Nagabumi Eps 176: Demi Sebuah Rahasia

Eps 176: Demi Sebuah Rahasia

SERIGALA Merah meluncur ke bawah sambil mencabut golok yang menyilang di punggungnya. Penyamun yang sedang menikmati kekuasaannya, dengan mencegat lelaki tua berkuda di tengah titian batu sempit di atas jurang curam itu, memang tidak mengira akan mendapat serbuan Serigala Merah dari angkasa. Namun masih cukup waktu baginya untuk berkelit dan membabat perut Serigala Merah yang terbuka dengan kelewang, meski ternyata Serigala Merah dalam laju kecepatannya mampu melenting jungkir balik di atas kepala penyamun itu, dan tinggal menjejakkan kedua kaki ke punggungnya. Tanpa ayal, penyamun itu terjerumus langsung masuk ke jurang. Udara sedang bersih dan cahaya terang, sehingga dapat dilihat tubuhnya melayang jatuh, makin lama makin mengecil dan tidak terlihat lagi. 

Pada saat yang sama, aku juga menghindari sambaran kelewang yang menyambut serbuanku dari atas, dan sembari berkelit kutepuk ubun-ubun penyamun itu dengan tangan kiri. Ia sudah tidak bernyawa ketika tubuhnya terseret tenaga ayunan kelewangnya tersebut, langsung melayang ke bawah seperti saling berlomba dengan kawannya yang ketika jatuh masih hidup dan mengeluarkan teriakan panjang.

''Aaaaaaaaaa...!''

Teriakan itu belum hilang suaranya dan kami bahkan belum saling berpandangan di atas titian batu, ketika dari kedua sisi lereng yang dihubungkan oleh titian itu me luncur puluhan anak panah, yang langsung melesat ke arah Serigala Merah, diriku, maupun lelaki tua di atas kuda itu!

Kulihat lelaki tua itu bahkan tidak menyadari betapa puluhan anak panah dari kedua sisi lereng sedang meluncur dengan jaminan ketepatan penuh kepastian. Anak-anak panah itu akan merajamnya!

Jika diriku dan Serigala Merah menangkis anak-anak panah yang melesat sangat amat cepat itu, maka tiada lagi yang akan bisa menyelamatkan nyawa si lelaki tua. Kiranya inilah saatnya untuk bergerak secepat aku memikirkannya.

Serigala Merah memutar goloknya seperti baling-baling sementara tubuhnya sendiri berputar seperti pusaran dan anak-anak panah itu pun berhamburan patah-patah beterbangan, tetapi saat itu lelaki tua tersebut sudah lenyap dari atas kudanya, karena aku telah menyambarnya ke angkasa.

''Peganglah sahaya Bapak,'' kataku cepat dalam bahasa Negeri Atap Langit tanpa kuketahui benar dan tidaknya.

Ia memeluk leherku, dan itu sangat mengganggu. Padahal aku bukannya terbang seperti burung, sehingga terdapat saat berhenti di udara karena beban itu, saat serangan anak-anak panah susulan telah mengepungku dari dua sisi.

HANYA dengan Jurus Tanpa Bentuk maka rajaman anak- anak panah itu bisa kuhindari. Kurang dari sekejap aku sudah berada di atas titian batu. "Sahaya tinggal sebentar Bapak," kataku sambil menurunkan lelaki tua itu di atas titian. Kudanya telah jatuh ke jurang tersambar anak-anak panah.

Dalam sekali tatap dengan Serigala Merah, kami sudah tahu tugas masing-masing, yakni meluncur ke salah satu sisi lereng dan membereskan para penyamun, yang kekejamannya terlihat sangat jelas. Jika anak-anak panah yang dilepaskan itu semuanya mengenai sasaran, seluruhnya akan menancap ke tubuh kami sampai tembus, membuat tubuh akan mirip seekor landak.

