-->

Nagabumi Eps 168: Prasangka dan Kutukan Orang Kebiri

Eps 168: Prasangka dan Kutukan Orang Kebiri

Harimau Perang menyebut nama Huang Hao. Jadi meskipun bapak kedai menyebut nama lain, yakni Yu Chao'en, aku lebih penasaran mengetahui perihal Huang Ho dahulu, meski belum kuketahui manakah di antara keduanya yang lebih penting. Untunglah betapa dalam kitab gulungan tersebut ada juga riwayat Huang Hao itu.

Seperti yang kubaca, Huang Hao adalah orang kebiri yang melayani Liu Shan, raja kedua dan terakhir dari Wangsa Shu ketika Negeri Atap Langit berada dalam masa Tiga Kerajaan dalam sejarahnya. Karena sangat disukai oleh Liu Shan, ia sering dianggap telah menyesatkannya sehingga menyerah kepada Dinasti Wei.

Huang Hao mulai mengabdi kepada Liu Shan sebagai orang kebiri pada 220. Dikisahkan betapa Huang Haoi itu disukai Liu Shan berkat kata-katanya yang selalu licin dan penuh pujian. Saat kepala pelayan istana yang bernama Dong Yun masih hidup, telah sering dinasehatinya Liu Shan tentang bahaya puji-pujian di satu pihak, dan bahkan diperingatkannya Huang Hao atas penyesatan sang maharaja muda di pihak lain.

Setelah Dong Yun meninggal pada 246, ia digantikan Chen Qi, yang bekerjasama dengan Huang Hao dalam memberi pengaruh kepada masalah-masalah istana. Kemudian Huang Hao pun menjadi semakin berkuasa. Bahkan para menteri lanjut usia seperti Zhuge Zhan dan Dong Jue tidak dapat melakukan apa pun untuk menyingkirkannya. Kepala para panglima, Jiang Wei, pernah menasehati Liu Shan untuk menghukum mati Huang Hao, tetapi sang maharaja menolak, dan menyatakan betapa orang kebiri ini tiada lain adalah pelayan yang menerima perintahnya.

TAKUT akan terjadinya pembalasan, Jiang Wei meninggalkan Kotaraja Chengdu menuju barak tentara di Tazhong. Karena ia belum banyak meraih sesuatu selama bertahun-tahun menghadapi Wangsa Wei, Jiang Wei nyaris digantikan Yan Yu, seorang teman dekat Huang Ho. 

Pada 263, Jiang Wei menulis kepada Liu Shan, memperingatkannya tentang ber-kumpulnya pasukan Wei di bawah pimpinan Zhong Hui di dekat perbatasan. Huang Hao, yang percaya dukun, menyampaikan kepada Liu Shan bahwa musuh tidak akan pernah datang. Maka Liu Shan mengabaikan rencana pertahanan Jiang Wei.

Ketika akhirnya Wangsa Shu dikalahkan, Huang Hao ditangkap oleh Deng Ai yang bermaksud menghukum mati manusia berbahaya itu. Namun Huang Hao berhasil me-nyuap mereka yang dekat kepada Deng Ai dan melarikan diri. Nasibnya setelah ini tidak pernah diketahui.

Sambil membaca cerita tentang Huang Hao ini, aku teringat kata-kata Harimau Perang yang telah membantai para pengawalnya sendiri, karena perbincangan mereka yang penuh prasangka terhadap orang-orang kebiri. Artinya pandangan Harimau Perang terhadap Huang Hao maupun orang-orang kebiri jelas berbeda dengan apa yang tertulis dalam kitab gulungan tersebut, meski orang-orang kebiri di sana pun tidak lantas dianggap terkutuk.

Sekarang kubaca catatan tentang Yu Chao'en, yang terasa dekat karena berlangsung selama pemerintahan Wangsa Tang yang sedang berkuasa sekarang.

Ia dilahirkan tahun 722 semasa pemerintahan Maharaja Xuanzong. Keluarganya berasal dari wilayah Lu. Semasa akhir masa pemerintahan Maharaja Xuanzong, pada masa tianbao yang berlangsung dari tahun 742 sampai tahun 756, Yu adalah orang kebiri yang diperbantukan kepada badan pengelola ujian pemerintah atau menxia sheng. Dikatakan betapa ia pandai dan mampu dalam pemeriksaan keuangan maupun dalam penyampaian maklumat resmi istana.

