-->

Nagabumi Eps 173: Renungan dalam Kegelapan

Eps 173: Renungan dalam Kegelapan

Rembulan berpindah tempat, melepaskan diri dari jepitan kedua sisi teratas dinding-dinding celah, suasana seperti mendadak muram, dan lorong ini akan segera kembali menjadi gelap. Namun pergeseran sumber cahaya, sebelum lorong ini menjadi gelap, ternyata memberikan bentuk pantulan tertentu dari guratan-guratan itu. Segalanya menjadi jelas bagiku sekarang. Pembuat coretan itu mengguratkan pedangnya dengan dua kedalaman yang berbeda; yang lebih dalam membentuk aksara, sedangkan yang tidak terlalu dalam membentuk gambar. Keterbedaan yang terjelaskan oleh perubahan sudut pencahayaan ini, tidak dapat kupastikan disengaja atau tidak, tetapi penumpukan guratan aksara dan guratan gambar itu kuyakini merupakan usaha merahasiakannya. Tanpa sudut pencahayaan tertentu, guratan yang dalam maupun tidak terlalu dalam tidak terbedakan, sehingga guratan-guratan itu hanya akan tampak sebagai corat-coret tanpa kejelasan.

Inilah yang belum kumengerti. Jika ingin dirahasiakan, kenapa harus diungkapkan? Jika ingin diungkapkan, kenapa harus dengan cara yang begitu sulit untuk mendapatkan kejelasannya?

DENGAN semakin bergesernya rembulan, semakin menggelap pula lorong ini, sehingga aku harus segera membaca kata-kata yang berasal dari susunan aksara Negeri Atap Langit ini secepat-cepatnya.

Manusia tidak bertaring, manusia berkulit tipis, manusia tidak berbulu. Manusia menjadi manusia, jangan meniru binatang. Kecerdasan membedakan manusia dari binatang. Kegarangan, yang alamiah bagi binatang, tercela untuk manusia. Manusia mencari cara yang alamiah baginya. Manusia yang mencari sifat dasarnya, dalam sifat dasar binatang, kehilangan s ifat dasarnya sebagai manusia

Dengan terbaca kata terakhir itu, semakin meredup pula cahaya, sebelum akhirnya lorong ini kembali menjadi gelap sama sekali. Aku mendongak ke atas, tiada lagi rembulan. Segenap tulisannya telah kubaca, tetapi meskipun gambar- gambar yang bertumpuk dengan aksara itu pun telah dapat kupisahkan dari aksara, dan kuketahui menggambarkan apa, belumlah kuketahui maknanya. Aku masih harus memikirkannya. Aku melangkah pelahan menuju kudaku yang menunggu. Dalam gelap kutunggangi lagi, dan ia pun segera melaju. Dari sini lorong ini memang menjadi lebih lebar, sehingga masih cukup luas jika seorang penunggang kuda lain datang dari arah yang berlawanan dan berpapasan.

Kukira aku masih tetap harus waspada terhadap apa pun yang dipersiapkan Harimau Perang untuk menghalangiku, dan sangat besar kemungkinannya untuk membunuhku. Pertemuanku dengan manusia yang mampu membubung ke atas hanya dengan embusan napasnya itu, harus kuanggap bukan bagian dari rencananya. Begitu juga ketika perjalananku harus tertunda lebih lama lagi, karena ketersingkapan tulisan dan gambar-gambar yang dirahasiakan, tetapi tetap saja diungkapkan itu. Aku bahkan tidak berani memastikan, apakah pendekar calon pengantin yang terguncang jiwanya karena kehilangan calon isteri dua puluh tahun lalu itu juga mengetahuinya. Selain karena perbedaan aksara dan gambar itu hanya terlihat dalam pemisahan oleh sumber cahaya tertentu saja, juga harus kuingat betapa manusia yang malang itu hidup di dalam dunianya sendiri.

Namun sementara perjalananku belum kuketahui berapa lama lagi akan tiba di seberang celah, kuwajibkan diriku untuk membuka rahasia yang mengungkapkan dirinya kepadaku di dalam celah itu. Dalam kegelapan, di atas punggung kuda yang bagaikan membawaku terbang sepanjang semesta yang hitam, kuingat kembali betapa kata-kata itu diucapkan oleh Yangzi, pemikir Dao yang hidup lebih dari seribu tahun lalu. Dari ruang pustaka Kuil Pengabdian Sejati pernah kubaca Kitab Han Feiz i yang juga di-tulis Han Feizi mengutip ucapan Yangzi:

Adalah seseorang

yang kebijakannya tidak memasuki kota yang berada dalam bahaya, maupun tetap bersama pasukan tentara.