Jarak antara kedua sisi lereng pada masing-masing ujung jembatan itu cukup jauh, jadi aku melesat di bawah titian ketika menyerang, dan hanya muncul tepat di ujungnya, untuk kemudian berkelebat amat sangat cepat sepanjang lereng tempat para penyamun berpanah dalam kedudukan tepat untuk membidik.

Aku bergerak secepat aku memi-kir-kan-nya, sehingga para penyamun itu masih sedang membidik, ketika aku melesat sepanjang jalan sempit membagi-bagikan maut bagaikan seorang dewa pencabut nyawa. Namun bagi mereka yang bermaksud merajam dengan anak-anak panahnya, aku ragu apakah kematian tiba-tiba tanpa terasa yang kuberikan ini tidak terlalu ringan bagi mereka. Untuk sejenak, aku pun ragu, apakah diriku berhak menghukum mereka, seolah-olah mereka dapat kupastikan bersalah? Peristiwa berlangsung begitu cepatnya, sehingga tidak sempat kupertimbangkan betapa sebenarnya para pemanah ini dapat dibuat tiada sadarkan diri sahaja. Kong Fuzi berkata:

merubuhkan sebatang pohon membunuh seekor binatang bukan pada musim yang pantas berlawanan dengan tali kebaktian terdapat tiga ribu pelanggaran yang terhadapnya

lima hukuman terarahkan dan tiada satu pun darinya

lebih besar dari terputusnya ikatan

Tidak kurang dari lima puluh pemanah bergeletakan sepanjang lereng. Di seberang jurang, kulihat Serigala Merah masih mengamuk dengan dua senjata, golok maupun pisau bertali itu. Ia melenting-lenting dengan ringan dari batu ke batu dengan golok yang telah berubah menjadi baling-baling di tangan kiri, sementara pisau bertali di tangan kanannya memagut-magut seperti ular senduk yang sangat berbisa. Di sana para pemanah sempat mengeluarkan kelewang dan mengeroyok, tetapi cukup melihatnya sepintas saja kutahu Serigala Merah tidak memerlukan bantuan.

Aku menatap kembali lima puluh pemanah yang bergeletakan sepanjang lereng. Di kedua sisi jumlah mereka semua menjadi seratus, dengan dua pencegat di titian batu menjadi seratus dua orang. Untuk merampok seorang lelaki tua yang menunggang kuda, apakah jumlah ini tidak terlalu banyak? Aku merasa curiga, karena dua penyamun yang kami jatuhkan ke jurang itu cukup lusuh, tetapi mereka yang bergeletakan ini busananya serbacerah dan berwarna-warni. Mereka tidak seperti penyamun yang sudah lama hidup serbasusah di gunung.

Kuhampiri mayat terdekat, dan kubolak-balik. Masih banyak anak panah tersimpan pada tempatnya yang tergantung di pinggang, dan setelah kuperiksa anak panahnya, kukira itu juga bukan anak panah yang dibuat dalam keterbatasan pedalaman. Ini jelas anak panah yang disediakan oleh negara bagi pasukannya. Tidaklah mungkin ujung anak panah terbungkus logam tajam yang pasti dicetak itu terbuat di atas gunung ini. Sebagai orang as ing, aku tidak dapat membaca tanda-tanda lebih banyak, tetapi dari pengetahuanku yang  serbasedikit tentang serba-serbi Negeri Atap Langit, dapat kuduga bahwa lima puluh pemanah yang menemui ajalnya di sini adalah para anggota pasukan pemerintahan Wangsa Tang.

Sejauh yang kuketahui, berbeda dari Wangsa Sui yang mengambil saja baju tempur ming gua kai atau baju tempur utama dengan leher melengkung, tutup bahu, dan dua piringan pelindung bagi dada dan punggung, dari Wangsa- wangsa Utara dan Selatan; Wangsa Tang sengaja membedakan diri. Seragam tentara Wangsa Tang membedakan antara perwira, yang mengenakan jubah, dan serdadu, yang mengenakan sekadar baju lapisan kedua.

