-->

Nagabumi Eps 16: Ilmu Halimunan

Eps 16: Ilmu Halimunan

PERTARUNGAN di bawah sana masih berlangsung dengan seru. Sekarang aku tidak menonton peristiwa ini sendirian. Sejumlah bayangan hitam yang bagaikan muncul begitu saja dari balik ma lam telah berkelebat mendekat dan mengamatinya tanpa terlihat. Mereka semua menguasai ilmu halimunan, yakni ilmu yang berhubungan dengan penyusupan ke wilayah musuh, yang penuh dengan tindak penyamaran dan pengelabuan. Bukan dalam arti menyamar sebagai mata- mata yang merupakan agen rahasia, melainkan penyamaran dalam arti betapa seluruh kegiatan mereka diusahakan tiada tercerap oleh pancaindera manusia. Maka wajarlah jika mereka membungkus tubuhnya dengan ketat dalam warna serba hitam, sehingga bukan hanya kehitaman busana itu akan menyamarkan pandangan dalam kegelapan malam, melainkan juga suaranya tiada akan terdengar sepelan apapun jua, karena cara berbusana itu memang merupakan bagian dari ilmu-ilmu halimunan atau ilmu penyusupan.

Mereka itulah yang telah datang ke dalam gua dengan tugas membunuhku, tentulah karena kepercayaan yang tinggi atas kemampuan mereka dalam tugas-tugas pembunuhan. Semula kelompok macam ini merupakan bagian dari gugus- gugus tugas yang terdapat dalam militer, terutama ketika diperlukan penyusupan rahasia ke wilayah musuh, seperti mencuri peta siasat, naskah rahasia, senjata pusaka, atau bahkan sampai membunuh panglima atau raja. Menghadapi kemungkinan macam ini, maka terdapatlah pengawal rahas ia istana, yang tugasnya bukanlah berbaris di samping gajah dalam upacara kenegaraan, melainkan memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang dianggap perlu untuk dilakukan demi keselamatan raja-karena raja dianggap sebagai penjelmaan dewa yang kepadanyalah kesejahteraan negara dan rakyatnya tergantung sepanjang masa. Kepercayaan macam ini tidak berubah ketika agama Buddha makin besar pengaruhnya, apalagi ketika para raja yang memeluk Hindu kembali berkuasa.

Dengan demikian antara gugus tugas halimunan yang sengaja tidak pernah diberi nama, bahkan keberadaannya juga sedapat mungkin dirahas iakan, dengan para pengawal rahasia istana itu merupakan musuh bebuyutan, selama masing-masing berada di pihak yang berlawanan. Seringkali terdapat pengawal rahasia istana yang semula merupakan anggota gugus tugas halimunan tersebut, karena menguasai ilmu yang sama dengan pihak yang berusaha melakukan penyusupan dianggap adalah cara terbaik sebagai pertahanan menghadapinya.

Memang terdapat perbedaan besar antara ilmu halimunan sebagai ilmu penyusupan ke wilayah musuh, dengan ilmu para mata-mata yang wajib dikuasai dalam penyamaran; dalam ilmu halimunan penguasaan ilmu silat adalah mutlak, karena tugasnya sudah jelas menunjukkan risikonya-tetapi meskipun risiko seorang mata-mata juga sama berbahayanya, ilmu silat bukanlah merupakan syarat mutlak, karena tugasnya itu sendiri tidak selalu berada di tengah bahaya.

Dalam Arthasastra Bab 12 Bagian 8 Pasal 6 disebutkan :

Raja hendaknya mempekerjakan mereka dengan penyamaran yang meyakinkan dalam hal asalnegara, pakaian, jabatan, bahasa dan kelahiran,

untuk memata-matai,

sesuai dengan kesetiaan dan kemampuan mereka, terhadap para tirtha (pejabat tinggi), penasehat, mantripurohita (pendeta), panglima tertinggi,

putera mahkota, kepala pelayan istana, kepala penjaga istana, para kepala bagian, penata harian, sanndhatri (bendaharawan), prasastri (hakim), nayaka (kepala jagabaya),

paura (kepala daerah), karmantika (kepala pabrik), mantriparisadha (dewan menteri), adhyaksa (pengawas), dandapala (kepala angkatan perang),

durgapala (pemimpin benteng),

antapala (pemimpin wilayah perbatasan),

dan atavika (kepala kehutanan) di daerahnya sendiri.

