Nagabumi Eps 146: Melayang Seperti Elang

Eps 146: Melayang Seperti Elang

AKU harus berterima kasih kepada Iblis Suci Peremuk Tulang karena telah memilihkan kuda ini untukku. Tanpa kuda ini aku tidak akan pernah terlalu meyakini lang-kah-langkahku, apalagi justru de-ngan perasaan seperti diburu karena kuperkirakan Harimau Perang dengan segenap pengawal dan penunjuk jalannya terus melaju, se-mentara aku bahkan belum menemukan tanda-tanda terdapat Celah Dinding Berlian.

Dengan kudaku yang membuatku yakin betapa sebenarnyalah ia mengerti jalan maupun bagaimana harus berjalan, di tengah alam yang luas terbentang dengan puncak- puncak gunung batu yang menjulang dengan segala keagungan, aku pun dapat memperhatikan semua itu sehingga memergoki sesuatu.

Semula kukira keduanya sepasang burung elang. Ternyata dua manusia yang melayang dari pucuk pohon satu ke pucuk pohon lain, dan setiap kali tiba pada sebuah pucuk cukup menyentuhkan kaki-nya agar dapat melayang kembali. Semula aku mengira keduanya sepasang burung elang, karena memang keduanya mampu mela-yang seperti burung elang ketika sayapnya hanya terbentang. Ta-ngan keduanya, yang memegang pe-dang maupun sarungnya, me-mang hanya terpentang dan mereka melayang dari puncak ke puncak dari dinding ke dinding dari pu-cuk pohon ke pucuk pohon, sekali lagi cukup hanya dengan menyentuhkan kakinya, tidak menjejak, ha-nya menyentuhkan bagian ba-wah dari a las kaki yang disebut sepatu.

Mereka tidak berkelebat, mereka tidak melesat, tidak ada gerakan cepat seperti kilat, apalagi melebihi kilat, karena memang melayang seperti burung elang, dan hanya melayang, terlihat nyata oleh mata telanjang. Bahkan apabila burung elang melayang di lembah yang curam sesekali masih mengepak-kan sayapnya sebelum kembali me-layang tanpa gerakan, kedua manusia ini sama sekali tidak perlu melakukan sesuatu agar bisa melayang, seperti mereka memang sedang terbang. Namun tentu saja hanya burung yang terbang dengan mengepakkan sayapnya, sedangkan kedua manusia ini menerapkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna. Tubuh yang ringan membuat keduanya melayang, tenaga dalam sempurna membuat keduanya mampu mengarahkan diri ke mana mesti melayang, sehingga tampak sebagai terbang.

Jika kemudian terlihat gerakan, itu bukanlah gerakan yang mem-buat keduanya tampak sebagai terbang, melainkan gerak suatu ilmu persilatan yang sedang diterapkan. Namun mereka sungguh tidak tampak seperti sedang beradu ilmu silat, karena segenap pertimbangan geraknya bagaikan pertimbangan atas keindahan. Mereka sungguh tampak terbang, tetapi apabila tubuh mereka berputar pelan dan kedua tangan yang masing-masing memegang pedang dan sarungnya itu juga mereka gerakkan, maka terbangnya mereka sungguh bagai-kan tarian. Bahkan kulihat rombongan kecil yang membawa ke-ledai-keledai beban itu, yang mun-cul kembali di jalan setapak di tebing dinding setelah memutari gu-nung batu, tampak sengaja ber-henti untuk menonton. Memang ge-rak kedua manusia yang mela-yang seperti burung elang itu keindahannya lebih dari layak sebagai tontonan. Mereka melayang dan tubuhnya berputar sangat amat pelahan sementara kedua tangan yang memegang pedang dan sa-rung pedang itu membuka me-nu-tup bagaikan tarian, tetapi mataku melihatnya sebagai gerak pembunuhan yang mematikan!

Setiap kali telapak alas kaki me-reka yang disebut sepatu itu me-nyentuh apa pun untuk mendapatkan daya dorongnya, yang satu di dinding sebelah timur dan lawannya di dinding sebelah barat, arah terbang mereka saling men-dekat untuk bertemu di udara, seperti berpapasan, tetapi saling melancarkan serangan. Tampak amat sangat lambat gerak tubuh dan tangan mereka, tetapi yang berlangsung adalah serangan dan tangkisan, adu jurus silat yang amat sangat cepat, sehingga tak dapat dilihat kecuali yang tampak amat sangat lambat. Ini justru berarti gerakan mereka lebih cepat daripada yang bergerak begitu cepat melebihi kilat, seperti pikiran, sehingga gerakannya tidak terlihat. Itulah ilmu silat yang nya-ris sempurna. Disebut nyaris, karena tidak ada ilmu silat yang tidak me-miliki kelemahan. Be-gitulah set iap usaha mencapai kesempurnaan adalah juga usaha untuk me-nutupi kelemahan. Tubuh ma-nusia penuh dengan titik kelemahan yang cukup disentuh dengan sedikit dorongan saja sudah akan me-newaskan.