SEJAK masa Yan Zai, jubah perwira disulam dengan gambaran singa dan harimau untuk mendorong keberanian dan kekuatan pemakainya. Betapapun, ming gua kai masih merupakan lapisan pelindung utama, dengan susunan kulit, piringan logam, dan cincin-cincin berangkainya, meski terdapat sedikit perubahan pada susunannya itu. Misalnya ditambahkan busana berpipa yang disebut celana di bawah pinggang dan sepasang penutup kaki yang ditempelkan pada tulang kering.

Dalam pemerintahan Wangsa Tang sekarang ini, busana tempur terutama dibuat dari besi dan kulit. Di antara tiga belas jenis busana tempur yang tercatat dalam Enam Peraturan Wangsa Tang, enam di antaranya terbuat dari besi yang dibentuk serta ditempa dengan indah dan halus, yakni selain busana tempur utama, juga busana tempur utama pinggang, busana tempur ukuran kecil, busana tempur bergambar gunung, busana tempur godam hitam, dan busana tempur rantai. Bagian-bagiannya tersambung oleh potongan kulit atau paku. Busana tempur jenis lain sebagian besar terbuat dari kulit.

Selain dari jenis besi dan kulit terdapat juga busana tempur kain putih, sutera hitam, dan rompi kapas yang terbuat dari tenunan kapas dan sutera. Meskipun ringan, mudah dikenakan dan tampak menarik penampilannya, tidaklah layak untuk keperluan pertempuran, dan hanya dikenakan oleh para perwira di masa damai atau pengawal kehormatan. Akhirnya, pasukan berkuda maupun pasukan jalan kaki mengenakan busana tempur yang terbuat dari kayu.

Dari apa yang kulihat, aku bersimpulan barisan panah ini masih terikat sebagai satu kesatuan, lengkap dengan pemimpin pasukan yang dapat diperiksa dari perbedaan busananya. Mereka memang tidak berseragam seperti dalam perang antarnegara, tetapi meskipun tidak seragam, dan juga tidak resmi, se lalu ada bagian dari perlengkapan busananya yang terhubungkan dengan seragam resmi tentara Wangsa Tang. Terutama alas kaki yang disebut sebagai sepatu, yang menutup kaki mulai dari bawah lutut itu, sepertinya hanya mungkin dibagikan oleh negara kepada serdadu. Jadi mereka seperti berusaha menyamar agar tidak sebagai barisan tentara, tetapi dengan cara menyamar yang kukira cukup ceroboh, sehingga mudah tersingkap sekali pandang.

Namun kukira terdapat a lasan yang lebih kuat dari sekadar kecerobohan. Pertama, mungkin saja mereka terlalu percaya diri betapa tugas akan sangat mudah diselesaikan; kedua, penugasan ini memang sangat mendadak, begitu rupa mendadaknya sehingga penyamaran hanya dilakukan seadanya, bagaikan hanya basa-basi saja. Apakah yang terjadi?

Cahaya pagi berkilauan dipantulkan titik-titik air lembut di udara membentuk tabir yang menutupi pandangan ke titian batu, tetapi ada selapis cahaya bagaikan lebih terang dari lapisan-lapisan cahaya lainnya, membuat titian itu terang keemas-emasan. Lelaki tua itu masih berdiri sendiri di sana.

Aku teringat bagaimana kedua penyamun yang mengepungnya. Tampaknya memang cara ampuh untuk mencegat dan membuat korban kebingungan, seperti yang pernah dilakukan kepadaku ketika baru beberapa saat memasuki wilayah lautan kelabu gunung batu.

Terutama aku teringat wajahnya. Cara tertawa penuh perasaan jumawa dan berkuasa yang sangat menghina, menyaksikan kedudukan calon korbannya yang lemah dan tidak berdaya.

Itu bukan sifat seorang prajurit, apalagi perwira.

