Nagabumi Eps 171: Lorong Kegilaan

Eps 171: Lorong Kegilaan

LORONG sempit dengan dinding-dinding raksasa menjulang ke langit ini memang gelap, sehingga hanya jika kurentangkan kedua tanganku maka dapat kurasakan keberadaan dinding di sisi kiri dan kanan itu. Apabila kedua dinding me i?1/2nyempit, dengan hanya menggerakkan kedua siku ke sisi luar saja sudah dapat kurasakan permukaan yang keras seperti berlian, bahkan ketika sangat amat menyempit kedua sisi luar lututku pun dapat merasakannya.

Pada saat itu tentu kuda tidak dapat berlari, dan berjalan cukup lambat, nyaris seperti merayap, karena memang ketika dinding menyempit itulah lantai lorong penuh dengan cuatan batu-batu tajam. Untuk melewatinya kuda U ighur yang cerdas menyentuhkan kakinya dulu, seperti meraba-raba dengan kukunya, untuk memastikan tidak menginjak batu menonjol dan tajam.

Kadang-kadang kuda itu menahan lajunya bukan karena lorong menjadi sempit, melainkan karena terdapat sesuatu yang lain. Aku teringat ucapan Iblis Suci Peremuk Tulang.

Lorong itu sendiri bisa menjadi masalah bagi mereka yang tidak cukup bernyali, karena kesempitan lorongnya memberi perasaan tertekan yang amat sangat, sehingga yang kurang kuat menahan ketakutannya akan kehilangan akal, berteriak- teriak sekeras-kerasnya sampai kehabisan tenaga, tidak mampu melanjutkan perjalanan dan mati. Bila mati mereka terjatuh dari kuda dan kudanya akan keluar dari celah tanpa penunggang. Para penduduk pemukiman di seberang celah sudah biasa menanti kuda tak bertuan seperti itu, karena kuda sangat sulit didapatkan di wilayah gunung-gunung batu berhutan seperti itu..., ujarnya panjang lebar.

Memang kuda itu menjadi pelan karena mayat yang tergeletak, bahkan kerangka manusia, bisa kudengar kaki kuda itu menyisihkan tengkorak, yang lantas menggelinding seperti bola, atau kadang menginjaknya sehingga terdengar suara seperti kundika yang remuk terinjak sepanjang lorong.

Banyak juga yang berhasil menahan ketakutannya sampai beberapa saat, tetapi justru menjadi panik ketika kaki kudanya menyenggol mayat-mayat atau kerangka manusia itu. Diceritakan betapa rombongan pedagang atau pemain wayang yang juga harus melewati satu di antara dua belas celah itu kadang-kadang mendengar suara jeritan tersebut di kejauhan. Setelah mendengar suara jeritan itu, cepat atau lambat biasanya mereka akan menemukan mayat tergeletak. Jika siang mungkin mereka masih bisa melihatnya, tetapi mungkin memang lebih baik berjalan pada malam hari, jika tidak ingin melihat pemandangan yang tidak ingin mereka lihat. Cerita menyedihkan masih terjadi, jika mereka yang menjadi panik dan kehilangan akal berteriak-teriak sampai kehabisan tenaga, ternyata tetap hidup tetapi menjadi gila. Mungkin mereka belum menjadi gila ketika berteriak-teriak, tetapi ketika di dalam lorong seperti ini terdengar suara orang meneracau, berbicara sendiri, atau menyanyi-nyanyi, tampaknya tiada dugaan lain yang lebih tepat selain bahwa orang malang tersebut telah mengalami keguncangan pikiran, sehingga berpikir dengan cara yang amat sangat berbeda, dan disebut sebagai kehilangan kewarasan.

Namun orang-orang yang menjadi gila ini sebetulnya mengalami keterguncangan dalam taraf berbeda-beda dengan akibat yang tidak se lalu sama. Memang banyak yang lantas mati begitu saja setelah berteriak-teriak tiada habisnya, tetapi di antara yang menjadi gila ternyata tidak semua gila sepenuhnya.

