-->

Nagabumi Eps 170: Petunjuk Sehelai Rambut

Eps 170: Petunjuk Sehelai Rambut

CELAH Dinding Berlian mendapatkan namanya bukan hanya karena dinding raksasa menjulang yang berkilau-kilauan memantulkan cahaya matahari seperti berlian, melainkan karena banyaknya celah yang harus menjadi pilihan untuk keluar dari wilayahnya. Celah ini tentu mengingatkan diriku kepada Celah Kledung, tempat aku dibesarkan oleh pasangan pendekar itu, tetapi selain hanya ada satu celah di sana, juga tidak terletak di atas gunung batu dengan udara dingin takterkirakan karena begitu tingginya, sehingga mega-mega lewat dan hampir selalu penuh kabut menutupi pandangan.

Namun meskipun senja sedang menjelang, kali ini cahaya terang, seperti membantu pencarian jejakku terhadap Harimau Perang itu. Segala sesuatunya hanya batu di sini, maka sangatlah sulit mencari jejak kuda maupun telapak alas kaki yang disebut sepatu itu di tempat ini. Padahal aku harus bisa menentukan pilihan atas celah mana yang akan kulewati itu sekarang, berdasarkan pembacaan tanda-tanda kepastian, karena jika tidak tentulah pilihanku tidak meyakinkan.

Aku menyapu wilayah itu dengan mata maupun telinga, karena meskipun hilang dari pandangan, Harimau Perang kuperkirakan takmungkin terlalu jauh juga, karena betapapun ia juga hanya menunggang kuda. Bukan berkelebat bagaikan terbang dengan kecepatan yang tidak bisa diperkirakan. Jika tidak, kenapa pula ia harus menukarkan kudanya dengan kuda Uighur itu bukan? Sayang sekali ilmu pendengaranku belum dapat menembus dinding-dinding raksasa ini, karena memang tidak memberikan bunyi apapun di seberangnya.

Tidak ada jejak, tetapi rumput di sela batu habis dimakan. Sayang sekali ini tidak menunjukkan arah apapun, karena tetap tidak menunjukkan arah ke mana kuda itu pergi. Baik atas keinginan Harimau Perang maupun kuda Uighur itu sendiri, rumput yang tumbuh di se la-sela batu yang tidak banyak itu memang harus dihabiskan, karena ancang-ancang bagi sebuah perjalanan jauh dengan perhentian yang belum dapat ditentukan. Mereka bisa berhenti dan menginap di sebuah pemukiman, tetapi bisa juga berjalan terus sepanjang malam. Itulah sebabnya semua rumput tersisa dihabiskan, mungkin pula tanpa memberi kesempatan kuda lain untuk makan.

Maka aku harus mencari jejak lain dari ce lah ke celah, agar mendapatkan petunjuk yang tidak bisa lebih tepat lagi, meski tentu Harimau Perang akan menjaga agar tidak meninggalkan petunjuk apapun, sekecil apapun, yang dapat membuat dirinya diikuti. Kubayangkan Harimau Perang yang belum pernah kulihat wajahnya itu, dengan caping lebar dan rambutnya yang panjangnya, datang mengganti kuda dan tergesa.

Betapapun ia tergesa-gesa, dan siapa pun yang tergesa- gesa sedikit banyak akan berkurang kewaspadaannya.

Seorang kepala jaringan mata-mata seperti Harimau Perang pasti sangat teliti. Apakah yang mungkin tanpa sengaja telah ditinggalkannya? Ia mungkin akan tetap waspada akan segala sesuatu yang betapapun tidak boleh lolos dari perhatiannya, tetapi benarkah ia masih akan waspada juga terhadap sesuatu yang tidak penting, yang tidak pernah diperhitungkannya sama sekali akan meninggalkan jejak?

Aku melihat ke sekeliling, menyapu dengan pandangan, bahkan menyisirnya. Lantas aku sendiri berkeliling. Betapapun lantai batu-batu alam ini bersih dan tidak mungkin meninggalkan jejak. Mungkinkah jejak atau sesuatu yang dapat dianggap sebagai jejak itu berada di sa lah satu celah? Namun apakah itu berarti aku harus masuk ke setiap celah sampai jarak tertentu dan kembali lagi jika tidak menemukan sesuatu, lantas mengulanginya di ce lah lain? Waktuku tidak banyak, dan matahari semakin lingsir ke barat, sebentar lagi segalanya akan sulit dilihat. Jadi kuperkirakan saat-saat sebelum gelap, lantas kubagi duabelas, yakni jum lah celah yang mengantar keluar dari Celah Dinding Berlian ke dunia luar, memasuki Negeri Atap Langit. Aku akan memasuki setiap celah dan menelitinya, tetapi hanya selama waktu yang tersedia bagi setiap celahnya, setelah itu aku harus meneliti celah lainnya. Jadi aku hanya membuka kemungkinan sebanyak-banyaknya, tanpa tahu apakah itu pasti akan membawaku kepada suatu petunjuk.