Sekarang aku merasa mendapat dugaan yang bisa kupercaya. Perbedaan busana antara kedua penyamun di atas titian dengan para pemanah yang pernah terpikir olehku memang bukan tanpa makna. Kukira kedua penyamun itu sebetulnya juga menjadi sasaran untuk dihabisi oleh para pemanah, tetapi karena aku dan Serigala Merah sudah menjatuhkan mereka berdua, maka kamilah yang menjadi sasaran anak-anak panah yang bermaksud merajam tersebut, bersama dengan sasaran utama mereka, lelaki tua di atas kuda itu!

Tentu saja merajam orang tua juga bukan tindakan ksatria.

Namun serdadu adalah kanak-kanak yang patuh.

Siapakah kiranya lelaki tua itu, sehingga diperlukan seratus pemanah tepat dan terlatih, yang menantinya melewati titian itu untuk merajamnya?

Aku menatap lima puluh mayat bergelimpangan. Siapakah yang akan mengurusnya? Di seberang sana Serigala Merah sudah nyaris menghabisinya semua. Sejak tadi jeritan maut terdengar bagaikan tiada hentinya. Aku segera melesat, tetapi sudah terlambat. Meski dalam kurang dari sekejap mata telah kuseberangi titian batu untuk sampai ke lereng di seberang, tidak seorang pun tersisa lagi. Seperti diriku, agaknya Serigala Merah juga terbawa perasaan karena maksud para pemanah untuk merajam seorang tua tersebut.

AKU menghela napas. Tidakkah kematangan seorang pendekar juga ditentukan oleh kemampuan mengatasi perasaan semacam itu? Jika untuk setiap nyawa manusia yang hilang harus ada pertanggungjawaban dan kupikir seharusnya memang begitu, masih mungkinkah gagasan tentang kesempurnaan diperbincangkan? Bagaikan baru sekarang kutangkap makna lain siasat Sun Tzu: 

mengalahkan musuh tanpa pertempuran adalah puncak keunggulan

Serigala Merah menyimpan kembali pisau bertalinya, tetapi masih memegang goloknya yang sampai ke pangkalnya bersimbah darah.

"Apakah mereka pasukan Wangsa Tang?" tanyaku, karena semua dugaanku betapapun adalah dugaan seorang asing.

"Ya, kami sudah terbiasa dengan mereka, yang setiap kali dikirim untuk membasmi para penyamun maupun sisa pemberontak. Tidak peduli bahwa sisa pemberontak itu banyak yang sudah uzur dan mati, tinggal keturunannya yang tidak tahu menahu dan lahir di sini." 

"Siapakah kiranya orang tua itu?"

"Itulah. Memang bagus kalau penyamun itu yang mereka bunuh, tetapi janganlah orang tua berkuda seorang diri seperti itu. Sekarang kudanya juga sudah melayang ke jurang."

Agaknya Serigala Merah juga menangkap apa yang kulihat, bahwa kedua penyamun yang kami jatuhkan ke jurang itu ternyata sedang dibidik oleh seratus pemanah dari kedua sisi lereng.

Hampir bersamaan kami menoleh, ketika orang tua itu seperti tiba-tiba saja sudah berada di hadapan kami, ia segera bersujud sambil menangis, mengetuk-ngetukkan kepalanya berkali-kali di atas jalan batu yang sempit ini. Sepengetahuanku cukup tiga kali ia mengetuk-ngetukkan kepala ke jalan untuk menyatakan terimakasihnya, tetapi agaknya perasaan tertekan berkepanjangan yang kini terbebaskan telah membuat lelaki tua itu bagai akan mengetuk-ngetukkan kepala tanpa ada habisnya. Sampai aku khawatir keningnya itu akan terluka.

Sedari tadi ia tidak mengucapkan apapun. Serigala Merah mendekati dan menggamitnya.

"Sudahlah Bapak," ujarnya, "bahaya yang mengancam sudah berlalu, ceritakanlah saja mengapa pasukan panah pemerintah berniat membunuh Bapak.i

Lelaki itu menengadah, dan kulihat wajah yang sangat menyedihkan. Derita macam apakah yang telah menimpa orang tua berpakaian bagus ini, sehingga bisa penuh dengan penderitaan seperti itu?