Demi keuntungan besar bagi dunia pun ia tidak akan menukarkan sehelai bulu betisnya...

Dialah yang merendahkan harta benda dan menghargai kehidupan.

Sementara kitab lain, Hua Nanzi, menyebutkan:

Melestarikan kehidupan

dan mempertahankan keaslian di dalamnya,

tidak membiarkan harta benda menjerat seseorang:

itulah yang ditegakkan oleh Yangzi.

Sesuai dengan pemikiran Dao, yang lebih memberi nilai tinggi manusia sebagai bagian dari alam, daripada membiarkan penalarannya memanfaatkan alam, aku menafsirkan kembali yang tertulis pada dinding tersebut, bahwa manusia harus mengembangkan dirinya sebagai manusia berdasarkan miliknya sendiri. Jika manusia memang tidak memiliki taring, ia tidak perlu menciptakan suatu alat untuk menggantikan taring. Jika manusia tidak memiliki cakar seperti harimau, ia t idak perlu menciptakan jurus silat harimau agar dapat menggantikan yang tidak dim ilikinya. Ia harus mengembangkan diri dengan apa pun yang berada di dalam dirinya saja.

Benarkah begitu? Ketika Yangzi bicara tentang kegarangan dan sifat dasar kurasa sebetulnya ia sedang berfilsafat tentang jiwa manusia, agar janganlah meniru perilaku binatang yang hanya mengikuti nalurinya saja. Sedangkan naluri binatang agar tetap selamat dalam rimba raya kehidupan adalah membunuh makhluk lain yang mengancam keselamatannya, dan karena itulah sifat dasarnya, dari serangga sampai beruang, adalah menjadi garang. Itulah yang tidak dianjurkan kepada manusia untuk menirunya. Jika manusia mengembangkan diri di dalam alam yang dihuninya bersama binatang, janganlah meniru s ifat dasar binatang.

Dihubungkan dengan jiwa pemikiran Dao, bahwa manusia merupakan bagian dari alam yang juga dihuni binatang, dan karena itu binatang seharusnya menjadi sahabat manusia di dalam alam, penalaran Yangzi seolah-olah membuat manusia berjarak dari alam. Namun jika dipikirkan ulang, ternyata sama sekali tidak. Yangzi hanya ingin manusia kembali kepada dirinya sendiri, dengan menegaskan perbedaan dirinya dari binatang, sebagaimana kedudukan manusia di tengah alam, yang memiliki kesadaran untuk menghargai kehidupan.

Namun dalam terbacanya pemikiran Yangzi di dalam celah sempit ini, aku merasa bahwa pendekar yang menuliskannya dengan pedang mestika di dinding batu itu ratusan tahun lalu, menafsirkan pemikiran tersebut dalam kerangka ilmu silat! Memang hanya dengan begitu gambar-gambar yang diguratkan bertumpuk di atas atas aksara-aksara, sehingga tampak hanya bagaikan corat-coret sembarang sahaja, menjadi bermakna!

Dalam kegelapan, di atas punggung kuda yang melaju, aku tersenyum sendiri, karena merasa menemukan sesuatu. Sesuatu yang selama ini juga selalu kucari!

Gambar-gambar yang dalam keberbedaan guratan menjadi jelas karena sumber pencahayaan dari sudut tertentu itu, di atas setiap aksara membentuk sosok manusia. Semula aku sudah siap untuk gambar manusia yang memainkan jurus- jurus silat, tetapi sosok-sosok manusia itu ternyata tidak seperti sedang memperagakan jurus apa pun. Itulah sosok manusia berkepala gundul, yi atau baju atasnya sepanjang lutut, mengenakan busana yang disebut ku atau celana, dan juga mengenakan alas kaki yang disebut sebagai sepatu. Setiap sosok pada setiap huruf itu memang tidak memperagakan jurus apa pun, karena sosok itu hanya memperlihatkan bentuk yang diperagakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Betapa bukan bentuk seperti yang kita saksikan setiap hari, jika yang kulihat adalah gambar orang duduk, orang berdiri, orang berjalan, atau orang tidur? Orang duduk tentu dengan bermacam-macam cara duduk, apakah dengan satu kaki naik dan dagunya tertopang di lutut, kedua kakinya naik dan tangan memeluk lututnya, maupun justru meskipun sa lah kaki naik, kedua tangan bersandar di tempat ia duduk. Tentu ada yang duduk begitu saja, memang hanya duduk, dan ada juga yang sambil m inum, atau makan, atau juga menguap dengan mulut lebar, se lebar-lebarnya seberapa lebar mulut itu bisa menguap...