Demikianlah kumasuki celah itu satu persatu. Segenap rumput di celah batunya utuh, tidak termakan maupun terinjak. Aku teruntungkan oleh kedudukan matahari yang semakin m iring itu, karena cahaya keemasannya yang kali ini takterhalang kabut itu memperlihatkan segalanya di lantai batu. Mulai dari kerikil, lekuk-lekuk batu itu sendiri, bahkan juga lapisan debu yang tipis. Dinding-dinding di dalam celah saling memantulkan cahaya keemasan, sehingga duabelas celah itu tersiram cahaya emas yang sangat membantu pandangan.

NAMUN setelah aku keluar masuk sebelas celah, hari menggelap dengan cepat. Tidak ada suatu tanda yang memberi petunjuk dan jika setelah kumasuki yang kedua belas itu tak ada petunjuk juga, aku sungguh tidak akan tahu atas dasar apa keberangkatanku.

Pada pintu masuk celah itu, aku merendahkan tubuh, menyisir lantai batu dengan kepala m iring nyaris menyentuh bumi. Inilah satu-satunya celah tempat angin bertiup sepanjang lorong, tak terlalu kencang, tetapi kedudukan sebelas celah membuat lorong-lorong dengan dinding tinggi menjulang ke langit itu sunyi. Pada celah kedua belas ini sebaliknya, selalu terdengar suara-suara, ya suara-suara yang akan bercampur baur dan menutupi suara-suara lainnya! Pada sebelas celah yang lain suasana begitu sunyi dan senyap sehingga langkah kuda tentu terdengar berdentang-dentang. Harimau Perang tidak dapat menduga aku berada di mana, maka tentu tidak ingin dihadapinya kemungkinan betapa suara-suara langkah kuda akan terdengar olehku. Ia lebih mengenal tempat ini dariku, jadi akan segera diambilnya celah kedua belas itu ke mana pun ia akan menuju.

Pertimbangan ini belum terlalu me-yakinkan aku, karena jika telah diambilnya salah satu dari sebelas celah yang su-nyi itu, kurasa aku pun belum tentu men-dengarnya, karena dalam kenyataannya aku memang tidur pulas seperti itu. Dalam sempitnya waktu sebelum matahari menghilang di balik gunung, ku-manfaatkan kemiringan cahayanya yang cemerlang dalam kemiringan kepalaku untuk lebih mendapat kejelasan.

Angin bertiup. Serbuk dan debu tipis dalam udara gunung yang basah tampak berkeredap di bawa angin menghilang masuk lorong.

Kubayangkan apa yang kiranya dilakukan Harimau Perang di tempat ini tadi. Mungkin ia telah menunggangi kuda itu, mencari-cari celah yang memungkinkannya terhindar dari pengintaian. Lantas mengenali ce lah keduabelas, satu-satunya tempat yang dilalui angin kencang. Mungkin ia berhenti di depan pintu celah ini sejenak untuk meya-kin-kan pertimbangan. Apakah ia turun dari kuda? Apakah ia mendongak ke atas, ke arah gua tempat aku tertidur pulas karena kecapaian, dan ragu-ragu untuk me-meriksa atau tidak memeriksa, sebab jika ia me layang ke atas belum dapat diketahuinya apa yang akan terjadi.

Ia harus segera pergi, tetapi ia tidak ingin diikuti. Angin bertiup lebih kencang. Mungkin ia lantas membuka caping lebarnya, agar mendapatkan udara segar, dan memutar kudanya menghadap ke arah datangnya angin.

Menghadap ke arah puncak-puncak gunung yang telah ditempuhnya, dengan titian-titian batu serba curam menyeberang jurang, ia biarkan angin melambai-lambaikan rambutnya yang panjang sampai ke pinggang seperti yang pernah kulihat itu. Rambut yang tebal, lurus, panjang, dan hitam ...