Ada yang ibarat kata hanya tiga perempat gila, setengah gila, seperempat gila, seperenambelas gila, tetapi meskipun hanya sepertigapuluhdua gila sekalipun, gila adalah tetap gila. Maka ada yang kadang-kadang memang sembuh kembali setelah beberapa lama berada di luar gua, dengan kenangan mengerikan yang selalu mengganggunya, ada pula yang tampaknya sembuh tetapi begitu senang mengulang kembali perjalanan keluar masuk celah manapun meski tidak ada perlunya, dan ada yang tetap hidup di dalam celah itu tanpa diketahui cara menghidupi dirinya.

KORBAN dari kesempitan celah ini tidak memandang bulu, bisa dari orang-orang awam, bisa pula dari para penyoren pedang segala golongan. Nyali yang besar tidak hanya dimiliki mereka yang memilih jalan hidup di sungai telaga persilatan, karena mereka yang mengembara di rimba hijau pun terkadang tidak mengenali dirinya sendiri, bahwa nyali mereka tidaklah sebesar yang mereka sangka seperti semula. Bahkan orang awam seperti petani dan pencari madu, bisa saja memiliki nyali yang besar sekali. Orang awam memang tidak bisa bersilat, tetapi nyali yang besar memang bukan hak istinewa orang-orang dunia persilatan. Maka di antara para penyoren pedang yang melewati salah satu dari kedua belas celah ini pun tidak sedikit yang menjadi gila. Apakah menjadi gila sebentar lantas mati, maupun menjadi gila tetapi tetap segar bugar dan selalu berkeliaran sambil tertawa-tawa.

Di antara bentuk kegilaan para penyoren pedang, memang bertempat tinggal di dalam celah merupakan sa lah satu kemungkinan. Seperti juga orang awam, sebagian besar biasanya cepat mati. Selain tidak terlalu mudah mendapatkan makanan, tidak terkuasainya hubungan antara jiwa, pikiran, dan badan agaknya memang lebih cepat menamatkan riwayat kehidupan karena tiada semangat demi suatu tujuan. Maka menjadi pertanyaan, demikian cerita Iblis Suci Peremuk Tulang, jika se lalu terdengar suara tawa yang seram, kadang senandung sebuah nyanyian, dalam beberapa tahun terakhir, yang kadang muncul kadang menghilang. Setiap kali disangka sudah mati karena tak pernah terdengar lagi, ternyata ia muncul kembali.

Adapun muncul bisa berarti hanya terdengar senandung seraknya, atau suara tawa yang bagaikan berasal dari dalam kuburan, tetapi juga serangan mematikan. Banyak yang mati karena perilakunya tersebut, dan hanya para pendekar yang berilmu sangat tinggi bisa selamat dan meneruskan perjalanannya. Betapapun ia memang sangat jarang muncul, dalam setahun mungkin hanya satu atau dua kali, bahkan hanya sekali dalam dua tahun, sehingga tidak sedikit yang telah melewati celah itu tanpa suatu apa hanya menganggapnya seperti dongeng. Bahkan suatu dongeng memang telah berkembang tentang sosok yang tidak pernah muncul secara jelas itu.

Demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang bercerita bahwa pendekar yang menjadi gila tersebut berasal dari golongan putih dan berasal dari wilayah Sichuan, bermaksud menyeberang dan mencari pengalaman dengan mengembara ke luar Negeri Atap Langit, dan tujuannya adalah Daerah Perlindungan An Nam. Tidak jelas benar siapa namanya sebagai pendekar, karena tampaknya ia memang masih muda dan sedang mencari nama. Barangkali bahkan belum ada seorang pun lawan yang pernah dikalahkan, meski c ita-citanya sebagai pendekar golongan putih tidaklah luntur, yakni membasmi golongan hitam. Maka sangat mungkin ia datang dengan semangat memusnahkan para penyamun di sepanjang lautan kelabu gunung batu, dan untuk mencapainya memang harus dilaluinya salah satu dari dua belas celah di Celah Dinding Berlian ini.

Namun, demikianlah cerita yang didengar Iblis Suci Peremuk Tulang dari sebuah kedai, konon ia jatuh cinta kepada seorang gadis keturunan pemberontak ketika melewati salah satu pemukiman. Konon sang gadis pun menyambut cintanya, bahkan dengan persetujuan ayah gadis tersebut, sebuah pernikahan telah direncanakan. Dikisahkan betapa sepasang muda-mudi ini sangat bahagia dan sudah tidak sabar menanti-nanti hari pernikahannya. Demi kemeriahan pesta pernikahan, gadis itu bermaksud menuju pemukiman yang berada di seberang Celah Dinding Berlian, untuk memesan baju pengantin kepada pembuat busana yang biasa melayani permintaan dari permukiman-permukiman di sekitar. Pendekar golongan putih ini bermaksud mengantarnya, tetapi kekasihnya keberatan, karena ia tidak ingin calon suaminya tersebut mengetahui terlebih dahulu baju pengantin macam apa yang akan dikenakan nanti.

