Nagabumi Eps 154: Matinya Seorang Mata-mata

Eps 154: Matinya Seorang Mata-mata

KABUT kembali turun di seluruh lautan kelabu gunung batu. Bahkan kedai itu pun tidak dapat kulihat dari tepi jurang ini, seperti juga jurang ini sendiri yang sudah tidak memperlihatkan apa-apa lagi. Tidak kulihat ketujuh penyoren pedang yang masih bersujud memohonku jadi guru itu. Namun isi kepalaku berada di sebuah dunia tempat seorang mata-mata suatu ketika tewas tanpa mengetahui siapa yang telah membunuhnya. Bukankah begitu rawan menjalani kehidupan sebagai mata-mata?

Siapakah ia kiranya yang tewas dalam kegelapan di sebuah ista l kuda-kuda terbaik istana di kotaraja Thang-long itu, meninggalkan kudanya yang perkasa di antara kuda-kuda lainnya, sebelum seseorang yang lain datang mengendap- endap dan membawa mayatnya pergi entah ke mana?

IA bukan seorang Uighur, tetapi kuda itu semenjak kemunculannya di Chang'an untuk melamar pekerjaan sebagai anggota pengawal istana, dengan terlalu mudah telah menghubungkannya dengan kegiatan mata-mata Uighur. Bagi suku pengembara yang hidup mengembara sepanjang tundra membawa tenda-tendanya itu, kegiatan mata-mata mungkin masih dianggap sebagai tindakan yang terlalu sederhana, seperti hanya tinggal datang, melihat, mendengar, dan melaporkan. Tidak seperti kegiatan rahasia istana yang sudah amat canggih jaringannya, kegiatan mata-mata yang diniatkan orang-orang Uighur seolah-olah dapat dilakukan dengan penyamaran seadanya tanpa jaringan apa pun yang mendu- kungnya.

Maka alih-alih diketahuinya segala sesuatu yang rahasia, sebaliknya ia menjadi sasaran kegiatan rahasia tanpa disadarinya. Pesan-pesan rahasia yang disampaikannya kepada seorang penghubung dari Uighur adalah pesan yang sengaja diumpankan untuknya, agar ketika semuanya sampai ke telinga khaghan akan memberi kesan bahwa menerima perjanjian perdamaian adalah yang terbaik bagi mereka. Salah satu umpan yang menyesatkan adalah pesan bahwa Negeri Atap Langit akan menempatkan pasukan pilihan Uighur sebagai pasukan pengawal istana. Betapapun kedudukan Wangsa Tang sedang berada dalam keadaan lemah, tidaklah akan mungkin keselamatan seorang maharaja diserahkan kepada pasukan yang semula merupakan musuhnya. Tidak mungkin dan tidak akan pernah.

Namun karena pesan ini disampaikan oleh satu-satunya mata-mata di dalam jaringan rahasia istana di Chang'an, pihak Uighur mengira bahwa Wangsa Tang memang telah menjadi begitu lemah oleh pemberontakan para panglimanya sendiri, sehingga tidak seorang pun dipercayai Maharaja Dezong untuk menjaga istana, karena membuat dirinya terlalu mudah disandera. Pihak Uighur memang tak sembarang percaya. Mereka menguji dengan sejumlah perm intaan kepada Wangsa Tang, mulai dari perkawinan dengan putri raja sampai penyerahan sejumlah wilayah, yang ternyata berusaha dipenuhi demi kelancaran jebakan. Tidak ada yang mengetahui serba-serbi tersembunyi di balik perjanjian perdamaian kecuali mereka yang terlibat kegiatan rahasia. Saat perjanjian perdamaian ditandatangani barangkali pihak Uighur sudah sangat siap untuk mengambil alih istana, menangkap dan membunuh maharaja, sementara burung merpati yang mereka kirim membawa pesan ke Gurun Gobi akan memberi perintah serbuan bergelombang dari perbatasan. Perhatian para panglima Negeri Atap Langit akan terpecah dan karena itu menjadi lemah dan pasukannya mudah dikalahkan.