Ada yang sedang tertawa dengan begitu gelinya sampai memegang perutnya, ada yang seperti sedang makan menggunakan sumpit, ada yang duduk mengantuk dan tidur menelungkup di atas meja dengan dahi disangga punggung tangan, dan seterusnya disusul oleh bermacam-macam cara tidur. Mulai dari tidur terlentang seperti biasa, menelungkup, berguling ke kiri atau ke kanan, atau tidur meringkuk seperti bayi di dalam kandungan.

DEMIKIANLAH kuingat semuanya, orang berdiri, orang berjalan, orang bersila, orang bersimpuh, orang berjongkok, orang meloncat, orang menangis dengan tangan mengusap air mata, dan orang sedang memanggil seseorang yang lain sambil melambaikan tangan.

Dalam kegelapan, terbayang bagaimana segala yang tergambarkan itu menjelma dalam peradaban, di jalanan, di kedai, di pasar, di penginapan, di kuil, di sawah, di atas kapal, di mana pun, seperti yang telah kujumpai sepanjang dalam perjalananku. Jurus-jurus silat dari setiap wilayah memang bisa berbeda, tetapi cara orang berjalan dan tertawa, duduk dan tidur, di mana pun adalah sama. Itulah bentuk tubuh siapa pun dalam kehidupan sehari-hari di jalanan. Bahwa kemudian semua itu tergambarkan di dalam sebuah lorong, dalam salah satu dari dua belas celah di Ce lah Dinding Berlian, apakah kira-kira maksudnya?

Apakah orang yang telah mengguratkan aksara dan gambar pada dinding dengan sebuah pedang mestika itu, sedang berbicara tentang ilmu silat atau bukan ilmu silat? Pemikiran Yangzi yang terguratkan melalui aksara-aksara pada dinding raksasa itu tidak berbicara langsung tentang ilmu s ilat, begitu pula sikap tubuh sosok-sosok yang tergambarkan tersebut. Namun yang sepintas lalu hanya terpandang sebagai guratan corat-coret itu tidak mungkin dibuat tanpa ilmu silat yang tinggi.

Kubayangkan seorang pendekar dari masa yang sangat silam itu, dengan ilmu meringankan tubuhnya, telah melenting ke atas dan sambil turun membuat berbagai gerakan dengan pedang mestikanya pada dinding keras, yang bagi pedang mestika tersebut hanyalah selunak tofu. Ia mengguratkan bentuk-bentuk aksara pada dinding, memindahkan pemikiran Yangzi dari dalam kepalanya. Begitulah set iap kali sampai ke bawah, ia bergeser ke samping kanannya dan melenting lagi ke atas, sampai seluruhnya tertuliskan. Setelah itu ia mengulanginya lagi untuk membuat gambar-gambar sikap tubuh dari kehidupan sehari-hari tersebut.

Menurutku telah diperhitungkannya dengan cermat, bahwa guratan yang membentuk aksara harus lebih dalam daripada guratan yang membentuk gambar, agar sudut pandang pencahayaan tertentu akan membuat yang semula tampak sebagai corat-coret tanpa makna, menjadi jelas terpisahkan sebagai aksara dan sebagai gambar.

Mengingat semua itu dibuat oleh seorang pendekar, yang mengandalkan ilmu silat, aku pun menghubungkannya dengan persoalan ilmu silat. Dari pemikiran Yangzi yang berbicara tentang perbedaan manusia dan binatang, dan bahwa manusia harus kembali ke sifat dasarnya sendiri, yakni yang bukan mengembangkan kegarangan binatang, semula kupikirkan bahwa mengembangkan jurus-jurus silat yang merujuk kepada gerak binatang itulah yang tidak dianjurkan. Maka ketika sosok-sosok manusia itu kemudian dapat kupisahkan, dan dapat kutatap sebagai gambar yang berdiri sendiri, lepas dari aksara yang menjadi latar belakangnya, aku berharap melihat jurus-jurus silat, yang mungkin dimaksudkan sebagai cara lain daripada jurus-jurus yang mengacu kepada gerak pertarungan binatang.

