtuaku seseorang mengendap-endap di dalam rumahku. Mungkin peristiwa itulah yang membuat aku bertanya-tanya, perlukah aku membunuhnya? Namun untuk tingkat ilmu s ilatku saat itu tidaklah terlalu mudah untuk melumpuhkan tanpa membunuhnya. Meskipun begitu aku tetap merasa penasaran, karena berharap terdapat sesuatu yang menghubungkan aku dengan kepergian orangtuaku, yang seperti te lah memastikan tiada akan pernah kembali lagi. Bahkan menutup kemungkinan balas dendam jika mereka terkalahkan dalam pertarungan.

"Balas dendam adalah lingkaran setan yang harus dihancurkan," ujar ayahku suatu ketika, "seorang pendekar yang bijaksana tidak selayaknya terlibat dalam pembalasan dendam atas suatu pertarungan yang sah dan adil, meskipun orangtuanya sendiri yang tewas dalam pertarungan."

Di dalam pondok, orang itu menyalakan lampu, tetapi ia membelakangiku dan aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku mengendap-endap mendekat. Jika ia ingin mencuri sa lah satu apalagi seluruh tumpukan kitab yang ada di dekat tempat ia berdiri, aku harus menempurnya, meskipun untuk itu aku harus mati.

Namun berlangsung peristiwa yang lebih cepat dari kata- kata. Mendadak saja orang tersebut meniup api sampai padam, lantas terdengar pedang beradu dan lentik api sesaat, yang diakhiri desah tertahan menahan sakit. Lantas malam kembali sunyi.

AKU tak bergerak sama sekali. Bagiku keadaan seperti ini menegangkan sekali. Aku bahkan menunggu sampai fajar menyingsing, sebelum berani keluar dari persembunyian di ladang jagung itu.

Aneh sekali rasanya memasuki pondok sendiri dengan sangat hati-hati seperti ini. Di dalam masih remang, tetapi segala sesuatu telah menampakkan dirinya bersama merayapnya matahari.

Dua mayat tergeletak bagaikan muncul pelahan dari pendar keremangan. Keduanya mati bersama dalam pertarungan singkat di tengah malam. Pedang masing-masing tertancap di tubuh yang lain. Masihkah ini suatu kebetulan jika keduanya datang berurutan setelah ayah dan ibuku pergi? Apakah nasib kedua orangtuaku sudah dipastikan, sehingga rumahku bagaikan tempat yang terbuka bagi penjarahan yang mungkin akan berlangsung dari hari ke hari?

Hatiku sedih dan kacau, tetapi ibuku telah lama melatihku dengan segala cara untuk mampu mengambil keputusan pada saat yang menentukan. Aku mencoba meredam kegelisahan atas nasib yang menimpa pasangan pendekar yang telah berlaku sebagai orangtuaku itu. Bahkan aku sama sekali tidak memeriksa mayat-mayat itu kembali. Cukup bagiku, dengan melihat jenis pedangnya yang jelas bukan golok pembelah kayu bakar, bahwa keduanya adalah orang-orang sungai telaga dunia persilatan. Aku harus segera meninggalkan pondok yang telah menjadi tempat aku dibesarkan ini dengan mendadak dan tanpa persiapan sama sekali. Baru kemarin pasangan pendekar yang telah mengasuh dan berlaku sebagai orangtuaku itu berpamitan untuk pergi se lama-lamanya, sedangkan hari ini dengan segera dan terpaksa meski atas keputusan sendiri, aku akan meninggalkan tempat ini, juga tanpa kejelasan apakah suatu ketika akan kembali lagi. Aku harus menyelamatkan harta warisan pasangan pendekar itu, yakni kitab-kitab ilmu silat dan kitab-kitab ilmu pengetahuan, yang berwujud gulungan keropak lontar bertumpuk-tumpuk rapi di dalam sebuah peti kayu.

Adapun peti kayu itu sudah terbuka ketika aku memasuki pondok. Orang yang memasuki rumah telah membukanya sebelum mati bersama dalam pertarungan singkat di kegelapan. Ini berarti orang-orang rimba hijau yang haus ilmu silat maupun ilmu kesempurnaan akan berduyun-duyun memperebutkan kitab-kitab ini kemari.

Dengan segenap kemampuanku aku harus menyelamatkan kitab-kitab warisan orangtuaku itu, pasangan pendekar yang telah mengasuh dan membesarkan aku, yang dikenal di sungai telaga dunia persilatan sebagai Sepasang Naga Celah Kledung.

Itu adalah sebuah pagi yang indah. Sama indahnya seperti setiap pagi dalam limabelas tahun selama aku menghuni lembah yang subur itu. Cahaya pagi yang lembut, kicau berbagai jenis burung, dan bunga-bunga yang merekah, memekar dengan begitu cerah. Namun kedua mayat dalam pondok kami te lah merusak keindahan itu, mayat orang-orang yang bermaksud menjarah Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar.