Nagabumi Eps 20: Jurus-Jurus Dharmacakra

Eps 20: Jurus-Jurus Dharmacakra

BAGAIMANAKAH memindahkan ilmu rohani menjadi ilm u jasmani? Tentu sebuah pembayangan harus bekerja. Pembayangan adalah penafsiran berdasarkan pemahaman, karenanya kemampuan pembacaan, yakni membaca, menafsir, dan memberi makna, menjadi mutlak dalam pemindahan tersebut. Dalam pengolahan Jurus-Jurus Dharmacakra, aku telah memanfaatkan penafsirannya yang pertama sebagai gagasan tentang gerak, atau susunan gerak, yang berlapis-lapis. Perhatikanlah m isalnya empat akara tentang mencapai kebenaran tertinggi melalui penglihatan; bahwa pertama kali mesti mampu menemukan dan menentukan penderitaan, disusul berturut-turut penyebab dari penderitaan itu, mengetahui apa yang dapat menanggulanginya, kemudian mengetahui cara melakukan penanggulangan itu; bukankah dari akara pertama sampai yang keempat terdapat empat gagasan yang berlapis-lapis dan sangat dekat jaraknya, sehingga penanggulangan harus dibedakan dengan cara penanggulangan m isalnya? Ibarat kata dari gagasan penderitaan menuju cara penanggulangan penderitaan belum terdapat lompatan berarti, meskipun keempatnya merupakan pengertian yang terpilah dengan tegas.

Membaca pemutaran-pemutaran berikutnya, yakni bhavanamarga dan asaiksamarga, masing-masing juga terbagi ke dalam empat akara yang perkembangan gagasannya juga sama tipis lapisan-lapisannya. Dengan pemahaman atas seluruh kerangka berpikirnya, aku mendapatkan suatu susunan bahwa terdapat tiga rangkaian gagasan yang berkelanjutan, yang setiap rangkaiannya terdiri dari empat lapisan. Aku tinggal memindahkan kerangka gagasan ini menjadi suatu kerangka susunan jurus; bahwa suatu rangkaian serangan misa lnya akan terdiri dari empat lapis pukulan mematikan, yang seperti berulang tetapi sebetulnya berbeda sasaran, yang seluruhnya terdiri dari tiga rangkaian. Namun karena dari tiga penafsiran Dharmacakra yang kubaca, dua di antaranya telah kumanfaatkan penafsirannya sebagai jurus silat, maka Jurus-Jurus Dharmacakra yang kuolah terdiri dua gugus susunan, adapun untuk gugus yang pertama telah kujelaskan bagaimana aku menafsirkannya.

Gugus kedua terdiri atas tiga pemutaran, yakni prathama cakra yang merupakan ajaran Empat Kebenaran Utama; madhya-cakra tentang hapusnya hakikat pemisahan unsur- unsur keberadaan atau ketiada-benaran; dan antya-cakra yang ajarannya membedakan unsur?unsur yang mencerminkan dan tidak mencerminkan Kebenaran Tertinggi. Telah diketahui bahwa Empat Kebenaran Utama merupakan dalil ajaran Buddha yang dilanjutkan dengan apa yang disebut Delapan Jalan?dari pemahaman ini gugus kedua dari Jurus- Jurus Dharmacakra hanyalah melanjutkan pencapaian rangkaian jurus yang tersusun dalam gugus pertama; yakni bahwa kuolah suatu rangkaian empat jurus dengan delapan pengembangan pada masing-masing jurusnya, yang semuanya merupakan gerak tipu untuk mengecoh dan mengelabui lawan.

Namun apabila pertarungan berlangsung lama dan memasuki jurus selanjutnya, apa yang kutemukan dari madhya-cakra dan antya-cakra akan membingungkan dan pada gilirannya menghabisi lawan.

Perhatikan kalimat hapusnya hakikat pemisahan unsur?unsur keberadaan atau ketiada-benarannya. Apa maksud kalimat ini? Pertama ternyatakan adanya unsur-unsur keberadaan, jadi kita tidak mengetahui ada, yang kita bisa lakukan hanya menyepakati keberadaan unsur-unsur yang diandaikan sebagai adanya ada. Namun unsur-unsur keberadaan tadi berpasangan atau terlawankan, bahkan disamakan, karena disebut atau, yakni dengan ketiada- benaran. Tentu maksudnya ketiada-benaran tentang ada. Dengan kata hapusnya maka pemisahannya itulah yang dihilangkan, karena unsur-unsur ada dan tiada benar sebetulnya sama -dan karena ada tidak ketahui, apalagi tiada benar yang boleh juga ditafsir sebagai tiada karena berlawanan dengan ada. Bukan berarti ada dan tiada dihapuskan, meski keduanya tidak diketahui, melainkan ada dan tiada tidak dipisahkan.

Dalam pemindahannya menjadi jurus silat, kurangkai suatu susunan tempat jurus yang satu menafikan jurus yang lain, bahkan menafikan jurusnya sendiri?dan tentu saja jurus seperti ini akan sangat membingungkan, tetapi adalah kebingungan itu yang ditunggu dan dinantikan, karena memang akan membuka semua kelemahan.

Perhatikan pula kalimat tentang antya-cakra yang berbunyi memperbedakan unsur-unsur keberadaan yang mencerminkan Kebenaran Tertinggi dari unsur-unsur yang tidak mencerminkannya. Dibandingkan dengan madhya-cakra, ini bagaikan kebalikannya, Kebenaran Tertinggi sebetulnya juga tidak mungkin diketahui tetapi seolah-olah terdapat unsur yang mencerminkan maupun yang tidak mencerminkannya, yang ternyata dapat dibedakan.

Berarti yang dapat diketahui hanyalah unsur-unsurnya, sedangkan Kebenaran Tertinggi itu sendiri hanya dapat dicerminkan. Jadi, ini hanyalah perkara kesepakatan tentang cermin, bukan Kebenaran Tertinggi itu sendiri. Sama seperti madhya?cakra, Kebenaran Tertinggi hanyalah ada yang kedudukannya sama belaka dengan tiada benar-berarti semuanya tiada, kecuali terdapat perbincangan tentangnya.

Semua ini tentu adalah penafsiranku, dalam rangka memindahkannya ke sebuah susunan jurus-jurus silat - dan aku memang telah melakukannya. Demikianlah gugus rangkaian jurus kedua ini adalah jurus-jurus yang berkembang dalam urutan, melalui suatu masa perpindahan yang bersumber dari prathama cakra, menuju ke suatu perubahan mendadak terdapatnya rangkaian jurus-jurus yang sating mengingkari, yang disambung oleh gagasan yang sama, tetapi dengan berbagai bentuk dan gerakan yang merupakan kebalikannya.

Terpengaruh oleh pengertian Roda Dharma sebagai bentuk perputaran, maka Jurus-Jurus Dhar?macakra kemudian akan dikenal sebagai jurus-jurus yang akan terus membuat penggunanya berputar sembari memutari lawan. Hanya saja jika gugus rangkaian jurus-jurus yang pertama akan memutari lawan dalam lingkaran, maka gugus kedua akan memutarinya dalam bulatan. Tentu saja Jurus-Jurus Dharmacakra membutuhkan dukungan tenaga dalam, maupun kemampuan berfilsafat yang mencukupi bagi siapa pun yang bermaksud menguasainya.