Demikianlah akhirnya gadis itu pun berangkat dengan berjalan kaki pada suatu pagi, dengan rencana bahwa esok hari sebelum malam tiba ia sudah kembali pula. Telah dikisahkan bahwa menyeberangi kedua belas celah tersebut bagi mereka yang disebut penduduk asli sudah merupakan sesuatu yang harus untuk saling berhubungan. Permukiman tempat gadis itu tinggal dapat dicapai melalui jalan setapak pertama yang akan kujumpai nanti setelah keluar dari lorong ini, sedangkan permukiman yang dituju dapat dicapai me lalui jalan setapak yang tentu pernah kulihat, yang tampaknya juga menjadi tempat tujuan rombongan pemain wayang yang berpapasan denganku. Penduduk asli sudah biasa mondar- mandir antara permukiman satu dengan yang lain, meskipun memang tidak berlangsung set iap hari. Betapapun wilayah lautan kelabu gunung batu bukanlah tempat yang dapat dikatakan aman sekali.

HARI itu gadis tersebut berangkat. Namun ia tidak pernah pulang kembali. Kekasihnya ketika hendak berangkat menyusul telah dihalangi oleh penduduk agar tidak usah berangkat, karena tidak kembalinya gadis itu bukanlah pertanda yang baik. Pemuda yang masih bercita-cita menjadi seorang pendekar itu tetap berangkat, tetapi ia bahkan tidak pernah keluar lagi di seberang celah itu. Konon setelah beberapa hari, ayah gadis itu bersama penduduk yang lain berombongan menyeberangi celah menuju permukiman yang menjadi tempat tujuan gadis tersebut. Ternyata menurut pembuat baju pengantin, sang gadis memang telah datang kepadanya membawa ka-in sutera peninggalan ibunya, dan setelah makan siang berangkat pulang. Pembuat baju itu semula memang he-ran, kenapa banyak sekali orang yang akan mengambil baju pengantin ini.

Baju pengantin itu memang sudah selesai dibuat dan indah sekali. Terdapat sulaman suatu bunga di dadanya, yang dimaksudkan sebagai lambang kesetiaan dan cinta. Dise- butkan betapa semua orang menangis menyaksikan baju pengantin tersebut. Adapun calon pengantin pria, memang tidak pernah muncul di mana pun di seberang celah setelah memasukinya. Ketika mereka pulang kembali melewati celah yang sama, terdengarlah senandung serak, suara orang bicara dengan dirinya sendiri, dan suara orang tertawa yang seperti datang dari dunia orang-orang mati. Meskipun sudah begitu berbeda, penduduk masih mengenali suara tersebut sebagai suara calon pengantin malang itu, apalagi nama gadis calon isterinya juga ia sebutkan dalam perbincangan dengan diri sendiri maupun syair nyanyiannya. Semula mereka menduganya sebagai suara hantu, dan karena itu dengan secepat-cepatnya segera berlalu. Mereka tidaklah terlalu terkejut seandainya pendekar muda itu memang menjadi korban kesempitan celah gelap yang akibatnya sudah sangat dikenal.

Namun dari para pengembara dan pendekar kelana yang berhasil lolos dari serangannya, diketahuilah betapa pendekar golongan putih ini sebetulnya belum mati. Ia hanya menjadi gila dan hidup di dalam celah bersama segenap kegilaannya, merindukan kekas ih yang pergi tanpa pernah kembali. Pernah dilakukan usaha membujuknya, meng-ingat ketika masih berada di permukiman bersama mereka, pendekar muda itu sungguh santun dan se lalu membantu sesamanya. Mereka berteriak-teriak menyatakan maksudnya, agar kembali ke permukiman bersama mereka saja, di tempat suara-suara yang semula mereka kira suara hantu itu berada. Namun seperti telah disebutkan, keberadaannya tidak dapat dipastikan. Ia memang masih hidup, tetapi keberadaannya tidak dapat terlacak, seolah-olah hantu saja layaknya.