Meskipun begitu, bukan tidak mungkin ilmu halimunan dan ilmu penyamaran itu terdapat dalam diri satu orang, sehingga segala tugas yang berhubungan dengan kedua ilmu itu dapat dirangkapnya. Demi kepentingan negara, kemampuan seperti ini membuat yang memilikinya menjadi penyusup maupun mata-mata unggulan.

Namun kemampuan istimewa yang semula dipersembahkan kepada negara dan raja, bisa terbelokkan oleh kemilau harta, pesona tahta, dan daya tarik cinta membara. Maka bukanlah pengkhianatan yang terjadi ketika kedua ilmu penting bagi negara itu justru tidak lagi secara mutlak dikuasa i negara, melainkan betapa semangat perdagangan telah menjadikan penguasaan atas ilmu-ilmu tersebut sebagai modal untuk memperjualbelikannya. Ini berarti siapapun bisa membayar untuk mendapatkan jasa ilmu halimunan maupun ilmu penyamaran, dengan bayaran yang dapat lebih mencengangkan dari 10.000 keping emas yang telah ditawarkan untuk memburuku. Perseteruan dalam kekuasaan dan cinta sudah lama melibatkan segala daya ilmu halimunan dan ilmu penyamaran tersebut-dan aku tidak bisa menduga apa tujuan maupun apa yang akan dilakukan sosok-sosok berbalut busana hitam yang memenuhi atap-atap rumah di sekeliling tempat pertarungan.

Aku teringat kelanjutan Arthasastra perihal "Peraturan untuk Petugas Rahasia" tadi, mulai dari Pasal 7 sampai Pasal 12.

pembunuh bayaran yang bekerja sebagai pembawa payung, tempat air, kipas, sepatu, kursi, kereta dan hewan tunggangan, hendaknya memata-matai

dan mengawasi kegiatan luar para opsir agen rahasia hendaknya menyampaikan kepada pusat mata-mata

pemberi racun yang bekerja sebagai

tukang masak, pelayan, pelayan pemandian, pencuci rambut, penyiap ranjang, pencukur, pelayan berpakaian dan pelayan air,

mereka yang tampil sebagai orang bongkok, orang kerdil, kirata, tunawicara, tunarungu, tunapirsa64, pemain wayang, penari, penyanyi, pemusik, juru cerita, dan penghibur

maupun para wanita hendaknya memata-matai dan mengamati para petugas di dalam rumah mata-mata pertapa wanita hendaknya menyampaikan itu kepada penguasa mata-mata

para pembantu tempat itu hendaknya melaksanakan penyampaian berita mata-mata itu dengan menggunakan samjnalipbhi (sandi)

dan antara penguasa itu

maupun pembantu (mata-mata) ini hendaknya tidak saling mengenal

Bukankah dunia penuh dengan permainan rahasia? Di bawah sana, api tidak bisa diatas i, tetapi lama kelamaan menyurut dengan sendirinya. Pertarungan berlangsung dalam temaram sisa-sisa nyala api, membuat setiap gerakan golok dan pedang itu menjadi ancaman maut yang semakin n yata.

"Aaaaaahhhhhhh!"

Perempuan yang anaknya mati itu menjerit keras, ketika pedang tipis lawannya menusuk perutnya, tembus sampai ke punggungnya.

Namun jerit kesakitan lain menyusul, ketika seorang pengawal rahas ia istana terpapas lambungnya ketika sedang berputar menghindar di udara. Satu persatu jatuh korban di kedua belah pihak, karena setiap kali berhasil menjatuhkan lawan masing-masing segera mendapat lawan baru-dan tidak ada pertarungan yang tidak memakan korban. Lima dari kelompok orang-orang yang disebut sebagai penganut aliran sesat dan lima dari para pengawal rahasia istana telah bergelimpangan tanpa nyawa. Busana para pengawal rahas ia istana yang putih tidak kelihatan ujudnya lagi karena bersimbah darah. Tinggal kedua pemukanya berhadapan, lelaki itu masih memegang golok hitam legam yang nyaris tiada kelihatan, perempuan paruh baya berambut keperakan dengan sepasang pedang di tangan.