Tentulah harapanku tidak terpenuhi, karena yang kulihat adalah sikap tubuh yang tidak merupakan jurus silat sama sekali! Apakah ia memang berbicara tentang sesuatu di luar ilmu s ilat?

Namun aku harus menafsirkannya dalam kerangka ilm u silat, karena tulisan serta gambar-gambar itu hanya mungkin diguratkan pada dinding raksasa itu dengan ilmu silat.

Betapapun, penafsiranku terbawa dan terbentuk oleh pendalaman ilmu silat yang kulakukan sendiri. Pertama, bahwa dalam Jurus Penjerat Naga yang disebut jurus tidaklah mirip dengan jurus silat sama sekali; kedua, bahwa dalam Jurus Tanpa Bentuk yang sedang kupikirkan sambil terus mengembangkannya, jurus ilmu silat memang tidak digunakan sama sekali, karena Jurus Tanpa Bentuk merupakan suatu jurus yang berada di dalam pikiran.

Bukankah tidak aneh jika kemudian aku berpikir, setelah melihat gambar-gambar sikap tubuh yang bukan jurus silat itu, bahwa membedakan diri dari binatang artinya tidak lain dari menggunakan penalaran, yang digunakan begitu rupa sehingga bahkan tidak sepotong jurus pun, termasuk jurus yang tidak seperti jurus silat, perlu digunakan dalam ilmu silat.

Di atas kuda yang melaju dalam kegelapan aku tersenyum. Apapun yang dimaksud oleh pendekar yang terjebak di lorong ini, mungkin seribu tahun lalu, aku merasa telah menafsirkannya sesuai dengan kepentinganku. Pendalamanku terhadap Jurus Tanpa Bentuk bukanlah arah pendalaman ilmu silat yang keliru.

KEPENTINGAN negara, kepentingan kelompok, dan kepentingan pribadi berkaitkelindan begitu rupa, sehingga bukan mustahil menjadi sulit untuk kembali diuraikan.

Menduga kedudukan Harimau Perang, betapapun harus dihubungkan dengan tanda-tanda yang dapat dibaca dari dirinya sendiri, bahwa dua belas pengawal rahasia dibantainya karena telah membicarakan orang-orang kebiri dengan cara yang merendahkan sekali. Ini berarti siapa pun dia orangnya, karena kepastiannya memang belum ada, yang selama ini kuanggap sebagai Harimau Perang dan sedang kuburu ini memiliki sikap yang berbeda dari banyak orang terhadap orang-orang kebiri. Dengan kata lain, dalam kebencian yang telah dibangun melalui segala cerita tentang orang kebiri, sikapnya bukan sekadar berbeda, melainkan berlawanan begitu rupa sehingga dua belas pengawalnya sendiri itu dibunuhnya.

Seandainya pun pembunuhan itu merupakan bagian dari suatu rencana, kata-katanya yang kudengar sendiri tidak mengubah kedudukannya. Bahkan, mengingat ia berbicara tanpa mengira ada seseorang yang mendengarnya, dapatlah dipastikan betapa yang diucapkannya itu memang jujur adanya. Meski ini belum menunjukkan arah yang pasti, tetap saja terhubungkan dengan peristiwa menyangkut orang kebiri juga, bahwa dalam karung yang dibawa oleh para pengawal barang itu, terdapat mayat orang kebiri terpotong-potong yang sangat mengenaskan.

Harimau Perang dipanggil untuk menyeberangi perbatasan melalui jalan darat yang berat, yang tidak merupakan kelaz iman, oleh pihak istana; demikian pula mayat orang kebiri yang terpotong-potong itu diselundupkan bersama berbagai barang berharga yang diangkut kuda beban dalam karung yang disegel dengan lilin merah, diangkut melalui jalan ini.

Jika tidak berlangsung bentrok antara diriku dengan para penyoren yang mengawal barang karena kuda Uighur itu, dan mereka tidak mati terbunuh oleh Pendekar Kupu-kupu, tentunya mereka telah berpapasan dengan Harimau Perang.