Kepalaku masih miring mengikuti kemiringan cahaya matahari, ketika angin masih juga bertiup memasuki ce lah itu. Debu-debu berkilat keemasan dalam pantulan cahaya dari dinding menjulang sepanjang lorong. Saat itulah terlihat kilauan tipis yang menempel di dinding, kilauan yang semula kukira berasal dari s isa jalinan sarang laba-laba, yang ternyata sehelai rambut yang menyangkut pada serpihan tajam di dinding batu, bertahan melambai-lambai dalam tiupan angin.

Rambut itu akhirnya lepas terbawa angin tepat pada saat aku memiringkan kepala untuk meminjam sudut kemi-ringan cahaya dan melihatnya. Rambut itu melayang pelahan berkilauan terbawa angin memasuki lorong. Aku pun segera melesat untuk melayang dan mengambang sejenak di atas rambut itu, dan segera menangkapnya sebelum ditelan kegelapan lorong.

Kembali ke pintu celah, kugenggam rambut itu dengan mantap sambil melihat matahari menghilang. Jejak Harimau Perang kutemukan pada saat yang tepat. Setidaknya kali ini aku tidak hanya sibuk menduga, karena rambut yang agaknya rontok dan terbawa angin saat Harimau Perang membuka caping itu menunjuk-kan bahwa ia te lah melewati celah kedua belas ini.

Mungkin ia sudah jauh sekarang, mungkin juga masih dekat, tetapi aku yakin bahwa ke mana pun manusia pergi, dengan suatu cara akan meninggalkan jejak yang dapat dicari.

Kunaiki lagi kudaku, dan segera me-masuki celah, menyusuri lorong dengan dinding-dinding menjulang ke langit yang dengan pelahan tetapi pasti segera menggelap. DALAM kegelapan aku meneruskan perjalanan. Celah ini sangat panjang, lurus dan panjang, amat sangat lurus dan amat sangat panjang, bagaikan tiada habisnya begitu rupa sehingga meskipun kudaku berlari dengan cepat tanpa kupacu, aku bagaikan tetap berjalan di tempat dan tidak kunjung maju. Ketika langit sepenuhnya gelap, tiada lagi cahaya yang dipantulkan dinding, sehingga dinding raksasa menjulang di kiri dan kanan pun tidak terlihat sama sekali. Bahkan lantai batu alam pun hanya hitam, yang hanya karena suara langkah kuda berpantulan saja membuat aku merasa masih berada di atas bumi.

Jika kedua tanganku kurentangkan maka ujung-ujung jariku sudah akan menyentuh kedua sisi dinding itu, tetapi karena begitu gelapnya, di atas kuda yang melaju dengan ringan bagaikan terbang, aku terkadang merasa bagaikan melayang dalam semesta tanpa bintang. Gelap, hanya gelap, dan hanya suara kaki kuda saja menunjukkan perbedaan. Kuda ini juga kuda dari peternakan orang-orang Uighur, yang bisa melesat tanpa dipacu, maupun menahan lajunya tanpa harus dikendalikan. Maka kuda ini pun tahu kapan harus mengurangi laju, bahkan berhenti berlari, dan hanya melangkah amat sangat pelahan, melangkahkan kakinya satu demi satu, ketika dinding pada kedua sisi itu menyempit, sehingga bahkan kedua sisi luar samping lututku menyentuh dinding-dinding itu di kiri dan kanan.

Sempit sekali, benar-benar bukan jalan tetapi celah, yang terbayangkan olehku sebagai rekahan yang terjadi pada sekian banyak masa yang silam. Bagaimana jadinya jika yang dahulu kala merekah akan menutup kembali, manakala diriku sedang berada di dalamnya seperti ini? Namun apakah hanya jika yang merekah menutup kembali akan menjadi persoalanku sepanjang celah ini, yang tampaknya hanya akan berlangsung berlaksa tahun sekali? Harimau Perang telah menempuh lorong yang sama dan kuduga ia telah mencapai ujung lorong ini dan melaju di luar menempuh jalur yang sulit dicari. Dengan perasaan berada dalam pengejaran dan diikuti, tidakkah ia berusaha melakukan sesuatu untuk menghalangi? Betapapun, celah sempit dan gelap seperti ini adalah tempat yang tidak bisa lebih tepat lagi untuk melaksanakan pembunuhan!