Namun bukan saja tidak pernah ada perm intaan kepada pasukan Uighur untuk menjaga istana, tetapi juga mata-mata yang kepadanya akan mereka minta pertanggungjawaban hilang lenyap taktentu rimbanya. Memang benar bahwa murid perguruan ilmu pedang yang telah menyediakan dirinya menjadi mata-mata bagi kepentingan suku Uighur itu, karena sebab-sebab yang belum dapat diduga, telah dikirim secara mendadak ke Daerah Perlindungan An Nam dengan pengawalan ketat. Mungkin ia mengira betapa pengawalan itu adalah demi kepentingan atas keselamatan dirinya. Siapa mengira justru tujuannya adalah supaya ia tidak dapat menyelamatkan diri ke mana-mana. Setiba di Kota Thang-long yang sedang dikepung oleh pasukan gabungan para pemberontak, mungkin ia masih dipekerjakan dalam kegiatan rahasia seolah tiada kecurigaan apapun jua, dan hanya setelah pertempuran usai dan suasana lebih tenang, maka suatu ketika di istal kuda di depan kuda kesayangannya sebilah pisau melengkung menyobek dadanya dari belakang tanpa tertahankan. Pandangannya menjadi gelap sebelum ambruk dan tidaklah pernah ia ketahui siapa pembunuh itu, karena pembunuhan gelap niscaya dilakukan per-kumpulan rahasia yang menyediakan jasa pembunuhan demi bayaran. Per-kumpulan rahas ia para pembunuh bayaran ini telah menjadi sangat mahir dan terampil dalam seni pembunuhan gelap, sehingga sebisa mungkin tiada jejak yang ditinggalkan, tetapi kutahu hanya ada satu perkumpulan rahasia semacam itu di Thang-long, yakni yang menamakan dirinya sebagai Kalakuta karena keahlian mereka dengan racun.

Ketika kabut berpendar, segalanya tampak kembali dengan jelas, seperti sebuah puisi Wang Wei yang terbaca olehku di Kuil Pengabdian Sejati:

bukit yang dingin menjelma hijau tua

gemercik sungai musim gugur bergumam suaranya bertelekan tongkat, di ambang pintu pagar kudengar jerit cengkerik terbawa angin

MEMANG benar ini menjelang mus im gugur dan meski tak kudengar jerik cengkerik, kudengar segala macam suara terbawa angin yang justru semakin menekankan kesunyian pegunungan. Aku terkes iap, ketujuh penyoren pedang itu terkapar sebagai mayat di tempatnya masing-masing.

Aku merasa sangat bersalah. Bu-kankah mereka semua sedang bersujud memohon kesudianku menjadi guru? Mereka yang mengarungi su-ngai telaga persilatan, jika sudah berniat untuk berguru seperti itu, tidak akan pernah mengangkat wajahnya sebe-lum guru yang dimaksud mengabul-kan permintaannya, yakni menerima-nya sebagai murid. Sang guru pun ka-dang menguji kekerasan hati calon mu-ridnya dengan cara seperti itu. Se-orang calon murid bersimpuh atau bersujud siang malam dalam hujan dan panas di muka pintu perguruan atau ru-mah gurunya, sampai sang guru sendiri menyuruhnya berdiri; takjarang sang guru pergi lebih dahulu berhari-hari dan baru ketika kembali dan dilihatnya calon murid itu masih bersujud atau ber-simpuh di situ, maka saat itulah ia akan merasa wajib menghargai ke-kerasan hati ca lon murid tersebut.

Jika ternyata ketujuh orang yang bermaksud berguru kepadaku itu telah dibunuh saat bersujud, kurasa aku ha-rus menganggapnya sebagai penghinaan yang ditujukan kepadaku. Te-patnya seseorang bukan hanya ber-maksud menguji, melainkan dengan jelas, terang-terangan, dan kurang ajar telah menantangku!

Aku menghela napas panjang. Sulit sekali menghindarkan diri dari pertarungan belakangan ini. Meskipun aku tak pernah berniat menerima mu-rid, tetapi aku merasa harus menghormati kematian tujuh penyoren pedang yang dibunuh ketika sedang bersujud kepadaku itu. Jika mereka tidak sedang bersujud dan pedangnya tidak ku-pentalkan dengan kerikil jauh-jauh dari mereka, belum tentu mereka akan dapat terbunuh semudah itu.