Pada masa zhide dari tahun 756 sampai tahun 758, ketika pemerintahan sudah dipegang penerus Maharaja Xuanzong, yakni Maharaja Suzong, selama Maharaja Suzong tersita dengan usaha menekan pemberontakan wilayah Yan, Yu Chaoien sering ditugaskan untuk mengamati pasukan, termasuk memberi pelayanan sebagai pengamat pasukan Li Guanjin ketika merebut kembali kotaraja Changian dari pasukan Yan pada 757. Atas jasanya dalam pertempuran, ia ditunjuk untuk memimpin badan orang-orang kebiri atau neishi sheng dan diberi gelar seperti panglima.

Setelah Wangsa Tang juga merebut kembali ibukota wilayah timut, Luoyang, yang menjadi kotaraja pemberontak Yan, sehingga Maharaja Yan An Qingxu melarikan diri ke Yecheng, sembilan panglima pasukan atau jiedushi Wangsa Tang pun mengepung Yecheng. Dua panglima menonjol di antara yang sembilan itu adalah Guo Ziyi dan Li Guangbi, yang merupakan saudara Li Guangjin. Namun karena Maharaja Suzong tidak ingin terdapat satu panglima yang lebih berkuasa dari lainnya, ia tidak melantik seorang panglima besar; melainkan menunjuk Yu sebagai pengamat seluruh pasukan. Disebutkan bahwa Yu irihati terhadap Guo dan memberi laporan yang mengecam Guo. Meski disebutkan pula betapa Guo menghindarkan terjadinya ketegangan, dengan bersikap rendah hati terhadap Yu.

Pada 759, panglima pihak Yan, Shi Sim ing, yang sempat menyerah kepada Wangsa Tang, tetapi kemudian memberontak kembali, menyerang pasukan Tang di Yechang, dan meski tidak mencapai kemenangan, menyebabkan pasukan Tang bercerai berai dengan sendirinya. Dengan segera ia membunuh rajanya sendiri, An Qingxu, dan mengambil alih tahtanya. Sementara itu, Yu mempersalahkan kehancuran pasukan kepada Guo, dan sebagai hasilnya Li Guangbi didudukkan sebagai panglima. Shi Sim ing kemudian menyerang Luoyang, didesak oleh Yu dan dihadapi Li Guangbi. Shi mencoba menyerang ke barat menuju Changian, tetapi dipukul mundur oleh panglima Wei Boyu yang berada di bawah perintah Yu di wilayah Shan. Setelah pasukan Tang bergabung dengan pasukan Huige dan berhasil merebut Luoyang kembali pada 762, Yu menempatkan pasukan terpilihnya, yakni Pasukan Shence, ke wilayah Bian. Atas jasanya dalam pertempuran ini, ia diberi gelar sebagai Yang Dipertuan di Fengyi.

PADA akhir 762 ia kembali ke wilayah Shan, dan tahun itu pula Maharaja Suzong mangkat, untuk digantikan puteranya, Ma-haraja Daizong. Pada 763, ketika Kerajaan Tufan melancarkan serangan mendadak ke Chang'an, Maharaja Daizong terpaksa melarikan diri ke wilayah Shan. Saat itu sedikit sekali pasukan pengawal istana mengikutinya.

Hanya setelah Yu Chao'en menjemputnya di Huayin maka sang maharaja dapat dilindungi lagi. Maharaja Daizong memberi Yu kedudukan sebagai pengawas pasukan di seantero negeri atau tianx ia guanjunrong xuanwei chuzhishi. Setelah Maharaja Xuanzong kembali ke Chang'an menjelang akhir tahun, Yu terus memegang tampuk pimpinan Pasukan Shence dan sangat disukai Maharaja Daizong, sehingga menerima banyak harta benda.

Yu Chao'en juga diiz inkan keluar masuk istana kapan saja dia menghendakinya. Dengan para panglima yang berada di bawah perintahnya terus mencapai kemenangan, terutama dalam bentrok berikutnya melawan panglima pemberontak, Pugu Huai'en, ia mempertimbangkan dirinya mampu me- mimpin balatentara, seperti juga menganggap dirinya menguasai ajaran Kong Fuzi dan mampu pula menulis. Pada 765, selama diserang pasukan Pugu, bersekutu dengan Huige dan Tufan, Yu berusaha menggunakan pasuk-annya untuk memaksa para pejabat istana bersama-sama memindahkan kotaraja ke Hezhong, tetapi ketika seorang pejabat bernama Liu mengumumkan rencana itu meski telah dikeliling para prajurit Yu, maka Yu membatalkannya.