Terdapat cap dari istana pada segel lilin merah tersebut. Artinya bahwa pembunuhan orang kebiri itu berlangsung di dalam istana, dan diselundupkan keluar melalui jalur resmi istana, yang pada umumnya dikuasa i orang-orang kebiri. Siapakah yang membunuh orang kebiri itu? Apakah ia dibunuh oleh seseorang atau beberapa orang yang membencinya, sebagaimana setiap orang seperti wajar saja membenci orang kebiri?

Ataukah, dan inilah yang kupikirkan setelah mendengar cerita persaingan antara Gao Lishi dan Li Fuguo di istana yang sama sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, mungkinkah ia telah dibunuh oleh orang-orang kebiri sendiri? Setidaknya orang kebiri yang menyimpan cap segel itu mengetahuinya. Mungkin pula bekerja sama dengan orang kebiri yang bertanggung jawab atas gudang penyimpanan harta benda istana.

Apakah aku tidak terlalu jauh menebaknya? Kuanggap ini merupakan dugaan yang baik, karena setelah mendengar dan membaca segala cerita tentang orang kebiri, kupikir orang- orang kebiri yang bertugas di istana itu terlalu teliti untuk dikelabui.

Aku memikirkan suatu kemungkinan, tetapi tidak ada gunanya membicarakan ini tanpa bukti.

Aku juga bertanya-tanya, jika bapak kedai itu tidak bercerita dan tidak memberikan kitab gulungan tentang orang kebiri itu, apakah yang bisa kupertimbangkan dari peristiwa ini? Siapakah bapak kedai yang telah mengorbankan jiwanya untukku itu? Benarkah ia me lakukan pekerjaan mata-mata bagi negara seperti yang pernah kuduga, atau menjual keterangan kepada siapa pun yang membayarnya? Di wilayah perbatasan yang rawan, keterangan berharga yang rahasia sifatnya bisa dijual dengan harga mahal. Namun mengapa tiba-tiba ia seperti memaksaku untuk mengetahui segala cerita tentang orang kebiri itu? Aku masih harus memeriksa kembali segalanya, termasuk cerita tentang panglima kebiri Yu Chao'en yang meninggal 27 tahun lalu itu.

Dalam kegelapan aku bertanya-tanya, mungkinkah semua pertanyaanku itu mendapatkan jawabannya? Teringatlah aku kepada Kong Fuze:

mestikah aku mengajarimu apakah pengetahuan itu?

ketika dirimu mengetahui sesuatu kucegah untuk mengetahuinya;

ketika dirimu tidak mengetahui sesuatu kubiarkan dirimu tidak mengetahuinya. itulah pengetahuan

ANGIN kencang bertiup dari depan. Apakah sebentar lagi aku akan segera keluar dari lorong sempit yang sangat menekan perasaan ini?

Laju kudaku kembali tertahan. Lorong tampaknya menyempit kembali menjelang keluar. Demikianlah untuk kesekian kalinya diriku harus bertahan dengan perasaan tertekan. Angin segar dari luar yang telah membawakan wangi dedaunan itu membuat kegelapan dan kesempitan ini sangat menyiksa. Apalagi ketika lamat-lamat seperti kudengar juga suara anak kecil, salak anjing, dan kokok ayam jantan. Apakah benar lorong ini sebentar lagi memasuki sebuah pemukiman, ataukah hanya harapanku sahaja, yang bagaikan telah melihat segalanya akan berada di depan lorong ini.

Mendadak aku seperti mengerti bagaimana orang menjadi gila. Terutama mereka yang telah menjadi begitu panik dan begitu putus asa, yang membuat harapan takterpenuhi bisa sangat membunuh. Lorong gelap dan sempit ini sebetulnya selalu dilewati bagaikan jalan biasa, penghubung antarpemukiman di wilayah ini maupun antara Daerah Perlindungan An Nam dan Negeri Atap Langit dan sebaliknya, sehingga siapapun memang diharapkan menganggapnya sebagai jalan umum saja, sebagai satu-satunya jalan yang bisa dilewati di s ini. Pada dasarnya kesempitan dan kegelapan celah manapun dari dua belas celah di Celah Dinding Berlian ini.

Maka aku pun memikirkan sesuatu yang lain, agar tidak terjebak kepada bayangan palsu kampung nan permai yang seolah-olah sudah berada di depan mata, bagaikan impian yang ingin diyakini sebagai nyata.