Teringat berbagai pemukiman yang mungkin dilewati Harimau Perang, aku teringat suatu siasat yang diterapkan dari Yi Jing atau Kitab Perubahan, tepatnya dari Bab 41tentang Kerusakan: "Yang lemah menderita kerusakan; yang kuat berkembang", yang menjadi siasat perang Meminjam Pedang untuk Melaksanakan Pembunuhanmu:

Ketika musuhmu sudah diketahui, tetapi sekutumu masih tidak pasti, arahkan untuk membunuh musuhmu. Jangan menghunus pedang sendiri.

Ambil kesimpulan dari kerusakan.

Dugaan ini me lentik di benakku dalam kegelapan karena menyadari kedudukan penduduk pemukiman sebagai keturunan pelarian dari peristiwa Pemberontakan An Lushan antara tahun 755 sampai 763. Meskipun An Lushan sendiri terbunuh tahun 757, hanyalah setelah cucu Maharaja Xuanzong, yakni Maharaja Daizong, naik tahta, maka pada 762 dengan bantuan suku Uighur pemberontakan dapat diakhiri.

Namun sebetulnya pemberontakan itu menimbulkan akibat yang berbeda di setiap wilayah. Sebagian wilayah menjadi kosong, wilayah lain menjadi sangat miskin, dan berpindahnya penduduk juga menimbulkan masalah-masalah baru, sementara keuangan negara pun telah menjadi hancur. Bagian timur laut Negeri Atap Langit sebetulnya sudah merdeka dan berbagai daerah jatuh di bawah penguasaan para panglima perang. Jatuhnya kotaraja telah sangat mengguncang kebangsawanan Wangsa Tang, sehingga sebagian di antaranya berpindah ke selatan. Terlibatnya pasukan penjaga perbatasan dalam perang saudara membuat Kerajaan Tibet maju menyerbu pada 763 dan menguasai Chang'an sebentar. Meskipun mereka mundur kembali dengan cepat, serangan- serangan mereka tetap berlanjut, menandakan betapa Wangsa Tang tidak lagi berkuasa dalam wilayah yang luas, melainkan mengalami kesulitan mempertahankan perbatasannya.

Seperti dijelaskan oleh para rahib Kuil Pengabdian Sejati, pemberontakan itu telah menjadi titik balik dalam riwayat Wangsa Tang, bahkan juga dalam catatan sejarah Negeri Atap Langit, karena lebih merupakan pendorong daripada penyebab perubahan besar-besaran. Menurut pengamatan para rahib atas latar belakang pemberontakan, perubahan amat cepat dalam perdagangan dan kesejahteraan dalam masa awal pemerintahan Tang, menggerakkan gelombang besar pertanian ke selatan maupun perpindahan ke lembah Sungai Yangzi.

PERUBAHAN ini mengacaukan kedudukan keuangan pemerintah dan memperlemah kuasa kebangsawanan di barat laut. Pentingnya perubahan ini terungkap dengan ambruknya Wangsa Tang dengan cepat ketika berhadapan dengan pemberontakan. Maknanya dalam jangka panjang terlihat dengan tidak mampunya penguasa Tang menyamai apalagi melebihi pencapaian para pendahulunya.

Kini pada 797, artinya 34 tahun kemudian, dikatakan bahwa masa setelah pemberontakan ditandai oleh kejatuhan Wangsa Tang yang tiada terbendung. T idak diragukan bahwa pemerintahan pusat sudah kehilangan kendali terhadap penguasa-penguasa daerah, sampai berlangsung keadaan bahwa Wangsa Tang selamat hanya karena dengan menjadikan wilayah-wilayahnya tidak terpusat. Betapapun, setelah pemberontakan kerja pemerintahan yang tetap berlanjut, perubahan penting dilakukan dan pajak serta tatacara pengaturan diperkenalkan, sementara kebijakan perbatasan yang baru diterapkan.

Untunglah aku teringat para rahib telah memberitahu sebelumnya, bahwa terjadi perubahan penting menyangkut pembentukan kembali kebijakan keuangan. Selama pemerintahan Maharaja Daizong sejak 762 sampai 779, seorang pejabat bernama Liu Yan menangani masalah pemenuhan kebutuhan gandum ke Changan dan perbaikan dana keuangan Wangsa Tang. Penyelesaian yang dilakukannya adalah keuntungan dari penguasaan tunggal pemerintah terhadap garam digunakan untuk membayar perawatan kanal-kanal dan kapal-kapal barkas atau tongkang yang diseret itu. Penyelesaian ini memang mangkus dan sangkil, mengingat delta Yangzi sebagai pusat pembuatan garam, dan pusat tatacara pengangkutan adalah di Yangzhou, tempat kanal bertemu dengan Sungai Yangzi.