Ia masih menangis. Serigala Merah mulai terlihat tidak terlalu sabar.

"Kami mengerti Bapak, sudahlah, sekarang ceritakanlah."

Lelaki tua itu pun bersuara, tetapi kemudian terdengar suara yang aneh. Ia berbicara seperti orang gagu, seperti orang bisu! Kusaksikan betapa mengenaskannya kesulitan menyampaikan pesan, apalagi jika pesan itu mewakili kehendak yang terdalam. Bagaikan kehidupan yang terbungkam.

Apakah lelaki tua itu memang bisu? "Aaaiiiiiwongeauiekaukziiieeengukhhaa..."

Memang seperti orang bisu, tetapi mereka yang bisu biasanya sudah mahir berbicara dengan cara lain, menyampaikan maksud dengan gerakan dan ungkapan wajah, bahkan dengan begitu fasihnya sehingga tidak terasa lagi terdapatnya sesuatu yang kurang jelas. Namun tidak terdapat sesuatu pun yang kami mengerti dari ceracauan dan gerakan tangan tidak jelas yang kacau dari lelaki tua ini, kecuali betapa pandangan matanya mengungkapkan kesedihan yang sangat amat mendalam.

Serigala Merah menatapnya saja sambil berpikir keras.

Lantas ia menghentikannya.

"Bapak, diamlah dahulu. Tenanglah."

Orang tua itu diam dengan terengah-engah. Matanya masih basah. Namun aku sebetulnya tidak melihat wajah yang pasrah, seperti sesuatu yang sudah menyerah. Betapapun, seorang tua yang diburu dan dicegat seratus pemanah tentara Wangsa Tang kiranya pastilah bukan manusia semacam itu. Meskipun seandainya ia datang dari kota terdekat seperti Kunming, perjalanan yang ditempuhnya pun sudah sama jauh dan sukar seperti kualam i. Apalagi jika ia datang dari Changian, dan aku menduga ia memang datang dari sana, karena hanya seseorang yang pentinglah dapat dipedulikan seratus pemanah begitun rupa sehingga harus membunuhnya. Adapun segala sesuatu yang penting hanya berada di Kotaraja Chang'an.

''TENANGLAH Bapak, sekarang jawablah pertanyaan sahaya, cukup dengan mengangguk atau menggeleng sahaja.''

Lelaki tua mengangguk-anggukkan kepala berkali-kali. ''Cukup sekali ya Bapak, cukup sekali.''

Ia mengangguk.

''Apakah Bapak datang dari Chang'an?'' Ia mengangguk.

''Apakah Bapak bekerja di istana?'' Ia mengangguk.

Kami saling berpandangan. ''Apakah Bapak memang diburu pasukan panah itu?''

Orang tua itu tidak mengangguk dan tidak juga menggeleng. Ia mengangkat bahu.

Serigala Merah menggeleng-gelengkan kepala sambil melihat kepadaku. Aku tahu ini menjadi sulit. Mengangkat bahu bisa berarti ia tidak tahu sama sekali, bisa berarti ia tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, dan itu berarti memang ada persoalan menyangkut dirinya dengan istana. Ini tentu tidak bisa dijelaskan dengan cara mengangguk atau menggeleng saja. Harus ada cara bertanya berdasarkan pengetahuan yang cukup banyak dalam hubungannya dengan masalah orang tua tersebut. Tanpa pengetahuan tersebut, tidak terlalu jelas kiranya pertanyaan macam apa yang bisa disampaikan dengan jawab anggukan atau gelengan sahaja. Namun Serigala Merah tampaknya tidak terlalu peduli.

''Kita biarkan saja dia melanjutkan perjalanan,'' ujar Serigala Merah kepadaku, ''kita semua punya urusan masing- masing. Sudah bagus kita sempat menolongnya tadi.''