Malang benar nasib ketujuh penyo-ren pedang itu. Aku belum tahu apakah tujuan mereka membawa keledai-keledai beban mengarungi lautan kelabu gunung batu ini. Apakah ber- hubungan dengan tugas rahasia sau-dara seperguruan mereka yang telah terbongkar begitu ia muncul. Mungkin jika keranjang beban di atas keledai-keledai itu dibongkar akan terdapat suatu jawaban. Namun bisa pula ke-matian mereka hanya berhubungan dengan diriku, seperti yang telah ku- duga, bahwa seseorang bermaksud mengajakku bertarung dengan cara membunuh ketujuh penyoren pedang yang sedang bersujud memohon ke-padaku agar menjadi gurunya itu.

Kutelusuri satu persatu ketujuh ma-yat yang tergeletak itu. Hatiku bersedih dua kali untuk mereka. Pertama karena kuketahui betapa diriku tidak akan menerima mereka sebagai murid; ke-dua, karena bersujud itulah mereka terbunuh dengan terlalu mudah. Aku tak tahu menahu siapa mereka, tetapi ra-sanya pantas jika kematian mereka kubalaskan. Maka setelah memeriksa satu per satu bekas luka mereka, ku- pungut pula ketujuh pedang mereka yang telah kubuat terpental sehingga mereka tak bisa membela diri itu, de-ngan pikiran bahwa siapa pun yang telah membunuh mereka demi sebuah pertarungan denganku harus mati oleh ketujuh pedang itu.

Demikianlah ketujuh pedang itu kumasukkan ke dalam sarung pedang yang kuambil dari tubuh mereka ma-sing- masing. Kemudian aku me-langkah ke arah kedai dengan tujuh pedang tersoren di punggungku. Se-genap pemandangan hilang dari pandangan karena sedang kunantikan serangan paling berbahaya dalam perjalananku di sungai telaga dan rimba hijau dunia persilatan. Siapa pun ia yang mampu membunuh tujuh manusia di sekitarku, meskipun saat itu diriku dilingkungi kabut, tentulah ilmu silatnya tidak berada di bawah diriku, dan syukurlah betapa diriku tidak usah menanti terlalu lama...

Di arah kedai, kulihat bapak kedai itu sedang membereskan warungnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Mengapa ia harus bersikap seperti itu jika sebetulnya betapa ia mengetahui semuanya?

(Oo-dwkz-oO)

MATAHARI mendadak saja semburat dari balik kabut yang tiba-tiba saja seperti menyingkir. Rerumputan yang basah seperti bersemu kuning, daun rumput yang basah berkilauan, warna-warni bunga menjadi jelas dalam keterangbenderangan dunia yang menjadi riang seketika.

Kuhentikan langkahku dan kutarik satu dari ketujuh pedang yang tersoren di punggungku. Sebentar kemudian dari segala arah muncullah kupu-kupu beterbangan ke arahku. Kupu-kupu yang indah, kupu-kupu aneka warna dengan sayap terindah di dunia. Ke-indahan yang sungguh tak tergambar-kan dengan kata-kata. Seandainya aku seorang penulis, mungkin aku bisa ber-cerita lebih baik, tetapi aku hanyalah salah seorang penyoren pedang yang mencari arti di dunia persilatan dari pertarungan satu ke pertarungan lainnya. Aku tidak mengerti bahasa sastra, aku hanya memahami bahasa pedang, dan kini harus kuhadapi segala kein-dahan ini dengan ayunan pedang pula.

PULUHAN kupu-kupu, ratusan kupu-kupu, ribuan kupu- kupu, pu-luh-an ribu kupu-kupu yang muncul dari segala arah, dari tepi jurang, dari balik bukit batu, dari balik bunga rumput, bahkan seolah-olah muncul begitu saja di udara di hadapanku di atas kepalaku di belakangku di kiri kananku di ba-wahku, dari mana saja, mula-mula satu dua, tetapi lambat laun kemudian menjadi selaksa.