Ketika pesaing dan penerusnya,Yang Yan, yang juga kepala menteri di bawah Maharaja Dezong yang memerintah sejak 779, mulai bekerja, sejumlah pembaruan dibatalkan olehnya. Betapapun, adalah Yang Yan yang kemudian menerapkan perubahan perpajakan yang paling penting, yakni yang tatacara dua pajak. Pajak ini mengatur berbagai pajak menjadi pajak tunggal, yang harus dibayar dalam dua angsuran setiap tahun, bukan hanya oleh petani tetapi oleh semua golongan penghasil. Tujuan kedua dari pembaruan ini adalah memperbaiki penguasaan istana atas perpajakan, yang telah jatuh ke tangan para pakar keuangan dari pengaturan garam dan orang-orang kebiri yang mengawasi perbendaharaan negara. Tatacara perpajakan tersebut tetap berlangsung sampai hari ini.

Kuingatkan kembali diriku bahwa pemberontakan telah meruntuhkan siasat perbatasan Wangsa Tang. Tatacara penguasaan wilayah oleh balatentara kemaharajaan telah ditinggalkan. Negeri Atap Langit telah me lepaskan kepada Kerajaan Tibet wilayah padang rumput, tempat mereka seharusnya mendapatkan pasokan kuda tempur, yang kini harus didapatkan dengan harga mahal dari Uighur. Suku-suku pengembara itu mendapat dana bantuan yang besar, sebagai imbalan untuk tidak menyerang Negeri Atap Langit. Belum kulupakan bahwa telah kupelajari, antara tahun 780 dan 787, Maharaja Dezong berusaha melakukan tawar menawar suatu wilayah pemukiman dengan Tibet, yang melibatkan disetujuinya penyerahan wilayah yang luas dan kesepakatan perbatasan antara kedua negara. Namun orang-orang Tibet tidak hendak melepaskan cita-cita jangka panjangnya.

Dalam kegelapan, sementara kuda yang kutunggangi melangkah hati-hati di atas dataran batu yang kini tidak selalu rata lagi, kuingat bagaimana keadaan seperti itu membuat Dezong memutuskan untuk melakukan persekutuan resmi dengan suku Uighur, termasuk menikahkan anak perempuannya dengan pemimpin Uighur. Termasuk dalam perjanjian persekutuan adalah pertukaran tahunan kuda dari Uighur dengan sutera yang sangat mahal tersebut. Sampai hari ini perjanjian itu memegang peran penting dalam dukungan suku Uighur menghadapi T ibet.

Artinya, wilayah-wilayah perbatasan di selatan ini sebetulnya tidak dapat dipastikan kesetiaannya terhadap Wangsa Tang. Justru saat yang tepat bagi Harimau Perang yang masih harus membuat banyak jasa jika ingin kedudukannya lebih meyakinkan sebagai bagian dalam jaringan rahasia istana, untuk menguji kesetiaan. Tenaga sekutu harus digunakan melawan musuh. Barangkali saja terdapat sekutu dalam jaringan mata-mata Harimau Perang di antara para penduduk keturunan pemberontak di berbagai pemukiman, dan atas nama ujian kesetiaan, bukan takmungkin mereka ditugaskan membunuhku! Aku percaya Harimau Perang penuh dengan perhitungan, dan karena itu tidak akan melepaskan kemungkinan untuk memperhitungkan bahwa aku mengikutinya. Keyakinanku timbul dari kenyataan, bahwa ketika ia mengambil kuda Uighur itu, ternyata ia tidak membunuh sisa kuda lain yang telah dibawanya.

SEMULA aku heran kenapa ia tidak melakukannya, tetapi kusadari bahwa tentunya ia tahu tidak ada gunanya, karena masih ada kuda lain yang tidak bersamanya. Itulah kuda para anggota Kalakuta yang tidak kembali karena tewas, dan tentunya berkeliaran di sekitar Celah Dinding Berlian. Maka aku merasa tidak terlalu keliru untuk memperhitungkan, betapa tentunya Harimau Perang akan se lalu mengambil tindakan untuk berjaga-jaga. Mungkin saja ia mengikuti nasehat dunia persilatan Negeri Atap Langit seperti berikut:

petarung yang baik menghindari keadaan bahaya

(Oo-dwkz-oO)