Masih pada 765, karena menganggap dirinya menguasai masalah-masalah ke-susastraan, ia pun menjadi pejabat sementara kepala perguruan tinggi kerajaan atau guozijian. Ia pun menciptakan gelar Yang Di-pertuan Zheng. Di bawahnya, perguruan tinggi kerajaan yang telah dihancurkan se lama Pemberontakan Anshi dibangun kembali. Pada 766, ketika bangunan perguruan tinggi telah berdiri, adalah Yu sendiri yang mengajarkan perihal Yi Jing, berusaha membuat sindiran terhadap para ketua penanggungjawab, dengan berbicara tentang bagaimana suatu ding atau bejana besar lambang kepemimpinan akan terbalik jika tidak seimbang. Seorang pejabat perguruan tinggi, Wang Jin, tampak jelas tersinggung, tetapi yang lebih berkuasa seperti Y uan Zai tetap tinggal tenang, yang membuat Yu berkata, "Adalah wajar jika yang disasar marah, tetapi bagi yang tetap tersenyum perlu diberi perhatian lebih teliti." Yuan, betapapun, diam-diam sangat marah. Yu tetap menjadi kepala perguruan tinggi sampai 768, meskipun mendapat perlawanan pejabat Chang Gun, yang menyatakan bahwa seorang kebiri tidak semestinya memimpin perguruan tinggi.

Pada 767, Yu menyumbangkan gedung miliknya di luar kota Chang'an untuk dibangun kembali menjadi kuil Buddha yang dipersembahkan kepada ibunda Maharaja Daizong yang sudah meninggal, Yang Diperistri Wu. Seperti juga nama yang diberikan setelah meninggalnya, Maharani Zhangjing, maka kuil itu pun dinamakan Kuil Zhangjing. Diceritakan betapa mewahnya kuil ini dibangun, sehingga hutan di sekitar Chang'an tidak cukup, dan sejumlah gedung kerajaan harus dirobohkan, agar kayunya dapat digunakan lagi. Termasuk kayu dari rumah-rumah para pejabat tinggi dan panglima, yang juga harus dirobohkan.

Sampai di sini, kuletakkan sebentar kitab itu untuk m inum dari air yang mengalir di tepian gua. Tidak dapat kubayangkan dari mana pula sumbernya air yang mengalir di dalam gua yang terletak sebagai lubang pada dinding puncak batu menjulang di antara mega-mega, tetapi jelas betapa kemurnian ini te lah memberikan kepadaku suatu kesegaran.

Kutengok ke kejauhan. Sungguh tepat letak gua dengan dua mulut di depan dan belakang ini, karena dapat memandang ke segala arah tanpa terpandang kembali, berkat pantulan cahaya dari dinding berlian berkilauan yang membutakan.

Harimau Perang baru saja muncul dari balik kelokan di kejauhan itu, dan masih harus berputar melingkar-lingkar lagi sebelum sampai ke sini. Kuharap sudah kuselesaikan pembacaanku dan mampu memperhitungkan dugaan sebelum Harimau Perang tiba di Celah Dinding Berlian ini.

Aku membaca lagi, dengan susah payah karena membaca aksara Negeri Atap Langit ini sungguh tidaklah mudah.

Pada 768, Yu Chaoien diangkat sebagai Yang Dipertuan Han. Tahun itu juga, dalam peringatan meninggalnya Maharani Wu, Yu menyelenggarakan perjamuan untuk meng- hormatinya. Saat itu ia bicara terbuka tentang para penanggungjawab perguruan tinggi tidak memenuhi kelayakan dan seharusnya mengundurkan diri. Para pejabat yang disindir tidak berani menanggapi, tetapi pejabat muda bernama Xiangli Zao dan Li Kan menjawab dan bahkan memarahi Yu, yang menyebabkan Yu tersinggung dan menutup perjamuan lebih cepat.

AKHIR tahun itu juga, kuburan ayah Guo Ziyi dibongkar oleh para penjarah kuburan, tetapi umumnya dipercaya sebagai tanggung jawab Yu, yang sangat tidak menyukai Guo. Diperki-rakan Guo akan marah besar, tetapi Guo meredakan ketegangan dengan menyatakan bahwa para prajurit sendiri pun merampok banyak kuburan, sehingga tentu ini merupakan pembalasan dari langit. Pada 769, Maharaja Daizong menugaskan Yu mengawal Guo dalam perjalanan ke Kuil Zhangjing, Yuan berusaha memanfaatkan ketegangan antara keduanya dengan membuat bawahan Guo memperingatkan Guo bahwa Yu berencana membunuhnya, yang sebetulnya sama sekali tidak. Guo menolak untuk me lakukan tindak pencegahan, dan memberitahu Yu tentang desas-desus itu, yang menurunkan suhu ketegangan antara mereka berdua.