Demikianlah caraku melakukan pembayangan, menerapkan sebuah susunan rangkaian jurus-jurus yang mewakili pengertian dan pemahaman yang semula hanya bermain di dunia nalar. Pengertian dan pemahaman sebetulnya lebih berarti sebagai perbincangan atas gagasan-gagasan yang kubaca atau didengar dari guru-guruku, karena penafsiranku maupun guru-guruku itu tentu bukanlah jaminan yang akan mewakili Kebenaran Tertinggi itu, bukan? Apalagi jika memang hanya cermin Kebenaran Tertinggi itulah yang dapat kita perdebatkan. Itulah sebabnya aku mengolah susunan rangkaian jurus-jurus persilatan itu dengan semangat kegembiraan, karena benar atau salah bukanlah masalah yang akan dipertanyakan atau diujikan. Apa boleh buat, dalam dunia persilatan, satu-satunya ujian bagi ilmu silat adalah pertarungan-dan dalam pertarungan, suatu kegagalan hanya berarti kematian.

Pendekatan seperti ini membuat ilmu silatku berkembang lebih cepat di banding para pendekar yang mengembangkan ilmu silat melalui pengamalalam. Para pendekar mengamati burung terbang, daun jatuh, kodok melompat, maupun kucing berkelahi untuk mendapatkan jurus-jurus andalannya, sehingga menjadi terkenal dalam dunia persilatan.

Jurus Kucing Mabuk, Jurus Cakar Harimau, Jurus Monyet Menari, Jurus Tendangan Burung Bangau dan lain sebagainya

- dan harus kuakui betapa jurus-jurus yang dibuat berdasarkn pengamatan terhadap alam sekitar adalah pencapaian mengagumkan.

Pengamatan seperti itu bukan hanya membutuhkan ketekunan yang luar biasa melainkan juga kemampuan menafsir yang menuntut kecerdasan dalam menyusunnya sebagai jurus-jurus silat yang layak sebagai andalan. Setiap sebuah jurus baru dikenal dalam dunia persilatan, selalu diharapkan memberi kemungkinan baru, dan suatu jurus yang merupakan hasil pendalaman seperti itu memang kemudian akan mendapatkan kemasyhuran.

Namun setelah mengembara dari perguruan yang satu ke perguruan yang lain, mempelajari cara belajar yang satu dan cara belajar yang lain, dari kampung ke kampung, dari gunung ke gunung, dari gua ke gua, dari kitab yang satu ke kitab yang lain, aku berkesimpulan bahwa meskipun pengamatan atas alam telah menghasilkan berbagai macam ilmu silat yang mencengangkan, cara untuk mempelajarinya dengan penalaran tidak kalah berguna untuk diandalkan-terutama dalam manfaatnya untuk menghemat waktu pembelajaran.

Ini berarti seorang pelajar memang harus memegang kunci-kunci penalaran kepada seorang guru ia tidak mesti belajar bertahun-tahun dengan penuh penghayatan, dan apalagi pengabdian-karena seorang guru kadang-kadang juga memeras dan memanfaatkan wibawa untuk kepentingan pribadi-melainkan belajar dengan suatu pendekatan tertentu untuk menyerap ilmu.

Seorang pelajar yang menyerap ilmu dengan kunci-kunci penalaran akan memberi perhatian besar kepada kerangka suatu ilmu secara keseluruhan, dan yang lebih penting adalah menemukan apakah terdapat suatu pemikiran tertentu di baliknya, yang berhubungan langsung dengan pembentukan ilmu silat tersebut. Pemikiran di balik ilmu silat menentukan bentuk ilmu silatnya dan suatu pemikiran sangat ditentukan oleh lingkungan tempat pemikiran itu dilahirkan.

Kunci-kunci penalaran akan mampu menyerap ilmu silat yang sama tanpa harus mengulang pengalaman seorang penemu dan melepaskannya dari lingkungan asal-usul lahirnya suatu ilmu.

Tidak berarti bahwa suatu pengalaman dalam pelajaran ilmu s ilat dapat dilupakan, justru pengalaman itu sendiri tetap perlu, untuk menghayati yang pada mulanya masih diserap melalui penalaran-namun pengalaman dan penghayatannya bukanlah secara alamiah, melainkan pengalaman dan penghayatan yang mendasarkan diri kepada kunci-kunci penalaran.