Serigala Merah seperti akan beranjak pergi, dan kukira memang akan melesat pergi, jika tidak kugamit lengannya untuk tetap tinggal.

''Sebentar...,'' kataku, ''kita dengar dulu jawaban pertanyaanku ini...''

Aku pun bertanya.

''Bapak tidak bisa bercerita. Apakah Bapak bisu sejak lahir?'' Ia menggeleng.

''Jadi Bapak sebelumnya bisa berbicara?'' Ia mengangguk.

''Apakah Bapak menjadi bisu karena sakit?''

Ia mengeleng. ''Jadi bagaimanakah caranya Bapak menjadi bisu?''

Ia mengangkat bahu lagi. Kukira bukan maksudnya ia tidak tahu, melainkan tentu bahwa ia tidak tahu cara menceritakannya. Berarti pertanyaanku yang keliru. Kucoba menanyakan dugaanku.

''Apakah kebisuan Bapak ada hubungannya dengan perjalanan Bapak?''

Ia mengangguk.

''...dan ada hubungannya dengan pasukan panah itu?'' Ia mengangkat bahu. Salah lagi pertanyaanku.

Serigala Merah mendekat, langsung ikut bertanya. ''Apakah Bapak dipaksa untuk menjadi bisu?''

Ia mengangguk.

''Apakah lidah Bapak dipotong?''

Air matanya mendadak berhamburan. Ia menangis dengan suara yang kacau. Kembali mengetuk-ngetukkan kepalanya ke jalan batu.

Aku bermaksud mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi, tetapi ia masih juga menangis dengan bunyi yang terdengar kacau balau. Kukira ia mengucapkan banyak kata-kata, tetapi kata apakah yang masih bisa dimengerti jika diucapkan dengan lidah terpotong seperti itu?

Serigala Merah mendekatinya, menggosok punggung orang tua itu.

''Tenanglah Bapak. Kami mengerti penderitaan Bapak.

Tenanglah, Bapak sekarang bersama kami.''

Aku juga mendekatinya, memegang kedua tangannya.

Berkata pelan sekali kepadanya.

''Apakah Bapak menyimpan sebuah rahasia?'' Ia mengangguk-angguk beberapa kali. Kukira memang itulah sumber masalahnya. Namun aku masih harus mempertanyakan satu hal lagi.

''Apakah hanya Bapak seorang yang mengetahui rahasia itu?''

Ia mengangguk-angguk lagi.

Kukira itulah sebabnya ia tidak langsung dibunuh. Jika orang lain sudah mengetahui rahasia itu, dirinya sudah tidak diperlukan lagi dan memang harus dibunuh, agar rahasia terjamin tidak terbongkar. Namun ternyata hanya lelaki tua itulah yang menyimpan rahasia tersebut, maka tentu lidahnya dipotong agar ia tidak dapat membuka rahasia tersebut, dan ia tidak dibunuh karena rahas ia yang disimpannya itu begitu pentingnya untuk tetap dibuka, tetapi tidak kepada semua orang.

JIKA kemudian diputuskan betapa akhirnya ia tetap dibunuh saja, bukan karena rahasia yang dipegangnya akhirnya diketahui, melainkan karena telah berlangsung suatu peristiwa, yang membuat ia lebih baik dilenyapkan bersama segenap rahasia yang dipegangnya tersebut. Rahasia apakah itu?

"Apakah Bapak bisa menulis?" Ia mengangguk.

"Apakah Bapak membuka rahasia itu untuk kam i?" Ia mengangkat bahu.

Aku dan Serigala Merah saling berpandangan. Kini arti mengangkat bahu itu kukira menjadi lebih banyak lagi. Bukan hanya antara rahasia apa yang akan diceritakannya dan bagaimana menceritakan rahasia itu, melainkan apakah rahasia itu perlu diceritakan kepada kami! Setelah peristiwa yang hampir menghilangkan nyawanya ini?