Peristiwa itu berlangsung dua puluh tahun yang lalu. Iblis Suci Peremuk Tulang juga mengaku betapa tidak dapat dipastikannya, bagian dari cerita itu yang merupakan dongeng dan bagian yang dapat dipercaya bahwa memang pernah berlangsung. Namun dari ceritanya yang masih kuingat itu aku yakin sedang me lewati lorong yang sama, karena memang kemudian kudengar suara senandung dan suara orang yang bicara dengan dirinya sendiri.

Tanpa kusuruh kudaku berhenti. Meskipun diandaikan tidak lebih hebat dari kuda yang sekarang ditunggangi Harimau Perang, karena kuda Uighur yang digunakan mata-mata Uighur sendiri tentunya lebih tinggi mutunya dari kuda Uighur yang ditukar dengan sutera betapapun mahalnya, kuda ini adalah milik anggota Kalakuta. Betapapun kuda yang menjadi andalan kelompok rahasia pastilah kuda yang selalu siap menghadapi pertarungan penunggangnya.

Ketika ia berhenti, segalanya me-mang menjadi lebih jelas.

Bahkan kudengar suara napas!

Setelah berjalan sepanjang malam di dalam lorong ini, aku sampai di bagian yang tidak berangin kencang. Dari arah suara napas, dapat kuperkirakan tempatnya, tetapi tidak ada sesuatu pun yang dapat kulihat. Memang ini bukan gua, dan di atas ada langit, tetapi celah ini begitu sempit dan tinggi, sehingga langit tanpa bintang itu pun hanya selebar lembaran lontar saja layaknya. Maka aku memejamkan mata dan kupasang ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

Dalam keterpejamanku tergariskan oleh garis cahaya buram kehijauan sosok yang sudah dua puluh tahun menghantui itu. Ia menempel pada dinding, jelas menggunakan ilmu c icak, tapi tidak kuketahui apakah tadi aku tidak melihatnya karena kegelapan luar biasa lorong ini, ataukah memang tak mungkin melihatnya disebabkan oleh ilmu bunglon.

Rambutnya panjang terurai dan tampak lengket satu sama lain.

KULITNYA seperti bersisik, tetapi itu bukan s isik, melainkan daki sangat amat tebal --yang mungkinkah kiranya terkumpul selama duapuluh tahun itu? Daki itu seperti lapisan tanah, mungkin itulah yang kurasakan seperti serbuk tanah yang bertaburan dari atas. Dalam dua puluh tahun, kurasa pakaiannya sudah hancur. Namun aku bertanya-tanya dalam hatiku sendiri, benarkah dia gila? Mereka yang merasuk begitu jauh ke dalam dirinya dan tidak pernah keluar lagi biasanya terputus juga hubungan dengan tubuhnya sendiri. Jika ia masih tetap bertahan sampai hari ini, kuragukan terdapat kegilaan yang mengenaskan, sebaliknya ketabahan luar biasa untuk menerima tanggung jawab dari kehidupan yang telah dipilihnya.

Cerita yang kudengar dari Iblis Suci Peremuk Tulang memang seperti dongeng, tetapi jika dongeng biasanya tampak sempurna, karena segala pertanyaan telah terjawab, terdapat ruang kosong yang tidak terselesaikan dalam dongeng tersebut. Mengingat dongeng itu masih bertahan dua puluh tahun dengan cerita yang sama, aku pun bertanya- tanya, ba-gai-manakah akhir cerita calon pengantin yang perempuan? Ia disebutkan telah datang ke permukiman di seberang celah, bahkan menghilangnya sang pengantin ini telah membuat calon suaminya menyusul, tetapi ketika pendekar muda itu dianggap telah menjadi gila karena setiap kali muncul bersenandung dan berbicara dengan dirinya sendiri, tetap tiada akhir cerita bagi sang gadis.

Ia tidak ditemukan mayatnya, karena seisi permukiman beramai-ramai mencari dengan obor menyala, dan tidak juga keluar lagi dengan ketergangguan jiwa. Aku menghela napas, membayangkan kemungkinan betapa gadis itu hanya pergi begitu saja dengan sebab yang belum diketahui bersama. Betapa banyak alur cerita yang terputus sebenarnya, tidak seperti dongeng yang lingkaran awal dan akhirnya utuh menyatu.