Seorang pelajar yang menyerap ilmu dengan kunci?kunci penalaran akan memberi perhatian besar kepada kerangka suatu ilmu secara keseluruhan, dan yang lebih penting adalah menemukan apakah terdapat suatu pemikiran tertentu di baliknya, yang berhubungan langsung dengan pembentukan ilmu silat tersebut. Pemikiran di balik ilmu silat menentukan bentuk ilmu silatnya, dan suatu pemikiran sangat ditentukan oleh lingkungan tempat pemikiran itu dilahirkan. Kunci-kunci penalaran akan mampu menyerap ilmu silat yang sama tanpa harus mengulang pengalaman seorang penemu, melepaskannya dari lingkungan asal-usul lahirnya suatu ilmu. Tidak berarti bahwa suatu pengalaman dalam pelajaran ilmu silat dapat dilupakan, justru pengalaman itu sendiri tetap perlu, untuk menghayati yang pada mulanya masih diserap melalui penalaranonamun pengalaman dan penghayatannya bukanlah secara alamiah, melainkan pengalaman dan penghayatan yang mendasarkan diri kepada kunci-kunci penalaran.

Pendekatan kepada ilmu silat yang semacam ini membuka jalan kepadaku untuk mengolah gagasan tentang Ilmu Bayangan Cerminoyakni bahwa aku dapat menyerap dan menguasai suatu ilmu silat ketika menghadapinya dalam suatu pertarungan, bahkan kemudian dapat langsung menggunakannya untuk menghadapi lawan tersebut dalam bentuk yang telah kukembangkan dan tidak akan mampu diatas inya. Namun kemampuan semacam itu tidak kucapai dalam semalamoaku hanya ingin menunjukkan sementara ini, betapa kunci-kunci penalaran berperan menentukan dalam percepatan pembelajaran, meski tidak berarti telah mencakup segalanya. Ilmu silat adalah suatu seni, yang memang dapat menjadi indah dalam peragaan, tetapi hanya akan teruji keunggulannya dalam pertarungan. Sedangkan dalam pertarungan silat tingkat tinggi, ruang dan waktu tak cukup lagi bagi penalaran. Itulah sebabnya kunci-kunci penalaran hanyalah suatu awal dari tindak peleburan seorang pendekar dengan ilmu silat yang dipelajarinyaodan peleburan hanya akan berlangsung ketika olah penalaran dalam kepala terjelmakan dalam gerakan.

Semua ini terhela oleh pembayangan. Ibarat jalan kehidupan terhela oleh impian dan cita-cita, demikian pula gagasan dan pemikiran terjelma sebagai ilmu silat karena terhela oleh suatu pembayangan.

(Oo-dwkz-oO)

NAMUN pembayangan yang berada di dalam kepalaku sekarang bukanlah kerangka suatu ilmu silat, bahkan, masih bisakah aku menyebutnya sebagai pembayangan, jika kepalaku belakangan ini hanya terisi oleh bayangan yang datang dari masa lalu? Aku sudah hidup selama seratus tahun dan itu berarti aku memiliki set idaknya seratus tahun pengalaman yang menjelma sebagai bayangan nan berhingga- hingga banyaknya. Apakah yang harus kulakukan dengan bayangan-bayangan masa lalu

itu? Kubiarkan lewat percuma, ataukah membuatnya jadi agak berguna? Meskipun sebagai orang persilatan hidupku selalu disibukkan oleh pembelajaran ilmu silat dan pertarungan, sudah lama aku menyimpan kekaguman terhadap kemampuan penulisan.

Bahkan setelah Yawabumi memiliki huruf-hurufnya sendiri, sejak aku mengenal dunia tidak kulihat terlalu banyak orang mampu membaca dan menulis, apakah itu menulis untuk menyalin, apalagi menuliskan pikiran?pikirannya sendiri. Namun dalam pengembaraanku pernah kujumpai seorang pendekar tak terkalahkan yang disebut sebagai Pendekar Huruf Berdarah, tak lain karena seluruh jurus -jurusnya sebetulnya adalah penulisan huruf-huruf yang dilakukan dengan pedang. Tentu saja jurus -jurus semacam itu sama sekali tidak dikenal dan tidak dapat diduga gerakannya, sehingga memang telah memakan banyak sekali korban. Siapa pun yang ingin melawan dan melumpuhkannya haruslah mampu membaca dan juga menulis, dan karena itu akan mengenal gerakan pedangnya.