Sementara itu, banyak hal membuat Maharaja mulai menyukai Yu. Adapun Yu mulai mengira Maharaja Daizong akan menerima setiap saran yang diberikannya, dan suatu ketika saat Maharaja Daizong tidak menerimanya, Yu menyatakan, ''Adakah sesuatu da-lam kerajaan ini yang tidak bisa kuputuskan?''

Anak pungut Yu, yakni Yu Linghui, yang juga bekerja sebagai orang kebiri di istana, mengenakan jubah hijau bagi jabatan peringkat keenam dan ketujuh. Suatu ketika ia bertengkar dengan teman-teman sejawatnya, dan menceritakannya kepada Yu Chao'en. Maka Yu Chao'en bertemu Maharaja Dai-zong keesokan harinya dan berkata, ''Peringkat jabatan anak saya terlalu rendah, dan teman- teman sejawatnya memandang rendah. Mohon ia diiz in-kan mengenakan jubah ungu.'' Me-mang jubah ungu dikenakan pejabat peringkat ketiga sampai ke atas. Bahkan sebelum Maharaja Daizong bisa menanggapi, pejabat di dekatnya atas perintah Yu Chao'en, telah membawa jubah ungu dan mengenakannya kepada Yu Linghui. Kepada Maharaja Dai- zong, Yu Linghui membungkuk hormat, dan Maharaja Daizong terse-nyum sembari menanggapi, ''Anak ini mengenakan jubah ungu. Semesti-nyalah ia senang.'' Betapapun maharaja kecewa terhadap berlangsungnya kejadian ini. Yuan melihat bahwa Maharaja Dai-zong menjadi tidak suka kepada Y u, dan menyarankan kepada Maharaja Daizong agar melenyapkan Yu. Mereka pun merancang alurnya bersa-ma. Y uan mulai dengan menyuap dua pembantu dekat Yu, Zhou Hao yang memimpin pasukan panah pengawal istana dan Huangfu Wen yang menjadi kepala daerah Shan. Mulai saat itu, Zhou dan Huangfu beralih menjadi pembantu dekat Yuan, dan beserta Maharaja Daizong pun Yuan dapat mendahului gerakan Yu.

Pada musim semi 770, atas saran Yuan, Maharaja Daizong melakukan sejumlah tindakan yang dimaksudkan sebagai awal pelenyapan Yu. Mula-mula memindahkan panglima Li Bao-yu dari kedudukannya sebagai kepala pasukan atau jiedushi di wilayah Feng-x iang ke wilayah barat Shan-nan, sementara memindahkan Huangfu dari Shan ke Fengxiang. Untuk menghilangkan kecurigaan Yu, maka dipindahkanlah pengawasan empat wilayah di dekat Chang'an kepada pengawal istana, di bawah pimpinan Y u. Maksud Yuan adalah menggunakan pasukan Huangfu yang tiba di Chang'an untuk melawan Yu. Setibanya Huangfu di Chang'an, Yuan memasang jebakan bagi Yu dengan menggunakan pasukan Huangfui dan Zhou. Dalam suatu pertemuan rahasia antara Maharaja Daizong dan Y u, Yuan dan sang maharaja ber-tindak, mereka pun membunuh Yu.

Maharaja Daizong kemudian mengumumkan kecaman masyarakat kepada Yu, dan menyatakan bahwa ketika Yu menerima kecaman tersebut, ia me-la-kukan bunuh diri. Namun Maharaja Dai-zong masih mengizinkan Yu Chao'en dikebumikan dengan kehormatan, atas beaya kerajaan...

Angin bertiup menembus gua yang tembus ke belakang, bagaikan lorong angin yang panjang dan berkelak-kelok, sehingga tidak menjadi embusan yang terlalu kuat di puncak menjulang seperti ini. Angin bertiup pelahan dan menidurkan. Betapapun tubuhku lelah dan begitu pula jiwaku, dilelahkan oleh kewaspadaan dan ketegangan tiada habisnya yang sungguh menyita pe-rasaan.