Aku memikirkan betapa hubungan-hubungan di dalam jaringan rahas ia istana yang saling bertumpang tindih itu mungkin saja sesempit dan segelap lorong ini. Sempit dan gelap, tetapi merupakan jalan umum bagi para pelaku dalam peristiwa-peristiwa rahas ia di dalam istana. Sekali seorang petugas rahasia mengetahuinya, sebetulnya tiada yang rahasia lagi baginya. Namun justru karena itu, untuk menjaga terbongkarnya rahasia dari pengkhianatan, yang merupakan bagian takterpisahkan dari dunia mata-mata, setiap pelaku dijaga untuk hanya menguasai sepotong dari segala rahas ia itu. Baik pengetahuan atau keterangan yang dirahasiakan, maupun jalan rahasia itu sendiri.

Jalan rahas ia adalah jalur yang dilalui oleh sesuatu yang dirahasiakan, dari titik satu ke titik lain, sepanjang perjalanan dari sesuatu yang dirahasiakan itu, dari pengirim pesan rahasia itu kepada penerima pesan rahasia tersebut. Jalan rahasia itu bisa berputar-putar dalam jaringan rumit di istana saja, tetapi bisa menghubungkan berbagai titik di tempat- tempat yang sangat jauh, seperti antara Harimau Perang di Daerah Perlindungan An Nam dengan jaringan rahasia di Negeri Atap Langit ini.

Sepanjang perjalanan di jalan rahasia, sesuatu yang disebut rahas ia terandaikan tetap tinggal sebagai rahasia. Surat yang tergulung m isalnya, ketika berpindah dari tangan satu ke tangan lain dalam perjalanan rahasianya, terandaikan tidak akan pernah dibuka, apalagi dibaca. Namun di sanalah pertarungan rahasia itu justru berlangsung, karena sekali jaringan rahas ia bisa ditembus dan jalur perjalanan rahasianyan terlacak, bukan hanya surat itu akan dibuka dan dibaca, melainkan diambil dan diganti surat palsu yang akan menjebak pula.

Begitu waspada pihak istana Negeri Atap Langit ini menjaga kerahasiaannya, sehingga pernah kudengar cerita tentang surat yang harus disembunyikan di balik kulit tubuh bagian depannya. Jadi kulit tubuh petugas rahasia itu, bagian dada di bawah leher sampai di atas perut, dikuliti dengan rapi, karena harus dikembalikan lagi dengan surat terbungkus di baliknya. Tentu saja kulit itu harus dibuka lagi ketika surat di baliknya tiba di tempat tujuan.

Ketika kudengar cerita ini, kupikir memang sangat mungkin dilebih-lebihkan. Namun cerita tersebut menyadarkan diriku bahwa kesetiaan masih sangat berperan. Hanya jika maharaja memang dianggap sebagai perwakilan dewa-dewa di langit, maka seorang petugas rahasia rela mengorbankan dirinya seperti itu, atas nama kesetiaan dalam pengabdian yang suci. Kesetiaan itulah yang akan selalu mendapat tantangan dan godaan untuk berbalik menjadi pengkhianatan. Seperti juga yang terjadi di istana Mataram nun jauh di Yawabhumipala tercinta, tugas rahasia berdasarkan kesetiaan telah disa ingi oleh tugas rahasia berdasarkan nilai kerahasiaan itu sendiri, yang maknanya dihargai dengan imbalan. Apakah itu imbalan kekuasaan, harta, atau cinta, yang tidak jarang diselaputi kepalsuan dan birahi tak tertahankan.

SESUATU yang dirahas iakan itu tidak se lalu berupa surat, karena surat masih dapat dibaca. Kadang sesuatu yang dirahasiakan itu berupa lukisan. Sepertinya terlalu jelas ketika dilihat, mungkin lukisan pemandangan gunung di balik kabut dengan lekuk liku jalan setapak dan sungainya, mungkin lukisan pohon bambu yang daun-daunnya dibuat dalam sekali coret saja, mungkin pula gambar seorang perempuan yang kecantikannya luar biasa. Seperti terlalu jelas, tetapi dengan suatu rahasia tersembunyi di baliknya, berdasarkan tanda- tanda sandi yang sudah disepakati.