Namun aku pun tahu, bukanlah pada tempatnya kami memaksa untuk mengetahui rahasia tersebut, hanya karena kami telah menolongnya.

Jika rahasia itu menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan, tentulah harus dianggap bahwa Serigala Merah sebagai penduduk pedalaman di perbatasan, keturunan pemberontak pula, tidak mempunyai kepentingan untuk mengetahui rahasia tersebut. Apalagi dengan seorang pengembara asing seperti diriku...

Antara diriku dan Serigala Merah telah terjadi saling pengertian dalam tatapan. Serigala Merah berkata sambil menggamit orang tua itu agar berdiri.

"Kami tidak akan memaksa Bapak untuk membuka rahasia apa pun yang telah membuat Bapak menderita. Mungkin Bapak ingin me lanjutkan perjalanan? Silakan. Tetapi Bapak sudah tidak memiliki kuda dan Bapak tampak sangat lelah, sedangkan wilayah di depan Bapak itu penuh dengan para penyamun. Jika Bapak sudi, beristirahatlah dahulu di kampung kami. Nanti ada kuda dan pengawal yang bisa mengantar dan melindungi Bapak, ke mana pun Bapak akan pergi," ujar Serigala Merah panjang lebar.

Orang tua itu mengangguk. Kuperhatikan wajahnya. Kurasa ia menjadi tampak begitu tua karena terlalu banyak pikiran, dan pikiran itu datang mungkin karena ia terlalu banyak menyimpan rahasia. Kuperhatikan pula seluruh perawakannya. Baru kusadari ia tampak sangat terurus. Memang tidak begitu halus seperti bangsawan, tetapi dengan bekerja di istana tentu berarti seseorang tidak me lakukan kerja kasar yang memerlukan pengerahan tenaga.

Ia masih mengenakan jubah sutera ungu, yang kuketahui merupakan busana resmi pejabat peringkat ketiga ke atas. Jika ia bermaksud melarikan diri dan menempuh perjalanan di lautan kelabu gunung batu, semestinya ia mengganti jubah suteranya yang ungu itu dengan yang kuning, kalau bisa bahkan jangan terbuat dari sutera mahal itu, bahkan sebaiknya warna kuning itu pun sudah hampir hilang. Rakyat biasa dan s iapa pun yang tidak bekerja di istana mengenakan busana seperti itu. Sangatlah kentara dalam perjalanannya bahwa ia seorang pejabat istana dari kotaraja.

Melihat keadaannya, dan teringat sepintas akan kudanya yang tanpa perlengkapan, kupikir ia telah berangkat melakukan perjalanan dalam keadaan sangat tergesa-gesa. Dalam keadaan darurat.

"Sebaiknya kita berangkat sekarang," ujar Serigala Merah kepadaku, "Serigala Hitam mungkin sudah gelisah, dan orang- orang yang mau menyeberang mungkin sudah berkumpul."

Sebentar kemudian kami sudah melenting dari puncak batu yang satu ke puncak batu yang lain, dengan orang tua itu di gendonganku. Kulihat dinding-dinding jurang mengapit anak- anak sungai, dengan buih memutih dari jeram ke jeram. Kupikir seharusnya aku bisa membuat puisi dari pemandangan semacam itu. Dengan sedih harus kuakui betapa diriku tidaklah mampu, dan hanya teringat puisi Li Bai yang seperti ini:

teman lamaku tinggal

di Pegunungan T imur ini, mencintai keindahan bukit dan arusnya;

pada musim panas ketika segalanya hijau ia berbaring di hutan

bahkan ketika matahari tinggi belum juga bangun;

angin menderu di sela cemara menyapu debu dunia

pergi darinya; lantas

di atas batu, mencuci telinga dan hati; sekarang diriku, melihat rumahnya merasa damai, takdikacaukan gangguan suara, seperti aku disangga bantal raksasa, dan tidur di antara mega-mega

(Oo-dwkz-oO)