Namun para pendekar banyak sekali yang buta huruf, bahkan ilmu persilatan jarang mereka pelajari dari kitab, melainkan selalu langsung dari seorang guru. Hanya mereka yang benar-benar tekun dan sungguh-sungguh ingin mendalami ilmu silat, dan tidak sekadar gemar bertarung, akan menekuni gerakan silat juga dari sebuah kitab se lain dari seorang guru, bahkan juga belajar membaca agar mampu melacak pemikiran di balik lahirnya sebuah ilmu silat, tetapi memang tidak terlalu banyak pendekar seperti ini, bahkan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tidak aneh jika Pendekar Huruf Berdarah tidak terkalahkan. Aku pernah menyaksikan pertarungannya yang memang terbuka untuk disaksikan orang banyak, karena penantangnya menyebar pengumuman dari mulut ke mulut bahwa kali ini Pendekar Huruf Berdarah akan dikalahkan.

Penantang itu bergelar Mahasabdika yang artinya

memang orang berilmu, bahkan juga berarti berpengetahuan tentang kata-kata -dan ia mengaku telah menemukan apa yang disebutnya sebagai "kunci kematian". Pendekar Huruf Berdarah. Adapun Mahasabdika pantas mendapatkan gelarnya, selain karena dirinya sendiri belum terkalahkan, pendekar ini juga dikenal sebagai penulis kitab- kitab ilmu silat, apakah itu ilmu silat yang diakuinya sebagai ciptaan sendiri, maupun salinan dari ilmu-ilmu silat yang lain. Layaklah tentu ia mendapatkan gelar itu, terutama pada masa ketika kemampuan membaca dan menulis sangatlah langka, dan kitab-kitab ilmu silat bukan sesuatu yang bisa didapatkan dengan terlalu mudah. Bagi banyak perguruan, kitab-kitab ilmu silat bahkan dianggap sebagai pusaka yang harus dijaga kerahasiaannya, dan hanya melalui seorang guru kandungan ilmunya bisa diajarkan, itu pun kepada murid?murid pilihan, yang untuk diterima sebagai pewaris ilmu harus melalui berbagai macam ujian berat yang tidak selalu tertahankan.

Bukankah tiada mengherankan jika Mahasabdika menjadi kaya karena kitab-kitab ilmu silat yang diperjual belikannya? Memang menjadi pertanyaan banyak orang di sungai telaga dunia persilatan, bagaimana Mahasabdika seolah-olah memiliki kitab-kitab ilmu silat yang manapun untuk disalin dan dijualnya. Memang benar pernah terjadi seorang pendekar yang sangat miskin telah menjual kitab ilmu silat warisan perguruannya yang sudah tutup kepadanya, tetapi peristiwa seperti ini jarang sekali karena kitab-kitab ilmu silat diperlakukan sebagai pusaka. Pernah kudengar desas-desus yang beredar bahwa Mahasabdika bukan hanya sanggup membayar mahal kitab-kitab ilmu s ilat terbaik yang ditawarkan kepadanya, melainkan telah pula mendorong usaha mendapatkannya dengan segala cara, termasuk dengan membayar siapapun yang berhasil mencurinya! Maka, kunci kematian macam apakah kiranya yang diandalkan Mahasabdika untuk mengalahkan Pendekar Huruf Berdarah?