Maka semula aku bergerak sesuai dengan jumlah kupu- kupu itu. Setiap kupu-kupu kubelah tepat di tengah dengan pedang tipisku, sehingga jatuh ke tanah tepat menjadi dua. Begitulah maka semula aku melayang ke sana kemari dengan ringan dan begitu ringannya seperti kupu-kupu itu juga, tetapi kemudian setelah kupu-kupu itu menjadi semakin banyak, tentunya aku pun harus bergerak lebih cepat, sangat amat cepat, bahkan lebih cepat dari cepat, agar dapat menyelamatkan nyawaku dari keindahan yang sangat membunuh itu.

Untunglah bahwa dalam Kitab Perbendaharaan Ilmu-ilm u Silat Ajaib dari Negeri Atap Langit yang pernah kubaca di Negeri Atap Langit terdapat juga penjelasan mengenai serangan yang kuhadapi ini. Seperti diketahui bahwa seperti juga yang sedang kulakukan sekarang, terdapat suatu pendekatan dalam penciptaan jurus-jurus baru ilmu s ilat, yakni rujukan penciptaan gerak berdasarkan suatu pemikiran filsafat. Agak sulit diperiksa bagaimanakah caranya suatu bentuk gerak dapat ditimba dari gagasan tak berbentuk, tetapi kecenderungan semacam inilah yang menarik untuk kutekuni, dan ternyata aku memang tidak sendirian. Jawaban atas persoalan dalam gerakan jurus-jurus ilmu silat dicari dari pemikiran filsafat yang bukan hanya menjadi latar belakang, melainkan justru sumber gagasan penciptaan geraknya.

Dari kitab yang kubaca itu dikisahkan terdapatnya seorang filsuf yang hidup sekitar 400 tahun lalu bernama Zhuangzi. Terdapat suatu kisah, entah benar entah tidak, tentang sang filsuf yang berbunyi seperti ini:

pada suatu hari setelah matahari terbenam Zhuangzi tidur mendengkur

dan mimpi berubah jadi kupu-kupu ia mengepakkan sayapnya

dan yakin sekali

betapa dirinya kupu-kupu

betapa senangnya mengepak kian kemari sampai lupa dirinya adalah Zhuangzi meskipun segera disadarinya

kupu-kupu bahagia itu

adalah Zhuangzi yang bermimpi jadi kupu-kupu, atau kupu-kupu bermimpi dirinya Zhuangzi! mungkinkah Zhuangzi adalah kupu-kupu

dan kupu-kupu itu adalah Zhuangzi?

Seorang pendekar dari Negeri Atap Langit semasa itu te lah mengaduk-aduk cerita ini sebagai jurus silat yang tidak akan pernah diketahui jurus mana merupakan tipuan dan jurus mana yang mengarah ke sasarannya. Ter-masuk dengan menciptakan kekaburan antara gambaran kupu-kupu dan dirinya. Jika kupu-kupu itu dikatakan tidak nyata karena ketidakmungkinannya hadir begitu saja, dalam kenyataannya sentuhan sayapnya, bahkan serbuk melayang dari kepakan sayapnya itu, sangat beracun dan dapat membunuh seketika. Namun jika kupu-kupu itu dikatakan nyata, mana mungkin lama kelamaan dapat jadi selaksa dan memenuhi udara?

Aku melayang-layang mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghindari serbuk racun tak terduga dan membabati kupu-kupu itu dengan kecepatan lebih dari kecepatan cahaya, tepat di tengah, terbelah dua, sehingga tiada mungkin sepasang sayapnya terkepakkan lagi, oleh angin maupun daya-daya yang masih tersembunyi. Bahaya serbuan kupu- kupu ini belum seberapa jika mengingat bahwa tentunya seseorang entah di sebelah mana sedang mengawasi dan menanti ke-sempatan mencabut nyawa, dengan sambaran mematikan yang juga telah menyelesaikan riwayat ketujuh pe- nyoren pedang itu.

MAKA harus kupecahkan persoalan filsafat dalam Impian Kupu-Kupu dari Zhuangzi yang terkenal itu, agar mendapatkan jalan keluar yang saat ini jelas nyaris buntu. Pertama, ingatanku atas kalimat dalam cerita itu haruslah tepat, karena kitab lain dalam bahasa aslinya, yang tidak berhubungan dengan ilmu silat, seperti yang pernah kugunakan sebagai bahan pelajaran membaca bahasa Negeri Atap Langit di Kuil Pengabdian Sejati, tampaknya agak sedikit berbeda, dan sedikit perbedaan saja dalam kata-kata sangat mungkin membawa penafsiran berbeda.