"Menyerahlah jika ingin mendapat keadilan, barangkali nyawamu bisa diselamatkan!"

"Dikau telah menuduh kami beraliran sesat, apakah masih sesat jika aku tahu bahwa mati dalam pertarungan adalah kehormatan?"

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Mengapa   kaum    bid'ah    selalu    pandai    berbicara?

Mungkinkah kepandaiannya itu yang menyesatkan mereka?" Lelaki itu tersenyum pahit.

"Aku sudah kehilangan segalanya. Anak, istri, saudara?saudara. Tapi aku akan bahagia mati tanpa kehilangan keyakinanku. Apakah kalian bisa seperti itu? Masih bahagiakah kalian tanpa kekuasaan, tanpa kekayaan, tanpa keunggulan apapun juga, masihkah?"

Perempuan itu menunjuk dengan pedang di tangan kanannya.

"Hmmmh! Bicaramu seperti orang golongan putih! Padahal yang kalian pelajari adalah ilmu hitam!"

Kini lelaki itu tertawa terbahak-bahak.

"Ilmu hitam? Aku rasa pikiran kalianlah yang tersesat! Sayang sekali, sayang sekali untuk perempuan berilmu tinggi seperti kamu-kukira seorang pengawal rahasia istana seharusnya lebih pintar dari itu!"

"Apa yang bisa dim inta dari seorang tertuduh yang tidak sudi menyerahkan diri. Jika dikau menganggap dirimu seorang warganegara, percayakanlah nasibmu kepada peradilan. Hanya atas nama keadilan aku wajib menangkapmu!" Tawa lelaki itu mendadak berhenti.

"Aku seorang merdeka, aku tidak mengakui peradilanmu!" Suasana tegang. Aku tahu sudah tidak ada lagi titik temu. "Setidaknya dikau merusak tempat peribadatan, jika dikau

mengakuinya sebagai bukan agamamu, itu kejahatan yang

lebih tidak terampunkan! Ataukah aliran sesatmu justru membenarkan?"

Lelaki itu tampak tidak tertarik lagi untuk menjawab. Wajahnya tampak pasrah dan mantap. Hanya sepotong kain melilit pinggang dan golok hitam di tangan. Apalagi yang diinginkannya dari dunia ini, jika keluarga mati, tanah dirampas, dan keyakinan pun tertindas?

"Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan," katanya.

(Oo-dwkz-oO)

PEREMPUAN itu mengangkat kedua pedangnya, yang kiri menunjuk ke depan, yang kanan terangkat ke atas, sementara kaki kanannya ditarik merendah dan menekuk ke belakang, yang kukenal sebagai jurus pembuka Ilmu Pedang Suksmabhuta Tingkat Kedua. Ilmu silat memang bisa dikembangkan bertingkat-tingkat, sejauh pemilik ilmu

silat memang ingin mengembangkannya. Seorang penemu meletakkan dasar dan mengembangkannya. Namun seorang murid yang mempelajari ilmu silat, dengan dasar yang sama dapat mengembangkannya secara berbeda. Murid yang cerdas bahkan akan mampu mengembangkan dasar-dasar itu menjadi pengembangan yang lebih hebat dari ilmu silat gurunya.

Jika disebutkan terdapatnya tingkat dalam pengembangan itu, maka dimaksudkan bahwa semakin tinggi tingkatnya semakin canggihlah ilmu silat pada tingkat itu, dan karenanya tenaga pendukung pada tingkat itu mesti lebih besar pula dayanya. Jika terlihat seorang pendekar tampak bergerak sangat cepat seperti bayangan melesat, meski gerakannya tampak ringan tanpa suara, maka sebenarnyalah betapa daya pendukungnya berasal dari tenaga yang luar biasa besar, sehingga hanya kemampuan tenaga dalamlah yang akan mampu mendukungnya. Maka melihat jurus pembukaan itu, aku tahulah sudah apa yang akan terjadi.

