Nagabumi Eps 148: Perjalanan Malam

Eps 148: Perjalanan Malam

Kudaku melaju setelah melihat cahaya itu, seperti mengerti betapa tujuanku sementara ini adalah Celah Dinding Berlian. Aku merasa tenang karena sebelum berangkat kulihat telah dimakannya rumput, dedaunan, bahkan bunga-bunganya sekalian, yang tampak tumbuh di se la-sela. Kuda yang dilatih suku Uighur tahu bagaimana mengurus dirinya sendiri, sehingga karena itulah kuda yang diternakkan suku itu paling banyak dicari, dan harganya mahal sekali. Kuda ini juga telah memakan tanaman mengandung air, yang seperti sengaja hanya tumbuh di wilayah berbatu-batu seperti ini. Semua itu membuatku tenang dan sementara kudaku berjalan kumakan pula bekal daging asap yang kubawa. Dari berbagai tanaman merayap yang memenuhi dinding-dinding, kadang terdapat buah-buahan berair yang berguna sekali menggantikan ketiadaan air. Begitulah sambil berjalan aku menyambar buah- buahan semacam itu dan menghirup airnya, karena aliran air yang kadang menyeberangi jalan tampak sudah semakin jarang.

Perjalanan malam di lautan kelabu gunung batu pada malam hari bagaikan perjalanan di alam impian, karena memang tidak pernah kualam i suasana seperti ini. Aku memang terbiasa berjalan dalam kesendirian dari kampung ke kampung, dari padang ke padang, dari hutan ke hutan, bahkan juga naik turun gunung dan keluar masuk lembah, tetapi inilah perjalanan dari kesunyian ke kesunyian, menembus kepekatan kabut yang tetap kelabu dalam kegelapan. Demikianlah dalam sergapan kabut dunia serasa menyempit, tetapi se lepas kabut dunia terlalu luas sehingga manusia di tengah alam seperti ini akan merasa sangat amat sendiri. Betapa tidak akan merasa amat sendiri jika cahaya rembulan se luruh jaringan jalan setapak yang melingkar- lingkar dari gunung ke gunung dalam lautan kelabu gunung batu yang mahaluas itu?

Tidak kulihat lagi rombongan kecil orang-orang bercaping yang membawa keledai-keledai beban itu, mungkin mereka sedang berada di suatu jalan di balik gunung, dan mungkin saja di balik gunung itu mereka berhenti dan malam. Begitulah perjalanan biasa saja sudah terasa begitu berat, bagaimana pula jika urusannya adalah memburu atau diburu seperti aku. ROMBONGAN Harimau Perang memang tidak atau belum tahu ada seseorang berangkat menuju Celah Dinding Berlian untuk menunggu dan mengikuti perjalanan mereka, tetapi kutahu bagaimana mereka akan dan harus terus bersikap betapa memang terdapat kemungkinan ada seorang mata- mata musuh mengikuti mereka. Sementara tanpa mereka ketahui aku selalu merasa waswas akan tersalip oleh kecepatan perjalanan mereka, sehingga harus mengarungi lautan kelabu gunung batu ini dengan pera-saan sedang diburu.

Aku bertanya-tanya bagaimana-kah caranya mereka melakukan perjalanan dengan cepat sekarang. Apa-kah setiap orang menyerahkan diri kepada kudanya seperti aku? Ataukah kepada seseorang yang berkuda pa-ling depan sebagai penunjuk jalan, dan keduapuluh orang di belakangnya mengikuti tanpa berta-nya-tanya lagi? Aku hanya menduga, rombongan sebanyak duapuluh orang tentunya akan jauh lebih lambat daripada satu orang dengan kuda Uighur yang cerdas seperti kudaku. Namun belum ku-ketahui betapa perjalananku akan mendapat sangat banyak halang-an takterduga, sehingga rombongan Ha-ri-mau Perang sebenarnyalah akan se-lalu berada dekat di belakangku saja.

Cahaya rembulan menyepuh se-gala puncak dengan lapisan lembut keperakan. Celah Dinding Berlian tampak pantulan cahayanya saja berkilauan, tetapi rupanya itu masih sangat jauh. Jika aku berjalan terus menerus pun aku takyakin sudah akan mencapainya dalam dua hari, bukan sekadar karena perjalanannya sulit, tetapi juga karena pemandangan bagai sangat sering menuntut siapapun berhenti. Bahkan kudaku, seperti telah kuceritakan waktu itu, seperti tahu apa yang terbaik bagi penunggangnya. Untung-lah kudaku kini agaknya pun tahu betapa ia takbisa dan tak perlu lagi berhenti demi sebuah pemandangan betapapun dahsyat dan betapapun pe- nuh dengan pesona, karena dalam kenyataannya ia memang terus berja-lan melewati saja pemandangan yang barangkali dalam hidup hanya akan pernah kusaksikan satu kali sahaja.