Mereka telah berhadapan di sana. Mahasabdika berbusana mewah. Kain yang menutupi tubuhnya jelas sutra yang bahkan tidak terdapat di pasar. Ia tinggal di Yawabumi, tetapi busananya kemudian akan kuketahui sejenis dengan busana Naga Emas, busana para pendekar Negeri Atap Langit yang disebut Tiongkok. Mahasabdika bahkan juga mengenakan apa yang disebut sebagai sepatu. Hanya saja jika busana Naga Emas terbuat atas kain sutra keemas-emasan, maka busana Mahasabdika adalah keperak-perakan -seperti busana sutra pada umumnya, bahkan ikat kepala pada gulungan rambut di kepalanya pun dari bahan kain yang sama. Hawa sangat panas dan kulihat Mahasabdika kegerahan. Di Negeri Tiongkok terdapat musim dingin, tetapi di Yawabumi busana sutra dalam pertarungan di alam terbuka akan membuat pemakainya berkeringat kepanasan. Puteri-puteri kerajaan memang mengenakannya, tetapi dengan punggung, bahu, dan dada terbuka. Sebagai pendekar ia te lah melakukan kesalahan karena lebih mementingkan keindahan dalam pemilihan busana, bukan demi kemudahannya jika terlibat pertarungan. Mungkinkah ia terlalu yakin akan memenangi pertarungan untuk disaksikan banyak orang karena telah memegang kunci kematian Pendekar Huruf Berdarah?

Ia telah s iap di sana, dengan sebilah pedang lurus panjang yang putih berkilat keperak-perakan. Ia tampak gagah dalam usia 40 tahun, tubuhnya langsing dan wajahnya tampan, dengan janggut kelim is dan kumis tipis di atas bibirnya, tersenyum-senyum tenang dan tampak siap untuk mendapatkan pengakuan.

Sebaliknya Pendekar Huruf Berdarah tampak sangat sederhana, hanya mengenakan kain lusuh sebatas pinggang, kaki tak beralas, dan memegang sebilah kelewang berkarat, yang konon hanya dipinjamnya dari seorang pemilik kedai di tempat ini, hanya beberapa saat sebelum memasuki gelanggang.

"Kalau aku mati, kelewang ini tentu tidak akan diambil oleh Mahasabdika," katanya, "sebelumnya terima kasih banyak telah meminjami aku."

Ia sengaja memilih kelewang yang sudah berkarat, karena kelewang itulah yang sudah tidak dipakai.

Kuduga ia berusia 60 tahun. Tubuhnya pendek dan gempal, seluruh rambutnya sudah memutih, begitu pula kum is dan janggutnya yang melambai-lambai tak teratur. Rambutnya yang sudah jarang dibiarkannya terurai, yang juga melambai- lambai tertiup angin. Ia memasuki gelanggang dengan tenang. Orang-orang tampak tegang. Namun saat itu seekor ayam jantan memasuki gelanggang dan seorang anak perempuan berlari-lari mengejarnya, tak tahu menahu peristiwa yang sedang berlangsung di gelanggang ini.

"Blirik! Blirik! Mau ke mana? Jangan lari!"

Orang-orang terkesiap. Mahasabdika tampak terganggu dan kesal, ia menggerakkan pedangnya seperti akan melakukan sesuatu, apakah membunuh ayam atau anak perempuan itu. Namun Pendekar Huruf Berdarah berkata dengan tegas.

"Biarkan anak itu, kita telah menggunakan tempat bermainnya. "

Mahasabdika menelan ludah seperti menelan kemarahannya sendiri, mengelus sisi datar pedangnya seperti menjanjikan darah untuk hari ini. Tanpa menunggu waktu lagi, begitu ayam dan anak perempuan itu keluar gelanggang, Mahasabdika segera melesat ke arah Pendekar Huruf Berdarah. Tubuhnya segera lenyap menjadi bayangan keperakan dan ujung pedangnya bagaikan menjadi se laksa, menghunjam ke arah Pendekar Huruf Berdarah dari segala jurusan.

"Aku telah mempelajari semua huruf untuk mengunci jurus

-jurusmu, wahai Pendekar Huruf Berdarah," ujar Mahasabdika.