Suatu ketika Zhuangzi bermimpi ia menjadi kupu-kupu, seekor kupu-kupu yang terbang dan berkepak berkeliling, bahagia dengan dirinya sendiri dan melakukan apa pun yamg disukainya. Ia tak tahu dirinya adalah Zhuangzi. Mendadak ia terbangun, dan di sanalah ia, dapat dipegang dan tak mungkin salah sebagai Zhuangz i. Namun ia tak tahu apakah ia adalah Zhuangzi yang bermimpi dirinya kupu-kupu, ataukah kupu- kupu yang bermimpi dirinya adalah Zhuangzi. Antara Zhuangzi dan seekor kupu-kupu pasti terdapat sejumlah perbedaan! Inilah yang disebut Perubahan Segala Sesuatu.

Tentulah ini agak berbeda. Jika cerita pertama diakhiri pertanyaan, maka cerita kedua diakhiri pernyataan. Mengingatnya berurutan, yang kedua bagaikan jawaban bagi yang pertama, meski jika yang pertama berdiri sendiri juga bisa ditafsirkan menjadi pernyataan yang kedua. Dalam suatu perbincangan, kisah Zhuangzi ini ditafsirkan seperti berikut: pertama, ketika Zhuangzi bermimpi tentang kupu-kupu, ini adalah suatu mimpi biasa, ketika kupu-kupu itu dikiranya dirinya sendiri; kedua, memasuki tahap mimpi pada saat sadar, seperti tahap penghubung antara bermimpi dan terbangun, saat tak diketahuinya apakah ia sedang berm impi tentang kupu-kupu atau sebaliknya, kupu-kupu yang bermimpi bahwa dirinya Zhuangzi; ketiga, saat ia berada pada tahap pemahaman filsafat, betapa ia telah menyimpulkan m impi itu sebagai gagasan atas perubahan segala sesuatu.

Dalam ketegasan perbedaan antara Zhuangzi dan kupu- kupu, terdapat kekaburan keduanya untuk menegaskan perbedaan masing-masing, karena yang satu merasa dirinya yang lain, yang berarti juga menunjukkan perubahan segala sesuatu itu. Namun mengingat mustahilnya manusia menjadi kupu-kupu dan sebaliknya, maka segenap pemahaman itu berlaku bukan untuk manusia dan kupu-kupu sebagai makhluk hidup, melainkan manusia dan kupu-kupu sebagai hubungan antara manusia dan segala sesuatu yang dipikirkannya, yang bisa disebut juga segala makna. Misalnya betapa manusia dapat menempatkan dirinya dalam sudut pandang seekor kupu-kupu, dan dalam sudut pandang seekor kupu-kupu yang menempatkan dirinya jadi manusia.

Kemungkinan ini ditimba bagi peluang lahirnya jurus-jurus persilatan baru, yang bukan sekadar memanfaatkan gerak kelincahan kupu-kupu, melainkan kekaburan perbedaan antara manusia dan kupu-kupu ketika manusia merasa dirinya kupu- kupu dan kupu-kupu merasa dirinya manusia; dalam pertarungan tiadalah lawan dapat membedakan di sebelah mana jurus tipuan dan di sebelah mana jurus pembunuhan yang sebenarnya. Inilah kemudian yang disebut Jurus Impian Kupu-Kupu, yang akan membuat siapapun yang menguasainya dapat bergerak dengan ringan dan lincah seperti kupu-kupu, sementara pedangnya membabat cepat secepat kepakan sayap kupu-kupu itu.

Begitu hebatnya jurus silat ini, sehingga kelebat bayangan pedang dan daya batin penggunanya dapat membentuk pembayangan seekor kupu-kupu, seribu kupu-kupu, bahkan selaksa kupu-kupu, masih ditambah pengaburan hubungan kupu-kupu dengan manusia yang sangat menipu, karena ketika nanti tampak seseorang menyerang, saat ditangkis dan diserang balik ia bagai memecahkan diri jadi seribu kupu-kupu yang sedang menyerang dari segala penjuru.