Dengan segera pendekar perempuan itu bergerak sangat cepat, sampai tidak terlihat, dan lelaki bergolok hitam itu menjadi tampak berada dalam kesulitan. Rakyat tidak pernah mempunyai waktu semewah para pendekar silat, yang memang hidup hanya demi ilmu s ilat, mengorbankan segenap tuntutan bermasyarakat, mulai dari berkeluarga sampai membela negara, karena para pendekar memang hidup hanya untuk dirinya sendiri saja, dalam apa yang mereka kira sebagai perjalanan mencari kesempurnaan. Rakyat belajar silat hanya untuk membela diri dan tidak untuk menguasainya sebagai seni, sehingga ilmu silat rakyat jelata memang disesuaikan dengan keterbatasan waktu maupun minat mereka.

Akibatnya segera tampak dalam pertarungan ini. Jika semula tampak bayangan hitam dan bayangan putih keperakan saling melesat di antara dentang benturan golok dan pedang, sebentar kemudian tampaklah betapa bayangan hitam itu makin lama makin jelas sosoknya, sementara bayangan putih dengan leluasa menyerangnya dari segala penjuru sembari mengitari bayangan hitam yang telah semakin lambat geraknya. Agak mengherankan bahwa sabetan dan tusukan pedang tipis keperakan itu masih saja tertangkis oleh golok hitam, yang masih berputar seperti baling-baling sebisanya melindungi tubuh dari dua pedang sekaligus yang selalu datang dari dua arah!

Sejak tadi aku mengamati para pemegang golok hitam, karena sangat penasaran tidak bisa mengenali ilm u pedang kerakyatan yang mereka andalkan -jelas ini bukan perkara tinggi rendahnya ilmu, melainkan bahwa mereka ini pada dasarnya bukan pesilat. Ilmu pedang rakyat jelata yang purba memang sudah tidak dapat diketahui asal-usul penemu dan penyebarnya, tetapi sejak mereka peragakan ilmu pedang sebagai cakram berputar bagaikan gelar perang Cakrabyuha, kuduga seorang pendekar yang memahami ilmu perang telah melakukan pembaruan. Aku bertanya-tanya dalam kepala, apakah karena keenam orang tadi sekadar bekas tentara, ataukah ilmu pedang yang digabungkan ilmu perang, dan diterapkan kepada golok pembelah kayu ini, sebenarnya telah dikuasai banyak orang?

"Matilah kamu yang telah menghina Durga!"

Saat itu golok hitam tampak terpental ke langit dan sepasang pedang dalam sepersekian detik sudah akan memenggal leher lawannya dari kiri dan kanan, ketika mendadak saja puluhan pisau terbang berdesau mengancam berbagai titik mematikan pada tubuhnya. Pendekar perempuan itu rupanya bukanlah pendekar sembarangan, ia mengubah arah kedua pedangnya dan melenting ke udara- sejumlah pisau terbang berhasil ditangkisnya, tetapi betapapun puluhan pisau terbang itu me luncur dari segala arah!

Jap! Jap! Jap! Jap! Jap!

Tak urung lima pisau terbang menancap di tubuhnya, tetapi karena dengan melenting ke udara itu berarti sebagai sasaran ia sudah berpindah, lima pisau terbang itu tidak tertancap di tempat mematikan. Sebaliknya, karena lompatannya ke udara yang tiba-tiba itu, lebih dari se lusin pisau terbang justru menancap di tubuh lawannya. Bahkan sebelum jatuh menyentuh tanah, nyawa orang itu telah lepas dari tubuhnya- sebilah pisau terbang menancap pada jantungnya.

Aku terkesiap dan melesat. Golok hitam yang masih melayang jatuh itu kusambar di udara-dan sebelum siapapun menyadarinya, aku telah menghabisi orang-orang berbalut busana hitam pekat yang hanya tampak matanya itu. Sebetulnya aku tidak ingin turut campur, dan dalam tujuan penyelidikanku seharusnya aku memang tidak melibatkan diri. Namun usia seratus tahunku tiada mampu menahan luapan marah serentak yang datang tiba-tiba, ketika menyaksikan pelemparan puluhan pisau terbang dari kegelapan. Pengecut! Aku sangat muak setiap kali berhadapan dengan orang-orang seperti ini. Aku lebih menghargai pengecut yang dengan jujur melarikan diri, dibanding penyergap malam yang licik seperti ini.