Kepada titik itulah setiap serangan ditujukan dan itu pula sebenarnya yang terjadi ketika keduanya saling mendekat dengan segenap gerak keindahan.

DI atas jurang yang begitu curam dan dalam mereka melayang seperti elang dan saling berpapasan, setiap kali mengadu gerak, dan tak bersentuhan, tetapi sungguh itulah gerak pembunuhan. Seusai berpapasan dan mengadu jurus yang tak kelihatan mereka terus melayang ke mana pun dapat menyentuhkan telapak alas kaki mereka yang disebut sepatu, untuk segera terbang me layang dan berpapasan kembali. Tiada terbayangkan besar tenaga dalam dan tinggi ilmu meringankan tubuh yang diperlukan. Kulihat dari kejauhan rombongan yang membawa keledai-keledai beban pada jalan setapak di pinggang gunung batu seberang itu membuka capingnya agar dapat melihat dengan jelas, karena ini memang bukan sembarang tontonan.

Di atas jurang yang dalam, untuk kesekian kali kedua pendekar bak elang perkasa itu berpapasan. Siapa-kah akan mengira betapa setiap saat nyawa seseorang akan tercabut dan melayang dalam keadaan melayang? Kami para penonton belum tahu siapakah kiranya di antara dua pendekar ini yang akan binasa dalam puncak kesempurnaan sebuah pertarungan. Apakah mereka memang berjanji untuk bertarung di tengah lautan kelabu gunung batu ini? Apakah mereka musuh lama yang kebetulan saja berpapasan dalam pengembaraan masing-masing tanpa direncanakan? Ataukah mereka tidak pernah saling mengenal dan hanya pernah mendengar nama masing-masing dan ketika kebetulan bertemu lantas ingin menguji bahkan mengadu kepandaian masing-masing? Tentu juga sangat mungkin bahwa keduanya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui nama masing-masing, tetapi tetap saling mengetahui betapa setiap gerak masing-masing adalah berisi dan karena itu tergerak untuk bertarung sehingga menjadi tontonan seperti ini.

Bagaimanakah caranya dua orang pendekar saling mengenali dan kapan kiranya tiba saat keduanya untuk bertarung? Dari dunia persilatan selalu diceritakan tentang bagaimana setiap pendekar mampu membaca gerakan, apakah gerakan itu hanya gerakan kosong saja, ataukah itu gerakan yang tergolong isi. Apakah isinya? Isinya adalah ilmu, karena pendekar terbaik tidak mengatakan dirinya pendekar, melainkan tersembunyi di sudut-sudut sejarah dan kehidupan.

Seperti apakah kiranya gerakan yang dibaca itu? Seorang pendekar yang tinggi ilmunya akan selalu bisa membaca, bahwa orang yang tampaknya terbungkuk-bungkuk membelah kayu di belakang rumah adalah seorang pendekar besar, hanya dari caranya memegang dan mengayun-kan golok, bahkan juga hanya dengan membaca belahan kayu itu. Kadang terdengar cerita betapa seorang pendekar besar yang menghindari per-tempuran, dan berusaha mempe-ringatkan lawan agar tidak membuang nyawa sia-sia, akan meminta seorang anak kecil membawakan potongan batu kepada penantangnya. Dari cara batu itu terpotong, yang begitu halus dan licin, seseorang akan mengetahui bukan saja ketajaman pedang mestika yang telah membelahnya, tetapi juga tingginya tenaga dalam yang telah mengayunkan pedang mestika itu.