Jurus silat itu bukanlah ilmu sihir, melainkan daya pengelabuan dalam siasat pertarungan biasa, tetapi yang dikuasai dengan tingkat kemahiran yang amat sangat tinggi. Jurus Impian Kupu-Kupu ini mendasarkan jurus-jurusnya pada pemikiran: jika kesadaran dirumuskan sebagai kemampuan menyatakan, dan karena itu perbedaan tahap kesadaran hanyalah perbedaan tahap kewaspadaan, sehingga terdapat dua tahap kesadaran dalam perjalanannya, yakni impian dan kebangunan. Aku dapat kemungkinan digunakannya jurus ini sejak memeriksa mayat-mayat ketujuh penyoren pedang itu. Dari serbuk-serbuk beracun maupun cara bekas luka sayatannya tertoreh, dapat dibaca bukan hanya senjata apa yang digunakannya, tetapi juga ilmu silat yang dikuasainya. Itulah sebabnya aku telah waspada sejak matahari membuat lapangan rumput keemasan dan kupu-kupu beterbangan muncul dari segala penjuru. Kini bagaimana caranya kuatasi dan kupunahkan serangan semacam ini? Aku bersyukur sempat membaca perihal Zhuangzi ini, dan bukan sekadar perihal filsafat Impian Kupu- Kupu itu, melainkan juga perkara yang lain. Zhuangzi diduga hidup pada masa pemerintahan raja Hui dari Liang dan raja Xuan dari Q i, dalam kurun waktu lebih dari seribu tahun lalu. Ia berasal dari Kota Meng atau Meng Cheng di Negara Bagian Song, Henan, dan nama aslinya adalah Zhou. Ia juga dikenal sebagai Meng Zhuang. Filsafatnya disebut sebagai filsafat yang bersifat ragu-ragu, menalarkan bahwa hidup manusia sangat terbatas, tetapi menghendaki segala sesuatu tanpa batas. Menggunakan yang terbatas untuk memburu yang takterbatas adalah bodoh. Bahasa dan pengenalan manusia mensyaratkan suatu dao tempat masing-masing orang bertindak sesuai masa lalu yang berarti juga sebagai jalannya.

Dengan begitu manusia harus waspada dan sangat hati- hati mempertimbangkan kesimpulan, yang tampaknya akan salah arah jika masa lalunya berbeda lagi. ''Pikiran dan jiwa kita terlengkapi bersama seluruh tubuh kita,'' ujarnya. Penempatan alam atas perilaku tergabungkan dengan yang diperoleh, termasuk pembagian dalam penggunaan nama- nama, untuk menyetujui atau tidak menyetujui berdasarkan nama-nama dan untuk berlaku sesuai dengan ketentuan yang sudah terbentuk. Berpikir dan memilih langkah dalam dao ditentukan oleh keputusan alam yang lain daripada yang lain atau yang tersendiri.

Pemikiran Zhuangzi juga dapat dipertimbangkan sebagai perintis cara-cara keberbagaian nilai. Keberbagaian nilainya bahkan membuat ia meragukan dasar penalaran atas guna, yang menjadi sebab tindak tersedia dalam hidup manusia, karena ini mengandaikan bahwa hidup itu baik dan mati adalah buruk. Dalam bab 18 bagian keempat ''Kebahagiaan Besar'', dikisahkan betapa ia menyatakan rasa kasihan atas tergeletaknya sebuah tengkorak di tepi jalan. Zhuangzi meratapi kenyataan betapa tengkorak itu sekarang mati, tetapi tengkorak itu menjawab, ''Bagaimana kau tahu bahwa mati itu buruk?''

Terdapat dua kisah yang menjadi contoh bahwa tiada ukuran bagi keindahan, dan tentunya menyatakan tidak ada nilai yang berlaku sama bagi segalanya, apalagi untuk selamanya, yang terdapat bab 2, berjudul ''Tentang Menata Segala Sesuatu'':

Kata orang Puteri Qiang dan Puteri Li sangat cantik, tetapi jika ikan-ikan melihatnya akan menyelam ke dasar arus; jika burung-burung melihatnya akan terbang pergi, dan jika rusa melihatnya juga akan mendadak lari. Dari empat keadaan ini, siapa yang tahu cara menetapkan ukuran keindahan di dunia?