Harus kuakui betapa damai segala pemandangan di depan mata. Rem-bulan yang perak agak kekuningan tergantung di langit bagaikan hiasan sebuah panggung. Itulah panggung dengan layar bergambar seribu gu-nung, dengan seribu celah dan seribu lembah, dengan jalan setapak yang berkelak-kelok, melingkar dan ber-putar bagai tiada habisnya. Siapa pun memang sebaiknya tidak tidur jika berada di hadapan dan di dalam pe-mandangan seperti ini, meskipun bukankah memang sangat dimung-kinkan betapa pemandangan terbaik terbentang tanpa seorang pun melihatnya? Aku teringat lukisan-lukisan gulungan tua di Kuil Pengabdian Sejati yang berasal dari Negeri Atap Langit. Kubayangkan pelukisnya duduk menggambar di depan sebuah pemandangan yang lengkap: gunung, langit, mega-mega, sungai, perahu, dan mungkin seseorang yang berjalan di kejauhan mengenakan caping. Namun ternyatas yang dilukisnya hanyalah sehelai daun bambu. Itu pun hanya dalam sekali goresan.

Apakah sehelai daun bambu itu yang terindah baginya dari segala pemandangan? Apakah sehelai daun bambu itu mewakili semesta jiwa yang dimasukinya dalam pandangan?

Aku memikirkan jurus silat, jika dengan satu jurus dapat kugugurkan seribu jurus yang berasal dari seribu orang.

Juga di Kuil Pengabdian Sejati, telah kupelajari sebuah puisi dari penyair Li Bai yang meninggal 35 tahun lalu, dan menjadi kebanggaan Wangsa Tang itu.

seandainya kautanyakan kenapa aku tinggal di bukit hijau aku akan diam-diam tertawa: jiwaku tenang

bunga-bunga persik mengikuti air sungai

ada langit dan bumi lain di balik dunia manusia

Dari puisi ini aku belajar tentang makna kesederhanaan. Bahasanya tidak berbelit-belit, dan artinya pun tidak sulit dimengerti. Namun aku tahu betapa ini bukanlah kesederhanaan yang dapat dicapai tanpa tingkat kemahiran dan kepandaian yang tinggi. Sama seperti pelukis yang hanya menggerakkan tangannya satu kali untuk menggambarkan sehelai daun bambu dari pemandangan seribu keindahan di hadapannya, begitu pula penyair ini, yang membongkar selaksa peradaban cukup dengan sepotong pemandangan.

Aku juga sangat terpesona dengan puisi seorang penyair kebanggaan Wangsa Tang lainnya, Wang Wei yang meninggal 38 tahun lalu.

kerikil-kerikil putih berloncatan di arus sungai

satu-dua lembar daun memerah di musim gugur yang dingin

tak gugur hujan di jalan perbukitan

namun bajuku basah di udara yang hijau segar

BUKANKAH puisi semacam ini tidak memaksa pembacanya berpikir keras dengan segala macam pembermaknaan yang menuntut penguasaan atas pengetahuan tentang dunia? Bahkan puisi ini bagaikan bukan tentang suatu makna sama sekali, hanya pemandangan, dan warta sederhana bahwa baju yang dikenakan penatap pemandangan itu basah karena udara dingin berembun. Bahkan ia tidak menyatakan kesannya sama sekali, karena memang sudah akan dirasakan sendiri oleh pembacanya.

Sederhana sekali puisi seperti ini, tetapi tentu saja sekadar kesederhanaan tidak akan mampu menangkap kesederhanaan di balik seribu keindahan. Sebaliknya, penguasaan atas pengetahuan tentang seribu keindahan itulah yang akan mampu menangkap kesederhanaan sebagai yang terindah.

Aku merasa iri dengan para penyair, yang mampu menggenggam dunia dengan segala maknanya cukup dengan seberkas kata-kata. Begitulah sembari mengarungi pemandangan seribu gunung batu di bawah cahaya rembulan, kupikirkan apa yang dapat kulakukan selama mengarungi kehidupan. Apakah kiranya persilatan saja cukup memuaskan bagiku, jika memang ingin mendaki gunung kesempurnaan? Adapun kesempurnaan dalam dunia persilatan artinya bahwa kemenangan belumlah sempurna tanpa kekalahan, sedangkan kekalahan dalam pertarungan hanyalah berarti kematian.

(Oo-dwkz-oO)

MALAM belum berlalu ketika serangan gelap datang dari balik batu di belakangku. Sebetulnya aku telah mendengar sebelumnya betapa di sekitarku bayangan-bayangan hitam berkelebat, sebenarnya tanpa suara, tetapi kudaku yang rupanya membauinya dan memberi tanda-tanda kepadaku, yang untunglah kumengerti sehingga aku menjadi lebih waspada.