Seorang pendekar yang tinggi ilmunya akan selalu bisa membaca gerakan seorang tukang masak di sebuah kedai, pemetik kecapi, pengemis, penari, petani, kuli, dan pembaca sutra di kuil, apakah gerakannya kosong atau isi. Pernah kudengar pula cerita tentang sejumlah pengawal entah di mana yang berusaha mengusir seorang pemabuk sempoyongan yang menceracau dan berusaha mendekati tandu yang mengangkut seorang putri. Gerakan orang mabuk yang tampaknya sembarangan itu tak terbaca oleh para pengawal sebagai gerakan isi, sehingga dalam waktu singkat para pengawal itu bergelimpangan oleh pukulan dan semburan arak yang seperti tidak disengaja sama sekali. Justru putri di dalam tandu itulah yang dapat membacanya sebagai gerakan isi, karena ilmu silatnya sendiri juga tinggi, dan sebaliknya dengan gerakan mengipasi diri yang lemah lembut, ternyata mam-pu membunuh pembunuh ba-yaran yang memiliki ilmu silat Aliran Pengemis Mabuk itu.

Jadi barangkali saja kedua pendekar yang sedang bertarung ini saling membaca gerakan dan langsung bertarung. Bisa berlangsung seperti itu, dan bisa juga berlangsung karena sebab yang lain. Kita tidak pernah tahu bukan? Namun inilah untuk kali pertama kusaksikan gerakan amat sangat cepat yang tampil sebagai gerakan lambat, dapat disaksikan mata awam, yang biasanya tidak akan melihat sesuatu pun dari gerakan yang amat sangat cepat itu. Membuatku teringat kepada pemahaman filsafat dalam Bab 26 dari Kitab Chuang-tzi yang sangat dikenal di Negeri Atap Langit:

bubu dimaksudkan untuk me-nang-kap ikan jika ikannya telah tertangkap

tidak perlu lagi memikirkan bu-bunya

erat dimaksudkan untuk menangkap kelinci jika kelincinya tertangkap

tidak perlu lagi memikirkan jeratnya

kata-kata dimaksudkan untuk menampung gagasan jika gagasan telah diperoleh

tidak perlu lagi memikirkan kata-katanya semoga saya dapat menemukan seseorang yang tidak lagi memikirkan kata-kata

dan dapat saya ajak berbicara Apakah ini berarti kedua pendekar ini masing-masing telah menemukan seseorang yang tidak lagi memikirkan jurus silat dan dapat diajak bertarung? Berbicara dengan seseorang yang sudah tidak lagi memikirkan kata-kata berarti tidak berbicara dengan kata-kata. Dalam kitab tersebut dikatakan, dua manusia bijaksana bertemu tanpa mengucapkan sepatah kata.

ketika pandangan mata mereka bertemu di s itulah Dao hadir

Memang, Dao berarti Jalan dan cara berpikirnya menyatakan bahwa Dao tak dapat diberitahukan, melainkan hanya diisyaratkan. Bila kata-kata digunakan, maka sifatnya mengisyaratkan pemikiran yang dimiliki kata-kata, dan bukan artinya yang sudah menetap atau arti sampingannya, yang akan menyingkapkan tabir Dao. Kata-kata harus dilupakan ketika maksud yang dikandungnya sudah terpenuhi. Jika kata- kata sudah tidak diperlukan, mengapa masih sibuk dengan kata-kata itu?

Dialihkan ke ilmu silat, mungkinkah kedua pendekar tersebut telah langsung bertarung tanpa perlu saling berkata- kata lagi, karena bahkan seluruh pertaruhan jalan hidup seorang pendekar silat memang terletak dalam pertarungan, yang pada suatu hari berakhir dengan kematian?

Mereka telah lama melayang-layang dan untuk kesekian kalinya siap berpapasan saling menyerang. Kini di atas jurang yang dalam itu mereka bersiap mengadu jurus yang tak tampak seperti jurus lagi, melainkan hanya gerak perlahan, seperti tarian, tetapi bukan juga tarian, hanya keindahan, dengan pedang menikam!

Ugh!

Belum pernah kusaksikan pemandangan yang begitu mengesankan dan mengharukan seperti ini. Tubuh mereka berdempetan dalam keadaan berdiri dan mengambang di udara di atas jurang yang dalam. Pedang yang seorang telah melesak ke dalam tubuh dan tembus sampai keluar dari punggung lawannya itu. Mereka berdekapan bagaikan sepasang kekasih, dan darah mengucur deras ke dalam jurang yang sudah tidak kelihatan dasarnya. Mereka berpelukan bagaikan tubuh mereka bertopang atau bergantung pada sesuatu, tetapi jelas mereka tidak bertopang atau bergantung pada sesuatu. Mereka seperti terbang, tetapi berhenti di atas sana, mengambang, tenang dan diam, meski darah mengucur ke bawah jurang bagaikan a ir tertuang dari dalam kundika.