NAMUN filsafat keberbagaian itu oleh semacam kepekaan atas keutuhan dan kesatuan dunia ini dalam ba-gian yang disebut "Kebahagiaan Ikan":

Zhuangzi dan Huiz i sedang berjalan-jalan di bendungan Air Terjun Hao ketika Zhuangzi berkata, "Li-hatlah ikan-ikan kecil yang melompat dan melesat sesukanya! Itulah yang sangat membahagiakan ikan!"

Huiz i berkata, "Dikau bukan ikan, bagaimana dikau tahu apa yang disukai ikan?"

Zhuangzi berkata, "Dirimu bukan diriku, jadi bagaimana dikau tahu diriku tak tahu apa yang disukai ikan?"

Huiz i berkata, "Diriku bukan dirimu, jadi daku tentu ta ktahu apa yang kamu tahu. Di s isi lain, dikau jelas bukan ikan, jadi itu masih membuktikan dirimu ta ktahu apa yang disukai ikan!"

Zhuangzi berkata, "Mari kita kembali kepada pertanyaan semula. Dikau bertanya bagaimana daku tahu apa yang disukai ikan. Jadi dirimu sudah tahu betapa diriku mengetahuinya ketika dikau mengajukan pertanyaannya. Daku mengetahuinya dengan berdiri di s ini di tepi Hao." Jika kisah kedua ini dimaksudkan sebagai gagasan tentang keutuhan dan kesatuan, maka gagasan tentang keutuhan dan kesatuan ini jelas tidaklah menghapuskan keberbagaian sama sekali, karena jika aku menjadi Huiz i yang berada di dekat Zhuangzi dalam peristiwa itu, aku akan menyatakan dengan tegas bahwa meskipun aku yang bertanya bagaimana sang filsuf mengetahui betapa ikan suka berlompatan dan me lesat di bawah arus, itu bukanlah karena diriku percaya ia mengerti perihal kebahagiaan ikan secara mutlak, melainkan justru mempertanyakannya. Pertanyaan bagai-mana tidak membuktikan kepercayaan betapa yang ditanya mengetahuinya, apalagi bahwa yang ditanya itu memang mengetahuinya.

Saat itulah di antara kepak seribu kupu-kupu sebilah pedang tipis mendadak saja terarah ke jantungku. Aku berkelebat melejit ke atas, tetapi tidak turun lagi karena telah kugunakan ilmu meringankan tubuh yang membuat diriku menjadi lebih ringan dari kapas, melayang-layang terbawa angin.

Berikut inilah penalaranku dalam memecahkan persoalan menghadapi Jurus Impian Kupu-Kupu.

Telah diuraikan betapa kekaburan yang berlangsung antara apakah Zhuangzi merasa dirinya kupu-kupu dan kupu-kupu merasa dirinya Zhuangzi atau Zhuangzi merasa dirinya kupu- kupu yang merasa di-rinya Zhuangzi, telah diperjelas sebagai perjalanan kesadaran mulai dari m impi, bangun dan terjaga dalam keadaaan setengah sadar, dan bangun sepenuhnya dengan kesadaran terdapat perubahan segala sesuatu. Adapun kesadaran akan perubahan segala sesuatu itu bukan kebetulan membawa-bawa makhluk kupu-kupu, karena bukankah memang kupu-kupu itu berasal dari ulat yang lamban dan buruk tetapi setelah menjadi kepompong lantas menjelma kupu-kupu yang lincah beterbangan kian kemari? Saat itu tidakkah kupu-kupu tersebut masih ingat betapa dirinya dulu adalah seekor ulat, ataukah ia merasa dirinya ulat yang sedang bermimpi jadi kupu-kupu?

Cerita tentang makhluk-makhluk yang lari melihat putri cantik menunjukkan tiada ukuran yang sama bagi segala sesuatu, yang juga berarti segala sesuatu memiliki ukurannya sendiri-sendiri; dan cerita kedua menegaskan betapa keberbedaan segala sesuatu yang mutlak sebenarnyalah bisa diatas i dengan penalaran. Di satu pihak kupu-kupu membedakan dirinya dengan mutlak dari ulat, di pihak lain pena-laran dapat memandang keduanya takterpisahkan sama sekali.