Hari makin cerah dan terang, tetapi cahaya berkilauan membuat aku me-ngantuk. Kupikir tentunya aku masih sempat tidur. Kudaku di bawah akan meringkik bahkan jika di kejauhan terdapat sesuatu yang mencurigakan. Jadi aku ingin mencoba tidur...

HUANG Hao, Gao Lishi, Li Fuguo, dan Yu Chao'en, kukira hampir semua cerita tentang mereka menunjukkan suatu pandangan betapa golongan mereka selalu dipersa lahkan. Bahwa mereka memanfaatkan kebebasan bergerak mereka di istana, yang terhubung dengan maharaja, permaisuri, para selir, para pangeran, para puteri, para menteri, para panglima, para pejabat tinggi, para tamu penting, para dayang, para pelayan, para pengawal, dan siapapun yang memiliki pekerjaan dan kepentingan di istana, demi penguasaan keterangan rahasia yang akan memberi mereka kekuasaan pula. Selain sang maharaja, memang hanya orang kebiri yang bebas keluar masuk ke mana pun juga, terutama ke dalam gedung permaisuri, gedung para selir, dan gedung para puteri, yang tiada seorang berkelamin jantan pun diiz inkan menjejakkan kakinya.

Aku memperhatikan betapa ketiga orang kebiri yang terakhir itu secara sambung menyambung terhubungkan dengan masa pemerintahan Maharaja Xuanzong, Maharaja Suzong, dan Maharaja Daizong, yang berarti bahwa kesinambungan jaringan orang-orang kebiri dari masa ke masa itu memang merupakan kenyataan. Betapapun orang- orang kebiri memang memiliki kelebihan dalam berhubungan dengan seluruh bagian, sementara setiap bagian yang saling dihubungkan menjadi tergantung kepada keberadaan orang- orang kebiri itu, yang jika ditinggalkan akan membuat hubungan set iap bagian itu berada dalam keterbatasan, sehingga tidak pernah mendapat kejelasan. Dengan kedudukan seperti itu jelas orang-orang kebiri memegang kendali permainan kekuasaan. Mereka dibutuhkan oleh set iap orang yang mempunyai kepentingan, yang jika kepentingannya dengan kekuasaan tergagalkan, akan menunjuk orang-orang kebiri sebagai sumber kesalahan!

Dapat kumengerti sekarang betapa catatan-catatan itu sebenarnya merupakan pembelaan, setidaknya usaha mendudukkan perkara dengan lebih adil, agar keberadaan orang-orang kebiri dapat dipandang dengan lebih berimbang. Dari peristiwa yang kusaksikan sendiri juga lebih jelas, bagaimana sikap para pengawal rahasia istana dan betapa tegas sikap Harimau Perang dalam menyatakan penolakannya. Duabelas pengawal rahas ia istana dibantainya dengan seketika, dan telah kudengar pula dari balik kabut pembelaan apa yang telah diucapkannya.

Jadi apakah hubungan Harimau Perang dengan orang- orang kebiri?

Kusisir kembali satu persatu peristiwa yang terjadi. Mayat orang kebiri yang terpotong-potong disamarkan dalam berbagai barang yang diangkut kuda beban, yang bahkan para pengawal barangnya pun tidak mengetahui isi karung-karung yang disegel dengan cap Wangsa Tang itu. Mengingat bahwa segelnya resmi, maka yang memotong dan memasukkannya ke dalam lantas menyegel pasti orang dalam istana.

Bahwa orang-orang kebiri dibenci, dan karena itu terwujudkan dalam pembunuhan kejam dapat kumengerti, tetapi karena tidak ada sesuatupun yang berhubungan dengan orang kebiri tidak mungkin takdiketahui jaringan orang kebiri, maka aku menganggap dugaanku yang terbaik adalah betapa orang kebiri malang ini dibunuh dan dipotong-potong justru oleh jaringan orang-orang kebiri! Pemotongan yang berlanjut dengan terdapatnya segel resmi pada karung yang membungkusnya, tidak berlangsung tanpa keberadaan suatu jaringan rahasia. Dalam hal jaringan rahasia istana Wangsa Tang di Kotaraja Chang'an, hanya jaringan rahas ia orang- orang kebiri yang memungkinkan urutan semacam itu berlangsung.

Aku belum dapat menduga apa hubungannya semua ini dengan pemanggilan Harimau Perang, ketika tanpa kusadari aku telah tertidur....

(Oo-dwkz-oO)