Kemudian perlahan-lahan pelukan itu merenggang, yang seorang jatuh pelahan ke bawah menyusul tetesan-tetesan darahnya, bersama pedang yang menancap dan tembus sampai ke punggungnya. Pedangnya sendiri telah berada di tangan lawannya, yang memandang kejatuhannya dengan sangat sedih, bahkan air matanya pun menetes-netes jatuh ke dalam jurang. Tubuh pendekar yang tertusuk itu jatuh seperti terkapar, ia masih hidup ketika pelukan itu lepas dan matanya masih terbuka, bahkan seperti melambaikan tangan selamat tinggal. Namun matanya kemudian tertutup ketika dalam kedalaman itu tubuhnya yang seperti terkapar berbalik ke belakang dan ia seperti meluncur ke bawah secara sadar dengan kepala di bawah, tetapi tentu saja saat itu nyawanya sudah pergi. Tubuhnya meluncur ke bawah, di telan kekelabuan yang mahadalam.

DI atas jurang, mengambang di udara, perempuan pendekar itu terisak. Kini tangisnya terdengar jelas terlontar dari tebing ke tebing dan sudah jelas itu tangis seorang perempuan. Pedangnya ikut terbawa tubuh lelaki pendekar lawannya, tetapi ia memegang pedang lawannya itu dengan penuh hormat, seperti pedang itu mewakili keberadaan lawan yang dihormatinya tersebut.

Teriakan seekor burung memecahkan suasana. Alam sunyi sepi. Seperti diriku, rombongan orang-orang bercaping yang membawa keledai-keledai beban pada segaris jalan setapak di pinggang gunung batu itu, masih memandang segenap adegan dengan terpesona. Jarak mereka memang jauh, seperti juga jarakku dengan perempuan pendekar itu, tetapi di tengah bentangan alam yang sunyi, segalanya tampak jelas.

Perempuan pendekar berbusana sutera merah itu memasukkan pedang lawannya tersebut ke dalam sarung pedangnya sendiri. Mendadak saat itu tangisnya berhenti. Tidak sadarkah ia betapa segenap adegan yang telah dijalaninya menjadi tontonan? Kurasa ia melihat rombongan orang-orang bercaping yang membawa keledai-keledai beban itu, yang sambil menonton tak cukup hanya ternganga mulutnya karena terpesona, tetapi juga setiap kali mengeluarkan suara. Namun tahukah dirinya akan kehadiranku?

Ternyata ia memang mengubah kedudukan tubuhnya, menoleh ke arahku, dan tangannya bergerak amat sangat cepat, dan kuketahui bahwa sebuah pisau terbang sedang melesat dengan pesatnya langsung menuju jantungku!

Namun tanganku ternyata masih dapat menangkapnya.

Saat itulah perempuan pendekar berbusana sutera merah tersebut sudah tidak kelihatan lagi. Aku menghela napas. Bukan saja kehadiranku yang diketahuinya, tetapi juga diketahuinya bahwa aku memiliki ilmu silat yang layak diuji dengan serangan pisau terbang ini. Padahal semenjak tadi aku tidak bergerak dan bahkan secara terbatas menahan napas.

Kuperhatikan pisau terbang yang kupegang. Ini sebuah pisau terbang yang indah. Pegangannya terbuat dari gading berukir, dan pada kedua sisinya terdapat ukiran naga. Keindahan pisau terbang ini jelas menunjukkan bahwa pemiliknya selalu melontarkan pisau itu dengan mengenai sasaran. Ini bukan jenis pisau terbang yang bisa ditinggalkan setelah dilempar, melainkan seperti selalu diambil lagi karena sasarannya sudah mati. Aku tidak merasa perlu berkelebat mengejarnya, karena tujuan utamaku sama sekali belum terpenuhi, yakni menemukan Celah Dinding Berlian dan dari sana membuntuti perjalanan Harimau Perang. Tiada lain tiada bukan demi Amrita, yang kukira kematiannya masih diliputi rasa penasaran. Jika rahas ia peranan Harimau Perang dalam kegagalan pasukan pemberontak merebut Thang-long belum terungkap, aku pun tidak akan bisa hidup dengan tenang.

Namun lemparan pisau terbang ini kuanggap sebagai salam dari dunia persilatan Negeri Atap Langit...

(Oo-dwkz-oO)