Selain lukisan, ada kalanya bahasa sandi tersembunyi di balik gulungan puisi. Aksara memang dituliskan sebagai seni penulisan aksara di atas lembaran yang disebut kertas, yang kemudian akan dipajang pada dinding. Namun meski begitu jelas betapa tulisan itu adalah puisi, cara membaca tertentu akan mengubah puisi itu sebagai suatu pesan rahasia, yang dapat kucontohkan seperti dari puisi Nyanyian Kereta Perang yang ditulis Du Fu ini:

berderak gemuruh suara kereta berisik suara ringkik kuda

di pinggang tiap prajurit yang berangkat busur dan panah tergantung erat

ayah, bunda, istri dan kanak-kanak berlari mengantar ucapkan selamat jalan debu mengepul naik, sehingga taktampak jembatan Han-yang di jauhan

mereka rengguti tepian baju para pejalan

menghentaki kaki, menangis melolong menghadang jalan meratap ngilu tersedan murung memekik rawan keras raungan meninggi memanjat awan seseorang yang berdiri di pinggir jalan bertanya kepada kawan di tengah barisan yang ditegur cuma beri jawaban:

''Memang selalu tentara dikirim ke garis depan!'' ada yang pertama kali dikirim ketika limabelas di garis pertahanan Sungai Kuning ia bertugas

sampai usia empat puluh empagt ia masih berdinas diperintah malah menggarap sawah, tentara pun perlu

beras

ada yang tatkala berangkat, pada kepalanya dikenakan destar oleh ketua desa

rambut menguban putih tatkala pulang

tak urung dikirim balik ke tapalbatas untuk berjuang

NAMUN dalam kehidupan para petugas rahasia, pemecahan rahasia adalah bagian dari tugas yang tidak dapat dihindari. Jika kunci-kunci sandi sulit dibuka, penyuapan uang tidak mempan, dan rayuan cinta tidak cukup menggoda, siksaan badan menjadi salah satu cara membuka rahasia. Meskipun begitu ini hanya bisa dilakukan jika dapat diketahui siapakah kiranya yang dipercaya mengemban dan membawa rahasia itu. Menemukan siapakah kiranya menjadi mata-mata bagi siapa adalah usaha yang tidak dapat dilakukan tanpa tipu daya, sementara suatu jaringan rahasia jelas dilindungi tipu daya yang sangat mengecoh pula. Tidak jarang seorang mata- mata diangkat dan ditugaskan secara rahasia, tetapi hanya untuk diumpankan sebagai pengalih perhatian, sehingga menyiksa, dan menggali keterangan darinya seringkali justru menjerumuskan para penangkapnya. Bahkan jika mata-mata yang sebenarnya tertangkap, telah disebutkan betapa tidak mungkin setiap petugas rahasia mengetahui segala rahasia.

Maka dalam hal rahasia yang seolah-olah paling mudah dibongkar, seperti rahas ia dalam bentuk kata-kata lisan, yang dibisikkan secara berantai dari telinga ke telinga, tidaklah membuat usaha perburuannya menjadi lebih mudah. Dalam hal pesan rahasia lisan dari telinga ke telinga, pesan rahasia yang dimaksudkan besar kemungkinan dikaburkan oleh banyak sekali pesan rahasia dari sekian banyak jalur lainnya, sehingga yang melacaknya akan sangat sulit menentukan, itu pun jika semua berhasil disadapnya dengan suatu cara, manakah kiranya yang bisa dijamin merupakan pesan rahasia sesungguhnya.

Semua ini menjadi lebih rumit, karena jaringan yang bertumpang tindih itu tidak hanya mewakili satu atau dua pihak yang saling membutuhkan atau saling berlawanan, melainkan begitu banyak kepentingan yang tidak harus saling berhubungan antara satu dengan lainnya.

Namun menjadi sangat penting untuk kupastikan sekarang, betapa yang disebut jaringan rahas ia istana itu sama sekali tidak terbatas di dalam istana. Aku menyadari betapa penguasa tidak akan mampu menancapkan kekuasaan dengan baik, jika tidak didukung jaringan rahas ia yang menyelusup dan mengakar sampai ke pelosok perbatasan maupun negeri- negeri jajahan. Maka tentulah menjadi pertanyaanku, apakah pemukiman penduduk asli yang sebetulnya keturunan bekas pemberontak tidak luput dari jaringan rahasia itu? Dalam pemukiman seperti ini, bahkan pengawal rahasia istana yang paling pandai menyamar dan meleburkan diri ke dalam suatu kelompok pun tidak selalu berani memasukinya, karena sangat sering terjadi, yang ditugaskan ke sana tidak pernah kembali lagi!

(Oo-dwkz-oO)