Mataku masih terpejam. Kudengar ia juga menghela napas. Ia bernapas dengan berat, terdengar jelas dalam kesunyian dan kegelapan. Suara napas itu dalam keterpantulannya kemudian terdengar bagaikan kata-kata, seperti semacam bahasa, tetapi bahasa keterasingan dan kesepian yang amat sangat mendalam. Aku masih mengerti jika ia bersenandung dan kata-kata dalam senandungnya tidak terdengar jelas, ataupun jika ia berbicara dengan dirinya sendiri, bahkan meneracau begitu rupa bagaikan ia benar-benar terganggu jiwanya, karena dalam semua itu terdapatlah nada yang sungguh mampu menyampaikan sua-sana hatinya. Namun aku tidak dapat membayangkan jika bahkan desah napasnya yang memang berat dapat menjadi sarat dengan kedukaan yang merambat sepanjang, dan bagaikan berubah menjadi benda padat terdengar jatuh berdentang-dentang di kejauhan sana... Membikin perasaan yang men-dengarnya bisa begitu pedih, sepedih-pedihnya kepahitan dan keperihan yang begitu beratnya sampai memadat.

Tidak dapat kubayangkan betapa duka dari dalam dada dan jiwa yang berat dapat keluar bersama napas dan memadat sebagai benda yang menggelinding jatuh sehingga terdengar suara berdentang-dentang. Dalam keterpejamanku dentang- dentang suara dalam kesunyian dan kegelapan menjadi pedang kegetiran yang menyambar-nyambar dan hanya dapat kutahan dengan tidak membiarkan perasaan terserap keadaan. Apakah yang dilakukannya di dalam celah di ketinggian selama duapuluh tahun ini?

Aku pernah tinggal di dalam gua selama sepuluh tahun, tetapi karena se lama itu aku terserap pendalaman akan sesuatu dan mempunyai tujuan, selain memang mengatasi waktu dan ruang dalam pembelajaran, sepuluh tahun bahkan terasa masih kurang. Maka aku sangat mengerti jika mungkin saja dua puluh tahun baginya bukan sesuatu yang lama, dan menengok manusia yang lewat dalam dua atau tiga tahun baginya sudah sering sekali.

Namun sekarang ini, di lorong gelap dan sempit dengan dinding-dinding menjulang ke langit, waktu yang hanya beberapa detik terasakan begitu lama. Seolah-olah bahkan bumi menunggu kami sebelum berani berputar kembali. Kudaku masih diam dan aku masih menyisir kedudukannya dalam keterpejaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang. Kulihat dalam keterpejamanku itu suatu cahaya redup yang berpijar-pijar muram di se luruh tubuhnya. Pijar-pijar muram itu menggetarkan udara, sehingga siapapun yang memiliki kepekaan tinggi, akan dapat merasakan kehadirannya tanpa harus melihat atau mendengar sesuatu.

Aku berpikir bahwa Harimau Perang te lah melewati titik ini, tetapi dibiarkannya berlalu, kecuali jika kutemukan ma-yatnya nanti. Namun jika ia hanya muncul setahun, dua tahun, bahkan tiga tahun sekali, maka Harimau Perang barangkali memang tidak harus termasuk bagian cerita yang ini.

Kukira ia pun tahu cerita tentang pendekar muda yang menjadi gila di celah ini dua puluh tahun lalu, dan karena itu terus secepat-cepatnya melaju dengan harapan agar yang diganggunya adalah aku. Harimau Perang tentu memperhitungkan itu, dan meski mungkin hanya menduga- duga ternyata memang itulah yang berlaku.

NAMUN kurasa jika memang seseorang yang menghuni lorong ini bermaksud menemui Harimau Perang, kuda Uighur itu akan berhenti. Seperti kudaku sekarang ini. Kuda juga mampu melihat cahaya redup yang berpijar dari se luruhnya, meski mata manusia awam tidak dapat melihatnya.

Jadi telah dibiarkannya Harimau Perang pergi, tapi ia sengaja membuatku berhenti, dengan helaan napas kedukaannya yang begitu berat sehingga menjelma benda padat itu...

(Oo-dwkz-oO)