Jadi aku sebaiknya melihat kupu-kupu beracun yang beterbangan banyak sekali ini sebagai bagian dari manusia yang menyerang dengan pedang; jika aku hanya mengandalkan kecepatan aku takdapat mengatasi kupu-kupu dan manusia sekaligus mereka bergerak dengan satu jiwa dan satu pikiran, tetapi yang telah memecahkan tubuhnya menjadi takterhitung lagi.

Namun dengan menyadari keadaan ini tidak berarti aku sudah menemukan cara mengalahkannya, karena sulit sekali melawan dan mengelabui jumlah yang banyak dengan satu jiwa dan satu pikiran.

HANYA kuketahui betapa Jurus Impian Kupu-Kupu ini sangat mengandalkan keberadaan kupu-kupu. Adapun keberadaan kupu-kupu yang beterbangan ini adalah hasil pengerahan daya seperti yang telah mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Aku hanya tak tahu apakah kiranya yang dapat menjadi kupu-kupu sebanyak ini jika tidak ada sesuatu pun yang tampak dapat dikerahkan dayanya untuk menjelma kupu-kupu. Betapapun dengan suatu cara aku harus dapat melenyapkan segenap kupu-kupu itu, tetapi dalam waktu yang sama juga melumpuhkan orangnya. Keberbagaian diterima sebagai kesatuan, dan karena itu harus dilawan dengan keberbagaian sebagai kesatuan juga. Begitulah ilmu s ilat yang bersumber dari filsafat dihadapi dengan pemecahan filsafatnya lebih dulu sebelum menemukan jurus terbaik untuk mengatasinya.

Kuingat betapa aku menyoren tujuh pedang, sedangkan yang satu telah kupegang. Dari atas kulihat sosok yang memegang pedang tipis karena pedang itu berkilatan memantulkan cahaya matahari. Busananya kain warna-warni seperti sayap kupu-kupu sehingga tiada dapat dibedakan sama sekali dari warna-warni sayap kupu-kupu yang beterbangan terlalu banyak dan menyambar-nyambar itu. Dengan gerakan begitu ringan di antara begitu banyak kupu- kupu beterbangan niscaya mustahil lawan manapun dapat menghadapinya pada setiap arah dengan serentak.

Maka kuberatkan tubuhku kembali, langsung menuju ke arahnya. Begitu berat tubuhku itu karena kugunakan bukan ilmu meringankan tubuh, melainkan ilmu memberatkan tubuh, yang jika menimpanya nanti akan membuat tubuhnya menjadi pipih. Tentu aku tahu betapa sosok berbusana kain warna- warni itu akan menghindar. Memang tubuhku yang menjadi sekeras batu dengan berat selaksa kati jatuh menghajar permukaan bumi yang membuat lapisan teratasnya berhamburan. Tubuhku melesak masuk bumi sementara pecahan batu-batu kecil yang berhamburan itu semburat melesat-lesat ke segala penjuru sedikit banyak juga membuyarkan serangan mengerikan kupu-kupu impian Zhuangzi itu.

Tak cukup melesak aku melejit keluar lubang sebagai tujuh orang yang keluar serentak dengan tangan masing-masing memegang pedang. Inilah Jurus Naga Kembar Tujuh yang merupakan bagian dari I lmu Pedang Naga Kembar, yang setelah kugabungkan dengan Ilmu Naga Berlari di Atas Langit membuat dapat bergerak begitu cepat sehingga tampak di mana-mana bagaikan diriku berubah menjadi 7.000 orang. Dapatkah dibayangkan betapa cepatnya pergerakanku itu? Dalam dunia ilmu silat, segala sesuatu memang berlangsung amat sangat cepat, bahkan lebih cepat dari pikiran, dan tentu jauh lebih cepat dari penulisan maupun pembacaan tercepat. Demikianlah persoalan filsafat dipecahkan secepat kilat, segala catatan yang kutuliskan sebetulnya ingatan sekelebat, dan memang begitulah segala sesuatu berlangsung, bahwa siapapun yang kalah cepat terjamin segera menjadi mayat.

(Oo-dwkz-oO)