Mendengar kalimat itu Pendekar Huruf Berdarah hanya tertawa terkekeh-kekeh. Ia segera ikut lenyap menjadi bayangan dan mulailah bisa disaksikan oleh yang mampu mengikuti kecepatannya keistimewaan Pendekar Huruf Berdarah, yakni bahwa terlihat kelebat huruf-huruf yang dibuat oleh kelewang, huruf-huruf yang biasanya telah membelah tubuh lawan-lawannya.

Segera terlihat huruf-huruf ta, pa, ma, ra, dan sa79 menggulung bayangan keperakan Mahasabdika. Namun inilah yang dimaksud Mahasabdika sebagai kunci-kunci untuk menutup jurus -jurus ampuh Pendekar Huruf Berdarah, yakni memainkan pedangnya membentuk huruf-huruf yang sama!

Maka di antara kelebat gulungan dua bayangan terlihat bentukan huruf ta yang dipapas huruf ta, bentukan huruf pa yang dibentur huruf pa, bentukan huruf ma yang digasak huruf ma, bentukan huruf ra yang disambar huruf ra, dan bentukan huruf sa yang kelebatnya terbentengi huruf sa. Di antara kelebat huruf-huruf dan udara mendesau itu terdengar suara-suara benturan pedang dan kelewang yang berdentang- dentang cepat sekali disusul oleh kilatan lentik-lentik api. "Hahahaha! Keluarkan semua hurufmu Pendekar Huruf Berdarah!"

Kuperhatikan sejak tadi Pendekar Huruf Berdarah memainkan jurusnya yang serupa huruf-huruf Pallawa baku, dan kini mengulanginya dalam corak huruf Pallawa yang mengalami perkembangan di Yawabumi. Tampaklah Mahasabdika menjadi kerepotan karena meski huruf-huruf itu tampaknya sama selalu ada saja perbedaannya dan tangkisannya menjadi tidak terlalu tepat lagi.

Terdengar bunyi kain robek dan terlihat darah muncrat di udara, gerakan Mahasabdika menjadi pelan dan terlihat ia dikepung kelebat bayangan huruf-huruf dengan busana sutra yang telah bersimbah darah. Meski begitu pengenalannya atas huruf-huruf yang selalu dimainkan berurutan dan diulang- ulang oleh Pendekar Huruf Berdarah membuat ia masih bisa menangkis serangan, dan tampaknya pertarungan masih akan berlangsung lama.

Terdengar tawa Pendekar Huruf Berdarah terkekeh?kekeh. "Kunci kematian? Wahai Pendekar Mahasabdika?"

Lantas ia berkelebat lebih cepat mengitari Mahasabdika sambil memainkan kelewangnya, ia telah mengganti huruf Pallawa dengan huruf yang agaknya tidak dikenal Mahasabdika! Kuperhatikan itulah huruf-huruf seperti yang dituliskan I-t'sing dan pernah kupelajari juga. Sebisa mungkin kuikuti susunan huruf-hurufnya yang ternyata berbunyi:

seperti bayangan bambu menyapu tangga batu tanpa menggeser debu

Setelah itu terkaparlah Mahasabdika dengan tubuh nyaris telanjang. Segenap huruf yang membentuk puisi itu meninggalkan luka-luka panjang di sekujur tubuhnya, huruf satu dengan huruf yang lain saling bertumpuk, membuat luka- lukanya semakin dalam. Sebuah kelewang menancap tegak lurus pada jantung pendekar itu, menancap dalam-dalam sampai menembus tanah dan hanya terlihat gagangnya.

Tidak terlihat lagi Pendekar Huruf Berdarah, dan sampai hari ini pun kabarnya tidak ada lagi.