Bukankah menyedihkan ketika berada di dalam pemandangan yang begini indah kita harus saling berbunuhan? Sesosok bayangan melesat dengan bacokan tajam sebuah kelewang. Tanpa menoleh kulumpuhkan ia dengan kibasan tangan ke belakang. Namun dari kiri dari atas tebing dan dari kanan dari balik jurang serempak menyerang dua bayangan, keduanya juga menyabetkan kelewang dan dengan segera nasibnya sama dengan kawan penyamunnya yang pertama. Dalam sekejap ketiganya susul menyusul melayang jatuh ke dalam jurang.

Cahaya rembulan seketika menampakkan kabut yang mengambang di atas jurang yang kelam, sehingga setiap tubuh yang terlempar jatuh langsung tak kelihatan. Begitulah para perampok dan penyamun gunung yang semula mundur teratur kini menyerang kembali dengan perencanaan. Tidak ada lagi serangan jarak jauh karena cara itu sudah terbukti gagal. Mereka menyerang sedekat mungkin karena ingin memastikan serangannya mengenai sasaran dan untuk mengatasi kecepatanku maka dua sampai tiga, bahkan lima orang, menyerang berturut-turut maupun serentak dari berbagai arah dengan penuh perhitungan tanpa harus saling memberi perintah lagi.

Dalam malam dalam diam dalam kekelaman kudaku me laju sepanjang jalan setapak di pinggang gunung. Malam berselimut dendam, dalam kegelapan bayangan demi bayangan berkelebat menuntut penuntasan. Dari tepi ke tepi dari ujung ke ujung kudaku melaju dan pada setiap serangan dengan segala hormat kuterbangkan setiap nyawa sementara tubuhnya melayang jatuh ke kedalaman jurang ditelan kelam. Kudaku kuda U ighur yang selalu siap bertempur sehingga bisa memacu dirinya bagaikan terbang dalam keadaan rawan. Kadang aku hanya perlu membungkuk rapat di atas punggung kudaku untuk membuat sambaran luput dan penyerangku melayang langsung masuk ke dalam jurang dengan teriakan panjang. Namun yang membuatku sangat terkejut adalah ketika kudaku melayang dari tepi tebing gunung yang satu ke tepi tebing gunung yang lain dan begitu mendarat kaki depannya telah menginjak dada seseorang di balik persembunyian.

Para penyamun ini tampaknya jauh lebih banyak dari yang kuduga, karena setelah bertempur dan melaju dari sudut ke sudut sepanjang malam kurasa sudah lebih dari limapuluh penyamun kehidupannya kuselesaikan. Dari setiap sudut dari setiap kelokan dari puncak-puncak batu menjulang selalu saja ada serangan dengan segala persenjataan. Ada yang turun dengan tali lantas menyambar naik lagi, ada yang me lesat terbang dari kiri ke kanan, dan ada pula yang langsung menerjang ke punggung kuda tanpa sempat dihindarkan kecuali menyambutnya dengan pukulan Telapak Darah yang hanya akan membuatnya terpental ke dalam jurang sambil memuntahkan darah. SEPANJANG jalan se lama aku masih diserang tak jarang terdengar jeritan, tetapi tubuh mereka semua tanpa kecuali masuk ke dalam jurang. Tidak ada yang terlontar kembali menabrak dinding dengan kepala remuk tulang belakang patah atau hanya pingsan terkapar di te-ngah jalan atau tersangkut di celah batu. Ti-dak ada. Semuanya melayang masuk ke da-lam jurang dan memang kusengaja ha-rus menjadi demikian, karena aku tidak menghendaki timbulnya dugaan apa pun apabila kemudian rombongan Harimau Pe- rang yang masih akan lewat di belakang me-lihat mayat bergelimpangan. Maka se-tiap serangan kusambut, kulayani, dan ku-selesa ikan dengan kecepatan pikiran. Iba-rat kata aku hanya cukup mengetahui ke-beradaan mereka, tak harus mendengar atau menatapnya, dan saat itulah nyawa me-reka melayang masih dalam laju serangan.

Setidaknya sudah tujuh puluh lima orang kutewaskan dalam perjalanan sepanjang malam dan aku tidak tahu masih berapa lagi menghadang dan mengintai dan untuk akhirnya menyergap di depan. Jika semula kuketahui gerombolan pe- nya-mun yang kedua pemimpinnya kutewaskan, ketika berusaha merampokku di ti-tian tadi, berdasarkan bunyi langkah ka-kinya yang mengendap-endap berjumlah li- mapuluh orang; berarti gerombolan ini te-lah bergabung dengan gerombolan pe-nyamun. Layak kiranya kuduga betapa wi-la-yah seribu gunung ini telah dibagi-ba-gi sebagai daerah kekuasaan para penyamun. Apabila diriku ternyata dapat lolos dari wilayah yang satu, belum berarti aku dapat lolos dari wilayah yang lain. Dalam hal gerombolan yang kedua pemimpinnya kutewaskan, sangat mungkin mereka telah minta bantuan atau menggabungkan diri dengan gerombolan penyamun gu-nung yang wilayahnya berbatasan.