Kusadari betapa kelicikan ini telah menjadi suatu aliran dalam dunia persilatan, atas nama segenap siasat dalam perang antarkerajaan-tetapi meskipun belum jelas bagiku keberadaan para pelempar pisau terbang ini, memanfaatkan kelemahan seperti itu membuat aku tidak bisa hanya menonton di luar lingkaran. Saat turun dari menyambar golok hitam di udara, tanganku menyambar kepingan-kepingan emas dari balik baju. Begitu mendarat di tanah, limabelas orang menggelinding jatuh dengan kepingan emas menancap dalam-dalam di antara kedua matanya. Tujuh orang segera disergap tujuh pengawal rahasia istana yang melejit ke atas atap, termasuk perempuan paruh baya yang belum mencabut lima pisau dari tubuhnya-sebaliknya delapan orang sisanya melarikan diri ke delapan penjuru. Aku bergerak cepat memburu salah satu agar bisa mengorek keterangannya.

Dari atap ke atap kubuntuti dia yang tidak mengetahui aku mengejar di belakangnya. Aku harus waspada karena membuntuti orang secara diam-diam adalah bagian dari ilmu halimunan. Mereka akan sangat mengerti sedang dibuntuti atau tidak dibuntuti di mana pun mereka berada. Maka ketika ia se lalu mewaspadai arah belakangnya, aku dengan segera sudah berada jauh di depannya, dan selalu berusaha mendahuluinya ke manapun dia pergi. Tentu saja aku harus memastikan bahwa dia juga tidak akan memergoki dan dapat menangkap kelebat bayangan di depannya itu. Tinggi rendahnya ilmu seseorang tidaklah begitu mudah untuk gampang kita tebak-seperti ketika aku te lah selalu mengelabui orang dalam masa dua puluh lima tahun penyamaranku.

Semakin jauh dari wilayah kebakaran, kotaraja semakin gelap dan hanya gelap, menyisakan titik-titik lentera di balik dinding bambu yang tiada berarti. Kegelapan yang sangat menolongku. Aku ingin tahu ke mana dia akan kembali. Meskipun tampaknya mereka melemparkan pisau-pisau terbangnya ke arah pengawal rahas ia istana, aku mempertimbangkan kemungkinan bahwa lelaki bergolok hitam itu juga menjadi tujuan pembunuhan mereka-karena begitu tepat sasaran pisau-pisau terbang itu menancap di tubuhnya.

Ia mendekati sebuah dinding di dekat pura. Ketika dia semakin dekat, aku sudah berada di balik dinding, menempel pada dinding dengan ilmu cicak. Kupejamkan mataku karena pandanganku memang terhalangi dinding bata merah. Kuandalkan pendengaranku untuk menembus kegelapan.

Sebentar kemudian tujuh temannya yang lain tiba. Mereka berpencar sebagai cara untuk mengelabui jika ada yang mengejarnya. Tentu mereka merasa aman, sehingga berani berkumpul kembali. Aku merasa lega telah mengambil keputusan dengan tepat, karena mereka yang hidup dalam pekerjaan penyusupan bahkan tega membunuh dirinya, demi menjaga kerahasiaan pekerjaannya itu. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik. Kutajamkan pendengaranku.

"Siapa orang tua yang muncul tiba-tiba itu? Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti mata, bahkan ia terlalu cepat menghilang sebelum kita bisa mengingatnya -apakah kalian yakin tidak seorang pun telah diikutinya?"

"Teman-teman kita yang tertinggal mati terbunuh semua oleh para pengawal rahas ia istana, yang belum mati dibantai rakyat di bawah patung Durga." Aku menahan napas. Tidak bisa kubayangkan apa yang telah terjadi di sana. Rakyat yang marah ibarat gelombang pasang, bahkan kerajaan bila perlu dapat mereka runtuhkan.

"Jawab dulu pertanyaanku! Apakah kalian yakin orang tua dengan ilmu setinggi itu akan bisa kalian pergoki jika membuntuti kalian?"

Tidak ada jawaban.

"Periksa dulu sebelum kita lanjutkan percakapan!"

Hhhhh! Memang mereka sangat terlatih dalam tugas rahasia. Mereka menyebar ke delapan penjuru dan berputar searah ke kanan. Jika mereka melakukannya berulang-ulang dan semakin mendekat karena mengecilkan lingkarannya, tidak satu manusia pun dapat lolos dari ketajaman mata mereka. Aku menahan napas. Apa yang harus kulakukan jika mereka memergoki persembunyianku?

(Oo-dwkz-oO)