Namun dari peristiwa ini aku telah mendapat pelajaran: Mahasabdika memang mempelajari huruf-huruf, tapi ia tidak mempelajari kalimatnya. Pendekar Huruf Berdarah semula memainkan jurus -jurus hurufnya secara lepas, tetapi ketika Mahasabdika ternyata mampu menangkisnya, ia mengeluarkan huruf yang lain, itu pun dalam suatu rangkaian kalimat yang tentu telah dilatih dan dikuasainya lebih dulu. Meskipun seandainya Mahasabdika menguasai huruf seperti yang digunakan I-t'sing itu, ia belum tentu mengenal kalimatnya.

Peristiwa inilah yang membuat aku berpikir bahwa penguasaan terbaik ilmu silat tidak akan dimungkinkan tanpa mempelajari pemikiran di baliknya. Pendekar Huruf Berdarah telah meminjam kalimat ajaran Dao80, yang memang berasal dari tempat yang sama dengan huruf?huruf yang telah diolahnya menjadi jurus silat. Mahasabdika tidak mengenal jurus maupun kalimat itu, sehingga meskipun ia telah mempelajari hampir semua kitab ilmu silat, perlawanannya tidak cukup untuk melawan ilmu silat yang diolah Pendekar Huruf Berdarah sendiri.

Tidak pernah kupikirkan betapa ketidakmampuan mengenal huruf dapat berakibat kematian, bahkan bagi seorang pendekar berpengetahuan kata-kata seperti Mahasabdika...

(Oo-dwkz-oO)

PERISTIWA itu terjadi tahun 796, pada masa kekuasaan Rakai Panunggalan yang akan berakhir tahun 803. Usiaku masih 25 tahun, belum setahun melakukan pengembaraan, dan belum memiliki I lmu Bayangan Cermin. Aku akan mengembara di rimba hijau se lama dua puluh lima tahun sebelum mengakhirinya dengan Pembantaian Seratus Pendekar.

Aku meninggalkan dunia persilatan pada usia 50 tahun dan meleburkan diri dalam kehidupan sehari-hari selama dua puluh lima tahun berikutnya. Pada usia 75 tahun kutinggalkan dunia ramai dan tenggelam dalam renungan dan meditasi. Dua puluh lima tahun kemudian, dalam usia 100 tahun suatu regu pembunuh memasuki gua dan bermaksud mengakhiri riwayatku, meninggalkan teka-teki yang jawabannya hanya dapat kuduga-duga saja.

Aku berusaha mengerti dan untuk itu aku harus menguraikan segala sesuatunya satu persatu. Apakah aku harus menyelusuri kembali segenap masa laluku? Apakah aku harus menuliskan riwayat hidupku? Aku tidak tahu bagaimana tulisanku itu nanti akan mampu menjawab persoalanku, aku hanya berpikir, jika penulisan itu tidak akan langsung berguna untukku, mungkinkah dengan suatu cara seseorang akan dapat memanfaatkannya, dan secara tidak langsung memecahkan persoalannya? Masalahnya, apakah aku mampu? Dalam hubungannya dengan ilmu silat aku memang mampu membaca, bahkan mengenal beberapa macam huruf dan bahasa, tidak asing pula dengan pekerjaan menyalinnya. Namun menjadi seorang penulis dengan gagasan yang berasal dari diri sendiri adalah perkara lain, setidaknya aku belum pernah melakukannya. Aku ragu-ragu, betapapun aku bukan seorang penulis dan tidak pernah membayangkan diriku akan menulis sesuatu dengan kesadaran akan dibaca. Apakah umur 100 tahun tidak terlalu tua untuk memulai sesuatu yang baru?

Di depanku masih tergeletak sebuah pengutik, semacam pisau kecil untuk menulis di atas lontar. Aku telah lebih dulu memberi garis-garis pada lontar itu dengan penggaris, yang terbuat dari benang yang terikat pada dua batang bambu. Setelah diberi garis, baru kemudian lontar siap menerima tulisan, yang digoreskan oleh pengutik itu.81 Aku masih termangu. Darimana aku akan mulai menulis?

Kulihat sekeliling, sebentar kemudian aku mulai menggoreskan pengutik itu.

(Oo-dwkz-oO)