Maka agaknya aku pun sudah lolos dari gerombolan yang pertama dan kini menghadapi gerombolan yang berada di wilayah sebelahnya dan di antara mereka setidaknya setengah dari jum lah mereka telah kuterbangkan nyawanya. Satu kali seorang di antaranya dengan nekad meloncat sangat cepat ke atas punggung kuda dan menempel pada punggungku, dan tentulah peluangnya besar sekali untuk membunuhku, tetapi tidak ia perhitungkan tentunya bahwa karena dalam detik yang sama semua orang menyerangku maka aku tinggal melenting ke atas agar para penyerangku saling ber-bu-nuhan tanpa sempat disadarinya. Kulihat ke-lewang kawannya sendiri membabat putus lehernya sementara pisau panja-ngnya menembus perut kawannya itu. Ku-depak tubuh keduanya dari punggung kudaku, yang langsung menggelinding masuk ke jurang menyusul kepala terputus yang melayang ditelan mega-mega mengambang keperakan dalam siraman cahaya rembulan yang tadi kekuningan tetapi kini keperak-perakan.

Mengapakah aku tidak harus berhenti dalam dunia yang serbapenuh pesona se-perti saat ini? Karena dari balik pesona itulah para penyamun gunung yang paling berpengalaman dan paling menguasai medan bermunculan terus menerus de-ngan penuh ancaman. Mereka muncul dari balik tubir jurang, mereka menyerang dari atas tebing, mereka berlari-lari di tebing gunung terjal mengikutiku bagai kambing gunung yang sangat mengenal letak set iap batu, dan hanya pada waktu yang mereka anggap paling tepat saja mereka akan menyerang, sementara dari segala arah lainnya serangan tak hentinya berdatangan. Sudah begitu banyak korban berjatuhan melayang ke jurang, tetapi serangan demi serangan langsung dari balik jubah ma lam terus saja dilakukan, karena serangan jarak jauh hanya berakibat kematian kepada sang penyerang.

Namun setelah lebih dari separuh dari gerombolan di wilayah sebelahnya itu me-la-yang ke bawah masuk jurang, mereka semua segera menarik diri, meski tetap mengawasi.

Kudaku sengaja berhenti me langkah. Harus kuakui betapa cerdas. Jika ia terus melaju dengan kecepatan seperti semula, tidak akan kulihat mereka menempel di dinding batu pada punggungnya. Seperti il-mu cicak, tetapi jika biasa terlihat dalam il-mu cicak bahwa yang menempel ke din-ding adalah telapak tangan dan telapak ka-ki, sehingga seseorang akan menempelkan tu-buh depannya ke dinding seperti cicak, di sini yang menempel adalah telapak tangan dan kaki juga, tetapi dengan punggung yang menempel ke dinding tebing, jadi tu-buh belakang dan bukan tubuh depannya yang menempel, sungguh rekat erat seperti c icak.

Kulihat berpuluh-puluh orang berbusana ringkas dan kehitam-hitaman menempel pada dinding tebing curam menjulang. Kusebut kehitam-hitaman dan bukan hitam karena tentunya busana itu sebelumnya sangat hitam dan menyatu dengan kegelapan malam, tetapi kehidupan penyamun gunung yang jauh dari peradaban telah menjadikannya kusam ketika tak kunjung tergantikan.

Aku terdiam. Mereka juga diam. Kudaku mendengus. Melambaikan ekornya. Lantas melangkah pelan-pelan. Aku berpikir keras. Akan kubasmi sajakah para penyamun gunung ini?

JIKA aku tidak membantainya sekarang, niscaya lautan kelabu gunung batu ini akan menjadi tempat yang mengerikan untuk dilewati, padahal pemandangannya terlalu sayang dilewatkan karena pesona keindahannya yang layak dikatakan bukan alang kepalang.

Berapa lagi korban akan terus berjatuhan jika mereka masih terus bertahan, dan berapa gerombolan lagi akan menghadang dari wilayah ke wilayah sepanjang perjalanan? Aku menjadi maklum kenapa Harimau Perang membawa rombongan sampai dua puluh orang. Kudengar banyak juga pelarian Pemberontakan An Shi yang lari kemari setelah kalah dalam pertempuran. Ini memang wilayah tak bertuan. Siapa mampu menguasainya dengan senjata maka dialah yang akan menjadi tuan.

(Oo-dwkz-oO)